Tuesday, September 25, 2012

LEMAK JAHAT ITU BERNAMA “MAKSIAT”



“Nak Mas tahu ‘bahaya kolesterol’ terhadap kesehatan tubuh kita…?” Tanya Ki Bijak dalam suatu kesempatan.

“Iya ki….,beberapa waktu lalu ana baca mengenai kolesterol  ini, pada uraiannya seorang dokter menyatakan bahwa kolesterol ini terbagi menjadi dua, LDL (Low Density Lipoprotein) yang biasa dikenal dengan sebutan ‘lemak jahat’, dan HDL (High Density Lipoprotein), atau uang biasa dikenal dengan ‘lemak baik….” Kata Maula mengutip sebuah artikel kesehatan.

Ki Bijak manggut-manggut, “Untuk contoh kita kali ini, mungkin lebih tepat kalau kita bicarakan sedikit bahaya dari lemak jahat Nak Mas….” Kata Ki Bijak mempersempit topic pembicaraan.

“Iya Ki, kata si dokter, kolesterol jenis LDL ini memiliki lebih banyak kandungan lemak dibanding HDL, sehingga ia akan mengambang didalam darah, yang katanya lagi, protein pada jenis lemak ini dapat menyebabkan penempelan kolesterol pada dinding pembuluh darah…., pada proses selanjutnya kolesterol yang menempel ini akan menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah, yang pada stadium lanjut dapat menyembabkan berbagai macam masalah kesehatan, seperti hipertensi, stroke bahkan dapat pula menyebabkan serangan jantung ki…..” Kata Maula.

“Wah…wah penjelasan Nak Mas seperti dokter sungguhan…..” Kata Ki Bijak sambil tersenyum

“Ana hanya mengutip artikel yang an abaca saja ki…..” kata Maula menanggapi pujian gurunya.

“Sekarang…., mari kita sejenak menganalogikan ‘lemak jahat’ ini sebagai suatu ‘dosa’ yang diakibatkan oleh maksiat yang kita lakukan, kemudian ‘lemak dosa’ ini menempel pada dinding qolbu kita, kira-kira apa yang akan terjadi dengan hati kita  Nak Mas….? Tanya Ki Bijak memancing.

Maula terdiam sejenak mendengar pertanyaan gurunya, “Mungkin hati kita akan tertutup lemak dosa tersebut ki, sehingga hati kita menjadi kotor…..” Kata Maula.

“Benar Nak Mas….., setiap kemaksiatan yang kita lakukan, baik itu kecil, terlebih yang besar, akan menimbulkan noktah hitam yang akan menempel dalam dinding hati kita…., semakin banyak noktah hitam itu menempel pada dinding qolbu kita, maka hati kita sedikit demi sedikit akan tertutup, sehingga kemudian tidak ada lagi cahaya yang dapat menembusnya, hati kita akan sakit, hati kita akan menderita, hati kita akan menjadi buta karena ketiadaan cahaya ilahiyah yang mampu menembusnya karena lumuran noktah dosa yang menempel di hati kita…..” Kata Ki Bijak sambil menunjuk dadanya.

Maula menghela nafas dalam-dalam mendengar penuturan gurunya.

“Kalau tadi Nak Mas menjelaskan bahwa lemak jahat dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit yang membahayakan bagi kesehatan, maka para ulama juga mencoba mendeskripsikan berbagai hal buruk yang sangat mungkin terjadi ketika hati kita dipenuhi noda berupa ‘lemak dosa’ ini…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Hal buruk apa saja yang diakibatkan oleh menumpuknya ‘lemak dosa’ dihati kita Ki….?” Tanya Maula.

“Pertama, dalam sebuah riwayat Ahmad, Rasulullah bersabda;”Sesungguhnya seorang hamba diharamkan daripada rezeki karena maksiat yang ia lakukan…..”, nanti coba Nak Mas cek lagi kesahihan hadits ini agar lebih yakin…., tapi dari redaksinya, hal ini adalah kebalikan dari ayat yang menyatakan bahwa siapa yang bertaqwa, ia akan diberi rezeki oleh Allah dari arah yang tidak diduga-duga, Nak Mas ingat ayatnya…?” Tanya Ki Bijak.

“Iya Ki….” Kata Maula sambil mengutip Surah At-thalaq:

2. Apabila mereka Telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu Karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

3.  Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

“Benar….itu salah satu ayatnya..., bahwa seorang hamba yang bertakwa akan dimudahkan rezekinya oleh Allah, sebaliknya mereka yang gemar bermaksiat, Allah akan menyempitkan rezekinya…..”Kata Ki Bijak lagi.

“Yang kedua, seorang hamba, yang gemar bermaksiat, maka ia merasakan keterasingan dirinya dari sisi Allah….; cahaya ilahiyah tidak akan menembus dinding hati yang pekat, petunjuk Allah tidak akan terbaca oleh hati yang buta, ketenangan jiwa tidak akan dapat dirasakan oleh hati yang senantiasa bergemuruh oleh nafsu…, sehingga pada gilirannya, hati yang dipenuhi dosa akan merasa terasing, sehingga pada gilirannya hati yang penuh dengan dosa akan merasa terkucil dan kesepian……” Kata Ki Bijak lagi.

Lagi-lagi Maula menghela nafas dalam-dalam, menyadari betapa hati yang tertutup oleh dosa, jauh lebih berbahaya daripada pembuluh darah yang tersumbat oleh lemak jahat.

“Nak Mas masih belum ngantuk…?” Tanya Ki Bijak.

“Belum Ki….” Jawab Maula.

“Ketiga, ketika seseorang sudah terbiasa melakukan maksiat, ia pun akan merasa terasing ditengah-tengah manusia….., seorang yang suka maksiat, akan merasa terasing ditengah-tengah jamaah majelis taklim, seorang yang suka maksiat, akan merasa terasig, manakala orang lain ramai tadarus qur’an, seorang yang suka maksiat, akan merasa terasing ditengah-tengah manusia lain yang berlomba-lomba berbuat kebajikan….., teman dan lingkungannya tidak lebih dari sesame ahli maksiat…..,sangat sempit sekali ruang lingkup seorang yang suka maksiat…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Benar Ki….” Jawab Maula pendek.

“Selain itu, seorang yang sering berbuat maksiat, ia akan merasakan kesempitan yang sangat dalam menjalani hari-hari dalam kehidupannya, hal ini karena Allah akan menutup semua jalan keluar bagi mereka yang terbiasa dengan kemaksiatan…

“Seorang yang sering berbuat maksiat, akan kehilangan cahaya hatinya, sehingga hatinya hitam kelam, bahkan lebih pekat dari gelapnya malam gulita…”

“Seorang yang sering berbuat maksiat, maka ia akan merasakan hatinya lemah, keyakinanya lemah, kekuatan hatinya akan memudar dan bahkan hilang….”

“Seorang yang sering berbuat maksiat juga akan kehilangan gairah untuk beribadah kepada Allah, kehilangan kenikmatan ibadah kepada Allah, akan kehilangan kerinduan untuk bercengkrama dengan Allah, iapun akan kehilangan waktu-waktu berharganya untuk bisa mengadu kepada Allah dengan doa dan permohonan ampunnya…”

“Dan yang juga sangat mungkin terjadi pada seorang yang terbiasa melakukan maksiat adalah ia menjadi gemar melakukan dosa, seperti orang yang terbiasa berkurang dengan bau busuk, maka lama kelamaan ia tidak akan lagi merasa jijik atau merasa bau busuk yang bagi orang lain bisa membuatnya muntah….; dan masih banyak lagi ‘penyakit dan bahaya yang dapat ditimbulkan dari menumpuknya dosa akibat kemaksiatan……” Pungkas Ki Bijak.

Maula kembali menghela nafas dalam-dalam, “Apa yang harus kita lakukan agar kita selamat dan terhindar dari bahaya kemaksiatan ini Ki…?” Tanya Maula beberapa saat kemudian.

“Sebagaimana pendapat umum yang sering kita dengar Nak Mas, mencegah, jauh lebih baik daripada mengobati…,pun halnya dengan kemaksiatan, sedapat mungkin kita menghindari perbuatan-perbuatan maksiat, sekecil apapun itu….”

“Selanjutnya kalau memang sudah terlanjur, segera kikis ‘lemak kemaksiatan’ yang menempel dihati kita dengan taubat dan istighfar…,mohon ampun pada Allah, mohon petunjuk padaNya, mohon bimbinganNya agar kita dihindarkan dari kemaksiatan, agar kita diberikan kekuatan untuk menjauhinya…..”

“Dan terakhir,jangan lupa senantiasa mengkonsumsi ‘vitamin hati’, senantiasa datangi majelis-majelis ilmu, segera datangi ulama dan kyai,segera bergaul dengan para sholihin agar system imun hati kita bertambah kuat, agar kita memiliki filter yang dapat menangkal radikal bebas dari kemaksiatan yang sekarang ini bergentayangan dimana-mana…..” kata Ki Bijak lagi.

“Iya Ki….,ana mengerti…,ana pun merasakan ketika ana tidak berkunjung kesini, hati ana merasakan sesuatu yang kurang, ana merasakan dahaga dan lapar yang membuat hati ana tidak nyaman Ki….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, Aki maklum dengan kesibukan Nak Mas,tapi kalau boleh Aki nasehatkan, sesibuk apapun pekerjaan Nak Mas, sempatkan waktu Nak Mas untuk berkunjung kesini, selain untuk silaturahim, Aki juga suka kangen kalau Nak Mas lama tidak berkunjung kesini….” Kata Ki Bijak.

“Insya Allah Ki……” Pungkas Maula mengakhiri perbincangan malam itu.

Wassalam

September 24, 2012