Friday, April 20, 2012

BAHAGIA ITU ‘SEDERHANA’


Kenapa Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak demi melihat wajah Maula yang nampak sedikit memerah, seperti memendam sesuatu.

“Tidak apa-apa Ki…, ana hanya terharu setelah membaca hadits ini…” Kata Maula sambil menunjukan hadits yang dimaksud;

“Suatu hari ‘Umar bin Khaththab RA menemui Nabi saw. di kamar beliau, lalu ‘Umar mendapati beliau tengah berbaring di atas sebuah tikar usang yang pinggirnya telah digerogoti oleh kemiskinan (lapuk)”.

“ Tikar membekas di belikat beliau, bantal yang keras membekas di bawah kepala beliau, dan kulit samakan membekas di kepala beliau..”.

“Di salah satu sudut kamar itu terdapat gandum sekitar satu gantang, di bawah dinding terdapat qarzh (semacam tumbuhan untuk menyamak kulit)”

“Maka, air mata ‘Umar bin Khaththab RA meleleh dan ia tidak kuasa menahan tangis karena iba dengan kondisi Nabi saw...”

“Lalu Nabi saw. bertanya sambil melihat air mata ‘Umar RA yang berjatuhan, “Apa yang membuatmu menangis, Ibnu Khaththab?”

“Umar RA menjawab dengan kata-kata yang bercampur-aduk dengan air mata dan perasaannya yang terbakar, “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan tikar ini membekas di belikat Anda, sedangkan aku tidak melihat apa-apa di lemari Anda? Kisra dan kaisar duduk di atas tilam dari emas dan kasur dari beludru dan sutera, dan dikelilingi buah-buahan dan sungai-sungai, sementara Anda adalah Nabi dan manusia pilihan Allah!”

“Lalu Nabi saw. menjawab dengan senyum tersungging di bibir beliau, “Wahai Ibnu Khaththab, kebaikan mereka dipercepat datangnya, dan kebaikan itu pasti terputus. Sementara kita adalah kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakkah engkau rela jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?”

‘Umar menjawab, “Aku rela.” (HR. Hakim, Ibnu Hibban dan Ahmad)

Ki Bijak pun menarik nafas dalam-dalam setelah membaca kembali hadits yang sangat menyentuh ini, bagaimana tidak…., baginda Rasul, manusia agung pilihan Allah, manusia terbaik yang pernah lahir, yang tidak akan ada manusia seperti beliau baik sebelum sesudahnya, harus tidak beralaskan tikar keras yang sampai menimbulkan bekas dipunggung beliau, hanya memiliki sedikit makanan dirumahnya dan jauh dari kesan gemerlap dunia yang biasa menghiasi perilaku para pemimpin dan pembesar dari zaman dulu hingga sekarang….., pantas kalau kemudian sayyidina Umar bin Khattab, seorang yang gagah perkasa dimedan laga, seorang pejuang yang pantang menyerah, seorang yang bahkan setanpun harus menghindar kala berpapasan dengannya, tidak sanggup menahan derai air matanya demi melihat kondisi baginda Rasul seperti itu…..;
Tanpa terasa air bening pun mengalir dari dua kelopak matanya, Ki Bijak pun demikian haru dan tersentuh…,

“Harusnya kita malu mengaku menjadi umat beliau Nak  Mas….” Katanya kemudian setelah suasana sedikit mencair.

“Kenapa kita harusnya malu mengaku sebagai umat beliau ki…?”Tanya Maula

“Ya Nak Mas, kita mestinya malu mengaku sebagai umat beliau, sementara perilaku dan tabiat kita justru lebih cenderung menyerupai perilaku dan perangai raja kisra dan romawi….”

“Seperti dalam hadits ini, perilaku baginda Rasul begitu bersahaja, begitu sederhana, tapi sebagian umatnya justru ingin tampil waah, pengen tampil laksana raja romawi, mobilnya mewah, rumahnya bak istana, persediaan makannya melebihi stock baitul mal, memakai perhiasan yang mahal, mengenakan jas yang harganya puluhan bahkan ratusan juta……, dan bukankah ini lebih mencerminkan perilaku raja kisra daripada perilaku umat nabi…?” Kata Ki Bijak setengah bertanya.

Kini giliran Maula yang menarik nafas panjang, “Benar Ki…., sebagian umat islam, yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad saw, sekarang ini sudah banyak yang terjebak kedalam pola hidup ala kaisar romawi dan raja kisra yang glamour dan materilitis…..”

“Mereka berlomba-lomba menumpuk harta kekayaan dengan segala macam cara, tidak peduli apakah cara itu baik atau buruk, tidak peduli apakah cara dia mendapatkan harta itu melanggar hokum atau tidak, tidak peduli apakah harta yang didapatnya dengan cara yang halal atau tidak…, yang terpatri dibenaknya adalah hanya bagaimana ia mendapatkan harta sebanyak mungkin, agar orang menyebutnya sebagai orang yang berhasil, agar orang lain memandangnya sebagai orang yang sukses, agar orang lain menaruh hormat padanya karena banyaknya harta yang ia miliki……” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, banyak orang yang salah memaknai kehormatana, banyak orang menilai bahwa ia akan dihormati orang lain, kalau hartanya banyak, bahwa ia akan disegani orang lain, kalau mobilnya mewah, bahawa orang lain yang respek kepadanya kalau jabatannya tinggi, bahwa orang lain akan membungkukan badan padanya karena ia seorang pejabat…., padahal sekali-kali itu tidaklah benar…..”

“Kehormatan dan kemulian seseorang bukan karena pangkat dan hartanya, kehormatan dan kemuliaan seseorang bukan karena pangkat dan jabatannya, kehormatan dan kemulian seseorang bukan karena mobil mewah atau rumah megahnya….”

“Keagungan budi dan keluhuran akhlaq, serta ketaqwaanyalah yang membuat nilai seseorang itu menjadi terhormat dihadapan manusia, dan mulia disisi Rabbnya…..” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an;

$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ
13.  Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.


Dan justru Allah mencela mereka yang bermegah-megahan, karena bermegah-megahan, membangga-banggakan harta, membangga-banggakan pangkat dan jabatan, lebih banyak menyebabkan kelalaian kita selaku hamba…..”

“Banyak sudah contoh nyata dimana orang yang mengejar duniawi, telah terjebak kedalam kubangan materialisme yang justru memperbudaknya….., setiap hari, setiap saat ia disibukan dengan berbagai urusan materi, siang hari mereka habiskan untuk mencari materi, dan hanya menyisakan sedikit waktu atau bahkan sama sekali tidak punya waktu untuk beribadah kepada Allah..”

“Malam haripun mereka masih terus kerja,kerja dan kerja untuk mencapai target materi yang harus dikumpulkannya, mereka memasang target penghasilan yang sangat tinggi bahkan kadang tidak realistis, mereka terus memforsir angan dan mimpinya untuk menjadi orang ‘hebat’ dalam pandangan mata manusia, dan cenderung mengabaikan pandangan Allah yang telah memberinya kehidupan…..”

“Mereka pun telah mengacuhkan peringatan Allah sebagaimana firmanNya dalam surat At-Takatsur…” Kata Ki Bijak sambil membacakan suratnya;

ãNä39ygø9r& ãèO%s3­G9$# ÇÊÈ 4Ó®Lym ãLänöã tÎ/$s)yJø9$# ÇËÈ žxx. šôqy tbqßJn=÷ès? ÇÌÈ §NèO žxx. t$ôqy tbqßJn=÷ès? ÇÍÈ žxx. öqs9 tbqßJn=÷ès? zNù=Ïæ ÈûüÉ)uø9$# ÇÎÈ žcãruŽtIs9 zOŠÅspgø:$# ÇÏÈ ¢OèO $pk¨XãruŽtIs9 šú÷ütã ÈûüÉ)uø9$# ÇÐÈ ¢OèO £`è=t«ó¡çFs9 >ͳtBöqtƒ Ç`tã ÉOŠÏè¨Z9$# ÇÑÈ
1.  Bermegah-megahan Telah melalaikan kamu[1598],
2.  Sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3.  Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
4.  Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui.
5.  Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
6.  Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7.  Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin[1599].
8.  Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

[1598]  Maksudnya: Bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya Telah melalaikan kamu dari ketaatan.
[1599]  'Ainul yaqin artinya melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat.

Lagi-lagi Maula menghela nafas panjang dan dalam, karena ia pernah bertemu dengan orang-orang yang memiliki perilaku mirip yang disinggung oleh gurunya, orang yang siang malam bermimpi untuk punya villa yang besar, bermimpi memiliki mobil mewah, bermimpi memiliki jabatan yang tinggi, bermimpi memiliki penghasilan besar…., sehingga ucapannya, tulisannya,tindakannya, selalu saja menggambarkan betapa hebat mimpinya itu, betapa hebatnya ambisinya itu, hingga ia rela terus dan terus memforsir dirinya untuk impian yang menurutnya hebat……, bahkan ketika tubuhnya sakitpun, yang kefikiran adalah bisnis dan bisnis, uang dan uang yang tidak pernah bisa lepas dari fikirannya….”

“Ana beberapa kali bertemu orang dengan ‘impian yang hebat’ ki, ia begitu yakin apa yang dikatakan oleh para motivation trainnernya itu bisa ia capai…., ia hampir tidak punya waktu libur untuk dirinya, hingga akhirnya ia dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa mimpinya itu telah membuatnya stress, telah membuatnya lelah, telah membuatnya tidak punya cukup waktu untuk menikmati apa yang dimilikinya…, Alhamdulillah, sekarang ia sudah kembali kedunia nyata, ia tak lagi dibayang-bayangi mimpinya yang ketinggian yang telah membuatnya menghabiskan sedemikian banyak energy dan waktunya yang berharga…..” Kata Maula.

“Ya Nak Mas…., memiliki cita-cita dan harapan itu sangat lazim dan manusiawi, tapi kita tetap harus mempunyai control dan kendali terhadap keinginan-keinginan itu, bukan justru kita yang menjadi budak mimpi, dan harus diingat bahwa contoh kita adalah baginda Rasul yang penuh kesederhaan dan rasa syukur, contoh kita bukan kaisar romawi atau raja kisra yang suka dengan bermegah-megahan…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya Ki……, hidup sederhana bukan berarti tidak bahagia ya ki…, justru dengan kesederhaan itulah kita bisa menikmati hidup dengan lebih nyaman, justru dalam kesedehanaan itulah kita bisa menghidupkan keteladanan baginda Rasul sebagai uswathun hasanah kita ya ki….” Kata Maula.

“Benar Nak Mas…, dan satu lagi, sederhana bukan berarti kurang makan, sederhana, bukan berarti harus berpakaian gembel, sederhana bukan berarti harus tinggal dirumah kumuh, sederhana bukan berarti jadi peminta-minta, sederhana adalah sikap hidup yang tidak berlebihan, sederhana adalah sikap hidup yang mengedepankan rasa syukur dan qanaah dan menjauhkan diri dari sifat sombong dan berlebihan…….” Pungkas Ki Bijak mengakhiri perbincangan.

“Iya Ki…..,semoga hadits ini menjadi inspirasi kita untuk tidak terjebak dalam gaya hidup gemerlap ala kaisar romawi ya ki…, karena kita adalah umat baginda Rasul yang sederhana lagi bersahaja…” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum dan mengangguk sambil beranjak untuk bersiap-siap shalat ashar.

Wassalam

Monday, April 16, 2012

BAHAYA ZONA MAPAN

“Benar Nak Mas…, kemapanan juga sebuah ujian yang sangat berat…., banyak orang yang ‘lulus’ ketika diuji dengan ketidak pastian, tapi justru gagal ketika diuji dengan kemapanan…”

“Misalnya ketika masih karyawan kontrak, yang belum pasti diperpanjang atau tidaknya kontrak kita, shalatnya rajin, dhuhanya jalan, tahajudnya tiap malam…., tapi ketika sudah menjadi karyawan tetap, dengan gaji, dengan jaminan ia bisa kerja terus, mulailah shalatnya sedikit ketinggalan, mulai dhuhanya jarang-jarang, mulai tahajudnya ditinggalkan…..”

“Misalnya lagi ketika masih dirumah kontrakan, yang selalu membuat deg-degan karena takut telat bayar, banyak orang rajin berdoa kepada Allah, rajin ngaji, tapi begitu sudah punya rumah sendiri, mulai merasa bahwa ia merasa aman, merasa tidak perlu berdoa lagi, tidak ngaji lagi….;

“Pun dalam hal lainnya, ketika masih menjadi karyawan golongan rendah, ia sangat rendah hati, tapi begitu menjadi karyawan golongan atas, ia berubah menjadi tinggi hati…..”

“Pun ketika masih jadi bawahan, tutur katanya santun dan sopan, tapi begitu jadi atasan, kata-katanya pun mulai berubah, nadanya tinggi dan sering menyakitkan hati orang lain…..”

“Dan masih banyak lagi perubahan yang terjadi seiring dengan perubahan kondisi kemapanan seseorang, semakin mapan seseorang, maka ia merasa semakin merasa aman, sehingga sikap tawakalnya, sikap tergantungannya kepada Allah sedikit demi sedikit memdudar…..” Kata Ki Bijak.

“Benar Ki…., ana banyak melihat dan bahkan merasakan sendiri kondisi seperti itu, ketika ana merasa sudah berada dizona mapan, gaji dapat tiap bulan, tunjangan kesehatan, transportasi, bonus dan lainnya, ketika itulah ‘perasaan aman’ sedikit demi sedikit menggeser rasa ketergantungan ana pada Allah….., aah nanti akhir bulan gajian, aah nanti pertengahan tahun dapat bonus, aah tahun depan naik gaji lagi…., dan seterusnya, sehingga kemudian, ketika itu terjadi terus menerus dan bertahun-tahun, rasa aman dan mapan itu bukan timbul karena kita dekat dengan Allah, tapi rasa aman itu karena ana merasa punya ‘jaminan’ gajian dan bonus yang ‘pasti’ ana terima setiap bulannya…..” Kata Maula.

“Khilaf itu manusiawi Nak Mas…., dan syukur Alhamdulillah Nak Mas segera menyadari bahwa seharusnya rasa aman itu timbul dari perasaan bahwa kita dekat dengan Allah, rasa aman itu timbul karena kita merasa dijamin Allah, rasa aman itu harusnya timbul karena kita merasa dilindungi Allah, rasa aman itu mestinya timbul karena itu benar-benar bergantung dan berserah diri kepada Allah….”

“Adalah salah kalau kita merasa aman, karena kita merasa setiap bulan akan menerima gajian, karena siapapun, kapanpun gajian kita mungkin terhenti karena berbagai hal,mungkin kita senang bekerja diperusahaan tersebut, tapi belum tentu perusahaan masih membutuhkan tenaga kita, atau sebaliknya perusahaan butuh kita, tapi kita nya yang tidak betah….”

“Adalah salah kalau kita merasa aman, hanya karena kita akan menerima bonus setiap tahunnya, karena boleh jadi, suatu waktu perusahaan tidak akan mengeluarkan bonus dengan seribu satu alas an…”

“Adalah salah kalau kita merasa aman, hanya karena kita merasa sudah mendapatkan asuransi, tidak ada jaminan perusahaan asuransi akan membayar klaim kita, bahkan banyak perusahaan asuransi yang bangkrut dan kabur meninggalkan customernya…”

“Adalah juga salah kalau kemudian kita merasa aman karena punya banyak rekening tabungan……, sudah terbukti orang yang tabungannya banyak, tapi kemudian tidak bisa diambil karena bank nya pailit…..

“Dan masih banyak lagi ‘kesalahan’ kita yang merasa aman dengan cara yang salah, karena sesungguhnya rasa aman dan pemberi keamanan adalah Allah semata, tidak ada yang lain……,’Allaahumma antas salaam - waminkas salaam, Wa ilaika ya 'uudus salaam,Fahayyina Rabbanaa bis salaam, Wa adkhilnal jan nataka daaras salaam…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki…., salah memaknai kemapanan, memang akan membunuh sikap tawakal kita kepada Allah, salah memaknai kemapanan juga tidak jarang merusak kreativitas, merusak sensitivitas kita dalam menjalani hidup ya ki…” Kata Maula lagi.

Ki Bijak mengangguk, “Sebenarnya hal ini bisa disikapi dengan menetapkan tujuan hidup kita dengan benar Nak Mas…..” Kata Ki Bijak.

“Menetapkan tujuan hidup dengan benar Ki….?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas…, kebanyakan dari kita, setting tujuan hidupnya hanyak untuk jangka pendek, seperti ketika kita berdoa kepada Allah, yaa Allah saya ingin dapat kerja, sehingga ketika sudah dapat kerja, Allahnya dilupakan…”

“Yaa Allah…saya ingin naik gaji….; maka ketika gajinya sudah naik, Allahnya dilupakan…”

“Yaa Allah, saya ingin naik jabatan…, maka ketika jabatannya sudah naik, Allahnya dilupakan….”

“Dan masih banyak lagi yang kita minta ke Allah itu untuk urusan jangka pendek, sementara untuk urusan jangka panjang, urusan akhirat, kita hampir tidak pernah memintanya, untuk urusan ketentraman hati, kita hampir tidak pernah memintanya, untuk urusan keselamatan akhirat, kita hampir tidak pernah memintanya……” Kata Ki Bijak lagi.

“Ya Ki….” Kata Maula pendek.

“Sekali lagi Aki tegaskan, silahkan kaya, silahkan punya usaha apapun, silahkan punya tabungan berapapun, silahkan punya pangkat setinggi apapun, silahkan bekerja diperusahaan mapan, perusahaan multi nasional, silahkan bekerja diperusahaan bonafid, hanya satu yang harus diingat, jangan sampai segala bentuk kemapanan itu mengurangi apalagi sampai menghilangkan ketergantungan kita pada Allah, karena sekali kita meninggalkan Allah sebagai sandaran hidup kita, maka bersiap-siaplah menjadi orang yang merugi……”

“Sebaliknya, sekalipun harta kita terbatas, sekalipun jabatan kita biasa-biasa saja, sekalipun kita tidak punya banyak tabungan, sekalipun kita bekerja diperusahaan local, sekalipun menurut orang kita belum mapan, selama kita memiliki sandaran vertical yang kokoh,selama kita memiliki Allah, selama kita bersama Allah, maka insya Allah, itulah kemapanan sejati……” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya Ki…..” Kata Maula mengakhiri perbincangan.

Wassalam;

Casnadi

Friday, April 13, 2012

SEBUAH TEGURAN LAGI.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun..” Ucap Ki Bijak dan Maula hampir bersamaan, demi  mendengar dan melihat berita gempa bumi yang (lagi) melanda negeri serambi  mekah, Aceh Nanggroe Darussalam.

“Semoga saudara-saudara kita selamat ya ki……” Kata Maula dengan penuh keprihatinan.

“Ya Nak Mas, dan semoga pula saudara-saudara kita disana diberi kekuatan lahir dan bathin, sehingga bisa segera pulih dan berbenah menyongsong hari esok….” Kata Ki Bijak.

Hampir bersamaan kedua orang guru dan murid itu menghela nafas panjang dan dalam, keprihatinan nampak terpancar dengan jelas diwajah keduanya.

“Semoga gempa ini bukan bentuk kemurkaan Allah, semoga gempa ini ‘hanya’ teguran bagi kita, bukan hanya saudara-saudara kita yang di Aceh sana, teguran ini juga berlaku untuk kita, yang masih sering lupa dan lupa, lagi dan lagi melakukan kesalahan, melakukan dosa,melakukan kemaksiatan dan masih terlalu sering membangkang terhadap perintahNya….” Kata Ki Bijak.
“Iya ki…, semoga ini hanya ‘teguran’ kepada kita yang sering lupa…., padahal menurut catatan sebuah media, tidak kurang dari 15 gempa besar yang melanda Indonesia,

6 Februari 2004, gempa berkekuatan 6,9 SR dan gempa berkekuatan 7,1 SR pada 7 Februari 2004 mengguncang Nabire, mengakibatkan 34  orang meninggal, belum lagi kerugian materi yang sangat besar…”

“Selang beberapa bulan, tepatnya tanggal 12 November 2004, gempa berkekuatan 6 SR kembali mengguncang negeri ini, kali ini bumi Alor yang dilanda gempa, sebanyak 27 orang tewas, ratusan bangunan rata dengan tanah….”

“Setengah bulan sesudahnya, tanggal 26 November 2004, gempa 6,4 SR mengguncang Nabire, Papua, kembali  30 orang tewas dan ratusan juta kerugian material….”

“Puncaknya tanggal 26 Desember 2004, gempa dasyat dengan kekuatan 9 SR mengguncang hampir seluruh pulau Sumatera dan memicu tsunami di beberapa negara, terutama Indonesia. Tidak kurang dari 131. 029 rakyat Aceh dan sekitarnya tewas, tertimbun bangunan dan tersapu tsunami, sementara ribuan lainnya hilang.., yang sampai sekarang masih diperingati sebagai bencana terparah yang dialami Indonesia…..”

“Selepas tsunami Aceh yang demikian dahsyat sekalipun, hampir tidak ada perubahan perilaku yang signifikan dari penduduk negeri ini untuk melakukan perbaikan dan segera menetapi jalanNya….”

“Kemaksiatan masih terjadi dimana-mana…., ketidak adilan masih dirasakan oleh hampir seluruh penduduk negeri, korupsi malah tambah marak, suap menyuap malah menjadi budaya,perilaku pejabat yang lebih menyerupai perilaku penjahat, perilaku pemimpin yang lebih mirip perilaku preman, perilaku anggota dewan yang lebih mirip perilaku anak taman kanak-kanak, perilaku aparat yang menjurus para perbuatan keparat, dan semua ini terjadi dihampir disegala sendi kehidupan……”

“Maka tak heran kalau kemudian pada tanggal 28 maret 2005, gempa dengan kekuatan 8,7 SR kembali mengguncang Nias dan Simeulue, 900 orang tewas, ribuan rumah dan jembatan rata dengan tanah….”

“Tanggal 27 Mei 2006, gempa dengan kekuatan 6,2 SR mengguncang Yogyakarta, lebih dari 3.000 orang tewas dalam musibah tersebut…”


“Tanggal 17 Juli 2006, gempa 7,7 SR mengguncang Pengandaran dan pantai di Selatan Pulau Jawa, dan memicu terjadinya tsunami. 600 orang tewas dalam musibah itu...”

“Tanggal 21 Januari 2007, gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang Sulawesi, empat tewasdan empat orang luka-luka...”

“Tanggal 6 Maret 2007, gempa berkekuatan 6,3 SR mengguncang Pulau Sumatera, sebanyak 52 orang tewas dan 250 orang luka-luka. Dua jam kemudian, terjadi gempa susulan berkekuatan 6,1 SR....”

“Tanggal 12 September 2007, gempa berkekuatan 8,4 SR terjadi di Padang, Sumatera Barat. Sebanyak 25 tewas, dan lebih dari 50 orang luka-luka

“Tanggal 13 September 2007, gempa berkekuatan 7,8 SR terjadi di Pulau Sumatera, tak ada korban jiwa dilaporkan, gempa merusak sejumlah bangunan….”

“Tanggal 2 September 2009, gempa berkekuatan 7,3 SR terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebanyak 46 tewas dan korban luka lebih dari 100 orang....., dan terus berlanjur hingga kemarin...., entah mesti nunggu gempa seperti apalagi yang akan menyadarkan penduduk negeri ini untuk kembali kejalanNya.......” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, serentetan teguran Allah yang sedemikian nyata itu, ternyata belum cukup untuk menyadarkan kita akan kefanaan dan kedhaifan diri ini dihadapan rabbul izzati.....’

“Masih banyak diantara kita yang membusungkan dada, karena merasa dirinya hebat...,merasa mampu hidup dan menghidupi dirinya sendiri tanpa campur tangan Allah”

“Masih banyak diantara kita yang jumawa, karena merasa dirinya pejabat..., sehingga kemudian merasa bisa berbuat sesukannya, melanggar aturan Allah, melanggar hokum formal, bahkan seolah menantang kekuasaan Allah karena sedikit kekuasaan yang dimilikiya”

“Masih banyak diantara kita yang ponggah karena banyaknya harta..., sehingga seolah dia bisa membeli apapun dengan hartanya, dan mengabaikan ketaatannya pada Allah”

“Masih banyak diantara kita yang sombong karena merasa memiliki ilmu.., sehingga dengan bangga ia mengutak-atik dan merubah aturan-aturan Allah sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingannya....”

“Masih banyak diantara kita yang angkuh karena ketampanan dan bagus rupa...., dia merasa ketampanan dan kecantikannya adalah ‘kebetulan’, kecantikannya adalah hasil kerajinannya menjaga diri dan rajin kesalon, ia lupa bahwa Allah-lah yang telah mentakdirkannya menjadi orang yang bagus rupa.....”

“Sehingga kemudian apa yang terjadi dihadapannya, apa yang terjadi dibelakangnya, apa yang terjadi disekitarnya, tidak mampu dimaknai sebagai af’al Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.....”

“Gempa bumi dimaknai sekedar gejala alam biasa, seolah bumi ini bergerak sendiri, seolah laut bisa menumpahkan airnya sendiri, seolah lempengan bumi itu terjadi secara kebetulan......, dan ketika paham dan pemikiran ini menjadi hujjah mereka, maka ketika itu pulalah eksistensi Allah sebagai sang pencipta menjadi ditiadakan......” Kata Ki Bijak lagi.

Maula menghela nafas panjang demi mendengar penuturan Ki Bijak, “Apa yang harus kita lakukan sekarang ki....?” Tanyanya beberapa saat kemudian.

“Segera berbenah Nak Mas...., benahi kerusakan fisik yang ada, sehingga aktifitas kehidupan bisa berjalan dengan baik dan normal kembali...., tapi juga ada yang jauh lebih penting dan mendesak untuk segera dilakukan pembenakan adalah Akidah dan perilaku kita terhadap Allah......”

“Kita ini sudah banyak berbuat dzalim kepada Allah, kita lebih sering menggugat keadilan Allah daripada mensyukurinya....”

“Kita ini lebih sering menanyakan keadilan Allah, daripada mempertanyakan ketaatan kita kepadaNya...”

“Kita ini lebih sering menduakan Allah daripada memurnikan ketauhidan kepadaNya.....”

“Kita lebih sering menyalahkan Allah, daripada instrospeksi diri...., dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan yang kita perbuat kepada Allah, maka menjadi wajar kalau kemudian Allah senantiasa mengingatkan kita dengan kasih sayangnya, menegur kita, memanggil kita untuk segera kembali padaNya.....” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki....., semoga kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan memohon ampun atas dosa dan kesalahan kita ya ki.....” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas......” Kata Ki Bijak mengakhiri perbincangan karena sudah masuk waktu dhuhur.

Wassalam

April 12,2012

ASK LIKE A BABY

“Nak Mas pernah perhatikan bagaimana seorang bayi ‘memenuhi’ kebutuhannya…?” Tanya Ki Bijak.

“Maksudnya Ki…?” Tanya Maula.

“Ketika bayi baru dilahirkan dan sampai beberapa bulan kemudian, seorang bayi belum bisa berbicara, belum bisa meminta, belum bisa makan sendiri, belum bisa mengganti popok sendiri, belum bisa mandi sendiri…., seorang bayi belum bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, dan Allah memberikan suatu alat atau sarana bagi setiap bayi untuk dapat memenuhi kebutuhannya….., yaitu tangisan…” Kata Ki Bijak.

“Allah memberikan alat atau sarana untuk memenuhi kebutuhannya berupa tangis ki…? Tanya Maula masih belum mengerti.

“Ya Nak Mas…., dibalik ‘ketidakberdayaan’, seorang bayi diberi ‘kekuatan’ untuk dapat memenuhi kebutuhannya…..,

“Ketika seorang bayi merasa lapar, dia tidak pergi kedapur untuk mengambil makan, apalagi pergi kewarung sendiri untuk membeli makanan, cukup dengan menangis…, maka segera ibunya memberikan ASI untuknya….”

“Ketika seorang bayi merasa tidak nyaman karena popoknya basah, dia tidak pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti popoknya, tapi cukup menangis, kemudian ibunya akan segera mengerti dan mengganti popoknya yang basah…”

“Ketika seorang bayi merasa lelah dari berbaringnya, ia tidak perlu bangun sendiri, cukup menangis, maka ibunya akan segera menggendongnya dengan penuh kasih sayang….”

“Ketika seorang bayi merasa gerah atau gatal, dia tidak perlu untuk berdiri dan menyalakan kipas angin, cukup menangis, maka ibunya segera mengerti dan mengipasinya….”

“Ternyata hanya dengan ‘bahasa tangisan’, semua kebutuhan bayi dipenuhi Allah dengan wasilah orang-orang disekitarnya…, ibunya, ayahnya, kakaknya, kerabatnya segera memperhatikan dan memenuhi kebutuhannya manakala bayi menangis…..” Kata Ki Bijak.

“Benar Ki….., semua kebutuhan bayi terpenuhi hanya dengan cara menangis……, tidak perlu kerja keras dan banting tulang, tidak perlu pergi pagi pulang malam, tapi cukup dengan meminta kepada Allah lewat tangisan, maka kebutuhannya akan dipenuhi….” Kata Maula.

“Pertanyaannya sekarang, kenapa setelah kita besar, setelah kita kuat, setelah kita mampu berjalan sendiri, setelah kita mampu berusahan sendiri, justru banyak diantara kita yang tidak mampu mencukupi kebutuhan kita, meski sudah banting tulang, meski pergi pagi buta dan pulang sudah tengah malam gulita…?” Tanya Ki Bijak.

Maula mengerutkan dahi, “Iya ya Ki…, semakin kita besar, fasilitas kemudahan yang Allah berikan ketika kita bayi, perlahan-lahan berkurang…” Kata Maula.

“Jawabannya karena kita tidak pernah lagi menangis dan meminta kepada Allah Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Kita tidak pernah lagi menangis dan meminta kepada Allah sehingga fasilitas kemudahan itu dicabut ki…?” Tanya Maula.

Ki Bijak mengangguk, ”Coba kita ingat-ingat lagi, setelah kita akil baligh, berapa kali kita menangis dan meminta kepada Allah untuk kebutuhan kita..?” Tanya Ki Bijak.

Maula terdiam sejenak, “Iya ya Ki…, hampir tidak pernah….” Kata Maula kemudian.

“Disitulah perbedaanya Nak Mas…, ketika bayi, ketika kita lemah, ketika kita tidak mempunyai daya dan kekuatan, kita menyeru Allah dengan tangisan…., tapi ketika kita sudah besar, ketika kita sudah merasa bisa melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan kita, ketika kita merasa sudah pintar, ketika kita sudah merasa kuat, kita lebih mengedepankan otot dan kekuatan kita untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, kita cenderung melupakan kekuatan tangis kita untuk memohon kepada Allah….., padahal tidak akan ada yang membantah, bahwa tangisan kepada Allah adalah sebuah kekuatan dahsyat yang Allah berikan kepada kita sebagai sarana kita untuk meminta kepada Allah……” Kata Ki Bijak.

Maula diam sejenak, “Benar ki…., setelah besar, manusia cenderung ‘sombong’ karena merasa sudah memiliki kekuatan sendiri untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dengan modal kekuatan otot dan otaknya…..; tapi ana pernah dengar juga Ki…, kalau kita berdoa sambil menangis itu dibilang cengeng dan childist…” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum; “Sayyidina Abu Bakar….., seorang sahabat yang banyak mengalami ujian dan cobaan kala mendampingi nabi, seorang yang tabah dan kuat, tapi toh beliau tetap mencucurkan air mata dihadapan Allah…., lalu ada yang berani mengatakan Abu Bakar cengeng?”

“Sayyidina Umar bin Khatab, seorang pahlawan penegak panji-panji islam, yang tidak pernah takut dan gentar berhadapan dengan musuh macam apapun, dan bahkan setanpun harus mencari jalan lain ketika berpapasan dengannya, toh tersedu-sedu ketika berhadapan dengan Allah, Umarpu menangis…, lalu siapa yang lancing berani mengatakan Umar cengeng.?”

“Sayyidina Ustman bin Affan….., seorang sahabat utama, seorang khalifah, seorang saudagar kaya raya, tetap terisak dihadapan Allah, apakah kemudian Ustman bin Affan dikatakan cengeng..?

“Sayyidina Ali bin abi thalib, ksatria perkasa yang tidak pernah mundur walau sejengkalpun dalam membela kejayaan islam, yang setiap musuh akan gemetar lututnya manakala harus berhadapan dengannya, juga bersimpuh dan bersimbah air mata kala berhadapan dengan Rabbnya, adakah Ali cengeng…?

“Ketabahan Abu Bakar, kegagahan Umar, kehebatan Ustman dan kejayaan Ali, justru mereka peroleh karena mereka selalu menangis dan meminta kepada Allah…..; karena dengan kerendahan hati itulah Allah menjadi pelindung dan penolongnya dalam setiap jengkal langkah hidupnya……” Kata Ki Bijak.

Maula mengangguk-angguk, “Benar ki…” Kata Maula.

“Kondisi kita sekarang ini berbanding terbalik dengan para pendahulu kita, kalau dulu para sahabat selalu menangis dihadapan Allah, tapi tampil perkasa ketika berhadapan dengan sesame manusia, dizaman sekarang ini, orang justru lebih banyak menangis dan menghiba kepada sesama manusia…;

“Ingin jabatan…, mengemis dan menangis pada atasan agar dinaikan jabatannya, sementara dihadapan Allah ia tetap menyombongkan diri dengan tidak mau beribadah kepadanya…”

“Ingin gaji besar…, memelas dan memohon dengan derai air mata buaya kepada sesama manusia, sementara ketika berhadapan dengan Allah, hatinya keras membatu….”

“Ingin harta, ingin mobil, ingin kekayaan, orang dizaman kita ini lebih cenderung menangis dan meminta kepada manusia, sementara ia menyombongkan diri dihadapan rabbnya….” Kata Ki Bijak.

“Malah kebalik ya ki…., Allah menjamin rezeki bayi karena kepasrahannya, tapi banyak orang justru menyombongkan diri karena merasa dirinya hebat,karena merasa dirinya kuat, merasa dirinya mampu….” Kata Maula.

“Tidak perlu malu ketika kita menangis dan meminta kepada Allah, justru kita harus malu ketika meminta dan menangis kepada sesama manusia….; menangis dan meminta kepada Allah adalah sumber kekuatan kita, sementara menangis dan meminta kepada manusia adalah sumber kehinaan kita…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Menangis dan meminta kepada Allah adalah sumber kekuatan kita, sementara menangis dan meminta kepada manusia adalah sumber kehinaan kita….., ana mengerti ki….., mintalah seperti bayi, menangislah kepada Allah dengan segenap kepasrahan dan ketundukan ya ki, bukan dengan angkuh dan kesombongan…..” Kata Maula.

“Benar Nak Mas….” Kata Ki Bijak mengakhiri perbincangan.

AKHIRAT JUGA PERLU MBO

“Benar Nak Mas, seorang muslim harus memiliki agenda perbaikan diri yang simultan dan terus menerus, sebagaimana Alla juga secara tersirat memerintahkan kita untuk senantiasa memperbaiki diri kita;

“Tujuan hidup, visi dan misi seorang muslim tidak boleh hanya terbatas bagaimana ia bisa bekerja dengan baik dan mendapatkan bonus dan kenaikan pangkat ditahun berikut, tujuan hidup seorang muslim, harus lebih hebat, karena harus mencakup tujuan-tunjuan jangka panjangnya untuk kehidupan akhiratnya kelak..” Kata Ki Bijak.

“Sebagai contoh sederhana, coba Nak Mas bantu Aki untuk menuliskan konsep tujuan perbaikan diri seorang muslim…, Nak Mas bisa pakai kertas ini untuk menulisnya….” Kata Ki Bijak.

Segera Maula mengambil kertas dan ballpoint dimaksud dan segera bersiap untuk menuliskan konsep perbaikan diri dari Ki Bijak;

“Kita buat yang sedehana dulu saja yang Nak Mas, biar bisa dipahami…..” Kata Ki Bijak, dilanjutkan dengan mengucapkan ide-ide agenda perbaikan diri yang dengan cekatan dicatat semua oleh Maula;

No
Jenis Ibadah
Kondisi Sekarang
(2012)
Target tahun depan (2013)
Bagaimana
(How)
Evaluasi
1
Ibadah Inti





Pemahaman dan aplikasi dua kalimat syahadat
Masih sebatas lipstick dan belum faham sepenuhnya mengerti konsekuensi dari syahadat
Faham makna dan hakekat syahadat dan konsekuensinya
Banyak belajar dan bertanya kepada orang yang tepat


Shalat fardhu
1.Shalat dhuhur  jam 2

Shalat ashar setengah lima

Shalat maghrib menjelang isya

Shalat isya selepas sinetron

Shalat shubuh menjelang matahari terbit

2. Shalat munfarid diruman

Shalat fardhu tepat waktu;













Berjamaah
Punya komitmen pribadi yang kuat dan bersungguh untuk memperbaiki diri

Memahami bahwa keberadaan dimuka bumi ini semata untuk beribadah kepada Allah swt saja.




Zakat
Kadang zakat dan lebih banyak kelupaan
Zakat tepat setelah gajian
Mendahulukan  mengeluarkan zakat sebelum merencanakan pengeluaran lainnya


Ibadah haji
Niat belum kuat


Tabungan blm buat


Ilmu belum memadai

Nawaitu lillahita’ala

Buka tabungan haji

Memperdalam ilmu agama
Bertanya kepada mrk yg sdh berangkat haji untuk menambah keinginan dan niat yang kuat untuk pergi haji


Shaum Ramadhan
Masih ada yang bolong

Masih sekedar puasa menahan lapar saja

Mata masih suka melihat yang dilarang


Telinga masih suka mendengar ghibah



Mulut masih suka ngomongin orang





Malas ibadah lain dengan alas an lemes


Puasa sebulan penuh

Mampu menahan nafsu


Matanya puasa dari melihat hal yang dilarang

Telinganya puasa dari ghibah dan hal-hal yg tdk berguna

Mulutnya berhenti ngomonging orang dan menggantinya dengan dzikir

Tidak menjadikan Puasa sbg alas an untuk malas-malasan
Dengan mengingat mati, bahwa ramadhan hanya akan datang setahun sekali, maka kesempatan untuk menikmati ramadhan pun hanya setahun sekali, karenanya gunakan dan maksimalkan bulan ramadhan untuk mendapatkan ridha Allah sebanyak-banyaknya







2
Ibadah sunnah/Tambahan





Shalat Tahajud
Hanya tahajud ketika ditimpa kesusahan atau lagi pengen naik jabatan

Kala dililit hutang

Kala dirundung musibah

Ketika pengen sesuatu

Menjadikan tahajud sebagai amalan nafilah yg utama dengan niat lillahi ta’ala dan istiqomah
Bahwa kita butuh tahajud, bukan semata sunah atau karena ingin sesuatu,tapi karena Allah swt


Infaq dan shodaqoh
Kalau ingat saja

Ambil uang terkecil yang ada

Masih belum ikhlas
Rutin meskipun kecil
Yang terbaik dan besar ketika ada

Lillahita’ala
Ingat selalu bahwa berinfaq dan sedekah itu menyehatkan lahir bathin kita, membuat kita menjadi orang kaya, menjadikan kita bahagia, menjadikan kita orang yang pandai bersyukut


Baca Qur’an
Kadang-kadang



Hanya dibulan ramadhan

Belum lancer

Belum tahu artinya

Belum baca tafsirnya

Rutin, minimal 10 ayat sekali baca

Dijadikan menu wajib harian

Harus lancer

Belajar mengartikan al qur’an
Tiada hari tanpa baca al qur’an,




“Nak Mas juga bisa menambah atau mengurangi jenis-jenis ibadah nafilah yang lain yang menurut Nak Mas masih perlu perbaikan, dengan catatan dan tulisan seperti ini, insya Allah akan membantu kita untuk berkomitment untuk melaksanakannya dan bisa mengukur sejauh mana perbaikan yang sudah kita lakukan…”

“Lain halnya kalau tidak tertulis, misalnya ada ustadz yang ceramah tentang pentingnya shalat tepat waktu, ketika dengar ceramah, mungkin dihati kita terbersit keinginan untuk shalat tepat waktu, tapi setelah pulang kerumah, beda lagi, ketika shalat dhuhur setengah tiga pun masih berkilah ‘aah yang penting masih masuk waktu…”

“Ketika dengan ceramah anjuran infaq sedekah, mungkin ketika itu terbersit keinginan untuk bersedekah, tapi ketika tidak ditulis, komitmen itu berubah, ‘aaah nati saja,masih banyak kebutuhan lain yang harus dibeli’ …”

“Dan masih banyak lagi kemungkinan berubahnya komitmen awal kita dengan pelaksanannya, karena itu tadi, setan menjadikan kita ‘lupa dengan niat baik kita, tapi dengan tertulis seperti ini, ketika kita lupa, kita tinggal buka dan baca komitmen apa yang sudah kita buat dan bagaimana menjalankannya….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ya ki…, dalam dalam urusan dunia, harus dibuat MBO yang sedemikian rupa, kenapa justru untuk urusan akhirat hanya ada diangan-angan saja….” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, dengan membuat agenda seperti ini, memang tidak menjamin kita ‘berhasil’ untuk menjadi orang yang lebih baik, tapi kewajiban berusaha itulah yang harus kita penuhi terlebih dulu, bahwa saya komit untuk berislam dan beragama dengan lebih baik dan lebih baik lagi, hasilnya kita serahkan sepenuhnya pada Allah swt….” Kata Ki Bijak menambahkan.

“Kalau ada agenda saja belum tentu tercapai, apalagi yang tidak punya agenda ya ki….” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum……, “Bagaimana dengan agenda perbaikan diri Nak Mas sejauh ini…?” Tanya Ki Bijak.

“Alhamdulillah ki….., ana sudah mulai bisa mengikuti agenda yang ana buat, minta doanya ya ki, mudah-mudahan ana termasuk orang yang komit dan istiqomah menjalankan agenda perbaikan diri ini…..” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas…….” Kata Ki Bijak sambil menyambut uluran tangan Maula yang hendak pamitan.

Wassalam
April 13,2012

Thursday, April 12, 2012

SEBUAH TEGURAN LAGI.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun..” Ucap Ki Bijak dan Maula hampir bersamaan, demi mendengar dan melihat berita gempa bumi yang (lagi) melanda negeri serambi mekah, Aceh Nanggroe Darussalam.

“Semoga saudara-saudara kita selamat ya ki……” Kata Maula dengan penuh keprihatinan.

“Ya Nak Mas, dan semoga pula saudara-saudara kita disana diberi kekuatan lahir dan bathin, sehingga bisa segera pulih dan berbenah menyongsong hari esok….” Kata Ki Bijak.
Hampir bersamaan kedua orang guru dan murid itu menghela nafas panjang dan dalam, keprihatinan nampak terpancar dengan jelas diwajah keduanya.

“Semoga gempa ini bukan bentuk kemurkaan Allah, semoga gempa ini ‘hanya’ teguran bagi kita, bukan hanya saudara-saudara kita yang di Aceh sana, teguran ini juga berlaku untuk kita, yang masih sering lupa dan lupa, lagi dan lagi melakukan kesalahan, melakukan dosa,melakukan kemaksiatan dan masih terlalu sering membangkang terhadap perintahNya….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…, semoga ini hanya ‘teguran’ kepada kita yang sering lupa…., padahal menurut catatan sebuah media, tidak kurang dari 15 gempa besar yang melanda Indonesia,

“6 Februari 2004, gempa berkekuatan 6,9 SR dan gempa berkekuatan 7,1 SR pada 7 Februari 2004 mengguncang Nabire, mengakibatkan 34 orang meninggal, belum lagi kerugian materi yang sangat besar…”

“Selang beberapa bulan, tepatnya tanggal 12 November 2004, gempa berkekuatan 6 SR kembali mengguncang negeri ini, kali ini bumi Alor yang dilanda gempa, sebanyak 27 orang tewas, ratusan bangunan rata dengan tanah….”

“Setengah bulan sesudahnya, tanggal 26 November 2004, gempa 6,4 SR mengguncang Nabire, Papua, kembali 30 orang tewas dan ratusan juta kerugian material….”

“Puncaknya tanggal 26 Desember 2004, gempa dasyat dengan kekuatan 9 SR mengguncang hampir seluruh pulau Sumatera dan memicu tsunami di beberapa negara, terutama Indonesia. Tidak kurang dari 131. 029 rakyat Aceh dan sekitarnya tewas, tertimbun bangunan dan tersapu tsunami, sementara ribuan lainnya hilang.., yang sampai sekarang masih diperingati sebagai bencana terparah yang dialami Indonesia…..”

“Selepas tsunami Aceh yang demikian dahsyat sekalipun, hampir tidak ada perubahan perilaku yang signifikan dari penduduk negeri ini untuk melakukan perbaikan dan segera menetapi jalanNya….”

“Kemaksiatan masih terjadi dimana-mana…., ketidak adilan masih dirasakan oleh hampir seluruh penduduk negeri, korupsi malah tambah marak, suap menyuap malah menjadi budaya,perilaku pejabat yang lebih menyerupai perilaku penjahat, perilaku pemimpin yang lebih mirip perilaku preman, perilaku anggota dewan yang lebih mirip perilaku anak taman kanak-kanak, perilaku aparat yang menjurus para perbuatan keparat, dan semua ini terjadi dihampir disegala sendi kehidupan……”

“Maka tak heran kalau kemudian pada tanggal 28 maret 2005, gempa dengan kekuatan 8,7 SR kembali mengguncang Nias dan Simeulue, 900 orang tewas, ribuan rumah dan jembatan rata dengan tanah….”

“Tanggal 27 Mei 2006, gempa dengan kekuatan 6,2 SR mengguncang Yogyakarta, lebih dari 3.000 orang tewas dalam musibah tersebut…”


“Tanggal 17 Juli 2006, gempa 7,7 SR mengguncang Pengandaran dan pantai di Selatan Pulau Jawa, dan memicu terjadinya tsunami. 600 orang tewas dalam musibah itu...”

“Tanggal 21 Januari 2007, gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang Sulawesi, empat tewasdan empat orang luka-luka...”

“Tanggal 6 Maret 2007, gempa berkekuatan 6,3 SR mengguncang Pulau Sumatera, sebanyak 52 orang tewas dan 250 orang luka-luka. Dua jam kemudian, terjadi gempa susulan berkekuatan 6,1 SR....”

“Tanggal 12 September 2007, gempa berkekuatan 8,4 SR terjadi di Padang, Sumatera Barat. Sebanyak 25 tewas, dan lebih dari 50 orang luka-luka

“Tanggal 13 September 2007, gempa berkekuatan 7,8 SR terjadi di Pulau Sumatera, tak ada korban jiwa dilaporkan, gempa merusak sejumlah bangunan….”

“Tanggal 2 September 2009, gempa berkekuatan 7,3 SR terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebanyak 46 tewas dan korban luka lebih dari 100 orang....., dan terus berlanjur hingga kemarin...., entah mesti nunggu gempa seperti apalagi yang akan menyadarkan penduduk negeri ini untuk kembali kejalanNya.......” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, serentetan teguran Allah yang sedemikian nyata itu, ternyata belum cukup untuk menyadarkan kita akan kefanaan dan kedhaifan diri ini dihadapan rabbul izzati.....’

“Masih banyak diantara kita yang membusungkan dada, karena merasa dirinya hebat...,merasa mampu hidup dan menghidupi dirinya sendiri tanpa campur tangan Allah”

“Masih banyak diantara kita yang jumawa, karena merasa dirinya pejabat..., sehingga kemudian merasa bisa berbuat sesukannya, melanggar aturan Allah, melanggar hokum formal, bahkan seolah menantang kekuasaan Allah karena sedikit kekuasaan yang dimilikiya”

“Masih banyak diantara kita yang ponggah karena banyaknya harta..., sehingga seolah dia bisa membeli apapun dengan hartanya, dan mengabaikan ketaatannya pada Allah”

“Masih banyak diantara kita yang sombong karena merasa memiliki ilmu.., sehingga dengan bangga ia mengutak-atik dan merubah aturan-aturan Allah sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingannya....”

“Masih banyak diantara kita yang angkuh karena ketampanan dan bagus rupa...., dia merasa ketampanan dan kecantikannya adalah ‘kebetulan’, kecantikannya adalah hasil kerajinannya menjaga diri dan rajin kesalon, ia lupa bahwa Allah-lah yang telah mentakdirkannya menjadi orang yang bagus rupa.....”

“Sehingga kemudian apa yang terjadi dihadapannya, apa yang terjadi dibelakangnya, apa yang terjadi disekitarnya, tidak mampu dimaknai sebagai af’al Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.....”

“Gempa bumi dimaknai sekedar gejala alam biasa, seolah bumi ini bergerak sendiri, seolah laut bisa menumpahkan airnya sendiri, seolah lempengan bumi itu terjadi secara kebetulan......, dan ketika paham dan pemikiran ini menjadi hujjah mereka, maka ketika itu pulalah eksistensi Allah sebagai sang pencipta menjadi ditiadakan......” Kata Ki Bijak lagi.

Maula menghela nafas panjang demi mendengar penuturan Ki Bijak, “Apa yang harus kita lakukan sekarang ki....?” Tanyanya beberapa saat kemudian.

“Segera berbenah Nak Mas...., benahi kerusakan fisik yang ada, sehingga aktifitas kehidupan bisa berjalan dengan baik dan normal kembali...., tapi juga ada yang jauh lebih penting dan mendesak untuk segera dilakukan pembenakan adalah Akidah dan perilaku kita terhadap Allah......”

“Kita ini sudah banyak berbuat dzalim kepada Allah, kita lebih sering menggugat keadilan Allah daripada mensyukurinya....”

“Kita ini lebih sering menanyakan keadilan Allah, daripada mempertanyakan ketaatan kita kepadaNya...”

“Kita ini lebih sering menduakan Allah daripada memurnikan ketauhidan kepadaNya.....”

“Kita lebih sering menyalahkan Allah, daripada instrospeksi diri...., dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan yang kita perbuat kepada Allah, maka menjadi wajar kalau kemudian Allah senantiasa mengingatkan kita dengan kasih sayangnya, menegur kita, memanggil kita untuk segera kembali padaNya.....” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki....., semoga kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan memohon ampun atas dosa dan kesalahan kita ya ki.....” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas......” Kata Ki Bijak mengakhiri perbincangan karena sudah masuk waktu dhuhur.

Wassalam

April 12,2012