Tuesday, February 12, 2008

MINYAK WANGI

“Kenapa Nak Mas....................” Tanya Ki Bijak demi melihat Maula seperti menahan sesuatu.

“Tidak apa-apa ki, ana hanya sedikit pusing dengan harum minyak wangi, tajam dan menyengat sekali wanginya.......................” Kata Maula sambil memijit-mijit keningnya.

“Nak Mas tidak suka minyak wangi................?” Tanya Ki Bijak.

“Suka ki, tapi kalau wanginya terlalu menyengat dan tajam seperti tadi, ana malah pusing ki.......................” Kata Maula.

“Iya, Aki juga beberapa kali mengalami hal seperti itu, tapi setelah Aki renungkan, ternyata kejadian seperti yang Nak Mas alami tadi, mengajari kita banyak hal Nak Mas......” Kata Ki Bijak.

“Pelajaran dari minyak wangi yang membuat pusing ki...........? Tanya Maula .

“Ya, sebuah pelajaran berharga yang mengajarkan kepada kita bahwa tidak semua yang kita anggap ‘wangi’ itu baik pula bagi orang lain.......” kata Ki Bijak.

“Artinya apa ki................?” Tanya Maula.

“Artinya apa-apa yang kita anggap baik, belum tentu benar bagi orang lain, belum tentu cocok untuk orang lain, belum tentu berkenan dengan orang lain, karenanya kita harus bijak dan pandai-pandai dalam menjaga sikap dan kata-kata kita, sehingga tidak ada orang lain yang merasa tersinggung atau terbebani dengan perilaku dan kata-kata kita, seperti Nak Mas yang justru mual dan pusing dengan wangi parfum orang lain...........” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kadang memang ana pun masih suka lepas kontrol ketika menyampaikan suatu pendapat yang menurut ana benar, atau pandangan yang menurut ana paling baik, tapi ternyata memang kita tidak bisa memaksa orang lain untuk mengikuti selera dan pendapat kita, yang menurut kita paling benar sekalipun............” kata Maula.

“Pun dalam kita bersikap dan berperilaku Nak Mas, orang lain akan lebih tahu seberapa ‘wangi’ sikap dan perilaku kita yang kita anggap sudah baik dan benar, karena memang penciuman kita cenderung subjektif dan selalu menganggap kita yang paling benar............” Kata Ki Bijak.

“Pun ketika orang lain memakai minyak wangi atau badannya bau keringat, kita akan lebih tahu dari orang itu sendiri, sekali lagi, karena sebagian kita terlalu subjektif dan protektif.....................” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, apakah permisalan ini juga berlaku ketika kita hendak menyampaikan sesuatu, misalnya ketika kita dakwah atau tabligh......?” Tanya Maula.
“Dalam hemat Aki begini Nak Mas, dakwah atau tabligh yang disampaikan oleh para dai dan mubaligh, seruan dan ajakan yang disampaikan oleh para ustadz, layaknya ‘wewangian’ yang harum semerbak yang mengundang selera orang-orang untuk datang dan mengikuti apa yang disampaikan oleh para ustadz, mubaligh dan dai, tapi kenyataannya, hingga saat ini masih banyak terjadi orang-orang justru ‘menutup diri’ dari ajakan dan seruan itu, persis seperti Nak Mas menutup hidung terhadap wewangian tadi.................” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, seperti taklim mingguan dimasjid ini, masih banyak jamaah yang enggan untuk menghadiri taklim, hanya beberapa orang saja yang rutin hadir........” Kata Maula.

“Nak Mas tahu alasannya kenapa yang hadir ditaklim itu sedikit.............?” Tanya Ki Bijak.

“Ana tidak tahu persis ki..............” kata Maula.

“Coba Nak Mas gali lagi alasan apa yang membuat jamaah masih enggan untuk ikut taklim, karena sangat mungkin hal ini dipengaruhi oleh ‘selera’ para jamaah itu...........” Kata Ki Bijak.

“Dipengaruhi ‘selera’ ki.............?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, seperti Nak Mas yang merasa pusing dengan wewangian yang asing bagi Nak Mas, para jamaah pun mungkin memiliki ‘selera’ yang berbeda, sehingga mereka merasa enggan untuk datang ke majelis taklim, mungkin materi kajiannya yang kurang berkenan, mungkin cara penyampaian dainya yang kurang pas, dan masih banyak lagi yang harus kita gali dari para jamaah, sehingga mereka semua merasakan wangi yang sama, sehingga mereka merasa nyaman dengan taklim yang mereka ikuti, itu yang kadang luput dari perhatian para dai dan ustadz serta kita selaku penyelenggara taklim itu............” Kata Ki Bijak.

“Kita juga harus bisa memaklumi kapasitas dan potensi setiap jamaah yang hadir, seperti halnya minyak wangi tadi, minyak wangi yang kemasannya bagus dan wanginya menyengat, belum tentu disukai oleh orang lain, mungkin justru kemasan yang sederhana dan wangi yang alami akan banyak mengundang selera..............” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, ana juga pernah merasakan hal seperti itu, taklim yang disampaikan dengan bahasa formil dan text book justru terasa membosankan, bahkan cenderung berjalan sendiri-sendiri, karena jamaah tidak bisa mengikuti bahasa dan gaya yang disampaikan da’inya...........” kata Maula.

“Ya, seperti itu Nak Mas, kita, Aki sebut ‘kita’ saja biar mudah untuk menyebut kesatuan antara da’i dan penyelenggara, harus pandai dan bijaksana memilih materi apa yang tepat dalam suatu acara, dan cara apa yang sesuai untuk menyampaikannya, dua-duanya harus kita perhatikan, karena jika kita hanya memperhatikan sisi materinya saja misalnya, materi yang sangat bagus sekalipun, tapi disampaikan dengan cara yang salah, bisa jadi intisari materi itu justru kabur dan tidak mengena, sebaliknya, jika kita cenderung hanya fokus pada penampilan dan cara kita menyampaikan, sementara materinya tidak kita kuasai, hal itu juga akan menjadikan dakwah yang disampaikan menjadi kurang gregat dan hambar..................” kata Ki Bijak.

“Ada banyak contoh mereka yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, hapalan haditsnya banyak, qur’annya mumpuni, tapi mereka tidak mendapat tempat dihati jamaah, hanya karena mereka ‘memaksakan’ dakwahnya dengan cara yang mereka anggap benar, dengan intimidasi, dengan menghujat orang lain, dengan memproklamirkan diri bahwa caranya yang paling baik dan paling benar, cara-cara seperti ini cenderung mendapat resistensi dari penerimanya...............” kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat dengan analogi singkong rebus dan roti........” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, ketika kita menawarkan singkong rebus dengan cara yang santun, sangat mungkin tamu kita akan menerimanya, atau setidaknya mau mencicipi apa yang kita tawarkan, sementara sekalipun yang kita bawa roti isi keju, tapi kita tawarkan dengan cara yang kurang santun, sangat mungkin mereka akan enggan menerimanya................” kata Maula.

“Ya, mestinya kita belajar banyak dari kisah bijak itu, ketika kita ingin mengajak orang lain untuk mengikuti apa yang kita sampaikan, sampaikanlah ajakan kita dengan cara yang santun, bukan dengan mencaci atau dengan provokasi, karena hal itu cenderung akan semakin menjauhkan mereka dari apa yang kita sampaikan......................” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, memang masih banyak ajakan dan seruan yang dilakukan dengan cara yang kurang santun, bahkan cenderung menghujat orang lain.......” Kata Maula.

“Ya, memang setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menyampaikan sesuatu, ada yang tegas dan keras ada juga yang menggunakan cara-cara yang lemah-lembut, dan Aki lebih memilih cara yang kedua, dakwah dengan lemah lembut...............” kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an.

159. Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Ali Imran)

[246] Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

“Iya ya ki, bahkan ketika Nabi Musa diperintahkan Allah untuk memperingatkan fir’aun yang telah melampui batas, Allah-pun meminta Nabi Musa dan Harun untuk berkata dengan lemah lembut dalam menyampaikan dakwahnya............” Kata Maula sambil mengutip ayat Al Qur’an;

44. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Thaaha)

“Iya Nak Mas, apalagi kalau kita berbicara dan mengajak saudara-saudara kita yang ‘hanya’ berbeda pandangan dengan kita, alangkah bijaknya jika kita mengajak dan mengingatkan mereka dengan cara yang jauh lebih santun...............” Kata Ki Bijak.

Maula tersenyum, ternyata rasa pusingnya telah memberinya tambahan pelajaran yang sangat berkesan baginya.

Wassalam

February 12, 2008

No comments:

Post a Comment