Wednesday, January 8, 2014

UNTUK ‘AISYAH’



“Assalammualaikum kang….”Aisyah mengucapkan salam :)
  
Alaikumusalam...” Jawab Maula
  
“Maaf boleh ganggu sebenta Kang, saya sedang penasaran sama pemikiran saya..;dari kemarin hati ini bertanya-tanya sama Allah..” Kata Aisyah lagi

“Kenapa..?” Tanya Maula
 
“Kenapa saya ditempatkan pada kondisi sekarang dimana saya tidak menginginkan kondisi seperti sekarang ini, sementara saya tidak menginginkan posisi itu…,tapi sekarang justru sepertinya akan mengarah kesana….”Kata Aisyah sambil memasang mukan cemberut.

Maula menghela nafas dalam-dalam demi mendengar ‘ungkapan perasaan salah seorang temannya itu, sejurus kemudianmungkin lbh dr 90% manusia dimuka bumi ini 'ditempatkan' diposisi yng bukan favoritnya...”;

“kenapa? Jawabannya adalah pertama =;agar manusia menyadari bahwa ada ALLAH yang berkuasa atas dirinya, seandainya manusia bisa menentukan tempat dimana ia suka, tentu dunia ini akan 'kacau' krn semua orang pasti menginginkan tempat yang enak menurut kehendaknya masing-masing...,setiap manusia pasti ingin terlahir sbg anak presiden, setelah besar ingin jadi presiden dan seterusnya...” Kata Maula lg.
  
“Kedua; yang namanya dunia ini ujian....; kalau kita ditempatkan ditempat yang sesuai dengan keinginan kita, bukan ujian namanya...
 
“Ketiga; Mungkin kamu tidak suka terhadap sesuatu, padahal itu baik bagimu, mungkin kamu suka terhadap sesuatu, padahal itu belum tentu baik bagimu, Allah Maha Mengentahui, sedangkan kamu tidak mengetahui…..”
  
“Jadi 'tugas' kita adalah menemukan 'hikmah' dibalik ketidaksukaan kita itu...” Kata Maula mencoba memberikan sedikit alas an mengenai kondisi yang dialami Aisyah
  
oke……;sekarang saya tanya ke Akang yang pernah mengalami diposisi saya sekarang; beberapa hari ini saya selalu di ribetkan sama kerjaan bekas Pak Abdul….;kemarin ke forwarder Pak Umar bilang ke mereka klo ada masalah apa-apa dgn import langsung ke saya sebagai gantinya Pak Abdul,begitu juga saat meeting kemarin dgn shipping line selalu delegasikan kalau saya untuk gantiin Pak Abdul, bahkan kemarin sore bilang juga ke bu Khodijah saat diskusi report ke forwarder ajak saya karena saya di posisikan gantiin Pak Abdul,nah skrg saya mengalami apa-apa yg mungkin dialami oleh Pak Abdul maupun pak Ali dulu,menghadapi 3 management dengan karekater yg berbeda,serasa sy di ombang-ambing, dan jujur sy kurang pe de dengan my english yg tidak bagus, dimana posisi itu hrs memiliki skill itu  dan posisi itu juga terpaan para manajemen,sementara saya merasa belum mampu, apalagi sy seorg wanita…..” Kata Aisyah tanpa jeda, seperti tengah menumpahkan segala unek-uneknya ;))
  
Sejurus kemudia Aisyah melanjutkan ungakapan perasaannya”kalau saya boleh milih,saya ingin kerja yg biasa" aja deket rmh dan anak Kang…., saya minta pendapat Akang apa yang harus saya lakukan…..”

 
Maula diam sejenak, memberikan kesempatan kepada Aisyah untuk  menikmati perasaannya; “Mbak, Saya bicara dari sisi positifnya saja ya….” Kata Maula beberapa saat kemudian

“Saya bahkan pernah mengalami kondisi yang jauh lebih dari yg mbak alami sekarang…”
“Ketika itu saya blm pernah belajar accounting, belum pernah buat laporan, tapi suatu ketika manager saya resign tepat diakhir tahun seperti sekarang, dan saya harus membuat laporan year end closing ke kantor pusat, yg notabene laporan itu akan dibaca oleh management pusat...”
 
“bahkan saya harus tele conference langsung dengan head accounting di kantor pusat...dan dia bilang apa? laporan sy itu laporan sampah...salah total!!”

“Lalu…..” Tanya Aisyah dengan penasaran
  
“Hikmahnya adalah Saya disuruh kuliah akuntansi dibiayai oleh kantor! kadang cara Allah untuk upgrade kita itu 'aneh' atau bahkan 'menyakitkan' menurut kita...” Kata Maula menjelaskan
  
“Dan 'kepercayaaan' dari management yg Mbak sekarang rasakan itu mungkin sangat menjadi beban bagi Mbak sekarangr....;tap sekali lagi 'tetap keep calm', karena boleh jadi itulah cara Allah untuk upgrade level Mbak...; mungkin bukan untuk di tempat yang sekarang, tapi juga bisa ditempat lain...”Maula melanjutkan
  
“Nabi Musa pernah memohon-mohon kepada Allah ketika dihadapkan dengan fir'aun yang keras dan lalim...;tapi itulah cara Allah untuk meninggikan derajat nabi musa....” Tambah Maula memberikan contoh
  
“Aamiin........... mudah"an Kang…” Jawab Aisyah dengan perasaan yang agak lega.
  
“harus yakin Mbak, Mbak harus .yakin bahwa cara Allah adalah cara terbaik....”

“Lihat atlet-atlet yangg berlatih keras,dipaksa untuk melampaui batas normalnya.....; untuk apa? untuk mempersiapkan diri menghadapi sesuatu yg lebih besar dan meraih juara! Mbak bisa mengerti?” Tanya Maula
 
“Insya Allah saya mengerti Kang….” Jawab Aisyah.
  
“Memang sekarang PR besar saya harus upgrade my english :((…..”Kata Aisyah sejurus kemudian
  
“Dan hadapi management :d….” Tambahnya
  
“Ya..itu salah satu hikmahnya, kita hrs invest lagi untuk income yg lbh besar...; saya dulu teleconference dgn boss di kantor pusat sampe pake bahasa sunda; karena bahasa inggris saya blepotan, ternyata boss acc yg di dikantor pusay itu pernah tinggal dibandung, jadi dia ngerti bahasa sunda,subhanallah itu keajaiban…..” Kata Maula lagi
  
“Di tempat kerja kemarin pun, saya naik dengan super cepat dibanding yg lain, wasilahnya adalah karena sy 'dipaksa' mengambil alih tanggung jawab hampir semua urusan departemen tersebut….” Maula menambahkan
 
“Wooo gitu….; mantab bossnya :)…..; hmm..... palagi yg seperti itu ya :)….” Kata Aisyah menimpali
  
“Itulah hikmah Mbak..hikmah itu tidak tertulis dikitab manapun, hanya hati kita dan Allah yang tahu….” Lanjut Maula.
 
“Kalau dikasih beban dengan tanggung jawab besar, tapi bos"nya enak mah semangat Kang; Nah sekarang saya harus menghadapi 3 karakter yg berbeda, bu Khodijah, Pak Umar & Pak Oman, semuanya beda-beda….” Aisyah nampaknya masih belum puas dengan penjelasan dan contoh yang diberikan Maula.
 
“Lagi-lagi saya harus mengatakan bahwa inilah ujian Mbak, jangan lihat Pak Oman,Pak Umar dan bu Khodijahnya, tapi lihat Allah_nya....
“Seorang atlet angkat berat yang akan menjadi juara adalah yg mampu mengangkat beban yang paling berat, setuju?” Pancing Maula

Aisyah hanya mengangguk, tanpa menjawab dengan kata-kata

“Kemudian lagi, seorang matador handal, bukan mereka yang bisa menunggangi banteng jinak, tapi yang mampu menjinakan banteng liar, akur? Tanya Maula lagi
  
“Wuihhhh mantab….; akurr Kang advicenya…..; subhanallah :); Kata Aisyah spontan
  
“Punten, anologi sy nyambung ndak?” Tanya Maula sebelum melanjutkan
 
Aisyah menimpali pendek: “nyambung lah Kang… :d
  
“Benua amerika, mungkin tidak akan pernah ditemukan, jika dulu columbus takut dengan gelombang lautan...”
  
“Bulan mungkin tetap akan menjadi misteri kalau dulu edwin aldrin takut ketinggian..”
  
“Dunia mungkin akan gelao gulita kalau thomas alfa edison menyerah krn percobaan banyak yang gagal..”
  
“Burung tidak akan pernah bisa terbang, kalau dia takut ketinggian, itik tidak akan pernah bisa berenang, kalau dia takut kedinginan..”

“Kita tidak akan pernah sampai ke pulau impian yang baru, kalau kita tidak pernah berani meninggalkan pantai...”; Maula memberikan beberapa analogi .
  
“Siip.... bener Kang, saya akan mencoba & mohon doanya ya pak mudah"an saya bisa….” Kata Aisyah sambil menunjukan jempolnya.

“Dan saya yakin bisa karena Allah Maha Mengetahui kalau saya mampu makanya di tempat itu ya Kang…” Tanyanya meyakinkan

“Yupss, Allah tidak akan membebani seseorang melebihi kemampuannya....” Kata Maula sambil mengutip ayat terakhir surat Al Baqarah;

286.  Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

 
Aisyah: aamiin....

DZIKRULLAH



“Alhamdulillah.., tenang rasanya kalau sudah shalat ya Nak Mas….” Kata Ki Bijak ba’da shalat berjamaah bersama para santrinya.

“Alhamdulillah Ki…..” Kata Maula pendek.

“Oh ya Ki…, menyambung obrolan yang tadi mengenai dzikir, Aki tadi bilang kalau orang yang sudah baca bacaan tertentu dengan sangat banyak, tapi belum menunjukan perubahan itu artinya dzikirnya belum bener Ki…?” Tanya Maula

Setelah berdiam sejenak, Ki Bijak kemudian melanjutkan wejangannya; “Dzikir itu secara bahasa berarti Ingat Nak Mas….;

“Kalau ada orang ingat hutang, dia juga sedang berdzikir, dzikir hutang namanya..”
“Kalau ada orang ingat masalah pekerjaan, dia juga sedang berdzikir, dzikir pekerjaan namanya..”
“Kalau ada orang ingat masalah, dia juga sedang berdzikir,dzikir pada masalah namanya…”
“Setiap aktivitas untuk mengingat sesuatu, itu namanya ‘dzikir’…; dan dzikir seperti inilah yang kemudian bukan membuat orang menjadi tenang, tapi justru membuatnya semakin jauh dari Allah dan hatinya menjadi tidak tentram….., itu yang pertama….”

“Yang kedua, yang banyak orang masih salah dan menyamakan dzikir dan bacaan dzikir Nak Mas….; Subhanallah, Alhamdulillah,Allahu akbar itu sebagian contoh bacaan dzikir, tapi aktivitas dzikir lebih daripada sekedar membaca, karena dzikir atau ingat itu bukan dengan mulut, tapi dengan ini dan ini….” Kata Ki Bijak sambil menunjuk hati dan keningnya.

“Dzikir itu dengan hati dan fikiran Ki…?” Tanya Maula memastikan.

“Benar Nak Mas…., Hati dan Fikiran kitalah yang beri kemampuan untuk berdzikir, kemampuan untuk mengingat Allah, sementara lisan kita itu ibarat starter, yang berfungsi untuk ‘memancing dan menggerakan’ hati dan fikiran kita untuk berdzikir….”

“Jadi kalau yang dibaca tadi, terlepas dari apapun itu bacaannya, tapi hanya sebatas menggunakan lisan, dan tanpa melibatkan hati dan fikiran kita,itu analoginya seperti orang yang sedang manasin mesin kendaraan Nak Mas…, setelah distarter, kemudian dibiarkan mesin hidup, tapi kendaraan tidak bergerak kemana-mana, hanya diam ditempat…..;pun ketika ‘dzikir’ kita hanya menyebut-nyebut nama Allah tanpa konsentrasi, tanpa memfungsikan hati dan fikiran untuk mengingat Allah, dzikir kita belum bisa disebut dzikir,karena sekali lagi, yang diberi kemampuan mengingat itu adalah Hati dan Fikiran kita, dan dzikir yang sudah benar,dzikir yang sudah matang, akan menjadikan pengamalnya orang-orang yang memiliki ‘kesadaran ilahiyah serta akhlaqul karimah yang natural dan tentu memiliki ketentraman hati sebagaimana yang Allah maklumkan dalam surat Ar-Rad:28….” Kata Ki Bijak panjang lebar sambil menutip ayat yang dimaksud.

28.  (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

“Selain itu, dzikir yang benar, akan memiliki daya sembuh bagi hati yang sakit, bahkan ketika seseorang sudah mampu dzikir dalam taraf tertentu, orang itu akan mampu ‘menghidupkan hati yang ‘mati’….” Kata Ki Bijak lagi.

Maula manggut-manggut mendengarkan penuturan gurunya; Akan halnya dengan dzikir amal amal Ki..?” Tanya Maula.

“Dzikir amal Nak Mas..?” Tanya Ki Bijak.

“Ya Ki…” Kata Maula

“Amal Shaleh itu adalah buah dari hati yang shaleh Nak Mas, Hati yang shaleh itu adalah hati yang mampu mengendalikan fikirannya untuk senantiasa terhubung dengan Allah dan fikiran yang memiliki kesadaran bahwa hidup adalah anugrah yang harus disyukuri, dan salah satu bentuk syukur itu adalah dengan amal-amal shaleh tadi Nak Mas….”

“Orang yang hatinya selalu terhubung dengan Allah, orang yang fikirannya senantiasa terhubung dengan Allah, niscaya akan melahirkan akhlaqul karimah tadi yang kemudian diterjemahkan kedalam amaliah sehari-harinya….”

“Orang yang hati dan fikirannya senantiasa bersama Allah, pasti dia akan menjaga shalatnya dengan baik, itulah dzikir amal,amaliah shalat namanya…”

“Orang yang hati dan fikirannya senantiasa bersama Allah, pasti tidak akan lalai akan kewajiban zakatnya, itupun dzikir amal, amaliah zakat namanya…”

“Orang yang hati dan fikirannya senantiasa bersama Allah, pasti dia akan memiliki kepekaan social yang tinggi, ia suka menolong yang lemah, ia akan gemar membantu orang yang membutuhkan, ia rajin bersedekah, ia rajin mengajarkan ilmu kepada sesamanya, ia tidak akan pernah jenuh atau bosan untuk senantiasa menambah ilmu dan amalnya, singkatnya ia akan mengabdikan dirinya pada Allah dengan jalan membantu dan menolong mereka-mereka yang membutuhkan, itulah dzikir amal Nak Mas….” Kata Ki Bijak lagi.

“Oooh ana paham sekarang Ki….; sebaliknya, orang yang hati dan fikirannya senantiasa bersama dunia, ketika ia kaya, ia akan menjadi kikir ya Ki…” Kata Maula.

“Ya Nak Mas…, pun ketika seseorang hati dan fikirannya semata jabatan, maka ketika ia berkuasa,maka ia akan semena-mena…”

“Orang yang hati dan fikirannya melulu pekerjaan, dia akan menjadi budak dari pekerjaannya…..”

“Orang yang hati dan fikirannya melulu pada harta, maka ia akan menjadi budak hartanya…dan seterusnya Nak Mas…..” kata Ki Bijak lagi.

“Ana mengerti Ki….” Kata Maula

“Karena itulah Aki tidak bosan-bosannya mengulang dan mengulang pelajaran dan latihan dzikir ini, tujuannya tidak lain adalah agar hati dan fikiran kita benar-benar terlatih untuk senantiasa mengingat Allah…..” Kata Ki Bijak lagi sambil mengutip ayat mengenai dzikir dengan hati dan fikiran.

205.  Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.


“Alhamdulillah Ki…tambah ilmu lagi….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, menambah ilmu itu wajib, seperti juga wajibnya kita mengamalkan ilmu yang sudah Allah karuniakan kepada kita…”

“Dan Nak Mas harus ingat, ilmu kita itu bukan untuk berdebat, ilmu kita itu bukan untuk dipamer-pamerkan, ilmu kita itu bukan karena kita ingin dianggap alim,ilmu itu bukan karena kita ingin disebut ahli hadits dan lain sebagainya, ilmu itu untuk diamalkan…..” Tambah Ki Bijak.

“Iya Ki…, memang sekarang ini banyak sekali orang pandai Ki…, hafal ratusan hadits, hafal puluhan ayat, tapi hanya sebatas bahan untuk berdebat dan pamer….” Kata Maula.

“Pengetahuan yang dipamer-pamerkan itu belum menjadi ilmu Nak Mas, itu baru wawasan, sementara ilmu itu adalah pengetahuan yang kita pahami untuk kemudian kita amalkan dengan baik, dengan benar, dan dengan ikhlas, itu baru ilmu namanya…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya Ki….” Kata Maula menutup perbincangan sore itu.

Wassalam

08 Januari 2014

Tuesday, January 7, 2014

HATI KITA BUKAN KERANJANG SAMPAH




“Hati kita bukan keranjang sampah Nak Mas….” Kata Ki Bijak dalam sebuah kesempatan.

“Hati kita bukan keranjang sampah Ki..?”Tanya Maula.

“Benar Nak Mas…., Allah menciptakan hati ini bukan untuk menyimpan dendam kesumat…., Allah menciptakan hati ini bukan untuk memupuk kebencian…., Allah menciptakan hati ini bukan untuk menampung sumpah serapah yang kita dengar, bukan untuk menyimpan ghibah yang kita dengar, bukan untuk menempatkan caci maki atau hinaan yang kita dengar atau bahkan kita rasakan…; Allah menciptakan hati dengan fungsi dan kedudukan yang mulia, yakni sebagai sarana komunikasi kita dengan Nya…..” Kata Ki Bijak.

Maula termenung sebentar demi mendengar kata-kata gurunya; “Tapi Ki…, bukankah dendam kesumat, kebencian dan ‘rasa tidak enak’ itu adanya dihati Ki…?” Tanya Maula lagi.

“Benar Nak Mas…., mungkin hati kita pernah disakiti oleh orang lain, dan seperti Nak Mas katakan tadi, hati ini yang merasakan sakit….,

“pun ketika kita mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan, atau mendengar perkataan yang menyakitkan, hati kita yang merasakan sakit…,

tapi sekali lagi Aki katakan, hati kita bukan kerajang sampah, yang hanya berfungsi untuk menyimpan ‘ketidak-nyamanan dan rasa sakit tersebut, hati kita justru berfungsi untuk ‘menetralisir’ segala hal yang kita terima, baik itu melalui mata, melalui telinga atau melalui perasaan kita, hati harus mampu ‘menjernihkan’ kotoran dan sampah bathiniah tersebut, agar tidak menumpuk dan kemudian menjadi sarang penyakit dikelak kemudian hari…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Hmmmm.., ana masih belum sepenuhnya paham Ki…..” Kata Maula lagi.

“Begini Nak Mas…, katakan kita pernah disakiti oleh seseorang, kemudian kita terus menyimpan perasaan sakit itu dalam jangka waktu yang lama…, yang terjadi kemudian pada kita adalah ‘ketidak-nyamanan’, yang terjadi kemudian pada diri kita adalah perasaan yang sama sekali kontra produktif dengan tujuan kita mencapai kebahagiaan…., yang terjadi kemudian adalah kita memberikan ‘kemenangan’ kepada orang yang menyakiti kita, sementara kita terpuruk sebagai pecundang, karena membiarkan hati kita ditempati oleh sampah yang bernama sakit hati dan dendam,…..”

“Sebaliknya….ketika kita disakiti, hati kita sakit…., kita terima perasaan sakit itu dengan kebesaran jiwa, untuk kemudian kita kembalikan kepada Allah, kita netralisir perasaan sakit itu dengan berinstrospeksi diri, untuk kemudian ‘mengeluarkan’ rasa sakit itu dengan aktivitas dan kegiatan untuk mengeluarkan sakit tersebut, niscaya kita akan menjadi pemenang…” Kata Ki Bijak.

Maula masih diam, meresapi setiap tutur kata gurunya, hingga kemudian gurunya membuyarkan renungannya.

“Nak Mas masih bingung..?” Tanya Ki Bijak.

“Iya Ki….” Jawab Maula pendek.

“Contoh konkretnya seperti orang merokok Nak Mas…..” Kata Ki Bijak.

“Seperti orang merokok Ki…?” Tanya Maula penasaran.

“Ya Nak Mas…, ketika seseorang merokok, ia sejatinya sedang menghisap racun masuk kedalam dirinya melalui asap rokok yang dihisapnya, sekali,mungkin racun rokok itu seperti tidak berpengaruh apa-apa pada tubuhnya, tapi ketika kemudian rokok yang dihisap itu berkali-kali,berhari-hari,berbulan-bilan atau bahkan bertahun-tahun, disadari atau tidak, diakui atau tidak, akumulasi racun tersebut akan mempengaruhi fungsi organ-organ tubuhnya, seperti kanker,paru-paru yang rusak dan lain sebagainya…..”

“Akan halnya dengan dendam kesumat, kebencian, kemarahan, buruk sangka adalah serangkaian racun yang pasti akan merusak dan mempengaruhi kita, kalau asap dan racun rokok tadi akan merusak dan mempengaruhi kondisi jasmani kita, maka racun bathiniah ini akan berpengaruh pada kondisi ruh kita, jiwa kita,pada hati kita….., Nak Mas paham yang Aki maksud…?” Tanya Ki Bijak.

“Iya Ki ana paham….., ana pernah baca juga hukum law of attraction, hukum tarik menarik Ki….; jadi menurut buku itu perasaan yang enak akan menarik perasaan yang enak pula, sebaliknya perasaan yang tidak nyaman, akan direspon dengan perasaan yang sama…..” Kata Maula.

“Ya Nak Mas…, Nak Mas lebih pandai daripada Aki mengenai teori-teori seperti itu, Aki yang kurang baca ini, hanya tahu bahwa kalau kita kesel, maka perasaan kesel itu pasti akan terlihat lewat wajah dan perilaku kita..;

“Kalau kita marah, maka kemarahan itupun akan nampak pada wajah kita, sepintar apapun kita menyembunyikannya, pasti akan tetap terlihat, ibarat terasi, sekecil apapun, tetap akan menimbulkan bau yang sama…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Benar Ki…; lalu apa yang harus kita lakukan untuk membersihkan hati kita Ki..? Tanya Maula

“Inna likulli sai’in sokola.wainna sokolatul qulub dzikrulloh - Sesungguhnya segala sesuatu itu ada pembersihnya. Dan pembersih hati adalah DZIKIR pada Alloh ..” Kata Ki Bijak

“Dzikurullah Ki....?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas...Dzikrullah itu laksana butir-butir detergen yang akan mengikis kotoran-kotoran yang ada didalam hati kita, semakin banyak kita dzikir kepada Allah, insya Allah hati kita akan semakin bersih dan semakin terjaga dari hal-hal yang mengotorinya....” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki....banyak orang yang ‘dzikir’ membaca ratusan atau bahkan ribuan bacaan dzikir, tapi tidak sedikit diantara mereka yang masih suka marah, suka membenci orang, iri,dengki dan bahkan sering berprasangka buruk, itu gimana Ki...? Tanya Maula.

“Itu dzikirnya belum bener Nak Mas....” Kata Ki Bijak sambil tersenyum

“Yuk kita siap-siap shalat dulu, insya Allah lain waktu kita ngobrol lagi.....” Sambung Ki Bijak sambil beranjak bersiap shalat.

Wassalam;

07 Januari 2014