Wednesday, May 9, 2007

KISAH SITUKANG RAMBUTAN

Alkisah ada seorang tukang rambutan yang hendak menjual dagangannya ke Jakarta. Hari itu, dipagi buta ia sudah bergegas menuju terminal bus antar kota, sesampainya digerbang terminal, ia dikerubuti para kernet yang menawarkan jasanya untuk mengantar situkang rambutan;

“Kemana kang, rambutan?” Tanya seorang kernet bus warga baru jurusan Cikampek – Kampung Rambutan

“Iya, ini teh rambutan, satu ikatnya akan saya jual seharga 6000 rupiah” Balas tukang rambutan.

“Yeeeh, bukan itu, akang mau ke rambutan?” Tanya kernet lagi

“Ari kamu teh gimana, saya kan udah bilang ini rambutan, kok nanya lagi-nanya lagi” Kata si emang tukang rambutan.

“Emang mau kejakartanya kemana, ke priok atau ke rambutan?” Tanya kernet lagi dengan nada agak kesel.

“Saya mau kejakarta jual rambutan, bukan kerambutan” Kata situkang rambutan.

“Eeh dasar orang kampung.....” Kata si Kernet sambil pergi meninggalkan tukang rambutan yang keheranan.

“Kenapa orang itu marah-marah...” , Guman situkang rambutan.

Akhirnya tukang rambutan itu naik kesebuah Bus jurusan kampung rambutan, ia duduk disebuah bangku dan meletakan rambutan dagangannya disebelahnya.

“Rambutan mang?” Tanya kondektur bus

“Iya, rambutan” Kata situkang rambutan.

“Ini apa?” Tanya kondektur lagi sambil menunjuk karung bawaan situkang rambutan.

“Rambutan, kang tadi saya udah bilang!” Kata tukang rambutan lagi.

“Mang, kalau rambutan ini disimpan dibagasi aja, biar emang tidak bayar dua kali” Kata si kondektur.

“Nanti kalau hilang bagaimana?” Tanya situkang rambutan

“Nggak, aman kok” Kata kondektur meyakinkan tukang rambutan.

Selanjutnya bus itu melaju menuju Jakarta, situkang rambutan merasa kepalanya pusing akibat goncangan kendaraan yang bergetar, akhirnya ia pun tertidur pulas dibangkunya.

Singkat cerita, bus tersebut sudah sampai dijakarta;

“Rambutan abis, rambutan abis.....”, Teriak kernet dengan lantang untuk membangunkan penumpang jurusan kampung rambutan yang tertidur.

Situkang rambutan yang juga tertidur terperanjat bangun mendengar teriakan itu, ia segera beringsut menghampiri si kernet dan tanpa basa basi terlebih dahulu, ia langsung melayangkan bogem mentahnya pada muka sikernet.

“Aduh......kenapa kamu mukul saya??!!” teriak sikernet yang sempoyongan kena hantaman bogem ditukang rambutan.

“Tadi kan saya sudah bilang, rambutan itu biar saya pangku saja agar tidak hilang, tapi kondektur itu maksa agar rambutan saya disimpan dibagasi, sekarang rambutannya habis, sedangkan itu satu-satunya modal saya, nanti bagaimana saya pulang?” Kata situkang rambutan.

“Rambutan yang mana yang habis?” Tanya sikernet.

“Itu yang tadi kamu bilang, rambutan habis-rambutan habis”, Kata situkang rambutan lagi.

Sikernet segera saja menarik tangan situkang rambutan menuju bagasi,

“Tuh rambutan kamu, ambil......”, Kata sikernet.

Dengan rasa heran situkang rambutan tadi mengambil dan memeriksa rambutan daganganya yang ternyata masih utuh.

Situkang rambutan memandang kernet dengan rasa bersalah;

“Rambutan habis itu maksudnya penumpang jurusan kampung rambutan turun disini, karena busnya nggak masuk terminal, bukan rambutan NT yang abis.....”, Kata sikernet kesal.

Sementara situkang rambutan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Cerita diatas hanyalah sebuah analogi untuk menggambarkan betapa “kebodohan” yang diperankan oleh situkang rambutan sangat berbahaya, bukan saja bagi dirinya, tapi bagi orang lain, seperti kernet bus diatas, yang harus menerima bogem mentah akibat sebuah kebodohan situkang rambutan.

“Kebodohan” dengan berbagai sinonimnya, adalah sesuatu yang harus secara terus menerus diperangi agar tidak menimbulkan korban, baik korban dari orang yang bodoh tersebut atau orang lain yang kena getah akibat kebodohan orang lain.

Kebodohan dalam arti keterbelakangan pendidikan, adalah merupakan salah satu penyebab terbesar dari timbulnya kemiskinan. Ibarat ayam dan telur, entah mana yang lebih dulu, apakah kebodohan menimbulkan kemiskinan atau sebaliknya kemiskinan yang kemudian menimbulkan kebodohan, namun yang jelas, kedua-duanya adalah penyakit yang demikian dikhawatirkan agar menyeret orang yang berada dalam lingkaran kebodohan dan kemiskinan tersebut kedalam jurang kemusyrikan.

Untuk itulah Islam demikian menekankan pentingnya pendidikan dan menjadikannya fardhu ‘ain bagi kepada setiap pemeluknya,

“Tuntutlah ilmu sampai kenegeri china”, demikian matan sebuah hadits yang oleh sebagian kalangan didhaifkan, sementara tetap dijadikan rujukan oleh kalangan lain dengan alasan bahwa kenapa hadits tersebut merujuk china dan bukan Indonesia misalnya, adalah karena disana, di China ada sahabat Sayyid Saad dan dan Sayyid Jafar yang ditugaskan oleh nabi untuk belajar disana dan sekaligus menyebarkan Islam disana. Alasan rasional lain adalah sejauh-jauh china dari arab adalah bentangan daratan yang sangat mungkin ditempuh, dibanding dengan Indonesia yang harus melalui jalan laut dan udara yang ketika itu masih sangat langka, wallahu’alam, yang jelas, kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan, dan kemiskinan sangat dekat dengan kemusyrikan.

Banyak sudah contoh betapa mereka yang tertinggal secara keilmuan, kemudian hidup mereka berada dibawah garis kemiskinan, harus terpaksa atau dipaksa menjual akidahnya demi menutupi rasa lapar mereka.

Kebodohan emosional, akan melahirkan timbulnya manusia-manusia yang berahlaq dan bermoral rendah, seperti analogi diatas, main pukul, main hantam, tak kenal belas kasih atau berbagai perilaku yang tidak dituntun oleh pengetahuan lainnya, maka kebodohan jenis ini menimbulkan dampak yang tidak kalah mengerikan dibanding dengan jenis kebodohan pertama tadi.

Rasa welas asih, tepo seliro, tenggang rasa, hormat menghormati, saling menghargai dan berkasih sayang hanya mungkin dilakukan oleh “orang-orang pintar” yang memiliki wawasan dan pengetahuan serta tingkat emosi yang memadai.

Stabilitas mental dan emosi dalam berbagai hal, kadang justru lebih menentukan daripada tingkat intelejensia yang jenius sekalipun. Betapa banyak orang yang memiliki nilai akademik mengagumkan, tapi justru gagal meraih cita-cita mereka, karena ketidakstabilan tingkat emosi yang mereka miliki. Sebaliknya, nilai akademik yang sekedar rata-rata akan sangat terbantu dengan perilaku dan tutur kata yang santun serta tingkat pengedalian diri yang baik, sehingga justru merelah orang yang dikategorikan “berhasil”

Kebodohan secara spritual, mengakibatkan penderitanya tidak mampu mengenal diri dan tuhannya, sementara mengenal Allah adalah pokok dari segala pokok ibadah dan agama “Awaludiini makrifatullahi ta’ala – dasar agama adalah mengenal Allah Swt”. Lalu bagaimana kita dapat dikatakan telah beragama dengan benar, sementara kita tidak mengenal siapa yang menyuruh kita shalat, siapa yang memerintahkan kita puasa, atau siapa yang kita ibadahi ketika kita berwukuf di padang Arofah, boleh sangat jadi ibadah dan keberagamaan kita menjadi “batal” karena kita belum tahu kepada siapa dan untuk siapa ibadah kita, hidup mati kita seperti yang kita ucapkan dalam setiap shalat kita.

Salah satu syarat atau cara mengenal Allah adalah dengan cara mengenal “diri kita – man arofa nafsahu faqaad arofa rabbahu – siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal tuhannya”, kenapa?

Karena dalam diri kita tersimpan selaksa pelajaran dan petunjuk untuk mengarahkan kita kepada siapa pencipta kita. Detak jantung kita, aliran darah kita, hembusan nafas kita, kerdip mata kita, “seharusnya”, mengarahkan kita pada satu titik, yaitu adanya Allah swt yang Maha Wujud.

Dan ini hanya akan mampu dilakukan oleh orang-orang yang mau belajar dan senantiasa memperbaiki kapasitas keilmuannya, bukan seperti analogi tukang rambutan tadi, yang hanya mengandalkan insting dan ‘katanya” saja.

Kebodohan intelejensi, kebodoan emosional serta kebodohan spirual adalah penyakit yang harus kita perangi dengan jihad dan kesungguhan agar tidak menghinggapi diri kita, keluarga kita dan syukur-syukur kalau kita bisa membantu lingkungan dan masyakat kita agar terbebas dari serangan penyakit jenis ini.

Wassalam

May 09, 2007

No comments:

Post a Comment