Wednesday, November 28, 2007

BEKERJA SEBAGAI MUJAHID

“Assalamu’alikum.............” Sapa Ki Bijak pada Maula yang tengah asyik duduk didepan komputer sambil membaca beberapa artikel.

“Walaikumusalam warahmatullahiwabaratuh......., Aki..., Mari masuk ki...........” Balas Maula sambil mempersilahkan Ki Bijak masuk.

“Sedang baca artikel apa Nak Mas.............?” Tanya Ki Bijak.

“Ini ki, ana sedang memikirkan sebuah hadits yang dikirim seorang teman ki....’sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (Profesional dan ahli). Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid dijalan Allah azza wajalla (HR.Ahmad)’...........” Kata Maula membacakan hadits yang dikirim salah seorang karibnya.

“Subhanallah, hadits yang penuh makna dan hikmah, bersyukurlah kepada Allah karena Nak Mas dikaruniai sahabat yang mau berbagi, terlebih berbagi ilmu seperti ini, sudah semestinya kita berterima kasih padanya Nak Mas..........” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ki......., lalu hikmah apa yang bisa ana petik dari hadits itu ki...............” Tanya Maula.

“Nak Mas harus menjadi seorang profesional dan ahli dibidang Nak Mas sebagaimana anjuran hadits itu...........” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki..........?” Tanya Maula.

“Seorang karyawan yang bekerja dengan profesional dan dengan ketrampilan tinggi dengan niat lillahita’ala mencari keridhaan Allah dalam menafkahi keluarganya, memiliki kesetaraan dengan seorang mujahid yang berperang menegakan panji-panji agama Allah, karenanya Nak Mas tidak boleh bekerja dengan asal-asalan, tanpa mengerti apa yang Nak Mas kerjakan, malas bertanya dan enggan belajar, yang penting pekerjaan saya selesai, mengenai orang lain keteteran, bukan urusan saya, atau bekerja seperti robot, hanya input tanpa tahu untuk apa dan bagaimana hasil pekerjaan yang dihasilkan, atau hanya datang, absen, ngobrol kemudian pulang, itu bukan tipe seorang yang bekerja sebagai mujahid bagi keluarganya, orang yang bekerja seperti itu tidak lebih dari robot-robot penghasil uang, yang belum tentu berkah karena kerjanya sambil uring-uringan.......” Kata Ki Bijak.

“Ki, menurut pendapat Aki, hal apa saja yang dapat menjadikan seorang karyawan seperti ana,dapat bekerja sebagai mujahid ki...........?” Tanya Maula.

“Ini bukan pendapat Aki, tapi Aki mengutip pendapat orang lain Nak Mas, semoga Allah membalas kebaikan orang itu, bahwa seorang karyawan mujahid akan memiliki etos kerja yang baik, secara singkat, seseorang yang memiliki etos kerja yang baik akan memandang pekerjaannya dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang.........” Kata Ki Bijak.

“Sudut pandang seperti apa ki............?” Tanya Maula.

“Pertama, seorang karyawan atau pekerja mujahid, akan memandang kerja dan pekerjaannya sebagai sebuah rahmat dari Allah swt..............” Kata Ki Bijak.

“Kerja sebagai rahmat ki..........?” Tanya Maula.

“Betapa tidak Nak Mas, coba Nak Mas perhatikan, diluar sana, berapa banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan, mereka melamar kesana kemari, dengan harapan memperoleh pekerjaan untuk menyambung hidupnya, atau ada juga mereka yang bekerja dibawah terik matahari yang panas memanggang kulit, menggali batu cadas untuk sekedar mendapatkan satu atau dua liter beras untuk keluarganya........”

“Coba bandingkan dengan kerja Nak Mas, terlepas dari berapapun gaji yang Nak Mas terima, Nak Mas bekerja dikantor, tidak kepanasan, tidak kehujanan, bahkan mungkin ruangan Nak Mas ber-AC, apakah itu bukan sebuah kenikmatan yang besar..?, Apakah itu bukan sebuah rahmat dari Allah untuk Nak Mas, selain merupakan sebuah ujian seberapa besar rasa syukur Nak Mas atas curahan rahmat-Nya...........” kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah, benar ki, seharusnya ana lebih banyak bersyukur atas semua rahmat yang dilimpahkan-Nya..........”Kata Maula yang juga sering merasa kurang senang dengan kondisinya sekarang.

“Syukurilah Nak Mas, agar nafkah yang Nak Mas berikan kepada keluarga merupakan berkah dan semoga Nak Mas menjadi seorang mujahid dengan bekerja ikhlas dan senantiasa mensyukuri rahmat-Nya...........”Kata Ki Bijak

“Kedua, seorang karyawan atau pekerja mujahid adalah mereka yang memandang pekerjaannya sebagai sebuah ibadah, sehingga ia melakukan pekerjaannya dengan disertai keseriusan dan penuh tanggung jawab.........”Kata Ki Bijak.

“Ada persepsi yang sedikit salah dari sebagian kita yang memandang bahwa ibadah itu hanya shalat saja, shaum saja, berdiam dimasjid saja, ibadah mengandung pengertian yang sangat luas, salah satunya adalah dengan bekerja, itupun dapat berarti ibadah, kita melaksanakan sunatullah untuk menjemput karunia dan rezeki yang telah Allah siapkan untuk kita, dan mereka yang bekerja dengan baik dan ikhlas, insha Allah akan dibalasi Allah dengan nilai-nilai ibadah kepada siapa yang dikehendaki-Nya...........” Kata Ki Bijak lagi.

“Yang ketiga, mereka yang bekerja sebagai mujahid adalah mereka yang memandang pekerjaan sebagai sebuah amanah............” Kata Ki Bijak.

“Amanah ki...........” Tanya Maula.

“Ya, amanah dari keluarga kita dirumah, yang secara tidak langsung memberikan tanggung jawab kepada kita untuk menafkahi mereka, amanah dari perusahaan yang memberi kepercayaan dan menggaji kita, kemudian yang terpenting pekerjaan kita adalah amanah dari Allah, untuk menguji kita sejauh mana kita bersyukur atas kemudahan dan kenyamanan pekerjaan kita, atau sebaik apa kesabaran kita ketika pekerjaan kita tidak sesuai dengan harapan kita.....”,

“Mereka yang melalaikan pekerjaannya, berarti dia tidak memenuhi amanah keluarganya untuk mencari nafkah yang halal dan berkah, mereka yang bermain-main dengan pekerjaannya, berarti menodai kepercayaan perusahaan kepadanya, mereka yang lalai akan tanggung jawabnya, akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah swt di yaumil akhir kelak............” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah, betapa besar tanggung jawab yang kita emban dari amanah pekerjaan ini ya ki.............” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, karenanya berusahalah untuk bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab, baik secara pribadi kepada Allah, kepada keluarga, kepada perusahaan, maupun tanggung jawab kolektif sebagai bagian dari unit perusahaan, jangan sampai ada orang yang terdhalimi oleh kita, karena kita lalai terhadap amanah yang kita emban, itupun sebuah dosa Nak Mas......................” Kata Ki Bijak.

“Ki, Alhamdulillah ana sekarang mengerti bahwa pekerjaan kita adalah rahmat dari Allah kepada kita, pekerjaan juga merupakan sebuah aktivitas ibadah, dan bekerja mencari nafkah merupakan sebuah amanah yang harus kita junjung tinggi, selain itu ada lagi ki............?” Tanya Maula yang masih kerasan untuk menimba ilmu dari Ki Bijak.

“Ya Nak Mas, pekerjaan kita juga adalah sebuah kehormatan bagi kita..........” Kata Ki Bijak.

“Sebuah kehormatan ki..........?” Tanya Maula.

“Seperti yang Aki katakan diatas, berapa banyak mereka yang berjalan puluhan kilo untuk mencari pekerjaan, tapi toh tidak semua mereka mendapatkan pekerjaan, dan hanya mereka yang diberi kehormatan sajalah yang diterima untuk bekerja disebuah perusahaan misalnya.........., lalu patutkah kita mengabaikan kehormatan yang telah diberikan kepada kita dengan bekerja asal-asalan................?” Kata Ki Bijak setengah bertanya.

“Iya ki, mungkin hanya sepuluh orang dari seribu orang pelamar saja yang diterima diperusahaan, itupun setelah mengikuti berbagai seleksi dan memenuhi persyaratan yang sangat banyak, Aki benar, itu sebuah kehormatan.........................” Kata Maula.

“Karenanya manfaatkan kehormatan itu semaksimal mungkin, karena kualitas kerja kita juga bisa merupakan cerminan dari kualitas pribadi kita, pekerjaan kita merupakan sebuah bentuk aktulisasi dari apa yang ada pada kita.......................” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ana mengerti sekarang, hasil kerja kita merupakan bukti eksistensi kita ya ki............” Kata Maula.

“Berbahagilah mereka yang keberadaanya disuatu tempat diakui oleh rekan dan sejawatnya, sebaliknya, sepatutnyalah kita bertanya pada diri kita ketika ada tidaknya kita ditempat kerja kita, bukan merupakan sebuah kehilangan bagi unit kerja yang lain, karena artinya kita mungkin tidak terlalu dibutuhkan dilingkungan tersebut...............” Kata Ki Bijak.

“Jadi kalau kita sering bolos kerja, kemudian atasan kita tidak menegur kita, mestinya kita berhati-hati ya ki, bukannya malah senang karena tidak kena marah..........” kata Maula.

“Seperti Aki katakan barusan, tanyakan hal itu pada diri kita, adakah kita dibutuhkan oleh rekan dan perusahaan kita, atau sebaliknya kita hanya merupakan karyawan mubah saja, artinya kita tidak ada ya tidak apa-apa, dan kalaupun kita datang, tak banyak yang bisa kita lakukan........................” Kata Ki Bijak.

“Terima kasih ki, semoga ana diberi kekuatan Allah untuk menjadi karyawan yang baik, syukur kalau menjadi mujahid yang diridhai Allah swt....” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas...........” Kata Ki Bijak.

Wassalam

Nopember 28, 2007

No comments:

Post a Comment