Loading...

Thursday, October 21, 2010

BERDAMAI DENGAN “UJIAN”



“Ki, bagaimana seharusnya kita bersikap, ketika kita menghadapi ‘ujian’…?” Tanya Maula.

“Sikap kita dalam menghadapi ujian Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, ujian dalam pengertian umum, seperti bagaimana ketika kita sakit, ketika kita dalam kesempitan, ketika kita dalam kekurangan dan sebagainya, karena akhir-akhir ini, ana sering sekali mendengar berita orang yang berbuat nekat bahkan harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, karena mereka tidak kuat dalam menghadapi himpitan kehidupan yang mereka jalani, biasanya dalam kondisi seperti inilah orang akan merasa sedang diuji, meski sebenarnya, seperti yang pernah Aki bilang, bahwa hidup ini seluruhnya adalah ujian, baik ketika kita mendapat kebaikan atau sebaliknya…..” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang, “Bagaimana kita bersikap dalam menghadapi ujian…., hal pertama yang harus kita miliki untuk dapat bersikap dengan benar kala menghadapi ujian adalah bahwa kehidupan kita didunia ini adalah ujian, dalam kondisi apapun, baik ujian berupa kebaikan, maupun ketika kita diuji dengan keburukan, sehingga dengan sikap mental ini, kita tidak kaget dan tidak gagap ketika ujian itu datang pada kita, karena memang dunia ini adalah tempat ujian……” Kata Ki Bijak.

Maula masih diam menyimak penuturan gurunya;

“Sikap yang kedua, yang harus kita miliki agar kita dapat bersikap dengan benar dalam menghadapi ujian adalah kesadaran bahwa bukan hanya kita yang diuji, misalnya ketika kita tidak punya uang, kita merasa bahwa kita sedang diuji, tanamkan kesadaran dalam diri kita bahwa bukan hanya kita yang saat ini tidak memiliki uang, ada banyak orang yang juga tengah menjalani ujian yang sama dengan kita, tidak memiliki uang, dengan demikian, kita tidak larut dalam kesedihan yang berlebihan, apalagi sampai menyalahkan Allah…..’

“Atau misalnya lagi, ketika kita ditimpa musibah, seperti penyakit misalnya, tanamkan dalam diri kita bahwa bukan hanya kita yang sedang ditimpa penyakit, mungkin kita bisa berkunjung ke rumah sakit misalnya, disana ada banyak orang yang tengah diuji dengan penyakit yang mungkin penyakitnya lebih parah dari yang kita derita, dengan sikap ini, kita bisa mengurangi beban ujian yang tengah kita alami, end toh bukan hanya kita yang sedang sakit…..”

“Atau contoh lainnya, ketika kita tidak punya kerjaan, karena PHK atau lainnya, tidak perlu berkecil hati, toh diluar sana, banyak orang yang bahkan belum pernah mendapatkan kesempatan kerja seperti kita….”

“Atau contoh lain, ketika kita merasa kekurangan, gaji kecil, tidak punya tabungan dan lain sebagainya, besarkan hati kita bahwa diluar sana bahkan ada orang yang sehari-harinya tidak mempunyai penghasilan sama sekali, apalagi tabunga….., dengan menanamkan sikap seperti itu, beban kita dalam menghadapi ujian, akan berkurang dan kita bisa menyikapinya secara benar….” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Benar ki, kalau hari ini kita tidak punya uang, orang lain mungkin dari kemarin sudah tidak punya uang, kalau hari ini kita kena penyakit, ada banyak orang yang sudah berbulan-bulan dirumah sakit atau terkena penyakit menahun, kalau hari ini kita tidak punya beras, ada banyak orang yang bahkan sudah berhari-hari tidak menemukan nasi…, ana mengerti ki…..” Kata Maula.

“Hal kedua yang harus kita tanamkan dalam diri kita dalam menghadapi ujian adalah bahwa ujian yang tengah kita jalani, samasekali tidak membuat kita hina dimata Allah, selama kita menyikapinya dengan benar…..” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki….?” Tanya Maula.

“Ada banyak orang yang ketika diuji dengan kekurangan atau kemiskinan, kemudian merasa rendah diri, merasa hina dimata orang lain, atau ada orang yang ketika diuji dengan penyakit, menjadi rendah diri, padahal sekali-kali ujian kekurangan, kemiskinan atau apapun bentuk uiian yang kita jalani ini tidak akan menghinakan kita, justru dengan ujian inilah kita dididik dan dibentuk Allah untuk menjadi orang yang sabar,tegar dan kuat……;

“Hanya kadang seperti yang Aki katakan tadi, ada banyak orang yang salah dalam menyikapi ujian ini, dan sebagai orang yang beriman kepada Allah, yang meyakini bahwa tidak ada sesuatu apapun, baik itu kekurangan, bencana atau penyakit yang menimpa kita kecuali dengan izin dan kehendak Allah…, tidak ada kekurangan, bencana atau penyakit yang Allah ujikan kepada kita melainkan disana ada selaksa hikmah yang akan mengantar orang yang dapat memaknainya menuju kemulian fidunya wal akhirat……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula diam, dia meresapi setiap untai kata yang keluar dari bibir bijak gurunya; “Iya ki…., banyak tokoh-tokoh yang menghiasi panggung sejarah, justru lahir dan mendapat kemulian setelah mereka mendapat ujian yang sangat berat…..” Kata Maula.

“Itu hal ketiga yang harus kita miliki dalam diri kita Nak Mas, bahwa tanjakan yang terjal, jurang yang curam, jalan yang penuh onak dan duri, gelombang besar, caci maki, hinaan, intimidasi, bahkan ancaman pembunuhan, adalah jalan yang ‘biasa’ dilalui oleh orang-orang besar….,hampir tidak ada orang yang tampil dipanggung sejarah dengan jalan yang lurus dan landai tanpa ujian…..”

“Kita mengenal Nabiyullah Ibrahim as, bagaimana beliau harus menghadapi ujian yang sangat berat, harus dibakar hidup-hidup oleh para penentangnya, kita pun tahu bagaimana Nabi Musa as harus berhadapan dengan tembok keangkuhan fir’aun, kita tahu bagaiman Nabi Ayyub as diuji dengan penyakit langka, dan bahkan Nabi kita, baginda Rasul, makluk kecintaan Allah, tidak luput dari ujian yang maha berat, beliau mengalami intimidasi dari kaumnya, beliau diembargo hingga kekurangan, beliau diancam dibunuh, dan bahkan beliau ‘diusir’ dari tanah kelahirannya, end toh mereka tidak menjadi hina, dan bahkan nama-nama mereka terpatri abadi dalam al qur’an dan tetap akan hidup disepanjang jaman………” Kata Ki Bijak.

“Belum lagi para ulama penegak ajaran tauhid, para penerus jejak rasul, seperti ibnu tammiyyah dan lainya, mereka pun harus berhadapan dengan berbagai ujian, penjara, dan lainnya….” Tambah Ki Bijak

“Benar ki……, dijaman sekarang pun, Nelson Mandela, harus mendekam dipenjara hampir 28 tahun, sebelum akhirnya menjadi presiden Afrika Selatan, dan bahkan Bung Karno beberapa kali keluar masuk penjara, ditangkap dan dibuang sebelum akhirnya namanya harum dalam sejarah bangsa Indonesia……” Kata Maula.

“Yah, seperti itu Nak Mas, jadi ujian adalah sesuatu yang tidak harus membuat kita menggigil ketakutan, kita bisa ‘berdamai’ dengan ujian dengan cara bersikap dengan benar dalam menghadapi ujian tersebut…..” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas simak beberapa ayat ini……” Kata Ki Bijak sambil membacakan ayat-ayat al qur’an yang menyatakan bahwa ujian adalah sebuah sunatullah, ujian berlaku bagi siapapun, ujian bisa terjadi dimanapun, kapanpun dan dalam bentuk apapun….


16. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (At Taubah)


34. Dan Sesungguhnya kami Telah menguji Sulaiman dan kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah Karena sakit), Kemudian ia bertaubat[1302].( Shaad)

[1302] sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ujian Ini ialah keberantakan kerajaan Sulaiman sehingga orang lain duduk di atas singgasananya.


41. Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya Aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan". (Shaad)

“Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menyatakan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan itu sendiri, bahwa ujian adalah sebuah warna kehidupan yang membuatnya menjadi lebih indah, bahwa ujian laksana riak gelombang yang memperindah lautan, bahwa ujian adalah tanjakan yang akan membuat kita bisa menikmati indahnya jalan yang melandai, bahwa ujian dari salah satu cara Allah untuk memutar kehidupan ini……; Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, tadi Aki mengatakan bahwa ujian merupakan salah satu cara Allah untuk memutar roda kehidupan ini…?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, contoh kecilnya begini, ketika kita sakit, kita perlu obat, perlu dokter, dan lainnya, bayangkan jika setiap orang tidak pernah sakit, dan mereka tidak perlu obat, betapa banyak perusahaan farmasi tutup, berapa banyak karyawannya tidak bekerja, belum lagi supplier penopangnya, atau kalau tidak orang sakit, dokter tidak memiliki penghasilan, fakultas kedokteran tutup, dosen nganggur dan seterusnya, dengan satu jenis penyakit saja, dengan seorang penderita saja, sudah sedemikian banyak putaran roda kehidupan yang bergulir karenannya…., konon lagi dengan jenis penyakit dan ujian lainnya…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, seperti juga bencana alam misalnya, berapa banyak orang dan pihak yang terlibat dalam kejadian itu,subhanallah…., betapa besar rencana dan keagungan_Mu ya Allah……” Kata Maula.

“Karenanya, mulai sekarang, Nak Mas harus belajar berfikir dan bersikap bijak dalam menyikapi semua apa yang Allah takdirkan pada Nak Mas, jangan sedih kala dilanda musibah, dan jangan bangga diri kala diberi kelapangan, sikapi dengan wajar, dan senantiasa ingat bahwa semua berasal dari Allah dan semua akan kembali padanya……” Kata Ki Bijak menutup perbincangan sambil mengutip ayat dalam surat Al Baqarah;

155. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[101].

[101] artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. kalimat Ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.


Wassalam

October 2010

No comments:

Post a Comment