Tuesday, May 3, 2011

TIDUR SIANG

“Sebenarnya, tidur siang, menjelang atau ba’da dhuhur tidak dilarang Nak Mas, bahkan dalam sebuah literature, Aki pernah membaca, bahwa tidur siang merupakan sebuah ‘terapi’ yang sangat baik bagi kita…..”

“Dalam literature itu disebutkan bahwa siang di kantor sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung, karena dapat mengurangi stress dan detak jantung yang berlebihan, sehingga membuat kerja terhambat, dan masih meneurtu literature tersebut, tidur siang memiliki pengaruh yang penting dalam meningkatkan produktivitas dan mengurangi tingkat kematian….., hanya sayangnya kadang tidur siang kita mengganggu orang lain…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…., ana juga beberapa kali menemukan orang-orang yang tidur siang dimasjid, tapi posisi tidurnya menghalangi orang yang hendak shalat…., jadinya fungsi utama masjid berubah, yang tadinya untuk shalat, sekarang fungsi utama masjid malah untuk tempat tidur siang, yang shalat hanya numpang…..” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang mendengar penuturan Maula, “Itulah kondisi umat kita sekarang ini Nak Mas, banyak diantara kita yang tidak mengerti fungsi masjid itu untuk shalat, untuk dzikir, untuk tadarus al qur’an….., sekarang ini fungsi masjid telah bergeser, kalau ada orang mengantuk, pergi kemasjid untuk tidur, kalau hendak telpon, orang pergi ke masjid, nelpon dimasjid sambil tiduran, dengan suara keras, dan masih banyak lagi perilaku umat ini yang mengurangi ‘kecemerlangan cahaya’ masjid sebagai sarana mencapai jannahnya Allah…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Benar ki, dan yang sekarang lagi ngetrend, banyak orang yang berjualan disekitar masjid, masjid sudah menyerupai pasar, apalagi kalau ba’da jum’at, banyak sekali orang berjualan berbagai macam barang dagangan, dan yang lebih heran lagi, banyak juga pembelinya, jadi ketika imam salam, bukannya dzikir, tapi jamaah segera berhamburan untuk mencari barang-barang yang hendak dibelinya…….” Kata Maula menambahkan.

“Kembali pada masalah tidur siang Nak Mas, seandainya setiap kita paham ilmunya, niscaya tidur siang kita akan jauh lebih bermanfaat dan berharga, karena bukan saja kita mendapatkan kesegaran, tapi tidur siang juga merupakan aktivitas yang juga dilakukan para sahabat….” Kata Ki Bijak.

“Tidur siang merupakan aktivitas para sahabat ki…?” Tanya Maula.

Ki Bijak mengangguk, “Ada beberapa hadits mengenai tidur siang ini, sabda Baginda Rasul yang dinukilkan oleh Anas bin Malik r.a;
قِيْلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ
“Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1637: isnadnya shahih)

Yang dimaksud dengan qailulah adalah istirahat di tengah hari, walaupun tidak disertai tidur. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits)

“Kemudian apa yang disabdakan baginda Rasul ini juga diikuti oleh pada para sahabat, di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat dari ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu:

رُبَّمَا قَعَدَ عَلَى بَابِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رِجَالٌ مِنْ قُرَيْشٍ، فَإِذَا فَاءَ الْفَيْءُ قَالَ: قُوْمُوا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِلشَّيْطَانِ. ثُمَّ لاَ يَمُرُّ عَلَى أَحَدٍ إِلاَّ أَقَامَهُ

Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang, pent.)! Yang tertinggal hanyalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1238, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)
Dalam riwayat yang lainnya disebutkan:

كَانَ عُمَرُ رضي الله عنه يَمُرُّ بِنَا نِصْفَ النَّهَارِ –أَوْ قَرِيْبًا مِنْهُ – فَيَقُوْلُ: قُوْمُوا فَقِيْلُوا، فَمَا بَقِيَ فَلِلشَّيْطَانِ
Biasanya ’Umar radhiyallahu ‘anhu bila melewati kami pada tengah hari atau mendekati tengah hari mengatakan, “Bangkitlah kalian! Istirahat sianglah! Yang tertinggal menjadi bagian untuk setan.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1239, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)

“Dan masih ada beberapa hadits yang berkaitan dengan tidur sian ini…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Ooh begitu ya ki….; jadi intinya silahkan tidur siang, tapi posisinya tidak mengganggu orang shalat, kemudian menjaga kebersihan masjid, jangan sampai air liur kita membasahi karpet atau sajadah, dan yang kalah penting nawaitu tidur siangnya karena Allah dan semoga dengan tidur siang ini kita malamnya bisa bangun tahajud dan berdzikir pada Allah ya ki….” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, nilai tidur siang kita akan berkurang manakala niat tidur siang kita agar malamnya kita bisa nonton bola atau begadang tanpa tujuan yang jelas….” Kata Ki Bijak, sedikit menyentil Maula.

Maula yang merasa menjadi objek gurunya hanya tersenyum mendengar sentilan tersebut, “Insya Allah tidak ki, lagi pula ana jarang bisa tidur siang dikantor, tidak tahu kenapa, kalau tidur siang dikantor, rasanya malah tidak enak ki….” Kata Maula.

“Sekarang Nak Mas sudah tahu, kalau Nak Mas mau tidur siang sebentar dikantor, itu boleh dan tidak salah, semoga dengan tidur siang itu malamnya Tahajudnya lebih kalaupun tidak tidur, Nak Mas bisa memanfaatkannya untuk membaca qur’an atau buku-buku yang bermanfaat, intinya jangan sampai waktu yang sangat berharga ini berlalu tanpa bernilai kebaikan bagi kita…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki….., subhanallah, demikian mahalnya ilmu ya ki…, dalam hal tidur saja, akan menghasilkan dampak yang berbeda antara orang awam dan orang berilmu….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, karenanya jangan pernah bosan menuntut ilmu, jangan pernah merasa sudah pandai, jangan pernah sudah merasa cukup ilmu, karena sebanyak apapaun yang kita tahu, pasti lebih banyak yang kita tidak tahu….., ilmu yang Allah amanatkan kepada kita hanyalah sedikit sekali Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki……” Kata Maula pendek, mengakhiri perbincangan siang itu.

Wassalam

May01,2011

No comments:

Post a Comment