Friday, March 23, 2007

PARA PENDUSTA AGAMA

Dusta, adalah sebuah sifat yang paling dibenci Allah dan Rasul-Nya. Baik itu dusta dalam perkataan, maupun dusta dalam perbuatan. Dusta merupakan salah satu ciri orang munafik, dari tiga ciri utama yang lainnya, yaitu Apabila berkata ia dusta, apabila berjanji ia ingkar dan apabila dipercaya ia khianat.

Berkata dusta, dapat berarti berkata yang tidak sesuai fakta yang ada, dapat pula berarti tidak menyampaikan sesuatu secara benar, memutar balikan fakta dan kenyataan, atau menyembunyikan kebenaran.

Dusta dalam perbuatan dapat berupa kefasikan, yakni tahu aturan dan syari’at yang benar, tapi tidak melaksanakannya, sebagaimana termaktub dalam firman Allah berikut;

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. Orang-orang yang berbuat riya[1603],
7. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna[1604].

[1603] riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
[1604] sebagian Mufassirin mengartikan: enggan membayar zakat.

Secara syari’at, para pendusta ini mengetahui atau bahkan sangat hapal dengan berbagai dalil yang menyatakan agar kita menyantuni anak yatim, memelihara dan memberinya makanan yang layak, tapi dalam kenyataannya, mereka, para pendusta ini, justru berlaku tidak patut pada para yatim yang seharusnya mereka lindungi, mungkin dengan berkata kasar dan bahkan mungkin menghardiknya.

Para pendusta juga menyadari dan mengetahui bahwa dalam harta yang mereka dapat, ada hak-hak orang miskin, anak yatim, musafir dan lainnya yang harus ditunaikan hak-haknya, dan itu merupakan kewajiban mereka, tapi mereka mendustakannya, dengan tidak menganjurkan dan memberi maka pada fakir miskin.

Para pendusta juga terdapat pada golongan orang yang lalai dalam shalatnya. Para mufasir ada yang mengartikan “lalai dalam shalat” berarti menunda-nunda waktu shalat, ada pula yang mengartikan bahwa lalai dalam shalat berarti mereka tidak tahu apa makna shalat dan arti bacaan dalam shalat.

43. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub[301], terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu Telah menyentuh perempuan, Kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.

[301] menurut sebahagian ahli tafsir dalam ayat Ini termuat juga larangan untuk bersembahyang bagi orang junub yang belum mandi.

Mabuk, diartikan mabuk karena minum khamar atau minuman keras, mabuk juga diartikan orang yang kehilangan kesadarannya, mabuk dapat juga berarti mabuk secara maknawi, yakni orang-orang yang secara lahiriah dan badanya melaksanakan shalat, sementara hati dan fikirannya entah dimana.

Kita sering merasakannya sendiri bagaimana ketika kita shalat, fikiran kita tengah “mabuk” pekerjaan, fikiran kita kadang dimabukan oleh berbagai masalah duniawi, fikiran kita kadang dimabukan oleh angan-angan kosong, fikiran kita kadang mabuk dunia, sehingga ketika kita shalat, bukan “Allah yang terlihat”, melainkan tumpukan kertas kerja, gambar jadwal yang padat, rencana dan keinginan duniawi serta angan-angan kosong yang dihembuskan oleh syetan durjana.

Kadang kita sering merasa terganggu dengan bunyi dering handphone ketika kita shalat, tapi kita sama sekali tidak merasa terganggu dengan dering hati kita yang melagukan keinginan duniawi kita.

Kadang kita marah kalau ada anak-anak yang ribut ketika kita shalat, tapi kita diam saja ketika hati kita ribut tak karuan memikirkan keinginan-keinginan nafsu kita, kita sering merasakan ingin ini dan itu ketika kita shalat.

Kadang pandangan kita juga merasa terganggu dengan gambar dan warna baju yang dipakai orang lain, tapi kita jarang merasa terganggu ketika kita “menggambar Allah dalam hati kita”, kita sering terjebak untuk ber-personifikasi” tentang Allah, padahal itu mustahil; “Laitsa kamislihi sai’un – tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”

Apa balasan bagi mereka, para pendusta agama yang lalai?

Para pendusta agama, yakni mereka yang lalai dalam mendirikan shalat, mereka yang tidak menganjurkan dan memberi makan fakir miskin dan anak yatim, serta biasa dan gemar berbicara yang bathil, serta mereka yang mendustakan hari kiamat, mereka akan menjadi penghuni neraka Saqar, Naudzubilah.

42. "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"
43. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,
44. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,
45. Dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,
46. Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan,


Apa itu neraka Saqar?

26. Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar.
27. Tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu?
28. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan [1527].
29. (neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia.
30. Dan di atasnya ada sembilan belas (Malaikat penjaga).
31. Dan tiada kami jadikan Penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan Ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan dia sendiri. dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.

[1527] yang dimaksud dengan tidak meninggalkan dan tidak membiarkan ialah apa yang dilemparkan ke dalam neraka itu diazabnya sampai binasa Kemudian dikembalikannya sebagai semula untuk diazab kembali.

Kalau lalai shalat saja demikian hebat azabnya, masihkah kita berani meninggalkan shalat?

Shalat tidak mempunyai uzur untuk ditinggalkan, shalat dengan berdiri ketika kita sehat, duduk tak kala kita sakit, berbaring ketika tak bisa duduk, berisyarat ketika tak mampu bergerak, dan Innalillahiwa inna ilaihi rajiuun, kita dishalatkan ketika berisyaratpun kita tidak mampu.

Jangankan karena hujan, angin atau panas, dalam badaipun kita tetap harus melaksanakan shalat.

Jangankan hanya dalam perjalanan, dalam keadaan perangpun kita harus tetap menunaikan shalat.

Konon lagi kalau alasan kita meninggalkan shalat karena malas, atau karena enggan, atau karena atasan kita tidak shalat, adakah istilah lain yang lebih baik atau lebih santun dari “Pendusta agama” bagi mereka yang meninggalkan shalat?

Mari kita memohon kepada Allah untuk diberi kemampuan untuk dapat menunaikan shalat dengan baik lagi khusyu, dan tidak dilalaikan oleh kesibukan oleh urusan dunia, apalagi sampai kita meninggalkan shalat karena malas.

Wassalam

Maret 15, 2007

PERMATA HATI

Selalu saja menarik menulis dan berbicara tentang hati, karena disana, didalam kata “hati” ada segudang Tanya dan misteri yang belum terungkap dan selaksa ilmu yang belum tersingkap.
Tak akan habis cerita tentang hati, tak akan basi berbicara tentang hati, tak akan jemu menuliskan bisikan dan kata yang terbersit dari hati, tak akan puas kita belajar bahasa hati, bahasa yang mengandung seribu makna, bahasa yang mengandung selaksa rasa, bahasa yang mengandung berjuta keindahan.

Kata hati, bahasa hati, gerak hati, tanya hati, kretegeng ati, banyak sekali istilah yang digunakan untuk berusaha mendefinisikan hati.

Hati adalah sebuah intan permata yang menyimpan sejuta kemilau dan keindahan, dari hati yang bersih akan terpancar cahaya keimanan, cahaya kebenaran, cahaya kearifan yang penuh pesona. Dari hati yang bersih akan semburat kilau yang penuh kearifan, dari hati yang bersih akan keluar sejuta kebijaksanaan, hati yang bersih adalah permata dengan berjuta kilau pesona.
Bagaimana menjadikan hati yang bersih, agar kilaunya keluar dan mampu menerangi jalan kehidupan yang akan dilaluinya?

Ada banyak cara untuk membersihkan hati, sehingga cahaya fitrah Rabbaniyah kita terpancar dominan dibanding dengan fitrah lainnya; salah satunya adalah melalui proses Muhasabah, yang diartikan sebagai sikap introspeksi diri dari setiap pribadi sebagai mahluk ciptaan Allah, melalui tiga tahapan, Yaitu Takhali, Tahali dan tajali.

Makna Takhali, digambarkan sebagai sikap untuk mengosongkan, memperbaiki sikap dan perilaku, serta meninggalkan pola-pola kehidupan yang lama yang tidak atau kurang sesuai dengan norma, tata aturan atau syar’at.

Proses ini meliputi proses pengosongan diri dari sifat-sifat hewani, seperti rakus, tamak, buas dan tak tahu malu, pemarah, pengumpat, pendendam, pendengki serta sifat grasa-grusu (tidak sabaran).

Takhali juga meliputi upaya untuk mengendalikan sifat-sifat syaitoniyah yang ada pada diri dan hati kita, seperti sifat sombong, ujub, takabur, riya dan malas beramal shaleh.

“Ketika satu hari baju ini sudah dipakai dan berkeringat, sudah pasti akan hilang rasa percaya diri. Mau tidak mau untuk menumbuhkan rasa percaya diri yang kotor ini, harus dilepas dan dicuci, kemudian diganti dengan yang baru. Ini namanya Takhali,” jelas Ustadz Jefry Al Bukhori pada saat ceramah memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharam 1427 H, Rabu (1/2), di Aula Sudirman Dephan, Jakarta.

Sementara Tahali digambarkan sebagai suatu aktivitas untuk mengisi kembali hati yang telah dibersihkan dengan proses Takhali dengan hal-hal baru yang lebih baik.

Sifat rakus dan tamak diganti dengan sifat Qana’ah, sifat buas diganti dengan sifat santun, sifat tak tahu malu diganti dengan sifat beradab, sifat pemarah, pengumpat, pendendam dan pendengki diganti dengan sifat pemaaf, serta sifat grasa-grusu diganti dengan sifat penyabar.

Sifat sombong, angkuh, ujub dan takabur diganti dengan sifat rendah hati, tepo seliro, tenggang rasa, hormat menghormati dan menghargai orang lain. Rasa malas diganti dengan sifat patuh, taat dan rajin dalam melaksanakan perintah Allah swt.

Sementara itu Tajali diartikan pemberdayaan sifat-sifat Rabbaniyah yang sudah terbentuk dalam proses tahali, sehingga bukan hanya bermanfaat untuk dirinya semata, tapi juga bermanfaat untuk orang lain dan lingkungannya.

Ketika kita sudah bisa berlaku Qana’ah dan kemudian ini kita tularkan kepada orang lain, insya Allah, tidak akan ada lagi kerakusan, kebuasan, nafsu serakah yang memangsa nilai-nilai kemanusian dalam bentuk korupsi, dalam bentuk diktator dan lainnya.

Ketika kita sudah bisa menjaga rasa malu kita, dan kita menularkannya kepada orang lain, insya allah tidak akan ada lagi kebinasaan umat dan lingkungan yang diakibatkan oleh tangan-tangan jahat yang tidak mempuyai rasa malu.

Ketika kita sudah bisa menjaga amarah dan lisan kita untuk hanya mengatakan dan menyampaikan kata dan perilaku yang baik, dan kita bisa menularkannya kepada orang lain, insya allah, perang dan kebiadaban tidak akan ada lagi, atau minimal bisa menekan angka kriminal dan tontonan kebrutalan dilingkungan kita.

Ketika kita sudah bisa berlaku sabar, baik sabar dalam menjalankan perintah Allah, maupun sabar dalam menjauhi larangannya, dan kita bisa menularkannya kepada orang lain, kedamaian tercipta, ketenangan terpelihara, harmoni bukan lagi sekedar impian.

Dalam bahasa lain, upaya atau proses penyempurnaan diri dan hati manusia, dapat dilakukan melalui proses Ta’alluq, yaitu sebuah upaya kita untuk menggantungkan hati dan pikiran kita hanya kepada Allah semata.

Proses selanjutnya adalah Takhaluq, yakni pengejawantahan sifat-sifat rabbaniyah, seperti sifat pemaaf, sifat penyabar, sifat kasih sayang dalam kehidupan keseharian kita.

Proses ketiga disebut proses Tahaqquq, yakni proses aktualisasi sikap rabbaniyah kita dengan menebarkan cinta kasih kepada sesama dan lingkungan, berbagi dengan sesama dan lingkungan, hormat menghormati dan saling menghargai sehingga tercipta kehidupan yang damai dan harmoni yang selaras dengan langgam yang digariskan dalam tata aturan syari;at yang benar.

Apapun namanya, bagaimanapun prosesnya, kebersihan hati adalah sebuah keharusan, yang tidak bisa ditawar atau ditunda, karena dengan hati yang bersih sajalah jalan kehidupan kita terterangi oleh cahaya kebenaran yang akan menuntun untuk meniti jalan yang akan mengantar kita kepada Allah Swt.

“Jaga hatimu, beri bingkai terindah, pelihara dari kotor dan debu, agar hati senantiasa hidup, segar dan lestari sampai kita kembali nanti.

Wassalam

Maret 16, 2007

SAYANGI DIRIMU

Kita semua pasti menyayangi diri kita sendiri, yang karena sayang dan kecintaan pada diri sendiri itulah kemudian kita berusaha untuk dapat memberikan yang terbaik yang kita mampu untuk diri kita.

Dalam segi penampilan fisik kita, kita berusaha menampilkan citra terbaik dari diri kita, kita mengenakan pakaian yang bagus, rapi dan mahal untuk membentuk citra diri kita bahwa kita orang yang perlente. Rambut ditata sedemikian rupa, pakai parfum dan minyak wangi, dan kalau perlu kadang kita meniru penampilan seorang bintang atau public figure untuk dijadikan contoh bagi kita, yang sekali lagi tujuannya untuk menampilkan diri kita sebaik mungkin sebagai perwujudan kecintaan kita terhadap sang “diri” kita.

Kita, atau diri kita, bukan hanya yang tampak secara lahiriah semata, bukan hanya jasad semata, tapi ada satu sisi lain”diri” kita yang kadang lupa untuk mendandaninya, sehingga sisi lain diri kita yang satu ini nampak kusam dan semrawut, tak terawat, lusuh dan kucel.

Kekurang pedulian kita pada “sisi lain diri” kita kadang justru melahirkan citra yang jauh lebih buruk dari yang kita bayangkan. Mungkin pakaian kita bagus dan mahal, mungkin kita berdandan dengan rapih, mungkin kita memakai parfum dan minyak wangi, mungkin rambut kita ditata sedemikian rupa, mungkin semuanya serba wah....tapi semua citra diri yang berusaha kita bentuk dengan image lahiriah saja, tidak akan menampilkan citra diri kita yang sesungguhnya, atau bahkan kadang citra lahiriah kita yang wah justru tertutup oleh citra dalam diri kita yang amburadul berantakan.

“Inner beauty” begitu istilah ndesonya, kecantikan dari dalam diri, citra diri, justru memiliki peranan yang sangat krusial bagi siapapun yang ingin tampil sempurna sebagai pribadi.
Lalu bagaimana cara kita menyayangi diri kita?

Untuk membentuk penampilan pribadi lahiriah, tentu anda lebih piawai, karena anda paling tahu diri anda, untuk membentuk citra diri dan inner beauty, mungkin bisa berkaca pada uraian berikut;

Dengan memelihara diri dari azab Allah; orang yang senantiasa memelihara diri dari hal-hal yang diharamkan Allah, akan terpelihara pula dari berbagai penyakit, baik itu penyakit lahiriah maupun penyakit bathiniah.

Bukankah penyakit AIDS, salah satunya diakibatkan oleh ketidakmampuan seseorang untuk memelihara diri dari apa yang diharamkan oleh Allah? Bukankah “jajan” adalah hal yang dilarang oleh Allah? Bukankah pakai jarum suntik untuk memasukan narkoba kedalam tubuh seseorang adalah juga hal yang dilarang Allah? Ketidak mampuan seseorang dalam memelihara diri dari azab Allah akan mengakibatkan kerusakan pada penampilan lahiriahnya, lebih-lebih pada citra diri bathiniahnya, akan kusut masai terkotori oleh berbagai hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Sebaliknya, seseorang yang mampu memelihara diri dari apa yang diharamkam Allah, akan terpelihara dari hal-hal yang akan mengotori jiwa dan lahiriahnya.

Dengan senantiasa bertaubat, dosa adalah ibarat debu yang menempel pada kaca atau seperti karat pada logam. Jika debu yang menempel pada kaca dibiarkan berlarut-larut, kaca pun kaca nampak kusam, tak lagi mampu memantulkan cahaya yang diterimanya. Pun ketika karat dibiarkan pada logam besi misalnya, pada suatu saat akan mengakibatkan korosi yang membuat logam rapuh dan tak lagi berguna.

Dengan senantiasa membersihkan debu-debu kekufuran, karat-karat kemusyrikan, biang kerak kemaksiatan, atau kotoran kemungkaran, diri kita, baik secara lahir maupun bathin, akan senantiasa bersih dan memancarkan aura dan citra diri yang positif.

Dengan senantiasa taat, ketaatan, adalah sebuah execise yang sangat bagus untuk melatih jiwa dan raga kita untuk dapat menimbulkan citra yang bagus.

Bukankah dalam shalat terkandung gerakan-gerakan yang mampu membuat metabolisme dan organ tubuh kita terlatih dengan baik. Disamping itu, shalat juga mengadung exercise bathiniah yang luar biasa, manakala kita menyadari bahwa pada saat kita shalat, kita tengah menghadap Rabb semesta alam yang akan mampu menggetarkan setiap ion dalam tubuh kita untuk taat dan tunduk pada keagungan sang Pencipta.

Bukankah dalam puasa juga terkandung sebuah hikmah untuk mengistirahatkan organ pencernaan kita dari aktivitas mengunyah makanan, sehingga memungkinkan organ tubuh kita untuk recovery dan beristirahat. Disamping puasa juga merupakan metode pelatihan bagi pengendalian keinginan kita yang tak terbatas, melatih sifat dan sikap ketaatan kita, melatih pembentukan nilai-nilai rabbani serta upaya pembersihan diri kita.

Dengan senantiasa ikhlas dalam ketaatan, rasa pamrih, riya, dan ingin dipuji hanya akan melahirkan stress yang berkepanjangan. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan, kita tidak mendapatkan pujian dari amaliah kita misalnya, akan menimbulkan stress manakala kita tidak mendapatkannya, yang kita tahu stress adalah salah satu penyebab buruknya penampilan kita, baik secara lahiriah, maupun secara bathiah. Stress yang berkepanjangan akan menimbulkan kerut pada wajah dan kening kita, selain juga akan menjauhkan kita dari sikap syukur kepada Allah yang akan membuat jiwa kita kerdil karenanya.

Sebaliknya, keikhlasan adalah sebuah resep mujarab untuk membuat kita senantiasa tersenyum dalam menjalani ketaatan kita pada Allah. Ikhlas, akan melahirkan aura yang mempesona pada wajah dan bathiah kita.

Orang yang menyayangi diri adalah orang yang senantiasa memelihara diri dari azab Allah, senantiasa bertaubat karena Allah, senantiasa taat karena Allah, dan Ikhlas lillahita’ala.
Pelihara lahirmu, perbagus bathinmu, Insya Allah kita termasuk orang-orang muflihuun, orang-orang yang beruntung fidunya wal akhirat, amiin.

Wassalam

Maret 17, 2007

MENJADI SANTRI DENGAN SHALAT

Dalam sebuah sesi tanya jawab yang disiarkan sebuah stasiun Radio, seorang ibu bertanya kepada nara sumber acara tersebut;

“Pak Ustadz, benar tidak ayat yang menyatakan bahwa shalat mampu mencegah perbuatan keji dan munkar?

45. Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Al Ankabut:45)

“Ya bu, ayat itu benar” Jawab Pak Ustadz

“Tapi Pak, disebelah rumah saya, ada seorang Haji yang setiap waktu shalat pergi kemasjid, mengenakan pakaian bagus, tapi kok perilakunya malah tidak sesuai dengan ayat diatas ya pak?” – Ibu tadi masih penasaran.

“Maksud ibu?” Tanya Pak Ustadz.

“Iya Pak, katanya shalat itu mampu mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar, tapi Pak Haji yang rajin shalat itu kok ya pelit banget sama tetangga, udah gitu kalau dimintain tolong, susah banget dan jarang gaul, gimana tuh, Pak?” Jawab si ibu dengan polosnya.

“Ibu, sekali lagi, tak ada yang salah dengan firman Allah diatas, bahwa shalat akan mampu menjadi benteng yang kokok bagi orang yang mendirikannya dari perbuatan keji dan munkar, perihal Pak Haji yang ibu ceritakan tadi, mestinya ibu bersyukur punya tetangga pak haji yang rajin kemasjid untuk shalat, ibu bayangkan kalau pak haji tadi tidak shalat, bagaimana jahatnya pak haji tersebut?, Sifat dan sikapnya sekarang seperti yang ibu bilang tadi, mungkin akan lebih parah kalau pak haji tadi tidak shalat” Jawab Pak Ustadz.

Terlepas dari puas tidaknya si ibu atas jawaban pak ustadz, satu hal yang menggelitik kita adalah bahwa Pak Haji shalat, tapi masih berperilaku demikian, dan sebenarnya bukan hanya pak haji saja yang demikian, karena kita akan dengan mudah menjumpai orang-orang yang sangat rajin kemasjid, rajin shalat, tapi masih menunjukan perilaku yang “agak” tidak sesuai dengan tujuan dan fungsi shalat itu sendiri.

Ada aparat yang rajin shalat, tapi pungli masih lancar terus.

Ada pejabat publik yang rajin shalat, korupsi masih tak berhenti

Ada pegawai negeri yang rajin shalat, bolosnya juga rajin

Ada pegawai swasta yang rajin shalat, juga tak mencerminkan perilaku seorang musholin

Ada pak Haji yang rajin shalat, tapi masih berbuat maksiat

Ada orang hapal al qur’an, tapi tak pandai menjaga lisan

Ada yang hapal hadits, tapi tak cakap menjaga diri

Ada yang rajin kemasjid, tapi rajin juga kediskotik

Ada yang rajin ketaklim, tapi rajin juga berbuat dhalim

Ada yang pandai mengaji, tapi belum pandai “mengkaji diri”

Atau bahkan kita yang “rajin” shalat juga belum menunjukan apa yang dituntut dari shalat itu sendiri, yaitu kita terproteksi dari perbuatan keji dan munkar, atau bahkan sebaliknya, rajin shalat, syirik tetap jalan, rajin shalat, bohong tetap jalan, rajin shalat, pelit tetap terpelihara, rajin shalat, sombong makin menjadi, rajin shalat, riya-nya tidak ketulungan, dan masih banyak lagi perilaku kita yang tidak sesuai dengan fungsi dan peran shalat.

Ada apa dengan shalat kita? kenapa shalat kita belum mampu menjadi benteng bagi kita untuk terlindungi dari perbuatan keji dan munkar?

Shalat, secara syar’i didefiniskan sebagai rangkaian ibadah yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam, dengan serangkaian rukun dan syarat sah-nya yang insya Allah kita semua sudah mafhum adanya.

Orang yang melaksanakan shalat dengan menyempurnakan rukun dan syarat sah shalat, berarti sudah menggugurkan kewajiban syari’atnya, Insya Allah. Lalu kalau kemudian shalat yang sah secara syari’at itu belum juga mampu memproteksi kita dari perbuatan keji dan munkar, mungkin kita harus belajar lagi mengenai “shalat yang benar”.

Shalat adalah satu kesatuan ibadah yang melibatkan Qawli, Qalbi dan Fi’li, maksudnya shalat adalah rangkaian ibadah yang mengharuskan adalah integrasi antara Qawli – Perkataan atau bacaan shalat yang benar, adanya kehadiran hati – Qalbi ketika shalat, serta menyempurnakan gerakan-gerakan shalat – Fi’li yang sesuai dengan syari’at.

Shalat adalah proses untuk menjadi Santri – Insan – Manusia, dengan tiga aktivitas ibadah, Perkataan, Hati dan Perbuatan.

Bacaan shala kita boleh jadi sudah fasih, gerakan kita pun boleh jadi sudah sesuai dengan tuntunan syari’at, tapi kadang kita lupa untuk menghadirkan hati pada saat kita shalat.

Rukun Qawly – bacaan yang sempurna, bisa gugur ketika seseorang yang tengah melaksanakan shalat itu bisu atau gagu, karena tidak mungkin orang bisu atau gagu melafadkan bacaan secara sempurna.

Rukun Fi’li – berdiri ketika shalat, ruku dan sujud, bisa gugur ketika yang melaksnakan shalat dalam keadaan sakit, lemah atau mengalami cacat tubuh yang tidak memungkinkannya untuk melaksanakan rukun fi’li secara sempurna.

Kehadiran hati, harus ada pada siapapun yang melaksanakan shalat. Kehadiran hati tetap harus muncul pada orang bisu atau gagu, kehadiran hati juga mutlak adanya pada orang yang tidak bisa berdiri untuk shalat, kehadiran hati inilah yang kadang justru kita banyak melupakannya.

Inilah kemudian yang disinyalir sebagai penyebab berkurangnya fungsi dan hikmah shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar. Shalat kita “hanya” sekedar penggugur kewajiban syari’at, shalat kita “hanya” sekedar ikut-ikutan, shalat kita hanya sekedar ciri kita sebagai orang Islam, shalat kita belum mampu mencapai esensi yang dikehendaki oleh shalat itu sendiri.

Kefasihan kita melafadkan bacaan shalat, boleh sangat jadi hanya menjadikan kita orang munafik, ketika hati kita justru berkata sebaliknya.

Kesempurnaan gerak kita, boleh jadi hanya ingin dikatakan khusyu oleh orang lain, manakala hati kita justru berdetak tak beraturan ketika kita shalat.

Kehadiran hati ketika kita shalat, akan melahirkan rasa takut dan cinta kepada Allah, kehadiran hati ketika kita shalat, akan menyadarkan kita bahwa kita tengah berhadapan dengan Allah Yang Maha Besar, yang membuat kita menjadi rendah hati karenanya, kehadiran hati memberikan kita kemampuan untuk berinstropeksi diri ketika kita sujud, bahwa kita hanya mahluk lemah, kehadiran hati akan menuntun bacaan dan ucapan lisan kita bahwa kita tengah berdialog denga Dzat yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui, kehadiran hati, akan membentuk pribadi yang terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.

Kita wajib bersyukur kepada Allah atas karunia lisan kita yang tidak gagu atau bisu, kita juga wajib bersyukur atas kesempurnaan fisik kita yang tidak cacat atau lemah, sehingga kita bisa melaksanakan rukun Qawli dan Fi’li secara sempurna, dan kita juga semestinya bersyukur tiada hingga dengan Qalbi yang ada dalam dada kita, agar shalat kita bukan lagi hanya sekedar penggugur syari’at, tapi shalat yang mampu menyelamatkan kita fidunya – dengan menjadi orang yang terproteksi dari perbuatan keji dan munkar, serta filakhirat – dengan mendapatkan buah amal yang kita tanam didunia.

Mari belajar shalat lagi, insya Allah dengan Nyantri lewat shalat, kita akan menjadi santri yang mampu berhubungan dengan Allah secara benar, berhubungan dengan manusia secara baik dan berhubungan dengan alam secara patut.

Wassalam

Maret 21, 2007

ALLAH:FIRST

Senang sekali rasanya melihat rekan-rekan mengenakan sebuah rompi kerja yang bukan hanya dari warnanya yang indah sedap dipandang mata, tapi juga moto yang tersemat dibelakang rompi itu ANZEN:FIRST – Keselamatan yang Utama.

ANZEN:FIRST bukan hanya tersemat pada rompi yang dipakai, tapi juga terpampang disekitar area workshop, yang salah satu tujuannya untuk mengingatkan kita, bahwa keselamatan kerja adalah penting dan harus diutamakan.

Lain lagi kata yang dijadikan moto oleh rekan penulis dipengajian Tawakal dipasar minggu, Jakarta Selatan, beliau bilang; Allah yang Pertama, yang lainya nomor dua, atau dengan kata lain: ALLAH:FIRST

Kenapa ALLAH:FIRST?

156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[101].

[101] artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. kalimat Ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.

Kita punya masalah/bencana, itu nomor sekian, Allah yang pertama, karena hanya Allah-lah yang mampu menyelesaikan masalah kita,


17. Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan dia sendiri. dan jika dia mendatangkan kebaikan kepadamu, Maka dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

Ketika kita dilanda ketakutan, itu nomor sekian, Allah yang pertama

Ketika kita dilanda kekurangan, itu nomor sekian, Allah yang pertama

Ketika kita dilanda kegelisahan, itu nomor sekian, Allah yang pertama

28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Ketika kita dilanda kemiskinan, itu nomor sekian, Allah yang pertama

Apapun masalah kita, betapapun ketakutan kita, semiskin apapun kita, seberat apapun depresi dan kegelisahan kita, selama kita masih menempatkan Allah pada posisi pertama dalam hati kita, Insya Allah, kita akan bisa melalui semuanya.

Lain halnya ketika kita menempatkan masalah kita pada posisi teratas, maka kita akan dilanda kebingungan yang luar biasa, lain halnya kalau kita menempatkan ketakutan pada atasan atau sesama mahluk, lain halnya ketika kita menggantungkan pertolongan dan bantuan atas kekurangan dan kafakiran kita kepada sesama mahluk, niscaya kita akan menjadi orang yang benar-benar merugi, merugi didunia, dengan tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, lebih diakhirat, kita akan mendapat azab dari Allah karena telah mempersekutukannya dengan Allah.
Pun demikian halnya dengan keselamatan, baik kesemalatan kerja, keselematan dalam perjalanan, keselamatan dirumah, semuanya serahkan pada Allah;

Bismillahirahmanirrahim, bismilahitawakaltu’alallah, laa hawla walaaquata ilabilah – Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, dengan nama Allah, kami berserah diri kepada-nya. Sesungguhnya tiada daya dan kekuatan kecuali dengan daya dan kekuatan Allah.
Bismillahiladzi Laa yadurru ma’asmihi fil ardhi wa laa fissama’ wahuwwa sami’ul ‘alim – Dengan nama Allah yang tidak akan menimpa kami apa yang ada dilangit dan dibumi kecuali apa yang telah ditakdirkan Allah, sesunguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(Al Hadid:22)

Pegang teguh prinsip ANZEN:FIRTS sebagai upaya lahiriyah dan syari’at kita untuk menjaga keselamatan kita, dengan senantiasa bersandar pada ALLAH:FIRST, sebagai satu-satunya pemilik keselamatan.

"Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dari Mulah kesejahteraan, Maha Suci Engkau wahai Rabb Yang Maha Agung dan Maha Mulia." (HR. Muslim)
Semoga dengan ALLAH:FIRST dan ANZEN:FIRST kita bisa selamat fidunya wal akhirat, amiin

Maret 21, 2007

Beningnya Hati Seorang Mukmin

2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Al Anfal:2)

[594] Maksudnya: orang yang Sempurna imannya.
[595] dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.

Lagi cerita tentang hati, pernahkah hati kita bergetar ketika disebut nama Allah?
Pernahkah hati kita menghayati al qur’an yang dengannya keimanan kita bertambah?
Kalau hati kita belum bergetar kala disebut nama Allah dan keimanan kita tidak bertambah kala mendengar kalamullah, bagaimana dengan keimanan kita? Bagaimana status kita yang mengaku sebagai orang beriman?

Hati yang bergetar adalah hati yang bersih dari debu kemusyrikan, sebersih embun pagi

Hati yang bergetar adalah hati yang bening dari lumpur kemunafikan, laksana telaga salsabil

Hati yang bergetar adalah hati yang berkilau laksana cahaya mentari

Hati yang bergetar adalah hati yang putih laksana awan diangkasa

Hati yang bergetar adalah hati seorang mukmin, hati sekilap cermin yang mampu

memancarkan cahaya ilahiyah untuk menerangi segenap ruang jiwanya, dan bahkan mampu menerangi orang-orang sekitarnya.

Hati yang bergetar adalah hati yang “hidup”, ada gitu hati yang mati?

Hati, sebagaimana jasad, akan mengalami sakit, akan mengalami penderitaan, akan mengalami pengerasan, akan mengalami penyumbatan dan bahkan akan mengalami kematian.
Apa saja yang dapat menyebabkan hati menjadi sakit dan kemudian mati?

Pertama, hati yang suka mengikuti syahwat. Syahwat disini tidak terbatas kemaluan dan perut, lebih dari itu adalah syahwat pola pikir dan pendapat pribadi. Dan justru yang terakhir inilah yang paling berbahaya. Allah berfirman (artinya),'Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas'.(Al Kahfi:28).

Hati seorang mukmin adalah hati yang tidak akan pernah mau diperbudak oleh logika dan nalar semata. Dengan kebeningan hatinya, seorang mukmin mampu mengendalikan syahwatnya, baik itu syahwat jasmani, maupun syahwat fikrinya.

Kedua, hati akan mati ketika hati “tertimbun” oleh kepetingan dunia semata.


86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (Al Baqarah:86)

Dunia, dapat diartikan harta, dunia dapat diartikan pangkat, dunia dapat diartikan kedudukan, anak, istri atau suami, yang melalaikan kita dari mengingat Allah, dan apabila ini sudah melanda hati kita, maka Allah menjanjikan “balasannya” sebagai berikut;

24. Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At Taubah:24)

Rasulullah bersabda yang artinya,' Akan terjadi fitnah yang dengan itu hati seseorang akan mati sebagaimana badannya mati, pagi hari ia menjadi mukmin dan sorenya ia menjadi kafir atau sebaliknya sore masih mukmin tapi pagi hari telah menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan sekerat dunia'.(H.R.Ibnu Majah)

Hati seorang mukmin yang bening adalah hati yang selalu memandang kebawah dalam urusan dunia, yang dengan itu hatinya senantiasa bersyukur terhadap nikmat-nikmat Allah Swt, karena hatinya mampu melihat betapa masih banyak orang yang lebih “menderita” atau kekurangan daripada yang ia alami.

Hati seorang mukmin yang bening adalah hati yang senantiasa melihat keatas dalam urusan akhirat, yang dengan itu hatinya tidak menjadi ujub dan takabur dengan amal ibadah yang telah dilakukannya.

Ketiga, hati akan mati manakala hati tertutup oleh dosa yang bertumpuk. Dosa yang bertumpuk akan menjadi karat yang akan menggerogoti hati, dosa yang bertumpuk akan menyebabkan korosi yang akan mengurangi fungsi hati sebagai piranti penerima cahaya ilahi, dosa yang bertumpuk juga akan mengeraskan hati laksana batu, atau bahkan lebih keras lagi;

74. Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, Karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.(Al Baqarah:74)

Hati seorang mukmin yang bening adalah hati yang akan senantiasa terjaga dari kotoran debu dan dosa yang melekat padanya, sekecil apapun itu. Kebeningannya memudahkan kita untuk mendeteksi partikel dosa sekecil apapun, dan hati yang bening akan mampu menghindarkan kita dari lubang-lubang dan perangkap maksiat yang dipasang sang setan durjana.

Hati seorang mukmin yang bening adalah hati yang tidak pernah melupakan dosa dan kesalahan masa lalunya, yang dengan itu dia akan selalu beristigfar dan bertoubat kepada Allah Swt.

Keempat, hati akan mati manakala terlalu banyak mendengar guyunan orang pandir. Suatu ketika mungkin kita perlu mendengar lelucon untuk menyegarkan pikiran kita, tapi harus diingat, banyak sekali lelucon dan guyunan yang kadang menghalalkan segalanya agar kelihatan lucu, seperti menjadikan keadaan fisik seseorang sebagai bahan tawa – tidakkah kita menyadari bahwa jasmani kita adalah pemberian Allah Swt kepada kita, lalu kalau kita mencela dan mentertawakannya, bukankah itu cenderung “pelecehan” terhadap Allah? (Pasti sebagian kita bisa berdalih bahwa kita tidak bermaksud demikian, tapi daripada kita terpeleset kearah itu, bukankah kita lebih baik mengurangi porsi mendengar lelucon itu), kadang juga kita menjadikan aib seseorang sebagai lelucon, menjadikan perkataan vulgar menjadi bahan lawakan.

Apa sih untungnya kita mendengar hal yang semacam ini? Perlu hiburan? Perlu ketenangan? Perlu refreshing? Dzikir kepada Allah akan membuat kita tentram, jauh lebih tentram dan damai dari sekedar mendengar lelucon orang-orang pander. Kalau ini berlangsung dalam rentang waktu yang lama akan menjadikan kita terbiasa untuk berlaku demikian, dan pada kondisi kronis, hati kita menjadi kering, layu dan akhirnya mati.

Hati seorang mukmin yang bening adalah hati yang dipenuhi dengan uraian dan untaian hikmah yang menjadi pupuk bagi jiwanya untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang paripurna. Hatinya terproteksi dari perkataan dan pendengaran yang sia-sia dan tiada guna. Hatinya justru haus akan siraman rohani dan nur ilahiyah, bukan dengan guyon dan lelucon yang banyak mengandung mudharat.

Bening hatimu, ridha Allah menantimu.......Bening hatimu, nyata imanmu.....
Wassalam
Maret 22, 2007

Tuesday, March 13, 2007

IQRA BISMIRABBIKA LADZI KHALAQ

“Biasanya, orang yang tidak banyak baca, dekat dengan kebodohan, dan kebodohan dekat sekali dengan kemiskinan”

Begitu kira-kira cuplikan iklan layanan masyarakat yang mengajak pemirsa untuk banyak membaca (koran), karena membaca merupakan kunci untuk membuka pintu ilmu pengetahuan, dan dengan ilmu pengetahuan itulah gerbang menuju kesuksesan terbuka, baik itu dunia maupun kesuksesan akhirat.

Kalau iklan diatas hanya menyatakan bahwa kekurangan membaca akan menimbulkan kebodohan dan selanjutnya menimbulkan kemiskinan, Islam lebih jauh menyatakan bahwa kemiskinan sangat dekat dengan kemusyrikan.

Lapar yang diakibatkan kemiskinan, memaksa sebagian orang untuk menukar akidahnya dengan sekantong beras dan satu duz indomie

Kebodohan yang akibatkan kemiskinan, memaksa orang untuk terjerat dalam jebakan kekufuran

Kebodohan (ruhani) juga mengakibatkan manusia tidak dapat mengenali diri dan Tuhannya, jadilah ia menuhankan selain-Nya, musyrik jadinya, Naudzubillah.

Untuk itulah jauh sebelum iklan diatas tayang, Al qur’an menempatkan perintah membaca dalam urutan pertama menurut urutan turunnya ayat al qur’an;

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

[1589] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

Surat Al ‘Alaq ayat satu sampai lima adalah ayat yang pertama diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw di Gua Hira, ketika itu malaikat Jibril memerintahkan Nabi untuk “membaca – Iqra...”

Nabi menjawab “ Ma Ana bi qaari.......saya tidak bisa membaca”, sampai tiga kali Malaikat Jibril mengulang perintahnya, sehingga kemudian Nabi menjawab “Ma aqra – Apa yang harus saya baca?

Kemudian malaikat Jibril melanjutkan, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan...........” sampai ayat kelima surat Al ‘Alaq.

Kalau membaca koran menjadi kebutuhan kita dewasa ini, bagaimana halnya dengan membaca Al Qur’an?

Al Qur’an adalah kalamullah yang berisi petunjuk;

1. Alif laam miin[10].
2. Kitab[11] (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[12],

Kalau seorang mekanik hendak menjalankan mesin, harus mengikuti petunjuk yang telah ditentukan agar mesin bisa berjalan dengan aman dan benar, mungkinkah kita menjalankan roda kehidupan kita tanpa petunjuk al qur’an?

Kalau seorang sopir harus melihat rambu dan peta agar dapat selamat sampai tujuan, akankah kita menjalani bentangan hidup kita tanpa Al Qur’an?

Kalau Al Qur’an memberikan petunjuk bagi keselamatan hidup kita, kenapa kita tak membacanya?

Kalau kita menjalani kehidupan ini tanpa bimbingan al qur’an, bukan berani namanya, tapi itu Nekat!

Al Qur’an adalah kalamullah yang berisi penawar dan rahmat;

82. Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al Israa:82)

Kalau kita kena bisa ular, perlu penawar / serum yang mampu menawarkan racunnya, mungkinkah kita dapat selamat dari racun-racun dunia, tanpa serum dari Al Qur’an?

Kalau tanaman saja memerlukan siraman air dan cahaya matahari agar dapat hidup dan tumbuh optimal, akankah kita bisa hidup secara benar dan optimal tanpa Al qur’an?

Kalau Al Qur’an merupakan penawar bagi racun-racun kehidupan dan siraman air Rahmat bagi kehidupan, kenapa kita tidak bersegera membacanya?

Al Qur’an adalah kalamullah yang berisi pembeda antara hak dan yang bathil;


185. (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al baqara:185)


Kalau kita berjalan ditengah kegelapan kita memerlukan suluh lentera untuk menerangi jalan kita, bagaimana mungkin kita berjalan ditengah belantara kehidupan tanpa cahaya pelita Al Qur’an?

Kalau kita Al Qur’an merupakan dian yang mampu menerangi kegelapan hati dan kehidupan kita, kenapa kita tidak membacanya?

Al Qur’an adalah kalamullah yang berisi obat;


57. Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus:57)

Kalau kita demikian gelisah ketika kita dijangkiti penyakit kanker, kenapa kita tak takut menderita kesombongan?

Kalau kita demikian gelisah ketika kita dijangkiti penyakit lever, kenapa kita tak takut menderita penyakit riya?

Kalau kita demikian gelisah ketika kita dijangkiti penyakit menular, kenapa kita tak takut menderita penyakit kemunafikan?

Kalau kita bersegera kedokter untuk mengobati penyakit lahiriah kita, kenapa kita tidak bersegera membaca al qur’an untuk mengobati penyakit yang ada didalam dada?

Kalau membaca koran demikian banyak manfaatnya, maka membaca al qur’an adalah jauh lebih banyak manfaatnya.

Al Qur’an adalah satu-satunya “bacaan” yang memberikan balasan pahala bagi yang membacanya.

Al Qur’an adalah satu-satunya “bacaan” yang akan memberikan syafa’at (dengan izin Allah) bagi yang membacanya

Al Qur’an adalah satu-satunya “bacaan” yang akan mampu memberikan ketenangan jiwa bagi yang membacanya.

Al Qur’an adalah satu-satunya “baacaan” yang dijamin keaslian dan kemurniannya.

Al Qur’an adalah satu-satunya “bacaan” yang sempurna, karena memang Al Qur’an adalah hasil karya Yang Maha Sempurna.

Kalau dengan membaca koran kita bisa terhindar dari kebodohan,maka membaca Al qur’an akan menjadikan kita bukan sekedar manusia yang pandai secara fikri, lebih dari itu, al Qur’an menawarkan kecerdasan rohani, kecerdasan spritual, kecerdasan yang mampu mengantar orang yang membacanya terhindar dari kemiskinan didunia, maupun kemiskinan diakhirat kelak.

So.......Vini, Vidi, Vici, Baca Al Qur’an, Pahami Al Qur’an dan Amalkan.........Insya Allah kita menjadi manusia yang “kaya” secara hakiki, dan terhindar dari kemiskinan ahlaqi

Wasaalam

Maret 13, 2007

SALSABILA

Salsabil(a), biasanya dipakai untuk menamai anak perempuan, sebuah nama yang indah, nama yang mudah diingat, nama yang cantik, nama yang begitu familiar ditelinga kita.

Salsabil, adalah sebuah mata air disurga;

18. (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. (Al Insan:18)


Mata air selalu identik dengan kejernihan airnya yang gemericik mengalir, mata air juga identik dengan sesuatu yang indah dan tenang, jauh ditempat yan rindang alami, dipenuhi pephonan rindang, hawa udara yang segar, pemandangan yang menghijau, jauh dari polusi dan kebisingan, mata air menawarkan kesejukan dan pelepas dahaga bagi orang-orang yang letih dan kelelahan.

Itu gambaran mata air didunia, bagaimana dengan Salsabil, mata air disurganya Allah? Pasti lebih jernih airnya, pasti lebih nyaring gemericiknya, sehingga mampu membuat terpesona orang yang berada disana, pasti jauh lebih tenang, pasti jauh indah, lebih rindang dan lebat pepohonannya, lebih segar udaranya, menghijau laksana permadani pemandangannya, pasti juga terproteksi dari polusi dan kebisingan, karena disurga, jangankan orang ribut atau gaduh, perkataan yang sia-sia pun tak akan terdengar disana, Salsabil pasti sebuah mata air yang keindahan dan kesejukannya, tak akan mampu dideskripsikan oleh tulisan beribu lembar sekalipun, bahkan tak pernah terbersit dalam benak sekalipun, demikian indah dan penuh pesona.

Siapakah orang-orang yang beruntung mendapatkan mata air surga tersebut? Adakah kita salah satunya? Siapa saja mereka?

Ayat kelima sampai ayat kesepuluh Surat Al Insan menerangkan siapa saja yang memenuhi syarat untuk mendapatkan Salsabil didalam surga Allah;

5. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur[1536],

6. (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.

7. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.

8. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.

9. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

10. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.

[1536] Kafur ialah nama suatu mata air di surga yang airnya putih dan baunya sedap serta enak sekali rasanya.

Apa yang dimaksud dengan kebajikan?


177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. (Al Baqarah:177)

Kebajikan adalah “Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

Beriman kepada Allah, kepada Malaikat, beriman kepada kitab-kitab-Nya, kepada Nabi, tambah dengan beriman kepada hari akhir dan taqdir Allah adalah Rukun Iman, sementara memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat adalah rukun Islam, kedua rukun tersebut harus terpenuhi secara sempurna, maka kita Insya Allah akan mendapat Ridha dan Surganya Allah, yang didalamnya ada Salsabil, mata air yang sejuk lagi menyegarkan.

Selain itu juga, kebajikan mensyarakatkan kita untuk menepati janji, janji kepada siapa?

Janji kepada Allah, “Innashalati wanusuki wamayahya wamamati lillahita’ala” adalah sebuah janji kepada Allah yang setiap hari kita ikrarkan dalam shalat kita, sudahkah kita menepatinya? Menepati bahwa shalat kita bukan untuk dilihat dan dipuji orang, bahwa hidup kita bukan untuk mengabdi kepada setan atau atasan, bahwa mati kita bukan tanpa tujuan, tapi semua lillahita’ala, semuanya karena Allah Swt.

Jangan pula remehkan janji kita kepada sesama manusia, karena mungkin suatu saat, janji yang kita anggap sepele itu akan menjadi pengganjal pintu surga kita, sehingga kita kesulitan masuk kedalamnya;

23. Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya Aku akan mengerjakan Ini besok pagi,
24. Kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah"[879]. dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". (Al Kahfi:23~24)

[879] menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada nabi Muhammad s.a.w. tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar Aku ceritakan. dan beliau tidak mengucapkan Insya Allah (artinya jika Allah menghendaki). tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana nabi lupa menyebut Insya Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.

Kemudian bagian akhir ayat al Baqarah 177 diatas menyebutkan “dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan”. Yang sekali lagi memperkuat keyakinan kita bahwa sabar adalah sebuah kunci dari pintu surga, bahwa sabar adalah tiket untuk mendapatkan maqam tertinggi disisi Allah;


153. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(Al Baqarah:153)

[99] ada pula yang mengartikan: Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.

Salsabil, telaga yang berisi air kenikmatan, tidakkah kita merindukannya?

Wassalam;

Maret 12, 2007

Monday, March 12, 2007

Terima kasihku, untukmu Pak Ustadz

1. Jika kamu ditimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan: " Coba kalau seandainya saya bertindak begini, tentu hasilnya akan begini dan begini". Tapi katakanlah "Allah sudah mentaqdirkan dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki"
Sebab sesungguhnya perkataan "seandainya" akan membuka (pintu) perbuatan syetan. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah (HR.Muslim)

Dari: Bp. AS Maret 12, 2007 07:52.56

2. "Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami.Dia-lah pelindung kami, hanya kepada Allah-lah orang-orang mukmin bertawakal (Qs9:51)

Dari: Bp. AS - Maret 12, 2007 07:15:56

3. Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, setiap keadaanya(akan mendatangkan) kebaikan, jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya, jika mendapatkan musibah, ia bersabar, maka itu baik baginya (HR.Muslim)

Dari: Bp. AS - Maret 12, 2007 11:14:00

4. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram,(Qs:Ar Rad:28)

Dari: Bp. AS Maret 12, 2007 10:38:03

5. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya (Qs:65:3)

Dari: Bp. AS Maret 12, 2007 10:38:03

6. "Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar bagi kesulitannya, dan memberi rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya (Qs:65:2-3)

Dari: Bp. AS Maret 12, 2007 09:55:38

7. Dalam masalah dunia, "lihatlah orang yang ada dibawah kalian, dan jangan lihat orang yang diatas kalian (HR.Muslim)

Dari: Bp. AS Maret 12, 2007 12:59:11

8. "Aku tahu bahwa rezekiku tidak mungkin diambil orang, oleh karenanya, hatiku tenang. Aku Tahu amalku tidak mungkin dilakukan orang lain, maka aku menyibukan diriku untuk beramal (Imam Hasan Al Basri)

Dari: Bp. AS Maret 12, 2007 11:42:52

ADA SURGA DIHATIMU

Dalam perjalanan pulang setelah Kaizen Meeting di Jakarta, kami, penulis, former Assistant General Manager Autopart serta Pak sopir yang baik hati, terlibat pembicaraan yang sangat menarik selama perjalanan yang memakan waktu kurang lebih satu setengah jam itu;

“Cas, kamu kan suka baca al qur’an tidak?” Tanya Pak AGM yang bijak itu.

“Alhamdulillah pak, dikit-dikit” Jawab penulis, karena memang demikianlah keadaanya.

“Kamu tahu apa isi kandungan al qur’an?”

Penulis sejenak terdiam, menyadari kekurangan penulis mengenai apa yang ditanyakan;

“Saya hanya tahu sedikit, Pak, saya hanya sedikit tahu kalau al qur’an terdiri dari 6,236 ayat, 114 Surat yang terbagi dalam 30 Juzz menurut susunan al qur’an Ustmani yang umum kita pakai sekarang” Jawab penulis.

“Lalu.......?”

“Al qur’an secara garis besar menurut pendapat sementara kalangan, kandungan isinya terbagi kedalam tiga atau empat kategori, yaitu mengenai Tauhid, Hukum-hukum, serta kisah orang-orang terdahulu, lalu ada yang menambahkan bahwa al qur’an juga memuat berita tentang masa yang akan datang (hari kiamat dan alam akhirat)” Jawab penulis.

“Kamu tahu dari sekian ribu ayat yang kamu sebutkan tadi, ayat mana yang paling penting untuk kamu pahami dan kamu hayati kandungannya?”

“Menurut saya, semuanya penting, pak, karena semua ayat, surat dan juzz al qur’an saling berkaitan dan saling melengkapi satu sama lainnya”, Jawab penulis

“Secara umum kamu benar, tapi kamu harus cari satu ayat saja, yang dengan ayat itu, Insya Allah kamu akan menjadi orang yang bahagia”, Paparnya.

“Ayat kursi, pak? Tanya penulis penasaran.

“Ayat kursi memang benar ayat yang agung dalam al qur’an, sehingga banyak ulama yang menyatakan berbagai fadhilah, hikmat serta kandungan yang terdapat dalam ayat kursi, tapi bukan itu ayat yang saya maksud” Paparnya.

“Surat Al Ikhlas, Pak?”

“Kenapa Surat Al Ikhlash?”

“Dari apa yang saya pahami, dan beberapa buku yang pernah saya baca, surat al ikhlas memuat unsur ketauhidan yang merupakan pokok dari ajaran Islam, yaitu mempercayai dan meyakini bahwa Allah adalah Esa, bahwa Allah adalah satu-satunya tempat kita bergantung, Dia-lah Allah yang tidak beranak dan diperanakan serta tidak ada yang setara dengan Dia, dengan demikian, ketika kita bisa memahami hakekat kandungannya, berarti kita sudah memahami 1/3 kandungan al qur’an, yaitu Tauhid” Jawab penulis, merunut pada apa yang pernah penulis baca.

“Itu juga mungkin benar, tapi bukan itu yang saya maksud”

“Apa ya Pak?” Penulis tak menemukan ayat atau surat yang dimaksud dalam perbendaharaan ruang pengetahuan penulis.

Beliau tersenyum, “Coba kamu pikirkan ayat berikut;


156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[101].(Al Baqarah:156)

[101] artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. kalimat Ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.

Kenapa “"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun”? Bukankah kalimat ini adalah kalimat yang biasa kita ucapkan ketika kita mendengar seseorang yang meninggal dunia?

Bukankah kalimat ini adalah kalimat yang biasa tertulis dikeranda untuk mengantar jenazah ketempat peristirahatannya yang terakhir?

Ada banyak sekali pertanyaan yang muncul didalam benak penulis, tapi rasa penasaran dan pertanyaan yang silih berganti bermunculan itu tak sempat terucap keluar, hingga beliau meneruskan penjelasannya;

“Kapan kamu merasa bahagia?” Tanya beliau

“Saat saya mendapatkan apa yang saya inginkan, bisa berupa uang, barang atau sesuatu yang lain yang menurut saya perlu untuk didapatkan” Jawab penulis

“Kapan kamu merasa tidak bahagia?” Tanya beliau lagi

“Saat saya merasa kehilangan sesuatu, saat saya takut sesuatu, saat saya tidak memiliki apa yang saya butuhkan menurut saya, saat saya sakit, saat saya ditimpa sesuatu suatu “musibah........” Papar penulis fasih, karena memang sebagian dari kita (penulis khususnya), lebih banyak ingat akan penderitaan dibanding dengan nikmat Allah yang telah demikian banyak tercurah dan terlimpah pada kita.

“Apakah kamu merasa bahwa apa yang kamu dapatkan sehingga mampu membutmu bahagia adalah hasil usahamu semata?

“Apakah rasa kehilangan, rasa khawatir, rasa takut, dan berbagai rasa yang membuat kamu seolah orang yang paling menderita itu adalah semata-mata terjadi begitu saja?”

“Tidak, kebahagiaan yang kamu dapat dan kamu rasakan, penderitaan yang kamu alami atau sesuatu yang kamu takutkan, bukanlah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, tapi merupakan sebuah skenario besar dari Penciptamu, agar kamu bisa dengan benar mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun” Papar beliau dengan arif dan bijaksana.

Penulis terdiam, masih belum sepenuhnya mengerti uraian dan paparan beliau, hingga beliau melanjutkan;

“Kita bisa “membuat” kebahagiaan dan surga dihati kita, dengan mensyukuri segala nikmat yang Allah telah berikan kepada kita, sekecil apapun nikmat itu menurut kita, ketika kita menyadari itu adalah pemberian dari Allah, maka kita akan sangat bahagia karenanya, kita akan berbunga-bunga ketika kita menyadari bahwa Allah memberi kita sesuatu sebagai bukti Keagungan dan Rahman Rahim-Nya.

(Penulis belakangan menganalogikan uraian tersebut seperti ini; ketika kita diberi “sesuatu” oleh orang yang kita cintai, terlepas dari apapun bentuk dan bendanya, kita akan sangat bahagia karenanya, apalagi jika kita tahu yang memberi sesuatu itu adalah Allah, sang pemilik cinta yang hakiki, sang pemilik karunia yang abadi, tidakkah kita akan merasa bahagia karenanya?).

“Kita bisa “membuat” neraka dihati kita dengan berlaku kufur terhadap pemberian dan nikmat Allah.

Kalau kita diberi kesehatan, kemudian kita menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allah, niscaya akan terbentuk neraka dalam hati kita, kita akan merasa dikejar-kejar rasa bersalah dan dosa, kita akan dituntut oleh fitrah kebenaran yang ada didalam hati kita dengan dakwaan yang akan membuat kita serasa dineraka karenanya.

Kalau kita diberi rezeki yang berlimpah, kemudian kita membelanjakannya dijalan setan, untuk berjudi, untuk berjina, untuk mendhalimi sesama, berlaku kikir, pelit, medit, merege hese cap jahe, dan menjadikan harta dan kekayaan yang kita miliki sebagai sekutu bagi Allah, niscaya neraka akan segera menyebar seantero hati dan jiwa kita. Fitrah Rabbaniyah kita, rasa sayang yang ada didalam hati kita, rasa cinta, rasa kemanusiaan kita, akan mengejar pertanggung jawaban dari kita, mengejar kita denga pertanyaan dan serangkaian “serangan” yang akan membuat kita tak nyaman karenanya.

Ketika kita diberi amanah berupa ilmu dari Allah, kemudia kita hanya menggunakannya untuk berbangga diri, untuk menjadi ahli debat semata, untuk membodohi orang lain, maka kita pun telah membuat neraka dihati kita.

Kekufuran, baik itu ketika kita diberi waktu lapang dan kesehatan, baik itu ketika kita dititipi harta dan kekayaan, baik itu ketika kita diamanahi ilmu dan pengetahuan, akan menjadikan manusia yang senantiasa merasa gerah, merasa kepanasan, merasa tidak aman, merasa tidak nyaman, merasa panik, takut dan lain sebagainya, seolah kita tengah berada didalam neraka.

Sebaliknya, Allah menggambarkan syurga sebagi tempat nan teduh penuh pepohonan rindang, gemericik air mengalir, buah-buahan yang tersedia, bidadari bermata jeli, dipan-dipan yang terbalut sutera nan lembut, nyaman, aman, tentram dan bahagia, bukankah kita bisa membuatnya, membuat kenyamanan, ketentraman dan kebahagian itu dalam hati kita dengan mensyukuri nikmat-Nya?.

Hati yang tentram, aman, bahagia, tak ada rasa sedih yang berlebihan, tak ada tangis yang berlebihan, tak ada rasa takut yang tak beralasan, dapat terbentuk manakala kita menyadari bahwa semua yang ada pada kita, baik itu bahagia maupun derita menurut kita, toh semuanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Apa yang patut kita banggakan, sehingga kita menjadi sombong karena ilmu, amal dan harta kita, kalau kita menyadari semuanya adalah sebentuk karunia Allah, yang kapanpun, ketika Allah menghendaki, semuanya akan kembali kepada-Nya.

Apa yang patut membuat kita bingung dan ketakukatan, kalau kita meyadari betapapun kita kekurangan, betapapun kita miskin, betapapun kita menderita, toh semua juga berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Jika kita bisa membuat “surga” dihati kita dengan mensyukuri nikmat-Nya, lalu kenapa kita justru membangun “neraka” dengan berlaku kufur terhadap nikmat-nikmat-Nya?

Ada surga dihatimu, ada surga dihati orang-orang yang pandai bersyukur, ada surga dihati orang-orang yang berserah diri pada Allah semata, ada surga dihati orang-orang yang mampu memaknai dan memahami ““Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun”

Wassalam

Maret 12, 2007

Thursday, March 8, 2007

ORANG PINTAR SELALU PUNYA WAKTU UNTUK ALLAH DAN DIRINYA

Kesibukan, tak akan berhenti selama kita masih berada didunia ini, sibuk cari uang, sibuk ngurus anak, sibuk ini dan itu, dan berbagai macam kesibukan insya allah pasti akan selalu mewarnai kehidupan kita sehari-hari.

Kesibukan kita bekerja mencari nafkah untuk diri dan keluarga kita, kadang menyita hampir seluruh waktu kita, bahkan ada beberapa diantara kita yang ketika pulang atau pergi dari, lampu listrik selalu menyala, pagi berangkat ketika pagi buta, saat lampu belum dimatikan, pulang kadang larut malam setelah lampu dinyalakan.

Seorang teman bahkan pernah berkata bahwa ia hampir tidak pernah melihat matahari ketika hari-hari kerja. Ia harus berangkat ketika matahari masih tertidur pulas berselimut awan, sementara ia pulang ketika matahari sudah beranjak keperaduan. Bahkan kadang saat istirahat kerjapun ia masih harus duduk manis didepan komputer untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang seolah sambung-menyambung tiada henti.

Pagi pergi, pulang malam, rutinitas yang demikian membosankan bahkan kadang kita seperti robot atau mesin yang hanya tahu bekerja dan berkerja, kadang kita lupa bahwa keluarga kita juga memerlukan kita, bahwa tubuh kita juga memerlukan istirahat, otak kita pun perlu penyegaran, jasmani dan rohani kita juga perlu “vitamin” untuk dapat bekerja dengan layak, dan kadang bahkan kita lupa bahwa kita diciptakan Allah semata-mata untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya;


56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (51:56)

Kita memang masih dialam kasab, yang mengharuskan kita untuk bekerja dan berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan atau untuk memenuhi kebutuhan lahiriah kita, tapi kita juga tidak boleh lupa bahwa ada hak Allah yang yang harus kita penuhi, yaitu untuk diibadahi.

Kesibukan kasab kita, tidak boleh melalaikan kita dari mengingat Allah, kesibukan upaya kita tidak harus menelantarkan hak-hak Allah, karena untuk mengabdi kepada-Nya sajalah kita diciptakan.

Lalu bagaimana ditengah kesibukan yang demikian padat ini kita bisa membagi waktu untuk Allah?

Pertama, luruskan niat dalam segala aktivitas dan kegiatan hanya untuk Allah; Ilahi anta maksudi, waridhaka matlubi, ‘a tini mahabbataka wa makrifataka – Ya Allah hanya Enkaulah yang hamba maksud, ridha-Mu yang hamba harapkan, berilah hamba kemampuan untuk dapat mencintai-Mu dan berMakrifat kepada-Mu”, sehingga segala aktivitas kita insya Allah akan dicatat sebagai sebentuk pengabdian dan ibadah kepada Allah.

Keberangkatan kita kekantor atau ketempat kerja, keberadaan kita dikantor atau ditempat kerja, apa yang kita lakukan, insya Allah semuanya akan bernilai ibadah; Carilahh uang untuk mendapatkan ridha-Nya, dan bukan hanya bekerja untuk mencari uang semata.

Kedua, sertakan Allah dalam setiap aktivitas dan kegiatan kita, kadang menjelang berangkat berdagang seorang pedagang minta rezeki yang halal kepada Allah , tapi ketika sampai dipasar, ia lupa dengan do’anya dan berbohong kepada pembelinya. Kadang kita berangkat kekantor dengan memohon kepada Allah agar dimudahkan kerjaan kita, tapi sampai dikantor, apa yang kita lakukan justru malah mempersulit diri kita sendiri. Allah seolah hanya ada dimasjid dan saat kita shalat, sehingga ketika kita dikantor atau dipasar, seolah-olah Allah tidak melihat amaliah kita atau bahkan kadang seolah-olah Allah tidak ada.

Ketiga, berdzikirlah, baik secara lisan, dzikir qalbu, dzikir fikri, serta dzikir lain untuk mengingatkan kita senantiasa bahwa Allah selalu bersama kita dimanapun kita berada;

4. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian dia bersemayam di atas ´arsy[1453] dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya [1454]. dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Hadiid:4)

[1453] bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.

[1454] yang dimaksud dengan yang naik kepada-Nya antara lain amal-amal dan do´a-do´a hamba.

Kesadaran kita bahwa Allah senantiasa “ada” bersama kita dan melihat apa yang kita kerjakan, akan melahirkan sebuah sifat dan sikap “mawas” pada diri kita, bahwa kita senantiasa dalam pengawasan Allah, bahwa Allah melihat dan mendengar apa yang kita lakukan dan kita katakan.

Orang pintar bukanlah orang yang hanya pandai mencari uang dengan seluruh potensi waktunya semata, orang pintar bukanlah orang yang seperti robot pencetak uang, orang pintar bukanlah orang yang tidak pernah melihat lampu rumah dipadamkan, orang pintar bukanlah orang yang hampir tidak pernah bisa melihat matahari, orang pintar adalah orang selalu punya waktu untuk Allah dan untuk dirinya, sesibuk apapun dia, karena orang pintar menyadari sepenuhnya kewajibannya sebagai seorang abdi bagi Allah semata.

Orang pintar, selain dari potensi yang telah ada pada dirinya, juga memerlukan pengembangan dari potensinya. Sebagus apapun bibit yang ada, ketika tidak disemai ditempat yang layak, tidak disirami dengan kuantitas yang tepat, tidak dipelihara dan dijaga, tidak dipupuk, niscaya bibit unggul itu hanya tinggal cerita.

Pun demikian dengan kita, mungkin kita keturunan orang yang terpelajar, mungkin kita anak ustadz, mungkin kita mempunyai IQ yang tinggi, tapi ketika semua potensi yang ada tersebut ditelantarkan dengan alasan kesibukan cari uang dan aktivitas lainnya, niscaya keunggulan dan potensi yang kita miliki hanya sebatas kebanggaan semu.

Orang pintar adalah orang yang selalu punya waktu untuk dirinya, untuk belajar dan mengembangkan potensi yang dimilikinya, orang pintar selalu membuka mata dan pendengaran dan senantiasa meluangkan waktunya untuk belajar;

“Menuntut ilmu adalah fadhu yang diwajibkan sejak kita dalam buaian, hingga kita diantar keliang lahat”, dan hanya orang pintar sajalah yang mampu menggunakan waktunya untuk menambah wawasan dan ilmunya.


Wassalam

Maret 07, 2007

Wednesday, March 7, 2007

BAHASA HATI

Hati adalah sebuah organ dalam vertebrata, termasuk manusia. Organ ini memainkan peran penting dalam metabolisme dan memiliki beberapa fungsi dalam tubuh termasuk penyimpanan glikogen, sintesis protein plasma, dan penetralan obat. Dia juga memproduksi bile, yang penting dalam pencernaan. Istilah medis yang bersangkutan dengan hati biasanya dimulai dalam hepat- atau hepatik dari kata Yunani untuk hati, hepar.

Hati dalam bahasa Arab adalah Qolb, yang kemudian di-Indonesiakan menjadi kalbu. Ada dua pendapat berkenaan dengan pengertian Qolb. Pertama, Qolb adalah suatu lintasan perasaan pada diri manusia tapi tak berwujud sebuah benda atau anggota tubuh. Ia adalah sesuatu yang abstrak, yang hanya bisa dirasakan.

Kedua, Qolb adalah suatu organ tubuh yang terletak didada manusia sebagai tempat bertarungnya pengaruh kebaikan dan kejahatan. Oleh karena itu Qolb selalu terbolak-balik dan mengharu biru bergejolak. Inilah pendapat yang lebih kuat karena didukung ayat 46 QS. Al Hajj


46. Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

Demikian sekelumit definisi hati, baik secara biologis maupun definisi maknawi.

“Hati adalah cermin tempat dosa dan pahala berlabuh”, demikian syair sebuah lagu, dan pasti definisi “hati sebagai cermin tempat pahala dan dosa berlabuh” berbeda dengan definisi hati secara biologis diatas, ini cenderung mengarah pada pengertian hati secara maknawi, yaitu bisa berupa lintasan perasaan pada diri manusia atau sebuah tempat bertarungnya pengaruh kebaikan dan kejahatan.

Bahasa Hati adalah kata-kata yang terlintas dalam perasaan yang kemudian dituangkan dalam bentuk lisan, tulisan ataupun perbuatan kita, sebagai pengejawantahan dari apa yang tersirat dari dasar hati kita, sehingga jangan heran kalau kemudian ditemukan berbagai “kata hati” yang agak aneh dan asing terdengar ditelinga dan terbaca oleh mata, karena bahasa hati adalah “Bahasa Rasa” yang hanya akan terbaca dengan hati dan perasaan saja.

Kenapa kita harus mengenal “Hati” dan “Bahasa” yang digunakannya?

Cinta adalah bahasa hati, yang tak akan bisa sepenuhya diungkapkan dengan seribu kata cinta, misalnya.

Sayang adalah bahasa hati, yang tak mungkin kiaskan dengan alunan lagu dan musik semerdu apapun iramanya.

Kasih adalah bahasa hati, yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang merasakannya

Khusyu adalah bahasa hati, tidak bisa dibuktikan hanya dengan mengatakan “tadi saya khusyu banget shalat”, bukan, bukan itu.

Ikhlas adalah bahasa hati, kata “saya sih ikhlas”, tak sepenuhnya mewakili bahasa hati tentang keikhlasan itu sendiri.

Taat adalah bahasa hati, mungkin terlihat lewat gerak jasmani, tapi mungkin juga bertolak belakang dengan kata hati kita, hanya Allah dan kita yang tahu.

Keinginan untuk bertaubat, keinginan untuk mengabdi semata kepada Allah, keinginan untuk taat, keinginan untuk berbagi dengan sesama, adalah bahasa hati yang benar, yang dikomandoi dan dituntun oleh fitrah Rabbaniyah kita, dan inilah bahasa hati yang harus kita ikuti.

Sementara ada sisi lain dari hati yang berupa “rasa” dan “bisikan” syetan yang juga dinisbatkan sebagai bahasa hati seperti;

Rasa malas adalah bahasa hati, rasa enggan adalah bahasa hati,rasa iri adalah bahasa hati, Ingkar juga adalah bahasa hati, yang semuanya abstrak dan tidak terlihat secara kasat mata.

Bila tersirat dihati kita keinginan untuk berjudi, bila tersirat dihati kita ingin berzina, bila tersirat dihati kita rasa marah, bila tersirat dihati kita ingin mencela, bila tersirat dihati kita keinginan untuk menghujat, itu juga bahasa hati, bahasa hati yang telah terkontaminasi oleh sifat-sifat Bahimiyah – Sifat kebuasan kita, tercemari oleh sifat Sabaiyah – Sifat kerakusan kita, serta telah terkotori oleh sifat Syaitoniyah kita, rasa dan keinginan yang telah tercampur dengan racun-racun nafsu inilah yang harus kita saring dan kita kendalikan agar tidak menjerumuskan kita.

Syaiton, kata Pak Ustadz, seperti udara yang selalu menempati ruang kosong, seperti ketika perut kita kosong, maka udara atau angin akan segera mengisi ruang kosong diperut kita, maka kita akan kembung dan masuk angin karenanya.

Pun demikian dengan syaiton, ia akan menempati ruang hati yang kosong dari dzikrullah, dan ketika syaitan sudah bersemayam didalam hati kita, maka ia, dengan keangkaramurkaanya akan menjadikan kita sebagai budaknya, ia, akan selalu menyuruh kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah Rabbaniyah kita, ia, akan berusaha menjadi raja dinegeri kegelapan hati kita yang tidak memiliki cahaya ilahiyah, Naudzubilah min dalik.

Kita harus mengenali Bahasa hati kita agar kita selamat dari muslihat syetan yang mendompleng dalam “kata hati”, agar kita selamat dari tipu daya syetan yang mengatas namakan bahasa hati.

Caranya?

Penuhi hati dengan Dzikrullah, setiap saat, setiap detik, bahkan setiap hembusan nafas kita, selalu berdzikir, sehingga syaitan tidak mempunyai ruang untuk mengisi kekosongan hati kita, Insya Allah, ketika kita senantiasa dengan Allah, kita akan terhindar dari bisikan atau bahasa hati yang menyesatkan.

“Siapa yang mengenali hatinya, maka ia akan mengenal siapa dirinya, siapa yang mengenal siapa dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”

Kebesaran Allah, keagungannya, Ilmu-nya, Qudrat dan Iradah-Nya akan sangat jelas terlihat manakala kita berkaca pada diri kita sendiri, Allah sangat dekat dengan kita, hanya kadang kita yang justru menjauhi-Nya.

Allah tidak pernah bosan menerima permohonan kita, tapi kadang kita yang sombong dengan merasa jenuh untuk memohon pada-Nya.

Pintu Magfirah-Nya tidak pernah tertutup untuk kita selama nafas kita masih berhembus, tapi kadang kita yang tidak mau memasukinya.

Rahmat-Nya terbentang luas, sejauh pandangan mata kita, bahkan lebih luas lagi, tapi kadang kita silau oleh keangkuhan kita, sehingga tidak lagi terlihat besar dan banyaknya Rahmat yang terlimpah untuk kita.

Hati yang bersih, hati yang hidup, hati yang selalu berdzikir sajalah yang akan mampu menangkap sinyal-sinyal ilahiyah yang senantiasa terpancar penuh anugerah dan pesona.

Orang yang pandai memaknai Bahasa Hati sajalah yang mampu berdialog dengan dirinya, yang mampu menjadikan hatinya sebagai teman untuk bercengkrama, yang mampu memberdayakan hatinya sebagai sarana untuk menangkap pesan-pesan yang tersaji lewat berbagai peristiwa dan kondisi.


205. Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(7:205)

Siapa nama Tuhanmu? Tentu tak ada ilah lain selain Allah, maka serulah Allah, dengan menyebut nama-Nya yang indah nan Agung…….

103. Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.(4:103)

Kapanpun, dimanapun, baik saat duduk,waktu berdiri atau ketika kita berbaring, Allah, Allah, Allah sajalah yang kita ingat;


152. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (2:153)

[98] Maksudnya: Aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu.

Agar Allah-pun senantiasa mengingat kita, baik ketika kita senang, lebih lagi saat-saat kita menjalani ujian dan cobaan-Nya.

Semoga kita diberi Allah kemampuan untuk dapat memaknai bahasa hati kita, agar kita dapat mengikuti “kretegnya (bahasa Cirebon – gerak hati)” yang benar, dan agar kita bisa terhindar dari bahasa hati palsu yang akan menggelincirkan kita, amiin.

Wassalam

Maret 07, 2007

APA LAGI YANG KITA TUNGGU

Tanggal 26 Desember 2004, bumi serambi mekah, Aceh, luluh lantak dihempaskan oleh gelombang dahsyat dan tsunami, ribuan orang meregang nyawa, ratusan keluarga tercerai berai, anak kehilangan orang tuanya, orang tua meratapi kepergian putra putrinya, harta benda tak berharga lagi, jabatan dan kekuasaan tak berguna lagi, tak ada yang disebut dan diseru ketika itu kecuali Allah, karena hanya itu yang bisa kita lakukan, kembali kepada-Nya dengan berserah diri dan bersandar pada kebesaran-Nya.

Maret 2005, ketika air mata yang tertumpah di nanggroe Aceh Darussalam belum lagi mengering, belum lagi darah yang tercecer dibersihkan, Nias diguncang gempa, lagi, korban jiwa dan harta benda tak terperi terjadi.

Mei 2006, ketika konsentrasi dan pembicaraan kita tentang Nias belum lagi reda, Jogyakarta, kota penuh sejarah dan kenangan, dihancurkan oleh gempa yang tak kalah Dahsyat, lagi, 6000 orang dilaporkan meninggal, dan tak terhitung dengan pasti kerugian materil yang diderita.

Kemarin, 06 Maret 2007, Sumatra Barat dilanda gempa dengan kekuatan 5.8 skala Ritcher, belum diketahui berapa korban jiwa dalam peristiwa tersebut serta berapa kerugian yang diderita disana.

Gempa Aceh, gempa Nias, Gempa Jogja dan sekarang gempa Sumatra, seakan saling berlomba dengan bencana Tanah longsor di NTT, bencana tanah longsor dipandeglang, bencana Banjir di Jakarta dan sekitarnya untuk meluluh lantakan tanah kita yang tercinta, seolah saling berebut dengan berbagai kecelakaan transportasi laut, Tristar tenggelam, menyusul kemudian Senopati dan yang terakhir adalah kapal Levina, untuk mengingatkan kita bahwa kita bukanlah apa-apa, bahwa kita adalah mahluk yang tanpa daya, bahwa kita harus meyakini adalah Yang Maha Kuasa disana.

Lalu setelah serangkaian “pesan” dan “peringatan” dari Allah lewat peristiwa-peristiwa diatas, adakah kita masih menunggu untuk bertobat?

Adakah kita masih bilang “nanti” untuk segera bersujud kepada Allah dan kembali meratas jalan kebenaran yang telah dibentangkan lewat Rasul-Nya.

Apa lagi yang kita tunggu?

Apakah kita masih menunggu serangkaian gempa bumi lagi?
Apakah kita masih menunggu serangkaian tanah longsor lag?
Apakah kita masih menunggu serangkaian kecelakaan lagi?
Apakah kita masih menunggu apa yang menimpa saudara kita kemarin akan menimpa kita, baru kemudian kita baru tersadar dan bergegas untuk bersujud dan memohon kepada Allah?
Sangat boleh jadi tobat kita akan terlambat ketika bencana itu tiba-tiba saja menghampiri kita, sapuan gelombang Tsunami hanya memerlukan beberapa menit saja untuk menghancurkan dan menelan korban jiwa yang ribuan jumlahnya, lalu kapan kita sempat bertobat ketika itu melanda kita?

Sangat boleh jadi penyesalan kita akan tidak lagi berguna, karena gempa hanya memerlukan beberapa detik saja untuk mengakhiri kehidupan kita, lalu kapan lagi kita akan meretasi jalan kebenaran itu?

Mumpung masih ada waktu, mumpung gempa dan tsunami belum menimpa kita, kenapa kita tidak bertobat mulai sekarang? Mulai saat ini? Mulai detik ini?

Mengucapkan Istighfar berapa ribu kalipun tidak dipungut biaya apapun

Bersujud sepanjang malam untuk menyesali dosa dan khilap kitapun tak dipungut uang sepeserpun,

Menangis, menyesali didosa kita sepanjang haripun kita tak perlu biaya apapun,

Jadi Apalagi yang kita tunggu?

Wassalam

Maret 07, 2007

Tuesday, March 6, 2007

URGENSI “CLOSING”

Alhamdulillah, segala puji syukur kepada Allah Swt yang telah menuntun dan memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat menyelesaikan closing bulan maret tepat pada waktunya.

Closing yang hampir tiap akhir dan awal bulan, selalu saja mempunyai cerita tersendiri bagi kita. Kita harus lembur untuk mengejar deadline, data yang belum lengkap, dan masih banyak lagi cerita dan kisah yang mengiringi pekerjaan kita tiap closing, sampai begitu selesai closing, ada yang sakit segala.

Kenapa sih harus ada closing?

Secara inventory, closing berfungsi untuk mengetahui kuantitas dan nilai barang/inventory kita.

Secara marketing, closing berfungsi untuk mengetahui nilai penjualan kita.

Secara Accounting, closing dapat berarti pencatatan, penggolongan dan pengelompokan transaksi keuangan untuk dijadikan laporan untuk pihak-pihak yang berkepentingan, seperi manajemen atau pemegang saham.

Dalam laporan akuntansi dikenal beberapa jenis laporan, Laporan Rugi laba, untuk mengukur tingkat keuntungan yang kita dapat dibanding dengan biaya-biaya yang telah kita korbankan.

Selain itu juga ada laporan harta dan hutang (neraca) serta laporan arus kas.

Kenapa managemen dan pihak lain butuh laporan-laporan tersebut?

Laporan digunakan untuk evaluasi dan bahan pengambilan keputusan-keputusan keuangan.

Jika managemen, pemegang saham dan pihak-pihak lain demikian perlu “catatan kegiatan usahanya”, lalu seberapa pedulikah kita dengan catatan-catatan amaliah kita?

Kita, setiap harus menginvestasikan dan mengorbankan sumberdaya kita;

Pertama, kita mengorbankan dan menginvestasikan (menghabiskan) waktu kita, baik itu untuk ibadah, untuk bekerja, untuk tidur dan untuk berbagai aktivitas lainnya.

Kedua, kita juga menghabiskan energi/tenaga dan pikiran kita juga untuk beribadah, bekerja, tidur dan aktivitas lainnya.

Ketiga kita juga telah mengeluarkan uang dan sumberdaya yang kita miliki untuk aktivitas seperti diatas.

Pernahkah kita mencatat seberapa besar porsi waktu kita, tenaga dan pikiran kita serta uang kita untuk ibadah, untuk bekerja dan untuk aktivitas lainnya?

Kenapa kita harus melakukannya?

Seperti dalam penyusunan laporan keuangan diatas, pencatatan, pengelompokan aktivitas kita, akan sangat membantu kita untuk “menghisab” diri kita, sebelum kita benar-benar dihisab oleh Allah kelak.

“Hisablah dirimu, sebelum Allah menghisabmu”.

Waktu atau usia adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah Rabbulizzati kelak.

“Untuk apa kau habiskan umurmu didunia?”

Apakah kita didunia ini hanya numpang tidur saja?
Apakah kita didunia ini hanya jadi pelengkap penderita saja?
Apakah kita didunia ini hanya jadi objek saja?
Apakah kita didunia ini hanya jadi penonton saja?
Atau kita tidak tahu sama sekali?

Kalau kita punya catatan bagaimana kita menghabiskan waktu/usia kita seperti misalnya;

Pukul 05.30 Pergi kemasjid – Shalat Subuh berjamah
Pukul 06.30 Pergi kekantor
Pukul 07.30 Shalat Sunnah Dhuha

Dan seterusnya, pada suatu titik, ketika kita menemukan ada waktu-waktu yang terbuang dan tersia-sia, unttuk tidur misalnya, kalau normal saja 8 jam kita tidur sehari, kita akan menghabiskan waktu kita 20tahun untuk masa hidup kita yang 60tahun misalnya, atau untuk mengkhayal, berandai-andai, umpama, ibarat,misal, atau kita hanya jadi pemimpi, kita akan segera mengetahui dan memperbaiki penggunaan waktu kita, sehingga kita tidak akan mengalami kerugian dalam laporan rugi/laba kita dari penggunaan waktu kita tersebut.

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Kita, kata Allah, semuanya termasuk orang-orang yang merugi, jika kita hanya menghabiskan waktu kita untuk hal-hal yang melalaikan kita, kita hanya akan menjadi orang-orang beruntung ketika kita benar-benar cermat dan berhitung bagaimana kita menghabiskan waktu, hanya untuk beriman dan beramal shaleh.

Dengan catatan pembukuan amaliah kita yang tertata rapih, kita akan dengan mudah menemukan kejanggalan, dan segera melakukan “adjustment” apabila diperlukan, dan kita akan dengan segera bisa mengambil keputusan-keputusan amaliah mana yang memerlukan investasi dan pengorbanan waktu yang lebih banyak, serta mengurangi pos-pos atau akun-akun (dalam bahasa akuntansi) yang kira-kira kurang menguntungkan atau bahkan akan merugikan kita.

Catatan amaliah kita juga memungkinkan untuk lebih bijak dalam menghabiskan sumber-sumber daya yang kita miliki.

Waktu yang kita habiskan untuk tidur, untuk jalan-jalan, untuk hura-hura, sama saja, 24 jam bilangannya.

Waktu yang tersedia untuk ibadah, tafakur dan beramal shaleh juga 24jam bilangannya.

Bagaimana kita menghabiskan waktu untuk kedua jenis aktivitas diatas, jelas akan berbeda nilainya. Yang satu hanya bernilai sementara dan tidak menguntungkan, semetara aktivitas kedua menjanjikan pahala dan ampunan dan Yang Maha Esa.

Uang kita, akan habis untuk jajan, untuk makan atau untuk foya-foya. Uang kita juga akan habis untuk zakat, sedekah, menafkahi keluarga dan anak yatim. Kedua-duanya sama habisnya secara matermatis, tapi akan sangat berbeda secara “nilai”.

Uang yang kita belanjakan untuk foya-foya hanya menghasilkan lemak yang kemudian kita buang keesokan harinya.

Uang yang kita belanjakan untuk zakat, sedekah, beramal dan menafkahi keluarga serta anak yatim, merupakan investasi yang sangat potensial untuk menghasilkan keuntungan bagi kita, baik sekarang ketika kita didunia, lebih keuntungan diakhirat kelak.

Ada banyak kata “Kataba” dalam al qur’an yang diartikan oleh sebagian ulama “catatlah”. Sebuah perintah untuk mencatat, bukan hanya uang saja yang kita catat, tapi tabungan amal dan pahala kita juga merupakan item yang harus kita “Jurnal” setiap hari.

Jurnal, konon terambil dari bahasa arab “Jaradah” yang artinya catatan harian, kalau uang belanja kita catat, kalau uang transport kita catat, kalau keuntungan usaha kita catat, kalau hal-hal duniawi saja kita catat sedemikian rapih;

Akankah kita lalai untuk mencatat amal shaleh kita?

Sehingga ketika kita diminta pertanggung jawaban dimahkamah akhiret kelak, kita akan tergagap karena ketika kita didunia ini tidak pernah berhitung dan berpikir bagaimana menggunakan sumberdaya kita yang serba terbatas untuk menghasilkan keuntungan (pahala) yang sebesar-besarnya.

Sehingga ketika kita ditanya dari mana uang kita berasal dan kemana uang kita habiskan, kita akan tercengang ketika mendapati catatan amal kita banyak uang dan harta kita yang habis untuk memenuhi nafsu syahwat kita, sementara pos zakat, sedekah, dan jariyah, nyaris tak kebagian porsi.

Sehingga ketika ditanya, dimana umurmu dihabiskan, kita hanya akan tercengang manakala kita mendapati dalam catatan amaliah kita, waktu kita habis untuk maksiat dan berbuat dosa kepada Allah dan kepada manusia, sementara waktu untuk ibadah dan beramal shaleh nyaris tak pernah ada.

Akankah kita begitu? Just think about it!

Ingat, suatu saat dan pasti usia kita pun harus “Closed” dan pada saat itulah kita harus mempertanggungjawabkan transaksi-transaksi amaliah kita, apakah kita termasuk orang beruntung atau sebaliknya, malah kita rugi, karena ketidakmampuan dan kelalaian kita dalam menggunakan sumber daya yang ada.

Wassalam

Maret, 06, 2007

MATA YANG TAK MENANGIS KELAK

Sufyan bin Muhammad Ajlan menerangkan bahwa pada hari kiamat kelak, semua mata akan menangis kecuali tiga mata yang tidak menangis;

1. Mata yang selalu dibuat menangis kepada Allah Swt
2. Mata yang selalu terpejam ketika melintasi hal-hal yang diharamkan oleh Allah
3. Mata yang selalu dibuat jaga malam ketika berjihad menegakan agama Allah Swt

Bagaimana dengan mata kita?

Berdirilah didepan cermin, tatap kedua mata kita, betapa Allah telah menganugerahi kita sepasang mata yang indah, dihiasi dengan alis yang tebal dan lentiknya bulu mata, ada yang kecoklatan, ada yang kebiru-biruan, diletakan dibagian depan muka kita, sungguh indah dan sempurna, karena memang mata, baik posisi dan fungsinya merupakan ciptaan dari yang Maha Indah dan Maha Sempurna.

Lalu pernahkah mata nan indah ini dibuat menangis kepada Allah, ketika kita teringat akan dosa-dosa kita, sejak kita bangun tidur dan terjaga, hingga menjelang malam dan mata ini terpejam.

Pernahkah mata ini menangis manakala kita menyadari betapa kita telah lupa untuk mensyukuri karunia yang tak terhingga ini?

Pernahkah mata ini menangis, karena kita tidak bisa menangis ketika ayat-ayat Allah dibacakan?

Kita pasti pernah menangis, ketika uang kita hilang, ketika keluarga kita meninggal, ketika kehilangan pekerjaan, tapi bukan “hanya” karena itu kita harus menangis, kehilangan dunia, seharusnya tidak membuat kita meratap dan menangis, karena dunia “hanya” senda gurau dan permainan belaka.

Kita harus menangis ketika kita ditimpa kebutaan mata hati, ketulian mata bathin dan kekerasan hati kita, itu seharusnya membuat kita tersungkur sujud, menangis dan memohon kepada Allah dengan penuh rasa takut, harap dan cemas.

Mata yang selalu dibuat menangis karena Allah ketika kita tahajud ditengah keheningan malam, ketika kita tafakur ditengah kegelapan malam, itulah mata yang tak akan menangis diakherat kelak.

Justru mata-mata ini akan memancarkan cahaya kemilau laksana untaian mutiara sebagai balasan tangisnya karena Allah ketika didunia.

Betapa berat ketika kita harus menahan pandangan mata ini dari hal-hal yang dilarang Allah. Disepanjang perjalanan kita, betapa banyak aurat wanita terbuka, menggoda mata nakal ini untuk sedikit menoleh kearahnya.
Betapa disekitar kita, godaan dan rayuan hilir mudik silih berganti seolah mengundang kita untuk melayangkan pandangan yang tak dihalalkan tersebut.

Betapapun berat, jika kita ingin tidak menangis kelak dihari akhir, kita harus memejamkan mata kita ketika kita melihat paha dan dada terbuka, kita harus memejamkan mata ketika aurat mengoda birahi kita, kita harus mampu melakukannya, karena kita adalah raja atas nafsu kita, bukan kita yang justru dikendalikan nafsu kita.

Tahan pandangan mata kita, bukankah perselingkuhan berasal dari pandangan mata yang tak terjaga?

Kita harus rela untuk memejamkan mata kala melihat sesuatu yang diharamkan Allah, karena kita akan mendapatkan balasan yang jauh lebih indah lagi kekal abadi, mata kita tak akan menangis kita hari akhir kelak.

Pernahkah mata kita terjaga untuk berjihad dijalan Allah?

Benar kita kuat begadang semalaman untuk menonton pertandingan bola.
Benar kita juga jaga ronda sambil “iseng” main gaple semalam suntuk
Benar kita kuat melek untuk menghabiskan cerita novel yang menarik
Benar kita kuat tak memejamkan mata untuk memikirkan urusan dunia kita

Tapi pernahkah mata ini kita ajak untuk tahajud semalam suntuk?
Pernahkah mata ini kita ajak begadang untuk mentadaburi Al qur’an?
Pernahkah mata ini diajak begadang untuk meneliti hadits-hadits?
Pernahkah mata ini diajak begadang untuk berjihad dijalan Allah?

Begadanglah karena Allah, dengan melakukan “jihad” dan bersungguh-sungguh belajar al qur’an, bersungguh-sungguh menghidupkan malam dengan tahajud dan amaliah shaleh lainnya.

“Jangan engkau pendekan malam-malammu dengan tidur mu, panjangkan malam-malammu denga bertafakur, berisitighfar dan bertahajud semata karena Allah”

Mata yang selalu dibuat menangis kepada Allah, mata yang selalu terpejam ketika melihat hal-hal yang diharamkan Allah, dan mata yang selalu terjaga untuk berjihad menghidupkan agama Allah, adalah mata yang kelak tidak akan menitikan air mata, manakala mata lainnya berurai menangisi dosa-dosanya selama didunia.

Pilihan kita adalah apakah kita akan menangis sekarang didunia ini dengan menyesali dosa dan khilaf kita, dengan menjaganya dari pandangan “nakal”, serta memakainya untuk berjihad dijalan Allah, kemudian kita tersenyum disurga?

Atau kita sekarang didunia ini lebih banyak tertawa tanpa menyesali dosa-dosa kita, kita menggunakan mata sesuai keinginan nafsu hewani kita, serta begadang untuk memuaskan mata lahiriah semata untuk kemudian kita menangis tersedu dineraka?

Kalau bisa kesurga, kenapa kita pilih neraka?

Wassalam

Maret, 06, 2007

Friday, March 2, 2007

JADILAH ORANG “ANEH”

“Dunia memang aneh”, Guman Pak Ustadz

“Apanya yang aneh Pak?” Tanya Penulis yang fakir ini.

“Tidakkah antum perhatikan disekeliling antum, bahwa dunia menjadi terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan, sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku menyimpang dan kurang ajar malah menjadi pemandangan biasa”

“Coba antum rasakan sendiri, nanti Maghrib, antum kemasjid, kenakan pakaian yang paling bagus yang antum miliki, pakai minyak wangi, pakai sorban, lalu antum berjalan kemari, nanti antum ceritakan apa yang antum alami” Kata Pak Ustadz.

Tanpa banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak Ustadz, menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan pakaian dan wewangian dan berjalan menuju masjid yang berjarak sekitar 800m dari rumah.

Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan seorang ibu muda yang sedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya.

“Aduh, tumben nih rapih banget, kayak pak ustadz, mau kemana sih? Tanya ibu muda itu.

Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami saling kenal, tapi ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz diatas, menjadi sesuatu yang lain rasanya;

“Kenapa orang yang hendak pergi kemasjid dengan pakaian rapih dan memang semestinya seperti itu ditumbenin?

Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan ngasih makan anaknya ditengah jalan, ditengah kumandang adzan maghrib menjadi biasa-biasa saja?

Kenapa orang kemasjid dianggap aneh?

Orang yang pergi kemasjid akan terasa “aneh” ketika orang-orang lain justru tengah asik nonton sinetron “intan”.

Orang kemasjid akan terasa “aneh” ketika melalui kerumunan orang-orang yang sedang ngobrol dipinggir jalan dengan suara lantang seolah meningkahi suara panggilan adzan.

Orang kemasjid terasa “aneh” ketika orang lebih sibuk mencuci motor dan mobilnya yang kotor kehujanan.

Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya tersenyum, “Kamu akan banyak menjumpai “keanehan-keanehan” lain disekitarmu”, kata Pak Ustadz.

“Keanehan-keanehan” disekitar kita?

Cobalah ketika kita datang kekantor, kita lakukan shalat sunah dhuha, pasti akan nampak “aneh” ditengah orang-orang yang sibuk sarapan, baca koran dan ngobrol.

Cobalah kita shalat dhuhur atau Ashar tepat waktu, akan terasa “aneh”, karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh ditengah-tengah sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat diakhir waktu.

Cobalah berdzikir atau tadabur al qur’an ba’da shalat, akan terasa aneh ditengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau sebelum shalat. Dan makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan agar tidurnya tidak silau dan nyaman. Fungsi utama masjid/musholla sebagai tempat shalat telah bergeser menjadi tempat tidur sebagai fungsi utamanya. Orang yang mau shalat malah serasa menumpang ditempat orang tidur, bukan malah sebaliknya, yang tidur itu justru menumpang ditempat shalat. Aneh bukan?

Cobalah hari ini shalat jum’at lebih awal, akan terasa aneh, karena masjid masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah kedua menjelang selesai.

Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi nasehat, akan terasa aneh ditengah-tengah kiriman e-mail yang berisi humor, plesetan, asal nimbrung, atau sekedar gue, elu, gue, elu dan test..test, test saja.

Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat atau hadits, atau ayat al qur’an, pasti akan terasa aneh ditengah orang-orang yang membaca artikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita hot atau lainnya.

Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi sekali lagi jangan takut menjadi orang “aneh” selama keanehan kita sesuai dengan tuntunan syari’at dan tata nilai serta norma yang benar.

Jangan takut “ditumbenin” ketika kita pergi kemasjid, dengan pakaian rapih, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al qur’an

31. Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid[534], makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[535]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al A’raf:31)

[534] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain.
[535] Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.

Jangan takut dikatakan “sok alim” ketika kita lakukan shalat dhuha dikantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-ngidul tak karuan.

Jangan takut dikatakan “Sok Rajin” ketika kita shalat tepat pada waktunya, karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya terhadap orang-orang beriman.

103. Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Annisaa:103)

Jangan takut untuk shalat jum’at dishaf terdepan, karena perintahnya pun bersegeralah.....

9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1475]. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. (Al Jumu’ah:9)

[1475] Maksudnya: apabila imam Telah naik mimbar dan muazzin Telah azan di hari Jum'at, Maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muazzin itu dan meninggalakan semua pekerjaannya.

Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat al qur’an, karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk saling menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaran adalah sebaik-baik perkataan;

33. Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Fusshilat:33)

Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah Allah menciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali seru, sekali kirim artikel lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan, habis donk ladang amal kita....

Kalau yang kirim e-mail humor saja, gue/elu saja, test-test saja bisa kirim e-mail setiap hari, kenapa kita mesti risih dan harus berpikir ratusan atau bahkan ribuan kali untuk saling memberi nasehat, aneh nggak sih?

Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, sok tahu, lha wong itu yang disuruh kok, “sampaikan dariku walau satu ayat”

Jangan takut baca e-mail dari siapapun, selama e-mail itu berisi kebenaran dan bertujuan untuk kebaikan. Kita tidak harus baca e-mail dari orang-orang terkenal, e-mail dari manajer atau dari siapapun kalau isinya sekedar dan ala kadarnya saja, atau dari e-mail yang isinya asal kirim saja.

Mutiara akan tetap jadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Pun sampah tidak akan pernah menjadi emas, meskipun berasal dari tempat yang mewah sekalipun.

Lakukan “keanehan-keanehan” yang dituntun manhaj dan syari’at yang benar.

Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna, meskipun itu akan serasa aneh ditengah orang-orang yang berbikini dan ber-U can see.

Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur’an & Hadist), meskipun akan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak bermoral.

Lagian kenapa kita harus takut disebut “orang aneh” atau “manusia langka” jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru yang akan menyelamatkan kita?.

Selamat jadi orang aneh yang bersyari’at dan bermanhaj yang benar.,

Wassalam

Maret 02, 2007.