Monday, October 29, 2007

MALAS, SEBUAH POTENSI KEMUNKARAN

“Ki, Aki sudah dengar adalah kelompok Islam baru yang katanya memiliki nabi sendiri.............?” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, Aki beberapa hari lalu mendengar berita yang sedang santer diberbagai media, meski Aki belum terlalu jelas siapa dan bagaimana eksistensi kelompok itu..........” Kata Ki Bijak.

“Iya Ki, sekarang malah makin ramai, karena sebagian umat Islam ramai-ramai ‘menangkapi’ anggota kelompok itu, karena pengakuan pemimpinnya sebagai nabi baru, serta beberapa ajarannya yang dinilai sangat menyimpang atau bahkan bertentangan dengan ajaran Islam secara umum............”Kata Maula.

“Yaah, seperti itulah kondisi umat sekarang Nak Mas, sebagaian mereka terlalu bangga dengan kecerdasan dan rasio mereka, bahkan cenderung men-tuhan-kan logika mereka secara membabi buta, menurut Aki...........” Kata Ki Bijak.

“Ki, Kenapa banyak orang yang dengan ‘mudah’ terperangkap dan mengikuti ajaran yang belum jelas juntrungannya, seperti tidak perlu shalat, tidak perlu shaum, dan tidak perlu haji, padahal kalau lihat berita ditelevisi kemarin, sebagian besar dari anggota kelompok itu orang-orang yang intelek dan berdasi........?” Tanya Maula heran.

“Aki tidak tahu persis kenapa hal itu terjadi, namun dari sudut pandang Aki, apa yang terjadi sekarang ini adalah sebuah kulminasi fenomena yang sudah lama terjadi dimasyarakat kita Nak Mas.........” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya Ki.......?” Tanya Maula.

“Aki melihat pesatnya perkembangan kelompok-kelompok sejenis ini, bukan karena ‘kehebatan’ pemimpin mereka dalam merekrut jamaahnya dengan paham dan ajarannya, tapi lebih pada ‘kepintaraan’ mereka dalam memanfaatkan momentum ......” Kata Ki Bijak

“Momentum apa ki..........?” Tanya Maula penasaran.

“Nak Mas perhatikan disekitar kita, betapa banyak ‘orang yang mengaku islam’, tapi kemudian tidak shalat, atau kalaupun shalat pilih-pilih waktu dan kepentinganya yang diukur dengan nafsunya.....”,

“Ada lagi ‘orang islam’ yang tidak zakat, atau kalaupun zakat hanya karena pamrih dan riya...”,

“Lalu ada ‘orang Islam’ tidak shaum, atau kalaupun shaum lebih banyak mengeluhnya, buang-buang uang kalau pergi haji katanya, Nah ditengah kondisi umat yang seperti ini, akan sangat mudah bagi seseorang untuk menggelincirkan umat kedalam jurang kesesatan...........”

“Mereka yang memiliki kepentingan untuk menjerumuskan mereka, sebut saja kelompok-kelompok tadi, hanya perlu sedikit tenaga untuk ‘memoles’ rasa malas dan enggan yang memang sudah ada pada sebagian orang menjadi sebuah doktrin, bahwa islam tidak perlu shalat, tidak perlu zakat, tidak perlu shaum, dan orang-orang yang memang memiliki potensi ‘kemalasan dan keengganan’ untuk melaksanakan ajaran Islam secara penuh, menyambut seruan ini dengan tangan terbuka, karena mereka merasa mendapat ‘legitimasi’ atas argumen-argumennya untuk meninggalkan shalat, mengingkari zakat atau melalaikan shaum dan haji, end toh di KTP mereka masih berstatus Islam.............” Kata Ki Bijak.

“Jadi secara de facto, orang-orang semacam itu sudah ada ya ki..........” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, secara de facto, orang islam yang malas shalat, dengan mengatakan shalat tidak lebih dari ritual dan gerakan senam, orang islam yang enggan zakat, orang islam yang takut shaum, orang islam yang alergi haji sudah ada jauh sebelum kelompok yang sekarang ramai diberitakan itu memaklumkan dirinya dengan nama dan gaya baru...............” Kata Ki Bijak.

“Betapa berbahayanya sifat malas itu ya ki.............” Kata Maula.

“Bahkan sangat-sangat berbahaya, karena pada kondisi kronis, sifat malas ini sangat berpotensi untuk menjerumuskan kita pada jurang kemusyrikan, seperti terjadi pada sebagian orang, Naudzubullah...........” Kata Ki Bijak.

“Ki, bagaimana awalnya sifat malas ini terbentuk...........?” Tanya Maula.

“Aki bukan ahli psikologi atau ahli kejiwaan yang pandai menilai perilaku seseorang, dan kalau Aki mengatakan bahwa sifat malas ini terbentuk dari ‘kebiasaan kita menunda’, itu lebih pada pemahaman Aki yang memang terbatas Nak Mas.........” Kata Ki Bijak.

“Kebiasaan menunda sebagai proses awal terbentuknya sifat malas ki..........” Tanya Maula.

“Itu menurut Aki Nak Mas, contoh kecilnya begini, kebiasaan kita menunda dan mengakhirkan shalat dengan berbagai dalih, karena sibuk, karena ada pekerjaan penting, nanti saja karena waktu masih panjang, karena ngantuk, karena lelah, dan berbagai dalih lainnya, yang berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, secara langsung atau tidak, akan mendidik kita untuk memiliki sifat malas ini, karena seperti kata orang, kebiasaan adalah sifat kita yang kedua, karenanya Nak Mas harus sangat berhati-hati untuk mengulur dan menunda waktu shalat, kecuali memang ada udzhur yang dibenarkan syara’..........” Kata Ki Bijak.

“Atau kebiasaan kita melalaikan zakat, aah nanti saja, aah belum waktunya, aah masih sedikit, secara tidak sadar akan menjadi ‘racun’ yang akan mengaliri jasmani dan rohani kita dengan kemalasan, pun demikian dengan menganggap enteng shaum dengan meng-qhada-nya tanpa alasan yang benar, akan sangat berpotensi menjadikan kita seorang pemalas, dan ingat, kemalasan merupakan sebuah potensi yang sangat besar untuk menjerumuskan kita pada kemunkaran.............” Kata Ki Bijak.

“Hingga dalam sebuah hadits Rasulullah mengajarkan do’a kepada kita untuk berlindung dari sifat malas ini, salah satu alasannya karena potensi bahaya diatas....” sambung Ki Bijak sambil mengutip sebuah hadits;
Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kedukaan. Aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan rasa malas". Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil. Dan aku berlindung kepada-Mu dari banvak hutang dan kezhaliman manusia."

“Ternyata sifat malas yang sering kita anggap kecil itu bahayanya besar sekali ya ki.............” Kata Maula.

“Tidak ada bahaya yang besar kalau kita berlaku hati-hati, sebaliknya, tidak ada bahaya yang kecil kalau kita ceroboh dan sembrono, dan ini berlaku dalam hal apapun dalam kehidupan kita...........” kata Ki Bijak.

“Apa yang harus kita lakukan untuk menyikapi fenomena maraknya ajaran-ajaran baru seperti sekarang ini, ki..........” Tanya Maula.

“Pertama, tingkatkan kehati-hatian kita untuk ikut suatu kegiatan yang kita tidak tahu latar belakang dan misinya, seyogyanya kita memilih orang atau sumber-sumber yang sudah terpercaya, jangan mudah terpengaruh dengan hal-hal baru yang banyak ditawarkan oleh banyak pihak........”

“Kedua, laksanakan amal agama sesuai dengan qur’an dan sunnah, jangan berdasarkan doktrin golongan atau aliran tertentu dengan penuh kesungguhan, hindari rasa malas yang berlebihan dalam mengamalkan ajaran agama........”

“Ketiga, tambah ilmu dari sumber-sumber yang terpercaya, agar kita tidak mudah terprovokasi dengan berbagai tawaran yang seolah-olah akan menyelamatkan kita, tapi sesungguhnya tipu daya setan belaka.....”

“Keempat, cobalah mulai banyak berdiskusi dengan hati kita, jangan hanya mengandalkan rasio dan logika yang kadang justru menjauhkan kita pada tujuan yang benar........, berpikir kritis boleh, tapi harus dengan ilmu yang benar, tanyakan pada orang yang lebih mengerti dari kita, kalau kita menemukan hal-hal kira-kira asing bagi kita, jangan memaksa untuk menyimpulkan sendiri kalau kita memang tidak tahu ilmunya.........”

“Selanjutnya bertawalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh, mohon perlindungan dari-Nya agar kita terhindar dari tipu daya dajjal dan fitnah-fitnahnya............” Kata Ki Bijak.

“Allahuma ‘audubika min fitnatidunyaa wal fitnatill akhiraa, wa fitnati dajjal................” Kata Maula pelan.

“Amiin............ “ Timpal Ki Bijak.

Wassalam
October 29, 2007

No comments:

Post a Comment