Friday, May 11, 2007

PEMABUK YANG JADI PELOPOR PEMBANGUNAN MUSHOLLA

Pak Urih namanya, pria setengah baya asal betawi, yang sekarang bermukim dikomplek kami, Taman Jomin Estate – Cikampek, sangat menarik mendengar pituturnya yang selalu bersemangat dan berapi-api, khas Betawi.

Pagi tadi, Allah mempertemukan penulis dengan beliau dalam sebuah kesempatan dimobil yang kami tumpangi dalam perjalanan menunju ketempat kerja. Beliau bercerita banyak tentang hal ikhwal beradaan Musholla Jami’atul Khoiri dikomplek kami, yang merupakan cikal bakal Masjid Jami’atul Khoiri yang sekarang berdiri megah di Taman Jomin Estate-Kota Baru.

Dipertengahan tahun 1990-an, ketika awal pembangunan komplek perum taman jomin estate, developer menyediakan sebidang lahan kosong yang diperuntukan sebagai fasilitas umum. Tanah kosong itu kemudian dimanfaatkan warga untuk membuat taman dan lapangan bulutangkis, dan dari sinilah kemudian cerita tentang tokoh kita kali ini bermula.

Pak Urih, sebagaimana beliau tuturkan langsung kepada penulis, ketika itu adalah seseorang yang suka meminum meminuman keras (Khamr) ketika beliau begadang malam hari, untuk menghangatkan badan ditengah kedinginan malam hari, demikian alasan yang selalu digunakan untuk “membenarkan” apa yang beliau dan teman-temannya lakukan.

Lalu apa hubungannya dengan judul diatas?

Suatu malam ketika Pak Urih dengan teman-temannya sedang begadang dengan aktivitas rutinnya yakni menghangatkan badan dengan khamr, hidayah (insya Allah) datang ditengah-tengah percakapan mereka.

Kesadaran “tiba-tiba” saja datang menghampiri mereka, bahwa meminum minuman keras itu adalah perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama dan juga tidak disenangi oleh masyarakat secara umum.

“Gimana ya pak dengan anak-anak kita nanti?” Kata Pak Urih ketika itu.

“Apakah mereka juga akan seperti kita, suka minum-minuman keras seperti ini?” Lanjutnya.

“Kalau bisa jangan sampai Pak, jangan sampai kebiasaan jelek ini ditiru dan diteruskan anak-anak kita nanti” Kata yang lain menimpali.

“Iya, pak, kadang saya juga kepikiran kalau anak-anak kita seperti kita” Yang lain ikut merasakan kegundahan yang sama tentang masa depan anak-anaknya, agar menjadi orang yang lebih baik dari mereka sekarang.

“Kita harus bikin mushola pak, agar anak-anak kita bisa belajar agama dan mengaji, agar mereka menjadi orang-orang yang mengerti tata aturan agama, agar mereka tidak seperti kita sekarang” Usul pak Urih.

Bak gayung bersambut, usulan pak Urih yang ketika itu disetujui oleh yang lain.

“Iya pak, bener, buat musholla, kita kan belum punya mushola” Kata yang lain.

“Iya pak bener...” Kata yang lain.

Agak aneh bukan? Sekumpulan pemabuk menghasilkan sebuah usulan membangun mushola, Wallahu’alam darimana datangnya ide seperti itu, tapi yang jelas kemudian wacana itu diteruskan pada malam itu juga.

“Dimana kita mau bangun mushola pak? Tanya seorang diantara mereka.

“Dilahan fasilitas umum saja” Kata yang lain.

“Tapi khan lahan itu untuk taman dan olah raga pak?” Yang lain agak keberatan.

“Bagaimana kalau ada yang tidak setuju?” Timpal yang lain.

“Yang tidak setuju itu orang Islam bukan pak?” Tanya Pak Urih.

“Ya orang Islam juga sih” Jawab temannya.

“Saya yang akan menjelaskan kepada mereka pak, kalau mereka tetap tidak setuju, saya yang akan menghadapi mereka, masak orang Islam tidak setuju untuk membangun musholla?” Pak Urih tampil kedepan untuk meyakinkan teman-temannya bahwa membangun mushola adalah sebuah kebutuhan, yang melebihi kebutuhan terhadap taman dan fasilitas olahraga.

“Ya udah kalau begitu, saya sih setuju saja” Kata yang lain.

“Kapan kita mulai pak? Tanya yang lain.

“Dananya gimana Pak?” Kata yang lain lagi

Dan masih sederet keraguan yang umum terjadi ketika akan memulai sebuah pekerjaan “besar” seperti ini.

Sekali lagi pak Urih tampil;

“Udah gini aja, pak, besok saya menghadap RW untuk memberi tahu rencana ini, lalu kita langsung gali tanah untuk buat pondasi dulu, dari situ mudah-mudahan warga lain mau membantu, yang penting kita mulai saja dulu” Kata Pak Urih.
“Besok? Dan benar saja, pak Urih keesokan harinya menemui Pak RW dan pada hari itu juga, Pak Urih dan teman-teman mabuknya menggali tanah membuat pondasi ditengah tatapan keheranan warga.

Tapi dasar Pak Urih, ia dan temannya tidak mau ambil pusing dengan warga yang tidak setuju, ia terus berjalan dengan keyakinannya bahwa membangun mushola ada sebuah kebutuhan bersama yang sangat mendesak, maka ia tetap melanjutkan penggalian tanah dengan teman-temannya.

Dana yang kemarin menjadi bahan pertimbangan, entah dari mana datangnya, sedikit demi sedikit terkumpul sehingga pondasi mushola itu selesai.

Setelah nampak pondasi musholla, barulah kemudian ada orang-orang yang ikut terpanggil dan peduli dengan pembangunan mushola. Maka dibentuklah panitia kecil-kecilan untuk kelanjutan pembangunan mushola dengan Pak Urih sebagai Ketuanya.

Pak Urih, seorang (mantan) pemabuk, menjadi pelopor pembangunan masjid sekaligus menjadi ketua panitia pembangunan mushola......, yang kemudian semangat Pak Urih dalam membangun Mushola dulu diteruskan ketika kami memutuskan untuk mengganti Mushola dengan membangun masjid agar bisa menampung jama’ah lebih banyak, dan satu lagi, agar semakin banyak anak-anak kami yang terproteksi dari perilaku menyimpang yang mungkin pernah dilakukan oleh kami, para orang tua.

Apa komentar kita?

No comment, yang jelas, kisah tentang Pak Urih diatas mengajarkan kepada kita untuk tidak berburuk sangka atau memvonis seseorang itu jahat atau menyimpang hanya dari satu sisi saja. Cerita tadi dan dalam banyak kisah, ketika Allah menghendaki hidayah itu datang, maka tidak ada satu kekuatanpun yang mampu menahannya, terlepas apakah dia pemabuk, penjahat, pencuri, hidayah adalah prerogatif Allah kepada siapa yang dikendakinya.

Sebaliknya, kisah diatas juga mengajarkan kepada kita untuk tidak berbangga diri dengan amal ibadah yang telah kita lakukan, karena sangat boleh jadi kebanggaan kita tersebut akan melahirkan perasaan ujub dan takabur yang pada gilirannya akan menghapus semua pahala amal kita sehingga kita menjadi orang yang merugi diakhirat kelak.

Namun demikian, jangan sampai kita kemudian berdalih “aah, mumpung masih muda, puas-puasin saja dulu, mabok saja dulu, karena kalau Allah menghendaki end toh kita nanti bisa balik kejalan yang benar juga”, bukan, bukan itu maksudnya, kalau pemabok saja bisa menjadi pelopor dan ketua panitia pembangunan mushola, bagaimana dengan kita yang bukan pemabok?

Idealnya, dengan latar belakang yang relatif “baik”, kita bukan hanya menjadi pelopor pembangunan mushola, melainkan juga adalah orang yang mampu membangun masjid secara fisik, lebih dari itu, dalam tataran ideal, kita juga harus mampu memakmurkan masjid dengan menjadikannya tempat shalat berjamaah, memakmurkannya dengan majelis taklim dan dengan berbagai aktivitas amal ibadah yang lainnya.

Sudahkah kita memakmurkan masjid?
Sudahkah kita shalat berjamaah dimasjid?
Kalau kemarin lusa kita kemasjid hanya untuk shalat ied dan jum’atan saja, sekarang saatnyalah kita kemasjid setiap waktu shalat kita.

Pak Urih, terima kasih atas ilmunya.....

Wassalam

May 11, 2007.

No comments:

Post a Comment