Saturday, July 25, 2009

RUMAH KOSONG

“Nak Mas tahu bedanya rumah kosong tak berpenghuni dengan rumah berpenghuni yang senantiasa dirawat dengan baik…? Tanya Ki Bijak memulai percakapan dengan Maula.

“Oooh.., ini Ki, kebetulan ada punya photonya….., rumah ini terletak beberapa meter dari rumah ana, rumah yang rusak ini, sudah sekitar tiga atau empat tahun tidak ada yang menghuni, sementara rumah sebelahnya, ditinggali oleh keluarga yang sangat ‘resik’ dan rapih, penghuninya sangat rajin merawat rumahnya…..; jadi terlihat kontras sekali ya ki……..” Kata Maula sambil memperlihatkan photo dua buah rumah yang letaknya bersebelahan, tapi dengan kondisi yang bertolak belakang.

Ki Bijak segera memperhatikan photo yang diperlihatkan Maula; “Sekarang Nak Mas analogikan bahwa rumah ini adalah hati kita …..”Lanjut Ki Bijak beberapa saat setelah memperhatikan photo tersebut.

“Maksudnya ki….?” Tanya Ki Bijak.

“Hati kita ini, ibarat rumah, rumah tempat berlabuhnya dosa dan pahala yang kita lakukan, hati yang kosong dari nilai-nilai ilahiyah, hati yang kosong dari nilai-nilai kebajikan, hati yang kosong dari akidah dana amal sholeh, persis seperti gambar rumah kosong ini, hati semacam ini akan menampilkan citra seram dan suram, karena hati yang kosong dan tidak terawat dengan baik, akan dengan sangat mudah dimasuki oleh para ‘pencuri’ akidah, hati yang kosong akan mudah dirasuki sifat-sifat syaitoniyah, hati yang kosong akan mudah dihinggapi sifat-sifat bahimiyah, sifat-sifat sabaiyah, sehingga tak heran orang yang hatinya kosong, akan kelihatan ‘angker’, wajahnya muram, tidak ada cahaya diwajahnya, meskipun secara lahiriyah mungkin saja ia tergolong memiliki wajah rupawan…” Kata Ki Bijak.

Maula diam sejenak, ia kembali memandangi photo rumah kosong yang nampak kumuh, rusak dan ‘menyeramkan itu…” Naudzubillah….betapa mengerikan ya ki, jika hati kita benar-benar kosong seperti rumah ini…..” Katanya kemudian.

“Ya Nak Mas, sangat ‘menyeramkan’, karenanya kita harus benar-benar memperhatikan keadaan dan kondisi hati kita ini, jangan sampai kosong, karena seperti yang pernah Aki bilang, setan memiliki sifat seperti angin, ia akan menempati setiap ruang yang kosong dihati kita, semakin sedikit hati kita terisi oleh nilai-nilai kebajikan, maka semakin banyak ruang yang akan diisi oleh setan, dan Nak Mas tahu apa akibatnya ketika setan sudah berkuasa didalam hati kita….? Tanya Ki Bijak.

“Kerusakan, kehancuran, dan kebinasaan ki…..” Kata Maula.

“Nak Mas tahu kenapa bisa terjadi seperti itu…?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Seperti yang pernah Aki wejangkan beberapa waktu lalu; ketika setan yang ‘cerdik’ bersekutu dengan nafsu yang ‘kuat’, maka akan melahirkan kekuatan jahat yang sangat besar, dan ketika ini terjadi, kerusakan, kehancuran dan kebinasaan hanya tinggal menunggu waktu saja, bukan demikian ki….?” Kata Maula.

“Nak Mas benar, dan sekali lagi Aki ingatkan, kerusakan, kehancuran dan kebinasaan yang ditimbulkan oleh perpaduan setan dan nafsu ini bukan hanya akan merusak kehidupan kita didunia ini, lebih dahsyat lagi akan menghancurkan kehidupan akhirat kelak…., Naudzubillah……” Tambah Ki Bijak.

“Iya ki, lalu hal apa saja yang seharusnya berada dalam ruang hati kita ki….?” Tanya Maula.

“Yang pertama; hiasilah hati kita dengan Salimul Aqidah, Nak Mas……” Kata Ki Bijak.

“Salimul Aqidah ki….?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, Salimul Aqidah, akidah yang bersih, merupakan sesuatu yang wajib keberadaannya dalam hati kita, dengan salimul aqidah inilah, kita sebagai seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat dengan Allah, dan dengan ini pula kita memiliki kemampuan untuk berjalan lurus mengikuti segala ketentuan Allah dan menjauhi larangannya, Nak Mas paham……?” Tanya Ki Bijak.

Maula tampak diam sejenak, berusaha meresapi apa yang baru saja dikatakan gurunya; “Kalau hati itu rumah, maka salimul aqidah ini ibarat pondasinya ya ki, semakin kuat pondasinya, maka semakin kuat pula rumah (hati) kita ini, sebaliknya kalau pondasinya rapuh, maka hati kitapun akan rentan dan rapuh pula ya ki…..” Kata Maula kemudian.

“Benar Nak Mas…; yang kedua, hati yang baik, adalah hati yang berisikan nilai-nilai ibadah yang benar, atau Shahihul Ibadah, artinya hati yang memiliki ilmu yang benar tentang suatu ibadah, hati yang mampu memahami suatu perintah ibadah secara benar, tidak menambah atau menguranginya, serta hati yang selalu memiliki ghirah untuk melaksanakan ibadah itu sendiri….” Tambah Ki Bijak lagi.

“Selanjutnya, setelah hati (rumah) kita sudah memiliki pondasi aqidah yang kokoh dan berisikan nilai-nilai ibadah yang benar, maka selanjutnya hati kita harus mampu menampilkan ‘cahaya’ dan citra yang indah, harmonis dan selaras Matinul Khuluq (Akhlak yang baik), akhlaq yang luhur dari dalam hati kita, ada benang merah yang sangat jelas antara akidah yang bersih dan benar, ibadah yang benar, dengan perilaku dan akhlak kita, semakin bersih akidah kita, semakin baik ibadah kita, insya Allah akhlaq kita pun akan semakin mumpuni, hampir tidak mungkin kalau akidah dan ibadahnya sudah benar, tapi akhlaqnya kurang terpuji..” tambah ki Bijak.

“Ana mengerti ki…..” Jawab Maula pendek.

“Dan sebaik-baik cara untuk mengisi hati kita dengan akidah yang bersih, ibadah yang benar sehingga mampu menampilkan citra diri yang luhur adalah dengan senantiasa mengikuti jalan yang telah Allah bentangkan untuk kita lalui, dan bersegera berpaling dari jalan-jalan yang ditunjukan oleh setan dan sekutunya……., penuhi hati kita dengan dzikrullah, disetiap saat, disetiap waktu, disetiap kesempatan, sehingga tidak ada lagi ruang bagi setan untuk bersemayam didalam hati kita……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula kembali memperhatikan gambar rumah rusak, betapa kekosongan rumah tersebut selama ini, telah menyebabkannya hancur seperti itu, ia jadi merinding membayangkan seandainya hatinya kosong, dan kemudian dihuni setan…iiiih betapa mengerikan……

“Bagaimana Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak memecah keheningan.

“Mengerikan sekali ki…., sangat mengerikan akibat yang akan ditimbulkan oleh kekosongan hati…..” Jawab Maula.

“Karenanya mari kita bersihkan hati kita, kita tata hati kita, dan kemudian kita isi dengan segala kebaikan, insya Allah kita akan selamat…..” Sambung Ki Bijak lagi.

“Iya ki…..” Kata Maula, sambil pemitan kepada gurunya.

Wassalam.

July 2009

KENAPA HARUS TEPAT WAKTU…?


“Nak Mas tahu apa yang akan terjadi ketika buah yang sudah masak tidak segera dipetik dari pohonnya…?” Tanya Ki Bijak menjawab pertanyaan Maula kenapa shalat harus tepat waktu.

“Kemungkinan buah itu dimakan kelelawar, busuk didahannya, atau jatuh dan rusak ki…” Jawab Maula.

“Nak Mas benar, lalu pernahkah Nak Mas memasak mie kuah, kemudian Nak Mas menunda memakannya…?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Pernah ki, waktu ana sudah buat mie baso, tapi ada tamu, jadi ana menunda makannya…..” Jawab Maula lagi.

“Apa yang terjadi kemudian…?” Tanya Ki Bijak.

“Mie-nya jadi melar dan nggak enak lagi dimakan ki…” Jawab Maula.

Ki Bijak mengangguk…”Kemudian, ketika kita membiarkan adukan terlalu lama, apa yang akan terjadi….?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Adukan itu akan mongering ki, dan tidak bisa digunakan lagi….” Jawab Maula.

“Lalu akan halnya masakan atau nasi yang ditanak, tapi tidak segera diangkat ketika sudah matang Nak Mas…?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Masakan dan nasi itu bisa gosong ki, dan sangat mungkin tidak bisa dimakan….” Jawab Maula.

“Dalam hal pekerjaan, misalnya Nak Mas diminta buat suatu laporan yang telah ditentukan waktunya, tapi Nak Mas tidak segera menyerahkan laporan itu, menurut Nak Mas bagaimana…?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Meski laporan itu benar dan bagus, tapi sangat mungkin tidak bisa dipakai karena deadline sudah lewat ki…..” Kata Maula lagi.

“Nak Mas benar, buah yang sudah matang dan dibiarkan terlalu lama, akan busuk, dimakan kelelawar atau jatuh dan rusak, tidak bermanfaat, kemudian mie intant yang dibiarkan terlalu lama akan menjadi melar dan rasanya menjadi tidak enak, kemudian lagi adukan semen menjadi kering dan tidak bisa dipakai karena tidak digunakan pada waktunya, kemudian masakan dan nasi menjadi gosong ketika tidak diangkat pada waktunya, kemudian laporan yang baik dan benar pun menjadi kurang berfaedah ketika disajikan tidak pada waktunya….dari semua itu adakah Nak Mas bisa menarik kesimpulan kenapa kita disyari;atkan untuk shalat tepat waktu….?” Tanya Ki Bijak.

Maula terdiam sejenak, berusaha untuk meresapi makna kata-demi kata yang diucapkan gurunya, “Kalau kita shalat tidak tepat waktunya….., mungkin secara syari’at shalat kita sah, tapi mungkin juga kita akan kehilangan makna dan hikmah dari watu shalat itu sendiri ya ki….?” Katanya kemudian.

“Tepat sekali, shalat yang laksanakan menurut ukuran waktu kita, mungkin saja sah secara syari’at, tapi sangat mungkin kita kehilangan makna dan hikmah dari waktu shalat itu sendiri…….” Timpal Ki Bijak.

“Dan Nak Mas perhatikan ayat ini……” Kata Ki Bijak sambil menunjukan ayat 103 dari surat An-Nissa;

103. Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

Dengan segera Maula mengamati ayat dimaksud dengan seksama;

“Nak Mas perhatikan baris terakhir ini; ‘Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktu atas orang-orang yang beriman…’; ini sangat menarik menurut Aki, karena secara harfiah artinya adalah hanya mereka yang beriman dan benar imannya sajalah yang bisa melaksanakan shalat fardhu sesuai dengan waktu yang ditentukan Allah swt….” Kata Ki Bijak

‘Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktu atas orang-orang yang beriman….’ Iya ya ki….redaksi ayat ini sangat menarik, kenapa bukan ‘ditentukan waktunya atas orang islam misalnya…, tapi lebih spesifik shalat tepat waktu untuk orang beriman……” Kata Maula.

“Coba nanti Nak Mas buka-buka lagi kitab tafsir atau kitab-kitab lainnya mengenai ayat ini, agar Nak Mas lebih memahami makna ayat tersebut…..” Ki Bijak sengaja meminta Maula untuk mencari sendiri tafsir ayat tadi agar Maula lebik paham.

“Iya ki, ana akan coba baca-baca lagi tafsirnya….” Kata Maula.

“Lalu Nak Mas masih ingat hadits mengenai keutamaan shalat tepat waktu…?” Tanya Ki Bijak.

‘ Dari Abdullah bin Mas’ud Rhadiallahu Anha, dia berkata, "saya pernah bertanya kepada Rosululloh Sholallahu’Alaihi Wa sallam, "Apakah perbuatan yang paling utama?" Beliau menjawab, "Shalat tepat pada waktunya." Dia berkata, "Saya bertanya lagi, kemudian apa?" Beliau menjawab, "Berbuat baik kepada kedua orang tua." Dia berkata, "Saya bertanya lagi, lalu apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Alloh." Maka saya tidak menambah pertanyaan melainkan untuk melaksanakan dan menjaga hal tersebut.

“Lagi, Nak Mas perhatikan redaksi hadits ini, shalat tepat waktu disebut terlebih dahulu, baru kemudian disusul dengan berbuat baik kepada kedua orang tua dan jihad fisabilillah, yang dalam pandangan Aki yang sangat terbatas ini, redaksi ini menyimpan sebuah hikmah yang luar biasa besar sehingga Rasulullah sedemikian rupa menempatkan shalat tepat waktu diurutan teratas dan dua kebajikan lainnya…..” Kata Ki Bijak.

Maula terdiam, merenung sejenak, ia mulai merasakan sesuatu didalam hatinya, jiwanya tiba-tiba menjerit menyadari betapa selama ini ia masih sering ‘menelantarkan’ shalat karena satu dan lain hal.

“Kenapa Nak Mas…..?” Tanya Ki Bijak melihat perubahan pada mimik muka muridnya.

“Ini ki…, ana takut sekali ki, selama ini ana masih sering menunda shalat, terutama ketika waktu shalat itu berbenturan dengan pekerjaan atau meeting dengan atasan, ana masih suka terbawa dan tidak bisa melaksanakan shalat tepat pada waktunya…..” Kata Maula kemudian.

Ki Bijak tersenyum; “Nak Mas, memang kadangkala kita dihadapkan kondisi-kondisi yang mungkin diluar kendali kita, tapi justru disanalah seni dan tantangannya, sedapat mungkin Nak Mas harus tetap melaksanakan shalat dulu,tapi kalau memang sangat tidak mungkin, Aki hanya pesan bahwa jangan sekali-kali menunda shalat itu menjadi habit, menjadi kebiasaan kita, karena ketika menunda shalat itu sudah menjadi kebiasaan, dalam hemat Aki, itu sudah menjadi sebuah penyakit…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, memang ana sering melihat dibeberapa kantor yang mayoritas karyawannya shalat dhuhur pukul 2, padahal seharusnya mereka bisa memakai waktu istirahat untuk shalat….” Kata Maula.

“Itu yang tidak boleh ditiru Nak Mas, itu kurang terpuji….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, lagian apa ruginya shalat tepat waktu ya ki,paling lama sepuluh menit selesai, ngapain juga harus ditunda-tunda…..” Kata Maula, seperti sedang menasehati dirinya sendiri.

“Itu sikap dan cara berfikir yang benar Nak Mas, jangan menunda hanya karena sesuatu hal sepele…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, insya Allah, mulai sekarang, ana akan selalu berusaha mendirikan shalat tepat waktu….” Kata Maula.

“Alhamdulillah………….” Kata Ki Bijak, sambil menyambut uluran tangan Maula yang hendak pamitan.

Wassalam

Tuesday, June 16, 2009

GERAK SHALAT, SEBUAH NASEHAT

“Alhamdulillah, senang rasanya Aki mendengar Nak Mas sudah sehat kembali……” Kata Ki Bijak, setelah sehari sebelumnya mendapat khabar bahwa muridnya ini sakit.

“Terima kasih ki….., berkat doa Aki dan semua santri disini, ana sekarang sudah baikan…..” Jawab Maula.

Ki Bijak menarik nafas panjang……” Yaaah, kita patut mensyukuri nikmat sehat ini dengan sepenuh hati Nak Mas, karena sehat sangat mahal harganya, melebihi mahalnya mobil atau barang lainnya, tapi memang sedikit sekali orang yang menyadari betapa sehat itu sebuah nikmat yang tidak ternilai harganya….” Sambung Ki Bijak kemudian.

“Benar ki, kemarin, sekedar perut kembung saja, badan dan kepala ana sakit sekali, hingga ana tidak ke kantor kemarin, sekarang baru terasa betapa sehat itu sebuah nikmat ya ki…..” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, karenanya, menjaga kesehatan, dengan pola hidup sehat, tidak merokok, tidak memimum yang dilarang Allah, tidak mengkonsumsi makanan secara berlebih, apalagi makanan yang dilarang, dan kemudian memanfaatkannya untuk beribadah kepada Allah adalah sebuah keharusan, sebagai salah satu bentuk syukur kita atas karunia Allah swt kepada kita……” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, kenapa kita sering lupa akan nikmat sehat ini ya ki…., seolah kesehatan kita adalah sebuah kebetulan belaka, seolah kesehatan kita semata karena kita rajin berolah raga, seolah kesehatan kita karena kita memakan makanan yang sehat, sehingga kita lupa terhadap siapa yang memberikan kesehatan itu sendiri, kita sering lupa bahwa sehat adalah sebuah karunia Allah yang sangat besar…..” Tanya Maula.

“Ada banyak alasan kenapa kita sering lupa dengan nikmat sehat ini Nak Mas, meski sebenarnya setiap hari kita senantiasa diingatkan untuk ingat akan nikmat sehat ini, tapi tetap saja kita sering lupa…..” Kata Ki Bijak.

“Setiap hati kita selalu diingatkan ki..? Kapan dan siapa yang mengingatkan kita ki…? Tanya Maula.

Ki Bijak tersenyum; “Nak Mas…, tidakkah Nak Mas menyadari bahwa gerakan shalat kita adalah sebuah ‘nasehat’ yang sangat baik, agar kita selalu ingat dengan berbagai nikmat Allah swt…..?” Tambah Ki Bijak lagi.

“Gerakan shalat yang menasehati kita ki…?” Tanya Maula penasaran.

“Benar Nak Mas, coba Nak Mas tafakuri sejenak gerakan shalat kita, mulai dari qiyyam (berdiri), ruku’, sujud dan kemudian salam……..” Kata Ki Bijak.

“Qiyyam, ruku’, sujud dan salam……hmmmmh, lalu ki……?” Tanya Maula masih belum mengerti.

“Dalam perintah shalat yang agung itu, tersimpan selaksa makna Nak Mas, yang berapa diantaranya adalah gerak shalat itu, dalam gerakan shalat ada sebuah nasehat; ketika kita berdiri, seakan-akan shalat memberi nasehat kepada orang yang tengah mendirikannya, ‘hai fulan…saat ini kau sedang berdiri, maka berdirilah dengan baik, jangan berlebihan, jangan menengadahkan wajah, jangan membusungkan dada, jangan mementangkan kakimu hingga mengganggu orang lain, dan jangan berkata-kata yang tidak patut; karena tidak selamanya kau akan berdiri, suatu ketika kau harus membungkuk (ruku’), dan setelah itu kau harus kembali merunduk dan duduk (sujud dan tahiyat), sebelumnya akhirnya kau harus mengucapkan salam……” Kata Ki Bijak.

“Artinya apa ki…………?” Tanya Maula

“Posisi berdiri dalam shalat, adalah sebuah analogi kejayaan kita, analogi dimana ketika itu badan kita sehat, keuangan kita lancar, karir kita sedang menanjak, posisi kita sedang diatas, usaha kita sedang maju, dan lain sebagainya…., dan ketika diposisi itu, kita tidak boleh sombong karena kita sedang kaya, tidak boleh lupa karena kita sedang sehat, tidak boleh ‘mentang-mentang’ dan berbicara seenaknya karena kita sedang berkuasa, ….,”

“Karena pada saatnya nanti, kesehatan kita akan berkurang, tubuh tegap kita perlahan dan pasti akan membungkuk, kulit kita akan keriput, penglihatan kita akan berkurang, pendengaran kita pun demikian, kedudukan yang kita sandang, suatu saat nanti pasti akan kita lepas, kekayaan kita pun niscaya pasti berkurang….’

“Pada saatlah itu posisi kita seperti tengah membungkuk ruku’, dan ini sebuah kenisyaan, sebuah sunatullah, tidak ada satupun mahluk dibumi ini yang selamanya sehat, tidak ada satupun mahluk dibumi ini yang selamanya jaya, tidak ada satupun mahluk dibumi ini yang selamanya berkuasa, tidak ada satu pun mahluk dibumi ini yang akan terus tegak berdiri……”

“Karenanya kita wajib menyadari semua keniscayaan itu dengan kembali merunduk dan bersujud; menyadari semua kefanaan kita, untuk menyadari bahwa semua yang ada pada kita, suatu saat nanti, entah cepat atau lambat, akan kembali pada si Empunya yang hakiki, dan saat itulah kita harus rela mengucap ‘salam’, terhadap semua yang pernah dititipkan pada kita…………” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Subhanallah…., betapa luhur nasehat dalam shalat itu ya ki………….” Kata Maula

“Benar Nak Mas, ada selaksa makna dan hikmah dari perintah shalat ini, yang Aki katakan barusan, hanya sebagian kecil saja yang dapat Aki tangkap dari samudra hikmah yang tidak bertepi itu…., semoga Nak Mas kelak, dikarunia Allah hikmah-hikmah lain yang lebih banyak dan lebih baik dari berbagai syariat yang Allah perintahkan kepada mahluk_Nya…….” Kata Ki Bijak.

“Amiiiin, tapi bagaimana caranya ki agar kita dibukakan hikmah seperti itu……..?” Kata Maula.

“Tidak ada teori khusus apa dan bagaimana untuk memperoleh hikmah itu Nak Mas, karena pemberian hikmah adalah hak prerogative Allah swt kepada siapa yang dikehendaki_Nya, yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita melaksanakan perintah itu sepenuh hati, penuh tanggung jawab, penuh dedikasi, penuh pengabdian dan ikhlas lillahita’ala, insya Allah, pintu-pintu hikmah itu akan terbuka bagi mereka yang mau melaksanakannya………” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, alhamdulillah, sekarang pengetahuan ana tentang beberapa hikmah shalat bertambah, setelah beberapa waktu sebelumnya ana mendapatkan pengetahuan bahwa gerak shalat sangat baik bagi kesehatan jasmani dan rohani, kemudian posisi dan gerak dan bacaan shalat yang mencermikan persamaan persepsi, lambang persatuan, lambang kesetaraan dan lainnya, sekarang bertambah dengan hikmah gerak shalat sebagai sebuah nasehat kepada kita agar tidak lupa terhadap semua karunia dan nikmat Allah kepada kita……..” Kata Maula.

“Semakin usia kita bertambah, semakin ilmu kita bertambah, semoga akan bertambah pula hikmah yang Allah bukakan untuk kita, dan mereka itulah yang menurut Aki orang ‘beruntung’…..” Tambah Ki Bijak.

“Iya ki, akan sangat merugi, mereka yang usianya makin bertambah, ilmunya bertambah, tapi justru makin menjauhkan mereka dari Allah ya ki…..” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, karenanya kita harus selalu memohon dan berlindung kepada kepada Allah dari hal-hal yang demikian…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki………” Kata Maula sambil pamitan.

Wassalam

June 16, 2009

Saturday, May 2, 2009

SEGALA SESUATU ADA KUNCINYA

“Keinginan saja belum cukup Nak Mas..............., proses sebuah keberhasilan adalah perpaduan antara keinginan yang kuat, usaha yang bersungguh-sungguh, do’a dan tawakal kepada Allah, dan satu lagi, kita harus mengetahui kunci-kunci keberhasilan itu agar lebih mudah dan ringan dalam mencapai keberhasilan yang kita inginkan....” Jawab Ki Bijak, menjawab pertanyaan Maula mengenai syari’at bagi sebuah keberhasilan.

“Niat, insya Allah sudah ki, usaha juga alhamdulillah, ana selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam berbagai hal, dan ana juga insya Allah tidak lupa memohon kepada Allah untuk diberikan kemudahan dalam menjalani proses ini, hanya satu yang ana belum paham ki, seperti apa kunci-kunci keberhasilan yang Aki maksudkan tadi..........” Kata Maula.

“Syukur alhamdulillah kalau Nak Mas sudah melakukan tiga dari sekian syarat keberhasilan yang Aki sebut tadi, sekarang Nak Mas ambil kotak jariah itu kesini..............” Kata Ki Bijak.

Dengan segera Maula mengambil kotak jariah dipojokan masjid dan membawanya kehadapan Ki Bijak, “Ini ki................” Katanya kemudian.

“Sekarang coba Nak Mas buka kota jariah ini................” Perintah Ki Bijak lagi.

Tanpa banyak tanya, Maula berusaha membuka kota jariah itu, Maula mengamati hampir semua sudut kotak jariah itu untuk menemukan celah agar bisa membukanya, “Susah ki............” Kata Maula setelah beberapa kali mencoba membuka kotak jariah yang tidak terlalu besar itu.

Ki Bijak tersenyum sambil menyodorkan kunci kecil yang beliau ambil dari sakunya, “Nak Mas buka pake ini...............” Katanya kemudian.

Maula segera mengambil kunci kecil itu dan tanpa kesulitan, ia berhasil membuka kotak jariah tersebut.

Maula masih diam, memandangi wajah gurunya, sambil menunggu tamsil dari apa yang baru saja terjadi.

“Nak Mas tahu bedanya kenapa sekarang Nak Mas dengan mudah bisa membuka kotak ini, sementara sebelumnya Nak Mas nampak kesulitan.....?” Tanya Ki Bijak kemudian.

“Ya ki, karena yang pertama, ana berusaha membuka kotak ini hanya dengan semangat dan tenaga saja, sementara tadi ana membukanya dengan kunci kecil ini........” Jawab Maula.

“Seperti itulah yang Aki maksud tadi Nak Mas, untuk mencapai sebuah keberhasilan, mungkin kita bisa mengandalkan semangat dan tenaga kita, tapi itu perlu waktu yang lama, dan tenaga yang ekstra, sementara ketika kita tahu kuncinya, pengorbanan kita untuk menapaki proses keberhasilan itu menjadi jauh lebih sedikit, tenaga yang kita perlukan sedikit, dan waktu yang kita butuhkanpun jauh lebih sedikit daripada seperti tadi Nak Mas menarik-narik hampir semua bagian kotak jariah ini..........” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki......., kunci ini kecil, tapi sangat membantu kita untuk membuka sesuatu.........” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, dengan kunci yang kecil, brankas baja yang tebalnya sampai 10 inchi, akan dapat terbuka dengan mudah....”

“Dengan kunci yang kecil, tank baja yang beratnya puluhan ton, akan dapat bergerak.....”

“Dengan kunci yang kecil, gerbang yang tingginya puluhan meter, akan terbuka dengan mudah.....”

“Pun demikian dengan upaya kita dalam mencapai keberhasilan, akan jauh lebih mudah kalau kita mengetahui kunci-kunci keberhasilan tersebut.......” Papar Ki Bijak lagi.

Maula manggut-manggut tanda mengerti, “Lalu apa saja kunci-kunci keberhasilan itu ki....?” Tanya Maula kemudian.

“Tergantung niat dan keinginan kita Nak Mas, seperti apa yang dikatakan Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahm, beliau berkata:

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya, Allah menjadikan kunci pembuka shalat adalah bersuci sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Kunci shalat adalah bersuci’, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci pembuka haji adalah ihram, kunci kebajikan adalah kejujuran, kunci surga adalah tauhid, kunci ilmu adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan, kunci kemenangan adalah kesabaran, kunci ditambahnya nikmat adalah syukur, kunci kewalian adalah mahabbah dan dzikir, kunci keberuntungan adalah takwa, kunci taufik adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kunci dikabulkan adalah doa, kunci keinginan terhadap akhirat adalah zuhud di dunia, kunci keimanan adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan, kunci hidupnya hati adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa, kunci didapatkannya rahmat adalah ihsan di dalam peribadatan terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya, kunci rezeki adalah usaha bersama istighfar dan takwa, kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, kunci persiapan untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan, kunci semua kebaikan adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat, kunci semua kejelekan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.

“Masya Allah, bagus sekali untaian hikmah ini ki…….” Dengan segera Maula mengulang-ngulang apa yang barusan disampaikan gurunya, hingga ia sampai pada kata “ kunci rezeki adalah usaha bersama istighfar dan takwa, kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya”.

“Kunci rezeki adalah usaha bersama istighfar dan takwa, kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya..?, bukankah urusan rezeki dan kemulian ini yang banyak diperbincangkan orang, jadi inikah kuncinya ki…., usaha bersama istighfar, dan takwa, serta ketaatan kepada Allah dan rasul_Nya, jadi…….?” Maula nampak binggung untuk melanjutkan kata-katanya.

“Jadi untuk mendapatkan rezeki yang barokah, serta berkecukupan, dan kemulian disisi Allah swt dan dimata manusia, kuncinya ada pada diri kita sendiri Nak Mas, tinggal bagaimana usaha kita, bagaimana istighfar kita, bagaimana ketaqwaan dan ketaatan kita pada Allah dan rasul_Nya….., mudah dan dekat bukan….? Tidak perlu jauh-jauh kegunung, tidak perlu cape-cape kekuburan, cukup dengan mendidik diri kita sendiri untuk taat & takwa kepada Allah serta dengan menyempurnakan ihtiar……..” Kata Ki Bijak melanjutkan kata-kata Maula yang terputus.

“Astaghfirullahal’adiem……, benar sekali ki, sangat dengan, mudah dan murah……” Kata Maula.

“Hanya kita ini memang kadang seperti kisah ikan didalam air Nak Mas…..” Kata Ki Bijak.

“Kisah ikan didalam air ki…?” Tanya Maula.

“Iya Nak Mas, ada kisah yang menyebutkan seekor ikan yang mendengar orang-orang dipinggir kolam bercerita tentang kehebatan air, ikan itu kemudian berkata kepada temannya bahwa ia akan mencari air, ia tidak tahu bahwa sebenarnya ia sedang dalam air yang orang-orang perbincangkan…….” Kata Ki Bijak.

“Maksud Aki, sebenarnya kita sudah diberi fasilitas dan kunci oleh Allah untuk mencapai keberhasilan fi dunya dan akhirat didalam diri kita sendiri, tapi kebanyakan dari kita tidak menyadarinya, begitu ki….?” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum, “Benar Nak Mas, secara fitrah, kita telah dibekali Allah dengan berbagai kelengkapan yang sangat sempurna, hanya itu tadi, kadang kita tidak tahu atau tidak mau tahu dengan kemurahan Allah tersebut……” Kata Ki Bijak.

Maula kembali manggut-manggut, terngiang kembali ditelinganya berbagai kunci yang ditawarkan Allah kepada hamba-hamba_Nya;

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya, Allah menjadikan kunci pembuka shalat adalah bersuci sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Kunci shalat adalah bersuci’, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci pembuka haji adalah ihram, kunci kebajikan adalah kejujuran, kunci surga adalah tauhid, kunci ilmu adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan, kunci kemenangan adalah kesabaran, kunci ditambahnya nikmat adalah syukur, kunci kewalian adalah mahabbah dan dzikir, kunci keberuntungan adalah takwa, kunci taufik adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kunci dikabulkan adalah doa, kunci keinginan terhadap akhirat adalah zuhud di dunia, kunci keimanan adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan, kunci hidupnya hati adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa, kunci didapatkannya rahmat adalah ihsan di dalam peribadatan terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya, kunci rezeki adalah usaha bersama istighfar dan takwa, kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, kunci persiapan untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan, kunci semua kebaikan adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat, kunci semua kejelekan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.

“Terima kasih ki, syukur kepada_Mu yang Allah, Engkau telah bukakan satu kunci yang selama ini hamba cari……..” Kata Maula sambil pamitan kepada gurunya.

Wassalam.

April 29,2009

Thursday, April 23, 2009

APA YANG KITA TANAM, ITU YANG KAN KITA TUAI

“Kok jadi semakin banyak ya ki..............” Kata Maula, setengah bertanya setelah beberapa waktu sebelumnya ia melihat berita di media massa.

“Apa yang semakin banyak Nak Mas....?” Tanya Ki Bijak.

“Ini Ki, berita tentang para calon legislative yang kalah dan kemudian stress dan bertingkah aneh-aneh, ada caleg yang menarik kembali pemberian karpet ke majelis taklim, karena ia kalah, ada juga yang menarik TV yang sudah didonasikannya kepada para tukang ojek, ada yang berteriak-teriak memaki petinggi partainya, bahkan ada yang gantung diri segala ki, dan tadi pagi, disebuah daerah, penghuni rumah sakit jiwa diberitakan meningkat hingga 300% pasca pemilu kemarin ki.............” Kata Maula.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.......” Guman Ki Bijak pendek.

“Ada fenomena apa ya ki, sehingga mereka yang beberapa waktu sebelumnya, dengan bangga mempromosikan dirinya melalui berbagai poster disepanjang jalan dan diberbagai tempat, sebagai orang ‘hebat’, dengan serentetan gelar yang disandangnya, sehingga ia merasa layak dipilih untuk mewakili rakyat, ternyata sebagian mereka hanya sosok yang rapuh, yang tidak siap menerima kekalahan dengan bijak, yang tidak mampu menguasai dirinya, ana tidak bisa membayangkan bagaimana figur-figur rapuh seperti ini kalau mereka benar-benar menjadi wakil rakyat ya ki........” Kata Maula lagi.

“Wallahu’alam Nak Mas, Aki tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan orang-orang itu, mereka gagah, mereka memiliki harta yang cukup, terbukti mereka mampu membiayai dana kampanye yang menurut Aki cukup banyak jumlahnya, mereka juga berpendidikan, bahkan kalau melihat dari poster yang bertebaran disepanjang jalan kemarin, mayoritas mereka adalah produk perguruan tinggi, jadi kalau ditengah berbagai kelebihan mereka atas masyarakat kebanyakan itu mereka menyimpan kerapuhan, Aki juga sangat heran Nak Mas.....” Kata Ki Bijak.

“Ki, adakah ‘kerapuhan’ ini berpangkal pada kerapuhan bathiniah sebagian mereka ki....?” Tanya Maula lagi.

“Penjelasan untuk hal itupun memerlukan analisa dan ilmu yang mendalam Nak Mas, hanya dari sudut pandang Aki yang sangat terbatas ini, kecenderungan kearah itu memang benar adanya, lemah atau kuatnya sandaran vertikal seseorang kepada Allah akan sangat berpengaruh pada seberapa kuat bathin atau jiwa seseorang dalam menghadapi ujian, termasuk salah satunya ujian untuk dapat menerima kekalahan, setelah mengeluarkan dana dan tenaga yang cukup besar dalam pemilu kemarin............” Kata Ki Bijak lagi.

“Lemah atau kuatnya sandaran vertikal seseorang akan berpengaruh pada kualitas jiwa seseorang ki...?” Tanya Maula lagi.

“Benar Nak Mas, keimanan yang kokoh, aqidah yang kuat, merupakan sandaran vertikal yang sangat kuat untuk menopang kekuatan jiwa seseorang, semakin keimanan dan akidah seseorang itu baik, maka insya Allah akan semakin kuat pula jiwanya, sebaliknya, ketika akidah dan keimanan seseorang itu kurang baik, maka kekuatan jiwanya tidak akan setangguh mereka yang memiliki akidah dan keimanan yang baik.......” Kata Ki Bijak.

Maula terdiam sejenak, “Ana masih belum mengerti ki..........” Katanya sejurus kemudian.

“Begini Nak Mas, ketika seseorang memiliki keimanan dan keyakinan bahwa harta yang ada padanya hanya merupakan titipan dari Allah, ketika seseorang memiliki keimanan bahwa pangkat, kedudukan dan jabatan adalah juga merupakan amanah dari Allah, dan kemudian harta, jabatan dan kedudukan yang mereka ingini itu belum Allah percayakan kepadanya, apa yang perlu mereka sesalkan kalau kemudian hal itu luput dari mereka, kalau Allah menghendaki seseorang untuk berada pada posisi tertentu, maka tidak ada satupun kekuatan yang akan menghalanginya,sebaliknya ketika amanah itu belum Allah berikan kepada kita, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat memberikannya kepada kita...., Nah kesadaran dan keyakinan seperti ini sangat penting untuk meredam gejolak bathiah yang berlebihan, seperti stres, merasa tertekan dan lainnya.....” Kata Ki Bijak.

“Ana sependapat ki, jadi kekuatan bathiniah seseorang tidak semata dipengaruhi oleh gelar dan pendidikan yang tinggi saja ya ki, tapi justru sangat dipengaruhi oleh keimanan dan keyakinan seseorang ya ki......” Kata Maula.

“Pendidikan yang tinggi itu juga perlu Nak Mas, hanya ketika pendidikan yang tinggi yang kurang diimbagi dengan ketinggian keimanan, maka efek positifnya tidak akan berfungsi maksimal terhadap kekuatan bathiniah seseorang.......” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki...........” Kata Maula, sambil mengangguk tanda mengerti.

“Lalu kalau boleh Aki berpendapat, sekarang ini ada kecenderungan persepsi yang sedikit ‘keliru’ dari sebagian orang mengenai pangkat dan jabatan, sebagian orang berpendapat bahwa kedudukan, pangkat dan jabatan berbanding lurus dengan kehormatan dan kemuliaan seseorang, sehingga mereka berlomba-lomba untuk meraihnya dengan berbagai cara, bahkan sebagian mereka ‘lupa’ untuk berhitung tentang ‘kekuatan’ dirinya, mereka ingin meraihnya secara instan, ikut partai, mencalonkan diri dan kemudian menjadi anggota dewan, mereka lupa dengan sunatullah bahwa sebelum menuai kita harus terlebih menanam......., mereka juga lupa bahwa jabatan, pangkat dan kedudukan adalah amanah yang sangat berat, yang akan dimintakan pertanggung jawaban dimahkamah robbul izzati kelak.......” Kata Ki Bijak.

Maula manggut-manggut, “Budaya instant...., menarik sekali ki, ingin serba cepat tanpa perlu menunggu lama, tanpa berhitung untuk ruginya.....ya mungkin seperti itu ya ki.....” Kata Maula.

“Kalau kita bisa mendapatkan sesuatu yang instan, itu tidak menutup kemungkinan Nak Mas, tapi tidak bisa kemudian kita mengeneralisasi bahwa semuanya bisa kita dapat dengan instan, Nak Mas lihat pak tani yang tengah menuai padi itu..............” Kata Ki Bijak sambil menunjuk kearah sawah yang tengah dipanen.

“Iya ki...........” Kata Maula sambil menoleh kearah yang ditunjukan gurunya.

“Sebelum hari ini, sebelum pak tani itu menuai padinya, pak tani terlebih dahulu harus menggemburkan lahan yang akan ditanami, menyemai benih padi, kemudian pak tani menanamnya, menyianginya dari rerumputan, memupuknya agar tumbuh subur dan menjaganya dari hama yang mungkin akan merusaknya, perlu waktu, perlu tenaga, perlu perhatian, perlu kesungguhan, perlu dedikasi, perlu pengorbanan, perlu kesabaran, sebelum kemudian tiba waktunya padi itu dapat dituai......” Kata Ki Bijak.

“Iya ki......” Kata Maula pendek.

“Pun demikian dengan kita Nak Mas, adalah bijak ketika kita ingin menuai hasil yang maksimal, seperti ingin menjadi anggota dewan, jauh-jauh hari kita harus ‘menanam’ benih-benihnya, kita harus pandai bersosialisasi dengan lingkungan sekitar kita, kita harus berperilaku dan berahklaq baik, suka menolong, ringan tangan untuk membantu sesama, berpengetahuan, berilmu dan kemudian istiqomah menjaga benih-benih kebaikan yang kita tanam kita hingga masa panen tiba, Aki yakin ketika dalam keseharian kita bisa berperilaku baik seperti itu, tanpa iklan, tanpa poster dan tanpa harus menyuap dengan uang, dengan pura-pura memberi karpet, dengan berpura-pura memperbaiki jalan, dengan berpura-pura suka menolong, dengan sendirinya Allah akan menuntun orang-orang yang merasakan budi baik dan jasa kita, untuk memilih kita untuk menjadi wakilnya......” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kalau kita menyemai bibit padi, insya Allah padi pula yang akan kita tuai, seperti pak tani itu.........” Kata Maula sambil terus memandangi pak tani yang tengah menuai padi dengan riang gembira.

“Benar Nak Mas, apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai, adalah mimpi ketika kita ingin menuai padi tanpa kita bersusah payah menyemai bibitnya terlebih dahulu......” Kata Ki Bijak.

“Dan sepertinya kondisi inilah yang terjadi sekarang ya ki, banyak orang bermimpi, tanpa mau menerima kenyataan ketika mereka terbangun ......” Kata Maula

“Ya Nak Mas, banyak memang dijaman kita ini orang bermimpi terlalu jauh, sehingga kadang ia lupa harus tetap berpijak dibumi, padahal menurut hemat Aki, senikmat-nikmatnya makan roti dalam mimpi, jauh lebih nikmat makan singkong dalam realita.....” Kata Ki Bijak

Maula tersenyum mendengar permisalan gurunya, “Iya ya ki, mau makan pizza, mau makan kentucky, tapi kalau hanya mimpi, untuk apa, tapi meski makan tahu tempe dan lalapan dan sambel dadakan, tapi dalam kenyataan, pasti akan lebih terasa kenyang dan pedasnya ya ki....” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, berfikir, bersikap dan bertindak realistis, jauh lebih bijak dari pada kita hidup dalam dunia khayal yang semu, karena salah-salah, khayalan dan mimpi yang terlalu muluk akan menjerumuskan kita pada jurang kehancuran......” Kata Ki Bijak.

“Seperti orang yang terus-menerus mendongak keatas ya ki, hingga ia tidak melihat ada lubang atau jurang didepannya.....” Tambah Maula.
Ki Bijak tersenyum, ia bersyukur dititipi murid yang cerdas seperti Maula, ia banyak berharap bahwa muridnya ini bukan hanya pandai menyerap apa yang ia wejangkan padanya, tapi juga bisa menerapkannya dalam kesehariannya, dan kelak bisa melanjutkan cita-citanya untuk terus berdedikasi pada umat dan agamanya.

Wassalam

April 23,2009

Thursday, March 5, 2009

JANGAN PERSEMPIT “REZEKIMU” SENDIRI

“Nak Mas perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la ini..........” Kata Ki Bijak sambil menyodorkan buku kumpulan hadits kepada Maula

Maula segera saja membaca apa yang diberikan gurunya, dan ia mendapati sebuah hadits yang berbunyi “Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). (HR. Abu Ya'la)”


“Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati),……” Maula mengulang kata-kata yang terdapat dalam hadits tersebut.

“Benar Nak Mas, kekayaan seseorang tidak dapat diukur hanya karena ia memiliki penghasilan besar, kekayaan seseorang tidak dapat ditimbang hanya karena ia memiliki rumah bertingkat, kekayaan seseorang tidak dapat dipadankan dengan banyaknya deposito atau mobil yang berderet digarasinya, karena kekayaan hakiki adanya disini Nak Mas……..” Kata Ki Bijak sambil meletakan telunjuk tepat diulu hatinya.

Maula segera saja mengikuti arah telunjuk gurunya, “Kekayaan ada disini ki……?” Tanyanya kemudian.

“Kekayaan ada dihati kita Nak Mas, kekayaan ada dalam jiwa kita, dan seberapa besar kekayaan hati dan jiwa kita ini, akan berbanding lurus dengan seberapa besar rasa syukur kita terhadap semua karunia Allah swt kepada kita, seberapa besar kekayaan kita akan berbanding lurus dengan seberapa besar sikap qana’ah kita, rasa cukup kita terhadap semua pemberian Allah…….” Lanjut Ki Bijak.

Suasana menjadi hening sejenak, Maula terdiam, dia berusaha berdialog dengan bathinnya yang beberapa waktu belakangan ini dipenuhi dengan berbagai pertanyaan seputar bagaimana menjadi orang ‘kaya’, ia masih kerap diliputi keinginan untuk punya mobil, punya rumah dan memiliki penghasilan yang lebih besar, tapi…apa yang baru saja dituturkan gurunya justru sama sekali berbeda dengan definisi ‘kaya’seperti yang selama ini ia pikirkan.

“Nak Mas, tidak ada yang menyangkal bahwa dalam kehidupan kita ini, kita memerlukan uang, memiliki kendaraan dan rumah yang bagus juga bukan merupakan suatu kesalahan, hanya sekali lagi Aki tekankan jangan sampai keinginan-keinginan kita itu kemudian mempersempit ‘rezeki’ yang Allah berikan kepada kita…….” Kata Ki Bijak.

“Mempersempit rezeki ki…..?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, rezeki itu definisnya sangat luas, rezeki dapat berupa kesehatan jiwa dan raga kita, rezeki dapat berupa kesempatan, rezeki dapat berupa lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang jiwa kitam, rezeki dapat berupa anak-anak yang sholeh dan sholeha, rezeki dapat berupa istri yang shalehah, keluarga yang harmonis, atau dalam pengertian umum, rezeki dapat didefinisikan segala kebaikan yang kita terima dan kita rasakan, baik itu abstrak atau yang terlihat secara nyata, seperti kita tinggal dilingkungan alami yang bebas polusi, udara segar, air jernih serta sinar matahari yang menghangatkan, semuanya rezeki yang tidak ternilai dan tidak terhitung yang Allah karuniakan kepada kita…” Kata Ki Bijak.

“Dan karena ‘kebodohan’ kita, kita kemudian mempersempit rezeki itu dalam ruang yang sangat sempit dan terbatas, kita hanya tahu bahwa yang namanya rezeki itu uang, gaji besar dan materi yang berlimpah, itu terlalu sempit dan sangat mengecilkan arti rezeki itu sendiri…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, ana masih sering terjebak dalam konteks rezeki seperti itu....” Kata Maula.

“Itu alasan kenapa Nak Mas masih suka bingung ketika tidak punya uang kan....?” Kata Ki Bijak seperti menyelidik.

“Benar Ki, ana masih suka bingung kalau tidak punya uang untuk transpor ke kantor atau untuk keperlauan dapur dirumah.......” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum, “selama kebingungan itu masih dalam tahap wajar, tidak apa Nak Mas, Aki hanya pesan, jangan sampai kebingungan karena tidak punya uang itu melahirkan sikap kufur terhadap nikmat Allah, justru kondisi seperti itu harus disikapi secara dewasa, secara benar, untuk kemudian melahirkan rasa ketergantungan yang kita kepada Allah secara optimal......” Kata Ki Bijak.

“Ana masih belum mengerti ki.....” Kata Maula.

“Nak Mas sudah bekerja seharian untuk menjemput rezeki Allah, Nak Mas sudah menempuh perjalanan kurang lebih 100km sehari untuk tiba ditempat kerja, Nak Mas sudah berusaha bekerja dengan seluruh kemampuan Nak Mas, Nak Mas juga sudah berdoa dan memohon kepada Allah untuk diberikan berbagai kebaikan dalam kehidupan Nak Mas, dan kalau sampai sekarang apa yang telah Nak Mas lakukan belum sepenuhnya mampu mencukupi kebutuhan Nak Mas, artinya bahwa memang kita sebagai manusia, sebagai mahluk tidak memiliki kuasa apapun untuk menentukan besar kecilnya rezeki kita, artinya lagi kita harus menyadari sepenuhnya bahwa diatas segala ada Dia, ada Allah yang mengatur dan menakar karunia_Nya kepada siapa yang dikendaki_Nya...................” Kata Ki Bijak lagi.

“Nak Mas masih ingat dengan ayat Allah yang mengingatkan bahwa Allah_lah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki_Nya..?” Tanya Ki Bijak sejurus kemudian.

“Ya ki............” kata Maula,sambil mengutip dua ayat dengan redaksi yang hampir sama;

37. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.


52. Dan Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.

“Dengan sangat jelas, dalam kedua ayat yang Nak Mas bacakan tadi, Allah Maha Berkuasa untuk melapangkan dan menyempitkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki_Nya, tugas kita hanyalah ‘mengambil pelajaran’ dari tanda-tanda yang Allah berikan pada lapang dan sempitnya rezeki yang Allah berikan............” Kata Ki Bijak lagi.

“Nak Mas bisa memahami maksud Aki.....?” Tanya Ki Bijak, demi melihat Maula nampak hening mencermati ucapanya barusan.

“Eeeeh, pelajaran pertama mungkin seperti yang Aki sebutkan tadi ki, bahwa Allah_lah yang mengatur rezeki seseorang, bukan hanya karena pendidikan seseorang itu tinggi kemudian dia lantas kaya, atau bukan karena seseorang sudah bekerja sedemikian keras, kemudian ia menjadi berada, tapi diatas semua itu ada qudrat dan iradah Allah untuk memberikan karunia_Nya sesuai dengan kehendak_Nya..........”

“Pelajaran kedua yang ana bisa tangkap adalah bahwa kewajiban kita sebagai mahluk untuk melaksanakan syariat secara benar dan sempurna, sementara hasil yang akan diperoleh dari apa yang diusahakannya, semuanya hak prerogatif Allah Yang Maha Berkendak......” sambung Maula.

“Nak Mas benar, pertama kita harus meyakini bahwa qudrat dan iradah Allah pasti berlaku kepada setiap mahluk, dan yang kedua, sunnatullah juga niscaya adanya, barang siapa telah berusaha dengan baik dan benar, niscaya Allah tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah diusahakannya itu, kita tidak perlu takut Allah tidak memberikan ‘upah’ atas apa yang kita upayakan, dan yang jauh lebih penting lagi, ketika kita sudah memiliki sandaran vertikal yang benar, insya Allah kita tidak akan bersedih apalagi putus asa, manakala usaha kita belum memberikan hasil seperti haparan kita, pun sebaliknya ketika kita berhasil mendapatkan apa yang kita harapkan, kita tidak menjadi lupa diri karenanya, karena kita tahu, kedua-duanya, berhasil atau tidaknya usaha kita, sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur yang Maha Adil lagi Bijaksana..............” Tambah Ki Bijak.

“Aaaah..., lega rasanya dada ini ki, semoga ana bisa tetap semangat untuk menyempurnakan ihtiar ana, dan semoga pula ana bisa lebih bersyukur, sabar dan tawakal menjalani apa yang telah Allah gariskan ini..........” Kata Maula sambil menghirup nafas dalam-dalam.

“Itulah sikap terbaik yang bisa kita lakukan, dan Aki percaya Nak Mas bisa menjalaninya dengan baik...............” Balas Ki Bijak.

“Amiin...”

Wassalam

February 13,2009

KIKIR ITU ‘PENYAKIT’

“Kikir itu penyakit Nak Mas....” Kata Ki Bijak.

“Kikir itu penyakit ki....?” Tanya Maula, mengulang pernyataan gurunya.

“Benar Nak Mas, kikir, pelit dan teman-temanya itu merupakan penyakit, dan sumber penyakit bagi mereka yang mengidapnya.....” Tambah Ki Bijak.

“Ana masih belum paham ki.....” Kata Maula.

“Begini Nak Mas, dalam harta kita, sekali lagi Aki ulangi dalam harta yang kita usahakan, terdapat hak-hak orang lain yang harus kita tunaikan, disana ada hak fakir miskin, disana ada hak dhuafa, dan masih banyak lagi kewajiban yang harus kita tunaikan dari karunia rezeki yang Allah amanahkan kepada kita.....” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki.....?” Tanya Maula.

“Lalu ketika kita tidak mengeluarkan apa yang menjadi hak orang lain atas harta kita, itu sama seperti orang yang makan terus menerus, tapi tidak mau mengeluarkannya karena merasa sayang dengan harga makanan yang mahal, menurut Nak Mas, orang semacam ini akan sehat atau sakit....?” Tanya Ki Bijak.

“Waah tentu orang semacam ini akan mengalami sakit perut ki, betapapun mahal dan enaknya makanan, kalau tidak dikeluarkan secara teratur, akan menjadi sumber penyakit bagi orang tersebut....” Kata Maula.

“Ya seperti itu Nak Mas, analoginya mungkin tidak terlalu bagus, tapi itulah kenyataanya, bahwa harta yang Allah karuniakan kepada kita, tapi kemudian kita tidak membelanjakannya secara teratur dijalan Allah dan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban kita kepada orang lain, akan menjadi sumber penyakit bagi pemiliknya...,

“Ia akan dijangkiti penyakit ‘loba dunia’ atau cinta dunia yang berlebihan, ia selalu berlomba-lomba mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, sehingga ia lupa untuk mengingat Allah...,

“Kemudian orang kikir juga sangat berpotensi dijangkiti penyakit asosial, penyakit yang membuat pengidapnya takut untuk bermasyarakat, ia menjadi takut bergaul dengan lingkungannya karena takut dimintai sumbangan, ia menjadi takut kemasjid karena takut diminta menjadi donatur, ia selalu diliputi ketakutan kalau-kalau hartanya berkurang karena harus menolong orang lain, dan ini penyakit yang sangat berbahaya, karena ketika hatinya sudah dipenuhi kekikiran, kualitas akidah dan keimannanya menjadi rentan dan patut dipertanyakan..............” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Hati yang kikir dapat mempengaruhi kualitas akidah dan keimanan seseorang ki...?” Tanya Maula

“Tidakkah Nak Mas tahu hadits yang diriwayatkan oleh Aththalayisi ‘Tidak akan berkumpul dalam hati seorang hamba kekikiran dan keimanan’; yang dalam hemat Aki, hal itu benar adanya; tidak mungkin orang yang imannya baik akan kikir terhadap sesamanya; tidak mungkin orang yang imannya bagus, mengklaim bahwa hartanya adalah haknya semata; hanya orang-orang yang imannya dalam tanda tanya sajalah yang sanggup berbuat kikir; karena dia tidak meyakini bahwa harta yang ada padanya hanya titipan dan amanah dari Allah swt untuk digunakan sesuai dengan titah_Nya…..” kata Ki Bijak.

“Benar Ki….” Guman Maula pendek.

“Selain itu, kikir juga menjadi salah satu asbab kehancuran umat-umat terdahulu; Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda‘ Jauhilah kekikiran, sesungguhnya kekikiran itu telah rnembinasakan (umat-umat) sebelum kamu’, al qur’an mengabadikan kisah kehancuran Qorun yang membangga-banggakan hartanya; kemudian ditenggelamkan oleh Allah swt; tidakkah kita bisa memetik pelajaran dari kisah Qorun….?” Kata Ki Bijak setengah bertanya.

“Iya ki, lagi pula kita tidak diperintahkan untuk mengeluarkan seluruh harta kita, hanya sebagian kecil saja, zakat saja hanya 2.5% ya ki….” Kata Maula.

“2.5% zakat bukan nilai yang besar bagi mereka yang mengimani bahwa rezekinya adalah amanah dari Allah; sebaliknya, 2.5% akan nampak sedemikian besar, jika mereka hanya berfikir bahwa hartanya semata karena kerja keras dan karena kepandaiannya, jadi kikir tidaknya seseorang akan berbanding lurus dengan kualitas keimanan seseorang…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, kalau ada orang yang rajin shalat tapi tidak zakat, bagaimana ki….?” Tanya Maula.

“Alhamdulillah dia masih shalat, tapi sejauh ini Aki belum menemukan orang yang shalatnya benar, tapi tidak zakat, yang ada adalah mereka yang pura-pura rajin shalat, dan kemudian ia tidak zakat, itu memang benar adanya Nak Mas…….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, terlebih kalau kita menyimak ayat al qur’an yang hampir selalu menggandengkan perintah shalat dengan perintah zakat dan sedekah, mestinya orang yang shalatnya benar, benar pula cara ia membelanjakan hartanya sesuai dengan perintah Allah……..” kata Maula sambil mengutip beberapa ayat al qur’an;


43. Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'[44].

[44] yang dimaksud ialah: shalat berjama'ah dan dapat pula diartikan: tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama-sama orang-orang yang tunduk.


83. ………….Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.


“Ada sekian banyak makna dibalik penggabungan perintah shalat dan zakat seperti pada ayat yang Nak Mas baca tadi; wallahu’alam, bagi kita yang awam ini, cukuplah melaksanakan kedua perintah itu dengan sebaik mungkin dulu, dirikan shalatnya, dan tunaikan zakatnya, insya Allah, kelak dikemudian hari kita akan mendapati hikmah dari apa yang Allah perintahkan tersebut; jangan sampai kita sibuk mencari arti harfiahnya dulu, sementara kita lupa untuk melaksanakan perintahnya……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, lagian kalau difikir secara sehat, untuk apa kita ngumpulin harta sedemikian banyak hingga lupa hak orang lain, toh harta itu tidak dibawa mati ya ki….” Kata Maula.

“Memiliki harta yang banyak tidak salah Nak Mas, hanya yang harus benar-benar diingat, jangan pernah menjadikan harta sebagai tujuan, tapi jadikan harta kita sebagai alat untuk mencapai ridha Allah, dengan harta kita bisa berderma untuk mencari ridha Allah, dengan harta kita bisa menyantuni fakir miskin, dhuafa, untuk mencari ridha Allah, ketanah sucipun kita perlu uang, dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk mencapai ridha Allah dengan harta yang Allah amanahkan pada kita, tinggal bagaimana kitanya saja, apakah kita mampu mengendalikan harta kita atau justru kita yang diperbudak oleh harta dan dunia kita……” Kata Ki Bijak.

“Ini yang sangat sulit ki, ketika masih belum memiliki harta, kita bisa berfikir seperti itu, tapi kadang ditengah jalan, kita justru menjadi budak harta, sampai sekarang pun ana masih bisa dengan mudah menemukan contoh-contoh mereka yang menurut ana diperbudak hartanya, ana sering melihat orang yang harus hujan-hujanan mencuci mobilnya yang kotor tanpa peduli adzan maghrib berkumandang, ia lebih memilih mobilnya daripada memenuhi panggilan Allah untuk shalat……” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, godaan harta itu luar biasa besar, makanya Nak Mas harus tetap bersyukur kalau sekarang Nak Mas belum diamanahi kendaraan, mungkin karena Allah tidak ingin melihat Nak Mas terjebak menjadi budak mobil seperti contoh orang yang Nak Mas ceritakan tadi….” Kata Ki Bijak.

“Iya juga sih ki, mungkin pondasi keimanan ana masih dinilai ‘lemah’ oleh Allah, sehingga Allah belum memberi kepercayaan kepada ana untuk memiliki mobil……” kata Maula.

“Berfikir positif seperti itu jauh lebih baik daripada kita mempertanyakan kebijakan Allah,Nak Mas, pasti selalu ada hikmah, pasti selalu ada kebaikan dibalik sesuatu yang tidak kita sukai, bukalah mata hati Nak Mas seluas-luasnya untuk dapat memahami dan memaknai setiap pemberian Allah kepada Nak Mas, insya Allah Nak Mas akan menjadi orang yang pandai bersyukur, tidak kikir, tidak pelit apalagi sampai mengabaikan kewajiban zakat, naudzubillah…..” kata Ki Bijak.

“Iya ki…..” Kata Maula

“Dan satu lagi Nak Mas, bahagia itu ada disini, bukan pada harta yang banyak…..” Kata Ki Bijak sambil menunjuk dadanya, dan sambil mengutip hadits;

“Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). (HR. Abu Ya'la)”

“Iya ki, terima kasih ki……” kata Maula sambil menyalami gurunya.

Wassalam

February 25, 2009

OTAK KITA BUKAN KERANJANG SAMPAH

“Nak Mas tahu apa saja isi keranjang sampah...?” Tanya Ki Bijak memulai sebuah percakapan.

“Ada tissue bekas, ada makanan sisa, ada plastik kotor, ada sisa buah, ada daging busuk dan kertas-kertas yang tidak terpakai ki......” Jawab Maula.

“Dan Nak Mas tahu apa yang akan terjadi ketika semua isi keranjang sampah itu tidak segera diangkat dan dibersihkan...?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Tentu akan menimbulkan bau tidak sedap ki, bahkan tumpukan sampah yang dibiarkan dalam waktu tertentu bisa menjadi sarang penyakit, karena akan banyak lalat yang datang dan pergi untuk kemudian menyebarkan penyakit, ada juga tikus,belatung dan lainnya.........” Jawab Maula lagi.

“Sekarang Nak Mas bayangkan apa yang akan terjadi dengan otak kita ini ketika otak kita ini dipenuhi dengan ‘sampah’, misalnya otak kita dipenuhi dengan gosip, otak kita dipenuhi dengan informasi yang tidak jelas, otak kita dipenuhi dengan bacaan vulgar, otak kita dipenuhi dengan fikiran-fikiran jahat dan kotor, kemudian lagi otak kita dipenuhi dengan potongan-potongan informasi yang berpotensi menimbulkan kebencian dan fitnah, Nak Mas bisa bayangkan hal itu terjadi pada otak seseorang....?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Waah, ana tidak bisa bayangkan hal itu terjadi pada otak seseorang ki, pasti fikirannya akan dipenuhi fikiran-fikiran kotor dan tidak produktif ya ki......” Jawab Maula.

“Nak Mas benar, otak kita akan menjadi kotor, berbau dan tidak produktif manakala otak kita dipenuhi sampah-sampah seperti yang Aki sebutkan tadi, indikasi otak yang hanya berisi sampah-sampah ini sangat jelas Nak Mas, karena output selalu berbanding lurus dengan inputnya, maka otak yang berisi sampah ini akan mengeluarkan perkataan dan pembicaraan yang tidak bermutu dari mulutnya, otak yang berisi sampah ini akan menampilkan citra diri yang kotor dalam perilakunya, matanya liar, bicaranya tidak terkontrol, sering menyakitkan perasaan orang lain, atau lebih senang berkata-kata pandir dan tidak berguna, bergurau dengan gurauan cabul dan sebagainya, karena memang bahan baku yang terdapat didalam otaknya merupakan sumber ‘penyakit’ bagi dirinya dan orang lain......” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah...., ana jadi khawatir ki, karena sekarang ini banyak sekali ‘sampah-sampah’ yang berseliweran siap memenuhi otak kita, mulai dari media massa yang isinya tidak lebih dari bacaan dan gambar yang tidak mendidik, kemudian lagi di media TV yang hampir semua stasiunnya dengan bangga dan tanpa rasa bersalah, menyiarkan aneka gosip murahan, isu, mengekpose aib orang lain, praktek-praktek tidak terpuji seperti lawakan yang menghina fisik seseorang, tayangan yang tidak layak untuk ditonton dan sebagainya, yang celakanya acara semacam ini laris manis bak pisang goreng, kalau kita tidak pintar-pintar memilih dan memilahnya, bisa-bisa otak kita penuh dengan sampah-sampah itu ya ki......” Kata Muala.

“Beruntung dan bersyukurlah kalau kita masih menyadari betapa banyak sampah yang berpotensi merusak otak kita, Aki justru prihatin dengan mereka yang seakan tidak menyadari bahwa selama ini mereka mengkonsumsi racun-racun fikiran dan otaknya dengan saling berkirim gambar tak patut, dengan bercanda yang tidak berguna, dengan bacaan-bacaan iseng yang tiada bermanfaat, dengan informasi-informasi yang tidak jelas asal usulnya, dengan berbagai hal yang dapat mempersempit dan memperkeruh ruang fikir dan otaknya.....sangat disayangkan bahwa akal dan fikiran yang seharusnya digunakan untuk mentafakuri kebesaran Allah, justru digunakan untuk menampung hal-hal yang tidak berguna.................” Kata Ki Bijak.

“Mentafakuri kebesaran Allah dengan akal fikiran ki......?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, ada sekian banyak ayat al qur’an yang mengajak kita untuk berfikir dan mentafakuri tanda-tanda kebesaran Allah, dan tafakur yang benar, hanya mungkin dilakukan kalau fikiran kita jernih, fikiran kita terang, fikiran yang tidak tercemari oleh racun-racun yang merusaknya...., coba Nak Mas buka Al Qur;an itu, dan cari beberapa ayat yang mengajak kita untuk berfikir..........” kata Ki Bijak.

Maula segera saja mengambil al qur’an dari almari, dan mencari beberapa ayat yang dimaksud gurunya;

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(Ali Imran)


13. Dan dia Telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Al Jaatsiyah)


42. Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang Telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan[1313]. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

[1313] Maksudnya: orang-orang yang mati itu rohnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak mati Hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali kepadanya lagi.

Dengan cepat Maula menemukan beberapa ayat yang mengajak untuk berfikir.............

“Nak Mas perhatikan lagi, ‘Dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal’, kemudian ‘Dan dia Telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir’, lalu ‘Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang Telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir’, dari ketiga ayat ini saja, dengan sangat jelas kita diharuskan berfikir, kita dituntut untuk mengetahui siapa dibalik penciptaan langit dan bumi, siapa yang menundukan apa yang ada dilangit dan dibumi untuk kepentingan manusia, siapa yang menghidupkan dan mematikan, yang semuanya bermuara pada satu titik dimana kita harus mengenal Allah....., lalu mungkinkah pekerjaan maha besar ini dilakukan oleh sisa-sisa volume otak dan fikiran kita yang telah dipenuhi sampah...?” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, dengan full capacity saja, kita perlu waktu, perlu kesabaran dan ketekunan yang luar biasa untuk bisa mengenal Allah dengan benar, akan halnya kalau kita menggunakan sisa-sisa kapasitas akal dan fikiran kita untuk mengenal Allah, sepertinya jauh lebih sulit ya ki.....” Kata Maula.

“Hati, fikir dan rasa atau akal, serta seluruh indera kita, adalah seperangkat piranti yang disiapkan Allah untuk kita gunakan agar kita bisa mengenal_Nya, dan hanya piranti-piranti yang baik, bersih dan terjaga sajalah yang mampu berfungsi optimal untuk mencapai sasarannya, maka dari itu menjadi kewajiban kita untuk menjaga amanah itu dengan baik, dengan bersungguh-sungguh, dengan bertanggung jawab, karena semuanya akan dimintai pertanggung jawaban....”

“Hati kita akan dimintai pertanggung jawaban, untuk apa ia digunakan....”
“Fikiran kita akan dimintai pertanggung jawaban, untuk apa ia digunakan...”
“Tangan kita, kaki kita, mata kita, mulut kita, bahkan kulit kita akan memberikan kesaksian dihadapan mahkamah Allah tentang apa yang telah kita perbuat, tidak akan ada dusta disana, tidak akan ada manipulasi disana, karenanya, agar kita bisa mempertanggung jawabkan semua amanah kita, kita harus memulainya dari sekarang.....”

“Dengan menjaga hati kita dari berbagai penyakit yang mungkin akan merusaknya, kita juga harus menjaga otak kita, fikiran dan akal kita dari berbagai virus yang dapat menggerogotinya, singkatnya jangan biarkan piranti pemberian Allah ini lapuk tidak terjaga, sehingga mengurangi atau bahkan merusak fungsinya........” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki..............., semoga ana bisa senantiasa menjaga dan membersihkan semua amanah dari Allah ini ya ki......” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas............” Kata Ki Bijak, sambil menyambut uluran tangan Maula yang hendak pamitan.

Wassalam

February 26, 2009

BAHAGIA, INSYA ALLAH CUKUP DENGAN ‘SAJUTA’

“Orang sunda bilang, untuk bahagia itu cukup dengan ‘Sajuta’, Nak Mas......” Kata Ki Bijak, menanggapi pertanyaan Maula mengenai kiat untuk menjadi bahagia.

“Bahagia cukup dengan sejuta ki..?” Ana masih bingung ki, jangankan dengan sejuta, orang yang memiliki penghasilan lebih dari sepuluh juta sebulan saja, masih banyak yang kebingungan, bagaimana mungkin hanya dengan sejuta kita bisa bahagia ki.....” Kata Maula penasaran.

Ki Bijak tersenyum, “Bukan sejuta Nak Mas, tapi SAJUTA, itu istilah sunda, sajuta kependekan dari Sabar, Jujur dan Tawakal, jadi maksud Aki tadi, orang akan bahagia jika ia bisa berlaku sabar, jujur dan tawakal dalam menjalani berbagai ujian dan kehidupan yang dijalaninya...,

“Orang yang sabar, memiliki maqam tersendiri disisi Allah; Nak Mas tahu ayat yang menyatakan Allah bersama orang yang sabar...?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki......, Jawab Maula, sambil membacakan ayat yang dimaksud gurunya.

146. Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran)

153. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah)

[99] ada pula yang mengartikan: Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.


“Sekarang jelas sudah kenapa orang sabar akan beroleh kebahagiaan, karena orang sabar disukai Allah, dan ketika Allah menyukai seseorang, maka tidak akan berarti kebencian mahluk terhadapnya, ia akan tetap menjadi orang yang bahagia.....”

“Dan ketika Allah beserta mereka yang sabar, apalagi yang bisa membuat orang itu sedih atau takut, karena ketika Allah selalu ‘bersamanya’, tiada suatu apapun yang dapat melemahkan atau menyedihkannya, dan mereka yang sabar inilah orang yang akan menemukan kebahagiaan.......” Sambung Ki Bijak.

“kemudian Jujur, seperti pernah kita pernah bicarakan beberapa waktu lalu, merupakan sebuah mutiara jaman yang tidak akan pernah lekang oleh waktu dan tidak luntur ditelan perputaran jaman, jujur akan tetap merupakan hal terindah dalam kehidupan, yang akan membuat orang memilikinya akan beroleh kebahagiaan, baik itu didunia, maupun kebahagiaan dinegeri akhirat kelak.......”

“Jujur, juga merupakan sifat utama dari para ambiya, juga merupakan sifat utama dari orang-orang pilihan Allah, jujur merupakan syarat mutlak bagi mereka yang ingin hidupnya bahagia, jujur pada diri sendiri, jujur pada keluarga, jujur pada orang lain, dan terlebih harus jujur pada Allah.......” Kata Ki Bijak lagi.

“Jujur pada Allah ki...? Apakah mungkin kita ‘menipu Allah’ki....?’ Tanya Maula.

“Nak Mas perhatikan ayat ini.....” Kata Ki Bijak sambil menunjukan beberapa ayat dimaksud;


142. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka[364]. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya[365] (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali[366]. [0]

[364] Maksudnya: Allah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani para mukmin. dalam pada itu Allah Telah menyediakan neraka buat mereka sebagai pembalasan tipuan mereka itu.
[365] riya ialah: melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat.
[366] Maksudnya: mereka sembahyang hanyalah sekali-sekali saja, yaitu bila mereka berada di hadapan orang.


9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka Hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

“Menipu Allah’itu maksudnya perbuatan orang munafik Nak Mas, mereka pura-pura memeluk agama islam, mereka pura-pura shalat, mereka pura-pura shaum, mereka pura-pura membayar zakat, pura-pura pergi ketanah suci, tapi semua amaliahnya tidak lebih dari kamuflase untuk menutupi belangnya, dan tentu orang seperti ini tidak akan pernah tahu bahwa Allah maha mengetahui segala tujuan dan niat amal perbuatannya....., dan ini yang dibahasakan dengan menipu Allah.......” Kata Ki Bijak.

“Oooh jadi penipu itu orang munafik ya ki....” kata Maula.

“Benar Nak Mas, dan jangan pernah berharap orang-orang semacam ini akan menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, ia niscaya akan senantiasa akan diliputi kegelisahan, keresahan dan perasaan bersalah yang selalu menderanya, ia akan sangat menderita, meski mungkin secara lahir ia dapat menutupi ketidak bahagiaanya itu dari pandangan dhahir orang lain......” Kata Ki Bijak lagi.

“Ana mengerti ki......” kata Maula

“Dan tawakal.., merupakan sebuah kunci utama untuk memasuki gerbang kebahagiaan, karena Allah menjamin setiap mereka yang tawakal akan diberikan jalan keluar dari setiap kesulitan yang dihadapinya, jika Allah yang memberi jalan keluar dari setiap kita, apalah lagi yang akan membuat kita sulit..?, Nak Mas masih ingat ayat yang menyatakan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan memberinya jalan keluar...?” Kata Ki Bijak.

“Iya ki....” Kata Maula sambil menyebut ayat dimaksud;

2. ........barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (At Thalaq)


“Sajuta, Sabar, Jujur dan Tawakal..., bagus sekali ya ki akronimnya.......” Kata Maula, mengulang perkataan gurunya.

“Bagus dan penuh makna, itulah kepintaran orang-orang tua kita dulu, mereka pandai sekali menggunakan simbol-simbol untuk mempermudah kita mengambil pelajaran, sayangnya generasi kita sekarang ini cenderung ‘malas’ untuk bertanya makna dibalik simbol-simbol tersebut.....” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, kadang ada sebagian orang lebih senang mengambil kesimpulan dini tanpa lebih dulu menggali lebih dalam dari apa yang dipermasalahkan....., orang sekarang ini banyak yang merasa dirinya sudah jauh lebih pintar dari orang-orang terdahulu, padahal banyak juga arif billah dari orang-orang tua zaman dulu......” kata Maula.

“Aki bangga dengan pemikiran kritis dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh generasi Nak Mas sekarang ini, banyak diantara mereka yang hafal ribuan hadits bahkan hingga sanad dan perawinya, banyak diantara mereka hafidz al qur’an, dan masih banyak pengetahuan lain yang mereka dapatkan dari pendidikannya yang tinggi, mereka adalah aset-aset islam yang harus terus didukung dan dikembangkan, Aki hanya ingin daya kritis dan pengetahuan yang tinggi itu diimbangi dengan kebijakan dan kearifan sehingga bisa lebih berdaya guna bagi kemajuan dirinya khususnya, dan kemajuan islam pada umumnya......” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, dengan Sajuta, maka kau akan bahagia......” Maula mengulang-ngulang akronim dari gurunya, yang menurutnya sangat sederhana, mudah diingat, tapi penuh makna.

Wassalam

March 03,2008

Monday, February 2, 2009

HUJAN BUKAN ALASAN

“Nak Mas melihat sesuatu yang janggal dari situasi ini...?” Tanya Ki Bijak, menyikapi cerita Maula yang hampir tiap hari kehujanan ketika berangkat dan pulang kantor.

“Sesuatu yang janggal ki...?” Tanya Maula heran.

“Ya Nak Mas, sesuatu yang menurut Aki agak janggal Nak Mas, hujan, kerap kali dijadikan kambing hitam atas kosongnya masjid, hujan dijadikan alasan banyak orang untuk tidak shalat berjamaah dimasjid, hujan juga kerap dijadikan ‘pembenar’ untuk tidak kemasjid.............”Kata Ki Bijak lagi.

“Lalu ki....?” Tanya Maula masih belum mengerti.

“Tapi disisi lain, hujan deras tidak menjadi halangan untuk tetap pergi kekantor, hujan deras bahkan digunakan oleh sebagian orang sebagai bukti loyalitasnya terhadap perusahaan, sehingga apapun yang terjadi, ditengah guyuran hujan lebat dan kilat menyambar, orang tetap bersemangat untuk pergi kekantor atau ketempat usahanya....”Sambung Ki Bijak.

Rona wajah Maula sedikit berubah demi mendengar penjelasan gurunya, ia merasa bahwa gurunya sedang membicarakan ketidak hadirannya dimasjid beberapa hari lalu ketika hujan deras mengguyur daerah sekitar rumahnya;

“Iya ki, ana juga masih sering merasakan hal itu.......”Katanya kemudian jujur.

“Nak Mas tahu alasan kenapa orang-orang, atau Nak Mas sendiri masih suka merasa enggan kemasjid ditengah hujan lebat, tapi tetap bersemangat kekantor tanpa peduli lebatnya hujan dan kilat yang menyambar....?” Tanya Ki Bijak.

“Aaaah...,apa ya ki....., mungkin karena loyalitas ya ki, mungkin juga karena ingin mendapat penilaian yang baik dari perusahaan, atau mungkin juga karena ‘takut’ dapat teguran, sehingga orang-orang tetap pergi bekerja dan kekantor meski ditengah hujan lebat dan sambaran halilintar.....” Kata Maula ragu.

“Jika kita loyal terhadap perusahaan, itu hal yang memang seharusnya, karena itu merupakan salah satu kewajiban setiap karyawan, lalu pertanyaannya, kenapa kita tidak bisa loyal kepada Allah yang memerintahkan kita untuk shalat berjamaah dimasjid, adakah kita sudah menganggap perusahan lebih patut menerima loyalitas kita daripada Allah, yang telah menciptakan kita, yang telah memberikan kita segalanya, mulut, mata, telinga, kaki dan tangan bahkan nafas dan hidup kitapun merupakan pemberian Allah, jadi sungguh mengherankan kalau loyalitas kita terhadap perusahaan jauh lebih besar daripada kepatuhan kita kepada Allah.......” Kata Ki Bijak.

“Lalu, kalau benar ada orang yang rela berhujan ria pergi kekantor demi alasan penilaian yang baik dari perusahaan, itu sah-sah saja, lalu pertanyaannya pernahkah kita memikirkan seberapa baik nilai kita dimata Allah...., kalau kita mengharap penilaian yang baik dari perusahaan dengan berbagai cara dengan pengorbanan, lalu kenapa kita merasa sedemikian berat untuk hanya sekedar melangkahkan kaki dari rumah kemasjid, yang jaraknya Aki yakin jauh lebih dekat dari jarak rumah ke kantor......” Tambah Ki Bijak lagi.

“Kemudian, jika ada orang yang takut dan khawatir dapat teguran dari perusahaan karena tidak datang ketempat kerja, tidakkah kita takut kepada Allah, yang dalam berbagai ayat disebutkan bahwa azab Allah sangatlah pedih, yang kepedihan dan kedahsyatannya tidak dapat dibandingkan dengan apapun, apalagi konon hanya dibandingkan dengan teguran atau bahkan PHK sekalipun....................” Kata Ki Bijak masih dengan nada herannya.

“Benar ki, kalau mau jujur,memang tidak alasan untuk menunda atau tidak pergi kemasjid, sementara kita masih mampu pergi kekantor, meski itu disertai hujan dan kilat yang mengguntur.....” Kata Maula, menyadari betapa dirinya masih terlalu banyak memiliki dalih untuk tidak pergi kemasjid.

“Ki...lalu bagaimana agar semangat kita kemasjid bisa sebaik atau bahkan melebihi semangat kita kekantor ya ki.....?” Tanya Maula.

“Jadikan shalat berjamaah dan kemasjid sebagai sebuah kebutuhan Nak Mas.....” Jawab Ki Bijak.

“Shalat berjamaah dan kemasjid sebagai sebuah kebutuhan Ki...?” Tanya Maula.

“Benar, Aki melihat semangat yang luar biasa untuk datang kekantor setiap hari, meski hujan angin menyertai adalah karena adalah dorongan ‘kebutuhan’ yang harus dipenuhi oleh kita, kita beranggapan kalau tidak kekantor ia akan merugi dan kebutuhannya tidak akan terpenuhi, nah semangat inilah yang harus kita adopsi untuk meningkatkan kualitas ibadah kita, kita butuh shalat, kita butuh berjamaah, kita butuh kemasjid, kita butuh Allah, sehingga dengan kebutuhan-kebutuhan itulah kita akan merasa rugi kalau kita tidak shalat, kita akan merasa kurang kalau tidak berjamaah, kita akan merasa kehilangan sesuatu kalau tidak kemasjid, dan kita akan merasa menjadi orang yang paling berdosa manakala kesibukan kita melalaikan kita dari mengingat Allah......................” Kata Ki Bijak.

“Benar ki, seandainya orang yang kekantor hanya berfikir untuk memenuhi kewajibannya sebagai karyawan, tentu ia akan berat dan enggan untuk kekantor, apalagi hujan-hujan seperti sekarang ini...., karena mereka merasa butuh pekerjaan, butuh penghasilan dan butuh uang itulah segala resiko ditempuh ya ki.....” Kata Maula mulai mengerti.

“Itulah yang ideal Nak Mas, bahwa loyalitas kita, ketaatan kita, ketakutan kita, ketergantungan kita hanya semata kepada Allah swt, lain tidak..., dan kalau sekarang ini kita belum mampu sepenuhnya untuk bersandar dan bergantung kepada Allah, maka itulah PR terbesar yang harus segera kita selesaikan, semakin kita bergantung kepada selain Allah, maka semakin ‘capek’ kita diperbudak oleh kepentingan-kepentingan orang lain, dan Nak Mas masih ingat dengan hadits qudsi yang menyatakan Allah akan melapangkan jalan bagi mereka yang mendahulukan pengabdiannya kepada Allah....?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Ya ki.....” Kata Maula sambil mengutip hadits dimaksud;

Hai anak Adam, luangkanlah waktu mu untuk beribadah kepada-Ku, Aku akan lapangkan dadamu, dan aku akan hapuskan kemiskinan darimu. Jika tidak, Aku akan memberimu kesibukan, dan Aku tidak akan menghapuskan rasa kemiskinanmu” (HR. Turmidzi, Hakim, dan Ahmad).

“Astagfirullah..., jadi inikah yang sering membuat ana merasa kurang ki...?” Tanya Maula menyadari betapa hadits itu mengingatkannya akan ‘kelalaian’nya dalam mendahulukan Allah dibandingkan yang lainnya.

Ki Bijak tersenyum; “Tanyakan pada hati Nak Mas dengan jujur, insya Allah Nak Mas temukan jawabannya....” Jawabnya kemudian.

Terima kasih ki.......” Kata Maula sambil pamitan.

Wassalam;

Februari 02,2009

Friday, January 9, 2009

SAKIT (JUGA) SEBUAH NIKMAT

“Masya Allah, bagaimana keadaanya sekarang Nak Mas...?” Tanya Ki Bijak dengan nada prihatin mendengar penuturan Maula mengenai teman sekaligus tetangganya masuk rumah sakit karena stroke.

“Ana belum sempat menjenguknya dirumah sakit ki, ana baru mendengar khabar dari istri bahwa sakitnya cukup parah......., agak heran juga ya ki, orangnya masih muda, suka olahraga, dan fisiknya nampak sehat, bahkan hari minggu kemarin kami ketemu diacara resepsi pernikahan, tapi tiba-tiba bisa kena stroke begitu ya ki.....” Kata Maula

“Sakit dan penyakit memang tidak semata karena faktor usia Nak Mas, siapapun bisa sakit, dan waktunya pun kita tidak tahu, karena sakit, dalam hemat Aki, juga merupakan sebentuk ‘karunia’ Allah kepada kita, untuk dapat kita sikapi dengan bijak......” Kata Ki Bijak lagi.

“Secara medis, memang banyak faktor yang menyebabkan seseorang sakit atau terkena penyakit tertentu, tapi disisi lain, penyakit juga bisa merupakan alat ‘komunikasi’ Allah dengan kita, sakit dan penyakit bisa merupakan teguran untuk kita, ketika kita lalai, sakit dan penyakit juga bisa merupakan cara Allah untuk menghapus dosa dan kesalahan kita, selama kita memaknainya dengan benar, sakit dan penyakit juga bisa merupakan ‘nikmat’ yang tiada terhingga bagi sebagian orang, dan ada banyak hikmah lain dibalik sakit dan penyakit yang diderita seseorang..........” Kata Ki Bijak lagi.

“Sakit dan penyakit merupakan nikmat luar biasa dan mengandung banyak hikmah ya ki.....?” Tanya Maula heran.

“Benar Nak Mas, sakit dan penyakit dapat merupakan sarana tarbiyah bagi kita......” Kata Ki Bijak

“Tarbiyah ki....?” Tanya Maula tambah heran.

“Benar, sakit bisa merupakan tarbiyah bagi kita untuk sejauh mana kita ridha dan ikhlas dan sabar terhadap ujian yang Allah berikan kepada kita, barang siapa yang mampu menerima ujian Allah ini dengan penuh keikhlasan, keridhaan dan sabar, dibalik sakitnya tersimpan selaksan hikmah yang menantinya....”

“Kedua, sakit dan penyakit juga bisa merupakan tarbiyah untuk memupuk kesadaran kita bahwa kita hanyalah sesosok mahluk lemah yang tidak memiliki daya dan kekuatan apapun, bahkan untuk menolok seekor virus yang tidak kelihatan sekalipun, kita tidak mampu, sakit menyadarkan kita untuk tidak berbangga diri apalagi sombong dengan uang kita, dengan kekayaan kita, dengan kedudukan kita, karena semuanya samasekali tidak mampu menolak sakit dan penyakit yang Allah ujikan kepada kita.....” Tambah Ki Bijak.

“Benar ki, betapapun seseorang memiliki harta banyak dan kedudukan tinggi, semua itu tidak dapat menghindarkan dirinya dari sakit, jika Allah menghendaki ia sakit, maka ia akan sakit, seperti dengan kejadian yang sedang dialami oleh teman ana itu ya ki..........” Kata Maula mulai mengerti arah pitutur gurunya.

Ki Bijak mengangguk, “Kemudian, sakit juga bisa merupakan tarbiyah bagi kita untuk berhati-hati dalam segala hal, karena Allah berfirman dalam Surat Asy-Syuura:30;


30. Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

“Sebagian besar, penyakit yang diderita oleh seseorang adalah karena perbuatan orang itu sendiri, misalnya dengan menjalani pola hidup yang kurang sehat, seperti merokok, meminum minuman keras, narkoba atau pergaulan bebas yang menyimpang dari tuntunan sunah, sehingga akibat perilakunya itu kembali kepada kita masing-masing......” Kata Ki Bijak.

“Jadi sakit juga sebagai sarana instropeksi diri kita yang ki, kalau kita sakit paru-paru, mungkin karena kebiasaan kita merokok, kalau kita kena serangan jantung, mungkin karena perilaku kita dalam mengkonsumsi makanan dan minuman yang salah, atau kalau ada yang terkena HIV mungkin karena perilaku pergaulan bebas yang dilakukannya ya ki..........” Kata Maula.

“Itu sikap yang lebih bijak daripada kemudian ketika kita sakit, kita langsung ‘menyalahkan Allah’, kita mengumpat sana-sini atau menyari sebab-sebab yang ir-rasional, kena santet atau kena jin misalnya, akan lebih baik ketika kita diuji Allah dengan sakit, kita tafakuri, kita instrospeksi, kemudian kita memohon kepada Allah untuk diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menjalani ujian sakit ini, disamping memohon kesembuhan dan mengupayakan syariat lahiriah untuk berobat......” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, kalau kita sudah berusaha untuk hidup sehat, tidak merokok, tidak meminum minuman keras, menjaga etika pergaulan, tapi tetap sakit, bagaimana hikmahnya ki...........?” Tanya Maula lagi.

Ki Bijak menarik nafas panjang, “Abu Hurairah, secara marfu meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda “”Barang siapa yang dikehen-daki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al Bukhari), jadi dalam hemat Aki, ketika kita sudah berusaha menjalankan pola hidup yang benar, tapi tetap diuji Allah dengan sakit, maka kita boleh berharap bahwa Allah menghendaki sebuah kebaikan untuk kita......” Kata Ki Bijak.

“Tapi kenapa harus sakit dulu ki...?” Tanya Maula.

“Itu rahasia Allah Nak Mas, hanya secara lahiriah kita bisa melihat gambaran bahwa untuk menempatkan sesuatu yang baik atau kebaikan, maka diperlukan tempat yang baik, kuat dan bersih dulu, agar kebaikan itu tidak terkontaminasi oleh tempat yang masih kotor, mungkin demikian juga dengan Allah Nak Mas, ketika Allah menghendaki kebaikan kepada kita, maka Allah ‘membersihkan’ tempatnya dulu, membersihkan diri kita dulu, agar kebaikan itu dapat benar-benar terpancar dari dalam diri kita, seperti dalam hadits lain, baginda Rasul menyatakan bahwa ; ”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.”“Dalam hadits lain beliau juga bersabda: “Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” Kata Ki Bijak lagi.

“Subhanallah, betapa besar hikmah yang terkandung dalam keadaan sakit ya ki..................” Kata Maula.

“Dan yang paling penting menurut Aki, sakit adalah sebuah jalan bagi kita untuk lebih mendekat kepada Allah, ketika kita sehat, shalat kita mungkin masih belum khusu’ dan terburu-buru, ketika kita sehat mungkin doa kita belum sepenuhnya datang dari hati yang terdalam, tapi ketika kita shalat dalam kondisi sakit, insya Allah akan sangat terasa bahwa betapa kita membutuhkan Allah, akan sangat terasa betapa kita sangat lemah dihadapan Allah, doa kitapun semakin dalam dan intens, dan perasaan-perasaan inilah yang kemudian menghadirkan rasa kedekatan kita dengan Allah swt......” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, sangat terasa sekali ketika kita shalat dalam kondisi sakit, sampai-sampai ana pernah menangis ketika ana shalat disebelah orang yang tidak bisa shalat dengan berdiri, nampak sekali shalatnya khusu’, hingga ana bisa merasakan betapa nikmatnya shalat dalam kondisi sehat......” kata Maula, menceritakan pengalamannya.

“Oh ya Nak Mas, berbicara mengenai shalat dan kesehatan, kemarin Aki mendapatkan artikel bagus mengenai hikmah shalat, bahwa shalat yang didirikan dengan benar, bukan hanya akan ‘menyehatkan’ hubungan kita dengan Allah secara bathiah, tapi lebih dari itu, gerakan-gerakan lahiriah shalat, merupakan sarana yang sangat bagus untuk menjaga kesehatan jasmani kita......” Kata Ki Bijak sambil menyerahkan beberapa lembar kertas berisi artikel tentang hikmah shalat;

Maula segera menyambut artikel yang diberikan gurunya; ia segera membaca artikel tersebut ;”TAKBIR (Mengangkat Tangan), akan memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat dilengan untuk diisikan ke mata, telinga, mulut...” Maula berhenti sejenak untuk kemudian mengangkat tangan seperti takbir orang ketika shalat, sambil berusaha meresapi gerakan takbir yang dilakukannya, ia kemudian melanjutkan membaca artikel tersebut sambil mencoba mempraktekan setiap gerakan shalat yang dimaksud dalam artikel tersebut.....
“SEDEKAP, menempatkan kedua tangan diantara perut dan dada, memiliki fungsi untuk pengisian pembuluh darah di organ-organ kepala, menjepit pembuluh darah balik pada lengan kiri sehingga pembuluh darah ditangan kanan akan mengembang. Pada saat mengangkat tangan mau rukuk semprotan pembuluh darah berkecepatan tinggi di tangan kanan akan mengisi pembuluh darah yang ada di bagian kepala.
“RUKUK (Pelenturan Memori Otak dan Ginjal), pKelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang, merupakan saraf sentral beserta sistem aliran darahnya. Rukuk yang sempurna akan menarik urat pinggang sehingga dapat mencegah sakit pinggang dan sakit ginjal. Tuas sistem keringat yang terdapat di pinggung, pinggang, paha , betis belakang, terpelihara oleh gerakan rukuk, dan tulang leher, serta saluran saraf memori juga terdapat kelenturannya “.
“.I’TIDAL (Pencegah Sakit Kepala dan Pinggang), posisi I’tidal bangun dari rukuk membuat aliran darah turun langsung dari kepala, menyebabkan bagian pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanan darahnya. Sehinga dapat mencegah saraf keseimbangan tubuh kita sangat berguna untuk menghilangkan sakit kepala dan pingsan dengan tiba-tiba..”
“SUJUD (Pencegahan Koroner dan Stroke),pada saat sujud pembuluh darah nadi balik, dikunci dipangkal paha, sehingga tekana darah akan lebih banyak dialirkan kembali ke jantung dan di pompa ke kepala. Posisi sujud adalah cara maksimal untuk mengalirkan darah dan oksigen ke otak dan anggota tubuh di kepala. Posisi dujud adalah teknik terbaik untuk membongkar sumbatan pembuluh darah jantung sehingga mencegah koroner. Juga membuat pembuluh darah halus di otak mendapat tekanan lebih, sehingga bisa mencegah stroke.
“DUDUK diantara dua SUJUD (Duduk Perkasa, tekukan kaki dan jari kaki dapat menyeimbangkan sistem elektrik dan saraf keseimbangan tubuh kita. Posisi duduk dua sujud memperbaiki dan menjaga kelenturan saraf keperkasaan yang banyak terdapat pada bagian paha dalam, cekungan lutut sampai ibu jari kaki. Akibat lenturnya saraf keperkasaan ini akan mencegah diabetes, prostate dan hernia.
“DUDUK TAHIYYAT AWAL (Duduk Pembakaran), posisi duduk ini jika agak lama sehingga lipatan paha dan betis bertemu, akan mengaktifkan kelenjar keringat sehingga dapat mencegah pengapuran. Pembuluh darah balik di atas pangkal kaki tertakan sehingga darah akan memenuhi seluruh telapak kaki menyebabkan pembuluh darah di pangkal kaki mengembang. Gerakkan ini akan menjegah agar kaki optimal menopang tubuh kita…”
“DUDUK TASYAHHUD AKHIR (Keseimbangan Saraf dan Penyembuhan Wasir),posisi duduk ini lebih baik dari bersila. Dalam ilmu yoga kalau pergelangan kaki akan dipegang, lalu tekan diarea cekungan akan berguna untuk membongkar pengapuran dikaki kiri. Duduk ini membuat saraf keseimbangan yang berhubungan dengan saraf mata akan terjaga dengan baik…”

“SALAM (Terapi Penyakit Kepala),gerakan salam jika dilakukan secara maksimal, bermanfaat untuk menjaga kelenturan urat leher. Berkat kontraksi otot-otot di kepala dihasilkan energi panas dan zat-zat yang diperlukkan untuk rehabilitasi jaringan yang rusak. Salam kanan dan kiri secara maksimal, mencegah penyakit kepala dan tengkuk kaku…..”

“Subhanallah, betapa sempurna Allah menciptakan gerakan-gerakan shalat ini sehingga selaras dengan kepentingan lahir dan bathin kita ya ki………..” Kata Maula, sambil mengulang membaca artikel dari gurunya.

“Ya Nak Mas, meski tadi Aki katakana bahwa sakit adalah sebentuk ujian dari Allah, bukan berarti kita tidak berusaha untuk menjaga kesehatan kita, karena menjaga kesehatan juga adalah sebentuk ungkapan rasa syukur terhadap nikmat Allah yang wajib kita tunaikan……..” Kata Ki Bijak lagi.

“Benar sabdamu ya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam; “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga)”, Subhanallah………………….” Kata Maula pelan.


Wassalam

Januari 08,2009

Wednesday, January 7, 2009

HIDUP MEMANG BERPUTAR

“Ada khabar apa dikampung Nak Mas......?” Tanya Ki Bijak kepada Maula yang baru kembali dari kampungnya sehabis liburan kemarin.

“Alhamdulillah ki, semua sehat....., Abi, umi dan saudara-saudara dalam keadaan sehat, hanya Dinda kemarin badanya sedikit panas, mungkin kelelahan setelah ujian disekolah dan madrasahnya ki........”Jawab Maula.

“Syukurlah Nak Mas, sehat adalah nikmat yang tidak terhingga yang patut kita syukuri......” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki...., ki.., ada sesuatu yang masih mengusik hati dan fikiran ana sepulang dari kampung kemarin ki.......” Kata Maula.

“Perihal apa itu Nak Mas, kalau Aki boleh tahu.......?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Kemarin, pada saat kami pulang kampung liburan idul fitri, ana bertemu dengan teman-teman semasa kecil dulu..........” kata Maula.

“Lalu.......?” Tanya Ki Bijak.

“Salah seorang teman, ketika itu tengah dalam kondisi yang sangat ‘enak’, usahanya sedang lancar, ia memiliki penghasilan besar, telah mampu membeli sepeda motor, dan berencana untuk membeli sebuah rumah..........” Kata Maula.

“Terus Nak Mas.......” Ki Bijak dengan sabar menunggu kelanjutan cerita Maula.

“Beberapa bulan berselang, sekitar tiga bulan, oktober, november, december, keadaannya berubah, sekarang usahanya lagi ‘seret’ karena perubahan harga komoditinya yang fluktuatif sehingga ia mengalami kerugian besar, dan yang lebih mengejutkan ana, hari minggu lalu ia masih membawa sepeda motornya, dan minggu berikutnya sepeda motor itu sudah dijual lagi....., sedemikian cepat perubahan itu terjadi, hanya dalam rentang waktu tiga bulan saja......” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula, “Itulah hidup Nak Mas, hidup memang berputar, kadang dibawah, dilain saat kita berada diatas, dan perubahan itu bisa terjadi kapan saja, bisa setahun,bisa dua tahun, bisa tiga bulan seperti penuturan Nak Mas tadi, bahkan tidak mustahil ada orang yang mengalami perubahan dalam kehidupannya hanya dalam waktu satu malam saja, jika Allah menghendaki sesuatu maka kun fayakun, terjadilah apa yang di kehendaki_Nya......” Kata Ki Bijak

“Iya ki, rasanya seperti mimpi saja, hanya ana masih belum bisa menangkap ‘pesan’ dari apa yang terjadi dengan teman ana itu ki........” Kata Maula.

“Pesannya sangat jelas Nak Mas, bahwa setiap kita akan diuji oleh Allah dengan ‘kebaikan dan keburukan’, dan tujuannya pun jelas, agar kita senantiasa ingat bahwa diatas segalanya, ada Allah yang telah mengatur dan menentukan hidup kita, agar kita tidak menangis manakala kita mendapati kesusahan,dan kita tidak terbahak manakala kita dihinggapi kelapangan....., dan kenapa Nak Mas yang mendapati pengalaman seperti itu, dalam hemat Aki, itu adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sekarang ini tengah berkecamuk didalam hati Nak Mas........?” Kata Ki Bijak.

Maula sedikit terkejut mendengar perkataan gurunya yang seakan mengetahui apa yang tengah berkecamuk didalam hatinya, “Benar ki, dalam beberapa waktu ini, ana merasa ada sesuatu yang kurang, ana merasa tertinggal dari teman-teman yang lain, ana merasa bahwa saat ini ada berada ‘dibawah’ dalam beberapa hal......” kata Maula jujur.

“Nak Mas....., apa yang Nak Mas saksikan pada perjalanan hidup teman Nak Mas tadi adalah cermin bagi Nak Mas, bahwa memang setiap kita akan mengalami perputaran dalam kehidupannya, termasuk juga dengan Nak Mas, kalau keadaan Nak Mas sekarang ini belum sebaik teman-teman Nak Mas, itu adalah sebuah ‘tantangan’ bagi Nak Mas untuk dapat menyikapinya secara bijak, untuk belajar lebih tekun lagi untuk bisa memaknai segala hal yang terjadi pada kita........” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat dengan ayat al qur’an yang menyatakan bahwa setiap kita akan diuji oleh Allah......?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki......” Jawab Maula sambil membaca surat al anbiya ayat 35;

35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.


“Nak Mas sudah tahu ayatnya, dan sudah sangat jelas bahwa Allah akan menguji kita bukan hanya dengan keburukan, bahkan kebaikan pun merupakan ujian yang harus dilalui oleh kita...., sekarang tinggal bagaimana Nak Mas memaknai ayat tersebut untuk Nak Mas terapkan dalam kehidupan Nak Mas sehingga Nak Mas lebih bijak dalam menjalani kehidupan ini......” Kata Ki Bijak.

“Kebaikan juga sebuah ujian ya ki.......?” Tanya Maula pelan.

“Benar, kebaikan juga sebuah ujian, orang-orang yang Nak Mas lihat bergelimang harta, orang-orang yang saat ini memiliki kedudukan yang tinggi, orang-orang yang saat ini memiliki gaji dan penghasilan besar, orang-orang yangsaat ini memiliki rumah tingkat, mobil mewah atau sawah dan ladang yang luas, orang-orang tersebut juga tengah diuji oleh sejauh mana mereka mensyukuri apa yang Allah amanahkan kepada mereka, dan jangan pernah berfikir bahwa ujian berupa kebaikan ini mudah, justru banyak orang-orang yang berhasil ‘lulus’ dalam ujian ‘keburukan’, seperti kemiskinan dan kekurangan, tapi ‘gagal’ ketika ia harus melalui ujian berupa kebaikan tadi.............” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat kisah Sa’labah......?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, Sa'labah bin hatib adalah seorang yang miskin namun sangat rajin dalam beribadah, suatu hari Sa'labah datang menemui Rasulullah SAW dan berkata: "Doakan ya Rasulullah supaya saya dikaruniai Illahi rezeki yang banyak".

“Rasulullah SAW merasa tidak suka mendengar kata-kata Sa'labah tersebut. Beliau lalu berkata.""Tidakkah engkau merasa ridha hidup seperti nabi-nabi Allah, yaitu mencukupkan apa yang ada. Saya sendiri, apabila menghendaki kekayaan, maka Allah dapat mengaruniakan satu gunung emas dan perak". Lalu Sa'labah menjawab,"Kalau saya mendapat rezeki banyak dari Illahi, maka saya akan menafkahkan harta itu untuk kepentingan umum, dan akan saya berikan kepada setiap orang yang memerlukan dan berhajat."

Akhirnya, Nabi memohonkan kepada Allah supaya Sa'labah mendapat rezeki yang banyak. Permohonan itu pun dikabulkan oleh Allah. Binatang ternak yang dipelihara oleh Sa'labah berkembang biak dengan cepatnya sampai memerlukan satu lapangan yang sangat luas untuk tempat pengembalaannya. Singkat cerita, Sa'labah menjadi seorang hartawan, kekayaannya terkenal ke seluruh kota dan desa...”

“Tetapi, semenjak "bintang"nya terang, ia semakin sibuk mengurusi kekayaannya itu. Tadinya Sa'labah termasuk orang yang sangat tekun beribadah, karena kesibukannya mulailah ia melalaikan ibadahnya, sholat Dhuhur dan Ashar kerapkali dijamakkan saja (dikumpulkan jadi satu), walaupun tidak ada illat dan alasan-alasan yang sah, dalam sholat berjamaah yang semula rutin dikerjakan acapkali tidak kelihatan, lama-kelamaan Sa'labah tidak muncul sama sekali dalam sembahyang Jum'at. Dia sudah terlalu sibuk mengurusi harta-kekayaannya itu…...” Tutur Maula, menceritakan kisah Sa’labah.

“Dan jika Nak Mas perhatikan, dizaman sekarang ini pun Sa’labah-sa’labah modern akan gampang sekali kita jumpai, konteksnya sama, ketika miskin dan papa, ia rajin kemasjid, rajin ibadah, rajin tahajud, tapi setelah Allah memberi sedikit saja kemudahan dan kelapangan, ibadahnya mulai berkurang karena kesibukannya……” Kat Ki Bijak sambil membacakan ayat al qur’an;

75. Dan diantara mereka ada orang yang Telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, Pastilah kami akan bersedekah dan Pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.

76. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).

77. Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, Karena mereka Telah memungkiri terhadap Allah apa yang Telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga Karena mereka selalu berdusta. (At Taubah)

“Iya ki, ana beberapa kali melihat orang yang sangat rajin kemasjid ketika ditimpa kesusahan, tapi kemudian ‘menghilang’ setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan….” Kata Maula.

“Dan Allah mengingatkan Nak Mas dengan gambaran teman Nak Mas tadi, agar Nak mas tidak terlalu cemas dengan kondisi dan keadaan Nak Mas sekarang ini, meski mungkin menurut Nak Mas masih kurang ideal, jalani saja Nak Mas, jalani apa yang ada sekarang sebagai sebuah proses, sebuah sunnatullah yang memang pasti berlaku pada siapapun……….” Kata Ki Bijak.

“Kuncinya masih sama, kita undang nikmat Allah dengan mensyukurinya, kemudian dengan bertawakal kepada_Nya, dengan bersabar dan ridha atas semua apa yang Allah anugerahkan kepada kita, selain tentu dengan kasab kita dengan bersungguh-sungguh menjemput karunia Allah yang luas terbentang tak terhingga ini……” Tambah Ki Bijak.

“Subhanallah…., Maha Suci Engkau ya Allah, ampuni hamba_Mu yang tidak pandai membaca apa yang Engkau siratkan…., terima kasih ki, terima kasih Aki selalu mengingatkan ana manakala ana alpa, semoga kedepan, ana lebih kokoh dan kuat lagi dalam menjalani ‘proses’ ini, dan semoga ana lebih bijak dan pandai dalam membaca ayat-ayat Allah yang tersirat dalam berbagai hal…….” Kata Maula, menyadari betapa kejadian yang sedang dialami oleh temannya, merupakan cermin dan jawaban atas apa yang tengah dipertanyakan oleh hatinya.

“Belajarlah Nak Mas, mohonlah kepada Allah untuk dikarunia ilmu dan hikmah agar Nak Mas lebih pandai ‘membaca’ berbagai hal yang Allah siratkan untuk kita pahami……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki………….” Jawab Maula sambil pamitan.

Wassalam

Januari 06,2009