Friday, November 12, 2010

DEBU

“Mohon maaf sebentar ki……” Kata Maula, meminta izin pada gurunya untuk membersihkan kacamatanya dari debu yang menghalangi pandangannya kepapan tulis.

Ki Bijak menghentikan penjelasannya, sambil menunggu Maula yang tengah membersihkan kacamata dengan tissue.
“Sudah bersih Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak.

“Sudah ki, alhamdulillah……” Kata Maula.

“Itulah debu Nak Mas, meskipun kecil, tetap akan menghalangi pandangan mata kita yang jernih…..” Kata Ki Bijak kemudian.

“Iya ki, padahal debu ini sangat kecil, bahkan hampir tidak terlihat, tapi tetap sangat mengganggu….” Kata Maula lagi.

“Karenanya kita harus berhati-hati dengan ‘debu’ Nak Mas….” Kata Ki Bijak.
Maula menyadari bahwa gurunya tengah membicarakan hal lain diluar yang ditulisnya dipapan tulis.
“Nak Mas lihat, debu merapi misalnya, debu-debu yang kecil itu, mampu merusak ratusan hektar tanaman yang siap panen, debu-debu yang kecil itu mampu menutup areal pemukiman ratusan bahkan ribuan hektar yang bahkan berjarak ribuan kilo dari puncak merapi, dan kalau Aki tidak salah, banyak maskapai penerbangan yang menunda jadwal penerbangannya karena khawatir dengan efek debu yang kecil ini, yang jika masuk kemesin pesawat, akan merusak mesin dan sangat membahayakan…..” Kata Ki Bijak.

Maula menarik nafas panjang, ia membenarkan apa yang dikatakan gurunya, betapa debu merapi yang terdiri dari partikel-partikel kecil itu sangat berbahaya, termasuk juga berbahaya bagi kesehatan, karena ketika terhirup dan masuk kedalam paru-paru, akan menimbulkan kerusakan pada orang vital tersebut.

Ki Bijak menarik nafas panjang, “Jika pandangan mata Nak Mas terhalang karena debu kecil yang menempel pada kacamata Nak Mas, jika tanaman menjadi rusak dan layu karena debu yang mengenainya, jika halaman dan pemukiman menjadi kotor karena debu-debu yang kecil, jika mesin pesawat bisa rusak karena debu-debu yang kecil, ini artinya kita sama sekali tidak boleh mengacuhkan dan membiarkan debu-debu ini begitu saja….” Kata Ki Bijak.

Maula diam, menunggu kelanjutan penuturan gurunya…”Dikeseharian kita, ada banyak ‘dosa-dosa kecil’ yang sudah kita anggap biasa,seperti contohnya saling mencela antar teman, kelihatannya sekarang ini sudah dianggap biasa, dan bukan merupakan sebuah dosa..”

“Kemudian mencela kondisi fisik seseorang, ini juga sepertinya sudah sebuah kelaziman dikeseharian kita, belum lagi ghibah, belum lagi berprasangka buruk, belum lagi mengumpat, belum lagi menunda waktu shalat, belum lagi menyia-nyiakan waktu luang, belum lagi janji palsu, belum lagi berkata dusta, belum lagi khianat, dan masih banyak lagi aktivitas keseharian kita yang mengandung ‘debu-debu dosa’…..” Kata Ki Bijak.

“Kalau debu merapi dapat mengotori dan merusak banyak hal, maka debu-debu dosa ini akan mengotori kejernihan mata hati kita….., kalau tadi setitik debu saja yang menempel dikacamata Nak Mas menjadikan pandangan Nak Mas terganggu, konon lagi kalau banyak dosa-dosa yang menempel dan menutup hati kita, niscaya hati kita akan gelap gulita, jauh dari cahaya ilahi…….” Kata Ki Bijak lagi.

Degh….., Maula membayangkan hujan abu merapi yang demikian pekat, sehingga menggangu dan mengurangi jarak pandang, menyebabkan penyakit, dan menyebabkan kerusakan dalam berbagai hal, lalu bagaimana jika hati, yang merupakan pelita, yang merupakan sumber cahaya, yang merupakan cermin, yang merupakan sarana berlabuhnya petunjuk ilahi ini tertutup oleh tebalnya debu-debu dosa…?.

“Hanya sayangnya, kalau debu dhahir seperti yang menempel pada kacamata Nak Mas tadi dengan mudah kita ketahui, tapi debu dosa yang menempel pada hati kita, jarang sekali orang yang mengetahuinya, ataupun kalau ia mengetahuinya, ia lebih cenderung untuk tak acuh dan mengabaikannya…..” kata Ki Bijak lagi.

“Ki……, apa akibatnya kalau kita membiarkan hati kita terus-menerus kena debu dosa..?” Tanya Maula.

“Apa yang Nak Mas rasakan kalau banyak debu yang menempel dikacamata Nak Mas…?” Ki Bijak balik bertanya.

“Pandangan ana buram ki, selain juga kacamata akan tergores dan rusak….” Jawab Maula.

“Pun dengan hati kita Nak Mas, manakala terus menerus terkena dosa, dosa sekecil apapun itu, akan mempengaruhi kualitas kejernihannya, pandangan mata hati kita jadi buram, hati kita jadi tidak peka, dan pada stadium lanjut, hati kita akan keras membatu, bahkan lebih keras dari batu, sehingga akan sulit menerima kebenaran, cenderung congkak dan sombong, dan pada gilirannya, hati kita akan buta dan mati…..!” Kata Ki Bijak lagi.

“Naudzubillah….., bagaimana ciri-ciri orang yang mati hatinya ki…?” Tanya Maula.
“Nak Mas pernah mengantar jenazah….?” Tanya Ki Bijak.

“Pernah ki…..” Jawab Maula.

“Apakah jenazah merespon ketika ada orang menangis…?” Tanya Ki Bijak.

“Tidak ki…..” Jawab Maula.

“Apakah jenazah menyahut ketika adzan dan iqomah dikumandangkan…?” Tanya Ki Bijak lagi.
“Tidak ki….” Jawab Maula lagi.

“Apakah jenazah tahu ada yang sedih, ada yang berduka,ada orang yang menangis, ada orang yang lapar atau orang yang sakit..? Tanya Ki Bijak lagi.

“Tidak ki, jenazah tidak merespon atau berbuat apapun ki….” Jawab Maula lagi.

“Begitulah kira-kira keadaan orang yang hatinya mati Nak Mas, ia tidak peduli pada tetangganya yang lapar….”,

“Orang yang hatinya mati, ia tidak berbuat apapun ketika ada anak yatim yang kelaparan..”,
“Orang yang hatinya mati, ia tidak berbuat apapun ketika ada saudaranya tengah dilanda musibah….”

“Orang yang hatinya mati, tidak akan tergerak ketika terdengar panggilan adzan, orang yang hatinya mati, tidak akan merespon jika ada anjuran bersedekah, berzakat atau berderma lainnya….”

“Orang yang hatinya mati, ia bahkan tidak dapat menerima kebenaran atau nasehat dari siapapun, persis seperti jenazah, ia laksana bangkai berjalan……” papar Ki Bijak lagi.

Maula diam, menyimak penuturan gurunya yang demikian gamblang, Orang yang Hatinya mati, sama dengan mayit, yang tidak bisa melakukan apapun baik untuk dirinya, apalagi bagi orang lain…!!!

“Ki…., adakah cara untuk membersihkan dan menghidupkan hati ki….?” Tanya beberapa saat kemudian.

“Kita harus banyak-banyak beristighfar Nak Mas…..” Kata Ki Bijak

“Dengan memperbanyak istighfar ki…?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, istighfar adalah deterjen pemberish debu-debu dosa, dengan istighfar mudah-mudahan Allah membersihkan noda-noda yang menempel dihati kita, yang membuat hati kita hitam pekat, yang membuat hati kita kotor, yang membuat hati kita menjadi sakit dan mati…..”

“Sebagaimana Nabi Adam beristighfar, memohon ampun kepada Allah karena telah ‘melanggar’ peringatan Allah untuk menjauhi pohon khuldi;

“Sebagaimana Nabi Nuh beristighfar, memohon ampun dan perlindungan dari berbagai hal yang ia tidak ketahui hakekatnya”,

“Sebagaimana Nabi Musa beistighfar, memohon ampun kepada Allah, karena telah menganiaya diri sendiri..”,

“Sebagaimana Nabi Sulaiman beristighfar, memohon ampun kepada Allah ketika beliau diuji dengan sakit yang luar biasa…”,

“Sebagaimana Nabi Yunus, beristighfar, memohon ampun kepada Allah karena kemarahannya dan kemudian ditelan ikan paus…”,

“Maka selayaknyalah kita yang pasti banyak dilumuri debu-debu dosa ini, memperbanyak istighfar, memohon ampunan dari Allah, semoga dengan beristighfar, dengan memohon ampun, dengan senantiasa membersihkan diri dan hati dari debu-debu dosa, hati kita akan senantiasa jernih, hati kita akan senantiasa lembut, hati kita senantiasa sehat, hati kita senantiasa hidup, sehingga mampu menangkap cahaya kebenaran ilahi, sehingga kita peka terhadap keadaan diri dan lingkungan kita, sehingga kita tidak hanya seonggok daging pembungkus tulang yang berjalan tanpa hati, sehingga kita benar-benar menjadi manusia, mahluk yang Allah ciptakan dengan berbagai kelebihan, salah satunya adalah Allah menanugerahkan kepada manusia sebentuk hati, yang dengannya manusia diuji untuk bagaimana menggunakan hati untuk mengenal siapa penciptanya……” Kata Ki Bijak panjang lebar.

Maula manggut-manggut, meresapi setiap untai kata yang keluar dari tutur bijak gurunya.
“Bahkan baginda Rasul, manusia paling agung dan mendapat predikat maksum, pun senantiasa beristighfar kepada Allah swt…..” Sambung Ki Bijak sambil membacakan sayyidul istighfar sebagaimana diajarkan Baginada Rasul;

“(Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tiada ilaha selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hambaMu dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepadaMu dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmatMu yang tercurah kepadaku; dan aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan. Karenanya, ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau”

Maula mencoba mengulang-ngulang bacaan sayyidul istighfar yang dibacakan gurunya;

Allahumma anta rabbi laa ilaha illa anta kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu a’udzubika min syarri ma shona’tu abu-u laka bini’matika ‘alaiyya wa abu-u bidzanbi faghfirli fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta

Tanpa terasa, air matanya menetes dipipinya, meresapi keindahan lafadz istighfar yang dicontohkan baginda Rasul, sambil menyelami maknanya yang demikian menyentuh dan menggetarkan hati…., Maula terus mengulang dan mengulang bacaan istighfar sambil menikmati indahnya istighfar.

Ki Bijak membiarkan Maula terus larut dalam kenikmatan dzikir, ia sendiri kemudian turut serta berdzikir dengan membaca istighfar………………….”

Wassalam

November 2010.

Wednesday, October 27, 2010

SEBUAH HIKMAH

“Ternyata memang bukan Mbah Maridjan sipemilik dan pemilihara gunung merapi ya ki, tapi Allah jualah pemilik dan Dzat yang maha berkuasa atas segalanya, terbukti kakek yang arif itu pun tidak kuasa meredam meletusnya gunung merapi…………” Kata Maula, dengan nada prihatin mendengar berita meninggalnya sosok yang selama ini dikenal sebagai juru kunci gunung merapi.

“Ya Nak Mas…., Aki juga prihatin dengan banyaknya jumlah korban letusan gunung merapi kali ini……” Kata Ki Bijak tidak kalah prihatin.

“Kabar terakhir, sudah dua puluh delapan jenazah ditemukan ki……, yaa Allah, semoga ini bukan sebentuk kemurkaan_Mu atas kelalaian kami dalam mengabdi kepada_Mu……” Kata Maula pelan.

Ki Bijak menghela nafas panjang mendengar kata-kata Maula, “Rasanya memang agak berat bagi kita untuk tidak mengatakan bahwa semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini bukan sebentuk teguran yang sangat keras dari Allah kepada kita Nak Mas, belum lagi kering air mata duka yang membasahi bumi papua dengan banjir bandang wasior, kini gempa bumi dan tsunami juga menambah luka dibumi mentawai sana, bertambah pedih dengan luluh lantaknya sebagai wilayah disekitar gunung merapi….., Aki tidak menemukan padanan kata lain untuk menggambarkan semua yang terjadi sekarang ini selain teguran dari Allah Nak Mas…..” Kata Ki Bijak.

Maula menghela nafas panjang sebagaimana gurunya, “Iya ki….., ana merasa sudah sedemikian nyata ‘peringatan’ yang Allah berikan untuk mengingatkan kita ya ki…..” Kata Maula lagi.
“Ya Nak Mas, semoga Allah membukakan pintu hikmah dari apa yang sekarang terjadi, sehingga kita bisa belajar untuk memperbaiki diri, memperbaiki kesalahan-kesalan kita, sebelum semuanya menjadi terlambat……” Kata Ki Bijak.

“Semoga ki, dan dalam kejadian meletusnya gunung merapi ini, hikmah apa yang bisa kita ambil ki….?” Tanya Maula.

Ki Bijak diam sesaat, “Pertama, mungkin kita bisa berintrospeksi diri, bahwa bukan Mbah Maridjan atau pun mahluk lain yang menguasai dan pemilik gunung atau apapun dimuka bumi ini, tapi Allah, Allah-lah yang menciptakan gunung, Allah-lah yang memeliharanya, dan Allah pulalah yang maha berkuasa atas apapun yang akan dan harus terjadi pada gunung itu, maka sudah saatnyalah kita menata kembali keimanan kita, untuk tidak bergantung kepada sesama mahluk, untuk tidak meyakini hal-hal yang tahayul dan mistik, Aki khawatir setan akan memanfaatkan kelengahan kita untuk kemudian mengelincirkan akidah kita dari tauhid yang benar……” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kasihan Mbah Maridjan, mungkin beliau tidak pernah mengatakan bahwa ia berkuasa atau tahu semua hal ikhwal gunung merapi, apalagi memiliki kekuasan untuk menunda atau mempercepat letusan gunung, tapi hanya karena keyakinan yang ‘salah’ pada sebagian orang, orang tua bijak ini kemudian disangkut pautkan dengan banyak hal mengenai meletusnya gunung merapi…..” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, tidak bijak rasanya kalau kemudian kita ‘menyalahkan’ Mbah Mardijan yang tidak mau mengungsi karena keyakinannya terhadap apa yang diketahuinya, kitalah yang harusnya bisa berfikir jernih dan memilah apa yang terbaik bagi kita…..” Kata Ki Bijak lagi.
“Iya ki…..” Kata Maula pendek.

“Hal kedua yang Aki lihat adalah bagaimana sebagian orang tidak mau diungsikan dengan alasan mereka harus menjaga harta mereka, mereka harus menjaga ternak mereka, mereka harus menjaga sawah dan ladang mereka, sehingga ketika kemudian gunung merapi meletus, sebagian mereka tidak sempat lagi untuk menyelamatkan diri……”

“Ini sebuah simbol atau pelajaran bagi kita Nak Mas, bahwa kadang harta kita, ladang kita, sawah kita, ternak kita, dan materi duniawi justru membuat kita tidak dapat berfikir dengan bijak, kita lebih mementingkan ‘dunia dan materi’ yang sedikit ini, dengan mengorbankan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu nyawa kita….” Kata Ki Bijak.

“Memang benar adanya bahwa kematian pasti datang, letusan gunung, kemudian awan panas dan debu vulkanik hanyalah wasilah datangnya ajal yang telah Allah tentukan bagi setiap mahluk, tapi dari sana pula, terdapat pelajaran bahwa kita tidak boleh ‘mencintai’ dunia dengan gelap mata, ada hal-hal lain yang jauh lebih berharga yang harus kita ‘selamatkan’ yakni kehidupan kita yang lebih luas, kehidupan akhirat kita……” Kata Ki Bijak lagi.

“Dunia ini laksana ini Nak Mas…….” Kata Ki Bijak melanjutkan pituturnya, sambil memperlihatkan batu kecil kepada Maula.

“Dunia seperti batu ini ki….?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, dunia ini kecil seperti batu ini,hanya kita menempatkannya persis didepan pelupuk mata kita seperti ini…” Kata Ki Bijak sambil menempatkan batu kecil persis didepan matanya.

“Dengan posisi batu kecil seperti ini, Aki tidak dapat melihat apapun yang ada didepan Aki kecuali batu kecil ini, pun ketika kita menempatkan dunia ini sangat dekat dengan kita, fikiran kita, hati kita, motivasi kita, akan cenderung tertutup oleh urusan dunia yang ‘kecil’ dan justru lalai terhadap urusan akhirat yang jauh lebih besar yang lebih penting………” Kata Ki Bijak.

Maula mengambil batu kecil dan menirukan gurunya, menempatkan batu kecil itu tepat didepan pelupuk matanya, “Benar ki…., dengan batu sekecil ini didepan mata ana, ana bahkan tidak bisa melihat Aki yang tepat berada didepan ana….” Kata Maula.

“Sekarang coba Nak Mas agak jauhkan posisi batu itu dari mata Nak Mas, apa yang Nak Mas lihat sekarang…?” Kata Ki Bijak lagi.

“Ana bisa melihat lebih luas ki….” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, manakala kita menempatkan dunia pada proporsi yang benar, maka kita akan melihat sesuatu yang lebih luas, lebih indah……” Kata Ki Bijak.

“Ya Ki….” Jawab Maula.

Bersambung…insya Allah.
Wassalam
October 27,2010

Thursday, October 21, 2010

BERDAMAI DENGAN “UJIAN”



“Ki, bagaimana seharusnya kita bersikap, ketika kita menghadapi ‘ujian’…?” Tanya Maula.

“Sikap kita dalam menghadapi ujian Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, ujian dalam pengertian umum, seperti bagaimana ketika kita sakit, ketika kita dalam kesempitan, ketika kita dalam kekurangan dan sebagainya, karena akhir-akhir ini, ana sering sekali mendengar berita orang yang berbuat nekat bahkan harus mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, karena mereka tidak kuat dalam menghadapi himpitan kehidupan yang mereka jalani, biasanya dalam kondisi seperti inilah orang akan merasa sedang diuji, meski sebenarnya, seperti yang pernah Aki bilang, bahwa hidup ini seluruhnya adalah ujian, baik ketika kita mendapat kebaikan atau sebaliknya…..” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang, “Bagaimana kita bersikap dalam menghadapi ujian…., hal pertama yang harus kita miliki untuk dapat bersikap dengan benar kala menghadapi ujian adalah bahwa kehidupan kita didunia ini adalah ujian, dalam kondisi apapun, baik ujian berupa kebaikan, maupun ketika kita diuji dengan keburukan, sehingga dengan sikap mental ini, kita tidak kaget dan tidak gagap ketika ujian itu datang pada kita, karena memang dunia ini adalah tempat ujian……” Kata Ki Bijak.

Maula masih diam menyimak penuturan gurunya;

“Sikap yang kedua, yang harus kita miliki agar kita dapat bersikap dengan benar dalam menghadapi ujian adalah kesadaran bahwa bukan hanya kita yang diuji, misalnya ketika kita tidak punya uang, kita merasa bahwa kita sedang diuji, tanamkan kesadaran dalam diri kita bahwa bukan hanya kita yang saat ini tidak memiliki uang, ada banyak orang yang juga tengah menjalani ujian yang sama dengan kita, tidak memiliki uang, dengan demikian, kita tidak larut dalam kesedihan yang berlebihan, apalagi sampai menyalahkan Allah…..’

“Atau misalnya lagi, ketika kita ditimpa musibah, seperti penyakit misalnya, tanamkan dalam diri kita bahwa bukan hanya kita yang sedang ditimpa penyakit, mungkin kita bisa berkunjung ke rumah sakit misalnya, disana ada banyak orang yang tengah diuji dengan penyakit yang mungkin penyakitnya lebih parah dari yang kita derita, dengan sikap ini, kita bisa mengurangi beban ujian yang tengah kita alami, end toh bukan hanya kita yang sedang sakit…..”

“Atau contoh lainnya, ketika kita tidak punya kerjaan, karena PHK atau lainnya, tidak perlu berkecil hati, toh diluar sana, banyak orang yang bahkan belum pernah mendapatkan kesempatan kerja seperti kita….”

“Atau contoh lain, ketika kita merasa kekurangan, gaji kecil, tidak punya tabungan dan lain sebagainya, besarkan hati kita bahwa diluar sana bahkan ada orang yang sehari-harinya tidak mempunyai penghasilan sama sekali, apalagi tabunga….., dengan menanamkan sikap seperti itu, beban kita dalam menghadapi ujian, akan berkurang dan kita bisa menyikapinya secara benar….” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Benar ki, kalau hari ini kita tidak punya uang, orang lain mungkin dari kemarin sudah tidak punya uang, kalau hari ini kita kena penyakit, ada banyak orang yang sudah berbulan-bulan dirumah sakit atau terkena penyakit menahun, kalau hari ini kita tidak punya beras, ada banyak orang yang bahkan sudah berhari-hari tidak menemukan nasi…, ana mengerti ki…..” Kata Maula.

“Hal kedua yang harus kita tanamkan dalam diri kita dalam menghadapi ujian adalah bahwa ujian yang tengah kita jalani, samasekali tidak membuat kita hina dimata Allah, selama kita menyikapinya dengan benar…..” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki….?” Tanya Maula.

“Ada banyak orang yang ketika diuji dengan kekurangan atau kemiskinan, kemudian merasa rendah diri, merasa hina dimata orang lain, atau ada orang yang ketika diuji dengan penyakit, menjadi rendah diri, padahal sekali-kali ujian kekurangan, kemiskinan atau apapun bentuk uiian yang kita jalani ini tidak akan menghinakan kita, justru dengan ujian inilah kita dididik dan dibentuk Allah untuk menjadi orang yang sabar,tegar dan kuat……;

“Hanya kadang seperti yang Aki katakan tadi, ada banyak orang yang salah dalam menyikapi ujian ini, dan sebagai orang yang beriman kepada Allah, yang meyakini bahwa tidak ada sesuatu apapun, baik itu kekurangan, bencana atau penyakit yang menimpa kita kecuali dengan izin dan kehendak Allah…, tidak ada kekurangan, bencana atau penyakit yang Allah ujikan kepada kita melainkan disana ada selaksa hikmah yang akan mengantar orang yang dapat memaknainya menuju kemulian fidunya wal akhirat……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula diam, dia meresapi setiap untai kata yang keluar dari bibir bijak gurunya; “Iya ki…., banyak tokoh-tokoh yang menghiasi panggung sejarah, justru lahir dan mendapat kemulian setelah mereka mendapat ujian yang sangat berat…..” Kata Maula.

“Itu hal ketiga yang harus kita miliki dalam diri kita Nak Mas, bahwa tanjakan yang terjal, jurang yang curam, jalan yang penuh onak dan duri, gelombang besar, caci maki, hinaan, intimidasi, bahkan ancaman pembunuhan, adalah jalan yang ‘biasa’ dilalui oleh orang-orang besar….,hampir tidak ada orang yang tampil dipanggung sejarah dengan jalan yang lurus dan landai tanpa ujian…..”

“Kita mengenal Nabiyullah Ibrahim as, bagaimana beliau harus menghadapi ujian yang sangat berat, harus dibakar hidup-hidup oleh para penentangnya, kita pun tahu bagaimana Nabi Musa as harus berhadapan dengan tembok keangkuhan fir’aun, kita tahu bagaiman Nabi Ayyub as diuji dengan penyakit langka, dan bahkan Nabi kita, baginda Rasul, makluk kecintaan Allah, tidak luput dari ujian yang maha berat, beliau mengalami intimidasi dari kaumnya, beliau diembargo hingga kekurangan, beliau diancam dibunuh, dan bahkan beliau ‘diusir’ dari tanah kelahirannya, end toh mereka tidak menjadi hina, dan bahkan nama-nama mereka terpatri abadi dalam al qur’an dan tetap akan hidup disepanjang jaman………” Kata Ki Bijak.

“Belum lagi para ulama penegak ajaran tauhid, para penerus jejak rasul, seperti ibnu tammiyyah dan lainya, mereka pun harus berhadapan dengan berbagai ujian, penjara, dan lainnya….” Tambah Ki Bijak

“Benar ki……, dijaman sekarang pun, Nelson Mandela, harus mendekam dipenjara hampir 28 tahun, sebelum akhirnya menjadi presiden Afrika Selatan, dan bahkan Bung Karno beberapa kali keluar masuk penjara, ditangkap dan dibuang sebelum akhirnya namanya harum dalam sejarah bangsa Indonesia……” Kata Maula.

“Yah, seperti itu Nak Mas, jadi ujian adalah sesuatu yang tidak harus membuat kita menggigil ketakutan, kita bisa ‘berdamai’ dengan ujian dengan cara bersikap dengan benar dalam menghadapi ujian tersebut…..” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas simak beberapa ayat ini……” Kata Ki Bijak sambil membacakan ayat-ayat al qur’an yang menyatakan bahwa ujian adalah sebuah sunatullah, ujian berlaku bagi siapapun, ujian bisa terjadi dimanapun, kapanpun dan dalam bentuk apapun….


16. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (At Taubah)


34. Dan Sesungguhnya kami Telah menguji Sulaiman dan kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah Karena sakit), Kemudian ia bertaubat[1302].( Shaad)

[1302] sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ujian Ini ialah keberantakan kerajaan Sulaiman sehingga orang lain duduk di atas singgasananya.


41. Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya Aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan". (Shaad)

“Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menyatakan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan itu sendiri, bahwa ujian adalah sebuah warna kehidupan yang membuatnya menjadi lebih indah, bahwa ujian laksana riak gelombang yang memperindah lautan, bahwa ujian adalah tanjakan yang akan membuat kita bisa menikmati indahnya jalan yang melandai, bahwa ujian dari salah satu cara Allah untuk memutar kehidupan ini……; Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, tadi Aki mengatakan bahwa ujian merupakan salah satu cara Allah untuk memutar roda kehidupan ini…?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, contoh kecilnya begini, ketika kita sakit, kita perlu obat, perlu dokter, dan lainnya, bayangkan jika setiap orang tidak pernah sakit, dan mereka tidak perlu obat, betapa banyak perusahaan farmasi tutup, berapa banyak karyawannya tidak bekerja, belum lagi supplier penopangnya, atau kalau tidak orang sakit, dokter tidak memiliki penghasilan, fakultas kedokteran tutup, dosen nganggur dan seterusnya, dengan satu jenis penyakit saja, dengan seorang penderita saja, sudah sedemikian banyak putaran roda kehidupan yang bergulir karenannya…., konon lagi dengan jenis penyakit dan ujian lainnya…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, seperti juga bencana alam misalnya, berapa banyak orang dan pihak yang terlibat dalam kejadian itu,subhanallah…., betapa besar rencana dan keagungan_Mu ya Allah……” Kata Maula.

“Karenanya, mulai sekarang, Nak Mas harus belajar berfikir dan bersikap bijak dalam menyikapi semua apa yang Allah takdirkan pada Nak Mas, jangan sedih kala dilanda musibah, dan jangan bangga diri kala diberi kelapangan, sikapi dengan wajar, dan senantiasa ingat bahwa semua berasal dari Allah dan semua akan kembali padanya……” Kata Ki Bijak menutup perbincangan sambil mengutip ayat dalam surat Al Baqarah;

155. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[101].

[101] artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. kalimat Ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.


Wassalam

October 2010

Wednesday, October 20, 2010

KETIKA BENCANA YANG BICARA

“Astagfirullahal adzim……, banyak banget ya ki…..” kata Maula

“Apanya yang banyak Nak Mas…..?” Tanya Ki Bijak.

“Ini ki, menurut sebuah sumber, wilayah Negara kita ini, selama kurun waktu 13 tahun terakhir, dari tahun 1997 hingga tahun 2008 saja, telah dilanda bencana kurang lebih sekitar 6,632 kali, dimana tahun 2008 menjadi tahun yang paling banyak mengalami bencana yakni sebanyak 1.302 kali, dari seluruh catatan bencana itu, banjir merupakan bencana yang paling sering dialami Negara kita, yakni mencapai angka 35%, disusul kemudian kekeringan sebanyak 18%, tanah longsor, angin topan dan kebakarang masing-masing 11%, sebuah angka yang membuat bulu kuduk ana merinding membacanya ki……” Kata Maula.

Ki Bijak menarik nafas dalam-dalam, berat sekali rasanya ia mendengar rangkaian bencana demi bencana yang datang silih berganti, hujan yang harusnya menjadi rahmat, justru menjadi banjir, kemarau yang mestinya bermanfaat bagi manusia, justru lebih sering menimbulkan kekeringan, kebakaran dan lainnya…..;

“Mungkin inilah saat yang digambarkan oleh al qur’an sebagai telah nampaknya kerusakan didaratan dan dilautan karena ulah tangan manusia yang ‘nakal’….; kata Ki Bijak sambil mengutip ayat 41 dari surat Ar-rum;


41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).


“Iya ki, belum lagi kalau ditambah dengan bencana yang terjadi ditahun 2009 dan 2010, baru kemarin bencana banjir bandang melanda kota Wasior di tanah Papua, korban meninggal 152 orang, dan masih banyak korban yang belum ditemukan, belum lagi yang luka, kehilangan tempat tinggal, kehilangan tempat ibadah dan lainnya…..; Maula tidak melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya terasa tercekat.

Kembali Ki Bijak menarik nafas dalam-dalam, “Aki hanya sedikit menyayangkan sikap kita dalam menyikapi ‘teguran-teguran’ ini, kita lebih banyak berkubang dan terjebak dalam hitungan angka korban, berapa jumlah kerugian materi, berapa rumah yang rusak, dan kalau ada yang lebih, hanyalah perdebatan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi, itu saja……,

“Kita tidak pernah beranjak lebih jauh untuk mempelajari hikmah apa yang ada dibalik semua musibah ini, Tsunami Aceh yang demikian besar, dengans sedemikian banyak ‘ayat-ayat’ Allah yang terpampang disana, tertelan dan terlupakan sedemikian cepat, tidak ada pelajaran apapun yang kita ambil dari kejadian itu…;

“Kemudian, gempa jogya yang tak lama berselang, kembali hanya hitung-hitungan diatas kertas mengenai jumlah korban dan kerugian materi yang diderita…;selebihnya kembali kita lupa…;

“Kemudian lagi tanah longsong di Sukabumi, gempa bumi di Padang, lumpur Lapindo dan yang terakhir banjir bandang di Wasior, kembali hanya menjadi komoditi berita dan hitung-hitungan diatas kertas mengenai jumlah korban dan jumlah kerugian materi…….,

“Kalau dengan tsunami Aceh kita tidak bisa diingatkan, kalau dengan gempa padang kita masih mudah lupa, kalau dengan banjir bandang Wasior kita pun melupakannya begitu saja, Aki khawatir, dan kita patut khawatir, Allah akan ‘mengingatkan’ kita dengan sesuatu yang lebih besar dari semua yang pernah selama ini……” Kata Ki Bijak dengan nada penuh keprihatinan.

“Naudzubillah min dzalik ki, kalau ada bencana yang lebih besar dari Tsunami Aceh atau gempa bumi Padang, seperti apa lagi, ana tidak sanggup membayangkannya ki……” Kata Maula.

“Karenanya, sekarang saatnya lah kita mentafakuri kalimat terakhir dari ayat tadi, bahwa dikembalikannya sebagian akibat dari ulah tangan manusia itu adalah “agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”, maka mari kita segera kembali kejalan yang benar, kembali ke jalan lurus yang Allah bentangkan melalui contoh dan teladan Rasulnya, melalui firman-firmannya di dalam Al qur’an…..” Kata Ki Bijak.

“Ki…., apakah perilaku kita sekarang ini sudah jauh dari tuntunan Allah dan contoh Rasul_Nya….?” Tanya Maula.

Ki Bijak tersenyum; “Kita tidak perlu jauh-jauh untuk dapat menemukan contoh betapa sudah jauhnya kita meninggalkan jalan lurus yang Allah bentangkan, mari kita tengok kedalam diri kita masing-masing, adakah kita sudah berjalan sesuai dengan tuntunan Allah, misalnya dari keseharian kita, sudahkah kita shalat tepat waktu, sudahkan kita membayar zakat, lalu sudahkan kita bergaul dengan orang lain sesuai dengan kaidah dan tuntunan yang benar, sudahkan kita makan dan minum dari makanan yang halal, sudahkah kita mengkoreksi kalau-kalau ada rezeki yang tidak halal bercampur dalam pendapatan kita…, dan masih banyak pertanyaan lain yang dengan mudah kita bisa ajukan pada diri kita sendiri untuk mengukur dijalan mana kita berjalan sekarang ini…………” Kata Ki Bijak.

“Kalau kita mau jujur, pasti banyak sekali hal-hal dalam kehidupan kita yang sedikit banyak ‘menyimpang’ dari jalan Allah, waktu shalat kita semaunya, zakat yang harusnya kita tunaikan pun masih sekedahnya, cara bergaul kitapun sudah jauh dari tuntunan yang semestinya, belum lagi kalau kita berkaca dari bagaimana cara kita memperlakukan alam dan lingkungan kita, jauh dari kata bijaksana, kita lihat bagaimana kita dengan semena-mena memangkas gunung, bagaimana kita dengan tanpa pemikiran matang mengurug lautan, bagaimana kita mengekplorasi isi perut bumi dengan seenak kita, bagaimana kita dengan tanpa rasa bersalah kita mencemari tanah, air dan udara kita dengan berbagai hal yang sangat ‘menyakiti’ alam dan lingkungan kita…….., jadi rasanya wajar kalau teguran demi teguran selalu Allah alamatkan pada kita, selama kita tidak pernah hirau dengan kasih sayang Allah untuk mengingatkan kita…..” Kata Ki Bijak lagi.

Maula nampak menghela nafas panjang, ia membenarkan apa yang barusan diuraikan gurunya, dan memang wajar kalau kemudian kita ‘ditegur’ dengan berbagai bencana karena memang kita selalu lupa atau melupakan setiap peringatan yang datang sebelumnya;

“Ki…., dari mana kita harus memulai untuk memperbaiki diri ki….?” Tanya Maula beberapa saat kemudian.

“Dari sini Nak Mas….?” Jawab Ki Bijak sambil menunjuk dadanya.

“Dari sini ki….?” Tanya Maula menirukan Ki Bijak yang menunjuk dadanya.

“Ya Nak Mas, kerusakan yang demikian nyata ini, adalah akibat ulah tangan-tagan manusia, dan tidaklah tangan-tangan itu akan membuat kerusakan jika hati yang ada didalam dada ini baik….” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat haditsnya…?” Tanya Ki Bijak kemudian.

“Iya Ki….Rasulullah bersabda “ Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya.Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati". (HR Bukhari dan Muslim).

Ki Bijak mengangguk, “Hati yang rusak, akan mendorong tangan untuk berbuat kerusakan, hati yang rusak, akan melangkahkan kaki ketempat kemaksiatan, hati yang rusak, akan mendorong keinginan tanpa batas, rakus, tamak, dan bahkan diluar batas-batas kewajaran, hati yang rusak, akan membuat anggota tubuh lainnya berbuat kerusakan, dan hal inilah yang dalam hemat Aki menajdi penyebab kerusakan-kerusakan yang ada, dan karenanya, hati ini pulalah yang harus segera diobati dan diperbaiki…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki.., kalau dalam hal penyakit dhahir, hampir semua orang aware, sekedar flu atau masuk angin pun, segera kedokter atau minum obat, tapi sangat jarang orang yang mengetahui bahwa hatinya sakit….., termasuk ana, mungkin juga tidak mengetahui secara persis apakah hati ana baik atau sakit…., lalu bagaimana mengetahui keadaan baik buruknya hati kita ki…..” Kata Maula.

“Hanya diperlukan sedikit ‘kejujuran’ kita untuk mengetahuinya Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Hanya dibutuhkan sedikit kejujuran kita ki…?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, hati yang sakit, akan selalu condong pada keburukan, seperti shalatnya malas, zakatnya enggan, kemasjid tidak jalan, menolong orang segan, dan selalu dipenuhi oleh angan kosong dan khalayalan, dan pastinya jauh dari mengingat Allah……, bukankah ini mudah untuk kita deteksi Nak Mas..?” Tanya Ki Bijak.

“Sebaliknya, hati yang sehat, selalu cenderung pada kebaikan, menikmati ibadah, dan selalu mengingat Allah dan setiap helaan nafas dan langkahnya……” Tambah Ki Bijak

Maula mengangguk tanda mengerti; “Allahumma ya muqallibal quluubi, tsabit qalbi alaa diinika wa ala ta’atika”. (Ya Allah yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku kepada dien/agama dan ketaatan kepada-MU); pintanya pada Allah beberapa saat kemudian

“Amiin…..” Ki Bijak mengamini.

Wassalam

October 2010

Saturday, September 4, 2010

KISAH SEBUTIR KURMA

“Nak Mas Aki punya sebuah kisah hikmah yang mungkin bisa menjadi ibrah bagi kita, Nak Mas mau mendengarnya….?” Tanya Ki Bijak.

“Tentu ki, ana dengan senang hati mau mendengarkan kisah itu…..” Jawab Maula.

“Kisahnya tentang Ibrahim adham, Nak Mas masih ingat…?” Tanya Ki Bijak.

“Ya ki, ana masih ingat…..” Jawab Maula.

“Suatu ketika, sepulang perjalanan menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham hendak pergi ke Palestine, tepatnya ke masjidil aqsa……”

“Sebagai bekal perjalanannya, beliau membeli satu kilogram kurma yang dijual oleh seorang penjual kurma yang sudah tua…., setelah ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan, Ibrahim mengira bahwa sebutir kurma itu adalah bagian dari kurma yang dibelinya, ia mengambil dan kemudian memakan kurma itu…..” Kata Ki Bijak.

“Lalu apa yang terjadi kemudian ki…?” Tanya Maula penasaran.

“Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa, empat Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa, dan seperti biasa, Ibrahim suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra, ia shalat dan berdoa khusuk sekali ketika tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

“Apa isi percakapan malaikat tentang Ibrahim bin adham ki…?” Tanya Maula.

“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT, kata malaikat yang satu….” Ki Bijak menirukan percakapan Malaikat.

“Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi..”

“Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh Allah swt gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya……”

“Astaghfirullahal adzhim” Ibrahim beristighfar, ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma,untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya….”

“Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda, dan Ibrahim berkata pada anak muda penjual kurma;. “Empat bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya Ibrahim.

“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda penjual kurma itu.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”, lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat.

“Nah, begitulah, wahai anak muda, engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?” kata ibrahim

“Bagi saya tidak masalah, Insya Allah saya halalkan,tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang, saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya…..” Jawab si penjual kurma

“Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu…..” Ibrahim meminta kesediaan sipenjual kurma untuk menunjukan alamat para ahli waris pak tua yang sebutir kurmanya ia makan tanpa meminta izinnya….

“Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui semua ahli waris pak tua penjual kurma yang berjumlah 11 orang, meskipun tempat tinggal mereka berjauhan, Ibrahim terus mencari mereka untuk meminta dihalalkan kurma yang telah dimakannya, akhirnya selesai juga, semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim bin adham…….

“Empat bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra lagi, tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain….”

“Oooh, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu, diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain,sekarang ia sudah bebas…...” Secara runtut Ki Bijak menceritakan perihal kurma yang dimakan Ibrahim tanpa izin sipemiliknya.

“Astagfirullah………, hanya sebutir kurma yang ‘tidak halal’, tapi daya rusaknya luar biasa ya ki……, doa menjadi tidak makbul, ibadah dan amal jadi tertolak, astaghfirullah….., bagaimana dengan makanan dan minuman yang ada didalam perut ini……” Kata Maula sambil memegangi perutnya, wajahnya nampak khawatir kalau-kalau dalam perutnya terdapat makanan atau minuman yang tanpa ia sadari telah menimbulkan kerugian bagi orang lain, yang dapat mengakibatkan kerusakan amal dan ibadahnya.

“Itulah kenapa kita harus selalu berhati-hati Nak Mas, seperti sering Aki katakan, kadang kita meremehkan sesuatu perbuatan tanpa berfikir dan mempertimbangkan akibat yang akan ditimbulkannya….” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah….,astaghfirullah…., ya Allah ampuni hamba jika dalam perut hamba ini ada makanan dan minuman yang tidak halal…., ampuni ya Allah……” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas, dan semoga Allah melindungi kita dari makanan dan minuman yang tidak halal, dan menjaga kita dari kerusakan yang ditimbulkannya,…..” Kata Ki Bijak.

“Amiiin……..”

September 2010

Wednesday, September 1, 2010

HATI-HATI, BAHAYA SUBHAT DALAM OVERTIME

“Terima kasih Nak Mas, kok repot-repot bawa buah tangan segala….” Kata Ki Bijak sambil menerima buah tangan yang Maula bawa.

“Tidak apa-apa ki, Alhamdulillah, bulan ini ana ada rezeki lebih……” Kata Maula.

“Syukurlah…., tambahan rezeki darimana Nak Mas…..?” Tanya Ki Bijak.

“Bulan kemarin ana ada banyak lembur ki, jadi ada sedikit tambahan…….” Maula menjawab dengan hati-hati, karena ia melihat raut muka gurunya yang sedikit bertanya.

“Nak Mas, Aki minta maaf sebelumnya, kalau boleh Aki tahu, apakah Nak Mas lembur Nak Mas atas permintaan perusahaan atau atas inisiatif Nak Mas sendiri….?” Tanya Ki Bijak.

“Atas permintaan kantor ki, bulan lalu ada stocktaking yang mengharuskan ana menyelesaikannya sampai agak larut, memangnya kenapa ki…?” Tanya Maula agak khawatir.

KI Bijak menarik nafas panjang, “Syukurlah…., tidak apa-apa Nak Mas, Aki hanya sedikit khawatir kalau dalam uang lembur Nak Mas itu ada uang yang subhat yang tanpa Nak Mas sadari terbawa, betapapun kecil, itu akan berdampak tidak baik bagi Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah…., pada uang lembur ada potensi tercemar uang subhat ki…?” Tanya Maula.

Ki Bijak mengangguk, “Kemarin ada santri disini yang menceritakan pada Aki, bahwa ditempatnya bekerja, ada beberapa orang yang ‘dengan sengaja’ melemburkan diri dengan tujuan untuk mendapatkan tambahan uang lembur, modusnya macam-macam, ada yang hari jum’at atau senin dia tidak masuk, tapi justru ia masuk dihari sabtu dan minggu, hingga dihitung lembur…, ada juga yang sengaja menunda-nunda pekerjaan hariannya, sehingga harus diselesaikan dengan lembur, dan menurut cerita santri tadi, masih banyak lagi modus yang digunakan beberapa oknum karyawan untuk menambah uang lembur….”

“Dan dalam hemat Aki, lembur dengan cara-cara menambah lemburan seperti ini adalah cara yang tidak elegan dan menyalahi peraraturan, baik itu peraturan perusahaan, terlebih aturan syari’at, karena uang yang didapat dengan cara seperti ini, seperti Aki bilang tadi, sangat berpotensi tercemar subhat atau bahkan haram…….” Kata Ki Bijak menambahkan.

“Naudzubillah……, uang lemburnya tidak seberapa, tapi mudharatnya lebih besar ya ki….” Kata Maula.

“Itulah kenapa Aki menanyakan kepada Nak Mas, apakah alas an lembur Nak Mas benar, atau hanya mengada-ada, karena Aki tidak ingin ada makanan atau minuman yang Nak Mas dan kelurga makan tercampur dengan hal-hal yang tidak baik, meski itu sebutir nasi atau setetes air sekalipun…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, terima kasih sudah mengingatkan….., dan insya Allah ana tidak ingin seperti itu…..” Kata Maula.

“Harus Nak Mas, dan bahkan wajib hukumnya bagi kita untuk senantiasa komit untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang seperti ini, uang subhat tidak akan menambah apapun bagi kita, kecuali kerugian….”

“Dalam kasus lemburan misalnya, ketika kita tidak ‘jujur’ dalam pekerjaan, dan kemudian kita melemburkan diri untuk menambah penghasilan, percayalah, bahwa saat itu jiwa kita tidak akan tenang, jiwa kita akan merasa bersalah, meski atasan kita atau perusahaan tidak mengetahuinya dan tetap akan membayar uang lembur kita…..”

“Setelahnya, setelah kita mendapatkan uang lembur, uang itu akan digunakan untuk menafkahi anak istri kita, saat itu pun, sebenarnya jiwa kita menjerit, karena sebenarnya kita tahu, uang yang kita berikan, tercemar dengan uang subhat, jiwa kita akan menghukum kita karena telah meracuni anak istri kita dengan uang subhat….”

“Dan kalau sampai uang yang dihasilkan dari jalan subhat itu masuk lewat makanan dan minuman yang dibeli dengan uang subhat, maka ‘racun subhat’ ini akan menggerogoti jiwa dan hati kita, jiwa dan hati anak istri kita, jiwa dan hati siapapun yang ikut menikmati uang subhat yang kita hasilkan, naudzubillah……” Kata Ki Bijak.

“Mengerikan sekali ya ki…..” Kata Maula.

“Aki tidak bermaksud menakut-nakuti Nak Mas, Aki hanya ingin kita benar-benar menjaga diri dari kesalahan sekecil apapun, karena kesalahan yang kita anggap kecil, sangat mungkin berdampak besar dikemudian hari, baik itu secara lahir maupun secara bathin…., dan satu lagi, tidak ada dosa kecil, jika dosa itu dilakukan terus menerus tanpa pernah diperbaiki…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki……” Kata Maula pendek.

“Dan satu lagi Nak Mas, jangan pernah silau dengan mereka yang berpenghasilan banyak, cukupkan penghasilan kita dari cara baik dan halal, insya Allah itu cukup bagi mereka yang menginginkan pertemuan dengan Allah diakhirat kelak…..” Kata Ki Bijak.

Maula diam termenung memikirkan kata-kata gurunya, ia mencoba mengintrospeksi diri, jangan-jangan masih ada uang subhat dalam penghasilannya.

“Nak Mas, boleh Aki coba oleh-olehnya…..?” Kata Ki Bijak memecah lamunan Maula.

“Iya Ki, silahkan, insya Allah ini dibeli dengan uang halal, semoga diterima ya Ki….” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum, “Ana percaya pada Nak Mas, dan semoga Allah senantiasa menjaga Nak Mas dan keluarga agar senantiasa terlindung dari bahaya uang subhat dan apalagi haram….” Kata Ki Bijak sambil menikmati buah tangan yang dibawa Maula.

“Amiiin…..” Kata Maula mengamini.

August 31,2010

Friday, August 13, 2010

ASA SANG MASJID

Aku adalah sang masjid yang terbiasa kesepian
Aku layaknya bangunan tak bertuan
Debu dan sarang laba-laba bergelantungan
Disetiap sudutku hampir tak tersentuh tangan

Kini, aku bisa sedikit tersenyum lega
Manakala bulan ramadhan tiba
Wajahku yang lusuh berubah menjadi cerah
Seiring datangnya sang bulan penuh berkah

Betapa lama ku rindukan saat seperti
Saat mana jamaah datang membanjiri
Dzikir, tasbih dan tahmid mengalun dari setiap tepi
Ruanganku yang luas pun kini terpenuhi

Mengharu biru rasaku menyambut para tamu
Rahmat dan keberkahan semoga tercurah untukmu
Wahai hamba Allah yang telah berkenan memakmurkanku
Semoga ini bukan hanya sementara waktu…….

Saturday, July 17, 2010

H-25 RAMADHAN.

“Dalam hal apapun, persiapan selalu memiliki peran penting dalam sebuah proses…., baik itu dalam proses pelaksanaan sebuah proyek, dalam proses produksi, dalam proses pekerjaan, atau bahkan dalam proses menuju tangga juara sebuah kejuaraan, persiapan…., adalah salah satu factor lahiriah yang sangat menentukan berhasil tidaknya tujuan yang hendak dicapai……” Kata Ki Bijak, mengenai pentingnya persiapan.

“Iya ki….., dalam putaran piala dunia kemarin, memang sangat terlihat tim atau pemain mana yang memiliki persiapan yang baik atau sebaliknya…., tim dan pemain dengan persiapan yang baik, menampilkan permainan yang baik pula, sementara mereka yang persiapannya kurang, mainnya pun kurang memuaskan….” Kata Maula mengibaratkan pentingnya perisapan dalam sebauh pertandingan sepakbola.

“Ya Nak Mas, meski persiapan yang baik, tidak menjamin sebuah tim menjadi juara, setidaknya dengan persiapan yang baik akan membuat penampilan mereka tidak mengecewakan, terlepas dari hasil akhir yang dicapai…..”,

“Pun demikian dengan ibadah ramadhan Nak Mas, kalau Aki tidak salah hitung, hari ini, adalah tepat 25 hari sebelum tanggal 1 ramadhan 1431 H akan tiba…., dan sama halnya dengan yang lain, persiapan untuk memasuki gerbang ramadhan, akan sangat membantu kita untuk menjalani shuam ramadhan dan ibadah lainnya dibulan mulia ini dengan sebaik-baiknya, dengan harapan tentu diakhir ramadhan nanti kita akan menjadi ‘pemenang-pemenang’ ramadhan yang mendapat predikat ‘mutaqien’…..” Kata Ki Bijak.

“Masya Allah.., sekarang sudah masuk bulan Sya’ban ya ki….., ya Allah, rasanya cepat sekali waktu berlalu, syukur Alhamdulillah.., semoga kita bisa sampai keramadhan lagi ya ki……” Kata Maula, baru menyadari bahwa ramadhan hanya tinggal dalam hitungan hari.

“Memang sepantasnyalah kita bersyukur dengan karunia umur yang Allah anugerahkan kepada kita, namun mensyukuri nikmat umur, hingga kita dipertemukan dengan ramadhan lagi, bukan semata dengan ungkapan kata-kata, namun lebih dari itu, rasa syukur kita harus kita barengi dengan tindakan nyata, yakni mempersiapkan diri memasuki gerbang ramadhan dengan sebaik-baiknya, jangan sampai setelah kita menunggu kedatangan ramadhan sepanjang tahun, tapi begitu ramadhan tiba, kita tidak mengisinya dengan hal-hal yang dicontohkan baginda Rasul…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ya ki, ramai-ramai orang menggemakan ramadhan akan tiba, tapi kadang pelaksanan ramadhannya sendiri ala kadarnya saja, shaumnya pun asal shaum saja, bahkan tak jarang dengan alas an melaksanakan shaum, ibadah lainnya jadi malas-malasan karena lapar…..” kata Maula.

“Karenanya kita harus mempersiapkan diri dengan baik Nak Mas, agar kita tidak termasuk kedalam golongan orang yang menyia-nyiakan ramadhan…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Apa saja persiapannya ki…..?” Tanya Maula.

“Banyak hal yang bisa kita lakukan demi mencapai hasil ibadah yang maksimal selama bulan ramadhan; beberapa diantaranya adalah persiapan mental, persiapan spiritual, persiapan fikriyah, persiapan fisik dan materi, dan yang tak kalah penting adalah kita membuat perencanaan atau agenda untuk meningkatkan prestasi ibadah kita dibulan ramadhan…….” Kata Ki Bijak.

“Persiapan mental artinya mempersiapkan mental kita untuk focus dan konsentrasi menjalankan ibadah ramadhan, tidak terganggu dengan hal-hal lain semisal keinginan membeli baju baru atau kesibukan untuk persiapan mudik misalnya…, begitu ki….?” Kata Maula mencoba mendefinisikan.

“Benar Nak Mas, persiapan mental adalah bagaimana kita menjaga konsentrasi ibadah agar memperoleh hasil maksimal…..” Ki Bijak membenarkan.

“Sementara persiapan spiritual adalah persiapan ruhaniyah kita untuk menerima keagungan ramadhan…..” Tambah Ki Bijak.

“Persiapan ruhaniyah kita untuk menerima keagungan ramadhan ki…?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, untuk memperoleh hasil maksimal, kita harus mempersiapkan ‘wadah’nya terlebih dahulu, ruhani kita harus dibersihkan dahalu sebelum kita memasuki gerbang ramadhan, ruhani kita harus diisi dengan memperbanyak dzikir, memperbanyak istighfar, memperbanyak shodaqoh, serta memperbanyak amaliah lainya, sehingga ketika kita memasuki gerbang ramadhan, kita sudah benar-benar siap mengisinya dengan aktivitas ibadah yang maksimal…..” Kata Ki Bijak.

“Baginda Rasul mencontohkan bahwa pada bulan sya’ban beliau banyak melakukan shaum sunnah, yang menurut hemat Aki, ini juga salah satu bentuk atau cara baginda Rasul mempersiapkan diri memasuki bulan suci ramadhan….” Tambah Ki Bijak

“Ana mengerti ki, sementara persiapan fikriyah, tentu ilmu tentang shaum dan ibadah shaum itu sendiri, dan persiapan fisik dan materi maksudnya agar kita menjaga kesehatan dan mempersiapkan materi (kalau ada) agar tidak mengganggu konsentrasi ibadah kita ya ki….” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, dan mengenai perencanaan, kita tahu bahwa ramadhan bulan ibadah, bulan tarbiyah, serta bulan muhasabah….., begitu banyak keutamaan yang akan kita dapatkan jika kita bisa memanfaatkannya secara maksimal, karenanya bisa harus menyusun rencana secara baik, agar keutamaan-keutaman ramadhan tidak lewat dengan sia-sia, dengan alas an kita sibuk dengan rutinitas pekerjaan atau lainnya…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Ini Nak Mas…, Aki punya contoh agenda ramadhan yang dibuat seorang beberapa waktu lalu….., Nak Mas bisa menambahkan aktifitas lainnya sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan Nak Mas……” Sambung Ki Bijak sambil menyerahkan contoh agenda ramadhan pada Maula
“Terima kasih Ki……” Kata Maula sambil menerima sample agenda ramadhan yang diserahkan gurunya.

“Kalau dalam sepakbola, persiapan seperti ini mungkin seperti proses aklimatisasi dan adaptasi ya ki…., agar tidak kaget lagi ketika benar-benar sudah memasuki medan kompetisi yang sesungguhnya…..” Kata Maula menambahkan.

“Iya Nak Mas, persiapan menyambut bulan suci ramadhan ini adalah proses aklimatisasi dan adaptasi, sekaligus membiasakan suasana kompetesi dan juga agar pada saat ramadhan tiba, kita sudah siap dan berada pada peak performance, bukan begitu istilah sepakbolanya Nak Mas……?” Kata Ki Bijak.

Maula tersenyum mendengar Ki Bijak yang dengan fasih menirukan istilah yang biasa digunakan dalam sepakbola…….

“Ya ki, peak performance…., itu istilah yang biasa gunakan para atlet dalam mempersiapkan diri sebelum mengikuti sebuah kompetisi atau kejuaraan…..” Kata Maula.

“Dan sebentar lagi, kita akan menjadi ‘atlet-atlet’ kompetesi ramadhan, yang menyediakan piala berupa syurga da segala kenikmatannya bagi mereka yang berhasil memasuki garis finish dengan sempurna dan dengan cara yang diridahi Allah swt……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula tersenyum dan makin menyadari bahwa gurunya tidaklah semata alim dalam urusan hati dan akhirat, tapi juga fasih berbicara dan menggunakan istilah-istilah olahraga.

“Iya ki, semoga kita menjadi pemenang-pemeang ramadhan ya ki…..” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas, maksimalkan persiapannya, laksanakan shaumnya dengan ikhlas, selebihnya biarlah Allah yang akan membalas amal kita sesuai dengan kehendak_Nya…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Insya Allah ki……..” Kata Maula mengakhiri perbincangan denga gurunya untuk bersiap melaksanakan shalat.

Wassalam
July 16, 2010

Sunday, July 11, 2010

PERCAYA GURITA, BUKAN PERILAKU MODERN

“Mempercayai gurita, burung atau hewan lain bisa ‘meramal’ sebuah hasil pertandingan sepakbola, bukanlah perilaku manusia modern Nak Mas, tapi perilaku jahilayah yang bathil dan bertentangan dengan akal sehat, bagaimana mungkin manusia yang berakal, bertuhan pada hewan yang jelas-jelas tidak memiliki akal….?” Kata Ki Bijak menyikapi pertanyaan Maula mengenai maraknya perbincangan mengenai sekor gurita yang ramai diberitakan karena dipercayai bisa meramal hasil pertandingan sepakboa.

“Iya ki…., orang berakal sehat tidak akan melakukannya, tapi itu yang terjadi sekarang ini, seekor gurita didewakan oleh banyak orang karena konon bisa menebak hasil pertandingan bola, dan yang lebih mengherankan, kepercayaan pada ramalan gurita ini justru terjadi dinegara yang mengklaim mereka sebagai Negara maju…, tapi ternyata sama saja, merekapun mempercayai hal konyol yang menggelikan……” Tambah Maula.

“Jahilayah…., bukanlah semata mereka tidak bisa baca tulis Nak Mas, jahiliyah bukan semata mereka tidak bisa komputer, zaman jahilayah, bukanlah zaman tidak adanya orang ‘pintar’, jahiliyah adalah kondisi dimana manusia pada zaman itu tidak mengenal siapa tuhannya, mereka tidak mengenal Allah sebagai dzat yang menciptakan mereka, mereka tidak mengakui Allah sebagai Rabbul’alamin……, maka sangat boleh jadi, dizaman kita sekarang ini, benih-benih kejahiliyahan sedang tumbuh subur ditengah masyarakat dunia, bukan saja dinegara kita, tapi juga masyarakat dinegara-negara yang mengklaim sebagai Negara yang maju…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Abu Jahl dan Abu Lahab itu bukan yang yang tidak bisa baca tulis ya ki…?” Tanya Maula.

“Bukan Nak Mas, meski dizaman itu belum ada komputer, tapi Abu Jahl dan Abu Lahab bukanlah orang 'bodoh', tapi justru mereka dari golongan orang ‘terpandang’ ditengah kaumnya, kenapa mereka disebut dedengkot jahiliyah, karena mereka tidak bisa melihat kebenaran yang dibawa Baginda Rasul yang menyeru pada Allah yang Esa…., karena keingkarannya pada kebenaran itulah mereka disebut jahil…….” Kata Ki Bijak.

“Jadi…., dizaman kita sekarang inipun mungkin banyak juga Abu Jahal atau Abu Lahab ki….?” Tanya Maula.

“Waallahu’alam Nak Mas, nanum jika kita bercermin pada perilaku Abu Jahl dan Abu Lahab yang mengingkari Allah yang Esa, sangat jelas bahwa perilaku seperti itu ‘masih hidup’ dizaman sekarang ini, jika dulu kaum quraisy kafir karena telah menyekutukan Allah dengan berhala seperti Lata dan Uzza, maka sekarang ini, banyak manusia yang menyekutukan Allah dengan berbagai berhala modern, salah satunya seperti yang Nak Mas ceritakan tadi, mereka mempercayai gurita atau burung nuri memiliki kemampuan untuk mengetahui hasil akhir sebuah pertandingan, padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan bahwa syirik adalah dosa yang tak berampun, sebagaimana firman_Nya dalam surat An-nissa 48 dan ayat 116:

48. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.

116. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya.


Maula menghela nafas panjang mendengar penuturan gurunya, betapa pertandingan sepakbola yang seharusnya menarik dan enak ditonton, justru sekarang ini telah bergeser menjadi jalan setan untuk menyesatkan banyak orang.

“Setan memang pintar memilih jurus dan cara untuk menyesatkan manusia, setan bisa menggunakan media apapun untuk menjerumuskan manusia untuk menjadi temannya dineraka kelak, karenanya kita harus selalu waspada dengan muslihat setan yang senantiasa siap menggelincirkan mereka yang ‘lemah dan kosong’ dengan kelicikannya……” Kata Ki Bijak lagi.

“Mereka yang lemah dan kosong ki….?” Tanya Maula.

“Yang mereka yang lemah iman, dan mereka yang hatinya kosong dari mengingat Allah, mereka itulah sasaran empuk setan untuk dijadikan temannya dineraka kelak……, setan layaknya angin yang akan memasuki setiap relung hati yang kosong dari mengingat Allah, seperti angin mengisi perut kosong hingga perut kita kembung..”

“Tapi setan tidak akan bisa masuk kedalam hati yang senantiasa terisi dengan dzikir kepada Allah, serta memiliki benteng iman yang kokoh, sebagaimana Allah maklumkan dalam al qur’an bahwa tipu daya setan hanya akan mengena pada mereka yang memang mau mengikuti tipu daya setan…….; Kata Ki Bijak sambil mengutip beberapa ayat dalam Surat Al A’raf;

16. Iblis menjawab: "Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
17. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
18. Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya".

“Akan halnya mereka yang mempercayai ramalan gurita ki…?” Tanya Maula.

“Gurita itu tidak bisa ngomong Nak Mas, gurita pun Aki yakin tidak mengerti hal ikhwal sepakbola, lalu bagaimana mungkin ada orang yang mempercayai sesuatu yang dihasilakan oleh mahluk yang ia sendiri tidak tahu menahu tentang hal itu….?”

“Kalau analisa para pakar sepakbola yang mumpuni dibidangnya saja masih banyak yang salah, entah teori mana atau ilmu apa yang mereka gunakan sehingga mereka mempercayai seekor gurita dengan demikian yakin….?” Kata Ki Bijak penuh heran.

“Kasihan si guritanya ya ki, ia tidak tahu apa-apa, tapi ia dipaksa untuk melakukan ‘kegilaan’ manusia yang tidak masuk akal, kalau saja gurita itu bisa ngomong, mungkin gurita itu bilang ‘nih manusia pada aneh’, mengaku berakal, tapi nanya ke gue, mana gue tahu’…..heee hee….” Kata Maula mengandaikan gurita bisa berbicara.

“Tugas setiap kita hanya mengingatkan mereka yang mungkin lupa Nak Mas, mereka yang lupa bahwa hanya Allah-lah yang mengatahui hal-hal yang akan terjadi, tidak ada sesuatu pun yang bisa mendahului kehendak_Nya, pun termasuk siapa yang akan menjadi juara piala dunia di afrika nantinya……”Kata Ki Bijak.

“Jadi siapaun nanti yang akan menjadi juara, apakah itu Belanda atau Spanyol, bukan karena ramalan si gurita ya ki…..” Kata Maula.

“Bukan Nak Mas, siapapun yang nanti akan menjadi juara, adalah mereka yang secara syaria’at lahiriah telah mempersiapkan diri dengan baik, dan secara hakekat karena memang Allah menghendaki mereka menjadi juara, bukan karena gurita atau karena hal lainnya……” Kata Ki Bijak.

“Mudah-mudahan orang-orang pada sadar ya ki, bahwa setan tengan bergerilya mencari mangsa untuk menyesatkan manusia kejalan kemusyrikan……” Kata Maula berharap.

“Dan semoga Allah melindungi kita dari tipu daya setan yang merupakan musuh yang nyata bagi manusia Nak Mas……” Kata Ki Bijak menimpali.

“Amiiin……..” Maula mengamini.

Wassalam.

July 11, 2010

Friday, July 9, 2010

BELAJAR MENONTON BOLA

“Dari sepakbola, sebenarnya kita bisa belajar banyak Nak Mas, dari sepakbola kita bisa belajar managemen waktu, dari sepakbola kita bisa belajar disiplin, dari sepakbola kita bisa belajar kerja sama team, dari sepakbola kita bisa belajar membuat atau mengkreasi ‘gol’, selain juga kita bisa belajar bagaimana memanfaatkan ruang/lapangan yang ada, kita belajar menghargai dan menerima keputusan, kita pun bisa belajar untuk siap menerima kekalalahan dan tidak menjadi sombong ketika kita memperoleh kemenangan…….”

“Kita pun bisa belajar bagaimana sebuah team mempersiapkan diri untuk menghadapi kompetisi panjang, persiapan teknik, persiapan mental, persiapan fisik, persiapan strategi dan berbagai persiapan-persiapan lainnya…..;
"hanya sayangnya masyarakat kita bukan belajar dari sisi positifnya, justru tak jarang sebagian masyarakat kita terjebak kedalam mudharatnya, seperti Nak Mas katakan tadi, nonton bolanya pake taruha…….” Kata Ki Bijak mengomentari cerita Maula mengenai maraknya judi bola sepanjang penyelenggaraan piala dunia kali ini.

“Iya ki, ana juga prihatin,nggak dikampung, nggak dikota, mulai dari yang recehan sampai yang jutaan, ada yang bilang arisan, ada yang mengatakan iseng-isengan, dan masih banyak lagi ‘kemasan kata’ untuk menutupi perjudian yang mereka lakukan……, sedih banget ya ki….” Kata Maula.

Ki Bijak diam agak lama, merasakan keprihatinan yang sangat dengan kondisi masyarakat akhir-akhir ini.

“Ki….., seperti Aki katakan tadi, sebenarnya kita belajar banyak dari sepakbola ya ki…..” kata Maula memecah keheningan.

“Benar Nak Mas, jika kita lebih bijak, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari sepakbola seperti piala dunia ini…., kita ambil contoh dua team yang masuk final sekarang ini…., team mana Nak Mas…..?” Tanya Ki Bijak

“Team Belanda lawan Spanyol ki…..” Jawab Maula.

“Ya…, team Belanda dan Team Spanyol…., jauh sebelum akhirnya kedua tim ini sampai babak final, keduanya harus memiliki semua persyaratan untuk menjadi finalis, mereka mempersiapkan diri secara fisik,teknik, mental dan strategi sejak mereka akan memasuki babak penyisihan, babak demi babak mereka lalui, lawan dan rintangan pun mereka lewati, cape, lelah, menguras tenaga, menguras emosi, menguras fikiran, dan memang itulah harga yang harus dibayar untuk menuju tangga keberhasilan…..”

“Hampir tidak ada tim yang tanpa persiapan memadai,tanpa melalui babak kualifikasi, tanpa bertanding, tanpa lelah, tanpa menguras tenaga, tiba-tiba dinobatkan menjadi juara…, karena perjuangan melewati fase demi fase adalah syari’at yang harus dilalui untuk menjadi juara…..” Kata Ki Bijak.

“Artinya apa ki……?” Tanya Maula, sambil mengagumi pemahaman gurunya mengenai seluk beluk persepakbolaan, padahal gurunya itu jarang sekali menonton pertandingan bola.

“Artinya adalah tidak ada keberhasilan kebetulan, tidak ada juara tiba-tiba, siapapin yang ingin berhasil, siapapun yang ingin juara, mereka harus menyempurnakan syari’at untuk mencapai keberhasilan ti….., pun dengan kita Nak Mas, kalau Nak Mas ingin sukses, jika Nak Mas ingin berhasil, maka Allah mewajibkan kita melakukan dan menyempurnakan syari’at untuk mencapai keberhasilan itu………” Kata Ki Bijak.

“Waah, sebuah pelajaran yang bagus sekali ya ki………” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, bagus sekali…., belum lagi kita bisa belajar dari sebuah pertandingan sepakbola itu sendiri, disana ada lapangan bola, waktunya sudah ditentukan, ada wasit sebagai pengadil, ada lawan akan menghalangi, ada gawang yang dijaga keeper, ada aturan yang tidak boleh dilanggar……, kesemuanya merupakan miniatur dari kehidupan kita……” Kata Ki Bijak.

“Sebuah pertanding sepakbola merupakan miniatur kehidupan ki…..?” Tanya Maula.

Ki Bijak mengangguk, “ Hamparan bumi yang luas ini adalah ‘lapangan’ kita untuk berkompetisi meraih yang terbaik Nak Mas, sementara jika dalam sepakbola keinginan sebuah tim untuk memenangkan pertandingan dibatasi oleh 90 menit waktu pertandingan, keinginan kita untuk mencapai keberhasilan dunia akhiratpun dibatasi oleh usia, kita tidak boleh kemudian berfoya-foya menghabiskan waktu kita untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, karena waktu kita akan terus berkurang setiap detiknya, sebagaimana sebuah tim tidak boleh hanya bermain passion ball saja, mengulur-ngulur waktu saja, karena waktu sangat berharga, karena waktu sangat terbatas……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ana sering lihat kalau ada pemain yang mengulur-ngulur waktu pertandingan, biasanya akan dihukum dengan kartu kuning oleh wasit……” kata Maula.

“Pun dalam kehidupan kita Nak Mas, kalau kita banyak menyia-nyiakan waktu, maka kita akan ‘dihukum’ dengan rasa sesal yang sangat, karena sedetikpun waktu tidak akan bertambah, waktu pasti berkurang, sedetik saja kita melewatkannya, maka kita tidak akan bisa kembali pada waktu yang sama……” Tambah Ki Bijak.

Maula manggut-manggut, “Iya ki, seberapapun ingin kita kembali kewaktu lalu,pasti tidak akan bisa ya ki…..” Kata Maula lagi.

“Dan Nak Mas pernah melihat tim uggulan, dengan sekumpulan pemain bintang yang mumpuni, tapi kemudian kalah oleh tim medioker…?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, Prancis, Italia, Portugal, Argentina, dan Brazil adalah tim-tim unggulan yang dihuni oleh bintang kelas dunia, tapi toh akhirnya mereka kalah sebelum mencapai babak final…..; apalagi Prancis, sudah keok duluan…..” Kata Maula lagi.

“Nak Mas tahu maknanya apa…..?” Tanya Ki Bijak.

“Eehhh.., apa ya ki, mungkin maknanya adalah bahwa kemenangan tidak semata karena kualitas teknik dan mental atau sekeda fisik semata, tapi ada factor lain yang menentukan hasil akhir dari perjuangan setiap tim…..” Kata Maula.

“Nak Mas benar, kita hanya diwajibkan melakukan syari’at, kalau dalam sepakbola tadi, kewajiban syari’at itu bisa persiapan fisik, persiapan mental, persiapan teknik dan lainnya, sementara kalau dalam kehidupan kita, kewajiban syari’at itu bisa berupa mencari ilmu, berusaha dengan cerdas, bersemangat dan bersungguh dan lainnya, sementara kemenangan atau keberhasilan bukan lagi kewajiban kita..",
"Sebagai orang beriman, kita wajib meyakini bahwa keberhasilan atau kemenangan adalah hak prerogative Allah untuk memberikan kepada siapapun yang dikehendaki_Nya, seperti Nak Mas contohkan tadi, tim-tim unggulan bisa kalah, sebaliknya tim-tim yang biasa saja mungkin bisa menjadi juara, tapi tetap tidak menggugurkan kewajiban berikhtiar bagi mereka yang menghendaki keberhasilan dan kemenangan……” Kata Ki Bijak lagi.

Maula semakin tertarik dengan pandangan Ki Bijak mengenai sebuah pertandingan sepakbola, yang kata gurunya merupakan miniature kehidupan.

“Waah…, ana benar-benar tidak menyangka kalau Aki paham mengenai pertandingan sepakbola……” Kata Maula.

Ki Bijak hanya tersenyum mendengar pujian Maula, “Dan satu lagi yang kita bisa pelajari dari sepakbola Nak Mas, seberapapun kita ingin menang, jangan pernah main curang, junjung tinggi fair play, karena kemenangan yang diraih dengan cara-cara tidak sportif, hanya akan melahirkan gunjingan dan cibiran dari banyak orang…….;
"Pun dengan kehidupan kita, betapapun kita ingin berhasil, betapapun kita ingin sukses, betapapun kita ingin menjadi orang besar, kita tetap tidak boleh melanggar tata nilai dan hukum yang berlaku, baik itu hukum normative , terlebih hukum agama…….” Kata Ki Bijak.

“Kalau dalam sepakbola, kemengan Prancis yang berawal dari kecurangan pemainnya atas Irlandia, yang kemudian melahirkan cibiran terhadap Prancis, kalau dalam kehidupan, Mr. G, orang yang ‘berhasil’ karena suap dan korupsi, pun demikian ya ki, mereka tetap tidak bisa menikmati keberhasilannya dengan tenang……” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, seperti itu, kemenangan haruslah diraih dengan cara terhormat dan bermartabat, bukan dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya……” kata Ki Bijak lagi.

“Ana mengerti ki….” Kata Maula.

“Kapan partai finalnya Nak Mas…..?” Tanya Ki Bijak.

“Senin dini hari nanti ki…, Aki mau ikut nonton…?” Tanya Maula.

Ki Bijak tersenyum, “Nak Mas saja, Aki lebih senang mendengar ceritanya saja dari Nak Mas…..” Kata KI Bijak berseleroh.

Maula tersenyum, kini ia menatap partai final Belanda vs Spanyol dengan penuh harapan akan mendapatkan pelajaran tambahan dari sepakbola, selain dari apa yang baru saja diterimanya dari Ki Bijak.

Wassalam

09 July 2010

AQUARIUM VS KOLAM

“Nak Mas masih memiliki keinginan untuk wira usaha….?” Tanya Ki Bijak dalam sebuah kesempatan.

“Insya Allah masih ki, ana masih menginginkan punya usaha sendiri, ana berharap dengan wira usaha, ana bisa lebih punya banyak waktu untuk keluarga……” Kata Maula.

“Kalau memang Nak Mas berkeinginan seperti itu, tidak ada salahnya Nak Mas mencoba membuka usaha kecil-kecilan dulu dari sekarang, hanya Aki pesan sebelumnya Nak Mas harus mempersiapkan dan memperhitungkan segala sesuatunya dengan teliti dan cermat…., shalat istikhorah mungkin bisa membantu Nak Mas untuk memulai bidang yang akan Nak Mas tekuni……” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki…., ana sedang mempersiapkannya, sambil mencari referensi dari teman-teman yang sudah memulainya terlebih dahulu…..” Kata Maula.

“Syukurlah kalau demikian, carilah referensi dan ilmu dari orang-orang yang kompeten dibidangnya, karena Aki sendiri tidak bisa membantu Nak Mas secara teknis dan materi, Aki hanya bisa memberi sedikit saran yang mungkin Nak Mas butuhkan nantinya…..” Kata Ki Bijak.

“Ki…., nasehat-nasehat Aki, jauh lebih berharga dari bantuan material dan bantuan teknik apapun, karena bagi ana, nasehat Aki adalah obor yang selalu menerangi hati dan pemikiran ana, itu jauh lebih berharga ki….” Kata Maula.

Ki Bijak menarik nafas panjang, “Berwira usaha mungkin akan sedikit berbeda dengan ketika Nak Mas menjadi seorang karyawan seperti sekarang, bedanya.., dalam analogi Aki seperti ikan yang hidup diaquarium dan dan ikan yang hidup bebas dikolam yang luas…..” Kata Ki Bijak kemudian.

“Beda antara wirausaha dengan karyawan seperti ikan diaquarium dan ikan dikolam ki…..?” Tanya Maula.

“Iya Nak Mas, ikan diaquarium, kelihatannya hidup relative ‘lebih mudah’, ikan diaquarium mendapat jatah makan dari sang pemilik setidaknya dua atau tiga kali sehari, kemudian air diaqaurium jauh lebih bening, sehingga semuanya terlihat, kemudian lagi ‘kompetisi’ antar ikan diaqurium, relative tidak ada, karena biasanya ikan dalam aquarium merupakan ikan dari jenis yang sama…….” Kata Ki Bijak

“Lalu ki….?” Tanya Maula.

“Pun demikian dengan kehidupan seorang karyawan yang relative ‘terbaca’, setiap bulan dapat gaji dari perusahaan, kemudian lingkungannya relative tidak berubah, teman-teman sekantor yang sama, dan jikapun ada kompetisi, masih dalam batas toleransi dan wajar…….”

“Beda halnya dengan ikan yang hidup dikolam luas…, ikan yang hidup dikolam memiliki ‘potensi’ makanan yang jauh lebih besar dan banyak, dikolam, ikan bisa bebas memilih makanan yang tersedia disana, meski pada suatu saat, ikan dikolam mungkin tidak dapat makanan sama sekali, karena banyaknya komunitas ikan dikolam yang memperebutkannya, belum lagi kondisi air yang tidak sebening air aquarium, ikan dikolam harus benar-benar bisa survive untuk dapat memperoleh makanan dan mempertahankan hidupnya……” Kata Ki Bijak beranalogi.

“Pun demikian dengan seorang usahawan, dengan menjadi wiraswasta, peluang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar, sangat terbuka lebar, potensi untuk maju juga relative lebih besar, hanya itu tadi, didunia wirausaha, persaingan dan kompetisi sangat ketat, lingkungannya pun relative lebih luas, mungkin hampir setiap hari seorang wirausahan akan bertemu dan berhubungan dengan orang yang berbeda, latar belakang yang berbeda, tujuan dan motivasi yang berbeda, karakter yang berbeda, dan masih banyak lagi ragam yang berbeda yang kesemuanya harus kita hadapi untuk dapat survive dan berhasil dalam dunia wirausaha……..” Kata KI Bijak.

“Waah….., ana tidak menyangka Aki mempunyai wawasan dan visi kewirausahaan yang hebat…….., ana sendiri belum terpikir sejauh itu ki…..” Kata Maula mengagumi wawasan luas dari gurunya.

“Justru Aki yang banyak belajar dari Nak Mas mengenai hal ini, Aki tidak terlalu pandai mengenai urusan dunia wira usaha Nak Mas…..” Kata Ki Bijak

“Tapi apa yang Aki katakan tadi sangat masuk akal ki…., karyawan, mendapat gaji setiap bulan, tapi ya hanya itu saja sumber penghasilannya, paling banter dapat lemburan dan bonus, sementara pedangang atau wirausahawan, suatu waktu mungkin akan mendapat keuntungan yang besar, usahanya maju, berhasil dan sukses, sementara disisi lain, sangat mungkin seorang pedagang atau wirausahawan akan mengalami kerugian atau usahanya tidak lancar, dan mereka akan mengalami kesulitan…….., dan itu sangat masuk akan dan perlu dipikirkan oleh setiap orang yang mau memulai memasuki dunia usaha……” Kata Maula.

“Dan kalau memang Nak Mas benar-benar mau masuk kedalam dunia usaha tadi, Aki harap Nak Mas sudah benar-benar siap dengan segala kemungkinan yang akan Nak Mas temukan di’kolam’ besar yang menjanjikan, sekaligus penuh tantangan ini……….” Kata Ki Bijak lagi.

“Bismillah Ki……, semoga Allah member kemudahan dan kelancaran bagi ana untuk melaksanakan niatan ini……” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas, dan jangan lupa…., niatnya diluruskan…, jika Nak Mas ingin memiliki usaha sendiri, bukan karena Nak Mas ingin kaya, bukan karena Nak Mas mengejar materi semata, bukan karena ikut-ikutan, atau apalagi hanya karena teman-teman Nak Mas lebih dulu ‘sudah berhasil’, tapi niatkan untuk ibadah, untuk mencari ridha Allah semata……..” Kata Ki Bijak menambahkan.

“Insya Allah ki, dan ana juga memohon doa Aki ya ki….” Pinta Maula.

“Nak Mas, tanpa Nak Mas mintapun, Aki selalu berdoa untuk kebaikan Nak Mas dan keluarga, semoga Nak Mas dan keluarga senantiasa dalam rahmat dan kasih sayang Allah swt…….” Kata Ki Bijak.

“Amiiin……” Maula mengamini.

Wassalam

July 2010.

Friday, July 2, 2010

BERSYUKUR ITU……

“Kenapa Nak Mas, sepertinya ada yang mengganggu pikiran Nak Mas….? Tanya Ki Bijak, melihat rona wajah Maula yang agak berbeda dari biasanya.

“Iya ki, rencananya minggu ini ana mau beli kitab yang Aki sarankan kemarin, tapi nggak jadi…., uangnya belum cukup ki…” Kata Maula.

“Bukannya kemarin Nak Mas bilang minggu ini Nak Mas dapat bonus dari kantor…?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Iya ki, bonusnya sudah dibagikan, tapi nilainya jauh dari perhitungan ana kemarin, jadi uangnya ana pakai untuk melunasi hutang dulu, sementara beli kitabnya ana tunda, nggak apa-apa kan ki….” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula; “Nak Mas…, tidak apa-apa kalau Nak Mas menunda pembelian kitab itu, dan Nak Mas tidak perlu kecewa karena bonus Nak Mas tidak sesuai dengan perhitungan Nak Mas, karena itulah rezeki yang Allah karuniakan kepada Nak Mas untuk saat ini…..” Kata Ki Bijak menasehati.

“Tapi ki, bonus kali ini ‘aneh, masak lebih kecil dari tahun sebelumnya, padahal gaji pokoknya sudah naik….” Maula masih penasaran.

Ki Bijak kembali tersenyum mendengar Maula yang masih nampak sedikit kesal, “Nak Mas…, memang benar yang menghitung bonus itu secara syariat pihak perusahaan, tapi bagi kita yang beriman kepada Allah, harus meyakini bahwa apa yang diputuskan perusahaan itu hakekatnya adalah putusan Allah jua, besar kecilnya bonus atau rezeki kita, sudah diatur Allah jauh sebelum pihak perusahaan memutuskan berapa jumlah bonus yang akan Nak Mas terima sekarang……” Kata Ki Bijak lagi.

“Astaghfirullah…., benar Ki….., mau orang jepang, mau bule atau siapapun, tetap saja mereka dalam kekuasaan Allah ya ki, sekalipun mereka tidak mengakui Allah…..” Kata Maula menyadari kealfaannya.

“Ya Nak Mas, tidak ada kekuasaan atau kekuatan apapun yang mampu member rezeki pada kita selain Allah, pun dengan jepang, dengan bule atau siapapun, hanya Allah sajalah yang mampu melapangkan atau menyempitkan rezeki kita dengan qudrat dan iradahnya…, lagi pula boleh jadi ada banyak pelajaran yang dapat Nak Mas petik dari apa yang Nak Mas dapati sekarang….” Tambah Ki Bijak lagi.

“Pelajaran ki…..?” Tanya Maula.

Ki Bijak mengangguk, “Nak Mas masih ingat dengan ayat Allah dalam surat A-rum 37 dan Az-Zummr 52..? Tanya Ki Bijak.

“Iya ki…..” Jawab Maula sambil membaca ayat dimaksud;

37. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.

52. Dan Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.

Ki Bijak mengangguk untuk membenarkan apa yang Maula baca; “Pelajaran pertama yang dapat kita ambil adalah bahwa kita harus senantiasa memperbaharui keimanan kita bahwa Allah-lah yang memberi rezeki pada kita, bukan perusahaan, bukan atasan, mereka hanyalah wasilah dari Allah untuk menyalurkan rezeki pada kita…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki….” Jawab Maula pendek.

“Pelajaran yang kedua, berhati-hatilah ketika kita punya rencana, jangan ujub, jangan takabur, jangan merasa bisa melakukannya sendiri tanpa izin Allah, seperti rencana Nak Mas untuk membeli kitab kemarin, tujuannya bagus, hanya jangan lupa, ucapkan insya Allah, sehingga kehendak kita selaras dan tidak mendahului kehendak Allah…..” Kata Ki Bijak lagi.

Maula mengangguk tanda mengerti;

“Pelajaran yang ketiga, kita harus belajar lagi memaknai syukur dengan benar, sekali-kali kita tidak akan bisa mensyukuri nikmat Allah yang besar, jika kita belum mampu mensyukuri nikmat yang kecil, seperti sekarang ini, Nak Mas tengah diuji oleh Allah, mampukah Nak Mas mensyukuri bonus yang kecil, sebelum insya Allah Nak Mas akan mendapat bonus yang lebih besar, dan ingat, barang siapa mensyukuri nikmat Allah, maka Allah akan menambah nikmat_Nya, dan barang siapa kufur, maka azab pedih menantinya……” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat Allah dalam surat Ibrahim;

7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

“Iya ki, ana mengerti……” jawab Maula pendek

“Jadi sekarang Nak Mas masih ‘kesal’ karena bonusnya kecil….?” Tanya Ki Bijak sambil senyum.

“Insya Allah tidak lagi ki…., justru ana makin menyadari bahwa masih banyak yang harus ana perbaiki untuk mendapat ‘bonus’ dari Allah, ana merasa syukur ana masih kurang, ana merasa tahajud ana masih bolong-bolong, ana juga merasa sedekah ana masih sedikit, semoga ini menjadi awal bagi ana untuk memperbaikinya ki…..” Jawab Maula.

“Itu baru santri Aki……” Kata Ki Bijak sambil mengacungkan dua jempol untuk Maula.

Maula tersenyum dan menyalami gurunya untuk pamitan.

Wassalam

July 2, 2010

Saturday, June 12, 2010

SAVE OUR PALESTINE!!

“Keterlaluan ya ki……” Kata Maula, mengomentari kebrutalan tentara zionis yang menyerang kapal bantuan kemanusiaan untuk warga palestina di Gaza.

“Ya Nak Mas, dan itulah watak asli kaum zionis…, mereka adalah kaum yang memiliki trek record sangat buruk disisi Allah dan sisi manusia…….” Kata Ki Bijak tak kalah prihatin.

“Iya ki, ana pernah baca beberapa ayat Al qur’an yang menyatakan betapa buruknya kelakukan ‘yahudi’ ini…….” Kata Maula lagi.

“Benar Nak Mas, tidak kurang dari dua puluh dua sifat tak terpuji yahudi yang Allah jelaskan dalam al Qu’an; seperti keras hati, dzalim, banyak diantara mereka yang fasik dan sedikit yang beriman, selalu memusuhi orang-orang islam, suka mengubah dan memutar balikan kebenaran, dan mereka pun tak segan menyembunyikan bukti kebenaran dari Allah swt, bertuhankan pada nafsu, mencampur-adukan yang benar dan yang salah, pengkhianat, merasa dirinya umat terbaik, dan masih banyak lagi yang Al qur’an terangkan mengenai keburukan yahudi ini….” Kata Ki Bijak.

Maula menghela nafas panjang mendengar berbagai macam keburukan yahudi yang dengan jelas diterangkan dalam al qur’an.

“Ki…..kenapa yahudi harus ada ya ki…., kalau kemudian mereka hanya membuat kerusakan seperti ini…?” Tanya Maula, yang larut dalam balutan emosinya, demi mendengar berbagai berita tentang keburukan yahudi.

Ki Bijak tersenyum mendengar pertanyaan Maula, “Aki tidak tahu kenapa Allah menciptakan bangsa yahudi Nak Mas, karena mencipta adalah hak prerogatif Allah, dan kita tidak perlu mempertanyakan kenapa yahudi diciptakan, yang sekarang harus kita lakukana adalah bagaimana kita menyikapi ‘ujian’ kejadian ini dengan bijak dan cermat…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Kejadian penyerangan kapal bantuan dan apa yang terjadi dengan rakyat Gaza adalah ujian bagi kita ki….?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, apa yang terjadi disana adalah ujian bagi kita, ujian bagi keimanan dan kemanusiaan kita…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Ana masih belum mengerti ki…..” Tanya Maula lagi.

“Begini Nak Mas, sebagaimana dilansir berbagai media, bahwa penyerangan kapal bantuan adalah sebuah pelanggaran terhadap berbagai aspek kemanusian,dan tanpa bermaksud mengecilkan pengorbanan para relawan, apa yang dialami rakyat Gaza jauh lebih memilukan dari apa yang para relawan alami, saudara-saudara kita di Gaza, bukan hanya satu dua hari menghadapi intimidasi dari para zionis, saudara-saudara kita di Gaza, tidak hanya satu dua kali ditodong senjata, saudara-saudara kita di Gaza, bahkan tidak tahu akan seperti apa nasib mereka esok hari…., semuanya seperti gelap, semuanya seperti tertutup, semuanya serba tidak pasti……, dan yang lebih menyedihkan, mereka seperti tidak punya saudara atau teman yang mau membelanya, mereka seperti dibiarkan sendiri menghadapi kedzaliman para kaum lalim ini…….” Kata Ki Bijak dengan nada penuh keprihatinan.

“Benar Ki, ana tidak bisa membayangkan perlakuan keji macam apa yang diterima rakyat Gaza didalam kungkungan tembok sana, sementara para relawan yang terdiri dari berbagai bangsa saja, masih diperlakukan seperti itu, bagaimana dengan rakyat Gaza…….?!, Maula tak kuasa meneruskan kata-katanya, hatinya bergemuruh menahan gejolak ‘kemarahan’ terhadap kekejian yahudi terhadap rakyat Gaza.

“Ketidakadilan, penindasan, intimidasi, bahkan pembunuhan keji, merupakan pemandangan yang dengan mudah ditemukan disana, tak peduli anak-anak, tak peduli orang tua renta, tak peduli wanita dan bahkan bayi, mereka bisa menjadi sasaran kekejian kaum zionis ini setiap saat, dan yang lebih memilukan bagi Aki, kita, umat yang seakidah dengan mayoritas rakyat Gaza, seperti menutup mata dengan apa yang terjadi disana…..” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, padahal Palestina dikelilingi oleh negara-negara Islam yang harusnya bisa membantu ya ki…..” Kata Maula.

Ki Bijak menghela nafas panjang, memang tidak seharusnya Palestina dan warga Gaza menderita seperti sekarang ini, ditengah-tengah ‘saudara seakidah’nya, “Tapi itulah yang terjadi Nak Mas, negara-negara Islam disekitar Palestina tidak bisa ‘berbuat apa-apa’ karena ‘kesalahan’ umat ini yang terperangkap dalam politik ‘Devide at empera’ yang sudah dilancarkan oleh musuh-musuh Islam dari sekitar awal abad 18, salah satunya adalah dengan cara mengobarkan paham nasionalisme di Arab untuk memecah khilafah islamiyah…….” Kata Ki Bijak menyingung sedikit hal ikhwal ketidakberdayaan bangsa-bangsa Arab atas kesewenang-wenangan yahudi.

“Lagi-lagi islam ‘kalah’ oleh politik jahat ini, politik pecah belah, adu domba dan kemudian dijajah……” Kata Maula mengomentari asbab penjajahan yahudi atas Palestina.

“Ya Nak Mas, sudah terlalu banyak catatan sejarah kelam tentang ‘kekalahan’ umat islam akibat perpecahan yang terjadi ditengah umat ini, dan kini saatnyalah umat islam menyadari bahwa potensi kekuatan umat islam adalah persatuan dan ukhuwah yang dibalut dengan kekokohan tali akidah yang kuat……..” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kalau umat islamnya masih tercerai berai seperti sekarang ini, bagaimana bisa menang dari yahudi….?” Tanya Maula.

“Nak Mas benar, kita tidak bisa mengandalkan bantuan orang/umat lain untuk membebaskan rakyat palestina khususnya, dan umat islam umumnya, dari penjajahan umat dan bangsa lain, kita, umat Islam harus bangkit dengan kekuatan kita sendiri, dan kekuatan utama umat islam ini adalah akidah dan keimanan yang kokoh, sehingga mereka mampu berjuang dijalan Allah dengan ikhlas dan sabar, karena sesungguhnya jika ada dua puluh orang beriman yang berjuang dijalan Allah dengan sabar, akan mampu mengalahkan seribu orang kafir………….., itu yang pertama…” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat Al qur’an dalam surat Al Anfal.

65. Hai nabi, Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti[623].

[623] Maksudnya: mereka tidak mengerti bahwa perang itu haruslah untuk membela keyakinan dan mentaati perintah Allah. mereka berperang Hanya semata-mata mempertahankan tradisi Jahiliyah dan maksud-maksud duniawiyah lainnya.

66. Sekarang Allah Telah meringankan kepadamu dan dia Telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.

“Kita membutuhkan orang beriman yang sabar….,hmmh, apakah sekarang ini umat islam kekurangan orang mukmin yang sabar ki……?” Tanya Maula.

“Pertanyaan yang bagus Nak Mas, dan Aki tidak perlu menjawabnya secara langsung, Nak Mas bisa membacanya dari apa yang ada disekitar dan daru apa terjadi sekarang ini……” Jawab Ki Bijak diplomatis.

Maula manggut-manggut, “Lalu apa potensi umat islam yang kedua ki…?” Tanya Maula.

“Seperti Aki katakan tadi, umat ini akan menjadi kuat ketika umat ini bersatu padu……..., tidak tercerai berai dan tidak saling menjatuhkan sesama muslim…..” Kata Ki Bijak.

“Apakah persatuan umat islam sekarang ini kurang ki….?” Tanya Maula.

“Lagi Nak Mas, jawabannya bisa Nak Mas lihat sendiri, seperti dipalestina sana, sekarang ini, masing-masing negara (islam) berdiri sendiri, bahkan dikeseharian kita pun, kurangnya ukhuwah dan persatuan umat islam ini nampak dengan sangat jelas…..” Kata Ki Bijak.

“Kita bisa melihat kurangnya persatuan umat islam disekitar kita ki…?” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, coba Nak Mas perhatikan bagaimana pergaulan antar sesama muslim disekitar kita, jarang sekali kita saling menyapa dan menebar salam pada sesama muslim, bahkan tak jarang sesama muslim saling curiga dan berprasangka….., belum lagi apa yang kita lihat dimasjid-masjid yang hampir selalu sepi dari jamaah….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, ana juga merasakan pergaulan sesama muslim ini masih sangat renggang, apalagi kami yang tinggal dikomplek, jarang sekali kami bisa berkumpul dan berbincang masalah agama dan lainnya, lalu apakah banyak tidaknya jamaah dimasjid mengindikasikan sesuatu ki…? Tanya Maula

“Shalat berjamaah bisa menjadi simbol persatuan umat ini Nak Mas, kesamaan niat, persamaan gerak, kepatuhan pada imam dan masih banyak hal yang menyiratkan bahwa shalat berjamaah merupakan simbol kekuatan dan persatuan umat islam, hanya sayang, masjid yang megah dan mewah, dibangun dengan jerih payah dan jumlah materi yang tidak sedikit, hanya menjadi tontonan dan kebanggaan semu, jika kita ingin menang lawan yahudi, seyogyanya lah dari sekarang kita merapatkan barisan, memperkuat persatuan, yang salah satu sarananya dengan jalan shalat berjamaah….” Kata Ki Bijak.


“Ya ki……, semoga apa yang terjadi sekarang ini, menyadarkan umat islam akan penting persatuan dan memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah….” Kata Maula.

“Selain dua hal tadi, mukmin yang sabar, dan persatuan yang kokoh, kita juga bisa ‘bergerilya melawan sifat yahudi’ didalam diri kita Nak Mas….” Kata Ki Bijak.

“Ki Bisa bergerilya melawan sifat yahudi yang ada dalam diri kita ki….?” Tanya Maula heran.

“Sifat membangkang dan tidak mau melaksanakan perintah Allah, adalah sifat yang sering dilekatkan pada yahudi ini, tapi sifat itu juga mungkin ada pada diri kita, manakala kita tidak mau shalat, tidak mau zakat, tidak mau shaum, bukankah itu juga pembangkangan terhadap perintah Allah…? Jika kita tidak suka yahudi, maka jangan biarkan sifatnya hidup subur dalam diri kita…..”

“Kemudian, yahudi dikenal dengan kaum yang tahu dan memahami kitab mereka dengan baik, tapi mereka menyembunyikan kebenaran isi kitab mereka dan menggantinya dengan tangan-tangan mereka, dengan tujuan mengingkarinya, adakah kita yang diberi al qur’an, membacanya, tapi kemudian tidak mau melaksanakan apa yang dikatakan al Qur’an…? Jika kita benci yahudi, maka kita wajib membenci sifat ingkar kita terhadap al qur’an yang kita baca…..”

“kemudian lagi, yahudi juga dikenal dengan kaum arogan, sombong dan merasa dirinya umat terbaik, dan sifat ini harus kita jauhkan dari diri kita, jika kita tidak ingin yahudi hidup terus-menerus dalam keseharian kita…”

“Dan masih banyak lagi sifat-sifat tidak terpuji yang kita tidak sukai dari yahudi, yang harus kita hilangkan dari dalam diri kita, itupun insya Allah merupakan upaya yang sangat baik dalam rangka kita ‘memerangi’ yahudi…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ya ki…jangan sampai ya ki kita teriak-teriak membenci yahudi, tapi justru sifat-sifat buruk yahudi masih hidup dan tumbuh subur dalam diri kita……” Kata Maula.

“Itu sikap terbaik yang bisa kita lakukan, untuk setidaknya menunjukan empati kita kepada saudara-saudara kita di Palestina sana, yakni dengan cara ‘memerangi’ sifat yahudi dalam diri kita, syukur kalau kemudian Nak Mas dan teman-teman punya kuasa dan kemampuan untuk bisa membantu rakyat Palestina secara langsung, baik itu berupa materi, tenaga atau bantuan lainnya, tapi kalau belum bisa, perbanyaklah berdoa kepada Allah untuk memohon perlindungan bagi rakyat Palestina khususnya dan kaum muslimin umumnya, semoga Allah menolong rakyat Gaza dan kaum muslimin seluruhnya, amiiin……” Kata Ki Bijak.

“Amiiiin……” Kata Maula menutup perbincangan.

Wassalam