Tuesday, January 26, 2010

DARI POHON MANGGA


“Nak Mas lihat pohon mangga yang kemarin Nak Mas pangkas ujungnya ini……” Kata Ki Bijak sambil menunjukan pohon mangga didepan rumah.

Dengan segera Maula memperhatikan pohon yang dimaksud.

“Ada apa dengan pohon mangga ini ki….?” Tanya Maula sejurus kemudian.

“Nak Mas perhatikan daun-daun pohon mangga ini, ini adalah dedaunan baru setelah Nak Mas pangkas ujungnya beberapa waktu lalu……” Kata Ki Bijak lagi

“Iya Ki, dedaunan ini tumbuh lagi, dan justru sekarang nampak lebih rimbun dan sehat…..” Kata Maula sambil memperhatikan daun muda yang tampak tumbuh subur diantara dahan-dahan yang juga nampak bermunculan diantara batang pohon mangga.

“Nak Mas melihat ‘sesuatu’ dari tumbuhnya dedaunan dan dahan baru ini….?” Tanya Ki Bijak.

Maula diam sejenak….”Apa ya ki…?” Katanya Kemudian.

“Dalam kehidupan, kita sering kali mengalami berbagai hambatan, rintangan, atau bahkan tidak jarang kita bertemu dengan mereka yang ‘memotong’ jalan kita dengan berbagai alas an…….” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki…?” Tanya Maula lagi.

“Lalu ketika kita tidak siap, kita sering gagap dalam ketika jalan kita terpotong dengan tiba-tiba, tidak demikian halnya dengan mereka yang siap menghadapinya….” Kata Ki Bijak.

“Ana masih belum paham benar ki…..” Kata Maula lagi.

“Begini Nak Mas, secara fitrah setiap kita ingin hidup, tumbuh dan berkembang setinggi dan sebesar mungkin, hanya kadang keinginan kita itu terbentur pada suatu hal, sehingga kita tidak bisa mencapainya, misalnya seorang karaywan tentu bercita-cita dapat menduduki posisi tertinggi ditempat mana ia bekerja, seperti menjadi seorang manager…..,

“Tapi tidak semua orang bisa tiba diposisi yang diinginkannya….,mungkin karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut atau karena hal lainya……; seperti pohon mangga ini, secara alamiah, pohon ini akan tumbuh keatas……” Kata Ki Bijak.
Maula kembali memperhatikan pohon mangga didepannya;

“Orang lemah, akan mengalami depresi, frustasi, stress, patah arang atau bahkan kehilangan arah ketika tujuannya tidak tercapai…., sebaliknya orang bijak dan kuat, akan seperti pohon mangga ini, ketika pucuknya ditebang, pohon ini akan tetap tumbuh dan bahkan lebih berkembang dengan dahan-dahan baru yang bermunculan setelah ujungnya dipangkas……, orang bijak dan kuat, akan dengan secara mencari dan menemukan tempat, cara dan berbagai potensi lain yang ia miliki, untuk tetap tumbuh, berkembang dan menghasilkan…….., Nak Mas mengerti yang Aki maksud…..? ” Kata Ki Bijak.

“Ana mengerti ki…, ketika kita tidak bisa menjadi manager ditempat kerja kita, kita bisa berdagang, berwiraswasta, berternak, bercocok tanam, bertani, dan masih banyak jalan untuk meneruskan dan merajut kehidupan kita, bukan begitu ki…” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, hanya kadang cara pandang kebanyakan orang terlalu sempit, hanya tertuju pada satu jalan saja, sehingga mereka tidak dapat melihat berbagai jalan dan pintu yang Allah bentangkan didepannya…..” Kata Ki Bijak lagi, sambil mengajak Maula menuju serambi masjid lagi.

“Seperti Masjid ini Nak Mas, masjid ini memiliki banyak pintu, ada dipintu depan, pintu samping kiri dan samping kanan….., kita bisa memilih dari pintu mana kita masuk dan keluar, kita tidak perlu memaksa masuk atau keluar dari pintu yang terkunci…, karena kalaupun kita paksakan masuk atau keluar dari pintu yang terkunci, tenaga dan waktu yang kita perlukan untuk membuka pintu itu jauh lebih banyak daripada kita memilih pintu kiri atau kanan yang tidak terkunci…….” Kata Ki Bijak.

“Seperti pepatah mengatakan ‘banyak jalan menuju roma’ ya ki……” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, banyak jalan menuju roma, banyak jalan untuk menuju kebahagian, banyak jalan untuk menjemput rezeki Allah, banyak jalan menyongsong masa depan yang lebih baik, banyak jalan menuju puncak keberhasilan…., syaratnya kita tidak boleh putus asa, tidak boleh picik, tidak boleh berkecil hati, dan satu lagi,kita harus memiliki ‘akar’ yang kuat…..” Kata Ki Bijak.

“Kita harus memiliki akar yang kuat ki….?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, pohon mangga tadi, bisa tetap bertahan hidup, tumbuh, berkembang dan bahkan memiliki lebih banyak dahan dan ranting setelah ujungnya ditebang adalah karena pohon mangga itu masih memiliki akar, pohon mangga itu, niscaya akan mati dengan segera setelah ditebang, jika pohon itu tidak memiliki akar yang kuat….., dan akar yang kuat bagi kita sebagai manuasia adalah akidah yang kokoh, keyakinan yang kuat, keimanan yang teguh kepada Allah swt, kita harus beriman sepenuhnya bahwa apa yang telah, tengah dan akan terjadi pada kita, semuanya telah tertulis dalam kitab Allah….., kitapun mesti mengimani bahwa Allah tidak akan memberikan ujian yang melebihi kapasitas kemampuan kita, kita pun harus meyakini bahwa dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan…., keyakinan dan keimanan yang kokoh itulah yang akan mampu menopang kita untuk tetap bertahan hidup, tumbuh dan berkembang, meskipun kita menghadapi berbagai rintangan dan cobaan…….” Kata Ki Bijak lagi.

Maula manggut-manggut menyimak petuah gurunya;

“Nak Mas lihat gunung Ciremai itu….” Kata Ki Bijak sambil menunjuk kearah gunung Ciremai yang nampak tinggi menjulang dikejauhan.

Maula segera mengarahkan pandangannya kearah yang ditunjuk gurunya;

“Gunung itu nampak sangat tinggi dari sini, dan kalau kita hanya membayangkan ketinggiannya saja, niscaya kita akan takut…., tapi ketika kita kesana untuk mendakinya, niscaya kesulitan yang kita hadapi, jauh lebih ringan dari ketakutan yang kita bayangkan….., dan satu lagi, setinggi apapun gunung, pasti dibaliknya ada turunan yang melandai……..” papar Ki Bijak.

“Iya Ki……, kadang kita takut dengan bayang-bayang terlebih dahulu, sebelum kita tahu dan menjalani kondisi yang sebenarnya……..” Kata Maula.

“Ketakutan dan kecemasan memang bagian dari kita Nak Mas, dan sebaik-baik cara untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan itu, kita harus melihat dan menjalaninya dengan penuh keyakinan, dengan penuh kesabaran, dengan penuh kepasrahan kepada Allah swt…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki….., ana mengerti…..” Kata Maula sambil kembali memperhatikan pohon mangga didepan masjid, yang mengajarinya untuk tidak berputus asa ketika satu jalan tertutup, Maula kemudian memalingkan pandangannya pada pintu-pintu masjid yang banyak, yang mengajarinya untuk dapat memilih jalan dan pintu mana yang lebih maslahat, serta menatap gunung dikejauhan yang mengajarinya untuk tidak takut dengan ‘ketinggian’ dan rintangan….;

“Subhanallah betapa banyak ayat_Mu yang selama ini hamba abaikan ya Allah….” Maual berkata dalam hati.

Wassalam

January 2010.

Thursday, January 21, 2010

DARI IKAN, KITA BELAJAR

“Menurut Nak Mas, apa yang menarik dari ikan-ikan ini….?” Tanya Ki Bijak sambil memperhatikan ikan koi yang berwarna sangat indah.

Muala nampak lebih serius memperhatikan ikan yang ditunjukan gurunya, “Warnanya ki…, warna ikan ini sangat indah, merah menyala, serta putih keperakan, sungguh sebuah kesempurnaan ciptaan Allah swt……” kata Maula.

“Maha Suci Allah yang telah menciptakan ikan ini dengan segala keindahan dan hikmahnya……” Kata Ki Bijak lagi.

“Keindahan dan hikmah dari penciptaan ikan ki….?” Tanya Maula

“Benar Nak Mas, ikan ini indah, sangat menarik untuk dilihat, tapi dibalik keindahannya, juga menyimpan pelajaran yang sangat besar bagi mereka yang mau memperhatikanya……”Kata Ki Bijak lagi.

Maula masih diam, menunggu kelanjutan pelajaran dari gurunya.

“Hikmah atau pelajaran pertama dari ikan ini adalah keistiqomahannya untuk senantiasa hidup diair….., Nak Mas pernah lihat ikan naik kedarat….?” Tanya Ki Bijak.

“Tidak pernah ki….” Kata Maula pendek.

“Nak Mas tahu kenapa ikan tidak pernah naik kedarat…?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Karena ikan tidak bisa hidup tanpa air ki…..” Kata Maula.

“Benar…, ikan tidak akan bisa hidup tanpa air, selain juga karena ikan bisa mendapatkan segalanya diair, ikan mendapatkan makanan, ikan mendapatkan kebebasan, mendapatkan tempat untuk tumbuh dan berkembang, singkatnya ikan mendapatkan kehidupannya diair……..” Kata Ki Bijak.

“Lalu Ki…..?’ Kata Maula penasaran.

“Jika ikan tidak bisa hidup tanpa air, maka kita yang mengaku sebagai orang Islam, tidak akan bisa hidup tanpa al qur’an dan sunnah Rasul_Nya…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Orang islam tidak bisa ‘hidup’ tanpa al qur’an dan sunnah Rasul_Nya..? Kenapa Ki….?’ Tanya Maula.

“Karena al qur’an dan sunnah adalah ‘air kehidupan’ bagi kita…..maka barangsiapa yang istiqomah untuk menjalani kehidupannya dalam lingkungan al qur’an dan sunnah, insya Allah ia akan hidup, tumbuh dan berkembang dengan baik……..”

“Sebaliknya, barang siapa yang meninggalkan al qur’an dan sunnah, maka ia layaknya ikan yang meninggalkan air sebagai tempat dan habitat hidupnya, orang semacam ini niscaya akan mengalami ‘kematian’ dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama……” Papar Ki Bijak.

Tak pelak Maula segera memperhatikan ikan-ikan itu lagi, ia membayangkan betapa menderitanya ikan-ikan ini ketika ikan tidak berada dalam air, jangankan ikan koi yang sekecil ini, ikan hiu yang terganas sekalipun, atau ikan paus sebesar apapun, niscaya mereka akan mengalami kematian jika mereka meninggalkan air.

“Nak Mas mengerti yang Aki maksudkan…..?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki……, terlepas dari jenis ikan apapun, yang namanya ikan, pasti harus hidup diair, kalau tidak, maka ikan itu akan mati…..” Kata Maula.

“Pun dengan kita yang mengaku orang Islam, terlepas dari siapapun, dimanapun, kapanpun, jabatan apapun yang disandangnya, posisi apapun yang didudukinya, title dan gelar apapun yang diraihnya, ketika mereka menjauh dari al qur’an, niscaya mereka akan mengalami ‘kematian dini’…..” Kata Ki Bijak.

“Sedemikian penting arti dan peran al qur’an dan sunnah bagi kehidupan seorang muslim ya ki…..?” Kata Maula.

“Bahkan teramat penting Nak Mas, karena al qur’an adalah ‘ruh’ bagi kehidupan itu sendiri….” Kata Ki Bijak.

“Al Qur’an sebagai ruh kehidupan ki…?” Tanya Maula.

“Nak Mas perhatikan surat As-syura; 42.52 ini…..” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an;


52. Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu ruh/wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

“Allah mensifati Al qur’an sebagai ruh, dan sebagaimana jasad ini yang hanya akan bergerak, yang hanya akan hidup dengan adanya ruh didalamnya, maka al qur’an adalah ruh bagi jiwa kita, bagi bathin kita, bagi hati kita untuk ‘hidup penuh makna’ dengan mengenal siapa Rabbnya, agar kita bisa mengabdi kepada Allah dengan ilmu dan bashirah, bertakwa dan bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dengan penuh cinta, dengan rasa takut dan takjub dengan penuh keikhlasan, dan ini hanya mungkin dilakukan oleh hati yang hidup, hati yang didalamnya ada ruh al qur’an……” Tambah Ki Bijak.

Maula manggut-manggut menyimak penuturan gurunya;

“Selain itu, kenapa kita harus senantiasa hidup dalam naungan al qur’an dan sunah adalah karena al qur’an adalah petunjuk jalan menuju keselamatan, menuju kemenangan, menuju ridha Allah swt………” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat pertama dan kedua dari surat Al Baqarah;


1. Alif laam miin[10].
2. Kitab[11] (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[12],

“Alangkah nekatnya seseorang yang menjalani kehidupannya tanpa sebuah petunjuk yang pasti, sekalipun mata mereka terbuka, sekalipun telinga mereka mendengar, mereka yang menjalani kehidupannya tanpa petunjuk yang jelas, niscaya mereka akan kebingungan kearah mana mereka harus menuju, menjalani kehidupan tanpa petunjuk al qur’an adalah sebuah kebodohan terbesar dalam kehidupan seseorang……” kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki…ana mengerti, kadang ana juga merasa aneh, banyak orang berdoa; ya allah tunjuki kami jalan yang lurus’, tapi mereka sama sekali tidak pernah membaca dan mempelajari al qur’an, padahal disanalah petunjuk jalan lurus itu ya ki….” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula, “Semoga kita dijadikan Allah kedalam kelompok orang yang senantiasa membaca dan mempelajari al qur’an ya Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Kemudian, alas an lain kenapa kita selaku muslim harus senantiasa berdampingan dan sejalan dengan al qur;an adalah karena al qur’an adalah cahaya, penerangan dalam gelapnya gulita kehidupan, sebagaimana ayat 52 surat As-syura tadi; ……..tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami….’.

“Nak Mas pernah berjalan ditempat asing dalam keadaan gelap gulita tanpa cahaya dan penerangan apapun….? Tanya Ki Bijak kemudian.

“Pernah Ki, ketika disekolah dulu, dalam kegiatan pramuka, kami disuruh untuk menjelajah didaerah asing yang gelap gulita, sangat gelap, sehingga banyak diantara kami yang kakinya luka karena terantuk bebatuan atau akar pohon yang tidak kelihatan…….” Kata Maula.

“Tidak berlebihan rasanya kalau Aki mengibaratkan orang Islam yang menjalani kehidupannya tanpa al qur’an dan sunnah seperti orang yang berjalan didalam gelap gulita tanpa penerangan sama sekali, sangat berbahaya….., dia sangat mungkin terantuk kerikil kehidupan disepanjang jalan, dia sangat mungkin tersandung, dia sangat mungkin tersesat,dan bahkan dia sangat mungkin masuk jurang kehancuran karena kenekatannya menjalani hidup tanpa cahaya al qur’an…….” Kata Ki Bijak lagi.

Maula meresapi penuturan gurunya, “Iya ya ki….nekat sekali orang islam yang menjalani kehidupannya tanpa al qur’an……” Kata Maula.

“Selain sebagai ruh, sebagai petunjuk, dan sebagai cahaya, adakah fungsi lain dari al qur’an bagi keselamatan hidup kita ki….?” Tanya Maula.

“Dengan Al qur’an kita hidup, dengan al qur’an kita mendapat petunjuk, dengan al qur’an kita mendapatkan cahaya, dengan al qur’an pula kita bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, sebagaimana Allah menyifati al Qur’an sebagai al furqan, sebagai pembeda seperti dalam salah firman_Nya dalam Surat An Anfal:29;

29. Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu Furqaan[607]. dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.

[607] artinya: petunjuk yang dapat membedakan antara yang Haq dan yang batil, dapat juga diartikan disini sebagai pertolongan.

“Dunia ini penuh dengan warna-warni yang beragam, dunia ini penuh tipu muslihat yang mengecoh, mata dhahir kitas lebih sering tertipu dan tidak dapat membedakan mana haq dan mana yang bathil, hanya dengan al qur’anlah keremangan itu menjadi jelas dan nyata sehingga kita tidak terjebak kedalam kesalahan karena kebodohan kita….” Tambah Ki Bijak.

“Ana mengerti ki……” Kata Maula.

“Alas an lain kenapa kita harus hidup dengan dan didalam lingkungan al qur;an adalah karena al qur’an adalah dialah (al qur’an) yang dijadikan Allah sebagai penawar, sebagai obat, sebagai penyembuh dari berbagai penyakit yang ada didalam dada……; kalau sekarang ini banyak orang depresi, banyak orang frustasi, banyak orang stress, bahkan tidak jarang orang yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, salah satu faktornya menurut hemat Aki adalah karena kejauhan mereka kepada Al Qur’an….., sementara Allah dengan jelas mengajarkan kepada kita bahwa Al qur’anlah penawar segala depresi, segala stress, segala kegundahan…….” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an Surat Yunus ayat 57;

57. Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

“Iya Ki…., Maha Suci Allah yang telah menurunkan al qur’an; ya Allah jangan pernah palingkan hamba dari Al qur’an, jadikanlah Al Qur’an sebagai ruh dalam setiap gerak kehidupan hamba, jadikan al qur;an dan sunnah rasul_Mu sebagai satu-satunya petunjuk langkah hamba, jadikan cahaya al qur’an sebagai penerang jalan hamba, jadikan al qur’an sebagai pembeda bagi hamba, dan jadikan al qur;an sebagai penawar dari segala penyakit dan duka hamba, ya Rahman hanya kepada_Mu hamba menyembah, dan hanya kepada_Mu hamba mohon pertolongan……,amiin…..” Maula memanjatkan doa.

“Amiiin….” Ki Bijak mengamini.

Wassalam

Januari 2010

Monday, January 4, 2010

BERFIKIR SEJENAK, SEBELUM BERTINDAK

“Setidaknya ada beberapa hal yang menurut Aki tidak pada tempatnya yang kerap terjadi disetiap pergantian tahun baru seperti beberapa hari kedepan ini Nak Mas……” Kata Ki Bijak.

“Hal apa saja itu ki….?” Tanya Maula.

“Pertama; bertambahnya bilangan tahun, artinya umur kita juga bertambah, artinya lagi jatah hidup kita berkurang, artinya lagi saat ‘kepulangan’ kita kekampung akhirat semakin dekat….., dan tidaklah pada tempatnya ketika saat seperti ini justru ‘rayakan’ dengan cara yang sangat berlebihan…….”

“Mungkin Aki yang ‘kuno’ kalau Aki mengatakan bahwa pesta kembang api dimalam tahun baru adalah sebuah kemudharatan, pemborosan, dan sama sekali tidak menunjukan kedewasan kita dalam menyikapi hidup….., uang puluhan juta yang dihambur-hamburkan untuk pesta kembang api tersebut akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk kepentingan rakyat……”,

“Masih banyak saudara kita yang dimalam tahun baru kedinginan, masih banyak saudara kita yang dimalam tahun baru kelaparan, masih banyak saudara kita yang dimalam tahun baru menahan kesedihan, mereka yang rumahnya terbakar, mereka yang hartanya hanyut karena banjir, mereka yang tidak ‘seberuntung kita’ yang memerlukan bantuan dan uluran tangan kita, tidakkah kita memiliki sedikit empati untuk setidaknya tidak menyakiti perasaan mereka dengan menghamburkan uang untuk hal-hal yang mubazir…..?” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Iya ki, bahkan tak jarang gemerlapnya tahun baru itu dirayakan ditengah penderitaan, seperti ketika tsunami Aceh terjadi tanggal 26 Desember, seminggu kemudian orang-orang bersorak girang, bertepuk tangan, menghamburkan uang untuk foya-foya, sementara saudaranya diAceh sana merintih menahan derita…..sungguh sebuah ironi…….” Tambah Maula.

“Makanya Aki kurang setuju kalau Nak Mas ikut-ikutan merayakan tahun baru seperti kebanyakan orang……” Kata Ki Bijak lagi.

“Alhamdulillah Ki, sampai dengan seusia ini, ana belum pernah merayakan tahun baru, bahkan sekedar membeli terompetpun tidak pernah, lagi pula tahun baru ini kan bukan tahun baru umat Islam ya ki, kenapa justru orang islam yang pada ribet merayakannya….?” Kata Maula lagi.

“Benar Nak Mas, itu hal yang kedua yang menurut Aki tidak pada tempatnya, kenapa orang islam merayakan hari raya umat lain…..?, disini kita harus berhati-hati, karena sangat mungkin hal ini akan menjadi perangkap bagi kita…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Perangkap Ki…..?” Tanya Ki Bijak.

“Benar Nak Mas, Nak Mas perhatikan ayat ke 120 dalam surat Al Baqarah ini…..” Kata Ki Bijak sambil memperlihatkan ayat dimaksud;

120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.


Dengan segera Maula menyimak ayat tersebut dengan seksama;

“Mudah-mudahan Aki tidak berlebihan jika Aki mengatakan bahwa perayaan tahun baru seperti tahun yang sudah-sudah itu, adalah bagian dari scenario besar yang memang telah disiapkan oleh mereka yang berseberangan dengan akidah kita, Nak Mas masih ingat dengan diskusi kita mengenai Ghaswul Fikr….?” Tanya Ki Bijak, tanpa menunggu Maula yang masih mengamati ayat al qur’an

“Iya Ki…..; Ghaswul berasal dari kata Ghuswah yang berarti Serangan, invasi atau serbuan, sementara Fikr adalah Pikiran atau pola pikir, dengan demikian Ghaswul Fikr biasa didefinisikan dengan Penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam guna merubah apa yang ada didalamnya sehingga tidak bisa lagi dibedakan antara Islam dan selainnya, metode yang mereka gunakan biasanya dikenal dengan Tasykik; yakni Pendangkalan / Peragu-raguan, baik itu pendangkalan akidah, pendangkalan pemahaman hukum dan syariat serta pendangkalan pemahaman terhadap berbagai aktivitas ibadah umat Islam…..” Kata Muala.

“Lalu ….?” Tanya Ki Bijak mengetes daya ingat Maula.

“Lalu yang kedua; Tasywih – Pencemaran/Pelecehan, yang ketiga Tadhlil – penyesatan dan yang Keempat adalah metode Taghrib – Pembaratan…..” Lanjut Maula.

“Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi dalam perayaan tahun baru; pertama, tahun baru ini adalah klaim sebuah umat atas kelahiran Nabi Isa yang mereka nisbatkan sebagai Tuhan, sementara Islam dengan tegas menyatakan bahwa Isa As adalah seorang Nabiyullah, bukan Tuhan seperti anggapan mereka, bukankah ini sebuah ‘serangan’ atas akidah umat kita yang diarahkan untuk mengakui Nabi Isa sebagai tuhan, bukankah ini sebuah pendangkalan akidah,bukankan ini salah satu tujuan ghaswul fikri tadi Nak Mas…?” Tanya Maula.

“Astaghfirullah…….benar ki, ada muatan yang tersembunyi untuk menggelincirkan umat ini dari rel akidah yang sebenarnya….” Maula mulai menyadari.

“Sebenarnya ‘muatan itu’ dalam hemat Aki sangat jelas, hanya kita yang tidak mau melihatnya dengan jernih, ini masalah umat yang harus kita luruskan bersama…..” Kata Ki Bijak lagi.
“Iya ki…, belum lagi kalau dilihat dari berbagai kegiatan yang dilakukan, semuanya kebarat-baratan banget, mulai pakaian, makanan dan minuman, bahkan tidak jarang malam pergantian tahun ini dijadikan momen ‘penghalal’ berbagai kegiatan maksiat, mabuk, madon dan lainnya…..” Kata Maula.

“Sekarang jelaslah sudah bahwa disamping dimendatangkan manfaat, perayaan tahun baru sangat-sangat beresiko bagai kesemalatan akidah kita, jadi sekali lagi, Nak Mas jangan ikut-ikutan, pun dengan keluarga Nak Mas, berikan pemahaman mereka bahwa tahun baru ini bukan sesuatu yang harus dirayakan, syukur kalau Nak Mas bisa member pemahaman kepada rekan dan lingkungan terdekat Nak Mas….”Kata Ki Bijak lagi.

“Insya Allah ki…………….” Kata Maula sambil pamitan.

Wassalam

December 30,2009
LAGI; SEBUAH NASEHAT YANG BERNAMA KEMATIAN

"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"……………..” Kata Muala dan Ki Bijak hampir bersamaan, demi mendengar berita wafatnya salah satu tokoh dinegeri ini.

“Cepat sekali ya ki…” Kata Maula

“Apanya yang cepat Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak.

“Sebelumnya ana sama sekali tidak mengenal beliau, tiba-tiba ditahun 1999 beliau muncul dan menjadi presiden hingga tahun 2001, dan sekarang, beliau wafat….sepuluh tahun rasanya demikian cepat…..” Kata Maula.

“Memang benar Nak Mas,waktu satu tahun, sepuluh tahun atau bahkan tujuh puluh tahun jatah umur yang diberikan kepada kita adalah waktu yang teramat singkat, maka akan merugilah mereka yang tidak menggunakan waktunya dengan baik, karena waktu tidak mungkin menunggu kita, karena tidak mungkin umur kita akan bertambah jika kita berleha-leha, karena tidak mungkin kematian akan menjauh sekalipun kita berlari menghindarinya, saat itu, saat kematian, pasti akan datang pada siapapun, jika hari ini Gus Dur dipanggil pulang, entah esok atau lusa, giliran kitapun pasti kan tiba…..” Kata Ki Bijak.

“Iya Ki, beliau meninggalkan demikian banyak cerita ditengah kita sepanjang kiprahnya, ada yang pro, pun ada yang kontra…..” Kata Ki Bijak.

“Setiap orang, pasti memiliki dua sisi, layaknya purnama yang memancarkan cahaya benderang dilintasan bumi yang dilaluinya, sementara dibelahan bumi lain, mungkin mengalami gulita, pun dengan kita, pun dengan Gus Dur, beliau mungkin akan laksana purnama yang memancarkan sinar terang bagi mereka yang sejalan dengan ide dan pemikirannya, tapi akan meninggalkan beribu tanda tanya pada mereka yang ‘membelakangi’ atau berseberangan dengan beliau, tapi itulah romantikanya, kita harus bisa menyikapinya sebagai sebuah ayat dan tanda kebesaran Allah yang telah menciptakan manusia dengan beragam karakter, dengan beragam type, dengan beragam kelebihan, dengan beragama kekurangan pula, semuanya menuntun kita pada satu titik, yaitu kebesaran Allah Yang Maha Menciptakan…….” Kata Ki Bijak.

“Ki..masih terngiang ditelinga ana nasehat Aki tentang kematian, tentang Dzikrul Maut, kalau Aki berkenan, ana ingin Aki mengulang nasehat mengenai hal ini lagi ki…………….” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang; “Setiap mahluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, tak peduli siapapun ia, pakah ia seorang presiden atau hanya seorang pengamen, apakah ia seorang raja, atau hanya rakyat jelata, laki-laki, perempuan, tua-muda, anak-anak atau bahkan bayi yang baru dilahirkanpun bisa meninggal, hanya kita tidak tahu kapan dan dimana saat kematian kita itu akan datang…..” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat ke 34 dari surat Lukman;

34. Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

[1187] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.


“Salah satu hikmah dirahasiakannya saat dan tempat dimana kita akan mati adalah agar kita senantiasa bersiap menyambut kedatangannya, agar kita senantiasa berusaha untuk mati dalam keadaan husnul khotimah, karena bagi kita selaku orang beriman, kematian bukanlah akhir dari segalanya, kematian ‘hanyalah’ gerbang untuk memasuki kehidupan abadi dinegeri akhirat, setelah sebelumnya kita ‘transit’ dialam barzah hingga kiamat tiba……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula diam, mentafakuri setiap untaian kata dari gurunya;

“Allah menggambarkan dengan indah bagaimana akhir kehidupan dunia ini dan kehidupan setelahnya, yakni kehidupan akhirat dalam surah Al Haqqah…..;


13. Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup[1507]
14. Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.
15. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat,
16. Dan terbelahlah langit, Karena pada hari itu langit menjadi lemah.
17. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.
18. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).

[1507] Maksudnya: ialah tiupan yang pertama yang pada waktu itu alam semesta menjadi hancur.


“Dan setelah kejadian itu, akan ada dua golongan besar manusia dihadapan Allah, yaitu mereka yang menerima kitab catatan amalnya ditangan kanan, dan mereka yang menerima catatan amalnya ditangan kiri……………” Kata Ki Bijak lagi.

“Mereka yang mendapatkan kitab catatan amalnya ditangan sebelah kanan, adalah mereka yang akan memdapatkan kehidupan akhirat yang diridhai, berada disurga yang tinggi dengan segala fasilitas kenikmatan yang tiada banding dari Allah swt……”

“Sementara mereka yang menerima catatan amalnya ditangan sebelah kiri, adalah mereka yang akan menyesali kelalaiannya dalam memanfaatkan jatah umurnya didunia, sebagaimana Allah gambarkan dalam lanjutan surat Al Haqqah…;

25. Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, Maka dia berkata: "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).
26. Dan Aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.
27. Wahai kiranya kematian Itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.
28. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.
29. Telah hilang kekuasaanku daripadaku."


“Dan tiada lain balasan bagi mereka selain siksa Allah yang sangat pedih tiada terperi……..” Lanjut Ki Bijak sambil meneruskan jenis penderitaan yang akan dialami mereka yang menerima catatan amalnya ditangan kiri;

30. (Allah berfirman): "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.
31. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.
32. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.
33. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Maha besar.
34. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.
35. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari Ini di sini.
36. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.
37. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.

“Ana jadi merinding mendengarnya Ki……” Kata Maula

“Karenanya, mumpung kita masih diberi kesempatan hidup oleh Allah; pergunakanlah waktu yang kita miliki sebaik mungkin, semata untuk mengabdi kepada Allah, agar kelak…., ketika saat kematian menghampiri kita, kita sudah memiliki bekal untuk perjalanan panjang yang abadi diakhirat kelak……….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki…..ya Allah berikan hamba kemampuan untuk senantiasa beribadah dan mengabdi kepada_Mu sepanjang sisa umur hamba…, ya Allah..,jangan pernah langkahkan kaki ini lagi tanpa bimbingan_Mu, jangan pernah ayunkan tangan ini tanpa petunjuk_Mu……, Ya Rabb..,hanya kepada_Mu hamba mengabdi, dan hanya kepada_Mu hamba mohon pertolongan, jadikanlah akhir hidup hamba kelak akhir hidup yang khusnus khotimah…..amiiiin…” Maula memanjatkan doa kepada Allah swt.

“Amiiiiin…..” Ki Bijak mengamini.

Wassalam

December 31, 2009

Monday, December 7, 2009

‘PAH…ALLAH TIDUR NDAK…?”

“Aneh ya ki…..” Kata Maula

“Apa yang aneh Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak

“Itu ki. Ada seorang nenek yang ‘mencuri’tiga buah kakao, ditahan selama 3 bulan, sebelum akhirnya divonis 1.5 bulan kurangan, kemudian ada orang yang ‘mencuri’ semangk untuk sekedar mengisi perutnya juga ditahan, sementara mereka yang mencuri uang rakyat milyaran rupiah, masih berkeliaran bebas, seakan tak tersentuh hukum, dunia ini memang tidak adil ya ki…..” Kata Maula, membandingkan kasus seorang nenek dengan para tersangka koruptor yang sedang marak diberbagai media.

“Itulah hukum dunia Nak Mas, hukum atau keputusan yang dibuat manusia, pasti jauh dari kata sempurna, karena cenderung subjektif, temporer, dan memihak untuk kepentingan atau orang tertentu……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki…,dan terakhir, kasus pencemaran nama baik yang melibatkan seorang ibu rumah tangga bersahaja, yang akhirnya harus menerima kenyataan vonis bersalah dan dinyatakan kalah oleh pengadilan…., keadilan seolah hanya menjadi milik mereka yang memiliki uang atau kekuasaan saja…..” kata Maula menambahkan

“Dari sini sebenarnya kita bisa belajar sesuatu Nak Mas….” Tambah Ki Bijak.

“Belajar apa ki….?” Tanya Maula.

“Coba kita buat pertanyaan sederhana untuk contoh kita kali ini Nak Mas; kalau ada orang jahat tidak bisa dijerat dengan hukum dunia dan tidak mendapat hukuman setimpal, dimana dan dengan hukum apa ia akan mendapatkan balasan…..?”

“Jika ada orang benar yang kemudian dihukum bukan atas dasar kesalahannya, dimana ia akan mendapat keadilan…..?”

“Jika hukum manusia cenderung subjektif, temporer, memihak dan tidak sempurna, lalu hukum siapakah yang paling sempurna…?”

“Jika keputusan yang dibuat manusia itu tidak adil, lalu keputusan siapa yang paling adil…..? Tanya Ki Bijak.

Maula masih diam, menyimak pertanyaan-pertanyaan yang dibuat Ki Bijak.

“Secara logika, secara rasional, pertanyaan-pertanyaan tadi akan mengarahkan kita pada satu pemikiran bahwa jika dunia ini ‘tidak adil’, ‘jika dunia ini cenderung memihak’, maka harus ada saat dan tempat dimana keadilan itu akan didapat oleh setiap orang, yang bersalah akan mendapat hukuman atas kesalahannya, yang benar akan mendapat pahala atas kebaikannya, dan kita sebagai orang beriman, meyakini bahwa saat dan tempat untuk mendapatkan keadilan hakiki itu adalah dikehidupan akhirat kelak….., dalam bahasa sederhana, pertanyaan tadi harusnya menuntun kita untuk lebih meyakini kebenaran atas keberadaan alam akhirat dan hari pembalasan yang selama ini kita yakini…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ya ki, sebenarnya mudah untuk ‘meyakini’ bahwa akhirat itu ada, bahwa hari pembalasan itu ada, tapi kenapa masih banyak orang yang meragukan atau bahkan sama sekali tidak mau menyakini keberadaan hari pembalasan ya ki….?” Kata Maula.

“Menurut hemat Aki, mereka yang tidak mau mengakui keberadaan hari pembalasan itu bukan karena mereka tidak tahu, tapi lebih karena kuatnya kesombongan yang bercokol dalam hatinya, meski secara fitrah mereka mengetahuinya…..”,

“Kesombonganlah yang kemudian menutup mata hati mereka untuk melihat adanya hari akhirat dengan jelas, kesombonganlah yang kemudian membuat mereka beranggapan kalau pun Allah itu ada, Allah bisa saja lalai, Allah bisa saja tidak melihat, atau ada yang beranggapan Allah itu mengantuk atau tertidur….., padahal Dia-lah Allah, Dzat yang Maha mengetahui, tidak menimpa_Nya rasa kantuk atau tidur, kekuasaan_Nya meliputi bumi dan langit dan seterusnya……” kata Ki Bijak, sambil mengutip ayat al qur’an;

255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

[161] Kursi dalam ayat Ini oleh sebagian Mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaan-Nya.


“Ana jadi teringat pertanyaan Ade ki…..” Kata Maula.

“Apa pertanyaan anak pintar itu Nak Mas…?’ Tanya Ki Bijak.

“Kemarin Ade bertanya; “Pah Allah tidur Ndak…’, ketika itu Ade melihat orang sedang tidur dimasjid…” Kata Maula.

“Subhanallah…, sebuah pertanyaan yang sangat pintar Nak Mas, dan pertanyaan seperti itu mestinya menjadi pertanyaan kita orang yang secara lahir dan bathin lebih dewasa dari Ade, sehingga dengan senantiasa bertanya seperti itu, kita akan memiliki filter yang akan menyaring setiap bisikan dari dalam diri kita, misalnya ketika nafsu mendorong kita untuk melukakan perbuatan yang tidak terpuji…..” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki…..?” Tanya Maula masih penasaran.

“Kesadaran dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah tidur, Allah tidak pernah mengantuk, Allah tidak pernah lalai, Allah Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, merupakan serangkaian filter bagi kita untuk tidak melakukan perbuatan yang melanggar aturan Allah sekecil apapun, karena kita meyakini tidak ada tempat, tidak ada waktu, tidak ada ruang, tidak ada hal apapun yang lepas dari pengawasan Allah…, dengan keyakinan dan kesadaran seperti inilah insya Allah kita akan selamat dari bujuk rayu setan yang menunggangi nafsu kita……” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, hanya orang yang buta mata hatinya saja yang akan beranggapan Allah tidur, hanya mereka yang membatu hatinya saja yang akan beranggapan Allah tidak melihat, hanya mereka yang hatinya telah mati saja yang beranggapan tidak akan ada pembalasan diakhirat kelak ya ki…..” Kata Maula.

“Itulah salah satu alas an kenapa hati memiliki peran penting dalam setiap aspek kehidupan kita, karena dari hatilah semua berpangkal, baik hati kita, insya Allah baik pula seluruh aspek kehidupan kita, sebaliknya, hati yang buta,yang sakit atau apalagi hati yang mati, akan melahirkan berbagai kejahatan dan kerusakan dalam setiap aspek kehidupan sipenderitanya……” Kata Ki Bijak lagi.

“iya ki, semoga dengan segala keterbatasannya, para pengadil itu bisa membuka mata, membuka telinga dan membuka hati mereka, bahwa apa yang mereka putuskan dalam satu perkara, akan dimintakan pertanggung jawabannya diakhirat kelak, semoga mereka yang ‘bersalah’, tapi kemudian terbebas dari hukum dunia, akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah, dan semoga pula mereka yang ‘tidak bersalah’, tapi harus menerima ketidakadilan hukum dunia, Allah member kesabaran dan balasan yang paling adil dari swt……” Kata Maula.

“Amiin…”Balas Ki Bijak.

Wassalam;

Desember 06,2009

Wednesday, November 25, 2009

MARI BERQUR’BAN

“Ada perbedaan mendasar dari pola fikir umat dizaman Rasul dengan umat dizaman kita sekarang ini Nak Mas, jika umat terdahulu berlomba-lomba mencari tahu sunnah Nabi untuk mengikuti dan melaksanakannya, dizaman kita sekarang ini, orang berlomba-lomba mencari dalil sunnah, agar mereka bisa berkilah untuk tidak melaksanakannya, dengan alas an bahwa amalan itu sekedar sunnah, termasuk dalam hal qur’ban, betapa banyak orang yang sebenarnya mampu melaksanakannya, tapi mereka tidak melakukan qurban dengan dalih bahwa itu sunnah…..” Kata Ki Bijak, mengawali perbincangan seputar qur’ban.

“Iya ki…., padahal kalau dihitung-hitung, kalau kita menabung sehari Rp.5000 saja, dikali 365 hari dalam setahun, akan terkumpul sekitar 1,825,000, cukup untuk membeli seekor kambing qurban yang sekarang ini harganya sekitar 1,500,000 ribu, jauh lebih sedikit dari pengeluaran untuk membeli sebungkus rokok, yang mungkin lebih dari Rp.10000 per bungkusnya……” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, jauh lebih kecil dibandingkan dengan uang yang dihabiskan untuk membeli rokok; permasalahannya bukan hanya terletak dari mampu tidaknya seseorang menabung uang untuk berqurban; tapi bagaimana cara pandang orang tersebut terhadap perintah Allah melalui sunnah Rasul_Nya, selama mereka berfikir bahwa berqur’an itu hanya ‘sunnah’, maka niat dan kemauan itu tidak akan terpupuk dengan baik…..”Kata Ki Bijak.

“Benar Ki, padahal tidaklah Rasul melakukan sesuatu itu atas perintah Allah dan pasti ada selaksa hikmah dari apa yang Rasul contohkan tersebut ya ki…..” Kata Maula.

“Esensi qur’ban adalah ketaatan secara total kepada Allah Nak Mas, bukan sekedar menyembelih hewan qurban dan kemudian membagi-bagikannya, lebih dari itu, pelaksanaan qurban merupakan cerminan totalitas pengabdian seorang hamba kepada khaliqnya……..” Kata Ki Bijak.

Maula masih diam, meresapi apa yang diwejangkan gurunya;

“Nak Mas ingat kisah Nabi Ibrahim yang diuji Allah untuk mengorbankan putranya Nabi Ismail….?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki….., Al qur’an menceritakan kisah ini dalam Surat As-shaffat;

101. Maka kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar[1283].

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

103. Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).

104. Dan kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,

105. Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu[1284] Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

106. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

107. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar[1285].

108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian,

109. (yaitu)"Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".

[1283] yang dimaksud ialah nabi Ismail a.s.

[1284] yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksana- kannya.

[1285] sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s. Maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). peristiwa Ini menjadi dasar disyariatkannya qurban yang dilakukan pada hari raya haji.

“Nak Mas benar, ayat 101 hingga 109 ini menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim diuji Allah untuk mengorbankan putranya Ismail, bisa kita bayangkan, anak yang sekian lama dinanti, dan kemudian terlahir sebagai anak yang cakap, cerdas dan tampan, tiba-tiba harus dikorbankan…, betapa berat ujian ini, dan hanya orang-orang yang benar-benar memiliki keimanan dan keyakinan yang sempurna sajalah yang akan bisa melaksanakannya….., hanya orang yang memiliki totalitas pengabdian kepada Allah sajalah yang akan mampu melaksanakannya, dan inilah yang dituntut Allah dari kita, totalitas pengabdian kita kepada Allah swt, bukan darah atau daging qurbannya…..” Kata Ki Bijak

“Iya ki, lagi pula kita tidak diminta untuk mengorbankan anak kita sebagaimana Nabi Ibrahim, hanya seekor kambing, yang harganya relative terjangkau……” Kata Maula.

“Ki, bagaimana caranya kita bisa menggugah saudara-saudara kita yang mampu, tapi belum melaksanakan qur’an ya ki….?” Tanya Maula kemudian.

“Pertama mungkin kita bisa memulainya dengan memberikan pemahaman bahwa sunnah, bukan berarti untuk ditinggalkan, keberadaan sunnah justru untuk mendukung ibadah fardhu kita sehingga menjadi paripurna…, sementara ini ada persepsi yang sedikit keliru, aah ini mah sunnah, aah ini sih tidak wajib, sehingga keberadaan sunnah baginda Rasul ditengah kehidupan kita sekarang ini sedikit meluntur…..” Kata Ki Bijak.

“Kemudian yang kedua, beragama adalah sebuah konsekuensi, beragama berarti kita terikat dan mengikatkan diri dengan apa yang ditetapkan dan disyariatkan agama kita, beragama artinya harus total, jika agama melarang satu hal, secara total kita harus melaksankannya, pun ketika agama memerintahkan kita, baik itu yang wajib maupun sunnah, sedapat mungkin kita melakukannya…., jangan kemudian kita tebang pilih, jika aturan agama itu sekiranya menguntungkan kita, kita ikut, sebaliknya ketika aturan itu kita anggap merugikan kita, kita mundur teratur……,

“Seperti halnya Qur’ban, bagi sebagian orang, mengeluarkan uang untuk membeli hewan qur’an dan kemudian membagikannya kepada orang lain, masih dirasakan sangat berat, meski sebenarnya mereka lebih dari sekedar mampu……, ini yang kurang baik….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ya ki, seperti ana sering dengar orang mau nikah lagi, dengan alas an sunnah, sementara sunnah-sunnah lainnya, yang harusnya lebih bisa mereka laksanakan, justru banyak ditinggalkan…..” Kata Maula.

“Nak Mas mau nikah lagi….?” Goda Ki Bijak.

“Aki merestuinya….?” Jawab Maula spontan.

Ki Bijak mengangguk, “Tapi untuk Nak Mas, Aki kasih syarat sebelum Nak Mas memutuskan untuk menikah lagi….” Kata Ki Bijak.

“Apa syaratnya ki….?” Jawab Maula terpancing.

“Syaratnya mudah, pertama niatnya harus benar-benar lillahita’ala, kedua, Nak Mas terlebih dahulu harus bisa mendidik istri Nak Mas agar seshaleh Siti Aisyah, menjadikan putri Nak Mas seperti Siti Fatimah, dan menjadikan putra Nak Mas seperti cucunda Rasul Hasan dan Husen, dan yang terpenting, Nak Mas sendiri harus bisa seperti Rasul, tahajudnya jangan putus, sabarnya harus seperti beliau, adilnya harus seperti beliau, pokoknya Nak Mas harus total melaksanakan ajaran agama seperti yang dicontohkan Rasul, Nak Mas sanggup….?’ Tanya Ki Bijak.

Maula tersenyum; “Berat sekali syaratnya ki……” Katanya kemudian.

“Seperti tadi Aki katakan, jangan mau enaknya saja, harus total, agar kita tidak dicap sebagai orang yang plin plan…….” Kata Ki Bijak

“Ana memilih untuk beristri satu saja dulu Ki, ana fikir lebih baik ana konsentrasi melaksanakan agama ini secara benar sebagaimana diajarkan baginda Rasul daripada berfikir yang bukan-bukan….” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar jawaban Maula; “Aki fikir juga begitu, masih banyak yang harus kita perbaiki untuk mencapai muslim yang kaffah……….” Kata Ki Bijak.

“Ketiga, ber qur’ban juga sebentuk ungkapan rasa syukur kita atas karunia dan nikmat Allah yang sangat banyak, Allah menyatakan bahwa;

1. Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah[1605].
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus[1606].

[1605] yang dimaksud berkorban di sini ialah menyembelih hewan qurban dan mensyukuri nikmat Allah.
[1606] maksudnya terputus di sini ialah terputus dari rahmat Allah.


“Sinar dan cahaya matahari kita tidak beli, udara dan oxygen untuk kita bernafas pun gratis, bumi yang kita pijak, tidak dipungut bayaran, belum lagi nikmat lainnya, mata kita, telinga kita, hidung kita, hati kita, semuanya pemberian Allah……., alangkah tidak patutnya kita jika kemudian setelah diberi nikmat dan karunia yang demikian banyak, kemudian tidak mau atau menghindar dari ‘perintah’ sang pemberi nikmat itu, meski Allah tidak memerlukan apapun dari kita, tapi selayaknya kita bertanya dimana rasa syukur kita, dimana rasa terima kasih kita, jika sekedar mengorbankan seekor kambing saja tidak mau….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki….” Kata Maula.

“Ngomong-ngomong, sudah berapa orang yang mendaftar untuk tahun ini Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak.

“Alhamdulillah ki, kemarin ana dapat informasi sudah ada lima ekor sapi dan beberapa ekor kambing…….., Kata Maula mengenai persiapan qurban dimasjid dekat rumahnya.

“Mudah-mudahan di dua hari terakhir ini akan lebih banyak orang yang melaksanakan qur’ban ya Nak Mas…..” Kata Ki Bijak.

“Potensinya lebih besar dari itu ki, warga komplek rata-rata karyawan, yang insya Allah mampu melaksanakan qur’ban…..” kata Maula.

“Tugas Nak Mas dan ustadz-ustadz disanalah untuk memberikan pemahaman yang benar dan mengajak mereka yang belum berqurban untuk menunaikannya…..” Kata Ki Bijak.

“Insya Allah ki……………” Jawab Maula mengakhiri percakapan itu.

Wassalam

November 18,2009

Thursday, November 19, 2009

TEMAN SEJATI

“Dari mana Nak Mas..?” Tanya Ki Bijak, pada Maula yang baru datang

“Dari sekolah Dinda Ki……” Kata Maula setelah duduk disamping gurunya.

“Biasanya pukul 10 sudah sampai, sekarang agak terlambat Nak Mas..?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Iya ki, diperjalanan tadi, ana berbarengan dengan iring-iringan pengantar jenazah, jadi agak terhambat….” Kata Maula.

“Innalilahhi wa inna ilaihi roji’un, siapa yang meninggal Nak Mas…..?” Tanya Ki Bijak.

“Ana tidak tahu Ki, tapi mungkin orang kaya atau pejabat, habis yang mengantarnya banyak sekali, rombongan mobilnya mungkin puluhan,belum lagi motor, bahkan dikawal mobil patroli segala….”Kata Maula.

Ki Bijak terdiam sejenak, “ Hanya sekedar itu bedanya Nak Mas…..” Kata Ki Bijak disela-sela tarikan nafasnya.

“Hanya sekedar itu bedanya, maksud Aki……?” Tanya Maula heran.

“Ya Nak Mas, perbedaan antara orang kaya atau pejabat dan orang miskin yang meninggal, hanya terletak pada jumlah pengantarnya saja, tapi sama saja, sedikit atau banyak, para pengantar jenazah itu, tidak satupun diantara mereka yang kemudian mau menemani orang yang meninggal itu didalam kuburnya…..” Kata Ki Bijak.

Maula masih diam, ia belum sepenuhnya memahami apa yang dimaksudkan gurunya;

“Ketika orang kaya meninggal, seperti tadi Nak Mas lihat, diantar oleh sedemikian banyak orang, tapi dari sekian banyak itu, tak satupun mereka yang mau menemani si mayit kedalam kuburnya, tidak tetangganya, tidak kerabatnya, tidak anak buah atau atasannya, atau bahkan istri dan anaknya, tidak ada satu pun diantara mereka yang mau menemaninya, yang akan ‘setia’ dan senantiasa menemani seseorang hingga liang lahatnya hanyalah amal ibadah yang mereka kumpulkan selama hidupnya…..”

“Pun ketika orang miskin meninggal, mungkin pengantarnya tidak sebanyak ketika yang meninggal itu orang kaya, tapi tetap, ia akan sendirian dimasukan didalam kuburnya, tidak ada kerabat, tidak ada sanak family, tidak juga saudara, apalagi pengantar, lagi, yang akan menemaninya hanyalah amal shaleh yang ia kumpulkan selama ia hidup didunia ini……..” Tambah Ki Bijak.

Maula baru menyadari arah pembicaraan gurunya; “Benar Ki, berapapun jumlah orang yang mengantar, berapa pun jumlah mobil yang mengantar, berapa pun jumlah motor yang mengantar, tetap saja semuanya itu tidak ada yang mau menemaninya untuk masuk keliang lahat…..” Kata Maula.

“Bahkan karangan bunga dan ucapan belasungkawa yang berjejer indah dipagar rumah duka, takkan merubah apapun, dari sini, Nak Mas melihat ‘sesuatu’…..?” Tanya Ki Bijak.

Maula diam sesaat, “Apa ya ki…..?” Tanya Maula.

“Melihat bahwa harta kita, yang selama ini kita cintai, harta yang siang malam kita menghitungnya, harta yang selama kita jadikan kebanggaan, harta yang selama ini kita perjuangkan dengan tetesan keringat atau bahkn cucuran darah, tidak lebih hanya akan menjadi pengantar kita keliang lihat, tapi tidak akan menemani kita didalamnya….”

“Melihat bahwa mobil kita, motor kita, yang selama ini sering membuat kita lalai dari mengingat Allah, mobil dan motor yang kadang membuat kita lupa kemasjid karena mendahulukan mencucinya, tidak lebih hanya jadi pengiring kita samping dipinggiran kubur kita, tidak lebih….”

“Anak buah kita, atasan kita, kolega kita teman kita, yang selama ini dekat dengan kita, mereka pun takkan ada yang sudi untuk menemani kita didalam kubur…..”

“Atau bahkan anak istri kita sekalipun, mereka hanya akan menemani kita sebatas didunia ini saja, setelah kita meninggal, maka tinggallah kita sendiri didalam kubur yang sempit, yang gelap, yang dingin, hanya amal shaleh saja yang akan menemani kita didalam gelapnya liang lahat……” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Benar ki…., lalu apa artinya ki...” Kata Maula.

“Artinya jika kita sudah tahu bahwa yang akan menemani kita didalam kubur dan menjadi bekal kita di kehidupan abadi kita kelak diakhirat adalah amal shaleh, maka sudah selayaknya kita menabung amal sholeh itu dari sekarang, sudah sewajarnya kita memperhatikan amal shaleh kita dari sekarang, sudah semestinya kita mempersiapkan amal sholeh kita sebagai bekal kita kelak, sudah seharusnya urusan amal sholeh, urusan teman setia kita ini menjadi bagian terpenting dalam setiap upaya dan usaha kita……;

“Salah besar kalau kemudian kita justru menumpuk harta kita sebanyak-banyaknya untuk berbangga diri, padahal kita tahu betapapun banyaknya harta kita, tak lebih selembar kain kafan saja yang akan kita bawa….”

“Salah besar kalau kemudian kita mengusahakann punya motor atau mobil sedemikian rupa, padahal kita tahu motor dan mobil hanya akan mengantar kita sampai pintu kubur saja……..;

“Salah besar kalau kemudian kita lebih mementingkan teman dan kolega kita, sementara panggilan adzan kita abaikan…….., padahal kita tahu tidak akan ada teman atau kolega kita yang sudi menemani kita dialam kubur nanti…….” Kata Ki Bijakdengan panjang lebar.

“Ana paham ki…, lalu ki, mencari rizki kan bagian dari perjalanan kehidupan seseorang, istri dan anakpun menjadi bagian dari kehidupan kita, pun demikian dengan teman, kolega dan saudara, bagaimana agar mereka bisa menjadi teman kita diakhirat kelak ki……?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, berusaha mencari rezeki adalah bagian dari kehidupan kita, dan agar harta yang kita usahakan dengan susah payah untuk mendapatkannya itu bisa terus menemani kita bukan saja dikehidupan dunia ini, tapi juga dikehidupan akhirat kelak, kita harus menabungnya dari sekarang……” Kata Ki Bijak.

“Menabungnya ki…..?” Tanya Maula.

“Ya, bukan dengan menabung dibank atau dicelengan, tapi tabungkan rezeki yang Allah karuniakan kepada kita dengan cara membelanjakannya dijalan Allah, belanjakan harta dan rezeki kita untuk infaq dan sedekah, untuk menyantuni fakir miskin, untuk membangun fasilitas ibadah, dan lainnya…, karena infaq dan sedekah yang ikhlas karena Allah, insya Allah akan terus menemani kita sejak kehidupan didunia ini, hingga akhirat kelak, seperti Nak Mas tahu, infaq dan sedekah jariah adalah salah satu amal yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah meninggal kelak…………………” Kata Ki Bijak.

“Ana mengerti ki, Akan halnya dengan anak istri kita ki, bisakah mereka menjadi teman kita kelak….?” Tanya Maula lagi.

“Insya Allah Nak Mas,yaitu dengan cara menjadikan istri kita istri kita seorang wanita sholeha, serta mendidik anak-anak kita menjadi anak sholeh dan sholehah……,

“Istri sholehah, yang setia dan berbakti kepada suami, berdedikasi untuk menjadi pendidik bagi anak-anaknya, insya Allah akan menjadi bidadari bagi kita, baik itu dikehidupan kita didunia, pun bidadari kelak dikehidupan akhirat kita……”

“Pun dengan anak sholeh dan sholehah, yang senantiasa berbakti kepada orang tuanya, mengabdi kepada Rabb_nya, insya Allah, doa-doa mereka akan menjadi pelita didalam gelapnya alam kubur kita…………., karenanya jangan sekali-kali kita mengabaikan pendidikan mereka, karena mereka adalah harapan kita kelak diakhirat…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Ya ki….., ana mengerti……, lalu bagaimana dengan teman-teman kita ki……?’ Tanya Maula.

“Pilihlah teman dari kalangan orang-orang yang ‘beriman’, orang mukmin yang shaleh dan dermawan Nak Mas, dermawan bukan hanya dengan harta, tapi teman yang tidak pernah ‘pelit’ untuk mendoakan kita, baik ketika kita masih hidup, terlebih ketika kita sudah meninggal…” Kata Ki Bijak.

“Kenapa harus orang mukmin ki…” Tanya Maula;

“Karena kita ingin teman dunia akhirat Nak Mas, kita boleh berharap pada teman-teman kita yang mukmin untuk ., Kata Ki Bijak.

“Ana mengerti ki, jadi teman sejati adalah teman yang akan senantiasa menemani kita bahkan hingga dialam kubur ya ki, teman sejati tidak lain dan tidak bukan adalah amal shaleh kita, yang bisa kita dapatkan dengan beramal shaleh, yang bisa kita dapat dengan menabung harta dijalan Allah, yang bisa kita temukan pada diri istri sholehah dan anak yang sholeh dan sholehah, serta teman yang dermawan, yang tidak pernah pelit untuk mendoakan saudaranya……..” Kata Maula menyimpulkan.

“Nak Mas pandai sekali membuat kesimpulan……” Kat Ki Bijak tersenyum.

“Terima kasih ki…….” Kata Maula sambil menyalami gurunya, ia tidak pernah berfikir bahwa iring-iringan pengantar jenazah tadi memberinya banyak pelajaran hari ini….

Wassalam

October 31, 2009

Wednesday, November 18, 2009

“Bilakah terjadinya Kiamat?"

“Kiamat itu pasti tiba Nak Mas, dan sebagai orang beriman, keyakinan terhadap kedatangan dan terjadinya hari kiamat itu merupakan salah satu rukun iman yang harus tertanam dalam lubuk sanubari yang terdalam….., hanya kapan datangnya kiamat itu merupakan rahasia Allah, tidak ada seorang manusia pun atau mahluk apapun yang mengetahuinya……” Kata Ki Bijak, menanggapi cerita Maula mengenai ramainya pemberitaan film mengenai kiamat; sambil mengutip ayat al qur;an surat Al A’raf;


187. Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui".


“Kalau kemudian orang-orang ramai membicarakan kiamat karena adanya film itu bagaimana ki….?” Tanya Maula.

Ki Bijak menarik nafas panjang “ Apa istimewanya film itu Nak Mas…., kalau film itu menceritakan kiamat, ya biarkan saja…, jangan sampai kemudian kita ikut-ikutan meyakini tanggal dan waktu kiamat seperti yang disebut-sebut dalam film tersebut…….” Kata Ki Bijak.

“Kenapa ki…..?” Tanya Maula.

“Pertama, hal ini bertentangan dengan keimanan kita bahwa kiamat adalah rahasia Allah….., meyakini kebenaran cerita dalam film tersebut berpotensi sangat besar untuk terperosok dalam jurang kemusryikan………”

“Kedua, yang menjadi acuan penentuan waktu kiamat seperti Nak Mas ceritakan tadi, hanya merupakan ramalan sekelompok orang atau suku, yang kita sendiri tidak tahu siapa mereka, dimana mereka, apakah mereka beriman kepada Allah atau justru mereka sama sekali tidak memiliki tuhan, lalu sebagai orang berakal, kita menyadari sepenuhnya kelemahan mahluk dalam menentukan sesuatu, jangan kan untuk mengetahui dan menentukan apa yang akan terjadi dua atau tiga tahun kemudian, untuk mengetahui apa yang akan terjadi esok hari atau sejam yang akan datang saja, mungkin mereka tidak akan bisa menjawabnya……, jadi dalam hemat Aki adalah naïf kalau kemudian kita ikut-ikutan terperdaya oleh sebuah film yang kita tahu merupakan produk orang yang berseberangan akidah dengan kita……..” Jawab Ki Bijak.


“Ketiga, baik Al Qur’an yang menjadi pedoman hidup kita, atau pun Baginda Rasul sebagai teladan kita, sama sekali tidak menyebutkan kapan kiamat itu akan tiba, ketika beliau ditanya kapan kiamat itu akan datang, Allah mewahyukan kepada beliau bahwa itu merupakan rahasia Allah….., sebagaimana firman_Nya;

34. Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

[1187] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.


“Dan beriman kepada Al qur’an, beriman kepada Rasul adalah merupakan pondasi dasar dalam kehidupan & keimanan seorang mukmin, dan ini jangan sampai tercemar dengan kepercayaan kita kepada orang atau apapun yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita……” Kata Ki Bijak.

“Dan yang keempat, waktu kita terlalu sedikit untuk mencari sesuatu yang pasti kita tidak dapat menemukannya, seperti tadi Aki katakan, Allah sendiri yang menyatakan bahwa pengetahuan tentang kiamat itu tiada seorang pun yang mengetahuinya, dan Baginda Rasulpun mengamini bahwa urusan kiamat adalah disisi Allah…, Nah kalau Baginda Rasul saja ‘tidak diberi tahu’ kapan datangnya kiamat, lalu kenapa kita justru ingin melebihi baginda rasul untuk mencari-cari tahu kapan datangnya kiamat……?” Kata Ki Bijak.

“Yang Allah perintahkan kepada kita itu adalah untuk mempersiapkan diri, menyiapkan bekal untuk menyambut hari kiamat yang pasti datangnya,


18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.


bukan justru menyibukan diri mencari-cari kapan datangnya hari kiamat itu, sudah terlalu banyak dari kalangan kafir dan jahiliyah dulu yang menanyakan tentang kiamat, dan tidak ada nilai tambah apapun dari yang mereka tanyakan, selain membuat mereka semakin jauh dari Allah dan jauh dari kebenaran…….” Tambah Ki Bijak lagi.


“Kelima; tentu ada banyak hikmah yang terkandung dari dirahasiakannya hari kiamat itu…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Apa hikmahnya ki…..?” Tanya Maula.

“Yang pertama jelas ini merupakan ujian keimanan kita; apakah kita benar-benar beriman kepada Allah yang telah menciptakan semesta raya ini dan kemudian kelak akan mendatangkan kiamat, apakah kita beriman kepada kebenaran ayat-ayat al qur’an yang menyatakan kiamat itu pasti datangnya, apakah kita meyakini kebenaran ajaran baginda Rasul untuk meyakini hari kiamat dalam risalah yang dibawanya, dan apakah kita meyakini terhadap kebenaran hari kiamat itu sendiri, ini sebuah ujian yang sangat berat dan besar Nak Mas, karena efeknya bukan hanya pada kehidupan kita didunia ini saja, tapi juga terhadap kehidupan akhirat kita kelak……” Kata Ki Bijak.

“Kedua, dengan rahasia inilah Allah memutarkan kehidupan mahluk dijagat raya ini Nak Mas…..” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki….?” Tanya Maula.

“Begini Nak Mas, misalnya seseorang tahu kapan ia akan meninggal, (Kematian merupakan miniature dari kiamat yang kubro) apa yang akan terjadi dengan orang itu….?” Tanya Ki Bijak.

“Tentu dia akan gelisah, resah, semangat hidupnya hilang, tidak mau berusaha, malas melakukan apapun dan mungkin stress atau depresi yang luar biasa Ki….?’ Jawab Maula.

“Menurut Nak Mas, apa yang bisa diharapkan dari orang seperti ini…?” Tanya Maula.

“Tidak ada ki….” Jawab Maula lagi.

“Dan kalau setiap orang tahu kapan ia akan meninggal, kalau setiap orang seperti yang Nak Mas gambarkan tadi, apakah mungkin kehidupan ini bisa berjalan…?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ya ki…., pasti kehidupan ini sunyi senyap atau bahkan mungkin ‘mati’….” Kata Maula.

“Akan halnya dengan kiamat kubro Nak Mas, jika ada satu orang saja yang diberi tahu Allah kapan datangnya, niscaya dunia ini berhenti berputar…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki……., ana mengerti ” Kata Maula pendek.

“Jadi Nak Mas tak perlu repot-repot untuk menonton film tersebut kalau tidak ada maslahat yang bisa Nak Mas ambil, ingat perbuatan mubazir adalah perbuatan setan….., masih banyak yang bisa kita lalukan dari sekedar nonton film seperti itu……..” kata Ki Bijak.

“Iya ki……” Jawab Maula sambil pamitan.

Wassalam

November 15,2009

Thursday, October 29, 2009

DUNIA BUKAN PANGGUNG SANDIWARA

“Ki, ana sering mendengar beragam pendapat orang ketika mereka ditanya bagaimana mereka memaknai kehidupan dunia ini, ada yang mengatakan bahwa kehidupan dunia ini panggung sandiwara, ada yang mengatakan hidup ini perjuangan, dan lain sebagainya, menurut Aki sendiri bagaimana ki…?” Tanya Maula.

“Menurut hemat Aki, kehidupan dunia ini adalah pengabdian Nak Mas….?” Jawab Ki Bijak.

“Kehidupan dunia ini pengabdian ki…..?” Maula baru mendengar pendapat seperti itu.

“Benar Nak Mas, hidup dan kehidupan kita didunia ini semata untuk mengabdi kepada Allah swt, lain tidak, sesuai dengan firman_Nya dalam Surat Ad-dzariyat ayat 56…..” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat dimaksud;

56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

“Akan halnya orang yang berpendapat bahwa dunia dan kehidupannya merupakan panggug sandiwara ki….?” Tanya Maula

“Setiap orang berhak memiliki pendapat yang berbeda dalam memaknai kehidupan ini Nak Mas, tapi coba Nak Mas perhatikan ada apa saja diatas panggung sandiwara….” Kata Ki Bijak.

“Banyak sekali ki, dalam sebuah pementasan, beragam karakter dan peran ada, ada orang yang kaya, ada orang yang miskin, ada orang yang baik, ada juga orang yang jahat, ada yang ta’at, ada pula pembangkang, ada bromocorah, ada juga ksatria, ada raja, ada juga hamba, ada orang alim, ada pula orang jahil, hampir menyerupai kehidupan nyata ki…….” Kata Ki Bijak.

“Menyerupai memang, tapi takkan sama, Nak Mas tahu bedanya…? Bedanya adalah apa yang ada diatas panggung sandiwara itu hanya pura-pura, hanya kebohongan…, kalau ada yang kaya, tidak berarti ia kaya beneran, pun kalau ada yang miskin, kemiskinannya pun bohongan..;

“Kalau ada yang taat, maka ketaatannya bohongan, bukan ketaatan yang sebenarnya, ketaatannya semata hanya ingin tampil baik dihadapan penonton, ketaataanya hanya ingin pujian, bukan lahir dari ketulusan dan keikhlasan…”

“Pun demikian karakter dan peran lainnya, semuanya hanya pura-pura dan bohongan…., Nak Mas bisa bayangkan kalau kehidupan kita ini disamakan dengan peran actor dipanggung sandiwara, maka Nak Mas akan mendapati orang yang taat kepada Allah, tapi taatnya bohongan, taatnya hanya kalau ada keperluan, taatnya hanya disaat ditimpa kemalangan, taatnya hanya karena ingin jabatan, taatnya hanya karena ingin pujian, taatnya hanya kamuflase, betapa orang yang pura-pura taat ini akan menderita kerugian yang sangat, karena Allah hanya akan menerima ketaatan yang didasari keikhlasan dan ketulusan sebagai pengabdian seorang mahluk kepada khaliqnya…….” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki…., kalau ada orang shalatnya hanya sandiwara agar dibilang orang yang shaleh, apa jadinya ya ki…? Atau ada orang yang gembar gembor menganjurkan orang lain shalat semata karena sandiwara, hanya karena ingin dipuji, ini juga menjadi lucu…..” Kata Maula.

“Pun kalau ada orang yang shaumnya hanya sandiwara, karena malu sama teman dan keluarga, shaum semacam ini tidak memiliki nilai apapun disisi Allah swt…..” Kata Ki Bijak,

“Atau kalau ada orang yang zakat dan sedekahnya hanya sandiwara, hanya karena ingin disebut dermawan, zakat dan sedekah semacam ini pun tidak memiliki nilai apapun disisin Allah….”

“Apalagi pergi haji, yang sangat mudah disisipi oleh perasaan riya, hajinya karena kebanyakan harta, hajinya hanya sandiwara, maka haji semacam inipun tidak lain hanya menghabiskan uang tanpa makna…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Kalau shalatnya hanya sandiwara dan pura-pura, zakatnya pura-pura, hajinya pun pura-pura, mungkin dapat surganya pun surga-surgaan ya ki…….” Kata Maula lagi.

“Mungkin saja seperti itu Nak Mas, mereka yang bersandiwara dalam ibadah, akan memperoleh kebahagiaan (surga) sesaat dari pujian orang lain didunia ini, karena yang mereka sembah pun sebenarnya bukan Allah, tapi tuhan-tuhanan, bisa tuhan yang bernama harta, tuhan yang bernama tahta atau bahkan tuhan bernama wanita…” Lanjut Ki Bijak.

“Iya ki…., akan halnya dengan mereka yang memakna kehidupan ini dengan perjuangan ki….?” Tanya Maula.

Ki Bijak menarik nafas panjang, “Kata perjuangan sebenarnya sangat bagus, hanya kadang kita kerap salah memaknainya, dengan kata perjuangan sering ditafsirkan untuk selalu ‘berperang’ dan ‘bertempur’, sehingga mereka yang memaknai hidupnya dengan perjuangan, sering terjebak dengan makna yang mereka buat sendiri, kehidupannya selalu diwarnai dengan ketidak tenangan, mereka seakan selalu berhadapan dengan musuh, mereka selalu merasa dikejar-kejar, mereka selalu merasa harus buru-buru, dan lain sebagainya…, maka perjuangan yang seharusnya bermakna positif, tidak jarang malah menjadikan kehidupan seseorang seakan selalu berada dimedan pertempuran, jauh dari kedamaian, jauh dari ketenangan, jauh dari rasa persahabatan…..”

“Lain halnya ketika kita memaknai kehidupan ini sebagai pengabdian kepada Allah semata, pengabdian tidak pernah menuntut upah, pengabdian tidak pernah ingin pamrih, pengabdian tidak pernah mengharap pujian, pengabdian adalah keikhlasan dan ketulusan, pengabdian adalah penyerahan diri secara total kepada Allah swt tanpa pretense apapun…..”

“Insya Allah, dengan kehidupan seperti ini, kita tidak terbebani ketika Allah mewajibkan kita menjalani syari’at_Nya, bahkan ketika Allah menyuruh kita untuk bangun malam, untuk tahajud, dengan dasar pengabdian, maka tahajud bukanlah beban…”

“Pun ketika Allah memerintahkan kita mengeluarkan sebagian harta kita, mereka yang menyadari bahwa perintah itu adalah ujian terhadap pengabdiannya, maka ia akan dengan sangat rela dan ikhlas membelanjakan hartnya dijalan Allah….”

“Orang yang memaknai hidupnya sebagai pengabdian kepada Allah,tidak akan mengeluh ketika harus menahan lapar dan dahaga untuk shaum, orang yang memaknai hidupnya sebagai pengabdian, akan menjalankan apapun yang diperintahkan Allah dengan sungguh-sungguh dan disertai keikhalasan……” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Benar Ki…,ana setuju, hidup adalah pengabdian kepada Allah swt……” Kata Maula sambil menyalami Ki Bijak untuk pamitan.

Wassalam

October 2009.

Tuesday, October 27, 2009

PELAJARAN HARI INI: JANGAN BERGANTUNG PADA MAHLUK

“Aneh ya ki…..” Kata Maula memulai perbincangan.

“Apanya yang aneh Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak.

“Ini Ki, setiap hari senin biasanya ana sering kesulitan mendapatkan kendaraan untuk berangkat kerja, karena mobilnya penuh oleh karyawan yang pulangnya seminggu sekali, hingga hari seninnya mobil penuh sesak….” Kata Maula.

“Lalu….?” Tanya Ki Bijak lagi

“Lalu ana mencoba meyakinkan diri ana, bahwa senin kali ini, ana tidak boleh kesiangan, ana berdoa kepada Allah semoga ana diberi kemudahan untuk sampai kekantor, bismillahi tawakaltu ‘alallah laa haula wala quata ila billah….,”

‘Dan Alhamdulillah, hari senin kemarin ana diberi kemudahan dengan tumpangan kendaraan tetangga sebelah yang berangkat bareng, dan ana sudah sampai kantor sekitar pukul 7.30……” Kata Maula.

Ki Bijak masih menunggu kelanjutan cerita Maula.

“Dan hari ini, ana justru datang lebih siang dari kemarin ki……” Kata Maula.

“Kenapa Nak Mas..?” Tanya Ki Bijak

“Karena setelah tumpangan kemarin, ana merasa sangat yakin bahwa hari ini juga ana akan dapat tumpangan dari tetangga ana itu, karena memang beliau mengatakan berangkatnya bareng saja, tapi pas lewat, beliau sedang bercakap dihandphone, hingga tidak melihat ana, jadi ana berangkat sendiri seperti biasa…., aneh kan ki, kemarin tidak ditungguin malah dapat tumpangan, hari ini yang sudah confirm, malah nggak jadi…..” kata Maula.

Ki Bijak tersenyum, “Tidak ada yang aneh menurut Aki Nak Mas, justru kejadian yang Nak Mas alami, telah memberi Nak Mas setidaknya dua pelajaran yang sangat berharga untuk Nak Mas camkan…” Kata Ki Bijak.

“Kejadian kemarin memberi ana dua pelajaran berharga ki…?” Tanya Maula heran.

Ki Bijak mengangguk, “Pelajaran pertama adalah jangan bergantung pada mahluk, dan yang kedua, jangan mendahului kehendak Allah……” Jawab Ki Bijak.

“Ana masih belum mengerti ki….” Kata Maula lagi.

“Ketika hari senin, Nak Mas belum tahu akan ikut tumpangan siapa, dan karenanya Nak Mas memohon kepada Allah untuk diberikan tumpangan, saat itu posisi Nak Mas benar, yakni bermohon dan bergantung kepada Allah……”

“Sebaliknya, hari ini, karena Nak Mas ‘tahu’ bahwa ada yang akan mengajak Nak Mas berangkat bareng, Aki yakin Nak Mas tidak lagi merasa bergantung kepada Allah, tapi kepada tetangga Nak Mas tadi, bukan begitu Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak.

“Astaghfirullah…, benar Ki, meski ana tidak mengucapkannya, ana sangat yakin bahwa hari ini ana akan ikut tetangga ana, ana yakin sekali akan hal itu, lha wong kemarinnya sudah confirm….” Kata Maula.

“Itulah yang Aki maksud dengan pelajaran berharga Nak Mas, Nak Mas sekarang tahu, bahwa mahluk itu lemah, mahluk itu pelupa, termasuk mungkin tetangga Nak Mas itu, beliau lupa telah menjanjikan tumpangan kepada Nak Mas kemarin…., lain halnya kalau kita bergantung kepada Allah, Allah pasti tidak akan lupa, Allah tidak akan lalai dan pasti memenuhi janji-Nya……” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah…., ana merasa berdosa Ki, karena telah ‘mengabaikan’ Allah dan justru berharap pada mahluk…, ya Rabb ampuni kekhilafan hamba_Mu yang dhaif ini…..” Kata Maula menyadari kekeliruannya.

“Ya Nak Mas, Nak Mas harus terus menerus memupuk kesadaran untuk senantiasa bergantung dan berharap kepada Allah saja, dalam segala hal, termasuk hal kecil yang mungkin Nak Mas anggap sepele seperti berharap dapat tumpangan mobil hari ini………” Kata Ki Bijak.

“Iya ki……” Kata Maula pendek.

“Pelajaran yang kedua adalah jangan mendahului kehendak Allah…, apa yang Nak Mas alami hari ini mengejarkan kepada Nak Mas, bahwa seyakin apapun Nak Mas, sepasti apa pun janji mahluk kepada Nak Mas, tidak menjamin apapun kecuali dengan qudrah dan iradah_Nya…….., berharap boleh, tapi Aki merasakan bahwa harapan Nak Mas kemarin, telah ‘mendahului’ kehendak Allah, maka hari ini Allah seakan berkata kepada Nak Mas, ‘Tanpa izin_Ku, apa yang kamu bisa lakukan wahai Maula…” Kata Ki Bijak lagi.

“Astaghfirullah……, benar ki, semalam ana berkata kepada istri bahwa besok ana akan ikut dengan tetangga, tanpa mengucap insya Allah, ana sangat yakin sekali, hingga ana berangkat agak santai……” Kata Maula.

“Semoga pengalaman Nak Mas hari ini, bisa menjadi bekal dan pelajaran yang akan Nak Mas ingat selamanya, jangan bergantung kepada mahluk, karena Allah sajalah tempat kita dan segala sesuatu bergantung, Allahu shommad, dan jangan mendahului kehendak Allah, karena dengan kebesarannya, Allah bisa berbuat apapun yang DIA kehendaki, dengan Kun fayakun_Nya, Allah bisa mengubah sesuatu yang menurut kita tidak mungkin menjadi mungkin, dan sebaliknya, Allah bisa merubah apa yang menurut kita bisa, menjadi sesuatu yang mustahil menurut Allah……” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, insya Allah ana akan selalu ingat……………” Kata Maula sambil terus mentafakuri apa yang hari ini terjadi, sebuah ‘kejadian kecil’ yang bermakna besar baginya, ia kemudian membaca surat Al Ikhlas berulang-ulang, dimana didalamnya tertulis dengan jelas, Allah_lah tempat segala bergantung;

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."


Wassalam;

October 27,2009

Monday, October 26, 2009

TUSUK GIGI

“Nak Mas pernah dengar kisah hikmah tentang seorang ahli ibadah dan sebatang tusuk gigi….?” Tanya Ki Bijak, ketika berdiskusi tentang ‘dosa kecil’ yang kerap diabaikan, tapi kemudian menjadi aral bagi jalan menuju surga.

“Ahli ibadah dan tusuk gigi ki…? Ana belum pernah mendengarnya…” Jawab Maula.

“Terlepas apakah kisah ini kisah nyata atau hanya kisah simbolik, Aki berpendapat bahwa kisah ini sangat bagus untuk menjadi tambahan ibrah bagi kita, terutama agar kita berhati-hati dengan dosa-dosa yang kita anggap kecil, tapi dapat berdampak besar dikelak kemudian hari…” Tambah Ki Bijak.

“Bagaimana kisahnya ki…..?” Tanya Maula penasaran.

“Konon ada seorang ahli ibadah, ia melaksanakan shalat dengan baik, ia menunaikan zakat dengan baik, menunaikan shaum pun demikian halnya, bahkan ia telah menyempurnakan rukun Islam yang kelima dengan berangkat ketanah suci Makkah……” Ki Bijak mengawali ceritanya.

“Lalu ki….?” Maula tambah penasaran.

“Singkat cerita, sang ahli ibadah ini kemudian meninggal dunia, setelah beberapa lama ia dikebumikan, dalam sebuah versi cerita, salah seorang kerabatnya bermimpi bahwa ia melihat sang ahli ibadah ini, justru mendapat siksa kubur yang sangat menyakitkan, jasadnya tidak lagi terbaring, tapi terduduk, dan dari mulutnya keluar api yang terus menerus……..” Kata Ki Bijak lagi.

“Apa yang terjadi dengan ahli ibadah ini ki…, kenapa ia mendapatkan siksa kubur seperti itu…?” Tanya Maula.

“Hari berikutnya, sang kerabat memimpikan hal yang sama, ia melihat sang ahli ibadah itu disiksa didalam kuburnya, ia bertanya kepada sang ahli ibadah, dosa apakah gerangan yang membuatnya mendapatkan siksa kubur…..” Lanjut Ki Bijak.

“Dengan izin Allah sang ahli ibadah itu menuturkan kepada kerabatnya, bahwa sebenarnya selama hidupnya ia selalu menunaikan shalat, menunaikan zakat, shaum dan ibadah haji, hanya suatu ketika, sepulang dari undangan, sang ahli ibadah mengambil bagian kecil pagar bambu tetangganya untuk mengambil sisa makanan yang tersangkut pada giginya, sang ahli ibadah mengambil sekerat bambu untuk dijadikan tusuk gigi, tanpa izin orang yang punya pagar, dan hal itulah yang kemudian menyebabkan ia mendapatkan siksa kubur seperti itu, mulutnya mengeluarkan api terus menerus…….” Kata Ki Bijak.

Maula bergidik mendengar cerita gurunya, ia berfikir kalau hanya sekerat bambu untuk tusuk gigi saja mengakibatkan seorang ahli ibadah mendapatkan siksa kubur seperti itu, bagaimana mereka yang mengambil harta orang lain, bagaimana mereka yang korupsi, bagaimana mereka yang memakan makanan orang lain tanpa izin dari siempunya makanan, bagaimana mereka yang meminum air orang lain tanpa sepengetahuan si pemiliknya…? Serentetan pentanyaan segera saja singgah di benaknya……”

“Ki….kalau sekerat tusuk gigi saja siksanya sedemikian rupa, bagaimana mereka yang melakukan korupsi ya ki….? Bagaimana mereka yang memakan harta anak yatim, bagaimana mereka yang memakan sumbangan korban bencana…?” Tanya Maula kemudian.

“Wallahu’alam Nak Mas, Allah lebih tahu balasan apa yang pantas bagi mereka yang dengan sadar dan sengaja melakukan perbuatan yang jelas-jelas merugikan orang lain…., semoga Allah melindungi kita dari perbuatan – perbuatan semacam itu…..” Kata Ki Bijak.

“Adakah mereka yang korupsi, mereka yang memakan harta anak yatim dan sumbangan gempa pernah mendengar kisah ini ki…., seandainya mereka tahu betapa perbuatan mereka akan mendatangkan azab yang sangat dikubur dan akhiratnya…..” Kata Maula.

“Sekedar mendengar mungkin saja sudah, atau bahkan sering Nak Mas, hanya respon masing-masing orang terhadap nasehat yang baik tidaklah sama Nak Mas, seperti Nak Mas mungkin bergidik mendengar cerita seperti ini, tapi bagi orang lain, sangat mungkin mereka menganggapnya hanya sekedar dongeng atau omong kosong yang tak perlu diacuhkan, atau bahkan justru sebagian mereka menganggapnya lelucon….” Kata Ki Bijak.

“Kenapa bisa seperti itu ki….?, bukankah sebagian mereka yang berbuat semacam itu adalah orang-orang pintar dan terdidik ki….?” Tanya Maula.

“Maaf Nak Mas, Aki tidak bisa menjawabnya, kenapa mereka yang pintar dan terdidik tapi masih dengan sadar berani melakukan pelanggaran terhadap hukum dan aturan yang ada…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki…bagaimana halnya dengan pekerjaan ki…?” Tanya Maula.

“Maksud Nak Mas….?” Ki Bijak memastikan.

“Begini Ki, misalnya kita lalai dalam pekerjaan, atau misalnya kita kerjanya tidak benar, sehingga mengakibatkan partner kerja kita jadi repot, harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaan kita, apakah itu juga sebuah dosa ki…..?” Tanya Maula.

“Pada dasarnya, setiap hal yang merugikan orang lain, baik apakah itu berupa materi, seperti kisah ahli ibadah tadi, atau dalam hal ‘kelalaian’ yang sengaja, seperti misalnya karena kita bolos, kita malas, kita banyak mengerjakan hal lain diluar pekerjaan kita, yang kemudian mengakibatkan orang lain ‘dirugikan’, adalah merupakan perbuatan yang kurang atau tidak terpuji Nak Mas, apalagi kalau kemudian orang yang menggantikan pekerjaan kita itu tidak ridha, atau harus ketinggalan shalatnya karena banyaknya pekerjaan yang kita lalaikan…., bisa-bisa diakhirat nanti kita dituntut oleh orang itu Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Apa yang harus kita lakukan untuk menghindari tuntutan itu ki….?” Tanya Maula.
“Minta maaf pada orang tersebut, dan minta diikhlaskan atas apa yang telah membuatnya dirugikan oleh kita…?” Kata Ki Bijak.

“Tapi kadang malu juga ki, kalau harus minta maaf….” Kata Maula.

“Kenapa harus malu….?’, lebih baik malu disini dan sekarang, daripada kemudian kita harus malu dihadapan Allah dikelak kemudian hari, dan ketidak ridhaan orang tersbut menjadi ‘penghalang’ ridha Allah kepada kita…” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya…..” Kata Maula.

“Intinya, jangan pernah menganggap ‘remeh’ perbuatan yang kita lakukan, adalah bijak kalau setiap langkah kita ukur dengan syariat, kita ukur dengan nilai kepatutan, kita ukur dengan norma dan hukum yang tertulis maupun tidak tertulis, tak mengapa kalau kemudian kita dinilai orang terlalu lambat, jika itu akan menyelamatkan kita…….” Kata Ki Bijak.

Maula mengangguk tanda mengerti, sesaat kemudian ia pamitan kepada gurunya untuk pulang.

Wassalam
October 22, 2009

MATA HATI

“Apa saja yang diperiksa Nak Mas….” Tanya Ki Bijak mengenai proses medical check up yang baru dijalani Maula.

“Semuanya ki, termasuk check mata dan penglihatan……” Kata Maula.

“Bagaimana kondisi mata Nak Mas……” Tanya Ki Bijak, demi mengetahui bahwa Maula menggunakan kaca mata minus.

“Minusnya lumayan besar ki, ana tidak bisa melihat angka-angka dipapan uji dari jarak tertentu…..” Kata Maula.

“Tetap bersyukur ya Nak Mas, terlepas dari kondisi mata Nak Mas yang mengalami minus, Nak Mas harus tetap mensyukurinya, mata dhahir Nak Mas boleh minus, tapi tidak demikian dengan mata ini……” Kata Ki Bijak sambil menunjuk dada dengan jarinya.

Segera Maula menundukan kepala untuk melihat dadanya, “Mata ini ki….?” Tanya Maula mengulang.

“Ya Nak Mas, Mata Hati….., mata hati kita tidak boleh rusak, mata hati kita tidak boleh minus, bahkan mata hati kita tidak boleh kotor sedikitpun dari debu dan dosa yang dapat menghalanginya untuk dapat melihat kebenaran, untuk dapat melihat keadilan, untuk dapat ‘melihat Allah’, karenanya jaga mata hati kita dengan baik…..” Kata Ki Bijak.

“Apa saja yang dapat merusak kejernihan pandangan mata hati kita ki….?” Tanya Maula.

“Beberapa waktu lalu, kita pernah berdiskusi mengenagi penyakit hati Nak Mas, yaitu Angkuh, Iri, Dengki dan Sombong……, jauhi penyakit ini, karena keberadaan penyakit-penyakit ini, akan menghilangkan kejernihan pandangan hati kita….,

“Angkuh akan menghalangi penglihatan kita terhadap kelebihan orang lain…, sehingga kita cenderung meremehkan orang lain, dan ini tidak sehat Nak Mas “

“Iri akan menghalangi penglihatan kita terhadap nikmat Allah kepada kita, penyakit iri ini hanya akan mengarahkan pandangan kita kepada nikmat Allah yang diberikan kepada orang lain, sementara itu kita lalai mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita…, penyakit ini akan melahirkan sifat kufur, dan Nak Mas tahu sanksi Allah terhadap orang-orang yang kufur nikmat, yaitu adzab yang pedih….”

“Dengki, akan menghalangi pandangan kita terhadap kebenaran, dengki melahirkan permusuhan, bahkan tak jarang sifat dengki menjadi awal terjadinya pertumpahan darah…..”

“Serta kesombongan akan menutup mata hati kita terhadap nasehat dari orang lain, kesombongan juga menutup mata hati kita dari ilmu yang bermanfaat, kesombongan juga akan menutup mata hati kita terhadap kedhaifan diri kita, sehingga kita tidak bisa merasakan keagungan Allah swt……., sombong hanya akan mendekatkan kita pada sifat syetan durjana…..” Kata Ki Bijak.

“Ya ki…..” Kata Maula.

“Lalu cinta dunia yang berlebihan, hal ini juga akan menghalangi pandangan mata hati kita….., cinta dunia yang berlebihan, akan menutup mata hati kita keinginan untuk dapat melihat keagungan Allah swt, yang ada yang uang, harta dan materi semata….

“Cinta kepada dunia yang berlebihan, akan menutup mata hati kita dari kepentingan akhirat yang jauh lebih besar….;

“Cinta dunia yang berlebihan, akan menutup mata hati kita terhadap kebenaran, bahkan cinta dunia yang berlebihan bisa menjadi pangkal dari segala perbuatan kejelekan…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Cinta dunia yang berlebihan pangkal dari segala kejelekan ki….?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, Hubbudunya khoti’ati kulli sayyiat….., Nak Mas lihat bagaimana orang korupsi, karena ia sangat mencintai dunia, karena ia ingin hartanya bertambah dengan sebanyak-banyaknya…..”

“Nak Mas perhatikan ada orang yang menggunakan segala cara, hanya demi memenuhi nafsunya akan dunia….”

“Nak Mas lihat betapa banyak orang yang rela menjual akidahnya, hanya demi kehidupan dunia yang mereka anggap lebih baik…”

“Tak sedikit orang yang menjual kehidupan akhiratnya demi untuk memperoleh pangkat dan jabatan dunia, yang jika mereka tahu, pasti mereka akan menyesalinya….”

“Tak jarang orang rela mengabaikan perintah Allah, Tuhan yang telah menciptakannya hanya demi kepentingan dunia, dan masih banyak lagi, betapa kecintaan pada dunia ini membutakan pandangan mata hati dari hal-hal yang seharusnya…..”

“Iya ki, ada banyak…ada orang yang rela mengorbankan anaknya demi dunia, ada orang yang rela mengorbankan keluarganya, demi dunia, ada orang yang bahkan rela menggadaikan kebahagiaannya sendiri hanya untuk mengejar dunia yang semu…..” Tambah Maula.

“Ya seperti itu Nak Mas, maka hindarkan kecintaan kepada dunia secara berlebih ini, agar kejernihan mata hati kita terjaga…..” Kata Ki Bijak.

“Selanjutnya, yang dapat membutakan mata hati adalah bertumpuknya dosa didalam hati ini, dosa ini ibarat kerak dan noda yang akan memudarkan kejernihan pandangan mata hati kita, ibarat cermin, semakin kotor permukaan cermin, maka akan semakin buram cahaya yang terpantul darinya, sebaliknya semakin bersih dan mengkilap permukaan cermin ini, maka akan cahaya yang terpantul akan semakin baik dan terang…….” Kata Ki Bijak mencontohkan.

“Iya ki…..” Kata Maula.

“Dan yang jauh lebih penting yang harus kita hindarkan agar mata hati kita tetap terjaga kejernihannya adalah jauhi perilaku syirik, perilaku menyekutukan Allah dengan selain_Nya…….” Kata Ki Bijak.

“Kenapa Ki….?” Tanya Maula.

“Syirik, dengan segala bentuknya, merupakan hijab yang sangat tebal yang menghalangi pandangan mata hati kita untuk dapat melihat Allah, syirik merupakan dosa dari segala dosa yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah swt, syirik merupakan dinding tebal yang tidak akan tertembus cahaya kebenaran, syirik laksana penjara syetan untuk mengasingkan kita dari Allah, mengasingkan kita dari kebenaran, mengasingkan kita dari cahaya ilahi…….”Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, semoga mata hati ana lebih bagus dan lebih jernih dari mata dhazir ini…..” Kata Maula.

“Mata lahir yang sehat, itu juga penting Nak Mas, tapi Mata Hati yang sehat, jauh lebih penting karena hanya dengan kejernihan mata hati inilah kita akan bisa melihat ayat-ayat Allah dengan lebih jernih, lebih bijak, lebih arif dan terang…..” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat Allah;


46. Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.


“Iya ki………” Maula tak banyak memberikan tanggapan atas petuah gurunya, hatinya sibuk bertanya seberapa jernihkah mata hatinya….ia berdoa kepada Allah semoga mata hatinya tetap jernih dan terjaga dari hal-hal yang akan menumpulkannya.

Wassalam

October 26,2009.

Tuesday, October 20, 2009

ES BATU

“Photo apa ini Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak, melihat photo di handphone Maula.


“Oooh ini ki, tadi sewaktu nunggu mobil tadi pagi, kebetulan ada orang yang bawa es batu balokan berhenti tepat didepan ana ki, ana iseng, lalu mengambil gambarnya…..” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar jawaban Maula, “Nak Mas…, Nak Mas tahu bahwa apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita temukan, semuanya tidak ada yang kebetulan, tapi sudah diatur Allah, termasuk dengan pertemuan Nak Mas dengan tukang es batu tadi itu, kejadian itupun sudah diatur Allah, agar Nak Mas bisa mengambil pelajaran dari es batu tersebut….” Kata Ki Bijak.

“Mengambi pelajaran dari es batu ki….?” Tanya Maula heran.

Ki Bijak mengangguk “ Benar Nak Mas, kita bisa mengambil beberapa pelajaran dari es batu ini….” Kata Ki Bijak kemudian.

Maula masih diam, ia belum menemukan ‘pelajaran’ dari es batu yang secara ‘iseng’ ia ambil gambarnya pagi tadi.

“Nak Mas perhatikan es batu ini…., es ini, jika dicampur dengan sirup, tentu akan menambah kesegaran es sirup yang kita minum, jika ditambahkan dengan kelapa muda, tentu juga menambah kesegaran air kelapa muda kita, pun ketika es batu ini ditambahkan kedalam teh manis, atau dicampur dengan buah-buahan, akan menambah ‘rasa’ dari minuman yang kita minum, meski kemudian es batu itu mencair, es batu tersebut telah melaksanakan fungsinya untuk menambah rasa dingin pada minuman, artinya lagi es batu ini bermanfaat bagi kita…….” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki………….?” Maula belum paham kearah mana wejangan dari gurunya tersebut.

“Lalu seandainya kita membiarkan es batu ini seperti dalam gambar ini, apakah es batu akan tetap seperti ini, atau akan mencair Nak Mas….?” Tanta Ki Bijak memancing.

“Tentu es batu ini akan mencair ki…” Jawab Maula singkat.

“Apakah pencairan es batu seperti ini sama manfaatnya dengan ketika kita mencairkannya kedalam minuman…..?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Tidak Ki, kalau es batu ini kita campur dengan minuman dan kemudian es ini mencair didalamnya, akan menambah kesegaran pada minuman kita, tapi kalau es ini dibiarkan mencair seperti ini, ya tidak menambah apapun, selain es batu ini akan habis dalam jangka waktu tertentu ki……” Jawab Maula.

Ki Bijak manggut-manggut, “Sekarang mari kita tengok kedalam diri kita, kita dikarunia Allah umur dalam waktu tertentu untuk menjalani kewajiban kita selaku hamba….., dan umur yang diberikan Allah kepada kita ini, laksana es batu ini Nak Mas, setiap saat akan mencair,setiap detik, umur kita berkurang, setiap menit umur kita berkurang, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, bulan dan tahun yang kita lalui, hakekatnya mengurangi jatah hidup kita didunia ini, persis seperti lelehan air es batu ini…………….” Kata Ki Bijak.

Maula baru tersadar dengan ungkapan terakhir gurunya, bahwa usia atau umur manusia, akan berkurang setiap waktu, mulai detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun, laksana lelehan es batu ini…dengan segera ia lebih memfokuskan perhatiannya pada photo es batu yang secara iseng ia ambil tadi pagi.

“Kalau kita menggunakan umur kita untuk beribadah kepada Allah, tentu kita akan mendapatkan pahala disisi Allah, kalau kita memanfaatkan umur kita untuk menuntut ilmu, insya Allah ilmu dan pengetahuan kita akan bertambah, pun ketika kita menggunakan waktu kita untuk hal-hal yang bermanfaat, maka umur kita akan memberikan manfaat bagi kita, sebelum akhirnya jatah umur kita itu habis……” Kata Ki Bijak, tanpa menunggu komentar Maula yang masih asyik memperhatikan photo es batunya.

“Sebaliknya, kalau misalnya kita tidur seharian, hal itu sama sekali tidak akan menambah jatah umur kita, bahkan umur kita tetap akan berkurang, atau kalau kemudian kita menggunakan umur kita untuk foya-foya, untuk malas-malasan, umur kita tetap akan habis sebagaimana melelehnya es batu ini, tanpa memberi manfaat apapun bagi kita kecuali kerugian…..” Tambah Ki Bijak.

“Iya ya ki, es batu ini kalau dibiarkan habis, dipakai habis, tapi mending dipake, karena kerasa nikmatnya, umur kitapun sama, dipakai untuk ibadah berkurang, tapi mendapat pahala, untuk bermaksiatpun tetap akan habis, tapi hanya menambah dosa…..” Kata Maula menyadari apa yang diwejangkan gurunya.

“Jadi, sebagai mahluk yang dikarunia Allah dengan akal dan fikiran, alangkah bijaknya kalau kemudian kita menggunakan jatah umur kita untuk hal-hal yang bermanfaat saja, untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah saja, untuk melakukan berbagai pekerjaan yang baik-baik saja, tidur sekedarnya saja, nonton TV sekedarnya saja, baca Koran sekedarnya saja, karena umur kita tidak akan pernah bertambah, tapi justru akan senantiasa terus berkurang, sejalan dengan waktu yang terus berputar…………………” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, terima kasih……” Maula tersenyum simpul, demi menyadari photo es batu yang diambilnya secara iseng tadi pagi, telah memberinya banyak pelajaran.

“Terima kasih es batu…, syukur kepada_Mu ya Allah yang telah member hamba seorang guru yang arif dan bijak, sehingga keisengan hamba pun bisa bermakna……….” Kata Maula pelan.

Ki Bijak tersenyum; “Nak Mas harus lebih jeli lagi dalam melihat berbagai hal, karena sekali lagi, tidak ada yang kebetulan, tidak ada yang terjadi dengan sendirinya, semuanya atas dan dengan izin Allah…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki……..” Kata Maula mengakhiri diskusi es batunya.

Wassalam

October 20,2009

JAUHI SIFAT IRI, PINTU SURGA MENANTI

“Nak Mas masih ingat dengan sebuah riwayat dimana Rasul menyebut seseorang sebagai calon ahli surga…?” Kata Ki Bijak, menjawab pertanyaan Maula mengenai perilaku para calon-calon penghuni surga kelak.

“Iya Ki…, dalam sanad Imam Ahmad diriwayatkan dari Anas ra bahwa ketika itu para shahabat tengah duduk-duduk bersama baginda Rasul, kemudian Baginda Rasul bersabda: "Akan datang kepada kalian di jalan yang kecil ini seorang laki-laki diantara ahli surga (rojulun min ahli jannah)….."

“Lalu….?’ Pancing Ki Bijak

“Dan kemudian datang seorang laki-laki dari golongan anshar yang jenggotnya itu basah bekas air wudhu dan ia menjinjing sandalnya di tangan kirinya, dan dia mengucapkan salam kepada Rasul dan para sahabat yang ada disana….”

“Besoknya Rasulullah SAW bersabda lagi: "Akan datang kepada kalian seorang laki-laki calon ahli surga". Dan ternyata, orangnya sama, kemudian di hari ketiga Rasulullah SAW kembali bersabda, dan yang muncul orang itu lagi…”

“Hal demikian mengundang rasa penasaran salah seorang sahabat, yang bernama Abdullah bin Amr untuk mengetahui amaliah apa yang dilakukan oleh si laki-laki yang disebut-sebut oleh Rasulullah sebagai calon ahli Surga, kemudian Abdullah bin Amr bersiasat untuk mengetahui amaliah tersebut dengan berpura-pura ia tengah bertengkar dengan keluarganya dirumah, sehingga ia minta izin untuk tinggal dirumah silaki-laki calon ahli surga tersebut…..”

“Abdullah bin Amr akhirnya tinggal dirumah laki-laki tersebut hingga tiga malam, ia mencoba mengamati setiap gerak-gerak sang calon ahli surga; ternyata sang calon ahli surga tidak pernah sholat malam, sholat tahajud, kecuali tatkala dia berbalik dalam tidurnya, ia selalu berdzikir kepada Allah dan bertakbir, demikianlah, sampai ia terjaga hanya untuk sholat subuh saja…..,

“Dan setelah hari ketiga, setelah Abdullah bin Amr mengetahui ‘hanya amalan itu saja’ yang dilakukan oleh si Ahli Surga, akhirnya Abdullah berterus terang kepada orang tersebut; dan ia berkata kepada anshor tadi bahwa sebenarnya antara ia dan bapaknya tidak ada kebencian pertengkaran, tapi sebetulnya ia hanya ingin tinggal di rumah calon ahli surga saja, sebab Rasulullah pernah berkata tiga kali bahwa ia calon ahli surga…., hanya ingin sekedar tahu apa yang dilakukan oleh si calon Ahli surga sehingga ia bisa mencontohnya…..”

“Si calon ahli surga mengatakan bahwa ia tidak melakukan amaliah lain kecuali yang dilihat oleh Abdullah bin Amr, ditambah dengan ‘sedikit amal lain’ yaitu bahwa ia tidak pernah menyimpan rasa benci, ia tidak pernah menipu atau berbuat curang kepada orang lain dan tidak pernah punya rasa hasad atau iri atas kebaikan yang telah Allah berikan atas orang lain…….” Kata Maula menuturkan apa yang pernah ia dapatkan dari gurunya.

“Subhanallah, Nak Mas laksana perpustakaan berjalan bagi Aki, Nak Mas mengingat hampir semua apa yang pernah Aki sampaikan atau kita diskusikan, yang Aki sendiri kadang suka alpa…., syukuri dan jaga karunia ingatan yang baik itu ya Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Insya Allah ki…, lalu bagaimana cara menjaga agar ingatan kita tetap baik dan terpelihara ki..?” Kata Maula.

“Sebagaimana tubuh, otak kitapun memerlukan asupan dan vitamin yang memadai, karenanya Nak Mas harus secara konsisten memberi suplemen pada otak Nak Mas dengan berbagai nasehat, berbagai pengetahuan dan berbagai ilmu yang bermanfaat bagi Nak Mas, dan syukur kelak bisa disharing dengan orang lain….”

“Yang kedua, untuk memelihara ingatan yang baik, perbanyaklah menghafal al qur’an, karena insya Allah, semakin banyak hafalan al qur’an kita, maka daya ingat kita akan dipelihara Allah….”

“Yang ketiga, jauhi perbuatan dosa dan maksiat, sekecil apapun perbuatan dosa dan maksiat, akan menjadi karat dan debu yang mengotori otak, fikiran dan hati kita, semakin banyak karat dan debut itu menempel di otak, maka akan semakin tumpul pula daya ingat kita…..”

“Selanjutnya tentu dengan selalu mengingat Allah Nak Mas……., dan kembali ke topic kita, Nak Mas perhatikan lagi riwayat yang barusan Nak Mas sampaikan, orang yang disebut-sebut oleh Nabi sebagai calon ahli surga itu ternyata ‘hanya’ mengerjakan amal biasa, bahkan tanpa mengecilkan pentingnya tahajud, orang itu menurut Abdullah bin Amr tidak melakukakannya, ia hanya memiliki ‘kelebihan’ bahwa ia tidak pernah merasa iri terhadap nikmat yang Allah berikan pada orang lain dan tidak pernah curang, itu saja………….” Kata Ki Bijak.


“Ia memiliki ‘kelebihan’ bahwa ia tidak pernah merasa iri terhadap nikmat yang Allah berikan pada orang lain dan tidak pernah curang, itu saja………….” Kedengarannya mudah ya ki…, tapi apakah semudah itu melakukannya ki…?” Kata Maula.

“Maksud Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Maksud ana…, kalau sekedar menjaga sikap untuk tidak menampakan rasa iri terhadap orang lain, mungkin masih banyak orang yang bisa, tapi bagaimana kita bisa menjaga hati kita agar terhindar dari perasaan iri ini ki…, karena perasaan ini sangat halus dan mungkin kita tidak menyadarinya, mungkin kita hanya tahu bahwa kita ingin seperti orang itu, kita ingin sebaik orang itu, dan lainnya, namun kadang keinginan itu secara tidak sadar ditumpangi perasaan iri itu…..” Kata Maula.

Ki Bijak menarik nafas panjang, “Benar Nak Mas…., perasaan iri, riya,ujub dan penyakit hati lainnya sangat halus, bahkan mungkin lebih halus dari rambatan semut yang kecil sekalipun, karenanya tidak ada cara dan jalan lain untuk mendeteksinya dengan memperhalus, memperlembut dan membersihkan hati kita…..” Kata Ki Bijak.

“Memperhalus memperlembut dan membersihkan hati kita ki…?” Tanya Maula lagi.

Ki Bijak mengangguk, “Coba Nak Mas ambil tissue itu satu lembar saja, dan Nak Mas letakan disini…..” Kata Ki Bijak

Tanpa banyak bertanya, Maula melakukan apa yang diperintahkan gurunya;

“Lalu Nak Mas letakan Koran yang Nak Mas bawa itu disamping tissue….” Pinta Ki Bijak lagi

Maula segera meletakan Koran yang ia pegang disamping tissue putih seperti permintaan gurunya.

Kemudian Ki Bijak mengambil dua ekor semut hitam kecil yang sedang merambat didinding Masjid, “Maaf ya semut, ana ambil sebentar……” Kata Ki Bijak, seolah minta izin pada semut.

Maula tersenyum melihat gurunya, betapa santunnya sang Guru sehingga untuk mengambil semut saja ia mesti minta maaf.

Ki Bijak meletakan dua ekor semut masing-masing diatas tissue putih dan Koran yang bertinta gelap; “Nak Mas bisa melihat semut diatas tissue ini…..?” Tanyanya kemudian.

“Iya ki……” Kata Maula sambil terus mengamati pergerakan semut diatas tissue.

“Sekarang coba Nak Mas cari dimana semut satunya lagi, yang tadi Aki letakan diatas Koran ini…?” Tanya Ki Bijak.

Maula nampak lebih mendekatkan wajahnya ke Koran untuk menemukan semut yang lainnya.

“Ketemu Nak Mas…..?” Tanya Ki Bijak.

“Belum Ki…., tidak kelihatan.., samar dengan tinta Koran ini…..” Jawab Maula sambil terus mencari semut yang tengah merambat diatas Koran.

“Nak Mas tahu bedanya kenapa Nak Mas dengan mudah menemukan semut yang merambat diatas tissue, tapi kesulitan menemukan semut satunya di Koran yang bertinta….?” Tanya Ki Bijak sejurus kemudian.

“Tissue ini putih bersih ki, sehingga dengan mudah semut hitam yang berjalan diatasnya terlihat, sementara tinta dan tulisan Koran ini menyamarkan semut yang berjalan diatasnya….” Kata Maula.

“Kalau tadi Aki katakana bahwa penyakit iri, ujub dan riya itu lebih halus dari rambatan semut, maka untuk mengetahui dan mendeteksinya secara dini, hati kita harus seputih dan sebersih tissue ini Nak Mas, sehingga seperti Nak Mas lihat tadi, meskipun semut itu hitam, kecil dan bergerak, tapi Nak Mas bisa menemukannya dengan cepat……,

“Coba Nak Mas bayangkan seandainya hati kita ini penuh bercak, penuh coretan, penuh guratan dan karat sehingga menghitam seperti Koran ini, jangankan penyakit iri, riya dan ujub, penyakit sombong yang tampak secara lahir pun akan sulit untuk terdeteksi oleh hati yang penuh noda dan debu dosa….” Kata Ki Bijak lagi.

“Ana mengerti Ki…., lalu bagaimana caranya untuk memperlembut hati kita…?” Tanya Maula lagi.

“Dengan dzikrullah Nak Mas, dengan banyak mengingat Allah, mengingat kebesaran Allah, mengingat keagungan Allah, dalam setiap saat, disetiap waktu, dimanapun dan kapanpun, baik dengan lisan,dengan perbuatan dan tentu lebih khusus dengan hati……, detakan selalu hati kita untuk menyebut asma_Nya yang Agung, insya Allah hati kita akan menjadi lembut, lebih halus dan lebih peka untuk dapat mengetahui hal-hal yang halus dan tersembunyi dalam berbagai hal…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki….., ana mengerti” Kata Maula, sambil langsung mencoba dzikir seperti yang dicontohkan gurunya; matanya dipejamkan, bibirnya dikatupkan, ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian hatinya merintih lirih menyebut asma_Nya.., Allah….,Allah…,Allah………………………”

Ki Bijak membiarkan Maula larut dalam dzikirnya, sesaat kemudian ia pun nampak asyik dan larut dalam dzikir yang sangat khusyu….., kedua orang dan murid itu kemudian larut dalam keindahan dzikir untuk menetapi keagungan Allah swt.

Wasaalam

October 19, 2009