Friday, February 3, 2012

MENYAMBUT 12 RABI’UL AWAL

“Masih saja ya ki…., hampir setiap tahun selalu saja orang-orang pada ribut mengenai peringatan maulid Nabi…..” Kata Maula, menyikapi banyaknya pendapat mengenai perbedaan yang sudah berumur puluhan atau bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu……

“Ya Nak Mas….., itulah dinamika…, Aki hanya berharap bahwa perbedaan pendapat itu pada akhirnya akan mengantar kita, umat islam pada satu titik yang sama, bukan malah sebaliknya menjadi akar perpecahan ditengah umat…” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…,hanya kadang perbedaan pendapat ini justru membuat umat bingung, karena yang berpendapat maulid nabi tidak perlu diperingati atau dilarang, itu orang hebat, kyai ternama, ulama terkemuka dan ahlu nash semua…, pun mereka yang berpendapat perlunya peringatan maulid nabi, sebagai salah satu sarana syiar islam…, juga orang hebat,kyai-kyai, ulama dan ahlu nash yang sudah mumpuni dibidangnya…., dan karena kedua belah pihak ini sama-sama mumpuni, sama-sama memiliki dalil-dalil, sebagian umat bingung, mana yang harus diikuti…..” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas dalam-dalam demi mendengar penuturan Maula; “Kita belum termasuk kategori ulama Nak Mas…, kita juga belum masuk kedalam golongan orang-orang ahlu nash, kita juga bukan orang yang paham qur’an dan hadits sepenuhnya…., jadi tugas kita sekarang bukanlah untuk memperdebatkan perlu tidaknya peringatan maulid nabi, biarlah para ulama dan cendekia yang berdebat, tugas dan tanggung jawab kita yang lebih utama adalah bagaimana kita ‘menghidupkan’ peri kehidupan Rasulullah dengan ahlaqnya yang agung, bisa tetap hidup dan lestari dalam keseharian kita….., itu yang jauh lebih penting dalam hemat Aki……” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki…., kadang justru hal yang pokok itu yang banyak dilupakan, sementara masing-masing orang mencari dalil untuk mendukung argument dan pendapatnya, disisi lain, tugas untuk menghidupkan, meneladani dan mempraktekan ahlaq agung Rasulullah sendiri malah terabaikan….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas….., karenanya marilah mulai sekarang kita menyibukan diri untuk belajar meneladani perilaku Rasul dalam segala aspek kehidupan…, dari yang paling mudah dulu, dari yang paling mungkin dulu, dari yang bisa kita lakukan sekarang dulu…, untuk kemudian terus berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas kita dalam meneladani keagungan ahlaq Rasulullah……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…..” Kata Maula.

“Dari mulai diamnya Rasulpun bisa kita jadikan teladan…, diamnya beliau pun penuh dengan pertimbangan, beliau akan diam karena empat hal…, karena menjaga adab dan sopan santun, karena berhati-hati, karena mempertimbangkan sesuatu diantara manusia, dank arena tafakur….”

“Beliau senantiasa menjaga adab dan sopan santun ketika berbicara dengan seseorang, jangakan dengan para sahabat,bahkan dengan seorang kafir yang ingin menyampaikan pendapat sekalipun, tidak pernah beliau memotong pembicaraan orang lain, beliau menunggu hingga lawan bicara selesai, baru kemudian beliau mulai berbicara….”

“Kemudian,beliau juga sangat berhati-hati ketika hendak berbicara, tutur katanya rapih,tersusun laksana untaian mutiara, hingga setiap perkataannya bisa menjadi dasar hukum atau menjadi penjelasan terhadap hukum yang terdapat dalam al qur’an…”

“Beliau senantiasa menjaga perasaan orang lain, dan beliau juga senantiasa bertafakur…..,sungguh indah, sungguh agung, dan sungguh merupakan sebuah perialku diam yang patut diteladani….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…., memang jauh dari perilaku para pemimpin dan manusia zaman sekarang, sekarang ini orang bicara seenaknya, tanpa adab, tanpa sopan santun, tanpa memperhatikan perasaan dan keadaan lawan bicara, seolah hanya ingin menunjukan dirinya pintar dan hebat, tidak mau kalah dan arogan…..” kata Maula.

“Ya Nak Mas…,karenanya sekali lagi, teladani nabi dari setiap aspek kehidupan, dan Aki fikir, belajar diam dan menjaga diri dari keinginan berbicara yang tidak penting, adalah sesuatu yang sangat mungkin untuk dilakukan….., maka mulailah dari sini dulu, diam karena kebijaksanaan, atau berbicara demi kemaslahatan……” kata Ki Bijak lagi.

Maula menghela nafas panjang mendengar kalimat terakhir gurunya,”Diam karena kebijaksanaan, atau berbicara demi kemaslahatan’, susah rasanya ditemukan orang seperti itu dizaman sekarang, yang terjadi sebaliknya, banyak orang asal bicara dan hanya berdasarkan prasangka dan bahkan tidak jarang ghibah dan fitnah…..; dan orang justru diam ketika melihat kemunkaran, orang memilih diam ketika melihat ketidak adilan, orang memilih diam ketika berhadapan dengan kezaliman……;

“Sebuah fragmen kehidupan Rasul yang tidak pernah Aki lupa, adalah sebuah riwayat mengenai bagaimana beliau harus menahan asam dan kecutnya buah limau, hanya karena beliau tidak ingin menyinggung perasaan sang pemberinya…” kata Ki Bijak.

“Bagaimana kisah lengkapnya ki…?” Tanya Maula penasaran.

“Suatu hari, baginda Rasul kedatangan tamu, seorang wanita yahudi…..” Kata Ki Bijak mulai mengisahkan.

“Lalu ki….?” Tanya Maula.

“Sang tamu membawa hadiah, beberapa buah limau…., dengan tangan terbuka, dan senyum tersungging ramah, baginda Rasul menerima hadiah tersebut….., kemudian untuk menghormati tamunya, beliau memakan satu-per satu hingga habis, hingga akhirnya sang tamu pamitan untuk pulang…..”

“Selepas tamunya pulang, Baginda Rasul segera berkata dan meminta maaf kepada para sabahat, karena tidak membagi buah limau yang diterimanya; Beliau berkata bahwa sengaja beliau tidak membagi buah limau itu kepada para sahabat, karena rasa buah limau itu sangat asam, beliau tidak ingin tamunya tersinggung dengan kernyitan para sahabat jika merasakan asamnya buah limau tersebut……” Tutur Ki Bijak.

“Subhanallah…., beliau rela menahan asamnya buah limau hanya demi menjaga perasaan wanita yahudi ki….?” Kata Maula.

“Ya Nak Mas….., sementara dalam riwayat lain, ketika beliau menerima pemberian susu, justru para sabahat dulu yang beliau berikan kesempatan untuk meminum susu tersebut, dan beliau meminumnya yang paling akhir…., ini sebuah cerminan ahlaq luhur manusia pilihan Allah…., ketika beliau mendapatkan kenikmatan, maka sahabat dulu yang merasakannya, dan beliau yang terakhir, tapi ketika beliau mendapatkan limau yang asam, beliau sama sekali tidak membaginya dengan sahabat…..” Kata Ki Bijak.

“Betapa indahnya kalau pemimpin-pemimpin kita seperti itu ya ki…., kalau keberhasilan, kalau kesuksesan, kalau kesejahteraan, mestinya rakyat dulu yang merasakannya, baru kemudian para pemimpin…., kemudian ketika terjadi kekurangan atau kesulitan, harusnya merekalah yang paling depan menyelesaikannya….’

“Sayangnya harapan itu masih sebuah mimpi, para pemimpin kita justru berlaku sebaliknya.., ketika berhasil, ketika sukses, ketika enak, mereka dulu yang menikmatinya, sementara ketika terjadi kegagalan, buru-buru mereka mencari kambing hitam atas kegagalan mereka dalam memimpin rakyat dan negaranya…..” Kata Maula.

“Iya Nak Mas….., masih banyak pemimpin dan wakil rakyat kita yang ‘salah’ dalam mengartikan kata ‘wakil’,

“Jika rakyat ingin hidup layak, mereka merasa mewakilinya dengan hidup bermewah-mewahan…”

“Jika rakyat ingin bisa jalan-jalan, mereka merasa mewakilinya dengan plesiran menggunakan uang rakyat…”

“Jika rakyat ingin tidur nyenyak…., mereka merasa mewakilinya dengan kursi yang harganya jutaan, padahal kursi itu diperuntukan untuk mengikuti sidang-sidang, tapi justru dipergunakan untuk tiduran…”

“Ketika rakyat, para buruh sampai demo untuk sekedar mendapatkan gaji yang layak, para wakil rakyat merasa telah mewakilinya dengan berbagai fasilitas mewah yang mereka terima, hingga toiletpun mereka harus diistimewakan, sementara rakyat harus bertaruh nyawa untuk sekedar kesekolah……” Kata Ki Bijak

Maula tersenyum mendengar para wakil rakyat telah mewakili rakyatnya, jika rakyat ingin sejahtera, wakilnya dulu yang sejahtera, jika rakyat ingin gaji layak, wakilnya dulu yang mendapat gaji besar, jika rakyat ingin rumah sederhana, wakilnya dulu gedungnya harus mewah, jika rakyat ingin sekolah, wakilnya dulu yang belajar dan studi banding….”Waaah…..ternyata benar Ki…, mereka telah mewakili sebagian besar apa yang diinginkan rakyatnya, tapi dengan penafsiran keblinger ya ki…..” kata Maula.

“Iya Nak Mas…, karenanya kita harus kembali pada figure ideal yang patut kita contoh, yaitu Baginda Rasul…., para pemimpin kita, para wakil rakyat kita, atau bahkan presiden kita sekalipun, bukan merupakan sosok yang dipilih Allah untuk kita teladani, karena Allah telah memilihkan untuk kita suri teladan terbaik, yaitu baginda Rasulullah saw….” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an;

ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ
21.  Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.


Wassalam;

No comments:

Post a Comment