Tuesday, May 24, 2011

PAH…., DEDE INGIN SEPERTI NABI YUSUF

“Ki.., ana lagi ada pekerjaan rumah nih ki…” Kata Maula pada gurunya.

“PR apa Nak Mas…? Tanya Ki Bijak.

“Ini ki.., kemarin Ade bilang dia ingin seperti Nabi Yusuf as….” Kata Maula

Ki Bijak tersenyum mendengar perkataan Maula, “Bukankah itu keinginan yang sangat baik Nak Mas…, Aki berdoa pada Allah semoga cucu Aki benar-benar menjadi seperti Nabi Yusuf Nak Mas….” Kata Ki Bijak beberapa saat kemudian.

“Ya Ki…, tapi bagaimana caranya…? Nabi Yusuf adalah seorang nabi yang berbudi luhur, patuh pada orang tua, taat pada Allah…, seorang Nabi yang sabar, tidak pendendam, bahkan ketika beliau didhalimi oleh saudaranya, difitnah sehingga harus mendekam dalam penjara….., bukankah itu sangat sulit ki…..?” Tanya Maula.

Lagi-lagi Ki Bijak tersenyum mendengar perkataan Maula; “Sulit memang Nak Mas…., tapi apakah Nak Mas tidak ingin mempunyai anak seperti Nabi Yusuf…?” Tanya Ki Bijak.

“Tentu sangat ingin ki…., tapi ya itu tadi, bagaimana caranya…?” Tanya Maula.

“Caranya Nak Mas harus belajar dan mendidik diri Nak Mas untuk bisa seperti Nabi Yaqub as…..” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki….?” Tanya Maula.

“Nak Mas…., keshalehan Nabi Yusuf memang karunia Allah, tapi secara syari’at, keshalehan Nabi Yusuf terbentuk dengan wasilah bimbingan dan didikan ayahnya, yaitu Nabi Yaqub…., seorang Nabi yang sangat taat dan shaleh, sehingga belia dijuluki Isra’il, Isra’ dalam bahasa ibrani artinya hamba, Il artinya hamba, jadi secara bahasa Isra’il bermakna hamba Allah……”

“Dan dalam bimbingan nabi Yaqub yang taat dan shaleh inilah kemudian Nabi Yusuf tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak yang shaleh pula……” Kata Ki Bijak.

Maula manggut-manggut mendengar penuturan Maula; “Maksud Aki…, untuk mendidik anak menjadi anak yang shaleh, orang tuanya juga harus shaleh terlebih dahulu…?” Tanya Maula.

“Benar sekali Nak Mas….., Nak Mas perhatikan pohon-pohon itu…..” Kata Ki Bijak sambil menujuk pepohonan yang rindang disekitar pondok.

Maula dengan segera mengarahkan pandangannya kearah yang ditunjuk gurunya; “Ya ki….” Katanya kemudian.

“Lihat pohon pisang itu Nak Mas…., pohon pisang hanya akan menghasilkan buah pisang, lebih spesifik lagi, pohon pisang nangka, tidak akan menghasilkan buah pisang ambon, pun sebaliknya…”

“Kemudian Nak Mas lihat pohon mangga itu…, mangga harum manis, hanya akan menghasilkan buah mangga harum manis, mangga gedong, hanya akan menghasilkan buah mangga gedong, tidak ada pohon mangga harus manis berbuah mangga harum manis atau sebaliknya….”

“Kemudian Nak Mas lihat juga pohon kelapa itu, pohon kelapa hanya akan menghasilkan buah kelapa, pohon nangka tidak mungkin menghasilkan buah cempedak, begitu seterusnya…., buah yang dihasilkan tergantung dari induk atau pohon itu sendiri…..” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Jadi maksud Aki…, secara syari’at, seorang anak yang shaleh adalah produk ayah dan ibu yang shaleh, sementara anak yang tholeh…, juga merupakan produk orang tuanya yang tholeh, begitu ki…?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas…., secara syari’at seperti itu, hanya orang tua yang sholeh, yang taat, yang patuh, yang baik yang akan bisa memberi teladan kepada putra putrinya untuk menjadi seorang anak yang baik pula…;

“Sementara orang tua yang tholeh.., tentu akan memberikan contoh dan teladan yang tidak baik pula bagi putra-putrinya…, jadi jangan harap kalau orang tuanya seperti qarun yang gila harta, memiliki anak yang shaleh dan dermawan…”

“Jadi jangan berharap memiliki anak yang pandai mengaji, kalau orang tuanya sendiri tidak pernah baca qur’an….”

“Jangan pernah berharap anaknya rajin kemasjid, kalau orang tuanya sendiri shalatnya hanya mingguan…”

“Jangan pernah berharap anaknya menjadi ahli sedekah, kalau orang tuanya sendiri pelitnya tidak ketulungan…”

“Jangan pernah berharap anaknya menjadi anak yang santun, kalau orang tuanya sendiri suka bicara sembarangan…”

“Jangan pernah berharap anaknya menjaga pandangan, kalau orang tuanya sendiri matanya suka keluyuran,..”

“Jangan pernah berharap anaknya menjadi seorang alim, kalau orang tuanya sendiri tidak pernah bergaul dengan ulama….”

“Singkatnya jangan pernah berharap anak kita menjadi seorang anak yang baik dan shaleh, sebelum kita sendiri bisa menjadikan diri kita orang yang baik dan shaleh………” Papar Ki Bijak panjang lebar.

“Iya ki….,ana mengerti…., tidak mungkin kita memiliki anak sesholehah Siti Fatimah kalau orang tuanya belum bisa seperti Baginda Rasul dan Siti Khadijah ya ki….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas….., dan kalau pun ada seorang anak yang orang tuanya ‘nakal’, orang tuanya tidak pernah shalat, orang tuanya tidak zakat, orang tuanya tidak pernah baca qur’an, kemudian anaknya menjadi seorang anak yang baik…., itu tidak bisa dijadikan contoh dan rujukan Nak Mas….,

“Atau sebaliknya, orang tuanya baik, tapi anaknya nakal, juga jangan dijadikan alibi bahwa kita tidak perlu menjadi orang baik dan shaleh dulu agar anak kita menjadi anak yang baik dan shaleh…., karena kita masih hidup dialam syari’at yang mengajarkan kita sebab akibat…., orang tua yang baik, yang bisa memberi teladan yang baik, insya Allah akan menghasilkan anak yang baik juga….”

“Sebaliknya, orang tua yang tidak bisa memberi contoh yang baik, juga insya Allah akan menghasilkan anak yang tidak akan jauh berbeda dengan orang tuanya…” Kata Ki Bijak.

“Iya Ki…kalau ada pohon cempedak berbuah nangka itu hanya ada didalam lagu ya ki…..” Kata Maula.

“Benar Nak Mas……, jadi kalau cucu Aki, Maulana ingin seperti Nabi Yusuf, Nak Mas harus bisa menjadikan Nak Mas agar sesholeh Nabi Yaqub, insya Allah, Allah akan membimbing Nak Mas dan Maulana untuk menjadi hamba_Nya yang shaleh…….” Kata Ki Bijak.

“Amiin…, mohon doanya ya ki……” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas……, semoga Nak Mas dan nanda Maulana bisa menjadi hamba yang shaleh, seshaleh Nabi Yaqub dengan putra tercintanya Nabi Yusuf As….” Kata Ki Bijak mengakhri percakapan hari itu.

Wassalam

May 2011

No comments:

Post a Comment