Thursday, March 8, 2007

ORANG PINTAR SELALU PUNYA WAKTU UNTUK ALLAH DAN DIRINYA

Kesibukan, tak akan berhenti selama kita masih berada didunia ini, sibuk cari uang, sibuk ngurus anak, sibuk ini dan itu, dan berbagai macam kesibukan insya allah pasti akan selalu mewarnai kehidupan kita sehari-hari.

Kesibukan kita bekerja mencari nafkah untuk diri dan keluarga kita, kadang menyita hampir seluruh waktu kita, bahkan ada beberapa diantara kita yang ketika pulang atau pergi dari, lampu listrik selalu menyala, pagi berangkat ketika pagi buta, saat lampu belum dimatikan, pulang kadang larut malam setelah lampu dinyalakan.

Seorang teman bahkan pernah berkata bahwa ia hampir tidak pernah melihat matahari ketika hari-hari kerja. Ia harus berangkat ketika matahari masih tertidur pulas berselimut awan, sementara ia pulang ketika matahari sudah beranjak keperaduan. Bahkan kadang saat istirahat kerjapun ia masih harus duduk manis didepan komputer untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang seolah sambung-menyambung tiada henti.

Pagi pergi, pulang malam, rutinitas yang demikian membosankan bahkan kadang kita seperti robot atau mesin yang hanya tahu bekerja dan berkerja, kadang kita lupa bahwa keluarga kita juga memerlukan kita, bahwa tubuh kita juga memerlukan istirahat, otak kita pun perlu penyegaran, jasmani dan rohani kita juga perlu “vitamin” untuk dapat bekerja dengan layak, dan kadang bahkan kita lupa bahwa kita diciptakan Allah semata-mata untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya;


56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (51:56)

Kita memang masih dialam kasab, yang mengharuskan kita untuk bekerja dan berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan atau untuk memenuhi kebutuhan lahiriah kita, tapi kita juga tidak boleh lupa bahwa ada hak Allah yang yang harus kita penuhi, yaitu untuk diibadahi.

Kesibukan kasab kita, tidak boleh melalaikan kita dari mengingat Allah, kesibukan upaya kita tidak harus menelantarkan hak-hak Allah, karena untuk mengabdi kepada-Nya sajalah kita diciptakan.

Lalu bagaimana ditengah kesibukan yang demikian padat ini kita bisa membagi waktu untuk Allah?

Pertama, luruskan niat dalam segala aktivitas dan kegiatan hanya untuk Allah; Ilahi anta maksudi, waridhaka matlubi, ‘a tini mahabbataka wa makrifataka – Ya Allah hanya Enkaulah yang hamba maksud, ridha-Mu yang hamba harapkan, berilah hamba kemampuan untuk dapat mencintai-Mu dan berMakrifat kepada-Mu”, sehingga segala aktivitas kita insya Allah akan dicatat sebagai sebentuk pengabdian dan ibadah kepada Allah.

Keberangkatan kita kekantor atau ketempat kerja, keberadaan kita dikantor atau ditempat kerja, apa yang kita lakukan, insya Allah semuanya akan bernilai ibadah; Carilahh uang untuk mendapatkan ridha-Nya, dan bukan hanya bekerja untuk mencari uang semata.

Kedua, sertakan Allah dalam setiap aktivitas dan kegiatan kita, kadang menjelang berangkat berdagang seorang pedagang minta rezeki yang halal kepada Allah , tapi ketika sampai dipasar, ia lupa dengan do’anya dan berbohong kepada pembelinya. Kadang kita berangkat kekantor dengan memohon kepada Allah agar dimudahkan kerjaan kita, tapi sampai dikantor, apa yang kita lakukan justru malah mempersulit diri kita sendiri. Allah seolah hanya ada dimasjid dan saat kita shalat, sehingga ketika kita dikantor atau dipasar, seolah-olah Allah tidak melihat amaliah kita atau bahkan kadang seolah-olah Allah tidak ada.

Ketiga, berdzikirlah, baik secara lisan, dzikir qalbu, dzikir fikri, serta dzikir lain untuk mengingatkan kita senantiasa bahwa Allah selalu bersama kita dimanapun kita berada;

4. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian dia bersemayam di atas ´arsy[1453] dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya [1454]. dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Hadiid:4)

[1453] bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.

[1454] yang dimaksud dengan yang naik kepada-Nya antara lain amal-amal dan do´a-do´a hamba.

Kesadaran kita bahwa Allah senantiasa “ada” bersama kita dan melihat apa yang kita kerjakan, akan melahirkan sebuah sifat dan sikap “mawas” pada diri kita, bahwa kita senantiasa dalam pengawasan Allah, bahwa Allah melihat dan mendengar apa yang kita lakukan dan kita katakan.

Orang pintar bukanlah orang yang hanya pandai mencari uang dengan seluruh potensi waktunya semata, orang pintar bukanlah orang yang seperti robot pencetak uang, orang pintar bukanlah orang yang tidak pernah melihat lampu rumah dipadamkan, orang pintar bukanlah orang yang hampir tidak pernah bisa melihat matahari, orang pintar adalah orang selalu punya waktu untuk Allah dan untuk dirinya, sesibuk apapun dia, karena orang pintar menyadari sepenuhnya kewajibannya sebagai seorang abdi bagi Allah semata.

Orang pintar, selain dari potensi yang telah ada pada dirinya, juga memerlukan pengembangan dari potensinya. Sebagus apapun bibit yang ada, ketika tidak disemai ditempat yang layak, tidak disirami dengan kuantitas yang tepat, tidak dipelihara dan dijaga, tidak dipupuk, niscaya bibit unggul itu hanya tinggal cerita.

Pun demikian dengan kita, mungkin kita keturunan orang yang terpelajar, mungkin kita anak ustadz, mungkin kita mempunyai IQ yang tinggi, tapi ketika semua potensi yang ada tersebut ditelantarkan dengan alasan kesibukan cari uang dan aktivitas lainnya, niscaya keunggulan dan potensi yang kita miliki hanya sebatas kebanggaan semu.

Orang pintar adalah orang yang selalu punya waktu untuk dirinya, untuk belajar dan mengembangkan potensi yang dimilikinya, orang pintar selalu membuka mata dan pendengaran dan senantiasa meluangkan waktunya untuk belajar;

“Menuntut ilmu adalah fadhu yang diwajibkan sejak kita dalam buaian, hingga kita diantar keliang lahat”, dan hanya orang pintar sajalah yang mampu menggunakan waktunya untuk menambah wawasan dan ilmunya.


Wassalam

Maret 07, 2007

Wednesday, March 7, 2007

BAHASA HATI

Hati adalah sebuah organ dalam vertebrata, termasuk manusia. Organ ini memainkan peran penting dalam metabolisme dan memiliki beberapa fungsi dalam tubuh termasuk penyimpanan glikogen, sintesis protein plasma, dan penetralan obat. Dia juga memproduksi bile, yang penting dalam pencernaan. Istilah medis yang bersangkutan dengan hati biasanya dimulai dalam hepat- atau hepatik dari kata Yunani untuk hati, hepar.

Hati dalam bahasa Arab adalah Qolb, yang kemudian di-Indonesiakan menjadi kalbu. Ada dua pendapat berkenaan dengan pengertian Qolb. Pertama, Qolb adalah suatu lintasan perasaan pada diri manusia tapi tak berwujud sebuah benda atau anggota tubuh. Ia adalah sesuatu yang abstrak, yang hanya bisa dirasakan.

Kedua, Qolb adalah suatu organ tubuh yang terletak didada manusia sebagai tempat bertarungnya pengaruh kebaikan dan kejahatan. Oleh karena itu Qolb selalu terbolak-balik dan mengharu biru bergejolak. Inilah pendapat yang lebih kuat karena didukung ayat 46 QS. Al Hajj


46. Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

Demikian sekelumit definisi hati, baik secara biologis maupun definisi maknawi.

“Hati adalah cermin tempat dosa dan pahala berlabuh”, demikian syair sebuah lagu, dan pasti definisi “hati sebagai cermin tempat pahala dan dosa berlabuh” berbeda dengan definisi hati secara biologis diatas, ini cenderung mengarah pada pengertian hati secara maknawi, yaitu bisa berupa lintasan perasaan pada diri manusia atau sebuah tempat bertarungnya pengaruh kebaikan dan kejahatan.

Bahasa Hati adalah kata-kata yang terlintas dalam perasaan yang kemudian dituangkan dalam bentuk lisan, tulisan ataupun perbuatan kita, sebagai pengejawantahan dari apa yang tersirat dari dasar hati kita, sehingga jangan heran kalau kemudian ditemukan berbagai “kata hati” yang agak aneh dan asing terdengar ditelinga dan terbaca oleh mata, karena bahasa hati adalah “Bahasa Rasa” yang hanya akan terbaca dengan hati dan perasaan saja.

Kenapa kita harus mengenal “Hati” dan “Bahasa” yang digunakannya?

Cinta adalah bahasa hati, yang tak akan bisa sepenuhya diungkapkan dengan seribu kata cinta, misalnya.

Sayang adalah bahasa hati, yang tak mungkin kiaskan dengan alunan lagu dan musik semerdu apapun iramanya.

Kasih adalah bahasa hati, yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang merasakannya

Khusyu adalah bahasa hati, tidak bisa dibuktikan hanya dengan mengatakan “tadi saya khusyu banget shalat”, bukan, bukan itu.

Ikhlas adalah bahasa hati, kata “saya sih ikhlas”, tak sepenuhnya mewakili bahasa hati tentang keikhlasan itu sendiri.

Taat adalah bahasa hati, mungkin terlihat lewat gerak jasmani, tapi mungkin juga bertolak belakang dengan kata hati kita, hanya Allah dan kita yang tahu.

Keinginan untuk bertaubat, keinginan untuk mengabdi semata kepada Allah, keinginan untuk taat, keinginan untuk berbagi dengan sesama, adalah bahasa hati yang benar, yang dikomandoi dan dituntun oleh fitrah Rabbaniyah kita, dan inilah bahasa hati yang harus kita ikuti.

Sementara ada sisi lain dari hati yang berupa “rasa” dan “bisikan” syetan yang juga dinisbatkan sebagai bahasa hati seperti;

Rasa malas adalah bahasa hati, rasa enggan adalah bahasa hati,rasa iri adalah bahasa hati, Ingkar juga adalah bahasa hati, yang semuanya abstrak dan tidak terlihat secara kasat mata.

Bila tersirat dihati kita keinginan untuk berjudi, bila tersirat dihati kita ingin berzina, bila tersirat dihati kita rasa marah, bila tersirat dihati kita ingin mencela, bila tersirat dihati kita keinginan untuk menghujat, itu juga bahasa hati, bahasa hati yang telah terkontaminasi oleh sifat-sifat Bahimiyah – Sifat kebuasan kita, tercemari oleh sifat Sabaiyah – Sifat kerakusan kita, serta telah terkotori oleh sifat Syaitoniyah kita, rasa dan keinginan yang telah tercampur dengan racun-racun nafsu inilah yang harus kita saring dan kita kendalikan agar tidak menjerumuskan kita.

Syaiton, kata Pak Ustadz, seperti udara yang selalu menempati ruang kosong, seperti ketika perut kita kosong, maka udara atau angin akan segera mengisi ruang kosong diperut kita, maka kita akan kembung dan masuk angin karenanya.

Pun demikian dengan syaiton, ia akan menempati ruang hati yang kosong dari dzikrullah, dan ketika syaitan sudah bersemayam didalam hati kita, maka ia, dengan keangkaramurkaanya akan menjadikan kita sebagai budaknya, ia, akan selalu menyuruh kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah Rabbaniyah kita, ia, akan berusaha menjadi raja dinegeri kegelapan hati kita yang tidak memiliki cahaya ilahiyah, Naudzubilah min dalik.

Kita harus mengenali Bahasa hati kita agar kita selamat dari muslihat syetan yang mendompleng dalam “kata hati”, agar kita selamat dari tipu daya syetan yang mengatas namakan bahasa hati.

Caranya?

Penuhi hati dengan Dzikrullah, setiap saat, setiap detik, bahkan setiap hembusan nafas kita, selalu berdzikir, sehingga syaitan tidak mempunyai ruang untuk mengisi kekosongan hati kita, Insya Allah, ketika kita senantiasa dengan Allah, kita akan terhindar dari bisikan atau bahasa hati yang menyesatkan.

“Siapa yang mengenali hatinya, maka ia akan mengenal siapa dirinya, siapa yang mengenal siapa dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”

Kebesaran Allah, keagungannya, Ilmu-nya, Qudrat dan Iradah-Nya akan sangat jelas terlihat manakala kita berkaca pada diri kita sendiri, Allah sangat dekat dengan kita, hanya kadang kita yang justru menjauhi-Nya.

Allah tidak pernah bosan menerima permohonan kita, tapi kadang kita yang sombong dengan merasa jenuh untuk memohon pada-Nya.

Pintu Magfirah-Nya tidak pernah tertutup untuk kita selama nafas kita masih berhembus, tapi kadang kita yang tidak mau memasukinya.

Rahmat-Nya terbentang luas, sejauh pandangan mata kita, bahkan lebih luas lagi, tapi kadang kita silau oleh keangkuhan kita, sehingga tidak lagi terlihat besar dan banyaknya Rahmat yang terlimpah untuk kita.

Hati yang bersih, hati yang hidup, hati yang selalu berdzikir sajalah yang akan mampu menangkap sinyal-sinyal ilahiyah yang senantiasa terpancar penuh anugerah dan pesona.

Orang yang pandai memaknai Bahasa Hati sajalah yang mampu berdialog dengan dirinya, yang mampu menjadikan hatinya sebagai teman untuk bercengkrama, yang mampu memberdayakan hatinya sebagai sarana untuk menangkap pesan-pesan yang tersaji lewat berbagai peristiwa dan kondisi.


205. Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(7:205)

Siapa nama Tuhanmu? Tentu tak ada ilah lain selain Allah, maka serulah Allah, dengan menyebut nama-Nya yang indah nan Agung…….

103. Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.(4:103)

Kapanpun, dimanapun, baik saat duduk,waktu berdiri atau ketika kita berbaring, Allah, Allah, Allah sajalah yang kita ingat;


152. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (2:153)

[98] Maksudnya: Aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu.

Agar Allah-pun senantiasa mengingat kita, baik ketika kita senang, lebih lagi saat-saat kita menjalani ujian dan cobaan-Nya.

Semoga kita diberi Allah kemampuan untuk dapat memaknai bahasa hati kita, agar kita dapat mengikuti “kretegnya (bahasa Cirebon – gerak hati)” yang benar, dan agar kita bisa terhindar dari bahasa hati palsu yang akan menggelincirkan kita, amiin.

Wassalam

Maret 07, 2007

APA LAGI YANG KITA TUNGGU

Tanggal 26 Desember 2004, bumi serambi mekah, Aceh, luluh lantak dihempaskan oleh gelombang dahsyat dan tsunami, ribuan orang meregang nyawa, ratusan keluarga tercerai berai, anak kehilangan orang tuanya, orang tua meratapi kepergian putra putrinya, harta benda tak berharga lagi, jabatan dan kekuasaan tak berguna lagi, tak ada yang disebut dan diseru ketika itu kecuali Allah, karena hanya itu yang bisa kita lakukan, kembali kepada-Nya dengan berserah diri dan bersandar pada kebesaran-Nya.

Maret 2005, ketika air mata yang tertumpah di nanggroe Aceh Darussalam belum lagi mengering, belum lagi darah yang tercecer dibersihkan, Nias diguncang gempa, lagi, korban jiwa dan harta benda tak terperi terjadi.

Mei 2006, ketika konsentrasi dan pembicaraan kita tentang Nias belum lagi reda, Jogyakarta, kota penuh sejarah dan kenangan, dihancurkan oleh gempa yang tak kalah Dahsyat, lagi, 6000 orang dilaporkan meninggal, dan tak terhitung dengan pasti kerugian materil yang diderita.

Kemarin, 06 Maret 2007, Sumatra Barat dilanda gempa dengan kekuatan 5.8 skala Ritcher, belum diketahui berapa korban jiwa dalam peristiwa tersebut serta berapa kerugian yang diderita disana.

Gempa Aceh, gempa Nias, Gempa Jogja dan sekarang gempa Sumatra, seakan saling berlomba dengan bencana Tanah longsor di NTT, bencana tanah longsor dipandeglang, bencana Banjir di Jakarta dan sekitarnya untuk meluluh lantakan tanah kita yang tercinta, seolah saling berebut dengan berbagai kecelakaan transportasi laut, Tristar tenggelam, menyusul kemudian Senopati dan yang terakhir adalah kapal Levina, untuk mengingatkan kita bahwa kita bukanlah apa-apa, bahwa kita adalah mahluk yang tanpa daya, bahwa kita harus meyakini adalah Yang Maha Kuasa disana.

Lalu setelah serangkaian “pesan” dan “peringatan” dari Allah lewat peristiwa-peristiwa diatas, adakah kita masih menunggu untuk bertobat?

Adakah kita masih bilang “nanti” untuk segera bersujud kepada Allah dan kembali meratas jalan kebenaran yang telah dibentangkan lewat Rasul-Nya.

Apa lagi yang kita tunggu?

Apakah kita masih menunggu serangkaian gempa bumi lagi?
Apakah kita masih menunggu serangkaian tanah longsor lag?
Apakah kita masih menunggu serangkaian kecelakaan lagi?
Apakah kita masih menunggu apa yang menimpa saudara kita kemarin akan menimpa kita, baru kemudian kita baru tersadar dan bergegas untuk bersujud dan memohon kepada Allah?
Sangat boleh jadi tobat kita akan terlambat ketika bencana itu tiba-tiba saja menghampiri kita, sapuan gelombang Tsunami hanya memerlukan beberapa menit saja untuk menghancurkan dan menelan korban jiwa yang ribuan jumlahnya, lalu kapan kita sempat bertobat ketika itu melanda kita?

Sangat boleh jadi penyesalan kita akan tidak lagi berguna, karena gempa hanya memerlukan beberapa detik saja untuk mengakhiri kehidupan kita, lalu kapan lagi kita akan meretasi jalan kebenaran itu?

Mumpung masih ada waktu, mumpung gempa dan tsunami belum menimpa kita, kenapa kita tidak bertobat mulai sekarang? Mulai saat ini? Mulai detik ini?

Mengucapkan Istighfar berapa ribu kalipun tidak dipungut biaya apapun

Bersujud sepanjang malam untuk menyesali dosa dan khilap kitapun tak dipungut uang sepeserpun,

Menangis, menyesali didosa kita sepanjang haripun kita tak perlu biaya apapun,

Jadi Apalagi yang kita tunggu?

Wassalam

Maret 07, 2007

Tuesday, March 6, 2007

URGENSI “CLOSING”

Alhamdulillah, segala puji syukur kepada Allah Swt yang telah menuntun dan memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat menyelesaikan closing bulan maret tepat pada waktunya.

Closing yang hampir tiap akhir dan awal bulan, selalu saja mempunyai cerita tersendiri bagi kita. Kita harus lembur untuk mengejar deadline, data yang belum lengkap, dan masih banyak lagi cerita dan kisah yang mengiringi pekerjaan kita tiap closing, sampai begitu selesai closing, ada yang sakit segala.

Kenapa sih harus ada closing?

Secara inventory, closing berfungsi untuk mengetahui kuantitas dan nilai barang/inventory kita.

Secara marketing, closing berfungsi untuk mengetahui nilai penjualan kita.

Secara Accounting, closing dapat berarti pencatatan, penggolongan dan pengelompokan transaksi keuangan untuk dijadikan laporan untuk pihak-pihak yang berkepentingan, seperi manajemen atau pemegang saham.

Dalam laporan akuntansi dikenal beberapa jenis laporan, Laporan Rugi laba, untuk mengukur tingkat keuntungan yang kita dapat dibanding dengan biaya-biaya yang telah kita korbankan.

Selain itu juga ada laporan harta dan hutang (neraca) serta laporan arus kas.

Kenapa managemen dan pihak lain butuh laporan-laporan tersebut?

Laporan digunakan untuk evaluasi dan bahan pengambilan keputusan-keputusan keuangan.

Jika managemen, pemegang saham dan pihak-pihak lain demikian perlu “catatan kegiatan usahanya”, lalu seberapa pedulikah kita dengan catatan-catatan amaliah kita?

Kita, setiap harus menginvestasikan dan mengorbankan sumberdaya kita;

Pertama, kita mengorbankan dan menginvestasikan (menghabiskan) waktu kita, baik itu untuk ibadah, untuk bekerja, untuk tidur dan untuk berbagai aktivitas lainnya.

Kedua, kita juga menghabiskan energi/tenaga dan pikiran kita juga untuk beribadah, bekerja, tidur dan aktivitas lainnya.

Ketiga kita juga telah mengeluarkan uang dan sumberdaya yang kita miliki untuk aktivitas seperti diatas.

Pernahkah kita mencatat seberapa besar porsi waktu kita, tenaga dan pikiran kita serta uang kita untuk ibadah, untuk bekerja dan untuk aktivitas lainnya?

Kenapa kita harus melakukannya?

Seperti dalam penyusunan laporan keuangan diatas, pencatatan, pengelompokan aktivitas kita, akan sangat membantu kita untuk “menghisab” diri kita, sebelum kita benar-benar dihisab oleh Allah kelak.

“Hisablah dirimu, sebelum Allah menghisabmu”.

Waktu atau usia adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah Rabbulizzati kelak.

“Untuk apa kau habiskan umurmu didunia?”

Apakah kita didunia ini hanya numpang tidur saja?
Apakah kita didunia ini hanya jadi pelengkap penderita saja?
Apakah kita didunia ini hanya jadi objek saja?
Apakah kita didunia ini hanya jadi penonton saja?
Atau kita tidak tahu sama sekali?

Kalau kita punya catatan bagaimana kita menghabiskan waktu/usia kita seperti misalnya;

Pukul 05.30 Pergi kemasjid – Shalat Subuh berjamah
Pukul 06.30 Pergi kekantor
Pukul 07.30 Shalat Sunnah Dhuha

Dan seterusnya, pada suatu titik, ketika kita menemukan ada waktu-waktu yang terbuang dan tersia-sia, unttuk tidur misalnya, kalau normal saja 8 jam kita tidur sehari, kita akan menghabiskan waktu kita 20tahun untuk masa hidup kita yang 60tahun misalnya, atau untuk mengkhayal, berandai-andai, umpama, ibarat,misal, atau kita hanya jadi pemimpi, kita akan segera mengetahui dan memperbaiki penggunaan waktu kita, sehingga kita tidak akan mengalami kerugian dalam laporan rugi/laba kita dari penggunaan waktu kita tersebut.

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Kita, kata Allah, semuanya termasuk orang-orang yang merugi, jika kita hanya menghabiskan waktu kita untuk hal-hal yang melalaikan kita, kita hanya akan menjadi orang-orang beruntung ketika kita benar-benar cermat dan berhitung bagaimana kita menghabiskan waktu, hanya untuk beriman dan beramal shaleh.

Dengan catatan pembukuan amaliah kita yang tertata rapih, kita akan dengan mudah menemukan kejanggalan, dan segera melakukan “adjustment” apabila diperlukan, dan kita akan dengan segera bisa mengambil keputusan-keputusan amaliah mana yang memerlukan investasi dan pengorbanan waktu yang lebih banyak, serta mengurangi pos-pos atau akun-akun (dalam bahasa akuntansi) yang kira-kira kurang menguntungkan atau bahkan akan merugikan kita.

Catatan amaliah kita juga memungkinkan untuk lebih bijak dalam menghabiskan sumber-sumber daya yang kita miliki.

Waktu yang kita habiskan untuk tidur, untuk jalan-jalan, untuk hura-hura, sama saja, 24 jam bilangannya.

Waktu yang tersedia untuk ibadah, tafakur dan beramal shaleh juga 24jam bilangannya.

Bagaimana kita menghabiskan waktu untuk kedua jenis aktivitas diatas, jelas akan berbeda nilainya. Yang satu hanya bernilai sementara dan tidak menguntungkan, semetara aktivitas kedua menjanjikan pahala dan ampunan dan Yang Maha Esa.

Uang kita, akan habis untuk jajan, untuk makan atau untuk foya-foya. Uang kita juga akan habis untuk zakat, sedekah, menafkahi keluarga dan anak yatim. Kedua-duanya sama habisnya secara matermatis, tapi akan sangat berbeda secara “nilai”.

Uang yang kita belanjakan untuk foya-foya hanya menghasilkan lemak yang kemudian kita buang keesokan harinya.

Uang yang kita belanjakan untuk zakat, sedekah, beramal dan menafkahi keluarga serta anak yatim, merupakan investasi yang sangat potensial untuk menghasilkan keuntungan bagi kita, baik sekarang ketika kita didunia, lebih keuntungan diakhirat kelak.

Ada banyak kata “Kataba” dalam al qur’an yang diartikan oleh sebagian ulama “catatlah”. Sebuah perintah untuk mencatat, bukan hanya uang saja yang kita catat, tapi tabungan amal dan pahala kita juga merupakan item yang harus kita “Jurnal” setiap hari.

Jurnal, konon terambil dari bahasa arab “Jaradah” yang artinya catatan harian, kalau uang belanja kita catat, kalau uang transport kita catat, kalau keuntungan usaha kita catat, kalau hal-hal duniawi saja kita catat sedemikian rapih;

Akankah kita lalai untuk mencatat amal shaleh kita?

Sehingga ketika kita diminta pertanggung jawaban dimahkamah akhiret kelak, kita akan tergagap karena ketika kita didunia ini tidak pernah berhitung dan berpikir bagaimana menggunakan sumberdaya kita yang serba terbatas untuk menghasilkan keuntungan (pahala) yang sebesar-besarnya.

Sehingga ketika kita ditanya dari mana uang kita berasal dan kemana uang kita habiskan, kita akan tercengang ketika mendapati catatan amal kita banyak uang dan harta kita yang habis untuk memenuhi nafsu syahwat kita, sementara pos zakat, sedekah, dan jariyah, nyaris tak kebagian porsi.

Sehingga ketika ditanya, dimana umurmu dihabiskan, kita hanya akan tercengang manakala kita mendapati dalam catatan amaliah kita, waktu kita habis untuk maksiat dan berbuat dosa kepada Allah dan kepada manusia, sementara waktu untuk ibadah dan beramal shaleh nyaris tak pernah ada.

Akankah kita begitu? Just think about it!

Ingat, suatu saat dan pasti usia kita pun harus “Closed” dan pada saat itulah kita harus mempertanggungjawabkan transaksi-transaksi amaliah kita, apakah kita termasuk orang beruntung atau sebaliknya, malah kita rugi, karena ketidakmampuan dan kelalaian kita dalam menggunakan sumber daya yang ada.

Wassalam

Maret, 06, 2007

MATA YANG TAK MENANGIS KELAK

Sufyan bin Muhammad Ajlan menerangkan bahwa pada hari kiamat kelak, semua mata akan menangis kecuali tiga mata yang tidak menangis;

1. Mata yang selalu dibuat menangis kepada Allah Swt
2. Mata yang selalu terpejam ketika melintasi hal-hal yang diharamkan oleh Allah
3. Mata yang selalu dibuat jaga malam ketika berjihad menegakan agama Allah Swt

Bagaimana dengan mata kita?

Berdirilah didepan cermin, tatap kedua mata kita, betapa Allah telah menganugerahi kita sepasang mata yang indah, dihiasi dengan alis yang tebal dan lentiknya bulu mata, ada yang kecoklatan, ada yang kebiru-biruan, diletakan dibagian depan muka kita, sungguh indah dan sempurna, karena memang mata, baik posisi dan fungsinya merupakan ciptaan dari yang Maha Indah dan Maha Sempurna.

Lalu pernahkah mata nan indah ini dibuat menangis kepada Allah, ketika kita teringat akan dosa-dosa kita, sejak kita bangun tidur dan terjaga, hingga menjelang malam dan mata ini terpejam.

Pernahkah mata ini menangis manakala kita menyadari betapa kita telah lupa untuk mensyukuri karunia yang tak terhingga ini?

Pernahkah mata ini menangis, karena kita tidak bisa menangis ketika ayat-ayat Allah dibacakan?

Kita pasti pernah menangis, ketika uang kita hilang, ketika keluarga kita meninggal, ketika kehilangan pekerjaan, tapi bukan “hanya” karena itu kita harus menangis, kehilangan dunia, seharusnya tidak membuat kita meratap dan menangis, karena dunia “hanya” senda gurau dan permainan belaka.

Kita harus menangis ketika kita ditimpa kebutaan mata hati, ketulian mata bathin dan kekerasan hati kita, itu seharusnya membuat kita tersungkur sujud, menangis dan memohon kepada Allah dengan penuh rasa takut, harap dan cemas.

Mata yang selalu dibuat menangis karena Allah ketika kita tahajud ditengah keheningan malam, ketika kita tafakur ditengah kegelapan malam, itulah mata yang tak akan menangis diakherat kelak.

Justru mata-mata ini akan memancarkan cahaya kemilau laksana untaian mutiara sebagai balasan tangisnya karena Allah ketika didunia.

Betapa berat ketika kita harus menahan pandangan mata ini dari hal-hal yang dilarang Allah. Disepanjang perjalanan kita, betapa banyak aurat wanita terbuka, menggoda mata nakal ini untuk sedikit menoleh kearahnya.
Betapa disekitar kita, godaan dan rayuan hilir mudik silih berganti seolah mengundang kita untuk melayangkan pandangan yang tak dihalalkan tersebut.

Betapapun berat, jika kita ingin tidak menangis kelak dihari akhir, kita harus memejamkan mata kita ketika kita melihat paha dan dada terbuka, kita harus memejamkan mata ketika aurat mengoda birahi kita, kita harus mampu melakukannya, karena kita adalah raja atas nafsu kita, bukan kita yang justru dikendalikan nafsu kita.

Tahan pandangan mata kita, bukankah perselingkuhan berasal dari pandangan mata yang tak terjaga?

Kita harus rela untuk memejamkan mata kala melihat sesuatu yang diharamkan Allah, karena kita akan mendapatkan balasan yang jauh lebih indah lagi kekal abadi, mata kita tak akan menangis kita hari akhir kelak.

Pernahkah mata kita terjaga untuk berjihad dijalan Allah?

Benar kita kuat begadang semalaman untuk menonton pertandingan bola.
Benar kita juga jaga ronda sambil “iseng” main gaple semalam suntuk
Benar kita kuat melek untuk menghabiskan cerita novel yang menarik
Benar kita kuat tak memejamkan mata untuk memikirkan urusan dunia kita

Tapi pernahkah mata ini kita ajak untuk tahajud semalam suntuk?
Pernahkah mata ini kita ajak begadang untuk mentadaburi Al qur’an?
Pernahkah mata ini diajak begadang untuk meneliti hadits-hadits?
Pernahkah mata ini diajak begadang untuk berjihad dijalan Allah?

Begadanglah karena Allah, dengan melakukan “jihad” dan bersungguh-sungguh belajar al qur’an, bersungguh-sungguh menghidupkan malam dengan tahajud dan amaliah shaleh lainnya.

“Jangan engkau pendekan malam-malammu dengan tidur mu, panjangkan malam-malammu denga bertafakur, berisitighfar dan bertahajud semata karena Allah”

Mata yang selalu dibuat menangis kepada Allah, mata yang selalu terpejam ketika melihat hal-hal yang diharamkan Allah, dan mata yang selalu terjaga untuk berjihad menghidupkan agama Allah, adalah mata yang kelak tidak akan menitikan air mata, manakala mata lainnya berurai menangisi dosa-dosanya selama didunia.

Pilihan kita adalah apakah kita akan menangis sekarang didunia ini dengan menyesali dosa dan khilaf kita, dengan menjaganya dari pandangan “nakal”, serta memakainya untuk berjihad dijalan Allah, kemudian kita tersenyum disurga?

Atau kita sekarang didunia ini lebih banyak tertawa tanpa menyesali dosa-dosa kita, kita menggunakan mata sesuai keinginan nafsu hewani kita, serta begadang untuk memuaskan mata lahiriah semata untuk kemudian kita menangis tersedu dineraka?

Kalau bisa kesurga, kenapa kita pilih neraka?

Wassalam

Maret, 06, 2007

Friday, March 2, 2007

JADILAH ORANG “ANEH”

“Dunia memang aneh”, Guman Pak Ustadz

“Apanya yang aneh Pak?” Tanya Penulis yang fakir ini.

“Tidakkah antum perhatikan disekeliling antum, bahwa dunia menjadi terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan, sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku menyimpang dan kurang ajar malah menjadi pemandangan biasa”

“Coba antum rasakan sendiri, nanti Maghrib, antum kemasjid, kenakan pakaian yang paling bagus yang antum miliki, pakai minyak wangi, pakai sorban, lalu antum berjalan kemari, nanti antum ceritakan apa yang antum alami” Kata Pak Ustadz.

Tanpa banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak Ustadz, menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan pakaian dan wewangian dan berjalan menuju masjid yang berjarak sekitar 800m dari rumah.

Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan seorang ibu muda yang sedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya.

“Aduh, tumben nih rapih banget, kayak pak ustadz, mau kemana sih? Tanya ibu muda itu.

Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami saling kenal, tapi ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz diatas, menjadi sesuatu yang lain rasanya;

“Kenapa orang yang hendak pergi kemasjid dengan pakaian rapih dan memang semestinya seperti itu ditumbenin?

Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan ngasih makan anaknya ditengah jalan, ditengah kumandang adzan maghrib menjadi biasa-biasa saja?

Kenapa orang kemasjid dianggap aneh?

Orang yang pergi kemasjid akan terasa “aneh” ketika orang-orang lain justru tengah asik nonton sinetron “intan”.

Orang kemasjid akan terasa “aneh” ketika melalui kerumunan orang-orang yang sedang ngobrol dipinggir jalan dengan suara lantang seolah meningkahi suara panggilan adzan.

Orang kemasjid terasa “aneh” ketika orang lebih sibuk mencuci motor dan mobilnya yang kotor kehujanan.

Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya tersenyum, “Kamu akan banyak menjumpai “keanehan-keanehan” lain disekitarmu”, kata Pak Ustadz.

“Keanehan-keanehan” disekitar kita?

Cobalah ketika kita datang kekantor, kita lakukan shalat sunah dhuha, pasti akan nampak “aneh” ditengah orang-orang yang sibuk sarapan, baca koran dan ngobrol.

Cobalah kita shalat dhuhur atau Ashar tepat waktu, akan terasa “aneh”, karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh ditengah-tengah sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat diakhir waktu.

Cobalah berdzikir atau tadabur al qur’an ba’da shalat, akan terasa aneh ditengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau sebelum shalat. Dan makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan agar tidurnya tidak silau dan nyaman. Fungsi utama masjid/musholla sebagai tempat shalat telah bergeser menjadi tempat tidur sebagai fungsi utamanya. Orang yang mau shalat malah serasa menumpang ditempat orang tidur, bukan malah sebaliknya, yang tidur itu justru menumpang ditempat shalat. Aneh bukan?

Cobalah hari ini shalat jum’at lebih awal, akan terasa aneh, karena masjid masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah kedua menjelang selesai.

Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi nasehat, akan terasa aneh ditengah-tengah kiriman e-mail yang berisi humor, plesetan, asal nimbrung, atau sekedar gue, elu, gue, elu dan test..test, test saja.

Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat atau hadits, atau ayat al qur’an, pasti akan terasa aneh ditengah orang-orang yang membaca artikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita hot atau lainnya.

Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi sekali lagi jangan takut menjadi orang “aneh” selama keanehan kita sesuai dengan tuntunan syari’at dan tata nilai serta norma yang benar.

Jangan takut “ditumbenin” ketika kita pergi kemasjid, dengan pakaian rapih, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al qur’an

31. Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid[534], makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[535]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al A’raf:31)

[534] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka'bah atau ibadat-ibadat yang lain.
[535] Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.

Jangan takut dikatakan “sok alim” ketika kita lakukan shalat dhuha dikantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-ngidul tak karuan.

Jangan takut dikatakan “Sok Rajin” ketika kita shalat tepat pada waktunya, karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya terhadap orang-orang beriman.

103. Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Annisaa:103)

Jangan takut untuk shalat jum’at dishaf terdepan, karena perintahnya pun bersegeralah.....

9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1475]. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. (Al Jumu’ah:9)

[1475] Maksudnya: apabila imam Telah naik mimbar dan muazzin Telah azan di hari Jum'at, Maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muazzin itu dan meninggalakan semua pekerjaannya.

Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat al qur’an, karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk saling menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaran adalah sebaik-baik perkataan;

33. Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Fusshilat:33)

Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah Allah menciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali seru, sekali kirim artikel lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan, habis donk ladang amal kita....

Kalau yang kirim e-mail humor saja, gue/elu saja, test-test saja bisa kirim e-mail setiap hari, kenapa kita mesti risih dan harus berpikir ratusan atau bahkan ribuan kali untuk saling memberi nasehat, aneh nggak sih?

Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, sok tahu, lha wong itu yang disuruh kok, “sampaikan dariku walau satu ayat”

Jangan takut baca e-mail dari siapapun, selama e-mail itu berisi kebenaran dan bertujuan untuk kebaikan. Kita tidak harus baca e-mail dari orang-orang terkenal, e-mail dari manajer atau dari siapapun kalau isinya sekedar dan ala kadarnya saja, atau dari e-mail yang isinya asal kirim saja.

Mutiara akan tetap jadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Pun sampah tidak akan pernah menjadi emas, meskipun berasal dari tempat yang mewah sekalipun.

Lakukan “keanehan-keanehan” yang dituntun manhaj dan syari’at yang benar.

Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna, meskipun itu akan serasa aneh ditengah orang-orang yang berbikini dan ber-U can see.

Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur’an & Hadist), meskipun akan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak bermoral.

Lagian kenapa kita harus takut disebut “orang aneh” atau “manusia langka” jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru yang akan menyelamatkan kita?.

Selamat jadi orang aneh yang bersyari’at dan bermanhaj yang benar.,

Wassalam

Maret 02, 2007.

Wednesday, February 28, 2007

KATAK DALAM TEMPURUNG

Bagai katak dalam tempurung, itulah sebuah ungkapan atau peribahasa untuk menggambarkan bagaimana kondisi seseorang yang terjebak dalam sebuah kondisi yang tidak memungkin dia untuk melihat dunia luar. Katak yang dalam tempurung hanya tahu tentang tempurungnya saja, tempat dimana dia tinggal, dia tidak tahu bahwa diluar sana dunia terbentang luas lagi ramai. Katak dalam tempurung merasa bahwa ia-lah yang “paling”, katak itu merasa paling pintar, paling tahu, paling berkuasa dan paling-paling lainnya.

Seorang teman pernah mengatakan “ Saya dipesantren 8 tahun, tapi setelah itu, saya seperti orang gagap menghadapi dunia dan kehidupan diluar pesantren, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan ilmu yang saya dapat dipesantren”.

Hal ini dimungkinkan terjadi karena adanya dikotomi dan kesalahan dalam pemahaman masalah “ilmu”, seolah-seolah ilmu yang harus dipelajari adalah ilmu syari’at saja, ilmu fiqh saja, atau bahasa arab saja, atau ilmu akhirat saja, sementara ilmu fisika, kimia, matematika, akuntansi dan cabang ilmu “duniawi” tidak diperlukan.

Ketika terjadi dikotomi semacam ini yang terjadi kemudian adalah adanya kesenjangan, dia pintar ngaji dan rajin shalat, sementara perutnya lapar, dapurnya tidak ngebul, sehingga pada titik tertentu akan terjadi sebuah ungkapan yang sungguh sangat-sangat salah “ Buat apa saya ngaji dan rajin shalat, toh saya tetap miskin?”

Bukan ngaji-nya yang salah, bukan shalatnya yang tidak benar, tapi ia yang tidak pandai memaknai ilmu, ia tidak pandai memaknai bahwa dunia adalah jembatan menuju akhirat, bahwa dunia adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dengan akhirat, bahwa kehidupan kita dikahirat kelak juga ditentukan kehidupan kita didunia sekarang, ia bagai katak dalam tempurung.

“Kalau kamu ingin akhirat, maka harus pakai ilmu, kalau kamu ingin dunia, harus pakai ilmu, kalau kamu ingin kedua-duanya, pakai ilmu.

Untuk mengejar negeri akhirat, tentu kita harus belajar ilmu tauhid, ilmu syari’at, ilmu fiqh dan ilmu agama lainnya.

Untuk mengejar dunia, kita tentu harus pandai berhitung dengan belajar matematika dan akuntansi, tentu kita harus pandai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mempelajari ilmunya.

Ketika ilmu agama kita punya, ilmu dunia kita mumpuni, maka itulah orang yang bahagia, didunia dan diakhirat kelak, insya Allah.

77. Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(al Qasash:77)

Kita, kata Allah, mempunyai bagian untuk menikmati dunia, jadi kenapa kita harus meninggalkanya?

Seorang ulama pernah berkata “ Pada saat kapan kamu beribadah”

“Pada saat saya hidup didunia” Jawab muridnya

“Pada saat hidup yang bagaimana kamu beribadah”

“Pada saat saya sehat” Jawab muridnya

“Bagaimana agar kamu sehat”

“Salah satunya dengan menjaga makanan yang bersih dan baik” Jawabnya lagi.

“Dengan apa kamu mendapatkan makanan yang baik”

“Dengan membelinya dengan uang” Jawabnya.

“Jadi kenapa kamu harus berhenti mencari uang, sementara dengan uang itu kamu bisa membeli makanan untuk menjaga kesehatanmu, dan dengan sehatmu kamu bisa beribadah dengan baik kepada Allah? Papar sang guru.

“Jadi kenapa kamu harus berhenti mencari ilmu dunia (Iptek), jika dengan ilmu itu kamu bisa menghasilkan uang? Tanya sang guru

Shalat, kita perlu pakaian yang layak lagi bersih, bahkan Allah menyuruh kita mengenakan pakaian terbaik yang kita miliki saat kita ke masjid;


31. Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid[534], makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[535]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.(Al A'raf:31)

Untuk bisa mengenakan pakaian yang indah setiap kemasjid, makan dan minum dengan layak dan memenuhi syarat kecukupan gizi, kita perlu ilmu untuk mendapatkan uang dan membeli keperluan hidup kita.

Zakat, juga memerlukan uang, sedekah juga merupakan aktivitas yang memerlukan uang, “Tangan diatas, lebih mulia dari pada tangan dibawah”

Pergi ketanah suci untuk menunaikan rukun Islam kelima, juga memerlukan uang yang tidak sedikit, sehingga secara simbolik Allah menggambarkan dalam surat Quraisy;

1. Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas[1602].
3. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah Ini (Ka'bah).
4. Yang Telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.

Ada isyarat bahwa Berpergian pada musim dingin dan panas (Berdagang) dulu, kemudian Menyembah Tuhan (Beribadah).

Yang tidak boleh adalah menempatkan uang, harta dan dunia sebagai tujuan, karena tujuan kita adalah ridha Allah dan kampung akhirat kelak. Seperti artikel terdahulu “Dunia, kelereng didepan mata” itu yang tidak boleh, tempatkan dunia pada proporsi yang benar.

Ada banyak kasus orang yang mempunyai potensi ilmu agama yang sangat bagus, harus banting stir atau terjebak pada kubangan yang menenggelamkan mereka, karena urusan perut.

Pun sebaliknya, ada banyak sarjana yang secara intelektual sangat pandai, tapi ketika kepandaian dan kepintarannya itu tidak diimbnagi dengan pengetahuan dan pemahaman ilmu syari’at dan pengetahuan agama yang benar, mereka terjebak seperti robot yang hanya mentuhankan akal.

Berapa banyak orang pinter keblinger, berapa banyak orang jenius secara intelektual menjadi bangkai berjalan, karena tidak diimbangi dengan pengetahuan syari’at yang memadai.

Sudah banyak kasus dan contoh bagaimana orang-orang yang timpang ilmu pengetahuannya, hanya pinter iptek saja, menjadi monster-monster penghancur umat dan kehidupan itu sendiri.

Mereka menciptakan bom atom, nuklir dan senjata pemusnah massal dengan ilmunya, mereka lupa tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemakmur bumi, bukan malah menghancurkannya.

Berapa banyak orang pinter yang “minteri” orang lain, “minteri” hukum dan undang-undang hanya untuk kepentingannya sendiri.

Sebagai muslim, kita harus kuat secara syari’at dan juga harus tangguh dengan ilmu dan teknologi yang memadai.

Bahkan seorang guru kimia penulis pernah mengatakan bahwa semakin kita tahu ilmu kimia (keduniaan), semakin kita menyadari ada “sesuatu” yang maha, yang tak terjangkau oleh kemampuan akal dan otak kita, yaitu Allah (Ilmu Tauhid).

Pun demikian dengan ilmu komputer, semakin kita mengetahui bagaimana tulisan ini sampai dihadapan anda dengan cara yang “ghaib”, karena penulis tak pernah mengantar tulisan ini kemeja anda, tapi toh anda bisa baca persis seperti yang ada dihadapan penulis sekarang, juga seharusnya mengantarkan kita pada pemahaman bahwa memang ada sesuatu yang tidak terlihat oleh mata lahiriah kita, tapi demikian nyata, senyata tulisan ini.

Mari kita bekali diri dan keluarga ita dengan Iptek dan Ilmu Syari’at, agar tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Amiin.

Wassalam

February 28, 2007

Tuesday, February 27, 2007

Jangan buat masalah jadi problem

Hidup adalah masalah, ya hidup adalah serangkaian permasalahan yang harus mampu dilalui oleh orang-orang yang mau hidup.

Setiap mahluk dikarunia Allah kemampuan untuk bertahan hidup ditengah lingkungannya, survival behaviour namanya. Beruang kutub dikarunia Allah kemampuan untuk hidup ditengah balutan rasa dingin yang sangat extrim, end toh mereka mampu bertahan hidup disana. Unta mampu hidup ditengah panas dan tandusnya gurun pasir, unta dikarunia Allah kemampuan untuk mencerna tanaman yang keras dan bahkan bebatuan sebagai alat untuk mempertahankan hidupnya.

Selain alat dan sarana yang memang disediakan Allah kepada setiap mahluk untuk bertahan hidup, seperti bulu yang tebal pada beruang kutub, kaki yang tahan panas pada unta dan lainnya, kemampuan bertahan hidup juga sangat dipengaruhi oleh perilaku mahluk-mahluk itu sendiri.

Manusia, sebagai makluk yang dikarunia Allah kemampuan untuk bertahan hidup dengan organ tubuh dan akal serta perilaku manusia itu sendiri. Manusia yang mampu mengubah masalah menjadi sesuatu yang bermanfaat saja yang mampu bertahan hidup, baik dalam arti hidup secara biologis seperti tumbuh, bergerak dan berkembang biak, maupun hidup dalam arti yang lain.

Sebaliknya, manusia yang mempuyai perilaku untuk selalu menjadikan masalah menjadi problem, menjadikan masalah sebagai sesuatu yang ditakuti, menyeramkan dan harus dihindari, akan cenderung untuk sulit dapat bertahan hidup.

Apa saja permasalahan hidup yang harus kita hadapi?

Pertama bagaimana memanfaatkan terbatasnya waktu (usia) – dibandingkan dengan umat Nabi Nuh as yang dikarunia Allah usia yang panjang, konon usia Nabi Nuh As mencapai 900 tahun, atau Nabi Ibrahim yang dikarunia Allah usia yang panjang, kita, umat Nabi Muhammad Saw dikarunia Allah usia yang relatif lebih pendek, yaitu sekitar 60~70 tahun. “Permasalahan” pendeknya usia atau masa hidup kita hendaknya tidak menjadikan kita “iri” kepada umat-umat sebelum kita, justru kita ditantang Allah untuk bagaimana memanfaatkan masa hidup kita yang relatif singkat ini, sehingga mampu menghasilkan tabungan amal yang setara dengan mereka yang dikaruniai Allah usia yang panjang.

Apa dan bagaimana kita mengatasi masalah pendek usia untuk menghasilkan bekal akhirat yang sebanyak-banyaknya?

Allah menyediakan fasilitas berupa waktu dan amaliah tertentu yang nilainya insya Allah menyamai pahala orang-orang yang dikarunia Allah umur panjang.
Kita dikarunia Allah Bulan Ramadhan,bulan suci dimana pahala amaliah dan ibadah kita dinilai dengan kadar tertentu, lebih dari amaliah dan ibadah yang dilakukan pada waktu atau bulan-bulan selain ramadhan.

Kita juga dikarunia Allah malam Qadr, atau lebih dikenal dengan Lailatul Qadr, malam kemulian yang nilai atau kadarnya sama dengan seribu bulan atau setara dengan 83 tahun. Kalau kita mampu memanfaatkan malam qadr dengan amaliah yang diridhai Allah selama sepuluh tahun saja dari masa hidup kita, maka nilainya hampir sama dengan amaliah yang dikerjakan oleh umat Nabi Nuh as yakni 830 tahun.

Orang yang pandai memanfaatkan “masalah” dan mampu mengubahnya menjadi sebuah keuntungan yang sangat banyak, dialah orang yang beruntung.

Sebaliknya orang yang menjadi masalah umur yang pendek menjadi problem hidupnya, dengan mengeluh, panjang angan dan banyak bermimpi konyol, akan terpinggir kepojok-pojok kehidupan yang gelap lagi menghinakan.

Kedua bagaimana memanfaatkan terbatasnya sumber daya, keterbatasan kemampuan, keterbatasan biologis, keterbatasan fisik dan lainnya – Kita, sekali lagi dikarunia Allah kemampuan yang serba terbatas. Kemampuan ilmu kita terbatas, kemampuan fisik kita juga tidak sebesar dan segagah umat-umat dahulu yang konon bisa mencapai ketinggian 90m. Tapi manusia bijak adalah manusia yang mampu mengelola kondisinya yang serba terbatas itu menjadi sesuatu yang “menantang” untuk dicarikan solusinya.

Mereka, orang-orang bijak, akan lebih banyak menggunakan akal dan pikirannya ketimbang kekuatan fisiknya. Mereka akan menggunakan akal dan pikirannya untuk mencari nafkah, mereka akan menggunakan akal dan fikirannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bukan sekedar menggunakan kekuatan otot dan fisik semata, karena mereka, orang-orang bijak itu menyadari sepenuhnya masalah keterbatasan fisiknya, dan tidak menjadikan itu sebagai problem.

Sebaliknya, orang-orang yang kurang pandai, banyak menggunakan otot dan kekuatan fisiknya, petantang-petenteng jadi preman kampung, jadi jagoan neon, jadi centeng dan tukang pukul, itu semua bukan cara cerdas untuk mengatasi masalah, justru pada kondisi tertentu, jadi preman malah menjadikan masalah kedalam problem yang lebih dalam.

Selain masalah fisik, keterbatasan sumber daya alam juga merupakan sebuah masalah yang harus dituntaskan bagi mereka yang ingin hidup. Keterbatasam minyak bumi, keterbatasan logam dan keterbatasan lain, juga harus dicermati sehingga tidak menjadi problem dikemudian hari.

Kapal terbang, kapal laut, kereta api dan mobil adalah jawaban atas permasalahan-permasalahan atas jauhnya jarah dan wilayah. Orang-orang bijak, para penemu angkutan tersebut adalah orang yang mampu mengelola masalah menjadi sesuatu yang justru menjadikan mereka orang-orang yang mampu mengabadikan namanya dipanggung sejarah kehidupan.

Lalu bagaimana kita mengatasi masalah keterbatasan ilmu pengetahuan kita? Allah telah menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, saling bertukar ilmu pengetahuan, saling bertanya, saling memberi nasehat, saling berbagi, saling bergandeng tangan untuk secara bersama-sama mengatasi keterbatasan yang ada.

Keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang adalah merupakan sebuah fitrah, yang dengan keterbatasan itu, seseorang menjadi membutuhkan orang lain. Tidak ada satu manusiapun yang memiliki kemampuan sempurna, pasti dia memerlukan orang lain, dan dengan interaksi itu kehidupan menjadi bergulir dan berjalan seperti sekarang.

Selalu ada masalah, baik itu keterbatasan waktu, ruang, uang, sumberdaya dan ilmu pengetahuan, masalah akan datang silih berganti sepanjang perjalanan dan usia dunia masih berjalan dan bergulir.

Kesimpulanya adalah bahwa orang bijak akan mengatasi masalahnya bukan dengan masalah, tapi dengan solusi dan orang yang akan bertahan hidup adalah orang yang mampu memecahkan masalah, bukan orang yang senantiasa lari dari masalah.

Wassalam

Februari 27, 2007

PESANTREN

Pesantren atau pe-santri-an, adalah tempat para santri menimba ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya. Peran dan fungsi pesantren dalam peri kehidupan kebangsaan dan keberagamaan di Indonesia sudah sangat dikenal luas dan diakui. Mulai dari peran merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, peran pesantren dalam membina dan melahirkan kader-kader politisi Islam, kader-kader pemerintahan serta masih banyak peran serta pesantren dan santrinya dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat Indonesia.

Santri, konon terambil dari asal kata inSan (manusia, dalam bahasa arab), dan Tri, yang berarti Tiga, yang secara bebas kemudian diterjemahkan bahwa pesantren adalah tempat mendidik manusia/insan atau santri untuk dapat berinteraksi dengan tiga hal; pertama berinteraksi dengan Allah (Habluminallah), hubungannya dengan sesama manusia (Habluminannas) serta hubungannya dengan Lingkungannya, sehingga pesantren secara umum berfungsi untuk mencetak manusia-manusia yang mampu ber-habluminnallah, ber-habluminnannas dan ber-hablu dengan lingkungannya.

Ditengah peng-diskreditan peran dan fungsi pesantren yang disponsori para kafir Barat, peran pesantren “agak sedikit melambat” belakangan ini. Bahkan dalam beberapa kondisi, pesantren seakan-akan menjadi sindrom, bahwa dipesantren-lah dididik para teroris untuk menebar kekacauan dan teror, sehingga yang muncul kepermukaan adalah sebuah bentuk “ketakutan” bagi sebagian orang terhadap pesantren, sehingga mereka beramai-ramai memproteksi diri dan anak-anaknya untuk tidak berhubungan dengan yang berbau-bau pesantren.

Sebuah ironi, sebuah keberhasilan tipu daya setan, sebuah propaganda jahat yang harus segera dicounter untuk mengembalikan citra pesantren sebagai lembaga atau wadah yang justru akan menghasilkan santri-santri yang akan menebarkan keharmonisan ditengah umat dan lingkungan.

Kita tak perlu terlalu merasa cemas ketika seorang lurah pensiun, karena pasti sudah banyak yang antri untuk menggantikannya. Kalau camat mengundurkan diri dari jabatannya, kitapun tak perlu ragu, karena dalam hitungan hari posisinya akan segera terisi. Kitapun tak perlu khawatir jika ada bupati, gubernur atau bahkan seorang presiden sekalipun yang berhenti dari jabatan publiknya, karena serentetan penggantinya siap menduduki posisi yang mereka tinggalkan.

Pun kita tak akan pernah kehabisan stock sarjana dalam berbagai disiplin ilmu. Setiap tahun ratusan bahkan mungkin ribuan sarjana baru diwisuda.

Tapi rasanya kita perlu khawatir jika ada seorang kyai atau ulama meninggal, atau berhenti berdakwah, karena belum tentu akan lahir kyai atau ulama dengan kualitas yang setara ilmunya dalam kurun waktu 10 tahun atau 20 tahun yang akan datang.

Kita rasanya perlu cemas, jika ada ulama dan kyai yang mengundurkan diri dari panggung dakwah, karena kita masih dan akan senantiasa membutuhkan mereka.

Lalu apakah kita akan membiarkan terjadi status quo, kekosongan teladan umat? Apakah kita akan membiarkan umat kebingungan tanpa ada ulama ditengah-tengah mereka? Apa yang akan terjadi? Kalau dengan ulama ditengah-tengah mereka saja, masih banyak umat yang merasa bingung, konon lagi jika mereka dibiarkan sendirian tanpa suluh dan ilmunya ulama.

Jika ditengah gencarnya propaganda barat yang mendiskreditkan pesantren dan aktivitasnya kita diam saja, jangan heran jika dalam 10 atau 20 tahun yang akan datang, pesantren hanya akan tinggal cerita dan kenangan, bahwa dulu disini, dipesantren ini Kyai A pernah menuntut ilmu, bahwa ustadz B pernah belajar, jangan, jangan sampai terjadi, Naudzubillah.

Lalu apa upaya kita untuk mengembalikan citra positif pesantren sebagai Kawah candradimuka ulama dan kyai yang akan menjadi teladan umat?

Kalau kita tidak bisa secara langsung terjun kedalam pesantren, minimal kita jangan ikut terprovokasi untuk ikut-ikutan menjauhi pesantren, atau jangan ikut-ikutan menyebarkan cerita seram tentang pesantren.

Justru sebaliknya, kita harus membantu membangun citra pesantren dengan segenap kemampuan kita. Berkaca pada definisi pesantren diatas, kita mungkin bisa membangun “pesantren” pada lingkungan keluarga kita. Bagaimana kita mendidik anak kita untuk bisa menjadi santri, manusia yang mampu berhubungan dengan Khaliqnya, anak yang mampu membangun hubungan horizontal dengan sesamanya, dan membina anak untuk mampu berinteraksi dengan lingkungannya dengan harmonis.

Umat masih sangat membutuhkan banyak kader ulama dan kyai yang mampu menjadi penerang jalan bagi orang-orang yang tengah dilanda kegelapan, umat masih membutuhkan banyak ustadz yang mampu memberi nasehat dan teladan ditengah-tengah kebingungan, umat masih memerlukan anda, memerlukan kita sebagai bagian dari umat itu sendiri untuk bersama-sama menjadi umat yang terbaik, umat yang diridhai Allah swt.

Tanggung jawab memberikan pengajaran, pendidikan, penerangan dan teladan kepada umat bukan hanya dipundak para kyai, para ulama dan para ustadz saja, tapi kita juga memikul tanggung jawab yang sama sesuai dengan kadar kemampuan kita untuk menjadikan umat ini kembali kepada jalur kemuliaanya.

Mari kita belajar menjadi Santri, menjadi manusia yang mampu berhabluminallah, berhabluminannass, dan berinteraksi dengan lingkungan secara harmonis. Kalau kita tidak punya waktu untuk belajar dipesantren-pesantren, kenapa kita tidak menjadikan tempat kerja dan kantor kita sebagai pesantren?

Bukankah dikantor juga kita bisa tetap berhubungan dengan Allah melalui dzikir, baik itu dzikir qalbu, dzikir lisan, dzikir fikri dan dzikir amal? Ada Pesantren Virtual, ada IslamdotNet, ada Pesantren Sidogiri Online dan masih banyak fasilitas yang bisa kita gunakan untuk belajar, tinggal kemauan kita saja yang harus senantiasa ditingkatkan.

Bukankah dikantor juga kita bisa berlatih untuk membina hubungan yang harmonis dengan teman, rekan atasan, bawahan dan relasi kita? Bukankah kita bisa berlatih untuk saling mengerti dan menghargai satu sama lain? Bukankah kita bisa melatih sikap sabar kita manakala ada perbedaan antara kita? Bukankah kita bisa saling menasehati dalam kesabaran dan kebenaran? Dan masih banyak lagi yang bisa kita pelajari untuk menjadi Santri yang mumpuni dari lingkungan disekitar kita.

Bukankan ditempat kerja kita juga bisa belajar untuk saling berbagi dengan lingkungan kita? Bagaimana kita menjaga kualitas udara kita untuk tidak tercemar, bagaimana kita menggunakan sumber daya air, energi dan sebagainya.

Jika setiap kita “Nyantri” tiap hari dilingkungan kita, insya Allah kita tidak akan kekurangan manusia berkualitas yang akan mampu membawa diri, keluarga dan lingkungannya tetap dalam trek yang benar untuk menjadi Khoiru-umat, Amiin.

Wassalam

Februari 27, 2007

Dari karibku, Pak Sugiyarto

Pagi ini, selasa tanggal 14 Nopember 2006, secara guyon saya nanya kepada seorang karib dikantor ini, beliau adalah seorang staff di HRD;

“Pak, boleh nggak saya masuknya satu minggu satu hari saja” tanya saya

Beliau balik bertanya “Memangnya kenapa?”

“Saya kan bisa mengerjakan pekerjaan saya dirumah pak” Jawab saya.

” Iya, tapi kan kehadiran itu wajib, lagi pula kan kita dibayar uang kehadiran dan uang makan setiap kali kita hadir dikantor”. Jawab sang teman dengan bijaksana.

Obrolan sederhana diatas membuka sebuah cakrawala baru bagi saya untuk hal-hal berikut;

- Kehadiran itu wajib
- Kita dapat imbalan untuk setiap kehadiran kita

Lalu bagaimana dengan shalat kita, mungkin benar kita bisa melaksanakan shalat dirumah sendiri karena kita fasih baca Fatehah, mungkin juga kita sudah merasa bisa melaksanakan shalat dengan benar dan lain sebagainya, tapi seperti yang dikatakan oleh karib saya, bahwa setiap kehadiran kita akan mendapat imbalan. Sebuah (hadits??) mengatakan bahwa langkah kita menuju kemasjid sudah dihitung sebagai ibadah, diam (i’tikaf) kita dimasjid juga merupakan ibadah yang insya allah mendapat balasan dari Allah, belum lagi nilai berjamaah kita dan lain sebagainya.

Bagaimana misalnya jika kita hanya ke masjid hanya untuk Shalat Jum’at yang satu minggu sekali? Apakah karyawan yang baik itu karyawan hanya sekali hadir meskipun ia dapat melakukan shalat dengan baik dirumah..akan halnya seorang abdi Allah yang hanya seminggu sekali ke masjid?.

Ada beberapa nilai yang mungkin dapat kita ambil dengan shalat berjamaah dimasjid;
a. Dengan ke masjid, insya allah kita telah menghargai dan mengagungkan yang memerintahkannya, yaitu Allah Swt
b. Masjid, juga diisyaratkan sebagai tujuan perjalanan kita, sebagaimana dalam kisah perjalanan isra’ mi’raj Nabi, dari Masjidil Haram ke Masjidl Aqsa, dari masjid ke masjid
c. Nilai-nilai silaturahim dan ukhuwah
d. Dalam shalat berjamaah terkandung nilai-nilai yang sangat luhur, diantaranya;
o Cara mengatur shaff/barisan, hal ini mencerminkan pentingnya persatuan dan kesatuan umat. Semua kita maklum, bahwa persatuan dan kesatuan umat adalah faktor penting dalam mencapai kejayaan agama dan beragaman

o Niat berjamaah adalah simbol keseiringan tujuan dan visi. Ketika kita shalat berjamaah kita harus niat berjamaah untuk shalat yang sama, yang artinya menyamakan tujuan dan visi, dan kesamaan visi ini lebih bernilai daripada sekedar mencari misi yang singkat atau malah kepanjangan.


o Iftitah, makna yang terkandung dalam doa iftitah adalah pennagkuan seorang hamba atas tuhannya

o Ruku adalah simbol keadilan dan meredam ego, yakni kerelaan kita (jamaah) untuk berada dipantat/dibelakang orang lain. Siapapun dia, presiden sekalipun, dia harus rela berada dibelakang orang lain (Imam)


o I’tidal – Rasa tanggung jawab, setelah kita disadarkan pada posisi kita (pada gerakan ruku), dimana kita harus melepaskan status sosial kita, kita dikembalikan pada posisi tegak yang mengandung makna kontinuitas, sebagaimana perintah shalat menggunakan “aqim” yang terambil dari kata “qama ya qumu” yang menyiratkan shalat harus dilakukan secara kontinue, dan kontinuitas sangat bergantung pada tanggung jawab.

o Sujud – Merakyat, sujud mengingatkan kita untuk rendah hati dan mengingat fitrah kehidupan kita yang berasal dari tanah, dengan begitu seseorang akan terhindar dari sifat sombong dan takabur.

Karburator yang banjir

Atas kebaikan seorang teman, pada tanggal 03 November 2006 yang lalu, saya menumpang mobilnya menuju kekantor. Perjalanan kami lalui dengan lancar, hingga tiba-tiba tepat dipersimpangan Daido, mobil kijang yang saya tumpangi mogok. Setelah beberapa kali distarter tidak bisa, mobil pun kami dorong ke pinggir agar tidak menggangu perjalanan pengguna jalan yang lain. Kami mencoba memeriksa penyebab mogoknya mobil tersebut, dan ternyata Karburator mobil tersebut banjir yang diakibatkan oleh tidak berfungsinya pelampung karburator dan tekanan dari tabung bensin yang berlebih akibat ventilasinya yang tersumbat.

Ditengah terik matahari yang mulai meninggi, saya berfikir kenapa mobil tersebut harus mogok ketika bensin yang masuk kedalam karburator berlebih, bukankah bensin adalah kebutuhan pokok mobil agar bisa berjalan...logikanya dengan supply bensin yang lebih banyak mobil dapat bergerak dengan cepat dan bertambah kuat, tetapi tidak, mobil hanya bisa berjalan normal ketika semua komponen berfungsi baik da supply bensin yang “tepat”, bukan berlebih.

Saya kemudian menganalogikan bahwa mobil itu adalah kita, manusia, dan bensin itu adalah rezeki yang kita cari mati-matian. Kemudian ventilasi tabung bensin yang tersumbat itu adalah sifat kikir kita yang tidak mau mengeluarkan zakat/sedekah. Apa yang akan terjadi?.

Uang, rezeki atau apalah namanya yang kita cari siang malam, banting tulang, peras keringat adalah ibarat bensin bagi kehidupan kita. Kita bisa bergerak melakukan berbagai aktivitas dan kesenangan kita dengan uang tersebut. Tapi ketika uang kita berlimpah, sementara kita tidak mengeluarkannya dengan porsi yang benar, kita ibarat karburator yang kelebihan pasokan, yang pada akhirnya, uang kita yang berlimpah tersebut tidak memberikan manfaat kepada kita, malah sebaliknya akan menjadikan mobil kehidupan kita “mogok”, bahkan mungkin terbakar dan meledak.

Secara fitrah, jika ada masukan, maka harus ada yang keluar. Bayangkan jika kita makan kemudian tidak dikeluarkan secara benar dan berkala, renungkan jika vas bunga kita tidak mempunyai lubang dibawahnya untuk mengeluarkan air, tanaman diatasnya tidak menjadi subur karena air yang tidak mengalir, malah jadi busuk karenanya, pun dalam segala hal.

Zakat/sedekah adalah saluran ventilasi dari rezeki yang kita dapatkan. Disana ada bagian dari orang / golongan yang berhak menerimanya. Jika kita enggan mengeluarkan zakat/sedekah sesuai dengan apa yang disyariatkan, maka dengan cara apapun, pasti uang kita akan keluarkan, mungkin kita kecurian, ditipu, dan lain sebagainya. Bukankah lebih bijak jika kita mengeluarkan porsi yang seharusnya daripada kita “dipaksa” mengeluarkannya karena hal-hal yang kita inginkan. Persis seperti tabung bensin yang tersumbat hingga menekan bahan bakar ke karburator, sehingga over supply dan mobil menjadi mogok.....

Benarlah firman Allah dalam surar Ar-rum Ayat 30;

37. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.

Surat Az-zumar:52


52. Dan Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.

Dan Allah mempertegas tujuan dari dua pernyataan diatas dalam Surat As syura:27


27. Dan Jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat

Puasa dan Ketaqwaan

Ramadhan, terambil dari akar kata Ramadho yarmidhu, yang berarti terik, panas yang membakar.

Secara etimologi Ramadhan berarti bulan penghapusan dan peleburan dosa-dosa dengan cara berpuasa/shaum

Shaum atau shiam sendiri terambil akar kata al imsak, yang artinya menahan diri, yang secara syar’i didefinisikan bahwa shaum adalah menahan diri dengan niat dari hal-hal yang membatalkannya, seperti makan, minum dan jimak dengan istri dari mulai terbitnya matahari sampai terbenamnya.

Dari pengertian ini, seorang ulama yang bernama Rasyid Ridha, membagi nilai puasa kedalam dua kelompok;

1. Nilai puasa secara formal; yakni nilai puasa bagi orang yang melaksanakan shaum hanya dengan menahan diri dengan niat dari hal-hal yang membatalkannya dari terbit matahari sampai terbenamnya. Nilai ini menggugurkan kewajiban mukallaf terhadap perintah puasa secara syariat.

2. Nilai puasa secara fungsional. Salah satu fungsi puasa adalah membentuk pribadi-pribadi muttaqin, yakni dengan sebuah proses pendidikan;
- Tarbiyatul lil iradah – pelatihan terhadap keinginan, adalah benar bahwa keinginan merupakan salah satu fitrah manusia. Keinginan untuk maju dan berkembang, keinginan untuk memiliki pendidikan tinggi, jabatan dan hal-hal positif lainnya adalah merupakan fitrah manusia demi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Tetapi ketika keinginan-keinginan itu disertai dengan kata berlebihan dan dilakukan dengan cara-cara yang justru melanggar fitrah kemanusian itu sendiri, maka puasa berfungsi untuk mengendalikan dan mengembalikan kesalahan tadi pada jalur yang sebenarnya. Lebih jauh Al imamul Ghazali, dalam kitab Ihya Ulumdinya mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat sifat-sifat:

i. Robbaniyah, yakni sifat-sifat ketuhanan, seperti sifat sabar, kasih sayang, pemaaf dan lainnya

ii. Syaitoniyah, yakni sifat-sifat syetan, yakni sombong, angkuh dan takabur

iii. Bahimiyah, sifat-sifat kebuasan

iv. Sabaiyah, sifat-sifat kehewanan

Puasa secara fungsi bertujuan untuk menumbuhkembangkan sifat-sifat-sifat Robbaniyah dan sebaliknya mengekang dan mengendalikan ketiga sifat jahat yang ada dalam diri manusia, yakni dengan menahan rasa lapar dan haus serta menahan nafsu amarah dan nafsu kebinatangan

- Tarekatul lil malaikat –pelatihan sifat-sifat kapatuhan, sebagaimana layaknya kepatuhan malaikat
- Tarbiyatul lil ilahiyah, sama seperti halnya pelatihan sifat-sifat Robaniyah
- Syekhul islam Ibnu Taimiyah menambahkan bahwa secara fungsi puasa juga berfungsi sebagai Tazkiyatun An Nafs, proses pembersihan diri

Lalu apa barometer keberhasilan puasa seseorang?

Secara umum, berhasil tidaknya puasa merubah seseorang menjadi mutaqqin adalah bahwa adanya peningkatan kualitas, baik itu kualitas pribadi maupun kualitas ibadah. Ciri lain dari orang mutaqqin adalah sebagaimana yang sebutkan dalam beberapa ayat berikut ini:

1. Alif laam miin[10].
2. Kitab[11] (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[12],
3. (yaitu) mereka yang beriman[13] kepada yang ghaib[14], yang mendirikan shalat[15], dan menafkahkan sebahagian rezki[16] yang kami anugerahkan kepada mereka.
4. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelummu[17], serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat[18].
5. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung[19].

Tanpa Judul

Hampir dua minggu terakhir ini, ruang informasi kita, baik disengaja atau tidak dipenuhi oleh berita dan informasi yang tidak layak kita konsumsi, yakni berita tentang ..........................................................

Tidak patut kita membicarakannya lebih lanjut, kita hanya akan mencoba mengambil hikmah dan pelajaran yang bisa kita kais dari kejadian diatas;

Seperti dalam tulisan terdahulu mengenai kereta api, bahwa ketika kita keluar dari rel syari’at, maka korban yang jatuh bukan hanya kita, melainkan juga istri, anak, keluarga istri, korp, partai, agama dan bahkan mungkin sebuah bangsa. Kejadian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa ketika syari’at pernikahan yang sah lagi hal dilanggar, yang terjadi adalah seperti kejadian diatas tadi, yang memakan korban dan melibatkan banyak pihak yang juga ikut tercoreng.

Hikmah kedua adalah pembenaran terhadap firman Allah Swt dalam surat Ali Imran ayat 26;


26. Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Ali Imran;26)

Bahwa kita bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa (lihat tulisan:mudik), kekuasaan yang kita miliki, bukanlah kekuasaan mutlak, jika Allah menghendaki, karir yang telah dirintis dan dibangun selama puluhan tahun dengan jerih payah dan penuh pengorbanan, hancur hanya dalam hitungan detik, tidak ada yang tersisa, kecuali rasa malu dan nista.

Kemulian, yang selama ini dibanggakan dibalik jas dan jabatan yang diemban sebagai seorang yang terhormat, ketika Allah hendak menghinakan, maka tak ada yang kebanggaan yang tersis terhadap jas dan jabatan yang selama ini mereka agungkan.

Maha benar firman Allah, Dia akan memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki, pun Dia akan mencabutnya dari siapa yang dikendaki. Dia muliakan orang yang dikendaki, tapi Dia pula yang akan menghinakan siapa yang dikendaki.

Sebuah hikmah besar bagi kita, ketika kita menyadari bahwa apapun yang ada pada kita saat ini, baik itu harta yang berlimpah, kedudukan, jabatan, kehormatan ataupun derita dan air mata, semuanya hanyalah sebuah ujian bagi kita. Ketika kita mendapatkan “Kesenangan” maka itu sebuah ujian, apakah kita mampu bersyukur terhadap nikmat-Nya, sebaliknya, apabila kita ditimpa “kemalangan” maka itu ujian terhadap kesabaran kita.

Seorang teman bertanya, kenapa Allah menguji kita?

Kita mungkin bisa berkaca pada ayat-ayat berikut untuk menjawabnya;


16. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.


168. Dan kami bagi-bagi mereka di dunia Ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. dan kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

174. Dan Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).


156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[101].

[101] artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. kalimat Ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.


Secara singkat mungkin bisa kita simpulkan, bahwa Allah itu Maha Suci dan ingin kita kembali padanya dalam keadaan suci pula, dan untuk itu Allah menguji kita untuk menyadarkan akan khilaf dan dosa kita, kemudian kita bertobat dan kembali kepada-Nya.

Mari kita jaga diri dan keluarga kita dari api neraka.

Monday, February 26, 2007

Dari Anak kecilpun kita bisa belajar

“Namanya juga anak-anak”, begitu kira-kira ungkapan yang sering kita dengar dalam keseharian kita, sebagai tanda maklum kita atas kelakuan yang kurang patut yang dilakukan seseorang yang belum mengerti hakekat kebenaran, yang sering kita sebut anak-anak.

Ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari perilaku anak-anak disekitar kita untuk mengukur tingkat kedewasaan dan keberagamaan kita; yang terbagi dalam dua kategori posisti dan negatif

1. Positif
- Sifat ingin tahu anak-anak, jika disikapi secara benar, keingintahuan yang besar ini dapat kita arahkan untuk belajar ilmu yang bermanfaat bagi kita

- Jujur dan polos – sudah jelas


2. Sikap “Negatif”

- Suka pamer,

Lihat anak kita, ketika dia memiliki atau mengerjakan sesuatu, dia suka cerita/pamer kepada teman-temanya.

Pun demikian dengan kita, ketika kita shalat yang seharusnya lillahita’ala, kemudian kita merasa bahwa kekhusuan shalat kita karena ingin dilihat orang, itu suatu gambaran kekanak-kanakan kita dalam beribadah.

Ketika kita shaum, yang seharusnya hanya kita dengan Allah saja yang tahu, lantas kita “memamerkan” puasa kita dengan bermalas-malasan dengan alasan lapar dan haus, kita pun harus mempertanyakan kedewasaan kita dalam beribadah. Dalam hal zakat dan shodaqoh, ketika kita masih ingin dilihat dan dipuji orang lain, maka berhati-hatilah, jangan-jangan kita belum dewasa dalam beribadah.

- Harus disuruh, diiming-imigi sesuatu

Lihat anak kita, ketika sudah masuk waktunya untuk mandi, ia tidak segera beranjak untuk mandi, sebelum disuruh oleh orang tuanya atau dibujuk dengan sesuatu yang dia senangi, baru dia mau mandi.

Adakah gambaran ini tercermin dalam ibadah kita? Kita (baru) mau melaksanakan shalat tahajud, misalnya, ketika kita menginginkan sesuatu, harta atau jabatan, atau kalau tidak, kita mau tahajud ketika kita takut dipecat, takut digeser posisinya, takut miskin, dan ketakutan-ketakutan yang kadang tidak berasalan.

Seandainya kita sudah benar-benar dewasa dan menyadari bahwa shalat, zakat,puasa dan ibadah-ibadahnya bukan hanya sekedar kewajiban bagi kita, melainkan sebuah kebutuhan, maka kita akan melaksanakannya dengan senang hati. Shalat misalnya, dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa shalat lima waktu adalah pembersih atas dosa-dosa kita, maka siapa orangnya yang menyadari pentingnya kebersihan diri dari dosa, dia akan dengan segera beranjak menuju tempat shalat tepat pada waktunya, bukan menunggu-nunggu hingga akhir waktu.
- Ceplas-ceplos,
Karena kepolosannya, seorang anak mengutarakan apa saja yang ia lihat dan ia rasakan, terlepas dari apakah apa yang diucapkan dan dilakukannya itu pantas atau tidak, menyinggung perasaan orang lain apa tidak.

Saling menasehati adalah sebuah kewajiban, tapi ketika itu disampaikan dengan cara-cara yang kurang bijak (ceplas-ceplos dan menyinggung perasaan), sangat boleh jadi tujuan mulia kita menjadi tersamar oleh kekurangan kita dalam mengemas makna dan tujuan kita. Perlu ketepatan waktu dan cara agar orang lain mau menerima apa yang kita sampaikan.

- Belum tahu malu,

Seorang anak kecil, sering kita lihat dengan tanpa merasa risih memperlihatkan bagian-bagian yang semestinya tertutup rapat. Pun dengan kita, dengan kedewasaan kita, semestinya kita bisa menutupi aurat, dalam pengertian sebenarnya, yaitu aurat yang terdapat dalam jasmani kita, atau dalam pengertian kiasan, untuk menutupi aib kita dan keluarga, sebagaimana Allah menutupi dan mengampuni sebagian besar aib dan dosa kita.

- Suka merengek,

Anak kecil, jika menginginkan sesuatu, suka merengek dan ngambek kalau tidak “dituruti”. Ini adalah “kesalahan” dari sebagian kita, bahwa seolah-olah setelah kita beribadah, kita berhak menuntut Allah dengan keinginan-keinginan kita.

Ibadah kita bukan lagi sebagai bentuk penghambaan, sebagaimana tujuan penciptaan kita, melainkan sebagai sarana “intimidasi” terhadap Allah. Benar Allah memerintahkan kita untuk memohon kepada-Nya, bukan untuk memaksakan kehendak kita terhadap-Nya. Dia-lah yang mempunyai sifat memaksa, bukan kita....

- Tingkat kepedulian yang rendah,

Perhatikan anak kecil yang sedang menikmati permennya, dia tidak akan peduli ketika ada teman atau orang disekitarnya juga ingin permen tersebut, dia tidak peduli dengan sekelilingnya.

Kedewasaan, seharusnya mengantarkan kita pada kesadaran bahwa pada apa yang kita miliki, juga ada hak orang lain yang harus dipenuhi, dengan zakat dan shodaqoh misalnya. Tingkat kepedulian kita terhadap orang lain dan lingkungan kita adalah cermin dari tingkat kedewasaan kita. Seorang ulama mengatakan, bahwa selain rukun Islam dan Rukun Iman yang wajib kita laksanakan dan kita imani, kita juga perlu, kalau tidak mau dikatakan wajib, untuk memiliki satu rukun lagi, yaitu rukun tetangga. Bukankan Nabi pernah berkata “tidak beriman dia, tidak beriman dia, tidak beriman dia” sampai tiga kali, hingga sahabat bertanya “siapa dia yang tidak beriman itu Ya Rosul?”. Nabi menjawab “Mereka orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan tanganya (dan lidahnya?). Demikian pentingnya kepedulian terhadap sesama sehingga tingkat kepedulian kita sangat mempengaruhi kualitas iman kita.

- Seenaknya sendiri,

Pantas atau tidak,benar atau salah, bukan urusan, yang penting “saya”. Itu sifat sebagian anak kecil.

Seseorang yang telah memiliki tingkat kematangan dan kedewasaan, akan selalu mengukur ucapan dan tindakannya dengan tiga barometer. Apakah apa yang akan saya katakan/lakukan sudah sesuai dengan “syariat”, apakah sudah dilakukan dengan “thareqat” yang benar dan apakah ucapan dan tindakan saya mampu mencapai “hakekat” sebagaimana adanya. Orang yang suka bicara dan berbuat seenaknya sendiri, harus kembali meninstropeksi tingkat kedewasaanya.

- Memaksakan kehendak.

”Pokoknya saya mau ini”, itulah ungkapan yang sering kita dengar ketika seorang anak menginginkan sesuatu. Tidak peduli apakah pilihannya tepat atau pantas bagi dirinya, tidak peduli dengan pendapat dan nasehat dari orang tuanya, yang mungkin lebih tahu kepatutan dan kebutuhannya. Itulah kita, yang terkadang memaksakan kehendak dan keinginan kita terhadap anak kita sekalipun...

- Belum tahu tanggung jawab;

Adalah maklum jika seorang anak yang belum dewasa belum memiliki tanggung jawab, baik secara pribadi maupun tanggung jawab kolektif. Tapi jika kita yang sudah memasuki usia hampir setengah abah masih belum memiliki tanggung jawab terhadap syahadat kita, maka kita harus kembali bercermin, benarkah kita sudah dewasa. Kalimat syahadat adalah kalimat yang sarat makna dan mengandung berbagai konsekuensi. Ketika kita berikrar bahwa “tiada ilah yang berhak diibadahi, artinya kita secara akidah dan moral harus bertanggung jawab untuk melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab dan meninggalkan ilah-ilah selainya. Ketika kita berikrar bahwa Muhamad adalah rosul-Nya yang, maka kita harus secara dewasa menjadikan beliau sebagai the only one teladan yang harus kita ikuti.

Itulah sekelumit gambaran dan hikmah yang dapat kita ambil untuk mengukur tingkat kedewassan kita melalui anak kita.

Bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi)

Sebuah cerita tentang bagaimana indahnya berdesakan dalam Bus yang mengantar penulis pulang-pergi kerja dari Cikampek – Cibitung. Setiap pagi, demi mengejar jam kerja yang rata-rata masuk pukul 8.00, orang-orang berlomba untuk saling mendahului menaiki bus kota, pun demikian dengan penulis dan beberapa teman lain. Kami senantiasa bersiaga penuh menunggu bus, begitu bus yang sesuai jurusan, kami berlari dan berlompatan kedalam bus untuk memperoleh tempat duduk. Karena kapasitas bus yang terbatas, sebagian kami terpaksa harus berdiri bergelantungan dan sebagian lain duduk bersandar dengan nyaman.

Dari sinilah cerita berawal, yaitu perilaku para penumpang bus yang duduk dan yang berdiri sungguh sedemikian kontras. Penulis melihat, hampir setiap orang yang berdiri berusaha memperoleh pegangan dengan kedua tangannya, kakinya berdiri memasang kuda-kuda untuk menahan goncangan bus yang berlari kencang, punggung pun sedapat mungkin disandarkan pada sandaran kursi, pokoknya sedapat mungkin mendapat pegangan dan sandaran agar tidak jatuh ketika bus ngerem mendadak atau bermanuver.

Sementara para penumpang yang memperoleh tempat duduk, mereka duduk santai, sama sekali tidak berpegangan dan bahkan kadang-kadang tertidur, sungguh sebuah pandangan yang kontras.

Bus dan perjalanan adalah gambaran hidup dan kehidupan kita, sementara penumpang adalah kita sendiri. Penumpang yang berdiri, kemudian berpegangan dan bersandar sedemikian rupa adalah gambaran kita pada saat kita berjuang mendapatkan sesuatu atau ketika kita ditimpa sesuatu yang tidak kita inginkan, katakanlah musibah. Ketika itu, kita, seperti penumpang bus yang berdiri tadi, berusaha memegang apapun yang mungkin, kita mencari orang-orang disekeliling kita untuk dimintai tolong, sanak-saudara dan juga pada saat itu kita menjadi sangat taat kepada Allah (seperti gambaran diatas, bahwa kita bukan hanya bersandar secara horizontal pada kursi, kita juga berpegangan secar vertikal pada pegangan bus).

Namun ketika semua masalah dan musibah berlalu, kita kembali lalai, silaturahim yang kita jalin selama ini, menjadi terbengkalai dengan alasan kesibukan, pun demikian ketaatan kita pada Allah Swt mulai memudar, kita lebih disibukan oleh impian-impian kita daripada beribadah kepada Allah, persis seperti penumpang yang dapat duduk tadi, tertidur pulas, tanpa peduli siapa disekelilingnya.

Allah menyindir manusia jenis ini dengan friman-Nya dalam surat Luqman:32

32. Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus[1186]. dan tidak ada yang mengingkari ayat- ayat kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.

[1186] yang dimaksud dengan jalan yang lurus ialah: mengakui ke-esaan Allah.


Idealnya, kapanpun dan pada saat apapun, kita senantiasa harus berpegang teguh pada tali Allah secara istiqomah...dan tidak tertidur dan terlena karena sedikit nikmat yang ada pada kita.

Semoga Allah memberikan kepada kita sifat Istiqomah dalam meniti perjalanan hidup ini.

Wassalam

Desember 30, 2006

Mudik

Hampir dua bulan yang lalu, menjelang hari raya idul fitri, sebuah pemandangan, kalau tidak mau dikatakan fenomena mudik terpampang didepan kita. Ratusan bahkan mungkin ribuan orang beramai-ramai pulang kampung dengan berbagai macam kendaraan dan berbagai bekal yang dibawanya untuk persiapan menempuk perjalanan yang panjang, sungguh mengasyikan menyaksikan pemandangan yang hanya terjadi setahun sekali tersebut.

Dalam berbagai artikel dan surat kabar, banyak dijumpai tip-tip bagi pemudik agar dapat sampai ketujuan dengan cepat dan selamat, berikut adalah beberapa tip mudik yang harus dipersiapkan;

- Pastikan kendaraan yang akan digunakan layak dan dalam keadaan yang sehat

- Pelajari rute yang akan ditempuh dan berbagai jalur alternatif yang mungkin diambil, jika terjadi kemacetan

- Bawa bekal secukupnya

- Pastikan kondisi badan sehat dan fit, dan lain-lain

Bekal yang cukup dan pastikan kita siap menghadapi perjalanan yang panjang dengan berbagai kemungkinan yang kita hadapi....sebuah tip yang sangat baik dan bermanfaat.

Lalu, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk “mudik abadi” kita kekampung akherat yang sewaktu-waktu datang?

Perjalanan nan panjang setelah kematian adalah sesuatu yang harus kita siapkan dari sekarang. Jika kita mudik ke Semarang, Surabaya atau kekota lainya, kita mempersiapkan segala sesuatu dengan demikian baik, seharusnya kita mempersiapkan bekal yang jauh lebih baik untuk menghadapi mudik abadi kita.

“Kampung Akherat” tempat kita kembali kelak, adalah sesuatu yang sangat asing bagi kita, kita tidak tahu berapa panjang perjalanan yang akan kita tempuh, kita tidak tahu berapa lama kita akan menunggu diterminal “kubur” kita hingga kita dibangkitkan, kita tidak tahu cuaca dan kondisi disana, kita tidak tahu apapun....tentang “kampung kita itu”

Hal yang mungkin dan paling bijaksana ketika akan menempuh sebuah perjalanan panjang dengan berbagai kondisi yang sama sekali kita tidak tahu adalah kita mempelajari “peta” tentang kehidupan dan kondisi disana, peta itu bernama “al qur’an”. Dari al qur’an lah kita bisa memndapatkan gambaran kehidupan syurga dan neraka dan siapa saja penghuninya, lalu syarat-syarat untuk menjadi penghuni syurga dan signal-signal yang tidak boleh dilanggar agar kita tidak terjerumus kedalam jurang neraka.

Kita harus memulainya, memulai mempelajari peta kehidupan kita dikampung akherat dari sekarang, bukan besok atau nanti, karena kita tidak tahu kapan kita akan dijemput. Bukalah al qur’an sekarang!

Lalu, kita juga harus mempersiapkan “bekal” sebanyak mungkin dan persiapan yang maksimal.

Apa bekal kita.....?

Dunia ini adalah ladang untuk bercocok tanam amal ibadah, yang buah amalnya akan kita bawa sebagai bekal kita menuju kampung akherat.

Layaknya bercocok tanam, amal ibadah kitapun harus terus dijaga dan dipupuk dengan ikhlas dan istiqomah, sehingga berbuah keridhoan dari Allah Swt. Amal ibadah yang dibiarkan terlantar tanpa ilmu dan ikhlas, maka ia tidak akan menghasilkan buah amal yang bisa kita bawa “kelak” atau mungkin hari ini atau besok.

Sudahkan kita mempelajari “peta al qur’an” mempersiapkan bekal “taqwa” untuk “mudik abadi” kita?

Desember 06, 2006

An Nahl, Anaml, Al Ankabut dan Al fiil

Al qur’an, sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad, merupakan petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang mau mempelajarinya. Al qur’an ibarat lautan yang semakin diselami akan semakin banyak keindahan dan keunikan yang akan kita temukan. Semakin dalam kita menyelami al qur’an, maka makin banyak mutiara yang akan kita temukan didalamnya.

Salah satu keunikan al qur’an adalah ia (al qur’an) akan berbicara kepada pembacanya sesuai dengan kemampuan si pembaca itu sendiri. Dari Taman kanak-kanak sampai keperguruan tinggi atau bahkan seorang professor - pun membaca dan menggunakan al qur’an yang sama, tetapi pemahaman anak tk, anak sekolah dasar dan sekolah menengah dan seterusnya sampai tingkatan profesor, pasti akan berbeda ketika memaknai seuatu ayat atau sebuah surat dari al qur’an, tergantung pada kapasitas dan kemampuan sipembacanya.

Salah satu yang dapat kita tangkap dari al qur’an adalah keindahan perumpamaan yang digunakan al qur’an untuk menggambarkan sesuatu. Salah satu contoh kecil adalah pengabadian tiga nama hewan kecil dan satu mamalia besar sebagai nama surat dalam al qur’an, yaitu Surat An Nahl (Surat 16), Surat An Naml (27), Al ankabut (29) dan Al Fiil (105). Ada apa dibalik pengabadian nama-nama hewan tersebut diatas, misalnya bukan harimau,singa atau lainnya?

An Nahl (lebah) adalah sebuah tamsil bagi peribadi muslim yang paripurna. Keunikan lebah dapat kita golongkan sebagai berikut:

- Lebah hanya makan sari pati bunga, artinya adalah bahwa lebah merupakan hewan yang selektif dalam hal memilih makanan. Selapar apapun lebah, mereka tidak makan selain sari pati bunga. Bukankan ini sebuah ibrah bagi kita, bahwa seorang muslim adalah orang yang mampu memilah dan memilih makanan yang baik dan sehat. Bukan hanya dari kadar halal dan haram makanan tersebut, juga dari sumber mana makanan itu diperoleh. Itu pelajaran pertama yang dapat kita ambil dari hewan kecil yang bernama lebah.

- Sudah merupakan sunatullah bahwa masukan yang baik, akan menghasilkan keluara yang baik juga, pun demikian dengan lebah, sari pati yang mereka konsumsi, menghasilkan madu, yang kita tahu manis rasanya, banyak manfaatnya. Pribadi muslim yang paripurna adalah pribadi yang hanya makan yang baik sehingga ia hanya mengeluarkan kata-kata dan tingkah laku yang baik pula. Seorang muslim yang terjaga dari makanan dan minuman haram, akan terpelihara juga dari kata-kata dan perbuatan yang sia-sia, apalagi kata-kata dan perbuatan yang propokatif. Makanan adalah sumber energi untuk melakukan berbagai aktivitas, jika energi positif dari hasil makanan yang baik lagi halal, maka akan melahirkan gerak lisan dan perbuatan yang insya allah baik pula.

- Hal ketiga yang dapat kita ambil pelajaran dari lebah adalah dimanapun lebah hinggap, tidak ada putik bunga yang rusak, bahkan sebaliknya, ia berfungsi juga bagi perkawinan putik sari dan serbuk sari sebagai proses kelangsungan hidup bunga itu sendiri. Pun demikian halnya dengan pribadi muslim yang paripurna, dimanapun bumi diinjak, disitu langit dijunjung.

Seorang muslim bukanlan seorang pembuat onar yang suka menghancurkan tatanan sosial kemasyarakatan dimana ia tinggal, sebaliknya, ia, seorang muslim yang ideal adalah motor bagi gerak maju masyarakat disekelilingnya, dan lebih dari itu, ia juga mampu menjadi pelopor dan motivator bagi perkembangan dan pertumbuhan masyarakatnya..

- Keempat, lihat sarang lebah, sarang itu berbentuk hexagonal (segi enam), yang dalam pengetahuan modern diketahui bahwa segi enam (hexagonal) mampu menampung volume yang lebih banyak, dibandingkan dengan kubus, segitiga atau lingkaran, dari jumlah material yang sama.

Artinya, lebah adalah jenis hewan yang selain selektif, juga cerdas, efektif dan efisien, mereka mampu membuat sarang dengan bahan yang sedikit tapi mampu menampung volume yang lebih besar.

Allah sangat benci kepada para pemboros, bahkan ia, para pemboros digolongkan sebagai “ihwannya syaitan”. Untuk itu pribadi muslim adalah pribadi yang mampu berlaku dan bertindak secara efektif dan efisien. Tidak kikir dan juga tidak berlebihan dalam menafkahkan harta dan waktunya.
- Lebah juga sekolompok hewan yang akan menyerang siapapun yang menggangu kenyamanan dan keamanan mereka. Mereka tidak pernah iseng mengganggu, tapi ketika saatnya tiba harus mempertahankan dirinya, mereka akan sontak serentak bangkit membela kehormatanya.

Seorang muslim adalah pribadi yang tidak akan pernah mencari gara-gara apalagi mencari musuh, tapi pribadi muslim yang benar adalah pribadi yang sanggup membela dan mempertahankan kehormatan diri, agama dan bangsanya.

An Naml (semut), sebagaimana kita tahu, hanyalah hewan kecil yang hampir tiap hari kita jumpai dengan mudah, dirumah, dikantor, dikebun dan hampir disemua tempat kita bisa jumpai hewan kecil ini. Satu hal yang umum kita kenal dari hewan semut adalah mereka senantiasa saling “menyapa” ketika mereka berpapasan, entah apa maksud dari aktivitas itu, namun yang jelas, sebagian orang memaknai aktivitas itu sebagai tanda solidaritas dari kalangan semut. Kisah tentang semut, ditemukan dalam al qur’an ketika al qur’an mengisahkan perjalanan pasukan nabi Sulaiman as, yang ketika melewati suatu tempat, nabi Sulaiman, yang konon dikaruniai Allah kemampuan untuk memahami bahasa binatang, mendengar percakapan sekelompk semut yang hampir terinjak oleh pasukannya.

Lepas dari karakter semut tersebut diatas dan bagaimana kisahnya dalam al qur’an, ada satu lagi karakter semut yang sangat jarang kita bicarakan. Coba perhatikan sekali lagi, bagaimana semut-semut yang hilir mudik membawa makanan kedalam sarangnya, bukan jenis makanannya yang penting, tapi jumlah makanan yang mereka bawa, sekali lagi perhatikan, mereka membawa makanan yang dua,tiga kali dan bahkan sampai 5 kali lebih besar dari ukuran tubuhnya. Kita bisa bayangkan, jika makanan itu mereka makan, pasti tidak akan habis untuk satu sampai dua kali mereka makan, bahkan mungkin sampai akhir masa hidupnya. Tapi tetap saja semut keluar dari sarangnya untuk mengumpulkan makanan yang tidak akan mereka nikmati. Adakah kita seperti semut? Pergi keluar rumah sejak matahari belum lagi sempurna menyinari bumi, dan pulang ketika matahari sudah kembali keperaduan atau bahkan larut malam, hanya untuk mencari sepiring, dua piring nasi yang kita makan. Kita, serakus apapun pasti tidak akan mampu menghabiskan lima piring nasi sekaligus, lalu mengapa kita sedemikian ngotot untuk mengumpulkan harta? Untuk warisan? Belum tentu juga harta yang kita kumpulkan akan menjadi manfaat bagi anak cucu kita, dan bahkan mungkin menjadi sumber malapetaka akibat perebutan warisan, jadi,,,,,masihkah kita akan menjadi semut?

Al Ankabut (laba-laba), jenis serangga yang unik dan sangat menarik kita perhatikan. Pertama bagaimana cara laba-laba mencari makan? Ia memasang perangkap dan jaring untuk menjerat mangsanya, kemudian membiarkan mangsanya menggelepar kehabisan nafas dalam jeratannya, lalu ia akan memakannya. Sungguh sebuah usaha yang sangat “kejam” dan bahkan, sang pejantan yang telah membuahinyapun tak lepas dari ancaman jerat dan kekejamannya. Adakah kita seperti laba-laba? Menjerat mangsa kita, melumpuhkannya lalu membantainya?

Al Fill (Gajah) adalah binatang mamalia terbesar yang hidup didarat, yang kekuatan dan berat tubuhnya mungkin setara dengan dua puluh kekuatan dan berat tubuh orang dewasa. Tapi sering kali kita lihat, gajah, binatang yang perkasa itu menjadi sedemikian patuh hanya oleh seorang pawang. Ia hanya menurut ketika disuruh ini dan itu, bahkan ketika kepala disakitipun,ia tidak berontak. Mengapa?

Karena gajah tidak pernah mendongak melihat langit, dia hanya tertunduk..maksudnya gajah adalah simbol dari siapapun yang mempunyai potensi, tapi ia sendiri tidak tahu potensi yang ada pada dirinya. Ia sudah terpola dan terbelenggu oleh kondisi yang sedemikian rupa diciptakan oleh sang pawang.

Ada beberapa belenggu yang kerap membelit potensi kita, tapi kita sendiri tidak menyadarinya,

- Belenggu masa lalu, Ketika kecil, biasanya gajah-gajah di ikat kakinya dan tidak diberi makan, sehingga ia lemas. Ketika gajah kecil itu mencoba melepaskan ikatan dikakinya, ia selalu gagal, sehingga perasaan gagal inilah yang terus terbawa sampai ia dewasa. Ketika kekuatannya telah bertambah besarpun, ia enggan mencoba melepaskan ikatan tali, karena ia trauma dengan percobaan yang gagal dimasa kecilnya.

Setiap orang mempunyai masa lalu, ada yang masa lalunya indah, dan ada pula yang kurang menyenangkan. Keindahan masa lalu tidak berarti apa-apa jika kita tidak menjadikannya sebagai modal kita, pun dengan masa lalu yang kurang baik, kita tidak bisa memenjarakan diri kita dengan masa lalu, karena sedetikpun masa lalu bisa kita ubah, maka hiduplah untuk hari ini, kemudian tataplah kedepan, kemana kita akan menuju dan apa yang ingin kita capai, bukan terus-menerus terkungkung oleh bayangan masa lalu.

- Belenggu usia, “Akh saya mah sudah tua” atau “Saya masih terlalu muda untuk melakukan hal itu”. Itu ungkapan-ungkapan pembunuh kreativitas yang hendaknya kita buang-jauh-jauh. Tidak ada batasan usia yang tepat untuk melakukan sesuatu yang besar. Ada banyak contoh bahwa usia bukanlah halangan seseorang untuk mencapai prestasi puncak. Ada orang justru mencapai prestasi gemilang ketika usianya sudah senja, pun ada pula orang yang mencapai keemasaan pada usia yang relatif masih muda. Usia bukanlah halangan bagi kita untuk berprestasi.

- Belenggu pikiran – Perbedaan nyata antara orang sukses dan orang gagal adalah terletak pada bagaimana cara ia berpikir dan memandang hidup. Ada orang yang memiliki “kepasrahan semu” sehingga belum apa-apa ia telah menyerah sebelum ia melakukan apapun. Ia terlalu sibuk berdalih untuk mencari kambing hitam bagi kegagalanya dalam memenej pola pikirnya.

Demikian sekelumit kisah dan hikmah dibalik pencantuman nama-nama hewan yang terdapat dalam al qur’an – dari berbagai sumber

Manchester United Vs Arsenal

Akhir pekan ini terjadi sebuah pertandingan yang sarat gengsi dan penuh prestise antara dua kekuatan dijagat sepakbola Inggris, yaitu big match antara Manchester United Versus Arsenal, dua penguasa singgasana primer league dalam beberapa tahun terakhir, kecuali dalam dua tahun terakhir dimana singgasana premier league dibawa pulang Chelsea ke Stamp Bridge.

Kenapa pertarungan kedua kesebelasan tersebut selalu saja menjanjikan sebuah pertarungan yang menarik dan layak ditonton bagi pecinta bola dibelahan dunia manapun?

Jawabannya adalah karena adanya Rivalitas yang sudah demikian kental antara kedua kesebelasan ini. Rivalitas inilah yang kemudian memunculkan semangat kompetisi dari setiap indivdu yang terlibat didalamnya. Para pemain menjadi terpacu untuk menunjukan kemampuan terbaiknya dan berusaha untuk memberikan kemenangan bagi kesebelasannya. Pelatih dari kedua kubu pun demikian terpacu adrenalinnya dan berusaha meracik sebuah strategi yang paling baik, lagi untuk memenangkan timnya.

Singkatnya, semangat kompetisi untuk menjadi yang terbaik telah memacu setiap individu untuk berlomba menjadi pemenang.

Al qur’an sering menggunakan kata-kata semacam ini, seperti “bersegeralah”, berlomba-lomba” dan lainya yang dimaknai sebagian ulama sebagai suatu “kompetisi” dalam upaya setiap individu muslim untuk menjadi pemenang dan menjadi yang terbaik disisi Allah Swt.


148. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala (2:148) sesuatu.

48..............., Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu,(5:48)



114. Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. (3:114)


21. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar. (57:21)


90. Maka kami memperkenankan doanya, dan kami anugerahkan kepada nya Yahya dan kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas[970]. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami.(21:90)

[970] Maksudnya: mengharap agar dikabulkan Allah doanya dan khawatir akan azabnya.


Perhatikan ayat-ayat diatas, Allah memerintahkan kita untuk berlomba – lomba dalam mengerjakan kebaikan, yang artinya dalam perlombaan mengerjakan kebaikan akan ada orang yang memperoleh kemenangan, berupa balasan pahala yang ridha Allah, ada pula orang yang menderita kekalahan karena mereka lalai dan terlambat dalam mengerjakan amal kebajikan.

Sekarang pilihan ada pada kita, apakah kita akan berusaha tampil sebaik mungkin untuk menjadi pemenang dalam perlombaan mengerjakan kebajikan, atau kita akan tampil ala kadarnya, sehingga kita akan menjadi pecundang yang hanya akan mendapatkan penyeselan diakhir perlombaan.

Demikian pun halnya dengan upaya kita untuk memperoleh ampunan dari Allah, kita harus berlomba dengan waktu yang terus melaju. Kita tidak bisa menunggu untuk memohon ampunan Allah, karena kita tidak tahu, sudah sampai mana rute yang sudah kita lalui dalam perjalan hidup ini, masih jauh dari garis finish atau sebaliknya, ditikungan sana garis finish dan akhir kehidupan kita menjelang.


“Aah nanti aja tobat mah gampang...”

“Kita kan masih muda, masih banyak waktu untuk tobat, sekarang sih foya-foya aja dulu, nanti kalau sudah tua, baru tobat”

Itu khan versi kita, seolah-olah kita tahu berapa lama lagi usia kita, iya kalau kita diberikan umur yang panjang dan memungkinkan kita untuk tobat, kalau tidak? Maka Allah membahasakan “berlomba-lombalah kamu untuk memperoleh ampunan Allah”, karena boleh jadi jika akan menyesal bila kita menunda-nunda saat tobat kita, sementara garis finish sudah didepan mata.

Bahkan dalam surat Al Anbiya diatas, Allah menggambarkan bagaimana Allah mengabulkan do’a Nabi Zakaria untuk memiliki seorang putra ditengah berbagai kondisi Nabi Zakaria yang sudah lanjut, salah satunya juga karena Nabi Zakaria orang yang senantiasa bersegera dalam mengerjakan kebaikan.

Pun demikian dalam keseharian kita, kita pun harus berlomba-lomba untuk meningkatkan taraf hidup kita, berlomba-lomba untuk meningkatkan pangkat dan jabatan kita, itu boleh-boleh saja sepanjang perlombaan dan kompetisi itu dilakukan dengan cara-cara elegan layaknya seorang kstaria, bukan dengan cara-cara pengecut yang menghalalkan segala cara untuk sekedar mencari muka dihadapan atasan misalnya, dengan meminta bantuan dukun, dengan menyebarkan isu yang tidak benar, fitnah, dan sebagainya. Seorang ksatria tidak pernah mau memenangkan perlombaan dan kompetisi dengan cara licik dan membokong musuh sekalipun, apa lagi kompetisi untuk menjadi yang terbaik dikantor dilakukan dengan teman seperjuangan, sungguh memalukan apabila masih ada orang yang berlaku lalim dengan membokong temannya untuk mendapatkan “kemenangan” semu.

Mari berlomba-lomba dalam kebaikan dan berlomba untuk memperoleh ampunan dan ridha Allah swt , mari tinggalkan kompetisi yang tidak sehat yang bukan saja akan menghancurkan teman, tapi insya Allah juga akan menghancurkan kita pada saatnya nanti.

Semalat berlomba, selamat menjadi pemenang pahala-pahala kebajikan, selamat menjadi pemenang ampunan dari Allah dan surga yang dijanjikan-Nya.

Wassalam

January. 18, 2007