Saturday, December 29, 2007

UYUT PENJUAL SAPU LIDI

“Photo siapa ini Nak Mas........?’ Tanya Ki Bijak mengamati photo sesosok perempuan tua dilayar monitor Maula.

“Ooh ini, photonya uyut ki..........” Jawab Maula sambil memandangi wajah perumpuan tua yang nampak keriput, dengan gigi yang sudah tidak utuh lagi, nampak sekali gurat-gurat wajah tuanya yang dipenuhi garis-garis sebagai gambaran kerasnya perjalanan hidup yang telah dilaluinya.

“Uyut siapa Nak Mas.....?” Tanya Ki Bijak yang sama sekali tidak mengenal wanita tua didalam photo itu.

“Ana tidak tahu namanya ki, ibu ini hampir setiap hari berkeliling kekomplek kami, beliau menjajakan sapu lidi................” Kata Maula, menahan nafas karena haru.

Ki Bijak diam, membiarkan Maula melepaskan bebannya.

“Ki, ana malu pada uyut ini ki..............” Kata Maula sejurus kemudian.

“Malu kenapa Nak Mas......?” Tanya Ki Bijak.

“Lihatlah senyum dibibir uyut ini, sedemikian tulus dan pasrah menjalani hari-harinya dengan berkeliling menjual sapu lidi, uyut menjual sapunya dengan harga dua ribu rupiah per ikat, dan tadi uyut hanya membawa tiga ikat sapu lidi, atau paling banyak lima ikat, ia tidak bisa membawa lebih banyak lagi karena memang ia tidak kuat dengan beban yang lebih berat dari itu..............” kata Maula.

“Lalu...........?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Uyut berkeliling menyusuri pinggiran jalan raya yang penuh sesak dengan kendaraan menuju komplek kami, kaki-kaki tuanya memaksa uyut untuk berjalan dengan pelan dan berhati-hati, hampir setiap beberapa meter, uyut kemudian berhenti untuk mengatur nafasnya yang tersenggal, sambil tertatih uyut berjalan terus untuk menjual sapu lidinya, dan kalau pun sapu lidi yang dibawanya itu terjual semua, artinya uyut ‘hanya’ akan memperoleh enam ribu rupiah ki................” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang, ia kembali menatap wajah lugu dan polos di layar monitor Maula.

“Lalu apa yang membuat Nak Mas sedemikian malu pada uyut ini..........?” Tanya Ki Bijak.

“Jujur ki, semalam ana sedikit resah...........” Kata Maula.

“Resah kenapa Nak Mas................?” Tanya Ki Bijak.

“Entahlah ki, tiba-tiba ana merasakan ‘sesuatu’, ana tiba-tiba merasakan bahwa ana perlu mendapakan penghasilan lebih dari yang sekarang ana terima, terlebih sekarang ini banyak rekan ana yang selain kerja dikantor, mereka juga memiliki usaha sampingan dirumahnya, ada yang ternak ikan lele, ada yang ikut MLM yang katanya menjanjikan bonus jutaan rupiah itu, dan masih banyak lagi rekan yang memiliki usaha disamping penghasilannya sebagai karyawan.................” Kata Maula.

“Lalu Nak Mas.......?” Kata Ki Bijak.

“Sepintas ana ingin sekali seperti mereka, mempunyai penghasilan tambahan selain gaji, kemudian ana teringat pesan Aki, kalau kita menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah...............” Lanjut Maula.

“Syukurlah kalau Nak Mas ingat, kemudian Nak Mas.................?” Tanya Ki Bijak penasaran.

“Ditengah pikiran yang berkecamuk semalam, ana kemudian shalat hajat dua rakaat, dan ana memohon kepada Allah untuk diberikan petunjuk untuk mendapatkan tambahan penghasilan ki..............” Kata Maula.

“Lalu ketika ana beranjak ketempat tidurpun ana masih berpikir dan berharap semoga Allah memberi ana petunjuk, entah itu lewat mimpi sekalipun...................” Kata Maula.

“Nak Mas mimpi apa semalam.............?” Tanya Ki Bijak.

“Sama sekali tidak mimpi ki, tapi justru pagi tadi ana dipertemukan Allah dengan uyut ini ki........................’ Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula.

“Itu jawabannya Nak Mas...............” Kata Ki Bijak.

“Jawaban apa Ki..............” Tanya Maula.

“Itu jawaban atas permohonan Nak Mas semalam............” Kata Ki Bijak.

“Kok aneh ya ki, ana tadinya kepikiran kalau jawaban atas permohonan ana itu, ana dipertemukan dengan orang yang mengajak ana usaha apa gitu, atau memberi ana cara dagang atau usaha, tapi jawabannya malah seorang wanita tua yang sama sekali tidak mengajari ana apa-apa ki.........” Kata Maula.

“Tidak ada yang aneh Nak Mas, dan justru uyut ini, mengajarkan banyak hal kepada Nak Mas, kepada kita.............” Kata Ki Bijak.

“Uyut penjual sapu lidi ini mengajari kita banyak hal ki...........?” Tanya Maula heran.

“Ya Nak Mas, Nak Mas perhatikan wajah yang lugu dan polos ini, wajah ini mengajarkan kepada kita untuk mampu menerima apapun yang Allah berikan kepadanya, uyut hanya mendapatkan enam ribu atau mungkin paling banyak sepuluh ribu untuk jerih payahnya berkeliling menjajakan sapu lidi sepanjang hari, coba Nak Mas bandingkan dengan pendapatan dan kondisi Nak Mas sekarang, apakah Nak Mas lebih baik atau uyut itu yang lebih baik...............?” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah...........iya ki, ya Allah ampuni hamba yang tidak pandai bersyukur atas nikmat-Mu ya Allah.............” Kata Maula sambil menengadah kelangit-langit.

“Kemudian, disamping tawakalnya ini, dalam hemat Aki, uyut ini juga mengajarkan kita sebuah ilmu yang sangat mahal dan berharga, yaitu sifat sabar.............” Kata Ki Bijak.

“Uyut dengan sabar menjalani hari-hari tuanya yang entah berapa lama lagi, uyut tetap berkeliling setiap hari menjajakan sapu lidinya, uyut memelihara diri dari sifat meminta-minta, uyut menjaga kehormatan dan harga dirinya, meskipun misalnya tanpa menjual sapu lidipun, mungkin dengan (maaf) mengemis, uyut akan mendapatkan lebih dari enam atau sepuluh ribu sehari, tapi uyut lebih memilih berusaha daripada meminta-minta...............” Kata Ki Bijak.

“Ki, mungkinkah Allah mengajarkan kepada ana untuk lebih banyak dan lebih baik berusaha dan mensyukuri apa yang Allah berikan kepada ana lewat uyut ini ki................” Kata Maula.

“Wallahu’alam, tapi Nak Mas harus ingat barang siapa yang bersyukur akan nikmat-Nya, maka Allah akan menambah nikmat itu, sementara barang siapa yang kufur, maka Allah mengancam mereka dengan azabnya yang pedih...............” Kata Ki Bijak, mengingatkan Maula.

“Astaghfirullah.......Astaghfirullah............Astaghfirullah................., sungguh besar pelajaran yang Engkau berikan pada hamba hari ini ya Allah............” Kata Maula pelan.

“Iya Nak Mas, Allah memiliki cara yang tidak terhingga untuk menjawab permohonan kita, tinggal kitalah yang harus memaknainya dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan................”Kata Ki Bijak.

“Ki, bijak tidak ya, ki kalau ana masih memiliki keinginan untuk memperoleh tambahan penghasilan seperti kemarin............?” Tanya Maula.

“Jika memang Nak Mas membutuhkannya, lakukanlah, hanya Aki pesan, berhati-hatilah dengan keinginan Nak Mas itu dan dengan apa yang akan Nak Mas lakukan, jangan sampai keinginan Nak Mas itu mengurangi rasa syukur Nak Mas atas nikmat Allah sedikitpun,dan jangan sampai kesibukan Nak Mas nanti mengurangi waktu Nak Mas untuk beribadah kepada Allah..............” Kata Ki bijak.

“Insha Allah ana akan selalu ingat pesan Aki, ki................” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas, insha Allah, Allah akan membukakan jalan bagi Nak Mas untuk mendapatkan apa yang Nak Mas mohonkan kepada Allah, selama Nak Mas menyandarkan semuanya pada Allah, karena hanya Allah-lah sebaik-baik penerima doa dan Allah, Dia-lah yang Maha Mengabulkan...............” Kata Ki Bijak.

“Terima kasih ki, terima kasih uyut, syukur kepada-Mu ya Allah, hari ini Engkau ajari hikmah yang sangat besar..............”Kata Maula.

”Amiin.............., Kata Ki Bijak sambil mengutip sebuah ayat al qur’an;

269. Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). Al baqarah


W@ssalam

Desember 24, 2007

No comments:

Post a Comment