Friday, October 31, 2008

DOSA YANG DIANGGAP ‘BIASA’

42. "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?"
43. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,
44. Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,
45. Dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,
46. Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan,

“Naudzubillah, betapa keras ancaman Allah ya ki...........” Kata Maula, hatinya bergetar membaca ayat-ayat dala Surah Al Muddatstsir.

“Benar Nak Mas, dan sudah sepatutnya kita perhatikan dengan sungguh-sungguh peringatan itu agar kita tidak termasuk kedalam golongan yang akan dimasukan kedalam neraka saqar itu...............” kata Ki Bijak.

“Iya ki, mestinya begitu, tapi ana melihat sebuah fenomena yang justru bertolak belakang dari keharusan kita untuk berhati-hati dengan peringatan itu ki............” Kata Muala.

“Maksud Nak Mas............?” Tanya Ki Bijak.

“Meninggalkan shalat, yang dalam ayat tadi disebutkan sebagai asbab seseorang dimasukan kedalam neraka saqar, justru sekarang ini dianggap hal yang biasa, meninggalkan shalat sepertinya bukan sebuah dosa besar yang akan mengakibatkan seseorang dimasukan kedalam neraka saqar seperti ayat di tadi ki................” Kata Maula.

“Dan yang lebih memprihatinkan, jika mereka ditanya kenapa tidak shalat, mereka pasti punya seribu satu alasan untuk membenarkan alibi mereka untuk tidak shalat, karena sibuk, karena malas, karena sakit, dan lain sebagainya, bahkan ada yang lebih memprihatinkan lagi masih adanya orang-orang yang mempertanyakan kenapa harus shalat dan seterusnya.............” Tambah Maula.

“Benar Nak Mas, hal itu yang menjadi keprihatinan Aki sejak lama, apalagi fenomena seperti ini berkembang sedemikian pesat, semakin hari semakin banyak orang yang meninggalkan shalat tanpa rasa berdosa karena telah mengingkari perintah Allah yang telah memberi mereka kehidupan, telah memberi mereka banyak kenikmatan dalam berbagai bentuknya..............” Kata Ki Bijak tak kalah prihatin.

“Apa yang bisa kita lakukan ki..........?” Tanya Maula.

“dakwah bil hal Nak Mas, Nak Mas dan rekan-rekan disini, harus tetap teguh dan istiqomah menegakan shalat, untuk kemudian mengajak saudara-saudara kita yang belum shalat dengan memberi teladan kepada mereka, berikan pemahaman dengan santun, dan tuntun langka mereka secara perlahan, jangan terkesan menggurui atau memaksa, karena sangat mungkin hal itu justru akan membuat mereka semakin jauh dari shalat.........” Kata Ki Bijak.

“Sebab lain yang dapat menyebabkan seseorang dimasukan kedalam neraka Saqar sebagaimana ayat tadi adalah keengganan kita untuk berbagi dengan sesama kita yang kekurangan, kita sering berlaku kikir, meski kita tahu, kita mampu untuk sekedar memberi makan fakir miskin..........” kata Ki Bijak lagi.

“Yang ketiga,“Dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya’ Nak Mas paham maksud ayat ini............?” Tanya Ki Bijak.

“Eeeeh, mungkin ayat ini untuk memperingatkan orang-orang yang suka bergunjing, ghibah atau berbicara yang tidak patut ya ki............” kata Maula.

“Benar Nak Mas, ayat ini untuk memperingatkan mereka yang suka mengunjingkan sesamanya, orang yang suka membicarakan aib orang lain, dan orang yang suka berkata-kata bathil, bisa berkata-kata kotor, atau mengumpat sesamanya......, dan kenapa Nak Mas harus berhati-hati, karena disekitar kita banyak sekali orang-orang yang memiliki hobi atau kegemaran berkata-kata bathil............” kata Ki Bijak.

Maula manggut-manggut, “Ki, kalau ada orang yang memperolok-olok ajaran agama, atau membicarakan negeri akhirat yang seolah-olah mainan, atau membicarakan malaikat yang katanya bisa dibohongi dan lainnya dengan tujuan bercanda, apakah hal seperti itu juga termasuk perkataan bathil ki......?” Tanya Maula.

“Naudzubillah, berhati-hati dengan perkataan semacam itu Nak Mas, terlepas dari apapun tujuanya, memperolok-olok ajaran agama atau menjadikan kehidupan akhirat sebagai bahan olok-olok, adalah perbuatan yang sangat-sangat tidak terpuji, dan bahkan dapat mengundang murka Allah....., itu sebuah kebathilan, Aki jadi bertanya-tanya Nak Mas, apakah tidak ada guyonan lain yang lebih menarik dari guyonan yang sangat berresiko seperti itu Nak Mas.....?” Kata Ki Bijak penuh heran.

“Ana juga tidak mengerti ki, tapi memang dalam keseharian, ana sering menemukan percakapan-percakapan seperti itu.......” Kata Maula.

“Memang benar manusia itu tempatnya salah dan dosa, tapi bukan dosa-dosa yang disengaja seperti itu yang dimaksudkan, kita tidak bisa bermain-main dengan dosa-dosa, sekecil apapun dosa itu, karena kita tidak tahu apakah kita masih berkesempatan untuk ‘mencucinya’dengan taubat kepada Allah.......”

“Ada banyak hal yang bisa kita bicarakan selain hal yang bathil, kita bisa berbicara mengenai keluarga, kita bisa berdiskusi mengenai kebaikan dalam agama, kita bisa berbagi pengalaman mengenai berbagai kebaikan yang bisa bermanfaat bagi kita.......................” Kata Ki Bijak.

“Lagi pula, menurut ana orang semacam ini berani banget ya ki......” Kata Maula.

“Mungkin mereka belum tahu peringatan Allah seperti ayat ini Nak Mas........, dan tugas kitalah untuk memberikan pemahaman pada mereka untuk mengurangi atau kalau bisa menghilangkan kebiasan seperti itu............” Kata Ki Bijak.

“Insya Allah Ki............” Kata Maula sambil pamitan.

Wassalam

October 31, 2008

Monday, October 27, 2008

UANG TIDAK BISA MEMBELI WAKTU

Detik, menit, jam, hari, kemudian minggu
Bulan, tahun, dan kemudian windu
Dasawarsa berlalu, seabadapun begitu
Waktu tak mungkin menunggu mereka yang duduk termangu

Bayi, bocah, remaja, muda kemudian dewasa
Tua, beruban, keriput, gigipun tinggal dua
Tubuh renta, tenaga pun tak lagi perkasa
Dan tanpa disadari, kini sudah diujung senja

Ketika malam menjelang, kita bersiap menutup mata
Adakah yang bekal yang bisa kita bawa
Untuk perjalanan panjang dialam sana
Yang kita tak tahu akan seperti apa

Setelah tertidur entah berapa lama dialam barzah
Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan oleh Yang Maha Pemurah
Dan tak akan ada dayamu untuk berkilah
Dari kebajikan dan salahmu walau seberat dzarrah

Dan apabila manusia melihat catatan-catatan amalnya
Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya
Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dilalaikannya
Maka tiap-tiap jiwa ada yang menangis dan ada pula yang bergembira

Taatmu ketika didunia
Kan menjadikanmu golongan orang yang tertawa
Baktimu ketika didunia
Lapang jalanmu menuju surga

Lalaimu ketika didunia
Kan menjadikanmu golongan orang yang sengsara
Khianatmu ketika didunia
Pengantar langkahmu kelembah neraka

Kepada setiap jiwa tlah diilhamkan
Jalan kefasikan dan jalan ketaqwaan
Arah mana yang menjadi pilihan
Neraka atau surga menanti diujung jalan

---------------------------------------------
---------------------------------------------
---------------------------------------------
---------------------------------------------

“Masya Allah, syawal sudah hampir selesai ya ki...........” Kata Maula, ketika melihat bulat sabit dilangit yang menandai akan berakhirnya bulan syawal 1429 H.

“Benar Nak Mas, beberapa hari kedepan, insya Allah kita akan memasuki bulan dzulqoidah, lalu Dzulhijjah dan kemudian bulan Muharam lagi, yang berarti tahun baru hijriyah lagi, dan berkurang lagi sisa waktu kita didunia ini...............” kata Ki Bijak.

“Cepat sekali ya ki waktu bergulir dan berganti.............” kata Maula sambil terus memandangi bulan sabit yang teramaram tersaput awan.

“Bahkan sangat cepat Nak Mas, enam puluh atau tujuh puluh tahun kehidupan kita didunia ini, mungkin hanya sepersekian hari saja dari kehidupan waktu akhirat, maka rugilah mereka yang menyia-nyiakan waktunya yang sangat singkat itu........” kata Ki Bijak.

“Waktu tidak akan pernah berhenti atau menunggu, waktu juga tidak akan pernah kembali barang satu detikpun, seperti untaian puisi Nak Mas ini, detik,menit, jam, hari, minggu dan bulan, akan berlalu tanpa mau menoleh, tanpa mau menunggu, tanpa mau peduli pada mereka yang lalai memanfaatkannya.............” Kata Ki Bijak.

“Ki, lalu kalau ada orang yang mempergunakan hampir seluruh waktunya untuk mencari uang, dengan alasan waktu adalah uang, bagaimana ki...........?” Tanya Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar kata-kata Maula; “Nak Mas, masih ingat ayat yang menyebutkan tujuan penciptaan jin dan manusia...? Tanya Ki Bijak sejurus kemudian.

“Ya, ki.....................” kata Maula, sambil mengucapkan ayat dimaksud;


56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz_Dzaariyaat)


“Bagi kita, waktu lebih dari sekedar uang Nak Mas, waktu lebih berharga dari sekedar tumpukan materi atau dari gunungan emas sekalipun, karena semuanya, baik itu uang, baik itu tumpukan materi,baik itu gunungan eman, tidak akan pernah mampu membeli waktu barang sedetikpun...........” kata Ki Bijak.

“Dan Nak Mas bisa lihat dengan mudah, apakah mereka yang mempunyai uang banyak, mobil berderet, deposito dimana-mana, mampu membeli waktu barang sehari saja.....?, misalnya mereka ingin membeli waktu shalat dhuhurnya yang kelewat kemarin....?” Tanya Ki Bijak.

“Ttentu tidak bisa, ki...........?” Kata Maula.

“Jadi kenapa mereka harus menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak pernah bisa membeli waktu....?” Kata Ki Bijak setengah bertanya.

“Dan kalau toh kita diwajibkan menjalankan kasab lahiriah kita untuk mencari uang, carilah, bekerjalah atau berusahalah mencarinya, tapi satu yang mesti Nak Mas ingat, jangan sampai kesibukan dan kasab tersebut melalaikan kewajiban utama kita untuk beribadah kepada Allah swt, pergunakan waktu dalam kadar, skala dan prioritas yang benar, sehingga kita tidak terjebak mengorbankan sesuatu yang lebih besar untuk sesuatu yang lebih kecil, mengorbankan kehidupan akhirat yang kekal abadi, hanya untuk mengejar kehidupan dunia yang sebentar dan fana ini..........” kata Ki Bijak lagi.

“Kalau kemudian timbul pertanyaan untuk apa kita diwajibkan ibadah, maka sesungguhnya ibadah pada dasarnya adalah untuk kebutuhan dan keutamaan manusia itu sendiri, karena Allah tidak memerlukan apapun......,“Ibadah ('abada : menyembah, mengabdi) merupakan bentuk penghambaan manusia sebagai makhluk kepada Allah Sang Pencipta. Karena penyembahan/pemujaan merupakan fitrah (naluri) manusia, maka ibadah kepada Allah membebaskan manusia dari pemujaan dan pemujaan yang salah dan sesat…..” Kata Ki Bijak.

“Ibadah, memiliki aspek yang sangat luas, yang dapat diartikan bahwa ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah swt, baik itu berupa ucapan, perbuatan dan bahkan perbuatan-perbuatan hati seperti selalu berdzikir mengingat Allah, merupakan aktivas ibadah…………”

“Nak Mas masih ingat kegiatan ibadah dalam islam dikelompokan kedalam berapa kelompok…………?” Tanya Ki Bijak kemudian.

“Iya ki, dalam Islam dikenal dua kelompok atau dua macam ibadah, yaitu yang pertama Ibadah Maghdhah (Khusus), yaitu ibadah yang telah ditentukan cara, rukun dan syaratnya secara detail, seperti shalat, zakat, shaum ramadhan, haji ki………….” Jawab Maula.

“Dan yang kedua, ibadah Ghoiru Marghdah/Amah (Muamalah), yaitu ibadah dalam arti umum, segala perbuatan manusia sesuai dengan prinsip,norma dan kaidah-kaidah yang berlaku baik secara agama maupun secara umum berlaku dimasyarakat;misalnya : menyantuni fakir-miskin, mencari nafkah, bertetangga, bernegara, tolong-menolong, dan lain sebagainya……….” Sambung Maula.

“Nak Mas benar, dan agar ibadah kita, baik ibadah Maghdhah maupun muamalah memiliki ‘nilai’ disisi Allah swt, semua ibadah itu harus memenuhi standard, seperti Iman kepada Allah dan Hari akhir, karena ibadah yang tidak dilandasi keimanan, hanya akan laksana fatamorgana saja…….;

“Kemudian, agar ibadah kita memiliki nilai disisi Allah swt adalah adanya keikhlasan dalam melakukannya, murni, semata karena Allah swt, tanpa ikhlas, ibadah kita akan kehilangan makna dan ruhnya…………..”

“Dan yang ketiga, agar ibadah kita memiliki nilai disisi Allah swt adalah dengan melaksanakan ibadah tersebut sesuai dengan petunjuk dan tuntunan syariat yang benar dari Allah swt, tidak ditambah atau dikurangi………….” Sambung Ki Bijak panjang lebar.

“Ana mengerti ki…., lalu tadi Aki mengatakan bahwa sebenarnya ibadah itu untuk kebutuhan dan keutamaan manusia itu sendiri ki…….?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, Nak Mas perhatikan ayat – ayat al qur’an ini…..” kata Ki Bijak sambil menunjukan beberapa ayat al qur’an;

29. (Allah berfirman): "Inilah Kitab (catatan) kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya kami Telah menyuruh mencatat apa yang Telah kamu kerjakan". (Al Ankabut)

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Al Baqarah)
103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[658] dan mensucikan[659] mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (At Taubah)

[658] Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda

[659] Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.

197. (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[122], barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats[123], berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa[124] dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal. (Al Baqarah)

[122] ialah bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah.

[123] Rafats artinya mengeluarkan perkataan yang menimbulkan berahi yang tidak senonoh atau bersetubuh.

[124] maksud bekal takwa di sini ialah bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau minta-minta selama perjalanan haji.

“Kesemuanya, baik itu terpeliharanya kita dari perbuatan keji dan munkar, lalu pembentukan karakter orang yang bertakwa, kemudian pembersihan harta dan jiwa kita, serta pelatihan untuk menahan diri dari perbuatan dan perkataan kotor sebagaimana diungkapkan oleh ayat-ayat ini, merupakan kebutuhan manusia guna mencapai kebaikan fi dunya wal akhirat kita sebagai manusia…………” Lanjut Ki Bijak.

“Sekali lagi Aki nasehatkan kepada Nak Mas, bahwa kita diciptakan bukan sebagai mesin pencari uang, tapi sebagai hamba yang diwajibkan kepada kita untuk beribadah semata kepada Allah swt, maka carilah uang dan nafkah itu sebagai penyempurna kasab dan syariat kita, tapi diatas semua itu laksanakan pengabdian kita selaku hamba kepada Allah swt, insya Allah Nak Mas tidak akan menjadi robot yang distir oleh kepentingan-kepentingan dunia yang sesaat ini.......................” Kata Ki Bijak lagi.

“Insya Allah ki..................” kata Maula sambil menyalami gurunya untuk pamitan.

Wassalam

Oktober 27,2008

Tuesday, October 21, 2008

DAN TAHUKAH KAMU, BOLEH JADI HARI KIAMAT ITU (SUDAH) DEKAT?


(Asy-Syuura:17)
Wahai diri, wahai sahabat, kapan kau hendak bertaubat
Sementara Waktumu kian dekat
Dengan kedatangan sang malaikat
Penjemput ajalmu untuk kembali ke akhirat

Tidakkah kau tahu, kiamat sudah dekat
Tidakkah kau lihat, tanda-tandanya yang kiat lekat
Dari sinar mentari yang makin menyengat
Hingga panggung dunia yang dipenuhi maksiat

Dalam al waqiah sudah jelas dan nyata
Kiamat takkan terbantah kedatangannya
Kejadian yang merendahkan dan meninggikan sebagian kita
Maka beruntunglah mereka yang tinggi derajatnya

Ketika bumi diguncang sedahsyat-dahsyatnya
Ketika gunung hancur seluluh-luluhnya
Ketika itulah manusia terbagi dalam golongan yang tiga
Golongan kiri, golongan kanan dan golongan awal yang didekatkan kepada_Nya

Dan orang-orang yang beriman paling dahulu
Mereka berada dalam kenikmatan sepanjang waktu
Mereka mendapatkan apa yang mereka mau
Buah iman dan taqwa mereka dahulu

Dan golongan kanan, alangkah bahagianya mereka
Dipenuhi kenikmatan surga
Dari pohon pisang yang bersusun buahnya
Hingga bidadari bermata jeli, penuh cinta lagi sebaya seumurnya.

Dan golongan kiri, alangkah malangnya mereka
Diliputi siksa neraka
Dari air yang mendidih sebagai minumnya
Hingga naungan asap hitam yang menyelimutinya.

Apa yang akan kau dapat nanti
Bergantung pada amalmu hari ini
Dan apapun pilihanmu didunia ini
Kan kau temui kebenaran janji Allah yang pasti

Bersegera menuju Allah untuk bertobat
Satu-satunya pilihan yang tepat
Agar kita tidak terlambat
Karena kiamat (boleh jadi) sudah dekat


“Waah Nak Mas sekarang rajin buat puisi, ada apa gerangan........?” Tanya Ki Bijak, demi membaca bait-bait puisi yang ditulis Maula.

“Tidak apa-apa ki, ana hanya sedang mencoba mengungkapkan apa yang ana rasa akhir-akhir ini, dan coretan ini bukanlah puisi yang sebenarnya ki, hanya sekedarnya saja...........” kata Maula.

“Kadang kita memang memerlukan media untuk mengekspresikan kata hati atau perasaan kita, dan puisi ini merupakan salah satu sarana untuk itu, dan Aki lihat Nak Mas cukup berbakat untuk menjadi penyusun puisi yang bagus........” kata Ki Bijak setengah memuji.

“Terima kasih ki............” Kata Maula sedikit malu mendengar pujian gurunya.

Ki Bijak kembali melihat-lihat puisi gubahan Maula, sejurus kemudian, Ki Bijak menarik Napas panjang; “ Nak Mas benar, kiamat adalah kejadian yang pasti adanya, terlepas orang mengimani atau tidak, kiamat pasti akan tiba, meski kapan terjadinya, tidak ada satupun mahluk yang mengetahuinya, karena hal itu merupakan rahasia Allah swt...........” Kata Ki Bijak.

“Dan karena ketidaktahuan kita itulah kita harus senantiasa bersiap setiap saat untuk menyambutnya, terutama menyambut ‘kiamat kecil’, menyambut waktu kematian kita, yang kita tidak tahu entah esok atau lusa..................” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, ana kadang merasa sangat ‘takut’ bila membayangkan waktu kematian itu tiba, ana tidak dapat membayangkan saat-saat itu................” Kata Maula.

“Kita memang patut merasa ‘takut’ menanti kedatangan saat itu, selama bekal kita untuk menempuh perjalanan nan panjang itu masih kurang, atau kita masih merasa diselimuti beban dosa yang menggunung...........,

“Sebaliknya, kita tidak perlu terlalu risau ‘manakala kita sudah mengikuti ‘aturan main’ yang telah digariskan Allah swt.............” kata Ki Bijak.

“Yang patut menjadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita sudah mengetahui dengan benar aturan main itu dan sudah melaksanakannya sesuai dengan apa yang digariskan, sehingga kita bisa berharap amal ibadah kita sampai kepada Allah swt.........” kata Ki Bijak.

“Ki, bagaimana tata cara taubat yang benar itu ki.....?” Tanya Maula.

“Merujuk pada pendapat banyak ulama, tobat mensyaratkan adanya penyesalan yang dalam, penyesalan yang keluar dari hati nurani terdalam terhadap salah dan khilaf yang pernah dilakukan, kemudian penyesalan itu diikuti dengan kesungguhan tekad untuk berhenti dan tidak mengulangi perbuatan-perbuatan tersebut, serta memohon ampun kepada Allah dengan sungguh-sungguh, bukan sekedar ucapan, tapi juga harus dibuktikan dengan amal perbuatan, berupa upaya untuk senantiasa berbuat kebaikan, insya allah, mereka yang bersegera untuk menuju ampunan Allah, Allah akan senantiasa membuka pintu maghfirah_Nya bagi mereka yang bersungguh-sungguh menginginkannya, selama pintu taubat itu benar-benar ditutup dengan ajal yang menjelang.................” kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an;

160. Kecuali mereka yang Telah Taubat dan mengadakan perbaikan[105] dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah)

[105] Mengadakan perbaikan berarti melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

“Kemudian ada pula yang menambahkan syarat taubat yang berkaitan dengan kesalahan kita kepada sesama manusia, yaitu dengan meminta maaf kepada yang bersangkutan, dan mengembalikan hak orang yang mungkin kita dhalimi................” tambah Ki Bijak.

Maula diam,menyimak apa yang barusan dituturkan gurunya; kemudian pelan terdengar dari mulutnya ucapan istighfar;

23. Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (Al A’raaf)

“Perbanyak dan perbaiki senantiasa istighfarnya Nak Mas, semoga istighfar kita menjadi asbab gugurnya khilaf dan salah kita, sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi dikelak kemudian hari.....” Kata Ki Bijak.

“Insya Allah ki............” Jawab Maula sambil terus beristighfar ; "Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Wassalam
October 21, 2008

Friday, October 17, 2008

PERSPEKTIF


“Nak Mas perhatikan lingkaran merah dan biru yang ditengah ini, menurut Nak Mas, mana yang lebih besar.........?’ Tanya Ki Bijak.

“Lingkaran biru lebih besar dari yang merah ki.....” jawab Maula spontan.

“Nak Mas yakin...?” coba perhatikan lagi, mana yang lebih besar.......” Kata Ki Bijak.

Maula mulai memperhatikan lebih teliti dua buah lingkaran berwarna merah dan biru ditengah lingkaran, sejurus kemudian. “ ooh, besarnya sama ki.......” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum, “Nak Mas benar, kedua lingkaran itu sama persis, lalu kenapa tadi Nak Mas melihat lingkaran warna biru lebih besar......?” Tanya Ki Bijak.

“Karena secara sepintas, tadi ana lihat yang biru memang kelihatan lebih besar ki...................” Kata Maula.

“Jawaban yang tepat kenapa lingkaran biru kelihatan lebih adalah karena adanya perbedaan ukuran lingkaran yang mengelilinginya, lingkaran merah dikelilingi lingkaran yang lebih besar, sementara lingkaran biru dikelilingi lingkaran yang lebih kecil.....................” Kata Ki Bijak.

“Artinya apa ki........?” Tanya Maula.

“Mungkin hal ini tidak akan berarti banyak bagi orang lain, tapi bagi Aki, ini adalah sebuah pelajaran agar kita lebih bijak dalam melihat sesuatu..........” Kata Ki Bijak.

“Ana masih belum mengerti ki.................” Kata Maula.

“Begini Nak Mas, kedua objek, (lingkaran merah dan lingkaran biru) yang sebenarnya mempunyai ukuran yang sama akan tampak berbeda, dan ‘perbedaan’ ini diakibatkan oleh hanya perspektif yang berbeda, cara pandang yang berbeda, yang orang yang memandang pun berbeda....., dan didunia nyata, adanya perbedaan pandangan seperti itu juga banyak terjadi Nak Mas, banyak orang memperdebatkan sesuatu dari sisi dan sudut pandang mereka, sehingga tak jarang menimbulkan friksi yang sangat tajam, karena masing-masing orang saling bersikukuh dengan sudut pandangnya masing-masing..........” kata Ki Bijak.

“Oooh ana mengerti sekarang ki, ana sering juga mendapat kiriman e-mail yang isinya kira-kira seperti itu, kedua belah pihak saling mengemukakan dalil-dalil yang ana sendiri belum sampai kesana ki, dan kedua pihak juga merasa dalilnya yang paling shaheh, padahal kalau merunut apa yang Aki katakan tadi, dua-duanya bisa jadi benar, atau dua-duanya bisa jadi salah ya ki.........” kata Maula.

“Aki percaya mereka adalah orang-orang yang mumpuni dibidang itu Nak Mas, tidak mungkin mereka mengemukakan dalil itu tanpa mempelajarinya terlebih dahulu, tapi bagi kita yang masih miskin ilmu, hendaknya kita lebih hati-hati dan lebih bijak dalam melihat dan menilai sebuah objek, karena ya itu tadi, sudut pandang kita masih sangat-sangat terbatas.........” kata Ki Bijak.

“Lalu bagaimana agar kita bisa melihat sebuah objek dengan nyata dan tidak sama ki.............” tanya Maula.

“Nak Mas perhatikan lagi gambar ini, sekarang kita hilangkan lingkaran – lingkaran disekitar lingkaran merah dan biru ini....................” Kata Ki Bijak sambil menghapus lingkaran disekitar kedua objek tadi.




“Nak Mas lihat hasil, tanpa perlu pengamatan yang detail pun kita akan bisa dengan cepat melihat dan memutuskan bahwa kedua objek itu sama besar.............” kata Ki Bijak.

“Artinya apa ki.......................?” Tanya Maula.

“Artinya untuk melihat ‘kebenaran’ sesuatu, kedua belah pihak harus sama-sama menghilangkan ‘lingkaran-lingkaran ego’ disekililingnya, yang besar yang merasa paling benar, yang kecil yang menutup diri dengan pendapat dan pemikiran orang lain, dan ketika kedua belah pihak sama-sama melihat objek dengan ‘mata dan hati dan niat yang bersih’ untuk mencari kebenaran, insya allah, benturan, friksi atau sejenisnya yang banyak menghabiskan energi itu tidak perlu terjadi.........” kata Ki Bijak.

“Aki benar ki, ana sekarang dapat melihat dengan jelas bahwa kedua lingkaran ini sama besar, tapi kenapa banyak orang seperti sulit untuk menghilangkan ‘lingkaran-lingkaran ego disekelilingnya ya ki.............?” Kata Maula.

“Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang merasa sudah sedemikian besar, dan disisi lain ada banyak faktor pula yang menyebabkan orang berfikir kerdil dan tidak mau menerima perbedaan dan pendapat orang lain, Nak Mas......” Kata Ki Bijak.

“Lalu bagaimana cara menghilangkan ego itu ki....?” Tanya Maula.

“Lingkaran yang besar harus berada dilingkungan yang sama atau lebih besar dengan dia, dan lingkaran yang kecil pun harus berbuat yang sama..............” Kata Ki Bijak.

Maula diam tanda belum mengerti.

“Artinya begini Nak Mas, seperti Nak Mas atau Aki, selama kita disini, kita mungkin akan merasa sudah mampu atau setidaknya lebih mampu dari santri-santri lain, tapi sangat mungkin pengetahuan kita ini belum ada apa-apanya dibanding orang lain diluar kita, begitupun dengan santri-santri itu, mungkin ilmu mereka sudah jauh lebih baik dibanding mereka-mereka yang tidak pernah belajar dipesantren atau madrasah..........”

“Dengan membuka diri dan membuka wawasan, maka kita tidak akan terjebak pada pemikiran yang sempit atau kata orang sunda mah kurung batokeun............”Tambah Ki Bijak.

“Iya ki, ana merasakan hal itu, ana masih merasa sangat bodoh dibanding teman-teman ana..............” kata Maula.

“Pesan Aki, jangan sampai perasaan itu membuat Nak Mas merasa imferior, sebaliknya justru sebuah tantangan bagi Nak Mas untuk mengejar ketertinggalan Nak Mas dari rekan-rekan Nak Mas itu, dan sebaliknya jangan sekali-kali Nak Mas merasa sudah merasa paling mampu, karena hal itu akan merusak sudut pandang dan cara berfikir Nak Mas dalam melihat sesuatu hal..........” kata Ki Bijak.

“Iya ki, insya Allah ana akan senantiasa mengingat pesan dan nasehat Aki...........” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum, sambil membalas uluran tangan Maula yang pamitan.

Wassalam

October 17,2008

Thursday, October 16, 2008

MASJIDKU YANG KEMBALI SUNYI

Sepi, kini aku kesepian lagi
Setelah sebulan lamanya aku berseri
Oleh ramai orang yang mengunjungi
Sunyi, kini aku kesunyian lagi

Kemana aku harus bertanya
Tentang jamaahku yang kini tiada
Setelah sebulan lamanya
Mereka ramai mendatangiku dengan bersuka

Ramadhan belum lagi genap sebulan berlalu
Orang-orang pun masih enggan melepas baju baru
Tapi sebagian mereka lupa apa yang hendak dituju
Selepas ramadhan mestinya mereka lebih taat sujud dan ruku’

Aku rindu barisan sandal berderet ditanggaku
Aku rindu riuh takbir menggema diruanganku
Aku rindu hamparan sajadah dilantaiku
Aku rindu lirih dzikir menemaniku

Namun kerinduan itu hanyalah tinggal kerinduan
Aku kini laiknya bangunan tak bertuan
Orang-orang enggan dan tak lagi berkenan
Memasuki ruanganku seperti kemarin ramadhan

Tidakkah sebulan latihan
Tidak cukup untuk memberi kesadaran
Bahwa ramadhan adalah latihan
Yang harus dibuktikan pada bulan-bulan berjalan

Tarawih, tadarus dan shalat malam
Bukanlah sebatas amalan sebulan
Melainkan sebuah kebutuhan
Bagi mereka-mereka yang beriman

Lailatul qadr yang banyak dinanti
Tak akan banyak berarti tanpa bukti

…………………………………………………
…………………………………………………
…………………………………………………
…………………………………………………

“Siapa yang buat puisi ini Nak Mas…..” Tanya Ki Bijak sambil membaca beberapa bait puisi yang belum selesai.

Maula tersipu malu menyadari coretan puisinya dibaca oleh Ki Bijak “Aaah ini bukan puisi ki, hanya coretan-coretan biasa saja, ana tidak pandai membuat puisi ki………..” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum; “Puisi ini lumayan bagus Nak Mas, Aki maklum dengan isi puisi ini, karena Aki pun melihat fenomena yang sama dengan apa yang Nak Mas lihat….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ana merindukan kehangatan suasana ramadhan, dimana masjid ini selalu dipenuhi jamaah, ana juga merindukan suara tadarus yang mengalun syahdu ditengan suasana malam yang hening, ana merasa seperti kehilangan sesuatu sepeninggal ramadhan ini ki……….” Kata Maula.

“Bersyukurlah jika Nak Mas merasakan kehilangan ramadhan, insya Allah artinya Nak Mas tahu apa yang terkandung dalam bulan suci itu, sementara bagi sebagian yang lain, ramadhan justru sebuah beban yang sangat memberatkan…….” Kata Ki Bijak.

“Dan Nak Mas tidak perlu terlalu heran dengan kondisi masjid ini sepeninggal ramadhan, seperti sering disampaikan oleh para ulama dan para mubaligh, ramadhan adalah bulan ujian, ramadhan adalah bulan latihan, ramadhan adalah bulan seleksi untuk memilah siapa yang terbaik iman dan amalnya……, dan layaknya sebuah ujian, tidak semua peserta bisa lulus dari ujian tersebut, ada yang harus mengulang, atau bahkan ada yang kena diskualifikasi karena mereka berusaha berbuat curang dalam mengikuti ujian……..” Kata Ki Bijak.

“Benar ki, dalam sebuah ujian ada peserta yang harus mengulang atau bahkan harus tinggal kelas karena gagal menyelesaikan ujian dengan baik……” Kata Maula.

“Menahan lapar, menahan dahaga, menahan pandangan mata dari hal-hal yang diharamkan Allah, menahan mulut dari ucapan-ucapan yang tidak terpuji, dan bahkan menahan keinginan-keinginan hati dari selain Allah adalah seranagkaian mata ujian yang harus dilalui oleh setiap peserta ramadhan Nak Mas, disamping juga mereka harus menjaga perilaku dan anggota jasmani lainnya dari hal-hal yang dapat menggugurkan atau setidaknya akan mengurangi nilai ujian itu sendiri……………”

“Dan siapapun pasti mengakui bahwa ujian seperti ini sangat-sangat berat untuk bisa dilalui, oleh karenanya mereka yang ‘lulus’ dari ujian yang sangat berat itu, layak mendapat predikat terhormat dengan sebutan mutaqien, orang yang bertaqwa, sebuah kehormatan besar yang disematkan Allah bagi hamba-hamba_Nya yang lulus dalam ujian tersebut………………….” Kata Ki Bijak.

“Ki, bagaimana kita bisa melihat ‘hasil’ujian ramadhan kita Ki….?” Tanya Maula.

“Lihat dengan ini Nak Mas………..” Kata Ki Bijak sambil menunjuk dadanya.

“Lihat dengan hati ki………..?” Tanya Maula.

“Benar, lihat dengan mata hati kita dengan jujur Nak Mas, pertama lihat apakah kita merasa kehilangan ramadhan yang baru saja berlalu, kedua lihat adakah ibadah dan pengabdian kita kepada Allah cenderung meningkat setelah ramadhan…….” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki………..” Tanya Maula.

“Kalau kita merasa sangat kehilangan ramadhan, insya Allah ada segelintir mutiara iman didada kita, dan kalau ibadah kita setelah ramadhan cenderung meningkat, insya Allah artinya kita mendapat nilai yang cukup bagus dalam bulan latihan kemarin….., semoga dengan nilai itu kita akan bisa naik ke kelas yang lebih tinggi, kalau sebelum ramadhan shalat fardhunya masih dirumah, sekarang, setelah naik kelas, jamaahnya harus lebih rajin, kalau sebelum ramadhan shalatnya masih telat dan malas-malasan, setelah naik kelas, waktu shalatnya dijaga, ghirahnya dipelihara, khusunya ditingkatkan dan seterusnya……”

“Pun kita harus lebih baik lagi dalam menjaga tutur kata kita, perilaku kita, pandangan mata kita, langkah kaki kita, pun dalam mengendalikan keinginan-keinginan, jika nilai ramadhan kita memadai, semuanya akan menjadi lebih baik………” Kata Ki Bijak.

Maula manggut tanda mafhum; “Lalu akan halnya mereka yang shaumnya sebulan penuh, tapi tetap seperti sebelum ramadhan, atau bahkan cenderung menurun bagaimana ki……….” Tanya Maula.

“Nak Mas pernah perhatikan bagaimana perilaku ular….?” Tanya Ki Bijak.

Maula tak menjawab, menunggu kelanjutan nasehat Ki Bijak.

“Ular, kalau sudah dapat mangsa, ia akan puasa, mengurung diri sampai mangsa yang ditelannya dicerna semua, puasa ular bisa berhari-hari tergantung jenis dan besar mangsa yang ditelannya……” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki………?” Tanya Maula.

“Lalu setelah selesai puasa itu, ular tidak lantas menjadi ‘baik’, tapi justru bertambah ganas, dengan kekuatan dan tenaga barunya, dan kemudian ia kembali berburu mangsa, begitu seterusnya…., Nah mereka yang shaum ramadhannya tidak menimbulkan efek kebaikan bagi dirinya, ditamsilkan dengan puasanya ular, sebaliknya mereka yang shaumnya benar biasa ditamsilkan dengan puasanya ulat……”

“Iya ki, ulat yang berbulu dan menjijikan sekalipun, setelah bermetaforposa didalam kepompong, akan berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan lucu……….” Kata Maula menimpali.

“Dan dibalik keindahan dan kelucuannya, kupu-kupu pun menyimpan berbagai ibrah yang sangat baik untuk kita pelajari, dari bagaimana kupu-kupu berperan dalam proses penyebaran bibit tanaman dan bunga, dari bagaimana kupu-kupu berperan dalam proses perkawinan putik dan benang sari dalam perkebangbiakan bunga, dari bagaimana kupu-kupu bisa hinggap disegala bidang dan batang tanaman tanpa merusak tanaman atau bidang yang dipijaknya, semua itu sebuah ibrah yang luar biasa besar bagi kita yang mau memaknainya……..” Kata Ki Bijak.

“Apa maknanya ki…..?” Tanya Maula.

“Seorang yang nilai shaumnya baik, akan lahir kembali sebagai penyebar bibit-bibit kebaikan dimanapun diberada, seorang yang nilai shaumnya baik, akan lahir kembali sebagai motor bagi perkembangan nilai-nilai luhur disekililingnya, seorang yang nilai shaumnya baik, akan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai agama, moral dan nilai-nilai luhur lainnya, sebagaimana kupu-kupu tidak pernah merusah pucuk bunga yang dihinggapinya, seorang dengan nilai shaum tinggi akan senantiasa memegang prinsip dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung, sehingga ia akan terhindar dari sifat-sifat liar, brutal atau pembuat onar, karena ia terproteksi dengan nilai shaumnya yang tinggi……….” Kata Ki Bijak.

Maula kembali melihat bait-bait puisinya, dalam hatinya bertanya, adakah sunyinya masjid ini karena masih banyaknya nilai ramadhan yang ‘merah’, sehingga belum mampu membawa orang-orang itu kembali kemasjid untuk memakmurkannya.

“Nak Mas, selain ramadhan, keberadaan sebuah masjid juga merupakan ujian dan barometer bagi keimanan seseorang, Nak Mas perhatikan ayat Allah ……”


18. Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.


“Maka itu bulatkan tekad Nak Mas untuk senantiasa memakmurkan masjid, dengan sungguh-sungguh, dengan ketulusan, semoga masjid ini tidak terlalu kesepian dengan keberadaan Nak Mas dan teman-teman disini……” Kata Ki Bijak.

“Insya Allah ki…………” Kata Maula mengakhiri percakapan hari itu.

Wassalam

Oktober 16,2008

Wednesday, September 17, 2008

SHAUM VS HAWA NAFSU

“Nak Mas pernah baca kisah perang Badr...........?” Tanya Ki Bijak, membuka percakapan mengenai peperangan melawan hawa nafsu dibulan ramadhan.

“Iya ki, Perang Badar terjadi pada 7 Ramadhan, dua tahun setelah hijrah, perang Badar tercatat sebagai salah satu perang terbesar kaum muslimin ketika itu dan merupakan peperangan pertama kaum muslimin dalam menghadapi gangguan kafir terhadap perkembangan agama Islam, pasukan Muslim ketika itu berjumlah sekitar 300 orang, sementara kaum kafir berjumlah sekitar 1000 orang, dilengkapi dengan 600 pakaian perang, 100 ekor kuda dan 700 ekor unta serta persediaan perbekalan yang sangat banyak.......” Kata Maula

“Lalu ......?” Tanya Ki Bijak memancing

“Lalu dengan kekuasaan Allah, kaum muslimin yang jumlahnya hanya sepertiga dari kaum kafir itu, kaum muslimin memperoleh kemenangan..........” sambung Maula.

“Benar Nak Mas, perang Badr merupakan peperangan yang sangat dahsyat, dan yang menarik bagi adalah sabda Rasulullah setelah perang selesai, Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar...’, yang membuat para Sahabat terkejut dan bertanya, "Peperangan apakah itu wahai Rasulullah ? " Baginda berkata, "Peperangan melawan hawa nafsu." (Riwayat Al Baihaqi)...” Kata Ki Bijak

“Nak Mas perhatikan sekali lagi, peperangan melawan hawa nafsu, yang dalam kata lain ‘musuh’ terbesar kita bukanlah pasukan perang bersenjata lengkap seperti layaknya kafir quraish dalam perang badar itu, musuh terbesar kita justru ada di dalam diri kita sendiri, yaitu nafsu kita, nafsu kita yang liar tak terkendali sehingga jika kita kalah dalam peperangan dengan hawa nafsu itu, kita akan ditawan dan diperbudak oleh nafsu kita................” kata Ki Bijak lagi.

“Ada orang yang rela menjual harga dirinya demi setumpuk uang, adalah salah satu contoh mereka yang kalah dalam peperangan melawan hawa nafsunya, sehingga ia ditawan oleh dorongan nafsu itu untuk menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang, termasuk dengan menyerahkan kehormatan dan harga dirinya demi memenuhi keinginan sang hawa nafsu............”

“Ada juga orang yang merasa paling hebat, merasa paling pinter, merasa paling baik karena posisi dan pangkat jabatannya, mereka tidak menyadari bahwa kesombongan yang mereka pertontonkan tidak lebih dari kehendak hawa nafsu yang telah memenangkan pertarungan dan kemudian menawannya........”

“Ada lagi orang yang keakuannya membuncah karena ia orang kaya, karena ia orang berduit, karena ia orang terpelajar, karena ia seorang pejabat, mereka ini pun dalam hemat Aki merupakan para tawanan sang hawa nafsu.......”

“Dan yang tidak kalah banyak adalah mereka-mereka yang telah menggadaikan waktu dan hidupnya demi mengejar materi, hari-harinya dilalui semata untuk menghasilkan uang, jam-jamnya bergulir semata untuk menghitung uang, menit-menitnya berlalu untuk berkhayal bagaimana mendapatkan kekayaan, sehingga tidak sedetikpun tersisa dari hidup dan waktunya untuk beribadah dan mengingat Allah....Naudzubillah.............” Sambung Ki Bijak lagi.

“Demikian besar ya ki kehancuran yang ditimbulkan hawa nafsu yang lepas tanpa kendali.........” kata Maula.

“Bahkan sangat besar Nak Mas, pertikaian, perpecahan, dan bahkan peperangan adalah beberapa contoh akibat yang disebabkan merajalelanya hawa nafsu pada sebagian kita..........., belum lagi kerusakan didarat, dilaut dan diudara yang sekarang ini semakin nampak nyata” kata Ki Bijak.

“Dan saat inilah, disaat ramadhan inilah kemampuan dan ketahanan kita terhadap ganguan hawa nafsu diuji Nak Mas......., disaat mana perut kita lapar, tenggorokan kita kering, kita dihadapkan pada berbagai kondisi dan rutinitas yang tidak jarang memancing timbulkan hawa nafsu kita kepermukaan..............” kata Ki Bijak.

“Iya ki, ana kemarin juga menemukan kondisi seperti itu ki, dimobil umum ada bapak-bapak yang merokok dan minum seenaknya, tapi peduli orang lain sedang shaum........., ana jadi sedikit kesel juga ki......” kata Maula menceritakan pengalamanya.

“Dan mungkin Nak Mas atau siapapun yang tengah menjalani shaum akan menemukan berbagai hal lain yang menggelitik hawa nafsu kita untuk membuncah keluar, karenanya selama kita shaum, kita harus senantiasa membangun kesadaran bahwa kita tengah menjalani proses ujian pengendalian dan diri dari gangguan hawa nafsu......” kata Ki Bijak.

“Ki, bukankah pengendalian diri dan ketahanan kita terhadap gangguan hawa nafsu itu bukan sekedar disaat shaum ramadhan ini ki......?’ Tanya Maula.

“Nak Mas benar, pengendalian diri dan ketahanan diri terhadap gangguan hawa nafsu bukan hanya diperlukan pada saat shaum ramadhan, tapi kita memerlukan ketahanan dan pengendalian diri ini disetiap hari, setiap saat, disetiap waktu, disetiap detik dan disetiap hembusan nafas kita, karena hawa nafsu bisa datang kapan saja, karena memang ia berasal dari dalam diri kita, yang Aki maksud tadi, kenapa dibulan ramadhan ini kita harus lebih meningkatkan sistem ketahanan dan pengendalian diri ini karena momentum ramadhan adalah momentum dimana ketahanan dan pengendalian diri itu dapat terlihat dengan jelas dan nyata, karena godaan hawa nafsu juga berlipat ganda manakala kita shaum, dan seperti Nak Mas tadi katakan bahwa ‘keberhasilan’ kita menjalani proses latihan pengendalian diri ini tidak boleh hanya diukur sesaat saja, maksud Aki keberhasilan latihan ini juga harus tetap terlihat pada keseharian kita diluar ramadhan..........” kata Ki Bijak.

“Jadi kalau kita bisa sabar dan tidak mudah marah dibulan ramadhan, indikasinya juga harus terlihat setelah ramadhan ya ki.........” kata Maula.

“Benar Nak Mas, kita tidak bisa bilang bahwa kita sudah menjadi orang sabar, orang yang tidak mudah marah, orang yang bisa menahan diri selama kita tidak bisa menunjukan dan mengaplikasikan nilai-nilai luhur itu selepas bulan ramadhan...., orang yang berhasil shaum ramadhannya adalah mereka yang mampu mempertahankan dan bahkan meningkatkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam shaum itu sepanjang kehidupanya, baik diluar atau didalam bulan ramadhan....................” kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat makna shaum secara fungsional...........?” Tanya Ki Bijak kemudian.

“Iya ki, shaum secara fungsional merupakan sarana tarbiyah atas iradah kita, kemudian juga sebagai Tarbiayatul Lil ilahiyah, dan juga sebagai latihan kepatuhan dan ketaatan atau yang disebut Tarekatul Lil Malaikat, disamping sebagai sarana Tazkiyatun an nafs, sarana pembersihan diri.............” kata Maula.

“Aki sangat setuju dengan pandangan itu, karena memang keberhasilan shaum tidak hanya diukur dari kemampuan kita untuk tidak makan dan minum mulai dari terbit fajar hingga maghrib tiba, tapi lebih dari itu keberhasilan shaum seseorang harus mencerminkan tumbuhnya fungsi-fungsi dan nilai shaum yang Nak Mas sebutkan tadi dalam diri setiap mereka yang shaum dengan benar dan kokoh..........” kata Ki Bijak.

“Seseorang yang shaumnya baik dan benar, akan menampilkan citra diri yang luhur, ia akan menjadi seorang penyabar, peka dan memiliki kepedulian yang terhadap sesama, serta sangat takut untuk melanggar hukum-hukum Allah, atau singkatnya mereka yang shaumnya benar, selepas ramadhan ia laksana kupu-kupu yan baru keluar dari kepompongnya...................” Kata Ki Bijak.

“Kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya ki...............?”, oh ya ana ingat sekarang, Aki pernah bercerita kepada ana bahwa sebelum menjadi kupu-kupu yang indah dan cantik itu, kupu-kupu hanyalah seekor ulat yang mungkin sangat menjijikan, tapi setelah ulat itu “mengurung diri” didalam kepompong untuk beberapa waktu, sangat ulat kemudian menjadi kupu-kupu yang indah dan menawan, bukan begitu ki...................” kata Maula.

“Benar Nak Mas, sebelas bulan perjalanan hidup kita, disadari atau tidak, disengaja atau tidak, mungkin ada sekian banyak khilaf dan dosa yang menempel pada diri kita, mungkin dari mata kita yang tidak terjaga dari hal-hal yang dilarang Allah, mungkin dari telinga kita yang terlalu sering mendengar kata-kata tanpa makna, mungkin dari mulut kita yang kelewat bebas ketika berbicara, atau bahkan sangat mungkin dari hati kita yang jarang berdetak mengigat Allah, belum lagi tangan kita, kaki kita yang juga sangat mungkin ikut melumuri diri kita dengan rangkai dosa dan maksiat kepada Allah, dan pada kondisi seperti itu, kita layaknya ulat yang sangat ‘menjijikan’ dan sama sekali tidak mengundang kekaguman bagi mereka yang melihatnya.........”

“Dan ramadhan ini, adalah ‘kepompong’ tempat kita berlatih diri, tempat kita mentarbiyah diri, tempat kita menempa diri, dengan lapar dan dahaga, dengan mengekang nafsu amarah kita, dengan mengendalikan pendengaran dan pandangan mata kita, dengan menjaga lisan kita, dengan senantiasa menggetar hati kita untuk mengingat Allah, insya Allah, dipenghujunga nanti, sekeluarnya kita dari ‘kepompong’ ramadhan ini, kita bisa menjadi ‘kupu-kupu’ yang indah dan mempesona.............” kata Ki Bijak.

“Menjadi seperti kupu-kupu yang indah.......” Maula seperti membathin.

“Benar Nak Mas, selain indah, Nak Mas perhatikan juga bagaimana kupu-kupu yang terbang dan hinggap kian kemari diantara putik bunga, tanpa merusak putik bunga yang dihinggapinya, kemudian kupu-kupu juga bisa berperan sebagai sarana perkawinan antara benang sari dan putik sari, kupu-kupu juga berandil untuk menyebarkan benih-benih bunga keberbagai tempat hingga bunga bisa berkembang biak dan masih banyak lagi yang bisa kita petik dari liuk anggun kupu-kupu.......” Kata Ki Bijak.

“Artinya apa ki........?” Tanya Maula.

“Artinya mereka yang shaumnya baik dan benar akan menjadi pribadi yang mampu menjunjung tinggi nilai-nilai yang dianutnya, mereka yang shaumnya benar akan menjunjung tinggi norma dimana tempatnya berpijak, ia berpantang untuk menjadi provokator apalagi untuk berbuat kerusakan, sebagaimana ditamsilkan oleh kupu-kupu yang tidak pernah merusak kelopak bunga yang dihinggapinya......”

“Kemudian mereka yang shaumnya benar, akan mampu berperan sebagai pelopor, sebagai perintis berbagai kebajikan dimanapun ia tinggal, seperti kupu-kupu yang berperan dalam perkawinan putik dan benang sari, selain juga mereka senantiasa menebarkan kebaikan sebagai salah satu manifestasi pengabdiannya kepada Allah sebagai rahmat bagi alam dan orang sekitarnya.........” Kata Ki Bijak.

“Demikian agung nilai-nilai itu ya ki..........” kata Maula.

“Ya Nak Mas, semoga ramadhan kali ini bisa mengatar kita untuk kembali kepada fitrah kita, dan semoga pula kita bisa menjadi lebih baik, baik didalam bulan suci ini, baik juga selepasnya..........” kata Ki Bijak.

“Amiin........., terima kasih ki.......” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum sambil membalas uluran tangan Maula.
Wassalam.

September 17,2008

Tuesday, August 19, 2008

SUDAHKAH KITA MERDEKA..?


“Merdeka, dalam arti lain berarti kebebasan dan kemandirian kita untuk berbuat sesuatu yang benar, merdeka artinya kita mampu memfungsikan akal dan fikiran kita secara benar, tanpa ada tekanan atau rintangan dari pihak lain, dan kita, diri kita ini hanya bisa dikatakan sudah merdeka manakala kita sudah terbebas dari kekangan hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang membelenggu kita secara berlebihan.........” Kata Ki Bijak.

“Ana masih belum paham ki............” Kata Maula.

“Begini Nak Mas, sebagian kita masih ‘dijajah’ oleh hawa nafsu kita sehingga kita tidak bisa berbuat yang terbaik untuk kepentingan jangka panjang kita, misalnya kita tidak atau belum bisa beribadah kepada Allah secara merdeka, kita masih banyak terbelit oleh kepentingan-kepentingan duniawi kita, sehingga ketika waktu shalat datang, kita tidak bisa dengan segera menunaikannya, karena kita harus memenuhi ‘kewajiban’ terhadap duniawi kita, kita masih terbelenggu pekerjaan kita, kita masih terbelenggu urusan kita, kita masih terbelenggu oleh hobi kita, kita masih terbelenggu oleh berbagai hal yang mengikat kita sehingga kita tidak bisa shalat tepat waktu misalnya..............” Kata Ki Bijak.

“Demikian pun dengan ‘penjajahan’ yang datang dari keinginan-keinginan kita yang berlebihan....yang dilandasi oleh hawa nafsu..., benar, keinginan adalah sebuah fitrah manusia, kita ingin maju, kita ingin memiliki harta, kita ingin naik jabatan, kita ingin punya rumah, kendaraan dan lainnya, tapi ketika keinginan-keinginan itu tidak terkendali, maka keinginan-keinginan kita itu akan berbalik arah dan menjajah kita dengan berbagai angan semu dan kesibukan.......”

“Nak Mas perhatikan banyak orang yang setelah kerja, masih harus kerja lagi, karena ingin mendapatkan tambahan penghasilan untuk memenuhi keinginannya, bukan lagi untuk memenuhi kebutuhannya......”

“Nak Mas juga bisa lihat bagaimana mereka yang sudah berpenghasilan besar, masih mencari dan menerima eceran dari suap atau bahkan korupsi, dan apalagi alasannya kalau bukan karena mereka telah ‘dijajah’ hawa nafsunya.....”

“Nak Mas juga bisa lihat bagaimana mereka yang sudah memiliki jabatan, kasak-kusuk kesana kemari demi untuk mempertahankan jabatannya dengan cara-cara yang cenderung menyimpang, dan inipun tidak terlepas dari adanya belenggu penjajahan dalam diri orang tersebut.....”

“Bahkan masih sangat banyak orang yang ‘rela’ kehilangan waktunya untuk beribadah kepada Allah hanya karena mementingkan motor atau mobilnya yang kotor kehujanan, mereka basah-basahan mencuci kendaraannya ditengah kumandang adzan yang memanggilnya.....”

“Dan masih banyak lagi ironi betapa ditengah kemerdekaan yuridis negara kita ini, masih banyak orang-orang yang rela menggadaikan kehormatan dan harga dirinya demi setumpuk uang atau jabatan yang mereka anggap sebuah kemuliaan, ini sebuah kekeliruan besar, ini adalah sebuah bentuk penjajahan terhadap fitrah kemanusiaan yang seharusnya menjunjung tinggi harkat dan martabat dan fitrah kemanusiaannya........” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Iya ya ki, sayangnya sedikit sekali orang yang menyadari bahwa dirinya sedang dijajah oleh nafsu dan keinginannya ya ki......” Kata Maula.

“Memang sangat sulit membedakan mana yang kebutuhan dan mana yang bukan, keduanya sangat samar, dan jika kita tidak pandai memilih dan memilahnya, maka kita akan terjebak dalam perbudakan hawa nafsu yang senantiasa mendorong kita untuk memforsir waktu dan tenaga kita untuk mencapai keinginan-keinginan tersebut.......” kata Ki Bijak.

“Ki, tadi Aki mengatakan bahwa secara fitrah memang manusia dikarunai hasrat terhadap sesuatu, lalu dimana letak ‘bahayanya’ ketika kita memforsir waktu dan tenaga kita untuk memenuhi keinginan-keinginan tersebut ki.....?” Tanya Maula.

“Pertama yang harus kita ingat adalah bahwa waktu kita, hidup kita ini sangat-sangat terbatas, paling banter enam puluh atau tujuh puluh tahun saja, kalau kita menghabiskan waktu yang sangat singkat itu hanya untuk mengejar ‘sesuatu’ yang berbalut nafsunya, sangat mungkin kita akan kehilangan momen-momen berharga untuk beribadah kepada Allah......”

“Aki sering mendengar orang malas kemasjid, karena kelelahan, Aki juga sering mendengar orang shubuhnya kesiangan karena pulang larut malam, Aki juga sering mendengar orang tidak sempat baca qur’an karena rutinitas dan kesibukan yang demikian sarat, Aki juga sering mendengar orang jarang silaturahim karena waktunya habis untuk mengejar uang dan uang, dan masih banyak lagi berbagai hal yang harusnya menjadi prioritas kita, justru terhalang oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang tak jarang melalaikan.........” kata Ki Bijak.

“Yang kedua, keinginan-keinginan yang dilandasi oleh hawa nafsu, merupakan benih potensial untuk melahirkan kekufuran dan membunuh rasa syukur kita kepada Allah swt, kita sering lalai dalam melihat apa yang telah Allah karuniakan kepada kita, hanya karena kita selalu ‘tengadah’, selalu melihat keatas, selalu mengumbar angan kita, selalu membebaskan khayalan kita, selalu menumbuh suburkan andai kata dan misalnya dalam benak kita, ingin ini dan ingin itu, dan orang yang masih terjebak dalam kubangan seperti ini, dalam hemat Aki bukanlah orang yang merdeka...................” Kata Ki Bijak.

“Ki, lalu adakah sarana untuk kita membebaskan diri dari kekangan hawa nafsu dan perbudakan keinginan-keinginan yang tanpa batas itu ki......?” Tanya Maula.

“Sekarang ini kita sudah masuk dipertengahan bulan sya’ban, dan insya Allah beberapa hari kedepan, kita akan memasuki gerbang ramadhan, ini sebuah momentum yang sangat baik bagi kita untuk bisa benar-benar menjadi orang yang merdeka, merdeka secara lahiriah, dan merdeka pula secara bathiniah kita...........” kata Ki Bijak.

“Ki, bagaimana ramadhan bisa membebaskan kita dari ‘penjajahan’ bathiniah itu ki.......?” Tanya Maula.

“Nak Mas masih ingat apa arti ramadhan.......?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, secara etimologi, Ramadhan terambil dari akar kata Ramidha yarmidhu yang artinya Panas, terik yang membakar, yang kemudian secara terminologi Ramadhan diartikan bulan untuk membakar dosa-dosa dengan cara shaum.......” kata Maula.

“Sementara shaum sendiri terambil dari kata Al Imsak, yang artinya Menahan diri, yang secara syar’i shaum didefinisikan Menahan diri dengan niat dari hal-hal yang membatalkanya, seperti makan,minum dan berhubungan dengan istri, dari mulai terbit fajar sampai matahari terbenam, ki......................” sambung Maula.

“Benar Nak Mas, itu arti dan definisi secara bahasa dan definisi formal, lebih dari itu, shaum secara fungsional memiliki berbagai fungsi yang salah satunya adalah sebagai sarana Tarbiyah bagi irodah kita -Tarbiyatul lil iradah- , terhadap hawa nafsu kita, terhadap keinginan-keinginan kita, terhadap kehendak-kehendak kita... ,

“yang berarti shaum merupakan sarana bagaimana kita mengendalikan keinginan-keinginan kita itu agar tetap selaras dengan fitrah kemanusiaan kita, kita dilatih untuk menahan diri dari keinginan dan rasa lapar kita, bahkan terhadap makanan dan minuman yang halal sekalipun, kita juga dilatih untuk menahan furuj’ kita terhadap istri yang sah sekalipun....,

“logikanya kalau selama shaum kita mampu menahan dan mengendalikan diri dari hal-hal yang halal, maka selepas shaum harusnya kita mampu menahan diri dari hal-hal yang jelas haram dan melanggar aturan..............” kata Ki Bijak.

“Barang siapa orangnya yang mampu menunaikan shaum dengan benar, mereka akan mendapat predikat faidzin, orang yang kembali dengan kemenangan, yang dalam arti lain, orang yang shaumnya benar, akan menjadi manusia ‘merdeka’ dari perbudakan nafsu dan keinginan kita yang tanpa batas..........” sambung Ki Bijak lagi.

“Semoga kita diberi kesempatan oleh Allah untuk sampai kebulan kemenangan itu ya ki..........” kata Maula penuh harap.

“Semoga Nak Mas, dan sebaik-baik orang yang menunggu, adalah dengan menyiapkan diri kita, baik secara fisik dan mental agar kelak, jika Allah benar-benar memberi kita kesempatan untuk bertemu ramadhan lagi, kita sudah siap dan tidak gagap dengan apa yang harus kita lakukan dibulan ampunan itu......” kata Ki Bijak.

“Jangan sampai setelah kita menunggu kedatangan bulan ramadhan, kemudian ketika kita sudah berada didalamnya, kita membiarkannya berlalu begitu saja, tanpa berbuat sesuatu untuk kebaikan kita...., ibarat kereta api Nak Mas, bulan ramadhan akan berlalu sekejap saja, barang siapa yang tidak siap-siap untuk naik ke gerbong kereta yang lewat itu, maka ia harus menunggu kereta berikutnya, dengan resiko ia terlambat atau bahkan tidak mendapat kereta sama sekali, karena umurnya keburu habis................”Kata Ki Bijak.

“Betapa ruginya ya ki, kalau sudah lama-lama menunggu, tapi pas ramadhan datang kita terlewat..........” Kata Maula.

“Karenanya agar kita tidak merugi, mari kita gunakan beberapa kedepan untuk bersiap-siap menyambut tamu agung itu, agar kita menjadi orang-orang beruntung nantinya, insya Allah...........” kata Ki Bijak.

“Iya ki, terima kasih.............” kata Maula sambil pamitan.

Wassalam

August 13,2008

SIAPA MAU MENYELAM, IA AKAN MENEMUKAN MUTIARA


“Al Qur’an, dalam hemat Aki seperti samudra yang luas dan dalam Nak Mas..............” Kata Ki Bijak, menyikapi pertanyaan Maula sedalam dan seluas apa al qur’an .

“Maksudnya ki........?” Tanya Maula.

“Setiap orang akan memiliki pandangan dan pemahaman yang sangat mungkin berbeda, tergantung siapa dan sedalam apa orang itu mau menyelami kandungan Al Qur’an....., mereka yang hanya melihat al qur’an dari luarnya saja, sangat mungkin akan menemukan al qur’an yang itu sesuatu yang sangat ‘menakutkan’, karena berisi kewajiban-kewajiban dan ancaman bagi mereka yang melanggarnya, persis seperti mereka yang hanya memandang laut dari permukaannya saja, mereka akan menemukan permukaan laut yang senantiasa bergelombang dan menakutkan..................” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ana kemarin mendapat pertanyaan, kenapa Al qur’an lebih banyak berisi kewajiban-kewajiban yang memberatkan, harus shalat, harus zakat, harus shaum, harus berhaji, harus berjihad dan lain sebagainya........” Kata Maula.

“Apa jawaban Nak Mas......?” Tanya Ki Bijak.

“Ana belum memberikan jawaban ki..........” Kata Maula.

“Shalat, zakat, shaum, haji akan sangat ‘menakutkan’ bagi mereka yang belum memahami hikmah yang terkandung dibalik kewajiban-kewajiban itu, persis seperti mereka yang melihat laut dari kejauhan, hanya mendengar katanya, tanpa mau menyelam lebih dalam untuk melihat keindahan apa yang terkandung didalam lautan yang dalam itu...........” Kata Ki Bijak.

‘Sebaliknya, mereka yang mau menyelam kedalam dasar lautan, didalam sana mereka akan menemukan ‘mutiara’ yang sangat banyak dan indah, mereka akan menemukan taman-taman laut yang mempesona, mereka akan melihat keragaman hayati yang menakjubkan, mereka yang mau menyelam, akan menemukan banyak sekali keindahan yang tak pernah mereka bayangkan atau mereka temukan sebelum mereka menyelam kedalam lautan yang mereka anggap menakutkan itu.........” kata Ki Bijak.

“Demikian pun dengan al qur’an Nak Mas, jika kita mau menyelami kandungan al qur;an dengan benar dan bijaksana, niscaya kita akan menemukan kilauan permata dan mutiara yang tiada terhingga dari kedalaman tata bahasa al qur’an, dari ketinggian nilai dan norma yang terkandung al qur’an, kita akan menemukan kebenaran dan keluhuran dari ajaran dan tuntunan al qur’an, kita akan terpesona betapa al qur’an itu indah dan menakjubkan.............”

“Sayangnya sebagian dari kita lebih memilih untuk menjaga jarak dengan al qur’an, kita lebih senang mendengar ‘katanya’ al qur’an itu begini dan begitu, tanpa mau membuka dan mengkaji terlebih dulu kebenaran berita-berita bohong tentang al qur’an yang sangat mungkin dihembuskan oleh mereka yang tidak menyukai al qur’an...............” kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, dari sekian juta orang Islam dinegeri ini, mungkin lebih dari 90%_nya memiliki al qur’an dirumahnya, tapi sayangnya, hanya sebagian kecil saja mereka yang mau membacanya, dan kalaupun membacanya, hanya sebagian kecil saja yang mau memahami isinya secara benar, dan akan lebih kecil lagi prosentase mereka yang mengamalkan kandungan al qur’an..........” kata Maula.

“Benar Nak Mas, budaya membaca al qur’an, sudah sedemikian jauh tergeser oleh kebutuhan bacaan-bacaan lain, seperti koran dan bacaan lainnya, dan mau diakui atau tidak, hal inilah yang kemudian menjauhkan sebagian kita dari al qur’an, yang pada akhirnya kita mendapati mereka-mereka yang memiliki pandangan yang sangat dangkal terhadap al qur’an.................” kata Ki Bijak.

“Ki, bagaimana kita bisa menemukan keindahan dan kebenaran Al qur’an ki.....?” Tanya Maula.

“Seperti Aki katakan tadi, untuk menemukan mutiara dan pesona al qur’an, kita harus benar-benar masuk dan menyelami kedalaman isinya dengan penuh kesabaran, tadaburi bacaanya ayat demi ayat, pahami kandungannya bagian-demi bagian, semakin dalam kita menyelam, semakin banyak mutiara dan keindahan yang akan kita temukan, betapa syariat shalat yang terlihat begitu memberatkan ketika kita melihatnya sepintas, akan menjadi sesuatu yang indah dan menakjubkan, betapa syariat zakat yang begitu meresahkan, akan menjadi untaian keindahan yang tiada ternilai hikmahnya, betapa shaum yang begitu ‘menyengsarakan’, akan menjadi sesuatu yang sangat kita rindukan, begitupun dengan haji dan kewajiban-kewajiban lainnya, akan sangat indah dan mempesona..............” Kata Ki Bijak.

“Akan halnya dengan jihad ki, yang dianggap oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang sangat memberatkan....?” Tanya Maula.

“Jihad bukanlah sesuatu yang berat bagi mereka yang merindukan ridha dan surga Allah swt, bahkan mereka akan sangat merasa rugi manakala mereka kehilangan kesempatan untuk berjihad dengan harta dan jiwanya...................” Kata Ki Bijak.

“Betapa indah ya ki, seandainya kita sudah bisa menyelami al qur’an dengan baik dan benar...............” Kata Maula.

“Indah sekali Nak Mas, ketika kita sudah masuk dan menyelami al qur’an, kita pasti akan enggan untuk keluar darinya, dan kita akan merasa rugi ketika meninggalkannya.....” Kata Ki Bijak.

“Ana ingin sekali bisa seperti itu ki............” Kata Maula.

“Mulailah dari sekarang Nak Mas, jadikan al qur’an sebagai bagian dari kehidupan kita, jadikan al qur’an imam kita, jadikan al qur’an sebagai satu-satunya referensi kita, baca al qur;an setiap saat, dimanapun, kapanpun, sempatkan untuk membaca dan mentaburi al qur’an, insya Allah setelah sekian lama, Nak Mas akan merindukan saat-saat kebersamaan dengan al qur’an.........” kata Ki Bijak.

“Iya ki, ana kadang masih suka merasa aneh, manakala kita ketinggalan handphone, rasanya ada sesuatu yang kurang, tapi ketika kita tidak bawa al qur’an, sepertinya biasa-biasa saja, bahkan membawa al qur’an cenderung menjadi beban bagi sebagian orang.........” kata Maula.
“Kebiasaan itu yang harus kita ubah Nak Mas, kalau kita memerlukan handphone sebagai kebutuhan kita, seharusnya kita lebih memerlukan al qur;an untuk senantiasa berada bersama kita, tidak salah kita bawa handphone karena itu memang sebuah kebutuhan, tapi akan menjadi salah menurut Aki, kalau kebutuhan kita terhadap handphone mengalahkan kebutuhan kita terhadap al qur’an...............” kata Ki Bijak.

“Iya ki, padahal sekarang ini, al qur’an bisa dengan mudah diakses lewat internet, baik murotal, tafsir, maupun mushafnya, tapi ya itu tadi, masih sangat jarang yang mau memanfaatkannya.............” kata Maula.

“Selama kita belum merasakan bahwa al qur’an adalah kebutuhan kita, maka kecenderungan kita untuk meninggalkan al qur’an masih akan terus berjalan, karenanya, ubah pola pikir kita, bahwa al qur’an adalah sebuah kebutuhan yang harus kita penuhi, melebihi kebutuhan kita terhadap kebutuhan-kebutuhan lainnya......................” kata Ki Bijak.

“Siapa mau menyelam, ia akan menemukan mutiara ya ki..............” kata Maula mengulang perkataan gurunya diawal.

“Ya Nak Mas, siapa mau menyelam, ia akan menemukan mutiara, maka bersiaplah untuk menyelam dan bersiaplah untuk menemukan keindahan dan keagungan didalam al qur’an....” kata Ki Bijak.

“Iya ki, semoga ana bisa menemukan mutiara dan keindahan al qur’an.........” kata Maula.

Ki Bijak tersenyum, “Semoga Nak Mas....................” Kata Ki Bijak.

Wassalam

August 11,2008.

SIAPA MENANAM, IA AKAN MENUAI


"Tentu beda Nak Mas, menyalurkan infaq kepada fakir miskin, berbeda dengan ketika kita memberi uang kepada pengemis............” Kata Ki Bijak, menjawab pertanyaan apakah penyaluran dana infaq kepada fakir miskin sama dengan kita memberi kepada pengemis.

“Dimana bedanya ki...............?” Tanya Maula.

“Fakir dan miskin adalah orang yang membutuhkan, yaitu orang yang tidak memiliki apa yang dibutuhkannya, misalnya mereka tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan hidupnya, mereka tidak memiliki beras, lauk dan kebutuhan pokok lainnya, sebagaimana sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang orang miskin, beliau menjawab; ‘Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling meminta-minta, lalu diberi
sesuap atau dua suap, satu buah kurma atau dua buah, orang miskin adalah Alladzii laa yajidu ghinan yu’niiHi, wa laa yufthaanu laHu fayutashaddaqa alayHi wa laa yas-alun naasa syai-an, yang artinya orang miskin adalah Orang yang tidak memiliki sesuatu yang dapat menutupi kebutuhannya, dan kondisinya tidak diketahui sehingga diberi shadaqah, maka ia diberi zakat dan dia tidak meminta-minta (HR Bukhari dan Muslim).

“Atau orang miskin adalah orang-orang yang bekerja serta memiliki pendapatan, namun tidak mencukupi kebutuhan hidupnya, sebagaimana firman Allah swt;


79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan Aku bertujuan merusakkan bahtera itu, Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

“Pada ayat tersebut di atas mereka disifati dengan sifat miskin, padahal mereka memiliki kapal laut dan memperoleh pendapatan…..” sambung Ki Bijak.

“Lalu akan halnya pengemis ki……….?” Tanya Maula.

“Pengemis, dalam hemat Aki, lebih pada sikap mental seseorang Nak Mas……” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki………?” Tanya Maula.

“Ada banyak orang yang secara lahiriyah tidak termasuk dalam kategori miskin sebagaimana Aki dijelaskan tadi, tapi mereka tetap meminta-minta, mereka masih mau makan dari uang infaq, mereka masih berharap untuk menerima sedekah dari orang lain, bahkan Aki masih sering melihat orang-orang yang ‘gagah’ berseragam, dan mungkin memiliki posisi tertentu, masih senang menadahkan tangannya untuk menerima pemberian orang lain, orang-orang semacam inilah yang dalam pandangan Aki termasuk kedalam kategori pengemis, terlepas dari berapapun pendapatanya, terlepas dari kondisi bahwa mereka mampu mencukupi kebutuhan hidupnya dari hasil kasabnya…………., dan mereka dalam kategori ini memang sebaiknya tidak dimasukan kedalam golongan yang menerima infaq…” Kata Ki Bijak.
“Kenapa Ki……….?” Tanya Maula.

“Karena mereka sebenarnya lebih membutuhkan pemulihan mental dari sekedar uang untuk memenuhi kebutuhannya, mereka perlu dibimbing dan dididik serta disadarkan bahwa tangan diatas, jauh lebih baik dari pada tangan dibawah, mereka perlu disadarkan bahwa meminta-minta, bukanlah sebuah alternatif terbaik bagi mereka, sementara sebenarnya mereka masih punya potensi untuk mendapatkan penghasilan secara layak………….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, sekarang ini memang agak dilematis ketika kita dihadapkan pada pilihan apakah akan memberi sedikit uang pada pengemis atau tidak memberinya…., kalau kita kasih terus, mereka malah keenakan dan tidak mau berusaha, sementara kalau tidak dikasih, kadang ada rasa iba juga ki, jangan-jangan mereka memang benar-benar belum makan lainnya………” Kata Maula.

“Karenanya kita harus mampu memilah dan memilih kepada siapa saja kita harus berinfaq dengan tujuan untuk membantu, dan kepada siapa kita harus berkata ‘ma’af, dengan tidak memberi mereka uang, bukan karena kita benci, tapi itulah salah satu cara kita mendidik mereka dan agar mereka berfikir dengan bijak……..” Kata Ki Bijak.

“Syukurlah ki, jelas bagi ana sekarang bahwa penyaluran infaq kemarin itu benar-benar kepada orang fakir & miskin sebagaimana Aki jelaskan tadi, ana khawatir penyaluran infaq kemarin salah sasaran, karena beberapa orang berpendapat bahwa menyalurkan infaq kepada fakir miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dari hasil usahanya itu relatif sama dengan memberi uang kepada pengemis…….” Kata Maula.

“Memang sangat samar sekali Nak Mas, sangat sulit membedakan mana orang yang benar-benar miskin, dan orang-orang yang memiskinkan dirinya dengan lebih mengutamakan meminta-minta daripada menyempurnakan kasabnya……” Kata Ki Bijak.

“Mungkin sebagian mereka terjebak pada idiom yang salah ya ki………” Kata Maula.

“Idiom apa Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak.

“Itu ki, orang-orang sering menggunakan istilah Take and Give, menerima dan memberi, mestinya Give dan Take kali ya ki, memberi dulu, baru menerima…………….” Kata Maula.

“Itukan hanya istilah Nak Mas, meski mungkin juga benar adanya, tapi kalau kita mau belajar, hanya mereka yang mau menanam sajalah yang akan menuai hasilnya, tidak ada buah yang akan bisa dipetik kalau kita tidak pernah menanam……..” Kata Ki Bijak.

“Menanam dulu, baru menuai hasilnya ya ki……………” Kata Maula

“Benar Nak Mas, atau dalam kata lain, memberikan tenaga dan pikiran dulu, melakukan sesuatu dulu, atau menanam dulu, baru kita menerima imbalan, bukankah ditempat Nak Mas bekerja pun demikian….?’ Nak Mas bekerja dulu, baru kemudian diakhir bulan Nak Mas mendapatkan imbalan atas kerja Nak Mas sebulan sebelumnya……?” Kata Ki Bijak.

“Benar ki, sangat jarang ada orang yang mendapatkan pendapatan dimuka, baru kemudian baru bekerja…………….” Kata Maula.

“Lalu apa pertimbangan Nak Mas mau melakukan pekerjaan dulu, kemudian baru menerima upah………..?” Tanya Ki Bijak.

“Karena adanya jaminan dari perusahaan untuk membayar gaji diakhir bulan…….” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas yakin dengan jaminan itu……?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, kami terikat kontrak kerja yang salah satu isinya adalah syarat dan ketentuan kerja dan upah yang akan kami terima, jadi dengan kontrak itulah kami mendapatkan jaminan dari perusahaan untuk mendapatkan upah diakhir bulan…..”Kata Maula.

“Aki menggaris bawahi kata ‘yakin’ dan ‘keyakinan’ yang Nak Mas katakana barusan, dan hal itu benar, kita harus memiliki keyakinan agar kita dapat berbuat sesuatu dengan baik dan benar serta ikhlas, pun demikian halnya dengan ibadah kita Nak Mas, Allah menjanjikan pahala untuk shalat yang kita dirikan, Allah menjanjikan imbalan yang berlipat atas infaq, sedekah dan zakat yang kita tunaikan, Allah menjanjikan pahala untuk semua amaliah kita, baik yang besar atau yang tak terlihat sekalipun, yang kita butuhkan dan harus kita bangun sekarang adalah bagaimana keyakinan akan kebenaran janji Allah itu tertanam dan mengakar dihati kita, bagaimana keyakinan itu melandasi dan menggerakan setiap amaliah kita, karena tanpa itu, kita akan banyak bertanya dan malas-malasan dalam beramal………….”Kata Ki Bijak.

“Iya ki, terima kasih, semoga ana dikaruniai Allah kemampuan untuk menanam, sebelum ana benar-benar memetik buahnya………..” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas, tanamlah selaksa kebaikan, kapanpun, dimanapun, dengan cara apapun yang Nak Mas punya dan Nak Mas mampu melakukannya, dan Nak Mas tidak perlu risau dengan hasilnya, karena Allah yang telah menjamin barang siapa berbuat kebajikan seberat zarah sekalipun, maka ia akan menuai buah dari apa yang ditanamnya………….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, sekali terima kasih…………..” kata Maula sambil menyalami gurunya.

Wassalam

July 31, 2008

PENTINGNYA MENJAGA FITRAH

“Iya Nak Mas, Aki pun mendengar berita itu........” Kata Ki Bijak mengomentari cerita Maula tentang kekejaman seorang anak manusia yang ‘tega’ menghilangkan nyawa orang lain tanpa hak.

“Kenapa ada orang yang seperti itu ki...........?” Tanya Maula.

“Aki tidak tahu persis Nak Mas, tapi boleh jadi kenyataan ini adalah pembenaran dari apa yang ditulis Iman Ghazali bahwa dalam diri manusia terdapat perpaduan antara sifat-sifat Ilahiyah, seperti sifat kasih sayang, mencintai, menolong sesama, sabar dan lainnya, kemudian sifat-sifat syaitoniyah, seperti sombong, ujub, takabur, dan ingkar, kemudian lagi ada sifat bahimiyah, yaitu sifat-sifat dan nafsu kehewanan, seperti tidak tahu malu, rakus, serakah dan tamak, serta Sabaiyah, sifat-sifat kebuasan layaknya binatang buas........” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki........?” Tanya Maula.

“Keempat sifat yang ada dalam diri kita ini, setiap hari dan setiap saat ‘bertempur’ untuk menjadi siapa yang paling dominan, ketika sifat-sifat Ilahiyah kita menang dan menjadi dominan dalam diri kita, maka kita akan menjadi seorang manusia yang baik, menjadi manusia yang memiliki sifat sabar, menyayangi, dermawan, serta sifat-sifat luhur lainnya.............”

“Sementara ketika sifat-sifat Ilahiyah kita terdesak oleh ketiga sifat lainnya, maka ketiga sifat ‘jahat’ itu akan menampilkan wajah manusia dalam tampilan yang menyeramkan, karena manusia yang sudah didominasi oleh ketia sifat itu akan tampil dengan perpaduan syetan, hewan dan binatang buas, naudzubillah..............” Kata Ki Bijak.


“Naudzubillah......., mengerikan sekali ya ki, ketika sifat sombong, takabur, ingkar berpadu dengan keserakahan dan kebengisan.........., manusia bisa ‘lebih berbahaya’ dari mahluk Allah manapun..........” Kata Maula sambil bergidik ngeri, membayangkan ada manusia bertipe seperti itu.

“Karenanya Nak Mas, kita harus benar-benar menjaga fitrah kemanusiaan kita dengan memperkuat dan mengembangkan sifat-sifat Ilahiyah kita agar tampil dominan dan menjadi ciri dan karakter kita sebagaimana manusia..............” Kata Ki Bijak.

“Bagaimana cara memperkuat dan mengembangkan sifat-sifat ilahiyah kita ki.............?” Tanya Maula.

“Secara lahiriah, kita harus melatih fitrah kemanusiaan itu secara benar dan kontinyu, yang dalam hemat Aki metode latihan untuk memperkuat fitrah ilahiyah kita itu sudah terangkum dalam rukun islam yang Allah syariatkan untuk kita kerjakan Nak Mas........” Kata Ki Bijak.

“Maksud Aki, Syahadat, Shalat, Zakat, Shaum dan pergi ketanah suci merupakan sarana pelatihan untuk menghidupkan dan mengembangkan sifat ilahiyah kita ki....?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, syahadat atau pengakuan kita terhadap eksistensi Allah sebagai satu-satu Ilah yang wajib disembah dan diibadahi, yang tertanam kuat dalam hati seseorang, akan melahirkan kekuatan yang luar biasa untuk ‘mengalahkan’ ketiga sifat lainnya, pun demikian dengan shalat kita, shalat yang didirikan secara benar, akan mampu menjadi proteksi dari perbuatan keji dan munkar bagian orang yang menegakan shalatnya, Nak Mas masih ingat ayatnya..........?” tanya Ki Bijak.

“Ya ki...............” Kata Maula sambil mengutip ayat dimaksdu;

45. Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

“Nak Mas benar, itu ayatnya............” kata Ki Bijak.

“Ki, orang yang sedang kita bicarakan ini katanya guru ngaji dikampungnya, mestinya kan dia juga shalat ki, tapi kenapa justru dia berbuat seperti itu ki...........?” Tanya Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula, “Nak Mas, kualitas shalat seseorang, yang mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, tidak bisa diukur dari apakah ia seorang guru ngaji atau seorang kyai sekalipun, kualitas seseorang, secara lahiriah akan dapat dilihat dari bagaimana nilai-nilai shalat itu ‘hidup’ dalam keseharian orang yang mendirikannya, terlepas apakah ia seorang guru ngaji, ustadz atau apapun sebutanya....”

“Bisa jadi mereka yang kita lihat ‘bukan siapa-siapa’, tapi mereka sangat takut kepada Allah dengan menjaga waktu shalatnya, takut kepada Allah dengan menjaga tingkah lakukany, takut kepada Allah dengan menjaga lidahnya dari perkataan dusta dan sia-sia, mereka itulah yang sebenarnya sudah mendirikan shalat dengan benar, dan insya Allah mereka akan mendapati apa yang Allah janjikan bahwa shalatnya akan mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar...............” Kata Ki Bijak.


“Jadi kita harus hati-hati ya ki, kalau kita sudah shalat, tapi kita masih sering berkata dusta, masih sering ngomongin orang, masih sering merasa iri pada orang lain, atau masih sering melakukan hal-hal yang dilarang Allah...............” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, kita harus merasa khawatir dan segera instrospeksi shalat kita ketika hal tadi masih sering kita rasakan...............” kata Ki Bijak.

“Bagaimana halnya dengan shaum dan zakat, yang mampu menumbuhkan dan memperkuat fitrah insani kita ki..................?” Tanya Maula, menyambung penjelasan diatas.

“Salah satu nilai tertinggi dari shaum dan zakat adalah adalah keduanya mendidik kita untuk mampu berempati dengan sesama kita dengan berbagi apa yang Allah karuniakan kepada kita, kita dilatih untuk menjadi penyabar, penyantun, penyayang, pemberi dan dermawan, dan mereka yang ‘lulus’ dalam pelatihan ini, insya Allah akan memiliki kekuatan sifat-sifat ilahiyah dalam dirinya, karena dia mampu meneladani sifat rahman rahim_nya Allah, mereka juga mampu meneladi sifat-sifat sabar dan penyantunnya Allah, dan ini adalah latihan yang paripurna bagi mereka yang ingin ‘memenangkan’ sifat ilahiyahnya atas ketiga sifat lainnya............” Kata Ki Bijak.

“Akan halnya dengan ibadah haji ki............?” Tanya Maula lagi.

“Benar Nak Mas, salah satu nilai yang terkandung dalam ibadah haji adalah apa yang diajarkan dengan syariat wukuf padang Arofah, kata Arofah ini, menurut sebagian ulama bermakna Arofa, ya’rifu, Arifin, Makrifat......, yang bisa berarti tahu atau mengenal Allah yang kemudian mampu berbuat arif dan bijaksana, jadi tidak mungkin orang yang haji bener, tapi masih melakukan maksiat, dan bukankah ini juga sebuah latihan yang baik untuk peningkatan kualitas sifat ilahiyah kita Nak Mas, dengan mengenal Allah, dengan mengenal kebijakan-kebijakan_Nya.....” Kata Ki Bijak.

“Subhanallah, betapa sempurna syariat Allah ya ki....................” Kata Maula.


“Pasti sempurna Nak Mas, hanya kadang kitanya yang terlalu banyak menawar, dan cenderung sok tahu, sehingga kita lebih sibuk mencari dalih untuk menggugurkan kewajiban-kewajiban itu dari pada melaksanakan dan menemukan hikmahnya..................” kata Ki Bijak.

“Ya Allah, mudahkan hamba untuk menjalankan syariat_Mu, dan jauhkan hamba dari perbuatan keji dan munkar, serta jauhkan hamba dari kejahatan mahluk_Mu yang dhalim...................” Kata Maula, memanjatkan doa.

“Amiiiin............” Tambah Ki Bijak.


Wassalam



Juli 23, 2008

BUSANA MUSLIMAH, ADUH CANTIKNYA.......


“Cantik sekali anak-anak ini Nak Mas..........” Kata Ki Bijak mengomentari photo-photo anak-anak berbalut busana muslimah.

“Iya ki, ana sampai pangling melihat mereka dengan penampilan seperti itu, jauh lebih cantik dan lebih anggun..............” Tambah Maula.

“Photo ini dalam rangka apa Nak Mas.......?” Tanya Ki Bijak.

“Lomba Busana muslimah ki, seminggu ini kami mengadakan berbagai lomba untuk mengisi liburan sekolah, ada MTQ, MHQ, busana muslim, puisi, ceramah, lomba adzan, kaligrafi dan insya Allah besok cerdas cermat islami ki..........” Kata Maula.

“Syukurlah Nak Mas, kita memang harus berlomba dengan kegiatan-kegiatan lain yang sangat jauh dari nilai dan norma agama yang kita anut...........” kata Ki Bijak.

“Iya ki, ide untuk mengadakan lomba ini pun salah satunya adalah karena keprihatinan kami melihat tontonan dan acara di TV yang banyak menampilkan lomba-lomba yang cenderung mengexploitasi anak, anak ‘dipaksa’ untuk keluar dari dunianya,mereka dipaksa untuk berdandan ala artis,make-up tebal,pakaian minim dan penampilan yang tak jarang menjurus seronok layaknya artis-artis murahan yang sekarang banyak bermunculan.....................” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, Aki juga prihatin dengan berbagai tontonan semacam itu, sebagian muslimah kita seperti kehilangan identitas muslimahya, mereka lebih senang mengenakan pakaian yang lebih menonjolkan dan mempertontonkan aurat, mereka tidak lagi bangga dengan pakaian dan busana muslimah yang seharusnya merkea kenakan............” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, alasannya pun beragam, katanya busana muslimah yang menutup aurat itu kurang modis, ada lagi yang bilang busana muslim itu kurang sesuai dengan iklim dan budaya indonesia, ada lagi yang mengatakan busana muslim itu ribet, dan masih banyak lagi alasan untuk tidak mengenakan busana muslim......” kata Maula.

“Aki tidak terlalu paham dengan berbagai mode Nak Mas, tapi jika Aki melihat busana muslimah seperti anak-anak ini, Aki sama sekali tidak melihat alasan-alasan yang tadi Nak Mas sebutkan, dengan busana muslimah, anak-anak ini tetap cantik, anggun dan dan berwibawa, selain juga tetap modis, mereka pun tidak ribet-ribet amat dengan busana seperti itu..........” Kata Ki Bijak sambil memperhatikan photo-photo didepanya.

“Dan kalau alasannya budaya, agama bukan budaya Nak Mas, agama juga tidak dibatasi oleh wilayah dan geografis tertentu, ajaran agama adalah sesuatu yang telah ditentukan Allah untuk kita, dan pasti disana ada banyak kebaikan yang terkandung didalamnya, termasuk perintah untuk mengenakan jilbab dan busana muslimah bagi muslimah................” kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, lalu ada juga yang bilang kalau berjilbab tidak menjamin orang itu sebaik penampilannya, itu bagaimana ki........? tanya Maula.

“Benar Nak Mas, pakaian seseorang tidak menjamin orang yang mengenakannya seperti penampilannya, tapi mari kita berpikir lebih bijak lagi bahwa berbusana muslim dan berjilbab adalah sebuah perintah Allah, itu yang pertama, lalu yang kedua, jika yang berbusana muslimah saja belum menjamin baik-buruknya seseorang, lalu bagaimana dengan pakaian yang mengumbar aurat dan memacu syahwat....?, bukankah itu lebih tidak menjamin lagi Nak Mas..........?’ Kata Ki Bijak.

“Benar ki, dan salah satu tujuan kami mengadakan lomba ini adalah untuk mentarbiyah anak-anak kami untuk bisa berbusana yang layak dan patut sebagai seorang muslimah, syukur kalau nantinya hal ini bisa menjadi contoh bagi ibu-ibu dan remaja putri lainnya untuk berbusana muslimah seperti ini ki.............” kata Maula.

“Semoga Nak Mas, semoga upaya Nak Mas dan rekan-rekan ini setidaknya mampu menghidupkan nilai dan kebanggaan ahwat kita kepada ajaran dan tuntunan agamanya, dan ini menjadi sangat penting artinya ditengah gelombang perubahan pola pikir dan budaya yang sekarang deras melanda ditengah masyarakat kita akhir-akhir ini...............” Kata Ki Bijak.

“Semoga ki, meski sebelumnya kami belum berani berharap terlalu jauh, kami hanya berharap anak-anak kami ini bisa memanfaatkan waktu liburanya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi mereka, dan dengan apa yang Aki katakan barusan, kami merasa terpacu untuk bisa berbuat sesuatu yang lebih besar, doa kan ya ki, semoga kegiatan seperti ini bisa rutin dan dalam skala yang lebih besar.............” kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas, dan yang jauh lebih penting lagi yang Nak Mas harus tanamkan dari kegiatan seperti ini adalah pemahaman bahwa al qur’an bukan hanya untuk dilombakan dengan membaguskan bacaan dan tilawahnya, tapi yang jauh lebih penting bagaimana agar anak-anak kita dan juga kita sebagai orang tua, mampu memperbagus ucapan dan tindakan kita dengan nilai dan ajaran al qur’an................”

“Kemudian Nak Mas juga harus tanamkan bahwa al qur’an bukan hanya untuk dihafal, karena boleh jadi burung beo pun bisa menghafal surat-surat al qur’an, tapi lebih dari itu, anak-anak kita, dan kita selaku orang tua harus mampu mengaplikasikan dan menghidupkan al qur’an yang dibaca dan kita hafal dalam kehidupan kita sehari-hari................”

“Pun dengan busana muslim, bukan sekedar lomba, bukan sekedar siapa yang paling bagus busananya, siapa yang paling cantik penampilannya, tapi lebih dari itu, dengan balutan busana muslim yang indah, seyognyanya seindah itu pula aklaq, pribadi dan ketaqwaannya kepada Allah swt, itu yang Nak Mas harus tanamkan...............”

“Pun dengan cerdas cermat, puisi dan ceramah, jangan sekedar hafalan, tapi juga harus merupakan pemahaman dan pengertian yang baik, agar mereka tidak terjebak pada lomba tanpa makna.............” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Iya ki, nilai-nilai itu yang ingin kami bangun dengan menghapus kesan bahwa perlombaan ini hanya musiman dan tidak bernilai seperti yang selama ini banyak terjadi, kami ingin membangun pondasi akidah yang benar, pemahaman agama yang benar serta nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran islam............” kata Maula.

“Iya Nak Mas, semoga apa yang Nak Mas dan rekan-rekan niatkan mendapat bimbingan dan ridha Allah swt.........” Kata Ki Bijak.

“Amiin...............” Sambut Maula.

Wassalam

Juli 18, 2008

BAABUL KHOIR

“Photo-photo siapa ini Nak Mas.....?” Tanya Ki Bijak demi melihat beberapa lembar photo anak-anak yang Maula bawa.

“Ooh ini ki, ini anak-anak di Musholla Baabul Khoir, dikampung sebelah.......” Jawab Maula.

“Kelihatannya banyak anak-anak yang ngaji disana Nak Mas.........?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Alhamdulillah, anak-anak yang ngaji disana sekitar 40 orang lebih.............” Kata Maula.

“Alhamdulillah, tapi kelihatannya saling berhimpitan ya Nak Mas......?” Tanya Ki Bijak sambil mengamatai anak-anak ngaji yang berjubel.

“Benar Ki, musholla_nya baru setengah jadi, jendala dan pintunya belum terpasang, dan ruangannya juga sudah tidak mampu menampung jumlah santri yang mengaji disana, kasihan mereka ki.................” Kata Maula.

Ki Bijak menarik nafas dalam-dalam, sedikit prihatin mendengar cerita Maula, “Ada rencana pembangunan lagi untuk menyelesaikan dan memperluas musholla Nak Mas..........” Tanya Ki Bijak kemudian.

“Benar ki, ana kemarin silaturahim kesana, dan memang kebutuhan untuk menyelesaikan dan memperluas musholla ini sudah sedemikian mendesak, ana sempat ngobrol dengan ustadz pengasuh disana, dan beliau mengatakan harapan dan keinginannya untuk dapat segera melanjutkan pembangunan musholla ini, tapi ya itu tadi ki, masih terkendala dengan biaya......” kata Maula.

“Siapa pengasuh dan pengajar di musholla Baabul Khoir itu Nak Mas........” Kata Ki Bijak.

“Pak Ustadz Wagimin Ki................” Kata Maula.

“Ustadz Wagimin........sepertinya Aki pernah kenal dengan pak Wagimin, tapi Aki lupa dimana dan kapan.....” Kata Ki Bijak sambil mencoba mengingat-ingat.

“Pak Wagimin dulu bekerja sebagai juru masak disebuah restoran ki, tapi kemudian keluar karena restoran tempatnya bekerja, berubah menjadi tempat yang kurang baik, ada klub malam dan karoke segala, dan Pak Wagimin akhirnya keluar bekerja dari sana.............” Kata Maula.

“Oooh ya Aki ingat sekarang Nak Mas, dan bukankah beliau sekarang membuka warung Nak Mas.....?” Tanya Ki Bijak.

“Benar ki, sekeluarnya dari tempat kerja lama, Pak Wagimin membuka warung, beliau memiliki beberapa warung soto pada awalnya, tapi sekarang tinggal satu gerobak soto saja ki, beliau mangkal didekat pump bensin sana.....” kata Maula.

“Kenapa sekarang tinggal satu Nak Mas.....” Tanya Ki Bijak.

“Pak Wagimin khawatir tidak bisa membagi waktu untuk anak-anak didiknya ki, kalau beliau masih memiliki beberapa warung, otomatis waktunya sedikit tersisa oleh kegiatan usahanya itu, Pak Wagimin memilih untuk mengurangi aktivitas usahanya dan meluangkan waktu lebih untuk para santrinya.......” Kata Maula.

“Memang akan selalu menjadi pilihan yang sangat sulit untuk memilih dua kepentingan yang keduanya sangat-sangat penting Nak Mas, tapi Insya Allah Pak Gimin akan dibimbing Allah untuk menentukan pilihan terbaiknya, sebagaimana beliau dulu memilih keluar dari restauran tempatnya bekerja untuk memulai usaha yang lebih menjanjikan ridha Allah swt..........” kata Ki Bijak.

“Dan apakah karena usahanya berkurang itulah Pak Wagimin belum bisa menyelesaikan pembangunan musholla itu ya Nak Mas.....” sambung Ki Bijak.

“Benar ki, dengan pendapatanya sekarang, Pak Wagimin memerlukan banyak sekali dukungan dana untuk dapat menyelesaikan pembangunan musholla itu, kemarin pun beliau meminta ana untuk membantu mencarikan para hamba Allah yang berkenan membantu menyelesaikan pembangunan musholla itu, waktu itu ana mengatakan insya Allah ana akan bantu, tapi ana belum tahu siapa yang ditunjuk Allah untuk menjadi penegak syiar agama Allah dengan membantu penyelesaian pembangunan musholla Baabul Khoir........” Kata Maula.

“Jangan risau Nak Mas, Nak Mas tidak perlu khawatir tidak akan menemukan hamba Allah yang mau membantu penyelesaian pembangunan musholla baabul khoir, karena Allah yang akan menutun Nak Mas dengan hamba-hamba_Nya yang ditunjuk untuk membantu Pak Wagimin dan warga disana dalam penyelesaian pembangunan musholla........” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, semoga niat luhur Pak Gimin ini mendapat kemudahan ya ki...., sayang sekali kalau semangat anak-anak untuk belajar ngaji dan belajar agama, harus terbentur karena keterbatasan fasilitas yang mendukungnya...............” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas, semoga Allah memberikan kekuatan kepada Pak Gimin untuk tetap berjuang menegakan panji-panji_Nya dengan tetap mendidik anak-anak agar menjadi tunas Islam yang unggul dan kuat, dan semoga pula pembangunan musholla ini akan senantiasa diberikan kemudahan oleh Allah, karena musholla dan sarana-sarana pendidikan seperti ini merupakan benteng yang kokoh untuk melindungi akidah anak-anak kita ditengah gencarnya ‘serangan’ berbagai acara TV yang sangat jauh dari nilai-nilai islami.......” Kata Ki Bijak.

“Dengan menyibukan diri untuk mengaji dan belajar dimadrasah atau musholla, setidaknya anak-anak kita tidak terjebak untuk menghabiskan waktunya didepan TV, dengan belajar ilmu-ilmu agama, sistem imun akidah anak-anak kita akan terproteksi dengan wejangan dan ilmu yang diterimanya dari musholla dan madrasah...........” kata Ki Bijak.

“Iya ki, sayangnya masih sedikit sekali diantara kita yang memiliki kepedulian dan pengabdian seperti pak Gimin ya ki..............” Kata Maula prihatin.

“Benar Nak Mas, masih sangat sedikit sekali, jika dibandingkan dengan komposisi umat dinegeri ini, karenanya kita harus mendukung sepenuhnya apa yang pak Gimin sedang rintis sekarang, semoga dengan dukungan kita, ghirah dan istiqomah pak Gimin tetap terjaga, dan semoga pula dengan akan lahir pak gimin-pak gimin lain untuk menyalakan suluh penerang bagi generasi muda kita dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang........” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat hadits yang menyatakan ‘syarat’ tegaknya dunia.....? Tanya Ki Bijak sejurus kemudian.

“Ya Ki, dunia ini akan tegak dengan ilmunya para ulama, adilnya para pemimpin, hartanya para aghniya dan doanya fakir miskin...............” Kata Ki Bijak.

“Ilmu saja, sehebat apapun ustadz dan kyai itu menyumbangkan ilmunya, tanpa tiga pilar yang lain, tetap akan pincang, seperti contoh pak Gimin ini, beliau mungkin memiliki ilmu yang bisa disumbangkan, tapi beliau juga memerlukan dana untuk fasilitas pendukung pengajiannya, dan itu adalah bagian para aghniya yang diamanahi Allah dengan hartanya.....”

“Pun harta saja tidak cukup untuk menegakan dunia, karena harta yang dihasilkan atau dikelola tanpa ilmu yang memadai, hanya akan menjadi bumerang bagi para pemiliknya, banyak sudah contoh disekitar kita bagaimana mereka yang berharta, justru diperbudak oleh hartanya........., banyak orang yang tidak bisa tidur karena takut mobilnya kecurian, banyak orang yang susah makan karena takut usahanya disaingi orang, dan masih banyak lagi contoh-contoh bagaimana harta mampu memperbudak mereka yang tidak berilmu..........” Kata Ki Bijak lagi.

“Dan untuk Nak Mas, Aki pesan, jangan sampai Nak Mas terbebani atau merasa berat untuk mengemban amanah ini, Aki percaya dan yakin jika Allah tidak semata-mata memberi tanggung jawab dan amanah kepada seseorang, melainkan dibalik semua itu ada hikmah besar yang kelak Nak Mas dapati....., jalani dengan ikhlas, insya Allah Nak Mas akan bisa membantu Pak Gimin untuk menyelesaikan pembangunan musholla.......” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, memang ana masih suka merasakan beban dan tanggung jawab yang besar yang bergelayut dipundak ana, tapi syukurlah nasehat Aki telah mengangkat sebagian beban itu, doa kan ya Ki, semoga ana diberi Allah kemudahan untuk membantu Pak Gimin...........” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum, “Insya Allah Nak Mas...............” Katanya kemudian sambil menerima uluran tangan Maula yang pamitan.

Wassalam

Juli 15, 2008

DARI JEMARIMU YANG LENTIK


“Ki, syukur alhamdulillah, periode pertama penggalangan dana infaq ini mendapat hasil yang lumayan banyak ki, dan kemarin sudah dibagikan kepada anak yatim, dhuafa dan musafir, meskipun tidak besar, tapi para penerima infaq itu sangat bahagia menerimanya, selain karena mendapat uang, mereka juga merasakan kebahagian karena adanya perhatian dari saudaranya, bahkan beberapa orang sempat menitikan air mata ketika menerima uang infaq itu.............” Kata Maula.

“Nak Mas sendiri yang membagikan infaqnya....?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, ana bersama ustadz dan seorang perwakilan warga setempat yang mengantar kami kerumah-rumah penerima infaq itu..........” Kata Maula.

“Apa yang Nak Mas rasakan ketika berkunjung kerumah para penerima infaq itu...? Tanya Maula.

“Campur aduk ki, ada rasa haru, ada rasa iba, sekaligus ana merasa berdosa ki............” Kata Maula.

“Kenapa Nak Mas merasa berdosa Nak Mas.......?” Tanya Ki Bijak heran.

“Pertama, ana merasa berdosa karena selama ini ana sedikit sekali bersyukur atas apa yang ada pada ana sekarang ini, bahkan tak jarang hati ini masih merasakan kekurangan ki, padahal jika ana bandingkan dengan apa yang ana lihat pada yatim dan dhuafa kemarin, seharusnya ana bersyukur dengan segala nikmat_Nya ki, ana masih memiliki pekerjaan, ana masih memiliki penghasilan, kesehatan, rumah dan lain sebagainya, sementara mereka......, dengan segala keterbatasannya justru lebih bisa bersyukur daripada ana............” Maula tidak mampu lagi meneruskan ceritanya, dadanya penuh sesak oleh beban dan perasaan bersalah yang ada.

Sejenak Ki Bijak membiarkan Maula untuk larut dalam perasaannya.

“Nak Mas...., Aki justru senang ketika Nak Mas bisa merasakan kekurangan Nak Mas selama ini, dan itulah kenapa Aki selalu mendorong Nak Mas untuk lebih banyak bergaul dan mengenal mereka, kaum dhuafa, fakir miskin dan yatim, agar Nak Mas bisa belajar untuk dapat menerima dan mensyukuri keadaan Nak Mas sekarang ini......., Aki maklum kalau Nak Mas masih sering diliputi keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari sekarang, karena selain faktor lingkungan dan orang-orang disekitar Nak Mas, Nak Mas juga masih relatif muda, sehingga gejolak keduaniaan Nak Mas masih sangat besar, Aki berharap dengan apa yang Nak Mas temukan kemarin, Nak Mas akan mendapat penyeimbang antara keinginan Nak Mas dan rasa syukur kita kepada Allah swt....” Kata Ki Bijak.

“Iya ki.........” kata Maula pendek.

“Ki, Ana juga merasa bersalah karena ternyata mereka ada disekitar ana ki, dibelakang komplek yang jaraknya hanya terpisah lapangan bola, tapi selama ini ana seperti menutup mata dan telinga dengan keadaan mereka ki, ana tidak pernah tahu sudah berapa lama mereka dalam kondisi seperti itu.................” Lagi-lagi Maula tidak mampu melanjutkan penuturanya.

“Belum terlambat Nak Mas, Nak Mas insya Allah masih memiliki waktu dan kesempatan untuk menebus apa yang selama ini Nak Mas belum lakukan, ini adalah sebuah momentum yang sangat baik untuk Nak Mas dan rekan-rekan kembangkan, setelah kesadaran dan kepedulian Nak Mas dan rekan-rekan disemai, maka pupuk dan pelihara terus, jangan sampai layu sebelum berkembang........, mumpung Nak Mas dan rekan-rekan masih muda, masih sehat, masih dikarunia kelapangan rezeki, bersegeralah untuk memenuhi kewajiban kita untuk peduli dan berbagi dengan sesama............” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ternyata seribu rupiah yang dikumpulkan secara bersama, cukup banyak membantu orang lain ki, ana tadinya tidak kefikiran akan seperti apa uang seribu rupiah itu.........” kata Maula.

“Seribu rupiah memang tidak terlalu besar ketika ia berdiri sendiri Nak Mas, tapi ketika seribu rupiah itu disatukan dengan seribu rupiah-seribu rupiah yang lain, maka akan sangat berarti seperti jari-jari tangan ini............” kata Ki Bijak sambil memperlihatkan jari-jari tanganya.

Maula secara refleks ikut memperhatikan jemari tanganya, “Ada apa dengan jemari ini ki....”Tanyanya kemudian.

“Nak Mas perhatikan, setiap jari, memiliki fungsi dan peran yang berbeda, kelingking, jari manis, jari tengah, telunjuk dan ibu jari memiliki ukuran, posisi dan peran yang berbeda, coba Nak Mas pegang gelas ini dengan hanya menggunakan kelingking..............” Kata Ki Bijak sambil menyodorkan gelas minuman yang menemani obrolan mereka sore itu.

Maula tahu bahwa kelingking tidak akan mampu memegang gelas sendirian, tapi ia tetap melaksanakan apa yang diperintahkan gurunya, “Tidak bisa ki........” Katanya kemudian.

“Coba Nak Mas pegang gelas ini dengan kelingking dan jari manis..........” Kata Ki Bijak lagi.

Meskipun tahu kelingkin dan jari manis tidak mampu memegang gelas, Maula tetap melaksanakan perintah gurunya, “Tidak bisa juga ki...........” kata Maula lagi.

Pun seterusnya, Maula mencoba memegang gelas dengan ketiga jarinya, kelingking, jari manis dan jari tengah, gelas sedikit terangkat, tapi kemudian oleng dan hampir jatuh...,

Kemudian Maula memegang gelas dengan menambahkan jari telunjuknya, gelas terangkay dan relatif bisa dipegang, tapi tidak kokoh, hingga akhirnya Maula menggunakan kelima jarinya untuk memegang gelas, dan gelas pun terpegang dengan erat dan kuat....

“Kira-kira seperti itu Nak Mas, setiap kita memiliki kapasitas, kemampuan dan posisi masing-masing, kalau Nak Mas saja yang mengumpulkan uang seribu rupiah setiap hari, sebulan hanya akan terkumpul tiga puluh ribu rupiah, belum mampu memberi manfaat yang banyak kepada orang lain, sebagaimana halnya kelingking yang tidak bisa mengangkat gelas tadi......,

“Kemudian kalau ada dua orang, jumlah uang yang terkumpul akan bertambah, dan insya Allah manfaatnya pun bertambah, tambah menjadi tiga, empat, lima dan bahkan menjadi seratus orang, maka jumlah yang terkumpul menjadi besar, dan insya Allah akan memberikan manfaat yang juga lebih besar, seperti halnya kelima jemari ini..............” kata Ki Bijak.

“ketika lima jari ini bersatu padu, bahu membahu, tidak saling mengandalkan, tidak saling meremehkan, jangankan gelas ini, batu yang jauh lebih berat, insya Allah akan terangkat, balok kayu yang lebih besar, insya Allah akan terangkat, dan akan banyak hal yang bisa kita lakukan jika semua jemari kita bekerja sama dan bersatu........, pun demikian halnya dengan apa yang Nak Mas dan rekan-rekan lakukan, semakin banyak orang yang terlibat dan melibatkan diri untuk berinfaq dan sedekah, insya Allah akan semakin banyak dhuafa dan yatim yang tersantuni, akan semakin banyak fasilitas ibadah yang terbenahi, akan semakin fakin miskin terbantu dan akan semakin banyak hal yang bisa kita lakukan jika kita mampu menyatukan semua potensi yang kita miliki.........” kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, umat islam Indonesia sekarang ini sekitar 180 juta, kalau 100 jutanya saja mau meng-infaq_kan seribu rupiah per hari, artinya akan terkumpul uang sekitar 100 Milyar/hari ya ki........., dan kalau uang itu dibagikan kepada orang miskin dan dhuafa...., wah harusnya tidak ada yang miskin lagi ki, karena setiap hari seorang yang tidak bekerja dan tidak berpenghasilan pun mungkin masih kebagian satu juta rupiah per hari/orang..........” Kata Maula.

“Idealnya seperti itu Nak Mas, tapi kita tidak bisa menunggu semua orang Islam Indonesia sadar dan menyadari betapa berartinya seribu rupiah mereka, dengan apa yang Nak Mas dan rekan-rekan lakukan sekarang pun insya Allah akan dicatat sebagai amal ibadah disisi Allah swt, syukur kalau kemudian lahir gerakan-gerakan seperti ini dari orang lain dan ditempat yang berbeda.........................” kata Ki Bijak.

“Iya ki, sampai kemarin ana masih berfikir kenapa harus ada orang miskin, kenapa Allah tidak menjadikan semua orang kaya dan berkecukupan, tapi syukurlah ana sudah mendapatkan jawabanya sekarang, bahwa adanya mereka kaum dhuafa, fakir miskin, yatim dan lainnya adalah sebagai ladang amal kita ya ki...............” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, tidaklah Allah menjadikan adanya orang miskin dan kaya tanpa ada hikmah dibalik itu semuanya, melainkan keberadaan dua kelompok miskin dan kaya ini ada sebentuk keseimbangan, agar dunia berputar, agar orang kaya punya lahan untuk menabur benih-benih pahala dengan sedekahnya, dan agar ada do’a-do’a mustajab dari fakir miskin dan dhuafa untuk semua hamba Allah yang telah menyantuninya..........” Kata Ki Bijak.

“Indah sekali ya ki, sikaya berderma, sebuah pahala, si miskin berdoa, doanya mustajab, subhanallah, Maha Suci Engkau Ya Allah yang telah menciptakan keseimbangan ini...................” Kata Maula.

Maula mendongakan kepalanya keatas seraya menundukan hati pada kebesaran_Nya, pun demikian dengan Ki Bijak, gurunya.

Wassalam

July 05, 2008