Sunday, March 2, 2008

JILBAB PUTIH

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu............” Uluk salam Maula kepada Ki Bijak.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu............”Terdengar uluk salam lain dari seorang gadis yang datang bersama Maula, mengunjungi Ki Bijak yang tengah tadarus al Qur’an

“Walaikumusalam warahmatullahi wabarakatuhu.....” Jawab Ki Bijak, dengan segera menjawab salam dan mengakhiri tadarusnya.

“Nak Mas, Ni Mas............., Silahkan masuk.....” Jawab Ki Bijak.

Maula beserta temannya segeral melangkah masuk, Maula menyalami Ki Bijak, kemudian duduk disebelah kanan Ki Bijak, sementara gadis yang bersamanya mengganggukkan kepala tanda hormat kepada Ki Bijak, kemudian duduk agak jauh didepan Ki Bijak.

“Ki, ini Memey, teman kuliah ana dulu, ki......., Mey, ini Ki Bijak yang ana ceritakan kemarin.

“Selamat datang dipondok Aki, Ni Mas...........” Ki Bijak menyambut tamunya.

“Terima kasih ki........” Kata sigadis, masih dengan sikap yang sedikit canggung, ia merasa kikuk dengan kerudung yang ia kenakan, karena selama ini, ia hampir tidak pernah mengenakannya.

Ki Bijak tersenyum maklum dengan keadaan tamu barunya, “Ni Mas, Aki senang sekaligus terkejut mendapat kunjungan kehormatan dari Ni Mas ini, boleh Aki tahu maksud kedatangan Ni Mas kesini........?” Tanya Ki Bijak sejurus kemudian.

Memey tidak langsung menjawab, matanya melirik ke arah Maula, seakan meminta bantuan kepada Maula untuk menerangkan maksud kedatangannya ke pondok Ki Bijak.

Maula segera maklum dengan isyarat temannya, “ Ini ki, kedatangan Memey kesini, selain untuk bersilaturahim kepada Aki, Memey juga ingin meminta pendapat dan nasehat dari Aki........” Kata Maula mewakili Memey untuk menjawab pertanyaan Ki Bijak.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula, “Sekali lagi Aki ucapkan terima kasih Ni Mas berkenan datang kepondok Aki, namun perlu Ni Mas ketahui, Aki bukanlah seorang ahli yang dapat memberikan nasehat atau pendapat untuk Ni Mas, jadi Aki mohon Ni Mas bisa maklum ya Ni Mas..........” Kata Ki Bijak

Memey mengangguk, sejurus kemudian ia mulai mengutarakan maksud kedatangannya, “Ki, saya juga mengucapkan terima kasih sebelumnya atas sambutan Aki disini, maksud kedatangan saya kesini adalah untuk meminta pendapat Aki, saya........, entah kenapa, akhir-akhir ini, ingin sekali pakai jilbab ki.............” Kata Memey sedikit tersendat.

“Subhanallah......, itu baik sekali Ni Mas......, kenapa Ni Mas masih tampak ragu.....? ” tanya Ki Bijak.

“Iya Ki, sejujurnya saya tidak tahu banyak tentang agama yang saya anut sejak kecil, karenanya saya takut, kalau sekarang tiba-tiba saya pakai jilbab, sementara saya belum tahu apa-apa tentang islam, saya takut orang-orang malah mentertawakan saya ki...........” Kata Memey.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan tamunya, “Ni Mas...., Aki minta maaf sebelumnya, ‘Memey’ itu nama Ni Mas yang sebenarnya atau nama panggilan...?” rasa-rasanya Aki asing sekali dengan nama seperti itu......?” Kata Ki Bijak berhati-hati.

Memey tersipu mendengar pertanyaan yang tidak disangka-sangka itu, “Nama saya Siti Fatimah, ki, Memey itu panggilan teman-teman...........” Jawab Fatimah, wajahnya merona merah.

“Siti Fatimah...., nama yang indah, secantik orangnya, dan Aki lebih nyaman mendengar nama Fatimah daripada apa tadi...? Memey......?” Kata Ki Bijak tersenyum.

“Iya ki, Memey......” Kata Fatimah.

“Nama Fatimah rasanya lebih pantas untuk Ni Mas, dan kalau Aki boleh usul, Aki panggil Ni Mas Fatimah saja ya....., dan mulai sekarang, Nak Mas Maula juga jangan panggil Memey lagi ya........., panggil Siti Fatimah atau Fatimah ya...........” Kata Ki Bijak sambil menupuk kaki Maula.

“Siti Fatimah.....waah, tenyata lebih enak Mey...eeh Fatimah.....” Kata Maula setengah bercanda.

Fatimah kembali tersipu mendengar candaan Maula.

“Begini Ni Mas Fatimah......., untuk memulai sesuatu yang baru memang berat, terlebih sesuatu yang baru itu menuju arah perbaikan, seperti Ni Mas Fatimah yang ingin pakai Jilbab, memang berat Ni Mas, tapi justru disitulah diukur kesungguhan Ni Mas untuk memenuhi perintah agama, apakah Ni Mas pakai jilbabnya hanya karena mode dan ikut-ikutan, atau memang keinginan itu timbul dari hati Ni Mas Fatimah yang terdalam........” Kata Ki Bijak.

“Jika alasan Ni Mas Fatimah masih berat untuk berjilbab dikarenakan malu oleh orang lain, wajar saja, tapi seharusnya kita lebih malu pada Allah yang telah memerintahkan kaum muslimat mengenakan jilbab..........” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an;


59. Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Ahzab)

[1232] Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

“Iya ki, saya juga baru tahu perintah berjilbab bagi kaum perempuan dari Mas Maula......, tapi ki........., bagaimana kalau ada orang yang mengatakan ‘aah sok-sok’an pake jilbab, baru belajar ngaji aja kemarin.......”Kata Fatimah masih sedikit merasa khawatir.

“Ni Mas Fatimah tidak perlu khawatir dengan celotehan semacam itu, abaikan saja, yan penting Ni Mas bertekad untuk memenuhi salah satu perintah agama, dan Ni Mas-lah yang kelak dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah, bukan mereka yang suka mencela, kuatkan niat Ni Mas semata karena Allah lain tidak..........”Kata Ki Bijak.

“Lalu perintah belajar agama dan perintah berjilbab, adalah dua perintah yang berbeda Ni Mas, Ni Mas kenakan jilbab saja mulai sekarang, kemudian insya Allah, dengan jilbab, dengan keinginan Ni Mas untuk belajar agama, Allah akan membimbing dan mempermudah Ni Mas Fatimah dalam belajar agama.........” Kata Ki Bijak.

“Iya Ki, terima kasih, nasehat Aki makin memperkuat saya untuk mengenakan jilbab ini, dan kalau Aki berkenan, saya ingin belajar ngaji disini ki.......................” Kata Fatimah.

“Ni Mas Fatimah dapat belajar dimana saja, banyak ustadz dan ulama yang dapat membimbing Ni Mas untuk belajar agama, dan sekiranya Ni Mas hendak belajar disini, ya monggo, dengan segala kerendahan hati, kami disini, Aki, Nak Mas Maula dan santri-santri lainnya, insya Allah akan dengan senang hati membantu Ni Mas Fatimah.........” Kata Ki Bijak.

“Tuh Mas, kata Aki juga Mas Maula suruh bantu saya......., ini nih Ki, Mas Maula suka susah kalau saya tanya sesuatu............” Kata Fatimah sambil melihat ke arah Maula.

Yang dituju hanya tersenyum “Bukan tidak mau Fat...., hanya ana merasa lebih baik Fatimah belajar dari sumber yang lebih baik, seperti Ki Bijak ini..........” Kata Maula membela diri.

“Tuh kan Ki......., Mas Maula suka gitu.........” kata Fatimah cemberut.

“Insya Allah mulai sekarang tidak lagi ya Nak Mas, Nak Mas tolong bantu Ni Mas untuk belajar, semampunya saja, nanti kalau memang Nak Mas belum tahu, Nak Mas bisa tanya kepada yang lebih mampu.........” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, insya Allah..........” Jawab Maula pendek.

“Terima kasih ki...., Ki, sebelum saya pamitan, saya ingin hati saya lebih yakin dan lebih mantap untuk mengenakan jilbab, tolong beri saya tambahan nasehat ki.........” Kata Fatimah.

“Pertama, niatkan apa yang hendak Ni Mas lakukan semata karena Allah dan mengharap ridha-Nya semata, bukan karena ingin tampil lebih cantik, bukan karena mode, bukan karena ikut-ikutan........”

“Kedua, insya Allah, dengan berjilbab, Ni Mas akan terhindar dari pandangan nakal kaum adam, sebagaimana ayat yang tadi Aki sebutkan, dengan berjilbab Ni Mas akan lebih mudah dikenali sebagai seorang muslimah, kemudian Ni Mas akan lebih ‘aman’ dari gangguan lelaki jahil yang tidak bertanggung jawab..........” Kata Ki Bijak lagi.

“Selebihnya, Ni Mas Fatimah akan menemukan sendiri betapa perintah bejilbab yang Allah syari’atkan kepada setiap muslimah, mengandung hikmah dan manfaat bagi muslimah yang mentaatinya, bukan untuk Allah, tapi semata demi kebaikan Ni Mas sendiri, demi kebaikan kaum muslimah sendiri........” Kata Ki Bijak.

“Ki, boleh saya kenakan jilbab dari sekarang ki...........” Kata Fatimah.

Ki Bijak mengangguk, “Nyi......tolong ambilkan jilbab putih dilemari , untuk Ni Mas Fatimah.......” Kata Ki Bijak kepada istrinya.

Sang istri bersegera membawakan jilbab yang diminta, “Ni Mas Fatimah, ini hadiah dari Aki........., Nyi..., tolong bantu Ni Mas Fatimah mengenakan jilbabnya......” kata Ki Bijak.

Istri Ki Bijak segera membantu mengenakan jilbab Fatimah....

“Nak Mas, coba perhatikan, lebih anggun bukan........?” Kata Ki Bijak menggoda Maula yang tampak kagum dengan perubahan pada penampilan Fatimah, sangat berbeda dengan penampilan ‘Memey’ dulu.

Maula tersenyum, “Iya ki......” Kata Maula pendek.

Fatimah tertunduk, ada air bening mengalir dipipinya, ia sangat terharu menatap wajah dan penampilannya sekarang dicermin lemari yang tidak jauh dari tempatnya duduk, sungguh berbeda dengan penampilannya selama ini.

“Terima kasih Ki, syukur pada_Mu ya Allah.............” Kata Fatimah tidak mampu melanjutkan kata-katanya, ia seperti baru terlahir kembali, ia seperti baru menemukan dirinya yang selama ini hilang............”
Ki Bijak, Maula dan semua yang hadir disitu, larut dalam keharuan, istri Ki Bijak kemudian mendekati Fatimah dan memeluk Fatimah dan mengelus-elus pundaknya............, Fatimah larut dalam pelukan Nyi Kasih dengan penuh kebahagiaan........

Wassalam

01 Maret 2008

No comments:

Post a Comment