Monday, April 2, 2007

MERASAKAN MANISNYA GULA

Antum harus bisa merasakan manisnya gula.....” Kata pak ustadz dalam sebuah perbincangan.

Merasakan manisnya gula? Bukankah gula itu pasti manis dan hampir pasti setiap orang atau bahkan mungkin anak usia taman kanak-kanak pun tahu bahwa rasa gula itu manis. Tapi kenapa pak Ustadz menyuruh penulis untuk merasakan manisnya gula?

Hal senada juga pernah penulis dapatkan dari orang yang berbeda, ketika beliau berkata “Antum harus bisa merasakan panasnya api”.

Api, siapapun tahu, panas jika dipegang atau mengenai bagian tubuh kita, tapi kenapa beliau mengatakan penulis harus bisa merasakan panasnya api?

“Coba pegang api ini” kata seorang bapak kepada penulis

“Ya panas pak” jawab penulis

“Kata siapa? Tanya si bapak lagi

“Ya semua orang tahu lah pak, api itu panas....” Penulis mencoba berargumen.

“Kalau antum ingin menemukan kebenaran yang sejati bahwa api itu panas, bahwa gula itu manis, antum harus merasakan sendiri manisnya gula dengan memakannya, antum harus memegang sendiri api ini agar apa yang antum katakan tentang api ini, bukan sekedar “katanya”, bukan sekedar “kata buku”, bukan sekedar “kata ustadz anu”. Kata bapak tua tadi berfilsafat.

Diam, hening, pak tua tadi memandangi penulis, menanti tanggapan yang mungkin keluar dari penulis.

Setelah beberapa waktu berlalu, baru kemudian penulis menyadari maksud dari pertanyaan pak Ustadz dan Pak Tua tadi, yakni mengacu pada hadits yakni;

Dari Anas bin Malik r.a. dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Tiga sifat yang jika dimiliki orang akan mendapatkan manisnya iman; Orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lain; Orang yang mencintai seseorang semata karena Allah; Dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya seperti ia tidak suka dilemparkan ke dalam kobaran api.” (H.R. Bukhari-Muslim)

“Tahajud itu nikmat sekali.....” Kata seorang teman

Kita mungkin akan berpikir, kenapa tahajud dibilang nikmat? Padahal kita harus bangun pada sebagian malam, sementara orang lain enak tertidur? Itu kata kita yang mungkin “belum istiqomah” melaksanakan tahajud, maka kita tidak akan pernah merasakan kenikmatan orang-orang yang memanjangkan malam-malamnya untuk bertahajud, kita masih terpaku pada “katanya tahajud itu nikmat”, dan pasti kenikmatan orang yang medirikan tahajud jauh lebih besar daripada kita yang masih menikmati tahajud dengan “katanya” saja, pasti orang yang makan gula secara langsung akan jauh lebih menikmati manisnya gula daripada orang yang hanya “mendengar” katanya gula itu manis.

Nikmatnya tahajud hanya akan dirasakan ketika kecintaan kita pada Allah dan rasul-Nya diatas kecintaan kita untuk tidur nyenyak tanpa bangun tengah malam.

“Ana tidak tahu kenapa sekarang ana jadi cengeng ketika shalat, setiap mengangkat tangan untuk bertakbir, ana tidak tahan lagi untuk menangis, demikian indah dan nikmat ketika ana shalat” – Kata seorang musafir yang shalat malam di sebuah masjid .

Shalat itu indah dan nikmat? Bagi kita, shalat, kadang justru menjadi sesuatu yang menggangu keasyikan kita menonton TV, kadang justru shalat menjadi sesuatu yang mengganggu ditengah kesibukan kita, lalu bagaimana mungkin ada orang yang mengatakan shalat itu indah dan nikmat?

Lagi, kita belum benar-benar merasakan shalat, kita “hanya” melakukan shalat berdasarkan “kata ustadz” kita harus shalat, kata pak Kyai kita wajib shalat, dan katanya buku kita akan dimasukan kedalam neraka kalau kita meninggalkan shalat, kita, belum “benar-benar” shalat, makanya kenikmatan shalat belum bisa kita rasakan.

Nikmatnya shalat, hanya mungkin dirasakan oleh orang yang kecintaannya kepada Allah dan rasul-Nya, melebihi kecintaannya pada pertandingan bola, melebihi kecintaannya pada kendaraannya yang kerap didahulukan untuk dicuci dari pada mengejar waktu shalat yang sudah hampir habis.

Manisnya gula hanya benar-benar dapat kita rasakan, setelah kita memakannya sendiri, tak peduli kata orang, apakah gula itu asin, apakah gula itu pedas, apakah gula itu pahit, kita tidak akan terjebak pada “katanya”, karena kita telah mencapai tingkat keyakinan yang benar – Haqqul yaqin, bukan lagi sekedar katanya.

Panasnya api, hanya benar-benar dapat kita rasakan, setelah kita benar-benar memegang api itu, terlepas kata orang, api itu dingin atau tidak akan membakar, kita tidak akan lagi terjebak untuk masuk kedalam api, berdasarkan katanya, karena kita sudah benar-benar tahu, yakin bahkan haqqul yakin, karena kita sudah merasakannya sendiri.

Yang masih kerap terjadi dengan sebagian kita adalah “kebingungan”, yang diakibatkan oleh pemahaman dan pengetahuan kita yang masih berpijak pada “katanya”.

Ketika kita ketemu seseorang atau suatu golongan, yang mengatakan pada kita apa yang benar menurut golongannya, kita dengan mudah masuk kedalam golongan tersebut, ya kalau kebetulan orang itu “benar”, kalau salah? Celakalah kita.

Ketika ada golongan yang lain yang mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh golongan pertama, kita pun dibuat bingung karenanya. Alih-alih kita mencari dalil mana yang benar, kadang kita justru memvonis, “daripada bingung, mending tak ikut kemana-mana”, sehingga kita lebih banyak akan menjadi penonton yang o’on, mau saja dikecoh oleh sandiwara yang tak nyata.

Agar kita tidak terjebak pada situasi semacam itu, maka ambil gula dan rasakan sendiri manisnya. Sehingga kita tidak lagi meninggalkan madu dan gula yang benar-benar manis, meski itu masih berada disarang tawon sekalipun.

Pegang api, dan rasakan sendiri panasnya, sehingga kita tidak lagi terjebak dalam kobaran api yang terbungkus oleh dinginya es, kita tidak terjebak lagi oleh panasnya nafus yang terbungkus kecantikan dan keindahan yang dikemas setan.

Dalam kontek hadits diatas, kita belum bisa merasakan manisnya iman, karena kita masih lebih mencintai sesuatu yang lain dibanding kecintaan kita pada Allah dan rasul-Nya, kita masih mencintai sesuatu bukan karena Allah, dan kita masih gemar untuk kembali pada kekufuran, setelah Allah menyelamatkan kita daripadanya.

24. Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At Taubah:24)

Dalam berapa ayat lain, Allah menggambarkan anak, istri dan harta sebagai “fitnah” bagi kita. Fitnah dalam arti ujian kesungguhan kecintaan kita pada Allah dan rasul-Nya. Apakah kecintaan kita pada anak istri dan harta, melebihi kecintaan kita pada Allah dan rasul-Nya? Atau kecintaan kita pada Allah dan Rasul diatas segala-galanya.

Kenikmatan shalat tahujud seperti kata teman diatas, hanya mungkin kita rasakan, makala kita sudah istiqomah melakukannya.

Kenikmatan shalat seperti kata musafir diatas, hanya mungkin kita capai manakala kita melibatkan seluruh unsur lahiriah dan bathiniah ketika kita shalat, kesempurnaan bacaan, kesempurnaan gerakan shalat, yang dibarengi dengan kehadiran hati ketika kita shalat, disertai pemahaman – tafahum akan bacaan shalat, disertai rasa ta’jim pada dan pada Dzat Allah swt, serta adanya Haibah – rasa untuk mengagungkan sesuatu – yaitu Allah swt ketika kita shalat dan disempunakan dengan harapan – Raja’ untuk mendapatkan ridha Allah dan adanya Haya’ – rasa malu akan kekurang sempurnaan shalat kita,

Iman dan aqidah kita hanya akan mungkin kita capai ketika kita bisa “merasakan kehadiran” Allah dalam setiap detak jantung dan hembusan nafas kita.

Semoga kita deberi kemampuan oleh Allah untuk dapat merasakan manisnya gula, merasakan manisnya iman, amiiin.

Wassalam

Maret, 29, 2007

No comments:

Post a Comment