Thursday, February 21, 2008

DARI KRAN AIR

“Ki, ana sedikit mengalami kesulitan untuk menjelaskan dan memahami bahwa memang Allah-lah yang menjamin rezeki kita, ki............” Kata Maula.

“Maksud Nak Mas.....?” Tanya Ki Bijak.

“Iya Ki, disatu sisi, ana sering mendengar orang berkata bahwa mereka hafal dalil dan ayat yang menyatakan bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki seluruh mahluk, tapi disisi lain, banyak orang yang ‘meyakini’ dan menganggap rezekinya tergantung dari perusahaan tempatnya bekerja, tergantung pada atasannya, tergantung dari usahanya, sehingga sebagian orang ‘memilih’ lebih patuh dan takut pada atasan atau perusahaan tempatnya bekerja, daripada takut pada Allah...........” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, memang sebagian orang masih memiliki ketakutan seperti itu, mereka lebih takut untuk tidak berangkat kekantor, daripada takut tidak mengerjakan shalat, sebagian orang lebih takut terlambat absen, daripada takut terlambat shalat, sebagian orang bahkan rela berbohong dengan berbagai alasan untuk dapat meyakinkan atasannya untuk tidak masuk kerja, daripada takut kepada Allah yang melarang dan mencela orang yang suka bohong, dan masih banyak ketakutan-ketakutan yang kadang samasekali tidak berdasar...........” Kata Ki Bijak

“Ki, bagaimana kita melatih keyakinan kita agar kita dapat ‘melihat’ secara benar, bahwa Allah-lah sumber dari segala sumber rezeki kita ki.........?” Tanya Maula.

“Nak Mas lihat kran air itu............?” Tanya Ki Bijak sambil menunjuk kran air ditempat wudlu.

“Ya, Ki..............” Kata Maula.

“Apakah Nak Mas berfikir bahwa kran itu yang memberikan air untuk wudlu kita...........?” Kata Ki Bijak.

“Tentu tidak ki, kran air itu hanya berfungsi untuk menyalurkan air yang dari mata air yang dihisap oleh pompa air, kemudian ditampung di penampungan, dan kran itu ‘hanya’ mengalirkan air yang ‘dititipkan’ kepadanya...............” Kata Maula.

“Nak Mas benar, kran air hanya berfungsi sebagai alat untuk mengalirkan air, bukan yang menghasilkan air....., dan perusahaan tempat Nak Mas bekerja, sawah dan ladang tempat pak tani bercocok tanam, kios dan warung atau gerobak tempat pedagang berjualan, mobil dan kendaraan yang hilir mudik mengangkut penumpang, adalah ‘kran-kran rezeki ’ yang disiapkan Allah untuk menyalurkan rezeki-Nya kepada kita, sementara hak untuk memberikan rezeki itu adalah hak mutlak Allah, untuk membagikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya..........” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kenapa selama ini tidak terfikir seperti itu ya ki, ana sering dengar, ketika air wudlu tidak ada, banyak orang mengatakan kran-nya yang rusak, tanpa melihat darimana sumber air itu sendiri............” Kata Maula.

“Itulah yang kemudian mengantar orang berfikir ketika gajinya tidak naik, sebagian kita buru-buru memvonis atasanya tidak fair, perusahaannya tidak adil, dan sebagainya, atau ketika pendapatan tidak bertambah, sebagian kita buru-buru mengambil kesimpulan bahwa ada orang yang tidak senang kepadanya, atau ketika usahanya lagi seret, buru-buru mereka mencari ‘orang pintar’, mereka cenderung melihat permasalahan itu dari satu sisi saja, bukan melihat dan berfikir bahwa diatas semuanya, disetiap kejadian yang dialaminya, baik ketika gajinya tidak naik, baik ketika pendapatannya turun atau usahanya mandeg, disana, ada Allah yang berkuasa melapangkan atau menyempitkan rezeki kepada siapa yang dikehedaki-Nya...........” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an

37. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (Ar-rum)


52. Dan Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman .(Az-zumar).

“Iya ki, ana pun pernah merasakan hal seperti itu, lalu bagaimana seharusnya kita bersikap ki.......?” Kata Maula.

“Bersikap dan berfikirlah sebagaimana kita berfikir bahwa bukan kran itu yang memberi kita air.............., sebagaimana dua ayat diatas, dibalik lapang atau sempitnya rezeki kita, disana ada ‘sesuatu’ yang harus kita imani, karena ‘Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman’, jadi apapun yang menimpa kita, lapang atau sempitkah rezeki kita, imani dan yakini bahwa semua itu datangnya dari Allah, pencipta kita yang Maha Pemberi Rezeki.............” Kata Ki Bijak

“Ketika kita berfikir dengan cara yang benar dan kemudian mengimani bahwa segalanya dari Allah, cara kita untuk ‘mengatasi’nya pun insya Allah akan benar, ketika Allah memberi kita kesempitan, kita akan berfikir dan beriman bahwa ini adalah sebuah ujian kesabaran dari Allah untuk kita, dan kita akan terhindar dari tipu daya setan yang membujuk kita untuk meminta pertolongan pada orang pintar atau tukang ramal..........”

“Sebaliknya ketika rezeki kita lapang, kita tidak akan terjebak untuk berbangga diri atau membanggakan perusahaan tempat kita bekerja misalnya, tapi kita akan lebih bijak dan berfikir bahwa kelapangan yang Allah berikan kepada kita juga sebuah ujian untuk menguji sebesar apa syukur kita terhadap nikmat-nikmat-Nya.........” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kalau kita sudah mengerti dari mana air ini berasal, ketika airnya tidak keluar, jalan terbaik adalah mengecek apakah ada yang menghalangi sumber air ini sehingga tidak sampai ke kran ini ya ki...........” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, banyak keterangan yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan‘terhambatnya’ aliran rezeki kita adalah bertumpuknya ‘kotoran’ dan dosa yang menghalangi kedekatan kita dengan Allah, dengan Sumber rezeki itu sendiri....., selain juga sumbatan yang diakibatkan kurangnya rasa syukur dan tawakal kita kepada Allah swt...........” kata Ki Bijak.

“Jadi ketika kita diuji oleh Allah dengan kesempitan, jalan keluarnya adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah, kemudian membersihkan sumbatan dosa dan kotoran dengan beristighfar dan taubat, meningkatkan rasa syukur kepada Allah dan selebihnya menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan memupuk sifat tawakal kita ya, ki................” Kata Maula berusaha menyimpulkan.

“Benar Nak Mas, dekatkan diri kepada Allah, tobat dan istighfar, syukur nikmat dan tawakal, disamping kita menyempurnakan ikhtiar dan kasab kita, merupakan cara terbaik untuk menyikapi berbagai hal yang kita hadapi, terlebih ketika kita diuji Allah dengan kesempitan............” Kata Ki Bijak.

“Pun ketika Allah menguji kita dengan kelapangan, kita tidak akan salah meng-alamat-kan rasa terima kasih dan syukur kita kepada selain Allah, karena kita tahu dan meyakini bahwa kelapangan itu bersumber dari-Nya...........”Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, akan menjadi ‘lucu’ kalau kran ini tidak mengeluarkan air, kemudian kita marah-marah pada kran ini, tanpa tahu kenapa kran ini macet, atau sebaliknya, ketika kran ini mengalirkan air dengan lancar, ‘lucu’ rasanya kalau kita kemudian ‘memuja’ kran ini secara berlebihan, tanpa menyadari dari mana air ini bersumber.........” Kata Maula.

“Berterima kasih pada atasan atau perusahaan sebagai ‘kran’ rezeki kita, juga merupakan sebuah sifat yang terpuji Nak Mas, selama cara berfikir dan keyakinan kita benar, bahwa atasan kita, perusahaan tempat kita kerja, ladang dan sawah kita, warung atau gerobak kita, ‘hanya’ sebatas kran saja, selebihnya kita panjatkan rasa syukur kita dengan penuh keikhlasan pada sumber utama dan satu-satunya sumber itu sendiri, yaitu Allah swt...........” kata Ki Bijak.

“Iya ki, ana mengerti sekarang.............., ya Allah bimbing hamba-Mu yang dhaif ini untuk mendekat kepada-Mu, beri kemampuan hamba untuk dapat mensyukuri nikmat-Mu, kuatkan hamba untuk bisa berserah diri kepada-Mu, dan tunjuki hamba untuk menyempurnakan kasab hamba dijalan-Mu, ya Allah...., hanya kepada-Mu hamba bermohon dan berserah diri.................” Kata Maula sambil menengadahkan kedua tangannya memohon kepada Allah.

“Amiiin................” Ki Bijak mengamini doa muridnya.

Wassalam

Februari 21, 2008

1 comment:

  1. Subhanallah..
    Jazakallah sharingnya Pak.
    Minta izin untuk disebarkan.

    ReplyDelete