Thursday, March 5, 2009

KIKIR ITU ‘PENYAKIT’

“Kikir itu penyakit Nak Mas....” Kata Ki Bijak.

“Kikir itu penyakit ki....?” Tanya Maula, mengulang pernyataan gurunya.

“Benar Nak Mas, kikir, pelit dan teman-temanya itu merupakan penyakit, dan sumber penyakit bagi mereka yang mengidapnya.....” Tambah Ki Bijak.

“Ana masih belum paham ki.....” Kata Maula.

“Begini Nak Mas, dalam harta kita, sekali lagi Aki ulangi dalam harta yang kita usahakan, terdapat hak-hak orang lain yang harus kita tunaikan, disana ada hak fakir miskin, disana ada hak dhuafa, dan masih banyak lagi kewajiban yang harus kita tunaikan dari karunia rezeki yang Allah amanahkan kepada kita.....” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki.....?” Tanya Maula.

“Lalu ketika kita tidak mengeluarkan apa yang menjadi hak orang lain atas harta kita, itu sama seperti orang yang makan terus menerus, tapi tidak mau mengeluarkannya karena merasa sayang dengan harga makanan yang mahal, menurut Nak Mas, orang semacam ini akan sehat atau sakit....?” Tanya Ki Bijak.

“Waah tentu orang semacam ini akan mengalami sakit perut ki, betapapun mahal dan enaknya makanan, kalau tidak dikeluarkan secara teratur, akan menjadi sumber penyakit bagi orang tersebut....” Kata Maula.

“Ya seperti itu Nak Mas, analoginya mungkin tidak terlalu bagus, tapi itulah kenyataanya, bahwa harta yang Allah karuniakan kepada kita, tapi kemudian kita tidak membelanjakannya secara teratur dijalan Allah dan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban kita kepada orang lain, akan menjadi sumber penyakit bagi pemiliknya...,

“Ia akan dijangkiti penyakit ‘loba dunia’ atau cinta dunia yang berlebihan, ia selalu berlomba-lomba mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, sehingga ia lupa untuk mengingat Allah...,

“Kemudian orang kikir juga sangat berpotensi dijangkiti penyakit asosial, penyakit yang membuat pengidapnya takut untuk bermasyarakat, ia menjadi takut bergaul dengan lingkungannya karena takut dimintai sumbangan, ia menjadi takut kemasjid karena takut diminta menjadi donatur, ia selalu diliputi ketakutan kalau-kalau hartanya berkurang karena harus menolong orang lain, dan ini penyakit yang sangat berbahaya, karena ketika hatinya sudah dipenuhi kekikiran, kualitas akidah dan keimannanya menjadi rentan dan patut dipertanyakan..............” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Hati yang kikir dapat mempengaruhi kualitas akidah dan keimanan seseorang ki...?” Tanya Maula

“Tidakkah Nak Mas tahu hadits yang diriwayatkan oleh Aththalayisi ‘Tidak akan berkumpul dalam hati seorang hamba kekikiran dan keimanan’; yang dalam hemat Aki, hal itu benar adanya; tidak mungkin orang yang imannya baik akan kikir terhadap sesamanya; tidak mungkin orang yang imannya bagus, mengklaim bahwa hartanya adalah haknya semata; hanya orang-orang yang imannya dalam tanda tanya sajalah yang sanggup berbuat kikir; karena dia tidak meyakini bahwa harta yang ada padanya hanya titipan dan amanah dari Allah swt untuk digunakan sesuai dengan titah_Nya…..” kata Ki Bijak.

“Benar Ki….” Guman Maula pendek.

“Selain itu, kikir juga menjadi salah satu asbab kehancuran umat-umat terdahulu; Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda‘ Jauhilah kekikiran, sesungguhnya kekikiran itu telah rnembinasakan (umat-umat) sebelum kamu’, al qur’an mengabadikan kisah kehancuran Qorun yang membangga-banggakan hartanya; kemudian ditenggelamkan oleh Allah swt; tidakkah kita bisa memetik pelajaran dari kisah Qorun….?” Kata Ki Bijak setengah bertanya.

“Iya ki, lagi pula kita tidak diperintahkan untuk mengeluarkan seluruh harta kita, hanya sebagian kecil saja, zakat saja hanya 2.5% ya ki….” Kata Maula.

“2.5% zakat bukan nilai yang besar bagi mereka yang mengimani bahwa rezekinya adalah amanah dari Allah; sebaliknya, 2.5% akan nampak sedemikian besar, jika mereka hanya berfikir bahwa hartanya semata karena kerja keras dan karena kepandaiannya, jadi kikir tidaknya seseorang akan berbanding lurus dengan kualitas keimanan seseorang…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, kalau ada orang yang rajin shalat tapi tidak zakat, bagaimana ki….?” Tanya Maula.

“Alhamdulillah dia masih shalat, tapi sejauh ini Aki belum menemukan orang yang shalatnya benar, tapi tidak zakat, yang ada adalah mereka yang pura-pura rajin shalat, dan kemudian ia tidak zakat, itu memang benar adanya Nak Mas…….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, terlebih kalau kita menyimak ayat al qur’an yang hampir selalu menggandengkan perintah shalat dengan perintah zakat dan sedekah, mestinya orang yang shalatnya benar, benar pula cara ia membelanjakan hartanya sesuai dengan perintah Allah……..” kata Maula sambil mengutip beberapa ayat al qur’an;


43. Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'[44].

[44] yang dimaksud ialah: shalat berjama'ah dan dapat pula diartikan: tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama-sama orang-orang yang tunduk.


83. ………….Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.


“Ada sekian banyak makna dibalik penggabungan perintah shalat dan zakat seperti pada ayat yang Nak Mas baca tadi; wallahu’alam, bagi kita yang awam ini, cukuplah melaksanakan kedua perintah itu dengan sebaik mungkin dulu, dirikan shalatnya, dan tunaikan zakatnya, insya Allah, kelak dikemudian hari kita akan mendapati hikmah dari apa yang Allah perintahkan tersebut; jangan sampai kita sibuk mencari arti harfiahnya dulu, sementara kita lupa untuk melaksanakan perintahnya……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, lagian kalau difikir secara sehat, untuk apa kita ngumpulin harta sedemikian banyak hingga lupa hak orang lain, toh harta itu tidak dibawa mati ya ki….” Kata Maula.

“Memiliki harta yang banyak tidak salah Nak Mas, hanya yang harus benar-benar diingat, jangan pernah menjadikan harta sebagai tujuan, tapi jadikan harta kita sebagai alat untuk mencapai ridha Allah, dengan harta kita bisa berderma untuk mencari ridha Allah, dengan harta kita bisa menyantuni fakir miskin, dhuafa, untuk mencari ridha Allah, ketanah sucipun kita perlu uang, dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk mencapai ridha Allah dengan harta yang Allah amanahkan pada kita, tinggal bagaimana kitanya saja, apakah kita mampu mengendalikan harta kita atau justru kita yang diperbudak oleh harta dan dunia kita……” Kata Ki Bijak.

“Ini yang sangat sulit ki, ketika masih belum memiliki harta, kita bisa berfikir seperti itu, tapi kadang ditengah jalan, kita justru menjadi budak harta, sampai sekarang pun ana masih bisa dengan mudah menemukan contoh-contoh mereka yang menurut ana diperbudak hartanya, ana sering melihat orang yang harus hujan-hujanan mencuci mobilnya yang kotor tanpa peduli adzan maghrib berkumandang, ia lebih memilih mobilnya daripada memenuhi panggilan Allah untuk shalat……” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, godaan harta itu luar biasa besar, makanya Nak Mas harus tetap bersyukur kalau sekarang Nak Mas belum diamanahi kendaraan, mungkin karena Allah tidak ingin melihat Nak Mas terjebak menjadi budak mobil seperti contoh orang yang Nak Mas ceritakan tadi….” Kata Ki Bijak.

“Iya juga sih ki, mungkin pondasi keimanan ana masih dinilai ‘lemah’ oleh Allah, sehingga Allah belum memberi kepercayaan kepada ana untuk memiliki mobil……” kata Maula.

“Berfikir positif seperti itu jauh lebih baik daripada kita mempertanyakan kebijakan Allah,Nak Mas, pasti selalu ada hikmah, pasti selalu ada kebaikan dibalik sesuatu yang tidak kita sukai, bukalah mata hati Nak Mas seluas-luasnya untuk dapat memahami dan memaknai setiap pemberian Allah kepada Nak Mas, insya Allah Nak Mas akan menjadi orang yang pandai bersyukur, tidak kikir, tidak pelit apalagi sampai mengabaikan kewajiban zakat, naudzubillah…..” kata Ki Bijak.

“Iya ki…..” Kata Maula

“Dan satu lagi Nak Mas, bahagia itu ada disini, bukan pada harta yang banyak…..” Kata Ki Bijak sambil menunjuk dadanya, dan sambil mengutip hadits;

“Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). (HR. Abu Ya'la)”

“Iya ki, terima kasih ki……” kata Maula sambil menyalami gurunya.

Wassalam

February 25, 2009

No comments:

Post a Comment