Monday, April 16, 2007

TIDAK ADA AGAMA TANPA AKHLAQ

“Agama adalah ibarat pohon yang rindang dan besar, akarnya kokoh menghujam kebumi, dahan dan daunnya rindang meneduhkan, sementara akhlaq adalah buahnya” Kata Pak Ustadz dalam sebuah perbincangan.

“Seseorang yang memiliki ilmu dan pemahaman agama yang baik adalah ibarat pohon yang rindang lagi meneduhkan, tapi belum lengkap jika belum mewujudkan ilmu dan pemahamannya itu dengan akhlaq yang baik dalam kehidupannya”. Lanjut Pak Ustadz.

“Coba antum pikir, jika didepan rumah kita, ada sebatang pohon mangga yang sehat batangnya, lebat daunnya, tapi pohon mangga itu tidak berbuah, apa yang akan antum lakukan terhadap pohon mangga tersebut” Kata Pak Ustadz beranalogi.

“Tentu saya akan menebangnya, Pak? Jawab penulis

“Kenapa?” Tanya Pak Ustadz lagi

“Karena saya menanam pohon mangga itu untuk mendapatkan buahnya, sementara kalau pohon itu tidak berbuah, untuk apa? Mending saya tebang untuk dijadikan kayu bakar “ Jawab penulis.

“Itulah perumpamaan seseorang yang berilmu tapi tidak beramal dan berahlaq dengan ilmunya, ia tidak akan banyak bermanfaat bagi orang lain, seperti pohon mangga tadi, seorang yang berilmu tapi akhlaqnya masih jelek, ia hanya akan menjadi kayu bakar” Jelas Pak Ustadz.

Akhlaq berasal dari kata “Khuluq” yang berarti budi pekerti/karakter, kebiasaan dan perangai, yang secara terminologis didefiniskan bahwa Akhlaq adalah perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang atas kesadaran jiwa tanpa adanya berbagai pertimbangan, tanpa paksaan, spontan sehingga membentuk pribadi seseorang tersebut.

Agama (Islam) adalah akhlaq; “aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq” (HR Bukhari), maksudnya bahwa risalah Islam yang dibawa Baginda Rasulullah bertujuan untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlaq berdasarkan syari’at al qur’an yang agung.

Lalu bagaimana kesempurnaan akhlaq itu bisa terwujud?

Akhlaq adalah buah dari ibadah yang dilaksakan dengan ilmu dan iman yang benar, seperti shalat, “shalat adalah ibarat pohon ibadah, sementara mencegah perbuatan keji dan munkar adalah buahnya” sebagaimana digambarkan Allah dalam ayat berikut;

45. Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al ankabut:29)

Pun demikian dengan ibadah-ibadah lainnya, shaum adalah pohon ibadah, dan taqwa adalah buahnya, Zakat adalah pohon ibadah, sifat dermawan adalah buahnya, ke baitullah adalah pohon ibadah, haji mabrur adalah buahnya.

Ibadah apapun yang kita lakukan tanpa menghasilkan sesuatu yang dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita secara nyata adalah ibarat pohon tanpa buah, dan hanya akan menjadi kayu bakar.

Kalau tidak agama yang tidak disertai akhlaq, maka sebaliknya tidak ada akhlaq yang mulia bagi mereka yang tidak beragama.

Agama dan syari;at adalah sekumpulan pedoman atau buku panduan untuk membentuk manusia berakhlaq, dan hanya dengan mengikuti syari;at dan agama dengan benar sajalah akhlaq mulia itu akan terbentuk.

Kalau kita menyaksikan orang tidak beragama kemudian “berakhlaq mulia”, itu adalah bohong, dan tidak lebih dari pandangan mata kita yang tertipu. Kadang kita dengar orang kafir baik hati, orang tak shalat tidak sombong,orang yang tidak pernah bayar zakat malah kaya, orang yang tidak puasa juga tidak apa-apa, itu adalah pandangan mata kita, karena kita sama sekali tidak mengetahui dibalik kebaikan hati sikafir itu adalah tipu daya setan untuk menguji iman kita, dibalik orang yang tidak shalat itu tidak sombong ada simpul-simpul setan yang siap menjerat kita, dibalik orang kaya yang tidak bayar zakat itu ada perangkap setan berupa kekikiran terhadap kita dan dibalik orang yang tidak puasa itu tidak apa-apa itu ada sebuah lubang yang siap menelan kita kedalam jurang dosa apabila kita tertipu dan terperdaya olehnya.
Setan mengemas semuanya dengan sangat baik, karena memang itu adalah tugasnya, dan tugas kita jangan sampai tertipu dengan kemasan yang dibuat setan, dan bahwa orang yang beragama yang benar adalah mereka yang mengutamakan akhlaq dan akhlaq adalah buah dari keberagamaan yang dilaksanakan secara benar.

Apa tolok ukur kita dalam menilai kebaikan “akhlaq seseorang?


21. Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Suri teladan dan tolok ukur “kebenaran” Akhlaq yang baik adalah Rasulullah, karena beliau adalah panutan yang sudah digaransi oleh Allah tentang kebenaran dan keluhurannya.
tapi khan Rasul sudah tidak ada?

Maka bertanyalah pada al qur’an, karena akhlaq beliau adalah Al qur’an; seperti yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Siti Aisyah ra.

Berikut sepenggal kisah keteladan dan keluhuran akhlaq Rasulullah;

Dalam sebuah riwayat diceritakan ketika baginda Nabi membawakan barang bawaan seorang perempuan tua yang sangat kerepotan dengan barang bawaannya. Nabi ketika itu membawa bagian terberat dari barang bawaan si wanita tua. Disepanjang perjalanan, wanita tua itu selalu mengatakan;

“Hai tuan, anda harus berhati-hati dengan orang yang bernama Muhammad, karena dia seorang tukang sihir dan pendusta, maka jika engkau bertemu dengannya, maka berhati-hatilah terhadap tipu daya....” dan masih banyak lagi cerita si wanita tentang “kejelekan” akhlaq nabi. Hingga ketika baginda Rasul sampai dirumah si wanita tua dan mennrunkan barang bawaanya, wanita tua itu mengucapkan terima kasih atas pertolongannya dan menanyakan siapa namanya,

“Saya muhammad nek....” Jawab Baginda Rasul tenang. Betapa wanita tua itu terkejut bukan kepalang, karena orang yang ia jelek-jelekan sepanjang perjalanan tadi, adalah justru manusia mulia yang telah menolongnya, ia pun menangis dan masuk islam.

Dalam riwayat lain, Baginda Rasul setiap hari menyuapi seorang Yahudi yang buta matanya. Makanan Yahudi itu selalu dihaluskan terlebih dulu sebelum nabi menyuapinya. Setiap hari hal ini dilakukan Baginda Rasul, dan setiap hari pula Yahudi yang buta itu mengata-ngatai nabi dengan perkataan yang tidak benar seperti halnya wanita tua tadi, hingga baginda Rasul meninggalpun si Yahudi tidak tahu bahwa orang yang menyuapinya setiap hari itu adalah Baginda rasul.

Kebiasaan nabi yang menyuapi Yahudi yang buta ini kemudian diteruskan oleh Abu Bakar Shidiq, karena beliau ingin meniru keluhuran akhlaq nabi. Abu Bakar setiap hari pergi kerumah si Yahudi untuk melakukan hal yang sama dengan yang pernah dilakukan oleh nabi.

Tapi satu kebiasaan nabi yang luput dari perhatian Abu Bakar adalah nabi selalu menghaluskan makanan si Yahudi sebelum menyuapinya, sehingga si Yahudi itu berkata;

“Kenapa sekarang makanan ini tidak dihaluskan dulu?” Pasti engkau bukan orang yang biasa menyuapiku setiap hari, ia sangat baik hati dan luhur budi, sehingga tanpa aku minta pun ia datang menyuapiku dengan menghaluskan makananku terlebih dulu, lalu siapakah engkau?” Tanya Yahudi itu.

Abu Bakar berurai air mata mendengar penjelasan yahudi tersebut, ia merasa bahwa kebaikan yang dilakukannya jauh sekali dari apa yang pernah dilakukan nabi, dengan terisak ia menjawab;

“Saya Abu Bakar, kek, sementara orang yang menyuapimu dulu adalah Muhammad bin Abdulah......., sekarang manusia mulia itu telah berpulang ke rahmatullah, dan aku ingin meniru akhlaqnya yang luhur, namun seperti katamu tadi, aku tidak seperti beliau.....” Jawab Abu Bakar terbata-bata.

Yahudi buta tadi terkejut bukan kepalang mendengar penjelasan Abu Bakar bahwa orang yang selama ini menyuapinya adalah Muhammad Rasulullah yang selama ini ia kecam dan dijelek-jelekan, end toh nabi tetap berlaku baik terhadapnya.

Ia menangis menyadari kekeliruanya selama ini, dan diakhir riwayat Yahudi itu berikar Syahadat sebagai tanda keislamannya.

Masih banyak perilaku Rasul yang sangat mulia, seperti ketika beliau berjalan di Thaif dan beliau dilempari dengan batu oleh penduduknya hingga berdarah, namun ketika Malaikat Jibril menawarkan bantuan untuk menghancurkan penduduk Thaif tersebut, beliau melarangnya dan justru mendo’akan agar orang-orang yang tidak mengetahuii kebenaran risalahnya tersebut mendapat hidayah dari Allah swt.

Pun ketika Futhul Mekkah, beliau sama sekali tidak dendam terhadap orang dan kaum yang telah memusuhi dan melarang dakwahnya, yang keluar dari bibirnya yang mulia justru tebaran perkataan kebebasan dan kedamaian bahkan terhadap mereka yang memusuhinya sekalipun.

Ditengah ketakutan kaum quraisy terhadap pasukan kaum muslimin, Rasulullah (SAW) bertanya kepada orang-orang Quraisy: "Apakah yang kalian kira akan kuperbuat terhadap kalian pada hari ini?" Mereka berkata, "Kebaikan, sebab engkau adalah kerabat kami yang berbudi luhur." Sampai disini, Rasulullah (SAW) mengatakan kepada mereka," Akan kuperlakukan kalian sebagaimana halnya Nabi Yusuf (AS) memperlakukan saudara-saudaranya." Dan Rasulullah (SAW) menyatakan pemberian maafnya yang begitu besar, beliau pun membacakan kalimat maaf Nabi Yusuf (AS);Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, (Yusuf:92)

Dengan kata lain, Nabi (SAW) mengatakan, "Kalian bebas dari segala tuntutan. Tak seorangpun akan membahayakan kalian pada hari ini." Betapa tak ada contoh lain dalam sejarah kehidupan manusia, sebuah pemberian maaf yang begitu besar kepada musuh yang sangat haus-darah.

Subhanallah, betapa luhur dan agung akhlaq Baginda Rasul mulia itu.

Dan tugas kita adalah kalaupun kita tidak atau belum bisa mencapai tingkatan tertinggi dalam ahlaq kita, setidaknya kita bisa menghargai dan membalas jasa orang lain dengan hal yang sepadan, syukur kalau kita bisa membalas kebaikan itu dengan hal yang lebih baik;

86. Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)[327]. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu. (An nissa:86)

Jelas bedanya pohon yang menghasilkan buah dengan pohon yang rindang tanpa buah, jelas bedanya antara orang yang beragama dengan sebaliknya, dan luhur tidaknya akhlaq-lah yang membedakannya.

Wassalam

April 16, 2007

MAS GIMIN, SEBUAH KISAH NYATA

Hampir pada setiap waktu shalat berjamaah dimasjid Mifthahusallam, penulis menemukan sesosok pria bertubuh tinggi besar berada ditengah-tengah jama’ah yang hadir. Pria setengah baya itu selalu nampak khusyu dalam shalatnya, dan sampai hari ini pun penulis belum berkesempatan untuk berbicara langsung dengan beliau, karena beliau selalu melanjutkan aktivitas dzikir ba’da shalatnya dengan tafakur yang demikian intens, sehingga penulis khawatir mengganggu tafakur beliau tersebut.

Sekian waktu berlalu, dan selama itu pula penulis hampir selalu bertemu beliau dimasjid tersebut dengan kondisi seperti diatas. Rasa penasaran inilah yang kemudian mendorong penulis untuk bertanya kepada Pak Ustadz pada suatu kesempatan;

“Pak Ustadz, Bapak itu siapa ya?” Tanya penulis sambil menyembutkan ciri-ciri jama’ah tetap masjid tersebut, yakni membawa motor honda dan hampir selalu membawa putranya ketika shalat berjamaah dimasjid.

“Oooh, itu Mas Gimin” Jawab Pak Ustadz.

“Siapa dia Pak? Tanya penulis lagi.

Pak Ustadz kemudian bercerita tentang awal perkenalannya dengan Mas Gimin tadi yang terjadi sekitar tahun 1999 lalu.

Beliau dulu adalah juru masak di restoran depan itu” Kata Pak Ustadz sambil menunjuk sebuah rumah makan yang tepat berada didepan masjid kami. Restoran itu dulu dikenal sangat ramai pada malam hari karena restauran itu menyediakan berbagai fasilitas kehidupan malam bagi para pengunjungnya.

Masyarakat sekitar yang gerah dengan aktivitas rumah makan yang sudah beralih fungsi tersebut, kemudian mendatangi Pak Ustadz untuk meminta pendapat tentang upaya menghentikan kegiatan restauran yang sudah dianggap keterlaluan.

Beberapa orang pemuda desa setempat kemudian mendatangi Pak Ustadz, mereka meminta izin dan pendapat pada pak Ustadz untuk “menyerbu” restoran itu.

“Jangan dulu, nanti coba saya minta pendapat pada Pak Kyai” Kata Pak Ustadz.

Atas nasehat dari Pak Kyai, guru Pak Ustadz tadi, pak ustadz kemudian melakukan upaya pendekatan kepada pemilik restauran dan para pegawainya sebagai upaya mengingatkan dan menyadarkan mereka, bukan dengan cara kekerasan yang diusulkan para pemuda tadi.

Usaha inilah yang kemudian mempertemukan Pak Ustadz dengan Mas Gimin, seorang juru masak paling senior dirumah makan tersebut, yang menjadi andalan sang pemilik rumah makan untuk menjamu para tamunya dengan masakan yang lezat.

Setelah beberapa kali pertemuan dengan Pak Ustadz, ada beberapa orang karyawan rumah makan tersebut yang menyadari bahwa ditempatnya bekerja terdapat benih-benih kemaksiatan dan dosa, termasuk salah satu diantaranya adalah Mas Gimin.

“Pak Ustadz, saya menyadari bahwa tempat ini kurang berkah, tapi bagaimana ya Pak, saya tidak punya usaha lain untuk menghidupi anak istri saya, kalau saya keluar dari rumah makan tersebut, bagaimana saya menafkahi anak istri saya?” Kata Mas Gimin menyatakan rasa gundahnya pada Pak Ustadz.

Mas Gimin percaya bahwa rezeki Allah yang mengatur?” Tanya pak Ustadz memaklumi keberatan Mas Gimin.

“Saya percaya Pak” Jawab Mas Gimin.

Mas, saya pun tidak tahu usaha apa yang harus mas Gimin lakukan seandainya mas Gimin keluar dari rumah makan itu, tapi kalau kita yakin bahwa Allah akan memberikan jalan keluar kepada orang-orang yang ikhlas berhijrah meninggalkan kemunkaran, Insya Allah, Allah akan memberi jalan keluar pada Mas Gimin, yang penting sekarang Mas keluar dulu dari lingkungan yang berbau maksiat tersebut dengan niat lillahita’ala...” Papar Pak Ustadz.

Selanjutnya, setelah beberapa waktu lamanya, Mas Gimin diberikan kekuatan oleh Allah untuk keluar dari rumah makan yang selama ini menjadi sandaran penghasilan untuk menafkahi keluarganya, meskipun pemilik rumah makan tersebut mengiming-imingi Mas Gimin dengan kenaikan gaji yang lebih besar.

Setelah keluar dari rumah makan tersebut, Mas Gimin hanya mengandalkan sedikit tabungannya untuk menafkahi keluarganya, ia tidak langsung menemukan usaha apa yang harus dikerjakan untuk menutupi kebutuhan dapurnya.

Akhirnya, Mas Gimin memutuskan untuk membuat gerobak dorong dan dengan bekal keahlianya memasak selama ia bekerja dirumah makan, ia berjualan nasi goreng dipinggir jalan.

Usaha jualan nasi goreng yang dirintis Mas Gimin tidak langsung laku, beberapa lama ia sedikit mendapat ujian dari Allah dengan niat tulusnya untuk keluar dari lingkaran kemunkaran. Dan selama itu pula Mas Gimin selalu menyempatkan diri berjamaah dimasjid sambil terus meminta pendapat dan saran dari Pak Ustadz, hingga akhirnya penulis bertemu beliau dimasjid itu.

Setelah sekian lama berjualan nasi goreng dipinggir jalan, Nasi goreng mas Gimin mulai dikenal dan singkat cerita usahanya berkembang. Mas Gimin kemudian membuka warung untuk dagangannya.

Janji Allah kemudian mulai nampak bagi mereka yang benar-benar sabar dan istiqomah dalam berjuang dijalannya. Warung itupun berkembang dan sekarang sudah mempunyai cabang ditempat lain.

Mas Gimin tidak lagi berjualan dipinggir jalan dengan gerobak dorongnya, ia sekarang sudah memiliki warung dengan beberapa orang pegawai yang bekerja diwarung makannya, penghasilannya pun sekarang lumayan.

Nafkah keluraga yang dulu menjadi salah satu alasan keberatan mas Gimin untuk keluar dari rumah makan tersebut mulai tertutupi dengan penghasilannya yang sekarang, bahkan mungkin jauh lebih besar dari penghasilannya ketika ia bekerja sebagai juru masak dirumah makan.

Hari ini, pagi tadi, penulis berpapasan dengan Mas Gimin, dan sekali lagi sebuah bukti kebenaran janji Allah dalam firman-Nya;


2. Apabila mereka Telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu Karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.(At Thalaq:2)

3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.(At Thalaq:3)

Mas Gimin sekarang, dengan beberapa warung yang dikelolanya, sudah menaiki mobil Avanza sebagai buah jerih payahnya dan Insya Allah merupakan balasan dari Allah atas keberanianya meninggalkan kemunkaran, atas kesabarannya menjalani kehidupan yang benar dan atas istiqomahnya menjalankan kasab dan syari;atnya yang tidak melanggar tata nilai dan syari’at yang digariskan.

Ada banyak cerita sejenis yang kita lihat disekitar kita, baik itu melalui sinetron atau surat kabar, dan kisah ini penulis temukan dari seorang rekan jama’ah masjid yang hampir setiap hari bertemu dimasjid.

Adakah kita masih meragukan janji Allah?

100. Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An Nissa:100)

Perhatikan lagi, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak”, dan meninggalkan tempat yang dipenuhi kemaksiatan meskipun disana adalah ladang usaha kita, adalah sebuah hijrah hakiki yang akan dibalasi oleh Allah dengan Rezeki yang banyak, salah satunya adalah kisah diatas tadi.

Meninggalkan kebiasan buruk, seperti kebiasaan mengakhirkan waktu shalat dengan alasan kesibukan adalah hijrah, yang insya Allah akan dibalas oleh Allah dengan rezeki yang jauh lebih berkah dan bermanfaat.

Meninggalkan sifat kikir karena takur miskin, kemudian berhijrah untuk menjadi ahli sedekah dan zakat, insya Allah akan dibalas oleh Allah dengan harta yang bersih lagi bermanfaat.

Dan masih banyak tempat hijrah; niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas, dengan niatan yang tulus ikhlas karena Alla semata, Insya Allah kita akan mendapatkan “rezki yang banyak” sebagai balasan atas keikhlasan kita menjauhi apa yang dilarang Allah dan menegakan apa yang diperintahkan-Nya.

Semoga kita menjadi Mas Gimin yang lain, yang diberi kekuatan oleh Allah untuk dapat meninggalkan tempat-tempat maksiat, baik itu tempat usaha kita, atau tempat-tempat maksiat yang berada diruang hati kita.

Ada tempat maksiat diruang hati kita?

Kemusyrikan adalah tempat maksiat yang berada diruang hati

Kekufuran adalah tempat maksiat yang berada diruang hati

Kesombongan dan sifat takabur adalah tempat maksiat diruang hati

Maka dari itu terangi ruang hati kita dengan ilmu dan keimanan, agar kita bisa dengan jelas membedakan mana maksiat dan mana syari’at.

Subhanallah, subhanakaallanhuma laa ilaha illa anta, astaghfiruka waatubuhi ilaka.

Wassalam

April 16, 2007

Friday, April 13, 2007

NIFAQ, DURI DALAM DAGING


Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk, seorang budak pada saat beliau akan memimpin shalat. Pembunuhan ini konon dilatarbelankangi dendam pribadi Abu Lukluk terhadap Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M.

Utsman bin Affan (bahasa Arab: عثمان بن عفان) (sekitar 574 - 656) adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk Khulafaur Rasyidin yang ke-3. Usman adalah seorang yang saudagar yang kaya tetapi sangatlah dermawan. Dialah yang berjasa membeli sumur dari orang Yahudi yang memonopoli air di Madinah. Beliau juga berjasa dalam hal membukukan Al-Qur'an. 'Ustman bin Affan dibunuh oleh orang-orang khawarij.

Ali Bin Abi Thalib meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami shalat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah

Umar Ibnu Khatttab, seorang yang gigih dan gagah perkasa dalam menegakan kejayaan Islam, justru wafat karena keculasan seorang munafik yang bernama Abu Lukluk tadi, bukan pada saat perang dengan musuh dalam perang badr atau perang-perang yang beliau ikuti demi menegakan agama Allah.

Ustman Ibnu Affan, seorang Dermawan dan khalifah yang sangat berjasa besar dalam pembukuan mushaf al qur’an seperti yang kita kenal sekarang, seorang pejuang yang turut diberbagai medan pertempuran, justru diwafatkan Allah lewat tangan orang-orang munafik dari kaum Khawarij.

Ali bin Abi Thalib, seorang cendekiawan Islam yang dikenal ahli dalam strategi militer, pahlawan yang turut dalam perang badar, perang khandaq dan juga berbagai medan perang lainya, juga diwafatkan Allah melalui tangan seorang munafik bernama Abdrrahman bin Muljam.
Kegigihan dan kegagahan yang diwakili oleh Umat Bin Khattab, kedermawanan yang terdapat dalam diri Ustaman bin Affan serta kecendekiawanan dan patriotisme yang tergambar dalam diri Ali Bin Abi Thalib, semuanya harus berakhir oleh kemunafikan yang diwakili oleh para pembunuh generasi terbaik Islam tersebut.

Munafik, betapa sifat ini sangat berbahaya, karena mereka ibarat bunglon yang bisa menyerupakan dirinya dengan lingkungan sekitarnya, ketika ia berkumpul dengan orang mukmin, mereka berlaku layaknya seperti orang mukmin, tapi dibalik itu mereka adalah orang-orang yang paling jahat lagi keras permusuhannya dengan orang mukmin;

14. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami Telah beriman". dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka[25], mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok."(Al Baqarah:14)

Mereka bisa menyamar sebagai seorang budak, seperti Abu Luklu, yang kemudian menikam Umar Ibnu Khattab dari belakang, mereka juga bisa menyamar seperti Abdrrahman bin Muljam, seorang munafik yang lebih menyerupai orang alim, berjubah, berjanggut bahkan konon keningnya tampak hitam bekas sujud, tapi toh mereka tetap setan yang berbahaya bagi kegigihan, bagi kedermawanan, bagi kecerdasan bahkan mereka adalah kelompok yang mampu membuat perang dengan muslihatnya, mereka mampu membuat kerusakan pada peradaban manusia dengan kelicikannya.

Pantas jika Allah memerintahkan nabi dan kita untuk memerangi orang dan sifat munafik ini, sebagaimana firman-Nya;
73. Hai nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.(At Taubah:73)

Nifaq ibarat duri dalam daging yang harus segera dicabut agar tidak menimbulkan rasa nyeri yang berkepanjangan. Seperti ayat diatas, kita harus mengikrarkan “perang” terhadap orang-orang munafik dan juga sifat-sifat nifaq yang mungkin masih menancap bak duri dalam hati dan diri kita yang mengaku sebagai orang beriman.

Lalu siapa yang termasuk kategori ini?

56. (yaitu) orang-orang yang kamu Telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).

61. Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti nabi dan mengatakan: "Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya." Katakanlah: "Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu." dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.
67. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[648]. mereka Telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.
[648] Maksudnya: berlaku kikir

79. (orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.(At Taubah:79)

Pertama; mereka yang mengkhianati janjinya

Kedua, mereka yang menyakiti nabi dengan memperolok-oloknya

Ketiga, mereka menyeru pada kemunkaran dan melarang yang makruf

Keempat, mereka yang menggemgam tangannya karena kikir

Kelima, orang yang suka memperolok orang mukmin

Keenam; bahkan ada diantara mereka yang mendirikan masjid, demi menutupi kedok mereka yang hendak menimbulkan kemudharatan dikalangan umat, sebagaimana ayat berikut;

107. Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang Telah memerangi Allah dan rasul-Nya sejak dahulu[660]. mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).(At Taubah:107)

[660] yang dimaksudkan dengan orang yang Telah memerangi Allah dan rasul-Nya sejak dahulu ialah seorang pendeta Nasrani bernama abu 'Amir, yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya dari Syiria untuk bersembahyang di masjid yang mereka dirikan itu, serta membawa tentara Romawi yang akan memerangi kaum muslimin. akan tetapi kedatangan abu 'Amir Ini tidak jadi Karena ia mati di Syiria. dan masjid yang didirikan kaum munafik itu diruntuhkan atas perintah Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan wahyu yang diterimanya sesudah kembali dari perang Tabuk.

Mari kita kobarkan semangat jihad untuk memerangi sifat nifaq yang mungkin masih bersemayam didada kita, dengan memenuhi janji kita, baik itu janji kita kepada Allah sebagaimana yang kita baca pada setiap shalat kita, “Inna shalati wanusuki wamayahya wamamati lillahita’la”, dengan tidak menyekutukan Allah baik secara uluhiyah maupun secara rubbubiyah, dan juga dengan menepati janji kita kepada sesama manusia.

Mari kita kobarkan semangat jihad untuk memerangi mereka yang memperolok-olok nabi, mereka yang menyeru kepada kemunkaran, mereka yang melarang pada kemakrufan, mereka yang kikir dalam menafkahkan rezekinya dijalan Allah serta mereka yang membangun masjid untuk tujuan memecah belah umat ini.

Bersihkan hati dan jiwa kita dari sifat nifaq dan berjihad melawan kemunafikan.

Wassalam

April 13, 2007

Thursday, April 12, 2007

STRES? DZIKRULLAH PENAWARNYA

28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-rad:28)

Kehidupan “modern” dewasa ini telah melahirkan banyak sekali perubahan dalam perilaku kehidupan manusia, ada perubahan yang mengarah pada perbaikan, pun tak jarang perubahan yang terjadi justru menimbulkan berbagai ekses negatif pada sebagian orang.

Stress, menjadi “penyakit” yang banyak melanda masyarakat modern sekarang ini. Stres yang diakiabtkan himpitan ekonomi, stres yang diakibatkan oleh tingginya tensi persaingan, stres yang dipicu oleh pergerakan jaman yang demikian cepat, stress yang ditimbulkan oleh berbagai macam faktor, menjadi sesuatu yang “lumrah” kita temukan dewasa ini.

Bahkan dalam dekade terakhir faktor penyebab stres berkembang sedemikian cepat yang mengakibatkan jumlah penderita penyakit jenis ini bertambah dengan pesat pula.

Mulai dari berat badan yang kegemukan, menyebabkan orang stres bukan kepalang, kemudian mereka berusaha menurunkan berat badannya dengan minum jamu pelangsing atau diet ketat, yang pada sebagian orang justru mengakibatkan dampak yang jauh lebih buruk dari kegemukan itu sendiri.

Kurang berat badan, bagi sebagian orang juga merupakan sesuatu yang menjadi pemicu timbulnya stres, mereka berlomba mengkonsumsi berbagai obat untuk merangsang nafsu makan, dan lagi hal ini tidak menjamin bahwa upaya mereka akan menghilangkan stresnya.

Kurang tinggi badan, terlalu tinggi juga bagi beberapa orang membuat mereka sibuk bukan kepalang dan berusaha untuk “memperbaikinya” dan ini pun memicu stres.

Kulit hitam atau kecoklatan atau putih berlebihan, juga merupakan hal lain yang bagi sebagian orang dijadikan pemicu stres.

Kemiskinan menyebabkan orang stres, yang kemudian mendorong mereka melakukan hal-hal yang diluar kewajaran upaya dan usaha yang mesti dilakukan.

Kelebihan harta juga menimbulkan stres, takut jatuh miskin, takut dirampok, takut bangkrut dan lainnya yang kadang berlebihan dan tidak pada tempatnya.

Tidak memiliki pekerjaan stres, terlalu banyak kerja stes, belum lagi masalah anak, masalah keluarga, tetangga yang tidak beres, dan masih seabreg lagi faktor yang menyebabkan orang terjebak dalam kubangan stes.

Berbagai cara dilakukan orang untuk mengobati penyakit ini, ada yang pergi berlibur untuk menghilangkan stresnya, ada yang mengalihkannya dengan berbagai macam kesibukan, ada yang kedokter, ada yang ke psikiater, dan bahkan ada yang pergi kedukun segala untuk menyembuhkan penyakit stres ini.

Pergi berlibur untuk menghilangkan stres, hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kelebihan uang untuk biayanya, bagaimana mereka yang dilanda stres namun tidak memiliki kesanggupan untuk berlibur karena alasan biaya?

Mengalihkan perhatian pada hal dan kesibukan lain, mungkin bisa dilakukan, tapi tak ada jaminan bahwa kesibukan baru itu akan mampu mengobati stresnya, atau bahkan mungkin justru menambah stresnya.

Kedokter atau psikiater adalah sebuah langkah logis, tapi ini juga memerlukan biaya yang tidak sedikit dan waktu khusus untuk melakukannya.

Adalah sebuah kebodohan yang nyata kalau ada orang yang pergi kedukun untuk menyembuhkan stres yang dialaminya, lalu bagaimana kiat Islam menanggulangi masalah ini.
Agar kita lebih mudah menemukan obat bagi stres kita, ada baiknya kita mengetahui terlebih dulu hal ikhwal atau akar masalah yang menyebabkan timbulnya berbagai faktor penyebab stres tersebut.

Minimnya Iman dan Rasa syukur kita kepada Allah swt adalah penyebab dari segala faktor yang menyebabkan sebagian kita terkungkung dengan stres.

Entah mana yang lebih dulu diantara keduanya, yang jelas, keimanan seseorang yang lemah akan menyebabkan seseorang dengan mudah terpelanting oleh sifat kufur nikmat, atau sebaliknya, sifat kufur merupakan virus-virus yang akan menggerogoti keimanan seseorang.

Seperti uraian diatas, kegemukan yang tidak disikapi dengan keimanan yang benar, melahirkan rasa frustasi, kenapa saya gembrot, kekurusan yang tidak disikapi dengan keimanan yang benar menjadikan sebagian orang minder, terlalu tinggi, terlalu pendek, kulit hitam, yang tidak disikapi secara benar akan melahirkan sifat kufur kepada nikmat Allah Swt.

Kita diciptakan Allah sudah dalam keadaan built-up, kita tidak pesan, baik itu kita gendut, kurus, tinggi atau pendek, putih atau hitam kulit kita, kita tidak bisa memilih, jadi untuk apa kita menghabiskan waktu dan sebagian besar energi kita, bahkan pada stadium tertentu menjadikan kita kufur kepada nikmat Allah terhadapa sesuatu yang memang sudah terjadi dan diluar jangkauan kemampuan kita?

Nikmati saja, kalau kita gemuk atau kurus , mintalah kepada Allah agar kegemukan atau kurangnya berat badan kita menjadi berkah bagi kita, bukankah banyak orang yang justru dengan kegemukan atau kurus badannya ia mendapatkan berbagai macam keuntungan?
Kalau kita pendek atau terlalu tinggi, nikmati saja, end toh itu bukan merupakan penghalang bagi berlimpahnya nikmat Allah bagi mereka yang mau mensyukurinya.

Ingat nilai kita dimata Allah bukan karena kita tampan rupawan, bukan karena kita cantik jelita, bukan karena tinggi dan pendeknya ukuran tubuh kita, bukan, tapi nilai kita dimata Allah adalah kadar ketaqwaan kita sebagaimana tercantum pada ayat berikut,


13. Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dan ini yang harusnya kita perjuangkan untuk senantiasa terus memperbaikinya; jangan sampai kesibukan kita memikirkan penampilan lahiriah kita justru akan melalaikan kita terhadap upaya perbaikan ketaqwaan kita kepada Allah swt;

Kemiskinan, yang disikapi secara benar, juga tidak seharusnya menjadikan kita stres, karena kemiskinan adalah sebentuk batu asah untuk menguji kadar kesabaran kita, barang siapa yang sabar akan ujian Allah maka ia memiliki maqam yang demikian mulia disisi Allah;

153. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(Al Baqarah:153)

pun demikian halnya dengan kekayaan yang kita miliki, juga merupakan sebuah kikir pengasah nilai syukur kita, yang jika kita lulus, maka jaminan Allah terhadap bertambahnya nikmat atas syukur kita;

7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(Ibrahim:7)

Sehingga dalam sebuah hadits, Baginda Rasul menyatakan;

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, setiap keadaanya (akan mendatangkan) kebaikan, jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya, jika mendapatkan musibah, ia bersabar, maka itu baik baginya (HR.Muslim)”

Jadi kenapa kita mesti Stres?Jika kita miskin kemudian kita sabar, maka kita mendapatkan tempat tersendiri disisi Allah?

Jadi kenapa kita mesti Stres? Jika dengan kekayaan yang kita syukuri nikmat kita akan ditambah oleh Allah?

Renungkan kembali sejenak, apa untungnya kita stress yang berlebihan karena hal-hal yang kadang tidak rasional, bukankah kita selama ini mengklaim segala sesuatunya harus masuk rasio, harus masuk logika, (shalat dan gerakannya harus masuk akan dan rasional, puasa pun demikian, bahkan keberadaan Allah-pun bagi orang-orang tertentu harus masuk logika dan rasio mereka) tapi justru kadang dalam hal-hal yang mudah saja kita tidak bisa pakai logika dan rasio kita dengan benar.

Perbaharui Iman dan Syukur kita kepada Allah swt, Insya Allah stres tak lagi melanda.
Ayat diatas juga dengan gamblang menyatakan bahwa kita bahwa kita tidak perlu jauh-jauh pergi berlibur dan mengeluarkan sejumlah uang untuk mengeluarkan kita dari kungkungan stres, cukup dengan mengingat Allah, dengan berdzikir.

Kita juga tak perlu membebani kehidupan kita dengan serangkaian kegiatan lain ditengah rutinitas kita untuk menghilangkan stres, cukup dengan berdzikir kepada Allah, Insya Allah stres kita akan teratasi.

Kita juga mungkin bisa menghemat uang konsultasi kedokter atau ke psikiater untuk mengobati stres kita, kita cukup dzikrullah.

Kita juga akan aman dari tipu daya setan yang sangat mungkin terjadi ketika kita mengadukan perihal masalah stres kita pada pihak yang tidak tepat (dukun-pen), Dzikir saja kepada Allah, Insya Allah stres kita akan tertanggulangi.

Dzikrullah adalah pilihan terbaik bagi siapapun yang ingin hidupnya lepas dari bayang-bayang stres, tidak dipungut biaya apapun, bisa dilakukakan kapanpun dan yang terpenting mendapat jaminan dari Allah Swt, bahwa , Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Secara etimologi bahasa Arab, zikir diambil dari kata "dzakara-yadzkuru-dzikrân" yang berarti "mengingat".

Ada banyak ayat dalam al qur’an yang memerintahkan kita untuk senantiasa berdzikir mengingat Allah;

41. Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (Al Ahzab:41)

205. Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(Al A’raf:205)

14. Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain aku, Maka sembahlah Aku dan Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran:193)

103. Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

Allah telah memberikan karunia-Nya kepada kita berupa obat penentram hati atau oabt stress, sekarang mujarab tidaknya obat tersebut adalah berbanding lurus dengan tingkat keimanan dan rasa syukur kita kepada Allah Swt.

Mari kita niatkan lillahita’ala, “hidup sehat tanpa Stres”

Wassalam

April 12, 2007

Wednesday, April 11, 2007

NASEHAT BISU

Dalam sebuah acara pengajian di Masjid Mifthahusallam Cikampek beberapa waktu lalu, Pak Kyai membuka Tausiahnya dengan kata pembuka yang “tidak lazim” dan tidak seperti biasanya;

“Kepada para calon ahli kubur yang dimuliakan Allah.................................dst” Demikian kata pembuka dari Pak Kyai.

Sambutan dan kata pembuka dengan kata ganti “ahli kubur” adalah mungkin pertama kali didengar oleh jama’ah yang hadir, sehingga mereka tampak sedikit “heran”

“Bapak, ibu ridha saya panggil calon ahli kubur?” Sambung Pak Kyai sepert mengerti keheranan dilubuk hati kami.

“Ridha................” Jawaban sebagian jama’ah, sementara sebagian yang lain masih tampak kebingungan.

Bapak, ibu dan hadirin sekalian, sengaja saya membuka Tausiyah ini dengan menyapa hadirin dengan sebutan calon ahli kubur, karena sekarang ini sudah banyak diantara kita yang lupa akan kematian, sudah banyak diantara kita yang lupa bahwa suatu saat nanti, pasti ia akan menjadi mayat dan menghuni kubur.......................” Jelas Pak Kyai selanjutnya.

Jama’ah yang hadir nampak mulai menemukan titik terang arah pembicaraan Pak Kyai, yakni untuk mengingatkan kepada jama’ah khususnya dan kepada semua manusia, bahwa kehidupan ini ada batasnya, bahwa hidup ini ada akhirnya, bahwa kita semua akan mati!

“Bapak, ibu hadirin sekalian, kenapa kita harus mengingat mati? Pancing Pak Kyai

Tanpa menunggu jawaban dari jama’ah yang hadir, Pak Kyai melanjutkan;

“Banyaknya orang yang berlomba-lomba mengumpulkan harta, hingga kadang lupa waktu, lupa kewajiban terhadap tuhannya, atau bahkan menghalalkan segala cara untuk mengumpulkan dan menumpuk harta kekayaan, salah satu faktornya adalah karena mereka lupa bahwa mereka akan mati”.

Harta kekayaan yang mereka kumpulkan sama sekali tidak akan mampu membebaskan mereka dari sunnatullah kematian, harta kekayaan mereka juga tak mungkin menolak kehadiran sang tamu terakhir yaitu Malaikat Maut.

Harta kekayaan yang mereka banggakan didunia, sama sekali tidak dapat dijadikan teman mereka didalam dekapan tanah kuburan yang dingin dan gelap serta sempit, sama sekali tidak!
“Kemudian kita juga sering menyaksikan dan menjumpai orang yang rela mengorbankan segalanya, termasuk akidah sekalipun untuk memperoleh pangkat dan jabatan, seolah-olah pangkat dan jabatan itu mampu menyelamatkan mereka dari kematian”.

Sekali-kali tidak! Kematian akan datang menjemput siapapun, karena itu merupakan sunnatullah, bahwa setiap yang bernyawa akan mati.

Kita juga sering menyaksikan betapa banyak orang yang berfoya-foya dalam hidupnya, menghabiskan waktu dan jatah umurnya hanya untuk berandai-andai dan panjang angan, betapa banyak orang yang menghabiskan jatah umurnya untuk melakukan berbagai aktivitas yang tidak berguna bahkan menyimpang jauh dari tujuan penciptaan mereka, mereka menghabiskan waktu dimeja judi, mereka menghabiskan waktu ditempat karaoke, mereka menghabiskan waktu untuk bercanda yang tiada guna, mereka menghabiskan waktu dengan mengumbar cerita dusta, seakan-akan mereka akan hidup selamanya, sehingga waktu yang menggeroti jatah hidupnya tak lagi dipedulikan dan diperhatikannya.

Kematian adalah nasehat....ajal yang menjemput seolah berkata-kata kepada kita;

“Kini saatnya engkau meninggalkan jasadmu dan meninggalkan semua yang kau cintai didunia ini”

“Tak guna apa yang kau usahakan diduniamu dengan keserakahan, karena pada hari ini, aku, maut menjemputmu tanpa menyertakan apapun yang kau miliki”

“Tak guna hartamu yang bertumpuk dan berlimpah, karena aku, sang maut tak pernah terhalang oleh tumpukan harta untuk mencabut nyawamu”

“Tak berarti tinggi pangkatmu, karena aku, sang maut tak pernah peduli setinggi apa kedudukanmu didunia”

“Tak mungkin aku, sang maut mengulur waktu barang sedetikpun untuk memberi kesempatan kepadamu untuk bertobat, karena selama ini engkau telah lalai dalam menghabiskan waktumu”

“Tak ada jatah tambahan bagimu, meski engkau menyesal seluas langit dan sepenuh bumi, karena saat ini adalah akhir bagi kehidupanmu”

Kematian mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersiap diri dengan bekal perjalanan abadi nanti, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput kita.

Kematian mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menggunakan waktu dengan bijaksana, karena waktu dan jatah hidup kita bukan tanpa batas.

Kematian mengajarkan kepada kita bahwa harta, pangkat dan jabatan yang kita sandang didunia menjadi tiada guna.

“Wahai sahabat, mungkin hari ini engkau yang mengantar jenazah saudaramu kesini, kekuburan ini, esok lusa mungkin tiba giliranmu untuk diusung dikeranda dan ditimbun dengan tumpukan tanah, sahabat, sanak keluarga serta semua orang yang mengantarmu, mereka beramai-ramai menimbunmu dengan tanah, menginjak-injak kuburanmu yang basah, dan setelah itu mereka berlalu meninggalkanmu sendirian dalam himpitan liang lahat yang gelap dan menakutkan, tanpa menoleh, tanpa peduli bagaimana kondisimu didalam kubur sana”

Jika engkau termasuk orang yang beriaman dan beramal shaleh, rajin dan baik amalmu selama didunia, maka kuburmu mungkin menjadi tempat persinggahan yang nyaman bagimu selama menunggu kiamat tiba. Tapi jika engkau termasuk orang-orang dhalim lagi berdosa, maka kuburmu adalah neraka, karena disana engkau akan merasakan kedinginan, kegelapan, dan siksa.Naudzubullah.

“Wahai sahabat, hari ini mungkin kita masih bisa tertawa, tapi siapa yang menjamin besok kita bisa melakukannya? Esok lusa, ketika kematian datang, jangankan tertawa, untuk sekedar senyumpun kita tak akan mampu lagi, mulut kita akan tertutup rapat disumpal kapas putih yang akan menemani kita keliang lahat.

“Mulut dan lidah yang kala didunia digunakan untuk menyampai kebenaran dan dakwah, akan dibalasi Allah dengan rahmat-Nya, sementara mulut dan lidah yang kala didunia lebih banyak digunakan untuk ghibah dan fitnah, akan diberi minum dari cairan panas yang mendidih, yang akan menghancurkan rongga mulut dan lidah kita, Naudzubullah”

“Wahai sahabat, hari ini mungkin mata kita masih melihat matahari, tapi siapa yang tahu esok atau lusa, ketika kematian datang, mata kita akan terpejam rapat tanpa bisa berkedip sekalipun”

“Mata yang ketika didunia senantiasa menangis menyesali dosa dan bertaubat, mata yang ketika didunia digunakan untuk berjaga dalam jihad dijalan Allah, mata yang kala didunia terjaga dari pandangan nakal dan syahwat, adalah mata yang tidak akan menangis diakhirat kelak karena rahmat Allah, sementara mata yang liar tak terkendali dari hal-hal yang diharamkan Allah, mata yang tak pernah menangis menyesali dosa kala didunia,mata yang begadang karena hal yang tiada guna, akan menangis tersedu sedan menahan sakitnya siksa neraka, Naudzubillah”

“Wahai sahabat, hari ini mungkin kita masih bisa melangkahkan kaki dan mengerakan tangan kita, tapi esok atau lusa, ketika kematian menjelang, tangan dan kaki kita terbujur kaku tanpa daya”

“Tangan yang senatiasa bersedekah, tangan yang senantiasa tengadah berdo’a dan mohon ampun kepada Allah, tangan yang ringan untuk menolong sesama, tangan yang senatiasa terjaga dari berbuat kerusakan, tangan ini akan mendapat rahmat Allah Swt, sementara tangan yang selalu berbuat kerusakan, selalu bersembunyi dibalik punggung karena kekikiran, tangan yang tak pernah terulur untuk membantu sesamanya, adalah tangan yang akan mendapat azab dari Allah Swt, Naudzubillah”

“Kaki yang senantiasa ringan melangkah kemasjid, kaki yang senantiasa riang menuju majlis ilmu, kaki yang senantiasa berdiri kokoh untuk shalat, adalah kaki yang dirahmati, sementara kaki yang melangkah pasti ketempat maksiat, kaki yang malas melangkah kemasjid dan masjlis ilmu, kaki yang gontai kala shalat karena malas, adalah kaki-kaki yang dilaknati, Naudzubullah".

Maka dari itu, ingatlah akan kedatangan kematianmu yang pasti terjadi, agar engkau tidak lalai dalam menggunakan waktumu, agar engkau tidak silau dengan gemerlap duniamu, agar engkau sadar, bahwa kematian adalah sebuah kepastian.

Kematian, bagi orang beriman dan beramal shaleh adalah sebuah gerbang menuju perjumpaan dengan sang Pencipta.

Kematian, bagi orang yang kafir lagi durjana, adalah gerbang yang akan menggiring mereka kedalam tungku neraka.

Maka dari itu, mari kita segera bersujud mengumpulkan bekal terbaik kita untuk perjalanan panjang nanti, dan bekal itu bisa berupa harta yang dinafkahkan dijalan Allah dengan Ikhlas, Ilmu yang diamalkan, bisa pangkat dan jabatan yang digunakan untuk menegakan agama Allah, jihad fi amwalikum wan anfusikum, agar kelak menjelang kepulangan kita kekampung abadi, buah amal harta kita, buah amal ilmu kita, buah amal pangkat dan jabatan kita, buah amal jihad kita, dapat menjadi bekal yang akan menemani perjalanan panjang nanti.

Wassalam

April 11, 2007

Tuesday, April 10, 2007

BAHAYA LATEN “GHASWUL FIKR”

120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(Al Baqarah:120)

Ayat diatas adalah merupakan statement yang jelas dari Allah bahwa Yahudi dan Nasrani memang diciptakan Allah sebagai “musuh” bagi umat Islam.
Mungkin benar jika ada yang berpendapat bahwa memang dari “sononya” Yahudi & Nasrani merupakan bagian dari skenario Allah untuk menguji kita umat Islam, dan karenanya kita harus mengetahui strategi mereka dalam upayanya memalingkan kita dari agama yang kita anut, agar kita bisa selamat dari tipu daya mereka.

Salah satu cara Yahudi dan Nasrani untuk memalingkan kita dari ad-dinul haq adalah dengan Ghaswul Fikr.

Ghaswul berasal dari kata Ghuswah yang berarti Serangan, invasi atau serbuan, sementara Fikr adalah Pikiran atau pola pikir, dengan demikian Ghaswul Fikr biasa didefinisikan dengan Penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam guna merubah apa yang ada didalamnya sehingga tidak bisa lagi dibedakan antara Islam dan selainnya.

Sebelum kita beranjak kepada sasaran yang ingin mereka capai dengan program jahat mereka yang bernama Ghaswul fikr ini, ada baiknya kita melihat sejenak metode yang mereka gunakan dalam penyebaran Ghaswul Fikr ini, agar kita waspada.

Pertama mereka menggunakan metode yang disebut dengan Tasykik – Pendangkalan / Peragu-raguan, baik itu pendangkalan akidah, pendangkalan pemahaman hukum dan syariat serta pendangkalan pemahaman terhadap berbagai aktivitas ibadah umat Islam. Mereka menggunakan berbagai cara agar kedalaman akidah umat Islam tercemar, misalnya dengan membuat tuhan-tuhan tandingan seperti berhala yang bernama “harta & tahta” sehingga sebagian umat ini kemudian terjebak untuk mempertuhankan harta dan tahta, mereka memuja harta sedemikian rupa sehingga melalaikan mereka kepada siapa yang memberkan harta itu. Mereka, sebagian umat Islam juga banyak yang memuji-muji tahta, pangkat dan jabatan, sehingga mereka rela melakukan apa saja, bahkan dengan mengorbankan akidah sekalipun untuk mencapai suatu kedudukan yang mereka tuhankan.

Mereka juga beragumentasi dengan berbagai dalih untuk menyesatkan umat Islam tentang pemahaman syar’at yang benar. Jihad diidentikan dengan teroris, riba disamakan dengan jual beli, mengatasnamakan seni untuk mempertontonkan nafsu hewani, menjadikan tuntunan jadi tontonan, dan sebaliknya tontonan dan tuntunan, sehingga kemudian sebagian umat Islam merasa asing dengan syari’at Islam yang seharusnya mereka pegang teguh. Belum lama kita mendengar ada orang Islam yang memprotes diberlakukannya undang-undang yang bernafaskan syari;at Islam, aneh Bukan?

Sementara dalam bidang peribadatan, mereka juga memutar balik esensi ibadah sehingga menyimpang dari tujuan luhur yang terkandung didalamnya. Taubat hanya dijadikan seremonial semata, Shalat dipelintir sedemikian rupa, dengan mengulur waktu shalat dengan alasan kesibukan misalnya, bahkan zakat pun kata seorang yang dikenal sebagai cendekiawan muslim dianggap sudah tidak perlu, karena sudah ada pajak, dan masih banyak lagi tatanan syari’at yang diperkosa sedemikian rupa, sehingga tida nampak lagi keindahan dan keluhuran kandungannya.

Kedua, Ghaswul fikr mereka dengan menggunakan metode yang disebut dengan Tasywih – Pencemaran/Pelecehan. Belum lama berselang, kartun Nabi Besar Muhammad Saw beredar yang tujuannya tidak lain adalah pendiskreditan akan keagungan dan kebesaran perilaku nabi, sehingga diharapkan kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad akan luntur, yang pada stadium lanjut, mereka mengharapkan umat Islam ini meninggalkan sunnah-sunnahnya – Naudzubillah.

Masalah poligami nabi menjadi hal yang dibesar-besarkan dengan tujuan pencemaran nama baik dan lagi mereka ingin merubah pola pikir umat Islam bahwa apa yang dilakukan nabi Muhammad itu salah dan karenanya tidak perlu diikuti dan bahkan harus dihujat.
Al qur’an pun tak lepas dari pencemaran dan pelecehan. Kandungan sucinya dipelintir sedemikian rupa, sehingga umat Islam merasa kebingunan dan kehilangan pegangan, yang pada akhirnya mereka lari pada buku-buku filsafat barat, buku-buku humanisme katanya, dan masih banyak lagi penyerangan pola pikir yang mereka lakukan.

Ketiga, mereka menggunakan Tadhlil – penyesatan. Ini adalah langkah kelanjutan dari fase diatas, ketika umat Islam sudah mengalami pendangkalan akidah, pendangkalan pemahaman syari;at dan ibadahnya dan umat Islam sudah tidak lagi menemukan titik terang pada ajaran Islam yang sudah tercemari, maka mereka dengan cara apapun akan berusaha untuk membelokan dan menyesatkan kita dapat lembah kekufuran, Naudzubillah.

Umat Islam yang tidak lagi kokoh akidahnya, tidak lagi baik pemahaman syari’at dan ibadahnya, tidak lagi merasa bangga dengan keislamannya adalah sasaran empuk bagi program pemurtadan.

Betapa banyak sudah contoh yang kita temukan disekitar kita, umat Islam yang dengan mudah tergelincir pada jurang kemusyrikan. Bahkan yang lebih mengenaskan orang Islam yang terjebak pada pola pikir jahat ini bukan hanya dari kalangan awan, melainkan juga dari orang-orang yang secara umum dikategorikan orang yang berpengetahuan yang cukup luas bagi secara agama maupun pengetahuan umumnya.

Keempat, metode Ghaswul Fikr yang harus kita waspadai adalah Taghrib – Pembaratan. Rasanya tak perlu panjang lebar untuk mendefinisikan hal ini, karena kita akan dengan mudah menemukan contoh umat Islam yang menganut paham barat. Rambut muslimah yang harusnya tertutup rapat dengan jilbab, dicat sedemikian rupa, hanya karena ingin disebut gaul. Aurat muslimah yang harusnya tertutup rapih dengan busana muslimah, berganti You Can see ala barat, Al Qur’an yang harusnya jadi bacaan wajib bagi umat Islam bergeser dengan buku-buku karya barat yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan isinya. Politik umat Islam, hukum Islam, Budaya Islam, bahkan pola pikir Islam dibentuk sedemikian rupa agar menyerupai pemikiran barat, agar menyerupai budaya barat, agar menyerupai politik dan hukum barat, dan ini yang banyak tidak kita sadari.

Selain dengan pola serangan terhadap pemikiran seperti diatas, mereka juga membentuk sebuah paham Sekularisme, sebuah paham yang memisahkan agama dengan kehidupan masyarakat dan dari kehidupan bernegara. Sehingga dengan lantang mereka mengatakan bahwa negara tidak berhak mengatur kehidupan beragama seseorang dengan alasan hak azasi manusia.

Mereka juga mengeluarkan pendapat bahwa agama dan kehidupan agamis tidak perlu hidup ditengah lingkungan masyarakat modern, agama hanya urusan dengan tuhan dan tidak mempunyai relavansi dengan lingkungan dan manusia lainnya. Sehingga sebagian orang merasa berhak melakukan apapun terhadap sesamanya karena merasa mereka tidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh tuhan.

Dan masih banyak lagi program-program yang mereka kedepankan dengan berbagai merek dan cara, mereka menggunakan media elektronik untuk menyebarkan propaganda mereka melalui tayangan-tanyangan yang sangat jauh dari kesan Islami.

Mereka juga mencetak berjuta-juta exemplar koran murah yang isinya penuh dengan darah dan fitnah terhadap Islam, koran yang isinya merusak tatanan nilai dan moral yang beradab, pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, pembantaian dan lain sebagainya, yang secara tidak sadar akan menyerap dalam pola pikir sebagian masyarakat yang kemudian diadopsi menjadi sifat dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu apa pentingnya kita mengetahui Ghaswul Fikr ini?

Bagian terakhir dari ayat diatas “dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” seharusnya menyadarkan kita akan akibat yang ditimbulkan oleh fitnah yang bernama ghaswul fikr tersebut.

Sekali kita terjebak kedalam kubangan kekafiran, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagi kita, Naudzubillah. Kalau bukan Allah yang menolong kita, siapa lagi yang mampu menolong kita?

Kalau Allah sudah mengabaikan kita, siapa lagi yang akan peduli pada kita?

Kalau Allah sudah menyesatkan kita, siapa lagi yang akan memberi petunjuk kepada kita?

Kalau Allah sudah membelokan kita, siapa lagi yang mampu meluruskan kita?

Syarat untuk mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah adalah dengan cara . “Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". Dengan mengikuti petunjuk-Nya yang terangkum dalam risalah yang dibawa nabi-Nya, yaitu Al Qur’an dan Sunnah, lain tidak.

Lalu objek vital umat Islam yang menjadi sasaran penghancuran Yahudi dan Nasrani adalah;

217. Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah[134]. dan berbuat fitnah[135] lebih besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.(Al Baqarah:217)
73. Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang Telah kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentuah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.(Al Isra’:73)

49. Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang Telah diturunkan Allah), Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.(Al Maidah:49)


8. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya".(Ash Shaf:8)

32. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.(At Taubah:32)

Tujuan mereka adalah;

1. Mengembalikan umat Islam pada kekafiran – Islam datang untuk mengeluarkan kita dari gelap jahilayah pada terang benderangnya wahyu kebenaran, maka itu jagalah mutiara iman dengan segenap jiwa dan raga.

2. Membuat kebohongan terhadap Allah dengan mengatakan Allah beranak dan diperanakan, maka Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

3. Memalingkan umat Islam dari Al Qur’an, untuk itu waspadalah-waspadalah....tanamkan keyakinan kita bahwa Al Qur’an adalah kalamullah yang sempurna, yang jauh dari virus-virus pemalsuan, karenanya bacalah al qur’an, pahami kandungannya dan amalkan perintahnya.

4. Mereka hendak memadamkan cahaya Allah, meski ini tidak mungkin terjadi, Allah mensyaratkan adanya ikhtiar dan syari’at kita untuk tetap menyalakan cahaya ilahi didada kita, dikeluarga kita, dilingkungan kita dan dimasyarakat dan negara kita.

Ingat, kejahatan Ghaswul Fikr terjadi bukan hanya karena niat semata, tapi juga kadang kita yang memberi peluang hal itu terjadi pada kita.

Mari kita jaga diri dan keluarga kita dari serangan virus-virus pemurtadan dan Ghaswul Fikr yang menyesatkan.

Wassalam

April 10, 2007

Monday, April 9, 2007

RUMPUT YANG BERGOYANG

“Kawan coba dengar apa jawabnya, ketika ia kutanya mengapa...”

“Sesampainya dilaut, kukhabarkan semuanya, kepada karang, kepada ombak, kepada matahari...”

“Namun semua diam, namun semua bisa, tinggal aku sendiri terpaku menatap langit....”

“Barangkali disana ada jawabnya, mengapa ditanahku terjadi bencana.....”

“Mungkin tuhan mulai bosan dengan tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa..”

“Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba bertanya pada rumput yang bergoyang..”

Kenapa harus bertanya kepada rumput yang bergoyang?, aah kang Ebiet G Ade ini ada-ada saja, masak rumput yang bergoyang bisa menjelaskan kenapa terjadi bencana?

Rumput adalah sejenis tumbuhan pendek yang bisa tumbuh dimana saja, dipinggir jalan, dihalaman, dilapangan, dipesawahan dan diberbagai tempat lainnya. Rumput mempunyai akar serabut yang menghujam ketanah, sehingga ketika diterpa angin kencang sekalipun akar rumput tidak tercabut dan hanya bagian atasnya saja yang bergoyang, jadilah ia rumput yang bergoyang.

Inilah kemudian yang dijadikan analogi dalam lagu tersebut diatas, rumput bergoyang, bagian bawahnya diam tak bergerak, bagian atasnya bergoyang kekiri dan kekanan, itu adalah tipikal orang yang tengah duduk bersila sambil berdzikir Laa ilaha ilallah.... laa ilaha ilallah....laa ilaha ilallah......., karena saking nikmat dan asyiknya dzikir tersebut, maka kepala orang tersebut bergerak kekiri dan kekanan mengikuti irama lafadz yang didawamkannya.

Lalu dari kelompok manakah orang-orang yang duduk bersila, bagian bawahnya menghujam pada sajadah laksana akar rumput, sementara kepalanya bergoyang, laksana rumput bagian atas?

Mereka adalah ahli dzikir, mereka adalah para ustadz, mereka adalah alim ulama, mereka adalah para kyai, jadi yang dimaksud dengan coba bertanya pada rumput yang bergoyang pada syair diatas adalah tanyakanlah pada para ustadz, para alim ulama atau para kyai, kenapa bencana datang silih berganti...........?

41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar Ruum:41)

Terlepas dari teori apapun yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana tsunami terjadi, terlepas dari apapun kata orang tentang gempa yang terjadi, terlepas dari apapun “katanya” tentang semburan lumpur yang tiada henti, yang pasti, disana ada kerusakan yang diakibatkan perbuatan tangan manusia, dan yang mungkin menjelaskan dengan rinci mengenai ayat diatas adalah mereka, para kyai dan ulama.

Manusia adalah mahluk Allah yang paling rakus, tidak cukup dengan daratan, lautan pun diurug, tidak cukup dengan dataran, gunungpun dikeruk, alam diperkosa sedemikian rupa untuk memenuhi nafsunya yang tak pernah terpuaskan.

Mereka tak peduli ketika laut berteriak kekeringan, karena sampah yang dibuang sembarangan, mereka tak peduli ketika gunung menjerit kepanasan karena hutannya yang gundul, mereka tak peduli ketika bumi merintih kesakitan karena airnya dikuras habis-habisan, mereka tak peduli ketika udaran menangis karena keperihan asap pembakaran, mereka sama sekali tak peduli dengan lingkungannya.

Lalu apakah salah jika laut menumpahkan kagalauanya dalam bentuk tsunami?

Lalu apakah salah jika gunung memuntahkan panasnya dalam bentuk letusan?

Lalu apakah salah jika bumi “marah” dengan menumpahkan lumpurnya?

Lalu apakah salah jika udara menjadi panas membakar karena polusi?

Allah tidak pernah zalim kepada mahluk-Nya, namun kadang justru mahluk-Nya tidak pernah mau disayang;

9. Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebihkuat dari mereka (sendiri) dan Telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang Telah mereka makmurkan. dan Telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.(Ar ruum:9).

Alam ini diciptakan dengan penuh perhitungan dan keseimbangan, ada gunung dan dataran, ada laut dan daratan, ada panas dan hujan, ada malam dan siang, semua diatur dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan.

Ketika manusia, dengan keangkuhanya mencoba merubah sistem yang sudah digariskan, ketidak seimbangan terjadi, ketimpangan terjadi dan akibatnya adalah bencana.

Dari sisi lain, bencana juga merupakan sebuah “sarana pengingat”dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali dan memperbaiki diri, “supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar”, Allah senantiasa membuka pintu magfirah-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang ingin meretas kembali jalan yang benar.

Dengan peringatan, cobaan dan ujian yang ditimpakan lewat serangkaian “pesan” bernama bencana, Allah mengundang kita mahluk-Nya untuk segera berpaling dari khilaf dan salah kita dan kembali kefitrah kemanusiaan kita, yakni kebenaran.

Ada yang mampu menangkap pesan-pesan itu, tapi juga tak jarang yang mengabaikannya, karena mata hati mereka telah dibutakan oleh Allah dengan keserakahan dan nafsu duniawi;
46. Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj:46)

Buta mata hati, jauh lebih berbahaya dari orang-orang yang buta mata lahiriahnya, buta pendengaran hati, jauh lebih mengerikan daripada orang yang tuli lahiriahnya, karena mereka yang buta mata hati dan pendengaran nuraninya bukan hanya akan menyebabkan kerusakan bagi dirinya saja, tapi juga menjadi ancaman bagi tatanilai, norma dan kesarasian lingkungan, mereka jauh lebih berbahaya dari srigala lapar sekalipun.

Agar kita terhindar dari kebutaan jenis ini, mendekatlah kepada Allah, bertanyalah pada rumput yang bergoyang.........untuk bekal kita menuju perjalanan abadi.

Wassalam

April 09, 2007

Thursday, April 5, 2007

COMPETENSE ALLOWANCE


“Meminjam istilah profesionalitas untuk seorang pekerja atau karyawan yang mensyaratkan Komitmen yang meliputi loyalitas, totalitas, semangat, pengabdian dan dedikasi, dan kompetensi – seperti skill individu, kemampuan berorganisasi, ketrampilan, kecakapan dan lainnya, seorang muslim yang baik harus memiliki nilai-nilai kompetensi dan komitment seperti tersebut diatas atau dengan kata lain sebagai muslimpun kita harus “professional”.

Paragraf diatas adalah kutipan dari artikel terdahulu yang berjudul “Menjadi Muslim Profesional”, bahwa seorang muslim yang profesional adalah mereka yang memiliki Kompetensi dan Komitmen.

Nilai-nilai kompetensi, seperti pengetahuan, wawasan, ketrampilan, skill, serta pemahaman, diberbagai perusahaan dihargai sedemikian tinggi, sehingga pada perusahaan tertentu kualitas kompetensi seseorang dijadikan tolok ukur bagi besarnya take homepay seorang karyawan.
Pun Demikian halnya dengan nilai komitment –kerajinan, loyalitas dan tanggung jawab, merupakan faktor yang sangat mempengaruhi baik buruknya appraisal seseorang.

Bagaimana dengan islam? Bagaimana “harga” sebuah profesionalitas keislaman seseorang?
Islam, sebagai satu-satunya agama yang diridhai Allah, memberikan apresiasi yang demikian tinggi bagi mereka yang memiliki kualitas komptensi keimanan dan keislaman yang baik, sebagaimana tercantum dalam beberapa ayat berikut;

11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Mujadilah:11)

Iman, adalah nilai komitmen, karena keimanan mengandung nilai-nilai tanggung jawab keberagamaan, iman mengandung nilai loyalitas (penghambaan), iman mengandung nilai dedikasi (pengabdian), dan orang-orang yang beriman adalah mereka yang memiliki sebagian dari nilai profesionalitas seorang muslim.

Ilmu Pengetahuan, adalah nilai kompetensi, karena dalam ilmu pengetahuan tercakup ketrampilan, kecakapan, wawasan, pemahaman, serta kemampuan untuk beribadah secara baik dan benar, dan Orang-orang yang memiliki Ilmu pengetahuan adalah mereka yang memiliki sebagian lain dari nilai profesionalitas seorang muslim.

Maka orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan mendapatkan satu tingkat derajat yang lebih tinggi dari muslim amatir (*).

Apa itu muslim amatir?

Muslim yang KTP-nya doang, muslim karena faktor keturunan, muslim karena kebetulan berada dilingkungan yang mayoritas islam, muslim yang menjadi muslim karena ingin pangkat dan jabatan, muslim yang ikut-ikutan, muslim yang tidak bisa baca tulis al qur’an, muslim yang kemasjidnya mingguan, muslim yang sedekahnya musiman, muslim yang naik hajinya karena keterpaksaan.....dan masih banyak lagi ciri-ciri muslim amatir – (Baca artikel terdahulu – “Identitas”).

Jika Allah sudah meninggikan derajat seseorang disisi-Nya, maka tidak ada satu mahlukpun yang mampu merendahkanya, tidak ada satu kekuatanpun yang mampu menghinakannya, karena itu jadilah muslim profesional sejati.

Kemudian Allah memperjelas lagi bahwa seorang muslim profesional yang memiliki pengetahuan keislaman yang baik akan sangat berbeda dengan orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan;

9. (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az-zumar:9)

Profesionalitas hanya mungkin terbentuk dengan perpaduan yang sempurna antara ilmu dan iman, karenanya, Allah memerintahkan kepada kita untuk memohon pada-Nya agar ditambahkan ilmu pengetahuan;

114. Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu[946], dan Katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (Thaha:114)

Dalam versi lain, Pak Ustadz bertanya;

“Antum pilih mana, seandainya ditawarkan kepada antum tiga hal, yang pertama uang, yang kedua emas, dan yang ketiga Ilmu?”

“Pilih emas, Pak?” Jawab penulis

“Kenapa?” Tanya pak Ustadz lagi

“Emas kan mahal, ana bisa jual untuk mendapat uang, dan bisa menuntut ilmu, pak? Jawab penulis

“Kalau ana, pilih tiga-tiganya” Kelakar Pak Ustadz.

“Ketahuilah, uang adalah lambang dunia, emas adalah lambang kekuasaan, dan ilmu jauh lebih mulia dari pada keduanya, antum ingat dengan sabda Rasulullah yang menyatakan”barang siapa yang menghendaki dunia, ia harus berilmu, barang siapa yang menghendaki akhirat juga dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki keduanya juah dengan ilmu”, demikian tinggi derajat ilmu disisi Allah, jauh lebih tinggi nilainya dari sekedar uang atau emas sekalipun” Jelas pak Ustadz.

“Seperti yang ana bilang tadi, kalau mungkin, antum bisa miliki tiga-tiganya, tapi jika pilihan kita terbatas, maka pilihlah ilmu sebagai prioritas antum...”, Kata pak ustadz Bijak

Tantangan jaman kedepan semakin berat dan beragam, kita, rasanya tak mungkin lagi bisa bersikukuh untuk berlaku secara amatir saja dalam beragama. Jika kita masih bertahan pada keangkuhan kita bahwa agama hanya sebagai pelengkap saja dan karenanya tidak memerlukan sikap profesional, jangan salahkan jaman ketika suatu ketika kita akan terpojok dipinggir-pinggir panggung kehidupan, kita hanya akan bisa tergagap manakala perubahan dan godaan sedemikan cepat menghantam kita.

Sekali lagi, keimanan adalah tanggung jawab yang mengandung konsekuensi, keimaman adalah loyalitas, keimanan adalah dedikasi, keimanan adalah keikhlasan, sementara ilmu adalah kemudi yang akan mengarahkan kita untuk menjadi muslim profesional sejati.

Masih mau jadi muslim amatir? No way!

Salamun’qawlaminrabbikum, wahai para muslim wal muslimah profesional.

Wassalam

April 05, 2007

ADA APA DENGAN DO’A KITA?


Pak ustadz, katanya Allah akan mengabulkan segala permohonan kita, tapi kok setelah sekian lama saya berdo’a dan memohon kepada Allah, do’a saya belum terkabul juga ya pak...”

“Pak Ustadz, ajari saya do’a yang mustajab, agar keinginan saya cepat terkabul”.

“Saya sudah mengamalkan do’a ini dan itu, tapi kok tetap saja hidup saya begini..”

“Saya sudah baca ayat kursi 100x, Fatihah 100x, dan falaqbinas masing-masing 100x, tapi kok keinginan dan do’a saya belum terkabul juga....”

Dan masih banyak sekali keluhan dan rengekan sebagian kita, kenapa do’a kita seakan tidak pernah diijabah oleh Allah Swt.

Ada apa dengan do’a kita? Sehingga Allah seakan enggan untuk mengabulkannya?

Sebelum kita terperosok lebih dalam untuk berpransangka yang tidak baik kepada Allah dengan “ditundanya” permohonan kita, mari sejenak kita tengok lagi dua ayat dibawah ini.

186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al Baqarah:186)

60. Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".(Al Mukmun:60)

[1326] yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdoa kepada-Ku.

Pertama – Bahwasanya Allah itu dekat;

Kedua – Bahwa Allah akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Nya

Ketiga - Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Nya) dan hendaklah mereka beriman kepada-Nya

Keempat - Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Nya akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina"

Bahwa Allah itu dekat, “Nahnu aqrabuu ilaihi min habliwarid – sesungguhnya Kami lebih dekat dari urat lehernya”, sehingga ketika kita hendak memohon kepada Allah, kita tidak perlu jauh-jauh ketempat tertentu, seperti mendatangi kuburan orang-orang shaleh yang justru sangat mungkin dijadikan setan untuk menggelincirkan kita kepada kemusyrikan. Tak jarang kita mendengar sebagian orang yang berkata “ Nih ane habis ziarah dari makam Mbah itu, sehingga dagangan ane laris” atau sebaliknya, “Ahh gara-gara ane lama tidak nyekar ke makam mbah itu, jadi begini deh...”.

Allah tidak pernah menutup pintu atau membatasi waktu kepada siapapun yang hendak memohon kepada-Nya, tapi justru kadang kita yang membuat urusan berdo’a ini menjadi sedemikian merepotkan.

Do’a adalah bahasa hati, bukan sekedar bahasa lisan. Do’a apapun yang kita baca, berapa banyakpun lembaran yang kita hapal, sebagus apapun do’a yang kita ucapkan, makakala hati kita tidak turut serta ketika kita berdo’a, niscaya do’a itu tidak akan sampai kepada Allah.

Bunda penulis pernah bercerita bahwa ketika beliau dimadrasah dulu, kelas tempat beliau belajar dilalap api, tapi kobaran api yang demikian besar itu serta merta padam manakala Pak Kyai berdo’a dengan “hanya” mengucapkan “Bismalahirahamanirahim”.

Sebaliknya, ungkapan-ungkapan diatas, yang sangat mungkin setelah si orang tersebut membaca berbagai do’a yang panjang dan melelahkan, tapi tetap saja mereka mengeluh karena doanya tidak dijawab Allah, dan pasti, bukan do’anya yang salah, tapi masalahnya ada pada hati orang-orang yang berdo’a tersebut.

Kualitas mustajab tidaknya sebuah do’a, bukan do’a apa yang dibaca, tapi seberapa besar keterikatan hati yang membaca do’a tersebut dengan sang pemilik do’a, yaitu Allah Swt.

Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, jangankan yang diucapkan, yang terbersit dalam hatipun niscaya Allah akan mengetahuinya.

Ini yang kemudian disinyalir sebagai pangkal pokok “kegagalan” do’a kita. Mulut kita berucap
“ Ya Allah, beri hamba-Mu rezeki yang halalan thoyibah wasiah, tapi kadang hati kita berkata sebaliknya “ Ahh ngapain susah-susah shalat dan mengabdi kepada Allah, atau “Aah, kalau nunggu yang halal, kapan gue bisa kaya” dan lain sebagainya.

Ini yang harus segera kita perbaiki, permohonan yang kita ucapkan secara lisan, harus disertai niat dan gerak hati yang bersih, bahwa permohonan dan do’a kita adalah sebagai bentuk penghambaan dan pengakuan akan keterbatasan kita, pengakuan atas existensi Allah Yang Maha Mengabulkan, dan kita sepenuhnya bersandar pada kebijaksanaan Allah, bahwa rezeki yang sedikit atau berlebih adalah tetap sebagai karunia yang telah diperhitungkan dengan sempurna oleh Allah Swt, karena tidak sedikit rezeki yang berlimpah justru menjerumuskan kita pada jurang kenistaan, sebaliknya, rezeki yang sedikit tak jarang menjadikan berkah tersendiri bagi kita.

Perbaiki sikap santun kita kepada Allah swt dengan senantiasa berkhusnudzan, dengan berbaik sangka kepada Allah Swt.

“Aku terserah prasangka hamba-Ku saja, kalau ia berprasangka baik, maka baik pula baginya, kalau ia berprasangka buruk, maka buruk pula baginya”

Kita harus ingat, kita ini pemohon, kita ini hamba, kita ini yang memiliki ketergantungan kepada Allah, maka kita pun harus bersikap sebagaimana layaknya seorang hamba, bukan sebaliknya, seolah-olah kita sebagai “tuhan” sehingga merasa berhak untuk menuntut permohonan kita cepat dikabulkan, rezeki kita minta yang banyak, dan lainnya, sekali lagi, yang berhak menentukan kapan dan berapa banyak rezeki itu Allah, bukan kita!

Kita juga harus bersikap layaknya orang yang sangat tergantung pada Allah, bukan sebaliknya. Kadang kita sudah merasa berhak “mengintimidasi” Allah dengan amal ibadah yang sudah kita lukakan “ Ya Allah, saya sudah tahajud semalaman, sudah berdzikir sekian puluh ribu kali,.......” , kita harus sadar sepenuhnya, jangankan sekedar tahajud semalam suntuk, seandainya kita mampu berdiri tahajud tujuh hari tujuh malampun, pasti tidak akan sebanding dengan nikmat kantuk yang Allah berikan kepada kita, pasti tidak akan sebanding dengan banyaknya oxigen yang kita hirup untuk nafas kita, dan pasti kalau kita mau itung-itungan antara amal ibadah kita dengan nikmat Allah, kita tidak akan mampu membayar kekurangannya.

Jadi kewajiban kita adalah berdo’a, dan apakah do’a kita akan diijabah dengan segera, apakah do;a kita akan ditunda, apakah do’a kita akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik menurut Allah, itu adalah mutlak hak prerogatif Allah Swt.

Hal ketiga yang kerap kita lupa adalah “Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Nya) dan hendaklah mereka beriman kepada-Nya”. Kesibukan kita memohon kepada Allah, justru kadang melalaikan kita untuk memenuhi kewajiban kita untuk menjalankan perintah Allah swt, kesibukan kita untuk meminta kepada Allah, justru kadang melalaikan keimanan kita kepada Allah swt.
Padahal sebagaimana firman Allah diatas, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, beriman dengan benar dulu, dan turuti perintah-Nya dulu, Insya Allah, dengan kemurahan-Nya, Rahmat dan karunia Allah akan tercurah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan menuruti perintah-Nya.

Hal keempat,

55. Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[549].(al A'raf:55)

Hati dan suara yang lembut, ini adalah tatakrama kita sebagai hamba kepada Allah sang Pencipta. Kadang kita ini lucu, berdo’a sambil teriak-teriak histeris menyerupai peribadatan Yahudi atau Nasrani. Ingat, kita bukan Yahudi atau Nasrani, kita adalah Muslim yang diperintah Allah untuk berdo’a dengan hati yang merendah dan suara yang lembut, santun penuh etika.

Insya Allah, do’a kita akan dijawab oleh Allah manakala kita sudah memenuhi persyaratan – persyaratan diatas, beriman kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, memenuhi segala perintah-Nya, dan dengan hati yang dipenuhi nilai-nilai ketaqwaan dan kelembutan serta suara yang santun pula...., Amiin.

Wassalam

April 05, 2007

Monday, April 2, 2007

MERASAKAN MANISNYA GULA

Antum harus bisa merasakan manisnya gula.....” Kata pak ustadz dalam sebuah perbincangan.

Merasakan manisnya gula? Bukankah gula itu pasti manis dan hampir pasti setiap orang atau bahkan mungkin anak usia taman kanak-kanak pun tahu bahwa rasa gula itu manis. Tapi kenapa pak Ustadz menyuruh penulis untuk merasakan manisnya gula?

Hal senada juga pernah penulis dapatkan dari orang yang berbeda, ketika beliau berkata “Antum harus bisa merasakan panasnya api”.

Api, siapapun tahu, panas jika dipegang atau mengenai bagian tubuh kita, tapi kenapa beliau mengatakan penulis harus bisa merasakan panasnya api?

“Coba pegang api ini” kata seorang bapak kepada penulis

“Ya panas pak” jawab penulis

“Kata siapa? Tanya si bapak lagi

“Ya semua orang tahu lah pak, api itu panas....” Penulis mencoba berargumen.

“Kalau antum ingin menemukan kebenaran yang sejati bahwa api itu panas, bahwa gula itu manis, antum harus merasakan sendiri manisnya gula dengan memakannya, antum harus memegang sendiri api ini agar apa yang antum katakan tentang api ini, bukan sekedar “katanya”, bukan sekedar “kata buku”, bukan sekedar “kata ustadz anu”. Kata bapak tua tadi berfilsafat.

Diam, hening, pak tua tadi memandangi penulis, menanti tanggapan yang mungkin keluar dari penulis.

Setelah beberapa waktu berlalu, baru kemudian penulis menyadari maksud dari pertanyaan pak Ustadz dan Pak Tua tadi, yakni mengacu pada hadits yakni;

Dari Anas bin Malik r.a. dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Tiga sifat yang jika dimiliki orang akan mendapatkan manisnya iman; Orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lain; Orang yang mencintai seseorang semata karena Allah; Dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya seperti ia tidak suka dilemparkan ke dalam kobaran api.” (H.R. Bukhari-Muslim)

“Tahajud itu nikmat sekali.....” Kata seorang teman

Kita mungkin akan berpikir, kenapa tahajud dibilang nikmat? Padahal kita harus bangun pada sebagian malam, sementara orang lain enak tertidur? Itu kata kita yang mungkin “belum istiqomah” melaksanakan tahajud, maka kita tidak akan pernah merasakan kenikmatan orang-orang yang memanjangkan malam-malamnya untuk bertahajud, kita masih terpaku pada “katanya tahajud itu nikmat”, dan pasti kenikmatan orang yang medirikan tahajud jauh lebih besar daripada kita yang masih menikmati tahajud dengan “katanya” saja, pasti orang yang makan gula secara langsung akan jauh lebih menikmati manisnya gula daripada orang yang hanya “mendengar” katanya gula itu manis.

Nikmatnya tahajud hanya akan dirasakan ketika kecintaan kita pada Allah dan rasul-Nya diatas kecintaan kita untuk tidur nyenyak tanpa bangun tengah malam.

“Ana tidak tahu kenapa sekarang ana jadi cengeng ketika shalat, setiap mengangkat tangan untuk bertakbir, ana tidak tahan lagi untuk menangis, demikian indah dan nikmat ketika ana shalat” – Kata seorang musafir yang shalat malam di sebuah masjid .

Shalat itu indah dan nikmat? Bagi kita, shalat, kadang justru menjadi sesuatu yang menggangu keasyikan kita menonton TV, kadang justru shalat menjadi sesuatu yang mengganggu ditengah kesibukan kita, lalu bagaimana mungkin ada orang yang mengatakan shalat itu indah dan nikmat?

Lagi, kita belum benar-benar merasakan shalat, kita “hanya” melakukan shalat berdasarkan “kata ustadz” kita harus shalat, kata pak Kyai kita wajib shalat, dan katanya buku kita akan dimasukan kedalam neraka kalau kita meninggalkan shalat, kita, belum “benar-benar” shalat, makanya kenikmatan shalat belum bisa kita rasakan.

Nikmatnya shalat, hanya mungkin dirasakan oleh orang yang kecintaannya kepada Allah dan rasul-Nya, melebihi kecintaannya pada pertandingan bola, melebihi kecintaannya pada kendaraannya yang kerap didahulukan untuk dicuci dari pada mengejar waktu shalat yang sudah hampir habis.

Manisnya gula hanya benar-benar dapat kita rasakan, setelah kita memakannya sendiri, tak peduli kata orang, apakah gula itu asin, apakah gula itu pedas, apakah gula itu pahit, kita tidak akan terjebak pada “katanya”, karena kita telah mencapai tingkat keyakinan yang benar – Haqqul yaqin, bukan lagi sekedar katanya.

Panasnya api, hanya benar-benar dapat kita rasakan, setelah kita benar-benar memegang api itu, terlepas kata orang, api itu dingin atau tidak akan membakar, kita tidak akan lagi terjebak untuk masuk kedalam api, berdasarkan katanya, karena kita sudah benar-benar tahu, yakin bahkan haqqul yakin, karena kita sudah merasakannya sendiri.

Yang masih kerap terjadi dengan sebagian kita adalah “kebingungan”, yang diakibatkan oleh pemahaman dan pengetahuan kita yang masih berpijak pada “katanya”.

Ketika kita ketemu seseorang atau suatu golongan, yang mengatakan pada kita apa yang benar menurut golongannya, kita dengan mudah masuk kedalam golongan tersebut, ya kalau kebetulan orang itu “benar”, kalau salah? Celakalah kita.

Ketika ada golongan yang lain yang mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh golongan pertama, kita pun dibuat bingung karenanya. Alih-alih kita mencari dalil mana yang benar, kadang kita justru memvonis, “daripada bingung, mending tak ikut kemana-mana”, sehingga kita lebih banyak akan menjadi penonton yang o’on, mau saja dikecoh oleh sandiwara yang tak nyata.

Agar kita tidak terjebak pada situasi semacam itu, maka ambil gula dan rasakan sendiri manisnya. Sehingga kita tidak lagi meninggalkan madu dan gula yang benar-benar manis, meski itu masih berada disarang tawon sekalipun.

Pegang api, dan rasakan sendiri panasnya, sehingga kita tidak lagi terjebak dalam kobaran api yang terbungkus oleh dinginya es, kita tidak terjebak lagi oleh panasnya nafus yang terbungkus kecantikan dan keindahan yang dikemas setan.

Dalam kontek hadits diatas, kita belum bisa merasakan manisnya iman, karena kita masih lebih mencintai sesuatu yang lain dibanding kecintaan kita pada Allah dan rasul-Nya, kita masih mencintai sesuatu bukan karena Allah, dan kita masih gemar untuk kembali pada kekufuran, setelah Allah menyelamatkan kita daripadanya.

24. Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At Taubah:24)

Dalam berapa ayat lain, Allah menggambarkan anak, istri dan harta sebagai “fitnah” bagi kita. Fitnah dalam arti ujian kesungguhan kecintaan kita pada Allah dan rasul-Nya. Apakah kecintaan kita pada anak istri dan harta, melebihi kecintaan kita pada Allah dan rasul-Nya? Atau kecintaan kita pada Allah dan Rasul diatas segala-galanya.

Kenikmatan shalat tahujud seperti kata teman diatas, hanya mungkin kita rasakan, makala kita sudah istiqomah melakukannya.

Kenikmatan shalat seperti kata musafir diatas, hanya mungkin kita capai manakala kita melibatkan seluruh unsur lahiriah dan bathiniah ketika kita shalat, kesempurnaan bacaan, kesempurnaan gerakan shalat, yang dibarengi dengan kehadiran hati ketika kita shalat, disertai pemahaman – tafahum akan bacaan shalat, disertai rasa ta’jim pada dan pada Dzat Allah swt, serta adanya Haibah – rasa untuk mengagungkan sesuatu – yaitu Allah swt ketika kita shalat dan disempunakan dengan harapan – Raja’ untuk mendapatkan ridha Allah dan adanya Haya’ – rasa malu akan kekurang sempurnaan shalat kita,

Iman dan aqidah kita hanya akan mungkin kita capai ketika kita bisa “merasakan kehadiran” Allah dalam setiap detak jantung dan hembusan nafas kita.

Semoga kita deberi kemampuan oleh Allah untuk dapat merasakan manisnya gula, merasakan manisnya iman, amiiin.

Wassalam

Maret, 29, 2007

JIKA IMAN SUDAH MELEKAT, JIHAD TERASA NIKMAT

Jika Allah sebagai tujuan
Al Qur’an sebagai pedoman
Nabi Muhammad sebagai teladan
Jihad sebagai impian
Niscaya surga dalam gengaman


Rangkaian kata mutiara diatas penulis temukan pada dinding triplek ynag kusam milik seorang tukang tambal ban dipinggir jalan, sangat menarik, sehingga penulis pun bertanya padanya;

“Bang, semboyannya bagus banget, darimana?”

“Ahh, bukan apa-apa pak, ini tulisan iseng saja...” Jawabnya sambil tersipu

Pernahkah kita memimpikan untuk berjihad dijalan Allah?

Atau justru sebaliknya, jihad merupakan sebuah sindrom yang menghantui sebagian kita, sehingga ketika kita mendengarnya saja, kita akan bergidik ngeri, karena kata “jihad” selalu dikonotasikan dengan teroris, perusuh, tukang buat onar, biang kerok dan menjadi public enemy yang harus diberantas dan ditindas.

Dalam Islam, arti kata Jihad adalah berjuang dengan sungguh-sungguh.

Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan Din Allah atau menjaga Din tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-Quran. Jihad yang dilaksanakan Rasul adalah berdakwah agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan qalbu, memberikan pengajaran kepada ummat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi.

Mengacu pada definisi diatas, kita akan terkejut, karena disana kita sama sekali menemukan definisi dan makna yang berbeda dari apa yang selama ini dipropagandakan oleh kaum kafir bahwa jihad identik dengan terorisme.

Jihad adalah menegakan Din Allah

Jihad adalah dakwah atau seruan untuk meninggalkan kemusyrikan dan memberikan pengajaran dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu menjadi khalifah dimuka bumi.

Jihad adalah menyucikan qalbu

Jihad dalam bentuk perang dilaksanakan jika terjadi fitnah yang membahayakan eksistensi ummat (antara lain berupa serangan-serangan dari luar).

Demikian agung tujuan jihad yang dituntun oleh pemahaman yang benar, bukan berdasarkan argumen sementara orang yang menjadikan kata jihad sebagai symbol keonaran.
Jihad menegakan Din Allah, pada konteks diri pribadi berarti berusaha membersihkan diri dari pengaruh-pengaruh ajaran selain Islam, dan sebaliknya, berusaha sekuat tenaga dan kemampuan dan secara sungguh-sungguh menghidupkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Dinul Islam.

Sebuah nilai luhur akan terbangun oleh pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang Dinul Islam. Ad-din bukan sekedar a-gama (tidak kacau), Ad-din adalah peri hidup yang wajib diusung oleh siapapun yang menghendaki keselamatan fidunya wal akhirat.
Pengetahuan dan pemahaman yang benar hanya mungkin didapat jika kita mau secara sungguh-sungguh belajar dan menggali nilai yang terkandung dalam untaian indah mushaf al qur’an.

Kita semua maklum jika sebuah tambang emas berada jauh didalam bumi, kita juga maklum bahwa mutiara yang indah kerap tersimpan didasar lautan, pun keluhuran dinul Islam hanya mungkin kita dapatkan jika kita mampu menyelami kedalam makna dan hakekat dari apa yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam al qur’an.

Kuncinya: Iqra….bacalah, belajarlah, tanyalah, tafakurilah…………
Jihad menegakan Din Allah, pada konteks komunitas berarti berusaha secara sungguh-sungguh untuk menghidupkan nilai-nilai luhur dinul islam ditengah keluarga dan masyakat pada umumnya.

Jihad dengan berdakwah untuk memurnikan aqidah dari virus-virus kemusyrikan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara dan metode yang sesuai dengan tuntunan syari’at. Dakwah bisa kita lakukan lewat pengajian umum atau majelis taklim, dapat pula lewat pendekatan personal dan persuasive atau kita bisa menggunakan media elektronik, seperti e-mail, situs dan lainya, dan yang lebih penting lagi adalah dengan cara menjadikan diri kita sebagai orang yang pertama melakukan apa yang kita dakwahkan.

Dakwah hanya akan berhasil jika orang yang menyampaikannya memiliki pemahaman dan ilmu yang memadai dan ia jaga merupakan seseorang dengan integritas tinggi, artinya, dia mempunyai komitmen untuk mengajak orang lain melaksanakan syari’at dan akidah secara benar, pun dengan dia sendiri menjadi orang yang melaksanakan seruan tersebut secara benar dan istiqomah.

Jihad untuk memurnikan aqidah juga dapat erarti berusaha secara sungguh-sungguh memerangi berbagai hal yang sangat dekat kekufuran dan kemusyrikan, yaitu memberantas kebodohan dan kemiskinan.

Berapa banyak sudah saudara-saudara kita digelincirkan setan untuk keluar dari dinul islam dengan alasan kemiskinan dank arena kebodohan yang melingkupi mereka. Adalah sebuah pekerjaan besar bagi kita untuk secara pribadi maupun secara bersama sama berjuang untuk mengentaskan keluarga, saudara dan masyarakat kita keluar dari jeratan kemiskinan dan kebodohan.

Jihadun an nafs – berjihad memerangi hawa nafsu, adalah sebuah jihadul akbar, jihad yang sangat berat memerlukan kesungguhan yang luar biasa, karena kita menghadapi “musuh” yang sangat halus dan tidak nampak, tapi demikian nyata pengaruh dan dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh nafsu yang tidak terkendali.

Peperangan, korupsi, pembunuhan, dan berbagai jenis atribut kejahatan yang selama ini akrab ditelinga kita, adalah hanya sebagian kecil saja dari sekian banyak contoh dari ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan hawa nafsunya.

Membersihkan qalbu dari berbagai penyakit “laten” yang biasa bersemayam didalamnya, seperti sifat riya, sum’ah, sombong, takabur dan berbagai jenis penyakit hatinya, merupakan sebuah keharusan, sebuah jihad yang harus kita laksanakan dengan sungguh-sungguh, membersihkan Qalbu is a must.

Jihad, kesungguhan dalam berjuang, hanya mungkin dimiliki oleh orang-orang yang memiliki tingkat keyakinan yang tinggi, jihad, kesungguhan dalam berusaha dan berjuang dibidang apapun, baik itu bersungguh-sungguh untuk menegakan Din Allah, berjuang dan bersungguh-sungguh berdakwah dijalan Allah, berjuang dan berusaha secara sungguh-sungguh dalam mensucikan qalbu dan apalagi harus keluar beperang demi tegaknya dinul islam dari rongrongan kaum kafir, hanya mungkin dimiliki oleh orang yang memiliki iman yang benar.

Bagaimana mungkin seseorang akan berusaha menegakan Din Allah sementara keyakinannya akan kebenaran agama Allah tidak memadai?

Bagaimana mungkin seseorang memiliki kesungguhan berdakwan dan menyeru kepada manusia lain, jika mereka tidak memiliki keyakinan jika seruan dan dakwahnya merupakan amal ibadah yang akan menyelematkannya dihari kemudian?

Bagaimana mungkin seseorang akan demikian peduli dengan kebersihan qalbunya, jika ia tidak pernah mengenal siapa dirinya, siapa tuhannya? Bagaimana mungkin manusia jenis ini akan mau berjihad, sementara imannya sedemikian lemah?

Iman, sebuah landasan kokoh bagi lahirnya sebuah kesungguhan.

Iman, satu-satunya alasan real yang dapat menggerakan semua potensi yang dimiliki seseorang
Iman, merupakan generator pembangkit kesungguhan dan jihad,

Dan hanya iman yang melakat sajalah yang mampu menjadikan jihad terasa nikmat.

Selamat kepada para mujahid yang sudah mampu merasakan manisnya iman

Mari berjuang bagi calon-calon mujahid, untuk mencapai nikmatnya iman.

Wassalam

April 02, 2007