Friday, July 9, 2010

AQUARIUM VS KOLAM

“Nak Mas masih memiliki keinginan untuk wira usaha….?” Tanya Ki Bijak dalam sebuah kesempatan.

“Insya Allah masih ki, ana masih menginginkan punya usaha sendiri, ana berharap dengan wira usaha, ana bisa lebih punya banyak waktu untuk keluarga……” Kata Maula.

“Kalau memang Nak Mas berkeinginan seperti itu, tidak ada salahnya Nak Mas mencoba membuka usaha kecil-kecilan dulu dari sekarang, hanya Aki pesan sebelumnya Nak Mas harus mempersiapkan dan memperhitungkan segala sesuatunya dengan teliti dan cermat…., shalat istikhorah mungkin bisa membantu Nak Mas untuk memulai bidang yang akan Nak Mas tekuni……” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki…., ana sedang mempersiapkannya, sambil mencari referensi dari teman-teman yang sudah memulainya terlebih dahulu…..” Kata Maula.

“Syukurlah kalau demikian, carilah referensi dan ilmu dari orang-orang yang kompeten dibidangnya, karena Aki sendiri tidak bisa membantu Nak Mas secara teknis dan materi, Aki hanya bisa memberi sedikit saran yang mungkin Nak Mas butuhkan nantinya…..” Kata Ki Bijak.

“Ki…., nasehat-nasehat Aki, jauh lebih berharga dari bantuan material dan bantuan teknik apapun, karena bagi ana, nasehat Aki adalah obor yang selalu menerangi hati dan pemikiran ana, itu jauh lebih berharga ki….” Kata Maula.

Ki Bijak menarik nafas panjang, “Berwira usaha mungkin akan sedikit berbeda dengan ketika Nak Mas menjadi seorang karyawan seperti sekarang, bedanya.., dalam analogi Aki seperti ikan yang hidup diaquarium dan dan ikan yang hidup bebas dikolam yang luas…..” Kata Ki Bijak kemudian.

“Beda antara wirausaha dengan karyawan seperti ikan diaquarium dan ikan dikolam ki…..?” Tanya Maula.

“Iya Nak Mas, ikan diaquarium, kelihatannya hidup relative ‘lebih mudah’, ikan diaquarium mendapat jatah makan dari sang pemilik setidaknya dua atau tiga kali sehari, kemudian air diaqaurium jauh lebih bening, sehingga semuanya terlihat, kemudian lagi ‘kompetisi’ antar ikan diaqurium, relative tidak ada, karena biasanya ikan dalam aquarium merupakan ikan dari jenis yang sama…….” Kata Ki Bijak

“Lalu ki….?” Tanya Maula.

“Pun demikian dengan kehidupan seorang karyawan yang relative ‘terbaca’, setiap bulan dapat gaji dari perusahaan, kemudian lingkungannya relative tidak berubah, teman-teman sekantor yang sama, dan jikapun ada kompetisi, masih dalam batas toleransi dan wajar…….”

“Beda halnya dengan ikan yang hidup dikolam luas…, ikan yang hidup dikolam memiliki ‘potensi’ makanan yang jauh lebih besar dan banyak, dikolam, ikan bisa bebas memilih makanan yang tersedia disana, meski pada suatu saat, ikan dikolam mungkin tidak dapat makanan sama sekali, karena banyaknya komunitas ikan dikolam yang memperebutkannya, belum lagi kondisi air yang tidak sebening air aquarium, ikan dikolam harus benar-benar bisa survive untuk dapat memperoleh makanan dan mempertahankan hidupnya……” Kata Ki Bijak beranalogi.

“Pun demikian dengan seorang usahawan, dengan menjadi wiraswasta, peluang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar, sangat terbuka lebar, potensi untuk maju juga relative lebih besar, hanya itu tadi, didunia wirausaha, persaingan dan kompetisi sangat ketat, lingkungannya pun relative lebih luas, mungkin hampir setiap hari seorang wirausahan akan bertemu dan berhubungan dengan orang yang berbeda, latar belakang yang berbeda, tujuan dan motivasi yang berbeda, karakter yang berbeda, dan masih banyak lagi ragam yang berbeda yang kesemuanya harus kita hadapi untuk dapat survive dan berhasil dalam dunia wirausaha……..” Kata KI Bijak.

“Waah….., ana tidak menyangka Aki mempunyai wawasan dan visi kewirausahaan yang hebat…….., ana sendiri belum terpikir sejauh itu ki…..” Kata Maula mengagumi wawasan luas dari gurunya.

“Justru Aki yang banyak belajar dari Nak Mas mengenai hal ini, Aki tidak terlalu pandai mengenai urusan dunia wira usaha Nak Mas…..” Kata Ki Bijak

“Tapi apa yang Aki katakan tadi sangat masuk akal ki…., karyawan, mendapat gaji setiap bulan, tapi ya hanya itu saja sumber penghasilannya, paling banter dapat lemburan dan bonus, sementara pedangang atau wirausahawan, suatu waktu mungkin akan mendapat keuntungan yang besar, usahanya maju, berhasil dan sukses, sementara disisi lain, sangat mungkin seorang pedagang atau wirausahawan akan mengalami kerugian atau usahanya tidak lancar, dan mereka akan mengalami kesulitan…….., dan itu sangat masuk akan dan perlu dipikirkan oleh setiap orang yang mau memulai memasuki dunia usaha……” Kata Maula.

“Dan kalau memang Nak Mas benar-benar mau masuk kedalam dunia usaha tadi, Aki harap Nak Mas sudah benar-benar siap dengan segala kemungkinan yang akan Nak Mas temukan di’kolam’ besar yang menjanjikan, sekaligus penuh tantangan ini……….” Kata Ki Bijak lagi.

“Bismillah Ki……, semoga Allah member kemudahan dan kelancaran bagi ana untuk melaksanakan niatan ini……” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas, dan jangan lupa…., niatnya diluruskan…, jika Nak Mas ingin memiliki usaha sendiri, bukan karena Nak Mas ingin kaya, bukan karena Nak Mas mengejar materi semata, bukan karena ikut-ikutan, atau apalagi hanya karena teman-teman Nak Mas lebih dulu ‘sudah berhasil’, tapi niatkan untuk ibadah, untuk mencari ridha Allah semata……..” Kata Ki Bijak menambahkan.

“Insya Allah ki, dan ana juga memohon doa Aki ya ki….” Pinta Maula.

“Nak Mas, tanpa Nak Mas mintapun, Aki selalu berdoa untuk kebaikan Nak Mas dan keluarga, semoga Nak Mas dan keluarga senantiasa dalam rahmat dan kasih sayang Allah swt…….” Kata Ki Bijak.

“Amiiin……” Maula mengamini.

Wassalam

July 2010.

Friday, July 2, 2010

BERSYUKUR ITU……

“Kenapa Nak Mas, sepertinya ada yang mengganggu pikiran Nak Mas….? Tanya Ki Bijak, melihat rona wajah Maula yang agak berbeda dari biasanya.

“Iya ki, rencananya minggu ini ana mau beli kitab yang Aki sarankan kemarin, tapi nggak jadi…., uangnya belum cukup ki…” Kata Maula.

“Bukannya kemarin Nak Mas bilang minggu ini Nak Mas dapat bonus dari kantor…?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Iya ki, bonusnya sudah dibagikan, tapi nilainya jauh dari perhitungan ana kemarin, jadi uangnya ana pakai untuk melunasi hutang dulu, sementara beli kitabnya ana tunda, nggak apa-apa kan ki….” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula; “Nak Mas…, tidak apa-apa kalau Nak Mas menunda pembelian kitab itu, dan Nak Mas tidak perlu kecewa karena bonus Nak Mas tidak sesuai dengan perhitungan Nak Mas, karena itulah rezeki yang Allah karuniakan kepada Nak Mas untuk saat ini…..” Kata Ki Bijak menasehati.

“Tapi ki, bonus kali ini ‘aneh, masak lebih kecil dari tahun sebelumnya, padahal gaji pokoknya sudah naik….” Maula masih penasaran.

Ki Bijak kembali tersenyum mendengar Maula yang masih nampak sedikit kesal, “Nak Mas…, memang benar yang menghitung bonus itu secara syariat pihak perusahaan, tapi bagi kita yang beriman kepada Allah, harus meyakini bahwa apa yang diputuskan perusahaan itu hakekatnya adalah putusan Allah jua, besar kecilnya bonus atau rezeki kita, sudah diatur Allah jauh sebelum pihak perusahaan memutuskan berapa jumlah bonus yang akan Nak Mas terima sekarang……” Kata Ki Bijak lagi.

“Astaghfirullah…., benar Ki….., mau orang jepang, mau bule atau siapapun, tetap saja mereka dalam kekuasaan Allah ya ki, sekalipun mereka tidak mengakui Allah…..” Kata Maula menyadari kealfaannya.

“Ya Nak Mas, tidak ada kekuasaan atau kekuatan apapun yang mampu member rezeki pada kita selain Allah, pun dengan jepang, dengan bule atau siapapun, hanya Allah sajalah yang mampu melapangkan atau menyempitkan rezeki kita dengan qudrat dan iradahnya…, lagi pula boleh jadi ada banyak pelajaran yang dapat Nak Mas petik dari apa yang Nak Mas dapati sekarang….” Tambah Ki Bijak lagi.

“Pelajaran ki…..?” Tanya Maula.

Ki Bijak mengangguk, “Nak Mas masih ingat dengan ayat Allah dalam surat A-rum 37 dan Az-Zummr 52..? Tanya Ki Bijak.

“Iya ki…..” Jawab Maula sambil membaca ayat dimaksud;

37. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.

52. Dan Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.

Ki Bijak mengangguk untuk membenarkan apa yang Maula baca; “Pelajaran pertama yang dapat kita ambil adalah bahwa kita harus senantiasa memperbaharui keimanan kita bahwa Allah-lah yang memberi rezeki pada kita, bukan perusahaan, bukan atasan, mereka hanyalah wasilah dari Allah untuk menyalurkan rezeki pada kita…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki….” Jawab Maula pendek.

“Pelajaran yang kedua, berhati-hatilah ketika kita punya rencana, jangan ujub, jangan takabur, jangan merasa bisa melakukannya sendiri tanpa izin Allah, seperti rencana Nak Mas untuk membeli kitab kemarin, tujuannya bagus, hanya jangan lupa, ucapkan insya Allah, sehingga kehendak kita selaras dan tidak mendahului kehendak Allah…..” Kata Ki Bijak lagi.

Maula mengangguk tanda mengerti;

“Pelajaran yang ketiga, kita harus belajar lagi memaknai syukur dengan benar, sekali-kali kita tidak akan bisa mensyukuri nikmat Allah yang besar, jika kita belum mampu mensyukuri nikmat yang kecil, seperti sekarang ini, Nak Mas tengah diuji oleh Allah, mampukah Nak Mas mensyukuri bonus yang kecil, sebelum insya Allah Nak Mas akan mendapat bonus yang lebih besar, dan ingat, barang siapa mensyukuri nikmat Allah, maka Allah akan menambah nikmat_Nya, dan barang siapa kufur, maka azab pedih menantinya……” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat Allah dalam surat Ibrahim;

7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

“Iya ki, ana mengerti……” jawab Maula pendek

“Jadi sekarang Nak Mas masih ‘kesal’ karena bonusnya kecil….?” Tanya Ki Bijak sambil senyum.

“Insya Allah tidak lagi ki…., justru ana makin menyadari bahwa masih banyak yang harus ana perbaiki untuk mendapat ‘bonus’ dari Allah, ana merasa syukur ana masih kurang, ana merasa tahajud ana masih bolong-bolong, ana juga merasa sedekah ana masih sedikit, semoga ini menjadi awal bagi ana untuk memperbaikinya ki…..” Jawab Maula.

“Itu baru santri Aki……” Kata Ki Bijak sambil mengacungkan dua jempol untuk Maula.

Maula tersenyum dan menyalami gurunya untuk pamitan.

Wassalam

July 2, 2010

Saturday, June 12, 2010

SAVE OUR PALESTINE!!

“Keterlaluan ya ki……” Kata Maula, mengomentari kebrutalan tentara zionis yang menyerang kapal bantuan kemanusiaan untuk warga palestina di Gaza.

“Ya Nak Mas, dan itulah watak asli kaum zionis…, mereka adalah kaum yang memiliki trek record sangat buruk disisi Allah dan sisi manusia…….” Kata Ki Bijak tak kalah prihatin.

“Iya ki, ana pernah baca beberapa ayat Al qur’an yang menyatakan betapa buruknya kelakukan ‘yahudi’ ini…….” Kata Maula lagi.

“Benar Nak Mas, tidak kurang dari dua puluh dua sifat tak terpuji yahudi yang Allah jelaskan dalam al Qu’an; seperti keras hati, dzalim, banyak diantara mereka yang fasik dan sedikit yang beriman, selalu memusuhi orang-orang islam, suka mengubah dan memutar balikan kebenaran, dan mereka pun tak segan menyembunyikan bukti kebenaran dari Allah swt, bertuhankan pada nafsu, mencampur-adukan yang benar dan yang salah, pengkhianat, merasa dirinya umat terbaik, dan masih banyak lagi yang Al qur’an terangkan mengenai keburukan yahudi ini….” Kata Ki Bijak.

Maula menghela nafas panjang mendengar berbagai macam keburukan yahudi yang dengan jelas diterangkan dalam al qur’an.

“Ki…..kenapa yahudi harus ada ya ki…., kalau kemudian mereka hanya membuat kerusakan seperti ini…?” Tanya Maula, yang larut dalam balutan emosinya, demi mendengar berbagai berita tentang keburukan yahudi.

Ki Bijak tersenyum mendengar pertanyaan Maula, “Aki tidak tahu kenapa Allah menciptakan bangsa yahudi Nak Mas, karena mencipta adalah hak prerogatif Allah, dan kita tidak perlu mempertanyakan kenapa yahudi diciptakan, yang sekarang harus kita lakukana adalah bagaimana kita menyikapi ‘ujian’ kejadian ini dengan bijak dan cermat…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Kejadian penyerangan kapal bantuan dan apa yang terjadi dengan rakyat Gaza adalah ujian bagi kita ki….?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, apa yang terjadi disana adalah ujian bagi kita, ujian bagi keimanan dan kemanusiaan kita…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Ana masih belum mengerti ki…..” Tanya Maula lagi.

“Begini Nak Mas, sebagaimana dilansir berbagai media, bahwa penyerangan kapal bantuan adalah sebuah pelanggaran terhadap berbagai aspek kemanusian,dan tanpa bermaksud mengecilkan pengorbanan para relawan, apa yang dialami rakyat Gaza jauh lebih memilukan dari apa yang para relawan alami, saudara-saudara kita di Gaza, bukan hanya satu dua hari menghadapi intimidasi dari para zionis, saudara-saudara kita di Gaza, tidak hanya satu dua kali ditodong senjata, saudara-saudara kita di Gaza, bahkan tidak tahu akan seperti apa nasib mereka esok hari…., semuanya seperti gelap, semuanya seperti tertutup, semuanya serba tidak pasti……, dan yang lebih menyedihkan, mereka seperti tidak punya saudara atau teman yang mau membelanya, mereka seperti dibiarkan sendiri menghadapi kedzaliman para kaum lalim ini…….” Kata Ki Bijak dengan nada penuh keprihatinan.

“Benar Ki, ana tidak bisa membayangkan perlakuan keji macam apa yang diterima rakyat Gaza didalam kungkungan tembok sana, sementara para relawan yang terdiri dari berbagai bangsa saja, masih diperlakukan seperti itu, bagaimana dengan rakyat Gaza…….?!, Maula tak kuasa meneruskan kata-katanya, hatinya bergemuruh menahan gejolak ‘kemarahan’ terhadap kekejian yahudi terhadap rakyat Gaza.

“Ketidakadilan, penindasan, intimidasi, bahkan pembunuhan keji, merupakan pemandangan yang dengan mudah ditemukan disana, tak peduli anak-anak, tak peduli orang tua renta, tak peduli wanita dan bahkan bayi, mereka bisa menjadi sasaran kekejian kaum zionis ini setiap saat, dan yang lebih memilukan bagi Aki, kita, umat yang seakidah dengan mayoritas rakyat Gaza, seperti menutup mata dengan apa yang terjadi disana…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, padahal Palestina dikelilingi oleh negara-negara Islam yang harusnya bisa membantu ya ki…..” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang, memang tidak seharusnya Palestina dan warga Gaza menderita seperti sekarang ini, ditengah-tengah ‘saudara seakidah’nya, “Tapi itulah yang terjadi Nak Mas, negara-negara Islam disekitar Palestina tidak bisa ‘berbuat apa-apa’ karena ‘kesalahan’ umat ini yang terperangkap dalam politik ‘Devide at empera’ yang sudah dilancarkan oleh musuh-musuh Islam dari sekitar awal abad 18, salah satunya adalah dengan cara mengobarkan paham nasionalisme di Arab untuk memecah khilafah islamiyah…….” Kata Ki Bijak menyingung sedikit hal ikhwal ketidakberdayaan bangsa-bangsa Arab atas kesewenang-wenangan yahudi.

“Lagi-lagi islam ‘kalah’ oleh politik jahat ini, politik pecah belah, adu domba dan kemudian dijajah……” Kata Maula mengomentari asbab penjajahan yahudi atas Palestina.

“Ya Nak Mas, sudah terlalu banyak catatan sejarah kelam tentang ‘kekalahan’ umat islam akibat perpecahan yang terjadi ditengah umat ini, dan kini saatnyalah umat islam menyadari bahwa potensi kekuatan umat islam adalah persatuan dan ukhuwah yang dibalut dengan kekokohan tali akidah yang kuat……..” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kalau umat islamnya masih tercerai berai seperti sekarang ini, bagaimana bisa menang dari yahudi….?” Tanya Maula.

“Nak Mas benar, kita tidak bisa mengandalkan bantuan orang/umat lain untuk membebaskan rakyat palestina khususnya, dan umat islam umumnya, dari penjajahan umat dan bangsa lain, kita, umat Islam harus bangkit dengan kekuatan kita sendiri, dan kekuatan utama umat islam ini adalah akidah dan keimanan yang kokoh, sehingga mereka mampu berjuang dijalan Allah dengan ikhlas dan sabar, karena sesungguhnya jika ada dua puluh orang beriman yang berjuang dijalan Allah dengan sabar, akan mampu mengalahkan seribu orang kafir………….., itu yang pertama…” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat Al qur’an dalam surat Al Anfal.

65. Hai nabi, Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti[623].

[623] Maksudnya: mereka tidak mengerti bahwa perang itu haruslah untuk membela keyakinan dan mentaati perintah Allah. mereka berperang Hanya semata-mata mempertahankan tradisi Jahiliyah dan maksud-maksud duniawiyah lainnya.

66. Sekarang Allah Telah meringankan kepadamu dan dia Telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.

“Kita membutuhkan orang beriman yang sabar….,hmmh, apakah sekarang ini umat islam kekurangan orang mukmin yang sabar ki……?” Tanya Maula.

“Pertanyaan yang bagus Nak Mas, dan Aki tidak perlu menjawabnya secara langsung, Nak Mas bisa membacanya dari apa yang ada disekitar dan daru apa terjadi sekarang ini……” Jawab Ki Bijak diplomatis.

Maula manggut-manggut, “Lalu apa potensi umat islam yang kedua ki…?” Tanya Maula.

“Seperti Aki katakan tadi, umat ini akan menjadi kuat ketika umat ini bersatu padu……..., tidak tercerai berai dan tidak saling menjatuhkan sesama muslim…..” Kata Ki Bijak.

“Apakah persatuan umat islam sekarang ini kurang ki….?” Tanya Maula.

“Lagi Nak Mas, jawabannya bisa Nak Mas lihat sendiri, seperti dipalestina sana, sekarang ini, masing-masing negara (islam) berdiri sendiri, bahkan dikeseharian kita pun, kurangnya ukhuwah dan persatuan umat islam ini nampak dengan sangat jelas…..” Kata Ki Bijak.

“Kita bisa melihat kurangnya persatuan umat islam disekitar kita ki…?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, coba Nak Mas perhatikan bagaimana pergaulan antar sesama muslim disekitar kita, jarang sekali kita saling menyapa dan menebar salam pada sesama muslim, bahkan tak jarang sesama muslim saling curiga dan berprasangka….., belum lagi apa yang kita lihat dimasjid-masjid yang hampir selalu sepi dari jamaah….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, ana juga merasakan pergaulan sesama muslim ini masih sangat renggang, apalagi kami yang tinggal dikomplek, jarang sekali kami bisa berkumpul dan berbincang masalah agama dan lainnya, lalu apakah banyak tidaknya jamaah dimasjid mengindikasikan sesuatu ki…? Tanya Maula

“Shalat berjamaah bisa menjadi simbol persatuan umat ini Nak Mas, kesamaan niat, persamaan gerak, kepatuhan pada imam dan masih banyak hal yang menyiratkan bahwa shalat berjamaah merupakan simbol kekuatan dan persatuan umat islam, hanya sayang, masjid yang megah dan mewah, dibangun dengan jerih payah dan jumlah materi yang tidak sedikit, hanya menjadi tontonan dan kebanggaan semu, jika kita ingin menang lawan yahudi, seyogyanya lah dari sekarang kita merapatkan barisan, memperkuat persatuan, yang salah satu sarananya dengan jalan shalat berjamaah….” Kata Ki Bijak.


“Ya ki……, semoga apa yang terjadi sekarang ini, menyadarkan umat islam akan penting persatuan dan memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah….” Kata Maula.

“Selain dua hal tadi, mukmin yang sabar, dan persatuan yang kokoh, kita juga bisa ‘bergerilya melawan sifat yahudi’ didalam diri kita Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Ki Bisa bergerilya melawan sifat yahudi yang ada dalam diri kita ki….?” Tanya Maula heran.

“Sifat membangkang dan tidak mau melaksanakan perintah Allah, adalah sifat yang sering dilekatkan pada yahudi ini, tapi sifat itu juga mungkin ada pada diri kita, manakala kita tidak mau shalat, tidak mau zakat, tidak mau shaum, bukankah itu juga pembangkangan terhadap perintah Allah…? Jika kita tidak suka yahudi, maka jangan biarkan sifatnya hidup subur dalam diri kita…..”

“Kemudian, yahudi dikenal dengan kaum yang tahu dan memahami kitab mereka dengan baik, tapi mereka menyembunyikan kebenaran isi kitab mereka dan menggantinya dengan tangan-tangan mereka, dengan tujuan mengingkarinya, adakah kita yang diberi al qur’an, membacanya, tapi kemudian tidak mau melaksanakan apa yang dikatakan al Qur’an…? Jika kita benci yahudi, maka kita wajib membenci sifat ingkar kita terhadap al qur’an yang kita baca…..”

“kemudian lagi, yahudi juga dikenal dengan kaum arogan, sombong dan merasa dirinya umat terbaik, dan sifat ini harus kita jauhkan dari diri kita, jika kita tidak ingin yahudi hidup terus-menerus dalam keseharian kita…”

“Dan masih banyak lagi sifat-sifat tidak terpuji yang kita tidak sukai dari yahudi, yang harus kita hilangkan dari dalam diri kita, itupun insya Allah merupakan upaya yang sangat baik dalam rangka kita ‘memerangi’ yahudi…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ya ki…jangan sampai ya ki kita teriak-teriak membenci yahudi, tapi justru sifat-sifat buruk yahudi masih hidup dan tumbuh subur dalam diri kita……” Kata Maula.

“Itu sikap terbaik yang bisa kita lakukan, untuk setidaknya menunjukan empati kita kepada saudara-saudara kita di Palestina sana, yakni dengan cara ‘memerangi’ sifat yahudi dalam diri kita, syukur kalau kemudian Nak Mas dan teman-teman punya kuasa dan kemampuan untuk bisa membantu rakyat Palestina secara langsung, baik itu berupa materi, tenaga atau bantuan lainnya, tapi kalau belum bisa, perbanyaklah berdoa kepada Allah untuk memohon perlindungan bagi rakyat Palestina khususnya dan kaum muslimin umumnya, semoga Allah menolong rakyat Gaza dan kaum muslimin seluruhnya, amiiin……” Kata Ki Bijak.

“Amiiiin……” Kata Maula menutup perbincangan.

Wassalam

Tuesday, May 18, 2010

BELAJAR IKHLAS DARI SI AYAS

“Justru kitalah yang sering berlaku tida adil pada Allah Nak Mas…..” Jelas Ki Bijak menanggapi penuturan Maula mengenai adanya beberapa orang yang sering ‘menyalahkan’ Allah dan mengatakan bahwa Allah tidak adil, hanya karena ia tidak mendapatkan apa yang diinginkan nafsunya.

“Kita yang sering berlaku tidak adil pada Allah ki…?” Tanya Maula menegaskan.

“Ya Nak Mas, kitalah yang justru kerap berlaku tidak adil pada Allah, kita sering ‘menuntut’ Allah untuk segera mengabulkan permohonan kita, dengan jumlah dan ukuran yang sesuai dengan kita, padahal disisi lain, ketika kita diperintah shalat tepat waktu, kita selalu punya alasan untuk menundanya, shalat dhuhur ditunda, karena perut kekenyangan, shalat ashar ditunda, karena kita lagi sibuk atau tanggung dengan pekerjaan, shalat maghribpun tertunda, karena masih dalam perjalan, hingga shalat isya pun tertunda karena sebagian kita nonton sinetron duluan, terlebih shubuh, sudah menjadi rahasia umum,bahwa sebagian kita shubuhnya diakhir waktu, karena malamnya begadang…..,siapa yang tidak adil menurut Nak Mas…?” Kata Ki Bijak menjelaskan.

“Astaghfirullah, benar ki, kadang kita lupa bahwa kita adalah hamba yang tugasnya mengabdi dan menjalankan perintah, bukan justru lebih banyak menuntut ya ki…..” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, kita ini hamba yang diciptakan untuk semata mengabdi pada_Nya, meski Allah tidak melarang kita meminta dan bahkan menganjurkannya, tapi kita harus punya etika dan tatakrama dalam kita memohon pada Allah……” Tambah Ki Bijak.

Maula diam sejenak, menyimak penuturan gurunya, sesaat kemudian sang guru melanjutkan wejangannya;

“Aki punya sebuah cerita menarik mengenai bagaimana seharusnya seorang hamba bersikap, Nak Mas mau mendengarkannya….?” Tanya Ki Bijak.

“Tentu…,tentu Ki, ana dengan senang hati mau mendengar cerita Aki……” Jawab Maula.

“Ceritanya begini Nak Mas, ada seorang abdi istana yang sangat patuh pada setiap perintah sang raja, sebut saja namanya Ayas; awalnya Ayas ini hanyalah seorang tukang kebun di istana sang raja…….” Kata Ki Bijak mengawali ceritanya.

“Lalu ki….?” Tanya Maula penasaran.

“Meski hanya sebagai penjaga kebun, kepatuhan, ketaatan dan pengabdiannya Ayas yang tulus ikhlas tanpa pamrih, membuat sang raja tertarik pada perilaku Ayas yang sangat terpuji itu, akhirnya sang raja mengangkat Ayas menjadi abdi dalam di istananya………” Sambung Ki Bijak.

“Waah, beruntung sekali si Ayas ini ya ki…….” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum pada Maula, “Bukan hanya karena beruntung kalau kemudian Ayas diangkat menjad abdi dalam istana Nak Mas, tapi pengabdian, ketulusan dan ketaatannya itulah yang kemudian menggerakan hati sang raja untuk mengangkatnya….., sampai sini Nak Mas melihat ‘sesuatu’ dari cerita yang barusan…..?” Tanya Ki Bijak.

“Hhhh…., apa ya ki…., mungkin pengabdian yang tulus ikhlas Ayas yang berbalas kemuliaan ki…..?” Jawab Maula.

“Nak Mas benar, awal cerita barusan adalah sebuah kias bagaimana sebuah pengabdian yang tulus ikhlas berbuah kemuliaan dan kehormataan….., pun dengan kita Nak Mas, kita ini abdi dihadapan sang Maha Raja, Allah swt….., maka seyogyanyalah kita mengabdi kepada Allah dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih apalagi sampai riya, dan yakinlah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan amal baik mahluk_Nya, dan pengabdian yang tulus ikhlas adalah sebuah permohonan tanpa kata yang jauh lebih Allah sukai dari pada mulut kita meminta-minta dengan berbagai permohonan, sementara sikap dan pengabdian kita masih banyak terbalut dengan pamrih dan riya, sebagaimana Ayas, insya Allah, ketika pengabdian kita murni dan tanpa pamrih, kemulian dan kehormatan sebagai hamba Allah akan kita raih…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, sepanjang apapun doa yang dibaca, tapi hanya keluar dari mulut saja, tanpa disertai keyakinan dan keimanan dari dalam hati, hanya akan membuat mulut kita lelah mengucapkannya ya ki…..” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, lakukan saja pengabdian kita seikhlas dan sebaik mungkin, insya Allah, Allah akan memberikan imbalan yang pasti tepat bagi kita……” Tambah Ki Bijak.

“Iya ki…., lalu bagaimana kelanjutan cerita Ayas setelah jadi abdi dalam di istana ki…..” Tanya Maula.

“Pengangkatan Ayas dari tukang kebun menjadi abdi dalam istana, tak pelak menimbulkan perasaan iri pada sebagian abdi dalam istana lainya, mereka merasa Ayas tidak layak bersanding dengan mereka, karena Ayas hanyalah seorang rakyat jelata, sementara mereka dari golongan terpandang, maka timbullah sifat hasud pada sebagian pembesar istana terhadap Ayas, dan kemudian mereka bermufakat untuk menjatuhkan Ayas dimata sang raja, dengan harapan Ayas akan diturunkan kembali menjadi tukang kebun…….” Ki Bijak melanjutkan ceritanya.

“Waah nggak dimana nggak dimana ya ki, ada saja orang yang memiliki sifat dengki seperti, kalau ada orang yang naik jabatan, kasak kusuk cari kesalahan untuk menjantuhkan…….., lalu bagaimana dengan Ayas Ki……?” Kata Maula.

“Pada akhirnya kelompok abdi dalam yang bersekongkol untuk menjatuhkan Ayas ini, menemukan ‘celah’ untuk menjelekan Ayas, ketika mereka menemukan rutinitas Ayas setiap pagi hari antara pukul 09 hingga pukul 10, Ayas selalu memasuki kamarnya, dan menutup rapat pintu dan semua jendelanya…, hal ini diadukan oleh para pendengki itu kepada sang raja, dengan mengatakan bahwa Ayas setiap hari mengguna-guna raja agar raja sayang padanya………..” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki…..” Tanya Maula mulai penasaran.

“Raja yang arif ini tidak serta merta percaya dengan apa yang disampaikan oleh para abdinya, raja meminta pengaduan mereka dibuktikan, maka pada hari yang telah ditentukan, mereka mencoba melihat apa yang Ayas kerjakan didalam kamarnya, secara sembunyi-sembunyi mereka memantau setiap gerak-gerik Ayas didalam kamarnya……” Kata Ki Bijak lagi.

“Apa yang dilakukan Ayas didalam kamarnya ki…?” Maula seperti cemas kalau-kalau para abdi dalam itu menemukan celah untuk mencelakakan Ayas.

“Mereka tidak menemukan apapun, kecuali mendapati Ayas tengah duduk tafakur setelah shalat dhuha, dengan menanggalkan seluruh pakaian kebesarannya; dari tempat mereka sembunyi, mereka mendengar kata-kata Ayas: “Ya Rabb, hamba tetaplah seorang abdi_Mu, pakaian ini tidaklah berarti apa-apa bagi hamba, hamba hanya ingin menjadi abdi_Mu saja, tidak lebih ya Rabb…..’ , merah padamlah muka-muka mereka yang dengki pada Ayas, harapannya untuk menjatuhkan Ayas dengan aktivitas ‘ganjilnya’ ternyata gagal.

Mendengar hal ini, sang raja tersenyum, “Itulah alasan kenapa Aku mengangkat Ayas menjadi abdi dalam diistana ini, karena ia mengabdi kepadaku secara tulus ikhlas, tanpa pamrih apapun dariku………….” Kata Ki Bijak menirukan jawaban sang raja.

Meskipun para pendengki itu sudah ‘kalah’, tapi mereka masih mencari-cari cara untuk menjatuhkan Ayas……, hingga akhirnya sang Raja memutuskan untuk mengundang semua pembesar dan abdi dalam istana; termasuk Ayas didalamnya….” Ki Bijak melanjutkan ceritanya.

“Apa yang terjadi kemudian ki…?” Tanya Maula lagi.

“Dalam kesempatan itu, sang raja berkata kepada para abdinya; wahai abdiku sekalian, hari ini Aku memaklumkan pada kalian semua; bahwa silahkan kalian pilih apapun yang kalian mau yang ada diruangan ini……” Lagi Ki Bijak menirukan perkataan sang Raja.

“Para pembesar yang serakah itu kemudian kasak-kusuk satu sama lain, mata mereka liar mencara benda apa yang kira-kira akan dipilihnya; kemudian mereka berkata pada sang raja; Apakah benar apa yang kami pegang akan menjadi milik kami baginda; tanya para pembesar itu hampir bersamaan;

Sang Raja hanya mengangguk; maka bertebaranlah para pembesar itu keseluruh penjuru ruang istana, ada yang mengambil perhiasan, ada yang mengambil emas, ada yang mengambil perak dan banyak lagi yang mereka ambil dan perebutkan……” Kata Ki Bijak melanjutkan ceritanya.

“Bagaiman dengan Ayas Ki, apa yang dia ambil…?” Tanya Maula.

“Ayas tidak beranjak dari tempatnya Nak Mas, Ayas hanya duduk dan melihat pembesar lainnya memperebutkan harta dan perhiasan yang ada didalam istana….” Jawab Ki Bijak.


Sekembalinya para pembesar itu ketempat masing-masing, mereka heran melihat Ayas masih terpaku ditempatnya dan tidak mengambil barang apapun; pun dengan sang Raja; kemudian sang Raja bertanya kepada Ayas; “Ayas, kenapa engkau tidak mengambil barang berharga apapun seperti yang lain…? Tanya Sang Raja.

“Mendapat pertanyaa dari sang Raja, Ayas balik bertanya kepada sang Raja; “Tuanku, apakah benar apa yang hamba pegang akan menjadi milik hamba….?” Tanya Ayas.

“Benar Ayas, ambillah apa yang kau mau…” Jawab Sang Raja.

“Kemudian Ayas berdiri dan menghampiri Raja, “Perkenankan hamba memiliki paduka saja, hamba sudah cukup……..” Kata Ayas sambil memegang tangan sang Raja.

Semua yang hadir terdiam, tidak mengerti apa yang Ayas lakukan, dan Rajapun kemudian bertanya padanya; Ayas, apa yang kau maksud…?” Tanya Sang Raja.

“Tadi paduka mengatakan apa yang hamba pegang akan menjadi milik hamba, maka hamba memilih memegang dan memiliki paduka dari pada benda-benda itu…., karena padukalah pemilik istana ini, padukalah pemilik kerajaan ini, maka ketika hamba memiliki paduka, hamba sudah merasa memiliki segalanya……..” Jawab Ayas.

“Waaah,hebat banget pikiran Ayas ya ki, dia tidak memilih emas, karena ia tahu,ia hanya akan memiliki emas saja, tidak yang lainnya, kalau ia memilih berlian, mungkin berlian saja yang akan ia punyai, tapi dengan memegan dan memilih sang Raja, maka Ayas telah memiliki semuanya, emas, perhiasaan, istana dan bahkan kerajaan dan isinya…, hebat ki…..” Kata Maula kagum.

“Nak Mas tahu tamsilnya….?” Tanya Ki Bijak.

“Emas, perhiasan, berlian dan bahkan istana adalah perlambang dunia ini ki…, ketika seseorang mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan dunia, mungkin dia akan mendapatkan dunia itu, dan hanya itu yang akan mereka dapatkan, dunia saja..”,

“Sementara ketika kita memilih untuk mengabdi kepada Allah dengan tulus ikhlas, maka kita akan mendapatkan sang pemilik perhiasan, sang pemilik emas, intan dan berlian dan bahkan sang dunia ini, artinya kita akan mendapatkan segalanya, kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat, bukan begitu ki….?” Kata Maula.
“Ya Nak Mas, ketika kita ‘memilih’ Allah, maka kita sudah memiliki segalanya……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula merenung sejenak, menapaki kembali bagaimana ibadahnya selama ini, ia merasa ada banyak ibadahnya yang masih bercampur dengan keinginan duniawinya, tahajudnya kadang masih bercampur dengan keinginan untuk kaya, dhuhanya kadang masih ingin yang lain selain Allah dan sebagainya, Astaghfirullah….., bathinya memohon ampun.

“Ki Ana malu pada si Ayas ini ki…..” Katanya kemudian.

“Ayas kan hanya sebuah cerita Nak Mas, kenapa mesti malu…?” Tanya Ki Bijak.

“Ayas benar, dan itu yang harusnya ana lakukan, mengabdi kepada Allah dengan keikhlasan….” Kata Maula tertahan.

“Ya Nak Mas, Akipun belum bisa seperti Ayas sepenuhnya, tapi setidaknya mari kita berusaha dan memohon kepada Allah untuk bisa mengabdi kepadaNya dengan ikhlas sesuai kehendakNya……..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, lalu apa lagi sifat luhur Ayas yang bisa kita pelajari ki…..” Tanya Maula beberapa saat kemudian.

“Diakhir cerita, sang raja makin menyayangi Ayas, hingga sekali lagi sang Raja menguji para abdinya dengan sebuah perintah untuk menghancurkan mahkota yang tengah dipakainya…”.

“Para pembesar saling pandang, tidak mengerti dan tidak berani untuk menghancurkan mahkota sang Raja, beda halnya dengan Ayas, ia maju kedepan, kemudian dia menyanggupi untuk menghancurkan mahkota sang raja, para pembesar lain tentu bingung sekaligus berharap Ayas akan dihukum akibat tindakan bodohnya itu……” Lanjut Ki Bijak.

“Lalu apa yang terjadi ki…?” Tanya Maula.

“Sang Raja kemudian bertanya kenapa Ayas berani menghancurkan mahkotanya, dan Ayas menjawab ‘ Paduka, mahkota ini hanya sebuah benda mati, dan sementara titah paduka jauh lebih luhur dan agung untuk hamba emban, daripada hamba takut kepada benda mati ini……., Jawab Ayas.

“Raja bertepuk tangan untuk Ayas, kalian dengan dan lihat sendiri seperti apa Ayas ini kan, Ayas sangat menjunjung tinggi perintahku, sementara kalian lebih menghormati benda, jadi wajar jika kemudian Aku menjadikannya abdi dalam istanaku ini…….” Kata Raja lagi.

“Para pembesar lainnya, hanya tertunduk malu dengan sikap dan polah mereka, mereka yang selama ini memandang Ayas dengan sebelah mata, ternyata salah, Ayas ternyata seorang abdi yang ikhlas, Ayas ternyata seorang abdi yang hanya memilih rajanya, dan Ayas adalah seorang abdi yang menjunjung tinggi perintah raja, sementara mereka selama ini mengabdi dengan penuh pamrih atas pangkat dan jabatan, mereka selama ini hanya mengharapkan perhiasan duniawi, dan mereka ternyata juga lebih menghormati benda daripada titah rajanya…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Ini juga tamsil bagi kita yang suka pilih-pilih perintah Allah ya ki, kita berbondong-bondong melaksanakan perintah kala perintah itu menguntungkan kita, sebaliknya kita akan cenderung mundur kebelakang ketika perintah itu kita anggap merugikan, kita lebih melihat perintah dari kacamata kita, bukan dari siapa yang memerintahkannya ya ki……” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, dan tidak akan ada satupun perintah Allah yang akan merugikan kita, tidak akan ada perintah Allah yang akan menjerumuskan kita, kita laksanakan saja perintahNya, insya Allah kita akan tahu hikmah yang sangat besar dari perintah itu…..” Kata Ki Bijak melengkapi.

“Iya ki…., semoga Ana bisa seperti Ayas ya ki…..” Kata Maula sambil pamitan.

Wassalam.

May 16,2010

Wednesday, May 5, 2010

BERDOALAH KEPADA_KU, NISCAYA AKU KABULKAN……..

“Ki; kemarin ana berbincang dengan seorang teman, dia mengatakan bahwa akhir-akhir ini ia agak ‘jenuh’ berdoa dan meminta kepada Allah……., katanya ia sudah banyak berdoa tapi hingga sekarang doa-doanya seperti tidak diijabah oleh Allah…..” Kata Maula menceritakan perbincangan dengan temannya beberapa waktu lalu

Ki Bijak menghela nafas panjang; “Tidak boleh seperti itu Nak Mas, kita tidak boleh merasa jenuh atau bosan untuk meminta kepada Allah, karena itu memang kewajiban kita, kita wajib meminta, sementara kapan dan dalam bentuk apa pengabulan permohonan kita kepada Allah, itu adalah hak prerogatif Allah……, jauh lebih baik kita berbaik sangka kepada Allah daripada kita berprasangka jelek pada Dzat yang Maha mengabulkan, itu sebuah kedzaliman Nak Mas….” Jawab Ki Bijak.

“Astaghfirullah….,kadang ana juga masih merasa seperti itu Ki, syukur alhamdulillah Aki selalu mengingatkan ana…, Ki, adakah hal-hal yang membuat Allah ‘menahan’ permohonan kita ki……?” Tanya Maula.

“Untuk menjawab ini, ada sebuah nasehat bijak dari Ibrahim bin Adham, yang beberapa waktu lalu kita perbincangkan Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Apa Nasehatnya ki…..?” Tanya Maula.

“Suatu ketika, beliau, Ibrahim bin Adham melewati sebuah keramaian; yang dalam beberapa literatur, beliau melewati sebuah pasar yang sedang ramai……” Kata Ki Bijak mulai menceritakan Ibrahim bin Adham yang terkenal zuhud dan wara’nya.

“Lalu ki……?” Tanya Maula penasaran.

“Lalu sama seperti dengan teman Nak Mas tadi, orang-orang dipasar itu mengadukan perihal doa-doa mereka yang seperti tidak dijawab oleh Allah……, Ibrahim bin adham diam sejenak sebelum memberi nasehat kepada pada pengunjung pasar tersebut….” Tutur Ki Bijak.

Maula menahan diri untuk tidak menuntut, meski ia sangat penasaran dan ingin segera mengetahui apa nasehat sang Alim berkenaan dengan ‘tertahannya’ doa dan permohonan seorang hamba.

“Ibrahim bin adham kemudian menjawab bahwa ada sepuluh hal yang dapat menyebabkan tertahannya doa dan permohonan seseorang, yang pertama; beliau mengatakan bahwa kita mengenal Allah, namun tidak menunaikan hak_Nya……” Kata Ki Bijak lagi.

“Kita mengenal Allah, tapi tidak menunaikan hak-hak_Nya ki….?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, kita mengenal Allah sebagai Dzat yang Maha Esa; dan hak Allah atas kita adalah wajib bagi kita untuk tidak menyekutukannya; tapi banyak dari kita yang justru menyetarakan Allah dengan mahluk atau berhala…”

“Kita mengenal Allah sebagai Dzat yang wajib kita sembah dan kita ibadahi, tapi kadang kita pengabdian kita kepada mahluk justru melebihi pengabdian dan penyembahan kita pada Allah…:

“Hal-hal yang semacam inilah yang kemudian menjadi hizab, menjadi sekat kita dengan Allah, sehingga kemudian doa-doa kitapun terhizab oleh ‘pelanggaran’ kita terhadap hak-hak Allah…….”Papar Ki Bijak.

“Ana mengerti ki……” Kata Maula.

“Coba Nak Mas buka surat Al Baqarah ayat 186; disana dengan jelas Allah menyatakan bahwa ‘Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku’….”Kata Ki Bijak lagi.

Dengan segera Maula membuka al qur’an;

186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

“Benar Ki, Allah akan mengabulkan setiap doa; dengan ‘syarat’ si pemohon memenuhi perintah_Nya dan beriman kepada Allah…….” Kata Maula setelah melihat ayat dimaksud.

“Yang kedua, hal yang sangat mungkin menjadi asbab tertundanya permohonan kita menurut nasehat Ibrahim bin adham adalah kita membaca al qur’a, tapi kita tidak mau mengamalkan isinya…..” Tutur Ki Bijak.

“Banyak diantara kita yang rajin baca qur’an,bacaanya fasih, murotalnya bagus, tapi sikap dan perilaku sebagian dari mereka justru bertolak belakang dari apa yang dibacanya……., qur’an mestinya dijadikan ‘imam’ dan rujukan dalam kehidupan kita, tapi tak jarang mereka yang pandai membaca al qur’an justru ‘memaksa’ al qur’an untuk mengikuti hawa nafsu mereka, hal ini juga salah satu asbab tertundanya doa-doa kita…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…..” Jawab Maula pendek.

“Hal ketiga, yang menjadi asbab tertundanya doa-doa kita adalah bahwa kita tahu iblis itu musuh kita,musuh yang nyata, namun masih banyak jejak langkah iblis yang justru menjadi rujukan ikutan kita, Nak Mas tahu sikap iblis yang masih banyak ditiru oleh sebagian kita….?” Tanya Ki Bijak.

“Ya Ki, sifat enggan dan sombong, yang kemudian menjadikan iblis mahluk terusir dari surganya Allah……” Kata Maula.

“Nak Mas benar, sifat enggan untuk melaksanakan perintah Allah, dan sikap sombong karena merasa diri lebih baik dari yang lain, adalah perangkap iblis yang ditebar sepanjang perjalanan hidup kita……, maka berhati-hatilah terhadapnya, karena sekali lagi, boleh jadi kesombongan kitalah yang ‘menahan’ karunia Allah kepada kita…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki……” Jawab Maula.

“Lalu hal keempat yang menurut Ibrahim bin adham dapat menjadi asbab tertundanya permohonan kita adalah kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi kita lebih sering meninggalkan ajaran dan sunnahnya dari pada melaksanakannya….”,

“Kita selalu punya dalih untuk tidak mengikuti apa yang Rasulullah contohkan, ada yang mengatakan ‘inikan hanya sunnah’, dan lain sebagainya, padahal tidaklah Rasul melakukan atau mengatakan sesuatu itu tanpa perintah dari Allah, maka dalam hemat Aki, sunnah bukan berarti tidak perlu dikerjakan,karena dibalik sunnah itu banyak sekali terdapat hikmah dan pelajaran yang luar biasa besar…., dan lagi, ketika kita meninggalkan ajaran dan sunnah rasul,sangat boleh jadi hal ini yang menunda terkabulnya doa dan permohonan kita…” Kata Ki Bijak lagi.

“Nak Mas mengerti sampai sini……?” Tanya Ki Bijak, demi melihat Maula sedemikian serius menyimak penuturannya.

“Iya ki, ana mengerti, ana juga melihat adalah ‘sedikit kesalah pahaman’ dari sebagian kita tentang bagaimana merealisasikan kecintaan kita pada Rasul, seperti adanya berbagai kegiatan seremonial yang katanya wujud dari kecintaan pada Rasul, tapi justru bertentangan dengan ajaran dan sunnahnya…….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, dan nasehat lain yang Ibrahim bin adham sampaikan kepada para pengunjung pasar ketika itu, dan juga sangat relevan untuk kita renungkan sekarang ini adalah bahwa kita ingin surga, tapi amal kita jauh dari amalan para calon ahli surga;

“Lemudian kita takut neraka; tapi dengan senang hati sebagian kita melakukan perbuatan para calon ahli neraka;

“Lalu kita tahu bahwa kematian pasti datang, tapi kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya;

“Dan kita lebih sibuk mencari aib orang lain, tapi cenderung melupakan cacat dan kekurangan kita sendiri;

“Kemudian lagi kita tahu setiap hari kita makan rezeki dari Allah, kita minum air dari Allah, kita berpijak dibumi Allah, kita dihangatkan dengan cahaya matahari Allah, kita menghirup udara Allah, semuanya dari Allah, tapi kita kerap lupa untuk mensyukurinya,

“Dan yang terakhir yang dinasehatkan oleh Ibrahim bin adham adalah bahwa kita sering mengantar jenazah, tapi kita tidak pernah menyadari bahwa suatu saat kelak, pasti kita akan mengalami hal yang sama, hari ini kita mengantar jenazah, besok lusa, jenazah kitalah akan diusung dan diantar oleh orang lain……” Papar Ki Bijak, menggenapi sepuluh nasehat Ibrahim bin Adham bagi para pengunjung pasar, dan bagi kita yang masih sering merasa bosan berdoa karena merasa tidak pernah dijawab oleh Allah.

“Jadi ketika doa kita belum dikabulkan, jangan bosan ya ki, tetap berdoa dan lebih bijak lagi kita tengok kedalam, adakah apa yang dinasehatkan Ibrahim bin Adham itu masih melekat pada kita…..” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, berdoa itu sama dengan ikhtiat lahir kita untuk menjemput rezeki dan karunia Allah, jadi tetap harus kita lakukan terus-menerus, karena sekali-kali Allah tidak akan pernah bosan mendengar doa-doa kita, Allah tidak akan repot dengan permohonan-permohonan kita, justru Allah akan murka kepada orang yang enggan bermohon padanya……” Kata ki Bijak sambil mengutip ayat ke 60 dari surat Al Mu’min;


60. Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".

[1326] yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-Ku.


“Iya ki, terima kasih ki…..” kata Maula sambil menyalami gurunya untuk pamitan.

Wassalam

May 05,2010

Tuesday, April 27, 2010

VAKSIN PENCEGAH MAKSIAT..,

“Memprihatinkan ya ki……” Kata Maula, sesaat setelah melihat berita di televisi.

“Apa yang memprihatikan Nak Mas….? Tanya Ki Bijak.

“Ini ki, hampir disetiap stasiun TV memberitakan berbagai kasus ‘pelanggaran’ yang terjadi dinegeri ini, katanya ada mafia pajak, katanya ada mafia hukum, katanya lagi ada jual beli ruang penjara, belum lagi berbagai pelanggaran syariat dan kesusilaan, masya Allah, ana jadi bergidik mendengar dan melihatnya ki..” Kata Maula.

Ki Bijak menarik nafas panjang demi mendengar penuturan Maula, “Benar Nak Mas, sangat memprihatinkan bahkan, negeri yang indah dan elok ini, seakan menjadi panggung bagi pertunjukan berbagai pelanggaran yang sedemikan nyata dihampir setiap lapisan masyarakat kita…..” Kata Maula.

“Apa yang sedang terjadi dimasyarakat kita ki…..?” Tanya Maula.

Lag, Ki Bijak menarik nafas dalam-dalam, nampak matanya menerawang jauh…; “Aki tidak terlalu pandai untuk menjelaskan apa sebenarnya yang tengah terjadi dimasyarakat kita sekarang ini Nak Mas…., hanya dari kacamata Aki yang sempit dan terbatas ini; tengah terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat kita, baik itu nilai sosial, nilai susila dan bahkan nilai-nilai agama…..” Jawab Ki Bijak.

“Lalu ki…..?” Tanya Maula lagi.

“Khusus dalam pergeseran nilai agama, sekarang ini Aki melihat bahwa sebagian masyarakat kita tidak lagi ‘peduli’ dengan peringatan Allah dalam al qur’an; salah satunya adalah peringatan Allah dalam Surah Yunus:61….; Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat dimaksud;

61. Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (Yunus:61)

“Ana masih belum paham ki……” Kata Maula sambil mencoba mengartikan ayat tersebut;

“Begini Nak Mas, ada banyak ayat al qur’an, selain ayat ini, yang dengan gamblang menyatakan bahwa setiap gerak kita, setiap langkah kita, setiap perbuatan kita, dan bahkan setiap hal yang tersirat dalam hati kita, atau terbersit dalam fikiran kita, semuanya dilihat, dicatat dikitab Allah, tidak ada satupun yang luput dari pandangan Allah; dan kelak dimintakan pertanggung jawaban dipengadilan yaumil akhir…..” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki…?” Tanya Maula lagi.

“Lalu kesadaran, keyakinan, dan keimanan terhadap Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar ini sudah banyak bergeser dari hati sebagian masyarakat kita, sehingga mereka lebih takut pada atasan, lebih takut pada pengawas, lebih takut pada mandor daripada ketakutan terhadap Allah yang telah menciptakan mereka….”

“Banyaknya pelanggaran seperti korupsi yang sekarang banyak dibicarakan, akar masalahnya bukan semata pada lemahnya pengawasan lembaga terkait, lebih dari itu akar masalah yang menyebabkan mereka tergelincir untuk melakukan perbuatan yang melanggar hukum, adalah karena mereka menganggap Allah itu tidak ada…..”

“Orang yang berniat korupsi, hanya takut ketahuan polisi, yang sekarang ternyata ada juga oknum polisi yang berkolusi jahat dengan sesama penjahat…”

“Orang yang berniat jahat, hanya takut dipenjara, padahal sekarang ini, penjara dan pengadilan dengan gampang diperjual belikan…”

“Orang yang berperilaku menyimpang hanya takut dengan dakwaan jaksa, yang kita tahu belakangan ini,banyak jaksa nakal yang rela menukar kehormatannya dengan sejumlah uang……”

“Kemiskinan iman dan keyakinan terhadap existensi Allah yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui inilah yang kemudian membutakan mata mereka untuk berbuat ‘jahat’ yang banyak merugikan masyarakat ……..” Papar Ki Bijak panjang lebar.

“Iya ya ki, kalau Cuma takut polisi, toh polisi juga manusia yang masih suka sama duit, kalau hanya takut pada jaksa, toh jaksa juga manusia yang tidak luput dari kelalaian, kalau Cuma takut penjara, toh penjara didunia ini tidak lepas dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.., lain halnya dengan takut kepada Allah ya ki, disetiap saat, disetiap waktu, dimanapun, kapanpun, tidak akan lalai dan lengah mengawasi setiap perbuatan kita…..” Kata Maula mulai mengerti.

“Rasanya kita perlu berkaca lagi pada kisah Jahdar Bin Rabi’ah Nak Mas……” Kata Ki Bijak lagi.

“Jahdar bin Rabi’ah ki…?” Tanya Maula

“Ya Nak Mas…..; Nak Mas masih ingat dengan kisah Jahdar bin Rabi’ah, yang sebelumnya adalah ahli maksiat…….” Kata Ki Bijak.

“Iya Ki….., Jahdar bin Rabiah kemudian meminta nasehat kepada Ibrahim bin adham mengenai bagaiman ia bisa lepas dari perbuatan maksiatnya…..” Kata Maula.

“Lalu …?” Tanya Ki Bijak menguji.

“Lalu sang Syekh memberikan lima ‘syarat’ kepada Jahdar jika ia masih ingin bermaksiat, syarat yang pertama; Jahdar bin Rabiah ‘boleh’ bermaksiat’, tapi ia dilarang memakan rezeki dari Allah..”

“Syarat yang kedua; kalau ia masih makan rezeki dari Allah, sementara ia masih ingin melakukan maksiat, maka Jahdar tidak boleh tinggal dibumi Allah….”

“Syarat yang ketiga, kalau Jahdar tahu bahwa ia makan rezeki dari Allah, dan kemudian tinggal dibumi Allah, tapi masih ingin bermaksiat, maka Jahdar harus menemukan tempat yang tidak terlihat oleh Allah…”

“Syarat keempat, jika ia menyadari masih makan rezeki dari Allah, tinggal dibumi Allah dan menyadari tidak ada tempat yang luput dari pandangan Allah, maka ia harus mampu menolak kedatangan Malaikat maut yang hendak mencabut nyawanya….”

“Dan yang kelima, setelah Jahdar menyadari kemustahilan untuk memenuhi keempat syarat tadi, tapi masih berkeinginan bermaksiat, maka ia harus mampu menolak Malaikat Zabaniyah yang akan menyeret orang-orang berdosa kedalam neraka……” Papar Maula dengan lengkap.

“Subhanallah, Nak Mas masih ingat dengan baik apa yang Aki ceritakan beberapa waktu lalu….., Nak Mas tahu dimana perbedaan sikap Jahdar dulu dan sikap sebagian kita sekarang ini…?” Tanya Ki Bijak.

Mauala terdiam sejenak, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan gurunya;’apa perbedaan Jahdar dengan sikap kebanyak kita sekarang’, “Apa ya ki….” Kata Maula beberapa jurus kemudian.

“Perbedaan pertama; Jahdar, dalam perjalanan menuju tobatnya, menemukan kebenaran bahwa tidak mungkin kita tidak memakan rezeki dari Allah, Jahdar menyadari setetes air yang minumnya, sebutir nasi yang makannya, udara, sinar matahari, ia tidak bisa membuatnya, semuanya rezeki dari Allah…”,

“Sementara sekarang ini, banyak sekali orang yang ‘lupa’ bahwa makanan dan minumnya, adalah rezeki dari Allah, sehingga mereka dengan mudah bermaksiat kepada Allah karena tidak pernah merasa ‘merepotkan’ Allah yang telah memberinya sedemikian banyak nikmat…. “ Kata Ki Bijak.

“Benar Ki, sekarang banyak orang cenderung sombong, ia merasa nasi,air, udara dan sinar matahari adalah sesuatu yang biasa saja, tidak pernah berfikir bahwa itu semua karunia Allah……” Maula baru menyadari perbedaan pertama sikap Jahdar dengan manusia masa kini.

“Lalu perbedaan yang kedua, kalau dulu Jahdar menyadari bahwa sejengkal tanah saja yang ia pijak adalah bumi Allah, maka banyak orang masa kini yang merasa bahwa tanah yang ia pijak adalah ‘tanah’nya, sehingga dengan congkak dan sombong, mereka memperlakukan bumi dan tanah tanpa kenal batas, exploitasi dan merusaknya dengan membabi buta……;

“Yang ketiga, Jahdar dulu menyadari bahwa tidak ada satu celah sekecil lubang semutpun atau lebih kecil dari itu, yang luput dari pengawasan Allah, sementara banyak orang sekarang yang sama sekali tidak memperdulikan Allah, mereka melakukan kecurangan, melakukan korupsi, melakukan maksiat tanpa batas, karena lemahnya pengawasan atasan atau aparat, mereka ‘lupa’ bahwa Allah akan mencatat setiap pebuatan yang dilakukan oleh semua mahluk, demi Allah, jangankan korupsi 25milyar, satu sen saja ada uang haram yang kita makan, dan kita tidak sempat bertobat dan memperbaikinya, kelak akan dimintakan pertanggung jawabannya dimahkamah Robbul izzati….., kalau didunia ini mereka lolos dari jerat hukum dunia karena kelemahan hukum dunia, karena jaksanya disuap, karena hakimnya disogok, maka di pengadilan akhirat, tidak ada selembar benangpun yang akan menutupi kesalahan yang diperbuat manusia didunia ini…….” Kata Ki Bijak lagi.

Hening, Maula diam terpaku, menyimak penuturan gurunya, ia sangat sependapat dengan gurunya, bahwa memang banyaknya kecurangan yang terjadi belakangan ini, adalah akumulasi dari degradasi keimanan terhadap existensi Allah, sebagian manusia lebih takut pada polisi, pada jaksa atau mereka sekedar takut pada hukum dunia, yang nyata-nyata lemah adanya.

“Yang kelima dan yang keenam; Jahdar menyadari sepenuhnya bahwa ia takkan mampu menolak kedatangan malaikat maut barang satu detikpun untuk menunda kematiannya, apalagi harus melawan Malaikat Zabaniyyah yang akan menyeret orang-orang berdosa kedalam neraka, sehingga kemudian Jahdar benar-benar bertobat….., sementara kebanyakan manusia dizaman kita ini, sudah hampir ‘lupa’ bahwa dirinya akan mati…., ketamakan, kerakusan akan dunia, sehingga kemudian menghalalkan segala cara untuk memilikinya, bersumber pada lemahnya keyakinan kebanyakan kita bahwa kita semua akan mati, bahwa semua apa yang kita kumpulkan dalam kehidupan dunia ini tidak akan dibawa kedalam kubur kecuali amal yang tidak seberapa…..”

“Kemudian, keberadaan neraka sebagai tempat pembalasan bagi orang-orang berdosa, sekarang ini bergeser seolah hanya menjadi dongeng yang tidak pernah ada, sehingga mereka sama sekali tidak takut dengan peringatan Allah untuk menjauhi adzab neraka yang sangat pedih, padahal neraka itu adalah sesuatu yang haq; neraka itu pasti adanya…., dan sebesar apapun dosa yang dilakukan, akan mendapat balasan yang setimpal, tidak kurang, tidak lebih……” Papar Ki Bijak lagi.

Tak ada tanggapan dari Maula, ia demikian menyimak setiap untai kata gurunya; Jahdar bin Rabi’ah…., yang diakhir hayatnya menjadi pejuang kebenaran dengan menumpas gerombolan penjahat dinegeri Yamamah….., berulang kali nama itu saja yang melintas dalam benaknya, semoga taubatnya Jahdar bin Rabiah akan menjadi inspirasi bagi siapapun yang menginginkan kebaikan dalam kehidupan dunia dan akhiratnya.

Wassalam

April 27,2010

Tuesday, January 26, 2010

DARI POHON MANGGA


“Nak Mas lihat pohon mangga yang kemarin Nak Mas pangkas ujungnya ini……” Kata Ki Bijak sambil menunjukan pohon mangga didepan rumah.

Dengan segera Maula memperhatikan pohon yang dimaksud.

“Ada apa dengan pohon mangga ini ki….?” Tanya Maula sejurus kemudian.

“Nak Mas perhatikan daun-daun pohon mangga ini, ini adalah dedaunan baru setelah Nak Mas pangkas ujungnya beberapa waktu lalu……” Kata Ki Bijak lagi

“Iya Ki, dedaunan ini tumbuh lagi, dan justru sekarang nampak lebih rimbun dan sehat…..” Kata Maula sambil memperhatikan daun muda yang tampak tumbuh subur diantara dahan-dahan yang juga nampak bermunculan diantara batang pohon mangga.

“Nak Mas melihat ‘sesuatu’ dari tumbuhnya dedaunan dan dahan baru ini….?” Tanya Ki Bijak.

Maula diam sejenak….”Apa ya ki…?” Katanya Kemudian.

“Dalam kehidupan, kita sering kali mengalami berbagai hambatan, rintangan, atau bahkan tidak jarang kita bertemu dengan mereka yang ‘memotong’ jalan kita dengan berbagai alas an…….” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki…?” Tanya Maula lagi.

“Lalu ketika kita tidak siap, kita sering gagap dalam ketika jalan kita terpotong dengan tiba-tiba, tidak demikian halnya dengan mereka yang siap menghadapinya….” Kata Ki Bijak.

“Ana masih belum paham benar ki…..” Kata Maula lagi.

“Begini Nak Mas, secara fitrah setiap kita ingin hidup, tumbuh dan berkembang setinggi dan sebesar mungkin, hanya kadang keinginan kita itu terbentur pada suatu hal, sehingga kita tidak bisa mencapainya, misalnya seorang karaywan tentu bercita-cita dapat menduduki posisi tertinggi ditempat mana ia bekerja, seperti menjadi seorang manager…..,

“Tapi tidak semua orang bisa tiba diposisi yang diinginkannya….,mungkin karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut atau karena hal lainya……; seperti pohon mangga ini, secara alamiah, pohon ini akan tumbuh keatas……” Kata Ki Bijak.
Maula kembali memperhatikan pohon mangga didepannya;

“Orang lemah, akan mengalami depresi, frustasi, stress, patah arang atau bahkan kehilangan arah ketika tujuannya tidak tercapai…., sebaliknya orang bijak dan kuat, akan seperti pohon mangga ini, ketika pucuknya ditebang, pohon ini akan tetap tumbuh dan bahkan lebih berkembang dengan dahan-dahan baru yang bermunculan setelah ujungnya dipangkas……, orang bijak dan kuat, akan dengan secara mencari dan menemukan tempat, cara dan berbagai potensi lain yang ia miliki, untuk tetap tumbuh, berkembang dan menghasilkan…….., Nak Mas mengerti yang Aki maksud…..? ” Kata Ki Bijak.

“Ana mengerti ki…, ketika kita tidak bisa menjadi manager ditempat kerja kita, kita bisa berdagang, berwiraswasta, berternak, bercocok tanam, bertani, dan masih banyak jalan untuk meneruskan dan merajut kehidupan kita, bukan begitu ki…” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, hanya kadang cara pandang kebanyakan orang terlalu sempit, hanya tertuju pada satu jalan saja, sehingga mereka tidak dapat melihat berbagai jalan dan pintu yang Allah bentangkan didepannya…..” Kata Ki Bijak lagi, sambil mengajak Maula menuju serambi masjid lagi.

“Seperti Masjid ini Nak Mas, masjid ini memiliki banyak pintu, ada dipintu depan, pintu samping kiri dan samping kanan….., kita bisa memilih dari pintu mana kita masuk dan keluar, kita tidak perlu memaksa masuk atau keluar dari pintu yang terkunci…, karena kalaupun kita paksakan masuk atau keluar dari pintu yang terkunci, tenaga dan waktu yang kita perlukan untuk membuka pintu itu jauh lebih banyak daripada kita memilih pintu kiri atau kanan yang tidak terkunci…….” Kata Ki Bijak.

“Seperti pepatah mengatakan ‘banyak jalan menuju roma’ ya ki……” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, banyak jalan menuju roma, banyak jalan untuk menuju kebahagian, banyak jalan untuk menjemput rezeki Allah, banyak jalan menyongsong masa depan yang lebih baik, banyak jalan menuju puncak keberhasilan…., syaratnya kita tidak boleh putus asa, tidak boleh picik, tidak boleh berkecil hati, dan satu lagi,kita harus memiliki ‘akar’ yang kuat…..” Kata Ki Bijak.

“Kita harus memiliki akar yang kuat ki….?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, pohon mangga tadi, bisa tetap bertahan hidup, tumbuh, berkembang dan bahkan memiliki lebih banyak dahan dan ranting setelah ujungnya ditebang adalah karena pohon mangga itu masih memiliki akar, pohon mangga itu, niscaya akan mati dengan segera setelah ditebang, jika pohon itu tidak memiliki akar yang kuat….., dan akar yang kuat bagi kita sebagai manuasia adalah akidah yang kokoh, keyakinan yang kuat, keimanan yang teguh kepada Allah swt, kita harus beriman sepenuhnya bahwa apa yang telah, tengah dan akan terjadi pada kita, semuanya telah tertulis dalam kitab Allah….., kitapun mesti mengimani bahwa Allah tidak akan memberikan ujian yang melebihi kapasitas kemampuan kita, kita pun harus meyakini bahwa dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan…., keyakinan dan keimanan yang kokoh itulah yang akan mampu menopang kita untuk tetap bertahan hidup, tumbuh dan berkembang, meskipun kita menghadapi berbagai rintangan dan cobaan…….” Kata Ki Bijak lagi.

Maula manggut-manggut menyimak petuah gurunya;

“Nak Mas lihat gunung Ciremai itu….” Kata Ki Bijak sambil menunjuk kearah gunung Ciremai yang nampak tinggi menjulang dikejauhan.

Maula segera mengarahkan pandangannya kearah yang ditunjuk gurunya;

“Gunung itu nampak sangat tinggi dari sini, dan kalau kita hanya membayangkan ketinggiannya saja, niscaya kita akan takut…., tapi ketika kita kesana untuk mendakinya, niscaya kesulitan yang kita hadapi, jauh lebih ringan dari ketakutan yang kita bayangkan….., dan satu lagi, setinggi apapun gunung, pasti dibaliknya ada turunan yang melandai……..” papar Ki Bijak.

“Iya Ki……, kadang kita takut dengan bayang-bayang terlebih dahulu, sebelum kita tahu dan menjalani kondisi yang sebenarnya……..” Kata Maula.

“Ketakutan dan kecemasan memang bagian dari kita Nak Mas, dan sebaik-baik cara untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan itu, kita harus melihat dan menjalaninya dengan penuh keyakinan, dengan penuh kesabaran, dengan penuh kepasrahan kepada Allah swt…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki….., ana mengerti…..” Kata Maula sambil kembali memperhatikan pohon mangga didepan masjid, yang mengajarinya untuk tidak berputus asa ketika satu jalan tertutup, Maula kemudian memalingkan pandangannya pada pintu-pintu masjid yang banyak, yang mengajarinya untuk dapat memilih jalan dan pintu mana yang lebih maslahat, serta menatap gunung dikejauhan yang mengajarinya untuk tidak takut dengan ‘ketinggian’ dan rintangan….;

“Subhanallah betapa banyak ayat_Mu yang selama ini hamba abaikan ya Allah….” Maual berkata dalam hati.

Wassalam

January 2010.

Thursday, January 21, 2010

DARI IKAN, KITA BELAJAR

“Menurut Nak Mas, apa yang menarik dari ikan-ikan ini….?” Tanya Ki Bijak sambil memperhatikan ikan koi yang berwarna sangat indah.

Muala nampak lebih serius memperhatikan ikan yang ditunjukan gurunya, “Warnanya ki…, warna ikan ini sangat indah, merah menyala, serta putih keperakan, sungguh sebuah kesempurnaan ciptaan Allah swt……” kata Maula.

“Maha Suci Allah yang telah menciptakan ikan ini dengan segala keindahan dan hikmahnya……” Kata Ki Bijak lagi.

“Keindahan dan hikmah dari penciptaan ikan ki….?” Tanya Maula

“Benar Nak Mas, ikan ini indah, sangat menarik untuk dilihat, tapi dibalik keindahannya, juga menyimpan pelajaran yang sangat besar bagi mereka yang mau memperhatikanya……”Kata Ki Bijak lagi.

Maula masih diam, menunggu kelanjutan pelajaran dari gurunya.

“Hikmah atau pelajaran pertama dari ikan ini adalah keistiqomahannya untuk senantiasa hidup diair….., Nak Mas pernah lihat ikan naik kedarat….?” Tanya Ki Bijak.

“Tidak pernah ki….” Kata Maula pendek.

“Nak Mas tahu kenapa ikan tidak pernah naik kedarat…?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Karena ikan tidak bisa hidup tanpa air ki…..” Kata Maula.

“Benar…, ikan tidak akan bisa hidup tanpa air, selain juga karena ikan bisa mendapatkan segalanya diair, ikan mendapatkan makanan, ikan mendapatkan kebebasan, mendapatkan tempat untuk tumbuh dan berkembang, singkatnya ikan mendapatkan kehidupannya diair……..” Kata Ki Bijak.

“Lalu Ki…..?’ Kata Maula penasaran.

“Jika ikan tidak bisa hidup tanpa air, maka kita yang mengaku sebagai orang Islam, tidak akan bisa hidup tanpa al qur’an dan sunnah Rasul_Nya…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Orang islam tidak bisa ‘hidup’ tanpa al qur’an dan sunnah Rasul_Nya..? Kenapa Ki….?’ Tanya Maula.

“Karena al qur’an dan sunnah adalah ‘air kehidupan’ bagi kita…..maka barangsiapa yang istiqomah untuk menjalani kehidupannya dalam lingkungan al qur’an dan sunnah, insya Allah ia akan hidup, tumbuh dan berkembang dengan baik……..”

“Sebaliknya, barang siapa yang meninggalkan al qur’an dan sunnah, maka ia layaknya ikan yang meninggalkan air sebagai tempat dan habitat hidupnya, orang semacam ini niscaya akan mengalami ‘kematian’ dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama……” Papar Ki Bijak.

Tak pelak Maula segera memperhatikan ikan-ikan itu lagi, ia membayangkan betapa menderitanya ikan-ikan ini ketika ikan tidak berada dalam air, jangankan ikan koi yang sekecil ini, ikan hiu yang terganas sekalipun, atau ikan paus sebesar apapun, niscaya mereka akan mengalami kematian jika mereka meninggalkan air.

“Nak Mas mengerti yang Aki maksudkan…..?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki……, terlepas dari jenis ikan apapun, yang namanya ikan, pasti harus hidup diair, kalau tidak, maka ikan itu akan mati…..” Kata Maula.

“Pun dengan kita yang mengaku orang Islam, terlepas dari siapapun, dimanapun, kapanpun, jabatan apapun yang disandangnya, posisi apapun yang didudukinya, title dan gelar apapun yang diraihnya, ketika mereka menjauh dari al qur’an, niscaya mereka akan mengalami ‘kematian dini’…..” Kata Ki Bijak.

“Sedemikian penting arti dan peran al qur’an dan sunnah bagi kehidupan seorang muslim ya ki…..?” Kata Maula.

“Bahkan teramat penting Nak Mas, karena al qur’an adalah ‘ruh’ bagi kehidupan itu sendiri….” Kata Ki Bijak.

“Al Qur’an sebagai ruh kehidupan ki…?” Tanya Maula.

“Nak Mas perhatikan surat As-syura; 42.52 ini…..” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an;


52. Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu ruh/wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

“Allah mensifati Al qur’an sebagai ruh, dan sebagaimana jasad ini yang hanya akan bergerak, yang hanya akan hidup dengan adanya ruh didalamnya, maka al qur’an adalah ruh bagi jiwa kita, bagi bathin kita, bagi hati kita untuk ‘hidup penuh makna’ dengan mengenal siapa Rabbnya, agar kita bisa mengabdi kepada Allah dengan ilmu dan bashirah, bertakwa dan bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dengan penuh cinta, dengan rasa takut dan takjub dengan penuh keikhlasan, dan ini hanya mungkin dilakukan oleh hati yang hidup, hati yang didalamnya ada ruh al qur’an……” Tambah Ki Bijak.

Maula manggut-manggut menyimak penuturan gurunya;

“Selain itu, kenapa kita harus senantiasa hidup dalam naungan al qur’an dan sunah adalah karena al qur’an adalah petunjuk jalan menuju keselamatan, menuju kemenangan, menuju ridha Allah swt………” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat pertama dan kedua dari surat Al Baqarah;


1. Alif laam miin[10].
2. Kitab[11] (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[12],

“Alangkah nekatnya seseorang yang menjalani kehidupannya tanpa sebuah petunjuk yang pasti, sekalipun mata mereka terbuka, sekalipun telinga mereka mendengar, mereka yang menjalani kehidupannya tanpa petunjuk yang jelas, niscaya mereka akan kebingungan kearah mana mereka harus menuju, menjalani kehidupan tanpa petunjuk al qur’an adalah sebuah kebodohan terbesar dalam kehidupan seseorang……” kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki…ana mengerti, kadang ana juga merasa aneh, banyak orang berdoa; ya allah tunjuki kami jalan yang lurus’, tapi mereka sama sekali tidak pernah membaca dan mempelajari al qur’an, padahal disanalah petunjuk jalan lurus itu ya ki….” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula, “Semoga kita dijadikan Allah kedalam kelompok orang yang senantiasa membaca dan mempelajari al qur’an ya Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Kemudian, alas an lain kenapa kita selaku muslim harus senantiasa berdampingan dan sejalan dengan al qur;an adalah karena al qur’an adalah cahaya, penerangan dalam gelapnya gulita kehidupan, sebagaimana ayat 52 surat As-syura tadi; ……..tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami….’.

“Nak Mas pernah berjalan ditempat asing dalam keadaan gelap gulita tanpa cahaya dan penerangan apapun….? Tanya Ki Bijak kemudian.

“Pernah Ki, ketika disekolah dulu, dalam kegiatan pramuka, kami disuruh untuk menjelajah didaerah asing yang gelap gulita, sangat gelap, sehingga banyak diantara kami yang kakinya luka karena terantuk bebatuan atau akar pohon yang tidak kelihatan…….” Kata Maula.

“Tidak berlebihan rasanya kalau Aki mengibaratkan orang Islam yang menjalani kehidupannya tanpa al qur’an dan sunnah seperti orang yang berjalan didalam gelap gulita tanpa penerangan sama sekali, sangat berbahaya….., dia sangat mungkin terantuk kerikil kehidupan disepanjang jalan, dia sangat mungkin tersandung, dia sangat mungkin tersesat,dan bahkan dia sangat mungkin masuk jurang kehancuran karena kenekatannya menjalani hidup tanpa cahaya al qur’an…….” Kata Ki Bijak lagi.

Maula meresapi penuturan gurunya, “Iya ya ki….nekat sekali orang islam yang menjalani kehidupannya tanpa al qur’an……” Kata Maula.

“Selain sebagai ruh, sebagai petunjuk, dan sebagai cahaya, adakah fungsi lain dari al qur’an bagi keselamatan hidup kita ki….?” Tanya Maula.

“Dengan Al qur’an kita hidup, dengan al qur’an kita mendapat petunjuk, dengan al qur’an kita mendapatkan cahaya, dengan al qur’an pula kita bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, sebagaimana Allah menyifati al Qur’an sebagai al furqan, sebagai pembeda seperti dalam salah firman_Nya dalam Surat An Anfal:29;

29. Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu Furqaan[607]. dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.

[607] artinya: petunjuk yang dapat membedakan antara yang Haq dan yang batil, dapat juga diartikan disini sebagai pertolongan.

“Dunia ini penuh dengan warna-warni yang beragam, dunia ini penuh tipu muslihat yang mengecoh, mata dhahir kitas lebih sering tertipu dan tidak dapat membedakan mana haq dan mana yang bathil, hanya dengan al qur’anlah keremangan itu menjadi jelas dan nyata sehingga kita tidak terjebak kedalam kesalahan karena kebodohan kita….” Tambah Ki Bijak.

“Ana mengerti ki……” Kata Maula.

“Alas an lain kenapa kita harus hidup dengan dan didalam lingkungan al qur;an adalah karena al qur’an adalah dialah (al qur’an) yang dijadikan Allah sebagai penawar, sebagai obat, sebagai penyembuh dari berbagai penyakit yang ada didalam dada……; kalau sekarang ini banyak orang depresi, banyak orang frustasi, banyak orang stress, bahkan tidak jarang orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, salah satu faktornya menurut hemat Aki adalah karena kejauhan mereka kepada Al Qur’an….., sementara Allah dengan jelas mengajarkan kepada kita bahwa Al qur’anlah penawar segala depresi, segala stress, segala kegundahan…….” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an Surat Yunus ayat 57;

57. Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

“Iya Ki…., Maha Suci Allah yang telah menurunkan al qur’an; ya Allah jangan pernah palingkan hamba dari Al qur’an, jadikanlah Al Qur’an sebagai ruh dalam setiap gerak kehidupan hamba, jadikan al qur;an dan sunnah rasul_Mu sebagai satu-satunya petunjuk langkah hamba, jadikan cahaya al qur’an sebagai penerang jalan hamba, jadikan al qur’an sebagai pembeda bagi hamba, dan jadikan al qur;an sebagai penawar dari segala penyakit dan duka hamba, ya Rahman hanya kepada_Mu hamba menyembah, dan hanya kepada_Mu hamba mohon pertolongan……,amiin…..” Maula memanjatkan doa.

“Amiiin….” Ki Bijak mengamini.

Wassalam

Januari 2010

Monday, January 4, 2010

BERFIKIR SEJENAK, SEBELUM BERTINDAK

“Setidaknya ada beberapa hal yang menurut Aki tidak pada tempatnya yang kerap terjadi disetiap pergantian tahun baru seperti beberapa hari kedepan ini Nak Mas……” Kata Ki Bijak.

“Hal apa saja itu ki….?” Tanya Maula.

“Pertama; bertambahnya bilangan tahun, artinya umur kita juga bertambah, artinya lagi jatah hidup kita berkurang, artinya lagi saat ‘kepulangan’ kita kekampung akhirat semakin dekat….., dan tidaklah pada tempatnya ketika saat seperti ini justru ‘rayakan’ dengan cara yang sangat berlebihan…….”

“Mungkin Aki yang ‘kuno’ kalau Aki mengatakan bahwa pesta kembang api dimalam tahun baru adalah sebuah kemudharatan, pemborosan, dan sama sekali tidak menunjukan kedewasan kita dalam menyikapi hidup….., uang puluhan juta yang dihambur-hamburkan untuk pesta kembang api tersebut akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk kepentingan rakyat……”,

“Masih banyak saudara kita yang dimalam tahun baru kedinginan, masih banyak saudara kita yang dimalam tahun baru kelaparan, masih banyak saudara kita yang dimalam tahun baru menahan kesedihan, mereka yang rumahnya terbakar, mereka yang hartanya hanyut karena banjir, mereka yang tidak ‘seberuntung kita’ yang memerlukan bantuan dan uluran tangan kita, tidakkah kita memiliki sedikit empati untuk setidaknya tidak menyakiti perasaan mereka dengan menghamburkan uang untuk hal-hal yang mubazir…..?” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Iya ki, bahkan tak jarang gemerlapnya tahun baru itu dirayakan ditengah penderitaan, seperti ketika tsunami Aceh terjadi tanggal 26 Desember, seminggu kemudian orang-orang bersorak girang, bertepuk tangan, menghamburkan uang untuk foya-foya, sementara saudaranya diAceh sana merintih menahan derita…..sungguh sebuah ironi…….” Tambah Maula.

“Makanya Aki kurang setuju kalau Nak Mas ikut-ikutan merayakan tahun baru seperti kebanyakan orang……” Kata Ki Bijak lagi.

“Alhamdulillah Ki, sampai dengan seusia ini, ana belum pernah merayakan tahun baru, bahkan sekedar membeli terompetpun tidak pernah, lagi pula tahun baru ini kan bukan tahun baru umat Islam ya ki, kenapa justru orang islam yang pada ribet merayakannya….?” Kata Maula lagi.

“Benar Nak Mas, itu hal yang kedua yang menurut Aki tidak pada tempatnya, kenapa orang islam merayakan hari raya umat lain…..?, disini kita harus berhati-hati, karena sangat mungkin hal ini akan menjadi perangkap bagi kita…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Perangkap Ki…..?” Tanya Ki Bijak.

“Benar Nak Mas, Nak Mas perhatikan ayat ke 120 dalam surat Al Baqarah ini…..” Kata Ki Bijak sambil memperlihatkan ayat dimaksud;

120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.


Dengan segera Maula menyimak ayat tersebut dengan seksama;

“Mudah-mudahan Aki tidak berlebihan jika Aki mengatakan bahwa perayaan tahun baru seperti tahun yang sudah-sudah itu, adalah bagian dari scenario besar yang memang telah disiapkan oleh mereka yang berseberangan dengan akidah kita, Nak Mas masih ingat dengan diskusi kita mengenai Ghaswul Fikr….?” Tanya Ki Bijak, tanpa menunggu Maula yang masih mengamati ayat al qur’an

“Iya Ki…..; Ghaswul berasal dari kata Ghuswah yang berarti Serangan, invasi atau serbuan, sementara Fikr adalah Pikiran atau pola pikir, dengan demikian Ghaswul Fikr biasa didefinisikan dengan Penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam guna merubah apa yang ada didalamnya sehingga tidak bisa lagi dibedakan antara Islam dan selainnya, metode yang mereka gunakan biasanya dikenal dengan Tasykik; yakni Pendangkalan / Peragu-raguan, baik itu pendangkalan akidah, pendangkalan pemahaman hukum dan syariat serta pendangkalan pemahaman terhadap berbagai aktivitas ibadah umat Islam…..” Kata Muala.

“Lalu ….?” Tanya Ki Bijak mengetes daya ingat Maula.

“Lalu yang kedua; Tasywih – Pencemaran/Pelecehan, yang ketiga Tadhlil – penyesatan dan yang Keempat adalah metode Taghrib – Pembaratan…..” Lanjut Maula.

“Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi dalam perayaan tahun baru; pertama, tahun baru ini adalah klaim sebuah umat atas kelahiran Nabi Isa yang mereka nisbatkan sebagai Tuhan, sementara Islam dengan tegas menyatakan bahwa Isa As adalah seorang Nabiyullah, bukan Tuhan seperti anggapan mereka, bukankah ini sebuah ‘serangan’ atas akidah umat kita yang diarahkan untuk mengakui Nabi Isa sebagai tuhan, bukankah ini sebuah pendangkalan akidah,bukankan ini salah satu tujuan ghaswul fikri tadi Nak Mas…?” Tanya Maula.

“Astaghfirullah…….benar ki, ada muatan yang tersembunyi untuk menggelincirkan umat ini dari rel akidah yang sebenarnya….” Maula mulai menyadari.

“Sebenarnya ‘muatan itu’ dalam hemat Aki sangat jelas, hanya kita yang tidak mau melihatnya dengan jernih, ini masalah umat yang harus kita luruskan bersama…..” Kata Ki Bijak lagi.
“Iya ki…, belum lagi kalau dilihat dari berbagai kegiatan yang dilakukan, semuanya kebarat-baratan banget, mulai pakaian, makanan dan minuman, bahkan tidak jarang malam pergantian tahun ini dijadikan momen ‘penghalal’ berbagai kegiatan maksiat, mabuk, madon dan lainnya…..” Kata Maula.

“Sekarang jelaslah sudah bahwa disamping dimendatangkan manfaat, perayaan tahun baru sangat-sangat beresiko bagai kesemalatan akidah kita, jadi sekali lagi, Nak Mas jangan ikut-ikutan, pun dengan keluarga Nak Mas, berikan pemahaman mereka bahwa tahun baru ini bukan sesuatu yang harus dirayakan, syukur kalau Nak Mas bisa member pemahaman kepada rekan dan lingkungan terdekat Nak Mas….”Kata Ki Bijak lagi.

“Insya Allah ki…………….” Kata Maula sambil pamitan.

Wassalam

December 30,2009
LAGI; SEBUAH NASEHAT YANG BERNAMA KEMATIAN

"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"……………..” Kata Muala dan Ki Bijak hampir bersamaan, demi mendengar berita wafatnya salah satu tokoh dinegeri ini.

“Cepat sekali ya ki…” Kata Maula

“Apanya yang cepat Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak.

“Sebelumnya ana sama sekali tidak mengenal beliau, tiba-tiba ditahun 1999 beliau muncul dan menjadi presiden hingga tahun 2001, dan sekarang, beliau wafat….sepuluh tahun rasanya demikian cepat…..” Kata Maula.

“Memang benar Nak Mas,waktu satu tahun, sepuluh tahun atau bahkan tujuh puluh tahun jatah umur yang diberikan kepada kita adalah waktu yang teramat singkat, maka akan merugilah mereka yang tidak menggunakan waktunya dengan baik, karena waktu tidak mungkin menunggu kita, karena tidak mungkin umur kita akan bertambah jika kita berleha-leha, karena tidak mungkin kematian akan menjauh sekalipun kita berlari menghindarinya, saat itu, saat kematian, pasti akan datang pada siapapun, jika hari ini Gus Dur dipanggil pulang, entah esok atau lusa, giliran kitapun pasti kan tiba…..” Kata Ki Bijak.

“Iya Ki, beliau meninggalkan demikian banyak cerita ditengah kita sepanjang kiprahnya, ada yang pro, pun ada yang kontra…..” Kata Ki Bijak.

“Setiap orang, pasti memiliki dua sisi, layaknya purnama yang memancarkan cahaya benderang dilintasan bumi yang dilaluinya, sementara dibelahan bumi lain, mungkin mengalami gulita, pun dengan kita, pun dengan Gus Dur, beliau mungkin akan laksana purnama yang memancarkan sinar terang bagi mereka yang sejalan dengan ide dan pemikirannya, tapi akan meninggalkan beribu tanda tanya pada mereka yang ‘membelakangi’ atau berseberangan dengan beliau, tapi itulah romantikanya, kita harus bisa menyikapinya sebagai sebuah ayat dan tanda kebesaran Allah yang telah menciptakan manusia dengan beragam karakter, dengan beragam type, dengan beragam kelebihan, dengan beragama kekurangan pula, semuanya menuntun kita pada satu titik, yaitu kebesaran Allah Yang Maha Menciptakan…….” Kata Ki Bijak.

“Ki..masih terngiang ditelinga ana nasehat Aki tentang kematian, tentang Dzikrul Maut, kalau Aki berkenan, ana ingin Aki mengulang nasehat mengenai hal ini lagi ki…………….” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang; “Setiap mahluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, tak peduli siapapun ia, pakah ia seorang presiden atau hanya seorang pengamen, apakah ia seorang raja, atau hanya rakyat jelata, laki-laki, perempuan, tua-muda, anak-anak atau bahkan bayi yang baru dilahirkanpun bisa meninggal, hanya kita tidak tahu kapan dan dimana saat kematian kita itu akan datang…..” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat ke 34 dari surat Lukman;

34. Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

[1187] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.


“Salah satu hikmah dirahasiakannya saat dan tempat dimana kita akan mati adalah agar kita senantiasa bersiap menyambut kedatangannya, agar kita senantiasa berusaha untuk mati dalam keadaan husnul khotimah, karena bagi kita selaku orang beriman, kematian bukanlah akhir dari segalanya, kematian ‘hanyalah’ gerbang untuk memasuki kehidupan abadi dinegeri akhirat, setelah sebelumnya kita ‘transit’ dialam barzah hingga kiamat tiba……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula diam, mentafakuri setiap untaian kata dari gurunya;

“Allah menggambarkan dengan indah bagaimana akhir kehidupan dunia ini dan kehidupan setelahnya, yakni kehidupan akhirat dalam surah Al Haqqah…..;


13. Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup[1507]
14. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.
15. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat,
16. Dan terbelahlah langit, Karena pada hari itu langit menjadi lemah.
17. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.
18. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).

[1507] Maksudnya: ialah tiupan yang pertama yang pada waktu itu alam semesta menjadi hancur.


“Dan setelah kejadian itu, akan ada dua golongan besar manusia dihadapan Allah, yaitu mereka yang menerima kitab catatan amalnya ditangan kanan, dan mereka yang menerima catatan amalnya ditangan kiri……………” Kata Ki Bijak lagi.

“Mereka yang mendapatkan kitab catatan amalnya ditangan sebelah kanan, adalah mereka yang akan memdapatkan kehidupan akhirat yang diridhai, berada disurga yang tinggi dengan segala fasilitas kenikmatan yang tiada banding dari Allah swt……”

“Sementara mereka yang menerima catatan amalnya ditangan sebelah kiri, adalah mereka yang akan menyesali kelalaiannya dalam memanfaatkan jatah umurnya didunia, sebagaimana Allah gambarkan dalam lanjutan surat Al Haqqah…;

25. Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, Maka dia berkata: "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).
26. Dan Aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.
27. Wahai kiranya kematian Itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.
28. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.
29. Telah hilang kekuasaanku daripadaku."


“Dan tiada lain balasan bagi mereka selain siksa Allah yang sangat pedih tiada terperi……..” Lanjut Ki Bijak sambil meneruskan jenis penderitaan yang akan dialami mereka yang menerima catatan amalnya ditangan kiri;

30. (Allah berfirman): "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.
31. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.
32. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.
33. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Maha besar.
34. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.
35. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari Ini di sini.
36. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.
37. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.

“Ana jadi merinding mendengarnya Ki……” Kata Maula

“Karenanya, mumpung kita masih diberi kesempatan hidup oleh Allah; pergunakanlah waktu yang kita miliki sebaik mungkin, semata untuk mengabdi kepada Allah, agar kelak…., ketika saat kematian menghampiri kita, kita sudah memiliki bekal untuk perjalanan panjang yang abadi diakhirat kelak……….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki…..ya Allah berikan hamba kemampuan untuk senantiasa beribadah dan mengabdi kepada_Mu sepanjang sisa umur hamba…, ya Allah..,jangan pernah langkahkan kaki ini lagi tanpa bimbingan_Mu, jangan pernah ayunkan tangan ini tanpa petunjuk_Mu……, Ya Rabb..,hanya kepada_Mu hamba mengabdi, dan hanya kepada_Mu hamba mohon pertolongan, jadikanlah akhir hidup hamba kelak akhir hidup yang khusnus khotimah…..amiiiin…” Maula memanjatkan doa kepada Allah swt.

“Amiiiiin…..” Ki Bijak mengamini.

Wassalam

December 31, 2009

Monday, December 7, 2009

‘PAH…ALLAH TIDUR NDAK…?”

“Aneh ya ki…..” Kata Maula

“Apa yang aneh Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak

“Itu ki. Ada seorang nenek yang ‘mencuri’tiga buah kakao, ditahan selama 3 bulan, sebelum akhirnya divonis 1.5 bulan kurangan, kemudian ada orang yang ‘mencuri’ semangk untuk sekedar mengisi perutnya juga ditahan, sementara mereka yang mencuri uang rakyat milyaran rupiah, masih berkeliaran bebas, seakan tak tersentuh hukum, dunia ini memang tidak adil ya ki…..” Kata Maula, membandingkan kasus seorang nenek dengan para tersangka koruptor yang sedang marak diberbagai media.

“Itulah hukum dunia Nak Mas, hukum atau keputusan yang dibuat manusia, pasti jauh dari kata sempurna, karena cenderung subjektif, temporer, dan memihak untuk kepentingan atau orang tertentu……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…,dan terakhir, kasus pencemaran nama baik yang melibatkan seorang ibu rumah tangga bersahaja, yang akhirnya harus menerima kenyataan vonis bersalah dan dinyatakan kalah oleh pengadilan…., keadilan seolah hanya menjadi milik mereka yang memiliki uang atau kekuasaan saja…..” kata Maula menambahkan

“Dari sini sebenarnya kita bisa belajar sesuatu Nak Mas….” Tambah Ki Bijak.

“Belajar apa ki….?” Tanya Maula.

“Coba kita buat pertanyaan sederhana untuk contoh kita kali ini Nak Mas; kalau ada orang jahat tidak bisa dijerat dengan hukum dunia dan tidak mendapat hukuman setimpal, dimana dan dengan hukum apa ia akan mendapatkan balasan…..?”

“Jika ada orang benar yang kemudian dihukum bukan atas dasar kesalahannya, dimana ia akan mendapat keadilan…..?”

“Jika hukum manusia cenderung subjektif, temporer, memihak dan tidak sempurna, lalu hukum siapakah yang paling sempurna…?”

“Jika keputusan yang dibuat manusia itu tidak adil, lalu keputusan siapa yang paling adil…..? Tanya Ki Bijak.

Maula masih diam, menyimak pertanyaan-pertanyaan yang dibuat Ki Bijak.

“Secara logika, secara rasional, pertanyaan-pertanyaan tadi akan mengarahkan kita pada satu pemikiran bahwa jika dunia ini ‘tidak adil’, ‘jika dunia ini cenderung memihak’, maka harus ada saat dan tempat dimana keadilan itu akan didapat oleh setiap orang, yang bersalah akan mendapat hukuman atas kesalahannya, yang benar akan mendapat pahala atas kebaikannya, dan kita sebagai orang beriman, meyakini bahwa saat dan tempat untuk mendapatkan keadilan hakiki itu adalah dikehidupan akhirat kelak….., dalam bahasa sederhana, pertanyaan tadi harusnya menuntun kita untuk lebih meyakini kebenaran atas keberadaan alam akhirat dan hari pembalasan yang selama ini kita yakini…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ya ki, sebenarnya mudah untuk ‘meyakini’ bahwa akhirat itu ada, bahwa hari pembalasan itu ada, tapi kenapa masih banyak orang yang meragukan atau bahkan sama sekali tidak mau menyakini keberadaan hari pembalasan ya ki….?” Kata Maula.

“Menurut hemat Aki, mereka yang tidak mau mengakui keberadaan hari pembalasan itu bukan karena mereka tidak tahu, tapi lebih karena kuatnya kesombongan yang bercokol dalam hatinya, meski secara fitrah mereka mengetahuinya…..”,

“Kesombonganlah yang kemudian menutup mata hati mereka untuk melihat adanya hari akhirat dengan jelas, kesombonganlah yang kemudian membuat mereka beranggapan kalau pun Allah itu ada, Allah bisa saja lalai, Allah bisa saja tidak melihat, atau ada yang beranggapan Allah itu mengantuk atau tertidur….., padahal Dia-lah Allah, Dzat yang Maha mengetahui, tidak menimpa_Nya rasa kantuk atau tidur, kekuasaan_Nya meliputi bumi dan langit dan seterusnya……” kata Ki Bijak, sambil mengutip ayat al qur’an;

255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

[161] Kursi dalam ayat Ini oleh sebagian Mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaan-Nya.


“Ana jadi teringat pertanyaan Ade ki…..” Kata Maula.

“Apa pertanyaan anak pintar itu Nak Mas…?’ Tanya Ki Bijak.

“Kemarin Ade bertanya; “Pah Allah tidur Ndak…’, ketika itu Ade melihat orang sedang tidur dimasjid…” Kata Maula.

“Subhanallah…, sebuah pertanyaan yang sangat pintar Nak Mas, dan pertanyaan seperti itu mestinya menjadi pertanyaan kita orang yang secara lahir dan bathin lebih dewasa dari Ade, sehingga dengan senantiasa bertanya seperti itu, kita akan memiliki filter yang akan menyaring setiap bisikan dari dalam diri kita, misalnya ketika nafsu mendorong kita untuk melukakan perbuatan yang tidak terpuji…..” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki…..?” Tanya Maula masih penasaran.

“Kesadaran dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah tidur, Allah tidak pernah mengantuk, Allah tidak pernah lalai, Allah Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, merupakan serangkaian filter bagi kita untuk tidak melakukan perbuatan yang melanggar aturan Allah sekecil apapun, karena kita meyakini tidak ada tempat, tidak ada waktu, tidak ada ruang, tidak ada hal apapun yang lepas dari pengawasan Allah…, dengan keyakinan dan kesadaran seperti inilah insya Allah kita akan selamat dari bujuk rayu setan yang menunggangi nafsu kita……” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, hanya orang yang buta mata hatinya saja yang akan beranggapan Allah tidur, hanya mereka yang membatu hatinya saja yang akan beranggapan Allah tidak melihat, hanya mereka yang hatinya telah mati saja yang beranggapan tidak akan ada pembalasan diakhirat kelak ya ki…..” Kata Maula.

“Itulah salah satu alas an kenapa hati memiliki peran penting dalam setiap aspek kehidupan kita, karena dari hatilah semua berpangkal, baik hati kita, insya Allah baik pula seluruh aspek kehidupan kita, sebaliknya, hati yang buta,yang sakit atau apalagi hati yang mati, akan melahirkan berbagai kejahatan dan kerusakan dalam setiap aspek kehidupan sipenderitanya……” Kata Ki Bijak lagi.

“iya ki, semoga dengan segala keterbatasannya, para pengadil itu bisa membuka mata, membuka telinga dan membuka hati mereka, bahwa apa yang mereka putuskan dalam satu perkara, akan dimintakan pertanggung jawabannya diakhirat kelak, semoga mereka yang ‘bersalah’, tapi kemudian terbebas dari hukum dunia, akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah, dan semoga pula mereka yang ‘tidak bersalah’, tapi harus menerima ketidakadilan hukum dunia, Allah member kesabaran dan balasan yang paling adil dari swt……” Kata Maula.

“Amiin…”Balas Ki Bijak.

Wassalam;

Desember 06,2009