Thursday, April 28, 2011

BOLA YANG BUNDAR

BOLA YANG BUNDAR

“Bola memang bundar ya ki…” Kata Maula memulai perbincangan

“Maksud Nak Mas..?” Tanya Ki Bijak.

“Itu ki, Madrid vs Barca; baru beberapa hari lalu Madrid menang dan dengan penuh suka cita mengangkat trofi, eeh semalam Madrid justru kalah 0-2 ketika main dikandang…..” Kata Maula menjelaskan.

“Ya seperti itulah sebuah kompetisi Nak Mas, dan seperti Nak Mas bilang, bola itu memang bundar, bola akan terus berputar dan menggelinding, kesegala arah, untuk kemudian mempergilirkan kemengan dan kekalahan kepada siapa yang terlibat didalamnya…..” Kata Ki Bijak berfilsafat.

“Benar yang Aki katakan kemarin, bahwa jalannya sebuah pertandingan, kadang tidak sesuai dengan hasil akhir pertandingan itu sendiri, tim yang bermain baik, belum tentu menang, pun tim yang bermain standar, justru kadang yang bisa mengangkat trofi kejuaran, benar-benar tidak bisa dihitung secara matematis ya ki…” Kata Maula.

“Hitung-hitungan diatas kertas mungkin bisa Nak Mas,hanya hasilnya memang tidak selalu sama, dan seperti itu pulalah perjalanan hidup kita diatas muka bumi yang bundar ini Nak Mas…, selalu bergulir, selalu berputar, selalu berubah sesuai dengan ketentuan pencipta_Nya…” Kata Ki Bijak.

Maula masih diam, menuggu kelanjutan tutur kata sang guru;

“Kalau Nak Mas tadi katakan bahwasanya bola itu bundar, bahwa karena bundarnya inilah hasil sebuah permainan bolah jadi tidak bisa diprediksi secara pasti, pun dengan bumi kita Nak Mas, bumi ini selalu berputar pada sumbunya, sehingga kemudian kehidupan diatasnya pun ikut mengalami perputaran dan perubahan…;

“Dengan berputarnya bumi ini, kemudian kita menyaksikan adanya pergantian siang dan malam…”

“Dengan berputarnya bumi ini, kemudian kita menyaksikan adanya pergantian matahari dan rembulan…”

Dengan berputarnya bumi ini, kemudian kita menyaksikan adanya pergantian musim kemarau dan penghujan…”

Dengan berputarnya bumi ini, kemudian diri kitapun mengalami perubahan, mulai dari kandungan ibu, lahir sebagai bayi, tumbuh sebagai anak, kemudian beranjak remaja, dewasa dan akhirnya tua…;

“Dan tanpa banyak yang menyadarinya, perputaran bumi dan waktu ini pulalah kemudian kita menyaksikan berbagai hal yang silih berganti, datang dan pergi…;

“Kita menyaksikan orang yang hari ini gagah perkasa, boleh jadi esok lusa ia akan terbaring tanpa daya…:

“Kita menyaksikan orang yang hari ini tertawa, boleh jadi esok lusa ia akan dilamun duka…;

“Kita menyaksikan orang yang hari ini berjaya, boleh jadi esok lusa ia akan jatuh miskin dan papa…”

“Kita menyaksikan orang yang hari ini berkuasa, boleh jadi esok lusa ia akan menjadi rakyat jelata..”

“Kita menyaksikan orang yang hari ini mendapat kemenangan, boleh jadi esok lusa ia akan menerima kekalahan….”

“Kita menyaksikan banyak hal yang kontradiktif, menyaksikan hal yang berlawanan, menyaksikan hal yang bertolak belakang…., dan kita tidak perlu ragu dan risau bahwa semua adalah kehendak_Nya, dengan semuanya itulah kemudian bumi ini berputar……” Kata Ki Bijak.

Maula menarik nafas dalam-dalam mendengar penuturan gurunya yang panjang lebar,

“Iya ki…, jadi kita tidak boleh berlebihan menyikapi keduanya ya ki…, baik ketika kita mendapat kebaikan,pun ketika kita menerima keburukan…..” Kata Maula.

“Nak Mas masih ingat ayat yang menyatakan bahwa kebaikan juga sebuah ujian…?” Pancing Ki Bijak.

“Surat al ambiya ayat 35 Ki……” Kata Maula sambil membacakan ayat dimaksud;

            
35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.


“Nak Mas benar, ayat ini yang Aki maksud; baik dan buruk, kaya dan miskin, sehat dan sakit, kelapangan atau pun kesempitan, kemenangan ataupun kekalahan, keduanya adalah ujian Nak Mas, ujian bagi keimanan kita untuk bagaimana kita menyikapinya dengan cara dan tepat dan terbaik…..” Kata Ki Bijak.

“Kebaikan, kekayaan, kesehatan, kelapangan, kemenangan yang dilandasi dengan keimanan kepada Allah, bahwa kebaikan, bahwa kekayaan, bahwa kelapangan, dan bahwa kemenangan adalah semata dari dan karena Allah, maka orang tersebut akan memperoleh kemuliaan disisi Allah dan dihadapan manusia….”

“Sebaliknya, kebaikan, kekayaan, kesehatan, kelapangan, kemenangan yang tidak dilandasi dengan keimanan kepada Allah, akan melahirkan kehinanaan bagi pemilikya…., orang yang memperoleh kebaikan tanpa dilandasi keimanan, akan menajdi takabur, karena ia merasa bahwa kebaikan diperolehnya adalah semata karena usahanya…..”

“Orang yang mendapat kekayaan tanpa dilandasi keimanan, maka ia akan menjadi sombong dan takabur, seperti Qorun yang merasa bahwa kekayaan yang ada padanya adalah semata karena ia pintar mencarinya….

“Pun dengan kelapanga, pun dengan kemenangan yang tidak dilandasi iman yang benar, hanya akan menjadi bala bagi pemiliknya……” Papar Ki Bijak.

Maule menghela nafas dalam-dalam, ia demikian meresapi apa yang baru saja disampaikan gurunya.

“Demikian halnya dengan keburukan, demikian pula dengan kemiskinan, dengan sakit, dengan kesempitan, ketika hal itu dilandasi dengan keimanan yang benar, maka keburukan akan menempanya menjadi orang yang sabar, kemiskinan akan menjadikannya orang yang tawakal, sakit akan menjadi kaffarah bagi dosanya, pun dengan kesempitan yang semakin mendekatkannya kepada Allah swt….”

“Sebaliknya, keburukan, kemiskinan, sakit, dan kesempitan, yang tidak dilandasi dengan keimanan yang benar, maka hal itu akan menjerumuskannya kepada kesengsaraan fidunya wal akhirat…naudzubillah…..” Tambah Ki Bijak.

“Ana mengerti Ki…., yang ana belum mengerti justru mengenai Aki sendiri…” Kata Maula.

“Kenapa dengan Aki Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak.

“Aki tidak pernah nonton bola, tapi Aki bisa membuat amsal yang menurut ana sangat baik, dan sangat relevan dengan apa yang ana pahami…, sementara orang yang menonton pertandingan bola sendiri, belum tentu bisa mengaitkan apa yang dilihatnya dengan kehidupan keseharian kita…..” Kata Maula.

“Pertama, Aki tidak menonton bola, bukan berarti Aki tidak menyukai sepakbola, tapi waktunya tengah malam itu, adalah waktu yang sangat mustajab untuk bermunajat kepada Allah Nak Mas, jadi Aki lebih senang untuk melatih diri Aki untuk mendekatkan diri kepada Allah daripada nonton bola….” Kata Ki Bijak.

Maula merasa malu pada dirinya sendiri, karena kerap ia merasakan betapa sulitnya bangun malam untuk tahajud, tapi ia bisa bangun tepat waktu ketika hendak menonton pertandingan bola…….

“Kedua, jika Aki bisa mengaitkan cerita Nak Mas dengan amsal kehidupan sehari-hari, itu bukan berarti Aki lebih pandai dari Nak Mas,Aki hanya mencari cara bagaimana agar pesan Aki bisa diterima oleh Nak Mas dan santri lain, dan karena Nak Mas suka bola, ya sudah, Aki pakai analogi pertandingan sepakbola untuk menyampaikan pesan Aki….” Kata Ki Bijak lagi

“Iya ki.., ana sangat berterima kasih pada Aki yang bisa memberikan amsal dengan berbagai hal yang ada disekitar, ana jadi lebih mudah memahaminya….” Kata Maula.

“Berterima kasih pada Allah Nak Mas, Aki hanyalah wasilah untuk menyampaikan apa yang seharusnya Nak Mas dapatkan dari Allah swt….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki….; terima kasih ya Allah, Robbi alhimnii ilman afqohubihi awamiroka nabiiyina wa ilhamal malaikatul muqqorobiin, yaa arhama rohimiini….” Maula memanjatkan do’a, semoga Allah memberinya karunia ilmu sebagaiman Allah berikan kepada para nabi_Nya dan kepada para Malaikat yang didekatkan pada_Nya.

“Amiin…..” Ki Bijak mengamini.

Wassalam

April 28,2011

Wednesday, April 27, 2011

DARI BARCA VS MADRID

“Bagaimana pertandingan bolannya Nak Mas…? Tanya Ki Bijak.


“Menarik…., pertandingan Barca lawan Madrid memang selalu menyajikan aura yang berbeda disetiap pertemuan mereka…..” Jawab Maula.


“Siapa yang akhirnya juara…? Tanya Ki Bijak lagi.


“Madrid Ki…., Madrid berhasil mengalahkan Barca dengan skor 1-0,lewat gol Ronaldo….” Kata Maula lagi.


Ki Bijak tersenyum mendengar antusiasme dan kefasihan Maula mengomentari pertandingan sepakbola semalam, “Selain apa yang Nak Mas sebutkan tadi, ada hal yang membuat Nak Mas tertarik…? Tanya Ki Bijak kemudian.


Maula diam sejenak, untuk kemudian mencoba mendeskripsikan hal-hal yang menarik yang ia temukan selama menonton pertandingan; “Pertama mungkin ini ki…., dimusim ini, sudah tiga kali Barca dan Madrid bertemu,dipertemuan pertama, Madrid kalah telak 5-0 dari Barca, kemudian beberapa hari lalu, mereka juga bertemu lagi, kali ini hasilnya imbang 1-1, dan semalam Madrid justru mengungguli Barca tepat difinal yang otomatis mengantar mereka meraih trofi……” Kata Maula.


“Kenapa Nak Mas tertarik dengan hasil-hasil pertandingan itu..?” Tanya Ki Bijak.


“Ya sangat menarik ki, karena dalam hemat ana, Madrid mengajarkan pada kita bahwa kita bisa belajar dari sebuah kekalahan, setelah kalah telak, dipertandingan berikutnya Madrid belajar bagaimana untuk tidak kalah, dan selanjutnya bagaimana meraih kemenangan…..” Kata Maula.


Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula; “Benar Nak Mas, meski Aki tidak menonton pertandingannya, namun dari cerita Nak Mas tadi, Aki bisa meraba bahwa memang Madrid merupakan tim yang mau belajar dari kesalahan dan kekalahan sebelumnya, untuk kemudian menjadikannya senjata untuk meraih kemenangan……., subhanallah, betapa indah jika kita memiliki karakter dan sifat seperti itu Nak Mas, sifat untuk mau belajar dan terus belajar dari hal apapun……” Kata Ki Bijak.


“Dalam keseharian kitapun, kita sering menemukan ‘kekalahan’ atau ‘kegagalan’, tak peduli siapapun ia, pasti pernah mengalami kegagalan, namun sebaik-baik orang adalah mereka yang tidak hancur karena kegagalannya, dan bisa menjadikan kegagalan sebagai batu pijakan untuk meraih kemenangan…….” Kata Ki Bijak lagi.


“Iya ya Ki, Madrid pernah kalah, Manchester United pernah kalah, AC Milan pernah kalah, semua tim, sehebat apapun tim itu pasti pernah mengalami kekalahan…..” Kata Maula.


“Dari sanalah kita bisa belajar untuk tetap tegar, tetap semangat, tetap berusaha dengan maksimal untuk menuju tangga juara dalam kehidupan kita……, karena keberhasilan bukan sebuah hasil sulapan yang bisa terjadi dalam sekejap, bim salabim jadi, keberhasilan adalah sebuah proses yang mensyaratkan adanya kesungguhan, totalitas, mentalitas yang baik, dan usaha serta kerja keras untuk mencapainya….., selain tentu keyakinan dan tawakal kita kepada Allah swt….” Kata Ki Bijak.


“Iya Ki, ana mengerti…..” Jawab Maula.


“Syukurlah…..,lalu ada hal lain yang Nak Mas lihat dari pertandingan semalam…?” Tanya Ki Bijak.


Maula diam sejenak….,”Iya ki, ana melihat sebuah moment…, kalau tidak salah dimenit ke 116, dimana pelatih Barca berbicara kepada Lionel Messi, entah apa isi pembicaraanya, apa Pep member pengarahan atau menegur Messi, tapi yang menarik bagi ana adalah bahwa seorang Messi sekalipun, seorang pemain terbaik dunia dalam dua tahun terakhir, seorang pesepakbola yang dikarunia bakat luar biasa, seorang maestro, bahkan ada yang menjulukinya Messias’ karena kehebatannya dalam mengolah bola dan dikagumi serta disegani oleh kawan dan lawannya, tetap memerlukan ‘pengerahan’ atau teguran dari pelatihnya, padahal secara logika, dengan kemampuannya sekarang, Messi sepertinya bisa bermain bola sesukanya tanpa perlu bimbingan atau petunjuk dari siapapun, tapi nyatanya tidak demikian ki, Messi tetaplah seorang pemain yang memerlukan arahan dari pelatihnya…..” kata Maula.


“Waaah….wah, Nak Mas benar-benar seorang pengamat sepakbola yang hebat, sehingga bisa melihat moment yang mungkin terabaikan oleh orang lain….,dan memang seperti itulah seharusnya kita melihat sesuatu, bukan sekedar menonton, tapi bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang ada didalamnya………” dan dari moment ‘perbincangan’ Messi tadipun kita bisa mengambil sesuatu darinya, bahwa kita tidak boleh sombong, karena kita sudah merasa bisa, bahwa kita tidak boleh merasa paling hebat sehingga tidak memerlukan arahan atau teguran dari orang lain, kita tidak boleh merasa besar kepala, hanya karena kita sudah mendapat predikat terbaik, kita tidak boleh tinggi hati dan meremehkan orang lain, hanya karena kita sudah merasa hebat…., siapapun kita, apapun jabatan kita, sehebat apapun kemampuan kita, kita tetap memerlukan arahan dari orang lain, kita tetap memerlukan nasehat dari orang lain, kita tetap memerlukan orang yang bisa mengarahkan kita…, karena sangat mungkin orang yang berada diluar kita justru bisa melihat kita secara utuh……..”Kata Ki Bijak


“Seperti ini saja Nak Mas, meski telinga kita ini dekat, meski hidung kita dekat, tapi kita tidak bisa melihatnya tanpa bantuan alat atau orang lain……, tapi justru orang disekitar kita jauh lebih jelas melihat hidung dan telinga kita daripada kita sendiri……..” Kata Ki Bijak sambil memegan telinga dan hidungnya.


“Iya ya ki, telinga dan hidup kita sangat dekat dengan mata kita, seharusnya kitalah yang lebih tahu dan paling dulu melihatnya, tapi justru orang lain yang bisa melihat dengan jelas telinga dan hidung kita….” Kata Maula.


“Karenanya Nak Mas harus terus menerus belajar, harus terus menerus menambah ilmu, dan jangan lupa, jika esok lusa disuatu hari nanti Nak Mas menjadi ‘seseorang’ yang hebat, yang terkenal, yang disegani, Nak Mas harus tetap berpijak dibumi, Nak Mas harus tetap rendah hati dan tidak sombong……” Kata Ki Bijak lagi.


“Amiiin ki……” Kata Maula.


“Dan ini juga sebuah tamsil yang indah bagi kita Nak Mas, manakala kita merasa sudah beribadah kepada allah dengan baik, sudah berdzikir terus menerus, sudah beristghfar, dan sudah berusaha menjauhi larangan-larangan Allah, tapi kemudian kita masih ‘ditegur’ Allah dengan berbagai ujian, itu sama sekali tidak berarti Allah tidak sayang pada kita, justru ketika kita sudah ‘bermain baik dan benar’ dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya, kemudian kita masih ditegur, insya Allah itu sebuah isyarah bahwa Allah sangat sayang kepada kita, bahwa Allah ingin kita terus memperbaiki diri, bahwa Allah tidak ingin kita terlena karena merasa sudah menjadi orang baik…..” Kata Ki Bijak lagi.


“Iya ki…..” Kata Maula lagi.


“Masih ada hal lain yang menarik perhatian Nak Mas dari pertandingan bola semalam..?” Tanya Ki Bijak.


“Iya ki, secara permainan, Barca lebih baik dan dominan daripada Madrid, tapi toh justru Madrid yang memenangkan pertandingan….” Kata Maula.


“Ini juga sebuah amsal yang baik Nak Mas, bahwa kita sebagai manusia hanya diwajibkan untuk menyempurnakan kasab kita dengan usaha yang sungguh-sungguh dan maksimal, selebihnya, berhasil atau tidaknya, adalah hak Allah untuk memutuskan, persis seperti Barca yang bermain baik, Barca yang menguasai pertandingan, Barca yang mendominasi, Barca yang menurut kita harusnya menang, tapi justru Madrid-lah yang mengangkat trofi……” Kata Ki Bijak.


“Ini juga sebuah ‘nasehat’ bahwa kita tetaplah sebagai manusia, dengan kemampuan yang serba terbatas, ini juga sebuah nasehat bagi kita, bahwa kita tidak boleh jumawa, tidah boleh merasa paling hebat, dan agar kita tetap latihan, agar kita terus belajar dan agar kita tetap konsisten dengan apa yang sudah kita pilih, hasilnya kita serahkan semuanya kepada Allah….” Pungkas Ki Bijak mengakhiri perbincangan, karena Maula hendak berangkat kerja.


Wassalam


April 21,2011

DARI ULAT BULU

“Sampai sekarang, ana masih belum mengerti dengan maraknya ‘serangan’ ulat bulu dibeberapa daerah ki….” Kata Maula, ketika berbincang mengenai fenomena merebaknya ulat bulu akhir-akhir ini.

Ki Bijak menghela nafas panjang mendengar pernyataan Maula, “Aki juga belum mengerti benar dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini Nak Mas, yang Aki mengerti hanyalah sebatas bahwa kita harus berfikir dan tafakur dengan apa yang sekarang terjadi….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…, kalau dengar komentar orang-orang dimedia sih, katanya karena adanya anomali cuaca, kemudian ada lagi yang mengatakan karena berkurangnya pemangsa alami dari ulat-ulat itu, dan masih banyak lagi komentar mengenai fenomena ini ki……” Kata Maula.

“Boleh jadi pendapat dan komentar mereka benar Nak Mas, bahwa perubahan cuaca yang ekstrim membuat fenomena ini terjadi, atau berkurangnya pemangsa alami dan terputusnya rantai makanan, membuat populasi ulat ini tidak terkendali…, tapi mari coba kita fikir lagi mengenai pendapat-pendapat itu, bukan untuk mendebat, tapi hanya untuk mempelajari lebih dalam, sehingga kemudian kita bisa menemukan sesuatu yang mungkin bisa kita ambil hikmahnya Nak Mas…..”

“Kalau orang berpendapat bahwa fenomena ulat ini karena anomali cuaca, bukankah anomali cuaca ini terjadi hampir diseluruh Indonesia, dan bahkan juga terjadi dibelahan dunia lain…?, lalu kenapa fenomena ulat ini hanya terjadi dibeberapa daerah, dan bukan diseluruh Indonesia misalnya….?” Ki Bijak berpendapat dengan setengah bertanya.

“Iya ya ki, perubahan cuaca juga terjadi di luar jawa, disumatra, disulawesi, dikalimantan, di Irian jaya, tapi kenapa di jawa pun tidak semua daerah diserang ulat bulu…?” Kata Mauala memperkuat argument Ki Bijak.

“Jadi menurut pendapat Aki, ada hal lain yang menyebabkan fenomena ini terjadi, selain adanya anomaly cuaca, ada rahasia yang kita belum tahu, hikmah apa yang ada dibaliknya……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula mengangguk-angguk mendengarkan penuturan gurunya;

“Kemudian lagi, ada pendapat yang mengatakan fenomena ini karena terputusnya rantai makanan, sehingga terjadi ketidak seimbangan alam, boleh jadi itu benar, tapi sama seperti pertanyaan pertama, bukankah hilang atau berkurangnya pemangsa alami ulat ini bukan hanya terjadi didaerah tertentu, tapi terjadi hampir diseluruh pelosok negeri…, Nak Mas lihat, disekitar kitapun sekarang ini jarang sekali ditemui burung-burung yang dulu banyak hinggap dan pergi dipepohonan itu, pun dengan tempat-tempat lain, burung atau pemangsa alami ulat lainnya sudah jauh berkurang, tapi kenapa hanya ditempat tertentu saja terjadi ‘serangan’ ulat bulu itu…?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Benar ki…., lalu bukan hanya ulat yang pemangsa alaminya berkurang, ular, sebagai pemangsa alami tikus juga hampir punah, tapi tidak atau belum terjadi fenomena serangan tikus, dan masih banyak hama yang sudah kehilangan pemangsa alaminya, tapi sekarang ini hanya ulat bulu yang merebak…..” Kata Maula.

“Mudah-mudahan jangan ada serangan tikus atau hama lainnya Nak Mas, mudah-mudahan juga fenomena ulat bulu ini ‘sekedar’ teguran dari Allah, dan bukan adzab Allah seperti yang pernah Allah timpakan kepada kaum fir’aun yang membangkang perintah_Nya….” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an;

130. Dan Sesungguhnya kami Telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.

131. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah Karena (usaha) kami". dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.

132. Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, Maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu".

133. Maka kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah[558] sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

134. Dan ketika mereka ditimpa azab (yang Telah diterangkan itu) merekapun berkata: "Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu[559]. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu".

135. Maka setelah kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya.

136. Kemudian kami menghukum mereka, Maka kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami itu.

[558] Maksudnya: air minum mereka beubah menjadi darah.
[559] Maksudnya: Karena Musa a.s. Telah dianugerahi kenabian oleh Allah, sebab itu mereka meminta dengan perantaraan kenabian itu agar Musa a.s.memohon kepada Allah.

Maula dengan seksama memperhatikan ayat-ayat dalam surat al A’raf tersbut;

“Naudzubillah…., jadi kaum fir’aun juga pernah ditimpa adzab berupa hama juga ya ki…..” Kata Maula.

“Aki khawatir bahwa ulat bulu ini adalah bentuk lain dari adzab Allah yang dulu pernah Allah timpakan kepada kaum fir’aun, meski bentuknya beda, namun pemicunya sangat mirip sekali Nak Mas…., Fir’aun dan kaumnya dihukum Allah karena mereka mengingkari nikmat Allah, ketika kemakmuran datang, mereka lupa pada Allah, mereka menyombongkan diri bahwa keberhasilan dan kemakmurannya adalah semata hasil jerih payah mereka, kemudian mereka juga tidak mau mendengar atau mengindahkan perintah Allah dan melanggar apa yang dilarangnya, singkatnya mereka telah melampau batas, sehingga Allah menghukumnya dengan hukuman yang teramat pedih seperti itu…..” Kata Ki Bijak.

“Ki…., adakah sikap kita dizaman ini sudah seperti sikap kaum fir’aun….?” Tanya Maula dengan berhati-hati.

“Naudzubillah…., mudah-mudahan tidak Nak Mas, meski kita juga tidak bisa memungkiri bahwa ‘gejala’ semacam itu telah nampak disekitar kita…..”

“Nak Mas lihat berapa banyak peringatan Allah yang dengan mudah kita abaikan, bencana demi bencana, letusan gunung merapi, gempa bumi yang susul menyusul, angin puting beliung yang melanda, bahkan tsunami-pun pernah kita alami dan rasakan, tapi semua itu, semua bencana dan teguran itu, sepertinya sama sekali tidak membekas dihati kita……”

“Masih dengan mudah kita melanggar perintah Allah, masih dengan mudah kita melakukan apa yang dilarang_Nya, masih dengan mudah kita berkata lantang bahwa kemakmuran dan keberhasilan kita adalah karya kita, hasil jerih payah kita, hasil keringat kita, kita sama sekali tidak pernah menyebut-nyebut nama Allah yang sesungguhnya telah memberikan kita kemakmuran dan keberhasilan kepada kita, demi Allah, tidak akan ada kemakmuran atau keberhasilan tanpa izin dan kehendak_Nya…..;

“Belum lagi kalau kita melihat berbagai macam kemaksiatan terpampang dengan gamblang didepan mata kita, berita korupsi hampir tiap hari, berita orang bunuh diri, menjadi konsumsi sehari-hari, berita pembunuhan seperti sebuah kelaziman, berita kerusuhan, berita bentrokan, berita pertikaian, seperti sesuatu yang lumrah terjadi sekarang ini……; Kata Ki Bijak.

“Belum lagi berita ketidak adilan pemimpin, belum lagi kesemena-menaan pejabat, belum lagi cerita wakil rakyat yang bermoral bejat, digaji, diberi fasilitas, diberi wewenang dan jabatan, tapi kerjanya hanya nonton video porno ya ki….” Tambah Maula

“Ya Nak Mas, apapun penyebabnya, fenomena ulat bulu ini mesti kita pelajaran, kita harus lebih dalam lagi tafakur dan instrospeksi kedalam diri kita masing-masing, karena meski kejadian ini tidak menimpa kita secara langsung, tidak lantas kita boleh merasa bahwa bukan kita yang dimaksud, bukan kita yang hendak diberi peringatan oleh Allah, karena apapun, dimanapun, kapanpun, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita rasakan merupakan ‘isyarat’ dari Allah agar kita berfikir……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…, kalau kita mau tafakur sejenak, tidak mungkin ulat-ulat itu datang dengan sendirinya secara bersamaan, dengan ukuran dan jenis yang sama, datang kedaerah yang sama, ulat-ulat itu hanya mungkin ‘melakukan’ semuanya hanya dengan perintah dan kehendak Allah…..” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, tidak ada partikel sekecil apapun yang bisa bergerak tanpa izin dan kehendak_Nya, dari sini saja, seharusnya mampu menambah keimanan kita bahwa Allah_lah Dzat yang Maha segala-galanya…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, semoga fenomena ulat ini segera berakhir,dan semoga pula hal ini menyadarkan kita, menambah keimanan kita pada Allah swt…” Tambah Maula.

“Amiin…..” Ki Bijak mengamini.

Wassalam

April 25,2011

Wednesday, March 9, 2011

PERMATA YANG TERLUPA

“Ada empat permata yang Allah amanahkan kepada kita, namun kita justru sering menyia-nyiakan atau bahkan merusaknya Nak Mas….” Kata Ki Bijak ketika berbincang mengenai nikmat Allah yang sering dilupakan oleh manusia.

“Ada empat permata ki….?” Tanya Maula.

“Ada banyak permata yang Allah titipkan pada kita untuk kita jaga Nak Mas, tapi setidaknya keempat permata itulah yang pernah baginda Rasul sabdakan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibu Hajar……” Kata Ki Bijak sambil membacakan hadits dimaksud.

“Ada empat permata pada diri anak adam yang dapat sirna karena empat hal lainya. Adapun keempat permata itu adalah, akal, agama, rasa malu, dan amal shaleh……..”

Maula segera memperhatikan hadits yang dibacakan gurunya; “ Akal sehat, agama, rasa malu dan amal shaleh ki…?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas…, kenapa akal dianggap sebagai mutiara bagi manusia, karena tidak ada mahluk lain selain manusia yang dikarunia akal, tumbuhan, hewan atau bahkan malaikat tidak diberikan akal, dan dengan keberadaan akal didalam dirinya inilah manusia kemudian ditasbihkan sebagai mahluk yang mulia…….

“Dengan akal inilah kemudian manusia dapat membedakan mana yang hak dan mana yang bathil, mana yang halal, dan mana yang haram, mana yang benar, dan mana yang salah, mana yang lurus, dan mana yang menyimpang……, dan seterusnya, hingga kemudian dengan ‘kemampuan akal’ inilah kemudian manusia dibebani kewajiban untuk mengenal dan beribadah kepada Allah swt…….” Kaat Ki Bijak lagi.

Maula masih diam, meresapi untaian kata dari gurunya, “Betapa berharganya akal kita ya ki….” Kata Maula.

“Sangat-sangat berharga Nak Mas, karenanya kita harus menjaga akal ini agar tetap sehat, tetap berfungsi sebagaimana amanah yang diberikan penciptanya…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Memang ada hal yang dapat merusak akal ki…?” Tanya Maula lagi.

“Ada Nak Mas….., coba Nak Mas perhatikan kelanjutan hadits ini; kemarahan bisa menghilangkan akal sehat…; Kata Ki Bijak mengutip kelanjutan hadits yang tadi dibacakannya.

“Kemarahan dapat merusak akal sehat ki…?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, ketika seseorang marah, maka yang akalnya tidak dapat bekerja dengan sempurna, akalnya tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, akalnya tidak dapat menentukan jalan mana yang lurus dan jalan mana yang menyimpang, karena ketika kita marah, maka yang menggerakan anggota badan kita bukan lagi akal, melainkan nafsu….”

“Nak Mas lihat, orang yang diliputi kemarahan, bicaranya tidak terkontrol, tindakannya membabi buta, keputusan yang diambilnya tidak bijaksana, pendapatnya ngawur, dan masih banyak lagi tindakan yang dalam kondisi normal tidak mungkin dilakukan, tapi bisa dilakukan orang yang tengah diliputi kemarahan, ia bisa membunuh, ia bisa berucap kata-kata kotor, bahkan ia bisa bersikap seperti orang gila dan lain sebagainya, karenanya berhati-hatilah,jangan sampai nafsu kita mengalahkan akal sehat kita, karena rusaknya permata akal sehat ini, berarti jurang kehancuran tengah menanti tepat didepan kita….” Kata Ki Bijak lagi.

Maula menghela nafas dalam-dalam, “Benar Ki…., bahkan karena hal sepelepun, orang yang marah bisa melakukan tindakan diluar batas fikiran orang normal….” Kata Maula lagi.

“Karenanya harus senantiasa belajar mengendalikan emosi kita, belajar menggunakan akal kita sebagaimana mestinya…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki….., lalu bagaimana mereka yang bertuhan pada akal ki….?” Tanya Maula.

“Maksud Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Iya Ki, dizaman sekarangkan segala sesuatunya harus masuk akal, banyak orang yang tidak beriman kepada Allah, karena katanya keberadaan Allah yang tidak teraba dan tidak terasa oleh indra itu tidak masuk akal, banyak juga orang yang tidak meyakini kehidupan setelah mati, alasanya sama, karena tidak masuk akal kalau setelah jasad kita hancur kemudian hidup kembali, juga banyak orang yang tidak meyakini kehidupan akhirat, tidak meyakini hari pembalasan juga dengan alas an yang sama, tidak masuk akal……” Kata Maula.

“Kalau Nak Mas bertemu dengan orang seperti ini, Nak Mas tidak perlu bingung mempersiapkan jawaban atas pertanyaan yang tidak masuk akal itu, Nak Mas cukup minta orang itu untuk menunjukan seperti apa wujud akalnya….” Tanya Ki Bijak.

“Lalu Ki…..?” Tanya Maula.

“Kalau dia percaya dan meyakini keberadaan akal yang tidak berujud, kenapa dia harus ingkar kepada Allah yang menciptakan akal, hanya karena dia tidak bisa melihat Allah…?” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki…,mudah-mudahan ana tidak bertemu dengan orang macam ini….” Kata Maula.

“Lalu sebagaimana kelanjutan hadist ini, bahwa permata kedua adalah agama…., kenapa agama dikatakan sebagai permata bagi kehidupan seseorang adalah karena agama inilah yang kemudian membimbing akal untuk menemukan siapa penciptanya, mengarahkan akal jalan mana yang harus ditempuhnya, menunjukan pada akal jalan mana yang harus dihindarinya……, tanpa agama, akan lahir orang-orang yang Nak Mas katakan tadi, orang-orang yang bertuhan pada akalnya…., yang pada gilirannya, mereka akan diperbudak oleh akalnya sendiri menuju jurang kehancuran…..” Kata Ki Bijak.

Maula menghela nafas dalam-dalam, pelajaran kali ini dirasakannya sangat dalam, sangat memerlukan perhatian dan pemahaman yang lebih, agar tidak terlewatkan mutiara berharga dari baginda Rasul yang disampaikan melalui lisan Ki Bijak.

“Akan halnya akal ki, adakah yang akan merusak agama seseorang…?” Tanya Maula beberapa saat kemudian.

“Ada Nak Mas, perusak agama itu namanya Hasud atau Dengki…..” Jawab Ki Bijak.

“Kenapa hasud dan dengki bisa merusak agama seseorang ki…?” Tanya Maula lagi.

“Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits nabi yang mengatakan bahwa “Jauhilah oleh kalian hasud, karena hasud itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu…”

“Agama adalah nilai-nilai kebaikan, agama adalah nilai-nilai kebenaran, agama adalah nilai-nilai kemulian, sementara hasud adalah api perusaknya…., banyak sekali keterangan dan hadits nabi yang menyatakan tidaklah seseorang itu beragama atau beriman, sementara didalam hatinya masih bertahta sifat hasud dan dengki…, karena orang hasud tidak akan senang orang lain mendapatkan kebaikan…., dan sebaliknya ia akan senang ketika orang lain mendapatkan kemalangan, dan ini bertentangan dengan nilai luhur yang diajarkan agama……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula makin intensif memperhatikan dan menelaah pitutur gurunya, ia tidak mau mutiaranya rusak hanya karena ia lalai dan tidak tahu cara menjaganya.

“Lalu mutiara yang ketiga, yaitu sifat malu Nak Mas…” Kata Ki Bijak.

“Kenapa rasa malu merupakan mutiara juga bagi kita ….?” Tanya Maula.

“Karena hanya manusialah yang dikaruniai rasa malu Nak Mas…., ayam tidak dikaruniai rasa malu oleh Allah, sehingga ayam bisa berbuat apapun dan dimanapun…..”

“Kerbau tidak dikaruniai rasa malu oleh Allah, sehingga kerbau tidak risih ketika auratnya diumbar…..”

“Kambing tidak dikaruniai rasa malu oleh Allah, sehingga kambing tidak segan ketika memakan tanaman yang bukan miliknya….”

“Kancil tidak dikaruniai rasa malu oleh Allah, sehingga kancil tidak merasa ragu ketika mencuri ketimun….”

“Semua hewan,semua binatang, tidak dikarunia rasa malu sebagaimana manusia, sehingga mereka bebas melakukan apa saja, hewan bisa mencuri tanpa rasa malu, binatang bisa memangsa sesamanya tanpa rasa malu, ternak bisa memakan yang bukan haknya tanpa rasa malu…” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Jadi kalau ada orang korupsi tanpa malu, kalau ada orang mencuri tanpa rasa malu, kalau ada orang yang memakan yang bukan haknya tanpa rasa malu, itu sama dengan binatang ya ki…..?” Kata Maula.

“Naudzubilllah…., bahkan lebih dari sekedar hewan ternak dan binatang Nak Mas…, karena binatang memang tidak dikarunia rasa malu dan akal, serta binatang melakukannya semata untuk mempertahankan hidup…, sementara manusia, dengan akal dan rasa malu yang Allah karuniakan padanya, tapi masih berbuat seperti itu…..?.., itulah mungkin salah satu makna “kemudian Kami kembalikan dia ketempat yang serendah-rendahnya…..” rendah didunia karena ia lebih rendah dari binatang, rendaah didunia, karfena ia akan dimasukan kedalam neraka jahanam…….” Kata Ki Bijak lagi.

Bergidik bulu guduk Maula mendengar penjelasan Ki Bijak, betapa manusia yang Allah sebut-sebut diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya, lahir dan bathinnya, bisa lebih rendah dari binatang dan hewan ternak, karena manusia tidak pandai menjaga rasa malunya.

“Bahkan ada hadist yang menyayakan bahwa“Al Hayya-u Minal Iman; (malu sebagian dari iman, dalam hadits lain Al Haya’u la ya’ti illa bi khair’( Malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan), maksudnya malu itu pasti mendatangkan kebaikan bagi seseorang…” Tambah Ki Bijak.

“Ki…..bagaimana kita menjaga mutiara ‘malu’ ini agar tetap terawat dengan baik ki…..? Tanya Maula.

“Pertanyaan yang tepat adalah apa yang diajarkan Rasulullah bagi orang yang ingin menjaga rmutiara ‘malu’nya adalah “Orang yang ingin malu dengan sebenar-benarnya di hadapan Allah SWT, hendaklah menjaga pikiran dan hatinya. Hendaklah ia menjaga perutnya dan apa yang dimakannya, hendaklah ia mengingat mati dan fitnah kubur…..” Jawab Ki Bijak mengutip konsep Rasulullah dalam menjaga sifat malu ini.

Maula lagi-lagi menghela nafas dalam-dalam, ia demikian larut dalam diskusi yang sangat mengasyikan ini.

“Nak Mas masih semangat…?” Tanya Ki Bijak.

“Tentu Ki…, dengan senang hati ana akan mendengar setiap petuah dan nasehat yang Aki berikan pada ana…” Kata Maula.

“Dipenghujung hadits ini ditutup dengan sebuah mutiara yang bernama amal shaleh, dan penyakitnya yang bernama ghibah/mengumpat…..” Kata Ki Bijak.

“Mengunjing, atau menceritakan sesuatu yang ada pada seseorang yang membuatnya marah, adalah perbuatan yang sangat tercela, karena tidak jarang dari pergunjingan inilah kemudian timbul perselisihan, timbul pertentangan dan bahkan menimbulkan permusuhan dan perang, karenanya Allah swt, dalam surat al Hujurat ayat 12, mengibaratkan bergunjing dengan dengan memakan bangkai saundaranya sendiri……” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat dimaksud;


12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Maula segera dengan seksama mentadaburi ayat dimaksud; “Masya Allah, sedemikian berbahayanya bahaya bergunjing ya ki…..” Kata Maula

“Ya Nak Mas, karenanya banyak sekali peringatan baik itu dari al qur’an maupun dari hadits yang mengingatkan kita agar menghindari gunjingan, yang jelas tidak bermanfaat lagi penuh dosa…..” Kata Ki Bijak sambil mengutip beberapa hadits dimaksud;

Rasulullah SAW bersabda:
• “Kebanyakan hal yang memasukkan manusia ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan ahlak yang baik, dan kebanyakan hal yang memasukkan manusia ke dalam neraka adalah mulut dan kemaluan". [HR Tirmidzi].

• “Orang yang menutupi aib orang lain di dunia, niscaya Allah akan menutup aibnya kelak di hari kiamat.” [HR Muslim].

Rasulullah SAW bersabda: “Sibuk mencari keburukan atau aib orang lain adalah salah satu dari 6 perkara yang bisa merusak amal kebaikan, 5 perkara lainnya adalah keras hati, terlalu cinta dunia, sedikit mempunyai rasa malu, panjang lamunan / khayalan dan kedzaliman yang tidak pernah berhenti”. [HR Ad-Dailami].


Wassalam

March 2011

Wednesday, January 12, 2011

ARTI KEKAYAAN

Maula tengah duduk dibale bambu, didepan pondokan gurunya, ketika sang guru datang dan mengucapakn salam, hingga membuyarkan lamunannya,

“Assalamu’alaikum…, Maaf Nak Mas, Aki tadi sedang tadarus…..” Kata Ki Bijak sambil menjelaskan kenapa ia agak lama menemui Maula.

“Waalaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh….., Aki……, tidak apa-apa ki, lagi pula ana belum lama datang…..” Jawab Maula sambil bergegas bangun menyalami gurunya.

Setelah kedua orang guru dan murid itu sama-sama duduk dibale bambu, mereka terlibat percakapan yang nampak mengasyikan;

“Nak Mas…, Nak Mas sepertinya ingin menyampaikan sesuatu…?” Tanya Ki Bijak, demi melihat Maula yang tampak sedang memperhatikan sesuatu.

“Eeghh…, iya Ki…..”Kata Maula agak ragu.

“Mengenai apa Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak dengan suara lembut.

“Ki…., bale bambu ini, berada ditempati ini, sejak ana pertama kali bertemu Aki, atau bahkan mungkin jauh sebelum ana datang kepondok Aki ini……” Kata Maula berhati-hati.

“Ya Nak Mas…..” Ki Bijak masih menunggu penuturan selanjutnya dari Maula.

“Lalu meja ini pun, masih seperti dulu, rak buku ini, alas dan juga yang lainnya sama sekali belum ganti…, Aki tidak ingin menggantinya Ki…..?” Tanya Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula; “Nak Mas, Aki sudah sangat senang memiliki bale bambu, meja dan perabotan seperti sekarang ini Nak Mas, lagi pula bale bambu dan perabotan ini adalah kenang-kenangan dan saksi setiap kali Aki dan Nak Mas berdiskusi dan berbagi dalam berbagai hal, jadi Aki tidak punya alas an untuk menggantinya…..” Kata Ki Bijak.

“Ki…, mohon maaf sebelumnya, bagaimana kalau ana yang mengganti perabotan ini dengan yang baru….?” Tanya Maula, masih dengan nada penuh kehati-hatian.

Ki Bijak kembali tersenyum mendengar tawaran Maula, “Aki mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian dan keinginan Nak Mas untuk memperbaharui perabotan Aki ini, tapi Aki tidak mau merepotkan Nak Mas…., Nak Mas masih memiliki banyak keperluan dan kebutuhan yang harus Nak Mas penuhi…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki…., ana datang ketempat Aki ini, sejak ana belum bekerja, belum mempunyai penghasilan, dan sekarang, Alhamdulillah, ana sudah kerja, ana sudah memiliki penghasilan yang lumayan, dan ana fikir ana bisa membelikan Aki perabotan yang baru ki…..” Kata Maula.

Lagi-lagi Ki Bijak tersenyum, “Belum saatnya Nak Mas…, belum saatnya Nak Mas membantu Aki secara materi, Aki sudah merasa cukup dengan yang ada sekarang, lagi pula, Aki jauh ‘lebih kaya’ dari Nak Mas….” Kata Ki Bijak sedikit bergurau dengan mengatakan bahwa dirinya lebih kaya dari Maula, muridnya.

“Ki….,mohon maaf sebelumnya…, ana sekarang sudah punya motor, punya rumah, punya penghasilan, dan memiliki tabungan yang lumayan, meski pun tidak bisa dibilang kaya, tapi ana fikir secara materi ana ‘sedikit’ lebih baik dari Aki….” Kata Maula, menanggapi ketidak mengertiannya, bagaimana mungkin gurunya bisa mengatakan bahwa Ki Bijak ‘lebih kaya’ darinya.

Dengan nada penuh kebijaksanaan, sang guru menjawab dengan arif; “Nak Mas…, benar materi dan penghasilnan Nak Mas sekarang lebih banyak dari Aki, tapi orang ‘kaya’ bukanlah orang yang miliki materi dan penghasilan lebih banyak Nak Mas, orang kaya adalah orang yang kebutuhannya lebih sedikit dari penghasilannya…….., itulah kenapa Aki mengatakan Aki lebih kaya dari Nak Mas…..” Kata Ki Bijak.

Maula terdiam sejenak mendengar pitutur gurunya; “orang ‘kaya’ bukanlah orang yang miliki materi dan penghasilan lebih banyak Nak Mas, orang kaya adalah orang yang kebutuhannya lebih sedikit dari penghasilannya ki…..?” Tanya Maula beberapa saat kemudian.

Ki Bijak mengangguk, “Nak Mas, Aki sangat senang dan bersyukur Nak Mas memiliki penghasilan yang lumayan, tapi kebutuhan Nak Mas sekarang ini masih sangat banyak, Nak Mas harus membiayai sekolah putra-putri Nak Mas, Nak Mas harus membantu adik-adik Nak Mas, Nak Mas juga masih memiliki banyak cita-cita dan keinginan yang belum Nak Mas capai, seperti kemarin Nak Mas katakan pada Aki, Nak Mas ingin memiliki mobil, Nak Mas ingin melanjutkan kuliah, Nak Mas ingin pergi ketanah suci, dan masih banyak lagi kebutuhan yang harus Nak Mas penuhi, sehingga penghasilan Nak Mas yang ‘lumayan’ itu belum cukup untuk menutupi semua kebutuhan Nak Mas, karena kebutuhan Nak Mas lebih banyak dari penghasilan yang Nak Mas perolah sekarang ini…..”

“Sementara Aki…., Aki tidak mempunyai penghasilan tetap, dan kalaupun dapat, pendapatan Aki pasti jauh lebih kecil dari yang Nak Mas dapat…., tapi dengan pendapatan seperti itu, Aki sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi, Aki tidak punya keinginan untuk beli mobil, Aki tidak ingin mengganti perabotan ini, Aki juga tidak ingin pergi tamasya, Aki juga sudah sangat bersyukur bisa makan dengan lauk pauk yang Aki dapat dari kebun dan kolam Aki….., sehingga pendapatan Aki yang ‘kecil’, cukup untuk menutupi semua kebutuhan Aki, karenanya Aki katakan tadi, Aki ‘lebih kaya’ dari Nak Mas, karena kebutuhan Aki lebih kecil dari pendapatan Aki…., Nak Mas mengerti maksud Aki….?” Kata Ki Bijak lagi.

Maula terdiam merenungi setiap untai kata gurunya; ia membenarkan apa yang baru saja dikatakan Ki Bijak, bahwa meskipun penghasilannya saat ini tergolong lumayan, tapi kebutuhannya juga masih sedemikian banyak, ingin punya mobil, ingin bisa tamasya, ingin makan enak, ingin pakaian bagus, ingin kuliah lagi, ingin punya rumah lagi, ingin menyekolahkan anaknya, dan masih banyak keinginan yang ia miliki saat ini…..

“Jadi ana masih ‘miskin’ ya ki…..?” Katanya kemudian.

“Nak Mas akan segera menjadi orang ‘kaya’, begitu Nak Mas bisa menata keinginan-keinginan Nak Mas itu agar sesuai dengan penghasilan Nak Mas sekarang, insya Allah, jika keinginan-keinginan Nak Mas ditata, disesuaikan dan tidak didasari oleh nafsu dan ambisi yang berlebih, Nak Mas akan menjadi orang yang jauh lebih kaya dari Aki……” kata Ki Bijak menghibur.

“Menata keinginan ya ki…?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, misalnya kalau Nak Mas ingin pergi ke tanah suci, ya itu saja dulu yang Nak Mas utamakan, sementara keinginan untuk membeli mobil, punya rumah baru dan lainnya, Nak Mas tempatkan para urutan berikutnya, insya Allah Nak Mas akan jauh lebih kaya dan lebih bahagia dari sekarang….” Kata Ki Bijak lagi.

Maula menghela nafas panjang, ia membenarkan apa yang barusan diutarakan gurunya,bahwa sekarang ini ia agak ‘terbebani’ dengan banyaknya keinginan yang ingin ia capai sekaligus……., ”Terima kasih Ki….., sekarang ana menjadi lebih ‘nyaman’ dengan apa yang Aki nasehatkan tadi, memang benar, ana kadang terlalu ambius dalam mengejar keinginan ana……..” Katanya kemudian.

“Keinginan juga sebenarnya bagus Nak Mas, selama kita bisa me-manage-nya dengan baik, keinginan bisa menjadi penggerak dan penambah semangat kita dalam bekerja, hanya Aki ingatkan sekali lagi bahwa jangan sampai keinginan-keinginan itu membelenggu kita untuk bisa hidup bahagia dan menjadi orang yang merdeka dari perbudakan oleh keinginan-keinginan kita yang tidak terkendali……” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki… , terima kasih…..” Kata Maula, sambil kembali mempehatikan bale bambu dna meja yang ternyata merupaka ‘kekayaan dan harta’ gurunya yang tidak ternilai harganya, sebuah bale bambu yang menjadi symbol rasa syukur dan kebijaksanaan gurunya dalam memaknai hakekat kekayaan…………., bahwa orang kaya bukanlah orang yang memiliki materi lebih banyak, bahwa orang kaya adalah orang yang mampu mensyukuri setiap nikmat yang ia terima, bahwa orang kaya adalah orang yang kebutuhannya lebih kecil dari pendapatannya……..

Wassalam

January 12,2011

Tuesday, January 11, 2011

DARI CERITA SI KANCIL DAN RAJA RIMBA

“Kenapa Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak melihat Maula tersenyum-senyum sendiri.

“Oooh ini ki…, ana teringat cerita kancil dan singa yang ana bacakan untuk Ade semalam…..” Kata Maula.

“Memangnya kenapa dengan cerita kancil dan singa tersebut Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Iya ki, dalam cerita itu dikisahkan seekor singa yang tertipu oleh kancil…., kancil memperdaya singa dengan mengatakan bahwa ada lawan yang sepadan yang menantangnya untuk bertarung.., sang singa, yang merasa bahwa dirinyalah yang paling hebat dan paling berkuasa diseantero rimba, langsung marah dan menanyakan dimana sang penantang tersebut…., si kancil mengatakan bahwa sang penantang berada disebuah sungai bening dipinggiran hutan…., dan tanpa berfikir panjang, segera saja singa berlari menuju sungai dimaksud, sang singa menyebrangi sebuah jembatan kayu dan mencari-cari sang penantang didalam sungai seperti yang dikatakan sikancil….;

“Dan ketika singa melihat kedalam air, ia melihat bayangan yang menyerupi dirinya, singa itu mengaum keras, menunjukan bahwa ia tidak takut dengan bayangan tersebut.., tapi alangkah terkejutnya singa, ketika bayangan itupun membuka mulutnya dan menampakan taringnya yang tajam…, singa yang merasa ditantang sedemikian rupa, segera menyerang bayangan tersebut, singa itu terjun kesungai……, byuuur, sang singa basah kuyup terkena air sungai, sementara bayangan yang menantangnya menghilang entah kemana, tinggallah kini singa yang kedinginan dan bingung kemana perginya sang penantang tadi…….” Kata Maula menceritakan dongeng anak-anak yang biasa ia ceritakan untuk menidurkan anaknya.

“Waah…, Nak Mas pandai sekali membawakan ceritanya…, isinya pun menurut Aki sangat bagus, selain menghibur, juga mengandung nilai-nilai edukasi yang juga bagus, tidak saja bagi Ade dan anak-anak, tapi juga bagi kita orang tua, bisa memetik pelajaran dari cerita-cerita seperti ini….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, Ade seneng banget kalau dibacain cerita seperti ini…, Ki…, tadi Aki bilang cerita kancil dan singa ini juga mengandung nilai edukasi bagi orang dewasa ki…?” Tanya Maula penasaran.

Ki Bijak mengangguk, “ Benar Nak Mas, cerita ini sangat bagus dan inspiratif, Aki salut kepada penulisnya…, coba sekarang Nak Mas fikir, kenapa singa itu sampai tercebur kesungai setelah melihat bayangan didalam air…..?” Tanya Ki Bijak.

Maula yang tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu menjawab dengan agak gagap, “Mungkin..karena singa tidak pernah bercermin Ki, sehingga dia tidak tahu bayangan sendiri dan bahkan menganggapnya sebagai musuh yang harus diperanginya…..” Kata Maula sedapatnya.

Namun tanpa diduga, Ki Bijak justru membenarkan jawaban Maula; “Benar Nak Mas, singa harus basah kuyup dan kedinginan karena dia tidak pernah ‘bercermin’, singa tidak pernah mengenal siapa dirinya……” Kata Ki Bijak.

Maula menunggu kelanjutan pitutur Ki Bijak, karena sekali lagi ia tidak menyangka bahwa jawabannya yang asal-asalan tadi, justru dibenarkan gurunya;

“Singa itu tidak pernah bercermin, sehingga ia tidak tahu seperti apa rupanya, singa itu tidak pernah tahu, siapa dirinya, singa itu tidak pernah tahu sekuat apa ia, singa pun tidak pernah tahu dimana kelemahannya, dan karena ketidaktahuannya ini, singa dengan sangat mudah diperdaya sikancil, karena ketidak tahuannya inilah kemudian singa harus basah kuyup, harus kedinginan dan harus menahan lapar karena gagal memangsa kancil yang memperdayanya…., dan inti dari muatan cerita ini dalam hemat Aki adalah betapa pentingnya kita mengenal diri kita sendiri, dengan cara ‘bercermin’ salah satunya Nak Mas…..” Kata Ki Bijak lagi.

Maula baru mengerti kearah mana penuturan Ki Bijak mengarah, yakni pentingnya mengenal diri dengan baik.

Setelah hening beberapa saat, Ki Bijak melanjutkan pituturnya, “Nak Mas, bukan hanya singa didalam cerita tadi yang tidak pernah bercermin dan tidak mengenal dirinya dengan baik yang berakibat pada kerugian baginya, tapi juga kita…, masih banyak diantara kita yang tidak ‘tahu diri’, tidak mengenal dirinya dengan baik….,

“Orang sombong…, adalah salah satu ciri orang yang tidak mengenal dirinya, seandainya dia tahu dari apa diciptakan, seandainya dia tahu betapa manusia adalah mahluk yang lemah, seandainya dia tahu bahwa dia tidak akan bisa hidup tanpa orang lain, seandainya dia tahu bahwa hidupnya singkat, bahwa dia akan mati, bahwa dia akan menjadi sesosok bangkai, bahwa ia akan menjadi santapan cacing tanah, maka siapapun dia, tidak mungkin dia akan berani menyombongkan dirinya…., sayangnya sekali lagi sedikit sekali orang yang mau mentafakuri siapa dirinya, sehingga ia menjadi sombong karena hartanya, ia menjadi sombong karena kecantikan dan ketampanannya, ia menjadi sombong karena kedudukan dan jabatannya, pada semua itu hanya sementara, persis seperti singa yang merasa paling hebat dan paling berkuasa yang akhirnya tertipu oelh sikancil……..” Kata Ki Bijak mencontohkan.

Maula menghela nafas panjang mendengar percontohan yang diutarakan Ki Bijak;

“Benar Ki….., banyak orang menyombongkan kelebihan yang dimilikinya, padahal semuanya itu hanyanya titipan yang pada akhirnya akan diambil kembali oleh pemiliknya yang hakiki…..” Kata Maula.

“Dan Nak Mas tahu akibat kesombongan..? seperti singa tadi, karena kesombongannya, ia tidak bisa berfikir jernih, tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tidak bisa menerima kebenaran, mudah marah, mudah tersinggung, mudah sakit hati, mudah ngambek, mudah menyalahkan orang lain, suka cara kambing hitam untuk menutupi kebodohannya……, pun dengan kita, sekali kita dihinggapi kesombongan karena ketidak tahuan kita pada diri sendiri, maka kecelakaanlah yang menanti kita, seperti singa yang basah kuyup tercebur sungai karena mengira bayangannya adalah musuhnya…., seperti kita yang sering ‘salah’ dalam menilai seseorang, orang yang berniat baik pada kita dimusuhi, sementara orang yang berniat tidak baik malah dijadikan teman……” Kata Ki Bijak lagi.

“Benar ki…., seperti orang islam yang takut pada orang islam lainnya, karena yang satu berjenggot lebat, pakai gamis dan kopiah, sementara orang kafir, yang jelas-jelas memiliki misi untuk golongan mereka, dijadikan teman……” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, seperti itu…..” Kata Ki Bijak.

“Lalu bagaimana caranya kita mengenali diri kita dengan baik ki…..?” Tanya Maula.

“Seperti Nak Mas tadi katakan, kita harus ‘bercermin’ agar kita bisa tahu seperti apa rupa kita, dan kita memiliki dua cermin sebagai sarana kita untuk mengenal diri dengan baik, cermin yang pertama, disini, dan cermin yang kedua ada disekitar kita….; Kata Ki Bijak sambil menunjuk dadanya.

“Cermin kita disini dan disekitar kita Ki…?” Tanya Maula sambil menirukan gerakan telunjuk Ki Bijak menunjuk dadanya.

“Benar Nak Mas, hati kita adalah cermin kita, hati kita adalah tempat kita bertanya mana yang baik dan mana yang buruk, hati kita adalah tempat kita berkaca manusia jenis apa kita ini….., adakah kita orang sombong, adakah kita orang rakus…., atau adakah kita orang yang patuh dan taat terhadap perintah Allah…?, teruslah berkaca dan bercermin pada hati kita, tanyakan pada hati kita, darimana kita berasal, dimana kita sekarang berada, dan akan kemana kita kembali kelak……, insya Allah ketika kita tahu bahwa kita adalah mahluk Allah yang diciptakan untuk semata mengabdi kepadaNya dengan sepenuh keikhlasan, niscaya kita tidak akan terjebak pada ‘kebodohan-kebodohan’ yang tidak perlu seperti singa dalam cerita yang Nak Mas katakan tadi….” Kata Ki Bijak.

“Ana mengerti Ki…, lalu apa cermin yang ada disekitar kita Ki….?” Tanya Maula lagi.

“Kita bisa bercermin pada orang-orang disekitar kita Nak Mas….., bisa istri, bisa anak, bisa teman, bisa atasan, bisa bawahan…., bagaimana sikap mereka terhadap kita adalah ‘pantulan’ dari bagaimana kita sikap kita pada mereka…..” Kata Ki Bijak.

“Ana masih belum paham Ki….” Kata Maula.

“Begini Nak Mas, kalau kita berlaku santun pada orang-orang disekitar kita, insya Allah merekapun akan memantulkan kesantunan yang sama pada kita….”

“Kalau kita menyayangi orang-orang sekitar kita, insya Allah merekapun akan menampilkan kasih sayang yang sama pada kita…,

“Kalau kita lemah lembut, kalau kita penyabar, kalau kita suka membantu, kalau kita ramah, insya Allah itu pulalah yang akan mereka tampilkan pada kita…,

“Sebaliknya, kalau kita mudah marah, cepat tersinggung, tidak respek pada orang lain, acuh tak acuh, sombong, angkuh, suka iri dan dengki, itu pulalah yang akan orang lain tampilkan pada kita…., singkatnya apa yang kita lakukan, itu pulalah yang akan terlihat dari sikap orang pada kita…., bagaimana sikap kita pada orang lain, seperti iu pulalah sikap orang pada kita…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Jadi intinya pengenalan dan penguasaan diri itu sangat penting Nak Mas, karena dengan mengenal diri, kita akan memiliki control internal yang baik, yang insya Allah akan menyelamatkan kita dari kerugian yang tidak perlu….”Tambah Ki Bijak.

“Iya ki….., ana tidak menyangka bahwa cerita untuk Ade ternyata juga merupakan sebuah pelajaran bagi ana Ki……” Kata Maula.

“Ya Nak Mas…., sekali lagi kita bisa belajar dari mana pun, kapanpun dan dari siapapun, hanya diperlukan kepekaan kita untuk menangkap pesan yang kadang tidak tersurat secara jelas, melainkan tersirat dari rangkaian kata atau kejadian yang kita temukan….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki……” Jawab Maula mengakhiri perbincangan.

Wassalam

January 10,2011

Monday, January 10, 2011

ANTARA ADZAN DAN WAKTU SHALAT

“Hidup kita didunia ini singkat Nak Mas, bahkan sangat singkat Nak Mas, hidup kita didunia ini tidak lebih dari ‘waktu adzan hingga menunggu waktu shalat tiba’…..” Kata Ki Bijak dalam suatu kesempatan.

“Waktu hidup kita didunia tidak lebih dari waktu adzan hingga menunggu waktu shalat tiba ki…?” Tanya Maula belum paham.

“Ya Nak Mas…, orang-orang tua kita dulu, dengan sangat cerdik menggambarkan singkatnya perjalanan seorang anak manusia didunia ini, dengan sebuah symbol, yaitu dengan mengadzani bayi ketika baru lahir…….” Kata Ki Bijak menghentikan penjelasannya sehingga membuat Maula penasaran.

“Lalu ki….?” Tanya Maula tidak sabar.

“Lalu ketika seseorang meninggal, maka ia akan dishalatkan, shalat jenazah namanya, Nak Mas perhatikan, ketika kita lahir, kita diadzani, kemudian ketika kita meninggal, kita dishalati, bukankah ini sebuah ‘nasehat’ yang sangat bagus untuk menggambarkan betapa singkatnya hidup ini, kehidupan kita didunia ini berkisar antara saat adzan dan waktu shalat tiba…….” Kata Ki Bijak melanjutkan.

“Subhanallah…., benar ki…., betapa singkatnya hidup ini…, waktu antara adzan dan waktu shalat itu tidak pernah lebih dari setengah jam ki…., paling-paling lima hingga sepuluh menitan…..” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, waktu antara adzan hingga waktu shalat tiba hanya sekitar lima sampai sepuluh menitan, waktu yang sangat singkat……., pernah Nak Mas perhatikan apa yang dilakukan kebanyakan orang yang sedang menunggu datangnya waktu shalat setelah adzan berkumandang…?” Tanya Ki Bijak.

“Macam-macam ki…, ada yang melaksanakan shalat qobliyah, ada yang dzikir, tapi banyak pula yang bercanda, bersenda gurau, ledek-ledekan, bahkan ada yang tertawa-tawa dan ngobrol seperti dipasar……” Kata Maula.

“Apapun aktivitasnya, baik itu dia melaksanakan shalat sunnah, baik itu dia dzikir, baik itu dia bercanda, bersenda gurau,ledek-ledekan atau bahkan tertawa dan ngobrol, tapi saat shalat tiba, dia harus mengakhirinya setelah imam bertakbir….., Nak Mas tahu yang Aki maksud….?” Tanya Ki Bijak.

Maula diam sejenak, mencoba mencerna apa yang dimaksud gurunya, “Mungkin itu gambaran dalam kehidupan kita ya ki…., sejak kita dilahirkan, menjadi sesosok bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan kemudian menjadi tua, setiap orang melakukan berbagai aktivitas berbeda-beda dalam mengisi waktu hidupnya…,

“Ada yang menggunakan waktunya untuk mengabdi kepada Allah, beribadah, menunaikan rukun islam dengan baik dan benar, beramal shaleh dan lainnya….,

“Disisi lain, ada orang yang menggunakan masa hidupnya untuk berfoya-foya, bersenda gurau, bahkan tidak jarang yang menghabiskan waktu hidupnya untuk bermaksiat, baik itu bermaksiat kepada Allah, pun juga banyak orang yang menghabiskan masa hidupnya untuk bermaksiat kepada sesama manusia……., Bukan begitu ki…” Kata Maula.

Ki Bijak mengangguk, “Lalu Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak kemudian.

“Lalu, terlepas dari apapun yang dilakukan oleh masing-masing manusia dalam mengisi kehidupannya, suatu saat nanti, saat dishalatkan itu akan tiba, saat kematian itu pasti datang kepada siapapun, dan ketika saat kematian itu datang, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri atau menyesal, karena itu sudah terlambat…” Kata Maula.

“Tepat Nak Mas…., saat kita dishalatkan itu pasti datang, terlepas dari bagaimana kita ‘menunggu’ dan menghabiskan waktu kita dari kita diadzani hingga waktu kita dishalatkan itu tiba….., maka merugilah mereka yang menghabiskan waktu antara adzan dan waktu dishalatkan itu dengan bercanda, dengan bersenda gurau, dengan main-main, karena waktu tidak akan menunggu, sekali ia datang, maka tidak akan ada sesuatu pun yang akan menghalanginya….”

“Sebaliknya, ‘beruntunglah’ mereka yang menunggu saat-saat waktu dishalatkan itu tiba dengan ibadah, dengan berdzikir, dengan beramal shaleh, dan berbuat kebajikan, insya Allah kelompok ini termasuk golongan orang-orang yang akan berbahagia setelah waktu dishalatkannya, karena mereka akan mendapatkan kelapangan dialam kuburnya, dan insya Allah diakhirat pun mereka akan beroleh kebahagiaan, sebagai balasan atas kebajikan yang mereka lakukan semenjak adzan dikumandangkan hingga waktu dishalatkan tiba…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Adzan hingga waktu shalat………, waktu yang sangat sekali….” Kata Maula setengah berguman.

“Ya Nak Mas…., nanum diantara singkatnya waktu tersebut, sesungguhnya waktu antara adzan dan iqomah dan kemudian shalat, itu adalah waktu mustajab untuk kita bermunajat kepada Allah, sebagaimana hadits dari Anas Bin Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda,” Do’a tidak akan ditolak antara adzan dan iqomat” ( Sunan Abu Daud kitab sholat 1/144 No. 521, Sunan At Tirmizi bab Jamiud Da’awat 13/87, Sunan Al Baih kitab Sholat 1/410 )……”Kata Ki Bijak lagi.

“Artinya apa ki…?” Tanya Maula.

“Aki tidak bermaksud mentafsirkan hadits ini kalau Aki mengatakan bahwa ini juga sebuah tamsil bahwa kehidupan dunia yang singkat ini dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga bila kita pandai memanfaatkannya, dunia ini tempat kita berladang dan bercocok tanam ‘kebajikan’, yang jika kita pandai menjaga dan merawatnya, maka hasil panen kebajikan ini adalah sebuah bekal yang sangat berharga untuk kita hidup dialam keabadian nanti……,

“Mungkin masa hidup umat baginda Rasul ini tidak sepanjang umat-umat terdahulu, hanya berkisar antara 60 sampai 70 tahun saja, sangat singkat jika dibanding dengan umat Nabi Nuh yang mencapai 900 tahunan, tapi justru inilah yang membuat ‘perbedaan’ antara umat baginda Rasul dengan umat sebelumnya, bahwa dengan usia yang sangat singkat ini, umat Rasul diberi ‘fasilitas’ untuk memasuki surganya Allah terlebih dahulu…, dengan catatan itu tadi, fasilitas itu akan diberikan kepada mereka yang bisa menggunanakan waktu hidupnya dengan penuh kehati-hatian, penuh pengabdian kepada Allah swt dengan menjalankan semua perintahNya semampu yang kita bisa, dan meninggalkan laranganya dengan sungguh-sungguh dengan segenap kemampuan kita….., mulai dari kita diadzani, hingga kita dishalatkan…, insya Allah hidup yang singkat ini akan menjadi berharga bagi kehidupan kita sekarang, didunia, pun dan kehidupan kita diakhirta kelak…….” Kata Ki Bijak lagi.

Maula terdiam, merenungi singkatnya waktu antara adzan dan shalat, merenungi sudah berapa lama waktu yang ia habiskan semenjak ia lahir dan dikumandangkan adzan ditelinga kanannya……, sekarang entah berapa lama lagi waktu yang tersisa hingga waktu dishalatkan itu kan tiba….”

“Yaa Rabb……, berilah hamba kemampuan untuk dapat mensyukuri nikmat umur yang Engkau berikan ini, dengan semata mengabdi kepadaMu, dan ampuni jika ada waktu-waktu yang Engkau berikan, terbuang sia-sia karena kedhaian hamba…..” Maula bermunajat kepada Allah swt.

“Amiiin…….” Sambut Ki Bijak, membiarkan Maula tenggelam dalam dzikirnya.

Wassalam

January 09,2010

Tuesday, January 4, 2011

KISAH SEDIH DARI JEPARA

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un………….” Kata Ki Bijak dan Maula hampir berbarengan demi membaca berita yang sangat memilukan:

KOMPAS.com – Enam orang bersaudara dari Desa Jebol, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, meninggal dunia diduga akibat keracunan makanan tiwul yang terbuat dari bahan ketela pohon.

Orangtua korban, Jamhamid (45), di Jepara, Senin (3/1/2011), membenarkan, keenam korban meninggal yang diduga akibat mengonsumsi tiwul tersebut merupakan anaknya dari tujuh orang bersaudara.

"Awalnya, yang meninggal dua orang, yakni Lutfiana (22) dan Abdul Amin (3) di Rumah Sakit Umum Daerah Kartini Jepara, masing-masing meninggal pada Sabtu (1/1/2011) pagi dan Sabtu malam," ujarnya.

Korban Lutfiana yang merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara dimakamkan Sabtu siang, sedangkan jenazah Abdul Amin dimakamkan Minggu (2/1/2011). Pemakaman pada hari yang sama juga dilakukan untuk korban Ahmad Kusrianto (5) anak nomor enam dan Ahmad Hisyam Ali (13) anak nomor empat.

Sedangkan anak nomor lima dan tiga, yakni Saidatul Kusniah (8) dan Faridatul Solihah (15) yang meninggal Senin dini hari dimakamkan pada hari ini sekitar pukul 11.00 WIB. Dia mengakui, keluarganya mulai mengonsumsi tiwul sebagai makanan alternatif sejak dua pekan terakhir, mengingat penghasilannya sebagai penjahit di Semarang kurang mencukupi kebutuhan keluarga.

Suasana hening untuk beberapa lama, kedua orang guru dan murid itu masing-masing larut dengan perasaan yang berkecamuk didalam dada dan fikiran mereka, ‘betapa sebuah ironi terjadi, didalam sebuah negeri yang subur makmur, kekayaan alamnya yang berlimpah, bahkan sebagaian warganya adalah orang-orang yang kelebihan uang, sehingga mereka tidak segan-segan menghamburkan uang jutaan bahkan puluhan juta hanya untuk berpestafora merayakan tahun, justru ada masyarakat lain yang harus makan tiwul (singkong/ubi jalar yang dikeringkan), dan akhirnya meninggal karena keracunan tiwul yang dikonsumsinya….?”


“Ki……,belum lama berselang kan Negara kita setidaknya dilanda tiga bencana besar, tanggal 4 Oktober 2010, banjir bandang melanda wasior ditanah Papua, yang menewaskan tidak kurang dari 158 warga disana, da menelan kerugian material tidak kurang 278 milyar rupiah..”

“Kemudian tanggal 25 Oktober 2010, gempa bumi dna tsunami menyapu kepulauan mentawai, 500 orang tewas, 100 orang lebih dinyatakan hilang, ditambah dengan korban luka yang entah berapa jumlahnya…..”

“Disusul kemudian erupsi gunung merapi pada tanggal 28 Oktober 2010, korbannya diperkirakan 600 orang, dengan 270 ribu jiwa harus mengungsi dengan keadaan yang serba kekurangan…..”

“Dan sekarang, ada 6 orang dari satu keluarga meninggal karena ‘makanan tidak layak’ yang dikonsumsinya, persis dihari pertama tahun baru, yang pada malamnya, sebagian orang bersorak sorak, berpestafora, menghabiskan uang untuk sesuatu yang mubazir, bagaimana mungkin ini terjadi ditengah masyarakat agamis, masyarakat pancasilais, masyarakat yang katanya punya tenggang rasa, tepo seliro, masyarakat…entah masyarakat apalagi sebutanya, tapi menurut ana ini sebuah ironi yang tidak lucu ki….” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang mendengar penuturan Maula; karena ia pun merasakan hal yang sama, keprihatinan, “Aki juga tidak habis fikir kemana perginya rasa empati, rasa peduli dan rasa kebersamaan masyarakat kita yang selama ini dibanggakan banyak orang Nak Mas…, semuanya seperti menguap begitu saja, tidak ada lagi empati, tidak ada lagi kepedulian, tidak ada lagi kebersamaan, yang nampak sekarang ini adalah sifat individualis, acuh tak acuh, sikap masa bodoh dan ‘kesombongan’……” Kata Ki Bijak sejurus kemudian.

“Iya ki, untuk merayakan tahun baru dengan pesta kembang api seperti kemarin itu, dijakarta saja, ana fikir tidak kurang dari 200 juta rupiah habis ki, padahal uang sebanyak itu, jika dibelikan sembako, kemudian dibagi-bagikan kepada para korban bencana atau mereka yang kelaparan, berapa banyak orang yang akan tertolong dari rasa lapar, atau kalau dibelikan paket sekolah untuk anak yatim dan fakir miskin, berapa banyak anak yatim dan fakir miskin yang akan terbantu…., sementara uang sebanyak itu hanya menjadi mubajir dan dibuang percuma hanya untuk bakar petasan dan kembang api…..” Kata Maula lagi.

Kedua orang guru dan murid itu kembali sejenak terdiam, masing-masing larut dalam keprihatinan yang mendalam dengan perilaku umat yang belakangan ini cenderung meninggalkan akar budaya dan syari’at agamanya.

“Ki…., apa yang menyebabkan umat kita sekarang ini bersikap seperti itu ki…..?” Tanya Maula setelah beberapa lama.

Lagi-lagi Ki Bijak menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Maula; “Perlu kajian yang mendalam untuk mengetahui secara detail apa yang tengah terjadi dimasyarakat kita sekarang ini Nak Mas, namun dari sudut pandang Aki yang dangkal ini, Aki melihat ada kemunduran, ada dekadensi moral dan akidah yang terjadi ditengah masyarakat kita…..” kata Ki Bijak beberapa saa kemudian.

“Dekadensi moral dan akidah ki…?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, ajaran moral yang luhur, dari agama manapun, dari ras apapun, dari kultur apapun, pasti mengajarkan kepedulian kepada sesama, pasti mengajarkan bahwa berbuat baik kepada sesama adalah sebuah kebajikan yang memiliki nilai luhur dalam pandangan manusia dan tuhan…., namun sekarang yang terjadi didepan kita, keluhuran ajaran moral itu, sedikit terkikis oleh sebuah gaya hidup baru yang cenderung individulis, yang cenderung masa bodoh, yang cenderung acuh tak acuh, yang cenderung yang kuat yang berkuasa, yang lemah biarkan saja….., yang lapar itu karena kesalahan mereka sendiri, yang miskin itu karena kebodohan mereka sendiri, dan seterusnya…., mungkin Aki agak berlebihan, tapi itulah kenyataan yang terjadi Nak Mas,bahwa nilai-nilai moral yang luhur itu telah terkikis adanya……” Kata Ki Bijak.

Maula menghela nafas dalam-dalam, ia teringat dengan pelajaran pancasila disekolah didulu yang selalu menggembar-gemborkan keluhuran budi, ketinggian moral, tepa selira, tenggang rasa, empati, kebersamaan, tapi sekarang…., yang ia temukan,jauh panggang daripada api, apakah bangsa moralis ini sudah bergeser menjadi bangsa yang tidak beradab….., “Astaghfirullah….., ya Rabb, semoga fikiran ini salah, semoga bangsa Indonesia tetaplah bangsa yang berketuhanan yang maha esa, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang memiliki persatuan Indonesia, yang memiliki kerakyataan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan bangsa yang berkeadilan sosial…..” Kata Maula, tidak mau terlalu jauh membayangkan hal-hal negative yang sedang menggerogoti bangsa ini.

“Belum lagi kalau kita tinjau dari segi akidah kita Nak Mas, dengan jelas, Al Qur’an menyatakan siapa para pendusta agama, para pendusta agama adalah mereka yang mneghardik anak yatim, mereka yang tidak menganjurkan makan bagi para fakir miskin, mereka yang tidak mau membantu saudaranya dengan barang-barang yang berguna, selain juga mereka yang lalai dalam shalatnya……” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an;

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. Orang-orang yang berbuat riya[1603],
7. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna[1604].

[1603] riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
[1604] sebagian Mufassirin mengartikan: enggan membayar zakat.

“Adakah kita sudah siap disebut pendusta agama, sehingga kita lebih mementingkan berpesta, menghamburkan uang, berfoya-foya, sementara ada tetangga kita miskin, ada tetangga kita kelaparan, ada tetangga kita bahwa harus meninggal karena memakan-makanan yang tidak layak karena ketidak pedulian kita pada mereka…?” Tanya Ki Bijak.

“Astaghfirullah…., Naudzubillah ki, kalau sampai kita digolongkan para pendusta agama…..” Kata Maula kaget.

“Dan tiada lain yang akan didapatkan oleh para pendusta agama itu kecuali kebencian Allah padanya……” Tambah Ki Bijak lagi.

“Dan kalau sudah dibenci Allah…, berarti kehidupan yang sempit baginya didunia, dan kecelakaan yang besar baginya diakhirat ya ki….” Kata Maula.

Ki Bijak mengangguk, “Mari kita berlindung dari sifat-sifat pendusta agama Nak Mas, agar kita selamat fidunya wal akhirat…” Kata Ki Bijak.

“Yang salah satunya menganjurkan dan member makan kepada fakir miskin ya ki, sehingga tidak ada lagi kejadian seperti dijepara itu, dimana ada saudara kita yang mengkonsumsi makanan yang tidak layak, sehingga menyebabkan kematiannya…..” Kata Maula.

“Benar Nak Mas…., semoga tidak ada lagi kisah pilu seperti ini….” Kata Ki Bijak mengakhiri perbincangan.

Wassalam

Januari 03,2011

Saturday, January 1, 2011

DARI ANAK PUN KITA BISA BELAJAR

“Assalamu’alalikum…………..” Terdengar uluk salam dari Ki Bijak yang sore itu melintas dan kemudian singgah dikediaman Maula.

Mendengar suara yang sudah sedemikian dikenalnya, Maula bergegas menuju kedepan rumahnya untuk menyambut sang guru, “Alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh….., Aki, silahkan masuk ki….” Jawab Maula sambil menyalami gurunya dan mempersilahkannya masuk.

Setelah beberapa saat duduk, kedua orang murid dan guru itu berbincang santai, “Nak Mas sedang tidak sibuk..? maaf kalau kedatangan Aki mengganggu Nak Mas…..” Kata Ki Bijak.

“Sama sekali tidak Ki, tadi ana baru selesai mandiin Ade, biasa ki, susah bener kalau disuruh mandi, sama uminya tidak mau, maunya sama ana, jadilah basah seperti ini…..” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula, “Namanya juga anak kecil Nak Mas, memang selalu begitu., tapi ngomong-ngomong pernah Nak Mas tanya Ade kenapa kalau disuruh mandi susah….?” Tanya Ki Bijak kemudian.

“Iya ki.., ada saja alasannya, nonton kartun dulu lah, mau main dulu lah, dan banyak sekali alas an yang diutarakan Ade kalau disuruh mandi….” Kata Maula.

Ki Bijak lagi-lagi tersenyum mendengar penjelasan Maula mengenai alas an anaknya yang suka susah kalau disuruh mandi;

“Bukankah kita, para orang tua juga masih suka seperti itu Nak Mas…? Pancing Ki Bijak.

“Kita masih seperti anak-anak ki…?” Tanya Maula heran.

Ki Bijak mengangguk, “Coba Nak Mas perhatikan, kitapun hampir selalu punya alas an menunda untuk melaksanakan perintah Allah…, “

“Ketika kumandang adzan berkumandang memanggil kita untuk segera berangkat kemasjid, sebagian kita biasanya punya seribu satu alas an untuk tidak shalat berjamaah dimasjid, kita kadang beralasan masih capek karena baru datang dari kantor, sehingga kita tidak kemasjid, kita juga kadang alas an hujan, kita bisa beralasan panasnya sangat terik, kita pun kadang beralasan kekenyangan karena baru saja makan, dan masih banyak lagi alas an yang dengan mudah kita lontarkan sebagai dalih untuk tidak melaksanakan perintah Allah, bukankah ini sama seperti alas an Ade yang enggan mandi Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak.

Muka Maula sedikit memerah, karena ia pun masih suka berdalih seperti itu, “Iya ki…..” jawabnya pendek.

“Bahkan ketika kemarin ada pertandingan bola, masjid sepi, yang shalat jamaah maghrib dan isya hanya beberapa orang saja, hampir semua mata dan perhatian tertuju pada pertandingan bola, alasannya demi nasionalisme, alasannya demi kecintaan pada timnas, alasannya shalat dirumah juga sama saja, belum lagi yang nonton langsung kestadion, entah bagaimana mereka melaksanakan shalat Ashar, Magrib dan Isya_nya, semua alas an itu sama persis dengan alas an Ade, alas an anak kecil, hanya bahasa yang digunakannya saja yang berbeda Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

Maula terdiam, tiba-tiba ia merasa bersalah karena suka memarahi anaknya yang suka susah disuruh mandi, sementara ia sendiri masih sering ‘susah’ kalau disuruh Allah untuk beribadah;

“Iya ki…, ternyata orang dewasa pun masih memiliki sifat kekanak-kanakan ya ki……”Kata Maula.

“Ya Nak Mas, kadang dengan bangga kita mengklaim bahwa diri kita ini orang tua, diri kita ini orang dewasa, tapi pada kenyataannya, masih banyak sifat-sifat kita yang menyerupai anak kecil…”

“Seperti ketika kita diperintah mengeluarkan sedekah, kita itung-itungan dulu untung ruginya, apa imbalannya bagi kita, persis seperti anak kecil yang ketika disuruh ibunya, menanyakan dulu apakah ada permen yang akan ia dapat kalau ia melaksanakan perintah ibunya….”

“Kalau kita diperintah tahajud, kalaupun kita melaksanakannya, setelah kita membaca berbagai fadilah yang ditawarkannya, bukan semata ikhlas lillahi’atala, bukankah inipun sama seperti anak kecil yang selalu diiming-imingi hadiah agar mau belajar atau membantu ibunya….”

“Atau kalaupun kita melaksanakan perintah Allah, lebih banyak permintaan kita daripada ibadahnya, shalat dhuhanya hanya dua rakaat, itupun dengan terburu-buru dan tidak istiqomah, tapi permintaan yang kita mohonkan kepada Allah, hampir selembar halaman kertas folio, bukankah inipun seperti anak kecil yang suka merengek-rengek untuk diberi hadiah sebelum ia melaksakan perintah…..”

“Dan masih banyak lagi sifat kita orang dewasa yang masih seperti anak kecil, mau kemasjid, mau sedekah, mau tahajud, mau shaum sunnah, mau shalat dhuha, mau membaca qur’an, mau berkunjung ke ustadz, mau kepengajian karena ia ingin sesuatu atau karena ia takut sesuatu……, bukan ikhlas karena Allah swt……” Kata Ki Bijak panjang lebar.

Maula masih diam, dia merenungi apa yang dikatakan gurunya, seolah-olah kata-kata sang guru ditujukan khusus untuk dirinya, meski perkataan Ki Bijak adalah contoh-contoh umum yang lazim terjadi sekarang ini.

“Kenapa orang dewasa masih bersifat seperti itu ya ki, kenapa orang dewasa selalu punya alas an untuk menunda atau bahkan meninggalkan perintah Allah…..?” Tanya Maula.

“Menurut Nak Mas, apa alas an Ade yang membuat Ade tidak mau mandi..?” Ki Bijak bertanya balik.

Maula diam sejenak mendengar pertanyaan gurunya, “Mungkin karena Ade tidak tahu bahwa mandi itu adalah kebutuhannya agar ia bersih dan sehat ki…, Ade masih merasa bahwa mandi itu dingin dan menjadi beban…..” Kata Maula.

“Dan jawaban pertanyaan Nak Mas tadi juga sama Nak Mas, mungkin sebagian orang yang mengaku sudah tua dan dewasa itu tidak tahu bahwa shalat itu adalah kebutuhannya, bahwa shalat itu adalah sarana untuk membersihkan dirinya dari dosa, bahwa shalat itu adalah sarana komunikasi kita dengan Allah yang paling efektif….”

“Mungkin juga orang yang mengaku tua dan dewasa itu juga tidak tahu bahwa zakat itu akan membersihkan harta dan dirinya, bahwa zakat itu akan menjadi ‘tameng’ bagi dirinya dari mara bahaya…”

“Mungkin juga orang yang mengaku tua dan dewasa itu tidak tahu kalau shaum, kalau pergi haji, kalau menyantuni anak yatim & fakir miskin, membaca dan belajar al qur’an , berjihad dijalan Allah itu adalah ‘kebutuhan hidupnya’ sehingga sebagian kita masih enggan dan berat untuk melaksanakannya…, persis seperti anak kecil yang belum tahu fungsi mandi sebagai kebutuhannya untuk hidup bersih dan sehat…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Jadi diperlukan ‘kedewasaan hati’ untuk dapat memahami perintah Allah sebagai sebuah kebutuhan kita ya ki, sehingga kita tidak lagi menganggapnya sebagai beban yang memberatkan kita….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, pun dengan Ade, setelah besar nanti, insya Allah cucu Aki yang pinter ini, tidak perlu lagi disuruh atau ditakut-takuti untuk mandi dan melaksanakan perintanh agamanya, karena Ade akan tahu bahwa mandi dan syari’at agama adalah kebutuhan yang harus dipenuhinya…..”Kata Ki Bijak.

“Insya Allah ki……, De…, sini, ada Aki nih pengen kangen sama Dede….” Kata Maula, memanggil putranya yang baru selesai berpakaian.

Segera saja anak yang lucu itu datang dan langsung sungkem menyalami Ki Bijak;

“Ngger…, jadi anak shaleh ya Ngger….., jangan lupa ngajinya, jangan lupa shalatnya, ingatkan lagu yang Abi ajarkan pada Dede….?” Tanya Ki Bijak sambil membelai kepala cucu kesayangannya itu.

“Iya ki, Ade bisa nyanyi lagu yang Abi ajarkan pada Dede…..’ Katanya dengan logat yang masih cadel.
“Coba Aki pengen dengar lagunya…..” Bujuk Ki Bijak.

Bocah kecil yang polos itu menyanyikan lagu gubahan ayahnya, yang biasa dinyanyikan untuk meninabobokannya setiap malam;

Ade…., ade tayang,
Ade tayang jangan nakal
Cepat…, cepat besal,
cepat besal jadi pintal…

Jadilah anak yang taat
dan banyak beramal…
Jangan lupa zakat
dan jangan tinggal sembahyang…

Agar kelak Ade jadi anak yang belguna
Bagi papa mama dan juga bagi agama
Agal kelak Ade jadi anak yang belguna
Bagi nusa bangsa dan juga bagi negala….

“Waah…, bagus sekali Ade sudah pintar menyanyi….” Kata Ki Bijak sambil bertepuk tangan.

Maula hanya tersenyum melihat tingkah polah putranya yang lucu;

“Nak Mas, sebentar lagi maghrib, Aki permisi dulu, nanti sekalian bawa Ade kemasjid, untuk melatihnya agar kelak dia menjadi ahli masjid seperti Nak Mas….” Kata Ki Bijak sambil pamitan.

Maula menyalami gurunya dan kemudian mengantarkan sampai gerbang;

“Assalamu’alaikum……” Kata Ki Bijak.

“Alaikumusalam……”Jawab Maula.

Wassalam

Desember 31,2010.

Friday, December 31, 2010

HATI-HATI PERANGKAP TAHUN BARU

“Nak Mas tidak masuk kerja…?” Tanya Ki Bijak seusai menunaikan shalat jum’at”

“Kerja Ki, tapi hanya setengah hari, jadi ana bisa shalat jumat disini….” Jawab Maula.

“Kenapa kerjanya setengah hari Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Itu ki, dalam rangka menyambut tahun baru, sehingga kantor memperbolehkan karyawannya pulang setengah hari…” Kata Maula lagi.

“Memangnya Nak Mas mau ikut merayakan tahun baru..?” Tanya Ki Bijak.

“Ya tidak ki…, ana ikut pulang setengah hari karena memang badan ana agak kurang sehat ki…, sekalian ana mau ketemu Aki disini….” Kata Maula.

“Syukurlah Nak Mas….., Aki fikir Nak Mas akan ikut-ikutan merayakan tahun baru yang sama sekali tidak ada faedahnya bagi kita….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…., tapi kenapa ya ki, banyak orang islam yang ikut-ikutan merayakan tahun baru, pada konvoi, pada berebut pergi kepuncak, pada niup terompet, bahkan tidak jarang banyak diantara orang islam yang merayakan baru dengan cara-cara yang melanggar syariat, mereka brpesta pora, menghambur-hamburkan uang, minum-minuman keras, pergaulan bebas dan lainnya….?” Tanya Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang, ia nampak prihatin dengan apa yang Maula katakan barusan, benar memang banyak diantara umat islam, bukan hanya anak-anak muda, tapi juga orang dewasa yang ikut larut dalam merayakan malam pergantian tahun,

“Ya Nak Mas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, sebagian umat islam memang telah terperangkap kedalam jebakan yang ditebar oleh yahudi dan nasrani yang menghendaki umat ini hancur…..” Kata Ki Bijak.

“Perangkap ki….?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas…., dalam surat Al Baqarah ayat 120 Allah dengan tegas memperingatkan kita bahwa yahudi dan nasrani tidak akan senang terhadap kita hingga kita mengikuti milah mereka, Nak Mas ingat ayatnya….?” Tanya Ki Bijak.

“Ya Ki……..” Kata Maula sambil membacakan ayat dimaksud;


120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

“Kalau dulu, dizaman Nabi ketidak sukaan itu mereka tunjukan dengan berkomplot untuk mengalihkan arah kiblat kaum muslimin sesuai dengan kiblat mereka, maka sekarang ini, kaum yahudi dan nasrani berkomplot untuk mengalihkan cara-cara hidup kaum muslimin hingga menyerupai tata cara kehidupan mereka….., milah, dalam ayat ini bisa diartikan tata cara atau pola hidup mereka, yang salah satunya adalah dengan memalingkan dan menjauhkan umat islam dari mengingat Allah, menjauhkan umat islam dari ajaran kitab sucinya, menjauhkan umat islam dari sunnah nabinya, seperti yang terjadi dihampir setiap pergantian tahun seperti sekarang ini Nak Mas….” Kata Ki Bijak

“Hanya sayangnya, hanya sebagian kecil saja umat islam yang menyadari bahwa mereka sebenarnya tengah digiring memasuki perangkap yahudi dan nasrani ini, umat islam tidak mau merujuk kitab sucinya yang telah mengingatkan mereka bahwa mengikuti tata cara mereka adalah sebuah kebodohan, umat islam tidak mau mengikuti peringatan nabinya bahwa barang siapa yang mengikuti suatu kaum, maka ia termasuk kedalam golongan kaum tersebut, kalau kita mengikuti gaya hidup yahudi dan nasrani, maka kita akan termasuk kedalam golongan mereka, ini yang mereka tidak mau menyadarinya…..” Kata Ki Bijak,

“Benar ki, lagi pula kalau difikir pakai akal sehat, apa sih yang didapat dengan merayakan tahun baru seperti itu…?, bukan hanya uang akan habis, bukan hanya waktu akan terbuang, tapi juga sangat mungkin kita akan terjerumus kedalam berbagai kedalam perangkap kemaksiatan yang banyak bertebaran selama merayakan pergantian tahun, mabuk, minum, berfoya-foya dan lain sebagainya…” Tambah Maula.

“Iya Nak Mas, orang dizaman kita ini mengaku orang intelek, mengaku orang yang rasional, mengaku orang yang berakal, sehingga mereka mengklaim masa sebelum mereka adalah masa primitive, tapi justru kaum yang mengaku intelek dan berakal ini, tidak mau menggunakan akal dan intelektualitasnya untuk berfikir tentang suatu manfaat dan mudharat dari apa yang mereka lakukan……, bahkan banyak diantara perilaku mereka yang jauh lebih primitive dari kaum yang mereka klaim primitive, seperti minum khamr, itulah perbuatan primitive yang dilakukan oleh kaum jahiliyah, dan setelah islam datang, mereka kemudian meninggalkannya, tapi sekarang justru ditengah-tengah kehidupan masyarakat islam, meminum minuman keras malah menjadi budaya…..” Kata Ki Bijak.

“Belum lagi pergaulan bebas, yang kemudian menyebabkan kehamilan diluar nikah, perbuatan inipun adalah perbuatan jahiliyah….., yang oleh masyarakat jahiliyah sendiri sudah lama ditinggalkan setelah datangnya islam, tapi sekarang justru kembali menjamu dan berkembang……” Tambah Ki Bijak.

“Iya ki…., modern apanya ya ki, kalau orang minum minuman keras, pergaulan bebas, berfoya-foya itu justru perbuatan orang jahiliyah ya ki…” Kata Maula.

“Makanya Nak Mas tak perlu menanggapi kalau ada orang yang mengatakan mereka yang tidak merayakan tahun baru itu orang kuno, itu hanya ungkapan orang bodoh yang mengaku pintar saja Nak Mas, karena sesungguhnya merekalah yang meniru cara-cara hidup orang-orang bodoh dijaman jahiliyah dulu….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ana sih tidak peduli dengan mereka ki………., kalaupun ada yang ngomong seperti itu, ya seperti Aki bilang tadi, cuekin aja…..” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, kita mulai dari diri kita, kita mulai dari keluarga kita, kita mulai memberikan masukan dan pengertian pada lingkungan kita bahwa merayakan tahun baru dengan cara-cara seperti itu, tidak layak untuk dilakukan oleh mereka yang mengaku tuhanya Allah, kitabnya Al Qur’an, Nabinya Muhammad Saw….., semoga dengan pemahaman dan pengertian itu saudara-saudara kita menyadari bahwa merayakan tahun baru dengan cara yahudi dan nasrani adalah sebuah kerugian……, kita rugi didunia karena telah menghambur-hamburkan uang, tenaga dan waktu kita, pun kita rugi diakhirat jika kita kelak digolongkan kedalam golongan yang merayakan tahun baru dengan cara-cara kebathilan……..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki…., lebih baik ana kesini nanti malam ki, Aki ingin lebih banyak mendengar nasihat dan petuah Aki daripada keluyuran tidak karuan ki……” Kata Maula.

“Silahkan Nak Mas, Nak Mas bisa datang setiap saat ketempat Aki, semoga Aki sehat dan diberi tambahan ilmu oleh Allah, sehingga bisa bertukar fikiran dengan Nak Mas……” Kata Ki Bijak lagi.


“Iya ki, ana pamit dulu……., terima kasih ki…..” Kata Maula berpamitan.

Wassalam

December 31, 2010

Wednesday, December 29, 2010

PELAJARAN HARI INI: JANGAN MENGEMUDI SAAT MARAH


“Masya Allah…., bagaimana kejadiannya Nak Mas……?” Tanya Ki Bijak, menanggapi cerita Maula mengenai mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan.

“Kejadiannya berlangsung sangat cepat Ki, ana hanya tahu ketika tiba-tiba mobil yang ana tumpangi sedikit oleng, begitu ana lihat kedepan, ternyata sebuah mobil colt diesel memotong jalan, sopir mobil ana mungkin kaget, sehingga secara reflex membanting stir kekanan sehingga membentur pembatas jalan dengan keras, mobil sempat miring kekanan, ban dan peleknya hancur….., Alhamdulillah sopirnya cukup tenang, sehingga mobil tidak terbalik, dan hanya menggesek pembatas jalan sekitar 20 meteran ki…..” Kata Maula menceritakan pengalamannya.

Ki Bijak menghela nafas panjang mendengar penuturan Maula; “Syukurlah Nak Mas tidak kurang suatu apa…..” Katanya kemudian.

“Alhamdulillah ki……, tadi juga teman-teman ana yang berada dibelakang mobil yang ana tumpangi pada telpon, mereka khawatir dengan keadaana ana, karena memang benturannya keras sekali…., sepertinya sisopir itu kurang konsentrasi atau gimana, karena dari sebelum masuk tol pun, ana perhatikan pak sopir ini marah-marah pada keneknya, katanya penumpangnya kurang satu lagi, padahal didalam sudah penuh……” Kata Maula lagi.

“Ya Nak Mas, kecelakaan memang tidak ada yang tahu kapan dan dimana akan terjadi, tapi mendengar cerita Nak Mas tadi, ada sebuah pelajaran yang bisa kita petik dari apa yang Nak Mas alami tadi pagi…..” Kata Ki Bijak.

“Disetiap kejadian memang ana yakini ada sejuta hikmah dan selaksa pelajaran Ki, tapi untuk kejadian tadi pagi, kira-kira pelajaran apa ya ki….?” Tanya Maula.

“Pelajarannya ‘jangan mengemudi saat kita marah’ Nak Mas….., seperti Nak Mas tadi katakan, pak sopir itu marah-marah sebelum masuk tol, dan kemarahan itulah yang mungkin mengurangi konsentrasinya dalam mengemudi…, dan dalam kondisi apapun, kemarahan tidak akan menambah apapun kecuali kerugian……” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, terlepas dari apa yang terjadi tadi adalah atas izin dan kehendak Allah, tapi secara syari’at, mungkin kemarahan itulah yang membuat pak sopir sedikit kehilangan konsentrasinya…..” Kata Maula.

“Ya Nak Mas….., dan lebih jauh lagi, jika kita analogikan, seorang sopir itulah ibarat seorang pemimpin, dimana ia diamanahi untuk membawa penumpangnya selamat sehingga sampai tujuan…., dan ketika pemimpin ini selalu marah-marah, selalu tidak konsentrasi, selalu ugal-ugalan, maka ia berpotensi memcelakakan banyak orang, bukan hanya dirinya, tapi juga orang-orang yang berada dalam kendaraan yang dikemudikannya….,

“Seorang presiden, adalah sopir bagi rakyat dan negaranya untuk menuju Negara yang adil makmur wa robbun ghofur….., sehingga tidak boleh kemudian seorang presiden mengemudikan kendaraan yang bernama ‘negara’ ini dengan marah-marah, dengan ugal-ugalan, karena sekali lagi, sekali ia salah perhitungan, maka kecelakaan bukan hanya akan menimpa dirinya sendiri, tapi juga seluruh rakyat dan Negaranya akan mengalami kerugian…..”

“Pun seorang gubernur….., pun seorang bupati/walikota, pun seorang camat, pun seorang lurah, pun seorang RT/RW……, mereka yang diamanahi jabatan seperti itu, hakekatnya diamanahi kendaraan untuk dikemudikan dengan baik, sehingga penumpang-rakyat- yang dipimpinnya bisa selamat sampai tujuan……” Kata Ki Bijak.

Maula terdiam, meresapi setiap kata yang terurai dari lisan bijak gurunya.

“Dalam lingkup keluargapun, seorang suami adalah sopir atau nahkoda bagi keluarganya, suami bertanggung jawab atas dirinya, suami bertanggung jawab atas istrinya, suami bertanggung jawab atas anak-anaknya, untuk bisa selamat didunia, dan selamat dari api neraka diakhirat kelak……”

“Lalu bagaimana mungkin seorang suami bisa mengemudikan atau menahkodai bahtera rumah tangga kalau ia sendiri pemarah…?, bagaimana mungkin ia bisa mendidik dan mengarahkan anak istrinya untuk berlaku santun sementara ia sendiri ugal-ugalan…..?”

“Diperlukan suami yang santun, mengerti peraturan (syariat), penyayang, pemaaf dan sabar untuk dapat menjalankan roda rumah tangga menuju keluarga sakinah mawadah wa rahmah yang diidamkan setiap keluarga…….” Tambah Ki Bijak.

“Benar ki……, ketika seseorang marah, maka tangan, kaki, mata dan konsentraisnya menjadi buyar ya ki…..” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, benar yang memegang kemudi adalah tangan, yang menginjak pedal gas dan rem adalah kaki, yang melihat jalan adalah mata, yang mendengar klakson adalah telinga, tapi jika hati kita diliputi kemarahan, maka fungsi dari panca indera tadi tidak akan maksimal…, seperti pak sopir yang membawa Nak Mas tadi pagi, matanya tidak mengantuk,tangan kakinya sehat, telinganya pun baik, tapi ketika hatinya sedang tidak nyaman, kondisi hati itulah yang akan tampak lewat anggota tubuhnya yang dhahir…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Hati ya ki….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, hati inilah yang menggerakan anggota badan yang lain sesuai dengan kondisinya, jika hati baik, maka yang lain insya Allah baik, sebaliknya jika hatinya sedang tidak baik, pun dengan anggota tubuh lainnya sama, karenanya jagalah hati ini sebaik mungkin yang kita bisa….., termasuk menjaga hati agar tidak mudah marah…….” Kata Ki Bijak lagi.
“Bagaimana caranya ki, agar kita tidak mudah marah……?” Tanya Maula.

“Lembutkan hati dengan dzikrullah Nak Mas….., hati yang lembut, tidak akan mudah terpancing emosi, hati yang lembut, tidak akan mudah marah, karenanya perbanyaklah berdzikir kepada Allah agar kita diberi kelembutan hati…..”

“Yang kedua, ingatlah bahwa kemarahan itu datangnya dari syetan; syetan memprovokasi hati kita untuk marah dan meledak-ledak, dan setelahnya, syetan dengan gampang mengarahkan orang yang sedang marah untuk berbuat hal-hal yang melanggar perintah Allah, karenanya ketika marah, segeralah istighfar dan memohon perlindingan kepada Allah untuk mengusir syetan agar tidak mengganggu kita….”

“Yang Ketiga tentu kita harus senantiasa membangun kesadaran bahwa sekali lagi kemarahan tidak akan menambah apapun kepada kita kecuali kerugian…..; insya Allah ketika itu sudah kita lakukan, kita agar terhindar dari sifat-sifat pemarah yang merugikan itu…” Kata Ki Bijak.

“Ana mengerti ki…..” Kata Maula.

“Satu-satunya alas an yang membolehkan kita ‘marah’ adalah ketika kita melihat kemungkaran Nak Mas……, ketika kita melihat kemunkaran, kita harus ‘marah’, itupun dengan proporsi kemarahan yang benar, jangan membabi buta, tapi kemarahan yang disertai niat untuk merubah kemunkaran itu menjadi kebaikan……..” Kata Ki Bijak lagi.

“Sekarang Nak Mas istirahat saja dulu, sambil bertafakur untuk dapat mengambil hikmah dari apa yang Nak Mas alami pagi tadi….” Tambah Ki Bijak

“Iya ki, terima kasih…, Ya Rabb, semoga Engkau bukakan pintu hikmah dari setiap kejadian apapun, dan jadikanlah hamba menjadi abdiMu yang pandai mengambil hikmah dan pelajaran dariMu….” Kata Maula.

“Amiin….” Timpal Ki Bijak mengamini.

Wassalam

Desember 29,2010

Tuesday, December 28, 2010

BELAJAR DARI CARA BERPAKAIAN

“Kenapa ki….? Tanya Maula heran, demi melihatnya dengan tersenyum penuh arti.

“Masya Allah, Nak Mas kelihatan tampan sekali dengan setelan ini……” Kata Ki Bijak.

Maula tersenyum malu mendengar pujian gurunya, “Ini baju lama ki, hanya ana jarang mengenakannya….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, tapi memang padanan yang Nak Mas kenakan itu pantes sekali, warna dan coraknya sangat harmonis, antara atasan dan bawahan yang sangat serasi……,

“Dan seandainya keserasian dan keharmonisan seperti ini terjadi dalam kehidupan kita, niscaya kita akan mendapati indahnya kebersamaan……” Kata Ki Bijak, seperti biasanya menggunakan kiasan dalam menyampaikan sebuah nasehat pada Maula; dengan harapan apa yang disampaikannya bisa mengena dan berkesan dalam pada diri Maula, sehingga muridnya itu dapat mengaplikasikan nasehat yang disampaikannya.

“Ana masih belum mengerti ki….” Kata Maula.

Ki Bijak kembali memperhatikan setelah baju dan kain yang dikenakan Maula;

“Nak Mas perhatikan baju dan kain yang Nak Mas kenakan ini…., baju dan kainnya memiliki keharmonisan, warnanya penuh keserasian, perpaduan yang sangat indah, saling mengisi dan saling melengkapi…..,

“Pun dalam kehidupan keseharian kita Nak Mas, misalnya ditempat kerja atau kantor Nak Mas, betapa indahnya jika atasan (manager) dan bawahan (staf), bisa bersinergi, bisa saling mengisi, bisa saling menopang, saling hormat menghormati,saling menunjang, memiliki kesamaan visi, memiliki kesamaan pandangan, memiliki kesamaan tujuan, niscaya keharmonisan kerja akan terbangun dengan baik…..”

“Lain halnya jika baju yang Nak Mas kenakan ini, dipadankan dengan warna lain, misalnya atasananya terlalu terang, terlalu mentereng, atau terlalu ngejreng dalam bahasa anak muda sekarang, sementara bawahannya gelap, maka padannan seperti ini akan menampilkan citra yang berbeda dari yang nampak sekarang….”

“Pun dalam kehidupan keseharian kita, jika atasan hanya mau menang sendiri, jika atasannya bergaya otoriter, jika atasan tidak mau mengerti kesulitan dan keadaan bawahannya, maka yang akan terjadi adalah ‘perlawanan’ dari para bawahan, yang pada gilirannya, akan memudarkan keindahan sinergi dalam bekerja…….”

“Atau sebaliknya, kalau hanya atasannya saja yang baik, tapi bawahannya bekerja sendiri-sendiri, tidak mengindahkan perintah atasan, tidak mau berkomunikasi, tidak mau bekerja sama, maka yang akan terjadi adalah kesemrawutan dalam pekerjaan……..” Kata Ki Bijak menjelaskan.

Maula manggut-manggut setelah mengerti apa yang dimaksudkan gurunya; “Iya ya ki…., kalau atasan hanya bisa main perintah, hanya bisa menyalahkan bawahan, tidak mau bertanggung jawab, seperti baju yang robek ya ki….., pasti tidak akan kelihatan indah….” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, karena seorang atasan harusnya mampu menutup ‘aurat’ dan aib apapun yang terjadi dibawah arahannya, ketika bawahan melakukan kesalahan, maka kewajibannyalah untuk ikut bertanggung jawab dan memperbaikinya, bukan justu menguak kesalahan anak buahnya lebih lebar, karena mengorek kesalahan bawahan, sama artinya dengan membuka aibnya sendiri…….” Kata Ki Bijak.

“Pun bawahan, mempunyai kewajiban untuk menjaga nama baik dirinya, nama baik teman-temannya, nama baik atasannya, bahkan juga harus menjaga citra dan nama baik department dan perusahaannya……, tidak bisa kemudian seorang bawahan berfikiran sempit, dia hanya berfikir yang penting dia kelihatan kerja, yang penting kerjaan dia selesai, tanpa mengindahkan teman dan atasannya, ini juga salah, hal ini juga tidak akan membuat suasana kerja berjalan harmonis, persis seperti setelan baju dan kain yang tidak selaras…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Waah…., Aki seperti seorang designer handal…., ana setuju ki, baik itu setelan pakaian atau pun ‘setelan’ pekerjaan, dibutuhkan padanan yang harmonis, yang serasi, yang saling mengisi dan menunjang, sehingga menampilkan citra keindahan yang enak dipandang ya ki…..” Kata Maula.

“Ya, seperti padanan yang Nak Mas kenakan ini, terlepas dari siapapun yang melihatnya, padanan seperti ini memang indah dan pantas untuk dilihat dan dipandang……, dan memang seharusnya pakaian seperti inilah yang kita kenakan ketika kita hendak menghadap Allah……, bukan sembarang pakaian, yang kadang asal saja, pakai kaos oblong, pakai jelana jeans belel, rasanya tidak patut kalau kita menghadapa Dzat yang telah menciptkakan kita dengan kondisi seperti itu…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kalau mau ketemu pejabat saja, kita mesti pakai pakaian yang bagus, kenapa justru ketika hendak bertemu Allah kita mengenakan pakaian ala kadarnya, padahal kalau ke undangan atau kepesta, pakaian yang dikenakan bagus-bagus………..” kata Maula menambahkan.

“Sikap seperti itulah yang harus kita ubah Nak Mas, tidak ada larangan mengenakan pakaian yang bagus untuk bertemu pejabat, tidak ada pantangan untuk mengenakan pakaian mahal ketika pergi undangan, pun seharusnya kita akan lebih berhati-hati dalam memilih dan mengenakan pakaian ketika kita hendak menghadap Allah, karena selain masalah etika kita kepada Allah, berpakaian dengan baik ketika kita kemasjid adalah sebuah perintah Allah yang mestinya kita jaga dan kita junjung tinggi…..” Kata Ki Bi Bijak sambil mengutip ayat Al qur;an:

Hai anak Adam, Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepada kalian Pakaian untuk menutup aurat kalian dan Pakaian indah untuk perhiasan. dan Pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh, Mudah-mudahan mereka selalu ingat". (QS. Al A'raaf [7]: 26)

"Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan". (QS. Al A'raaf [7]: 31)

“Subhanallah, betapa sempurna ayat-ayat_Mu ya Rabb……; terima kasih Ki,semoga ana bisa senantiasa mengenakan pakaian dhahir terbaik dan pakaian taqwa juga yang terbaik ya ki….” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas……” Kata Ki Bijak.

Wassalam

Desember 27,2010