Sunday, June 26, 2011

MINTALAH KEPADA-KU

“Wallahu’alam Nak Mas…, sejujurnya Aki belum menemukan dalil yang menyatakan bahwa tertundanya doa kita, karena kita salah dalam melafadzkan doa penutup do’a, yaitu ‘Aamiin…..” Kata Ki Bijak menjawab pertanyaan Maula terkait dengan kesalahan penulisan dan pelafadzan Aamiin yang menurut sebuah sumber kemungkinan menjadi asbab tertunda doa seseorang.

“Iya ki….., ana agak terkejut ketika mendapatkan artikel ini, karena selama ini ana tidak terlalu memperhatikan tulisan dan pelafadzan kata penutup doa ini….” Kata Maula.

“Nak Mas harus berterima kasih pada orang yang mengirimkan tulisan itu, mungkin dengan wasilah tulisannya itu Allah mengingatkan kita, mengingatkan Aki, mengingatkan Nak Mas dan semua orang, agar lebih berhati-hati dalam mengucapkan lafadz aamiin ini, jangan sampai mulut kita mengucapkan kata aamiin, sementara hati kita berkata lain atau bahkan entah sedang dimana, karena justru ketidak hadiran hati ini ketik kita berdoa, yang menurut sebuah hadits merupakan salah satu asbab tidak terkabulnya doa kita, “Ketahuilah, Allah tidak akan menerima doa dari hati orang yang lalai.….” Kata Ki Bijak mengutip sebuah hadits.

Maula manggut-manggut mendengar pitutur gurunya, “Ketahuilah, Allah tidak akan menerima doa dari hati orang yang lalai ya Ki…..” Kata Maula mengulang hadits yang tadi diutarakan gurunya.

“Ya Nak Mas…., nanti coba Nak Mas cari sanad hadits ini…; hati adalah piranti komunikasi kita dengan Allah Nak Mas…., dihatilah Allah menanamkan keimanan, kedalam hatilah Allah memberikan petunjuk_Nya, dan dengan hati pulalah kita menyeru dan memohon kepada_Nya…, dan ketika hati kita lalai, hati kita tidak mengiyakan apa yang diucapkan lidah kita, betapapun bacaan kita bagus, betapapun doa kita panjang, betapapun lafadz aamiin kita fasih…., maka potensi terhalangnya doa kita untuk sampai kepada Allah menjadi lebih besar Nak Mas…..” Kata Ki Bijak lagi, sambil mengutip ayat 205 dari surat Al A’raaf:


ä.øŒ$#ur š­/§ Îû šÅ¡øÿtR %YæŽ|Øn@ ZpxÿÅzur tbrߊur ̍ôgyfø9$# z`ÏB ÉAöqs)ø9$# Íirßäóø9$$Î/ ÉA$|¹Fy$#ur Ÿwur `ä3s? z`ÏiB tû,Î#Ïÿ»tóø9$# ÇËÉÎÈ
205.  Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

“Ana mengerti Ki…..; lalu akan halnya Allah mengabulkan doa kita ki…?” Tanya Maula.

 “Nak Mas…, Allah yang ‘menganjurkan kita berdo’a dan memohon kepada_Nya;

tA$s%ur ãNà6š/u þÎTqãã÷Š$# ó=ÉftGór& ö/ä3s9 4 ¨bÎ) šúïÏ%©!$# tbrçŽÉ9õ3tGó¡o ô`tã ÎAyŠ$t6Ïã tbqè=äzôuy tL©èygy_ šúï̍Åz#yŠ ÇÏÉÈ
60.  Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".

[1326]  yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-Ku.


 “Karenanya kita tidak perlu merasa khawatir doa kita tidak diijabah Allah swt selama kita ‘memenuhi syarat-syaratnya’…..” Kata Ki Bijak.

“Apa saja syaratnya ki…….?” Tanya Maula.

“Nak Mas hafal ayat 186 dari surat Al Baqarah….?” Tanya Ki Bijak.

“Ya Ki…….” Kata Maula sambil membaya ayat dimaksud;

#sŒÎ)ur y7s9r'y ÏŠ$t6Ïã ÓÍh_tã ÎoTÎ*sù ë=ƒÌs% ( Ü=Å_é& nouqôãyŠ Æí#¤$!$# #sŒÎ) Èb$tãyŠ ( (#qç6ÉftGó¡uŠù=sù Í< (#qãZÏB÷sãø9ur Î1 öNßg¯=yès9 šcrßä©ötƒ ÇÊÑÏÈ
186.  Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Ya…, itu ayatnya Nak Mas….., ayat ini adalah jawaban dari suatu pertanyaan beberapa sahabat, yang bertanya kepada  da beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat hingga kami membisiki-Nya ataukah Dia jauh hingga kami menyeruNya?”

“Kemudian turunlah ayat ini; { وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ } “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat” karena sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengawasi, Maha Melihat dan Mengetahui apa yang tersembunyi dan dirahasiakan, Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati dan Dia sangat dekat dari orang yang berdoa kepadaNya dengan mengabulkannya, oleh karena itu Dia berfirman, {أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ } “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepadaKu”

“Dan akhir ayat ini yang sering kita abaikan’ Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku’…, masih banyak diantara kita yang mulutnya meminta atau bahkan menghiba kepada Allah untuk diberikan apa yang mereka minta, tapi dilain sisi, mereka tidak mau melaksanakan apa yang menjadi syarat terkabulnya doa itu, yang yaitu memenuhi segala perintah Allah dan memurnikan ketauhidan semata kepada_Nya…..”

“Mereka meminta kepada Allah, tapi tetap menyekutukan Allah dengan selainNya, mereka mengagungkan pangkat, mereka menghamba pada jabatan, mereka mengabdi pada berhala yang bernama harta dan materi….;

“Mereka memohon kepada Allah dengan mengharu biru, tapi shalat mereka masih sering ketinggalan, zakat mereka masih sering terabaikan, shaum ramadhan pun kadang mereka lalaikan….”

“Mereka meminta kepada Allah untuk diberikan segenap kebaikan, tapi yang mereka lakukan kadang bertolak belakang dengan apa yang mereka mohonkan….”

“Dan dalam hemat Aki…, hal inilah yang secara lahiriah ‘menghalangi’ doa kita untuk sampai dan diijabah Allah…..” Kata Ki Bijak.
Maula manggut-manggut mendengar penuturan gurunya yang panjang lebar, “Akan halnya kalau kita sudah memenuhi syarat-syaratnya ki…?” Tanya Maula beberapa saat kemudian

“Mustahil Allah berdusta Nak Mas…., mustahil Allah berbuat tidak adil, mustahil Allah mengingkari ayat-ayatNya, insya Allah, selama kita sudah memenuhi semua syaratnya, insya Allah apa yang kita mohonkan hanya tinggal menunggu waktu dan kadar yang tepat menurut Allah swt…….” Kata Ki Bijak.

Maula lagi-lagi menarik nafas dalam-dalam, “Iya Ki.., ana mengerti….” Kata Maula kemudian, sambil menyalami gurunya untuk pamitan.

Wassalam;

Friday, June 17, 2011

PROMOSI JUGA SEBUAH UJIAN


“Bagaimana hasilnya Nak Mas….? Tanya Ki Bijak kepada Maula yang beberapa hari lalu menceritakan bahwa ia sedang menunggu pemberitahuan evaluasi karyawan dari kantornya.

“Alhamdulillah Ki…, ana mendapat promosi……, terima kasih atas doanya ya ki…..” Kata Maula.

“Alhamdulillahirabil’alamiin…., syukurlah Nak Mas…., dan bukan kepada Aki Nak Mas harus berterima kasih, tapi pada Allah….., karena Allah-lah yang menentukan naik atau tidaknya seseorang, bukan Aki, bukan manager, bukan pula direktur tempat Nak Mas bekerja, tapi semata-mata Allah hendak menguji Nak Mas dengan amanah yang lebih besar…..” Kata Ki Bijak.

“Promosi sama dengan amanah yang lebih besar ki…?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas…., naiknya jabatan kita, naiknya penghasilan kita, naiknya posisi kita, juga berarti bertambahnya  tanggung jawab kita dihadapan Allah dan dimata manusia…, karena amanah yang besar, akan melahirkan tanggung jawab yang besar pula…” Kata Ki Bijak.

Maula menghela nafas panjang mendengar penuturan Maula.

“Jabatan yang ada pada kita, bukan semata karena kita lebih pandai, bukan semata kita lebih pintar, bukan semata kita lebih senior…., bukan pula semata atasan kita sayang kepada kita, tapi semata karena Allah Nak Mas…..;

“Terlepas dari siapapun atasan kita, apakah dia muslim, apakah dia kafir, apakah dia orang local, apakah dia bule, apakah dia bermata sipit…, semuanya adalah mahluk Allah, yang tidak punya daya dan kekuatan apapun untuk menaikan jabatan kita tanpa izin Allah….”

“Karenanya meskipun secara lahir yang bertanda tangan diatas kertas promosi Nak Mas mungkin manager atau direktur Nak Mas, tapi secara hakekat, Allahlah yang telah menempatkan Nak Mas diposisi sekarang, karenanya tanggung jawab Nak Mas tidak sebatas pada manager atau perusahaan Nak Mas, Nak Mas juga harus mempertanggung jawabkan jabatan yang diamanahkan pada Nak Mas pada Allah swt……” Kata Ki Bijak lagi.

Lagi, Maula menghela nafas panjang, “Berat sekali ya ki….” Kata Maula kemudian.

“Laa haula walaaquata ilabillah….., Nak Mas akan merasa berat, jika Nak Mas mengemban amanah itu sendiri, tapi tidak jika Nak Mas memohon pertolongan pada Allah….., kembalikan semuanya kepada Allah, Allah yang telah memberi amanah kepada Nak Mas, tentu tahu pasti kapasitas Nak Mas untuk dapat mengemban amanah itu…, laa yukalifullah nafsaan ila wus’aha…., Allah tidak akan membebani seseorang dengan beban yang melebihi batas kemampuannya…., karenanya Nak Mas harus bersyukur dengan amanah baru ini, sekaligus Nak Mas harus semakin mendekatkan diri kepada Allah agar Nak Mas bisa ‘selamat’ dan tidak terbebani dengan amanah yang baru ini…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Insya Allah ki…., Robbi laataqilnii ilaya tarfata’ain., laa haulawalaa quata ilabillahi’aliyiil ‘adhiim….., Yaa Robbi, jangan pernah tinggalkan hamba sendirian walau sekejap matapun jua, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuatan_Mu yang Maha Besar…..” Kata Maula, memohon kekuatan kepada Allah atas amanah barunya.

“Amiin……” Ki Bijak mengamini.

“Akan halnya bagi yang tidak promosi ki…..?” Tanya Maula.

“Tidak promosi, tidak naik jabatan, bukan berarti sebuah kekalahan atau kegagalan Nak Mas, sama sekali tidak……, justru dengan tidak naiknya jabatan kita,dapat berarti sebuah kesempatan yang Allah berikan kepada kita untuk berintrospeksi dan berusahan memperbaiki diri, serta belajar memahami keadilan Allah dengan ikhlas dan tawakal…..” Kata Ki Bijak.

“Tapi kadang kita sulit menerimanya ya ki, kadang kita berfikir bahwa kita sudah bekerja dengan baik, sudah berusaha menjalan peraturan perusahaan dengan baik, masa kerja juga sudah lebih dari cukup, tapi tetap saja tidak promosi……” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula; “Nak Mas tahu ayat ke 26 surat Ali Imran…?” Tanyanya kemudian.

“Ya ki….”Kata Maula sambil membacakan ayat yang dimaksud;

 
26.  Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

“Ya…, benar itu ayatnya…, menurut asbabunuzulnya, ayat ini adalah doa Nabi Muhammad yang meminta kepada Allah agar salah satu raja (romawi & Persia) bisa memeluk Islam, namun ayat inipun memberi kita hikmah yang besar bagi kita bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa memuliakan dirinya sendiri, kecuali Allah memberinya kemuliaan, atau terkait dengan pertanyaan Nak Mas tadi, tidak ada orang yang bisa naik jabatan sendiri, kecuali Allah yang memberinya jabatan…..”

“Pun tidak ada seorangpun yang bisa menduduki jabatannya, jika Allah menghendaki bahwa dia harus melepas jabatan itu…., jadi kenapa kita harus marah kepada atasan kita, kenapa kita harus cemburut dan memalingkan muka pada atasan kita, jika kita mengimani bahwa Allah-lah sang pemilik kemuliaan, yang akan memberikan kemuliaan itu pada siapa yang dikehendakinya, bukan manager, bukan direktur atau bukan siapapun selain Allah……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula mengangguk…..” Ana mengerti Ki…, meski mungkin tidak semua orang bisa menerimanya, karena secara lahiriah, tidak naiknya jabatan kita, dapat berarti penghasilan kita juga tidak sebesar yang promosi…..” Kata Maula kemudian.

“Untuk menjawab pertanyaan ini, coba Nak Mas baca Surat Ar-Rum ayat 37 dan Az-Zumar ayat 52..” Kata Ki Bijak.

Segera Maula mengambil al qur’an dan mencari ayat dikatakan gurunya;

37.  Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.


52.  Dan Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.

“Nak Mas perhatikan, kedua ayat ini redaksinya sangat mirip, hanya beda diawal kalimatnya saja, ‘apakah mereka tidak memperhatikan’ dan ‘apakah mereka tidak mengetahui’, selebihnya sama, dan didalam kedua ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk ‘berfikir’, mengenai lapang dan sempitnya rezeki kita.....”Kata Ki Bijak.

 Maula masih diam, dia tengah mengamati redaksi kedua ayat tersebut yang memang sangat identik;
“Menurut Nak Mas, apa yang bisa kita ‘fikirkan’ ketika rezeki Allah menguji kita dengan kesempitan rezeki…?” Tanya Ki Bijak.

Maula diam sejenak…” Mmmmh…, mungkin kita banyak dosa ki….?”Kata Maula.

“Mungkin…., lalu apa lagi Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak.

“Mungkin kita suka menunda-nunda shalat, sehingga Allahpun menahan rezeki kita ki….” Kata Maula lagi.

“Mungkin juga.,..., dan masih beribu kemungkinan yang bisa menyebabkan ‘tertahannya’ rezeki kita, tapi yang jelas, kita harus tetap yakin, bahwa apapun yang Allah ‘ujikan’kepada kita, bukan untuk mendhalimi kita, melainkan untuk mendidik kita agar kita berfikir bahwa lapang dan sempitnya rezeki adalah hak prerogative Allah…, bahwa kita manusia, hanya diwajibkan menyempurnakan syari’at dan kasab kita untuk menjemput rezeki dari Allah…..selebihnya kita kembalikan kepada Allah……” Kata Ki Bijak lagi.

“Jadi salah ya Ki.., kalau karena kita tidak naik jabatan dan gaji kita naiknya sedikit kita kemudian marah-marah, atau kerjanya asal-asalan….” Kata Maula.

Ki Bijak lagi-lagi tersenyum mendengar perkataan Maula, “Nak Mas…., apakah dengan marah kemudian jabatan kita lantas naik…?

“Apakah dengan kerja asal-asalan kemudian gaji kita ditambah…? Tanya Ki Bijak.

“Ya tidak ki…” Kata Maula.

“Lalu kenapa kita mesti marah-marah dan kerja asal-asalan kalau kita tahu bahwa marah dan kerja asal-asalan tidak menambah apapun bagi kita kecuali kerugian…?” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki….., marah dan kesal hanya membuat fikiran jadi sakit….” Kata Maula.

“Yang terbaik dan paling bijak adalah introspeksi diri Nak Mas…, tafakuri apa yang kurang dari kita selama ini, mungkin kita sudah merasa kerja dengan baik, tapi coba tengok, sudahkah shalat kita juga baik dan tepat waktu…?

“Mungkin kita merasa kerja sudah lama, tapi juga coba tafakuri, adakah kita sudah menunaikan hak orang lain dengan mengeluarkan zakat dan sedekah….”

“Mungkin kita merasa paling senior diantara yang lain, tapi juga kita tanyakan kualitas ibadah kita…..”

“Dan masih banyak bahan instrospeksi diri yang bisa kita telaah, untuk kemudian menjadi orang yang lebih baik dimata Allah…., insya Allah, ketika Allah menilai kita baik, seluruh kantor menjelekan kita, atau bahkan seisi bumi menjelekan kita, maka kita akan tetap baik….”

“Sebaliknya, sebaik apapun penilaian rekan kita, setinggi apapun penilaian manager kita, ketika Allah menilai kita kurang, maka tetap nilai kita akan kurang……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…., ana mengerti…..” Kata Maula.

“Jadi intinya sekali lagi, kenaikan jabatan bukanlah karena kelebihan seseorang, melainkan karunia dan ujian Allah kepada siapa yang hendak diujinya…”

“Pun tidak naiknya jabatan kita, bukanlah sebuah kehinaan, melainkan juga ujian untuk menguji sejauh mana kita memahami kebijaksaan dan keadilan Allah, serta menguji keimanan dan tawakal kita kepada_Nya……” Kata Ki Bijak lagi.

“Ya ki…..Robbi anzilnii munzalan mubarokann wa anta khoiri munzilin….
 
29.  Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah Aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat."

“Aamiiin….” Ki Bijak mengamini.

Wassalam

June 17,2011

Sunday, June 12, 2011

RAJJABA - YURAJJIBU

“Bulan sudah hampir purnama lagi ya ki…..” Kata Maula sambil menikmati keindahn bulan sebagai salah satu ‘ayat’ dari sang Maha Pencipta.

“Subhanallah.., iya Nak Mas…, sekarang sudah memasuki tanggal 12 Rajab…” Kata Ki Bijak.

“Berarti sekitar satu bulan setengah lagi kita akan memasuki bulan suci ramadhan ya Ki….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, sekitar sebulan setengah lagi insya Allah kita akan memasuki bulan suci ramadhan…., semoga Allah masih akan memberi kita kesempatan untuk memasuki bukan agung itu…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Mulai dari sekarang, kita harus bersiap-siap ya ki….” Kata Maula. "Benar Nak Mas…, seperti kata orang-orang, persiapan adalah 80% dari total pekerjaan itu sendiri…., pun dengan ramadhan Nak Mas…., persiapan yang baik, persiapan yang memadai, insya Allah akan sangat membantu kita untuk dapat menjalani ibadah dibulan ramadhan dengan lebih baik…..” kata Ki Bijak.

Maula manggut-manggut mendengar penuturan Ki Bijak, “Akan halnya dengan bulan rajab ini ki…?” Tanya Maula

Ki Bijak menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Maula; “Rajab…, secara bahasa terambil dari Kata rajjaba – yurajjibu, yang artinya mengagungkan, atau bulan yang diagungkan…., selain tradisi dan adat bangsa arab yang mengagungkan bulan rajab, dengan menghindari peperangan, dengan mengadakan berbagai kegiatan adat, bagi kita umat islam, bulan rajab merupakan bulan yang didalamnya terdapat sebuah peristiwa besar, yang merupakan tonggak dan momentum bagi perkembangan islam itu sendiri, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, untuk kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Sidratul Muntaha…, yang kita kenal dengan peristiwa Isra’ Mi’raj yang terjadi pada tanggal 27 Rajab…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…., hampir setiap tahun peringatan demi peringatan Isra’ Mi’raj diperingati dihampir semua dari, dihampir semua surau dan masjid, tapi sepertinya peringatan Isra’ Mi’raj masih sekedar kegiatan seremonial, kegiatan rutin yang belum menyentuh pada isi dan makna Isra’ Mi’raj itu sendiri…..” Kata Maula.

“Iya Nak Mas…., untuk sekedar memperingati, bangsa ini mungkin yang paling ramai, yang paling banyak, mulai dari tingkat mushalla, sampai dengan peringatan tingkat nasional, semua memperingati peristiwa bersejarah ini, hanya seperti yang Nak Mas katakana tadi, belum menyentuh pada makna dan isi yang terkandung didalamnya….” Kata Ki Bijak.

“Hikmah apa saja yang bisa kita petik dan peringatan Isra’ Mi’raj ini ki…?” Tanya Maula.

Lagi, Ki Bijak menghela nafas dalam-dalam; “Berbicara Isra’ Mi’raj, berarti kita akan berbicara tentang iman Nak Mas….” Kata Ki Bijak,

“Isra’ Mi’raj berarti tentang keimanan ki…?” Tanya Maula

“Benar Nak Mas….., ketika kita berbicara bahwa baginda Rasul melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang jaraknya kurang lebih 1500KM dan kemudian dilanjutkan ke Sidatrul Muntaha, yang entah berapa juta kilometer jaraknya, hanya dalam waktu satu malam saja, ketika itulah iman kita yang diuji…, karena akal kita, tidak akan mungkin mengatakan ‘benar atau mungkin’, terhadap peristiwa itu…..”

“Dengan kondisi saat itu yang belum ada pesawat atau jet, akal siapa yang sanggup menjelaskan bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi, bahwa Nabi Muhammad mengatakan hal yang benar, bahwa Allah, dengan keMaha kuasaan_Nya, telah memperjalankan nabinya untuk menempuh jarak, melintas ruang dan waktu yang sedemikian singkat….”

“Dan ini artinya hanya iman yang bisa menjawabnya, ketika kita meyakini dan mengimani kekuasan Allah yang tidak terbatas, maka kita tidak akan ragu sedikitpun untuk mengatakan dan meyakini bahwa peristiwa itu memang benar-benar terjadi, seperti apa yang diungkapkan oleh Abu Bakar Shiddiq, ketika beliau mendengar peristiwa itu, beliau tidak berpikir bagaimana Nabi Muhammad melakukannya, tapi beliau justru berkata, ‘Jika Muhammad yang mengatakan, maka saya percaya….’, dan hanya orang yang memiliki keimanan yang benar saja yang sanggup mengucapkan dan mengungkapkan keyakinan seperti itu….”

“Sementara mereka yang keimanannya masih berada ditepian, banyak diantara mereka yang berpaling dari islam, karena akal mereka tidak sanggup untuk menerima kebenaran, sekalipun itu diucapkan oleh Rasulnya yang mereka kenal sebagai al Amin, yang terpercaya, yang tidak pernah dusta dalam setiap ucapan dan tindakannya……”

“Terlebih bagi mereka yang memang membenci islam dan baginda Rasul, mereka dengan segera menyebarkan fitnah bahwa baginda rasul tidak waras, bahwa baginda rasul berdusta, bahwa tidak mungkin seorang Muhammad menempuh jarak sejauh itu hanya dalam waktu semalam saja, mereka menjadikan peristiwa itu sebagai ejekan dan olok-olok untuk mendiskreditkan baginda rasul dan umat islam….” Kata Ki Bijak panjang lebar.

Maula manggut-manggut mendengar penuturan Ki Bijak yang panjang lebar;

“Pun dengan kita yang hidup 14 abad setelah peristiwa itu terjadi, dijaman yang modern seperti sekarang ini, diabad yang penuh ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan segala kecanggihannya, masih dan pasti tidak akan mampu menjawab bagaimana peristiwa Isra’ Mi’raj itu berlangsung, dan lagi…, bukan kecanggihan teknologi, bukan kehebatan akal, bukan kemajuan ilmu pengetahuan yang bisa membenarkan peristiwa Isra Mi’raj itu benar-benar terjadi, tapi hanya Iman yang bisa membenarkan iradat Allah tersebut….” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki…., kalau hanya memakai computer untuk mengkalkulasi jarak dan waktu tempuh perjalanan baginda rasul pasti tidak bisa, kalau hanya menggunakan akal dan kemajuan teknologi juga pasti tidak bisa, jadi hanya iman yang bisa melakukan pembenaran terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj baginda Rasul….” Kata Maula.

“Benar Nak Mas…, hal kedua yang terkait dengan bulan rajab ini adalah berkaitan dengan shalat kita Nak Mas…., dihampir setiap kesempatan peringatan Isra’ Mi’raj, para da’I, kyai, ustadz dan mubaligh selalu menyampaikan bahwa salah satu ‘oleh-oleh’ perjalanan isra’ mi’raj banginda rasul adalah perintah shalat lima waktu yang diterima langsung Baginda Rasul dari Allah swt….”

“Dan hampir semua kita hafal akan hal itu, bahwa isra’ mi’raj baginda rasul merupakan awal dari disyari’atkannya shalat lima waktu seperti sekrang ini…., hanya sayangnya masih sangat sedikit yang bisa memahami dan mengaktualisasikan shalat lima waktu itu dalam kehidupan sehari-harinya…”

“Masih banyak diantara kita yang shalatnya hanya sekedar rutinitas, shalatnya hanya sekedar ikut-ikutan, shalatnya hanya sekedar tidak enak sama teman atau atasan, shalatnya masih shalat-shalatan….” Kata Ki Bijak lagi.

“ STMJ ya ki….” Kata Maula.

“Apa itu STMJ Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak.

“Shalat Terus, Maksiat Jalan…., itu istilah gaulnya ki….” Kata Maula sambil tersenyum.

“Oooh…, Aki baru tahu Nak Mas…, tapi ungkapan itu banyak benarnya Nak Mak, masih banyak orang yang secara lahiriah shalat, tapi korupsinya jalan…, banyak orang yang secara lahiriah shalat, tapi bicaranya asal keluar…, banyak orang rajin shalat, tapi rajin juga menerima suap…, banyak orang yang gemar shalat, tapi gemar juga menipu…, banyak orang yang namanya pakai bahasa arab, *******, yang artinya kemuliaan agama, tapi perilakunya jauh dari nama yang disandangnya….., ada lagi yang namanya pakai ‘muhamad’ yang artinya manusia terpuji, tapi juga tidak lepas dari tindakan korup yang banyak merugikan bangsa dan rakyat….., maka tepat rasanya jika momentum isra’ mi’raj kali ini kita jadikan sebagai momentum untuk mengoreksi shalat kita, agar shalat kita tidak lagi sekedar STMJ, tapi benar-benar shalat yang SMPKM Nak Mas….” Kata Ki Bijak panjang lebar, dan menggunakan singkatan, tidak mau kalah dengan Maula

“SMPKM…apa itu ki….?” Tanya Maula heran

“Shalat yang Mencegah Perbuatan Keji & Munkar Nak Mas….” Kata Ki Bijak sambil tersenyum.

“Waah Aki hebat, bisa buat istilah gaul…SMPKM.., Shalat yang Mencegah Perbuatan Keji & Munkar…..” Kata Maula tertawa mendengar bahasa ‘gaul’ gurunya.

Ki Bijak hanya tersenyum mendengar tawa Maula yang sangat lepas….., “Karena memang tujuan dan hikmah shalat yang terpenting adalah bagaimana shalat kita bisa menjadi benteng, bisa menjadi filter bagi kita untuk terhindar dari perbuatan keji dan munkar seperti firman Allah dalam surah Al Ankabut:45, Nak Mas hafal ayatnya…?” Tanya Ki Bijak kemudian.

“Iya ki…”Kata Maula sambil membacakan ayat dimaksud;

45. Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

“Ya…itu ayatnya Nak Mas…..” Kata Ki Bijak membenarkan.

“Dan yang lebih penting lagi, bukan hanya sekedar hafal Nak Mas, tapi bagaimana kita berusaha agar shalat kita benar-benar ‘penyelamat’ kita dari perbuatan keji dan mun’kar…, sebentar lagi masuk maghrib Nak Mas…., mari kita siap-siap, karena shalat tepat waktu adalah salah satu metoda yang paling sederhana agar kita bisa menjadikan shalat kita sebagai pencegah perbuatan keji dan mun’kar….”

“Dan ingat…, kemunkaran bukan hanya korupsi, kemunkaran bukan hanya prostitusi, kemunkaran bukan hanya memberi dan menerima suap, kemunkaran bukan hanya maling ayam…., menunda shalat, mengabaikan panggilan adzan, tidak menyantuni fakir miskin, menelantarkan anak yatim…, sangat boleh jadi bagian dari kemunkaran juga Nak Mas, yang kadang kita tidak menyadarinya….” Kata Ki Bijak mengakhiri perbincangan hari itu.

Maula mengangguk tanda mengerti dan segera beranjak mengambil air wudhu bersama-sama gurunya, untuk menyongsong waktu maghrib yang segera datang.

Wassalam

June 12,2011

Monday, June 6, 2011

KENDALIKAN ‘KUDA’MU

“Silahkan Nak Mas…., islam tidak melarang umatnya untuk menjadi orang kaya, islam tidak melarang umatnya untuk berkuasa, islam bahkan menganjurkan kita, umatnya untuk menjadi umat yang kuat, bagi itu dari segi materi, dari segi ilmu pengetahuan, dari segi teknologi, dari segi ekonomi,dan lain sebagainya, bahkan dalam sebuah hadits, baginda Rasul menyatakan bahwa Allah mencintai muslim dan mukmin yang kuat…, tapi…., ada tapinya Nak Mas….” Kata Ki Bijak ketika berbincang mengenai kecenderungan manusia pada harta, pangkat dan jabatan.

“Tapi apa ki….?” Tanya Maula penasaran.

“Tapi kita harus punya kendali yang kuat pula terhadap harta, terhadap pangkat, terhadap jabatan yang dimilikinya…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Ana masih belum paham ki…..” Kata Maula lagi.

“Begini Nak Mas….., Harta, pangkat dan jabatan ibarat kuda dalam gambar ini….” Kata Ki Bijak sambil menunjukan sebuah gambar arjuna wihaha yang tengah mengendarai kudanya.

“Harta kita, pangkat kita, jabatan kita, laksana kuda tunggangan kita Nak Mas, harta kita,pangkat kita, jabatan kita, laksana kendaraan yang kita kendarai….., ketika kita memiliki ketrampilan untuk mengendarai kuda kita, maka kuda ini akan sangat membantu kita untuk membawa kita mencapai tujuan kita….”

“Kuda kita bisa mengantar ketempat yang kita mau, kuda kita bisa mengantar kita ketempat yang kita tuju, kuda kita bisa meringankan beban kita dalam mengarungi perjalanan yang panjang dan jauh…..’

“Pun dengan harta kita…, ketika kita memiliki ‘kendali’ yang kuat terhadap harta kita, maka harta kita akan sangat membantu kita dalam menggapai ridha Allah…..”

“Dengan harta kita kita bisa membangun pondok pesantren, yang insya allah merupakan amal tabungan kita untuk kehidupan akhirat kita kelak…”

“dengan harta kita, kita bisa membangun masjid, yang juga insya allah akan menjadi tabungan kita untuk menjalani panjangnya kehidupan dialam mahsyar…”

“Dengan harta, kita bisa menyantuni fakir miskin, bisa menyantuni anak yatim dan para dhuafa…”

“Dengan harta kita bisa bersedekah, dengan harta kita bisa berderma, dengan harta kita bisa menolong saudara dan sesama kita…..,

“dengan harta kita bisa berangkat ketanah suci mekah, dengan harta yang berada dalam kendali secara penuh, maka harta akan banyak membantu kita….” Kata Ki Bijak.

Maula manggut-manggut mendengar penuturan gurunya;

“Pun dengan pangkat dan kedudukan kita Nak Mas….,ketika kita bisa menundukan dan mengendalikan pangkat dan jabatan kita, maka ini adalah sebuah karunia besar yang bisa kita gunakan untuk kemaslahatan dunia dan akhirat kita….”

“Dengan pangkat dan jabatan yang berada dibawah kendali kita, kita bisa membuat kebijakan untuk kemaslahatan umat…”

“Dengan pangkat dan jabatan yang berada dibawah kendali kita, kita bisa memimpin dan mengarahkan umat kejalan yang sesuai dengan ajaran agama kita, dengan kekuasaan yang kita miliki, akan lebih mudah mengarahkan umat disbanding mereka yang tidak memiliki pengaruh sama sekali….”

“Dengan pangkat dan jabatan yang berada dibawah kendali kita, kita bisa beramar ma’ruf dan nahi munkar…, memberantas kedhaliman…dan menegakan kebenaran….”

“Dengan pangkat dan jabatan yang berada dibawah kendali kita, kita bisa berbuat lebih banyak daripada mereka yang tidak memiliki jabatan dan kekuasaan…..” Kata Ki Bijak.

“Ana mengerti ki….., bagaimana jika sebaliknya ki…..?” Tanya Maula.

“Kehancuran Nak Mas, kebinasaan dan kerusakan…..!” kata Ki Bijak.

“Harta yang tidak bisa kita kendalikan…., akan menjadikan pemiliknya seperti Qorun yang merasa bahwa hartanya adalah hasil dari kepintarannya semata….”

“Harta yang tidak bisa kita kendalikan…, akan menjadikan pemiliknya pelit, bakhil karena takut hartanya habis kalau digunakan untuk sedekah atau menolong fakir miskin, anak terlantar, apalagi konon untuk membangun masjid dan pesantren….”

“Harta yang tidak bisa kita kendalikan, akan menjadikan pemiliknya sombong, takabur, besar kepala, karena ia akan merasa lebih berharga daripada orang lain….”

“Harta yang tidak bisa kita kendalikan, akan menjadikan pemiliknya lupa diri dan lupa daratan, kemudian membelanjakan hartanya dengan semenan-mena, bahkan tidak jarang harta yang tidak terkendali justru akan menjerumuskan pemiliknya kepada jurang kenistaan….”

“Banyak orang berharta, hancur karena ia membelanjakan untuk membeli minuman keras, banyak orang berharta, yang hancur karena ia gemar berjudi, banyak orang yang berharta hancur karena ia gemar befoya-foya…, dan yang lebih mengerikan banyak orang yang berharta, yang tidak lagi mengenal siapa yang telah menciptakan dan memberinya harta, ia tidak lagi mengenal Allah…, ia lebih sibuk mengurus dan menghitung hartanya daripada mengabdi kepada Allah…, ia lebih mementingkan mobil dan motornya yang kehujanan daripada memenuhi panggilan adzan….., ia lebih takut kehilangan hartanya, ia lebih takut kehilangan mobilnya, ia lebih takut kehilangan depositonya, daripada takut kehilangan iman didadanya…, naudzubilah…….” Kata Ki Bijak panjang lebar.

Maula tercenung mendengar betapa harta yang tak terkendali, akan menyeret pemiliknya kejurang kebinasaan yang sedemikian dalam….

“Masya Allah….., benar ki…., fenomena yang Aki sebutkan tadi memang sekarang ini sudah sedemikian nyata….., betapa banyak orang yang lebih menyayangi mobilnya, lebih mementingkan motornya, lebih memikirkan kebun dan sawahnya, lebih memikirkan harta dan kekayaannya daripada memikirkan siapa yang telah memberinya harta, siapa yang telah memberinya mobil, siapa yang telah memberinya motor, siapa yang telah menjadikannya orang berharta, banyak diantara mereka yang berharta tidak ingat lagi kepada Allah yang telah memberinya banyak kelapangan dan rezeki…..” kata Maula menambahkan.

“Demikian halnya dengan pangkat, jabatan dan kekuasaan yang tidak terkendali Nak Mas….., mereka yang diamanahi jabatan, mereka yang dititipi kekuasaan, tapi ia tidak pandai mengendalikannya, maka ia akan menjadi fir’aun..!

“Jabatan dan kekuasan yang tidak terkendali, akan melahirkan dictator…..”

“Jabatan dan kekuasaan yang tidak terkendali, akan melahirkan koruptor….”

“Jabatan dan kekuasan yang tidak terkendali, akan melahirkan hitler….”

“Jabatan dan kekuasaan yang tidak terkendali, akan melahirkan benito musolini…”

“Jabatan dan kekuasaan yang tidak terkendali, akan melahirkan pemimpin yang haus darah, melahirkan pemimpin yang tidak akan segan memeras keringat rakyat untuk kepentingannya, pemimimpin yang tidak akan ragu untuk menumpahkan darah rakyat untuk melanggengkan kekuasaannya…., pemimpin yang dikendalikan oleh jabatan dan kekuasaan, layaknya serigala yang setiap saat siap menerkam domba yang digembalakannya……” kata Ki Bijak lagi.

Lagi-lagi Maula menghirup nafas dalam-dalam, ia kembali memperhatikan gambar kereta kuda dan penunggangnya…..

“Jadi sebelum kita mengendarai kuda, kita harus belajar mengendalikannya terlebih dahulu ya ki….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas…., sebelum kita memiliki harta yang banyak, kita harus tahu dari mana harta kita, untuk apa harta kita, dan siapa yang telah menitipkannya pada kita…, agar kita senantiasa sadar dan mawas diri, agar kita tetap bisa mengendalikan harta kita, agar kita selamat dari fitnah harta yang setiap saat bisa mengancam kita….”

“Demikianpun dengan jabatan dan kekuasaan, kita harus menyadari sepenuhnya bahwa Allah-lah yang member kita kekuasaan, Allah lah yang member kita kemuliaan…., dan Allah pulalah yang akan mencabut kekuasaan dari mereka yang dikendakinya, Allah_lah yang akan menghinakan mereka yang dihendakinya….., semoga dengan kesadaran ini, apapun jabatan yang akan kita pegang, apapun pangkat yang kita miliki, seluas dan setinggi apapun kekuasaan yang kita miliki, kita tetap bisa mengendalikan sesuai dengan keinginan kita, untuk tetap berjalan dijalan lurus yang Allah bentangkan…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki…., ana mengerti……” kata Maula mengakhiri perbincangan sore itu.

Wassalam

June 04, 2011

Friday, June 3, 2011

RUMAH TAK BERTUAN

"Apa yang Nak Mas lihat dari gambar ini….?” Tanya Ki Bijak pada Maula mengenai dua buah rumah yang berdampingan.

Maula nampak mengamati dengan seksama gambar rumah yang ditunjukan gurunya, “ Kedua rumah ini memiliki model yang sama ki…., luas tanah dan bangunannya pun ana fikir sama.., hanya rumah yang sebelah kiri ini, Nampak kusam, kotor, tidak terurus dan rusak, bahkan terkesan angker ki…, sepertinya ditinggal penghuninya…”,

“Sementara rumah satunya Nampak lebih rapih, lebih bersih Nampak lebih bercahaya karena dicat dan diurus….’ Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang mendengar jawaban Maula, “Menurut Nak Mas, bagaimana kalau jasad kita ditinggal oleh penghuninya, yaitu hati….?” Tanya Ki Bijak beberapa saat kemudian.

“Ana masih belum paham dengan pertanyaan Aki, ki…” Jawab Maula.

“Nak Mas…, jasad kita, jasmani kita ini layaknya sebuah bangunan rumah ini, sementara hati adalah penghuninya…..”

“Ketika penghuni jasad ini, yaitu hati kita, berada didalamnya, dalam kondisi baik, dalam kondisi sehat, dalam kondisi beriman, niscaya kebaikan dan keimanan hati itu akan Nampak pada penampilan lahiriah kita ini…., seperti gambar rumah yang sebelah kanan ini, ketika penghuninya memelihara bangunan rumahnya, membersihkannya, menatanya, mengecatnya, maka bangunan rumah ini Nampak segar berseri, Nampak indah, Nampak indah dipandang mata bagi setiap orang yang melihatnya….”

“Pun ketika hati kita yang merupakan penghuni jasad kita ini, senantiasa dibersihkan dari berbagai kurafat yang mengotorinya, selalu dijaga dari debu-debu dengki, selalu dirawat dari penyakit syahwat, selalu ditata agar tidak bercampur keimanan dan kesyirikan, selalu dibenahi agar tetap beriman, maka keindahan hati kita akan tercermin dan terpancar pada lahiriah kita….,

“wajah kita bercahaya, pandangan mata kita akan terjaga dari pandangan birahi, pendengaran kita terpelihara suara yang tak semestinya, tangan kita terjaga dari barang-barang yang bukan menjadi haknya, kaki kita kan terarah kearah jalan tuhannya, mulut kita akan terjaga dari makanan subhat apalagi dari barang haram…., setiap ucapan dan tindakan kita akan membuat orang lain senang, setiap ucapan kita, akan membuat orang lain merasa aman, setiap ucapan dan tidakan kita akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan lingkungan disekitar kita…….”

“Sebaliknya ketika hati kita, yang menjadi penghuni jasad kita, terjangkit penyakit syirik, tercemar penyakit riya, tertular peyakit angkuh, mengidap penyaki dengki, terkotori debu-debu kesombongan, maka yang akan Nampak pada lahiriah kita adalah wajah yang suram, senyum yang kaku, ucapan yang kasar bahkan cenderung kotor, matanya tidak terjaga dari pandangan birahi, pendengaranya digunakan untuk mendengar yang bukan semestinya, perutnya akan mudah terisi dengan barang yang subhat dan haram, tangannya akan dengan mudah menerima suap dan uang yang bukan haknya, kakinya melangkah ketempat maksiat, dan semuanya, semua ucapan dan tindakan jasad yang penghuninya mati,yang hatinya mati…, akan senantiasa membuat orang yang mendengar ucapannya tersakiti, akan membuat orang yang mendapatkan perlakuannya teraniaya, ucapan dan tindakan orang yang hatinya mati, cenderung akan senantiasa merugikan diri dan lingkungannya…..” kata Ki Bijak panjang lebar.

Maula menarik dalam-dalam mendengar pitutur gurunya yang panjang lebar, ia kembali memperhatikan dua gambar rumah yang Nampak kontras didepannya, yang satu Nampak angker, yang satunya lagi Nampak indah bercahaya….’

Sesaat kemudian, ia Nampak seperti memcoba melihat kedalam hatinya sendiri, ia berharap dan berdoa, semoga hatinya, penghuni jasadnya senantiasa dalam keadan baik dan sehat, serta dalam keadaan iman dan islam….

“Ki……, bagaimana menjaga hati agar tetap baik dan sehat ki…” Tanyanya kemudian.

“Dengan menjaga apa yang masuk kedalamnya Nak Mas…., dengan menjaga pendengaran kita untuk tidak memasukannya kedalam hati, jika apa yang kita dengan itu tidak bermanafaat….”

“Dengan menjaga pandangan, jangan sampai sesuatu yang bathil yang terlihat oleh mata, kemudian menjadi konsumsi hati…

“Dengan menjaga mulut, jangan sampai ada kata-kata kotor yang akan melukai hati…”

“Dengan menjaga hati dari keinginan terhadap dunia yang berlebihan, dengan menjaga hati dari khayalan kosong, dengan menjaga hati dari panjang angan, dengan menjaga hati dari bisikan nafsu yang cenderung mengarahkan hati pada kejelekan…”

“Kemudian setelah kita menjaga hati dari asupan yang tidak baik, kita juga harus mengisi hati dengan berbagai vitamin dan asupan hati yang akan membuatnya sehat…..”

“Hati harus kita beri asupan berupa pendengaran ayat-ayat qur’an, berupa nasehat, berupa petuah dan pandangan orang-orang alim…

“Hati pun harus kita isi dengan asupan dari penglihatan, dengan cara membaca setiap ayat Allah, baik itu yang tersurat dalam al qur’an, atau tersirat dalam setiap untai ciptaan dan mahluk_Nya….”

“Hati kita juga memerlukan imunisasi dan vaksi dari sifat angkuh, dari sifat iri, dari sifat dengki, dari sifat sombong agar hati tetap sehat terpelihara….”

“Dan yang tidak kalah penting, hati harus senantiasa tertaut dengan kebesaran pencipta_Nya, isi hati kita dengan dzikir disetiap waktu, disetiap saat, jangan sampai hati kita kosong dari mengingat Allah…..”

“Semoga dengan upaya-upaya tersebut, Allah akan menjaga hati kita dari berbagai hal yang akan mengotori dan merusaknya……’ Kata Ki Bijak lagi.

Lagi, Maula menghela nafas panjang dan dalam, rumah yang kosong, akan menjadi angker, jasad yang kosong, akan menjadi suram…

Rumah yang berpenghuni, akan Nampak indah, jasad yang hatinya hidup, akan Nampak bercahaya….

“Ana mengerti ki…., semoga Allah menjaga hati kita agar tetap baik, sehat dan beriman ya ki…..” katanya kemudian.

“Amiiin…..” Kata Ki Bijak mengamini, sekaligus menutup perbincangan sore itu.

Wassalam

June 2, 2011