Monday, February 4, 2008

BALADA SENDAL JEPIT TERBALIK

“Sedang apa Nak Mas..............?” Tanya Ki Bijak keheranan melihat tingkah Maula yang berjalan tertatih-tatih karena sendal jepit yang dipakainya terbalik, yang kiri dipakai dipakai dikaki kanan dan sebaliknya.

“Sedang mengadakan percobaan ki..............” Jawab Maula sambil tersenyum.

“Percobaan apa Nak Mas....?, Kok aneh percobaannya..................?” Tanya Ki Bijak tambah heran.

“Ternyata pakai sendal jepit terbalik itu susah ya ki, selain tidak nyaman dipakai, juga tidak bisa berjalan dengan cepat..............” Kata Maula.

“Nak Mas ini ada-ada saja, ya pasti akan susah Nak Mas, karena memang sendal itu dibuat sesuai dengan posisi dan ukuran kakinya, kalau sendal kita terlalu kecil atau terlalu besar saja tidak enak pakainya, apalagi kalau dipakai berbalik...................” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ternyata pakai sendal saja mesti menuruti aturan yang membuat sendal ya ki..................” Kata Maula.

“Oooh, Aki mengerti maksud Nak Mas sekarang, yang Nak Mas maksud dalam menjalani kehidupan kitapun harus demikian, harus sesuai dengan ketentuan yang mengatur hidup ini, kita tidak boleh melanggar aturan semau kita, karena kalau kita menjalani kehidupan tidak sesuai dengan ketentuan, maka hidup kita pasti bermasalah, hidup kita menjadi tidak nyaman, hidup kita jadi’lambat’, hidup kita jadi tidak pantas dimata manusia, terlebih dimata Allah, bukan demikian Nak Mas.................?” Kata Ki Bijak.

“Benar ki, kalau memakai sendal jepit saja kita harus sesuai, bagaimana mungkin kita menjalani hidup ini dengan cara menyimpang ya ki...........? “ Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar perkataan Maula, “Bukan hanya memakai sendal, ketika kita memakai baju yang paling mahal harganya, dan paling indah desainnya, tapi ketika kita memakainya terbalik, pasti tidak akan nampak lagi keindahan desain baju tersebut, tidak akan lagi terlihat kalau baju itu mahal harganya........” kata Ki Bijak.

“Iya ya ki..............” Kata Maula.

“Dan masih banyak lagi berbagai hal dalam keseharian kita yang mengajarkan kepada kita bahwa menyalahi aturan adalah sebuah benih menuju jurang kehancuran...........,

“Nak Mas lihat kapal yang berlayar dilaut lepas sana, kapal yang mengarungi samudra luas searah dengan arah angin, jauh lebih mudah daripada kapal yang berlayar kearah yang berlawanan dengan arah angin, atau ketika kita berkendara disebelah kanan misalnya, sementara orang lain disebelah kiri, kita berpotensi mengalami kecelakaan lebih besar daripada mereka yang berjalan dijalur yang benar..................” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ana juga sering memperhatikan pak tani yang tengah menyemprotkan insektisida, selalu searah dengan angin, karena kalau tidak, pak tani akan menghirup racun yang disemprotkannya, dan tentu hal itu akan membahayakan dirinya....................” Kata Maula.

“Ya seperti itu Nak Mas, ketika kita berenang melawan arus, artinya kita harus bersiap dengan tenaga ekstra, itupun belum tentu kita bisa sampai ketempat yang kita tuju dengan selamat, karena sekali lagi, sesuatu yang dilakukan secara terbalik, sangat berpotensi untuk membuat kita celaka............” Kata Ki Bijak lagi.

“Allah sebagai sutradara kehidupan ini, telah menuliskan skrip terbaik bagi kita yang tertuang dalam kitab suci Al qur’an secara detail, disana,didalam al qur’an Allah telah menulislan aturan-aturan hidup kita secara paripurna, kita sebagai pemain, tinggal menjalaninya saja dengan penuh penghayatan dan penjiwaan, insha Allah, kita akan menemukan kebahagiaan......”,

“Sebaliknya, jika kita berusaha merubah atau membelokan alur cerita yang telah digariskan menurut kehendak kita sendiri, menurut hawa nafsu kita, , niscaya kita akan kehilangan alur cerita yang mesti kita jalani...................” Kata Ki Bijak.

“Allah menciptakan manusia (insanàinsun- Bhs Arab) yang berarti harmonis, manusia diciptakan oleh Allah dengan penuh keharmonisan, baik itu keharmonisan hubungannya dengan alam sekitar, dengan sesama manusia, dengan Allah dan bahkan dengan dirinya sendiri........” Kata Ki Bijak.

“Jadi menjalani hidup secara harmonis merupakan salah satu syarat untuk kita hidup bahagia ya ki.............” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, keharmonisan, keselarasan, merupakan unsur yang sangat penting untuk sebuah keindahan, untuk sebuah kebahagiaan, musik hanya akan terdengar merdu ketika semua alat musik itu dimainkan dengan nada yang sama dan selaras...........”

“Syair hanya akan terdengar syahdu, apabila bait-baitnya tertata baik dan penuh keselarasan...............”

“Pun demikian langkah kaki dan ayunan tangan kita, mesti harmonis dan beraturan, coba Nak Mas melangkah dengan irama yang lain dari biasanya, misalnya ketika kaki kanan melangkah, kemudian tangan kanan kedepan, atau ketika tangan kiri kedepan berbarengan dengan langkah kaki kiri kedepan, akan sangat terasa betapa langkah kita tidak nyaman...............” Kata Ki Bijak.

“Jadi seperti robot ya ki...............” Kata Maula.

“Mau Nak Mas hidup seperti robot.............?” Tanya Ki Bijak.

“Tentu tidak ki..........” Jawab Maula.

“Karena itu, jalani kehidupan ini dengan cara yang benar, bukan dengan membolak-balik aturan yang telah ditetapkan hanya demi kepentingan sesaat......,” Kata Ki Bijak

“Coba Nak Mas perhatikan bagaimana kehidupan mereka yang menjalani kehidupannya secara ‘terbalik’, misalnya Al qur’an mengatakan bahwa kehidupan dunia ini adalah permainan yang melalaikan kita, dan al qur’an pun mengajarkan kita untuk memperhatikan akhirat, tapi ketika kemudian kita justru lebih senang bermain-main dengan kehidupan dunia, kita akan menjadi budak dunia, kita diperalat oleh keinginan duniawi kita sehingga kerap kita menjadi robot-robot pencari uang yang tak kenal lagi tuhan, sementara akhirat yang harusnya kita perhatikan, justru semakin jauh dari perhatian kita......”

“Lalu Nak Mas perhatikan juga bagaimana mereka yang berkawan dengan setan, seperti ramal meramal, perdukunan, klenik, dan lainnya, sementara al qur’an mengatakan setan adalah musuh yang nyata bagi kita, betapapun secara lahiriah mereka terlihat hidup bahagia, yakinlah semua itu hanya permainan yang menipu dan menyesatkan...............” Kata Ki Bijak.

Maula kembali mengamati gerak langkahnya dengan mengenakan sendal jepit secara terbalik, ia tidak dapat melangkah dengan cepat, kaku, dan bahkan hampir jatuh.

Sementara ketika ia mengenakan sendal jepitnya dengan posisi yang benar, langkahnya menjadi nyaman dan ia bisa berjalan jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Maula tersenyum simpul demi mengetahui betapa dari sendal jepit yang terbalik ini, ia mendapatkan sesuatu yang selama ini tidak terpikirkan olehnya.........

Wassalam

February 04, 2008

No comments:

Post a Comment