Wednesday, January 2, 2008

RENUNGKANLAH...

“Ki, ada yang janggal tidak ya ki, dimalam tahun baru kemarin............?” Tanya Maula.

“Maksud Nak Mas.............?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, dimalam kemarin, ana merasakan sesuatu yang nggak ‘sreg’ dihati ana ki, ana merasa aneh melihat banyak sekali orang-orang sibuk menyambut pergantian tahun baru lalu, ada yang makan-makan, ada yang begadang, ada yang konpoi bahkan ada pesta kembang api segala, sementara disisi lain, saudara-saudara kita tengah merintih kedinginan karena rumahnya hanyut karena banjir, sementara ada banyak saudaranya yang lain, harus berjuang menahan lapar karena tidak ada lagi makanan tersisa karena terkena bencana, ana merasakan sesuatu yang benar-benar aneh dimalam itu ki...............” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas dalam-dalam demi mendengar penuturan Maula.

“Benar Nak Mas, Aki pun merasakan keprihatinan yang sangat dalam dimalam kemarin, entah apa yang tengah terjadi pada umat ini, mereka seolah sama sekali tidak memiliki kepedulian dan keprihatinan dengan saudara dan lingkungannya, mereka justru berpesta ditengah penderitaan orang lain........................” Kata Ki Bijak dengan nada penuh keprihatinan.

“Iya ki, konon untuk biaya pesta kembang api yang tidak lebih dari sepuluh menit itu, menghabiskan biaya seratus jutaan, belum lagi untuk biaya pesta-pesta lainnya, kalau uang sebanyak itu digunakan untuk membantu korban banjir atau tanah longsor, mungkin akan banyak orang yang akan sangat terbantu ya ki.............” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, tapi ini juga bisa kita jadikan cermin untuk kita berkaca sejauh mana ibadah kita membekas dan memberi kesan yang mendalam bagi kita, sebaik apa keimanan kita ...................” Kata Ki Bijak.

“Pesta, bencana, dan tolok ukur ‘keberhasilan’ ibadah kita ki............?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, belum genap sebulan kita melaksanakan idul kurban, yang secara esensi melatih kita untuk peduli dengan orang lain, yaitu dengan cara kita menyembelih hewan kurban untuk kita bagikan kepada saudara kita sebagai bentuk empati dan kepedulian pada sesama kita, disamping melatih kita untuk tidak terlalu mencintai dunia ini secara berlebih, dan apa yang terjadi malam kemarin adalah sebentuk cermin, sudah benarkah kurban kita atau hanya karena ikut-ikutan dan malu pada tetangga....?” Kata Ki Bijak.

“Jika kurban kita sudah benar, sudah dilandasi keimanan dan tanpa diiringi rasa riya, insha Allah nilai-nilai kurban itu akan membekas dalam jiwanya, jadi menurut hemat Aki, tidak mungkin orang yang kurbannya sudah benar, kemudian ikut-ikutan pesta pora ditengah derita saudara-saudaranya..........................” Kata Ki Bijak.

“Oooh, jadi mungkin yang kemarin malam pesta-pesta itu mereka yang tidak kurban ya ki.............?’ Kata Maula.

“Secara syari’at mungkin banyak diantara mereka yang pesta itu adalah juga mereka yang berkurban pada hari idul adha dengan menyembelih hewan kurban, tapi sekali lagi, nilai berkurban bukan hanya diukur dari berapa besar hewan kurban yang mereka sembelih, tapi lebih pada bagaimana tingkat kedekatan mereka kepada Allah, kepada orang disekelilingnya, serta mampu mengendalikan sifat hewaninya yang secara simbolik telah disembelih pada hari idul kurban itu..........................” Kata Ki Bijak.

“Ada upaya mendekatkan diri pada Allah, ada pendidikan untuk mengendalikan siifat hewani kita kemudian juga ada pelatihan untuk mengendalikan kecintaan kita pada dunia yang berlebih, itu ya ki yang mestinya meningkat setelah kita berkurban pada hari raya idul kurban kemarin.............” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, itu yang harusnya menjadi identitas seorang yang berkurban...........” Kata Ki Bijak.

“Belum lagi jika apa yang kemarin malam terjadi itu kita ukur dengan nilai-nilai yang terkandung dalam shaum ramadhan kita, sangat jauh dan bahkan mungkin bertolak belakang dan kita mestinya patut khawatir dengan nilai ramadhan kita jika kitapun masih ikut-ikutan merayakan malam tahun baru, terlepas dari apapun alasannya...............” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, shaum ramadhan kemarin kan bertujuan untuk mendidik kita untuk merasakan bagaimana lapar dan dahaga yang melilit perut dan kerongkongan mereka yang miskin dan papa............., lalu bagaimana mungkin baru dua bulan setelahnya kita telah melupakan latihan selama ramadhan ya ki....................” Kata Maula tak kalah heran.

“Itulah kenapa kita harus lebih berhati-hati dengan apa yang kita lakukan, karena apa yang tampak pada lahiriah dan perbuatan kita, juga merupakan cermin apa yang ada dalam dada ini, apa yang tersirat dalam hati ini........................” Kata Ki Bijak.

“Sayang sekali ya ki, kalau sebulan penuh kita menahan lapar dan dahaga, sementara hasilnya sama sekali tidak ada..................” Kata Maula.

“Seperti apa yang sering Aki katakan, bahwa salah satu tolok ukur berhasil tidaknya ibadah yang kita lakukan, adalah sejauh mana ibadah kita memberi ‘kesan’, baik itu sebagai pendorong kita untuk melakukan ibadah secara lebih baik, maupun sebagi proteksi bagi kita untuk menghindari hal-hal yang dilarangnya................” Kata Ki Bijak.

“Shalat akan mampu mencegah perbuatan keji dan munkar ya ki.....................” Kata Maula sambil mengutip ayat al qur’an;

45. Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al Ankabut).


“Pun demikian dengan shaum Nak Mas, akhir ayat 183 tersebut menunjukan salah satu tujuan shaum, yaitu membentuk manusia bertakwa, yang ditakwilkan dengan kata Ittiqa’ (proteksi), semestinya orang yang shaum ramadhannya benar, akan terproteksi dari perbuatan-perbuatan yang mengundang murka Allah, seperti pesta, mabuk-mabukan dan perbuatan mubajir lainnya..............” Kata Ki Bijak, sambil membacakan ayatnya;

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Maula menghela nafas panjang, ia merasa bersyukur karena sudah tidur sejak pukul 9.00 manakala sebagian orang ramai ‘teu puguh’ merayakan tahun baru.

“Coba Nak Mas perhatikan lagi ayat 120 dari surat Al Baqarah;

120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.


“Peringatan Allah tersebut sangat nyata dan jelas, bahwa kita tidak boleh mengikuti milah mereka, dan tahun baru kemarin tahun baru mereka,lalu kenapa kita yang jadi lebih sibuk dari mereka...............?” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kita lebih sibuk dari mereka...................?” Kata Maula penuh heran.


“Itulah pekerjaan rumah kita semua, bagaimana kita membangun kesadaran kita, bahwa memperingati tahun baru secara berlebihan jauh lebih banyak mudharatnya dari pada manfaat yang mungkin kita dapat....................” Kata Ki Bijak.

“Iya ki.........................” Kata Maula sambil berpamitan pada Ki Bijak untuk berangkat kerja.

Wassalam

Januari 01, 2008

No comments:

Post a Comment