Tuesday, January 26, 2010

DARI POHON MANGGA


“Nak Mas lihat pohon mangga yang kemarin Nak Mas pangkas ujungnya ini……” Kata Ki Bijak sambil menunjukan pohon mangga didepan rumah.

Dengan segera Maula memperhatikan pohon yang dimaksud.

“Ada apa dengan pohon mangga ini ki….?” Tanya Maula sejurus kemudian.

“Nak Mas perhatikan daun-daun pohon mangga ini, ini adalah dedaunan baru setelah Nak Mas pangkas ujungnya beberapa waktu lalu……” Kata Ki Bijak lagi

“Iya Ki, dedaunan ini tumbuh lagi, dan justru sekarang nampak lebih rimbun dan sehat…..” Kata Maula sambil memperhatikan daun muda yang tampak tumbuh subur diantara dahan-dahan yang juga nampak bermunculan diantara batang pohon mangga.

“Nak Mas melihat ‘sesuatu’ dari tumbuhnya dedaunan dan dahan baru ini….?” Tanya Ki Bijak.

Maula diam sejenak….”Apa ya ki…?” Katanya Kemudian.

“Dalam kehidupan, kita sering kali mengalami berbagai hambatan, rintangan, atau bahkan tidak jarang kita bertemu dengan mereka yang ‘memotong’ jalan kita dengan berbagai alas an…….” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki…?” Tanya Maula lagi.

“Lalu ketika kita tidak siap, kita sering gagap dalam ketika jalan kita terpotong dengan tiba-tiba, tidak demikian halnya dengan mereka yang siap menghadapinya….” Kata Ki Bijak.

“Ana masih belum paham benar ki…..” Kata Maula lagi.

“Begini Nak Mas, secara fitrah setiap kita ingin hidup, tumbuh dan berkembang setinggi dan sebesar mungkin, hanya kadang keinginan kita itu terbentur pada suatu hal, sehingga kita tidak bisa mencapainya, misalnya seorang karaywan tentu bercita-cita dapat menduduki posisi tertinggi ditempat mana ia bekerja, seperti menjadi seorang manager…..,

“Tapi tidak semua orang bisa tiba diposisi yang diinginkannya….,mungkin karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut atau karena hal lainya……; seperti pohon mangga ini, secara alamiah, pohon ini akan tumbuh keatas……” Kata Ki Bijak.
Maula kembali memperhatikan pohon mangga didepannya;

“Orang lemah, akan mengalami depresi, frustasi, stress, patah arang atau bahkan kehilangan arah ketika tujuannya tidak tercapai…., sebaliknya orang bijak dan kuat, akan seperti pohon mangga ini, ketika pucuknya ditebang, pohon ini akan tetap tumbuh dan bahkan lebih berkembang dengan dahan-dahan baru yang bermunculan setelah ujungnya dipangkas……, orang bijak dan kuat, akan dengan secara mencari dan menemukan tempat, cara dan berbagai potensi lain yang ia miliki, untuk tetap tumbuh, berkembang dan menghasilkan…….., Nak Mas mengerti yang Aki maksud…..? ” Kata Ki Bijak.

“Ana mengerti ki…, ketika kita tidak bisa menjadi manager ditempat kerja kita, kita bisa berdagang, berwiraswasta, berternak, bercocok tanam, bertani, dan masih banyak jalan untuk meneruskan dan merajut kehidupan kita, bukan begitu ki…” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, hanya kadang cara pandang kebanyakan orang terlalu sempit, hanya tertuju pada satu jalan saja, sehingga mereka tidak dapat melihat berbagai jalan dan pintu yang Allah bentangkan didepannya…..” Kata Ki Bijak lagi, sambil mengajak Maula menuju serambi masjid lagi.

“Seperti Masjid ini Nak Mas, masjid ini memiliki banyak pintu, ada dipintu depan, pintu samping kiri dan samping kanan….., kita bisa memilih dari pintu mana kita masuk dan keluar, kita tidak perlu memaksa masuk atau keluar dari pintu yang terkunci…, karena kalaupun kita paksakan masuk atau keluar dari pintu yang terkunci, tenaga dan waktu yang kita perlukan untuk membuka pintu itu jauh lebih banyak daripada kita memilih pintu kiri atau kanan yang tidak terkunci…….” Kata Ki Bijak.

“Seperti pepatah mengatakan ‘banyak jalan menuju roma’ ya ki……” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, banyak jalan menuju roma, banyak jalan untuk menuju kebahagian, banyak jalan untuk menjemput rezeki Allah, banyak jalan menyongsong masa depan yang lebih baik, banyak jalan menuju puncak keberhasilan…., syaratnya kita tidak boleh putus asa, tidak boleh picik, tidak boleh berkecil hati, dan satu lagi,kita harus memiliki ‘akar’ yang kuat…..” Kata Ki Bijak.

“Kita harus memiliki akar yang kuat ki….?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, pohon mangga tadi, bisa tetap bertahan hidup, tumbuh, berkembang dan bahkan memiliki lebih banyak dahan dan ranting setelah ujungnya ditebang adalah karena pohon mangga itu masih memiliki akar, pohon mangga itu, niscaya akan mati dengan segera setelah ditebang, jika pohon itu tidak memiliki akar yang kuat….., dan akar yang kuat bagi kita sebagai manuasia adalah akidah yang kokoh, keyakinan yang kuat, keimanan yang teguh kepada Allah swt, kita harus beriman sepenuhnya bahwa apa yang telah, tengah dan akan terjadi pada kita, semuanya telah tertulis dalam kitab Allah….., kitapun mesti mengimani bahwa Allah tidak akan memberikan ujian yang melebihi kapasitas kemampuan kita, kita pun harus meyakini bahwa dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan…., keyakinan dan keimanan yang kokoh itulah yang akan mampu menopang kita untuk tetap bertahan hidup, tumbuh dan berkembang, meskipun kita menghadapi berbagai rintangan dan cobaan…….” Kata Ki Bijak lagi.

Maula manggut-manggut menyimak petuah gurunya;

“Nak Mas lihat gunung Ciremai itu….” Kata Ki Bijak sambil menunjuk kearah gunung Ciremai yang nampak tinggi menjulang dikejauhan.

Maula segera mengarahkan pandangannya kearah yang ditunjuk gurunya;

“Gunung itu nampak sangat tinggi dari sini, dan kalau kita hanya membayangkan ketinggiannya saja, niscaya kita akan takut…., tapi ketika kita kesana untuk mendakinya, niscaya kesulitan yang kita hadapi, jauh lebih ringan dari ketakutan yang kita bayangkan….., dan satu lagi, setinggi apapun gunung, pasti dibaliknya ada turunan yang melandai……..” papar Ki Bijak.

“Iya Ki……, kadang kita takut dengan bayang-bayang terlebih dahulu, sebelum kita tahu dan menjalani kondisi yang sebenarnya……..” Kata Maula.

“Ketakutan dan kecemasan memang bagian dari kita Nak Mas, dan sebaik-baik cara untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan itu, kita harus melihat dan menjalaninya dengan penuh keyakinan, dengan penuh kesabaran, dengan penuh kepasrahan kepada Allah swt…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki….., ana mengerti…..” Kata Maula sambil kembali memperhatikan pohon mangga didepan masjid, yang mengajarinya untuk tidak berputus asa ketika satu jalan tertutup, Maula kemudian memalingkan pandangannya pada pintu-pintu masjid yang banyak, yang mengajarinya untuk dapat memilih jalan dan pintu mana yang lebih maslahat, serta menatap gunung dikejauhan yang mengajarinya untuk tidak takut dengan ‘ketinggian’ dan rintangan….;

“Subhanallah betapa banyak ayat_Mu yang selama ini hamba abaikan ya Allah….” Maual berkata dalam hati.

Wassalam

January 2010.

Thursday, January 21, 2010

DARI IKAN, KITA BELAJAR

“Menurut Nak Mas, apa yang menarik dari ikan-ikan ini….?” Tanya Ki Bijak sambil memperhatikan ikan koi yang berwarna sangat indah.

Muala nampak lebih serius memperhatikan ikan yang ditunjukan gurunya, “Warnanya ki…, warna ikan ini sangat indah, merah menyala, serta putih keperakan, sungguh sebuah kesempurnaan ciptaan Allah swt……” kata Maula.

“Maha Suci Allah yang telah menciptakan ikan ini dengan segala keindahan dan hikmahnya……” Kata Ki Bijak lagi.

“Keindahan dan hikmah dari penciptaan ikan ki….?” Tanya Maula

“Benar Nak Mas, ikan ini indah, sangat menarik untuk dilihat, tapi dibalik keindahannya, juga menyimpan pelajaran yang sangat besar bagi mereka yang mau memperhatikanya……”Kata Ki Bijak lagi.

Maula masih diam, menunggu kelanjutan pelajaran dari gurunya.

“Hikmah atau pelajaran pertama dari ikan ini adalah keistiqomahannya untuk senantiasa hidup diair….., Nak Mas pernah lihat ikan naik kedarat….?” Tanya Ki Bijak.

“Tidak pernah ki….” Kata Maula pendek.

“Nak Mas tahu kenapa ikan tidak pernah naik kedarat…?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Karena ikan tidak bisa hidup tanpa air ki…..” Kata Maula.

“Benar…, ikan tidak akan bisa hidup tanpa air, selain juga karena ikan bisa mendapatkan segalanya diair, ikan mendapatkan makanan, ikan mendapatkan kebebasan, mendapatkan tempat untuk tumbuh dan berkembang, singkatnya ikan mendapatkan kehidupannya diair……..” Kata Ki Bijak.

“Lalu Ki…..?’ Kata Maula penasaran.

“Jika ikan tidak bisa hidup tanpa air, maka kita yang mengaku sebagai orang Islam, tidak akan bisa hidup tanpa al qur’an dan sunnah Rasul_Nya…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Orang islam tidak bisa ‘hidup’ tanpa al qur’an dan sunnah Rasul_Nya..? Kenapa Ki….?’ Tanya Maula.

“Karena al qur’an dan sunnah adalah ‘air kehidupan’ bagi kita…..maka barangsiapa yang istiqomah untuk menjalani kehidupannya dalam lingkungan al qur’an dan sunnah, insya Allah ia akan hidup, tumbuh dan berkembang dengan baik……..”

“Sebaliknya, barang siapa yang meninggalkan al qur’an dan sunnah, maka ia layaknya ikan yang meninggalkan air sebagai tempat dan habitat hidupnya, orang semacam ini niscaya akan mengalami ‘kematian’ dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama……” Papar Ki Bijak.

Tak pelak Maula segera memperhatikan ikan-ikan itu lagi, ia membayangkan betapa menderitanya ikan-ikan ini ketika ikan tidak berada dalam air, jangankan ikan koi yang sekecil ini, ikan hiu yang terganas sekalipun, atau ikan paus sebesar apapun, niscaya mereka akan mengalami kematian jika mereka meninggalkan air.

“Nak Mas mengerti yang Aki maksudkan…..?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki……, terlepas dari jenis ikan apapun, yang namanya ikan, pasti harus hidup diair, kalau tidak, maka ikan itu akan mati…..” Kata Maula.

“Pun dengan kita yang mengaku orang Islam, terlepas dari siapapun, dimanapun, kapanpun, jabatan apapun yang disandangnya, posisi apapun yang didudukinya, title dan gelar apapun yang diraihnya, ketika mereka menjauh dari al qur’an, niscaya mereka akan mengalami ‘kematian dini’…..” Kata Ki Bijak.

“Sedemikian penting arti dan peran al qur’an dan sunnah bagi kehidupan seorang muslim ya ki…..?” Kata Maula.

“Bahkan teramat penting Nak Mas, karena al qur’an adalah ‘ruh’ bagi kehidupan itu sendiri….” Kata Ki Bijak.

“Al Qur’an sebagai ruh kehidupan ki…?” Tanya Maula.

“Nak Mas perhatikan surat As-syura; 42.52 ini…..” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an;


52. Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu ruh/wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

“Allah mensifati Al qur’an sebagai ruh, dan sebagaimana jasad ini yang hanya akan bergerak, yang hanya akan hidup dengan adanya ruh didalamnya, maka al qur’an adalah ruh bagi jiwa kita, bagi bathin kita, bagi hati kita untuk ‘hidup penuh makna’ dengan mengenal siapa Rabbnya, agar kita bisa mengabdi kepada Allah dengan ilmu dan bashirah, bertakwa dan bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dengan penuh cinta, dengan rasa takut dan takjub dengan penuh keikhlasan, dan ini hanya mungkin dilakukan oleh hati yang hidup, hati yang didalamnya ada ruh al qur’an……” Tambah Ki Bijak.

Maula manggut-manggut menyimak penuturan gurunya;

“Selain itu, kenapa kita harus senantiasa hidup dalam naungan al qur’an dan sunah adalah karena al qur’an adalah petunjuk jalan menuju keselamatan, menuju kemenangan, menuju ridha Allah swt………” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat pertama dan kedua dari surat Al Baqarah;


1. Alif laam miin[10].
2. Kitab[11] (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[12],

“Alangkah nekatnya seseorang yang menjalani kehidupannya tanpa sebuah petunjuk yang pasti, sekalipun mata mereka terbuka, sekalipun telinga mereka mendengar, mereka yang menjalani kehidupannya tanpa petunjuk yang jelas, niscaya mereka akan kebingungan kearah mana mereka harus menuju, menjalani kehidupan tanpa petunjuk al qur’an adalah sebuah kebodohan terbesar dalam kehidupan seseorang……” kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki…ana mengerti, kadang ana juga merasa aneh, banyak orang berdoa; ya allah tunjuki kami jalan yang lurus’, tapi mereka sama sekali tidak pernah membaca dan mempelajari al qur’an, padahal disanalah petunjuk jalan lurus itu ya ki….” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula, “Semoga kita dijadikan Allah kedalam kelompok orang yang senantiasa membaca dan mempelajari al qur’an ya Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Kemudian, alas an lain kenapa kita selaku muslim harus senantiasa berdampingan dan sejalan dengan al qur;an adalah karena al qur’an adalah cahaya, penerangan dalam gelapnya gulita kehidupan, sebagaimana ayat 52 surat As-syura tadi; ……..tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami….’.

“Nak Mas pernah berjalan ditempat asing dalam keadaan gelap gulita tanpa cahaya dan penerangan apapun….? Tanya Ki Bijak kemudian.

“Pernah Ki, ketika disekolah dulu, dalam kegiatan pramuka, kami disuruh untuk menjelajah didaerah asing yang gelap gulita, sangat gelap, sehingga banyak diantara kami yang kakinya luka karena terantuk bebatuan atau akar pohon yang tidak kelihatan…….” Kata Maula.

“Tidak berlebihan rasanya kalau Aki mengibaratkan orang Islam yang menjalani kehidupannya tanpa al qur’an dan sunnah seperti orang yang berjalan didalam gelap gulita tanpa penerangan sama sekali, sangat berbahaya….., dia sangat mungkin terantuk kerikil kehidupan disepanjang jalan, dia sangat mungkin tersandung, dia sangat mungkin tersesat,dan bahkan dia sangat mungkin masuk jurang kehancuran karena kenekatannya menjalani hidup tanpa cahaya al qur’an…….” Kata Ki Bijak lagi.

Maula meresapi penuturan gurunya, “Iya ya ki….nekat sekali orang islam yang menjalani kehidupannya tanpa al qur’an……” Kata Maula.

“Selain sebagai ruh, sebagai petunjuk, dan sebagai cahaya, adakah fungsi lain dari al qur’an bagi keselamatan hidup kita ki….?” Tanya Maula.

“Dengan Al qur’an kita hidup, dengan al qur’an kita mendapat petunjuk, dengan al qur’an kita mendapatkan cahaya, dengan al qur’an pula kita bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, sebagaimana Allah menyifati al Qur’an sebagai al furqan, sebagai pembeda seperti dalam salah firman_Nya dalam Surat An Anfal:29;

29. Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu Furqaan[607]. dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.

[607] artinya: petunjuk yang dapat membedakan antara yang Haq dan yang batil, dapat juga diartikan disini sebagai pertolongan.

“Dunia ini penuh dengan warna-warni yang beragam, dunia ini penuh tipu muslihat yang mengecoh, mata dhahir kitas lebih sering tertipu dan tidak dapat membedakan mana haq dan mana yang bathil, hanya dengan al qur’anlah keremangan itu menjadi jelas dan nyata sehingga kita tidak terjebak kedalam kesalahan karena kebodohan kita….” Tambah Ki Bijak.

“Ana mengerti ki……” Kata Maula.

“Alas an lain kenapa kita harus hidup dengan dan didalam lingkungan al qur;an adalah karena al qur’an adalah dialah (al qur’an) yang dijadikan Allah sebagai penawar, sebagai obat, sebagai penyembuh dari berbagai penyakit yang ada didalam dada……; kalau sekarang ini banyak orang depresi, banyak orang frustasi, banyak orang stress, bahkan tidak jarang orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, salah satu faktornya menurut hemat Aki adalah karena kejauhan mereka kepada Al Qur’an….., sementara Allah dengan jelas mengajarkan kepada kita bahwa Al qur’anlah penawar segala depresi, segala stress, segala kegundahan…….” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an Surat Yunus ayat 57;

57. Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

“Iya Ki…., Maha Suci Allah yang telah menurunkan al qur’an; ya Allah jangan pernah palingkan hamba dari Al qur’an, jadikanlah Al Qur’an sebagai ruh dalam setiap gerak kehidupan hamba, jadikan al qur;an dan sunnah rasul_Mu sebagai satu-satunya petunjuk langkah hamba, jadikan cahaya al qur’an sebagai penerang jalan hamba, jadikan al qur’an sebagai pembeda bagi hamba, dan jadikan al qur;an sebagai penawar dari segala penyakit dan duka hamba, ya Rahman hanya kepada_Mu hamba menyembah, dan hanya kepada_Mu hamba mohon pertolongan……,amiin…..” Maula memanjatkan doa.

“Amiiin….” Ki Bijak mengamini.

Wassalam

Januari 2010

Monday, January 4, 2010

BERFIKIR SEJENAK, SEBELUM BERTINDAK

“Setidaknya ada beberapa hal yang menurut Aki tidak pada tempatnya yang kerap terjadi disetiap pergantian tahun baru seperti beberapa hari kedepan ini Nak Mas……” Kata Ki Bijak.

“Hal apa saja itu ki….?” Tanya Maula.

“Pertama; bertambahnya bilangan tahun, artinya umur kita juga bertambah, artinya lagi jatah hidup kita berkurang, artinya lagi saat ‘kepulangan’ kita kekampung akhirat semakin dekat….., dan tidaklah pada tempatnya ketika saat seperti ini justru ‘rayakan’ dengan cara yang sangat berlebihan…….”

“Mungkin Aki yang ‘kuno’ kalau Aki mengatakan bahwa pesta kembang api dimalam tahun baru adalah sebuah kemudharatan, pemborosan, dan sama sekali tidak menunjukan kedewasan kita dalam menyikapi hidup….., uang puluhan juta yang dihambur-hamburkan untuk pesta kembang api tersebut akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk kepentingan rakyat……”,

“Masih banyak saudara kita yang dimalam tahun baru kedinginan, masih banyak saudara kita yang dimalam tahun baru kelaparan, masih banyak saudara kita yang dimalam tahun baru menahan kesedihan, mereka yang rumahnya terbakar, mereka yang hartanya hanyut karena banjir, mereka yang tidak ‘seberuntung kita’ yang memerlukan bantuan dan uluran tangan kita, tidakkah kita memiliki sedikit empati untuk setidaknya tidak menyakiti perasaan mereka dengan menghamburkan uang untuk hal-hal yang mubazir…..?” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Iya ki, bahkan tak jarang gemerlapnya tahun baru itu dirayakan ditengah penderitaan, seperti ketika tsunami Aceh terjadi tanggal 26 Desember, seminggu kemudian orang-orang bersorak girang, bertepuk tangan, menghamburkan uang untuk foya-foya, sementara saudaranya diAceh sana merintih menahan derita…..sungguh sebuah ironi…….” Tambah Maula.

“Makanya Aki kurang setuju kalau Nak Mas ikut-ikutan merayakan tahun baru seperti kebanyakan orang……” Kata Ki Bijak lagi.

“Alhamdulillah Ki, sampai dengan seusia ini, ana belum pernah merayakan tahun baru, bahkan sekedar membeli terompetpun tidak pernah, lagi pula tahun baru ini kan bukan tahun baru umat Islam ya ki, kenapa justru orang islam yang pada ribet merayakannya….?” Kata Maula lagi.

“Benar Nak Mas, itu hal yang kedua yang menurut Aki tidak pada tempatnya, kenapa orang islam merayakan hari raya umat lain…..?, disini kita harus berhati-hati, karena sangat mungkin hal ini akan menjadi perangkap bagi kita…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Perangkap Ki…..?” Tanya Ki Bijak.

“Benar Nak Mas, Nak Mas perhatikan ayat ke 120 dalam surat Al Baqarah ini…..” Kata Ki Bijak sambil memperlihatkan ayat dimaksud;

120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.


Dengan segera Maula menyimak ayat tersebut dengan seksama;

“Mudah-mudahan Aki tidak berlebihan jika Aki mengatakan bahwa perayaan tahun baru seperti tahun yang sudah-sudah itu, adalah bagian dari scenario besar yang memang telah disiapkan oleh mereka yang berseberangan dengan akidah kita, Nak Mas masih ingat dengan diskusi kita mengenai Ghaswul Fikr….?” Tanya Ki Bijak, tanpa menunggu Maula yang masih mengamati ayat al qur’an

“Iya Ki…..; Ghaswul berasal dari kata Ghuswah yang berarti Serangan, invasi atau serbuan, sementara Fikr adalah Pikiran atau pola pikir, dengan demikian Ghaswul Fikr biasa didefinisikan dengan Penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam guna merubah apa yang ada didalamnya sehingga tidak bisa lagi dibedakan antara Islam dan selainnya, metode yang mereka gunakan biasanya dikenal dengan Tasykik; yakni Pendangkalan / Peragu-raguan, baik itu pendangkalan akidah, pendangkalan pemahaman hukum dan syariat serta pendangkalan pemahaman terhadap berbagai aktivitas ibadah umat Islam…..” Kata Muala.

“Lalu ….?” Tanya Ki Bijak mengetes daya ingat Maula.

“Lalu yang kedua; Tasywih – Pencemaran/Pelecehan, yang ketiga Tadhlil – penyesatan dan yang Keempat adalah metode Taghrib – Pembaratan…..” Lanjut Maula.

“Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi dalam perayaan tahun baru; pertama, tahun baru ini adalah klaim sebuah umat atas kelahiran Nabi Isa yang mereka nisbatkan sebagai Tuhan, sementara Islam dengan tegas menyatakan bahwa Isa As adalah seorang Nabiyullah, bukan Tuhan seperti anggapan mereka, bukankah ini sebuah ‘serangan’ atas akidah umat kita yang diarahkan untuk mengakui Nabi Isa sebagai tuhan, bukankah ini sebuah pendangkalan akidah,bukankan ini salah satu tujuan ghaswul fikri tadi Nak Mas…?” Tanya Maula.

“Astaghfirullah…….benar ki, ada muatan yang tersembunyi untuk menggelincirkan umat ini dari rel akidah yang sebenarnya….” Maula mulai menyadari.

“Sebenarnya ‘muatan itu’ dalam hemat Aki sangat jelas, hanya kita yang tidak mau melihatnya dengan jernih, ini masalah umat yang harus kita luruskan bersama…..” Kata Ki Bijak lagi.
“Iya ki…, belum lagi kalau dilihat dari berbagai kegiatan yang dilakukan, semuanya kebarat-baratan banget, mulai pakaian, makanan dan minuman, bahkan tidak jarang malam pergantian tahun ini dijadikan momen ‘penghalal’ berbagai kegiatan maksiat, mabuk, madon dan lainnya…..” Kata Maula.

“Sekarang jelaslah sudah bahwa disamping dimendatangkan manfaat, perayaan tahun baru sangat-sangat beresiko bagai kesemalatan akidah kita, jadi sekali lagi, Nak Mas jangan ikut-ikutan, pun dengan keluarga Nak Mas, berikan pemahaman mereka bahwa tahun baru ini bukan sesuatu yang harus dirayakan, syukur kalau Nak Mas bisa member pemahaman kepada rekan dan lingkungan terdekat Nak Mas….”Kata Ki Bijak lagi.

“Insya Allah ki…………….” Kata Maula sambil pamitan.

Wassalam

December 30,2009
LAGI; SEBUAH NASEHAT YANG BERNAMA KEMATIAN

"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"……………..” Kata Muala dan Ki Bijak hampir bersamaan, demi mendengar berita wafatnya salah satu tokoh dinegeri ini.

“Cepat sekali ya ki…” Kata Maula

“Apanya yang cepat Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak.

“Sebelumnya ana sama sekali tidak mengenal beliau, tiba-tiba ditahun 1999 beliau muncul dan menjadi presiden hingga tahun 2001, dan sekarang, beliau wafat….sepuluh tahun rasanya demikian cepat…..” Kata Maula.

“Memang benar Nak Mas,waktu satu tahun, sepuluh tahun atau bahkan tujuh puluh tahun jatah umur yang diberikan kepada kita adalah waktu yang teramat singkat, maka akan merugilah mereka yang tidak menggunakan waktunya dengan baik, karena waktu tidak mungkin menunggu kita, karena tidak mungkin umur kita akan bertambah jika kita berleha-leha, karena tidak mungkin kematian akan menjauh sekalipun kita berlari menghindarinya, saat itu, saat kematian, pasti akan datang pada siapapun, jika hari ini Gus Dur dipanggil pulang, entah esok atau lusa, giliran kitapun pasti kan tiba…..” Kata Ki Bijak.

“Iya Ki, beliau meninggalkan demikian banyak cerita ditengah kita sepanjang kiprahnya, ada yang pro, pun ada yang kontra…..” Kata Ki Bijak.

“Setiap orang, pasti memiliki dua sisi, layaknya purnama yang memancarkan cahaya benderang dilintasan bumi yang dilaluinya, sementara dibelahan bumi lain, mungkin mengalami gulita, pun dengan kita, pun dengan Gus Dur, beliau mungkin akan laksana purnama yang memancarkan sinar terang bagi mereka yang sejalan dengan ide dan pemikirannya, tapi akan meninggalkan beribu tanda tanya pada mereka yang ‘membelakangi’ atau berseberangan dengan beliau, tapi itulah romantikanya, kita harus bisa menyikapinya sebagai sebuah ayat dan tanda kebesaran Allah yang telah menciptakan manusia dengan beragam karakter, dengan beragam type, dengan beragam kelebihan, dengan beragama kekurangan pula, semuanya menuntun kita pada satu titik, yaitu kebesaran Allah Yang Maha Menciptakan…….” Kata Ki Bijak.

“Ki..masih terngiang ditelinga ana nasehat Aki tentang kematian, tentang Dzikrul Maut, kalau Aki berkenan, ana ingin Aki mengulang nasehat mengenai hal ini lagi ki…………….” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang; “Setiap mahluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, tak peduli siapapun ia, pakah ia seorang presiden atau hanya seorang pengamen, apakah ia seorang raja, atau hanya rakyat jelata, laki-laki, perempuan, tua-muda, anak-anak atau bahkan bayi yang baru dilahirkanpun bisa meninggal, hanya kita tidak tahu kapan dan dimana saat kematian kita itu akan datang…..” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat ke 34 dari surat Lukman;

34. Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

[1187] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.


“Salah satu hikmah dirahasiakannya saat dan tempat dimana kita akan mati adalah agar kita senantiasa bersiap menyambut kedatangannya, agar kita senantiasa berusaha untuk mati dalam keadaan husnul khotimah, karena bagi kita selaku orang beriman, kematian bukanlah akhir dari segalanya, kematian ‘hanyalah’ gerbang untuk memasuki kehidupan abadi dinegeri akhirat, setelah sebelumnya kita ‘transit’ dialam barzah hingga kiamat tiba……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula diam, mentafakuri setiap untaian kata dari gurunya;

“Allah menggambarkan dengan indah bagaimana akhir kehidupan dunia ini dan kehidupan setelahnya, yakni kehidupan akhirat dalam surah Al Haqqah…..;


13. Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup[1507]
14. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.
15. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat,
16. Dan terbelahlah langit, Karena pada hari itu langit menjadi lemah.
17. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.
18. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).

[1507] Maksudnya: ialah tiupan yang pertama yang pada waktu itu alam semesta menjadi hancur.


“Dan setelah kejadian itu, akan ada dua golongan besar manusia dihadapan Allah, yaitu mereka yang menerima kitab catatan amalnya ditangan kanan, dan mereka yang menerima catatan amalnya ditangan kiri……………” Kata Ki Bijak lagi.

“Mereka yang mendapatkan kitab catatan amalnya ditangan sebelah kanan, adalah mereka yang akan memdapatkan kehidupan akhirat yang diridhai, berada disurga yang tinggi dengan segala fasilitas kenikmatan yang tiada banding dari Allah swt……”

“Sementara mereka yang menerima catatan amalnya ditangan sebelah kiri, adalah mereka yang akan menyesali kelalaiannya dalam memanfaatkan jatah umurnya didunia, sebagaimana Allah gambarkan dalam lanjutan surat Al Haqqah…;

25. Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, Maka dia berkata: "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).
26. Dan Aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.
27. Wahai kiranya kematian Itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.
28. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.
29. Telah hilang kekuasaanku daripadaku."


“Dan tiada lain balasan bagi mereka selain siksa Allah yang sangat pedih tiada terperi……..” Lanjut Ki Bijak sambil meneruskan jenis penderitaan yang akan dialami mereka yang menerima catatan amalnya ditangan kiri;

30. (Allah berfirman): "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.
31. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.
32. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.
33. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Maha besar.
34. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.
35. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari Ini di sini.
36. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.
37. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.

“Ana jadi merinding mendengarnya Ki……” Kata Maula

“Karenanya, mumpung kita masih diberi kesempatan hidup oleh Allah; pergunakanlah waktu yang kita miliki sebaik mungkin, semata untuk mengabdi kepada Allah, agar kelak…., ketika saat kematian menghampiri kita, kita sudah memiliki bekal untuk perjalanan panjang yang abadi diakhirat kelak……….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki…..ya Allah berikan hamba kemampuan untuk senantiasa beribadah dan mengabdi kepada_Mu sepanjang sisa umur hamba…, ya Allah..,jangan pernah langkahkan kaki ini lagi tanpa bimbingan_Mu, jangan pernah ayunkan tangan ini tanpa petunjuk_Mu……, Ya Rabb..,hanya kepada_Mu hamba mengabdi, dan hanya kepada_Mu hamba mohon pertolongan, jadikanlah akhir hidup hamba kelak akhir hidup yang khusnus khotimah…..amiiiin…” Maula memanjatkan doa kepada Allah swt.

“Amiiiiin…..” Ki Bijak mengamini.

Wassalam

December 31, 2009

Monday, December 7, 2009

‘PAH…ALLAH TIDUR NDAK…?”

“Aneh ya ki…..” Kata Maula

“Apa yang aneh Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak

“Itu ki. Ada seorang nenek yang ‘mencuri’tiga buah kakao, ditahan selama 3 bulan, sebelum akhirnya divonis 1.5 bulan kurangan, kemudian ada orang yang ‘mencuri’ semangk untuk sekedar mengisi perutnya juga ditahan, sementara mereka yang mencuri uang rakyat milyaran rupiah, masih berkeliaran bebas, seakan tak tersentuh hukum, dunia ini memang tidak adil ya ki…..” Kata Maula, membandingkan kasus seorang nenek dengan para tersangka koruptor yang sedang marak diberbagai media.

“Itulah hukum dunia Nak Mas, hukum atau keputusan yang dibuat manusia, pasti jauh dari kata sempurna, karena cenderung subjektif, temporer, dan memihak untuk kepentingan atau orang tertentu……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…,dan terakhir, kasus pencemaran nama baik yang melibatkan seorang ibu rumah tangga bersahaja, yang akhirnya harus menerima kenyataan vonis bersalah dan dinyatakan kalah oleh pengadilan…., keadilan seolah hanya menjadi milik mereka yang memiliki uang atau kekuasaan saja…..” kata Maula menambahkan

“Dari sini sebenarnya kita bisa belajar sesuatu Nak Mas….” Tambah Ki Bijak.

“Belajar apa ki….?” Tanya Maula.

“Coba kita buat pertanyaan sederhana untuk contoh kita kali ini Nak Mas; kalau ada orang jahat tidak bisa dijerat dengan hukum dunia dan tidak mendapat hukuman setimpal, dimana dan dengan hukum apa ia akan mendapatkan balasan…..?”

“Jika ada orang benar yang kemudian dihukum bukan atas dasar kesalahannya, dimana ia akan mendapat keadilan…..?”

“Jika hukum manusia cenderung subjektif, temporer, memihak dan tidak sempurna, lalu hukum siapakah yang paling sempurna…?”

“Jika keputusan yang dibuat manusia itu tidak adil, lalu keputusan siapa yang paling adil…..? Tanya Ki Bijak.

Maula masih diam, menyimak pertanyaan-pertanyaan yang dibuat Ki Bijak.

“Secara logika, secara rasional, pertanyaan-pertanyaan tadi akan mengarahkan kita pada satu pemikiran bahwa jika dunia ini ‘tidak adil’, ‘jika dunia ini cenderung memihak’, maka harus ada saat dan tempat dimana keadilan itu akan didapat oleh setiap orang, yang bersalah akan mendapat hukuman atas kesalahannya, yang benar akan mendapat pahala atas kebaikannya, dan kita sebagai orang beriman, meyakini bahwa saat dan tempat untuk mendapatkan keadilan hakiki itu adalah dikehidupan akhirat kelak….., dalam bahasa sederhana, pertanyaan tadi harusnya menuntun kita untuk lebih meyakini kebenaran atas keberadaan alam akhirat dan hari pembalasan yang selama ini kita yakini…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ya ki, sebenarnya mudah untuk ‘meyakini’ bahwa akhirat itu ada, bahwa hari pembalasan itu ada, tapi kenapa masih banyak orang yang meragukan atau bahkan sama sekali tidak mau menyakini keberadaan hari pembalasan ya ki….?” Kata Maula.

“Menurut hemat Aki, mereka yang tidak mau mengakui keberadaan hari pembalasan itu bukan karena mereka tidak tahu, tapi lebih karena kuatnya kesombongan yang bercokol dalam hatinya, meski secara fitrah mereka mengetahuinya…..”,

“Kesombonganlah yang kemudian menutup mata hati mereka untuk melihat adanya hari akhirat dengan jelas, kesombonganlah yang kemudian membuat mereka beranggapan kalau pun Allah itu ada, Allah bisa saja lalai, Allah bisa saja tidak melihat, atau ada yang beranggapan Allah itu mengantuk atau tertidur….., padahal Dia-lah Allah, Dzat yang Maha mengetahui, tidak menimpa_Nya rasa kantuk atau tidur, kekuasaan_Nya meliputi bumi dan langit dan seterusnya……” kata Ki Bijak, sambil mengutip ayat al qur’an;

255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

[161] Kursi dalam ayat Ini oleh sebagian Mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaan-Nya.


“Ana jadi teringat pertanyaan Ade ki…..” Kata Maula.

“Apa pertanyaan anak pintar itu Nak Mas…?’ Tanya Ki Bijak.

“Kemarin Ade bertanya; “Pah Allah tidur Ndak…’, ketika itu Ade melihat orang sedang tidur dimasjid…” Kata Maula.

“Subhanallah…, sebuah pertanyaan yang sangat pintar Nak Mas, dan pertanyaan seperti itu mestinya menjadi pertanyaan kita orang yang secara lahir dan bathin lebih dewasa dari Ade, sehingga dengan senantiasa bertanya seperti itu, kita akan memiliki filter yang akan menyaring setiap bisikan dari dalam diri kita, misalnya ketika nafsu mendorong kita untuk melukakan perbuatan yang tidak terpuji…..” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki…..?” Tanya Maula masih penasaran.

“Kesadaran dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah tidur, Allah tidak pernah mengantuk, Allah tidak pernah lalai, Allah Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, merupakan serangkaian filter bagi kita untuk tidak melakukan perbuatan yang melanggar aturan Allah sekecil apapun, karena kita meyakini tidak ada tempat, tidak ada waktu, tidak ada ruang, tidak ada hal apapun yang lepas dari pengawasan Allah…, dengan keyakinan dan kesadaran seperti inilah insya Allah kita akan selamat dari bujuk rayu setan yang menunggangi nafsu kita……” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, hanya orang yang buta mata hatinya saja yang akan beranggapan Allah tidur, hanya mereka yang membatu hatinya saja yang akan beranggapan Allah tidak melihat, hanya mereka yang hatinya telah mati saja yang beranggapan tidak akan ada pembalasan diakhirat kelak ya ki…..” Kata Maula.

“Itulah salah satu alas an kenapa hati memiliki peran penting dalam setiap aspek kehidupan kita, karena dari hatilah semua berpangkal, baik hati kita, insya Allah baik pula seluruh aspek kehidupan kita, sebaliknya, hati yang buta,yang sakit atau apalagi hati yang mati, akan melahirkan berbagai kejahatan dan kerusakan dalam setiap aspek kehidupan sipenderitanya……” Kata Ki Bijak lagi.

“iya ki, semoga dengan segala keterbatasannya, para pengadil itu bisa membuka mata, membuka telinga dan membuka hati mereka, bahwa apa yang mereka putuskan dalam satu perkara, akan dimintakan pertanggung jawabannya diakhirat kelak, semoga mereka yang ‘bersalah’, tapi kemudian terbebas dari hukum dunia, akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah, dan semoga pula mereka yang ‘tidak bersalah’, tapi harus menerima ketidakadilan hukum dunia, Allah member kesabaran dan balasan yang paling adil dari swt……” Kata Maula.

“Amiin…”Balas Ki Bijak.

Wassalam;

Desember 06,2009

Wednesday, November 25, 2009

MARI BERQUR’BAN

“Ada perbedaan mendasar dari pola fikir umat dizaman Rasul dengan umat dizaman kita sekarang ini Nak Mas, jika umat terdahulu berlomba-lomba mencari tahu sunnah Nabi untuk mengikuti dan melaksanakannya, dizaman kita sekarang ini, orang berlomba-lomba mencari dalil sunnah, agar mereka bisa berkilah untuk tidak melaksanakannya, dengan alas an bahwa amalan itu sekedar sunnah, termasuk dalam hal qur’ban, betapa banyak orang yang sebenarnya mampu melaksanakannya, tapi mereka tidak melakukan qurban dengan dalih bahwa itu sunnah…..” Kata Ki Bijak, mengawali perbincangan seputar qur’ban.

“Iya ki…., padahal kalau dihitung-hitung, kalau kita menabung sehari Rp.5000 saja, dikali 365 hari dalam setahun, akan terkumpul sekitar 1,825,000, cukup untuk membeli seekor kambing qurban yang sekarang ini harganya sekitar 1,500,000 ribu, jauh lebih sedikit dari pengeluaran untuk membeli sebungkus rokok, yang mungkin lebih dari Rp.10000 per bungkusnya……” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, jauh lebih kecil dibandingkan dengan uang yang dihabiskan untuk membeli rokok; permasalahannya bukan hanya terletak dari mampu tidaknya seseorang menabung uang untuk berqurban; tapi bagaimana cara pandang orang tersebut terhadap perintah Allah melalui sunnah Rasul_Nya, selama mereka berfikir bahwa berqur’an itu hanya ‘sunnah’, maka niat dan kemauan itu tidak akan terpupuk dengan baik…..”Kata Ki Bijak.

“Benar Ki, padahal tidaklah Rasul melakukan sesuatu itu atas perintah Allah dan pasti ada selaksa hikmah dari apa yang Rasul contohkan tersebut ya ki…..” Kata Maula.

“Esensi qur’ban adalah ketaatan secara total kepada Allah Nak Mas, bukan sekedar menyembelih hewan qurban dan kemudian membagi-bagikannya, lebih dari itu, pelaksanaan qurban merupakan cerminan totalitas pengabdian seorang hamba kepada khaliqnya……..” Kata Ki Bijak.

Maula masih diam, meresapi apa yang diwejangkan gurunya;

“Nak Mas ingat kisah Nabi Ibrahim yang diuji Allah untuk mengorbankan putranya Nabi Ismail….?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki….., Al qur’an menceritakan kisah ini dalam Surat As-shaffat;

101. Maka kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar[1283].

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

103. Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).

104. Dan kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,

105. Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu[1284] Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

106. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

107. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar[1285].

108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian,

109. (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".

[1283] yang dimaksud ialah nabi Ismail a.s.

[1284] yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksana- kannya.

[1285] sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s. Maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). peristiwa Ini menjadi dasar disyariatkannya qurban yang dilakukan pada hari raya haji.

“Nak Mas benar, ayat 101 hingga 109 ini menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim diuji Allah untuk mengorbankan putranya Ismail, bisa kita bayangkan, anak yang sekian lama dinanti, dan kemudian terlahir sebagai anak yang cakap, cerdas dan tampan, tiba-tiba harus dikorbankan…, betapa berat ujian ini, dan hanya orang-orang yang benar-benar memiliki keimanan dan keyakinan yang sempurna sajalah yang akan bisa melaksanakannya….., hanya orang yang memiliki totalitas pengabdian kepada Allah sajalah yang akan mampu melaksanakannya, dan inilah yang dituntut Allah dari kita, totalitas pengabdian kita kepada Allah swt, bukan darah atau daging qurbannya…..” Kata Ki Bijak

“Iya ki, lagi pula kita tidak diminta untuk mengorbankan anak kita sebagaimana Nabi Ibrahim, hanya seekor kambing, yang harganya relative terjangkau……” Kata Maula.

“Ki, bagaimana caranya kita bisa menggugah saudara-saudara kita yang mampu, tapi belum melaksanakan qur’an ya ki….?” Tanya Maula kemudian.

“Pertama mungkin kita bisa memulainya dengan memberikan pemahaman bahwa sunnah, bukan berarti untuk ditinggalkan, keberadaan sunnah justru untuk mendukung ibadah fardhu kita sehingga menjadi paripurna…, sementara ini ada persepsi yang sedikit keliru, aah ini mah sunnah, aah ini sih tidak wajib, sehingga keberadaan sunnah baginda Rasul ditengah kehidupan kita sekarang ini sedikit meluntur…..” Kata Ki Bijak.

“Kemudian yang kedua, beragama adalah sebuah konsekuensi, beragama berarti kita terikat dan mengikatkan diri dengan apa yang ditetapkan dan disyariatkan agama kita, beragama artinya harus total, jika agama melarang satu hal, secara total kita harus melaksankannya, pun ketika agama memerintahkan kita, baik itu yang wajib maupun sunnah, sedapat mungkin kita melakukannya…., jangan kemudian kita tebang pilih, jika aturan agama itu sekiranya menguntungkan kita, kita ikut, sebaliknya ketika aturan itu kita anggap merugikan kita, kita mundur teratur……,

“Seperti halnya Qur’ban, bagi sebagian orang, mengeluarkan uang untuk membeli hewan qur’an dan kemudian membagikannya kepada orang lain, masih dirasakan sangat berat, meski sebenarnya mereka lebih dari sekedar mampu……, ini yang kurang baik….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ya ki, seperti ana sering dengar orang mau nikah lagi, dengan alas an sunnah, sementara sunnah-sunnah lainnya, yang harusnya lebih bisa mereka laksanakan, justru banyak ditinggalkan…..” Kata Maula.

“Nak Mas mau nikah lagi….?” Goda Ki Bijak.

“Aki merestuinya….?” Jawab Maula spontan.

Ki Bijak mengangguk, “Tapi untuk Nak Mas, Aki kasih syarat sebelum Nak Mas memutuskan untuk menikah lagi….” Kata Ki Bijak.

“Apa syaratnya ki….?” Jawab Maula terpancing.

“Syaratnya mudah, pertama niatnya harus benar-benar lillahita’ala, kedua, Nak Mas terlebih dahulu harus bisa mendidik istri Nak Mas agar seshaleh Siti Aisyah, menjadikan putri Nak Mas seperti Siti Fatimah, dan menjadikan putra Nak Mas seperti cucunda Rasul Hasan dan Husen, dan yang terpenting, Nak Mas sendiri harus bisa seperti Rasul, tahajudnya jangan putus, sabarnya harus seperti beliau, adilnya harus seperti beliau, pokoknya Nak Mas harus total melaksanakan ajaran agama seperti yang dicontohkan Rasul, Nak Mas sanggup….?’ Tanya Ki Bijak.

Maula tersenyum; “Berat sekali syaratnya ki……” Katanya kemudian.

“Seperti tadi Aki katakan, jangan mau enaknya saja, harus total, agar kita tidak dicap sebagai orang yang plin plan…….” Kata Ki Bijak

“Ana memilih untuk beristri satu saja dulu Ki, ana fikir lebih baik ana konsentrasi melaksanakan agama ini secara benar sebagaimana diajarkan baginda Rasul daripada berfikir yang bukan-bukan….” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar jawaban Maula; “Aki fikir juga begitu, masih banyak yang harus kita perbaiki untuk mencapai muslim yang kaffah……….” Kata Ki Bijak.

“Ketiga, ber qur’ban juga sebentuk ungkapan rasa syukur kita atas karunia dan nikmat Allah yang sangat banyak, Allah menyatakan bahwa;

1. Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah[1605].
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus[1606].

[1605] yang dimaksud berkorban di sini ialah menyembelih hewan qurban dan mensyukuri nikmat Allah.
[1606] maksudnya terputus di sini ialah terputus dari rahmat Allah.


“Sinar dan cahaya matahari kita tidak beli, udara dan oxygen untuk kita bernafas pun gratis, bumi yang kita pijak, tidak dipungut bayaran, belum lagi nikmat lainnya, mata kita, telinga kita, hidung kita, hati kita, semuanya pemberian Allah……., alangkah tidak patutnya kita jika kemudian setelah diberi nikmat dan karunia yang demikian banyak, kemudian tidak mau atau menghindar dari ‘perintah’ sang pemberi nikmat itu, meski Allah tidak memerlukan apapun dari kita, tapi selayaknya kita bertanya dimana rasa syukur kita, dimana rasa terima kasih kita, jika sekedar mengorbankan seekor kambing saja tidak mau….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki….” Kata Maula.

“Ngomong-ngomong, sudah berapa orang yang mendaftar untuk tahun ini Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak.

“Alhamdulillah ki, kemarin ana dapat informasi sudah ada lima ekor sapi dan beberapa ekor kambing…….., Kata Maula mengenai persiapan qurban dimasjid dekat rumahnya.

“Mudah-mudahan di dua hari terakhir ini akan lebih banyak orang yang melaksanakan qur’ban ya Nak Mas…..” Kata Ki Bijak.

“Potensinya lebih besar dari itu ki, warga komplek rata-rata karyawan, yang insya Allah mampu melaksanakan qur’ban…..” kata Maula.

“Tugas Nak Mas dan ustadz-ustadz disanalah untuk memberikan pemahaman yang benar dan mengajak mereka yang belum berqurban untuk menunaikannya…..” Kata Ki Bijak.

“Insya Allah ki……………” Jawab Maula mengakhiri percakapan itu.

Wassalam

November 18,2009

Thursday, November 19, 2009

TEMAN SEJATI

“Dari mana Nak Mas..?” Tanya Ki Bijak, pada Maula yang baru datang

“Dari sekolah Dinda Ki……” Kata Maula setelah duduk disamping gurunya.

“Biasanya pukul 10 sudah sampai, sekarang agak terlambat Nak Mas..?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Iya ki, diperjalanan tadi, ana berbarengan dengan iring-iringan pengantar jenazah, jadi agak terhambat….” Kata Maula.

“Innalilahhi wa inna ilaihi roji’un, siapa yang meninggal Nak Mas…..?” Tanya Ki Bijak.

“Ana tidak tahu Ki, tapi mungkin orang kaya atau pejabat, habis yang mengantarnya banyak sekali, rombongan mobilnya mungkin puluhan,belum lagi motor, bahkan dikawal mobil patroli segala….”Kata Maula.

Ki Bijak terdiam sejenak, “ Hanya sekedar itu bedanya Nak Mas…..” Kata Ki Bijak disela-sela tarikan nafasnya.

“Hanya sekedar itu bedanya, maksud Aki……?” Tanya Maula heran.

“Ya Nak Mas, perbedaan antara orang kaya atau pejabat dan orang miskin yang meninggal, hanya terletak pada jumlah pengantarnya saja, tapi sama saja, sedikit atau banyak, para pengantar jenazah itu, tidak satupun diantara mereka yang kemudian mau menemani orang yang meninggal itu didalam kuburnya…..” Kata Ki Bijak.

Maula masih diam, ia belum sepenuhnya memahami apa yang dimaksudkan gurunya;

“Ketika orang kaya meninggal, seperti tadi Nak Mas lihat, diantar oleh sedemikian banyak orang, tapi dari sekian banyak itu, tak satupun mereka yang mau menemani si mayit kedalam kuburnya, tidak tetangganya, tidak kerabatnya, tidak anak buah atau atasannya, atau bahkan istri dan anaknya, tidak ada satu pun diantara mereka yang mau menemaninya, yang akan ‘setia’ dan senantiasa menemani seseorang hingga liang lahatnya hanyalah amal ibadah yang mereka kumpulkan selama hidupnya…..”

“Pun ketika orang miskin meninggal, mungkin pengantarnya tidak sebanyak ketika yang meninggal itu orang kaya, tapi tetap, ia akan sendirian dimasukan didalam kuburnya, tidak ada kerabat, tidak ada sanak family, tidak juga saudara, apalagi pengantar, lagi, yang akan menemaninya hanyalah amal shaleh yang ia kumpulkan selama ia hidup didunia ini……..” Tambah Ki Bijak.

Maula baru menyadari arah pembicaraan gurunya; “Benar Ki, berapapun jumlah orang yang mengantar, berapa pun jumlah mobil yang mengantar, berapa pun jumlah motor yang mengantar, tetap saja semuanya itu tidak ada yang mau menemaninya untuk masuk keliang lahat…..” Kata Maula.

“Bahkan karangan bunga dan ucapan belasungkawa yang berjejer indah dipagar rumah duka, takkan merubah apapun, dari sini, Nak Mas melihat ‘sesuatu’…..?” Tanya Ki Bijak.

Maula diam sesaat, “Apa ya ki…..?” Tanya Maula.

“Melihat bahwa harta kita, yang selama ini kita cintai, harta yang siang malam kita menghitungnya, harta yang selama kita jadikan kebanggaan, harta yang selama ini kita perjuangkan dengan tetesan keringat atau bahkn cucuran darah, tidak lebih hanya akan menjadi pengantar kita keliang lihat, tapi tidak akan menemani kita didalamnya….”

“Melihat bahwa mobil kita, motor kita, yang selama ini sering membuat kita lalai dari mengingat Allah, mobil dan motor yang kadang membuat kita lupa kemasjid karena mendahulukan mencucinya, tidak lebih hanya jadi pengiring kita samping dipinggiran kubur kita, tidak lebih….”

“Anak buah kita, atasan kita, kolega kita teman kita, yang selama ini dekat dengan kita, mereka pun takkan ada yang sudi untuk menemani kita didalam kubur…..”

“Atau bahkan anak istri kita sekalipun, mereka hanya akan menemani kita sebatas didunia ini saja, setelah kita meninggal, maka tinggallah kita sendiri didalam kubur yang sempit, yang gelap, yang dingin, hanya amal shaleh saja yang akan menemani kita didalam gelapnya liang lahat……” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Benar ki…., lalu apa artinya ki...” Kata Maula.

“Artinya jika kita sudah tahu bahwa yang akan menemani kita didalam kubur dan menjadi bekal kita di kehidupan abadi kita kelak diakhirat adalah amal shaleh, maka sudah selayaknya kita menabung amal sholeh itu dari sekarang, sudah sewajarnya kita memperhatikan amal shaleh kita dari sekarang, sudah semestinya kita mempersiapkan amal sholeh kita sebagai bekal kita kelak, sudah seharusnya urusan amal sholeh, urusan teman setia kita ini menjadi bagian terpenting dalam setiap upaya dan usaha kita……;

“Salah besar kalau kemudian kita justru menumpuk harta kita sebanyak-banyaknya untuk berbangga diri, padahal kita tahu betapapun banyaknya harta kita, tak lebih selembar kain kafan saja yang akan kita bawa….”

“Salah besar kalau kemudian kita mengusahakann punya motor atau mobil sedemikian rupa, padahal kita tahu motor dan mobil hanya akan mengantar kita sampai pintu kubur saja……..;

“Salah besar kalau kemudian kita lebih mementingkan teman dan kolega kita, sementara panggilan adzan kita abaikan…….., padahal kita tahu tidak akan ada teman atau kolega kita yang sudi menemani kita dialam kubur nanti…….” Kata Ki Bijakdengan panjang lebar.

“Ana paham ki…, lalu ki, mencari rizki kan bagian dari perjalanan kehidupan seseorang, istri dan anakpun menjadi bagian dari kehidupan kita, pun demikian dengan teman, kolega dan saudara, bagaimana agar mereka bisa menjadi teman kita diakhirat kelak ki……?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, berusaha mencari rezeki adalah bagian dari kehidupan kita, dan agar harta yang kita usahakan dengan susah payah untuk mendapatkannya itu bisa terus menemani kita bukan saja dikehidupan dunia ini, tapi juga dikehidupan akhirat kelak, kita harus menabungnya dari sekarang……” Kata Ki Bijak.

“Menabungnya ki…..?” Tanya Maula.

“Ya, bukan dengan menabung dibank atau dicelengan, tapi tabungkan rezeki yang Allah karuniakan kepada kita dengan cara membelanjakannya dijalan Allah, belanjakan harta dan rezeki kita untuk infaq dan sedekah, untuk menyantuni fakir miskin, untuk membangun fasilitas ibadah, dan lainnya…, karena infaq dan sedekah yang ikhlas karena Allah, insya Allah akan terus menemani kita sejak kehidupan didunia ini, hingga akhirat kelak, seperti Nak Mas tahu, infaq dan sedekah jariah adalah salah satu amal yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah meninggal kelak…………………” Kata Ki Bijak.

“Ana mengerti ki, Akan halnya dengan anak istri kita ki, bisakah mereka menjadi teman kita kelak….?” Tanya Maula lagi.

“Insya Allah Nak Mas,yaitu dengan cara menjadikan istri kita istri kita seorang wanita sholeha, serta mendidik anak-anak kita menjadi anak sholeh dan sholehah……,

“Istri sholehah, yang setia dan berbakti kepada suami, berdedikasi untuk menjadi pendidik bagi anak-anaknya, insya Allah akan menjadi bidadari bagi kita, baik itu dikehidupan kita didunia, pun bidadari kelak dikehidupan akhirat kita……”

“Pun dengan anak sholeh dan sholehah, yang senantiasa berbakti kepada orang tuanya, mengabdi kepada Rabb_nya, insya Allah, doa-doa mereka akan menjadi pelita didalam gelapnya alam kubur kita…………., karenanya jangan sekali-kali kita mengabaikan pendidikan mereka, karena mereka adalah harapan kita kelak diakhirat…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Ya ki….., ana mengerti……, lalu bagaimana dengan teman-teman kita ki……?’ Tanya Maula.

“Pilihlah teman dari kalangan orang-orang yang ‘beriman’, orang mukmin yang shaleh dan dermawan Nak Mas, dermawan bukan hanya dengan harta, tapi teman yang tidak pernah ‘pelit’ untuk mendoakan kita, baik ketika kita masih hidup, terlebih ketika kita sudah meninggal…” Kata Ki Bijak.

“Kenapa harus orang mukmin ki…” Tanya Maula;

“Karena kita ingin teman dunia akhirat Nak Mas, kita boleh berharap pada teman-teman kita yang mukmin untuk ., Kata Ki Bijak.

“Ana mengerti ki, jadi teman sejati adalah teman yang akan senantiasa menemani kita bahkan hingga dialam kubur ya ki, teman sejati tidak lain dan tidak bukan adalah amal shaleh kita, yang bisa kita dapatkan dengan beramal shaleh, yang bisa kita dapat dengan menabung harta dijalan Allah, yang bisa kita temukan pada diri istri sholehah dan anak yang sholeh dan sholehah, serta teman yang dermawan, yang tidak pernah pelit untuk mendoakan saudaranya……..” Kata Maula menyimpulkan.

“Nak Mas pandai sekali membuat kesimpulan……” Kat Ki Bijak tersenyum.

“Terima kasih ki…….” Kata Maula sambil menyalami gurunya, ia tidak pernah berfikir bahwa iring-iringan pengantar jenazah tadi memberinya banyak pelajaran hari ini….

Wassalam

October 31, 2009