Sunday, June 26, 2011
MINTALAH KEPADA-KU
Friday, June 17, 2011
PROMOSI JUGA SEBUAH UJIAN
Sunday, June 12, 2011
RAJJABA - YURAJJIBU
“Bulan sudah hampir purnama lagi ya ki…..” Kata Maula sambil menikmati keindahn bulan sebagai salah satu ‘ayat’ dari sang Maha Pencipta.
“Subhanallah.., iya Nak Mas…, sekarang sudah memasuki tanggal 12 Rajab…” Kata Ki Bijak.
“Berarti sekitar satu bulan setengah lagi kita akan memasuki bulan suci ramadhan ya Ki….” Kata Maula.
“Ya Nak Mas, sekitar sebulan setengah lagi insya Allah kita akan memasuki bulan suci ramadhan…., semoga Allah masih akan memberi kita kesempatan untuk memasuki bukan agung itu…..” Kata Ki Bijak lagi.
“Mulai dari sekarang, kita harus bersiap-siap ya ki….” Kata Maula. "Benar Nak Mas…, seperti kata orang-orang, persiapan adalah 80% dari total pekerjaan itu sendiri…., pun dengan ramadhan Nak Mas…., persiapan yang baik, persiapan yang memadai, insya Allah akan sangat membantu kita untuk dapat menjalani ibadah dibulan ramadhan dengan lebih baik…..” kata Ki Bijak.
Maula manggut-manggut mendengar penuturan Ki Bijak, “Akan halnya dengan bulan rajab ini ki…?” Tanya Maula
Ki Bijak menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Maula; “Rajab…, secara bahasa terambil dari Kata rajjaba – yurajjibu, yang artinya mengagungkan, atau bulan yang diagungkan…., selain tradisi dan adat bangsa arab yang mengagungkan bulan rajab, dengan menghindari peperangan, dengan mengadakan berbagai kegiatan adat, bagi kita umat islam, bulan rajab merupakan bulan yang didalamnya terdapat sebuah peristiwa besar, yang merupakan tonggak dan momentum bagi perkembangan islam itu sendiri, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, untuk kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke Sidratul Muntaha…, yang kita kenal dengan peristiwa Isra’ Mi’raj yang terjadi pada tanggal 27 Rajab…..” Kata Ki Bijak.
“Iya ki…., hampir setiap tahun peringatan demi peringatan Isra’ Mi’raj diperingati dihampir semua dari, dihampir semua surau dan masjid, tapi sepertinya peringatan Isra’ Mi’raj masih sekedar kegiatan seremonial, kegiatan rutin yang belum menyentuh pada isi dan makna Isra’ Mi’raj itu sendiri…..” Kata Maula.
“Iya Nak Mas…., untuk sekedar memperingati, bangsa ini mungkin yang paling ramai, yang paling banyak, mulai dari tingkat mushalla, sampai dengan peringatan tingkat nasional, semua memperingati peristiwa bersejarah ini, hanya seperti yang Nak Mas katakana tadi, belum menyentuh pada makna dan isi yang terkandung didalamnya….” Kata Ki Bijak.
“Hikmah apa saja yang bisa kita petik dan peringatan Isra’ Mi’raj ini ki…?” Tanya Maula.
Lagi, Ki Bijak menghela nafas dalam-dalam; “Berbicara Isra’ Mi’raj, berarti kita akan berbicara tentang iman Nak Mas….” Kata Ki Bijak,
“Isra’ Mi’raj berarti tentang keimanan ki…?” Tanya Maula
“Benar Nak Mas….., ketika kita berbicara bahwa baginda Rasul melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang jaraknya kurang lebih 1500KM dan kemudian dilanjutkan ke Sidatrul Muntaha, yang entah berapa juta kilometer jaraknya, hanya dalam waktu satu malam saja, ketika itulah iman kita yang diuji…, karena akal kita, tidak akan mungkin mengatakan ‘benar atau mungkin’, terhadap peristiwa itu…..”
“Dengan kondisi saat itu yang belum ada pesawat atau jet, akal siapa yang sanggup menjelaskan bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi, bahwa Nabi Muhammad mengatakan hal yang benar, bahwa Allah, dengan keMaha kuasaan_Nya, telah memperjalankan nabinya untuk menempuh jarak, melintas ruang dan waktu yang sedemikian singkat….”
“Dan ini artinya hanya iman yang bisa menjawabnya, ketika kita meyakini dan mengimani kekuasan Allah yang tidak terbatas, maka kita tidak akan ragu sedikitpun untuk mengatakan dan meyakini bahwa peristiwa itu memang benar-benar terjadi, seperti apa yang diungkapkan oleh Abu Bakar Shiddiq, ketika beliau mendengar peristiwa itu, beliau tidak berpikir bagaimana Nabi Muhammad melakukannya, tapi beliau justru berkata, ‘Jika Muhammad yang mengatakan, maka saya percaya….’, dan hanya orang yang memiliki keimanan yang benar saja yang sanggup mengucapkan dan mengungkapkan keyakinan seperti itu….”
“Sementara mereka yang keimanannya masih berada ditepian, banyak diantara mereka yang berpaling dari islam, karena akal mereka tidak sanggup untuk menerima kebenaran, sekalipun itu diucapkan oleh Rasulnya yang mereka kenal sebagai al Amin, yang terpercaya, yang tidak pernah dusta dalam setiap ucapan dan tindakannya……”
“Terlebih bagi mereka yang memang membenci islam dan baginda Rasul, mereka dengan segera menyebarkan fitnah bahwa baginda rasul tidak waras, bahwa baginda rasul berdusta, bahwa tidak mungkin seorang Muhammad menempuh jarak sejauh itu hanya dalam waktu semalam saja, mereka menjadikan peristiwa itu sebagai ejekan dan olok-olok untuk mendiskreditkan baginda rasul dan umat islam….” Kata Ki Bijak panjang lebar.
Maula manggut-manggut mendengar penuturan Ki Bijak yang panjang lebar;
“Pun dengan kita yang hidup 14 abad setelah peristiwa itu terjadi, dijaman yang modern seperti sekarang ini, diabad yang penuh ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan segala kecanggihannya, masih dan pasti tidak akan mampu menjawab bagaimana peristiwa Isra’ Mi’raj itu berlangsung, dan lagi…, bukan kecanggihan teknologi, bukan kehebatan akal, bukan kemajuan ilmu pengetahuan yang bisa membenarkan peristiwa Isra Mi’raj itu benar-benar terjadi, tapi hanya Iman yang bisa membenarkan iradat Allah tersebut….” Kata Ki Bijak.
“Iya ya ki…., kalau hanya memakai computer untuk mengkalkulasi jarak dan waktu tempuh perjalanan baginda rasul pasti tidak bisa, kalau hanya menggunakan akal dan kemajuan teknologi juga pasti tidak bisa, jadi hanya iman yang bisa melakukan pembenaran terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj baginda Rasul….” Kata Maula.
“Benar Nak Mas…, hal kedua yang terkait dengan bulan rajab ini adalah berkaitan dengan shalat kita Nak Mas…., dihampir setiap kesempatan peringatan Isra’ Mi’raj, para da’I, kyai, ustadz dan mubaligh selalu menyampaikan bahwa salah satu ‘oleh-oleh’ perjalanan isra’ mi’raj banginda rasul adalah perintah shalat lima waktu yang diterima langsung Baginda Rasul dari Allah swt….”
“Dan hampir semua kita hafal akan hal itu, bahwa isra’ mi’raj baginda rasul merupakan awal dari disyari’atkannya shalat lima waktu seperti sekrang ini…., hanya sayangnya masih sangat sedikit yang bisa memahami dan mengaktualisasikan shalat lima waktu itu dalam kehidupan sehari-harinya…”
“Masih banyak diantara kita yang shalatnya hanya sekedar rutinitas, shalatnya hanya sekedar ikut-ikutan, shalatnya hanya sekedar tidak enak sama teman atau atasan, shalatnya masih shalat-shalatan….” Kata Ki Bijak lagi.
“ STMJ ya ki….” Kata Maula.
“Apa itu STMJ Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak.
“Shalat Terus, Maksiat Jalan…., itu istilah gaulnya ki….” Kata Maula sambil tersenyum.
“Oooh…, Aki baru tahu Nak Mas…, tapi ungkapan itu banyak benarnya Nak Mak, masih banyak orang yang secara lahiriah shalat, tapi korupsinya jalan…, banyak orang yang secara lahiriah shalat, tapi bicaranya asal keluar…, banyak orang rajin shalat, tapi rajin juga menerima suap…, banyak orang yang gemar shalat, tapi gemar juga menipu…, banyak orang yang namanya pakai bahasa arab, *******, yang artinya kemuliaan agama, tapi perilakunya jauh dari nama yang disandangnya….., ada lagi yang namanya pakai ‘muhamad’ yang artinya manusia terpuji, tapi juga tidak lepas dari tindakan korup yang banyak merugikan bangsa dan rakyat….., maka tepat rasanya jika momentum isra’ mi’raj kali ini kita jadikan sebagai momentum untuk mengoreksi shalat kita, agar shalat kita tidak lagi sekedar STMJ, tapi benar-benar shalat yang SMPKM Nak Mas….” Kata Ki Bijak panjang lebar, dan menggunakan singkatan, tidak mau kalah dengan Maula
“SMPKM…apa itu ki….?” Tanya Maula heran
“Shalat yang Mencegah Perbuatan Keji & Munkar Nak Mas….” Kata Ki Bijak sambil tersenyum.
“Waah Aki hebat, bisa buat istilah gaul…SMPKM.., Shalat yang Mencegah Perbuatan Keji & Munkar…..” Kata Maula tertawa mendengar bahasa ‘gaul’ gurunya.
Ki Bijak hanya tersenyum mendengar tawa Maula yang sangat lepas….., “Karena memang tujuan dan hikmah shalat yang terpenting adalah bagaimana shalat kita bisa menjadi benteng, bisa menjadi filter bagi kita untuk terhindar dari perbuatan keji dan munkar seperti firman Allah dalam surah Al Ankabut:45, Nak Mas hafal ayatnya…?” Tanya Ki Bijak kemudian.
“Iya ki…”Kata Maula sambil membacakan ayat dimaksud;
45. Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
“Ya…itu ayatnya Nak Mas…..” Kata Ki Bijak membenarkan.
“Dan yang lebih penting lagi, bukan hanya sekedar hafal Nak Mas, tapi bagaimana kita berusaha agar shalat kita benar-benar ‘penyelamat’ kita dari perbuatan keji dan mun’kar…, sebentar lagi masuk maghrib Nak Mas…., mari kita siap-siap, karena shalat tepat waktu adalah salah satu metoda yang paling sederhana agar kita bisa menjadikan shalat kita sebagai pencegah perbuatan keji dan mun’kar….”
“Dan ingat…, kemunkaran bukan hanya korupsi, kemunkaran bukan hanya prostitusi, kemunkaran bukan hanya memberi dan menerima suap, kemunkaran bukan hanya maling ayam…., menunda shalat, mengabaikan panggilan adzan, tidak menyantuni fakir miskin, menelantarkan anak yatim…, sangat boleh jadi bagian dari kemunkaran juga Nak Mas, yang kadang kita tidak menyadarinya….” Kata Ki Bijak mengakhiri perbincangan hari itu.
Maula mengangguk tanda mengerti dan segera beranjak mengambil air wudhu bersama-sama gurunya, untuk menyongsong waktu maghrib yang segera datang.
Wassalam
June 12,2011
Monday, June 6, 2011
KENDALIKAN ‘KUDA’MU
“Silahkan Nak Mas…., islam tidak melarang umatnya untuk menjadi orang kaya, islam tidak melarang umatnya untuk berkuasa, islam bahkan menganjurkan kita, umatnya untuk menjadi umat yang kuat, bagi itu dari segi materi, dari segi ilmu pengetahuan, dari segi teknologi, dari segi ekonomi,dan lain sebagainya, bahkan dalam sebuah hadits, baginda Rasul menyatakan bahwa Allah mencintai muslim dan mukmin yang kuat…, tapi…., ada tapinya Nak Mas….” Kata Ki Bijak ketika berbincang mengenai kecenderungan manusia pada harta, pangkat dan jabatan.
“Tapi apa ki….?” Tanya Maula penasaran.
“Tapi kita harus punya kendali yang kuat pula terhadap harta, terhadap pangkat, terhadap jabatan yang dimilikinya…..” Kata Ki Bijak lagi.
“Ana masih belum paham ki…..” Kata Maula lagi.
“Begini Nak Mas….., Harta, pangkat dan jabatan ibarat kuda dalam gambar ini….” Kata Ki Bijak sambil menunjukan sebuah gambar arjuna wihaha yang tengah mengendarai kudanya.
“Harta kita, pangkat kita, jabatan kita, laksana kuda tunggangan kita Nak Mas, harta kita,pangkat kita, jabatan kita, laksana kendaraan yang kita kendarai….., ketika kita memiliki ketrampilan untuk mengendarai kuda kita, maka kuda ini akan sangat membantu kita untuk membawa kita mencapai tujuan kita….”
“Kuda kita bisa mengantar ketempat yang kita mau, kuda kita bisa mengantar kita ketempat yang kita tuju, kuda kita bisa meringankan beban kita dalam mengarungi perjalanan yang panjang dan jauh…..’
“Pun dengan harta kita…, ketika kita memiliki ‘kendali’ yang kuat terhadap harta kita, maka harta kita akan sangat membantu kita dalam menggapai ridha Allah…..”
“Dengan harta kita kita bisa membangun pondok pesantren, yang insya allah merupakan amal tabungan kita untuk kehidupan akhirat kita kelak…”
“dengan harta kita, kita bisa membangun masjid, yang juga insya allah akan menjadi tabungan kita untuk menjalani panjangnya kehidupan dialam mahsyar…”
“Dengan harta, kita bisa menyantuni fakir miskin, bisa menyantuni anak yatim dan para dhuafa…”
“Dengan harta kita bisa bersedekah, dengan harta kita bisa berderma, dengan harta kita bisa menolong saudara dan sesama kita…..,
“dengan harta kita bisa berangkat ketanah suci mekah, dengan harta yang berada dalam kendali secara penuh, maka harta akan banyak membantu kita….” Kata Ki Bijak.
Maula manggut-manggut mendengar penuturan gurunya;
“Pun dengan pangkat dan kedudukan kita Nak Mas….,ketika kita bisa menundukan dan mengendalikan pangkat dan jabatan kita, maka ini adalah sebuah karunia besar yang bisa kita gunakan untuk kemaslahatan dunia dan akhirat kita….”
“Dengan pangkat dan jabatan yang berada dibawah kendali kita, kita bisa membuat kebijakan untuk kemaslahatan umat…”
“Dengan pangkat dan jabatan yang berada dibawah kendali kita, kita bisa memimpin dan mengarahkan umat kejalan yang sesuai dengan ajaran agama kita, dengan kekuasaan yang kita miliki, akan lebih mudah mengarahkan umat disbanding mereka yang tidak memiliki pengaruh sama sekali….”
“Dengan pangkat dan jabatan yang berada dibawah kendali kita, kita bisa beramar ma’ruf dan nahi munkar…, memberantas kedhaliman…dan menegakan kebenaran….”
“Dengan pangkat dan jabatan yang berada dibawah kendali kita, kita bisa berbuat lebih banyak daripada mereka yang tidak memiliki jabatan dan kekuasaan…..” Kata Ki Bijak.
“Ana mengerti ki….., bagaimana jika sebaliknya ki…..?” Tanya Maula.
“Kehancuran Nak Mas, kebinasaan dan kerusakan…..!” kata Ki Bijak.
“Harta yang tidak bisa kita kendalikan…., akan menjadikan pemiliknya seperti Qorun yang merasa bahwa hartanya adalah hasil dari kepintarannya semata….”
“Harta yang tidak bisa kita kendalikan…, akan menjadikan pemiliknya pelit, bakhil karena takut hartanya habis kalau digunakan untuk sedekah atau menolong fakir miskin, anak terlantar, apalagi konon untuk membangun masjid dan pesantren….”
“Harta yang tidak bisa kita kendalikan, akan menjadikan pemiliknya sombong, takabur, besar kepala, karena ia akan merasa lebih berharga daripada orang lain….”
“Harta yang tidak bisa kita kendalikan, akan menjadikan pemiliknya lupa diri dan lupa daratan, kemudian membelanjakan hartanya dengan semenan-mena, bahkan tidak jarang harta yang tidak terkendali justru akan menjerumuskan pemiliknya kepada jurang kenistaan….”
“Banyak orang berharta, hancur karena ia membelanjakan untuk membeli minuman keras, banyak orang berharta, yang hancur karena ia gemar berjudi, banyak orang yang berharta hancur karena ia gemar befoya-foya…, dan yang lebih mengerikan banyak orang yang berharta, yang tidak lagi mengenal siapa yang telah menciptakan dan memberinya harta, ia tidak lagi mengenal Allah…, ia lebih sibuk mengurus dan menghitung hartanya daripada mengabdi kepada Allah…, ia lebih mementingkan mobil dan motornya yang kehujanan daripada memenuhi panggilan adzan….., ia lebih takut kehilangan hartanya, ia lebih takut kehilangan mobilnya, ia lebih takut kehilangan depositonya, daripada takut kehilangan iman didadanya…, naudzubilah…….” Kata Ki Bijak panjang lebar.
Maula tercenung mendengar betapa harta yang tak terkendali, akan menyeret pemiliknya kejurang kebinasaan yang sedemikian dalam….
“Masya Allah….., benar ki…., fenomena yang Aki sebutkan tadi memang sekarang ini sudah sedemikian nyata….., betapa banyak orang yang lebih menyayangi mobilnya, lebih mementingkan motornya, lebih memikirkan kebun dan sawahnya, lebih memikirkan harta dan kekayaannya daripada memikirkan siapa yang telah memberinya harta, siapa yang telah memberinya mobil, siapa yang telah memberinya motor, siapa yang telah menjadikannya orang berharta, banyak diantara mereka yang berharta tidak ingat lagi kepada Allah yang telah memberinya banyak kelapangan dan rezeki…..” kata Maula menambahkan.
“Demikian halnya dengan pangkat, jabatan dan kekuasaan yang tidak terkendali Nak Mas….., mereka yang diamanahi jabatan, mereka yang dititipi kekuasaan, tapi ia tidak pandai mengendalikannya, maka ia akan menjadi fir’aun..!
“Jabatan dan kekuasan yang tidak terkendali, akan melahirkan dictator…..”
“Jabatan dan kekuasaan yang tidak terkendali, akan melahirkan koruptor….”
“Jabatan dan kekuasan yang tidak terkendali, akan melahirkan hitler….”
“Jabatan dan kekuasaan yang tidak terkendali, akan melahirkan benito musolini…”
“Jabatan dan kekuasaan yang tidak terkendali, akan melahirkan pemimpin yang haus darah, melahirkan pemimpin yang tidak akan segan memeras keringat rakyat untuk kepentingannya, pemimimpin yang tidak akan ragu untuk menumpahkan darah rakyat untuk melanggengkan kekuasaannya…., pemimpin yang dikendalikan oleh jabatan dan kekuasaan, layaknya serigala yang setiap saat siap menerkam domba yang digembalakannya……” kata Ki Bijak lagi.
Lagi-lagi Maula menghirup nafas dalam-dalam, ia kembali memperhatikan gambar kereta kuda dan penunggangnya…..
“Jadi sebelum kita mengendarai kuda, kita harus belajar mengendalikannya terlebih dahulu ya ki….” Kata Maula.
“Ya Nak Mas…., sebelum kita memiliki harta yang banyak, kita harus tahu dari mana harta kita, untuk apa harta kita, dan siapa yang telah menitipkannya pada kita…, agar kita senantiasa sadar dan mawas diri, agar kita tetap bisa mengendalikan harta kita, agar kita selamat dari fitnah harta yang setiap saat bisa mengancam kita….”
“Demikianpun dengan jabatan dan kekuasaan, kita harus menyadari sepenuhnya bahwa Allah-lah yang member kita kekuasaan, Allah lah yang member kita kemuliaan…., dan Allah pulalah yang akan mencabut kekuasaan dari mereka yang dikendakinya, Allah_lah yang akan menghinakan mereka yang dihendakinya….., semoga dengan kesadaran ini, apapun jabatan yang akan kita pegang, apapun pangkat yang kita miliki, seluas dan setinggi apapun kekuasaan yang kita miliki, kita tetap bisa mengendalikan sesuai dengan keinginan kita, untuk tetap berjalan dijalan lurus yang Allah bentangkan…….” Kata Ki Bijak lagi.
“Iya ki…., ana mengerti……” kata Maula mengakhiri perbincangan sore itu.
Wassalam
June 04, 2011
Friday, June 3, 2011
RUMAH TAK BERTUAN
"Apa yang Nak Mas lihat dari gambar ini….?” Tanya Ki Bijak pada Maula mengenai dua buah rumah yang berdampingan.
Maula nampak mengamati dengan seksama gambar rumah yang ditunjukan gurunya, “ Kedua rumah ini memiliki model yang sama ki…., luas tanah dan bangunannya pun ana fikir sama.., hanya rumah yang sebelah kiri ini, Nampak kusam, kotor, tidak terurus dan rusak, bahkan terkesan angker ki…, sepertinya ditinggal penghuninya…”,
“Sementara rumah satunya Nampak lebih rapih, lebih bersih Nampak lebih bercahaya karena dicat dan diurus….’ Kata Maula.
Ki Bijak menghela nafas panjang mendengar jawaban Maula, “Menurut Nak Mas, bagaimana kalau jasad kita ditinggal oleh penghuninya, yaitu hati….?” Tanya Ki Bijak beberapa saat kemudian.
“Ana masih belum paham dengan pertanyaan Aki, ki…” Jawab Maula.
“Nak Mas…, jasad kita, jasmani kita ini layaknya sebuah bangunan rumah ini, sementara hati adalah penghuninya…..”
“Ketika penghuni jasad ini, yaitu hati kita, berada didalamnya, dalam kondisi baik, dalam kondisi sehat, dalam kondisi beriman, niscaya kebaikan dan keimanan hati itu akan Nampak pada penampilan lahiriah kita ini…., seperti gambar rumah yang sebelah kanan ini, ketika penghuninya memelihara bangunan rumahnya, membersihkannya, menatanya, mengecatnya, maka bangunan rumah ini Nampak segar berseri, Nampak indah, Nampak indah dipandang mata bagi setiap orang yang melihatnya….”
“Pun ketika hati kita yang merupakan penghuni jasad kita ini, senantiasa dibersihkan dari berbagai kurafat yang mengotorinya, selalu dijaga dari debu-debu dengki, selalu dirawat dari penyakit syahwat, selalu ditata agar tidak bercampur keimanan dan kesyirikan, selalu dibenahi agar tetap beriman, maka keindahan hati kita akan tercermin dan terpancar pada lahiriah kita….,
“wajah kita bercahaya, pandangan mata kita akan terjaga dari pandangan birahi, pendengaran kita terpelihara suara yang tak semestinya, tangan kita terjaga dari barang-barang yang bukan menjadi haknya, kaki kita kan terarah kearah jalan tuhannya, mulut kita akan terjaga dari makanan subhat apalagi dari barang haram…., setiap ucapan dan tindakan kita akan membuat orang lain senang, setiap ucapan kita, akan membuat orang lain merasa aman, setiap ucapan dan tidakan kita akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan lingkungan disekitar kita…….”
“Sebaliknya ketika hati kita, yang menjadi penghuni jasad kita, terjangkit penyakit syirik, tercemar penyakit riya, tertular peyakit angkuh, mengidap penyaki dengki, terkotori debu-debu kesombongan, maka yang akan Nampak pada lahiriah kita adalah wajah yang suram, senyum yang kaku, ucapan yang kasar bahkan cenderung kotor, matanya tidak terjaga dari pandangan birahi, pendengaranya digunakan untuk mendengar yang bukan semestinya, perutnya akan mudah terisi dengan barang yang subhat dan haram, tangannya akan dengan mudah menerima suap dan uang yang bukan haknya, kakinya melangkah ketempat maksiat, dan semuanya, semua ucapan dan tindakan jasad yang penghuninya mati,yang hatinya mati…, akan senantiasa membuat orang yang mendengar ucapannya tersakiti, akan membuat orang yang mendapatkan perlakuannya teraniaya, ucapan dan tindakan orang yang hatinya mati, cenderung akan senantiasa merugikan diri dan lingkungannya…..” kata Ki Bijak panjang lebar.
Maula menarik dalam-dalam mendengar pitutur gurunya yang panjang lebar, ia kembali memperhatikan dua gambar rumah yang Nampak kontras didepannya, yang satu Nampak angker, yang satunya lagi Nampak indah bercahaya….’
Sesaat kemudian, ia Nampak seperti memcoba melihat kedalam hatinya sendiri, ia berharap dan berdoa, semoga hatinya, penghuni jasadnya senantiasa dalam keadan baik dan sehat, serta dalam keadaan iman dan islam….
“Ki……, bagaimana menjaga hati agar tetap baik dan sehat ki…” Tanyanya kemudian.
“Dengan menjaga apa yang masuk kedalamnya Nak Mas…., dengan menjaga pendengaran kita untuk tidak memasukannya kedalam hati, jika apa yang kita dengan itu tidak bermanafaat….”
“Dengan menjaga pandangan, jangan sampai sesuatu yang bathil yang terlihat oleh mata, kemudian menjadi konsumsi hati…
“Dengan menjaga mulut, jangan sampai ada kata-kata kotor yang akan melukai hati…”
“Dengan menjaga hati dari keinginan terhadap dunia yang berlebihan, dengan menjaga hati dari khayalan kosong, dengan menjaga hati dari panjang angan, dengan menjaga hati dari bisikan nafsu yang cenderung mengarahkan hati pada kejelekan…”
“Kemudian setelah kita menjaga hati dari asupan yang tidak baik, kita juga harus mengisi hati dengan berbagai vitamin dan asupan hati yang akan membuatnya sehat…..”
“Hati harus kita beri asupan berupa pendengaran ayat-ayat qur’an, berupa nasehat, berupa petuah dan pandangan orang-orang alim…
“Hati pun harus kita isi dengan asupan dari penglihatan, dengan cara membaca setiap ayat Allah, baik itu yang tersurat dalam al qur’an, atau tersirat dalam setiap untai ciptaan dan mahluk_Nya….”
“Hati kita juga memerlukan imunisasi dan vaksi dari sifat angkuh, dari sifat iri, dari sifat dengki, dari sifat sombong agar hati tetap sehat terpelihara….”
“Dan yang tidak kalah penting, hati harus senantiasa tertaut dengan kebesaran pencipta_Nya, isi hati kita dengan dzikir disetiap waktu, disetiap saat, jangan sampai hati kita kosong dari mengingat Allah…..”
“Semoga dengan upaya-upaya tersebut, Allah akan menjaga hati kita dari berbagai hal yang akan mengotori dan merusaknya……’ Kata Ki Bijak lagi.
Lagi, Maula menghela nafas panjang dan dalam, rumah yang kosong, akan menjadi angker, jasad yang kosong, akan menjadi suram…
Rumah yang berpenghuni, akan Nampak indah, jasad yang hatinya hidup, akan Nampak bercahaya….
“Ana mengerti ki…., semoga Allah menjaga hati kita agar tetap baik, sehat dan beriman ya ki…..” katanya kemudian.
“Amiiin…..” Kata Ki Bijak mengamini, sekaligus menutup perbincangan sore itu.
Wassalam
June 2, 2011

