Friday, May 11, 2007

DO’A YANG LANGKA (2)

19. Maka dia tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (An Naml:19)

Kalau kemarin kita berbicara tentang do’a Nabi Ibrahim yang memohon kepada Allah untuk memasukan beliau berserta anak keturnannya kedalam golongan orang yang senantiasa mendirikan shalat, maka kali ini insya Allah kita akan menambah satu wawasan lagi tentang do’a yang dipanjatkan oleh Nabiyullah Sulaiman As.

Nabi Sulaiman bin Daud As adalah seorang nabi yang dikarunia Allah dengan berbagai kelebihan, yang salah satu diantaranya adalah beliau diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat mengerti bahasa mahluk lain dari jenis binatang dan jin.

Ayat 17 dan 18 dari Surat An Naml menceritakan “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan), Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari"; yang kemudian membuat nabi Sulaiman tersenyum dan mengucapkan do’a diatas.

Lalu kenapa Allah memerintahkan kita untuk memohon secara khusus untuk dikaruniai kemampuan untuk bersyukur?

Karena memang untuk menjadi orang yang pandai bersyukur itu “sulit”, coba kita renungkan kembali betapa sulitnya kita bersyukur;

Hampir setiap pertengahan bulan seperti sekarang ini atau bahkan mungkin diawal bulan, kita menunggu tanggal gajian, tapi coba ingat-ingat lagi, berapa kali kita berucap “alhamdulillah” setelah kita mengambil uang di ATM, hampir tidak pernah? Itu salah satu bukti kecil bahwa bersyukur itu relatif sulit, bahkan untuk sekedar berucap alhamdulillah sekalipun.

Ketika kita akan pergi kekantor, insya Allah kita hampir setiap hari baca basmalah, bahkan ditambahin dengan Bismillahiladzi layaduruu ma’asmihi sai’un fil arhi walaa fisammi wahuhuwa sami’ul’alim, tapi coba ingat-ingat berapa kali kita mengucap hamdalah ketika kita sudah kembali sampai rumah, hampir tidak pernah? Kita menganggap kalau sudah sampai ya sudah, tanpa merenungi siapa yang telah mengantar dan menyelamatkan kita hingga kita tiba dirumah, juga merupakan bukti betapa sulitnya kita bersyukur.

Ketika kita diserang flu, hingga kita megap-megap susah nafas, kemudian Allah menyembuhkan kita dari penyakit itu, kita pun kerap pula untuk bersyukur atas nikmat sehat yang dikaruniakan Allah kepada kita, bersyukur, memang sulit bagi sebagian orang.

Ketika kita bisa shalat berjama’ah dimasjid, kita kerap menganggap bahwa itu adalah bukti “kehebatan” kita dibanding orang yang tidak pergi kemasjid, tanpa pernah berpikir bahwa Allah-lah yang telah memberikan kekuatan kepada kita untuk mengalahkan rasa malas kita dan beranjak memenuhi panggilan shalat berjamaah, kita juga kerap lupa untuk bersyukur untuk hal itu.

Apa lagi?

Pernahkah kita bersyukur bahwa udara yang kita hirup untuk bernafas itu gratis, tanpa dipungut biaya apapun? Alih-alih bersyukur atas nikmat itu, kita malah justru lebih sering mengotori udara kita dengan kepulan asap rokok dan polusi kendaraan kita.

Pernahkah kita bersyukur dengan air yang tersedia untuk minum dan mandi kita? Hampir tidak pernah, padahal kalau setiap hari kita beli lima dirijen air seperti ketika kemarau, berapa kepeng rupiah yang akan kita habiskan untuk memenuhi kebutuhan minum dan mandi kita.

Pernahkah kita berpikir bahwa kemampuan mengerjapkan mata atau memejamkan mata itu sebuah nikmat yang harus disyukuri? Bayangkan berapa juta harus dihabiskan untuk mengobati penyakit tidak bisa tidur?

Pernahkah kita berpikir bahwa bisa buang angin (maaf) itu sebuah nikmat yang luar biasa? Betapa perut kita kembung dan tidak nyaman ketika kita tidak bisa melakukan hal itu?

18. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An Nahl:18)

Demikian banyak nikmat Allah sehingga kita tidak akan mampu menghitung apalagi untuk membalasnya, dan Allah tidak meminta kita untuk membayar semua karunia-Nya kecuali dengan mengabdi dan bersyukur kepada-Nya.

Syukur, sekali lagi adalah sesuatu yang sulit, sehingga dengan ayat pembuka diatas, Allah menuntun kita untuk memohon kepada-Nya kemampuan untuk bersyukur.

Lalu apakah syukur itu untuk Allah? Tidak, sama sekali tidak!!
Allah tidak akan rugi sedikitpun seandainya semua kita tidak bersyukur kepada-Nya, sebaliknya, tidak akan menambah apapun bagi Allah jika seluruh mahluk bersyukur kepada-Nya, lalu?

12. Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".(Luqman:12)


Ternyata, syukur itu untuk kita sendiri, bukan untuk Allah!!
Jadi kenapa kita “pelit” untuk bersyukur?

Bukankah Allah berfirman;

7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(Ibrahim:7)

Allah akan menambah nikmat-Nya kalau kita bersyukur atas nikmat-Nya.

So, kalau Nabi Sulaiman yang merupakan manusia pilihan Allah saja masih memohon untuk dapat bersyukur atas nikmat Allah, masihkah kita akan melupakan do’a tersebut dalam untaian panjang do’a yang kita panjatkan kepada Allah swt?


Wassalam

May, 11, 2007

No comments:

Post a Comment