Thursday, December 1, 2011

Seuntai kata

  1. Sebuah renungan kecil:
    0:1=0 :jika seseorang menganggap bahwa setiap keberhasilannya adalah semata hasil usahanya sendiri, dan menafikan Allah, maka itu sm dengan 0:1; ia tidak mendpt apapun selain menambah rakusnya.
    1:1=1: Sementara ketika usaha dan keberhasilan itu 'menyertakan' Allah, tp masih merasa bahwa ia yang berperan, itu sm dengan 1:1, keberhasilannya hanya sebanding dengan keringat dan kasabnya
    1:0= Tidak terhingga, ketika seseorang berusaha dengan menyandarkan sepenuhnya hasil usaha tersebut kepada Allah, insya Allah, dunianya dpt, akhiratnya dapat, hasilnya tidak terhingga.
  2. ‎'Orang kaya' adalah mereka yang 'pengeluarannya' lebih kecil dari 'pendapatannya', berapapun itu.., tidaklah seseorang dengan penghasilan 10jt itu kaya jika pengeluarannya 15 juta....., dan satu lagi syarat menjadi kaya, milikilah sifat "Qona'ah", insya Allah kitalah orang terkaya...
  3. Setinggi apapun tanjakan, pasti dibaliknya ada jalan menurun yang landai......, sesulit apapun cobaan, insya Allah dibaliknya ada kemudahaan...., Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan....,maka hai orang2 yang beriman, bersabarlah, tambah kesabaran dan tetaplah dalam kesabaran agar kalian beruntung...!!!
  4. Jangan biarkan orang lain memandang takjub padamu karena kau kaya,utamakanlah pandangan Allah,krn baiknya pandangan Allah,maka baik pula pandangan seluruh mahluk,sementara pandangan takjub krn harta hanya fatamorgana
  5. DOA BUKAN HANYA YANG TERUCAP SECARA VERBAL DAN MENGANGKAT TANGAN, DOA (JUGA BISA) MERUPAKAN PROYEKSI PERBUATAN KITA,
    AMAL KEBAIKAN KITA PADA SESAMA MENJADI DOA
    TAK TERUCAP YANG MUSTAJAB
  6. Ingat iklan yang mengatakan menuruni tangga justru memberi beban yang lebih besar pada lutut drpada saat naik...?, seperti itulah kehidupan.., menjalani ujian berupa ' kemudahan' jauh lebih sulit daripada menjalani ujian berupa kesusahan, terbukti banyak orang lulus ketika diuji dng kemiskinan, tp justru gagal ketika ia diuji dengan kekayaan..., maka berhati-hatilah ketika lapang dan kekayaan bersamamu, karena boleh jadi itulah ujian terberatmu!!
  7. Berhati-hatilah jika setiap usaha anda selalu dikaitkan dengan materi dan bonus!!, saking semangatnya seorang 'pengusaha' berkata: Kita harus bekerja keras mendapatkan bonus dan pendapatan sebesar mungkin, agar tidak merepotkan Allah'; astaghfitullah...., hanya karena bonus yang diterima nya ia bisa seolah tidak memerlukan Allah lagi!!! Naudzubillah..
  8. Tidak ada medali yang didapat dengan mudah, apalagi cuma2, setiap keping medali yang didapat adalah hasil perpaduan dari perasan keringat selama latihan yang terus menerus, dan perjuangan penuh semangat selama pertandingan, dan tentu dengan izin Allah..., demikian pula setiap keping kebahagian dalam hidup, tidak ada yang gratis, semua memerlukan ikhtiar dan kasab yang istiqomah, memerlukan kesungguhan dan menjalani semua syarat dan ketentuan yang Allah gariskan.., karenanya jika seorang atlet berjuang untuk meraih sekeping medali, kita pun harus berjuang meraih sekeping surga kebahagian didunia dan diakhirat kelak, insya Allah..
  9. Tibo dan Wanggai berperan sbg stricker, Egi sebagi midfielder, ramdhani sbg winger dan kurnia meiga sebagai kiper, masing2 memiliki peran dan fungsi yang berbeda, tp tetap memiliki tekad yang sama, yakni menang!!, Anda boleh pengusaha, anda silahkan menjadi politisi, anda bisa menjadi pegawai negeri ataupun menjadi karyawan swasta, tapi tetap hrs ingat tujuan kita sama: Menjaga kejayaan islam dan bangsa!!, semoga
  10. Hiu perkasa kala diair,harimau berwibawa kala dihutan,gajah kuat kala berada dihabitatnya,diluar itu,mereka menjadi lemah dan tak berdaya,pun ketika kita jauh dr qur'an dan sunnah,umat ini hanya akan menjadi buih dilautan,krn nya kembalilah pd jatidiri kita,qur'an dan sunnah
  11. Masalah takkan selesai dengan keluhan, sakit takkan reda hanya dengan rintihan, duka takkan hilang hanya dengan ratapan, pun merupakan sebuah kebodohan ketika hanya berkhayal uang jatuh dari langit..............harus ada DUIT untuk menjadikan semuanya menjadi lebih baik..Doa-Usaha-Iman-Taqwa
  12. Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah
    Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam
    hari dan Dua di siang hari..............., maka muslim yang melalui harinya tanpa shalat, ia laksana pohon yang tidak berbuah....
  13. Ada banyak orang yg tdk meyakini adanya kehidupan setelah mati krn menurutnya tdk masuk akal,tp justru banyak pula orang yg melakukan sesuatu dgn alasan yg tdk msk akal,spt maksain lahiran hr ini hanya krn angka 11,lieur ?
  14. Sebaik2 hari adalah yg digunakan untuk ibadah pada allah,bukan krn 11.11 atau lainnya,smoga kita terhindar dr pengkultusan sesuatu,aamiin
  15. Tak perlu takut dengan gelap malam, karena justru dalam gelap malam itulah kita bisa menikmati indahnya purnanama bulan..., keluarlah dan tatap betapa cantik rembulan menyapa!! Tak perlu risau dengan liku dan riak kehidupan, karena justru dengan ujianlah kita banyak mendapatkan pelajaran....lihatlah dan jalani kehidupan dengan jernih, seperti kau menatap indahnya bulan dalam gelap malam...
  16. ‎*Burung tidak pernah cemas memikirkan hari-harinya, meski burung sama sekali tidak punya tabungan, apalagi deposit
    *Gajah tidak pernah khawatir kekurangan pakan, meski gajah harus makan 250kg per hari
    *Cicak tidak pernah mengeluh meski harus mengejar nyamuk yang bisa terbang....; karena mereka, burung, gajah dan cicak meyakini bahwa Allah-lah yang menjamin rezekinya..

    *Akan halnya manusia? Tabungan punya, beras ada, sawah banyak, bahkan punya perusahaan segala, tapi selalu sj masih bingung,masih cemas dan masih khawatir, dan jawabnya hanya satu: Manusia masih ragu dengan janji Allah yang menjamin rezekinya...
  17. Adanya rambu lalulintas,bukanlah untuk menghambat laju kendaraan,melainkan untuk mengatur akan perjalanan aman dan lancar...,adanya syari'at bukanlah untuk mengekang,tp justru untuk mengarahkan agar hidup bs berjalan dgn selamat dunia akhirat
  18. Mourinho tak pernah jd pemain handak,tp bs jadi pelatih hebat,banyak dokter gigi hebat meski tdk pernah sakit gigi,banyak dokter kandungan yg tdk pernah hamil...,jd tdk perlu menunggu jd ustadz untuk berbagi ilmu&nasehat,tak hrs menunggu kaya untuk bersedekah,dan tdk hrs mati dulu untuk meyakini adanya hr akhirat
  19. Sekali-kali kau takan bisa memahami takdir hanya dgn perasaan,takdir hanya kan bisa dipahami dgn keyakinan dan iman
  20. Tak perlu berkecil hati ketika semua orang memuji para pencetak gol, justru banggalah terhadap peran apapun yang kau jalankan...., tak perlu berkecil hati meski tak disebut sebagai pahlawan, karena jauh lebih penting menjalankan peran
  21. Tidak ada usaha yang gagal, karena kegagalan hanya milik mereka yang tidak pernah mencoba / berbuat yg terbaik

Friday, November 18, 2011

BELAJAR BAHASA ARAB

Monday, October 17, 2011

STKHI BUKANLAH SOLUSI


STKHI….?, apa itu STKHI Nak Mas…..? Tanya Ki Bijak

“STKHI itu Sekolah Tinggi Kambing Hitam Indonesia ki…., istilah ini untuk menggambarkan mereka yang bisanya hanya menyalahkan orang lain ketika terjadi sesuatu….., seperti kekalahan timnas kemarin ki…, pasti ‘kambing hitam’ laku keras, ada yang menyalahkan pelatih, ada yang menyalahkan pemain, ada yang menyalahkan pengurus, ada yang menyalahkan wasit dan lain sebagainya…., hampir tidak ada orang yang mencoba mengambil pelajaran dari setiap kekalahan atau bagaimana meningkatkan kualitas permainan kita sendiri, yang muncul selalu pengkambing hitaman suatu pihak, sepertinya orang-orang kita memang kebanyakan alumnus dari STKHI ini…….”Kata Maula

“Beda dengan dinegara lain, biasanya penanggung jawab atau pejabat terkait akan mengambil alih masalah dan dengan gentle mereka mengakui bahwa dia yang bertanggung jawab…….” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang demi mengetahui STKHI yang dimaksud Maula, “STKHI ataupun IBI bukanlah cerminan pemimpin yang baik Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“IBI…., apa itu IBI ki…?” Tanya Maula heran.

“Institut Berkelit Indonesia Nak Mas……” Jawab Ki Bijak sambil tersenyum

“Waah Aki bisa juga membuat istilah gaul…..” Kata Maula sambil tersenyum pula.

“Aki hanya ikutan Nak Mas saja…, terlepas dari istilah apapun yang digunakan, seorang pemimpin mestinya bisa belajar dari genting itu Nak Mas….” Kata Ki Bijak sambil menunjuk genting pondok yang berada tepat didepan mereka.

Dengan segera Maula menengok dan memperhatikan genting yang ditunjuk gurunya, “Seorang pemimpin harus belajar dari genting itu ki…?” Tanya Maula.

Ki Bijak mengangguk…” Nak Mas perhatikan bagaimana genting-genting itu bisa berada diatas…, genting-genting itu tidak akan bisa ‘ongkang-ongkang’ atas kalau dibawahnya tida ada pondasi yang kuat, kalau dibawahnya tidak ditopang tembok dan kusen yang kokoh, kalau dibawahnya dilandasi oleh kayu dang reng tempatnya berpijak sekarang ini…….” Kata Ki Bijak

Maula diam sejenak, “Genting berada diatas karena ada pondasi yang kuat, karena ada tembok dan kusen yang kokoh dan karena ada reng dan kayu tempatnya berpijak..hmmmh, lalu apa hubungannya dengan pemimpin ki….?” Tanya Maula.

“Seorang pemimpin, seorang manager, seorang ketua umum atau bahkan seorang presiden sekalipun, tidak akan bisa diposisinya sekarang, jika mereka tidak disokong oleh bawahan, oleh anak buah atau oleh rakyatnya….”

“Seorang manager misalnya, ia bisa menduduki posisinya sekarang, karena ia didukung oleh staff, karena ia didukung oleh supervisor, karena ia didukung oleh assistan yang membantunya melaksanakan pekerjaan…., hingga kemudian ia bisa mendapatkan nilai dari atasannya, baik kerja bawahan, baik pula nilai manager dimata atasan, jelek kerja bawaha, jelek pula nilai manager dimata atasannya, karenanya seorang manager tidak boleh enak-enakan, tidak boleh berlepas tangan, tidak boleh berlepas tanggung jawab, tidak boleh pura-pura tidak tahu, tidak boleh hanya bisa menyalahkan bawahan, karena jika bawahan atau anak buah selalu dikambing hitamkan atas semua kesalahan, yang terjadi adalah bukan hanya anak buah itu yang akan stress dan tertekan, tapi sang manager juga akan menanggung akibat dari kerja anak buahnya…”

“Persis seperti genting-genting itu Nak Mas…., manakala genting-genting yang diatas itu tidak mau menerima panas dan teriknya matahari, ketika genting-genting yang diatas itu tidak mau menerima siraman air hujan, dan membiarkan panas dan air itu membasahi reng, menyimari kusen, membasai tembok, maka pada gilirannya para penopang genting itu akan rapuh….., dan ketika para penopangnya rapuh…, maka dengan sendirinya gentingpun akan itu jatuh dan hancur karenanya….” Papar Ki Bijak.

Maula diam sejenak, sebelum kemudian mengangguk tanda mengerti, “ Ana mengerti ki….”

“Seorang pelatih atau pengurus sepakbola yang hanya mengkambing hitamkan pemainnya manakala timnya kalah.., maka pelatih dan pengurus itu akan hancur….”

“Seorang menteri, yang tidak mau tahu apa dan bagaimana pekerjaan anak buahnya, dan tidak mau bertanggung jawab terhadap kesalahan yang dibuat anak buahnya, maka menteri itu akan hancur…”

“Seorang department head, yang hanya mencari kambing hitam, ketika departmennya mengalami kerugian, maka orang itu akan hancur ya ki….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas…., siapapun dia, apapun yang dipimpinnya, manakala dia hanya pandai mencari kambing hitam atas masalah ditempat ia memimpin, maka tanggal kehancurannya hanya tinggal menghitung hari…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Seorang pemimpin harus solutif ya ki…, bukannya intimidatif….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, seperti genting yang rela kepanasan dan kehujanan untuk melindungi bagian-bagian dibawahnya, agar ia tetap bisa berada diatas….” Kata Ki Bijak mengakhiri perbincangan.  

BEKERJA DENGAN HATI


Ki….., apa bedanya kerja keras, kerja dengan cerdas dan kerja dengan ikhlas…..? Tanya Maula pada gurunya.

Ki Bijak tersenyum mendengar pertanyaan Maula yang sangat dalam ini, “Bekerja keras adalah bagian dari fisik Nak Mas…, seperti orang yang bongkar muat barang, seperti orang yang mengangkat batu atau kayu, seperti juga orang yang bekerja siang-malam…, seperti itulah orang yang bekerja keras Nak Mas…..” Kata Ki Bijak.

“Akan halnya orang yang bekerja dengan cerdas ki….? Tanya Maula lagi.

“Orang yang bekerja dengan cerdas, adalah mereka yang memaksimalkan fungsi otaknya untuk menyelesaikan suatu kerjaan…, mungkin jenis pekerjaannya sama, mungkin kuantitas pekerjaannya sama, tapi orang yang cerdas akan menggunakan otaknya untuk menemukan cara terbaik untuk menyelesaikannya secara lebih cepat dan lebih baik…”

“Mungkin dia akan menggunakan metode tertentu untuk mempercepat pekerjaannya, mungkin dia akan menggunakan alat-alat tertentu yang memang dibutuhkannya, mungkin juga dia memanage waktunya dengan sedemikian rupa, sehingga pekerjaannya menjadi lebih mudah diselesaikan dengan hasil yang lebih baik….”

“Sementara orang yang bekerja dengan ikhlas adalah mereka yang bekerja dengan hatinya…., semua aktivitas dan kegiatannya dia niatkan sebagai bagian dan ibadahnya kepada Allah, sehingga ia menjalaninya dengan penuh tanggung jawab, dengan penuh konsentrasi, dengan penuh pengabdian,karena ia menyadari sepenuhnya hasil karya dan pekerjaannya bukan semata harus ia pertanggung jawabkan pada atasannya, melainkan juga harus dipertanggung jawabkan kepada Allah yang telah menempatkannya pada pekerjaan tersebut dan atas imbalan atau gaji yang telah diterimanya…..” Kata Ki Bijak.

Maula menghela nafas panjang mendengar penuturan gurunya yang panjang lebar.., “Lalu bagaimana dengan hasilnya ki…, apakah juga akan ada perbedaan..?” Tanya Maula lagi.

Ki Bijak menghela nafas panjang, sebelum kemudian menjawab pertanyaan Maula,Aki pernah baca sebuah artikel menarik dari seorang penulis muda, beliau mengatakan seperti ini,Bekerja keras itu menghasilkan, bekerja cerdas itu melipatgandakan, dan bekerja ikhlas itu menenteramkan (Jamil Azzaini).....”

Bekerja keras itu menghasilkan, bekerja cerdas itu melipatgandakan, dan bekerja ikhlas itu menenteramkan……….hmmmh, sebuah ungkapan yang sangat indah ki….” Kata Maula.
“Ya Nak Mas…., dalam hemat Aki, ‘bekerja keras itu menghasilkan”, bermakna bahwa segala sesuatu, apabila dikerjakan dengan sungguh-sungguh maka akan membuahkan hasil dari apa yang kita usahakan, ini sesuai dengan sabda Rosulullah yang berbunyi, ” Man Jadda Wajjada” (siapa yang bekerja keras/bersungguh-sungguh dia akan berhasil), “
 “Sementara ‘bekerja cerdas itu melipatgandakan”, bermakna bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan dengan ilmu, dengan strategi dengan cara yang tepat, dengan metode yang sudah teruji, dengan alat yang sesuai, akan melahirkan sebuah hasil karya yang ‘hebat’, sehingga melahirkan inovasi-inovasi baru, baik inovasi cara pengerjaan maupun inovasi untuk mempercepat pekerjaan dan juga inovasi dalam kualitas pekerjaan, dan imbasnya akan memperoleh hasil yang optimal bahkan lebih dari apa yang kita harapkan(berlipat ganda)..”
“Dan diantara keduanya, bekerja keras dan bekerja dengan cerdik, ada yang namanya  “Man Shobaru Zhafiira” (Siapa yang sabar/ikhlas dia akan beruntung),  dengan kata lain bekerja dengan penuh keikhlasan, bekerja dengan hati, bekerja dengan niat semata karena Allah, akan melahirkan sebuah energi positif yang menggerakan otak kita untuk berfikir dengan cerdas, dan menggerakan otot-otot dan jasmani kita untuk bekerja dengankuat, sehingga insya Allah setiap pekerjaan yang berat akan terasa ringan, pekerjaan yang menumpuk akan terasa sedikit, dan pekerjaan yang rumit akan terasa mudah karena kita ikhlas melakukannya dan dampaknya tentu saja membuat hati menjadi damai dan tentram sebab perasaan kita tidak terbebani oleh pekerjaan-pekerjaan yang berat, banyak dan sulit sekalipun…..” Papar Ki Bijak lagi.
Maula terdiam sesaat, berusaha meresapi setiap tutur kata gurunya, “Ana mengerti ki…..” Kata Maula beberapa saat kemudian.
“Hati kita adalah raja Nak Mas…., ketika sang raja ‘sakit’, ketika hati kita tidak ikhlas, maka sang prajuritpun niscaya akan mengalami ‘tekanan’, otak kita jadi tidak bisa bekerja secara optimal manakala hati kita gundah gulana, jasmani kita terasa letih, manakala hati kita merasa cemas dan gelisah…..”
“Sebaliknya ketika sang raja tengah diliputi kebahagiaan, ketika sang raja tengah berada dalam suasana yang nyaman, insya Allah para prajurit akan semangat untuk menghadapi setiap medan laga, otak berfikir dengan jernah, jasmanipun akan terasa segar dan siap untuk melaksanakan aktivitas…., yang pada gilirannya akan menghasilkan pencapaian ganda, berhasil secara materi didunia, pun insya Allah akan menghasilkan pahala diakhirat kelak……” Tambah Ki Bijak lagi.
“Iya Ki…..” Kata Maula lagi.
“Karenanya jangan pernah lupa untuk memohon segala kebaikan dan keikhlasan pada Allah agar hari-hari dan pekerjaan yang kita jalani, tidak sekedar menghasilkan uang, tapi juga bernilai ibadah….”
“Uang banyak, yang dihasilkan tanpa menyertakan Allah dalam prosesnya, hanya akan melahirkan qorun, yang lupa diri siapa yang memberinya kekayaan….,
“Uang banyak, yang dihasilkan hanya dengan mengandalkan otak, tanpa menyertakan Allah didalamnya, pun hanya akan menghasilkan orang-orang ujub yang akan menepuk dada dan merasa bahwa keberhasilannya adalah semata karena kehebatan akalnya…, dan manusia jenis ini bukanlah jenis manusia yang dirindukan surga…………” Kata Ki Bijak lagi.
“Iya ki….., semoga ana bisa menata hati ini untuk melaksanakan segala aktivitas yang berlandaskan keikhlasan…..” Kata Maula.
Ki Bijak tersenyum…”Semoga Nak Mas…..” Kata Ki Bijak mengakhiri perbincangan.

Sunday, October 2, 2011

INDAHNYA KESIBUKAN


Ki….mohon maaf, sepertinya ana tidak jadi datang ke pondok pada sabtu dan ahad nanti…., ana harus masuk kerja ki…..” Kata Maula memberi tahu gurunya.

“Sabtu- minggu bukannya Nak Mas biasanya libur…?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki…, tapi untuk minggu ini, ana harus masuk, ada pekerjaan…..” Kata Maula.

“Ya tidak apa-apa Nak Mas….., Nak Mas bisa datang kepondok kapan saja, kalau nanti Nak Mas  sudah tidak sibuk ya silahkan Nak Mas datang kesini…..” Kata KI Bijak.

Maula menghela nafas panjang mendengar penuturan gurunya; “Iya ki…., hanya kesibukan ana akhir-akhir ini sangat menguras konsentrasi dan fikiran ana, sudah seminggu ini selalu pulang malam, sehingga ana tidak bisa shalat magrib dan isya b berjamaah dimasjid, ini sangat berat bagi ana ki…..” Kata Maula.

Ki Bijak pun menghela nafas panjang mendegar penuturan Maula; “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…., Aki mengerti apa yang Nak Mas rasakan…, namun Aki bersyukur bahwa ditengah kesibukan Nak Mas, Nak Mas masih memiliki semangat untuk bisa shalat berjamaah dimasjid, semoga Alla segera memberi Nak Mas jalan keluar, agar Nak Mas lebih punya banyak waktu untuk beribadah kepada Allah…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…, semoga Allah menempatkan ana pada tempat yang Allah berkahi, sehingga kesibukan lahiriah ana, tidak mengurangi nilai ibadah ana disisi Allah swt….” Kata Maula.

“Aamiin…., insya Allah Nak Mas…, insya Allah kesibukan Nak Mas yang sekarang, tidak mengurangi nilai ibadah Nak Mas kepada Allah, selama hati Nak Mas tetap tertaut kepada Allah….., jangan pernah berhenti berdzikir walau sehela nafas sekalipun Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…..” Kata Maula pendek.

“Berbicara mengenai kesibukan…., dunia ini memang tempat yang penuh dengan kesibukan Nak Mas….,dunia ini tempatnya orang bekerja, dunia ini tempatnya orang untuk memeras keringat dan memutar otak untuk mendapatkan yang terbaik yang Allah janjikan baginya…..;

“Yang membedakan hanyalah nawaitu-nya….., ada orang yang banting tulang dan peras keringat, hanya untuk memiliki harta yang banyak…”

“Ada orang yang lembur siang malam, hanya untuk memiliki mobil yang mewah…”

“Ada orang yang harus meninggalkan keluarga, berhari-hari tidak pulang kerumah, hanya untuk mengejar pangkat dan jabatan serta materi….”

“Beragam carapun banyak dilakukan…., ada yang mengikuti cara yang benar, ada pula yang menggunakan cara yang menyimpang….., yang jelas, setiap manusia, memiliki kesibukan dan caranya masing-masing……” Kata Ki Bijak.

Maula masih diam mendengarkan penuturan gurunya;

“Dan yang Aki harapkan dari Nak Mas adalah bagaimana Nak Mas bisa memaintain kesibukan Nak Mas dengan niat yang baik, niat yang tulus, niat yang ikhlas semata demi memenuhi kewajiban Nak Mas pada Allah untuk memberi nafkah pada keluarga, sehingga kalaupun Nak Mas harus tidak pulang, ketidak pulangan Nak Mas memiliki arti lebih disisi Allah dan dimata keluarga….”

“Akan merugi mereka yang sudah bekerja siang malam, bahkan harus tidak pulang, tapi niatnya hanya sekedar memperbanyak materi, mungkin dia akan kaya, mungkin dia akan memiliki harta, mungkin dia akan mengendarai mobil mewah, mungkin dia akan menempati rumah megah, mungkin dia akan mendapatkan posisi dan jabatan tinggi dimata manusia, tapi disisi Allah…, orang yang bekerja dengan niatan duniawi, tidak akan mendapatkan apapun untuk kehidupan abadinya diakhirat kelak…..” Kata Ki Bijak lagi.

Maula manggut-manggut mendengar penuturan gurunya yang panjang lebar…..

“Nak Mas…., Allah juga senantiasa dalam kesibukan…., malaikat juga senantiasa dalam ‘kesibukan’, para nabi juga tidak bisa lepas dari ‘kesibukan’, presiden juga sibuk, menteri juga sibuk, gubernur juga sibuk, bahkan seorang RT sekalipun memiliki kesibukannya sendiri.., jadi Nak Mas tidak perlu sedih…., tidak perlu merasa tertekan, tidak perlu merasa diburu-buru…., kembalikan semuanya kepada Allah…, laa haula walaa quwwata ila billah…, insya Allah semua akan berjalan dengan baik…….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki….” Kata Maula lagi..

“Nak Mas masih ingat ayat seribu dinar..?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki……” Kata Maula sambil membacakan ayat dimaksud;

Ì 4 `tBur È,­Gtƒ ©!$# @yèøgs ¼ã&©! %[`tøƒxC ÇËÈ çmø%ãötƒur ô`ÏB ß]øym Ÿw Ü=Å¡tFøts 4 `tBur ö@©.uqtGtƒ n?tã «!$# uqßgsù ÿ¼çmç7ó¡ym 4 ¨bÎ) ©!$# à÷Î=»t/ ¾ÍnÌøBr& 4 ôs% Ÿ@yèy_ ª!$# Èe@ä3Ï9 &äóÓx« #Yôs% ÇÌÈ
2.  ………. barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

3.  Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Nak Mas perhatikan arti ayat ini’ Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah , niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar..”, jalan keluar bagi setiap permasalahan kita, jalan keluar bagi setiap kesulitan kita, jalan keluar bagi setiap kegundahan kita, jalan keluar bagi kesetiap keresahan kita, jalan keluar bagi setiap kesempitan kita.., termasuk jalan keluar bagi kesibukan kita, seperti yang tengah Nak Mas hadapi sekarang ini…..”

“Karenanya sesibuk apapun kita, utamakan perintah Allah…, sebagaimana Allah maklum dalam sebuah hadits qudsi “Hai anak Adam, luangkan waktumu untuk beribadah kepadaKu, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan, dan Aku lapangkan tanganmu dari kesibukan…., jika tidak, maka Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…., semoga kesibukan ana sekarang ini tidak menjadikan ana orang yang lalai dalam mengingat Allah…, dan semoga pula ana segera diberikan kelapangan, sehingga ana bisa lebih banyak waktu untuk bersama Allah dan menimba ilmu dipondok ini….” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas…, tidak ada yang sulit bagi Allah untuk memberikan apapun yang kita minta, tergantung bagaimana kita mendekat kepadaNya dengan segenap keyakinan dan kepasrahan diri padaNya….” Kata Ki Bijak lagi.

“Aamiin ki…….; salam buat rekan-rekan yang lain ya Ki…, ana harus segera berkemas…..” Kata Maula sambil pamita.

“Insya Allah Aki sampaikan Nak Mas….” Kata Ki Bijak sambil menyambut uluran tangan Maula.

Wednesday, August 17, 2011

JAGA FITRAH DENGAN SHAUM


“Nak Mas masih ingat dengan diskusi kita mengenai ‘mutiara’ yang Allah berikan kepada manusia sebagai symbol kemuliaanya dan apa saja yang dapat menghilangkan
Symbol-simbol kemuliaan itu..? Tanya Ki Bijak dalam sebuah kesempatan.

“Ya Ki…, Allah memberi manusia akal, yang akan hilang oleh kemarahan, kemudian Allah memberikan syari’at kepada manusia, yang akan hilang oleh perbuatan hasud, lalu Allah juga memberi manusia rasa malu, yang akan rusak oleh ketamakan, serta amal shaleh yang akan hilang oleh ghibah….., bukan demikian Ki…..?” Jawab Maula.

“Subhanallah…, benar Nak Mas…, itulah empat mutiara yang Allah berikan hanya kepada manusia, Akal tidak Allah berikan pada hewan, akal tidak Allah berikan kepada tumbuhan, akal tidak Allah berikan kepada gunung atau lauatan, karena Allah menghendaki manusia…, dengan akalnya mampu menjadi khalifah dimuka bumi……”

“Dan kemarahan….., adalah perusak akal manusia…, ketika seseorang marah, maka akalnya tidak lagi berfungsi secara optimal, akalnya akan buntu, akalnya tidak mampu lagi membedakan mana yang baik dan mana yang butuk, mana yang benar mana yang salah, mana yang lurus dan mana yang menyimpang, mana yang boleh dan mana yang dilarang, mana yang berasal dari hati nurani dan mana yang berasal dari nafsu….., dan ketika seseorang sudah lagi tidak menggunakan akalnya untuk berfikir dan bertindak karena dikuasai amarah…, maka ketika itu pulalah manusia telah kehilangan ¼ bagian dari kemuliaannya…..” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Masya Allah……., betapa hebat daya rusak kemarahan ya ki, sehingga mampu menghilangkan ¼ bagian dari kemulian manusia….” Kata Maula.

“Karenanya kita harus pandai menjaga diri agar kita tidak terjebak dalam kemarahan yang merusak, dan shaum yang tengah kita laksanakan sekarang ini, salah satu fungsinya adalah bagaimana kita melatih diri untuk mengendalikan nafsu dan kemarahan kita, kita sedang dilatih untuk menjadi orang yang sabar, kita sedang dididik untuk menjadi manusia yang mengedepankan akal ketimbang nafsu dan kemarahan…, dengan shaum yang baik, insya Allah ¼ bagian dari fitrah kemulian kita sebagai manusia akan terjaga…..” kata Ki Bijak.

Maula manggut-manggut mendengar penuturan gurunya, ia baru menyadari bahwa dibalik haus dan lapar orang shuam, ada sebuah hikmah besar bagi manusia itu sendiri, yaitu menjaga akalnya agar tidak terkalahkan oleh nafsu dan kemarahan…..

“Mutiara manusia yang kedua adalah bahwa manusia dikarunia Allah dengan syari’at, dengan agama, dan ini pun tidak Allah berikan kepada mahluk lain selain manusia, hanya kepada manusialah Allah memberikan tuntunan bagaimana mendirikan shalat, bagaimana melaksanakan shaum, bagaimana menunaikan zakat dan sedekah, bagaiman menunaikan ibadah haji, bagaimana berbuat baik kepada sesame, bagaimana membangun hubungan yang harmonis dengan Allah, dengan sesama manusia dan bahkan dengan lingkungannya.., dengan syari’at agama inilah manusia kemudian ditempatkan diposisi yang lebih tinggi dibanding dengan mahluk lainnya…..

“Maka ketika ada manusia, khususnya yang mengaku muslim, tapi kemudian dia tidak shalat, ia mengaku muslim tapi kemudian dia tidak shaum, ia mengaku muslim tapi kemudian dia tidak zakat, ia mengaku muslim tapi tidak menutup uarat, ia mengaku muslim tapi tetap senang maksiat, gemar makan uang riba, gemar minum khamr, gemar korupsi, gemar maling, gemar menerima suap dengan tidak mengindahkan syar’iat agamanya, maka ketika ketika itu orang atau manusia tersebut juga akan kehilangan ¼ bagian lagi dari fitrah kemuliaannya sebagai manusia….”

“Iya ya ki…, kalau mengaku muslim tapi tidak shalat, apa bedanya dengan mahluk lainnya…?, kalau mengaku muslim tapi tidak mengenal halal-haram, apa yang patut dibanggakannya, kalau mengaku muslim, pakai nama islami, tapi kelakuan gemar korupsi, apa hebatnya….?’ Kata Maula.

“Ya Nak Mas.., kemulian seorang muslim bukan pada harta,pangkat dan jabatan apa yang dimilikinya, kemulian seorang muslim terletak pada bagaimana ia menempatkan diri pada jalur ketaqwaan yang telah Allah amanahkan kepadanya, kemuliaan seorang muslim terletak pada bagaimana ia memandang dan menjalani dan menghidupakan syari’at agama  dalam kehidupannya, bukan sekedar hapal, bukan sekedar pandai berteori, karena syar’iat bukan hanya hapalan dan teori, melaksanakan syar’iat agama adalah salah bentuk pengabdian kita kepada Allah swt…., sekaligus juga merupakan manifestasi dari pelaksanaan salah satu bentuk ujian bagi manusia….” Kata Ki Bijak.

Maula menghela nafas panjang mendengar penuturan gurunya, “Iya ki……,apa kaita shaum dengan mutiara yang kedua ini ki….” Kata Maula pendek.

“Nak Mas masih ingat bahwa Allah menguji kita dengan perintah, Allah juga akan menguji kita dengan larangan, Allah akan menguji kita dengan keburukan dan kebaikan….?” Tanya Ki Bijak.

“Ya ki…..” kata Maula.

“Shaum adalah sebuah bentuk dari semua jenis ujian-ujian tadi Nak Mas…., dalam shaum, ada ujian berupa perintah, yakni perintah untuk menjalankan shaum selama ramadhan ini…, kemudian dalam shaum juga kita diuji dengan ‘larangan’, kita dilarang untuk makan minum selama shaum, kita dilarang ‘mendekati’ pasangan kita selama kita shaum…., kemudian dalam shaum juga kita diuji dengan rasa haus dan lapar, yang merupakan miniatur dari ujian yang berat sebagaimana halnya sakit, dalam shaum juga kita diuji dengan kelapangan..., yakni ketika waktu berbuka tiba…, ketika semuanya boleh dimakan, ketika semuanya boleh diminum, kita tetap dituntut untuk bisa mengendalikan diri agar tidak berlebihan, agar tidak asal makan, tidak asal minum, ketika dalam keadaan ‘serba boleh’ sekalipun kita tetap dituntut untuk tetap bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang boleh…., bukan sikap membabi buta dan melampaui batas……’ Kata Ki Bijak.

“Ana mengerti ki…, jadi mutiara manusia yang empat tadi, akal, syar’at, rasa malu dan amal shaleh…., bisa terjaga dengan melaksanakan shaum dengan baik ya ki…., karena dengan shaum, kemarahan yang akan merusak akal akan teredam.., dengan melaksanakan shaum juga berarti kita melaksanakan perintah Allah, dan dengan shaum juga kita melatih diri untuk menjaga rasa malu kepada Allah,karena shaum adalah ibadah rahasia antara kita dengan Allah, dan dengan shaum pula kita mendapatkan amal shaleh sebagai bekal kita diakhirat kelak ya ki….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas….,insya Allah dengan shaum ini fitrah kemulian manusia kita akan tetap terjaga, atau dengan kata lain shaum akan memanusiakan manusia, agar tetap selaras dengan fitrahnya sebagai mahluk mulia…..” kata Ki Bijak lagi.

“Iya Ki…terima kasih, semoga ini menambah motivasi ibadah ramadhan ana dan santri lainnya….” Kata Maula sambil pamitan.

Wassalam

August 17,2011

Sunday, July 31, 2011

Hikmah dibalik Stocktaking

“Nak Mas masih dikantor….?” Tanya Ki Bijak ketika menerima telpon dari Maula.

“Iya ki…., ana masih dikantor, stocktakingnya belum selesai…, mungkin baru selesai sekitar pukul 20.00 nanti….” Jawab Maula.

Maula mendengar tarikan nafas yang dalam gurunya diseberang telpon sana “Nak Mas tarawehan dimana malam ini…? Tanya Ki Bijak lagi.

“Mungkin ana tidak bisa ikut taraweh berjamaah ki…, insya Allah ana tarewehan sendiri dirumah…..” Jawab Maula.

“Nak Mas…, Nak Mas yang ikhlas ya…., tidak apa-apa Nak Mas tidak ikut taraweh berjamaah disini, yang penting shalat fardhunya jangan sampai ditunda-tunda…., sesibuk apapun, Nak Mas harus mendahulukan shalat…..” Nasehat Ki Bijak.

“Insya Allah ki….” Kata Maula lagi.

“Nak Mas….., pasti ada yang bisa kita pelajari dari apa yang Nak Mas rasakan sekarang….” Kata Ki Bijak, masih dari seberang telpon, demi mendengar nada berat dari jawaban Maula.

“Iya Ki…., ana tidak punya pilihan lain, selain mengikuti ‘perintah’ perusahaan….” Kata Maula.

“Begini Nak Mas…, selama niat kita berangkat dari rumah untuk mencari ridha Allah, untuk menafkahi anak istri Nak Mas, untuk keluarga, insya Allah nilai ibadah Nak Mas tidak kalah dari mereka yang taraweh…, 

shalat taraweh hukumnya sunnah, sementara mencari nafkah untuk keluarga hukumnya wajib, jadi insya Allah dengan berangkatnya Nak Mas kekantor sekarang, akan tetap memiliki nilai disisi Allah swt……” kata Ki 
Bijak lagi.

“Alhamdulillah…, ana sedikit lega ki…., semoga Allah ridha dengan apa yang ana lakukan yang ki….” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas…, lalu hal yang kedua adalah bahwa saat ini, Nak Mas tengah diamanati Allah untuk bekerja diperusahaan Nak Mas sekarang, artinya dengan memenuhi kewajiban Nak Mas pada perusahaan, juga berarti bahwa Nak Mas memenuhi amanah Allah yang telah menempatkan Nak Mas untuk bekerja ditempat yang sekarang….., justru ketika Nak Mas menolak untuk memenuhi kewajiban Nak Mas terhadap perusahaan Nak Mas, misalnya dengan alas an yang dibuat-buat, bilang sakit, padahal tidak, bilang ada urusan keluarga padahal tidak, hal itu justru telah melanggar amanah…, baik itu amanah perusahaan, maupun amanah dari Allah swt…..” Kata Ki Bijak

“Meski ana harus kehilangan momen taraweh dimalam pertama ramadhan ki…?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas…., nilai taraweh bukan hanya terletak pada awal atau akhir ramadhan Nak Mas…., nilai taraweh atau ibadah lainnya, justru terletak pada keistiqomahan kita untuk menjalaninya, terletak pada keikhlasan kita…., jadi meski Nak Mas taraweh sendiri dirumah, selama Nak Mas ikhlas dan istiqomah melaksanakannya, insya Allah akan tetap bernilai disisi Allah swt…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, ada banyak orang yang mati-matian untuk mengejar waktu agar bisa taraweh diawal Ramadhan, dengan berdesak-desakan, dengan terburu-buru, tapi hanya sebatas malam pertama ramadhan, selebihnya ada banyak orang yang kembali pada habit lamanya, tidak pernah datang kemasjid……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula masih diam, memegang handphonenya, mendengarkan nasehat dari gurunya, hatinya sedikit tenang setelah mendapat penjelasan dan nasehat yang memang selalu ia rindukan.

“Jadi Nak Mas selesaikan saja pekerjaan Nak Mas dikantor…, jangan buru-buru, jangan tergesa-gesa…..,dan ingat harus ikhlas…, karena sekali Nak Mas tidak ikhlas, Nak Mas akan merugi adanya….” Kata Tambah Ki Bijak.

“Iya Ki….” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Maula.

“Dan satu lagi Nak Mas…, ada satu hikmah besar yang hendak Allah sampaikan pada Nak Mas dengan kejadian ini….” Kata Ki Bijak.

“Hikmah apa ki….?” Tanya Maula.

“Hikmahnya adalah agar kita, kaum muslim harus kuat, harus mandiri dan harus memiliki kemampuan sebagaimana umat-umat lain atau bahkan melebihinya…..” Kata Ki Bijak.

“Maksud Aki….?” Tanya Maula.

“Ketika orang islam kuat, orang islam maju, orang islam yang memiliki perusahaan, tentu mereka akan jauh lebih memahami kepentingan sesamanya, jika atasan atau tempat kita bekerja adalah muslim, mereka tentu tahu bahwa malam ini adalah malam pertama ramadhan, dan tentu mereka tidak akan meminta karyawannya untuk masuk kerja…., dan karena perusahaan Nak Mas sekarang bukan perusahaan orang islam sepenuhnya, kemengertian mereka tentu beda dengan pemahaman kita…, jadi wajar jika mereka tetap meminta Nak Mas dan rekan-rekan masuk kerja meski malam ini malam ramadhan….” Kata Ki Bijak.

“Jadi Allah menghendaki lahirnya pengusaha muslim yang kuat ya ki….?” Kata Maula.
“Ya Nak Mas….,itu hikmahnya, dan Allah tidak akan merubah nasib seseorang, kalau orang itu tidak berusaha merubahnya…,


11. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

[767] bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat Ini ialah malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut malaikat Hafazhah.
[768] Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.


“Jadi kalau Nak Mas diberi kemampuan untuk menjadi wirausahawan, maka itu lakukanlah perubahan, itu akan lebih dicintai Allah…, dengan memiliki usaha sendiri, maka Nak Mas atau kaum muslimin lainnya, bisa memanag waktu dan kegiatan usaha Nak Mas agar berjalan beriringan dengan kegiatan ibadah kita kepada Allah, jadi antara aktivitas lahiriah duniawi kita dan akhirat kita bisa selaras dan sejalan Nak Mas…..” Kata Ki Bijak.

“Sebenarnya sudah lama ana punya keinginan seperti itu ki.., punya usaha sendiri, bisa mengatur waktu kerja ana sendiri, bisa beribadah kepada Allah tanpa harus disibukan dengan berbagai peraturan perusahaan orang lain…., hanya ana masih belum tahu dari mana harus memulainya ki….” Kata Maula.

“Minta pada Allah Nak Mas…, minta petunjuk, minta bimbingan, minta kemudahan agar Nak Mas menemukan usaha yang tetap untuk Nak Mas kelola…, seorang mukmin, seorang yang memiliki Allah tidak harus bingung ketika harus menentukan sesuatu….”

“Nak Mas mau punya perusahaan apa atau sebesar apa, mudah saja bagi Allah untuk mengabulkannya, selama Nak Mas menyertainya dengan kasab yang baik, usaha yang sungguh-sungguh dan doa yang terus-menerus kepada Allah……..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…, insya Allah ana segera merintis usaha sendiri, dan doakan, mudah-mudahan ramadhan tahun depan,ana sudah bisa jalan sendiri ki….” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas…., sekali lagi tidak patut bagi seorang mukmin untuk takut atau ragu memulai sesuatu yang baru, selama ia memiliki Allah ……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki….., ana mau beres-beres ki…., sebentar lagi adzan maghrib…., salam buat rekan-rekan disana ya ki…., assalamu’alaikum….” Kata Maula menutup perbincangan dengan gurunya.

“Walaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh……” Jawab Ki Bijak dari seberang telpon.

Wassalam;
July 31,2011

Thursday, July 7, 2011

HARI TERAKHIR

“Pada hakekatnya.., setiap detik yang kita lalui, setiap menit yang kita lewati, setiap jam yang kita jalani, hari, minggu, tahun dan windu, akan semakin mendekatkan kita pada saat hari terakhir kita Nak Mas….” Kata Ki Bijak, ketika mendengar cerita Maula mengenai berakhirnya kebersamaan beberapa orang rekan kerjanya karena berbagai alas an.

Maula segera maklum bahwa ‘hari terakhir’ yang dimaksud oleh gurunya, bukan sekedar hari terakhir bekerja disebuah perusahaan, melainkan hari terakhir kehidupan seorang anak manusia.

“Maksud Aki…., hari datangnya kematian ki….?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas…, setiap yang berawal, pasti akan ada akhirya, setiap yang memulai, pasti ada ujungnya, pun setiap bernyawa akan mengalami yang namanya kematian, sebagai ‘akhir’ dari jatah hidupnya didunia ini…..”

“Hanya kadang banyak diantara kita yang sudah mulai ‘lupa’ akan kepastian datangnya hari terakhir itu…”

“Sebagian kita lupa akan datangnya hari terakhir, seolah kita akan hidup selamanya, sehingga mereka tidak memanfaatkan waktu yang diamanahkannya dengan baik, mereka menghabiskan waktu hidupnya untuk hura-hura, untuk berfoya-foya, untuk melakukan berbagai kegiatan yang sama sekali tidak memberikan bekal apapun untuk menyambut kedatangan hari terakhirnya….”

“Sebagian kita lupa akan datangnya hari terakhir, sehingga mereka berbuat sehendak hatinya saja, merampok, mencuri, korupsi uang rakyat, memperkaya diri sendiri tanpa mengenal batas dan aturan, dan masih banyak lagi perilaku sebagian manusia yang mengindikasikan bahwa mereka lupa akan datangnya hari terakhir itu….” Kata Ki Bijak menambahkan.

“Iya Ki…, sekarang ini, orang cenderung melupakan yang namanya kematian, bahkan sebagian orang merasa tidak nyaman ketika diajak untuk merenung dan berfikir tentang kematian yang pasti datang, mereka menganggap ‘sepele’ perkara hari terakhir ini, dan lebih senang berbicara tentang dunia dan segala kefanaanya…” Kata Maula.

“Benar Nak Mas…, padahal Ali bin Abi Thalib ra mengatakan, “Kamu semua ragu-ragu, dan tidak percaya akan adanya alam kubur, sampai kamu mengalami kematian. Bahwa kami para sahabat Rasulullah ketika berkumpul selalu menyebut-nyebut azab kubur, siksa kubur, sampai ruangan tempat berkumpul kami terasa panas,” (HR. Bukhari - Muslim), sementara kita dizaman sekarang ini, azab dan siksa kubur dianggap sebagai dongengan yang tidak berdasar.., dan itu salah, karena sesungguhkan kematian adalah salah satu ‘nasehat’ dari sekian nasehat yang dapat menyelamatkan manusia dari kehidupan dunia yang melalaikan, sebagaimana Allah peringatkan dalam surat At-takaasur;

1. Bermegah-megahan Telah melalaikan kamu[1598],
2. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
4. Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui.
5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
6. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin[1599].
8. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

[1598] Maksudnya: Bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya Telah melalaikan kamu dari ketaatan.
[1599] 'Ainul yaqin artinya melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat.

Maula menghela nafas dalam-dalam, menyimak dengan seksama surat yang dibacakan gurunya tadi;

“Iya ki…., banyak orang yang lebih bangga kalau rumahnya besar, sehingga mempertaruhkan sebagian hidupnya untuk mengejar kemegahan dunia, daripada berusaha mencari ampunan Allah….”

“Banyak orang yang lebih bangga dengan mobilnya yang mewah, daripada memikirkan apa yang hendak mengantarnya keliang lahat, yang tidak lebih dari sebuah keranda, betapapun mobilnya mewah…”

“Banyak orang yang lebih bangga karena tabungan dan depositnya banyak, daripada memikirkan tabungan dan bekal akhiratnya…., dan masih banyak lagi aktivitasnya lebih condong pada upaya mengejar duniawi daripada memikirkan kehidupan abadi diakhirat kelak….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas…, tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran bagi kita, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang dari apa yang sudah digariskan oleh sang pemilik kehidupan, nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan, dalam sebuah kumpulan kata yang terangkai indah, kematian menasehati kita dengan indahnya;

“Kematian mengingatkan kita bahwa waktu sangat berharga”

“Kematian mengingatkan kita, bahwa kita bukan siapa-siapa”

“Kematian mengingatkan kita bahwa kita tak memiliki apa-apa”

“Kematian mengingatkan kita bahwa hidup hanya sementara, bahkan teramat singkat”

“Kematian mengingatkan kia bahwa hidup begitu berharga..”

“Da orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu,termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat, dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan….” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Iya ki…, hari terakhir pasti datangnya, dan sebijak-bijak manusia adalah yang mempersiapkan bekal untuk menyambutnya ya ki….” Kata Maula.
“Benar Nak Mas, sebijak-bijak manusia adalah orang yang mempersiapkan bekal untuk menyambut hari terakhir dan tamu terakhirnya, karena kita tidak tahu kapan dan dimana kematian akan datang dan menjemput kita….” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat qur’an;

78. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan[319], mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka Mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan[320] sedikitpun? (An-nissa)

[319] kemenangan dalam peperangan atau rezki.
[320] pelajaran dan nasehat-nasehat yang diberikan.

8. Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan". (Al Juma’ah)

Maula menghela nafas panjang,”Semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai ya ki….” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas…..” kata Ki Bijak mengakhiri diskusi.

Wassalam;