Thursday, April 23, 2009

APA YANG KITA TANAM, ITU YANG KAN KITA TUAI

“Kok jadi semakin banyak ya ki..............” Kata Maula, setengah bertanya setelah beberapa waktu sebelumnya ia melihat berita di media massa.

“Apa yang semakin banyak Nak Mas....?” Tanya Ki Bijak.

“Ini Ki, berita tentang para calon legislative yang kalah dan kemudian stress dan bertingkah aneh-aneh, ada caleg yang menarik kembali pemberian karpet ke majelis taklim, karena ia kalah, ada juga yang menarik TV yang sudah didonasikannya kepada para tukang ojek, ada yang berteriak-teriak memaki petinggi partainya, bahkan ada yang gantung diri segala ki, dan tadi pagi, disebuah daerah, penghuni rumah sakit jiwa diberitakan meningkat hingga 300% pasca pemilu kemarin ki.............” Kata Maula.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.......” Guman Ki Bijak pendek.

“Ada fenomena apa ya ki, sehingga mereka yang beberapa waktu sebelumnya, dengan bangga mempromosikan dirinya melalui berbagai poster disepanjang jalan dan diberbagai tempat, sebagai orang ‘hebat’, dengan serentetan gelar yang disandangnya, sehingga ia merasa layak dipilih untuk mewakili rakyat, ternyata sebagian mereka hanya sosok yang rapuh, yang tidak siap menerima kekalahan dengan bijak, yang tidak mampu menguasai dirinya, ana tidak bisa membayangkan bagaimana figur-figur rapuh seperti ini kalau mereka benar-benar menjadi wakil rakyat ya ki........” Kata Maula lagi.

“Wallahu’alam Nak Mas, Aki tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan orang-orang itu, mereka gagah, mereka memiliki harta yang cukup, terbukti mereka mampu membiayai dana kampanye yang menurut Aki cukup banyak jumlahnya, mereka juga berpendidikan, bahkan kalau melihat dari poster yang bertebaran disepanjang jalan kemarin, mayoritas mereka adalah produk perguruan tinggi, jadi kalau ditengah berbagai kelebihan mereka atas masyarakat kebanyakan itu mereka menyimpan kerapuhan, Aki juga sangat heran Nak Mas.....” Kata Ki Bijak.

“Ki, adakah ‘kerapuhan’ ini berpangkal pada kerapuhan bathiniah sebagian mereka ki....?” Tanya Maula lagi.

“Penjelasan untuk hal itupun memerlukan analisa dan ilmu yang mendalam Nak Mas, hanya dari sudut pandang Aki yang sangat terbatas ini, kecenderungan kearah itu memang benar adanya, lemah atau kuatnya sandaran vertikal seseorang kepada Allah akan sangat berpengaruh pada seberapa kuat bathin atau jiwa seseorang dalam menghadapi ujian, termasuk salah satunya ujian untuk dapat menerima kekalahan, setelah mengeluarkan dana dan tenaga yang cukup besar dalam pemilu kemarin............” Kata Ki Bijak lagi.

“Lemah atau kuatnya sandaran vertikal seseorang akan berpengaruh pada kualitas jiwa seseorang ki...?” Tanya Maula lagi.

“Benar Nak Mas, keimanan yang kokoh, aqidah yang kuat, merupakan sandaran vertikal yang sangat kuat untuk menopang kekuatan jiwa seseorang, semakin keimanan dan akidah seseorang itu baik, maka insya Allah akan semakin kuat pula jiwanya, sebaliknya, ketika akidah dan keimanan seseorang itu kurang baik, maka kekuatan jiwanya tidak akan setangguh mereka yang memiliki akidah dan keimanan yang baik.......” Kata Ki Bijak.

Maula terdiam sejenak, “Ana masih belum mengerti ki..........” Katanya sejurus kemudian.

“Begini Nak Mas, ketika seseorang memiliki keimanan dan keyakinan bahwa harta yang ada padanya hanya merupakan titipan dari Allah, ketika seseorang memiliki keimanan bahwa pangkat, kedudukan dan jabatan adalah juga merupakan amanah dari Allah, dan kemudian harta, jabatan dan kedudukan yang mereka ingini itu belum Allah percayakan kepadanya, apa yang perlu mereka sesalkan kalau kemudian hal itu luput dari mereka, kalau Allah menghendaki seseorang untuk berada pada posisi tertentu, maka tidak ada satupun kekuatan yang akan menghalanginya,sebaliknya ketika amanah itu belum Allah berikan kepada kita, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat memberikannya kepada kita...., Nah kesadaran dan keyakinan seperti ini sangat penting untuk meredam gejolak bathiah yang berlebihan, seperti stres, merasa tertekan dan lainnya.....” Kata Ki Bijak.

“Ana sependapat ki, jadi kekuatan bathiniah seseorang tidak semata dipengaruhi oleh gelar dan pendidikan yang tinggi saja ya ki, tapi justru sangat dipengaruhi oleh keimanan dan keyakinan seseorang ya ki......” Kata Maula.

“Pendidikan yang tinggi itu juga perlu Nak Mas, hanya ketika pendidikan yang tinggi yang kurang diimbagi dengan ketinggian keimanan, maka efek positifnya tidak akan berfungsi maksimal terhadap kekuatan bathiniah seseorang.......” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki...........” Kata Maula, sambil mengangguk tanda mengerti.

“Lalu kalau boleh Aki berpendapat, sekarang ini ada kecenderungan persepsi yang sedikit ‘keliru’ dari sebagian orang mengenai pangkat dan jabatan, sebagian orang berpendapat bahwa kedudukan, pangkat dan jabatan berbanding lurus dengan kehormatan dan kemuliaan seseorang, sehingga mereka berlomba-lomba untuk meraihnya dengan berbagai cara, bahkan sebagian mereka ‘lupa’ untuk berhitung tentang ‘kekuatan’ dirinya, mereka ingin meraihnya secara instan, ikut partai, mencalonkan diri dan kemudian menjadi anggota dewan, mereka lupa dengan sunatullah bahwa sebelum menuai kita harus terlebih menanam......., mereka juga lupa bahwa jabatan, pangkat dan kedudukan adalah amanah yang sangat berat, yang akan dimintakan pertanggung jawaban dimahkamah robbul izzati kelak.......” Kata Ki Bijak.

Maula manggut-manggut, “Budaya instant...., menarik sekali ki, ingin serba cepat tanpa perlu menunggu lama, tanpa berhitung untuk ruginya.....ya mungkin seperti itu ya ki.....” Kata Maula.

“Kalau kita bisa mendapatkan sesuatu yang instan, itu tidak menutup kemungkinan Nak Mas, tapi tidak bisa kemudian kita mengeneralisasi bahwa semuanya bisa kita dapat dengan instan, Nak Mas lihat pak tani yang tengah menuai padi itu..............” Kata Ki Bijak sambil menunjuk kearah sawah yang tengah dipanen.

“Iya ki...........” Kata Maula sambil menoleh kearah yang ditunjukan gurunya.

“Sebelum hari ini, sebelum pak tani itu menuai padinya, pak tani terlebih dahulu harus menggemburkan lahan yang akan ditanami, menyemai benih padi, kemudian pak tani menanamnya, menyianginya dari rerumputan, memupuknya agar tumbuh subur dan menjaganya dari hama yang mungkin akan merusaknya, perlu waktu, perlu tenaga, perlu perhatian, perlu kesungguhan, perlu dedikasi, perlu pengorbanan, perlu kesabaran, sebelum kemudian tiba waktunya padi itu dapat dituai......” Kata Ki Bijak.

“Iya ki......” Kata Maula pendek.

“Pun demikian dengan kita Nak Mas, adalah bijak ketika kita ingin menuai hasil yang maksimal, seperti ingin menjadi anggota dewan, jauh-jauh hari kita harus ‘menanam’ benih-benihnya, kita harus pandai bersosialisasi dengan lingkungan sekitar kita, kita harus berperilaku dan berahklaq baik, suka menolong, ringan tangan untuk membantu sesama, berpengetahuan, berilmu dan kemudian istiqomah menjaga benih-benih kebaikan yang kita tanam kita hingga masa panen tiba, Aki yakin ketika dalam keseharian kita bisa berperilaku baik seperti itu, tanpa iklan, tanpa poster dan tanpa harus menyuap dengan uang, dengan pura-pura memberi karpet, dengan berpura-pura memperbaiki jalan, dengan berpura-pura suka menolong, dengan sendirinya Allah akan menuntun orang-orang yang merasakan budi baik dan jasa kita, untuk memilih kita untuk menjadi wakilnya......” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kalau kita menyemai bibit padi, insya Allah padi pula yang akan kita tuai, seperti pak tani itu.........” Kata Maula sambil terus memandangi pak tani yang tengah menuai padi dengan riang gembira.

“Benar Nak Mas, apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai, adalah mimpi ketika kita ingin menuai padi tanpa kita bersusah payah menyemai bibitnya terlebih dahulu......” Kata Ki Bijak.

“Dan sepertinya kondisi inilah yang terjadi sekarang ya ki, banyak orang bermimpi, tanpa mau menerima kenyataan ketika mereka terbangun ......” Kata Maula

“Ya Nak Mas, banyak memang dijaman kita ini orang bermimpi terlalu jauh, sehingga kadang ia lupa harus tetap berpijak dibumi, padahal menurut hemat Aki, senikmat-nikmatnya makan roti dalam mimpi, jauh lebih nikmat makan singkong dalam realita.....” Kata Ki Bijak

Maula tersenyum mendengar permisalan gurunya, “Iya ya ki, mau makan pizza, mau makan kentucky, tapi kalau hanya mimpi, untuk apa, tapi meski makan tahu tempe dan lalapan dan sambel dadakan, tapi dalam kenyataan, pasti akan lebih terasa kenyang dan pedasnya ya ki....” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, berfikir, bersikap dan bertindak realistis, jauh lebih bijak dari pada kita hidup dalam dunia khayal yang semu, karena salah-salah, khayalan dan mimpi yang terlalu muluk akan menjerumuskan kita pada jurang kehancuran......” Kata Ki Bijak.

“Seperti orang yang terus-menerus mendongak keatas ya ki, hingga ia tidak melihat ada lubang atau jurang didepannya.....” Tambah Maula.
Ki Bijak tersenyum, ia bersyukur dititipi murid yang cerdas seperti Maula, ia banyak berharap bahwa muridnya ini bukan hanya pandai menyerap apa yang ia wejangkan padanya, tapi juga bisa menerapkannya dalam kesehariannya, dan kelak bisa melanjutkan cita-citanya untuk terus berdedikasi pada umat dan agamanya.

Wassalam

April 23,2009

Thursday, March 5, 2009

JANGAN PERSEMPIT “REZEKIMU” SENDIRI

“Nak Mas perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la ini..........” Kata Ki Bijak sambil menyodorkan buku kumpulan hadits kepada Maula

Maula segera saja membaca apa yang diberikan gurunya, dan ia mendapati sebuah hadits yang berbunyi “Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). (HR. Abu Ya'la)”


“Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati),……” Maula mengulang kata-kata yang terdapat dalam hadits tersebut.

“Benar Nak Mas, kekayaan seseorang tidak dapat diukur hanya karena ia memiliki penghasilan besar, kekayaan seseorang tidak dapat ditimbang hanya karena ia memiliki rumah bertingkat, kekayaan seseorang tidak dapat dipadankan dengan banyaknya deposito atau mobil yang berderet digarasinya, karena kekayaan hakiki adanya disini Nak Mas……..” Kata Ki Bijak sambil meletakan telunjuk tepat diulu hatinya.

Maula segera saja mengikuti arah telunjuk gurunya, “Kekayaan ada disini ki……?” Tanyanya kemudian.

“Kekayaan ada dihati kita Nak Mas, kekayaan ada dalam jiwa kita, dan seberapa besar kekayaan hati dan jiwa kita ini, akan berbanding lurus dengan seberapa besar rasa syukur kita terhadap semua karunia Allah swt kepada kita, seberapa besar kekayaan kita akan berbanding lurus dengan seberapa besar sikap qana’ah kita, rasa cukup kita terhadap semua pemberian Allah…….” Lanjut Ki Bijak.

Suasana menjadi hening sejenak, Maula terdiam, dia berusaha berdialog dengan bathinnya yang beberapa waktu belakangan ini dipenuhi dengan berbagai pertanyaan seputar bagaimana menjadi orang ‘kaya’, ia masih kerap diliputi keinginan untuk punya mobil, punya rumah dan memiliki penghasilan yang lebih besar, tapi…apa yang baru saja dituturkan gurunya justru sama sekali berbeda dengan definisi ‘kaya’seperti yang selama ini ia pikirkan.

“Nak Mas, tidak ada yang menyangkal bahwa dalam kehidupan kita ini, kita memerlukan uang, memiliki kendaraan dan rumah yang bagus juga bukan merupakan suatu kesalahan, hanya sekali lagi Aki tekankan jangan sampai keinginan-keinginan kita itu kemudian mempersempit ‘rezeki’ yang Allah berikan kepada kita…….” Kata Ki Bijak.

“Mempersempit rezeki ki…..?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, rezeki itu definisnya sangat luas, rezeki dapat berupa kesehatan jiwa dan raga kita, rezeki dapat berupa kesempatan, rezeki dapat berupa lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang jiwa kitam, rezeki dapat berupa anak-anak yang sholeh dan sholeha, rezeki dapat berupa istri yang shalehah, keluarga yang harmonis, atau dalam pengertian umum, rezeki dapat didefinisikan segala kebaikan yang kita terima dan kita rasakan, baik itu abstrak atau yang terlihat secara nyata, seperti kita tinggal dilingkungan alami yang bebas polusi, udara segar, air jernih serta sinar matahari yang menghangatkan, semuanya rezeki yang tidak ternilai dan tidak terhitung yang Allah karuniakan kepada kita…” Kata Ki Bijak.

“Dan karena ‘kebodohan’ kita, kita kemudian mempersempit rezeki itu dalam ruang yang sangat sempit dan terbatas, kita hanya tahu bahwa yang namanya rezeki itu uang, gaji besar dan materi yang berlimpah, itu terlalu sempit dan sangat mengecilkan arti rezeki itu sendiri…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, ana masih sering terjebak dalam konteks rezeki seperti itu....” Kata Maula.

“Itu alasan kenapa Nak Mas masih suka bingung ketika tidak punya uang kan....?” Kata Ki Bijak seperti menyelidik.

“Benar Ki, ana masih suka bingung kalau tidak punya uang untuk transpor ke kantor atau untuk keperlauan dapur dirumah.......” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum, “selama kebingungan itu masih dalam tahap wajar, tidak apa Nak Mas, Aki hanya pesan, jangan sampai kebingungan karena tidak punya uang itu melahirkan sikap kufur terhadap nikmat Allah, justru kondisi seperti itu harus disikapi secara dewasa, secara benar, untuk kemudian melahirkan rasa ketergantungan yang kita kepada Allah secara optimal......” Kata Ki Bijak.

“Ana masih belum mengerti ki.....” Kata Maula.

“Nak Mas sudah bekerja seharian untuk menjemput rezeki Allah, Nak Mas sudah menempuh perjalanan kurang lebih 100km sehari untuk tiba ditempat kerja, Nak Mas sudah berusaha bekerja dengan seluruh kemampuan Nak Mas, Nak Mas juga sudah berdoa dan memohon kepada Allah untuk diberikan berbagai kebaikan dalam kehidupan Nak Mas, dan kalau sampai sekarang apa yang telah Nak Mas lakukan belum sepenuhnya mampu mencukupi kebutuhan Nak Mas, artinya bahwa memang kita sebagai manusia, sebagai mahluk tidak memiliki kuasa apapun untuk menentukan besar kecilnya rezeki kita, artinya lagi kita harus menyadari sepenuhnya bahwa diatas segala ada Dia, ada Allah yang mengatur dan menakar karunia_Nya kepada siapa yang dikendaki_Nya...................” Kata Ki Bijak lagi.

“Nak Mas masih ingat dengan ayat Allah yang mengingatkan bahwa Allah_lah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki_Nya..?” Tanya Ki Bijak sejurus kemudian.

“Ya ki............” kata Maula,sambil mengutip dua ayat dengan redaksi yang hampir sama;

37. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.


52. Dan Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.

“Dengan sangat jelas, dalam kedua ayat yang Nak Mas bacakan tadi, Allah Maha Berkuasa untuk melapangkan dan menyempitkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki_Nya, tugas kita hanyalah ‘mengambil pelajaran’ dari tanda-tanda yang Allah berikan pada lapang dan sempitnya rezeki yang Allah berikan............” Kata Ki Bijak lagi.

“Nak Mas bisa memahami maksud Aki.....?” Tanya Ki Bijak, demi melihat Maula nampak hening mencermati ucapanya barusan.

“Eeeeh, pelajaran pertama mungkin seperti yang Aki sebutkan tadi ki, bahwa Allah_lah yang mengatur rezeki seseorang, bukan hanya karena pendidikan seseorang itu tinggi kemudian dia lantas kaya, atau bukan karena seseorang sudah bekerja sedemikian keras, kemudian ia menjadi berada, tapi diatas semua itu ada qudrat dan iradah Allah untuk memberikan karunia_Nya sesuai dengan kehendak_Nya..........”

“Pelajaran kedua yang ana bisa tangkap adalah bahwa kewajiban kita sebagai mahluk untuk melaksanakan syariat secara benar dan sempurna, sementara hasil yang akan diperoleh dari apa yang diusahakannya, semuanya hak prerogatif Allah Yang Maha Berkendak......” sambung Maula.

“Nak Mas benar, pertama kita harus meyakini bahwa qudrat dan iradah Allah pasti berlaku kepada setiap mahluk, dan yang kedua, sunnatullah juga niscaya adanya, barang siapa telah berusaha dengan baik dan benar, niscaya Allah tidak akan menyia-nyiakan apa yang telah diusahakannya itu, kita tidak perlu takut Allah tidak memberikan ‘upah’ atas apa yang kita upayakan, dan yang jauh lebih penting lagi, ketika kita sudah memiliki sandaran vertikal yang benar, insya Allah kita tidak akan bersedih apalagi putus asa, manakala usaha kita belum memberikan hasil seperti haparan kita, pun sebaliknya ketika kita berhasil mendapatkan apa yang kita harapkan, kita tidak menjadi lupa diri karenanya, karena kita tahu, kedua-duanya, berhasil atau tidaknya usaha kita, sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur yang Maha Adil lagi Bijaksana..............” Tambah Ki Bijak.

“Aaaah..., lega rasanya dada ini ki, semoga ana bisa tetap semangat untuk menyempurnakan ihtiar ana, dan semoga pula ana bisa lebih bersyukur, sabar dan tawakal menjalani apa yang telah Allah gariskan ini..........” Kata Maula sambil menghirup nafas dalam-dalam.

“Itulah sikap terbaik yang bisa kita lakukan, dan Aki percaya Nak Mas bisa menjalaninya dengan baik...............” Balas Ki Bijak.

“Amiin...”

Wassalam

February 13,2009

KIKIR ITU ‘PENYAKIT’

“Kikir itu penyakit Nak Mas....” Kata Ki Bijak.

“Kikir itu penyakit ki....?” Tanya Maula, mengulang pernyataan gurunya.

“Benar Nak Mas, kikir, pelit dan teman-temanya itu merupakan penyakit, dan sumber penyakit bagi mereka yang mengidapnya.....” Tambah Ki Bijak.

“Ana masih belum paham ki.....” Kata Maula.

“Begini Nak Mas, dalam harta kita, sekali lagi Aki ulangi dalam harta yang kita usahakan, terdapat hak-hak orang lain yang harus kita tunaikan, disana ada hak fakir miskin, disana ada hak dhuafa, dan masih banyak lagi kewajiban yang harus kita tunaikan dari karunia rezeki yang Allah amanahkan kepada kita.....” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki.....?” Tanya Maula.

“Lalu ketika kita tidak mengeluarkan apa yang menjadi hak orang lain atas harta kita, itu sama seperti orang yang makan terus menerus, tapi tidak mau mengeluarkannya karena merasa sayang dengan harga makanan yang mahal, menurut Nak Mas, orang semacam ini akan sehat atau sakit....?” Tanya Ki Bijak.

“Waah tentu orang semacam ini akan mengalami sakit perut ki, betapapun mahal dan enaknya makanan, kalau tidak dikeluarkan secara teratur, akan menjadi sumber penyakit bagi orang tersebut....” Kata Maula.

“Ya seperti itu Nak Mas, analoginya mungkin tidak terlalu bagus, tapi itulah kenyataanya, bahwa harta yang Allah karuniakan kepada kita, tapi kemudian kita tidak membelanjakannya secara teratur dijalan Allah dan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban kita kepada orang lain, akan menjadi sumber penyakit bagi pemiliknya...,

“Ia akan dijangkiti penyakit ‘loba dunia’ atau cinta dunia yang berlebihan, ia selalu berlomba-lomba mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, sehingga ia lupa untuk mengingat Allah...,

“Kemudian orang kikir juga sangat berpotensi dijangkiti penyakit asosial, penyakit yang membuat pengidapnya takut untuk bermasyarakat, ia menjadi takut bergaul dengan lingkungannya karena takut dimintai sumbangan, ia menjadi takut kemasjid karena takut diminta menjadi donatur, ia selalu diliputi ketakutan kalau-kalau hartanya berkurang karena harus menolong orang lain, dan ini penyakit yang sangat berbahaya, karena ketika hatinya sudah dipenuhi kekikiran, kualitas akidah dan keimannanya menjadi rentan dan patut dipertanyakan..............” Kata Ki Bijak panjang lebar.

“Hati yang kikir dapat mempengaruhi kualitas akidah dan keimanan seseorang ki...?” Tanya Maula

“Tidakkah Nak Mas tahu hadits yang diriwayatkan oleh Aththalayisi ‘Tidak akan berkumpul dalam hati seorang hamba kekikiran dan keimanan’; yang dalam hemat Aki, hal itu benar adanya; tidak mungkin orang yang imannya baik akan kikir terhadap sesamanya; tidak mungkin orang yang imannya bagus, mengklaim bahwa hartanya adalah haknya semata; hanya orang-orang yang imannya dalam tanda tanya sajalah yang sanggup berbuat kikir; karena dia tidak meyakini bahwa harta yang ada padanya hanya titipan dan amanah dari Allah swt untuk digunakan sesuai dengan titah_Nya…..” kata Ki Bijak.

“Benar Ki….” Guman Maula pendek.

“Selain itu, kikir juga menjadi salah satu asbab kehancuran umat-umat terdahulu; Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda‘ Jauhilah kekikiran, sesungguhnya kekikiran itu telah rnembinasakan (umat-umat) sebelum kamu’, al qur’an mengabadikan kisah kehancuran Qorun yang membangga-banggakan hartanya; kemudian ditenggelamkan oleh Allah swt; tidakkah kita bisa memetik pelajaran dari kisah Qorun….?” Kata Ki Bijak setengah bertanya.

“Iya ki, lagi pula kita tidak diperintahkan untuk mengeluarkan seluruh harta kita, hanya sebagian kecil saja, zakat saja hanya 2.5% ya ki….” Kata Maula.

“2.5% zakat bukan nilai yang besar bagi mereka yang mengimani bahwa rezekinya adalah amanah dari Allah; sebaliknya, 2.5% akan nampak sedemikian besar, jika mereka hanya berfikir bahwa hartanya semata karena kerja keras dan karena kepandaiannya, jadi kikir tidaknya seseorang akan berbanding lurus dengan kualitas keimanan seseorang…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, kalau ada orang yang rajin shalat tapi tidak zakat, bagaimana ki….?” Tanya Maula.

“Alhamdulillah dia masih shalat, tapi sejauh ini Aki belum menemukan orang yang shalatnya benar, tapi tidak zakat, yang ada adalah mereka yang pura-pura rajin shalat, dan kemudian ia tidak zakat, itu memang benar adanya Nak Mas…….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, terlebih kalau kita menyimak ayat al qur’an yang hampir selalu menggandengkan perintah shalat dengan perintah zakat dan sedekah, mestinya orang yang shalatnya benar, benar pula cara ia membelanjakan hartanya sesuai dengan perintah Allah……..” kata Maula sambil mengutip beberapa ayat al qur’an;


43. Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'[44].

[44] yang dimaksud ialah: shalat berjama'ah dan dapat pula diartikan: tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama-sama orang-orang yang tunduk.


83. ………….Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.


“Ada sekian banyak makna dibalik penggabungan perintah shalat dan zakat seperti pada ayat yang Nak Mas baca tadi; wallahu’alam, bagi kita yang awam ini, cukuplah melaksanakan kedua perintah itu dengan sebaik mungkin dulu, dirikan shalatnya, dan tunaikan zakatnya, insya Allah, kelak dikemudian hari kita akan mendapati hikmah dari apa yang Allah perintahkan tersebut; jangan sampai kita sibuk mencari arti harfiahnya dulu, sementara kita lupa untuk melaksanakan perintahnya……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, lagian kalau difikir secara sehat, untuk apa kita ngumpulin harta sedemikian banyak hingga lupa hak orang lain, toh harta itu tidak dibawa mati ya ki….” Kata Maula.

“Memiliki harta yang banyak tidak salah Nak Mas, hanya yang harus benar-benar diingat, jangan pernah menjadikan harta sebagai tujuan, tapi jadikan harta kita sebagai alat untuk mencapai ridha Allah, dengan harta kita bisa berderma untuk mencari ridha Allah, dengan harta kita bisa menyantuni fakir miskin, dhuafa, untuk mencari ridha Allah, ketanah sucipun kita perlu uang, dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk mencapai ridha Allah dengan harta yang Allah amanahkan pada kita, tinggal bagaimana kitanya saja, apakah kita mampu mengendalikan harta kita atau justru kita yang diperbudak oleh harta dan dunia kita……” Kata Ki Bijak.

“Ini yang sangat sulit ki, ketika masih belum memiliki harta, kita bisa berfikir seperti itu, tapi kadang ditengah jalan, kita justru menjadi budak harta, sampai sekarang pun ana masih bisa dengan mudah menemukan contoh-contoh mereka yang menurut ana diperbudak hartanya, ana sering melihat orang yang harus hujan-hujanan mencuci mobilnya yang kotor tanpa peduli adzan maghrib berkumandang, ia lebih memilih mobilnya daripada memenuhi panggilan Allah untuk shalat……” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, godaan harta itu luar biasa besar, makanya Nak Mas harus tetap bersyukur kalau sekarang Nak Mas belum diamanahi kendaraan, mungkin karena Allah tidak ingin melihat Nak Mas terjebak menjadi budak mobil seperti contoh orang yang Nak Mas ceritakan tadi….” Kata Ki Bijak.

“Iya juga sih ki, mungkin pondasi keimanan ana masih dinilai ‘lemah’ oleh Allah, sehingga Allah belum memberi kepercayaan kepada ana untuk memiliki mobil……” kata Maula.

“Berfikir positif seperti itu jauh lebih baik daripada kita mempertanyakan kebijakan Allah,Nak Mas, pasti selalu ada hikmah, pasti selalu ada kebaikan dibalik sesuatu yang tidak kita sukai, bukalah mata hati Nak Mas seluas-luasnya untuk dapat memahami dan memaknai setiap pemberian Allah kepada Nak Mas, insya Allah Nak Mas akan menjadi orang yang pandai bersyukur, tidak kikir, tidak pelit apalagi sampai mengabaikan kewajiban zakat, naudzubillah…..” kata Ki Bijak.

“Iya ki…..” Kata Maula

“Dan satu lagi Nak Mas, bahagia itu ada disini, bukan pada harta yang banyak…..” Kata Ki Bijak sambil menunjuk dadanya, dan sambil mengutip hadits;

“Yang dinamakan kekayaan bukanlah banyaknya harta-benda tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan jiwa (hati). (HR. Abu Ya'la)”

“Iya ki, terima kasih ki……” kata Maula sambil menyalami gurunya.

Wassalam

February 25, 2009

OTAK KITA BUKAN KERANJANG SAMPAH

“Nak Mas tahu apa saja isi keranjang sampah...?” Tanya Ki Bijak memulai sebuah percakapan.

“Ada tissue bekas, ada makanan sisa, ada plastik kotor, ada sisa buah, ada daging busuk dan kertas-kertas yang tidak terpakai ki......” Jawab Maula.

“Dan Nak Mas tahu apa yang akan terjadi ketika semua isi keranjang sampah itu tidak segera diangkat dan dibersihkan...?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Tentu akan menimbulkan bau tidak sedap ki, bahkan tumpukan sampah yang dibiarkan dalam waktu tertentu bisa menjadi sarang penyakit, karena akan banyak lalat yang datang dan pergi untuk kemudian menyebarkan penyakit, ada juga tikus,belatung dan lainnya.........” Jawab Maula lagi.

“Sekarang Nak Mas bayangkan apa yang akan terjadi dengan otak kita ini ketika otak kita ini dipenuhi dengan ‘sampah’, misalnya otak kita dipenuhi dengan gosip, otak kita dipenuhi dengan informasi yang tidak jelas, otak kita dipenuhi dengan bacaan vulgar, otak kita dipenuhi dengan fikiran-fikiran jahat dan kotor, kemudian lagi otak kita dipenuhi dengan potongan-potongan informasi yang berpotensi menimbulkan kebencian dan fitnah, Nak Mas bisa bayangkan hal itu terjadi pada otak seseorang....?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Waah, ana tidak bisa bayangkan hal itu terjadi pada otak seseorang ki, pasti fikirannya akan dipenuhi fikiran-fikiran kotor dan tidak produktif ya ki......” Jawab Maula.

“Nak Mas benar, otak kita akan menjadi kotor, berbau dan tidak produktif manakala otak kita dipenuhi sampah-sampah seperti yang Aki sebutkan tadi, indikasi otak yang hanya berisi sampah-sampah ini sangat jelas Nak Mas, karena output selalu berbanding lurus dengan inputnya, maka otak yang berisi sampah ini akan mengeluarkan perkataan dan pembicaraan yang tidak bermutu dari mulutnya, otak yang berisi sampah ini akan menampilkan citra diri yang kotor dalam perilakunya, matanya liar, bicaranya tidak terkontrol, sering menyakitkan perasaan orang lain, atau lebih senang berkata-kata pandir dan tidak berguna, bergurau dengan gurauan cabul dan sebagainya, karena memang bahan baku yang terdapat didalam otaknya merupakan sumber ‘penyakit’ bagi dirinya dan orang lain......” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah...., ana jadi khawatir ki, karena sekarang ini banyak sekali ‘sampah-sampah’ yang berseliweran siap memenuhi otak kita, mulai dari media massa yang isinya tidak lebih dari bacaan dan gambar yang tidak mendidik, kemudian lagi di media TV yang hampir semua stasiunnya dengan bangga dan tanpa rasa bersalah, menyiarkan aneka gosip murahan, isu, mengekpose aib orang lain, praktek-praktek tidak terpuji seperti lawakan yang menghina fisik seseorang, tayangan yang tidak layak untuk ditonton dan sebagainya, yang celakanya acara semacam ini laris manis bak pisang goreng, kalau kita tidak pintar-pintar memilih dan memilahnya, bisa-bisa otak kita penuh dengan sampah-sampah itu ya ki......” Kata Muala.

“Beruntung dan bersyukurlah kalau kita masih menyadari betapa banyak sampah yang berpotensi merusak otak kita, Aki justru prihatin dengan mereka yang seakan tidak menyadari bahwa selama ini mereka mengkonsumsi racun-racun fikiran dan otaknya dengan saling berkirim gambar tak patut, dengan bercanda yang tidak berguna, dengan bacaan-bacaan iseng yang tiada bermanfaat, dengan informasi-informasi yang tidak jelas asal usulnya, dengan berbagai hal yang dapat mempersempit dan memperkeruh ruang fikir dan otaknya.....sangat disayangkan bahwa akal dan fikiran yang seharusnya digunakan untuk mentafakuri kebesaran Allah, justru digunakan untuk menampung hal-hal yang tidak berguna.................” Kata Ki Bijak.

“Mentafakuri kebesaran Allah dengan akal fikiran ki......?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, ada sekian banyak ayat al qur’an yang mengajak kita untuk berfikir dan mentafakuri tanda-tanda kebesaran Allah, dan tafakur yang benar, hanya mungkin dilakukan kalau fikiran kita jernih, fikiran kita terang, fikiran yang tidak tercemari oleh racun-racun yang merusaknya...., coba Nak Mas buka Al Qur;an itu, dan cari beberapa ayat yang mengajak kita untuk berfikir..........” kata Ki Bijak.

Maula segera saja mengambil al qur’an dari almari, dan mencari beberapa ayat yang dimaksud gurunya;

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(Ali Imran)


13. Dan dia Telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Al Jaatsiyah)


42. Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang Telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan[1313]. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

[1313] Maksudnya: orang-orang yang mati itu rohnya ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak mati Hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali kepadanya lagi.

Dengan cepat Maula menemukan beberapa ayat yang mengajak untuk berfikir.............

“Nak Mas perhatikan lagi, ‘Dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal’, kemudian ‘Dan dia Telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir’, lalu ‘Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang Telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir’, dari ketiga ayat ini saja, dengan sangat jelas kita diharuskan berfikir, kita dituntut untuk mengetahui siapa dibalik penciptaan langit dan bumi, siapa yang menundukan apa yang ada dilangit dan dibumi untuk kepentingan manusia, siapa yang menghidupkan dan mematikan, yang semuanya bermuara pada satu titik dimana kita harus mengenal Allah....., lalu mungkinkah pekerjaan maha besar ini dilakukan oleh sisa-sisa volume otak dan fikiran kita yang telah dipenuhi sampah...?” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, dengan full capacity saja, kita perlu waktu, perlu kesabaran dan ketekunan yang luar biasa untuk bisa mengenal Allah dengan benar, akan halnya kalau kita menggunakan sisa-sisa kapasitas akal dan fikiran kita untuk mengenal Allah, sepertinya jauh lebih sulit ya ki.....” Kata Maula.

“Hati, fikir dan rasa atau akal, serta seluruh indera kita, adalah seperangkat piranti yang disiapkan Allah untuk kita gunakan agar kita bisa mengenal_Nya, dan hanya piranti-piranti yang baik, bersih dan terjaga sajalah yang mampu berfungsi optimal untuk mencapai sasarannya, maka dari itu menjadi kewajiban kita untuk menjaga amanah itu dengan baik, dengan bersungguh-sungguh, dengan bertanggung jawab, karena semuanya akan dimintai pertanggung jawaban....”

“Hati kita akan dimintai pertanggung jawaban, untuk apa ia digunakan....”
“Fikiran kita akan dimintai pertanggung jawaban, untuk apa ia digunakan...”
“Tangan kita, kaki kita, mata kita, mulut kita, bahkan kulit kita akan memberikan kesaksian dihadapan mahkamah Allah tentang apa yang telah kita perbuat, tidak akan ada dusta disana, tidak akan ada manipulasi disana, karenanya, agar kita bisa mempertanggung jawabkan semua amanah kita, kita harus memulainya dari sekarang.....”

“Dengan menjaga hati kita dari berbagai penyakit yang mungkin akan merusaknya, kita juga harus menjaga otak kita, fikiran dan akal kita dari berbagai virus yang dapat menggerogotinya, singkatnya jangan biarkan piranti pemberian Allah ini lapuk tidak terjaga, sehingga mengurangi atau bahkan merusak fungsinya........” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki..............., semoga ana bisa senantiasa menjaga dan membersihkan semua amanah dari Allah ini ya ki......” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas............” Kata Ki Bijak, sambil menyambut uluran tangan Maula yang hendak pamitan.

Wassalam

February 26, 2009

BAHAGIA, INSYA ALLAH CUKUP DENGAN ‘SAJUTA’

“Orang sunda bilang, untuk bahagia itu cukup dengan ‘Sajuta’, Nak Mas......” Kata Ki Bijak, menanggapi pertanyaan Maula mengenai kiat untuk menjadi bahagia.

“Bahagia cukup dengan sejuta ki..?” Ana masih bingung ki, jangankan dengan sejuta, orang yang memiliki penghasilan lebih dari sepuluh juta sebulan saja, masih banyak yang kebingungan, bagaimana mungkin hanya dengan sejuta kita bisa bahagia ki.....” Kata Maula penasaran.

Ki Bijak tersenyum, “Bukan sejuta Nak Mas, tapi SAJUTA, itu istilah sunda, sajuta kependekan dari Sabar, Jujur dan Tawakal, jadi maksud Aki tadi, orang akan bahagia jika ia bisa berlaku sabar, jujur dan tawakal dalam menjalani berbagai ujian dan kehidupan yang dijalaninya...,

“Orang yang sabar, memiliki maqam tersendiri disisi Allah; Nak Mas tahu ayat yang menyatakan Allah bersama orang yang sabar...?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki......, Jawab Maula, sambil membacakan ayat yang dimaksud gurunya.

146. Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah Karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran)

153. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah)

[99] ada pula yang mengartikan: Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.


“Sekarang jelas sudah kenapa orang sabar akan beroleh kebahagiaan, karena orang sabar disukai Allah, dan ketika Allah menyukai seseorang, maka tidak akan berarti kebencian mahluk terhadapnya, ia akan tetap menjadi orang yang bahagia.....”

“Dan ketika Allah beserta mereka yang sabar, apalagi yang bisa membuat orang itu sedih atau takut, karena ketika Allah selalu ‘bersamanya’, tiada suatu apapun yang dapat melemahkan atau menyedihkannya, dan mereka yang sabar inilah orang yang akan menemukan kebahagiaan.......” Sambung Ki Bijak.

“kemudian Jujur, seperti pernah kita pernah bicarakan beberapa waktu lalu, merupakan sebuah mutiara jaman yang tidak akan pernah lekang oleh waktu dan tidak luntur ditelan perputaran jaman, jujur akan tetap merupakan hal terindah dalam kehidupan, yang akan membuat orang memilikinya akan beroleh kebahagiaan, baik itu didunia, maupun kebahagiaan dinegeri akhirat kelak.......”

“Jujur, juga merupakan sifat utama dari para ambiya, juga merupakan sifat utama dari orang-orang pilihan Allah, jujur merupakan syarat mutlak bagi mereka yang ingin hidupnya bahagia, jujur pada diri sendiri, jujur pada keluarga, jujur pada orang lain, dan terlebih harus jujur pada Allah.......” Kata Ki Bijak lagi.

“Jujur pada Allah ki...? Apakah mungkin kita ‘menipu Allah’ki....?’ Tanya Maula.

“Nak Mas perhatikan ayat ini.....” Kata Ki Bijak sambil menunjukan beberapa ayat dimaksud;


142. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka[364]. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya[365] (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali[366]. [0]

[364] Maksudnya: Allah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani para mukmin. dalam pada itu Allah Telah menyediakan neraka buat mereka sebagai pembalasan tipuan mereka itu.
[365] riya ialah: melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat.
[366] Maksudnya: mereka sembahyang hanyalah sekali-sekali saja, yaitu bila mereka berada di hadapan orang.


9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka Hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

“Menipu Allah’itu maksudnya perbuatan orang munafik Nak Mas, mereka pura-pura memeluk agama islam, mereka pura-pura shalat, mereka pura-pura shaum, mereka pura-pura membayar zakat, pura-pura pergi ketanah suci, tapi semua amaliahnya tidak lebih dari kamuflase untuk menutupi belangnya, dan tentu orang seperti ini tidak akan pernah tahu bahwa Allah maha mengetahui segala tujuan dan niat amal perbuatannya....., dan ini yang dibahasakan dengan menipu Allah.......” Kata Ki Bijak.

“Oooh jadi penipu itu orang munafik ya ki....” kata Maula.

“Benar Nak Mas, dan jangan pernah berharap orang-orang semacam ini akan menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, ia niscaya akan senantiasa akan diliputi kegelisahan, keresahan dan perasaan bersalah yang selalu menderanya, ia akan sangat menderita, meski mungkin secara lahir ia dapat menutupi ketidak bahagiaanya itu dari pandangan dhahir orang lain......” Kata Ki Bijak lagi.

“Ana mengerti ki......” kata Maula

“Dan tawakal.., merupakan sebuah kunci utama untuk memasuki gerbang kebahagiaan, karena Allah menjamin setiap mereka yang tawakal akan diberikan jalan keluar dari setiap kesulitan yang dihadapinya, jika Allah yang memberi jalan keluar dari setiap kita, apalah lagi yang akan membuat kita sulit..?, Nak Mas masih ingat ayat yang menyatakan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan memberinya jalan keluar...?” Kata Ki Bijak.

“Iya ki....” Kata Maula sambil menyebut ayat dimaksud;

2. ........barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (At Thalaq)


“Sajuta, Sabar, Jujur dan Tawakal..., bagus sekali ya ki akronimnya.......” Kata Maula, mengulang perkataan gurunya.

“Bagus dan penuh makna, itulah kepintaran orang-orang tua kita dulu, mereka pandai sekali menggunakan simbol-simbol untuk mempermudah kita mengambil pelajaran, sayangnya generasi kita sekarang ini cenderung ‘malas’ untuk bertanya makna dibalik simbol-simbol tersebut.....” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, kadang ada sebagian orang lebih senang mengambil kesimpulan dini tanpa lebih dulu menggali lebih dalam dari apa yang dipermasalahkan....., orang sekarang ini banyak yang merasa dirinya sudah jauh lebih pintar dari orang-orang terdahulu, padahal banyak juga arif billah dari orang-orang tua zaman dulu......” kata Maula.

“Aki bangga dengan pemikiran kritis dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh generasi Nak Mas sekarang ini, banyak diantara mereka yang hafal ribuan hadits bahkan hingga sanad dan perawinya, banyak diantara mereka hafidz al qur’an, dan masih banyak pengetahuan lain yang mereka dapatkan dari pendidikannya yang tinggi, mereka adalah aset-aset islam yang harus terus didukung dan dikembangkan, Aki hanya ingin daya kritis dan pengetahuan yang tinggi itu diimbangi dengan kebijakan dan kearifan sehingga bisa lebih berdaya guna bagi kemajuan dirinya khususnya, dan kemajuan islam pada umumnya......” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, dengan Sajuta, maka kau akan bahagia......” Maula mengulang-ngulang akronim dari gurunya, yang menurutnya sangat sederhana, mudah diingat, tapi penuh makna.

Wassalam

March 03,2008

Monday, February 2, 2009

HUJAN BUKAN ALASAN

“Nak Mas melihat sesuatu yang janggal dari situasi ini...?” Tanya Ki Bijak, menyikapi cerita Maula yang hampir tiap hari kehujanan ketika berangkat dan pulang kantor.

“Sesuatu yang janggal ki...?” Tanya Maula heran.

“Ya Nak Mas, sesuatu yang menurut Aki agak janggal Nak Mas, hujan, kerap kali dijadikan kambing hitam atas kosongnya masjid, hujan dijadikan alasan banyak orang untuk tidak shalat berjamaah dimasjid, hujan juga kerap dijadikan ‘pembenar’ untuk tidak kemasjid.............”Kata Ki Bijak lagi.

“Lalu ki....?” Tanya Maula masih belum mengerti.

“Tapi disisi lain, hujan deras tidak menjadi halangan untuk tetap pergi kekantor, hujan deras bahkan digunakan oleh sebagian orang sebagai bukti loyalitasnya terhadap perusahaan, sehingga apapun yang terjadi, ditengah guyuran hujan lebat dan kilat menyambar, orang tetap bersemangat untuk pergi kekantor atau ketempat usahanya....”Sambung Ki Bijak.

Rona wajah Maula sedikit berubah demi mendengar penjelasan gurunya, ia merasa bahwa gurunya sedang membicarakan ketidak hadirannya dimasjid beberapa hari lalu ketika hujan deras mengguyur daerah sekitar rumahnya;

“Iya ki, ana juga masih sering merasakan hal itu.......”Katanya kemudian jujur.

“Nak Mas tahu alasan kenapa orang-orang, atau Nak Mas sendiri masih suka merasa enggan kemasjid ditengah hujan lebat, tapi tetap bersemangat kekantor tanpa peduli lebatnya hujan dan kilat yang menyambar....?” Tanya Ki Bijak.

“Aaaah...,apa ya ki....., mungkin karena loyalitas ya ki, mungkin juga karena ingin mendapat penilaian yang baik dari perusahaan, atau mungkin juga karena ‘takut’ dapat teguran, sehingga orang-orang tetap pergi bekerja dan kekantor meski ditengah hujan lebat dan sambaran halilintar.....” Kata Maula ragu.

“Jika kita loyal terhadap perusahaan, itu hal yang memang seharusnya, karena itu merupakan salah satu kewajiban setiap karyawan, lalu pertanyaannya, kenapa kita tidak bisa loyal kepada Allah yang memerintahkan kita untuk shalat berjamaah dimasjid, adakah kita sudah menganggap perusahan lebih patut menerima loyalitas kita daripada Allah, yang telah menciptakan kita, yang telah memberikan kita segalanya, mulut, mata, telinga, kaki dan tangan bahkan nafas dan hidup kitapun merupakan pemberian Allah, jadi sungguh mengherankan kalau loyalitas kita terhadap perusahaan jauh lebih besar daripada kepatuhan kita kepada Allah.......” Kata Ki Bijak.

“Lalu, kalau benar ada orang yang rela berhujan ria pergi kekantor demi alasan penilaian yang baik dari perusahaan, itu sah-sah saja, lalu pertanyaannya pernahkah kita memikirkan seberapa baik nilai kita dimata Allah...., kalau kita mengharap penilaian yang baik dari perusahaan dengan berbagai cara dengan pengorbanan, lalu kenapa kita merasa sedemikian berat untuk hanya sekedar melangkahkan kaki dari rumah kemasjid, yang jaraknya Aki yakin jauh lebih dekat dari jarak rumah ke kantor......” Tambah Ki Bijak lagi.

“Kemudian, jika ada orang yang takut dan khawatir dapat teguran dari perusahaan karena tidak datang ketempat kerja, tidakkah kita takut kepada Allah, yang dalam berbagai ayat disebutkan bahwa azab Allah sangatlah pedih, yang kepedihan dan kedahsyatannya tidak dapat dibandingkan dengan apapun, apalagi konon hanya dibandingkan dengan teguran atau bahkan PHK sekalipun....................” Kata Ki Bijak masih dengan nada herannya.

“Benar ki, kalau mau jujur,memang tidak alasan untuk menunda atau tidak pergi kemasjid, sementara kita masih mampu pergi kekantor, meski itu disertai hujan dan kilat yang mengguntur.....” Kata Maula, menyadari betapa dirinya masih terlalu banyak memiliki dalih untuk tidak pergi kemasjid.

“Ki...lalu bagaimana agar semangat kita kemasjid bisa sebaik atau bahkan melebihi semangat kita kekantor ya ki.....?” Tanya Maula.

“Jadikan shalat berjamaah dan kemasjid sebagai sebuah kebutuhan Nak Mas.....” Jawab Ki Bijak.

“Shalat berjamaah dan kemasjid sebagai sebuah kebutuhan Ki...?” Tanya Maula.

“Benar, Aki melihat semangat yang luar biasa untuk datang kekantor setiap hari, meski hujan angin menyertai adalah karena adalah dorongan ‘kebutuhan’ yang harus dipenuhi oleh kita, kita beranggapan kalau tidak kekantor ia akan merugi dan kebutuhannya tidak akan terpenuhi, nah semangat inilah yang harus kita adopsi untuk meningkatkan kualitas ibadah kita, kita butuh shalat, kita butuh berjamaah, kita butuh kemasjid, kita butuh Allah, sehingga dengan kebutuhan-kebutuhan itulah kita akan merasa rugi kalau kita tidak shalat, kita akan merasa kurang kalau tidak berjamaah, kita akan merasa kehilangan sesuatu kalau tidak kemasjid, dan kita akan merasa menjadi orang yang paling berdosa manakala kesibukan kita melalaikan kita dari mengingat Allah......................” Kata Ki Bijak.

“Benar ki, seandainya orang yang kekantor hanya berfikir untuk memenuhi kewajibannya sebagai karyawan, tentu ia akan berat dan enggan untuk kekantor, apalagi hujan-hujan seperti sekarang ini...., karena mereka merasa butuh pekerjaan, butuh penghasilan dan butuh uang itulah segala resiko ditempuh ya ki.....” Kata Maula mulai mengerti.

“Itulah yang ideal Nak Mas, bahwa loyalitas kita, ketaatan kita, ketakutan kita, ketergantungan kita hanya semata kepada Allah swt, lain tidak..., dan kalau sekarang ini kita belum mampu sepenuhnya untuk bersandar dan bergantung kepada Allah, maka itulah PR terbesar yang harus segera kita selesaikan, semakin kita bergantung kepada selain Allah, maka semakin ‘capek’ kita diperbudak oleh kepentingan-kepentingan orang lain, dan Nak Mas masih ingat dengan hadits qudsi yang menyatakan Allah akan melapangkan jalan bagi mereka yang mendahulukan pengabdiannya kepada Allah....?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Ya ki.....” Kata Maula sambil mengutip hadits dimaksud;

Hai anak Adam, luangkanlah waktu mu untuk beribadah kepada-Ku, Aku akan lapangkan dadamu, dan aku akan hapuskan kemiskinan darimu. Jika tidak, Aku akan memberimu kesibukan, dan Aku tidak akan menghapuskan rasa kemiskinanmu” (HR. Turmidzi, Hakim, dan Ahmad).

“Astagfirullah..., jadi inikah yang sering membuat ana merasa kurang ki...?” Tanya Maula menyadari betapa hadits itu mengingatkannya akan ‘kelalaian’nya dalam mendahulukan Allah dibandingkan yang lainnya.

Ki Bijak tersenyum; “Tanyakan pada hati Nak Mas dengan jujur, insya Allah Nak Mas temukan jawabannya....” Jawabnya kemudian.

Terima kasih ki.......” Kata Maula sambil pamitan.

Wassalam;

Februari 02,2009

Friday, January 9, 2009

SAKIT (JUGA) SEBUAH NIKMAT

“Masya Allah, bagaimana keadaanya sekarang Nak Mas...?” Tanya Ki Bijak dengan nada prihatin mendengar penuturan Maula mengenai teman sekaligus tetangganya masuk rumah sakit karena stroke.

“Ana belum sempat menjenguknya dirumah sakit ki, ana baru mendengar khabar dari istri bahwa sakitnya cukup parah......., agak heran juga ya ki, orangnya masih muda, suka olahraga, dan fisiknya nampak sehat, bahkan hari minggu kemarin kami ketemu diacara resepsi pernikahan, tapi tiba-tiba bisa kena stroke begitu ya ki.....” Kata Maula

“Sakit dan penyakit memang tidak semata karena faktor usia Nak Mas, siapapun bisa sakit, dan waktunya pun kita tidak tahu, karena sakit, dalam hemat Aki, juga merupakan sebentuk ‘karunia’ Allah kepada kita, untuk dapat kita sikapi dengan bijak......” Kata Ki Bijak lagi.

“Secara medis, memang banyak faktor yang menyebabkan seseorang sakit atau terkena penyakit tertentu, tapi disisi lain, penyakit juga bisa merupakan alat ‘komunikasi’ Allah dengan kita, sakit dan penyakit bisa merupakan teguran untuk kita, ketika kita lalai, sakit dan penyakit juga bisa merupakan cara Allah untuk menghapus dosa dan kesalahan kita, selama kita memaknainya dengan benar, sakit dan penyakit juga bisa merupakan ‘nikmat’ yang tiada terhingga bagi sebagian orang, dan ada banyak hikmah lain dibalik sakit dan penyakit yang diderita seseorang..........” Kata Ki Bijak lagi.

“Sakit dan penyakit merupakan nikmat luar biasa dan mengandung banyak hikmah ya ki.....?” Tanya Maula heran.

“Benar Nak Mas, sakit dan penyakit dapat merupakan sarana tarbiyah bagi kita......” Kata Ki Bijak

“Tarbiyah ki....?” Tanya Maula tambah heran.

“Benar, sakit bisa merupakan tarbiyah bagi kita untuk sejauh mana kita ridha dan ikhlas dan sabar terhadap ujian yang Allah berikan kepada kita, barang siapa yang mampu menerima ujian Allah ini dengan penuh keikhlasan, keridhaan dan sabar, dibalik sakitnya tersimpan selaksan hikmah yang menantinya....”

“Kedua, sakit dan penyakit juga bisa merupakan tarbiyah untuk memupuk kesadaran kita bahwa kita hanyalah sesosok mahluk lemah yang tidak memiliki daya dan kekuatan apapun, bahkan untuk menolok seekor virus yang tidak kelihatan sekalipun, kita tidak mampu, sakit menyadarkan kita untuk tidak berbangga diri apalagi sombong dengan uang kita, dengan kekayaan kita, dengan kedudukan kita, karena semuanya samasekali tidak mampu menolak sakit dan penyakit yang Allah ujikan kepada kita.....” Tambah Ki Bijak.

“Benar ki, betapapun seseorang memiliki harta banyak dan kedudukan tinggi, semua itu tidak dapat menghindarkan dirinya dari sakit, jika Allah menghendaki ia sakit, maka ia akan sakit, seperti dengan kejadian yang sedang dialami oleh teman ana itu ya ki..........” Kata Maula mulai mengerti arah pitutur gurunya.

Ki Bijak mengangguk, “Kemudian, sakit juga bisa merupakan tarbiyah bagi kita untuk berhati-hati dalam segala hal, karena Allah berfirman dalam Surat Asy-Syuura:30;


30. Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

“Sebagian besar, penyakit yang diderita oleh seseorang adalah karena perbuatan orang itu sendiri, misalnya dengan menjalani pola hidup yang kurang sehat, seperti merokok, meminum minuman keras, narkoba atau pergaulan bebas yang menyimpang dari tuntunan sunah, sehingga akibat perilakunya itu kembali kepada kita masing-masing......” Kata Ki Bijak.

“Jadi sakit juga sebagai sarana instropeksi diri kita yang ki, kalau kita sakit paru-paru, mungkin karena kebiasaan kita merokok, kalau kita kena serangan jantung, mungkin karena perilaku kita dalam mengkonsumsi makanan dan minuman yang salah, atau kalau ada yang terkena HIV mungkin karena perilaku pergaulan bebas yang dilakukannya ya ki..........” Kata Maula.

“Itu sikap yang lebih bijak daripada kemudian ketika kita sakit, kita langsung ‘menyalahkan Allah’, kita mengumpat sana-sini atau menyari sebab-sebab yang ir-rasional, kena santet atau kena jin misalnya, akan lebih baik ketika kita diuji Allah dengan sakit, kita tafakuri, kita instrospeksi, kemudian kita memohon kepada Allah untuk diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menjalani ujian sakit ini, disamping memohon kesembuhan dan mengupayakan syariat lahiriah untuk berobat......” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, kalau kita sudah berusaha untuk hidup sehat, tidak merokok, tidak meminum minuman keras, menjaga etika pergaulan, tapi tetap sakit, bagaimana hikmahnya ki...........?” Tanya Maula lagi.

Ki Bijak menarik nafas panjang, “Abu Hurairah, secara marfu meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda “”Barang siapa yang dikehen-daki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al Bukhari), jadi dalam hemat Aki, ketika kita sudah berusaha menjalankan pola hidup yang benar, tapi tetap diuji Allah dengan sakit, maka kita boleh berharap bahwa Allah menghendaki sebuah kebaikan untuk kita......” Kata Ki Bijak.

“Tapi kenapa harus sakit dulu ki...?” Tanya Maula.

“Itu rahasia Allah Nak Mas, hanya secara lahiriah kita bisa melihat gambaran bahwa untuk menempatkan sesuatu yang baik atau kebaikan, maka diperlukan tempat yang baik, kuat dan bersih dulu, agar kebaikan itu tidak terkontaminasi oleh tempat yang masih kotor, mungkin demikian juga dengan Allah Nak Mas, ketika Allah menghendaki kebaikan kepada kita, maka Allah ‘membersihkan’ tempatnya dulu, membersihkan diri kita dulu, agar kebaikan itu dapat benar-benar terpancar dari dalam diri kita, seperti dalam hadits lain, baginda Rasul menyatakan bahwa ; ”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melainkan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.”“Dalam hadits lain beliau juga bersabda: “Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” Kata Ki Bijak lagi.

“Subhanallah, betapa besar hikmah yang terkandung dalam keadaan sakit ya ki..................” Kata Maula.

“Dan yang paling penting menurut Aki, sakit adalah sebuah jalan bagi kita untuk lebih mendekat kepada Allah, ketika kita sehat, shalat kita mungkin masih belum khusu’ dan terburu-buru, ketika kita sehat mungkin doa kita belum sepenuhnya datang dari hati yang terdalam, tapi ketika kita shalat dalam kondisi sakit, insya Allah akan sangat terasa bahwa betapa kita membutuhkan Allah, akan sangat terasa betapa kita sangat lemah dihadapan Allah, doa kitapun semakin dalam dan intens, dan perasaan-perasaan inilah yang kemudian menghadirkan rasa kedekatan kita dengan Allah swt......” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, sangat terasa sekali ketika kita shalat dalam kondisi sakit, sampai-sampai ana pernah menangis ketika ana shalat disebelah orang yang tidak bisa shalat dengan berdiri, nampak sekali shalatnya khusu’, hingga ana bisa merasakan betapa nikmatnya shalat dalam kondisi sehat......” kata Maula, menceritakan pengalamannya.

“Oh ya Nak Mas, berbicara mengenai shalat dan kesehatan, kemarin Aki mendapatkan artikel bagus mengenai hikmah shalat, bahwa shalat yang didirikan dengan benar, bukan hanya akan ‘menyehatkan’ hubungan kita dengan Allah secara bathiah, tapi lebih dari itu, gerakan-gerakan lahiriah shalat, merupakan sarana yang sangat bagus untuk menjaga kesehatan jasmani kita......” Kata Ki Bijak sambil menyerahkan beberapa lembar kertas berisi artikel tentang hikmah shalat;

Maula segera menyambut artikel yang diberikan gurunya; ia segera membaca artikel tersebut ;”TAKBIR (Mengangkat Tangan), akan memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat dilengan untuk diisikan ke mata, telinga, mulut...” Maula berhenti sejenak untuk kemudian mengangkat tangan seperti takbir orang ketika shalat, sambil berusaha meresapi gerakan takbir yang dilakukannya, ia kemudian melanjutkan membaca artikel tersebut sambil mencoba mempraktekan setiap gerakan shalat yang dimaksud dalam artikel tersebut.....
“SEDEKAP, menempatkan kedua tangan diantara perut dan dada, memiliki fungsi untuk pengisian pembuluh darah di organ-organ kepala, menjepit pembuluh darah balik pada lengan kiri sehingga pembuluh darah ditangan kanan akan mengembang. Pada saat mengangkat tangan mau rukuk semprotan pembuluh darah berkecepatan tinggi di tangan kanan akan mengisi pembuluh darah yang ada di bagian kepala.
“RUKUK (Pelenturan Memori Otak dan Ginjal), pKelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang, merupakan saraf sentral beserta sistem aliran darahnya. Rukuk yang sempurna akan menarik urat pinggang sehingga dapat mencegah sakit pinggang dan sakit ginjal. Tuas sistem keringat yang terdapat di pinggung, pinggang, paha , betis belakang, terpelihara oleh gerakan rukuk, dan tulang leher, serta saluran saraf memori juga terdapat kelenturannya “.
“.I’TIDAL (Pencegah Sakit Kepala dan Pinggang), posisi I’tidal bangun dari rukuk membuat aliran darah turun langsung dari kepala, menyebabkan bagian pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanan darahnya. Sehinga dapat mencegah saraf keseimbangan tubuh kita sangat berguna untuk menghilangkan sakit kepala dan pingsan dengan tiba-tiba..”
“SUJUD (Pencegahan Koroner dan Stroke),pada saat sujud pembuluh darah nadi balik, dikunci dipangkal paha, sehingga tekana darah akan lebih banyak dialirkan kembali ke jantung dan di pompa ke kepala. Posisi sujud adalah cara maksimal untuk mengalirkan darah dan oksigen ke otak dan anggota tubuh di kepala. Posisi dujud adalah teknik terbaik untuk membongkar sumbatan pembuluh darah jantung sehingga mencegah koroner. Juga membuat pembuluh darah halus di otak mendapat tekanan lebih, sehingga bisa mencegah stroke.
“DUDUK diantara dua SUJUD (Duduk Perkasa, tekukan kaki dan jari kaki dapat menyeimbangkan sistem elektrik dan saraf keseimbangan tubuh kita. Posisi duduk dua sujud memperbaiki dan menjaga kelenturan saraf keperkasaan yang banyak terdapat pada bagian paha dalam, cekungan lutut sampai ibu jari kaki. Akibat lenturnya saraf keperkasaan ini akan mencegah diabetes, prostate dan hernia.
“DUDUK TAHIYYAT AWAL (Duduk Pembakaran), posisi duduk ini jika agak lama sehingga lipatan paha dan betis bertemu, akan mengaktifkan kelenjar keringat sehingga dapat mencegah pengapuran. Pembuluh darah balik di atas pangkal kaki tertakan sehingga darah akan memenuhi seluruh telapak kaki menyebabkan pembuluh darah di pangkal kaki mengembang. Gerakkan ini akan menjegah agar kaki optimal menopang tubuh kita…”
“DUDUK TASYAHHUD AKHIR (Keseimbangan Saraf dan Penyembuhan Wasir),posisi duduk ini lebih baik dari bersila. Dalam ilmu yoga kalau pergelangan kaki akan dipegang, lalu tekan diarea cekungan akan berguna untuk membongkar pengapuran dikaki kiri. Duduk ini membuat saraf keseimbangan yang berhubungan dengan saraf mata akan terjaga dengan baik…”

“SALAM (Terapi Penyakit Kepala),gerakan salam jika dilakukan secara maksimal, bermanfaat untuk menjaga kelenturan urat leher. Berkat kontraksi otot-otot di kepala dihasilkan energi panas dan zat-zat yang diperlukkan untuk rehabilitasi jaringan yang rusak. Salam kanan dan kiri secara maksimal, mencegah penyakit kepala dan tengkuk kaku…..”

“Subhanallah, betapa sempurna Allah menciptakan gerakan-gerakan shalat ini sehingga selaras dengan kepentingan lahir dan bathin kita ya ki………..” Kata Maula, sambil mengulang membaca artikel dari gurunya.

“Ya Nak Mas, meski tadi Aki katakana bahwa sakit adalah sebentuk ujian dari Allah, bukan berarti kita tidak berusaha untuk menjaga kesehatan kita, karena menjaga kesehatan juga adalah sebentuk ungkapan rasa syukur terhadap nikmat Allah yang wajib kita tunaikan……..” Kata Ki Bijak lagi.

“Benar sabdamu ya Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam; “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga)”, Subhanallah………………….” Kata Maula pelan.


Wassalam

Januari 08,2009

Wednesday, January 7, 2009

HIDUP MEMANG BERPUTAR

“Ada khabar apa dikampung Nak Mas......?” Tanya Ki Bijak kepada Maula yang baru kembali dari kampungnya sehabis liburan kemarin.

“Alhamdulillah ki, semua sehat....., Abi, umi dan saudara-saudara dalam keadaan sehat, hanya Dinda kemarin badanya sedikit panas, mungkin kelelahan setelah ujian disekolah dan madrasahnya ki........”Jawab Maula.

“Syukurlah Nak Mas, sehat adalah nikmat yang tidak terhingga yang patut kita syukuri......” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki...., ki.., ada sesuatu yang masih mengusik hati dan fikiran ana sepulang dari kampung kemarin ki.......” Kata Maula.

“Perihal apa itu Nak Mas, kalau Aki boleh tahu.......?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Kemarin, pada saat kami pulang kampung liburan idul fitri, ana bertemu dengan teman-teman semasa kecil dulu..........” kata Maula.

“Lalu.......?” Tanya Ki Bijak.

“Salah seorang teman, ketika itu tengah dalam kondisi yang sangat ‘enak’, usahanya sedang lancar, ia memiliki penghasilan besar, telah mampu membeli sepeda motor, dan berencana untuk membeli sebuah rumah..........” Kata Maula.

“Terus Nak Mas.......” Ki Bijak dengan sabar menunggu kelanjutan cerita Maula.

“Beberapa bulan berselang, sekitar tiga bulan, oktober, november, december, keadaannya berubah, sekarang usahanya lagi ‘seret’ karena perubahan harga komoditinya yang fluktuatif sehingga ia mengalami kerugian besar, dan yang lebih mengejutkan ana, hari minggu lalu ia masih membawa sepeda motornya, dan minggu berikutnya sepeda motor itu sudah dijual lagi....., sedemikian cepat perubahan itu terjadi, hanya dalam rentang waktu tiga bulan saja......” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula, “Itulah hidup Nak Mas, hidup memang berputar, kadang dibawah, dilain saat kita berada diatas, dan perubahan itu bisa terjadi kapan saja, bisa setahun,bisa dua tahun, bisa tiga bulan seperti penuturan Nak Mas tadi, bahkan tidak mustahil ada orang yang mengalami perubahan dalam kehidupannya hanya dalam waktu satu malam saja, jika Allah menghendaki sesuatu maka kun fayakun, terjadilah apa yang di kehendaki_Nya......” Kata Ki Bijak

“Iya ki, rasanya seperti mimpi saja, hanya ana masih belum bisa menangkap ‘pesan’ dari apa yang terjadi dengan teman ana itu ki........” Kata Maula.

“Pesannya sangat jelas Nak Mas, bahwa setiap kita akan diuji oleh Allah dengan ‘kebaikan dan keburukan’, dan tujuannya pun jelas, agar kita senantiasa ingat bahwa diatas segalanya, ada Allah yang telah mengatur dan menentukan hidup kita, agar kita tidak menangis manakala kita mendapati kesusahan,dan kita tidak terbahak manakala kita dihinggapi kelapangan....., dan kenapa Nak Mas yang mendapati pengalaman seperti itu, dalam hemat Aki, itu adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sekarang ini tengah berkecamuk didalam hati Nak Mas........?” Kata Ki Bijak.

Maula sedikit terkejut mendengar perkataan gurunya yang seakan mengetahui apa yang tengah berkecamuk didalam hatinya, “Benar ki, dalam beberapa waktu ini, ana merasa ada sesuatu yang kurang, ana merasa tertinggal dari teman-teman yang lain, ana merasa bahwa saat ini ada berada ‘dibawah’ dalam beberapa hal......” kata Maula jujur.

“Nak Mas....., apa yang Nak Mas saksikan pada perjalanan hidup teman Nak Mas tadi adalah cermin bagi Nak Mas, bahwa memang setiap kita akan mengalami perputaran dalam kehidupannya, termasuk juga dengan Nak Mas, kalau keadaan Nak Mas sekarang ini belum sebaik teman-teman Nak Mas, itu adalah sebuah ‘tantangan’ bagi Nak Mas untuk dapat menyikapinya secara bijak, untuk belajar lebih tekun lagi untuk bisa memaknai segala hal yang terjadi pada kita........” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat dengan ayat al qur’an yang menyatakan bahwa setiap kita akan diuji oleh Allah......?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki......” Jawab Maula sambil membaca surat al anbiya ayat 35;

35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.


“Nak Mas sudah tahu ayatnya, dan sudah sangat jelas bahwa Allah akan menguji kita bukan hanya dengan keburukan, bahkan kebaikan pun merupakan ujian yang harus dilalui oleh kita...., sekarang tinggal bagaimana Nak Mas memaknai ayat tersebut untuk Nak Mas terapkan dalam kehidupan Nak Mas sehingga Nak Mas lebih bijak dalam menjalani kehidupan ini......” Kata Ki Bijak.

“Kebaikan juga sebuah ujian ya ki.......?” Tanya Maula pelan.

“Benar, kebaikan juga sebuah ujian, orang-orang yang Nak Mas lihat bergelimang harta, orang-orang yang saat ini memiliki kedudukan yang tinggi, orang-orang yang saat ini memiliki gaji dan penghasilan besar, orang-orang yangsaat ini memiliki rumah tingkat, mobil mewah atau sawah dan ladang yang luas, orang-orang tersebut juga tengah diuji oleh sejauh mana mereka mensyukuri apa yang Allah amanahkan kepada mereka, dan jangan pernah berfikir bahwa ujian berupa kebaikan ini mudah, justru banyak orang-orang yang berhasil ‘lulus’ dalam ujian ‘keburukan’, seperti kemiskinan dan kekurangan, tapi ‘gagal’ ketika ia harus melalui ujian berupa kebaikan tadi.............” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat kisah Sa’labah......?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, Sa'labah bin hatib adalah seorang yang miskin namun sangat rajin dalam beribadah, suatu hari Sa'labah datang menemui Rasulullah SAW dan berkata: "Doakan ya Rasulullah supaya saya dikaruniai Illahi rezeki yang banyak".

“Rasulullah SAW merasa tidak suka mendengar kata-kata Sa'labah tersebut. Beliau lalu berkata.""Tidakkah engkau merasa ridha hidup seperti nabi-nabi Allah, yaitu mencukupkan apa yang ada. Saya sendiri, apabila menghendaki kekayaan, maka Allah dapat mengaruniakan satu gunung emas dan perak". Lalu Sa'labah menjawab,"Kalau saya mendapat rezeki banyak dari Illahi, maka saya akan menafkahkan harta itu untuk kepentingan umum, dan akan saya berikan kepada setiap orang yang memerlukan dan berhajat."

Akhirnya, Nabi memohonkan kepada Allah supaya Sa'labah mendapat rezeki yang banyak. Permohonan itu pun dikabulkan oleh Allah. Binatang ternak yang dipelihara oleh Sa'labah berkembang biak dengan cepatnya sampai memerlukan satu lapangan yang sangat luas untuk tempat pengembalaannya. Singkat cerita, Sa'labah menjadi seorang hartawan, kekayaannya terkenal ke seluruh kota dan desa...”

“Tetapi, semenjak "bintang"nya terang, ia semakin sibuk mengurusi kekayaannya itu. Tadinya Sa'labah termasuk orang yang sangat tekun beribadah, karena kesibukannya mulailah ia melalaikan ibadahnya, sholat Dhuhur dan Ashar kerapkali dijamakkan saja (dikumpulkan jadi satu), walaupun tidak ada illat dan alasan-alasan yang sah, dalam sholat berjamaah yang semula rutin dikerjakan acapkali tidak kelihatan, lama-kelamaan Sa'labah tidak muncul sama sekali dalam sembahyang Jum'at. Dia sudah terlalu sibuk mengurusi harta-kekayaannya itu…...” Tutur Maula, menceritakan kisah Sa’labah.

“Dan jika Nak Mas perhatikan, dizaman sekarang ini pun Sa’labah-sa’labah modern akan gampang sekali kita jumpai, konteksnya sama, ketika miskin dan papa, ia rajin kemasjid, rajin ibadah, rajin tahajud, tapi setelah Allah memberi sedikit saja kemudahan dan kelapangan, ibadahnya mulai berkurang karena kesibukannya……” Kat Ki Bijak sambil membacakan ayat al qur’an;

75. Dan diantara mereka ada orang yang Telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, Pastilah kami akan bersedekah dan Pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.

76. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).

77. Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, Karena mereka Telah memungkiri terhadap Allah apa yang Telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga Karena mereka selalu berdusta. (At Taubah)

“Iya ki, ana beberapa kali melihat orang yang sangat rajin kemasjid ketika ditimpa kesusahan, tapi kemudian ‘menghilang’ setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan….” Kata Maula.

“Dan Allah mengingatkan Nak Mas dengan gambaran teman Nak Mas tadi, agar Nak mas tidak terlalu cemas dengan kondisi dan keadaan Nak Mas sekarang ini, meski mungkin menurut Nak Mas masih kurang ideal, jalani saja Nak Mas, jalani apa yang ada sekarang sebagai sebuah proses, sebuah sunnatullah yang memang pasti berlaku pada siapapun……….” Kata Ki Bijak.

“Kuncinya masih sama, kita undang nikmat Allah dengan mensyukurinya, kemudian dengan bertawakal kepada_Nya, dengan bersabar dan ridha atas semua apa yang Allah anugerahkan kepada kita, selain tentu dengan kasab kita dengan bersungguh-sungguh menjemput karunia Allah yang luas terbentang tak terhingga ini……” Tambah Ki Bijak.

“Subhanallah…., Maha Suci Engkau ya Allah, ampuni hamba_Mu yang tidak pandai membaca apa yang Engkau siratkan…., terima kasih ki, terima kasih Aki selalu mengingatkan ana manakala ana alpa, semoga kedepan, ana lebih kokoh dan kuat lagi dalam menjalani ‘proses’ ini, dan semoga ana lebih bijak dan pandai dalam membaca ayat-ayat Allah yang tersirat dalam berbagai hal…….” Kata Maula, menyadari betapa kejadian yang sedang dialami oleh temannya, merupakan cermin dan jawaban atas apa yang tengah dipertanyakan oleh hatinya.

“Belajarlah Nak Mas, mohonlah kepada Allah untuk dikarunia ilmu dan hikmah agar Nak Mas lebih pandai ‘membaca’ berbagai hal yang Allah siratkan untuk kita pahami……” Kata Ki Bijak.

“Iya ki………….” Jawab Maula sambil pamitan.

Wassalam

Januari 06,2009

Thursday, December 18, 2008

JANGAN PERNAH BERKATA “ANA KHOIRU MINHA”

“Nak Mas tahu apa yang menyebabkan iblis ‘diusir’ dari syurga....?” Tanya Ki Bijak, menanggapi pertanyaan Maula mengenai beberapa pangkal dosa;

“Karena Iblis takabur ki, Iblis tidak mau sujud (penghormatan) kepada Adam sebagaimana Allah perintahkan......” Jawab Maula sambil mengutip surat Al A’raf ayat 12;


12. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" menjawab Iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".


“Lalu Nak Mas tahu apa yang menyebabkan Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan dari Syurga...?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Keserakahan ki, Allah telah memberikan semua fasilitas syurga kepada Nabi Adam dan Siti Hawa, kecuali satu yang tidak boleh diambilnya, yiatu buah khuldi, tapi Nabi Adam dan Siti Hawa terperangkap kedalam bujuk rayu iblis untuk mengambil dan memakan buah khuldi yang dilarang Allah, sehingga kemudian Nabi Adam dan Siti Hawa dikeluarkan dari Syurga......” Jawab Maula, sambil mengutip Surat al Baqarah;

35. Dan kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini[37], yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.
36. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu[38] dan dikeluarkan dari keadaan semula[39] dan kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."
37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat[40] dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

[37] pohon yang dilarang Allah mendekatinya tidak dapat dipastikan, sebab Al Quran dan Hadist tidak menerangkannya. ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam surat Thaha ayat 120, tapi itu adalah nama yang diberikan syaitan.

[38] Adam dan hawa dengan tipu daya syaitan memakan buah pohon yang dilarang itu, yang mengakibatkan keduanya keluar dari surga, dan Allah menyuruh mereka turun ke dunia. yang dimaksud dengan syaitan di sini ialah Iblis yang disebut dalam surat Al Baqarah ayat 34 di atas.

[39] maksud keadaan semula ialah kenikmatan, kemewahan dan kemuliaan hidup dalam surga.
[40] tentang beberapa kalimat (ajaran-ajaran) dari Tuhan yang diterima oleh Adam sebahagian ahli tafsir mengartikannya dengan kata-kata untuk bertaubat.

“Lalu apa yang menyebabkan Nabi Yunus ‘dihukum’ Allah didalam ikan Nun....?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Kemarahan ki...., Nabi Yunus ‘marah’ kepada kaumnya dan meninggalkan mereka, hingga kemudian Nabi Yunus tercebur kelaut dan ditelan ikan Nun, ki.......” Jawab Maula sambil mengutip ayat al qur’an;


140. (Ingatlah) ketika ia lari[1288], ke kapal yang penuh muatan,
141. Kemudian ia ikut berundi[1289] lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.
142. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela[1290].

[1288] yang dimaksud dengan lari di sini ialah pergi meninggalkan kewajiban.
[1289] undian itu diadakan Karena muatan kapal itu sangat penuh. kalau tidak dikurangi mungkin akan tenggelam. oleh sebab itu diadakan undian. siapa yang kalah dalam undian itu dilemparkan kelaut. Yunus a.s. termasuk orang-orang yang kalah dalam undian tersebut sehingga ia dilemparkan ke laut.
[1290] sebab Yunus tercela ialah Karena dia lari meninggalkan kaumnya.

“Lalu apa yang menyebabkan kemurkaan Allah kepada Bani Israil Nak Mas....?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Kufur nikmat, dengki dan dusta ki....., Bani Israil dikarunia Allah dengan berbagai kelebihan, mereka umat terbaik pada zamannya, kemudian mereka juga di karuniai Mana dan Salwa, serta masih banyak nikmat yang Allah anugerahkan pada mereka, tapi semuanya mereka kufuri, dan mereka juga berdusta tentang ayat-ayat Allah yang telah sampai kepada mereka, karena kedengkian mereka itulah kemudian mereka menyembunyikan ayat-ayat Allah demi kepentigan mereka.......” Jawab Maula, sambil mengutip beberapa nikmat Allah kepada Bani Israil.


49. Dan (Ingatlah) ketika kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.

50. Dan (ingatlah), ketika kami belah laut untukmu, lalu kami selamatkan kamu dan kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan[47].

[47] waktu nabi Musa a.s. membawa Bani Israil ke luar dari negeri Mesir menuju Palestina dan dikejar oleh Fir'aun, mereka harus melalui laut merah sebelah Utara. Maka Tuhan memerintahkan kepada Musa memukul laut itu dengan tongkatnya. perintah itu dilaksanakan oleh Musa hingga belahlah laut itu dan terbentanglah jalan raya ditengah-tengahnya dan Musa melalui jalan itu sampai selamatlah ia dan kaumnya ke seberang. sedang Fir'aun dan pengikut-pengikutnya melalui jalan itu pula, tetapi di waktu mereka berada di tengah-tengah laut, kembalilah laut itu sebagaimana biasa, lalu tenggelamlah mereka.


“Benar Nak Mas, dan al qur’an sudah menjawab pertanyaan Nak Mas tadi, bahwa pangkal dari dosa adalah sifat sombong dan takabur yang menyebabkan iblis terusir dari surga, kemudian sifat ‘serakah’ yang menyebabkan Nabi Adam dan Siti Hawa juga keluar dari Syurga, kemudian ‘kemarahan’ yang menyebabkan Nabi Yunus ditelan ikan, serta sifat kufur nikmat, dengki dan dusta yang menyebabkan Bani Israil menjadi umat yang ‘terhina’ karena tabiat buruknya itu.........” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, lalu apa yang menyebabkan sifat sombong dan takabur itu sendiri ki.....?” Tanya Maula.

“Iblis menjadi sombong, karena secara kodrati, ia merasa lebih baik dalam unsur penciptaannya, yaitu dari Api sementara Adam diciptakan dari tanah, dalam konteks kekinian, kesombongan dan sikap takabur bisa lahir dari rupa yang bagus, harta, tahta dan bahkan kesombongan bisa lahir dari ilmu dan ‘ketaqwaan’......” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, kalau orang yang sombong karena kecantikan dan ketampanannya, ana masih mengerti, lalu orang kaya yang sombong juga ana masih bisa menemukan contohnya dengan mudah, begitupun dengan pejabat yang sombong, sekarang ini sangat menjamur, tapi kalau orang yang sombong dengan ilmunya, lalu orang yang sombong dengan ketaqwaanya, seperti apa ya ki......?” Tanya Maula.

“Memang sedikit ‘sulit’ menemukan kesombongan seperti ini Nak Mas, tapi sederhananya begini, ketika dalam sebuah forum diskusi, biasanya masing-masing pihak mengajukan argumen dan dalil berdasarkan ilmu dan pemahaman yang dimilikinya, awalnya diskusi berjalan sehat, tapi tidak jarang ditengah jalan, setan ikut nimbrung dalam diskusi itu, sehingga kemudian konteks diskusi berubah jadi debat, dan dalam debat inilah kemudian muncul ‘keakuan’ dari pihak-pihak yang terlibat, setiap orang mengaku paling benar, setiap pihak mengklaim paling shahih, setiap peserta mengedepankan ‘kelebihannya’, setiap orang mengaku paling ‘mirip’ dengan perilaku Nabi berdasarkan nash dan dalil yang mereka miliki, sehingga sadar atau tidak, mereka seolah-olah ingin mengatakan apa yang membuat iblis terusir, ana khoiru minha.....saya lebih baik darinya....., ini adalah sebuah bentuk kesombongan terselubung yang sangat berpotensi merusak dan menjerumuskan Nak Mas, selain juga berpotensi merusak ukhuwah dan tali silaturahim.......” kata Ki Bijak.

“Ana mengerti sekarang ki, setan memang ‘pintar’ memanfaatkan momentum diskusi seperti itu, sehingga diskusi tidak bermanfaat dan cenderung merusak ya ki....., akan halnya ketaqwaan yang melahirkan kesombongan ki.....? Tanya Maula lagi.

“Orang bijak berkata ‘Dosa dan maksiat yang mengantar pelakunya untuk menyesal dan kemudian mendekat kepada Allah, lebih baik daripada ketaatan yang menjadikan pelakunya ujub dan bangga diri’, dan ini benar adanya Nak Mas, banyak orang yang sudah merasa taat, banyak orang yang sudah merasa shaleh, banyak orang yang sudah merasa taqwa, sehingga lalai dengan bisikan riya yang ditiupkan setan kedalam hatinya, sehingga tak jarang orang yang secara lahiriah sangat rajin kemasjid, sangat rajin sedekah, sangat rajin shaum, menjadi orang yang merugi karena tidak mendapatkan pahala dari amal-amalnya yang tercemari oleh sifat ujub dan sombongnya.....”Kata Ki Bijak lagi.

“Kemudian keserakahan, hal yang membuat Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan dari syurga, juga merupakan hal yang dalam konsep kekinian terbukti dengan sangat nyata, banyaknya pejabat yang harus rela meninggalkan ‘syurga dunia’ kursi empuknya diparlemen atau kabinet, berganti dengan neraka dunia dibalik terali besi penjara, semuanya bermuara dari keserakahan....., ketidakpuasan dan kehausan sebagian kita akan yang namanya dunia, padahal mereka tahu dunia hanya sementara yang pasti akan rusak binasa...............” Kata Ki Bijak lagi.

“Yang ketiga, kemarahan, hal yang menyebabkan Nabi Yunus dihukum Allah....., Nabi pernah diminta berpesan oleh salah seorang sahabat, "Ya Rasulullah, berpesanlah kepadaku." Nabi Saw berpesan, "Jangan suka marah (emosi)." Sahabat itu bertanya berulang-ulang dan Nabi Saw tetap berulang kali berpesan, "Jangan suka marah." (HR. Bukhari), karena memang kemarahan selamanya tidak akan membuat sesuatu menjadi lebih baik, pekerjaan yang dilakukan dengan amarah, hasilnya tidak akan baik, persoalan yang dipecahkan dengan kemarahan, hanya akan menimbulkan kehancuran, dan apapun yang dilandasi dengan kemarahan, akan berujung pada ketidakbaikan…………….” Kata Ki Bijak.

“Dan penyakit lama yang lahir kembali dipenghujung zaman ini adalah kufur, dengki dan dusta, ketiga jenis penyakit ini sudah lama ada dan menjangkiti berbagai umat disepanjang zaman, dan tidak ada satupun umat dalam sejarah yang terjangkiti penyakit ini kemudian memperoleh kemulian, sejarah justru mencatat kehancuran demi kehancuran, kegagalan demi kegagalan, kebinasaan demi kebinasaan menimpa mereka yang mengidap penyakit kufur, dengki dan dusta ini………….” Kata Ki Bijak lagi.

“Ya Allah, jauhkan hamba_Mu ini dari sifat ujub dan takabur, jauhkan hamba_Mu ini dari sifat serakah, jauhkan hamba_Mu ini dari sifat pemarah, dan jauhkan hamba_Mu ini dari sifat kufur, dengki dan dusta, sebagaimana Engkau jauhkan timur dan barat……”

“Ya Allah, dekatkan hamba_Mu ini dengan sifat tawadlu dan rendah hati, dekatkan hamba_Mu dengan qana’ah, dekatkan hamba_Mu ini dengan sifat sabar, dan dekatkan hamba_Mu ini dengan sifat syukur, pemaaf dan jujur, sebagaimana Engkau dekatkan Rasulullah disisi_Mu……..” Kata Maula.

“Amiiin…………”

Wassalam

December 18, 2008

Friday, December 12, 2008

ASSALAMU’ALAIKA YA RASULULLAH......

“Ada apa Nak Mas, kok tampak tegang sekali......” Tanya Ki Bijak demi melihat wajah muridnya yang tampak tegang, seperti orang yang sedang menahan marah.

“Ini ki, tadi ana dapat e-mail kartun penghinaan terhadap Nabi, jahat dan picik sekali ki.............” Kata Maula masih dengan nada kesal.

Ki Bijak tersenyum, “Aki bangga pada Nak Mas, Aki berharap ‘kemarahan’ Nak Mas semata karena Allah dan demi membela kehormatan Rasul_Nya, tapi menurut hemat Aki, kemarahan tidak akan banyak membantu kita Nak Mas untuk menemukan titik jernih dari apa yang sekarang terjadi, kita boleh marah, kita boleh geram, tapi kita pun harus tetap tenang dan bijak untuk menyikapi hal ini.......” Kata Ki Bijak.

“Bagaimana bisa tenang ki, sementara pengecut itu dengan sangat tidak etis menodai kehormatan Nabi......” Kata Maula nampak masih berapi-api.

Ki Bijak tersenyum, dengan wajah teduh dan kata-kata santun, ia kemudian membaca ayat 120 dari surat Al Baqarah;

120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

“Nak Mas masih ingat ayat itu..?” Tanya Ki Bijak sejurus kemudian;

“Ingat Ki………..” Jawab Maula pendek.

“Apa yang Nak Mas dapat tadi, sebagai salah satu bukti & pembenaran terhadap ayat ini, golongan diluar kita, akan selalu berusaha untuk ‘menyibukan’ kita dengan berbagai hal, yang tujuannya tidak lain untuk membelokan kita kearah yang salah….., Nak Mas masih ingat dengan propaganda mereka yang dikenal dengan Ghaswul fikri….?” Kata

“Iya ki..., Ghaswul berasal dari kata Ghuswah yang berarti Serangan, invasi atau serbuan, sementara Fikr adalah Pikiran atau pola pikir, dengan demikian Ghaswul Fikr biasa didefinisikan dengan Penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam guna merubah apa yang ada didalamnya sehingga tidak bisa lagi dibedakan antara Islam dan selainnya, mereka melakukan upaya-upaya Tasykik – Pendangkalan / Peragu-raguan, baik itu pendangkalan akidah, pendangkalan pemahaman hukum dan syariat serta pendangkalan pemahaman terhadap berbagai aktivitas ibadah umat Islam,Tasywih – Pencemaran/Pelecehan,Tadhlil – penyesatan,Taghrib – Pembaratan......” kata Maula singkat.

“Sekarang menjadi jelas, bahwa pelecehan dan pencemaran adalah salah satu program sistematis mereka untuk menggangu konsentrasi umat islam, karena itu Aki menghimbau kepada Nak Mas khusunya, dan kepada saudara-saudara kita yang lain umumnya, untuk dapat berlaku bijak dalam menyikapi hal ini, dengan cara yang pertama hendaknya kita jangan terprovokasi dengan propaganda mereka, tetap tenang, anggap saja hal itu sebagai sampah yang tidak berguna, dan kita tidak perlu mengorbankan energy dan konsentrasi kita untuk hal yang jelas-jelas salah sasaran, kita jauh lebih tahu siapa baginda Rasul dan bagaimana budi pekerti beliau, karenanya apa yang digambarkan itu hanya sekedar coretan orang kurang akal yang tidak perlu kita tanggapi secara berlebihan................” Kata Ki Bijak.

“Yang kedua, kalau Nak Mas mendapat kiriman komik sampah itu, jangan sekali-kali Nak Mas meneruskan dan menyebarkannya, hapus saja, karena semakin banyak kita memforward email yang tidak bertanggung jawab ini, akan semakin banyak orang yang terprovokasi, dan ini tidak baik bagi perkembangan umat kita, kita putus saja mata rantai penyebaran propaganda murahan ini, karena kalau tidak mereka akan merasa menang............” Sambung Ki Bijak.

“Ketiga, maknai dan sikapi hal ini sebagai ujian bagi kita, ujian sejauh mana keimanan kita meyakini kebenaran nubuwah dan risalah yang dibawa Rasul, ujian sejauh mana kita mengenal baginda rasul, kalau kemarin dulu kita tidak atau belum paham betul sifat, karakter dan akhlawa Rasul, maka sudah saatnyalah sekarang ini kita mempelajari, memahami dan meneledani pekerti luhur panutan kita ini, ini juga merupakan batu asah bagi kita Nak Mas, orang lain diluar kita demikian konsen dengan kemuliaan beliau, sehingga mereka merasa perlu untuk mengotorinya, sementara kita sendiri kadang masih belum benar-benar menempatkan beliau pada proporsi yang semestinya......” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, hanya orang mulia saja yang mendapat cobaan untuk dihinakan, karena orang yang biasa saja tidak perlu dikomentari apapun......” kata Maula.

“Meski mereka tidak mengakuinya secara jantan, mereka sebenarnya mengakui kebenaran dan keluhuran islam beserta nabinya, sehingga merasa perlu untuk menjatuhkannya..., hanya sekali lagi mereka tidak memiliki keberanian untuk mengakuinya.....” Kata Ki Bijak.

“Yang keempat, hal terpenting yang harus kita lakukan untuk menjaga kehormatan dan kewibawaan nabi adalah dengan menjalan risalah dan sunnahnya secara benar dan total, dengan cara menghidupkan budi pekerti luhur rasul dalam keseharian kita, sehingga mereka yang ‘masih buta ’ dengan kemulian rasulullah, akan melek dan bisa melihat kebesaran dan keluhuran akhlaq rasul lewat kita umatnya, insya Allah, jika kita yang mengaku umat rasul ini shalatnya tepat waktu, berjamaah nya istiqomah, tadabur dan tadarus al qur’annya jalan, jujur, amanah, tabligh dan cendekia, mereka yang akan menistakan nabi berpikir seribu kali untuk menemukan celah yang dapat mengotori keluhuran nabi kita..........” kata Ki Bijak lagi.

“Jadi sebenarnya kita yang belum menjalankan dan mengamalkan risalah dan sunnah rasul juga ‘ikut berperan’ mendorong munculnya kasus semacam ini ya ki.......” Kata Maula.

“Setidaknya kita belum memberikan gambaran yang jelas tentang sosok Rasul agung itu, sehingga mereka yang memang sudah membencinya, semakin bernafsu untuk menistakannya..., kalau saja umat islam ini mampu menampilkan akhlaq dan keteladanan nabi dalam kesehariannya, niscaya mereka akan malu pada kita, kalau umatnya saja sudah sedemikian baik, apalagi rasulnya......., dan untuk ini kita masih harus berusaha lebih keras lagi, sehingga kelak dikemudian hari, figur-figur teladan yang menghidupkan akhlaqul karimah ala rasul lahir dan tumbuh subur dikalangan umat kita................” kata Ki Bijak lagi.

“Bagi kita, cukup jaminan dari Allah bahwa baginda rasul adalah sosok pilihan yang berbudi pekerti agung, yang tidak mungkin melakukan hal-hal hina yang mereka tuduhkan....” Kata Ki Bijak sambil membaca surat Al Qalam;


1. Nun[1489], demi kalam dan apa yang mereka tulis,
2. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.
3. Dan Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
4. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.


”Hhhhh, ana sedikit tenang sekarang ki.....................” kata Maula sambil menarik nafas dalam dalam, ia mengulang-ulang kalimat gurunya, bahwa untuk menjaga kehormatan dan kewibawan Rasul tidak hanya dengan marah dan memaki balik orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu, tapi dengan berupaya menunjukan akhlaq mulia rasul, dengan shalat tepat waktu, dengan tadabur al qur’an, dengan sikap jujur, sikap amanah, tabligh dan fathonah, dengan mengedepankan kasih sayang, dengan mengedepankan keluhuran budi pekerti yang agung......

Tiba-tiba air bening mengalir dipipi Maula, membayangkan bagaimana manusia agung itu menghadapi hujatan, cacian dan bahkan lemparan batu kearahnya, beliau tetap sabar, teguh dan berlaku bijak…,

“Seperti ketika beliau dilempari batu di thaif, beliau justru mendoakan orang yang melemparinya agar memperoleh hidayah dari Allah….”

“Seperti ketika beliau dicaci maki oleh yahudi buta, beliau justru memberi makan dan menyuapi orang yang mencacinya…….”

“Ya Rasul, keagunganmu abadi, takkan lekang oleh cacian, kemulianmu takkan luntur oleh hinaan, engkau tetap rasul mulia, manusia pilihan sepanjang zaman, assalamu’alaika ya rasul…………….” Panjatnya kemudian.

Wassalam

December 12, 2008

Thursday, December 11, 2008

JUJUR, SEBUAH MUTIARA ZAMAN


“Nak Mas masih ingat dengan kisah seorang arab badui yang menghadap Nabi untuk masuk Islam, tapi ia mengajukan syarat..? Tanya Ki Bijak, menyikapi pertanyaan Maula, apa yang harus ‘ada’ pada setiap diri mereka yang mendambakan kebaikan.

“Iya ki, kisah itu syarat dengan muatan dan penuh hikmah, dimana ketika seorang arab badui hendak masuk Islam, ia menghadap Rasulullah SAW, dan meyatakan diri ingin masuk agama Islam. Namun si arab badui ini mengajukan syarat, ia mau masuk Islam tapi tidak mau meninggalkan kebiasaan (buruk) lamanya seperti berzina, minum-minuman keras dan mencuri……..”Kata Maula.

“Lalu…………?” Tanya Ki Bijak memancing

“Rasulullah SAW dengan ramah dan bijaksana ‘memperbolehkan’ orang tersebut masuk Islam, tapi dengan syarat juga yaitu ia harus "jujur" serta bersedia sholat berjamaah di masjid, Si Arab Badui setuju dan menerima syarat yang ia anggap sangat mudah dari Rasulullah, hanya ‘jujur’ dan ‘shalat berjamaah’ dimasjid, sesuatu yang sangat mudah pikirnya, kemudian ia terima dengan gembira, dan sejak itu resmilah ia menjadi seorang muslim……”

“Setiap usai sholat berjamaah dan pemberian pelajaran tentang Islam si arab badui tersebut selalu ditanya aktivitas kesehariannya, maka ia pun dengan jujur menjawab bahwa ia masih melakukan kebiasaan lamanya, ia tidak bisa berbohong sebab ia telah berjanji untuk jujur, dan singkat cerita, dengan konsisten (istiqomah) mengamalkan "jujur", seorang arab badui akhirnya berhasil meninggalkan kebiasaan (buruk) lamanya sehingga ia sukses menjadi muslim sejati………" Tambah Maula.

“Yang harus Nak Mas garis bawahi adalah; seseorang yang istiqomah mengamalkan sikap ‘jujur’, pada akhirnya berhasil meninggalkan kebiasan buruknya’……, yang dalam hemat Aki, sikap jujur dan shalat berjamaah dimasjid, merupakan syariat yang dapat mengarahkan seseorang pada jalan yang lurus dan benar…….” Kata Ki Bijak.

“Sayangnya, ‘kejujuran’ akhir-akhir ini menjadi ‘barang langka’ dan sulit kita temukan disekitar kita, kalau dalam cerita tadi, orang yang belum bisa shalat, tapi ia jujur, maka ia bisa menjadi orang baik, sekarang ini yang terjadi justru sebaliknya, banyak orang yang secara lahiriah sudah bisa shalat, tapi mereka belum bisa ‘jujur’, sehingga shalatnya belum mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar…….” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, seperti apa orang yang shalat, tapi belum jujur itu ki….?” Tanya Maula

“Ketika kita berdiri shalat, kemudian kita mengangkat tangan sambil mengucap ‘Allahu Akbar’, sebagai pengakuan lisan kita atas ke Maha Besaran Allah, tapi ternyata tidak semua kita berlaku sama dengan pengakuan lisan kita tersebut, kita masih sering lebih mementingkan hal lain selain Allah, kita lebih mementingkan atasan, kita lebih mementingkan pekerjaan, dan bahkan kita lebih mementingkan panggilan handphone dari pada panggilan Allah lewat kumandang adzan…, Aki sering lihat bagaimana seorang pengendara sepeda motor berhenti seketika manakala handphonenya berdering, tapi Aki lebih sering lagi melihat para pengendara motor tetap melajukan kendaraannya meski kumandang adzan mengiang dari masjid yang tepat berada disisinya, ini sebuah indikasi ketidak jujuran kita terhadap apa yang kita ucapkan, ini adalah sebuah dusta…………”

“Kemudian, setiap kali kita membaca do’a iftitah, kita berikrar ‘inna shalati wa nusuki wama yahya wamamati lillahi rabbil’alamin’….., tapi ternyata masih banyak diantara kita yang shalatnya hanya sekedar pamer dan riya, masih banyak diantara kita yang hidupnya diabdikan untuk kepentingan nafsu dan dunianya, masih banyak diantara kita yang rela mati bukan untuk Allah, ini juga sebuah indikasi kita belum bisa jujur, ini adalah sebuah dusta……”

“Selanjutnya, kita membaca Iyyakana’ budu wa iyya kanatsta’in…..’ tapi ternyata masih banyak diantara kita yang kemudian menyembah dan meminta pertolongan pada orang pintar, pada dukun, pada paranormal, bahkan ada yang terang-terangan bersekutu dengan jin dan setan demi kepentingan nafsunya, ini adalah indikasi ketidak jujuran, ini adalah sebuah dusta…..’

‘Dan ketika kepada Allah saja kita berani tidak jujur, ketika shalat saja tidak jujur, ketika pada diri kita saja sudah tidak jujur, bagaimana kita bisa berharap dari orang semacam ini untuk bisa jujur dalam pekerjaan, bagaimana kita bisa berharap pada orang semacam ini untuk jujur dalam mengelola jabatan, bagaimana kita bisa berharap pada orang semacam ini untuk bisa mengemban amanah dan tidak korup diberbagai bidangnya…………’ kata Ki Bijak panjang lebar.

Maula diam, menyimak apa yang barusan dikatakan gurunya, “Mungkinkah sekarang ini telah terjadi krisis kejujuran ki…..?” Guman Maula sejurus kemudian.

“Aki tidak terlalu paham ada tidaknya krisis kejujuran terjadi saat ini, tapi dari fenomena yang terpampang didepan mata kita, rasanya kita harus legowo untuk mengakui bahwa memang adanya sebuah ‘kemunduran’ pada sebagian kita untuk mengamalkan sikap jujur, dan kemerosotan sikap jujur inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab penting menjamurnya berbagai persoalan yang sedang berkembang saat ini, ada demo karyawan kepada perusahaan, karena karyawan menilai perusahaan telah berlaku tidak jujur dalam laporan keuntungan perusahaan misalnya….,

“Sebaliknya, banyak kantor yang harus memasang kamera CCTV disetiap ruangannya, karena mensinyalir ada karyawan yang tidak jujur, baik itu dalam pekerjaan atau tidak amanah dalam mengelola asset perusahaan…;

“Pun ada banyak istri yang tidak percaya lagi argument suaminya, karena mungkin sudah sering kali suaminya tidak jujur, sebaliknya sang suami menjadi orang yang mudah curiga terhadap istrinya, semuanya diakibatkan oleh adanya ketidak jujuran, baik itu secara langsung atau tidak….’ Kata Ki Bijak.

“Iya ki, banyak sekali fenomena seperti itu, bahkan dalam keseharian, ada banyak orang yang tidak mampu bersikap jujur pada dirinya sendiri, seperti misalnya memaksakan diri untuk ikut trend dan mode, padahal kemampuannya tidak menunjang untuk itu, ada juga orang yang memaksakan harus bawa handphone bermerk, kendaraan bagus, meski untuk itu ia harus menipu dirinya sendiri, denga berhutang, dengan pinjam kiri kanan, bahkan ada yang rela menggadaikan kehormatan dan harga dirinya hanya untuk dapat tampil oke dimata orang lain……..” kata Maula.

“Dan bahaya terbesar dari dusta ini adalah akan lahirnya dusta-dusta susulan, misalnya sekali waktu kita berkata tidak jujur pada istri, kita cenderung akan melakukan dusta berikutnya untuk menutupi dusta kita yang dulu, begitu seterusnya, dusta selamanya akan mengantar seseorang pada jurang kehancuran, karena itu pelihara mutiara kejujuran kita senantiasa, karena dengan kejujuran itulah seorang Abu Bakar demikian istimewa dimata para sahabat, bahkan Baginda Rasul pun dikenal karena perilakunya yang jujur lagi terpercaya, sehingga beliau mendapat gelar Al Amin, jauh sebelum beliau diangkat jadi rasul…..” Kata Ki Bijak lagi.

“Jadi salah satu keteladanan dari rasul adalah sikap jujur dan terpercaya ya ki…..” Kata Maula.
“Benar Nak Mas, sifat utama Rasul adalah Shidiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah, maka barang siapa mengaku umatnya, dan mengaku ahli sunnahnya, maka bersikap Jujur adalah sesuatu yang mutlak harus ada pada dirinya, bohong besar orang mengaku ahli sunnah tapi masih gemar berdusta, bohong besar orang yang mengaku ahli hadits, tapi mengingkari sifat utama rasul, yaitu jujur, terpercaya, terbuka dan cendekia……” Kata Ki Bijak.

“Kejujuran…..ibarat mutiara zaman ya ki…..” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, kejujuran, dari dulu hingga sekarang dan sampai kapanpun tetap akan menjadi pelita penerang disetiap zaman, kejujuran akan tetap berkilau ditengah tumpukan kebohongan, kejujuran akan tetap benderang ditengah gulita kemunkaran, karena kejujuran memang mutiara disetiap zaman, dan dizaman kita sekarang ini, kita kekurangan banyak sekali orang-orang jujur…….” Kata Ki Bijak seperti berpuisi.

“Iya ya ki, kalau sarjana, setiap tahun diwisuda, kalau orang pintar, banyak sekali sekolah keahlian, tapi sekolah kejujuran, sepertinya belum ada ya ki…….” Kata Maula.

“Mungkin baru ada Kantin Kejujuran Nak Mas, yang beberapa waktu lalu diujicobakan diberbagai sekolah untuk melatih kejujuran sejak dini, sebuah niatan positif, dan semoga ini tidak hanya kamuflase untuk menutupi ketidak jujuran yang lebih besar……..” kata Ki Bijak lagi.

“Kantin Kejujuran, hmmmh, kenapa kita tidak mencoba membuat kampong kejujuran, atau organisasi kejujuran atau group kejujuran ya ki…….?” Kata Maula seperti dapat inspirasi.

“Bisa juga, Nak Mas bisa membentuk dan memprakarsai kelompok kejujuran, misalnya dengan teman-teman Nak Mas satu kantor, atau teman-teman Nak Mas satu mobil ketika berangkat dan pulang kerja, bisa mulai dengan berbicara dan mengatakan sesuatu hanya yang benar saja, terus lakukan secara istiqomah, insya Allah akan banyak bermanfaat untuk Nak Mas dan teman-teman semuanya….” Saran Ki Bijak.

“Insya Allah ki, semoga ana bisa memulai jujur kepada Allah dan kepada diri sendiri sejak sekarang ya ki…..” Kata Maula.

“Amiin…..”

Wassalam
December 11, 2008