Monday, May 14, 2007

PRACTICE MAKE PERPECT

Alhamdulillahirabil’alamin, hampir dalam setiap acara peringatan hari-hari besar Islam yang diselenggarakan diberbagai masjid dan musholla, selalu dipenuhi jamaah. Baik itu peringatan Isra’ Mi’raj, peringatan Maulid Nabi, peringatan Nuzulul Qur’an serta peringatan-peringatan hari-hari besar Islam lainnya, laris manis dikunjungi kaum muslimin dan muslimat, apalagi kalau sang mubaligh atau penceramahnya seorang dai yang terkenal dan sering muncul di TV, antusiasme pengunjung dijamin makin meninggi.

Setiap tahun acara-acara tersebut diselenggarakan dengan persiapan dan penyelenggaraan yang memakan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit, lalu apakah ada hal lain “yang tertinggal” selepas acara-acara peringatan tersebut?

Sebuah contoh kecil, dalam sebuah peringatan Isra’ Mi’raj, seperti biasanya sang mubaligh mengupas berbagai hal tentang shalat. Mulai dari perjalanan Isra ‘ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw hingga akhirnya beliau dihadiahi amalan shalat lima waktu oleh Allah swt.

Dengan berapi-api dan semangat yang luar biasa, para mubaligh menyampaikan hal ikhwal shalat;

“Hadirin yang dimuliakan Allah, shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mendirikan shalat, maka ia berarti telah menegakan agamanya, sebaliknya, siapa diantara kita yang melalaikan shalat, berarti mereka telah menghancurkan agamanya”

“Shalat merupakan amaliah pokok yang merupakan sendi dasar agama Islam, shalat merupakan amalan yang kelak akan dihisab terlebih dahulu sebelum amalan-amalan lainnya, barang siapa shalatnya baik, maka insya Allah amalan lainnya diterima, sebaliknya, siapa diantara mereka yang shalatnya tidak benar, maka amalan-amalan lainnya tertolak”

“Shalat Isya dan Shubuh merupakan shalat yang menentukan kadar keimanan seseorang, barang siapa yang selalu melalaikan shalat Isya dan Shubuh, maka ia rawan terjangkit penyakit munafik........”

Dan masih banyak lagi uraian sejenis yang disampaikan oleh para mubaligh, tapi ada sebuah ironi setiap kali peringatan Isra’ Mi’raj itu selesai. Uraian dan ceramah yang panjang lebar mengenai shalat, mengenai fadhilah bagi mereka yang menunaikannya, serta ancaman bagi mereka yang meninggalkannya, seakan sama sekali tidak berpengaruh untuk “merubah” perilaku dan cara pandang mereka yang hadir dalam taklim itu, apalagi merubah pola pikir mereka yang tidak hadir dalam tabligh-tabligh semacam itu, karena selepas ceramah tersebut, ketika waktu shubuh, dimasjid tempat penyelenggaraan acara peringatan Isra’ Mi’raj tersebut, sepi senyap, hanya beberapa gelintir saja orang yang mau hadir untuk shalat berjamaah dimasjid!!

Apa yang salah dengan ceramah semalam? Bukankah pak Kyai telah dengan jelas menerangkan bahwa shalat shubuh merupakan indikator keimanana seseorang, apakah ia benar orang yang benar imannya, atau sebaliknya, ia hanya seorang munafik yang mengaku-ngaku orang Islam?

Alasan yang digunakan oleh sebagian besar orang yang tidak hadir saat shalat shubuh biasanya seragam, “Ngantuk karena nonton pengajian semalam”, aneh bukan?

Lha wong pengajian kok ya ditonton gitu lho!! Bukannya apa yang dibicarakan itu disimak dan diamalkan!!

Kepengajian kok ya disamakan dengan nonton bola, ke majelis taklim kok disamakan dengan nonton dangdutan.........setelah nonton, kelelahan, tidur, selesai urusan!!

Ini yang masih sering terjadi diantara kita, menghadiri majelis taklim itu untuk menambah ilmu dan wawasan, untuk kemudian diamalkan, bukan sekedar menonton ustadznya yang terkenal, kyainya yang kondang, atau yang lebih parah, kemajelis taklim hanya untuk menonton mubalighnya yang banyak guyon-nya......kalau nggak ada leluconnya, nggak rame, ngantuk dan lain sebagainya.

Menuntut ilmu itu penting, bahkan sangat penting, tapi mengamalkan ilmu yang kita terima juga merupakan sesuatu yang teramat sangat penting sekali, karena ceramah saja, membaca saja, mendengar saja, berdiskusi saja, tanpa mempraktekan apa yang kita tahu, belum cukup untuk menjadikan kita menjadi orang yang benar keimanannya.

Practice Make Perpect!

Sebuah analogi yang menarik yang disampaikan oleh Pak Ustadz kemarin, begini:

“Pernah nonton pertunjukan gajah disirkus?” Tanya Pak Ustadz.

“Pernah Pak...” Jawab Hadirin

“Lihat gajah-gajah itu, mereka bisa duduk, mereka bisa bergandengan, bahkan mereka bisa main bola, tahu khan ada sepakbola gajah?” Tanya pak Ustadz lagi.

Hadirin hampir semuanya mengangguk tanda mengerti apa yang dikatakan pak Ustadz.

“Sekarang Ana mau tanya, apakah kemampuan gajah untuk duduk, bergandengan belalai serta main bola itu “hasil” ceramah pelatihnya?” Pancing Pak Ustadz

“Seandainya pelatih gajah itu bilang “ Hai gajah yang baik, engkau adalah mahluk besar yang pintar, maka engkau bisa main bola”, apakah kira-kira gajah itu mau menendang bola seperti ceramah pelatihnya tadi?” Tanya Ustadz lagi.

“Atau dalam pertunjukan harimau, pelatihnya berkata dengan semangat “Wahai raja hutan yang gagah perkasa, melompatlah kedalam lingkaran api itu, berhati-hatilah, jangan sampai kulitmu terkena api itu, karena api itu panas, api itu membakar”, apa yang akan dilakukan harimau mendengar ceramah tadi? Tidak ada, selain auman, auuhhhh aaaah, gelap!!!
Canda Pak Ustadz.

Lalu apa yang menjadikan Gajah bisa bermain bola dan Harimau bisa melompati lingkaran api yang menyala-nyala?

Jawabnya adalah latihan......
mereka, gajah dan harimau itu mungkin hanya mengerti sedikit bahasa dan isyarat pelatihnya, tapi dengan latihan yang terus menerus mereka lakukan, mereka pada akhirnya mampu melakukan sesuatu yang berat sekalipun, sesuatu yang sesuai dengan perintah pelatihnya.

Kecakapan kita dalam ibadah, bukan hanya didapat dari kita mendengar kaset atau pengajian semata, lebih dari itu kita harus mengamalkan apa yang sudah kita tahu dari bacaan, dari kaset atau dari pengajian yang kita ikuti.

Seperti contoh diatas, kalau dalam peringatan Isra’ Mi’raj itu kita mendapat tambahan pengetahuan bahwa shalat adalah tiang agama, bahwa shalat adalah amalan yang utama, bahwa shubuh adalah shalat yang disaksikan malaikat, ya coba kita praktekan, terlepas dari apakah selepas mengikuti pengajian itu kita ngantuk atau lelah sekalipun, karena itu bukan sebuah alasan, itu hanya dalih yang kita buat untuk menutupi keimanan kita yang masih coreng moreng.

Kita tidak akan pernah sampai pada tujuan kita, kalau kita tidak pernah beranjak dari tempat duduk kita!!

Kalau kita tidak pernah mau melangkahkan kaki kita kemasjid, kapan kita bisa merasakan bagaimana nikmatnya suasana shalat berjamaah dimasjid.

Kalau kita tidak pernah mau shalat shubuh tepat waktunya, maka selamanya kita akan shalat shubuh menjelang matahari terbit.

Kalau kita tidak pernah mau melatih diri untuk menyegerakan shalat Isya, maka selamanya kita akan shalat sisa dengan sisa-sisa semangat dan diselingi rasa kantk, karena shalat isya nya selepas liga inggris – tengah malam.

Latihan akan membuat kita mampu melakukan hal-hal yang baik dan benar, meski teori yang kita miliki masih sangat-sangat terbatas.

Kalaulah sudah teori kita terbatas, lalu praktekpun kita malas, lalu mau jadi apa kita?

Latihan, latihan, dan latihan, itu yang membuat sesuatu menjadi sempurna, dalam bidang apapun, baik latihan shalat yang benar dan ikhlas, latihan menyisihkan sebagian rezeki untuk yang berhak, latihan shaum yang disertai keimanan dan kesabaram serta amaliah apapun merupakan sebuah proses yang memerlukan penyempurnaan lewat latihan, even sekedar mengucap salam.

Pernah merasakan beratnya mengucap salam kala kita bertemu suadara sesama muslim atau mau masuk kerumah? Insya Allah semua kita pernah, kelu rasanya lidah ini untuk mengucap salam, malu rasanya kita mengucap salam, enggan, malas, atau merasa tidak ada pentingnya mengucap salam, dan penyebabnya adalah bukan karena kita tidak tahu ilmunya, tapi karena kemalasan kita untuk berlatih mengucap salam, that’s all.

Selamat berlatih......

Wassalam

May 14, 2007.

No comments:

Post a Comment