Wednesday, May 16, 2012

TERIMAKASIH SAHABAT,ENGKAU LADANG AMALKU

“Ki…., hampir setiap hari kitakan ketemu dengan banyak orang, seperti ana sekarang ini, mulai dirumah, bertemu dengan anak dan istri, kemudian dijalan raya, ketemu sopir yang ugal-ugalan, ketemu sopir yang marah-marah terus, ketemu pengendara sepeda motor yang tidak sabaran, main serobot saja, ketemu polisi yang lagi nilang, belum lagi sampai kantor, kadang lihat atasan marah-marah, mukanya dijelek-jelekin, ketemu teman yang ngeselin, ketemu bawahan yang susah diatur, juga kadang ketemu pegawai bank yang menjengkelkan, ketemu pegawai instansi yang mata duitan, dan masih banyak lagi berbagai kejadian dan sikap yang kita temukan dalam keseharian kita….”

“Selain tentu juga ana sering bertemu dengan orang yang ramah, orang yang sabar, tutur katanya sopan, dan sikapnya ramah…., dari sekian banyak karakteristik manusia yang kita temui sepanjang hari yang berlainan seperti itu, apa yang harus kita lakukan ki….?” Tanya Maula dalam sebuah kesempatan.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula; “Karakter orang boleh beda-beda Nak Mas, seperti yang Nak Mas sebutkan tadi, tapi dari sedemikian banyak perbedaan itu, ada satu yang sama, bahwa mereka semua adalah ciptaan Allah…..”

“Allah yang menciptakan orang yang suka marah, Allah juga yang menciptakan orang yang santun…”

“Allah yang menciptakan orang yang suka ugal-ugalan, Allah juga yang menciptakana orang yang sabar…”

“Allah yang menciptakan atasan yang otoriter, Allah juga yang menciptakan atasan yang baik dan bijak….”

“Allah yang menciptakan bawahan yang susah diatur, Allah juga yang menciptakan bawahan yang penurut….”

“Allah yang menciptakan pegawai yang malas, Allah juga yang menciptakan pegawai yang rajin..”

“Allah yang menciptakan teman yang sering membuat kita kesel, Allah juga yang menciptakan teman yang bisa membuat kita tertawa…”

“Allah yang menciptakan orang jahil, Allah juga yang menciptakan orang yang cerdas….”

“Semuanya Nak Mas…,semua karakter yang kita temukan adalah ciptaan Allah…, tentu dengan satu tujuan yang jelas, tidak mungkin Allah menciptakan semua itu sia-sia dan asal-asalan….” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Lalu apa tujuannya Ki…..?” Tanya Maula.

“Tujuannya adalah untuk sarana belajar dan ladang pahala bagi kita Nak Mas….” Kata Ki bijak.

“Tujuan Allah menciptakan berbagai type manusia itu sebagai sarana belajar dan ladang amal kita ki…?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas…., ketika misalnya Nak Mas dipertemukan dengan seorang atasan yang pemarah, yang sukanya main tunjuk saja, yang otoriter, yang tidak mau mendengar pendapat orang lain, yang sukannya menyalahkan orang lain dan sebagainya…, dari perilaku seperti itu kita bisa belajar, belajar untuk menjadi seorang yang tidak seperti itu, belajar menjadi seorang atasan yang sabar, seorang atasan yang tidak main perintah, seorang atasan yang demokratis, seorang atasan yang bisa mengayomi bawahan..,dengan melihat langsung ‘contoh buruk’ pada atasan kita, maka dengan mudah kita bisa belajar untuk bersikap sebaliknya……,menjadi seorang yang berbeda dari atasan yang berperilaku buruk tadi…” kata Ki Bijak.

Maula menghela nafas panjang, “Benar Ki…, ini bisa dijadikan semacam barometer untuk mengukur seperti apa sikap kita ya ki….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas…, tepatnya seperti cermin, ketika kita ingin gambar kita didepan cermin itu indah, maka kita harus memperindah diri kita, karena pantulan dalam cermin akan menampilkan apa yang menjadi objeknya, tidak lebih dan tidak kurang…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki….” Kata Maula.

“Kemudian ketika kita dipertemukan Allah dengan teman yang suka ngeselin, teman yang sukanya menang sendiri, teman yang tidak mau bekerja sama, juga merupakan sarana kita untuk belajar bagaimana menjadi teman yang baik, belajar untuk bagaimana menjadi teman yang setia kawan, belajar menjadi teman yang bisa dijadikan panutan oleh teman-teman kita…”

“Ketika kita dipertemukan dengan bawahan yang suka ngeyel, suka malas, kerjanya asal-asalan, itu juga merupakan sarana belajar kita agar kita tidak terjebak dalam kondisi seperti itu, kita bisa belajar untuk menjadi ‘abdi’ yang penurut, abdi yang taat, abdi yang senantiasa melaksanakan perintah sesuai dengan aturan yang ada…”

“Pun ketika kita dipertemukan dengan sopir yang ugal-ugalan, pengendara sepeda motor yang tidak sabaran…,semuanya adalah sarana kita untuk senantiasa memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang dikehendaki Allah….” Kata Ki Bijak lagi.

“Benar Ki….., akan sulit mengukur seperti apa orang sabar itu kalau tidak ada orang yang grusa-grusu ya ki…” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, akan sulit mengukur seperti apa seorang dermawan itu, kalau tidak ada orang bakhil…”

“Akan sulit mengukur seperti apa orang rajin itu, kalau tidak ada pemalas…”

“Akan sulit mengukur seperti apa atasan yang bijak itu, kalau tidak atasan yang otoriter…”

“Akan sulit mengukur seperti apa orang taat itu, kalau tidak ada pembangkang…”

“Akan sulit mengukur seperti apa teman sejati itu, kalau tidak ada teman yang suka berkhianat..”

“Akan sulit mengukur seperti apa orang pintar itu, kalau tidak ada orang bodoh….”

“Seterusnya dan seterusnya……, Allah menciptakan semua hal ini, sekali lagi sebagai sarana kita belajar….”

“Dan jangan lupa, dengan belajar kita akan dapat pahala, dengan memberi nasehat kepada orang lain untuk berbuat baik juga dapat pahala, dengan mengingatkan orang malas untuk shalat tepat waktu juga pahala, dengan menenangkan pemarah juga dapat pahala, mengajak orang pelit berderma,juga pahala, dengan mengajari orang jahil, juga pahala….., jadi semuanya tidak ada yang rugi, selama kita bisa menyikapinya dengan baik dan benar Nak Mas….” Kata Ki Bijak lagi.

“Ana faham ki…, terimakasih Ki…, semoga ana bisa belajar banyak dari apa yang ana temukan setiap hari….” Kata Maula.

“Tidak perlu berterimakasih pada Aki Nak Mas, berterimakasihlah pada semua orang yang telah Nak Mas temui selama ini, baik itu yang ‘jelek’ atau yang ‘baik’, semuanya adalah ladang kita untuk memperoleh pahala……” kata Ki Bijak.

“Terimakasih kepada semua teman-teman yang pernah membuatku jengkel, kalian adalah guruku untuk belajar sabar…”

“Terimakasih atasanku yang suka nyalahin bawahan, engkau adalah guruku untuk belajar menjadi pemimpin teladan….”

“Terimakasih bawahanku yang suka ngeyel, kalian adalah guruku untuk belajar kepatuhan….”

“Terimakasih sopir yang ugal-ugalan, kalian adalah guruku untuk belajar kesantunan….”

“Terimakasih pengendara motor yang nggak sabaran, kalian adalah guruku untuk belajar mematuhi aturan…..”

“Terimakasih semuanya, syukurku kepadaMu ya Allah yang telah membukakan matahati ini untuk bisa mendapatkan kebaikan dalam setiap kesempatan…..aamiin….” Kata Maula.

“Aamiin…..” Ki Bijak mengamini.
Wassalam;

16 Mei 2012

TERIMAKASIH SAHABAT,ENGKAU LADANG AMALKU

“Ki…., hampir setiap hari kitakan ketemu dengan banyak orang, seperti ana sekarang ini, mulai dirumah, bertemu dengan anak dan istri, kemudian dijalan raya, ketemu sopir yang ugal-ugalan, ketemu sopir yang marah-marah terus, ketemu pengendara sepeda motor yang tidak sabaran, main serobot saja, ketemu polisi yang lagi nilang, belum lagi sampai kantor, kadang lihat atasan marah-marah, mukanya dijelek-jelekin, ketemu teman yang ngeselin, ketemu bawahan yang susah diatur, juga kadang ketemu pegawai bank yang menjengkelkan, ketemu pegawai instansi yang mata duitan, dan masih banyak lagi berbagai kejadian dan sikap yang kita temukan dalam keseharian kita….”

“Selain tentu juga ana sering bertemu dengan orang yang ramah, orang yang sabar, tutur katanya sopan, dan sikapnya ramah…., dari sekian banyak karakteristik manusia yang kita temui sepanjang hari yang berlainan seperti itu, apa yang harus kita lakukan ki….?” Tanya Maula dalam sebuah kesempatan.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula; “Karakter orang boleh beda-beda Nak Mas, seperti yang Nak Mas sebutkan tadi, tapi dari sedemikian banyak perbedaan itu, ada satu yang sama, bahwa mereka semua adalah ciptaan Allah…..”

“Allah yang menciptakan orang yang suka marah, Allah juga yang menciptakan orang yang santun…”

“Allah yang menciptakan orang yang suka ugal-ugalan, Allah juga yang menciptakana orang yang sabar…”

“Allah yang menciptakan atasan yang otoriter, Allah juga yang menciptakan atasan yang baik dan bijak….”

“Allah yang menciptakan bawahan yang susah diatur, Allah juga yang menciptakan bawahan yang penurut….”

“Allah yang menciptakan pegawai yang malas, Allah juga yang menciptakan pegawai yang rajin..”

“Allah yang menciptakan teman yang sering membuat kita kesel, Allah juga yang menciptakan teman yang bisa membuat kita tertawa…”

“Allah yang menciptakan orang jahil, Allah juga yang menciptakan orang yang cerdas….”

“Semuanya Nak Mas…,semua karakter yang kita temukan adalah ciptaan Allah…, tentu dengan satu tujuan yang jelas, tidak mungkin Allah menciptakan semua itu sia-sia dan asal-asalan….” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Lalu apa tujuannya Ki…..?” Tanya Maula.

“Tujuannya adalah untuk sarana belajar dan ladang pahala bagi kita Nak Mas….” Kata Ki bijak.

“Tujuan Allah menciptakan berbagai type manusia itu sebagai sarana belajar dan ladang amal kita ki…?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas…., ketika misalnya Nak Mas dipertemukan dengan seorang atasan yang pemarah, yang sukanya main tunjuk saja, yang otoriter, yang tidak mau mendengar pendapat orang lain, yang sukannya menyalahkan orang lain dan sebagainya…, dari perilaku seperti itu kita bisa belajar, belajar untuk menjadi seorang yang tidak seperti itu, belajar menjadi seorang atasan yang sabar, seorang atasan yang tidak main perintah, seorang atasan yang demokratis, seorang atasan yang bisa mengayomi bawahan..,dengan melihat langsung ‘contoh buruk’ pada atasan kita, maka dengan mudah kita bisa belajar untuk bersikap sebaliknya……,menjadi seorang yang berbeda dari atasan yang berperilaku buruk tadi…” kata Ki Bijak.

Maula menghela nafas panjang, “Benar Ki…, ini bisa dijadikan semacam barometer untuk mengukur seperti apa sikap kita ya ki….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas…, tepatnya seperti cermin, ketika kita ingin gambar kita didepan cermin itu indah, maka kita harus memperindah diri kita, karena pantulan dalam cermin akan menampilkan apa yang menjadi objeknya, tidak lebih dan tidak kurang…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki….” Kata Maula.

“Kemudian ketika kita dipertemukan Allah dengan teman yang suka ngeselin, teman yang sukanya menang sendiri, teman yang tidak mau bekerja sama, juga merupakan sarana kita untuk belajar bagaimana menjadi teman yang baik, belajar untuk bagaimana menjadi teman yang setia kawan, belajar menjadi teman yang bisa dijadikan panutan oleh teman-teman kita…”

“Ketika kita dipertemukan dengan bawahan yang suka ngeyel, suka malas, kerjanya asal-asalan, itu juga merupakan sarana belajar kita agar kita tidak terjebak dalam kondisi seperti itu, kita bisa belajar untuk menjadi ‘abdi’ yang penurut, abdi yang taat, abdi yang senantiasa melaksanakan perintah sesuai dengan aturan yang ada…”

“Pun ketika kita dipertemukan dengan sopir yang ugal-ugalan, pengendara sepeda motor yang tidak sabaran…,semuanya adalah sarana kita untuk senantiasa memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang dikehendaki Allah….” Kata Ki Bijak lagi.

“Benar Ki….., akan sulit mengukur seperti apa orang sabar itu kalau tidak ada orang yang grusa-grusu ya ki…” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, akan sulit mengukur seperti apa seorang dermawan itu, kalau tidak ada orang bakhil…”

“Akan sulit mengukur seperti apa orang rajin itu, kalau tidak ada pemalas…”

“Akan sulit mengukur seperti apa atasan yang bijak itu, kalau tidak atasan yang otoriter…”

“Akan sulit mengukur seperti apa orang taat itu, kalau tidak ada pembangkang…”

“Akan sulit mengukur seperti apa teman sejati itu, kalau tidak ada teman yang suka berkhianat..”

“Akan sulit mengukur seperti apa orang pintar itu, kalau tidak ada orang bodoh….”

“Seterusnya dan seterusnya……, Allah menciptakan semua hal ini, sekali lagi sebagai sarana kita belajar….”

“Dan jangan lupa, dengan belajar kita akan dapat pahala, dengan memberi nasehat kepada orang lain untuk berbuat baik juga dapat pahala, dengan mengingatkan orang malas untuk shalat tepat waktu juga pahala, dengan menenangkan pemarah juga dapat pahala, mengajak orang pelit berderma,juga pahala, dengan mengajari orang jahil, juga pahala….., jadi semuanya tidak ada yang rugi, selama kita bisa menyikapinya dengan baik dan benar Nak Mas….” Kata Ki Bijak lagi.

“Ana faham ki…, terimakasih Ki…, semoga ana bisa belajar banyak dari apa yang ana temukan setiap hari….” Kata Maula.

“Tidak perlu berterimakasih pada Aki Nak Mas, berterimakasihlah pada semua orang yang telah Nak Mas temui selama ini, baik itu yang ‘jelek’ atau yang ‘baik’, semuanya adalah ladang kita untuk memperoleh pahala……” kata Ki Bijak.

“Terimakasih kepada semua teman-teman yang pernah membuatku jengkel, kalian adalah guruku untuk belajar sabar…”

“Terimakasih atasanku yang suka nyalahin bawahan, engkau adalah guruku untuk belajar menjadi pemimpin teladan….”

“Terimakasih bawahanku yang suka ngeyel, kalian adalah guruku untuk belajar kepatuhan….”

“Terimakasih sopir yang ugal-ugalan, kalian adalah guruku untuk belajar kesantunan….”

“Terimakasih pengendara motor yang nggak sabaran, kalian adalah guruku untuk belajar mematuhi aturan…..”

“Terimakasih semuanya, syukurku kepadaMu ya Allah yang telah membukakan matahati ini untuk bisa mendapatkan kebaikan dalam setiap kesempatan…..aamiin….” Kata Maula.

“Aamiin…..” Ki Bijak mengamini.
Wassalam;

16 Mei 2012

Tuesday, May 15, 2012

BERSEGERALAH DALAM KEBAJIKAN

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un……’ Kata Maula dan Ki Bijak hampir bersamaan, demi melihat kantong demi kantong yang berisi jenazah korban jatuhnya pesawat sukhoi di gunung salak.

“Ajal dan kematian memang tidak ada yang tahu ya ki…., jauh-jauh dari Rusia datang kesini, sampai disini justru menemui ajalnya ya ki…”Kata Maula.

“Ya Nak Mas,kematian adalah salah satu rahasia terbesar dalam kehidupan kita, tidak seorangpun tahu kapan dan dimana ajal akan menjemputnya….” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an;
¨bÎ) ©!$# ¼çnyYÏã ãNù=Ïæ Ïptã$¡¡9$# Ú^Íit\ãƒur y]øtóø9$# ÞOn=÷ètƒur $tB Îû ÏQ%tnöF{$# ( $tBur Íôs? Ó§øÿtR #sŒ$¨B Ü=Å¡ò6s? #Yxî ( $tBur Íôs? 6§øÿtR Ädr'Î/ <Úör& ßNqßJs? 4 ¨bÎ) ©!$# íOŠÎ=tæ 7ŽÎ6yz ÇÌÍÈ
34.  Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(Lukman)

[1187]  Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.

“Rahasia diantara sedemikian banyak rahasia ya ki...., kadang ana berfikir hikmah apa yang ada dibalik dirahasiakannya kematian seseorang ki....” Kata Maula.

“Banyak Nak Mas..., hikmahnya pasti banyak.., yang jelas salah satu hikmah terbesar dari dirahasiakanya umur kita adalah agar kita senantiasa bersiap-siap untuk menyambut kedatangannya kapanpun dan dimanapun....”

“Dengan dirahasiakannya waktu dan tempat datangnya ajal kita,maka tidak ada alas an bagi kita untuk menunda-nunda amal kita, tidak tidak bisa bilang ‘nanti saja taubatnya kalau sudah tua, sekarang mumpung masih muda, kita hura-hura dulu....’, ‘atau nanti saja shalatnya, waktunya masih panjang....”

“Ungkapan ini salah dan sangat keliru, siapa yang menjamin umur kita akan sampai tua? Siapa yang menjamin kalau waktu kita tidak sampai waktu shalat berikutnya...?’ Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki...., menunda-nunda perbuatan baik, adalah sebuah kerugian ya ki..” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, bukan hanya sebuah kerugian, tapi juga merupakan sebuah ‘kebodohan’ Nak Mas.., jatuhnya pesawat sukhoi yang tragis ini adalah sebuah contoh yang sangat gamblang bagi kita untuk memaksimalkan waktu yang Allah berikan pada kita,tragedy ini mennggambarkan pada kita bahwa maut bisa datang kapan saja dan dimana saja, dan akan menemui siapa saja..”

“Tak peduli mereka wartawan, yang kemarin lusa masih meliput berita..., sekarang mereka justru menjadi objek berita karena kematiannya...”

“Tak peduli mereka pilot pesawat yang berpengalaman, yang memiliki jam terbang banyak, tapi begitu kematian datang, mereka hanyalah seonggok daging dan tulang dikantung jenazah....”

“Tak peduli mereka jelita dan rupawan...., ketika kematian datang, bahkan jasadnya pun sangat sulit untuk dikenali..”

“Tak peduli siapapun mereka, apapun profesi mereka, ajal tidak akan luput untuk menjemput mereka ketika saat ajal yang ditentukan itu telah tiba...” Kata Ki Bijak.

“Benar Ki...., ana pernah mendengar cerita orang yang menunda-nunda keberangkatan hajinya karena alas an sibuk bisnis, hingga akhirnya ia tidak sempat menunaikan ibadah haji karena ajal keburu menjemputnya....” Kata Maula.

“Ya Nak Mas..., banyak kejadian seperti itu..., ada orang yang sudah berniat shalat tepat waktu, tapi menundanya, hingga kemudian ia tidak sempat shalat karena suatu sebab malaikat maut keburu menjemputnya....”

“Ada orang yang sudah berniat zakat dan mengeluarkan infaq dan sedekah, tapi karena satu alas an yang ia buat, ia kemudian menundanya, hingga kemudian kematian keburu datang menjemputnya...”

“Ada orang yang berniat membayar utang shaumnya, tapi kemudian ‘ngegampangin’, nanti dan nanti, hingga kemudian ramadhan berikut datang, bahkan kemudian maut keburu datang, dan ia tidak sempat membayar hutang shaumnya...”

“Dan masih banyak lagi kisah nyata orang yang merugi karena kebodohannya menunda-nunda beramal baik, hingga akhirnya ia kehilangan kesempatan karena jatahnya umurnya keburu habis....” Kata Maula.

“Ya Ki......, Allah memang tidak hendak menjadikan syari’at islam ini sulit, bahkan Allah menghendaki kemudahan kepada pemeluknya untuk dapat melaksanakan apa yang disyari’atkan, sehingga kemudian Allah memberikan ruksah atau keringanan, tapi bukan berarti untuk ‘bermain-main’ dengan kemudahan yang Allah berikan ya ki, tetap ada syarat dan ketentuan yang berlaku sesuai dengan tuntunan syara ya ki ....” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, menjama’ dan meng qashar shalat adalah sebuah ‘kemudahan’ dari Allah ketika kondisi kita tidak memungkinkan untuk shalat tepat waktu, seperti ketika kita dalam shafar atau kondisi-kondisi yang secara syara’ memang membolehkan kita melakukannya..., bukan hanya karena alas an ‘malas’ atau pura-pura sibuk kemudian kita bisa menjama’, qashar atau mengakhirkan shalat....”

“Mengqoda shaum ramadhan, juga sebuah keringanan dari Allah bagi yang sakit, bagi yang shafar, bagi yang berhalangan seperti ibu hamil atau menyusui, seperti pekerja yang tidak memungkinkan untuk shaum seperti biasa, dan bukan berarti kemudian membuat alas an sendiri untuk membatalkan shaum karena berfikiran toh nanti bisa diqada..., sekali lagi tidak ada jaminan kita bisa ketemu ramadhan yang akan datang....”

“Dan itulah kenapa kita harus selalu ‘bersiap diri’ menyambut datangnya malaikat maut yang pasti datangnya, hanya waktu dan tempatnya saja yang Allah rahasiakan....” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki...,mudah-mudahan penumpang sukhoi yang muslim sudah pada shalat semua sebelum naik pesawat yang akhirnya nabrak gunung itu....” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas..., dan sekali lagi, apa yang sedang kita saksikan sekarang ini, adalah sebuah pelajaran bagi kita semua betapa umur kita sangat terbatas, betapa kita sama sekali tidak tahu kapan habisnya jatah umur kita, maka hal terbijak dalam menyikapi ketidaktahuan ini adalah dengan persiapan sepanjang waktu, jangan menunda kebajikan, jangan berfikir kita masih muda, sehingga kemudian kita bisa berleha-leha, jangan berfikir kita akan aman-aman saja karena tidak menaiki pesawat..., karena sekali lagi, ditempat tidur sekalipun, ketika waktunya kita harus kembali kepada Allah, maka itu sebuah kepastian......” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya Ki..., jatuh bersama pesawat, kecelakaan, sakit dan sebagainya hanyalah wasilah habisnya jatah hidup kita ya ki, sementara ‘kematian’ itu sendiri adalah sesuatu yang sudah ditetapkan......” kata Maula.

“Ya Nak Mas...., ‘bersegera’ dalam hal melakukan kebaikan adalah tabiat orang-orang shaleh; seperti Allah firmankan dalam surat Ali Imran:114;
šcqãYÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# šcrããBù'tƒur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tböqyg÷Ytƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# šcqãã̍»|¡çur Îû ÏNºuŽöyø9$# šÍ´¯»s9'ré&ur z`ÏB tûüÅsÎ=»¢Á9$# ÇÊÊÍÈ
114.  Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.
“Dan sebagai balasannya, mereka yang ‘bersegera’ dalam melakukan kebajikan adalah insha Allah akan segera diijabah doa-doanya oleh Allah swt..” Tambah Ki Bijak
$uZö6yftGó$$sù ¼çms9 $uZö6ydurur ¼çms9 4Ózóstƒ $oYósn=ô¹r&ur ¼çms9 ÿ¼çmy_÷ry 4 öNßg¯RÎ) (#qçR$Ÿ2 šcqãã̍»|¡ç Îû ÏNºuŽöyø9$# $oYtRqããôtƒur $Y6xîu $Y6yduur ( (#qçR%Ÿ2ur $uZs9 šúüÏèϱ»yz ÇÒÉÈ
90.  Maka kami memperkenankan doanya, dan kami anugerahkan kepada nya Yahya dan kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas[970]. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami. (Al Anbiya)

[970]  Maksudnya: mengharap agar dikabulkan Allah doanya dan khawatir akan azabnya.

“Aamiin...., mestinya kita malu pada Allah ya ki, terlalu sering ‘menuntut’ berbagai hal kepada Allah, doanya ingin segera dikabulkan, pangkatnya ingin segera dinaikan, gajinya ingin segera naik juga, tapi pas giliran suruh shalat tepat waktu saja, cari dalil-dalil dulu untuk bisa menunda-nundanya....” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, selain selain kita sudah bersikap ‘tidak adil’ kepada Allah karena telah banyak menuntut, sementara perintahNya diabaikan, juga terasa sangat ‘aneh’ ketika ada orang yang mencari dalil justru untuk bisa meng counter perintah Allah, bukan untuk lebih baik melaksanakannya......” Kata Ki Bijak lagi.

“Semoga kita termasuk orang-orang yang diberikan kekuatan dan kemampuan oleh Allah untuk bersegera dalam hal kebaikan ya ki....” Kata Maula.

“Aamiin.....” kata Ki Bijak mengakhiri perbincangannya.

Wassalam

15 Mei 2012