Saturday, August 16, 2008

DARI POHON BERINGIN

DARI POHON BERINGIN

“Kita istirahat sejenak disini Nak Mas.........” Ajak Ki Bijak pada Maula, untuk beristirahat sejenak dibawah rindangnya sebuah pohon beringin, setelah kedua orang guru dan murid itu berkeliling sambil berbincang diseputar pondok.

“Masya Allah, teduh sekali disini ya ki..............” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, Aki sering beristirahat ditempat ini, anginnya sepoi-sepoi, ditambah kicau burungnya yang riuh, menjadikan tempat ini salah satu tempat istirahat favorit Aki ketika terik panas matahari sudah menyengat.......” Kata Ki Bijak

Sejurus kemudian, mata Maula tertuju pada buah pohon beringin yang berserakan diseputar tempat duduknya, “Aneh ya ki................” Kata Maula sambil terus mengamati buah beringin yang dipegannya.

“Apanya yang aneh Nak Mas........” Tanya Ki Bijak sambil ikut mengamati buah beringin ditangan Maula.

“Pohon beringin ini demikian besar, dahaNnya juga besar, daunnya rindang, tapi kok buahnya sekecil ini...............” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar perkataan Maula, “Tidak ada yang aneh Nak Mas, justru disinilah kita bisa belajar memaknai kebijaksanaan Allah yang telah mendesain buah beringin ini sedemikian rupa, pasti ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari disini Nak Mas...........” Kata Ki Bijak.

“Apa yang bisa kita pelajari ki.............” Kata Maula, matanya tak lepas mengamati buah beringin yang menurutnya tidak sebanding dengan besarnya ukuran pohon beringin.

“Masya Allah........Astaghfirullah..........” seru Maula terkejut manakala sebuah buah beringin jatuh tepat menimpa bagian wajahnya.

“Masya Allah, syukurlah buah beringin ini kecil, sehingga Nak Mas tidak mengalami cedera karena tertimpa buah beringin tadi, coba Nak Mas bayangkan, seandainya pohon beringin yang besar ini diciptakan Allah dengan buah yang juga besar, mungkin Nak Mas akan mengalami kesakitan karena tertimpa buahnya..............” Kata Ki Bijak.

“Subhanallah, benar ki, seandainya buah beringin ini besar, mungkin wajah ana sudah lebam karena tertimpa buah ini.............” Kata Maula.

“Itulah yang tadi Aki katakan bahwa dibalik kecilnya buah beringin ini, disana ada sebuah kebijaksanaan yang sempurna dari Allah yang telah menciptakan dan menumbuhkan pohon ini, karena kalau saja beringin yang rindang ini memiliki buah seperti buah labu misalnya, Aki dan Nak Mas tidak akan berani untuk berteduh disini, karena khawatir tertimpa buahnya.............” Kata Ki Bijak.

Maula termenung mendengar penjelasan gurunya, “Benar Ki.., Maha Suci Engkau ya Allah yang telah menciptakan buah beringin ini kecil sehingga kami bisa berteduh dibawahnya.............” Kata Maula.

“Dari sini pula kita bisa belajar untuk mampu memahami kebijaksanaan Allah, bahwa tidak semua yang besar harus berbuah besar pula, sebaliknya, tidak semua batang pohon yang kecil harus berbuah kecil, seperti tanaman labu itu, batangnya yang kecil, justru berbuah sangat besar............”Kata Ki Bijak sambil menunjuk tanaman labu yang tengah berbuah.

Maula segera saja menoleh keatah tanaman labu yang ditunjukan gurunya, “tidak semua yang besar harus berbuah besar, dan tidak semua yang kecil memiliki buah yang kecil....,apa artinya semua ini ki............’ Kata Maula, mengulang kalimat gurunya.

“Nak Mas sering mendengar orang yang mengatakan ‘saya sudah kerja keras, tapi hasilnya nihil’, kemudian ada juga yang mengatakan ‘saya sudah melakukan segala, tapi sama saja’, atau bahkan ada orang yang mengatakan ‘saya sudah tahajud, sudah ini dan itu, tapi kehidupan saya tetap saja seperti ini’.........” Kata Ki Bijak mencontohkan beberapa ungkapan yang lazim dikemukakan oleh banyak orang.

“Iya ki, ana sering mendengar ‘keluhan’ seperti itu..........” Kata Maula.

“Sedapat mungkin kalimat-kalimat seperti itu kita hindari Nak Mas, karena seperti pohon beringin yang berbuah kecil ini, kita tidak tahu ada hikmah apa dibalik ‘kecilnya’ balasan yang kita dapat ata jerih payah kita, yang menurut kita sudah maksimal............” Kata Ki Bijak.

“Kalimat-kalimat seperti diatas, sama sekali tidak akan mengatasi keluhan kita, sebaliknya justru makin mengikis rasa syukur kita dan juga sangat mungkin melukai keyakinan kita terhadap kebijaksanaan Allah yang Maha Sempurna..........” Kata Ki Bijak.

“Lalu apa sikap terbaik kita ki, manakala kita mendapati keadaan seperti tadi.......”Tanya Maula.

“Pertama, maknai dengan bijak apa yang kita dapat dari kasab kita, besar atau pun kecil, sedikit ataupun banyak, sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan kita, disana pasti ada ‘pesan’ dari Allah untuk kita kaji dan kita pahami........” Kata Ki Bijak.

“Pesan apa ki........?” Tanya Maula.

“Nak Mas masih ingat dengan bunyi ayat ke 37 dari surat ar-ruum...?” Tanya Ki Bijak.

“Ya ki....” Kata Maula sambil membacakan ayat yang dimaksud;

öNs9urr& (#÷rttƒ ¨br& ©!$# äÝÝ¡ö6tƒ s-ø—Îh9$# `yJÏ9 âä!$t±o„ â‘ωø)tƒur 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sムÇÌÐÈ
37. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.


“Lalu Nak Mas juga ingat dengan ayat ke 52 pada surat Az-Zumar...?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Ya ki, ana ingat.........” Kata Maula lagi

öNs9urr& (#þqßJn=÷ètƒ ¨br& ©!$# äÝÝ¡ö6tƒ s-ø—Îh9$# `yJÏ9 âä!$t±o„ â‘ωø)tƒur 4 ¨bÎ) ’Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sムÇÎËÈ
52. Dan Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.


“Dua ayat yang Nak Mas bacaan tadi, memiliki redaksi yang sangat-sangat mirip, hanya awalannya saja yang berbeda, yang satu menggunakan kata ‘dan apakah mereka tidak memperhatikan’, sementara yang lain menggunakan kata ‘dan apakah mereka tidak mengetahui’, selebihnya sama, bahwa pada af’al Allah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki, disana ada sebuah tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang mengaku beriman................” Kata Ki Bijak.

“Ki, ana sendiri masih sering mengalami ‘kesulitan’ untuk memahami hikmah dibalik sempit dan lapangnya rezeki ana ki.........” Kata Maula

“Memang sulit untuk memahami kebijakan Allah ketika orientasi dan sudut pandang yang kita gunakan hanya dari satu sisi saja, ketika kita memandang karunia Allah dari sisi kemanusiaan dan nafsu kita semata, maka hampir pasti ‘Allah akan selalu salah dimata kita’, dikasih sedikit mengeluh, dikasih banyak kurang, dikasih A, minta yang lain, dan seterusnya......,

“Karenanya kita harus merubah cara pandang kita terhadap apa yang Allah karuniakan kepada kita, sedikit atau banyak, besar atau kecil, sesuai atau tidak, sekali lagi, itulah yang terbaik bagi kita, karena Allah Maha Benar, segala apapun yang diperbuat_Nya merupakan sesuatu yang sudah diukur kadar dan waktunya..........,seperti buah pohon beringin ini.......” kata Ki Bijak.

“Iya ki, kadang kita memang terlalu egois dan cenderung subjektif dalam menilai sesuatu...............” kata Maula.

“Untuk itulah kita dituntut untuk bisa berfikir dan bersikap dewasa, jangan kekanak-kanakan dalam memaknai kebijakan Allah.............” kata Ki Bijak.

“Orang tua juga masih sering kekanak-kanakan ki.....?” Tanya Maula.

“Nak Mas perhatikan, kita masih sering menemukan orang ‘ngambek’ manakala menurut keinginan atau doanya tidak segera dibalas Allah, ia menjadi malas tahajud, malas shalat dhuha, atau bahkan malas shalat fardhu yang dianggapnya tidak merubah keadaannya, atau ada bahkan orang yang berfikir shalat tidak shalat, tahajud atau tidak tahajud, toh sama saja...., dan cara berfikir seperti itu, menrut hemat Aki adalah pemikiran yang dangkal dan kekanak-kanakan..........” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, seandainya kita mampu memaknai kebijakaan Allah dengan cara yang benar, pasti kita akan menemukan banyak sekali hikmah dibalik semua yang Allah karuniakan kepada kita..........” Kata Maula.

“Untuk itu, Nak Mas harus banyak belajar dari hal apapun, agar Nak Mas terlatih untuk memahami kebijakaan Allah secara benar, termasuk dari pohon dan buah beringin ini...........” kata Ki Bijak.

“Iya ki.............” Kata Maula sambil kembali mengamati buah beringin yang mungil yang sedari tadi ia pegang.

Maula tersenyum manakala menyadari buah kecil ini memberinya banyak pelajaran hari ini.

Wassalam

Maret 26, 2008

No comments:

Post a Comment