Wednesday, October 20, 2010

KETIKA BENCANA YANG BICARA

“Astagfirullahal adzim……, banyak banget ya ki…..” kata Maula

“Apanya yang banyak Nak Mas…..?” Tanya Ki Bijak.

“Ini ki, menurut sebuah sumber, wilayah Negara kita ini, selama kurun waktu 13 tahun terakhir, dari tahun 1997 hingga tahun 2008 saja, telah dilanda bencana kurang lebih sekitar 6,632 kali, dimana tahun 2008 menjadi tahun yang paling banyak mengalami bencana yakni sebanyak 1.302 kali, dari seluruh catatan bencana itu, banjir merupakan bencana yang paling sering dialami Negara kita, yakni mencapai angka 35%, disusul kemudian kekeringan sebanyak 18%, tanah longsor, angin topan dan kebakarang masing-masing 11%, sebuah angka yang membuat bulu kuduk ana merinding membacanya ki……” Kata Maula.

Ki Bijak menarik nafas dalam-dalam, berat sekali rasanya ia mendengar rangkaian bencana demi bencana yang datang silih berganti, hujan yang harusnya menjadi rahmat, justru menjadi banjir, kemarau yang mestinya bermanfaat bagi manusia, justru lebih sering menimbulkan kekeringan, kebakaran dan lainnya…..;

“Mungkin inilah saat yang digambarkan oleh al qur’an sebagai telah nampaknya kerusakan didaratan dan dilautan karena ulah tangan manusia yang ‘nakal’….; kata Ki Bijak sambil mengutip ayat 41 dari surat Ar-rum;


41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).


“Iya ki, belum lagi kalau ditambah dengan bencana yang terjadi ditahun 2009 dan 2010, baru kemarin bencana banjir bandang melanda kota Wasior di tanah Papua, korban meninggal 152 orang, dan masih banyak korban yang belum ditemukan, belum lagi yang luka, kehilangan tempat tinggal, kehilangan tempat ibadah dan lainnya…..; Maula tidak melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya terasa tercekat.

Kembali Ki Bijak menarik nafas dalam-dalam, “Aki hanya sedikit menyayangkan sikap kita dalam menyikapi ‘teguran-teguran’ ini, kita lebih banyak berkubang dan terjebak dalam hitungan angka korban, berapa jumlah kerugian materi, berapa rumah yang rusak, dan kalau ada yang lebih, hanyalah perdebatan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi, itu saja……,

“Kita tidak pernah beranjak lebih jauh untuk mempelajari hikmah apa yang ada dibalik semua musibah ini, Tsunami Aceh yang demikian besar, dengans sedemikian banyak ‘ayat-ayat’ Allah yang terpampang disana, tertelan dan terlupakan sedemikian cepat, tidak ada pelajaran apapun yang kita ambil dari kejadian itu…;

“Kemudian, gempa jogya yang tak lama berselang, kembali hanya hitung-hitungan diatas kertas mengenai jumlah korban dan kerugian materi yang diderita…;selebihnya kembali kita lupa…;

“Kemudian lagi tanah longsong di Sukabumi, gempa bumi di Padang, lumpur Lapindo dan yang terakhir banjir bandang di Wasior, kembali hanya menjadi komoditi berita dan hitung-hitungan diatas kertas mengenai jumlah korban dan jumlah kerugian materi…….,

“Kalau dengan tsunami Aceh kita tidak bisa diingatkan, kalau dengan gempa padang kita masih mudah lupa, kalau dengan banjir bandang Wasior kita pun melupakannya begitu saja, Aki khawatir, dan kita patut khawatir, Allah akan ‘mengingatkan’ kita dengan sesuatu yang lebih besar dari semua yang pernah selama ini……” Kata Ki Bijak dengan nada penuh keprihatinan.

“Naudzubillah min dzalik ki, kalau ada bencana yang lebih besar dari Tsunami Aceh atau gempa bumi Padang, seperti apa lagi, ana tidak sanggup membayangkannya ki……” Kata Maula.

“Karenanya, sekarang saatnya lah kita mentafakuri kalimat terakhir dari ayat tadi, bahwa dikembalikannya sebagian akibat dari ulah tangan manusia itu adalah “agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”, maka mari kita segera kembali kejalan yang benar, kembali ke jalan lurus yang Allah bentangkan melalui contoh dan teladan Rasulnya, melalui firman-firmannya di dalam Al qur’an…..” Kata Ki Bijak.

“Ki…., apakah perilaku kita sekarang ini sudah jauh dari tuntunan Allah dan contoh Rasul_Nya….?” Tanya Maula.

Ki Bijak tersenyum; “Kita tidak perlu jauh-jauh untuk dapat menemukan contoh betapa sudah jauhnya kita meninggalkan jalan lurus yang Allah bentangkan, mari kita tengok kedalam diri kita masing-masing, adakah kita sudah berjalan sesuai dengan tuntunan Allah, misalnya dari keseharian kita, sudahkah kita shalat tepat waktu, sudahkan kita membayar zakat, lalu sudahkan kita bergaul dengan orang lain sesuai dengan kaidah dan tuntunan yang benar, sudahkan kita makan dan minum dari makanan yang halal, sudahkah kita mengkoreksi kalau-kalau ada rezeki yang tidak halal bercampur dalam pendapatan kita…, dan masih banyak pertanyaan lain yang dengan mudah kita bisa ajukan pada diri kita sendiri untuk mengukur dijalan mana kita berjalan sekarang ini…………” Kata Ki Bijak.

“Kalau kita mau jujur, pasti banyak sekali hal-hal dalam kehidupan kita yang sedikit banyak ‘menyimpang’ dari jalan Allah, waktu shalat kita semaunya, zakat yang harusnya kita tunaikan pun masih sekedahnya, cara bergaul kitapun sudah jauh dari tuntunan yang semestinya, belum lagi kalau kita berkaca dari bagaimana cara kita memperlakukan alam dan lingkungan kita, jauh dari kata bijaksana, kita lihat bagaimana kita dengan semena-mena memangkas gunung, bagaimana kita dengan tanpa pemikiran matang mengurug lautan, bagaimana kita mengekplorasi isi perut bumi dengan seenak kita, bagaimana kita dengan tanpa rasa bersalah kita mencemari tanah, air dan udara kita dengan berbagai hal yang sangat ‘menyakiti’ alam dan lingkungan kita…….., jadi rasanya wajar kalau teguran demi teguran selalu Allah alamatkan pada kita, selama kita tidak pernah hirau dengan kasih sayang Allah untuk mengingatkan kita…..” Kata Ki Bijak lagi.

Maula nampak menghela nafas panjang, ia membenarkan apa yang barusan diuraikan gurunya, dan memang wajar kalau kemudian kita ‘ditegur’ dengan berbagai bencana karena memang kita selalu lupa atau melupakan setiap peringatan yang datang sebelumnya;

“Ki…., dari mana kita harus memulai untuk memperbaiki diri ki….?” Tanya Maula beberapa saat kemudian.

“Dari sini Nak Mas….?” Jawab Ki Bijak sambil menunjuk dadanya.

“Dari sini ki….?” Tanya Maula menirukan Ki Bijak yang menunjuk dadanya.

“Ya Nak Mas, kerusakan yang demikian nyata ini, adalah akibat ulah tangan-tagan manusia, dan tidaklah tangan-tangan itu akan membuat kerusakan jika hati yang ada didalam dada ini baik….” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat haditsnya…?” Tanya Ki Bijak kemudian.

“Iya Ki….Rasulullah bersabda “ Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya.Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati". (HR Bukhari dan Muslim).

Ki Bijak mengangguk, “Hati yang rusak, akan mendorong tangan untuk berbuat kerusakan, hati yang rusak, akan melangkahkan kaki ketempat kemaksiatan, hati yang rusak, akan mendorong keinginan tanpa batas, rakus, tamak, dan bahkan diluar batas-batas kewajaran, hati yang rusak, akan membuat anggota tubuh lainnya berbuat kerusakan, dan hal inilah yang dalam hemat Aki menajdi penyebab kerusakan-kerusakan yang ada, dan karenanya, hati ini pulalah yang harus segera diobati dan diperbaiki…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki.., kalau dalam hal penyakit dhahir, hampir semua orang aware, sekedar flu atau masuk angin pun, segera kedokter atau minum obat, tapi sangat jarang orang yang mengetahui bahwa hatinya sakit….., termasuk ana, mungkin juga tidak mengetahui secara persis apakah hati ana baik atau sakit…., lalu bagaimana mengetahui keadaan baik buruknya hati kita ki…..” Kata Maula.

“Hanya diperlukan sedikit ‘kejujuran’ kita untuk mengetahuinya Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Hanya dibutuhkan sedikit kejujuran kita ki…?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, hati yang sakit, akan selalu condong pada keburukan, seperti shalatnya malas, zakatnya enggan, kemasjid tidak jalan, menolong orang segan, dan selalu dipenuhi oleh angan kosong dan khalayalan, dan pastinya jauh dari mengingat Allah……, bukankah ini mudah untuk kita deteksi Nak Mas..?” Tanya Ki Bijak.

“Sebaliknya, hati yang sehat, selalu cenderung pada kebaikan, menikmati ibadah, dan selalu mengingat Allah dan setiap helaan nafas dan langkahnya……” Tambah Ki Bijak

Maula mengangguk tanda mengerti; “Allahumma ya muqallibal quluubi, tsabit qalbi alaa diinika wa ala ta’atika”. (Ya Allah yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku kepada dien/agama dan ketaatan kepada-MU); pintanya pada Allah beberapa saat kemudian

“Amiin…..” Ki Bijak mengamini.

Wassalam

October 2010

Saturday, September 4, 2010

KISAH SEBUTIR KURMA

“Nak Mas Aki punya sebuah kisah hikmah yang mungkin bisa menjadi ibrah bagi kita, Nak Mas mau mendengarnya….?” Tanya Ki Bijak.

“Tentu ki, ana dengan senang hati mau mendengarkan kisah itu…..” Jawab Maula.

“Kisahnya tentang Ibrahim adham, Nak Mas masih ingat…?” Tanya Ki Bijak.

“Ya ki, ana masih ingat…..” Jawab Maula.

“Suatu ketika, sepulang perjalanan menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham hendak pergi ke Palestine, tepatnya ke masjidil aqsa……”

“Sebagai bekal perjalanannya, beliau membeli satu kilogram kurma yang dijual oleh seorang penjual kurma yang sudah tua…., setelah ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan, Ibrahim mengira bahwa sebutir kurma itu adalah bagian dari kurma yang dibelinya, ia mengambil dan kemudian memakan kurma itu…..” Kata Ki Bijak.

“Lalu apa yang terjadi kemudian ki…?” Tanya Maula penasaran.

“Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa, empat Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa, dan seperti biasa, Ibrahim suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra, ia shalat dan berdoa khusuk sekali ketika tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

“Apa isi percakapan malaikat tentang Ibrahim bin adham ki…?” Tanya Maula.

“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT, kata malaikat yang satu….” Ki Bijak menirukan percakapan Malaikat.

“Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi..”

“Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh Allah swt gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya……”

“Astaghfirullahal adzhim” Ibrahim beristighfar, ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma,untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya….”

“Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda, dan Ibrahim berkata pada anak muda penjual kurma;. “Empat bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya Ibrahim.

“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda penjual kurma itu.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”, lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat.

“Nah, begitulah, wahai anak muda, engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?” kata ibrahim

“Bagi saya tidak masalah, Insya Allah saya halalkan,tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang, saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya…..” Jawab si penjual kurma

“Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu…..” Ibrahim meminta kesediaan sipenjual kurma untuk menunjukan alamat para ahli waris pak tua yang sebutir kurmanya ia makan tanpa meminta izinnya….

“Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui semua ahli waris pak tua penjual kurma yang berjumlah 11 orang, meskipun tempat tinggal mereka berjauhan, Ibrahim terus mencari mereka untuk meminta dihalalkan kurma yang telah dimakannya, akhirnya selesai juga, semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim bin adham…….

“Empat bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra lagi, tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain….”

“Oooh, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu, diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain,sekarang ia sudah bebas…...” Secara runtut Ki Bijak menceritakan perihal kurma yang dimakan Ibrahim tanpa izin sipemiliknya.

“Astagfirullah………, hanya sebutir kurma yang ‘tidak halal’, tapi daya rusaknya luar biasa ya ki……, doa menjadi tidak makbul, ibadah dan amal jadi tertolak, astaghfirullah….., bagaimana dengan makanan dan minuman yang ada didalam perut ini……” Kata Maula sambil memegangi perutnya, wajahnya nampak khawatir kalau-kalau dalam perutnya terdapat makanan atau minuman yang tanpa ia sadari telah menimbulkan kerugian bagi orang lain, yang dapat mengakibatkan kerusakan amal dan ibadahnya.

“Itulah kenapa kita harus selalu berhati-hati Nak Mas, seperti sering Aki katakan, kadang kita meremehkan sesuatu perbuatan tanpa berfikir dan mempertimbangkan akibat yang akan ditimbulkannya….” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah….,astaghfirullah…., ya Allah ampuni hamba jika dalam perut hamba ini ada makanan dan minuman yang tidak halal…., ampuni ya Allah……” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas, dan semoga Allah melindungi kita dari makanan dan minuman yang tidak halal, dan menjaga kita dari kerusakan yang ditimbulkannya,…..” Kata Ki Bijak.

“Amiiin……..”

September 2010

Wednesday, September 1, 2010

HATI-HATI, BAHAYA SUBHAT DALAM OVERTIME

“Terima kasih Nak Mas, kok repot-repot bawa buah tangan segala….” Kata Ki Bijak sambil menerima buah tangan yang Maula bawa.

“Tidak apa-apa ki, Alhamdulillah, bulan ini ana ada rezeki lebih……” Kata Maula.

“Syukurlah…., tambahan rezeki darimana Nak Mas…..?” Tanya Ki Bijak.

“Bulan kemarin ana ada banyak lembur ki, jadi ada sedikit tambahan…….” Maula menjawab dengan hati-hati, karena ia melihat raut muka gurunya yang sedikit bertanya.

“Nak Mas, Aki minta maaf sebelumnya, kalau boleh Aki tahu, apakah Nak Mas lembur Nak Mas atas permintaan perusahaan atau atas inisiatif Nak Mas sendiri….?” Tanya Ki Bijak.

“Atas permintaan kantor ki, bulan lalu ada stocktaking yang mengharuskan ana menyelesaikannya sampai agak larut, memangnya kenapa ki…?” Tanya Maula agak khawatir.

KI Bijak menarik nafas panjang, “Syukurlah…., tidak apa-apa Nak Mas, Aki hanya sedikit khawatir kalau dalam uang lembur Nak Mas itu ada uang yang subhat yang tanpa Nak Mas sadari terbawa, betapapun kecil, itu akan berdampak tidak baik bagi Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah…., pada uang lembur ada potensi tercemar uang subhat ki…?” Tanya Maula.

Ki Bijak mengangguk, “Kemarin ada santri disini yang menceritakan pada Aki, bahwa ditempatnya bekerja, ada beberapa orang yang ‘dengan sengaja’ melemburkan diri dengan tujuan untuk mendapatkan tambahan uang lembur, modusnya macam-macam, ada yang hari jum’at atau senin dia tidak masuk, tapi justru ia masuk dihari sabtu dan minggu, hingga dihitung lembur…, ada juga yang sengaja menunda-nunda pekerjaan hariannya, sehingga harus diselesaikan dengan lembur, dan menurut cerita santri tadi, masih banyak lagi modus yang digunakan beberapa oknum karyawan untuk menambah uang lembur….”

“Dan dalam hemat Aki, lembur dengan cara-cara menambah lemburan seperti ini adalah cara yang tidak elegan dan menyalahi peraraturan, baik itu peraturan perusahaan, terlebih aturan syari’at, karena uang yang didapat dengan cara seperti ini, seperti Aki bilang tadi, sangat berpotensi tercemar subhat atau bahkan haram…….” Kata Ki Bijak menambahkan.

“Naudzubillah……, uang lemburnya tidak seberapa, tapi mudharatnya lebih besar ya ki….” Kata Maula.

“Itulah kenapa Aki menanyakan kepada Nak Mas, apakah alas an lembur Nak Mas benar, atau hanya mengada-ada, karena Aki tidak ingin ada makanan atau minuman yang Nak Mas dan kelurga makan tercampur dengan hal-hal yang tidak baik, meski itu sebutir nasi atau setetes air sekalipun…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, terima kasih sudah mengingatkan….., dan insya Allah ana tidak ingin seperti itu…..” Kata Maula.

“Harus Nak Mas, dan bahkan wajib hukumnya bagi kita untuk senantiasa komit untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang seperti ini, uang subhat tidak akan menambah apapun bagi kita, kecuali kerugian….”

“Dalam kasus lemburan misalnya, ketika kita tidak ‘jujur’ dalam pekerjaan, dan kemudian kita melemburkan diri untuk menambah penghasilan, percayalah, bahwa saat itu jiwa kita tidak akan tenang, jiwa kita akan merasa bersalah, meski atasan kita atau perusahaan tidak mengetahuinya dan tetap akan membayar uang lembur kita…..”

“Setelahnya, setelah kita mendapatkan uang lembur, uang itu akan digunakan untuk menafkahi anak istri kita, saat itu pun, sebenarnya jiwa kita menjerit, karena sebenarnya kita tahu, uang yang kita berikan, tercemar dengan uang subhat, jiwa kita akan menghukum kita karena telah meracuni anak istri kita dengan uang subhat….”

“Dan kalau sampai uang yang dihasilkan dari jalan subhat itu masuk lewat makanan dan minuman yang dibeli dengan uang subhat, maka ‘racun subhat’ ini akan menggerogoti jiwa dan hati kita, jiwa dan hati anak istri kita, jiwa dan hati siapapun yang ikut menikmati uang subhat yang kita hasilkan, naudzubillah……” Kata Ki Bijak.

“Mengerikan sekali ya ki…..” Kata Maula.

“Aki tidak bermaksud menakut-nakuti Nak Mas, Aki hanya ingin kita benar-benar menjaga diri dari kesalahan sekecil apapun, karena kesalahan yang kita anggap kecil, sangat mungkin berdampak besar dikemudian hari, baik itu secara lahir maupun secara bathin…., dan satu lagi, tidak ada dosa kecil, jika dosa itu dilakukan terus menerus tanpa pernah diperbaiki…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki……” Kata Maula pendek.

“Dan satu lagi Nak Mas, jangan pernah silau dengan mereka yang berpenghasilan banyak, cukupkan penghasilan kita dari cara baik dan halal, insya Allah itu cukup bagi mereka yang menginginkan pertemuan dengan Allah diakhirat kelak…..” Kata Ki Bijak.

Maula diam termenung memikirkan kata-kata gurunya, ia mencoba mengintrospeksi diri, jangan-jangan masih ada uang subhat dalam penghasilannya.

“Nak Mas, boleh Aki coba oleh-olehnya…..?” Kata Ki Bijak memecah lamunan Maula.

“Iya Ki, silahkan, insya Allah ini dibeli dengan uang halal, semoga diterima ya Ki….” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum, “Ana percaya pada Nak Mas, dan semoga Allah senantiasa menjaga Nak Mas dan keluarga agar senantiasa terlindung dari bahaya uang subhat dan apalagi haram….” Kata Ki Bijak sambil menikmati buah tangan yang dibawa Maula.

“Amiiin…..” Kata Maula mengamini.

August 31,2010

Friday, August 13, 2010

ASA SANG MASJID

Aku adalah sang masjid yang terbiasa kesepian
Aku layaknya bangunan tak bertuan
Debu dan sarang laba-laba bergelantungan
Disetiap sudutku hampir tak tersentuh tangan

Kini, aku bisa sedikit tersenyum lega
Manakala bulan ramadhan tiba
Wajahku yang lusuh berubah menjadi cerah
Seiring datangnya sang bulan penuh berkah

Betapa lama ku rindukan saat seperti
Saat mana jamaah datang membanjiri
Dzikir, tasbih dan tahmid mengalun dari setiap tepi
Ruanganku yang luas pun kini terpenuhi

Mengharu biru rasaku menyambut para tamu
Rahmat dan keberkahan semoga tercurah untukmu
Wahai hamba Allah yang telah berkenan memakmurkanku
Semoga ini bukan hanya sementara waktu…….

Saturday, July 17, 2010

H-25 RAMADHAN.

“Dalam hal apapun, persiapan selalu memiliki peran penting dalam sebuah proses…., baik itu dalam proses pelaksanaan sebuah proyek, dalam proses produksi, dalam proses pekerjaan, atau bahkan dalam proses menuju tangga juara sebuah kejuaraan, persiapan…., adalah salah satu factor lahiriah yang sangat menentukan berhasil tidaknya tujuan yang hendak dicapai……” Kata Ki Bijak, mengenai pentingnya persiapan.

“Iya ki….., dalam putaran piala dunia kemarin, memang sangat terlihat tim atau pemain mana yang memiliki persiapan yang baik atau sebaliknya…., tim dan pemain dengan persiapan yang baik, menampilkan permainan yang baik pula, sementara mereka yang persiapannya kurang, mainnya pun kurang memuaskan….” Kata Maula mengibaratkan pentingnya perisapan dalam sebauh pertandingan sepakbola.

“Ya Nak Mas, meski persiapan yang baik, tidak menjamin sebuah tim menjadi juara, setidaknya dengan persiapan yang baik akan membuat penampilan mereka tidak mengecewakan, terlepas dari hasil akhir yang dicapai…..”,

“Pun demikian dengan ibadah ramadhan Nak Mas, kalau Aki tidak salah hitung, hari ini, adalah tepat 25 hari sebelum tanggal 1 ramadhan 1431 H akan tiba…., dan sama halnya dengan yang lain, persiapan untuk memasuki gerbang ramadhan, akan sangat membantu kita untuk menjalani shuam ramadhan dan ibadah lainnya dibulan mulia ini dengan sebaik-baiknya, dengan harapan tentu diakhir ramadhan nanti kita akan menjadi ‘pemenang-pemenang’ ramadhan yang mendapat predikat ‘mutaqien’…..” Kata Ki Bijak.

“Masya Allah.., sekarang sudah masuk bulan Sya’ban ya ki….., ya Allah, rasanya cepat sekali waktu berlalu, syukur Alhamdulillah.., semoga kita bisa sampai keramadhan lagi ya ki……” Kata Maula, baru menyadari bahwa ramadhan hanya tinggal dalam hitungan hari.

“Memang sepantasnyalah kita bersyukur dengan karunia umur yang Allah anugerahkan kepada kita, namun mensyukuri nikmat umur, hingga kita dipertemukan dengan ramadhan lagi, bukan semata dengan ungkapan kata-kata, namun lebih dari itu, rasa syukur kita harus kita barengi dengan tindakan nyata, yakni mempersiapkan diri memasuki gerbang ramadhan dengan sebaik-baiknya, jangan sampai setelah kita menunggu kedatangan ramadhan sepanjang tahun, tapi begitu ramadhan tiba, kita tidak mengisinya dengan hal-hal yang dicontohkan baginda Rasul…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ya ki, ramai-ramai orang menggemakan ramadhan akan tiba, tapi kadang pelaksanan ramadhannya sendiri ala kadarnya saja, shaumnya pun asal shaum saja, bahkan tak jarang dengan alas an melaksanakan shaum, ibadah lainnya jadi malas-malasan karena lapar…..” kata Maula.

“Karenanya kita harus mempersiapkan diri dengan baik Nak Mas, agar kita tidak termasuk kedalam golongan orang yang menyia-nyiakan ramadhan…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Apa saja persiapannya ki…..?” Tanya Maula.

“Banyak hal yang bisa kita lakukan demi mencapai hasil ibadah yang maksimal selama bulan ramadhan; beberapa diantaranya adalah persiapan mental, persiapan spiritual, persiapan fikriyah, persiapan fisik dan materi, dan yang tak kalah penting adalah kita membuat perencanaan atau agenda untuk meningkatkan prestasi ibadah kita dibulan ramadhan…….” Kata Ki Bijak.

“Persiapan mental artinya mempersiapkan mental kita untuk focus dan konsentrasi menjalankan ibadah ramadhan, tidak terganggu dengan hal-hal lain semisal keinginan membeli baju baru atau kesibukan untuk persiapan mudik misalnya…, begitu ki….?” Kata Maula mencoba mendefinisikan.

“Benar Nak Mas, persiapan mental adalah bagaimana kita menjaga konsentrasi ibadah agar memperoleh hasil maksimal…..” Ki Bijak membenarkan.

“Sementara persiapan spiritual adalah persiapan ruhaniyah kita untuk menerima keagungan ramadhan…..” Tambah Ki Bijak.

“Persiapan ruhaniyah kita untuk menerima keagungan ramadhan ki…?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, untuk memperoleh hasil maksimal, kita harus mempersiapkan ‘wadah’nya terlebih dahulu, ruhani kita harus dibersihkan dahalu sebelum kita memasuki gerbang ramadhan, ruhani kita harus diisi dengan memperbanyak dzikir, memperbanyak istighfar, memperbanyak shodaqoh, serta memperbanyak amaliah lainya, sehingga ketika kita memasuki gerbang ramadhan, kita sudah benar-benar siap mengisinya dengan aktivitas ibadah yang maksimal…..” Kata Ki Bijak.

“Baginda Rasul mencontohkan bahwa pada bulan sya’ban beliau banyak melakukan shaum sunnah, yang menurut hemat Aki, ini juga salah satu bentuk atau cara baginda Rasul mempersiapkan diri memasuki bulan suci ramadhan….” Tambah Ki Bijak

“Ana mengerti ki, sementara persiapan fikriyah, tentu ilmu tentang shaum dan ibadah shaum itu sendiri, dan persiapan fisik dan materi maksudnya agar kita menjaga kesehatan dan mempersiapkan materi (kalau ada) agar tidak mengganggu konsentrasi ibadah kita ya ki….” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, dan mengenai perencanaan, kita tahu bahwa ramadhan bulan ibadah, bulan tarbiyah, serta bulan muhasabah….., begitu banyak keutamaan yang akan kita dapatkan jika kita bisa memanfaatkannya secara maksimal, karenanya bisa harus menyusun rencana secara baik, agar keutamaan-keutaman ramadhan tidak lewat dengan sia-sia, dengan alas an kita sibuk dengan rutinitas pekerjaan atau lainnya…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Ini Nak Mas…, Aki punya contoh agenda ramadhan yang dibuat seorang beberapa waktu lalu….., Nak Mas bisa menambahkan aktifitas lainnya sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan Nak Mas……” Sambung Ki Bijak sambil menyerahkan contoh agenda ramadhan pada Maula
“Terima kasih Ki……” Kata Maula sambil menerima sample agenda ramadhan yang diserahkan gurunya.

“Kalau dalam sepakbola, persiapan seperti ini mungkin seperti proses aklimatisasi dan adaptasi ya ki…., agar tidak kaget lagi ketika benar-benar sudah memasuki medan kompetisi yang sesungguhnya…..” Kata Maula menambahkan.

“Iya Nak Mas, persiapan menyambut bulan suci ramadhan ini adalah proses aklimatisasi dan adaptasi, sekaligus membiasakan suasana kompetesi dan juga agar pada saat ramadhan tiba, kita sudah siap dan berada pada peak performance, bukan begitu istilah sepakbolanya Nak Mas……?” Kata Ki Bijak.

Maula tersenyum mendengar Ki Bijak yang dengan fasih menirukan istilah yang biasa digunakan dalam sepakbola…….

“Ya ki, peak performance…., itu istilah yang biasa gunakan para atlet dalam mempersiapkan diri sebelum mengikuti sebuah kompetisi atau kejuaraan…..” Kata Maula.

“Dan sebentar lagi, kita akan menjadi ‘atlet-atlet’ kompetesi ramadhan, yang menyediakan piala berupa syurga da segala kenikmatannya bagi mereka yang berhasil memasuki garis finish dengan sempurna dan dengan cara yang diridahi Allah swt……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula tersenyum dan makin menyadari bahwa gurunya tidaklah semata alim dalam urusan hati dan akhirat, tapi juga fasih berbicara dan menggunakan istilah-istilah olahraga.

“Iya ki, semoga kita menjadi pemenang-pemeang ramadhan ya ki…..” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas, maksimalkan persiapannya, laksanakan shaumnya dengan ikhlas, selebihnya biarlah Allah yang akan membalas amal kita sesuai dengan kehendak_Nya…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Insya Allah ki……..” Kata Maula mengakhiri perbincangan denga gurunya untuk bersiap melaksanakan shalat.

Wassalam
July 16, 2010

Sunday, July 11, 2010

PERCAYA GURITA, BUKAN PERILAKU MODERN

“Mempercayai gurita, burung atau hewan lain bisa ‘meramal’ sebuah hasil pertandingan sepakbola, bukanlah perilaku manusia modern Nak Mas, tapi perilaku jahilayah yang bathil dan bertentangan dengan akal sehat, bagaimana mungkin manusia yang berakal, bertuhan pada hewan yang jelas-jelas tidak memiliki akal….?” Kata Ki Bijak menyikapi pertanyaan Maula mengenai maraknya perbincangan mengenai sekor gurita yang ramai diberitakan karena dipercayai bisa meramal hasil pertandingan sepakboa.

“Iya ki…., orang berakal sehat tidak akan melakukannya, tapi itu yang terjadi sekarang ini, seekor gurita didewakan oleh banyak orang karena konon bisa menebak hasil pertandingan bola, dan yang lebih mengherankan, kepercayaan pada ramalan gurita ini justru terjadi dinegara yang mengklaim mereka sebagai Negara maju…, tapi ternyata sama saja, merekapun mempercayai hal konyol yang menggelikan……” Tambah Maula.

“Jahilayah…., bukanlah semata mereka tidak bisa baca tulis Nak Mas, jahiliyah bukan semata mereka tidak bisa komputer, zaman jahilayah, bukanlah zaman tidak adanya orang ‘pintar’, jahiliyah adalah kondisi dimana manusia pada zaman itu tidak mengenal siapa tuhannya, mereka tidak mengenal Allah sebagai dzat yang menciptakan mereka, mereka tidak mengakui Allah sebagai Rabbul’alamin……, maka sangat boleh jadi, dizaman kita sekarang ini, benih-benih kejahiliyahan sedang tumbuh subur ditengah masyarakat dunia, bukan saja dinegara kita, tapi juga masyarakat dinegara-negara yang mengklaim sebagai Negara yang maju…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Abu Jahl dan Abu Lahab itu bukan yang yang tidak bisa baca tulis ya ki…?” Tanya Maula.

“Bukan Nak Mas, meski dizaman itu belum ada komputer, tapi Abu Jahl dan Abu Lahab bukanlah orang 'bodoh', tapi justru mereka dari golongan orang ‘terpandang’ ditengah kaumnya, kenapa mereka disebut dedengkot jahiliyah, karena mereka tidak bisa melihat kebenaran yang dibawa Baginda Rasul yang menyeru pada Allah yang Esa…., karena keingkarannya pada kebenaran itulah mereka disebut jahil…….” Kata Ki Bijak.

“Jadi…., dizaman kita sekarang inipun mungkin banyak juga Abu Jahal atau Abu Lahab ki….?” Tanya Maula.

“Waallahu’alam Nak Mas, nanum jika kita bercermin pada perilaku Abu Jahl dan Abu Lahab yang mengingkari Allah yang Esa, sangat jelas bahwa perilaku seperti itu ‘masih hidup’ dizaman sekarang ini, jika dulu kaum quraisy kafir karena telah menyekutukan Allah dengan berhala seperti Lata dan Uzza, maka sekarang ini, banyak manusia yang menyekutukan Allah dengan berbagai berhala modern, salah satunya seperti yang Nak Mas ceritakan tadi, mereka mempercayai gurita atau burung nuri memiliki kemampuan untuk mengetahui hasil akhir sebuah pertandingan, padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan bahwa syirik adalah dosa yang tak berampun, sebagaimana firman_Nya dalam surat An-nissa 48 dan ayat 116:

48. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.

116. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya.


Maula menghela nafas panjang mendengar penuturan gurunya, betapa pertandingan sepakbola yang seharusnya menarik dan enak ditonton, justru sekarang ini telah bergeser menjadi jalan setan untuk menyesatkan banyak orang.

“Setan memang pintar memilih jurus dan cara untuk menyesatkan manusia, setan bisa menggunakan media apapun untuk menjerumuskan manusia untuk menjadi temannya dineraka kelak, karenanya kita harus selalu waspada dengan muslihat setan yang senantiasa siap menggelincirkan mereka yang ‘lemah dan kosong’ dengan kelicikannya……” Kata Ki Bijak lagi.

“Mereka yang lemah dan kosong ki….?” Tanya Maula.

“Yang mereka yang lemah iman, dan mereka yang hatinya kosong dari mengingat Allah, mereka itulah sasaran empuk setan untuk dijadikan temannya dineraka kelak……, setan layaknya angin yang akan memasuki setiap relung hati yang kosong dari mengingat Allah, seperti angin mengisi perut kosong hingga perut kita kembung..”

“Tapi setan tidak akan bisa masuk kedalam hati yang senantiasa terisi dengan dzikir kepada Allah, serta memiliki benteng iman yang kokoh, sebagaimana Allah maklumkan dalam al qur’an bahwa tipu daya setan hanya akan mengena pada mereka yang memang mau mengikuti tipu daya setan…….; Kata Ki Bijak sambil mengutip beberapa ayat dalam Surat Al A’raf;

16. Iblis menjawab: "Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
17. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
18. Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya".

“Akan halnya mereka yang mempercayai ramalan gurita ki…?” Tanya Maula.

“Gurita itu tidak bisa ngomong Nak Mas, gurita pun Aki yakin tidak mengerti hal ikhwal sepakbola, lalu bagaimana mungkin ada orang yang mempercayai sesuatu yang dihasilakan oleh mahluk yang ia sendiri tidak tahu menahu tentang hal itu….?”

“Kalau analisa para pakar sepakbola yang mumpuni dibidangnya saja masih banyak yang salah, entah teori mana atau ilmu apa yang mereka gunakan sehingga mereka mempercayai seekor gurita dengan demikian yakin….?” Kata Ki Bijak penuh heran.

“Kasihan si guritanya ya ki, ia tidak tahu apa-apa, tapi ia dipaksa untuk melakukan ‘kegilaan’ manusia yang tidak masuk akal, kalau saja gurita itu bisa ngomong, mungkin gurita itu bilang ‘nih manusia pada aneh’, mengaku berakal, tapi nanya ke gue, mana gue tahu’…..heee hee….” Kata Maula mengandaikan gurita bisa berbicara.

“Tugas setiap kita hanya mengingatkan mereka yang mungkin lupa Nak Mas, mereka yang lupa bahwa hanya Allah-lah yang mengatahui hal-hal yang akan terjadi, tidak ada sesuatu pun yang bisa mendahului kehendak_Nya, pun termasuk siapa yang akan menjadi juara piala dunia di afrika nantinya……”Kata Ki Bijak.

“Jadi siapaun nanti yang akan menjadi juara, apakah itu Belanda atau Spanyol, bukan karena ramalan si gurita ya ki…..” Kata Maula.

“Bukan Nak Mas, siapapun yang nanti akan menjadi juara, adalah mereka yang secara syaria’at lahiriah telah mempersiapkan diri dengan baik, dan secara hakekat karena memang Allah menghendaki mereka menjadi juara, bukan karena gurita atau karena hal lainnya……” Kata Ki Bijak.

“Mudah-mudahan orang-orang pada sadar ya ki, bahwa setan tengan bergerilya mencari mangsa untuk menyesatkan manusia kejalan kemusyrikan……” Kata Maula berharap.

“Dan semoga Allah melindungi kita dari tipu daya setan yang merupakan musuh yang nyata bagi manusia Nak Mas……” Kata Ki Bijak menimpali.

“Amiiin……..” Maula mengamini.

Wassalam.

July 11, 2010

Friday, July 9, 2010

BELAJAR MENONTON BOLA

“Dari sepakbola, sebenarnya kita bisa belajar banyak Nak Mas, dari sepakbola kita bisa belajar managemen waktu, dari sepakbola kita bisa belajar disiplin, dari sepakbola kita bisa belajar kerja sama team, dari sepakbola kita bisa belajar membuat atau mengkreasi ‘gol’, selain juga kita bisa belajar bagaimana memanfaatkan ruang/lapangan yang ada, kita belajar menghargai dan menerima keputusan, kita pun bisa belajar untuk siap menerima kekalalahan dan tidak menjadi sombong ketika kita memperoleh kemenangan…….”

“Kita pun bisa belajar bagaimana sebuah team mempersiapkan diri untuk menghadapi kompetisi panjang, persiapan teknik, persiapan mental, persiapan fisik, persiapan strategi dan berbagai persiapan-persiapan lainnya…..;
"hanya sayangnya masyarakat kita bukan belajar dari sisi positifnya, justru tak jarang sebagian masyarakat kita terjebak kedalam mudharatnya, seperti Nak Mas katakan tadi, nonton bolanya pake taruha…….” Kata Ki Bijak mengomentari cerita Maula mengenai maraknya judi bola sepanjang penyelenggaraan piala dunia kali ini.

“Iya ki, ana juga prihatin,nggak dikampung, nggak dikota, mulai dari yang recehan sampai yang jutaan, ada yang bilang arisan, ada yang mengatakan iseng-isengan, dan masih banyak lagi ‘kemasan kata’ untuk menutupi perjudian yang mereka lakukan……, sedih banget ya ki….” Kata Maula.

Ki Bijak diam agak lama, merasakan keprihatinan yang sangat dengan kondisi masyarakat akhir-akhir ini.

“Ki….., seperti Aki katakan tadi, sebenarnya kita belajar banyak dari sepakbola ya ki…..” kata Maula memecah keheningan.

“Benar Nak Mas, jika kita lebih bijak, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari sepakbola seperti piala dunia ini…., kita ambil contoh dua team yang masuk final sekarang ini…., team mana Nak Mas…..?” Tanya Ki Bijak

“Team Belanda lawan Spanyol ki…..” Jawab Maula.

“Ya…, team Belanda dan Team Spanyol…., jauh sebelum akhirnya kedua tim ini sampai babak final, keduanya harus memiliki semua persyaratan untuk menjadi finalis, mereka mempersiapkan diri secara fisik,teknik, mental dan strategi sejak mereka akan memasuki babak penyisihan, babak demi babak mereka lalui, lawan dan rintangan pun mereka lewati, cape, lelah, menguras tenaga, menguras emosi, menguras fikiran, dan memang itulah harga yang harus dibayar untuk menuju tangga keberhasilan…..”

“Hampir tidak ada tim yang tanpa persiapan memadai,tanpa melalui babak kualifikasi, tanpa bertanding, tanpa lelah, tanpa menguras tenaga, tiba-tiba dinobatkan menjadi juara…, karena perjuangan melewati fase demi fase adalah syari’at yang harus dilalui untuk menjadi juara…..” Kata Ki Bijak.

“Artinya apa ki……?” Tanya Maula, sambil mengagumi pemahaman gurunya mengenai seluk beluk persepakbolaan, padahal gurunya itu jarang sekali menonton pertandingan bola.

“Artinya adalah tidak ada keberhasilan kebetulan, tidak ada juara tiba-tiba, siapapin yang ingin berhasil, siapapun yang ingin juara, mereka harus menyempurnakan syari’at untuk mencapai keberhasilan ti….., pun dengan kita Nak Mas, kalau Nak Mas ingin sukses, jika Nak Mas ingin berhasil, maka Allah mewajibkan kita melakukan dan menyempurnakan syari’at untuk mencapai keberhasilan itu………” Kata Ki Bijak.

“Waah, sebuah pelajaran yang bagus sekali ya ki………” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, bagus sekali…., belum lagi kita bisa belajar dari sebuah pertandingan sepakbola itu sendiri, disana ada lapangan bola, waktunya sudah ditentukan, ada wasit sebagai pengadil, ada lawan akan menghalangi, ada gawang yang dijaga keeper, ada aturan yang tidak boleh dilanggar……, kesemuanya merupakan miniatur dari kehidupan kita……” Kata Ki Bijak.

“Sebuah pertanding sepakbola merupakan miniatur kehidupan ki…..?” Tanya Maula.

Ki Bijak mengangguk, “ Hamparan bumi yang luas ini adalah ‘lapangan’ kita untuk berkompetisi meraih yang terbaik Nak Mas, sementara jika dalam sepakbola keinginan sebuah tim untuk memenangkan pertandingan dibatasi oleh 90 menit waktu pertandingan, keinginan kita untuk mencapai keberhasilan dunia akhiratpun dibatasi oleh usia, kita tidak boleh kemudian berfoya-foya menghabiskan waktu kita untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, karena waktu kita akan terus berkurang setiap detiknya, sebagaimana sebuah tim tidak boleh hanya bermain passion ball saja, mengulur-ngulur waktu saja, karena waktu sangat berharga, karena waktu sangat terbatas……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ana sering lihat kalau ada pemain yang mengulur-ngulur waktu pertandingan, biasanya akan dihukum dengan kartu kuning oleh wasit……” kata Maula.

“Pun dalam kehidupan kita Nak Mas, kalau kita banyak menyia-nyiakan waktu, maka kita akan ‘dihukum’ dengan rasa sesal yang sangat, karena sedetikpun waktu tidak akan bertambah, waktu pasti berkurang, sedetik saja kita melewatkannya, maka kita tidak akan bisa kembali pada waktu yang sama……” Tambah Ki Bijak.

Maula manggut-manggut, “Iya ki, seberapapun ingin kita kembali kewaktu lalu,pasti tidak akan bisa ya ki…..” Kata Maula lagi.

“Dan Nak Mas pernah melihat tim uggulan, dengan sekumpulan pemain bintang yang mumpuni, tapi kemudian kalah oleh tim medioker…?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, Prancis, Italia, Portugal, Argentina, dan Brazil adalah tim-tim unggulan yang dihuni oleh bintang kelas dunia, tapi toh akhirnya mereka kalah sebelum mencapai babak final…..; apalagi Prancis, sudah keok duluan…..” Kata Maula lagi.

“Nak Mas tahu maknanya apa…..?” Tanya Ki Bijak.

“Eehhh.., apa ya ki, mungkin maknanya adalah bahwa kemenangan tidak semata karena kualitas teknik dan mental atau sekeda fisik semata, tapi ada factor lain yang menentukan hasil akhir dari perjuangan setiap tim…..” Kata Maula.

“Nak Mas benar, kita hanya diwajibkan melakukan syari’at, kalau dalam sepakbola tadi, kewajiban syari’at itu bisa persiapan fisik, persiapan mental, persiapan teknik dan lainnya, sementara kalau dalam kehidupan kita, kewajiban syari’at itu bisa berupa mencari ilmu, berusaha dengan cerdas, bersemangat dan bersungguh dan lainnya, sementara kemenangan atau keberhasilan bukan lagi kewajiban kita..",
"Sebagai orang beriman, kita wajib meyakini bahwa keberhasilan atau kemenangan adalah hak prerogative Allah untuk memberikan kepada siapapun yang dikehendaki_Nya, seperti Nak Mas contohkan tadi, tim-tim unggulan bisa kalah, sebaliknya tim-tim yang biasa saja mungkin bisa menjadi juara, tapi tetap tidak menggugurkan kewajiban berikhtiar bagi mereka yang menghendaki keberhasilan dan kemenangan……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula semakin tertarik dengan pandangan Ki Bijak mengenai sebuah pertandingan sepakbola, yang kata gurunya merupakan miniature kehidupan.

“Waah…, ana benar-benar tidak menyangka kalau Aki paham mengenai pertandingan sepakbola……” Kata Maula.

Ki Bijak hanya tersenyum mendengar pujian Maula, “Dan satu lagi yang kita bisa pelajari dari sepakbola Nak Mas, seberapapun kita ingin menang, jangan pernah main curang, junjung tinggi fair play, karena kemenangan yang diraih dengan cara-cara tidak sportif, hanya akan melahirkan gunjingan dan cibiran dari banyak orang…….;
"Pun dengan kehidupan kita, betapapun kita ingin berhasil, betapapun kita ingin sukses, betapapun kita ingin menjadi orang besar, kita tetap tidak boleh melanggar tata nilai dan hukum yang berlaku, baik itu hukum normative , terlebih hukum agama…….” Kata Ki Bijak.

“Kalau dalam sepakbola, kemengan Prancis yang berawal dari kecurangan pemainnya atas Irlandia, yang kemudian melahirkan cibiran terhadap Prancis, kalau dalam kehidupan, Mr. G, orang yang ‘berhasil’ karena suap dan korupsi, pun demikian ya ki, mereka tetap tidak bisa menikmati keberhasilannya dengan tenang……” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, seperti itu, kemenangan haruslah diraih dengan cara terhormat dan bermartabat, bukan dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya……” kata Ki Bijak lagi.

“Ana mengerti ki….” Kata Maula.

“Kapan partai finalnya Nak Mas…..?” Tanya Ki Bijak.

“Senin dini hari nanti ki…, Aki mau ikut nonton…?” Tanya Maula.

Ki Bijak tersenyum, “Nak Mas saja, Aki lebih senang mendengar ceritanya saja dari Nak Mas…..” Kata KI Bijak berseleroh.

Maula tersenyum, kini ia menatap partai final Belanda vs Spanyol dengan penuh harapan akan mendapatkan pelajaran tambahan dari sepakbola, selain dari apa yang baru saja diterimanya dari Ki Bijak.

Wassalam

09 July 2010

AQUARIUM VS KOLAM

“Nak Mas masih memiliki keinginan untuk wira usaha….?” Tanya Ki Bijak dalam sebuah kesempatan.

“Insya Allah masih ki, ana masih menginginkan punya usaha sendiri, ana berharap dengan wira usaha, ana bisa lebih punya banyak waktu untuk keluarga……” Kata Maula.

“Kalau memang Nak Mas berkeinginan seperti itu, tidak ada salahnya Nak Mas mencoba membuka usaha kecil-kecilan dulu dari sekarang, hanya Aki pesan sebelumnya Nak Mas harus mempersiapkan dan memperhitungkan segala sesuatunya dengan teliti dan cermat…., shalat istikhorah mungkin bisa membantu Nak Mas untuk memulai bidang yang akan Nak Mas tekuni……” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki…., ana sedang mempersiapkannya, sambil mencari referensi dari teman-teman yang sudah memulainya terlebih dahulu…..” Kata Maula.

“Syukurlah kalau demikian, carilah referensi dan ilmu dari orang-orang yang kompeten dibidangnya, karena Aki sendiri tidak bisa membantu Nak Mas secara teknis dan materi, Aki hanya bisa memberi sedikit saran yang mungkin Nak Mas butuhkan nantinya…..” Kata Ki Bijak.

“Ki…., nasehat-nasehat Aki, jauh lebih berharga dari bantuan material dan bantuan teknik apapun, karena bagi ana, nasehat Aki adalah obor yang selalu menerangi hati dan pemikiran ana, itu jauh lebih berharga ki….” Kata Maula.

Ki Bijak menarik nafas panjang, “Berwira usaha mungkin akan sedikit berbeda dengan ketika Nak Mas menjadi seorang karyawan seperti sekarang, bedanya.., dalam analogi Aki seperti ikan yang hidup diaquarium dan dan ikan yang hidup bebas dikolam yang luas…..” Kata Ki Bijak kemudian.

“Beda antara wirausaha dengan karyawan seperti ikan diaquarium dan ikan dikolam ki…..?” Tanya Maula.

“Iya Nak Mas, ikan diaquarium, kelihatannya hidup relative ‘lebih mudah’, ikan diaquarium mendapat jatah makan dari sang pemilik setidaknya dua atau tiga kali sehari, kemudian air diaqaurium jauh lebih bening, sehingga semuanya terlihat, kemudian lagi ‘kompetisi’ antar ikan diaqurium, relative tidak ada, karena biasanya ikan dalam aquarium merupakan ikan dari jenis yang sama…….” Kata Ki Bijak

“Lalu ki….?” Tanya Maula.

“Pun demikian dengan kehidupan seorang karyawan yang relative ‘terbaca’, setiap bulan dapat gaji dari perusahaan, kemudian lingkungannya relative tidak berubah, teman-teman sekantor yang sama, dan jikapun ada kompetisi, masih dalam batas toleransi dan wajar…….”

“Beda halnya dengan ikan yang hidup dikolam luas…, ikan yang hidup dikolam memiliki ‘potensi’ makanan yang jauh lebih besar dan banyak, dikolam, ikan bisa bebas memilih makanan yang tersedia disana, meski pada suatu saat, ikan dikolam mungkin tidak dapat makanan sama sekali, karena banyaknya komunitas ikan dikolam yang memperebutkannya, belum lagi kondisi air yang tidak sebening air aquarium, ikan dikolam harus benar-benar bisa survive untuk dapat memperoleh makanan dan mempertahankan hidupnya……” Kata Ki Bijak beranalogi.

“Pun demikian dengan seorang usahawan, dengan menjadi wiraswasta, peluang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar, sangat terbuka lebar, potensi untuk maju juga relative lebih besar, hanya itu tadi, didunia wirausaha, persaingan dan kompetisi sangat ketat, lingkungannya pun relative lebih luas, mungkin hampir setiap hari seorang wirausahan akan bertemu dan berhubungan dengan orang yang berbeda, latar belakang yang berbeda, tujuan dan motivasi yang berbeda, karakter yang berbeda, dan masih banyak lagi ragam yang berbeda yang kesemuanya harus kita hadapi untuk dapat survive dan berhasil dalam dunia wirausaha……..” Kata KI Bijak.

“Waah….., ana tidak menyangka Aki mempunyai wawasan dan visi kewirausahaan yang hebat…….., ana sendiri belum terpikir sejauh itu ki…..” Kata Maula mengagumi wawasan luas dari gurunya.

“Justru Aki yang banyak belajar dari Nak Mas mengenai hal ini, Aki tidak terlalu pandai mengenai urusan dunia wira usaha Nak Mas…..” Kata Ki Bijak

“Tapi apa yang Aki katakan tadi sangat masuk akal ki…., karyawan, mendapat gaji setiap bulan, tapi ya hanya itu saja sumber penghasilannya, paling banter dapat lemburan dan bonus, sementara pedangang atau wirausahawan, suatu waktu mungkin akan mendapat keuntungan yang besar, usahanya maju, berhasil dan sukses, sementara disisi lain, sangat mungkin seorang pedagang atau wirausahawan akan mengalami kerugian atau usahanya tidak lancar, dan mereka akan mengalami kesulitan…….., dan itu sangat masuk akan dan perlu dipikirkan oleh setiap orang yang mau memulai memasuki dunia usaha……” Kata Maula.

“Dan kalau memang Nak Mas benar-benar mau masuk kedalam dunia usaha tadi, Aki harap Nak Mas sudah benar-benar siap dengan segala kemungkinan yang akan Nak Mas temukan di’kolam’ besar yang menjanjikan, sekaligus penuh tantangan ini……….” Kata Ki Bijak lagi.

“Bismillah Ki……, semoga Allah member kemudahan dan kelancaran bagi ana untuk melaksanakan niatan ini……” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas, dan jangan lupa…., niatnya diluruskan…, jika Nak Mas ingin memiliki usaha sendiri, bukan karena Nak Mas ingin kaya, bukan karena Nak Mas mengejar materi semata, bukan karena ikut-ikutan, atau apalagi hanya karena teman-teman Nak Mas lebih dulu ‘sudah berhasil’, tapi niatkan untuk ibadah, untuk mencari ridha Allah semata……..” Kata Ki Bijak menambahkan.

“Insya Allah ki, dan ana juga memohon doa Aki ya ki….” Pinta Maula.

“Nak Mas, tanpa Nak Mas mintapun, Aki selalu berdoa untuk kebaikan Nak Mas dan keluarga, semoga Nak Mas dan keluarga senantiasa dalam rahmat dan kasih sayang Allah swt…….” Kata Ki Bijak.

“Amiiin……” Maula mengamini.

Wassalam

July 2010.

Friday, July 2, 2010

BERSYUKUR ITU……

“Kenapa Nak Mas, sepertinya ada yang mengganggu pikiran Nak Mas….? Tanya Ki Bijak, melihat rona wajah Maula yang agak berbeda dari biasanya.

“Iya ki, rencananya minggu ini ana mau beli kitab yang Aki sarankan kemarin, tapi nggak jadi…., uangnya belum cukup ki…” Kata Maula.

“Bukannya kemarin Nak Mas bilang minggu ini Nak Mas dapat bonus dari kantor…?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Iya ki, bonusnya sudah dibagikan, tapi nilainya jauh dari perhitungan ana kemarin, jadi uangnya ana pakai untuk melunasi hutang dulu, sementara beli kitabnya ana tunda, nggak apa-apa kan ki….” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula; “Nak Mas…, tidak apa-apa kalau Nak Mas menunda pembelian kitab itu, dan Nak Mas tidak perlu kecewa karena bonus Nak Mas tidak sesuai dengan perhitungan Nak Mas, karena itulah rezeki yang Allah karuniakan kepada Nak Mas untuk saat ini…..” Kata Ki Bijak menasehati.

“Tapi ki, bonus kali ini ‘aneh, masak lebih kecil dari tahun sebelumnya, padahal gaji pokoknya sudah naik….” Maula masih penasaran.

Ki Bijak kembali tersenyum mendengar Maula yang masih nampak sedikit kesal, “Nak Mas…, memang benar yang menghitung bonus itu secara syariat pihak perusahaan, tapi bagi kita yang beriman kepada Allah, harus meyakini bahwa apa yang diputuskan perusahaan itu hakekatnya adalah putusan Allah jua, besar kecilnya bonus atau rezeki kita, sudah diatur Allah jauh sebelum pihak perusahaan memutuskan berapa jumlah bonus yang akan Nak Mas terima sekarang……” Kata Ki Bijak lagi.

“Astaghfirullah…., benar Ki….., mau orang jepang, mau bule atau siapapun, tetap saja mereka dalam kekuasaan Allah ya ki, sekalipun mereka tidak mengakui Allah…..” Kata Maula menyadari kealfaannya.

“Ya Nak Mas, tidak ada kekuasaan atau kekuatan apapun yang mampu member rezeki pada kita selain Allah, pun dengan jepang, dengan bule atau siapapun, hanya Allah sajalah yang mampu melapangkan atau menyempitkan rezeki kita dengan qudrat dan iradahnya…, lagi pula boleh jadi ada banyak pelajaran yang dapat Nak Mas petik dari apa yang Nak Mas dapati sekarang….” Tambah Ki Bijak lagi.

“Pelajaran ki…..?” Tanya Maula.

Ki Bijak mengangguk, “Nak Mas masih ingat dengan ayat Allah dalam surat A-rum 37 dan Az-Zummr 52..? Tanya Ki Bijak.

“Iya ki…..” Jawab Maula sambil membaca ayat dimaksud;

37. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.

52. Dan Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.

Ki Bijak mengangguk untuk membenarkan apa yang Maula baca; “Pelajaran pertama yang dapat kita ambil adalah bahwa kita harus senantiasa memperbaharui keimanan kita bahwa Allah-lah yang memberi rezeki pada kita, bukan perusahaan, bukan atasan, mereka hanyalah wasilah dari Allah untuk menyalurkan rezeki pada kita…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki….” Jawab Maula pendek.

“Pelajaran yang kedua, berhati-hatilah ketika kita punya rencana, jangan ujub, jangan takabur, jangan merasa bisa melakukannya sendiri tanpa izin Allah, seperti rencana Nak Mas untuk membeli kitab kemarin, tujuannya bagus, hanya jangan lupa, ucapkan insya Allah, sehingga kehendak kita selaras dan tidak mendahului kehendak Allah…..” Kata Ki Bijak lagi.

Maula mengangguk tanda mengerti;

“Pelajaran yang ketiga, kita harus belajar lagi memaknai syukur dengan benar, sekali-kali kita tidak akan bisa mensyukuri nikmat Allah yang besar, jika kita belum mampu mensyukuri nikmat yang kecil, seperti sekarang ini, Nak Mas tengah diuji oleh Allah, mampukah Nak Mas mensyukuri bonus yang kecil, sebelum insya Allah Nak Mas akan mendapat bonus yang lebih besar, dan ingat, barang siapa mensyukuri nikmat Allah, maka Allah akan menambah nikmat_Nya, dan barang siapa kufur, maka azab pedih menantinya……” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat Allah dalam surat Ibrahim;

7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

“Iya ki, ana mengerti……” jawab Maula pendek

“Jadi sekarang Nak Mas masih ‘kesal’ karena bonusnya kecil….?” Tanya Ki Bijak sambil senyum.

“Insya Allah tidak lagi ki…., justru ana makin menyadari bahwa masih banyak yang harus ana perbaiki untuk mendapat ‘bonus’ dari Allah, ana merasa syukur ana masih kurang, ana merasa tahajud ana masih bolong-bolong, ana juga merasa sedekah ana masih sedikit, semoga ini menjadi awal bagi ana untuk memperbaikinya ki…..” Jawab Maula.

“Itu baru santri Aki……” Kata Ki Bijak sambil mengacungkan dua jempol untuk Maula.

Maula tersenyum dan menyalami gurunya untuk pamitan.

Wassalam

July 2, 2010

Saturday, June 12, 2010

SAVE OUR PALESTINE!!

“Keterlaluan ya ki……” Kata Maula, mengomentari kebrutalan tentara zionis yang menyerang kapal bantuan kemanusiaan untuk warga palestina di Gaza.

“Ya Nak Mas, dan itulah watak asli kaum zionis…, mereka adalah kaum yang memiliki trek record sangat buruk disisi Allah dan sisi manusia…….” Kata Ki Bijak tak kalah prihatin.

“Iya ki, ana pernah baca beberapa ayat Al qur’an yang menyatakan betapa buruknya kelakukan ‘yahudi’ ini…….” Kata Maula lagi.

“Benar Nak Mas, tidak kurang dari dua puluh dua sifat tak terpuji yahudi yang Allah jelaskan dalam al Qu’an; seperti keras hati, dzalim, banyak diantara mereka yang fasik dan sedikit yang beriman, selalu memusuhi orang-orang islam, suka mengubah dan memutar balikan kebenaran, dan mereka pun tak segan menyembunyikan bukti kebenaran dari Allah swt, bertuhankan pada nafsu, mencampur-adukan yang benar dan yang salah, pengkhianat, merasa dirinya umat terbaik, dan masih banyak lagi yang Al qur’an terangkan mengenai keburukan yahudi ini….” Kata Ki Bijak.

Maula menghela nafas panjang mendengar berbagai macam keburukan yahudi yang dengan jelas diterangkan dalam al qur’an.

“Ki…..kenapa yahudi harus ada ya ki…., kalau kemudian mereka hanya membuat kerusakan seperti ini…?” Tanya Maula, yang larut dalam balutan emosinya, demi mendengar berbagai berita tentang keburukan yahudi.

Ki Bijak tersenyum mendengar pertanyaan Maula, “Aki tidak tahu kenapa Allah menciptakan bangsa yahudi Nak Mas, karena mencipta adalah hak prerogatif Allah, dan kita tidak perlu mempertanyakan kenapa yahudi diciptakan, yang sekarang harus kita lakukana adalah bagaimana kita menyikapi ‘ujian’ kejadian ini dengan bijak dan cermat…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Kejadian penyerangan kapal bantuan dan apa yang terjadi dengan rakyat Gaza adalah ujian bagi kita ki….?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, apa yang terjadi disana adalah ujian bagi kita, ujian bagi keimanan dan kemanusiaan kita…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Ana masih belum mengerti ki…..” Tanya Maula lagi.

“Begini Nak Mas, sebagaimana dilansir berbagai media, bahwa penyerangan kapal bantuan adalah sebuah pelanggaran terhadap berbagai aspek kemanusian,dan tanpa bermaksud mengecilkan pengorbanan para relawan, apa yang dialami rakyat Gaza jauh lebih memilukan dari apa yang para relawan alami, saudara-saudara kita di Gaza, bukan hanya satu dua hari menghadapi intimidasi dari para zionis, saudara-saudara kita di Gaza, tidak hanya satu dua kali ditodong senjata, saudara-saudara kita di Gaza, bahkan tidak tahu akan seperti apa nasib mereka esok hari…., semuanya seperti gelap, semuanya seperti tertutup, semuanya serba tidak pasti……, dan yang lebih menyedihkan, mereka seperti tidak punya saudara atau teman yang mau membelanya, mereka seperti dibiarkan sendiri menghadapi kedzaliman para kaum lalim ini…….” Kata Ki Bijak dengan nada penuh keprihatinan.

“Benar Ki, ana tidak bisa membayangkan perlakuan keji macam apa yang diterima rakyat Gaza didalam kungkungan tembok sana, sementara para relawan yang terdiri dari berbagai bangsa saja, masih diperlakukan seperti itu, bagaimana dengan rakyat Gaza…….?!, Maula tak kuasa meneruskan kata-katanya, hatinya bergemuruh menahan gejolak ‘kemarahan’ terhadap kekejian yahudi terhadap rakyat Gaza.

“Ketidakadilan, penindasan, intimidasi, bahkan pembunuhan keji, merupakan pemandangan yang dengan mudah ditemukan disana, tak peduli anak-anak, tak peduli orang tua renta, tak peduli wanita dan bahkan bayi, mereka bisa menjadi sasaran kekejian kaum zionis ini setiap saat, dan yang lebih memilukan bagi Aki, kita, umat yang seakidah dengan mayoritas rakyat Gaza, seperti menutup mata dengan apa yang terjadi disana…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, padahal Palestina dikelilingi oleh negara-negara Islam yang harusnya bisa membantu ya ki…..” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang, memang tidak seharusnya Palestina dan warga Gaza menderita seperti sekarang ini, ditengah-tengah ‘saudara seakidah’nya, “Tapi itulah yang terjadi Nak Mas, negara-negara Islam disekitar Palestina tidak bisa ‘berbuat apa-apa’ karena ‘kesalahan’ umat ini yang terperangkap dalam politik ‘Devide at empera’ yang sudah dilancarkan oleh musuh-musuh Islam dari sekitar awal abad 18, salah satunya adalah dengan cara mengobarkan paham nasionalisme di Arab untuk memecah khilafah islamiyah…….” Kata Ki Bijak menyingung sedikit hal ikhwal ketidakberdayaan bangsa-bangsa Arab atas kesewenang-wenangan yahudi.

“Lagi-lagi islam ‘kalah’ oleh politik jahat ini, politik pecah belah, adu domba dan kemudian dijajah……” Kata Maula mengomentari asbab penjajahan yahudi atas Palestina.

“Ya Nak Mas, sudah terlalu banyak catatan sejarah kelam tentang ‘kekalahan’ umat islam akibat perpecahan yang terjadi ditengah umat ini, dan kini saatnyalah umat islam menyadari bahwa potensi kekuatan umat islam adalah persatuan dan ukhuwah yang dibalut dengan kekokohan tali akidah yang kuat……..” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kalau umat islamnya masih tercerai berai seperti sekarang ini, bagaimana bisa menang dari yahudi….?” Tanya Maula.

“Nak Mas benar, kita tidak bisa mengandalkan bantuan orang/umat lain untuk membebaskan rakyat palestina khususnya, dan umat islam umumnya, dari penjajahan umat dan bangsa lain, kita, umat Islam harus bangkit dengan kekuatan kita sendiri, dan kekuatan utama umat islam ini adalah akidah dan keimanan yang kokoh, sehingga mereka mampu berjuang dijalan Allah dengan ikhlas dan sabar, karena sesungguhnya jika ada dua puluh orang beriman yang berjuang dijalan Allah dengan sabar, akan mampu mengalahkan seribu orang kafir………….., itu yang pertama…” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat Al qur’an dalam surat Al Anfal.

65. Hai nabi, Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti[623].

[623] Maksudnya: mereka tidak mengerti bahwa perang itu haruslah untuk membela keyakinan dan mentaati perintah Allah. mereka berperang Hanya semata-mata mempertahankan tradisi Jahiliyah dan maksud-maksud duniawiyah lainnya.

66. Sekarang Allah Telah meringankan kepadamu dan dia Telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.

“Kita membutuhkan orang beriman yang sabar….,hmmh, apakah sekarang ini umat islam kekurangan orang mukmin yang sabar ki……?” Tanya Maula.

“Pertanyaan yang bagus Nak Mas, dan Aki tidak perlu menjawabnya secara langsung, Nak Mas bisa membacanya dari apa yang ada disekitar dan daru apa terjadi sekarang ini……” Jawab Ki Bijak diplomatis.

Maula manggut-manggut, “Lalu apa potensi umat islam yang kedua ki…?” Tanya Maula.

“Seperti Aki katakan tadi, umat ini akan menjadi kuat ketika umat ini bersatu padu……..., tidak tercerai berai dan tidak saling menjatuhkan sesama muslim…..” Kata Ki Bijak.

“Apakah persatuan umat islam sekarang ini kurang ki….?” Tanya Maula.

“Lagi Nak Mas, jawabannya bisa Nak Mas lihat sendiri, seperti dipalestina sana, sekarang ini, masing-masing negara (islam) berdiri sendiri, bahkan dikeseharian kita pun, kurangnya ukhuwah dan persatuan umat islam ini nampak dengan sangat jelas…..” Kata Ki Bijak.

“Kita bisa melihat kurangnya persatuan umat islam disekitar kita ki…?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, coba Nak Mas perhatikan bagaimana pergaulan antar sesama muslim disekitar kita, jarang sekali kita saling menyapa dan menebar salam pada sesama muslim, bahkan tak jarang sesama muslim saling curiga dan berprasangka….., belum lagi apa yang kita lihat dimasjid-masjid yang hampir selalu sepi dari jamaah….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, ana juga merasakan pergaulan sesama muslim ini masih sangat renggang, apalagi kami yang tinggal dikomplek, jarang sekali kami bisa berkumpul dan berbincang masalah agama dan lainnya, lalu apakah banyak tidaknya jamaah dimasjid mengindikasikan sesuatu ki…? Tanya Maula

“Shalat berjamaah bisa menjadi simbol persatuan umat ini Nak Mas, kesamaan niat, persamaan gerak, kepatuhan pada imam dan masih banyak hal yang menyiratkan bahwa shalat berjamaah merupakan simbol kekuatan dan persatuan umat islam, hanya sayang, masjid yang megah dan mewah, dibangun dengan jerih payah dan jumlah materi yang tidak sedikit, hanya menjadi tontonan dan kebanggaan semu, jika kita ingin menang lawan yahudi, seyogyanya lah dari sekarang kita merapatkan barisan, memperkuat persatuan, yang salah satu sarananya dengan jalan shalat berjamaah….” Kata Ki Bijak.


“Ya ki……, semoga apa yang terjadi sekarang ini, menyadarkan umat islam akan penting persatuan dan memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah….” Kata Maula.

“Selain dua hal tadi, mukmin yang sabar, dan persatuan yang kokoh, kita juga bisa ‘bergerilya melawan sifat yahudi’ didalam diri kita Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Ki Bisa bergerilya melawan sifat yahudi yang ada dalam diri kita ki….?” Tanya Maula heran.

“Sifat membangkang dan tidak mau melaksanakan perintah Allah, adalah sifat yang sering dilekatkan pada yahudi ini, tapi sifat itu juga mungkin ada pada diri kita, manakala kita tidak mau shalat, tidak mau zakat, tidak mau shaum, bukankah itu juga pembangkangan terhadap perintah Allah…? Jika kita tidak suka yahudi, maka jangan biarkan sifatnya hidup subur dalam diri kita…..”

“Kemudian, yahudi dikenal dengan kaum yang tahu dan memahami kitab mereka dengan baik, tapi mereka menyembunyikan kebenaran isi kitab mereka dan menggantinya dengan tangan-tangan mereka, dengan tujuan mengingkarinya, adakah kita yang diberi al qur’an, membacanya, tapi kemudian tidak mau melaksanakan apa yang dikatakan al Qur’an…? Jika kita benci yahudi, maka kita wajib membenci sifat ingkar kita terhadap al qur’an yang kita baca…..”

“kemudian lagi, yahudi juga dikenal dengan kaum arogan, sombong dan merasa dirinya umat terbaik, dan sifat ini harus kita jauhkan dari diri kita, jika kita tidak ingin yahudi hidup terus-menerus dalam keseharian kita…”

“Dan masih banyak lagi sifat-sifat tidak terpuji yang kita tidak sukai dari yahudi, yang harus kita hilangkan dari dalam diri kita, itupun insya Allah merupakan upaya yang sangat baik dalam rangka kita ‘memerangi’ yahudi…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ya ki…jangan sampai ya ki kita teriak-teriak membenci yahudi, tapi justru sifat-sifat buruk yahudi masih hidup dan tumbuh subur dalam diri kita……” Kata Maula.

“Itu sikap terbaik yang bisa kita lakukan, untuk setidaknya menunjukan empati kita kepada saudara-saudara kita di Palestina sana, yakni dengan cara ‘memerangi’ sifat yahudi dalam diri kita, syukur kalau kemudian Nak Mas dan teman-teman punya kuasa dan kemampuan untuk bisa membantu rakyat Palestina secara langsung, baik itu berupa materi, tenaga atau bantuan lainnya, tapi kalau belum bisa, perbanyaklah berdoa kepada Allah untuk memohon perlindungan bagi rakyat Palestina khususnya dan kaum muslimin umumnya, semoga Allah menolong rakyat Gaza dan kaum muslimin seluruhnya, amiiin……” Kata Ki Bijak.

“Amiiiin……” Kata Maula menutup perbincangan.

Wassalam

Tuesday, May 18, 2010

BELAJAR IKHLAS DARI SI AYAS

“Justru kitalah yang sering berlaku tida adil pada Allah Nak Mas…..” Jelas Ki Bijak menanggapi penuturan Maula mengenai adanya beberapa orang yang sering ‘menyalahkan’ Allah dan mengatakan bahwa Allah tidak adil, hanya karena ia tidak mendapatkan apa yang diinginkan nafsunya.

“Kita yang sering berlaku tidak adil pada Allah ki…?” Tanya Maula menegaskan.

“Ya Nak Mas, kitalah yang justru kerap berlaku tidak adil pada Allah, kita sering ‘menuntut’ Allah untuk segera mengabulkan permohonan kita, dengan jumlah dan ukuran yang sesuai dengan kita, padahal disisi lain, ketika kita diperintah shalat tepat waktu, kita selalu punya alasan untuk menundanya, shalat dhuhur ditunda, karena perut kekenyangan, shalat ashar ditunda, karena kita lagi sibuk atau tanggung dengan pekerjaan, shalat maghribpun tertunda, karena masih dalam perjalan, hingga shalat isya pun tertunda karena sebagian kita nonton sinetron duluan, terlebih shubuh, sudah menjadi rahasia umum,bahwa sebagian kita shubuhnya diakhir waktu, karena malamnya begadang…..,siapa yang tidak adil menurut Nak Mas…?” Kata Ki Bijak menjelaskan.

“Astaghfirullah, benar ki, kadang kita lupa bahwa kita adalah hamba yang tugasnya mengabdi dan menjalankan perintah, bukan justru lebih banyak menuntut ya ki…..” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, kita ini hamba yang diciptakan untuk semata mengabdi pada_Nya, meski Allah tidak melarang kita meminta dan bahkan menganjurkannya, tapi kita harus punya etika dan tatakrama dalam kita memohon pada Allah……” Tambah Ki Bijak.

Maula diam sejenak, menyimak penuturan gurunya, sesaat kemudian sang guru melanjutkan wejangannya;

“Aki punya sebuah cerita menarik mengenai bagaimana seharusnya seorang hamba bersikap, Nak Mas mau mendengarkannya….?” Tanya Ki Bijak.

“Tentu…,tentu Ki, ana dengan senang hati mau mendengar cerita Aki……” Jawab Maula.

“Ceritanya begini Nak Mas, ada seorang abdi istana yang sangat patuh pada setiap perintah sang raja, sebut saja namanya Ayas; awalnya Ayas ini hanyalah seorang tukang kebun di istana sang raja…….” Kata Ki Bijak mengawali ceritanya.

“Lalu ki….?” Tanya Maula penasaran.

“Meski hanya sebagai penjaga kebun, kepatuhan, ketaatan dan pengabdiannya Ayas yang tulus ikhlas tanpa pamrih, membuat sang raja tertarik pada perilaku Ayas yang sangat terpuji itu, akhirnya sang raja mengangkat Ayas menjadi abdi dalam di istananya………” Sambung Ki Bijak.

“Waah, beruntung sekali si Ayas ini ya ki…….” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum pada Maula, “Bukan hanya karena beruntung kalau kemudian Ayas diangkat menjad abdi dalam istana Nak Mas, tapi pengabdian, ketulusan dan ketaatannya itulah yang kemudian menggerakan hati sang raja untuk mengangkatnya….., sampai sini Nak Mas melihat ‘sesuatu’ dari cerita yang barusan…..?” Tanya Ki Bijak.

“Hhhh…., apa ya ki…., mungkin pengabdian yang tulus ikhlas Ayas yang berbalas kemuliaan ki…..?” Jawab Maula.

“Nak Mas benar, awal cerita barusan adalah sebuah kias bagaimana sebuah pengabdian yang tulus ikhlas berbuah kemuliaan dan kehormataan….., pun dengan kita Nak Mas, kita ini abdi dihadapan sang Maha Raja, Allah swt….., maka seyogyanyalah kita mengabdi kepada Allah dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih apalagi sampai riya, dan yakinlah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan amal baik mahluk_Nya, dan pengabdian yang tulus ikhlas adalah sebuah permohonan tanpa kata yang jauh lebih Allah sukai dari pada mulut kita meminta-minta dengan berbagai permohonan, sementara sikap dan pengabdian kita masih banyak terbalut dengan pamrih dan riya, sebagaimana Ayas, insya Allah, ketika pengabdian kita murni dan tanpa pamrih, kemulian dan kehormatan sebagai hamba Allah akan kita raih…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, sepanjang apapun doa yang dibaca, tapi hanya keluar dari mulut saja, tanpa disertai keyakinan dan keimanan dari dalam hati, hanya akan membuat mulut kita lelah mengucapkannya ya ki…..” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, lakukan saja pengabdian kita seikhlas dan sebaik mungkin, insya Allah, Allah akan memberikan imbalan yang pasti tepat bagi kita……” Tambah Ki Bijak.

“Iya ki…., lalu bagaimana kelanjutan cerita Ayas setelah jadi abdi dalam di istana ki…..” Tanya Maula.

“Pengangkatan Ayas dari tukang kebun menjadi abdi dalam istana, tak pelak menimbulkan perasaan iri pada sebagian abdi dalam istana lainya, mereka merasa Ayas tidak layak bersanding dengan mereka, karena Ayas hanyalah seorang rakyat jelata, sementara mereka dari golongan terpandang, maka timbullah sifat hasud pada sebagian pembesar istana terhadap Ayas, dan kemudian mereka bermufakat untuk menjatuhkan Ayas dimata sang raja, dengan harapan Ayas akan diturunkan kembali menjadi tukang kebun…….” Ki Bijak melanjutkan ceritanya.

“Waah nggak dimana nggak dimana ya ki, ada saja orang yang memiliki sifat dengki seperti, kalau ada orang yang naik jabatan, kasak kusuk cari kesalahan untuk menjantuhkan…….., lalu bagaimana dengan Ayas Ki……?” Kata Maula.

“Pada akhirnya kelompok abdi dalam yang bersekongkol untuk menjatuhkan Ayas ini, menemukan ‘celah’ untuk menjelekan Ayas, ketika mereka menemukan rutinitas Ayas setiap pagi hari antara pukul 09 hingga pukul 10, Ayas selalu memasuki kamarnya, dan menutup rapat pintu dan semua jendelanya…, hal ini diadukan oleh para pendengki itu kepada sang raja, dengan mengatakan bahwa Ayas setiap hari mengguna-guna raja agar raja sayang padanya………..” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki…..” Tanya Maula mulai penasaran.

“Raja yang arif ini tidak serta merta percaya dengan apa yang disampaikan oleh para abdinya, raja meminta pengaduan mereka dibuktikan, maka pada hari yang telah ditentukan, mereka mencoba melihat apa yang Ayas kerjakan didalam kamarnya, secara sembunyi-sembunyi mereka memantau setiap gerak-gerik Ayas didalam kamarnya……” Kata Ki Bijak lagi.

“Apa yang dilakukan Ayas didalam kamarnya ki…?” Maula seperti cemas kalau-kalau para abdi dalam itu menemukan celah untuk mencelakakan Ayas.

“Mereka tidak menemukan apapun, kecuali mendapati Ayas tengah duduk tafakur setelah shalat dhuha, dengan menanggalkan seluruh pakaian kebesarannya; dari tempat mereka sembunyi, mereka mendengar kata-kata Ayas: “Ya Rabb, hamba tetaplah seorang abdi_Mu, pakaian ini tidaklah berarti apa-apa bagi hamba, hamba hanya ingin menjadi abdi_Mu saja, tidak lebih ya Rabb…..’ , merah padamlah muka-muka mereka yang dengki pada Ayas, harapannya untuk menjatuhkan Ayas dengan aktivitas ‘ganjilnya’ ternyata gagal.

Mendengar hal ini, sang raja tersenyum, “Itulah alasan kenapa Aku mengangkat Ayas menjadi abdi dalam diistana ini, karena ia mengabdi kepadaku secara tulus ikhlas, tanpa pamrih apapun dariku………….” Kata Ki Bijak menirukan jawaban sang raja.

Meskipun para pendengki itu sudah ‘kalah’, tapi mereka masih mencari-cari cara untuk menjatuhkan Ayas……, hingga akhirnya sang Raja memutuskan untuk mengundang semua pembesar dan abdi dalam istana; termasuk Ayas didalamnya….” Ki Bijak melanjutkan ceritanya.

“Apa yang terjadi kemudian ki…?” Tanya Maula lagi.

“Dalam kesempatan itu, sang raja berkata kepada para abdinya; wahai abdiku sekalian, hari ini Aku memaklumkan pada kalian semua; bahwa silahkan kalian pilih apapun yang kalian mau yang ada diruangan ini……” Lagi Ki Bijak menirukan perkataan sang Raja.

“Para pembesar yang serakah itu kemudian kasak-kusuk satu sama lain, mata mereka liar mencara benda apa yang kira-kira akan dipilihnya; kemudian mereka berkata pada sang raja; Apakah benar apa yang kami pegang akan menjadi milik kami baginda; tanya para pembesar itu hampir bersamaan;

Sang Raja hanya mengangguk; maka bertebaranlah para pembesar itu keseluruh penjuru ruang istana, ada yang mengambil perhiasan, ada yang mengambil emas, ada yang mengambil perak dan banyak lagi yang mereka ambil dan perebutkan……” Kata Ki Bijak melanjutkan ceritanya.

“Bagaiman dengan Ayas Ki, apa yang dia ambil…?” Tanya Maula.

“Ayas tidak beranjak dari tempatnya Nak Mas, Ayas hanya duduk dan melihat pembesar lainnya memperebutkan harta dan perhiasan yang ada didalam istana….” Jawab Ki Bijak.


Sekembalinya para pembesar itu ketempat masing-masing, mereka heran melihat Ayas masih terpaku ditempatnya dan tidak mengambil barang apapun; pun dengan sang Raja; kemudian sang Raja bertanya kepada Ayas; “Ayas, kenapa engkau tidak mengambil barang berharga apapun seperti yang lain…? Tanya Sang Raja.

“Mendapat pertanyaa dari sang Raja, Ayas balik bertanya kepada sang Raja; “Tuanku, apakah benar apa yang hamba pegang akan menjadi milik hamba….?” Tanya Ayas.

“Benar Ayas, ambillah apa yang kau mau…” Jawab Sang Raja.

“Kemudian Ayas berdiri dan menghampiri Raja, “Perkenankan hamba memiliki paduka saja, hamba sudah cukup……..” Kata Ayas sambil memegang tangan sang Raja.

Semua yang hadir terdiam, tidak mengerti apa yang Ayas lakukan, dan Rajapun kemudian bertanya padanya; Ayas, apa yang kau maksud…?” Tanya Sang Raja.

“Tadi paduka mengatakan apa yang hamba pegang akan menjadi milik hamba, maka hamba memilih memegang dan memiliki paduka dari pada benda-benda itu…., karena padukalah pemilik istana ini, padukalah pemilik kerajaan ini, maka ketika hamba memiliki paduka, hamba sudah merasa memiliki segalanya……..” Jawab Ayas.

“Waaah,hebat banget pikiran Ayas ya ki, dia tidak memilih emas, karena ia tahu,ia hanya akan memiliki emas saja, tidak yang lainnya, kalau ia memilih berlian, mungkin berlian saja yang akan ia punyai, tapi dengan memegan dan memilih sang Raja, maka Ayas telah memiliki semuanya, emas, perhiasaan, istana dan bahkan kerajaan dan isinya…, hebat ki…..” Kata Maula kagum.

“Nak Mas tahu tamsilnya….?” Tanya Ki Bijak.

“Emas, perhiasan, berlian dan bahkan istana adalah perlambang dunia ini ki…, ketika seseorang mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan dunia, mungkin dia akan mendapatkan dunia itu, dan hanya itu yang akan mereka dapatkan, dunia saja..”,

“Sementara ketika kita memilih untuk mengabdi kepada Allah dengan tulus ikhlas, maka kita akan mendapatkan sang pemilik perhiasan, sang pemilik emas, intan dan berlian dan bahkan sang dunia ini, artinya kita akan mendapatkan segalanya, kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat, bukan begitu ki….?” Kata Maula.
“Ya Nak Mas, ketika kita ‘memilih’ Allah, maka kita sudah memiliki segalanya……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula merenung sejenak, menapaki kembali bagaimana ibadahnya selama ini, ia merasa ada banyak ibadahnya yang masih bercampur dengan keinginan duniawinya, tahajudnya kadang masih bercampur dengan keinginan untuk kaya, dhuhanya kadang masih ingin yang lain selain Allah dan sebagainya, Astaghfirullah….., bathinya memohon ampun.

“Ki Ana malu pada si Ayas ini ki…..” Katanya kemudian.

“Ayas kan hanya sebuah cerita Nak Mas, kenapa mesti malu…?” Tanya Ki Bijak.

“Ayas benar, dan itu yang harusnya ana lakukan, mengabdi kepada Allah dengan keikhlasan….” Kata Maula tertahan.

“Ya Nak Mas, Akipun belum bisa seperti Ayas sepenuhnya, tapi setidaknya mari kita berusaha dan memohon kepada Allah untuk bisa mengabdi kepadaNya dengan ikhlas sesuai kehendakNya……..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, lalu apa lagi sifat luhur Ayas yang bisa kita pelajari ki…..” Tanya Maula beberapa saat kemudian.

“Diakhir cerita, sang raja makin menyayangi Ayas, hingga sekali lagi sang Raja menguji para abdinya dengan sebuah perintah untuk menghancurkan mahkota yang tengah dipakainya…”.

“Para pembesar saling pandang, tidak mengerti dan tidak berani untuk menghancurkan mahkota sang Raja, beda halnya dengan Ayas, ia maju kedepan, kemudian dia menyanggupi untuk menghancurkan mahkota sang raja, para pembesar lain tentu bingung sekaligus berharap Ayas akan dihukum akibat tindakan bodohnya itu……” Lanjut Ki Bijak.

“Lalu apa yang terjadi ki…?” Tanya Maula.

“Sang Raja kemudian bertanya kenapa Ayas berani menghancurkan mahkotanya, dan Ayas menjawab ‘ Paduka, mahkota ini hanya sebuah benda mati, dan sementara titah paduka jauh lebih luhur dan agung untuk hamba emban, daripada hamba takut kepada benda mati ini……., Jawab Ayas.

“Raja bertepuk tangan untuk Ayas, kalian dengan dan lihat sendiri seperti apa Ayas ini kan, Ayas sangat menjunjung tinggi perintahku, sementara kalian lebih menghormati benda, jadi wajar jika kemudian Aku menjadikannya abdi dalam istanaku ini…….” Kata Raja lagi.

“Para pembesar lainnya, hanya tertunduk malu dengan sikap dan polah mereka, mereka yang selama ini memandang Ayas dengan sebelah mata, ternyata salah, Ayas ternyata seorang abdi yang ikhlas, Ayas ternyata seorang abdi yang hanya memilih rajanya, dan Ayas adalah seorang abdi yang menjunjung tinggi perintah raja, sementara mereka selama ini mengabdi dengan penuh pamrih atas pangkat dan jabatan, mereka selama ini hanya mengharapkan perhiasan duniawi, dan mereka ternyata juga lebih menghormati benda daripada titah rajanya…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Ini juga tamsil bagi kita yang suka pilih-pilih perintah Allah ya ki, kita berbondong-bondong melaksanakan perintah kala perintah itu menguntungkan kita, sebaliknya kita akan cenderung mundur kebelakang ketika perintah itu kita anggap merugikan, kita lebih melihat perintah dari kacamata kita, bukan dari siapa yang memerintahkannya ya ki……” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, dan tidak akan ada satupun perintah Allah yang akan merugikan kita, tidak akan ada perintah Allah yang akan menjerumuskan kita, kita laksanakan saja perintahNya, insya Allah kita akan tahu hikmah yang sangat besar dari perintah itu…..” Kata Ki Bijak melengkapi.

“Iya ki…., semoga Ana bisa seperti Ayas ya ki…..” Kata Maula sambil pamitan.

Wassalam.

May 16,2010

Wednesday, May 5, 2010

BERDOALAH KEPADA_KU, NISCAYA AKU KABULKAN……..

“Ki; kemarin ana berbincang dengan seorang teman, dia mengatakan bahwa akhir-akhir ini ia agak ‘jenuh’ berdoa dan meminta kepada Allah……., katanya ia sudah banyak berdoa tapi hingga sekarang doa-doanya seperti tidak diijabah oleh Allah…..” Kata Maula menceritakan perbincangan dengan temannya beberapa waktu lalu

Ki Bijak menghela nafas panjang; “Tidak boleh seperti itu Nak Mas, kita tidak boleh merasa jenuh atau bosan untuk meminta kepada Allah, karena itu memang kewajiban kita, kita wajib meminta, sementara kapan dan dalam bentuk apa pengabulan permohonan kita kepada Allah, itu adalah hak prerogatif Allah……, jauh lebih baik kita berbaik sangka kepada Allah daripada kita berprasangka jelek pada Dzat yang Maha mengabulkan, itu sebuah kedzaliman Nak Mas….” Jawab Ki Bijak.

“Astaghfirullah….,kadang ana juga masih merasa seperti itu Ki, syukur alhamdulillah Aki selalu mengingatkan ana…, Ki, adakah hal-hal yang membuat Allah ‘menahan’ permohonan kita ki……?” Tanya Maula.

“Untuk menjawab ini, ada sebuah nasehat bijak dari Ibrahim bin Adham, yang beberapa waktu lalu kita perbincangkan Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Apa Nasehatnya ki…..?” Tanya Maula.

“Suatu ketika, beliau, Ibrahim bin Adham melewati sebuah keramaian; yang dalam beberapa literatur, beliau melewati sebuah pasar yang sedang ramai……” Kata Ki Bijak mulai menceritakan Ibrahim bin Adham yang terkenal zuhud dan wara’nya.

“Lalu ki……?” Tanya Maula penasaran.

“Lalu sama seperti dengan teman Nak Mas tadi, orang-orang dipasar itu mengadukan perihal doa-doa mereka yang seperti tidak dijawab oleh Allah……, Ibrahim bin adham diam sejenak sebelum memberi nasehat kepada pada pengunjung pasar tersebut….” Tutur Ki Bijak.

Maula menahan diri untuk tidak menuntut, meski ia sangat penasaran dan ingin segera mengetahui apa nasehat sang Alim berkenaan dengan ‘tertahannya’ doa dan permohonan seorang hamba.

“Ibrahim bin adham kemudian menjawab bahwa ada sepuluh hal yang dapat menyebabkan tertahannya doa dan permohonan seseorang, yang pertama; beliau mengatakan bahwa kita mengenal Allah, namun tidak menunaikan hak_Nya……” Kata Ki Bijak lagi.

“Kita mengenal Allah, tapi tidak menunaikan hak-hak_Nya ki….?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, kita mengenal Allah sebagai Dzat yang Maha Esa; dan hak Allah atas kita adalah wajib bagi kita untuk tidak menyekutukannya; tapi banyak dari kita yang justru menyetarakan Allah dengan mahluk atau berhala…”

“Kita mengenal Allah sebagai Dzat yang wajib kita sembah dan kita ibadahi, tapi kadang kita pengabdian kita kepada mahluk justru melebihi pengabdian dan penyembahan kita pada Allah…:

“Hal-hal yang semacam inilah yang kemudian menjadi hizab, menjadi sekat kita dengan Allah, sehingga kemudian doa-doa kitapun terhizab oleh ‘pelanggaran’ kita terhadap hak-hak Allah…….”Papar Ki Bijak.

“Ana mengerti ki……” Kata Maula.

“Coba Nak Mas buka surat Al Baqarah ayat 186; disana dengan jelas Allah menyatakan bahwa ‘Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku’….”Kata Ki Bijak lagi.

Dengan segera Maula membuka al qur’an;

186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

“Benar Ki, Allah akan mengabulkan setiap doa; dengan ‘syarat’ si pemohon memenuhi perintah_Nya dan beriman kepada Allah…….” Kata Maula setelah melihat ayat dimaksud.

“Yang kedua, hal yang sangat mungkin menjadi asbab tertundanya permohonan kita menurut nasehat Ibrahim bin adham adalah kita membaca al qur’a, tapi kita tidak mau mengamalkan isinya…..” Tutur Ki Bijak.

“Banyak diantara kita yang rajin baca qur’an,bacaanya fasih, murotalnya bagus, tapi sikap dan perilaku sebagian dari mereka justru bertolak belakang dari apa yang dibacanya……., qur’an mestinya dijadikan ‘imam’ dan rujukan dalam kehidupan kita, tapi tak jarang mereka yang pandai membaca al qur’an justru ‘memaksa’ al qur’an untuk mengikuti hawa nafsu mereka, hal ini juga salah satu asbab tertundanya doa-doa kita…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…..” Jawab Maula pendek.

“Hal ketiga, yang menjadi asbab tertundanya doa-doa kita adalah bahwa kita tahu iblis itu musuh kita,musuh yang nyata, namun masih banyak jejak langkah iblis yang justru menjadi rujukan ikutan kita, Nak Mas tahu sikap iblis yang masih banyak ditiru oleh sebagian kita….?” Tanya Ki Bijak.

“Ya Ki, sifat enggan dan sombong, yang kemudian menjadikan iblis mahluk terusir dari surganya Allah……” Kata Maula.

“Nak Mas benar, sifat enggan untuk melaksanakan perintah Allah, dan sikap sombong karena merasa diri lebih baik dari yang lain, adalah perangkap iblis yang ditebar sepanjang perjalanan hidup kita……, maka berhati-hatilah terhadapnya, karena sekali lagi, boleh jadi kesombongan kitalah yang ‘menahan’ karunia Allah kepada kita…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki……” Jawab Maula.

“Lalu hal keempat yang menurut Ibrahim bin adham dapat menjadi asbab tertundanya permohonan kita adalah kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi kita lebih sering meninggalkan ajaran dan sunnahnya dari pada melaksanakannya….”,

“Kita selalu punya dalih untuk tidak mengikuti apa yang Rasulullah contohkan, ada yang mengatakan ‘inikan hanya sunnah’, dan lain sebagainya, padahal tidaklah Rasul melakukan atau mengatakan sesuatu itu tanpa perintah dari Allah, maka dalam hemat Aki, sunnah bukan berarti tidak perlu dikerjakan,karena dibalik sunnah itu banyak sekali terdapat hikmah dan pelajaran yang luar biasa besar…., dan lagi, ketika kita meninggalkan ajaran dan sunnah rasul,sangat boleh jadi hal ini yang menunda terkabulnya doa dan permohonan kita…” Kata Ki Bijak lagi.

“Nak Mas mengerti sampai sini……?” Tanya Ki Bijak, demi melihat Maula sedemikian serius menyimak penuturannya.

“Iya ki, ana mengerti, ana juga melihat adalah ‘sedikit kesalah pahaman’ dari sebagian kita tentang bagaimana merealisasikan kecintaan kita pada Rasul, seperti adanya berbagai kegiatan seremonial yang katanya wujud dari kecintaan pada Rasul, tapi justru bertentangan dengan ajaran dan sunnahnya…….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, dan nasehat lain yang Ibrahim bin adham sampaikan kepada para pengunjung pasar ketika itu, dan juga sangat relevan untuk kita renungkan sekarang ini adalah bahwa kita ingin surga, tapi amal kita jauh dari amalan para calon ahli surga;

“Lemudian kita takut neraka; tapi dengan senang hati sebagian kita melakukan perbuatan para calon ahli neraka;

“Lalu kita tahu bahwa kematian pasti datang, tapi kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya;

“Dan kita lebih sibuk mencari aib orang lain, tapi cenderung melupakan cacat dan kekurangan kita sendiri;

“Kemudian lagi kita tahu setiap hari kita makan rezeki dari Allah, kita minum air dari Allah, kita berpijak dibumi Allah, kita dihangatkan dengan cahaya matahari Allah, kita menghirup udara Allah, semuanya dari Allah, tapi kita kerap lupa untuk mensyukurinya,

“Dan yang terakhir yang dinasehatkan oleh Ibrahim bin adham adalah bahwa kita sering mengantar jenazah, tapi kita tidak pernah menyadari bahwa suatu saat kelak, pasti kita akan mengalami hal yang sama, hari ini kita mengantar jenazah, besok lusa, jenazah kitalah akan diusung dan diantar oleh orang lain……” Papar Ki Bijak, menggenapi sepuluh nasehat Ibrahim bin Adham bagi para pengunjung pasar, dan bagi kita yang masih sering merasa bosan berdoa karena merasa tidak pernah dijawab oleh Allah.

“Jadi ketika doa kita belum dikabulkan, jangan bosan ya ki, tetap berdoa dan lebih bijak lagi kita tengok kedalam, adakah apa yang dinasehatkan Ibrahim bin Adham itu masih melekat pada kita…..” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, berdoa itu sama dengan ikhtiat lahir kita untuk menjemput rezeki dan karunia Allah, jadi tetap harus kita lakukan terus-menerus, karena sekali-kali Allah tidak akan pernah bosan mendengar doa-doa kita, Allah tidak akan repot dengan permohonan-permohonan kita, justru Allah akan murka kepada orang yang enggan bermohon padanya……” Kata ki Bijak sambil mengutip ayat ke 60 dari surat Al Mu’min;


60. Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".

[1326] yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-Ku.


“Iya ki, terima kasih ki…..” kata Maula sambil menyalami gurunya untuk pamitan.

Wassalam

May 05,2010