Friday, January 9, 2009

SAKIT (JUGA) SEBUAH NIKMAT

“Masya Allah, bagaimana keadaanya sekarang Nak Mas...?” Tanya Ki Bijak dengan nada prihatin mendengar penuturan Maula mengenai teman sekaligus tetangganya masuk rumah sakit karena stroke.

“Ana belum sempat menjenguknya dirumah sakit ki, ana baru mendengar khabar dari istri bahwa sakitnya cukup parah......., agak heran juga ya ki, orangnya masih muda, suka olahraga, dan fisiknya nampak sehat, bahkan hari minggu kemarin kami ketemu diacara resepsi pernikahan, tapi tiba-tiba bisa kena stroke begitu ya ki.....” Kata Maula

“Sakit dan penyakit memang tidak semata karena faktor usia Nak Mas, siapapun bisa sakit, dan waktunya pun kita tidak tahu, karena sakit, dalam hemat Aki, juga merupakan sebentuk ‘karunia’ Allah kepada kita, untuk dapat kita sikapi dengan bijak......” Kata Ki Bijak lagi.

“Secara medis, memang banyak faktor yang menyebabkan seseorang sakit atau terkena penyakit tertentu, tapi disisi lain, penyakit juga bisa merupakan alat ‘komunikasi’ Allah dengan kita, sakit dan penyakit bisa merupakan teguran untuk kita, ketika kita lalai, sakit dan penyakit juga bisa merupakan cara Allah untuk menghapus dosa dan kesalahan kita, selama kita memaknainya dengan benar, sakit dan penyakit juga bisa merupakan ‘nikmat’ yang tiada terhingga bagi sebagian orang, dan ada banyak hikmah lain dibalik sakit dan penyakit yang diderita seseorang..........” Kata Ki Bijak lagi.

“Sakit dan penyakit merupakan nikmat luar biasa dan mengandung banyak hikmah ya ki.....?” Tanya Maula heran.

“Benar Nak Mas, sakit dan penyakit dapat merupakan sarana tarbiyah bagi kita......” Kata Ki Bijak

“Tarbiyah ki....?” Tanya Maula tambah heran.

“Benar, sakit bisa merupakan tarbiyah bagi kita untuk sejauh mana kita ridha dan ikhlas dan sabar terhadap ujian yang Allah berikan kepada kita, barang siapa yang mampu menerima ujian Allah ini dengan penuh keikhlasan, keridhaan dan sabar, dibalik sakitnya tersimpan selaksan hikmah yang menantinya....”

“Kedua, sakit dan penyakit juga bisa merupakan tarbiyah untuk memupuk kesadaran kita bahwa kita hanyalah sesosok mahluk lemah yang tidak memiliki daya dan kekuatan apapun, bahkan untuk menolok seekor virus yang tidak kelihatan sekalipun, kita tidak mampu, sakit menyadarkan kita untuk tidak berbangga diri apalagi sombong dengan uang kita, dengan kekayaan kita, dengan kedudukan kita, karena semuanya samasekali tidak mampu menolak sakit dan penyakit yang Allah ujikan kepada kita.....” Tambah Ki Bijak.

“Benar ki, betapapun seseorang memiliki harta banyak dan kedudukan tinggi, semua itu tidak dapat menghindarkan dirinya dari sakit, jika Allah menghendaki ia sakit, maka ia akan sakit, seperti dengan kejadian yang sedang dialami oleh teman ana itu ya ki..........” Kata Maula mulai mengerti arah pitutur gurunya.

Ki Bijak mengangguk, “Kemudian, sakit juga bisa merupakan tarbiyah bagi kita untuk berhati-hati dalam segala hal, karena Allah berfirman dalam Surat Asy-Syuura:30;


30. Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

“Sebagian besar, penyakit yang diderita oleh seseorang adalah karena perbuatan orang itu sendiri, misalnya dengan menjalani pola hidup yang kurang sehat, seperti merokok, meminum minuman keras, narkoba atau pergaulan bebas yang menyimpang dari tuntunan sunah, sehingga akibat perilakunya itu kembali kepada kita masing-masing......” Kata Ki Bijak.

“Jadi sakit juga sebagai sarana instropeksi diri kita yang ki, kalau kita sakit paru-paru, mungkin karena kebiasaan kita merokok, kalau kita kena serangan jantung, mungkin karena perilaku kita dalam mengkonsumsi makanan dan minuman yang salah, atau kalau ada yang terkena HIV mungkin karena perilaku pergaulan bebas yang dilakukannya ya ki..........” Kata Maula.

“Itu sikap yang lebih bijak daripada kemudian ketika kita sakit, kita langsung ‘menyalahkan Allah’, kita mengumpat sana-sini atau menyari sebab-sebab yang ir-rasional, kena santet atau kena jin misalnya, akan lebih baik ketika kita diuji Allah dengan sakit, kita tafakuri, kita instrospeksi, kemudian kita memohon kepada Allah untuk diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menjalani ujian sakit ini, disamping memohon kesembuhan dan mengupayakan syariat lahiriah untuk berobat......” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, kalau kita sudah berusaha untuk hidup sehat, tidak merokok, tidak meminum minuman keras, menjaga etika pergaulan, tapi tetap sakit, bagaimana hikmahnya ki...........?” Tanya Maula lagi.

Ki Bijak menarik nafas panjang, “Abu Hurairah, secara marfu meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda “”Barang siapa yang dikehen-daki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al Bukhari), jadi dalam hemat Aki, ketika kita sudah berusaha menjalankan pola hidup yang benar, tapi tetap diuji Allah dengan sakit, maka kita boleh berharap bahwa Allah menghendaki sebuah kebaikan untuk kita......” Kata Ki Bijak.

“Tapi kenapa harus sakit dulu ki...?” Tanya Maula.

“Itu rahasia Allah Nak Mas, hanya secara lahiriah kita bisa melihat gambaran bahwa untuk menempatkan sesuatu yang baik atau kebaikan, maka diperlukan tempat yang baik, kuat dan bersih dulu, agar kebaikan itu tidak terkontaminasi oleh tempat yang masih kotor, mungkin demikian juga dengan Allah Nak Mas, ketika Allah menghendaki kebaikan kepada kita, maka Allah ‘membersihkan’ tempatnya dulu, membersihkan diri kita dulu, agar kebaikan itu dapat benar-benar terpancar dari dalam diri kita, seperti dalam hadits lain, baginda Rasul menyatakan bahwa ; ”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.”“Dalam hadits lain beliau juga bersabda: “Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” Kata Ki Bijak lagi.

“Subhanallah, betapa besar hikmah yang terkandung dalam keadaan sakit ya ki..................” Kata Maula.

“Dan yang paling penting menurut Aki, sakit adalah sebuah jalan bagi kita untuk lebih mendekat kepada Allah, ketika kita sehat, shalat kita mungkin masih belum khusu’ dan terburu-buru, ketika kita sehat mungkin doa kita belum sepenuhnya datang dari hati yang terdalam, tapi ketika kita shalat dalam kondisi sakit, insya Allah akan sangat terasa bahwa betapa kita membutuhkan Allah, akan sangat terasa betapa kita sangat lemah dihadapan Allah, doa kitapun semakin dalam dan intens, dan perasaan-perasaan inilah yang kemudian menghadirkan rasa kedekatan kita dengan Allah swt......” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, sangat terasa sekali ketika kita shalat dalam kondisi sakit, sampai-sampai ana pernah menangis ketika ana shalat disebelah orang yang tidak bisa shalat dengan berdiri, nampak sekali shalatnya khusu’, hingga ana bisa merasakan betapa nikmatnya shalat dalam kondisi sehat......” kata Maula, menceritakan pengalamannya.

“Oh ya Nak Mas, berbicara mengenai shalat dan kesehatan, kemarin Aki mendapatkan artikel bagus mengenai hikmah shalat, bahwa shalat yang didirikan dengan benar, bukan hanya akan ‘menyehatkan’ hubungan kita dengan Allah secara bathiah, tapi lebih dari itu, gerakan-gerakan lahiriah shalat, merupakan sarana yang sangat bagus untuk menjaga kesehatan jasmani kita......” Kata Ki Bijak sambil menyerahkan beberapa lembar kertas berisi artikel tentang hikmah shalat;

Maula segera menyambut artikel yang diberikan gurunya; ia segera membaca artikel tersebut ;”TAKBIR (Mengangkat Tangan), akan memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat dilengan untuk diisikan ke mata, telinga, mulut...” Maula berhenti sejenak untuk kemudian mengangkat tangan seperti takbir orang ketika shalat, sambil berusaha meresapi gerakan takbir yang dilakukannya, ia kemudian melanjutkan membaca artikel tersebut sambil mencoba mempraktekan setiap gerakan shalat yang dimaksud dalam artikel tersebut.....
“SEDEKAP, menempatkan kedua tangan diantara perut dan dada, memiliki fungsi untuk pengisian pembuluh darah di organ-organ kepala, menjepit pembuluh darah balik pada lengan kiri sehingga pembuluh darah ditangan kanan akan mengembang. Pada saat mengangkat tangan mau rukuk semprotan pembuluh darah berkecepatan tinggi di tangan kanan akan mengisi pembuluh darah yang ada di bagian kepala.
“RUKUK (Pelenturan Memori Otak dan Ginjal), pKelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang, merupakan saraf sentral beserta sistem aliran darahnya. Rukuk yang sempurna akan menarik urat pinggang sehingga dapat mencegah sakit pinggang dan sakit ginjal. Tuas sistem keringat yang terdapat di pinggung, pinggang, paha , betis belakang, terpelihara oleh gerakan rukuk, dan tulang leher, serta saluran saraf memori juga terdapat kelenturannya “.
“.I’TIDAL (Pencegah Sakit Kepala dan Pinggang), posisi I’tidal bangun dari rukuk membuat aliran darah turun langsung dari kepala, menyebabkan bagian pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanan darahnya. Sehinga dapat mencegah saraf keseimbangan tubuh kita sangat berguna untuk menghilangkan sakit kepala dan pingsan dengan tiba-tiba..”
“SUJUD (Pencegahan Koroner dan Stroke),pada saat sujud pembuluh darah nadi balik, dikunci dipangkal paha, sehingga tekana darah akan lebih banyak dialirkan kembali ke jantung dan di pompa ke kepala. Posisi sujud adalah cara maksimal untuk mengalirkan darah dan oksigen ke otak dan anggota tubuh di kepala. Posisi dujud adalah teknik terbaik untuk membongkar sumbatan pembuluh darah jantung sehingga mencegah koroner. Juga membuat pembuluh darah halus di otak mendapat tekanan lebih, sehingga bisa mencegah stroke.
“DUDUK diantara dua SUJUD (Duduk Perkasa, tekukan kaki dan jari kaki dapat menyeimbangkan sistem elektrik dan saraf keseimbangan tubuh kita. Posisi duduk dua sujud memperbaiki dan menjaga kelenturan saraf keperkasaan yang banyak terdapat pada bagian paha dalam, cekungan lutut sampai ibu jari kaki. Akibat lenturnya saraf keperkasaan ini akan mencegah diabetes, prostate dan hernia.
“DUDUK TAHIYYAT AWAL (Duduk Pembakaran), posisi duduk ini jika agak lama sehingga lipatan paha dan betis bertemu, akan mengaktifkan kelenjar keringat sehingga dapat mencegah pengapuran. Pembuluh darah balik di atas pangkal kaki tertakan sehingga darah akan memenuhi seluruh telapak kaki menyebabkan pembuluh darah di pangkal kaki mengembang. Gerakkan ini akan menjegah agar kaki optimal menopang tubuh kita…”
“DUDUK TASYAHHUD AKHIR (Keseimbangan Saraf dan Penyembuhan Wasir),posisi duduk ini lebih baik dari bersila. Dalam ilmu yoga kalau pergelangan kaki akan dipegang, lalu tekan diarea cekungan akan berguna untuk membongkar pengapuran dikaki kiri. Duduk ini membuat saraf keseimbangan yang berhubungan dengan saraf mata akan terjaga dengan baik…”

“SALAM (Terapi Penyakit Kepala),gerakan salam jika dilakukan secara maksimal, bermanfaat untuk menjaga kelenturan urat leher. Berkat kontraksi otot-otot di kepala dihasilkan energi panas dan zat-zat yang diperlukkan untuk rehabilitasi jaringan yang rusak. Salam kanan dan kiri secara maksimal, mencegah penyakit kepala dan tengkuk kaku…..”

“Subhanallah, betapa sempurna Allah menciptakan gerakan-gerakan shalat ini sehingga selaras dengan kepentingan lahir dan bathin kita ya ki………..” Kata Maula, sambil mengulang membaca artikel dari gurunya.

“Ya Nak Mas, meski tadi Aki katakana bahwa sakit adalah sebentuk ujian dari Allah, bukan berarti kita tidak berusaha untuk menjaga kesehatan kita, karena menjaga kesehatan juga adalah sebentuk ungkapan rasa syukur terhadap nikmat Allah yang wajib kita tunaikan……..” Kata Ki Bijak lagi.

“Benar sabdamu ya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam; “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga)”, Subhanallah………………….” Kata Maula pelan.


Wassalam

Januari 08,2009

Wednesday, January 7, 2009

HIDUP MEMANG BERPUTAR

“Ada khabar apa dikampung Nak Mas......?” Tanya Ki Bijak kepada Maula yang baru kembali dari kampungnya sehabis liburan kemarin.

“Alhamdulillah ki, semua sehat....., Abi, umi dan saudara-saudara dalam keadaan sehat, hanya Dinda kemarin badanya sedikit panas, mungkin kelelahan setelah ujian disekolah dan madrasahnya ki........”Jawab Maula.

“Syukurlah Nak Mas, sehat adalah nikmat yang tidak terhingga yang patut kita syukuri......” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki...., ki.., ada sesuatu yang masih mengusik hati dan fikiran ana sepulang dari kampung kemarin ki.......” Kata Maula.

“Perihal apa itu Nak Mas, kalau Aki boleh tahu.......?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Kemarin, pada saat kami pulang kampung liburan idul fitri, ana bertemu dengan teman-teman semasa kecil dulu..........” kata Maula.

“Lalu.......?” Tanya Ki Bijak.

“Salah seorang teman, ketika itu tengah dalam kondisi yang sangat ‘enak’, usahanya sedang lancar, ia memiliki penghasilan besar, telah mampu membeli sepeda motor, dan berencana untuk membeli sebuah rumah..........” Kata Maula.

“Terus Nak Mas.......” Ki Bijak dengan sabar menunggu kelanjutan cerita Maula.

“Beberapa bulan berselang, sekitar tiga bulan, oktober, november, december, keadaannya berubah, sekarang usahanya lagi ‘seret’ karena perubahan harga komoditinya yang fluktuatif sehingga ia mengalami kerugian besar, dan yang lebih mengejutkan ana, hari minggu lalu ia masih membawa sepeda motornya, dan minggu berikutnya sepeda motor itu sudah dijual lagi....., sedemikian cepat perubahan itu terjadi, hanya dalam rentang waktu tiga bulan saja......” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula, “Itulah hidup Nak Mas, hidup memang berputar, kadang dibawah, dilain saat kita berada diatas, dan perubahan itu bisa terjadi kapan saja, bisa setahun,bisa dua tahun, bisa tiga bulan seperti penuturan Nak Mas tadi, bahkan tidak mustahil ada orang yang mengalami perubahan dalam kehidupannya hanya dalam waktu satu malam saja, jika Allah menghendaki sesuatu maka kun fayakun, terjadilah apa yang di kehendaki_Nya......” Kata Ki Bijak

“Iya ki, rasanya seperti mimpi saja, hanya ana masih belum bisa menangkap ‘pesan’ dari apa yang terjadi dengan teman ana itu ki........” Kata Maula.

“Pesannya sangat jelas Nak Mas, bahwa setiap kita akan diuji oleh Allah dengan ‘kebaikan dan keburukan’, dan tujuannya pun jelas, agar kita senantiasa ingat bahwa diatas segalanya, ada Allah yang telah mengatur dan menentukan hidup kita, agar kita tidak menangis manakala kita mendapati kesusahan,dan kita tidak terbahak manakala kita dihinggapi kelapangan....., dan kenapa Nak Mas yang mendapati pengalaman seperti itu, dalam hemat Aki, itu adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sekarang ini tengah berkecamuk didalam hati Nak Mas........?” Kata Ki Bijak.

Maula sedikit terkejut mendengar perkataan gurunya yang seakan mengetahui apa yang tengah berkecamuk didalam hatinya, “Benar ki, dalam beberapa waktu ini, ana merasa ada sesuatu yang kurang, ana merasa tertinggal dari teman-teman yang lain, ana merasa bahwa saat ini ada berada ‘dibawah’ dalam beberapa hal......” kata Maula jujur.

“Nak Mas....., apa yang Nak Mas saksikan pada perjalanan hidup teman Nak Mas tadi adalah cermin bagi Nak Mas, bahwa memang setiap kita akan mengalami perputaran dalam kehidupannya, termasuk juga dengan Nak Mas, kalau keadaan Nak Mas sekarang ini belum sebaik teman-teman Nak Mas, itu adalah sebuah ‘tantangan’ bagi Nak Mas untuk dapat menyikapinya secara bijak, untuk belajar lebih tekun lagi untuk bisa memaknai segala hal yang terjadi pada kita........” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat dengan ayat al qur’an yang menyatakan bahwa setiap kita akan diuji oleh Allah......?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki......” Jawab Maula sambil membaca surat al anbiya ayat 35;

35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.


“Nak Mas sudah tahu ayatnya, dan sudah sangat jelas bahwa Allah akan menguji kita bukan hanya dengan keburukan, bahkan kebaikan pun merupakan ujian yang harus dilalui oleh kita...., sekarang tinggal bagaimana Nak Mas memaknai ayat tersebut untuk Nak Mas terapkan dalam kehidupan Nak Mas sehingga Nak Mas lebih bijak dalam menjalani kehidupan ini......” Kata Ki Bijak.

“Kebaikan juga sebuah ujian ya ki.......?” Tanya Maula pelan.

“Benar, kebaikan juga sebuah ujian, orang-orang yang Nak Mas lihat bergelimang harta, orang-orang yang saat ini memiliki kedudukan yang tinggi, orang-orang yang saat ini memiliki gaji dan penghasilan besar, orang-orang yangsaat ini memiliki rumah tingkat, mobil mewah atau sawah dan ladang yang luas, orang-orang tersebut juga tengah diuji oleh sejauh mana mereka mensyukuri apa yang Allah amanahkan kepada mereka, dan jangan pernah berfikir bahwa ujian berupa kebaikan ini mudah, justru banyak orang-orang yang berhasil ‘lulus’ dalam ujian ‘keburukan’, seperti kemiskinan dan kekurangan, tapi ‘gagal’ ketika ia harus melalui ujian berupa kebaikan tadi.............” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat kisah Sa’labah......?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, Sa'labah bin hatib adalah seorang yang miskin namun sangat rajin dalam beribadah, suatu hari Sa'labah datang menemui Rasulullah SAW dan berkata: "Doakan ya Rasulullah supaya saya dikaruniai Illahi rezeki yang banyak".

“Rasulullah SAW merasa tidak suka mendengar kata-kata Sa'labah tersebut. Beliau lalu berkata.""Tidakkah engkau merasa ridha hidup seperti nabi-nabi Allah, yaitu mencukupkan apa yang ada. Saya sendiri, apabila menghendaki kekayaan, maka Allah dapat mengaruniakan satu gunung emas dan perak". Lalu Sa'labah menjawab,"Kalau saya mendapat rezeki banyak dari Illahi, maka saya akan menafkahkan harta itu untuk kepentingan umum, dan akan saya berikan kepada setiap orang yang memerlukan dan berhajat."

Akhirnya, Nabi memohonkan kepada Allah supaya Sa'labah mendapat rezeki yang banyak. Permohonan itu pun dikabulkan oleh Allah. Binatang ternak yang dipelihara oleh Sa'labah berkembang biak dengan cepatnya sampai memerlukan satu lapangan yang sangat luas untuk tempat pengembalaannya. Singkat cerita, Sa'labah menjadi seorang hartawan, kekayaannya terkenal ke seluruh kota dan desa...”

“Tetapi, semenjak "bintang"nya terang, ia semakin sibuk mengurusi kekayaannya itu. Tadinya Sa'labah termasuk orang yang sangat tekun beribadah, karena kesibukannya mulailah ia melalaikan ibadahnya, sholat Dhuhur dan Ashar kerapkali dijamakkan saja (dikumpulkan jadi satu), walaupun tidak ada illat dan alasan-alasan yang sah, dalam sholat berjamaah yang semula rutin dikerjakan acapkali tidak kelihatan, lama-kelamaan Sa'labah tidak muncul sama sekali dalam sembahyang Jum'at. Dia sudah terlalu sibuk mengurusi harta-kekayaannya itu…...” Tutur Maula, menceritakan kisah Sa’labah.

“Dan jika Nak Mas perhatikan, dizaman sekarang ini pun Sa’labah-sa’labah modern akan gampang sekali kita jumpai, konteksnya sama, ketika miskin dan papa, ia rajin kemasjid, rajin ibadah, rajin tahajud, tapi setelah Allah memberi sedikit saja kemudahan dan kelapangan, ibadahnya mulai berkurang karena kesibukannya……” Kat Ki Bijak sambil membacakan ayat al qur’an;

75. Dan diantara mereka ada orang yang Telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, Pastilah kami akan bersedekah dan Pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.

76. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).

77. Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, Karena mereka Telah memungkiri terhadap Allah apa yang Telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga Karena mereka selalu berdusta. (At Taubah)

“Iya ki, ana beberapa kali melihat orang yang sangat rajin kemasjid ketika ditimpa kesusahan, tapi kemudian ‘menghilang’ setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan….” Kata Maula.

“Dan Allah mengingatkan Nak Mas dengan gambaran teman Nak Mas tadi, agar Nak mas tidak terlalu cemas dengan kondisi dan keadaan Nak Mas sekarang ini, meski mungkin menurut Nak Mas masih kurang ideal, jalani saja Nak Mas, jalani apa yang ada sekarang sebagai sebuah proses, sebuah sunnatullah yang memang pasti berlaku pada siapapun……….” Kata Ki Bijak.

“Kuncinya masih sama, kita undang nikmat Allah dengan mensyukurinya, kemudian dengan bertawakal kepada_Nya, dengan bersabar dan ridha atas semua apa yang Allah anugerahkan kepada kita, selain tentu dengan kasab kita dengan bersungguh-sungguh menjemput karunia Allah yang luas terbentang tak terhingga ini……” Tambah Ki Bijak.

“Subhanallah…., Maha Suci Engkau ya Allah, ampuni hamba_Mu yang tidak pandai membaca apa yang Engkau siratkan…., terima kasih ki, terima kasih Aki selalu mengingatkan ana manakala ana alpa, semoga kedepan, ana lebih kokoh dan kuat lagi dalam menjalani ‘proses’ ini, dan semoga ana lebih bijak dan pandai dalam membaca ayat-ayat Allah yang tersirat dalam berbagai hal…….” Kata Maula, menyadari betapa kejadian yang sedang dialami oleh temannya, merupakan cermin dan jawaban atas apa yang tengah dipertanyakan oleh hatinya.

“Belajarlah Nak Mas, mohonlah kepada Allah untuk dikarunia ilmu dan hikmah agar Nak Mas lebih pandai ‘membaca’ berbagai hal yang Allah siratkan untuk kita pahami……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki………….” Jawab Maula sambil pamitan.

Wassalam

Januari 06,2009