Friday, February 1, 2008

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

“Kenapa Nak Mas................?” Tanya Ki Bijak demi melihat Maula yang nampak menengadahkan wajahnya sambil menerawang, matanya sedikit berkaca-kaca.

“Ki, Aki dengar suara orang mengaji itu ki..................?” Maula balik bertanya.

“Iya Nak Mas, itu surat Ar-rahman, ada apa Nak Mas................” Kata Ki Bijak.

Maula terdiam sejenak, ia menghela nafas panjang, sejurus kemudian Maula mengutarakan apa yang mengganjal didalam hatinya.

“Ki, ana malu sekali setiap kali setiap kali ana mendengar ayat-ayat itu ki............” Kata Maula.

“Ayat yang mana Nak Mas.................?” Tanya Ki Bijak heran.

“Mulai ayat ketiga belas ki...................” Kata Maula sambil mengutip ayat dimaksud.

13. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

“Kenapa Nak Mas..............?” Tanya Ki Bijak.

“Ana malu karena ana merasa telah banyak mendustakan nikmat Allah yang selama ini ana rasakan.....................” Kata Maula.

“Lalu.................?” Tanya Ki Bijak.

“Ki, sejujurnya, akhir-akhir ini ana mengalami pergulatan bathin yang sangat keras, ana merasakan gejolak bathin yang demikian kencang, ana merasakan desakan nafsu yang terus menerus mendorong ana untuk memenuhi keinginan-keinginan duniawi ana ki, seperti ana pengin mendapatkan pendapatan lebih, ana ingin punya kendaraan, ana pingin rumah yang lebih besar, dan masih banyak lagi desakan-desakan seperti itu ki...............” Kata Maula.

“Ya Nak Mas.................” Ki Bijak membiarkan Maula untuk mengeluarkan seluruh unek-uneknya.

“Sementara disisi lain, ana merasakan ‘ketakutan’ yang luar biasa ketika ana mendengar ayat itu ki, ana takut sekali kalau keinginan-keinginan ana itu mengurangi rasa syukur ana atau ana terjebak untuk mendustakan nikmat-nikmat Allah selama ini ki.....................” Kata Maula.

Ki Bijak mulai mengerti apa yang dimaksud Maula, lalu dengan bijak dan tutur kata yang lembut, Ki Bijak memberikan nasehat kepada Maula.

“Nak Mas, Aki mengerti apa yang Nak Mas rasakan, Aki mengerti gejolak bathin Nak Mas, Aki juga memahami keinginan-keinginan keinginan Nak Mas, selain Nak Mas masih muda, peperangan bathin semacam itu memang sangat lazim dialami oleh mereka yang tengah meretas ilmu menuju perbaikan...............” Kata Ki Bijak.

“Ki, apa yang harus ana lakukan...............?” Tanya Maula.

“Nak Mas, keinginan untuk mendapatkan penghasilan lebih, keinginan untuk memperoleh jabatan yang lebih tinggi, keinginan memiliki kendaraan dan keinginan-keinginan semacam itu adalah sesuatu yang lumrah dan wajar dimiliki oleh setiap orang, karena itu sebagian dari fitrah kita untuk menjadi lebih baik.....................”

“Keinginan-keinginan seperti itu wajar ki.............?” Tanya Maula sedikit heran

“Benar, keinginan-keinginan sperti itu wajar dengan sebuah catatan..............” Kata Ki Bijak.

“Dengan sebuah catatan ki............?” Tanya Maula lagi.

“Ya, dengan catatan semua keinginan Nak Mas itu dilandasi dengan pondasi yang benar dan kokoh............” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki.................?” Tanya Maula

“Setiap orang ingin ‘kaya’ itu wajar, selama ia tidak memandang kekayaan itu sebagai suatu kemuliaan, dan menganggap bahwa kemiskinan adalah sebuah kehinaan..........” Kata Ki Bijak.

“Yang banyak terjadi sekarang ini adalah orang-orang berlomba-lomba untuk mengumpulkan kekayaan karena menganggap dengan kekayaan ia otomatis menjadi mulia, pahadal anggapan seperti itu bisa jadi salah................” Kata Ki Bijak.

“Salah kenapa ki.............?” Kata Maula.

“Harta yang banyak, pangkat yang tinggi, rumah bertingkat, tidak lebih merupakah sebuah ‘alat’, bukan merupakan tujuan, benar kita dalam menggunakan alat itu, maka besar pula potensi kita mencapai tujuan kita, sebaliknya, salah sedikit saja kita memakai ‘alat’ itu, bisa jadi senjata makan tuan.........”

“Sudah banyak contoh orang yang menjadikan harta, pangkat dan jabatan sebagai tujuan, dan akibatnya ia lupa bagaimana menggunakan alat tersebut dan pada akhirnya mencelakakan dirinya sendiri...”,

“Harta yang berlimpah, ketika digunakan sesuai dengan fungsi dan kegunaannya, digunakan dijalan Allah, digunakan untuk menyantuni anak yatim, digunakan untuk membantu pendidikan, digunakan untuk berjihad dijalan Allah, harta yang semacam inilah yang akan menolong dan menyelamatkan pemiliknya dari siksa api neraka......”

“Jabatan dan wewenang yang digunakan untuk mengayomi rakyat, jabatan dan wewenang untuk yang digunakan untuk melindungi kaum lemah, untuk menegakan keadilan, untuk memberantas kemaksiatan, jabatan dan wewenang semacam inilah yang akan menjadi tameng bagi para pemiliknya dari kehinaan didunia dan diakhirat...........”

“Rumah besar, mobil mewah yang digunakan untuk menghidupkan rasa syukur kepada Allah, rumah besar dan mobil mewah yang mengantar pemiliknya melintasi jalan-jalan keridhaan Allah, maka rumah dan mobil semacam inilah yang akan menjadi benih-benih kebaikan bagi pemiliknya didunia dan akhirat...............” Kata Ki Bijak.

“Sebaliknya, harta yang berlimpah, yang digunakan untuk foya-foya, untuk bermaksiat, untuk berjudi, untuk berbangga diri, harta semacam ini merupakan bahan bakar yang setiap saat menyala dan membakar pemiliknya.......”

“Pangkat dan jabatan yang digunakan untuk menindas, untuk berbuat dhalim,untuk memenuhi nafsu birahi, pangkat dan jabatan semcam ini merupakan bara dalam sekam, yang pada gilirannya akan menghanguskan pemiliknya....”

“Pun demikian dengan rumah megah dan mobil mewah yang digunakan bukan pada tempatnya, hanya akan menjadi pemicu lahirnya keburukan-keburukan bagi pemiliknya..................” Kata Ki Bijak.

“Jadi bagaimana ana harus bersikap, ki.....................” Tanya Maula.

“Sikapilah semuanya sebagai sebuah ujian Nak Mas, keinginan Nak Mas, adalah ujian sejauh mana Nak Mas mampu mengendalikan keinginan-keinginan itu agar tidak menjadi liar dan tidak terkendali, sebaliknya ‘ketakutan’ Nak Mas juga harus dimaknai bahwa Nak Mas lebih dalam lagi mengaji dan mengkaji apa yang terkandung didalam ayat-ayat itu, menurut hemat Aki, Allah tidak bermaksud menakut-nakuti kita dengan ayat itu, tapi lebih sebagai bukti rahman rahim_Nya agar kita tidak benar-benar terjebak untuk mendustakan nikmat-nikmat-Nya.......” Kata Ki Bijak.

“Lalu Aki pesan kepada Nak Mas, agar Nak Mas memperkaya hati Nak Mas terlebih dahulu sebelum Nak Mas disibukan untuk mengejar kekayaan duniawi, agar kelak, insha Allah, jika Nak Mas dipercayai amanah berupa harta maupun pangkat dan jabatan, Nak Mas sudah memiliki landasan yang kokok dan kuat untuk tidak memandang kekayaaan, pangkat dan jabatan secara berlebihan, agar Nak Mas tidak terjebak menjadi orang yang mendustakan nikmat Allah...................” Kata Ki Bijak.

“Terima kasih ki, semoga Allah memberikan ana kekayaan hati, kekayaan hakiki, kekayaan yang akan menjadi jembatan ana untuk mendekat kepada_Nya.......” Kata Maula.
“Semoga Nak Mas..................” Jawab Ki Bijak sambil menyambut uluran tangan Maula yang pamitan.

Wassalam

Februari 01, 2008

Wednesday, January 30, 2008

LAGI,SEBUAH NASEHAT.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un..........................” Kata Ki Bijak dan Maula hampir berbarengan demi mendengar mangkatnya seorang yang pernah begitu berpengaruh dinegeri ini.

“Sebuah epik sejarah yang nyaris sempurna....................” Guman Ki Bijak.

“Epik Sejarah yang nyaris sempurna ki................?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, perjalanan panjang yang telah dilakoninya, memberikan banyak pelajaran yang sangat berharga bagi kita yang ditinggalkan...............” Kata Ki Bijak.

“Dari anak seorang petani, seorang anak desa yang menghabiskan masa kecilnya dengan menggembala kerbau, mandi disendang, kemudian masuk sekolah tentara, hingga akhirnya menjadi orang nomor satu, bukankah itu sebuah epik yang hampir sempurna Nak Mas......?’ Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, akhir dari sebuah cerita panjang perjalanan hidup seorang anak manusia, seorang anak petani biasa, menjadi tentara, menjadi orang ternama dan dipuja dan kemudian diakhir cerita meninggalkan segudang pro dan kontra....., meninggalkan selaksa tanda tanya, meninggalkan beragam cerita, meninggalkan jejak-jejak yang panjang membentang dalam perjalanan hidup sebuah bangsa.......” Kata Maula seperti sedang menguntai puisi.

“Ki, apa yang bisa kita pelajari dari semua ini ki......................?” Tanya Maula.

“Pelajaran pertama adalah pelihara diri kita dari kebiasaan mengumpat dan mencela, karena hal itu hanya akan menghabiskan potensi dan waktu kita saja ...............” Kata Ki Bijak.

“Kenapa ki............?” Tanya Maula.

“Selain ajaran agama kita melarang kita untuk menjadi pengumpat dan pencela, dan bahkan Allah mengancam mereka dengan neraka, jauh lebih bijak kalau kita menilai dan memandang orang seperti kita memandang sisa purnama itu...........” Kata Ki Bijak sambil menunjuk sisa bulan purnama yang nampak indah, menggantung dilangit, memanntulkan cahaya yang lembut.

Spontan Maula menoleh kearah yang ditunjuk Ki Bijak.

“Kita harus bisa memandang dan menilai orang sebagaimana kita memandang bulan purnama ki.......?” Tanya Maula.

“Nak Mas tahu dibalik keindahan cahaya purnama itu, disisi lain, dibalik bulan itu ada sisi gelap yang tidak terlihat.......?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, dibalik keindahan purnama itu ada sisi gelap yang tidak terlihat........” Kata Maula.

“Menurut Aki, akan lebih bijak bagi kita untuk menikmati keindahan purnama itu, daripada harus menghabiskan banyak energi untuk melihat sisi gelap yang memang sudah pasti adanya............” Kata Ki Bijak.

“Maksud Aki, kita lebih baik mencari dan melihat kebaikan yang pernah beliau lakukan untuk bangsa ini, daripada sibuk menghujat dan mencari kesalahannya, ki.............?” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, tanpa bermaksud membela atau menentang siapapun, Aki lebih cenderung untuk melihat bahwa beliau telah mengantar bangsa ini menapaki perjalanan panjang dari sebuah bangsa, benar disana sini ada kekurangan, tapi juga benar bahwa selama masa kepemimpinanya banyak sisi baik yang bisa kita ambil sebagai pelajaran...................” Kata Ki Bijak.

“Lagi pula menghujat dan mencela bukanlah sesuatu yang dianjurkan, bahkan Allah memperigatkan kita agar kita tidak menjadi seorang yang suka menghujat...........” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an;


1. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,

“Iya Ki, lalu apa pelajaran yang kedua, ki................?” Tanya Maula.

“Pelajaran kedua adalah bahwa kita pasti akan mengalami yang namanya kematian, Nak Mas.........?” Kata Ki Bijak.

“Kematian sebuah pelajaran, Ki.........................?” Tanya Maula.

“Tepatnya, kematian adalah sebuah nasehat Nak Mas, apa yang baru kemarin dialami oleh salah seorang pemimpin kita, cepat atau lambat pasti juga akan datang menjemput kita............” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki................?” Tanya Maula.

“Lalu...jika kita pasti mati, maka bersikaplah seperti layaknya orang yang akan mati..................” Kata Ki Bijak.

“Ana masih belum mengerti ki................” Kata Maula.

“Nak Mas lihat disekililing kita, betapa banyak orang-orang diantara kita yang sudah lupa bahwa ia akan mati, ada banyak orang yang mati-matian mengumpulkan harta sehingga melalaikan kewajibannya sebagai hamba, seolah harta itu akan mampu mengekalkannya, seolah-olah harta itu akan menyelamatkannya dari bencana kematian...........”

“Nak Mas juga bisa lihat betapa banyak orang yang menghalalakan segala cara untuk mencapai pangkat dan kedudukannya, seolah-olah pangkat dan jabatanya dapat melindunginya dari kematian, padahal samasekali tidak, dan dari apa yang terjadi kemarin, pesannya sangat jelas, kematian pasti datang menjemput kita, terlepas dari siapa kita, terlepas berapa kekayaan kita, terlepas dari berapa tinggi pangkat dan kedudukan kita................” Kata Ki Bijak.

“Lalu bagaimana harusnya kita bersikap ki...........?” Tanya Maula.

“Sikap terbaik kita adalah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan tamu terakhir kita itu, kita persiapkan bekal kita untuk mengarungi perjalanan panjang yang pasti kita lalui................” Kata KI Bijak

“Iya ya ki, kadang kita justru sibuk mempersiapkan sesuatu yang belum tentu pasti terjadinya, kita lebih sering stress dengan sesuatu yang belum tentu terjadinya, takut miskin, takut phk, takut bangkrut, takut tidak makan, sehingga kadang waktu kita habis untuk memikirkan hal-hal tersebut, padahal belum tentu apa yang kita takutkan itu terjadi ya ki...............” Kata Maula.

“Berhati-hati itu baik Nak Mas, tapi yang Aki maksud adalah dari sekian banyak ketakutan kita, mestinya kita lebih takut kalau kita belum memiliki bekal untuk menyambut kematian...., kalau kita takut miskin, takut lapar juga merupakan sebuah ujian, tapi jangan sampai ketakutan kita berlebihan sehingga kita menghabiskan sebagaian besar waktu kita untuk hal-hal itu..................” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, lalu yang ketiga ki...................?” Tanya Maula.

“Pelajaran yang ketiga bahwa kita harus selalu berhati-hati dan berusaha untuku melakukan yang baik-baik saja, kalau betapapun kebaikan kita banyak, akan sangat mungkin habis hanya karena kesalahan kita yang sedikit...........” Kata Ki Bijak.

“Seperti panas setahun hilang oleh hujan sehari ya ki...............” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, juga seperti pepatah yang mengatakan rusak susu sebelangga, hanya karena nila yang setitik, jalan kehidupan ini sangat licin dan terjal Nak Mas, seperti apa yang terjadi dengan tokoh kita kali ini, kebaikan-kebaikannya, keberkasilan-keberhasilannya, jasa-jasanya, seperti hilang dan hangus ditelan oleh ‘setitik’ noda dipenghujungnya.................” Kata Ki Bijak.

“Berat ya ki untuk bisa menjadi orang yang lurus dari awal sampai akhir..................” kata Maula.

“Memang berat, tapi bukan berarti tidak mungkin, Nak Mas.............., Aki jadi teringat dengan doa yang sering dipanjatkan Abu Bakar shidiq.........” Kata Ki Bijak.

“Doa apa ki.............?” Tanya Maula

“Abu Bakr shidiq senantiasa berdoa untuk diberikan hal terbaik diakhirnya…… Ya Allah jadikanlah sebaik-baik umurku pada penghabisannya, dan sebaik-baik amalku adalah penutupnya dan sebaik-baik hari bagiku adalah hari berjumpa dengan-Mu………..” Kata Ki Bijak sambil mengutip doa dimaksud.


“Ya Allah jadikanlah sebaik-baik umurku pada penghabisannya, dan sebaik-baik amalku adalah penutupnya dan sebaik-baik hari bagiku adalah hari berjumpa dengan-Mu………..” Kata Maula menirukan doa Abu Bakr shidiq sambil mengangkat kedua tangannya.

“Amiiin………………..” Kata Ki Bijak mengamini.

Wassalam

January 30, 2008

Tuesday, January 22, 2008

BERPIKIR (LEBIH) BESAR

“Ki, bagaimana menurut pendapat Aki mengenai buku ini.............” Tanya Maula, sambil memperlihatkan sebuah buku karangan penulis barat yang sangat laris dan terkenal.

“Buku yang bagus Nak Mas......” Komentar Ki Bijak pendek.

“Buku ini telah mempengaruhi sedemikian banyak orang untuk berbuat dan melakukan apa yang tertulis didalamnya, tapi bagi Aki, masih ada sesuatu yang ‘kurang’ dalam buku ini.............” Sambung Ki Bijak.

“Masih ada yang kurang ki............?” Tanya Maula.

“Hampir semua apa yang disarankan buku ini bagus dan insha allah bermanfaat bagi mereka yang membacanya, tapi kekurangan buku ini menurut Aki adalah semua paparannya berorientasi jangka pendek, hanya sebatas untuk tujuan duniawi saja, seperti rasa optimis, semangat, percaya diri dan pantang menyerah memang sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin ‘berhasil’,

“Tapi keberhasilan seseorang mendapatkan penghasilan berlipat, rumah megah, mobil mewah, harta, pangkat dan jabatan atau singkatnya mereka memiliki semua kesenangan dunia, yang dalam pandangan al qur’an belum merupakan sebuah ‘keberhasilan’, itu hanya merupakan keberhasilan ‘kecil’ saja........” Kata Ki Bijak.

“Ana masih belum paham ki.....................” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum, “Nak Mas punya uang logam.................?” Tanya Ki Bijak.

“Ya ki....” Kata Maula sambil memperlihatkan uang logam ratusan.

“Coba Nak Mas letakan uang tersebut satu centimeter dari mata Nak Mas..............” Perintah Ki Bijak.

Tanpa banyak tanya, Maula melakukan apa yang Ki Bijak perintahkan, Maula meletakan uang tersebut persis didepan matanya.

“Apa yang Nak Mas lihat....................?” Tanya Ki Bijak.

“Ana tidak melihat apa-apa ki, bahkan gambar pada uang logam pun tidak jelas terlihat...............” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, itu adalah sebuah tamsil bagi kita yang salah dalam memandang dunia...............” Kata Ki Bijak.

“Kita salah memandang dunia ki................?” Tanya Maula.

“Al Qur’an menggambarkan dunia ini sangat kecil jika dibanding luasnya alam akhirat, tapi ketika dunia ini diletakan terlalu dekat dengan pandangan kita, maka akhirat yang jauh lebih luas dan abadi, akan tertutup karenanya............” Kata Ki Bijak.

“Coba Nak Mas lakukan hal yang tadi, letakan uang logam itu lebih jauh dari mata Nak Mas...................” Kata Ki Bijak.

Maula mengulang perintah Ki Bijak dengan meletakan uang logam sedikit lebih jauh dari bola matanya..........

“Apa yang Nak Mas lihat............?” Tanya Ki Bijak.

“Didepan ana ada Aki, ada lemari, ada qur;an, dan masih banyak hal yang dapat ana lihat ki.........” kata Ki Bijak.

“Ya, itulah yang benar Nak Mas, pandanglah dunia dan keindahannya ini dengan cara yang benar, tempatkan dunia dan kemegahannya ini pada proporsi yang benar, sehingga kita akan melihat luasnya akhirat yang jauh melebihi luas bumi dan langit ini..............” Kata Ki Bijak.

“Ki, kalau kita lebih memikirkan akhirat, bukan berarti kita melupakan dunia ini khan ki.........?’ Tanya Maula.

“Sama sekali tidak Nak Mas.............” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an,

77. Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qasash)

“Silahkan Nak Mas menjadi orang berharta, tapi jangan sampai harta Nak Mas menutupi pandangan Nak Mas sehingga Nak Mas terperdaya oleh banyaknya harta dengan mengesampingkan luas dan abadinya nya akhirat, jadikan harta kita sebagai sarana dan bekal kita untuk menuju terminal akhirat kelak........”

“Silahkan kalau Nak Mas memiliki rumah megah, mobil mewah, kebun atau sawah yang luas, tapi bukan berarti Nak Mas boleh berpaling dari tujuan yang lebih besar untuk mendapatkan kehidupan yang baik dikampung akhirat kelak, jadikan rumah megah Nak Mas sebagai pendorong Nak Mas untuk bersyukur atas karunia_Nya, jadikan mobil mewah Nak Mas sebagai kendaraan untuk menggapai ridha-Nya, jadikan kebun dan sawah yang luas sebagai lahan untuk menabur dan menanam benih-benih kebajikan yang dapat kita petik hasilnya dikampung akhirat kelak...................” Kata Ki Bijak.

“Yang sekarang masih banyak terjadi adalah ketika sebagian kita sedemikian termotivasi untuk mendapatkan dunia dengan berpikir besarnya, kita menjadi lalai untuk memikirkan kampung akhirat yang jauh-jauh lebih besar dan harusnya mendapat perhatian dan porsi lebih untuk kita usahakan kebahagiaanya............” lanjut Ki Bijak.

“Alangkah baiknya jika Nak Mas membaca buku-buku sejenis ini, Nak Mas terlebih dahulu memahami konsepsi Al qur’an tentang apa itu ‘keberhasilan’, apa itu ‘kebahagiaan’, sehingga Nak Mas dapat memadukan kedua pengetahuan itu menjadi sesuatu yang jauh lebih hebat, bukan hanya berhasil dalam pengertian jangka pendek, tapi keberhasilan paripurna, keberhasilan dunia dan akhirat...............” kata Ki Bijak.

“Aki sedikit prihatin dengan mereka yang terlalu menagungkan buku-buku tersebut, sehingga sebagian mereka memaknai keberhasilan ‘hanya’ sekedar kerja keras, berpenghasilan besar, memiliki deposito hingga tujuh turunan, mobil mewah dan rumah megah, tanpa menyertakan tujuan yang lebih besar yaitu kebahagiaan diakhirat kelak..........” kata Ki Bijak.

“Iya Ki, bahkan kemarin ana mendengar seseorang mengatakan bahwa ia harus bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan lebih, katanya ‘masak sih harus merepotkan Allah terus, dikit-dikit minta pada Allah, dikit-dikit ngadu kepada Allah’......” Kata Maula

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula, “Itu terlalu berlebihan Nak Mas, Allah tidak akan merasa repot sama sekali jika seisi dunia ini meminta kepada_Nya, Allah sama sekali tidak merasa berat mengurus dan memelihara keduanya, dan memang demikianlah manusia diciptakan Allah, kita diciptakan Allah dalam keadaan lemah, sehingga kita diperintah Allah untuk meminta pertolongan kepada Allah dalam hal apapun...............” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an

255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. (Al Baqarah)

[161] Kursi dalam ayat Ini oleh sebagian Mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaan-Nya.


“Iya Ki...................” Kata Maula pendek sambil mengulang-ulang menempatkan kepingan uang logam ratusan mendekat dan menjauh dari matanya, Maula ingin lebih memahami cara memandang dunia dengan lebih baik, Maula ingin pandangannya bukan lagi tertutup oleh keping uang yang kecil (dunia), tapi pandangan yang jauh lebih luas, jauh lebih besar, pandangan yang berorientasi dunia akhirat.

201. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"[127]. (Al Baqarah)

[127] inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang muslim.

Wassalam

Januari 22, 2008

Monday, January 14, 2008

HIJRAH BATHIN

“Hijrah bathin Nak Mas...........” Jawab Ki Bijak menjawab pertanyaan Maula mengenai aktualisasi hijrah pada masa kini.

“Hijrah bathin ki.............?” Tanya Maula memastikan.

“Benar Nak Mas, Nabi bersabda tidak ada lagi hijrah fisik setelah futhul mekah, jadi aktualisasi hijrah bagi kita sekarang ini adalah bagaimana kita berhijrah secara bathin, berhijrah dalam arti kita berpindah dari sifat-sifat jahiliyah kita kepada sifat-sifat terpuji dan diridhai Allah swt, berhijrah mina dhulumati ila nuur, hijrah dari jalan gelap kejalan yang terang benderang dengan cahaya kebenaran dari Allah ................” Kata Ki Bijak.

“Dalam diri kita ada sifat-sifat jahiliyah ki..............?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, dalam diri kita terdapat sifat-sifat jahiliyah, sifat-sifat kebodohan yang harus segera kita tinggalkan .............” Kata Ki Bijak.

“Ki, bukankah zaman sekarang ini telah banyak orang yang berpendidikan tinggi dan bahkan memiliki banyak ijazah dan sertifikat keahlian ki, bahkan ada banyak orang yang gelar akademiknya sampai lebih dari dua.........................? Tanya Maula heran.

“Jahiliyah atau kebodohan dalam definisi agama bukan semata orang yang tidak bisa baca tulis atau orang yang tidak memiliki pendidikan tinggi, ciri utama orang jahiliyah adalah mereka yang tidak mengenal siapa penciptanya, orang yang tidak mengenal siapa tuhannya, sehingga mereka berani dan tanpa rasa malu melakukan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah yang telah memberinya kehidupan..................” Kata Ki Bijak.

“Ciri utama orang jahiliyah adalah mereka yang tidak mengenal Allah ki...............?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, orang jahiliyah adalah mereka yang menyembah berhala, orang jahiliyah adalah mereka yang mengagungkan materi dan benda, orang jahiliyah adalah mereka yang tanpa malu melakukan kemunkaran dan bermaksiat kepada Allah dengan terang-terangan............” Kata Ki Bijak.

“Ana masih belum paham ki..............” Kata Maula.

“Nak Mas perhatikan disekeliling kita dizaman sekarang ini, banyak sekali diantara kita yang menyembah berhala-berhala modern, menyembah harta, menyembah pangkat dan jabatan, menyembah tahta dan wanita, sehingga mereka sama sekali tidak lagi ingat bahwa Allah-lah yang telah memberinya kehidupan, mereka tidak lagi ingat bahwa Allah-lah yang senantiasa memberinya rezeki kepadanya siang malam, mereka menjadi hamba-hamba dunia, mereka menjadi budak-budak nafsu,dan itu adalah ciri-ciri jahiliyah Nak Mas............” kata Maula.

“Iya ki, Aki benar, apa yang pernah ana baca dibuku-buku mengenai kejahiliyahan dizaman Nabi dulu, hampir semuanya nampak dizaman kita sekarang, hanya versinya saja sedikit berbeda..............” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, kalau Nak Mas pernah baca bahwa dijaman jahiliyah dulu anak-anak perempuan dibunuh atau dikubur hidup-hidup, sekarang bahkan lebih keji lagi, bayi yang masih dalam kandungan pun dibunuh, digugurkan.........”

“Kalau dulu orang-orang bangga dengan kesukuan, pangkat dan jabata, dizaman sekarang pun sedemikian banyak orang yang rela menjual akidah dan agamanya demi pangkat dan jabatan yang diagungkannya.............”

“Kalau dulu mereka tidak mau mengakui kerasulan Nabi Muhammad, dizaman kita sekarang ini pun bermunculan individu-individu yang mengaku nabi baru dan banyak menyesatkan banyak orang...............”

“Kalau dulu dizaman jahiliyah, orang-orang kafir tidak mau mengakui Al qur’an sebagai firman Allah, dizaman kita sekarang ini pun sedemikian banyak orang yang bahkan untuk membacanya pun enggan, al qur’an tidak lebih hanya sebagai pajangan...............”

“Dan masih banyak lagi ciri-ciri jahiliyah yang sudah tampak nyata didepan kita, orang lebih percaya pada ramalan daripada kebenaran Al qu’ran dan hadits nabinya, kuburan dipuja, orang gila ditanyai, tontonan dijadikan tuntunan, sementara tuntunan yang harusnya diturut dan ditiru, tidak lebih hanya dijadikan tontonan, kalau pergi kepengajian, pilih-pilih dai-nya siapa, dan bukan apa yang disampaikannya..............”

“Dan yang paling memprihatinkan bagi Aki sekarang ini adalah timbulnya sebuah gejala dimana orang-orang mempertanyakan eksistensi tuhan, banyak orang yang mempertanyakan benar tidaknya Allah yang menciptakan alam semesta ini, banyak orang yang meragukan apakah Allah itu ada atau hanya sebatas dongeng belaka, naudzubilah........”,

“jika ini dibiarkan terus berlarut, niscaya kita akan terjerembab pada jurang kejahiliyahan yang paling dalam, karena orang jahiliyah dizaman rasul sekalipun masih mengakui Allah sebagai pencipta langit dan bumi, sementara sebagian kita sekarang ini justru meragukannya......................” kata Ki Bijak seperti ingin mengeluarkan unek-uneknya.

“Iya ki, ana beberapa waktu lalu juga mendengar seorang teman mengatakan bahwa ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa hubungan mereka dengan Allah adalah sebatas Allah yang melahirkan mereka, setelah itu mereka tidak mau lagi mengakui bahwa Allah-lah yang mengatur dan menguasai kehidupan mereka.............” Kata Maula.

“Ya, sebuah degradasi akidah dan iman memang tengah melanda sebagian kita Nak Mas, untuk itulah kita harus segera hijrah untuk menata kembali tatanan akidah dan iman kita agar tidak terkontaminasi dengan apa yang sekarang tengah melanda, untuk kemudian kita berupaya mengajak dan memperbaiki kerusakan yang sedang terjadi semampu kita dan dengan berserah diri kepada Allah swt...................” Kata Ki Bijak.

“Ki, bagaimana cara hijrah bathin kita ki..............?” Tanya Maula.

“Dengan jihad Nak Mas, bismillah, mari kita niatkan dengan sungguh-sungguh untuk berhijrah dari kemusyrikan menuju cahaya tauhid yang terang benderang, kemudian kitapun harus berjihad dan bersungguh-sungguh menghancurkan berhala-hala dibathin dan hati kita, dengan cara meninggalkan kecintaan kita pada dunia dan materi secara membabi buta, yang selama ini menjadi hijab kita dengan Allah.......” Kata Ki Bijak.

“Cinta Dunia yang berlebih menjadi hijab kita dengan Allah ki............?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, cinta dunia yang membabi buta merupakan hijab kita dengan Allah, bahkan seorang sahabat mengatakan ‘hubbu dunya khoti’ati kulli sayyi’ah’ kecintaan pada dunia yang berlebih adalah pangkal dari segala kejelekan............” Kata Ki Bijak.

“Coba Nak Mas renungkan kenapa ada orang yang harus mengotori tangannya dengan darah demi kekuasaan, kemudian ada lagi orang yang rela menghisap darah saudaranya demi uang, ada orang yang menjadi gelap mata karena ingin jabatan, semuanya diakibatkan cara pandang mereka terhadap dunia ini yang salah, sehingga mereka mencintai dunia seolah mereka tidak akan meninggalkanya...............”Kata Ki Bijak.

“Iya Ki.................., banyak sekali orang seperti itu ya ki..............” Kata Maula.

“Lalu kita pun harus berjihad dan bersungguh-sungguh memerangi kebodohan dalam bathin kita yang belum mengenal Allah, berhijrahlah, kenali Allah agar kita tidak lagi tersesat dan disesatkan oleh siapapun atau oleh apapun yang mengaku sebagai tuhan.............” Kata Ki Bijak.

“Insha Allah ketika kita sudah mengenal Allah sebagai satu-satunya tuhan dan Rabb kita, kita tidak akan lagi terjebak untuk mentuhankan mobil mewah kita, kita tidak akan terjebak untuk mentuhankan pangkat dan jabatan kita, kita tidak akan tertipu dengan setan yang menyamar dewa penyelamat kita dengan menjadi orang pintar, dengan menjadi peramal dan sebagainya............”sambung Ki Bijak.

“Dan hijrah yang tak kalah penting untuk kita laksanakan dengan segera adalah berhijrah dari kesombongan menuju sifat tawadlu, berhijrah dari sifat malas dan menunda amal ibadah menjadi orang-orang yang bersegera menunaikan kewajiban dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan...................” Kata Ki Bijak lagi.

“Hijrah bathin adalah hijrah dari kemusyrikan menuju cahaya tauhid yang terang benderang, hijrah bathin adalah hijrah dari kebodohan menuju kearifan dan keimanan kepada Allah, hijrah bathin adalah hijrah dari penghamba dunia menjadi hamba Allah, hijrah bathin adalah hijrah dari kesombongan menuju kerendahan hati dan tawadlu, hijrah bathin adalah hijrah dari kemalasan menuju sifat rajin dalam beribadah dan menghamba kepada Allah, begitu ya ki....................” kata Maula mengulang apa yang baru diterima dari gurunya.

“Benar Nak Mas, itu yang harus kita lakukan segera, mumpung sekarang momentumnya tepat, mari kita jadikan tahun 1429H menjadi tahun terbaik bagi pengabdian kita kepada Allah swt sebagai bekal kita berpulang kelak...................” Kata Ki Bijak.

“Iya ki.................” kata Maula sambil memanjatkan doa; agar dihijrahkan dan ditempatkan ditempat terbaik menurut Allah swt;

29. Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah Aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat." (Al Mu’minun)

Wassalam

January 10, 2008

Wednesday, January 9, 2008

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH, 1 MUHARRAM 1429 H

“Bagaimana persiapan untuk nanti malam Nak Mas..............?” Tanya Ki Bijak pada Maula yang tengah mempersiapkan acara pengajian menyambut tahun baru Hijriah.

“Alhamdulillah ki, semua persiapan sudah selesai, tinggal pelaksanaannya saja, insha Allah berjalan lancar.......” Kata Maula.

“Syukurlah kalau demikian............” Kata Ki Bijak.

“Ki, hampir setiap tahun kita mengadakan pengajian seperti ini dalam menyambut tahun baru hijriyah, tapi sampai sekarang ana belum sepenuhnya paham makna peringatan tahun baru hijriyah ini ki..............” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, kita kadang masih sering terjebak pada acara seremonial belaka dalam memperingati tahun baru hijriyah ini, masih ada kesan kita hanya tidak mau kalah dengan mereka yang memperingati tahun baru masehi, tapi kita masih sering lupa tujuan dan esensi kita memperingati pergantian tahun ini..............” Kata Ki Bijak.

“Lalu apa yang makna peringatan tahun baru hijriyah ini ki.............?” Tanya Maula.

“Hijrah atau kemudian dikenal dengan Hijriyah adalah sebuah peristiwa pindahnya Nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah atas perintah dan skenario Allah swt yang Maha sempurna..........” Kata Ki Bijak

“Bukan karena ancaman kaum kafir mekkah ketika itu ki.............?” Tanya Maula.

“Memang benar bahwa pada periode itu umat Islam dan Nabi Muhammad khususnya, mendapatkan tekanan yang sangat berat dari kaum musyrikin, baik itu tekanan secara fisik maupun mental, dan tak urung hal ini membuat Nabi dan umat Islam ketika itu gelisah, tapi bukan karena itu yang membuat Nabi dan pengikutnya hijrah ke Madinah, melainkan semata karena perintah Allah, seperti Allah maklumkan dalam ayat 76 surat Al Isra’;

76. Dan Sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja[863].

[863] Maksudnya: kalau sampai terjadi nabi Muhammad s.a.w. diusir, oleh penduduk Mekah, niscaya mereka tidak akan lama hidup di dunia, dan Allah segera akan membinasakan mereka. hijrah nabi Muhammad s.a.w. ke Madinah bukan Karena pengusiran kaum Quraisy, melainkan semata-mata Karena perintah Allah.

“Jelas bahwa Allah menjaga Nabi dan pengikutnya dari pengusiran kaum kafir ketika itu, karena seperti ayat diatas, jika mereka sampai mengusir Nabi, maka mereka akan diazab Allah swt seketika itu juga................” Kata Ki Bijak

“Lalu ki..........?” Tanya Maula.

“Allah memiliki skenario besar dengan perintah hijrah tersebut, yang beberapa diantaranya adalah untuk memperluas wilayah penyebaran Islam dan demi kemajuan Islam itu sendiri.....” Kata Ki Bijak

“Sejarah kemudian membuktikan bahwa proses penyebaran Islam jauh lebih cepat dan berkembang pada periode Madinah ini. Selain juga di Madinah, Nabi dan Umat Islam berhasil membangun tata peradaban baru, tata pemerintahan, tata ekonomi dan sosial yang demikian pesat perkembangannya.......” Kata Ki Bijak

“Subhanallah...benar ki, di Madinah inilah kemudian Nabi membangun Masjid Nabawi, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, serta membina umat Islam hingga kemudian menjadi umat yang tangguh ya ki...” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, hal itu meruapakan sebuah bukti nyata dari keagungan skenario Allah dalam peristiwa hijrah.............” Kata Ki Bijak.

“Ki, ana membaca diberbagai buku mengenai proses hijrahnya Nabi dari Mekah ke Madinah, dan dibeberapa buku diceritakan bahwa pada malam sebelum Nabi Hijrah, kaum Quraisy kafir berkumpul dan mengepung rumah baginda Rasul, guna membunuh Rasul sebagai satu-satunya cara untuk menghentikan dakwah Rasul di Mekah, tapi kemudian mereka tidak berhasil..........” Kata Maula.

“Kejadian pengepungan rumah Baginda Rasul dan kemudian kegagalan kafir quaraisy dalam membunuh rasul pada peristiwa itu sebagaimana Nak Mas baca dibuku-buku adalah merupakan ‘bumbu’ proses Hijrah yang diskenariokan Allah, agar kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa itu................” kata Ki Bijak.

“Pelajaran apa saja yang dapat kita ambil dari bumbu penyedap hijrah ini ki...........?’ Kata Maula.

“Nak Mas tahu siapa saja yang dilibatkan Allah dalam peristiwa ini.....?” Tanya Ki Bijak.

“Ya Ki, ada Ali bin Abi Thalib yang menggantikan Nabi tidur diperaduannya, ada Abu Bakar yang mengantar dan menemani Nabi, kemudian ada Asma Binti Abu Bakar yang harus berjalan puluhan kilo menaiki bukit Tsur untuk mengantar makanan kepada Nabi dan Abu Bakar yang ad di gua tersebut ki.........” Kata Maula

“Nak Mas tahu apa hikmahnya..........?” Tanya Ki Bijak.

Maula menggeleng tanda belum mengerti.

“Sebagaimana tadi kita bicarakan, bahwa di Madinah, Nabi dan Umat Islam mencapai keberhasilan yang gilang gemilang dalam dakwah Islam dan masyarakatnya, tapi coba tengok kebelakang sebentar, bahwa sebelum keberhasilan itu dicapai, ada sebuah episode yang banyak mengandung pelajaran bagi kita, yaitu bahwa sebuah keberhasilan membina umat harus menyertakan semua unsur, yang dalam proses hijrah digambarkan oleh Nabi sendiri sebagai perlambang pemimpin yang mampu memberi teladan kepada umatnya, ada Abu Bakar sebagai simbol golongan tua yang bijaksana, ada Ali bin Abi Thalib sebagai wakil dari golongan pemuda yang cerdas dan penuh pengorbanan, serta ada Asma binti Abu Bakar sebagai simbol betapa besar andil kaum perempuan dalam proses membangun umat...................” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, Baginda Rasul sebagai simbol pemimpin, Abu Bakar sebagai simbol kaum Tua, Ali bin Abi Thalib sebagai wakil pemuda serta Asma binti Abu Bakar sebagai wakil kaum wanita, subhanallah, betapa besar hikmah yang terkandung dalam peristiwa hijrah itu ya ki..............” Kata Maula mengulang perkataan Ki Bijak.

“Ya Nak Mas, dengan peristiwa itu Allah mengajarkan kepada kita, jika kita ingin mencapai keberhasilan serta peradaban yang baik, maka hendaklah kita bersatu padu, tidak hanya tergantung pada seorang pemimpin, tidak hanya mengandalkan orang-orang tua, tidak hanya bertumpu pada generasi muda, tidak pula memikulkan beban pada kaum wanita semata, melainkan semua unsur harus terlibat didalam proses pembangunan sebuah peradaban.................” Kata Ki Bijak.

“Madinah sendiri artinya apa ki..........?” Tanya Maula.

“Madinah secara bahasa artinya ‘Kota Peradaban’, sementara nama sebelumnya Yatsrib berarti yang artinya ‘Mengecam’, ini pun merupakan sebuah pelajaran bagi kita bahwa tidak mungkin sebuah keberhasilan dicapai dengan cara saling mengecam, saling menyalahkan, mengklaim kelompoknya yang paling baik dan benar, Madinah – Peradaban, hanya mungkin terbentuk jika kesemua unsur yang dirangkul dan bersinergi bersama...............” Kata Ki Bijak.

“Subhanallah............” lagi-lagi Maula memuji keagungan Allah yang telah memberikan berbagai pelajaran diberbagai peristiwa yang dikendaki-Nya.

“Dan jangan lupakan pula bahwa membangun umat, membangun keberhasilan, memerlukan kerelaan berkorban sebagaimana yang ditunjukan Ali bin Abi Thalib ketika menggantikan Rasul diperaduannya, pengorbanan Abu Bakar yang siap menjadi tameng ketika hendak memasuki gua yang belum terjamah sebelumnya, pengorbanan Asma binti Abu Bakar yang rela berkorban mendaki bukit terjal ditengah terik panas matahari yang membakar, pengorbanan, juga merupakan kunci lain dari bangunan sebuah keberhasilan, selebihnya kita tawakal dan berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah swt.............” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, alhamdulillah sekarang ana sedikit paham ki, semoga tahun baru hijriyah kali ini jauh lebih bermakna ya ki...........” Kata Maula.

“Cara terbaik untuk memaknai pergantian tahun adalah dengan muhasabah, introspeksi tentang apa yang yang telah kita perbuat ditahun lalu, yang baik kita pertahankan dan kita tingkatkan, yang jelek kita tinggalkan, sebagaimana Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan apa yang telah kita perbuat untuk akhirat kita...............” kata Ki Bijak sambil mengutip sebuah ayat al qur’an.

18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Hasyr)

“Iya ki..............” Kata Maula sambil minta izin untuk melanjutkan pekerjaannya.

Wassalam

Januari 09, 2008

Thursday, January 3, 2008

BELAJAR DARI HAL KECIL

“Ki, bagaimana kita bisa belajar bersyukur ki.......?” Tanya Maula.

“Kenapa Nak Mas............?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, setelah kemarin ana menyimak apa yang Aki tuturkan mengenai uyut penjual sapu lidi itu, ana kemudian terpikir bahwa yang lebih mendesak untuk ana lakukan adalah untuk belajar mensyukuri nikmat Allah berikan kepada ana, dan bukan lagi mencari tambahan penghasilan seperti keinginan ana kemarin.....” Kata Maula.

“Lalu.............?” Tanya Ki Bijak.

“Sejujurnya ana masih sulit sekali memaknai syukur secara benar, karenanya ana ingin belajar lebih baik dan lebih dalam lagi agar ana bisa menjadi orang yang pandai bersyukur..............” Kata Maula.

“Syukur memang sesuatu yang berat bagi mereka yang tidak pernah berlatih untuk bersyukur, karena itu belajarlah mensyukuri yang ‘kecil’ dulu Nak Mas, insha Allah Allah Nak Mas akan bisa mensyukuri nikmat yang besar..................” Kata Ki Bijak.

“Mensyukuri nikmat yang kecil dulu ki............?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, coba sekarang Nak Mas ingat-ingat lagi berapa kali Nak Mas mengucap hamdalah manakala Nak Mas mengambil uang di setelah gajian.........?”

“Pernah Nak Mas mengucap hamdalah setelah tiba dirumah sepulangnya dari perjalanan............?”

“Pernah Nak Mas mengucap hamdalah ketika Nak Mas bangun dari duduk..........?”

“Pernah Nak Mas mengucap hamdalah ketika terjaga dari tidur........?”

“Pernah Nak Mas mengucap hamdalah ketika selesai makan...........?”

“Pernah Nak Mas mengucap hamdalah manakala kantuk datang............?” Tanya Ki Bijak, sambil mencontohkan beberap rutinitas keseharian setiap orang.

“Astaghfirullah, iya ki, jarang sekali ana mengucapkan hamdalah untuk hal-hal diatas ki.................” Kata Maula.

“Kenapa Nak Mas atau kita sering lupa mengucap hamdalah untuk hal-hal diatas.................?” Tanya Ki Bijak.

“Karena aktivitas itu merupakan rutinitas ki, jadi ana sering menganggapnya sesuatu yang biasa saja, dan tidak perlu disyukuri dengan mengucap hamdalah..............” Kata Maula.

“Sekarang mari kita renungkan sejenak sesuatu yang kita anggap biasa tadi, dan kenapa kita harus mengucap syukur yang dalam terhadap nikmat itu..........” Kata Ki Bijak.

“Ketika kita tiba dirumah dengan selamat, itu adalah sebuah nikmat yang luar biasa besar bagi, karena tidak semua orang yang pulang bisa sampai dirumah dengan selamat, ada yang mengalami gangguan dijalan, ada yang mengalami kecelakaan atau bahkan sampai ada yang meninggal, lalu apakah kita menganggap selamatnya kita sampai dirumah itu sesuatu yang biasa saja, apa itu bukan merupakan suatu karunia dan nikmat yang sangat besar bagi kita, sehingga dengan keselamatan yang Allah berikan kepada kita, kita bisa kembali berkumpul dengan anak dan istri kita.............?” Tanya Ki Bijak.

“Astaghfirullah, Aki benar ki, betapa banyak orang yang pergi dan tak pernah kembali karena dipanggil Allah.............” Kata Maula.

“Kemudian, ketika kita bangun dari duduk, itu adalah suatu nikmat yang tiada tara, Nak Mas perhatikan betapa banyak orang yang harus bangun dari duduknya dengan bantuan tongkat atau penyangga atau dipapah orang lain karena mengalami kelumpuhan, pernah Nak Mas melihat orang seperti itu...........?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, ada rekan jamaah yang beberapa wakti lalu terkena stroke, dan sekarang beliau kesulitan untuk menggerakan anggota tubuhnya, bahkan beliau sampai menanggis karena sulit untuk shalat..........” Kata Maula.

“Lalu bagaimana mungkin kita yang diberi kesehatan oleh Allah kemudian lupa untuk mensyukurinya.......?” Tanya Ki Bijak.

“Astaghfirullah, benar ki, bahkan duduk kitapun sebuah nikmat ya ki, karena betapa banyak mereka yang tidak bisa duduk nyaman karena terkena wasir atau sejenisnya ya ki............” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum, “Benar, itu yang harus kita perbaiki Nak Mas, syukuri hal terkecil sekalipun............” Kata Ki Bijak.

“Pun ketika kita bangun atau terjaga dari tidur, seharusnya kita mengucapkan ‘alhamdulillahiladzi ahyana ba’da mamatana wa ilahi nuzur’, bukan hanya menguap dan mengeliat sambil menggerutu badan pada sakit, karena betapa banyak mereka yang tertidur selamanya..............” Kata Ki Bijak.

“Hal kecil lain yang sering kita lupa untuk mensyukurinya adalah ketika kita selesai makan, hal ini terbukti dengan sedemikian banyak orang yang hafal doa sebelum makan, bahkan sampai anak kecil sekalipun, tapi coba Nak Mas tanya beberapa orang rekan dikantor Nak Mas, apakah mereka hafal doa selesai makan.....?, kalaupun ada, insha Alla jumlahnya jauh lebih sedikit dari mereka yang hafal doa sebelum makan......” Kata Ki Bijak.

“Alhamdulillahiladzi at’amana wa tsaqona waj’alna minnal muslimiin........., Iya ki, ana pun masih kerap lupa untuk membaca doa sehabis makan.............” Kata Maula dengan sedikit rasa malu demi mendengar kebenaran ucapan gurunya.

“Untuk itu, cobalah melatih diri kita untuk mensyukuri nikmat ‘terkecil’ sekalipun, seperti rasa kantuk atau ketika dilupakan terhadapa sesuatu, syukuri dengan mengucap ‘subhanallahu manlaa yashu wala naum, bukan justru mengerutu atau menyesali kealpaan kita, karena hal itu juga akan mendidik kita kita terbiasa bersyukur atas segala nikmat Allah, sehingga insha Allah, ketika kita mendapat nikmat yang besar, kita akan lebih mampu mensyukurinya..................” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ana jadi teringat dengan nasehat seorang ustadz ketika ana datang kebeliau dan mengadukan semua kesulitan yang tengah ana hadapi ketika itu, tapi justru pak ustadz mengatakan pada ana bahwa seharusnya ana mengucapkan “alhamdulillah’ dengan apa yang tengah terjadi, ana merasa aneh ketika itu, tapi setelah pak ustadz mengatakan alasan kenapa ana seharusnya mengucapkan alhamdulillah, baru ana mengerti ki...........” Kata Maula.

“Pak Ustadz itu benar, dengan kesulitan yang Nak Mas alami kemarin, Nak Mas sekarang nampak lebih dewasa dalam melihat sesuatu hal, tidak seperti dulu, Aki masih ingat persis bagaimana Nak Mas dulu yang cenderung memandang segala sesuatu dari satu sudut pandang saja, itu salah satu alasan kenapa pak ustadz justru menyuruh Nak Mas mengucap hamdalah dengan kesulitan yang Nak Mas alami ketika itu..............” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, selain ana juga merasa lebih ‘nyaman’ dalam menjalani kehidupan ini, karena tidak dibebani dengan berbagai permasalahan yang kadang ana buat sendiri, subhanallah, ternyata Allah tidak ‘mengambil’ apapun dari ana ketika itu, melainkan ‘hanya’ menggantinya dengan nikmat lain..............” Kata Maula.

“Itu sikap yang benar Nak Mas, Allah tidak pernah mengambil apapun dari kita, kecuali Dia mengambil yang memang milik-Nya............” Kata Ki Bijak.

“Bukankah apa yang ada pada kita ini semua milik Allah ki...?” Kata Maula.

“Harta kita, mobil kita, jabatan dan rumah kita, anak dan istri kita, bahkan nyawa kitapun semua milik Allah, dan tidak ada satu kekuatanpun yang mampu menahan apa yang akan diambil-Nya, atau tidak ada satu kekuatan pun yang mampu mencegah apa yang akan diberikan-Nya, jadi kenapa kita harus berontak dan lari manakala Allah akan mengambil hak-Nya........?” Kata Ki Bijak.

“Benar ki, hal yang paling bijak adalah menerima dan mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita ya ki.....................” Kata Maula.

“Jadi bagaimana dengan keinginan Nak Mas kemarin............?” Tanya Ki Bijak.

“Ana memilih untuk belajar bersyukur dengan lebih baik dulu ki, semoga Allah memaafkan kekhilafan ana kemarin, dan menambah nikmat-Nya kepada ana...........” Kata Maula.

“Amiin, Nak Mas tidak perlu ragu dengan janji Allah, barang siapa yang bersyukur atas nikmat-Nya, niscaya Allah akan menambah nikmat kepada hamba-hamba_Nya yang pandai bersyukur..............” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat ke 7 dari Surah Ibrahim;

7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


Wassalam

Januari 03, 2008

Wednesday, January 2, 2008

RENUNGKANLAH...

“Ki, ada yang janggal tidak ya ki, dimalam tahun baru kemarin............?” Tanya Maula.

“Maksud Nak Mas.............?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, dimalam kemarin, ana merasakan sesuatu yang nggak ‘sreg’ dihati ana ki, ana merasa aneh melihat banyak sekali orang-orang sibuk menyambut pergantian tahun baru lalu, ada yang makan-makan, ada yang begadang, ada yang konpoi bahkan ada pesta kembang api segala, sementara disisi lain, saudara-saudara kita tengah merintih kedinginan karena rumahnya hanyut karena banjir, sementara ada banyak saudaranya yang lain, harus berjuang menahan lapar karena tidak ada lagi makanan tersisa karena terkena bencana, ana merasakan sesuatu yang benar-benar aneh dimalam itu ki...............” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas dalam-dalam demi mendengar penuturan Maula.

“Benar Nak Mas, Aki pun merasakan keprihatinan yang sangat dalam dimalam kemarin, entah apa yang tengah terjadi pada umat ini, mereka seolah sama sekali tidak memiliki kepedulian dan keprihatinan dengan saudara dan lingkungannya, mereka justru berpesta ditengah penderitaan orang lain........................” Kata Ki Bijak dengan nada penuh keprihatinan.

“Iya ki, konon untuk biaya pesta kembang api yang tidak lebih dari sepuluh menit itu, menghabiskan biaya seratus jutaan, belum lagi untuk biaya pesta-pesta lainnya, kalau uang sebanyak itu digunakan untuk membantu korban banjir atau tanah longsor, mungkin akan banyak orang yang akan sangat terbantu ya ki.............” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, tapi ini juga bisa kita jadikan cermin untuk kita berkaca sejauh mana ibadah kita membekas dan memberi kesan yang mendalam bagi kita, sebaik apa keimanan kita ...................” Kata Ki Bijak.

“Pesta, bencana, dan tolok ukur ‘keberhasilan’ ibadah kita ki............?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, belum genap sebulan kita melaksanakan idul kurban, yang secara esensi melatih kita untuk peduli dengan orang lain, yaitu dengan cara kita menyembelih hewan kurban untuk kita bagikan kepada saudara kita sebagai bentuk empati dan kepedulian pada sesama kita, disamping melatih kita untuk tidak terlalu mencintai dunia ini secara berlebih, dan apa yang terjadi malam kemarin adalah sebentuk cermin, sudah benarkah kurban kita atau hanya karena ikut-ikutan dan malu pada tetangga....?” Kata Ki Bijak.

“Jika kurban kita sudah benar, sudah dilandasi keimanan dan tanpa diiringi rasa riya, insha Allah nilai-nilai kurban itu akan membekas dalam jiwanya, jadi menurut hemat Aki, tidak mungkin orang yang kurbannya sudah benar, kemudian ikut-ikutan pesta pora ditengah derita saudara-saudaranya..........................” Kata Ki Bijak.

“Oooh, jadi mungkin yang kemarin malam pesta-pesta itu mereka yang tidak kurban ya ki.............?’ Kata Maula.

“Secara syari’at mungkin banyak diantara mereka yang pesta itu adalah juga mereka yang berkurban pada hari idul adha dengan menyembelih hewan kurban, tapi sekali lagi, nilai berkurban bukan hanya diukur dari berapa besar hewan kurban yang mereka sembelih, tapi lebih pada bagaimana tingkat kedekatan mereka kepada Allah, kepada orang disekelilingnya, serta mampu mengendalikan sifat hewaninya yang secara simbolik telah disembelih pada hari idul kurban itu..........................” Kata Ki Bijak.

“Ada upaya mendekatkan diri pada Allah, ada pendidikan untuk mengendalikan siifat hewani kita kemudian juga ada pelatihan untuk mengendalikan kecintaan kita pada dunia yang berlebih, itu ya ki yang mestinya meningkat setelah kita berkurban pada hari raya idul kurban kemarin.............” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, itu yang harusnya menjadi identitas seorang yang berkurban...........” Kata Ki Bijak.

“Belum lagi jika apa yang kemarin malam terjadi itu kita ukur dengan nilai-nilai yang terkandung dalam shaum ramadhan kita, sangat jauh dan bahkan mungkin bertolak belakang dan kita mestinya patut khawatir dengan nilai ramadhan kita jika kitapun masih ikut-ikutan merayakan malam tahun baru, terlepas dari apapun alasannya...............” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, shaum ramadhan kemarin kan bertujuan untuk mendidik kita untuk merasakan bagaimana lapar dan dahaga yang melilit perut dan kerongkongan mereka yang miskin dan papa............., lalu bagaimana mungkin baru dua bulan setelahnya kita telah melupakan latihan selama ramadhan ya ki....................” Kata Maula tak kalah heran.

“Itulah kenapa kita harus lebih berhati-hati dengan apa yang kita lakukan, karena apa yang tampak pada lahiriah dan perbuatan kita, juga merupakan cermin apa yang ada dalam dada ini, apa yang tersirat dalam hati ini........................” Kata Ki Bijak.

“Sayang sekali ya ki, kalau sebulan penuh kita menahan lapar dan dahaga, sementara hasilnya sama sekali tidak ada..................” Kata Maula.

“Seperti apa yang sering Aki katakan, bahwa salah satu tolok ukur berhasil tidaknya ibadah yang kita lakukan, adalah sejauh mana ibadah kita memberi ‘kesan’, baik itu sebagai pendorong kita untuk melakukan ibadah secara lebih baik, maupun sebagi proteksi bagi kita untuk menghindari hal-hal yang dilarangnya................” Kata Ki Bijak.

“Shalat akan mampu mencegah perbuatan keji dan munkar ya ki.....................” Kata Maula sambil mengutip ayat al qur’an;

45. Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al Ankabut).


“Pun demikian dengan shaum Nak Mas, akhir ayat 183 tersebut menunjukan salah satu tujuan shaum, yaitu membentuk manusia bertakwa, yang ditakwilkan dengan kata Ittiqa’ (proteksi), semestinya orang yang shaum ramadhannya benar, akan terproteksi dari perbuatan-perbuatan yang mengundang murka Allah, seperti pesta, mabuk-mabukan dan perbuatan mubajir lainnya..............” Kata Ki Bijak, sambil membacakan ayatnya;

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Maula menghela nafas panjang, ia merasa bersyukur karena sudah tidur sejak pukul 9.00 manakala sebagian orang ramai ‘teu puguh’ merayakan tahun baru.

“Coba Nak Mas perhatikan lagi ayat 120 dari surat Al Baqarah;

120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.


“Peringatan Allah tersebut sangat nyata dan jelas, bahwa kita tidak boleh mengikuti milah mereka, dan tahun baru kemarin tahun baru mereka,lalu kenapa kita yang jadi lebih sibuk dari mereka...............?” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kita lebih sibuk dari mereka...................?” Kata Maula penuh heran.


“Itulah pekerjaan rumah kita semua, bagaimana kita membangun kesadaran kita, bahwa memperingati tahun baru secara berlebihan jauh lebih banyak mudharatnya dari pada manfaat yang mungkin kita dapat....................” Kata Ki Bijak.

“Iya ki.........................” Kata Maula sambil berpamitan pada Ki Bijak untuk berangkat kerja.

Wassalam

Januari 01, 2008

APA LAGI YANG KITA TUNGGU?

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun...., Aki sudah dengar berita tanah longsor diKarang anyar..........?” Tanya Maula demi mendengar berita di Televisi.

“Iya Nak Mas, tadi pagi Aki sempat melihat berita di TV mengenai bencana itu, kalau tidak salah korbannya lebih dari enam puluh orang ya Nak Mas.........” Kata Ki Bijak.

“Benar ki, bahkan korbannya masih mungkin bertambah, karena masih ada beberapa orang yang masih dinyatakan hilang ki..............” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, Aki sangat-sangat prihatin dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini, karena selain tanah longsor, banjir juga melanda berbagai daerah, ratusan hektar sawah gagal panen, ratusan hektar tambak hanyut, belum lagi kerugian materi dan non materi yang sangat besar jumlahnya, sepertinya kita harus lebih dalam lagi menundukan hati dan kepala kita untuk bisa menangkap ‘pesan’ yang tersirat dari apa yang sekarang terjadi Nak Mas.............?” Kata Ki Bijak.

“Ki, orang lain yang tertimpa bencana, kenapa kita yang justru harus menundukan kepala dan hati lebih dalam ki...............?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, kita yang harus segera menundukan hati dan kepala kita untuk bersujud kepada-Nya, karena jika hari ini saudara kita yang diuji oleh Allah swt dengan apa yang kita sebut bencana, mungkin esok atau lusa kita yang akan mengalaminya, jadi yang diberi pesan itu kita yang masih hidup Nak Mas, karena orang yang telah ‘mati’ tidak mungkin lagi mampu menerima pesan apapun...............” Kata Ki Bijak.

“Pesan apa yang bisa kita tangkap dari peristiwa itu ki..............?” Tanya Maula.

“Satu pesan yang pasti dan sangat jelas bagi mereka yang masih ‘hidup hatinya’adalah sebuah pesan dari Allah bahwa semua kita akan mati, siapapun kita, presidenkah kita, pejabatkah kita, karyawankah kita, tua-muda, laki-laki atau perempuan, semua pasti akan mengalami yang namanya mati, entah itu karena kita tertimpa tanah longsor, terhanyut banjir, gempa bumi, karena sakit atau apapun syari’atnya, mati adalah sebuah kepastian.............” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki.........?” Tanya Maula.

“Lalu kalau kita sudah tahu kita pasti mati, kenapa kita tidak mempersiapkan diri untuk menyambut saat kematian kita dari sekarang..? Kenapa kita justru lebih takut dan lebih disibukan dengan sesuatu yang belum pasti......?” Kata Ki Bijak setengah bertanya.

“Coba Nak Mas kaji dan hitung lagi bagaimana kita menghabiskan jatah hidup kita, kalau kita mau jujur, kita lebih disibukan dengan urusan dunia, kita mengejar kehidupan dunia seakan kita akan hidup selamanya, sudah kerja dikantor dengan menghabiskan waktu lebih dari 10 jam per hari, kita kadang masih disibukan dengan pekerjaan setelah pulang kantor, ada seminar ini, ada urusan itu, dan masih banyak lagi, sementara untuk urusan akhirat, kita melakukannya dengan sekedarnya saja, seakan kita tidak akan pernah mati, shalat yang kita dirikan, dengan sisa semangat dan tenaga setelah lelah diperjalanan, lelah mencuci kendaraan, zakatpun masih banyak diantara kita yang enggan menunaikannya..............” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, Aki benar.............” Kata Maula pendek.

“Lalu kalau Aki tidak salah ingat, kemarin itu bertepatan dengan peristiwa tsunami di Aceh ya Nak Mas......?” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, tanggal 26 Desember kemarin tepat tiga tahun terjadinya tsunami Aceh, dan bahkan kemarinpun saudara kita di Aceh tengah memperingati kejadian itu ki...........” Kata Maula.

“Coba Nak Mas renungkan lagi, betapa harta yang kita kumpulkan siang malam, berpuluh tahun, dengan berbagai cara, pada akhirnya habis terhanyut air bah tidak lebih dari satu hari............”

“Mobil yang kita banggakan, rumah yang kita idamkan, tabungan yang kita kumpulkan, deposito, tanah dan kebun berhektar luasnya, sama sekali tidak dapat menolong dan menghindarkan kita dari kematian, lalu masihkan kita ‘bertuhan’ pada materi dan harta yang jelas-jelas tidak dapat menolong kita..............?” Kata Ki Bijak setengah bertanya.

“Iya ki, seharusnya rentetan kejadian ini makin menyadarkan kita ya ki..................” Kata Maula.

“Itu yang sedikit Aki sesalkan, ketika kita memperingati bencana dan sejenisnya, kita kerap terjebak pada acara seremonial belaka, atau kadang peringatan justru membuat kita kembali larut dalam kesedihan dan meratapi peristiwa itu, padahal menurut hemat Aki, peringatan itu bertujuan untuk mengingatkan kedhoifan dan kefanaan kita, untuk mengingatkan kita bahwa ada Allah disana yang Maha Berkuasa atas segalanya, dan dengan semua itu, mestinya membuat sujud kita semakin lama, mestinya ruku kita semakin khusyu, mestinya takbir kita semakin bermakna, karena kita menyadari bahwa hidup - mati kita semuanya ada dalam genggaman dan kekuasaan Allah swt............” Kata Ki Bijak.

“Sekarang mari kita tengok kedalam diri kita, apa yang selama ini membuat kita enggan dan sombong dengan tidak mengindahkan perintah dan larangan Allah, harta kita kah..? Wajah rupawan kita kah..?, pangkat dan jabatan kita kah..?, gelar kita kah....?, kemudian jawab dengan jujur, hal yang mana diantara semua yang kita agungkan itu yang dapat menolong kita dari kematian...?”

“Jika jawabannya tidak ada, lalu masih pantaskan kita berlaku sombong dihadapan Allah....?

“Masih pantaskah kita lebih mementingkan mencuci mobil dan motor kita dibanding bersegera memenuhi panggilan adzan....?”

“Masih pantaskah kita berbangga diri dengan ketampanan rupa kita kalau semua itu akan rusak binasa...?”

“Masih pantaskan kita meng-agungkan pangkat dan jabatan kita yang tidak lebih dari kehormatan sementara....? Kata Ki Bijak.

“Ki, boleh tidak kalau ana katakan bahwa rentetan kejadian bencana ini sebagai sebuah bentuk kasih sayang Allah untuk mengingatkan kita yang sering lupa ki....?” Kata Maula hati-hati.

“Ya Nak Mas, kita memang pelupa, Tsunami Aceh, gempa bumi Jogya, banjir bandang, Jakarta yang hampir tenggelam, gunung merapi meletus, dan sekarang air laut pasang, longsor dan banjir dihampir semua daerah, adalah sebuah cara Allah untuk mengingatkan kita untuk ‘kembali’ kepada jalan yang diridhainya, kepada fitrah kita sebagai manusia yang membutuhkan rahmat dan kasih sayang-Nya..............” Kata Ki Bijak.

“Meski kadang terasa berat dan sakit ya ki............” Kata Maula.

“Ya meski kadang kita merasakan ‘teguran’ itu berat dan menyakitkan, tapi itu bukan karena Allah yang dhalim, tapi lebih karena kita yang ‘nakal’ Nak Mas..........” Kata Ki Bijak.

“Kita yang nakal ki...?” Tanya Maula.

“Betapa tidak, setelah sedemikian banyak ‘tanda-tanda’ kebesaran Allah didepan mata kita, kita tetap saja berlaku acuh dan tidak mengindahkannya, sehingga ‘sangat wajar’ kalau teguran yang tadinya sangat halus, menjadi teguran yang lebih keras, agar kita bisa mendengarnya, agar kita segera kembali kepada-Nya.............” Kata Ki Bijak sambil mengutip sebuah ayat al qur’an;

41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). – Ar-rum)



Wassalam

Desember 27, 2007

Saturday, December 29, 2007

UYUT PENJUAL SAPU LIDI

“Photo siapa ini Nak Mas........?’ Tanya Ki Bijak mengamati photo sesosok perempuan tua dilayar monitor Maula.

“Ooh ini, photonya uyut ki..........” Jawab Maula sambil memandangi wajah perumpuan tua yang nampak keriput, dengan gigi yang sudah tidak utuh lagi, nampak sekali gurat-gurat wajah tuanya yang dipenuhi garis-garis sebagai gambaran kerasnya perjalanan hidup yang telah dilaluinya.

“Uyut siapa Nak Mas.....?” Tanya Ki Bijak yang sama sekali tidak mengenal wanita tua didalam photo itu.

“Ana tidak tahu namanya ki, ibu ini hampir setiap hari berkeliling kekomplek kami, beliau menjajakan sapu lidi................” Kata Maula, menahan nafas karena haru.

Ki Bijak diam, membiarkan Maula melepaskan bebannya.

“Ki, ana malu pada uyut ini ki..............” Kata Maula sejurus kemudian.

“Malu kenapa Nak Mas......?” Tanya Ki Bijak.

“Lihatlah senyum dibibir uyut ini, sedemikian tulus dan pasrah menjalani hari-harinya dengan berkeliling menjual sapu lidi, uyut menjual sapunya dengan harga dua ribu rupiah per ikat, dan tadi uyut hanya membawa tiga ikat sapu lidi, atau paling banyak lima ikat, ia tidak bisa membawa lebih banyak lagi karena memang ia tidak kuat dengan beban yang lebih berat dari itu..............” kata Maula.

“Lalu...........?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Uyut berkeliling menyusuri pinggiran jalan raya yang penuh sesak dengan kendaraan menuju komplek kami, kaki-kaki tuanya memaksa uyut untuk berjalan dengan pelan dan berhati-hati, hampir setiap beberapa meter, uyut kemudian berhenti untuk mengatur nafasnya yang tersenggal, sambil tertatih uyut berjalan terus untuk menjual sapu lidinya, dan kalau pun sapu lidi yang dibawanya itu terjual semua, artinya uyut ‘hanya’ akan memperoleh enam ribu rupiah ki................” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang, ia kembali menatap wajah lugu dan polos di layar monitor Maula.

“Lalu apa yang membuat Nak Mas sedemikian malu pada uyut ini..........?” Tanya Ki Bijak.

“Jujur ki, semalam ana sedikit resah...........” Kata Maula.

“Resah kenapa Nak Mas................?” Tanya Ki Bijak.

“Entahlah ki, tiba-tiba ana merasakan ‘sesuatu’, ana tiba-tiba merasakan bahwa ana perlu mendapakan penghasilan lebih dari yang sekarang ana terima, terlebih sekarang ini banyak rekan ana yang selain kerja dikantor, mereka juga memiliki usaha sampingan dirumahnya, ada yang ternak ikan lele, ada yang ikut MLM yang katanya menjanjikan bonus jutaan rupiah itu, dan masih banyak lagi rekan yang memiliki usaha disamping penghasilannya sebagai karyawan.................” Kata Maula.

“Lalu Nak Mas.......?” Kata Ki Bijak.

“Sepintas ana ingin sekali seperti mereka, mempunyai penghasilan tambahan selain gaji, kemudian ana teringat pesan Aki, kalau kita menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah...............” Lanjut Maula.

“Syukurlah kalau Nak Mas ingat, kemudian Nak Mas.................?” Tanya Ki Bijak penasaran.

“Ditengah pikiran yang berkecamuk semalam, ana kemudian shalat hajat dua rakaat, dan ana memohon kepada Allah untuk diberikan petunjuk untuk mendapatkan tambahan penghasilan ki..............” Kata Maula.

“Lalu ketika ana beranjak ketempat tidurpun ana masih berpikir dan berharap semoga Allah memberi ana petunjuk, entah itu lewat mimpi sekalipun...................” Kata Maula.

“Nak Mas mimpi apa semalam.............?” Tanya Ki Bijak.

“Sama sekali tidak mimpi ki, tapi justru pagi tadi ana dipertemukan Allah dengan uyut ini ki........................’ Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula.

“Itu jawabannya Nak Mas...............” Kata Ki Bijak.

“Jawaban apa Ki..............” Tanya Maula.

“Itu jawaban atas permohonan Nak Mas semalam............” Kata Ki Bijak.

“Kok aneh ya ki, ana tadinya kepikiran kalau jawaban atas permohonan ana itu, ana dipertemukan dengan orang yang mengajak ana usaha apa gitu, atau memberi ana cara dagang atau usaha, tapi jawabannya malah seorang wanita tua yang sama sekali tidak mengajari ana apa-apa ki.........” Kata Maula.

“Tidak ada yang aneh Nak Mas, dan justru uyut ini, mengajarkan banyak hal kepada Nak Mas, kepada kita.............” Kata Ki Bijak.

“Uyut penjual sapu lidi ini mengajari kita banyak hal ki...........?” Tanya Maula heran.

“Ya Nak Mas, Nak Mas perhatikan wajah yang lugu dan polos ini, wajah ini mengajarkan kepada kita untuk mampu menerima apapun yang Allah berikan kepadanya, uyut hanya mendapatkan enam ribu atau mungkin paling banyak sepuluh ribu untuk jerih payahnya berkeliling menjajakan sapu lidi sepanjang hari, coba Nak Mas bandingkan dengan pendapatan dan kondisi Nak Mas sekarang, apakah Nak Mas lebih baik atau uyut itu yang lebih baik...............?” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah...........iya ki, ya Allah ampuni hamba yang tidak pandai bersyukur atas nikmat-Mu ya Allah.............” Kata Maula sambil menengadah kelangit-langit.

“Kemudian, disamping tawakalnya ini, dalam hemat Aki, uyut ini juga mengajarkan kita sebuah ilmu yang sangat mahal dan berharga, yaitu sifat sabar.............” Kata Ki Bijak.

“Uyut dengan sabar menjalani hari-hari tuanya yang entah berapa lama lagi, uyut tetap berkeliling setiap hari menjajakan sapu lidinya, uyut memelihara diri dari sifat meminta-minta, uyut menjaga kehormatan dan harga dirinya, meskipun misalnya tanpa menjual sapu lidipun, mungkin dengan (maaf) mengemis, uyut akan mendapatkan lebih dari enam atau sepuluh ribu sehari, tapi uyut lebih memilih berusaha daripada meminta-minta...............” Kata Ki Bijak.

“Ki, mungkinkah Allah mengajarkan kepada ana untuk lebih banyak dan lebih baik berusaha dan mensyukuri apa yang Allah berikan kepada ana lewat uyut ini ki................” Kata Maula.

“Wallahu’alam, tapi Nak Mas harus ingat barang siapa yang bersyukur akan nikmat-Nya, maka Allah akan menambah nikmat itu, sementara barang siapa yang kufur, maka Allah mengancam mereka dengan azabnya yang pedih...............” Kata Ki Bijak, mengingatkan Maula.

“Astaghfirullah.......Astaghfirullah............Astaghfirullah................., sungguh besar pelajaran yang Engkau berikan pada hamba hari ini ya Allah............” Kata Maula pelan.

“Iya Nak Mas, Allah memiliki cara yang tidak terhingga untuk menjawab permohonan kita, tinggal kitalah yang harus memaknainya dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan................”Kata Ki Bijak.

“Ki, bijak tidak ya, ki kalau ana masih memiliki keinginan untuk memperoleh tambahan penghasilan seperti kemarin............?” Tanya Maula.

“Jika memang Nak Mas membutuhkannya, lakukanlah, hanya Aki pesan, berhati-hatilah dengan keinginan Nak Mas itu dan dengan apa yang akan Nak Mas lakukan, jangan sampai keinginan Nak Mas itu mengurangi rasa syukur Nak Mas atas nikmat Allah sedikitpun,dan jangan sampai kesibukan Nak Mas nanti mengurangi waktu Nak Mas untuk beribadah kepada Allah..............” Kata Ki bijak.

“Insha Allah ana akan selalu ingat pesan Aki, ki................” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas, insha Allah, Allah akan membukakan jalan bagi Nak Mas untuk mendapatkan apa yang Nak Mas mohonkan kepada Allah, selama Nak Mas menyandarkan semuanya pada Allah, karena hanya Allah-lah sebaik-baik penerima doa dan Allah, Dia-lah yang Maha Mengabulkan...............” Kata Ki Bijak.

“Terima kasih ki, terima kasih uyut, syukur kepada-Mu ya Allah, hari ini Engkau ajari hikmah yang sangat besar..............”Kata Maula.

”Amiin.............., Kata Ki Bijak sambil mengutip sebuah ayat al qur’an;

269. Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). Al baqarah


W@ssalam

Desember 24, 2007

APA LAGI YANG KITA TUNGGU?

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun...., Aki sudah dengar berita tanah longsor diKarang anyar..........?” Tanya Maula demi mendengar berita di Televisi.

“Iya Nak Mas, tadi pagi Aki sempat melihat berita di TV mengenai bencana itu, kalau tidak salah korbannya lebih dari enam puluh orang ya Nak Mas.........” Kata Ki Bijak.

“Benar ki, bahkan korbannya masih mungkin bertambah, karena masih ada beberapa orang yang masih dinyatakan hilang ki..............” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, Aki sangat-sangat prihatin dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini, karena selain tanah longsor, banjir juga melanda berbagai daerah, ratusan hektar sawah gagal panen, ratusan hektar tambak hanyut, belum lagi kerugian materi dan non materi yang sangat besar jumlahnya, sepertinya kita harus lebih dalam lagi menundukan hati dan kepala kita untuk bisa menangkap ‘pesan’ yang tersirat dari apa yang sekarang terjadi Nak Mas.............?” Kata Ki Bijak.

“Ki, orang lain yang tertimpa bencana, kenapa kita yang justru harus menundukan kepala dan hati lebih dalam ki...............?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, kita yang harus segera menundukan hati dan kepala kita untuk bersujud kepada-Nya, karena jika hari ini saudara kita yang diuji oleh Allah swt dengan apa yang kita sebut bencana, mungkin esok atau lusa kita yang akan mengalaminya, jadi yang diberi pesan itu kita yang masih hidup Nak Mas, karena orang yang telah ‘mati’ tidak mungkin lagi mampu menerima pesan apapun...............” Kata Ki Bijak.

“Pesan apa yang bisa kita tangkap dari peristiwa itu ki..............?” Tanya Maula.

“Satu pesan yang pasti dan sangat jelas bagi mereka yang masih ‘hidup hatinya’adalah sebuah pesan dari Allah bahwa semua kita akan mati, siapapun kita, presidenkah kita, pejabatkah kita, karyawankah kita, tua-muda, laki-laki atau perempuan, semua pasti akan mengalami yang namanya mati, entah itu karena kita tertimpa tanah longsor, terhanyut banjir, gempa bumi, karena sakit atau apapun syari’atnya, mati adalah sebuah kepastian.............” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki.........?” Tanya Maula.

“Lalu kalau kita sudah tahu kita pasti mati, kenapa kita tidak mempersiapkan diri untuk menyambut saat kematian kita dari sekarang..? Kenapa kita justru lebih takut dan lebih disibukan dengan sesuatu yang belum pasti......?” Kata Ki Bijak setengah bertanya.

“Coba Nak Mas kaji dan hitung lagi bagaimana kita menghabiskan jatah hidup kita, kalau kita mau jujur, kita lebih disibukan dengan urusan dunia, kita mengejar kehidupan dunia seakan kita akan hidup selamanya, sudah kerja dikantor dengan menghabiskan waktu lebih dari 10 jam per hari, kita kadang masih disibukan dengan pekerjaan setelah pulang kantor, ada seminar ini, ada urusan itu, dan masih banyak lagi, sementara untuk urusan akhirat, kita melakukannya dengan sekedarnya saja, seakan kita tidak akan pernah mati, shalat yang kita dirikan, dengan sisa semangat dan tenaga setelah lelah diperjalanan, lelah mencuci kendaraan, zakatpun masih banyak diantara kita yang enggan menunaikannya..............” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, Aki benar.............” Kata Maula pendek.

“Lalu kalau Aki tidak salah ingat, kemarin itu bertepatan dengan peristiwa tsunami di Aceh ya Nak Mas......?” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, tanggal 26 Desember kemarin tepat tiga tahun terjadinya tsunami Aceh, dan bahkan kemarinpun saudara kita di Aceh tengah memperingati kejadian itu ki...........” Kata Maula.

“Coba Nak Mas renungkan lagi, betapa harta yang kita kumpulkan siang malam, berpuluh tahun, dengan berbagai cara, pada akhirnya habis terhanyut air bah tidak lebih dari satu hari............”

“Mobil yang kita banggakan, rumah yang kita idamkan, tabungan yang kita kumpulkan, deposito, tanah dan kebun berhektar luasnya, sama sekali tidak dapat menolong dan menghindarkan kita dari kematian, lalu masihkan kita ‘bertuhan’ pada materi dan harta yang jelas-jelas tidak dapat menolong kita..............?” Kata Ki Bijak setengah bertanya.

“Iya ki, seharusnya rentetan kejadian ini makin menyadarkan kita ya ki..................” Kata Maula.

“Itu yang sedikit Aki sesalkan, ketika kita memperingati bencana dan sejenisnya, kita kerap terjebak pada acara seremonial belaka, atau kadang peringatan justru membuat kita kembali larut dalam kesedihan dan meratapi peristiwa itu, padahal menurut hemat Aki, peringatan itu bertujuan untuk mengingatkan kedhoifan dan kefanaan kita, untuk mengingatkan kita bahwa ada Allah disana yang Maha Berkuasa atas segalanya, dan dengan semua itu, mestinya membuat sujud kita semakin lama, mestinya ruku kita semakin khusyu, mestinya takbir kita semakin bermakna, karena kita menyadari bahwa hidup - mati kita semuanya ada dalam genggaman dan kekuasaan Allah swt............” Kata Ki Bijak.

“Sekarang mari kita tengok kedalam diri kita, apa yang selama ini membuat kita enggan dan sombong dengan tidak mengindahkan perintah dan larangan Allah, harta kita kah..? Wajah rupawan kita kah..?, pangkat dan jabatan kita kah..?, gelar kita kah....?, kemudian jawab dengan jujur, hal yang mana diantara semua yang kita agungkan itu yang dapat menolong kita dari kematian...?”

“Jika jawabannya tidak ada, lalu masih pantaskan kita berlaku sombong dihadapan Allah....?

“Masih pantaskah kita lebih mementingkan mencuci mobil dan motor kita dibanding bersegera memenuhi panggilan adzan....?”

“Masih pantaskah kita berbangga diri dengan ketampanan rupa kita kalau semua itu akan rusak binasa...?”

“Masih pantaskan kita meng-agungkan pangkat dan jabatan kita yang tidak lebih dari kehormatan sementara....? Kata Ki Bijak.

“Ki, boleh tidak kalau ana katakan bahwa rentetan kejadian bencana ini sebagai sebuah bentuk kasih sayang Allah untuk mengingatkan kita yang sering lupa ki....?” Kata Maula hati-hati.

“Ya Nak Mas, kita memang pelupa, Tsunami Aceh, gempa bumi Jogya, banjir bandang, Jakarta yang hampir tenggelam, gunung merapi meletus, dan sekarang air laut pasang, longsor dan banjir dihampir semua daerah, adalah sebuah cara Allah untuk mengingatkan kita untuk ‘kembali’ kepada jalan yang diridhainya, kepada fitrah kita sebagai manusia yang membutuhkan rahmat dan kasih sayang-Nya..............” Kata Ki Bijak.

“Meski kadang terasa berat dan sakit ya ki............” Kata Maula.

“Ya meski kadang kita merasakan ‘teguran’ itu berat dan menyakitkan, tapi itu bukan karena Allah yang dhalim, tapi lebih karena kita yang ‘nakal’ Nak Mas..........” Kata Ki Bijak.

“Kita yang nakal ki...?” Tanya Maula.

“Betapa tidak, setelah sedemikian banyak ‘tanda-tanda’ kebesaran Allah didepan mata kita, kita tetap saja berlaku acuh dan tidak mengindahkannya, sehingga ‘sangat wajar’ kalau teguran yang tadinya sangat halus, menjadi teguran yang lebih keras, agar kita bisa mendengarnya, agar kita segera kembali kepada-Nya.............” Kata Ki Bijak sambil mengutip sebuah ayat al qur’an;

41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). – Ar-rum)



Wassalam

Desember 27, 2007

Wednesday, December 19, 2007

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1428 H

“Ki, setelah idul fitri kemarin berbeda, sekarang idul adha pun tidak serempak lagi ya ki...........” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, hari ini sudah ada saudara-saudara kita yang melaksanakan shalat idul adha, sementara sebagian yang lain insha Allah merayakan idul adha-nya besok, sesuai dengan ketetapan pemerintah............” Kata Ki Bijak.

“Kenapa bisa terjadi perbedaan seperti ini ya ki...........?”Tanya Maula.

“Wallahu’alam, banyak sekali pendapat dari masing-masing pihak yang sama-sama kuat dan hebat sebagai hujjah masing-masing mereka, selebihnya hanya Allah yang tahu mana yang paling benar............” Kata Ki Bijak.

“Lalu bagaimana sikap kita ki............?” Tanya Maula lagi.

“Sebenarnya Aki lebih senang untuk bertukar pikiran mengenai hikmah kurban daripada membicarakan perbedaan waktu tibanya idul adha ini, tapi memang kita harus sangat berhati-hati menyikapi perbedaan ini............” Kata Ki Bijak.

“Harus sangat berhati-hati ki.........?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, perbedaan yang tidak disikapi secara dewasa, sangat mungkin menimbulkan kerawanan, sangat mungkin menimbulkan ‘perpecahan’ dikalangan umat ini, dan ini yang harus kita hindari.............”

“Sikapi perbedaan ini dengan penuh kebijakan, dengan penuh kearifan, dengan penuh kedewasaan, bahwa jika kita berbeda, bukan berarti kita berada pada dua sisi yang berbeda pula, bukan berarti kita harus mengklaim bahwa golongan kita yang paling benar, bukan berarti orang lain salah, karena sekali lagi hanya Allah yang Maha Tahu siapa yang benar menurut Allah swt.........” Kata Ki Bijak.

“Iya Ki, lalu apa yang bisa kita ambil dari pelaksanaan idul adha ini ki.....................” Tanya Maula.

“Nak Mas masih ingat kisah Nabi Ibrahim dengan putranya Nabi Ismail.......?” Tanya Ki Bijak.

“Iya Ki, Al qur’an menceritakan bagaiman Nabi Ibrahim bermunajat kepada Allah untuk dikaruniai anak yang shaleh, yang kemudian Allah mengabulkan permohonan Nabi Ibrahim dengan kelahiran Nabi Ismail dari Siti Hajar......” Kata Maula sambil mengutip ayat al qur’an yang dimaksud.

100. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.

101. Maka kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar[1283]. (Ash-shafat)

[1283] yang dimaksud ialah nabi Ismail a.s.

“Lalu......?” Pancing Ki Bijak.

“Lalu setelah Nabi Ismail beranjak besar, Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk ‘menyembelih’ Nabi Ismail; sebagaimana diceritakan pada ayat selanjutnya....” Kata Maula

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

“Lalu apa pendapat Nak Mas mengenai kedua orang Nabi pilihan Allah itu......?” Tanya Ki Bijak

“Menurut pendapat ana, dalam kisah tersebut ada sebuah kearifan dan kebijaksanaan yang luhur dari Nabi Ibrahim sebagai orang tua, beliau tetap minta pendapat kepada putranya mengenai apa yang perintah yang diterimanya, beliau tidak otoriter, beliau tetap memandang dan menghargai yang lebih muda sekalipun..........”

“Yang kedua, ana sangat berkesan dengan jawaban Nabi Ismail ketika beliau mengatakan ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar", yang menurut ana merupakan sebuah cerminan keshalehan Nabi Ismail dalam mematuhi perintah Allah dan orang tuanya..........” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, itulah teladan terbesar dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, ada kearifan dan kebijaksanaan, ada ketulusan dan kesabaran, ada ketaatan dan kerelaan ‘berkorban’ sebagaimana ditunjukan Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putranya, dan Nabi Ismail yang ‘rela’ mengorban dirinya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah swt............” Kata Ki Bijak.

“Rasanya akan sangat sulit sekali ya ki kita bisa menemukan orang yang memiliki sikap luhur seperti itu dijaman sekarang.........” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, akan sangat sulit bahkan mungkin langka, karenanya kadar ujian yang Allah berikan kepada kitapun berbeda dengan apa yang Allah ujikan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Allah ‘hanya’ memerintahkan kita untuk berkorban seekor binatang ternak, seperti kambing, sapi atau unta sebagai bukti kecintaan dan ketaatan kita kepada Allah swt, bukan lagi putra kesayangan kita sebagaimana Nabi Ibrahim dulu ....” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, hanya seekor kambing bagi yang mampu, jauh lebih ‘ringan’ dari apa yang diujikan kepada Nabi Ibrahim dan putranya, tapi tetap saja masih banyak yang ‘menawar’ untuk sekedar mengorbankan sedikit uangnya untuk membeli seekor kambing dan membagikannya kepada saudaranya yang lain.........” Kata Maula.

“Karenanya momentum idul adha ini, sepatutnya kita lebih mengedepankan keteladan dan kerelaan berkorban sebagaimana ditunjukan Nabi Ibrahim dan putranya daripada lebih sibuk mencari dalil untuk membenarkan pendapat kita masing-masing........”

“Aki sedikit khawatir jika konsentrasi kita lebih tercurah pada perbedaan waktu pelaksanaan seperti ini, justru kita akan lupa terhadap ‘nilai’ yang harusnya kita hidupkan dalam setiap momen idul adha ini..............’ Kata Ki Bijak.

“Iya ki, nilai dan kerelaan serta keikhlasan dalam berkurban dijalan Allah yang mestinya menjadi landasan pokok pelaksanaan kurban ini, yang harusnya lebih kita kedepankan untuk bisa dipahami dan dimengerti oleh umat, masih sering tersamar dengan hal-hal lain yang bersifat khilafiyah yang kadang justru lebih menggema..........”Kata Maula.

“Ya Nak Mas, selain kita berkorban kambing atau sapi, kita juga dituntut mampu ‘berkorban’ untuk menerima dan memahami adanya pendapat yang berbeda dengan pendapat dan pandangan kita, ini pun perlu kita pupuk dan kita latih, agar kita memiliki jiwa besar dan legowo dengan perbedaan yang bukan prinsip dalam agama kita.............” Kata Ki Bijak.

“Benar ki, akan lebih indah rasanya jika kesamaan yang kita usung tinggi-tinggi, terlepas dari kapan kita melaksanakan idul adha, selama kita masih sama-sama bertuhan pada Allah yang Esa, dan mengakui Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya, Al Qur’an sebagai pedomannya, beriman pada malaikat-malaikat_Nya, mengimani adanya hari akhir dan takdir_Nya, rasanya tak perlu lagi ada jarak diantara kita yang melaksanakan idul hari ini atau esok hari ya ki...........” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, semoga kita bisa lebih arif dan bijak dalam berbagai masalah seperti ini.............”Kata Ki Bijak.

“Selamat hari raya idul adha saudaraku.....................” Kata Maula sambil meneruskan bacaan al Qur’an ayat-ayat berikutnya;


103. Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).

104. Dan kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,

105. Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu[1284] Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

106. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

107. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar[1285].

108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian,

109. (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".

110. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba kami yang beriman. (Ash-shaffat)

[1284] yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksana- kannya.

[1285] sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s. Maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). peristiwa Ini menjadi dasar disyariatkannya qurban yang dilakukan pada hari raya haji.


Wassalam

Desember 19, 2007.

Tuesday, December 18, 2007

BACALAH CATATANMU

“Assalamu’alaikum..........” Sapa Maula kepada Ki Bijak yang tengah tafakur ba’da shalat isya.

“Walaikumusalam..., Nak Mas silahkan duduk.........” Balas Ki Bijak sambil menyambut uluran tangan Maula yang menyalaminya.

“Tadi kemana Nak Mas.., Aki tidak melihat Nak Mas dimajelis Taklim.........?” Tanya Ki Bijak mengenai ketidak hadiran Maula dimajelis taklim yang memang diadakan tiap minggu malam.

“Iya Ki, tadi ana masuk kantor ki, ana baru pulang tadi ba’da...........” Kata Maula.

“Bukannya Nak Mas sabtu – minggu libur............?” Tanya Ki Bijak.

“Iya Ki, biasanya ana libur, tapi tadi ana diminta bantuin StockTaking, jadi ana kekantor..........” Kata Maula.

“Menghitung persediaan begitu......?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, menghitung persediaan barang digudang, untuk kemudian dicocokan dengan angka buku.............” Kata Maula.

“Selain itu, untuk apa lagi Nak Mas............?” Tanya Ki Bijak.

“Selain untuk memastikan fisik dan catatan sama, stocktake juga dimaksudkan untuk mengetahui secara dini apabila terjadi kesalahan, dan yang lebih penting, stocktake dilakukan untuk menjamin ketersediaan barang sehingga dapat memenuhi permintaan pelanggan dengan cepat dan tepat waktu............................” Kata Maula.

“Kita pun mungkin bisa melakukan ‘penghitungan’secara berkala terhadap aktivitas keseharian kita Nak Mas........” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki..........?” Tanya Maula.

“Aki tertarik dengan apa yang barusan Nak Mas katakan, dengan mengadakan penghitungan dan pengecekan persediaan secara berkala, perusahaan dapat mengetahui validitas catatan dan kondisi barang sehingga mampu memenuhi kebutuhan dan permintaan pelanggan dengan baik.....”,

“Aki rasa kita pun harus membuka dan membaca catatan harian kita, dengan tujuan yang sama, untuk mengetahui apa yang telah kita perbuat selama ini, seberapa baik perbuatan kita dan apakah perbuatan kita sudah sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan, bukankah dikantor Nak Mas juga ada aturan main untuk melakukan suatu pekerjaan.........?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, namanya Standard Operating Procedure, yaitu standar baku dalam melaksanakan suatu aktivitas agar dapat mencapai hasil yang maksimal dengan tingkat akurasi, kecepatan,dan keselamatan yang baik...........” Kata Maula.

“Ya seperti itu aturan main yang Aki maksud, dalam kehidupan kitapun, kita diharuskan menjalankan aturan main yang telah dibakukan oleh pencipta kita, yaitu Allah swt.........” Kata Ki Bijak.

“Allah telah mengatur secara detail bagaimana seharusnya kita berhubungan dengan Allah, dengan manusia, dan lingkungan.........”

“Allah juga telah mengatur hal mana yang seharusnya dilakukan,dan bagian mana yang tidak boleh dilanggar.............”

“Itu yang kemudian kita kenal dengan nama syari’at, dan seperti halnya dengan kondisi perusahaan Nak Mas, jika setiap karyawan mengetahui dan mematuhi standar tadi, insha Allah apa yang menjadi target dan tujuan perusahaan dapat tercapai secara maksimal....,

“Pun dengan kehidupan kita, kalau semua kita mengetahui aturan yang bernama syari’at tadi dan kemudian kita mematuhi dan melaksanakannya dengan penuh keyakinan dan tanggung jawab, insha Allah, kita pun akan mendapatkan hasil yang maksimal dalam upaya kita mencapai keridhaan Allah swt.....................” Kata Ki Bijak.

“Nah kenapa Aki tadi mengatakan kita harus sering-sering membuka dan mengecek buku catatan kita, agar kita bisa dengan segera bisa mengetahui jika ada kesalahan prosedur yang kita lakukan dalam menjalani kehidupan ini, selain juga kita bisa ‘menghisab’ amal kita .............’ Kata Ki Bijak.

“Menghisab amal kita ki...........?” Tanya Maula.

“Coba Nak Mas simak ayat ini;
14. "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu Ini sebagai penghisab terhadapmu" (Al Israa’).

“Allah menganjurkan kita, kalau tidak dikatakan memerintahkan kita untuk ‘menghisab’ dan menimbang apa-apa yang telah kita perbuat selama ini, baik amal perbuatan kita, maka bersyukurlah karena Allah telah membimbing kita untuk dalam melakukan amalan yang baik, buruk amal kita, bersegeralah kita memperbaikinya, agar kesalahan itu tidak bertumpuk sehingga sulit untuk diperbaiki lagi..........” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, kemarin pun banyak persediaan yang masih selisih, padahal dihitung setiap setengah tahun sekali, bagaimana kalau tidak pernah dihitung ya ki.......” Kata Maula.

“Ya, bagaimana kalau kita tidak pernah membuka catatan amal perbuatan kita, kita tidak akan pernah tahu apakah prosedur yang kita laksanakan sudah benar, apakah yang kita lakukan sudah benar, karena ketika kita sudah benar-benar dihisab dihadapan mahkamah Allah, kita tidak akan bisa memperbaikinya lagi...”,

“Seperti mungkin kalau diperusahaan Nak Mas, ketidakcocokan catatan dengan fisik yang tidak diketahui secara dini, akan mengakibatkan kerugian, baik karena kena pinalti atau kerugian lain, salah order atau biaya penyimpanan yang membengkak dan yang lebih parah, hilangnya kepercayaan dari pelanggan karena keterlambatan pengiriman perusahaan Nak Mas, misalnya.........................” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, benar.........., Ki, ketika kita membuka catatan kita kemudian kita menemukan banyak kebaikan disana, kita tidak boleh sombong kan ki...?” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, orang bijak tidak akan berbangga diri dengan amal baiknya, tapi justru ia lebih konsen pada hal mana yang harus diperbaikinya, apa saja yang belum dilakukannya dalam upayanya mendekatkan diri kepada Allah........., Nak Mas ingat dengan sebuah nasehat bagaimana seorang beriman memandang dosanya..............?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, orang beriman akan memandang dosanya bagai gunung besar yang siap menimpa dan membinasakannya, sementara orang zalim akan memandang dosanya ibarat lalat yang hinggap dihidungnya, kemudian ia tepis dan kemudian ia lupa akan dosanya..........” Kata Maula.

“Iya, jadi sekali lagi, Allah menganjurkan kita untuk membaca catatan kita, bukan untuk berbangga diri, tapi agar kita lebih berhati-hati dan bersegera memperbaiki diri............’ Kata Ki Bijak.

“Iya ki, kemarin ana sama sekali tidak kepikiran kalau dari stocktaking sekalipun kita bisa belajar banyak ya ki.............” Kata Maula.

“Itulah kenapa Aki sering mengatakan kepada Nak Mas untuk belajar ‘membaca’ kitab yang tersirat dalam keseharian kita, yaa minimal untuk kita pahami sendiri Nak Mas, syukur kalau ada orang lain yang bisa menerimanya...............” Kata Ki Bijak.

“Iya ki..............”Kata Maula sambil pamitan.

Wassalam

December 10, 2007

TATA HATI

“Sedang cari apa Nak Mas.........? Tanya Ki Bijak melihat Maula tengah sibuk mencari sesuatu digudang masjid.

“Ooh, ini ki, ana sedang cari martil serta tali kawat untuk mengikat tambatan hewan kurban ki...........” Kata Maula, yang memang tengah mempersiapkan tempat dan peralatan penyembelihan kurban beberapa waktu mendatang.

“Ketemu Nak Mas.............?” Tanya Ki Bijak.

“Dari tadi ana cari-cari, tapi belum ketemu juga ki, tempatnya berantakan sekali, barang yang sudah tidak terpakai bercampur dengan barang yang masih bisa dipakai, sehingga susah mencari sesuatu disini..........” Kata Maula.

“Iya, Aki maklum kalau Nak Mas tidak menemukan yang Nak Mas cari, karena kemarinpun Aki kebingungan mencari papan tulis yang biasa digunakan untuk taklim............” Kata Ki Bijak maklum.

“Iya ki, mungkin harus segera kita benahi tata ruang gudang ini ki, selain susah mencari sesuatu, ana khawatir barang-barang yang masih bisa dipakai ikut rusak karena tertimpa barang yang sudah usang, sayang khan ki..............” Kata Maula usul.

“Iya Nak Mas, apapun dan dimanapun, yang tidak ditata dengan rapih, sangat berpotensi menyebabkan ‘kerusakan, kesulitan untuk menemukannya atau bahkan kehilangan’ sesuatu yang mungkin sangat berharga bagi kita....................”Kata Ki Bijak sejurus kemudian.

“Yang Aki maksud bukan hanya gudang ini khan ki...........?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, gudang ini adalah sebuah ilustrasi yang sangat baik mengenai bagaimana jika hati kita tidak ditata sebagaimana mestinya...........” Kata Ki Bijak.

“Hati kita ki.........?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas...., hati kitapun harus kita tata dengan baik, agar tidak semrawut dan menyebabkan kita kebingungan ketika kita mencari sesuatu atau kerusakan yang sangat mungkin timbul akibat tidak tertatanya hati kita...........” Kata Ki Bijak

“Ana masih belum paham ki............” Kata Maula.

“Nak Mas masih ingat sebuah syair “hati tempat pahala dan dosa berlabuh.............?” Tanya Maula.

“Iya ki, itu lagunya Bimbo..............” Kata Maula.

“Nah Aki berpendapat begini Nak Mas, pahala itu ibaratnya barang-barang berharga yang kita peroleh dengan susah payah, pahala shalat kita, yang kita usahakan siang malam, mungkin pahala shaum kita dengan menahan sedemikian banyak godaan, pahala zakat kita dengan mengeluarkan sebagian uang kita, atau bahkan ilmu yang telah bertahun-tahun kita pelajari, kesemuanya adalah sesuatu yang sangat mahal dan berharga............” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki..............?” Tanya Maula penasaran.

“Sementara dosa itu ibaratnya barang-barang yang juga merupakan ‘hasil jerih payah’ kita, ada dosa karena kita berlaku ujub dengan ibadah kita, ada dosa karena riya dan sum’ah kita, ada dosa karena kedengkian hati kita, ada dosa karena dusta kita, ada dosa karena keliaran pandangan mata kita, dosa karena kenakalan pendengaran kita, dan masih banyak lagi barang-barang bekas dan sampah yang bernama dosa itu yang mungkin kita kumpulkan selama ini................” Kata Ki Bijak.

“Nah ketika barang-barang berharga kita, yaitu ‘pahala dan ilmu’, serta barang-barang bekas dan sampah yang bernama ‘dosa’ kita tempatkan bersama-sama dalam satu ruang hati kita, menurut Nak Mas apa yang mungkin terjadi............?” Tanya Ki Bijak.

“Kemungkinan pertama, barang-barang berharga kita, pahala kita, ilmu kita, rusak karena tertimbun barang rongsokan atau tertular karat dari barang yang rusak tadi.................” Kata Maula.

“Ya, benar Nak Mas, itu kemungkinan paling besar, pahala kita rusak karena dosa-dosa kita, meski ada kemungkinan lain yaitu barang berharga kita akan menutupi barang-barang bekas dan rongsokan tadi, ada satu kemungkinan pahala atau amal baik kita menghapus dosa-dosa kita, tapi menurut Aki, barang bekas itu, kurang layak untuk ditempatkan secara bersama-sama dengan barang kita yang mahal dan berharga,terlalu beresiko................” Kata Ki Bijak.tetap saja, Ada lagi............?” Tanya Ki Bijak.

“Kenapa ki................?” Tanya Maula.

“Ketika gudang kita sudah ditempati terlalu banyak barang-barang rongsokan, maka akan sulit bagi kita untuk menata gudang kita untuk terlihat lebih indah, karena sudah terlalu penuh oleh dosa kita yang bertumpuk............”

“Pun demikian halnya dengan hati kita, ketika hati kita sudah terisi penuh oleh dosa dan kemaksiatan, maka cahaya kebenaran, sebagai sarana penghasil pahala, akan sulit memasuki ruangan hati kita, yang telah terlebih dahulu dipenuhi dengan dosa dan karat maksiat................”Kata Ki Bijak.

“Bahkan ada yang mengatakan bahwa dosa yang kita lakukan, terlebih dosa besar, akan menghapus satu ilmu yang pernah kita pelajari dari hati untuk selamanya, Naudzubillah.........” Sambung Ki Bijak.

“Benar ki, seperti gudang masjid tadi, meskipun sebenarnya cukup luas, tapi sekarang menjadi terasa sempit sekali karena banyaknya barang bekas yang seharusnya tidak ditempatkan disana, sehingga tidak terlihat lagi mana yang baik dan mana yang rusak.............” Kata Maula.

“Itulah kenapa Allah berkali-kali mengingatkan kita untuk tidak mencampur adukan yang haq dan yang bathil, karena keduanya tidak akan pernah bisa bersama-sama ada dalam satu ruang, keduanya akan saling mengalahkan...., beruntung kalau hal yang baik yang menang, tapi yang lebih sering justru kita lebih dikuasai oleh kebathilan, maka kita akan menjadi celaka karenannya..............” Kata Ki Bijak sambil mengutip beberapa ayat al qur’an;

42. Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu[43], sedang kamu Mengetahui.(Al Baqarah)

“Aki benar ki, lalu bagaimana agar kita bisa menata ruang hati kita dengan baik, ki...........?” Tanya Maula.

“Kita orang yang paling tahu barang mana yang kita perlukan dan barang mana yang harusnya kita singkirkan, kitalah yang paling tahu mana yang pantas untuk kita simpan dihati kita dan hal mana yang harusnya kita sisihkan dari hati kita.............” Kata Ki Bijak.

“Kita tahu dusta itu hal yang tidak berguna, kenapa kita masih sering melakukannya.....? sehingga mengurangi space hati kita untuk berkata jujur....”

“Kita tahu bergunjing itu sama sekali tidak mendatangkan manfaat apapun bagi kita, kenapa kita masih senang melakukannya...? Sehingga mengurangi ruang hati kita untuk dzikir atau tadarus al qur’an.....”

“Kita tahu mengumpat itu perbuatan tercela, lalu kenapa masih banyak diantara kita yang saling mengumpat dan mencela, sehingga ruang hati untuk menyambung tali silaturahim menjadi berkurang karenannya.....”

“Pun ketika kita tahu shalat tepat waktu adalah sebuah keutamaan, lalu kenapa kita masih mendahulukan pekerjaan lain.....? Bukankah hal itu pun akan mempersempit ruang hati kita untuk bermunajat kepada Allah...?

“Kita tahu bahwa zakat yang disertai keikhlasan merupakan sebuah keharusan, lalu kenapa masih banyak diantara kita yang zakatnya ingin dilihat orang....?, Bukankah itu juga akan mengurangi nilai pahala yang seharusnya kita dapatkan.....?”

“Dan masih banyak lagi contoh-contoh perilaku kita yang lebih senang mengumpulkan sampah daripada menata barang berharga kita...............” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kalau bahasa sekarang istilahnya STMJ kali ya ki........” Kata Maula.

“Apa itu STMJ Nak Mas..........?” Tanya Ki Bijak.

“Shalat Terus Maksiat Jalan, shalatnya rajin, ujubnya bertambah, zakatnya rutin, pamrihnya makin menjadi, seperti itu khan ki........” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, seperti itu kira-kira......., Nak Mas memang pintar buat akronim seperti itu..........” Kata Ki Bijak sambil tersenyum.

“Ki, kapan kita akan merapihkan gudang itu ya ki...........?” Tanya Maula meminta persetujuan Ki Bijak.

“Silahkan kapan saja Nak Mas, kalau Nak Mas dan rekan-rekan senggang, tapi jangan lupa, hati kita, hati Aki, hati Nak Mas, hati rekan dan santri lain juga harus terus-menerus ditata dan dijaga, jangan sampai seperti gudang itu, kalau sudah campur aduk begitu, setidaknya kita memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak untuk membereskannya.............” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kalau hati kita sudah seperti gudang itu....,Naudzubillah, berapa lama kita menatanya kembali...........” Kata Maula.

“Karenanya mulailah menatanya dari sekarang, menata hati kita agar rapih berseri dipenuhi cahaya ilahi............., caranya tentu dengan menata apa yang sudah baik agar menjadi lebih baik, shalat yang sudah tepat waktu, ditambah dengan meningkatkan keikhlasan, zakat yang sudah jalan, ditingkatkan dengan ketulusan, nafilahnya dijaga, sunahnya dilaksanakan.........”

“kemudian mengeluarkan hal-hal yang tidak berguna dari keseharian kita, hentikan dengan segera kebiasaan kita berdusta, hentikan dengan segera kesenangan kita bergunjing, kikis rasa ujub, riya dan takabur, serta jangan pernah sekali-kali untuk menambah dan memasukan ‘sampah dosa’ kedalam ruang hati kita, sekecil apapun itu, berusahalah untuk menghindarinya................”Kata Ki Bijak

“Iya ki, semoga Allah menata hati ini menjadi ruang yang indah untuk dapat bermakrifat kepada-Nya ya ki...........” Kata Maula.

“Amiin, insha Allah Nak Mas...........” Kata Ki Bijak mengamini, sementara Maula meneruskan pekerjaannya menyiapkan tempat dan peralatan untuk idul kurban.

Wassalam

Desember 17, 2007