Tuesday, February 20, 2007

GAJAH

Ada beberapa orang yang mengenakan tutup mata, kemudian mereka ditanya tentang gajah oleh seseorang lainnya;

“Gajah adalah binatang yang tinggi menjulang seperti batang pohon kelapa” Jawab Si A, yang memegang kaki gajah.

“Gajah adalah binatang yang tipis dan lebar” Jawab Si B, karena yang ia pegang telinga Gajah.

“Gajah adalah binatang yang kecil menjuntai seperti ular” Jawab Si C, karena yang ia pegang adalah ekornya.

Begitupun dengan beberapa orang lainnya yang mendefiniskan Gajah hanya sesuai dengan apa yang dipegangnya.

Apakah mereka salah semua? Atau Apakah mereka benar semua?

Jawabannya bisa jadi mereka benar semua, ketika mereka menilai dan memberikan definisi Gajah secara subjektif, menurut pendapat mereka semata.

Jawabannya bisa jadi mereka salah semua, karena kita semua tahu bahwa yang mereka lukiskan adalah “hanya” bagian dari Gajah, bukan Gajah secara utuh.


Islam adalah agama yang sempurna, yang mungkin hanya Nabi Muhammad sendiri yang memahami Islam secara benar dan utuh. Setelahnya mungkin kalangan sahabat utama yang mengetahui Islam dengan relatif utuh dan benar, setelahnya lagi, semakin beragam tingkat pemaham dan kadar cakupan umat Islam terhadap ajaran Islam secara utuh.

Seperti gambaran gajah diatas, ada sebagian orang mungkin dikarunia Allah kemampuan dalam bidang syari’at yang sangat mumpuni, tapi disisi lain mereka memiliki kekurangan. Ada sebagian orang mungkin dikarunia Allah dengan pemahaman Hakekat yang memadai, tapi disisi lain mereka kurang.

Itulah indahnya perbedaan, mereka, golongan yang memahami syari’at yang mumpuni akan menjadi lebih lengkap, jika mereka duduk bersama seiring sejalan dengan orang-orang yang memiliki kelebihan dibidang lain. Pun sebaliknya, Hakekat saja, tanpa disertai syari’at, juga belum merupakan sebuah ke benaran hakiki.

Yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan adalah justru “pemaksaan kehendak” terhadap suatu pendapat. Ketika ada orang lain yang berbeda pendapat dengan kita, serta merta mereka menjadi “orang lain” bagi kita, bahkan dalam tataran ektrim kita dengan gampang mengkafirkan mereka, hanya karena mereka tidak sepaham dengan kita.

Bayangkan jika setiap orang dalam analogi diatas berantem karena mempertahankan pendapatnya tentang gajah hanya menurut versi mereka, orang-orang yang”melek” akan terpingkal-pingkal dibuatnya, orang yang tidak senang bertepuk tangan karena kebodohan mereka.

Dan ironisnya itu pernah atau masih sering terjadi dikalangan umat ini, gontok-gontokan, saling membid’ahkan, saling mengkafirkan golongan-golongan lain yang tidak seide dengan mereka, Yahudi tertawa, Nasrani bertepuk tangan, sementara kita akan menjadi bahan tontonan dan lelucon yang tidak lucu.

Seandainya orang-orang dalam analogi diatas mau membuka penutup matanya, niscaya mereka akan terkejut dan malu, bahwa gajah yang selama ini mereka definisikan, juah lebih besar dari yang mereka duga selama ini.

Kadang kita memang menutup mata kita terhadap ilmu dan pendapat orang lain, kita cenderung lebih dulu memvonis sebelum kita melihat segalanya secara menyeluruh atau bahkan penilaian kita kadang didasarkan pada penilaian subjektif, karena tidak suka terhadap orangnya, tidak suka terhadap pendapatnya yang tidak sejalan dengan kita, terlepas dari pendapat itu benar atau salah.


2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah[389], dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram[390], jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya[391], dan binatang-binatang qalaa-id[392], dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya[393] dan apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum Karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Al Maidah:2)


Tidak adil namanya, kalau kita mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh kaum atau goongan yang kita benci semuanya salah.

Tidak adil namaya, kalau karena kita suka terhadap seseorang, meskipun apa yang dilakukan dan dikatakannya berseberangan dengan kebenaran, kita “keukeuh” mati-matian membela dia.

Adil adalah proporsional, mungkin ada yang benar diantara yang salah, dan ada yang salah diantara yang benar, yang benar-benar sudah jelas salahnya adalah Syetan (termasuk golongan dan definisinya).

Tak perlu disebutkan dalam hal mana saja kita kerap terlibat “debat kusir” yang tak berujung pangkal hanya demi mempertahankan pendapat kita. Kadang kita lupa bahwa mungkin kita baru tahu dan baru bisa memegang “kaki gajah” atau “telinganya saja.

Ilmu, pengetahuan, wawasan dan pandangan kita belum mencukupi untuk melihat gajah secara utuh, ditambah kebiasaan kita yang selalu mengenakan “penutup mata” sehingga ilmu, wawasan dan pengetahuan luar akan “mentok” dan tidak bisa masuk kedalam ruang perbendaharaan ilmu kita.

Buka tutup mata kita, lihatlah, gajah akan jauh lebih dari sekedar yang kita pegang selama ini. Buka mata hati kita, lihatlah keindahan Islam disana, ada perbedaan yang menjadi rahmat, persamaan yang menjadi pemersatu, ada syari’at, ada hakekat, ada ahli fiqih, ada ahli hikmah, ada banyak persamaan yang bisa kita kedepankan, daripada kita berkutat dikubangan perbedaan semu.

Menyatakan sesuatu yang bathil menurut Allah, Al Qur’an dan Sunnah Rasul adalah bathil, itu wajib, tapi sekali lagi ingat, dengan paramater Allah, Al Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan dengan Fanatisme Golongan, Ego Pribadi atau demi kepentingan sesaat.

“Ya Allah, tunjukan kepada kami yang benar adalah benar, dan berikan kami kemampuan untuk melaksanakannya, “Ya Allah tunjukan kepada kami yang bathil adalah bathil, dan berikan kami kekuatan untuk menjauhinya”

Tidakkah do’a ini menyadarkan kita, bahwa kita tidak memiliki kemampuan untuk menentukan mana yang haq dan mana yang bathil, kecuali dengan rahmat dan izin Allah.

Mari kita retas persamaan untuk menjadi umat yang satu padu, layaknya pelangi di langit sana, berbeda warna, tapi justru dengan perbedaan itulah pelangi nampak indah dan sedap dipandang mata,

Kita kesampingkan “perbedaan khilafiyah” agar tak lagi Yahudi dan Nasrani tertawa karena kebodohan kita.

Wassalam

February 20, 2007

Monday, February 19, 2007

KATAKAKEKKU

“Suatu saat, kamu akan mengalami sebuah zaman dimana orang-orang menjadi tuli, orang-orang menjadi buta, dan orang-orang menjadi lumpuh, dan mati rasa”

Kalimat diatas adalah kata-kata yang keluar dari mulut kakek dalam sebuah obrolan keluarga beberapa tahun silam.

Sederet pertanyaan muncul demi mendengar penyataan yang “aneh” dari kakek; “Sebuah zaman dimana orang-orangnya menjadi tuli, menjadi buta dan lumpuh serta orang-orangnya mati rasa” zaman apakah itu?.

Kakek tidak pernah bisa menjelaskan secara explisit makna ucapannya, beliau hanya tersenyum sambil menjawab “Nanti kamu tahu sendiri jawabannya”, itu saja penjelasan kakek.

Dizaman kakek dulu, adzan dikumandangkan dari surau-surau tanpa menggunakan loudspeaker, paling banter panggilan shalat itu ditingkahi dengan pukulan beduk atau kentongan, end toh orang-orang yang dari sawah dan ladang bersegera berhenti bekerja dan bergegas kesurau untuk melaksanakan shalat.

Meskipun telinga mereka tidak “mendengar” panggilan adzan dan kentongan yang memang jauh dari ladang dan sawah mereka, tapi hati mereka “mendengar” panggilan dan seruan Allah itu, mereka cukup mendongak keatas, manakala matahari tepat diatas ubun-ubun mereka, saat itulah waktu dhuhur tiba. Begitu pun saat Ashar yang mereka tengarai dengan matahari yang telah condong ke arah barat, mereka bergegas kembali untuk menghadap sang ilahirabbi.

Kini dizaman cucunya, hampir setiap musholla dan masjid dilengkapi dengan sound system yang canggih, menara pengeras suara yang tinggi, yang memungkinkan suara adzan yang dikumandangkan terdengar dari berbagai penjuru dengan daya jangkau dalam radius ratusan meter.

Tapi kenyataannya sekarang, kita yang rumahnya disekitar masjid atau musholla, kita yang kantornya bersebelahan dengan masjid dan musholla, seperti tidak mendengar lengkingan suara adzan dengan menggunakan sound system yang harganya puluhan juta, kita seolah-olah “tuli”, sehingga panggilan adzan dari kiri kanan kita yang saling bersahutan memanggil, tidak terdengar sama sekali.

Benar katamu kek, dizaman cucumu ini, sudah banyak orang “tuli” yang tidak bisa mendengar suara adzan!!!

Dahulu dizaman kakek, orang-orang lebih banyak menggunakan tanda dari matahari sebagai tanda sudah masuk waktu shalat, karena jam tangan atau jam dinding masih merupakan barang mewah dan mahal, sehingga sebagian orang saja yang memiliki dan mengenakannya, tapi toh mereka hampir tidak pernah tertinggal untuk shalat berjamaah dan shalat tepat pada waktunya.

Sekarang dizaman cucunya, hampir setiap orang mengenakan jam tangan dengan berbagai merek dan harga yang mahal, dihandphone pun disetting agar muncul tanda waktu pukul berapa, dikomputerpun ada petunjuk waktu, jam dinding berserakan dikanan kiri tempat kita berada, tapi justru kenapa setelah sekian banyak jam dan petunjuk waktu ada disekitar kita, kita malah tidak dapat melihatnya?

Kita seolah-olah “buta” dengan jarum dan angka angka dijam tangan kita. Untuk apa kita pakai jam tangan kalau bukan untuk mengetahui waktu? Lalu kenapa kalau kita tahu pukul +/- 12.00 itu waktu shalat dhuhur kita seperti orang yang tidak bisa baca jam?

Benar katamu kek; dizaman cucumu ini sudah banyak orang yang tidak bisa melihat, sudah banyak orang yang buta, sehingga tidak bisa melihat jam tanggannya yang sudah menunjukan waktu shalat.

Dahulu dizaman kakek, lebih banyak orang yang bekerja diladang atau sawah yang cukup jauh dari rumah dan tempat-tempat ibadah, mencangkul dan menggali tanah untuk bercocok tanam, tapi justru mereka menjadi orang-orang yang sehat dan kuat dan mereka tetap berusaha untuk bisa shalat tepat waktu dan berjamaah.

Kini dizaman cucunya, orang lebih banyak bekerja dikantor, didepan komputer. Mungkin karena kebiasaan mereka yang duduk berlama-lama didepan komputer itulah mereka menjadi “lumpuh”, sehingga ketika waktu shalat tiba, mereka tidak segera beranjak meninggalkan tempat kerjanya, tidak segera melepaskan mouse ditengah asyik browsingnya, pada entah apa yang sedang mereka browsing, keasyikannya itu, telah membuatnya seolah “lumpuh” untuk segera bergegas menuju tempat shalat.

Benar katamu kek; dizaman cucumu ini, sudah banyak orang yang lumpuh, sehingga mereka tak mampu lagi berjalan kemasjid untuk menunaikan shalat berjamaah”

Dizaman kakek dulu, ketika ada tetangga yang sakit atau meninggal, hampir satu kelurahan menjenguk, dizaman kakek dulu, ketika ada orang yang ditimpa kesulitan, hampir semua orang ramai-ramai membantu, dizaman kakek dulu, hampir semua orang merasakan apa yang dirasakan tetangga dan saudaranya.

Dizaman cucunya sekarang, ada teman sekantor yang tidak masuk selama seminggu pun, kita seperti tak pernah merasa kehilangan, ketika ada yang keluarpun biasa-biasa saja, tak peduli keluarga kawan kita bagaimana, tak peduli anak rekan kita seperti apa, toh mereka hanya sekedar “teman”.

Rasa simpati dan empati sebagai dasar lahirnya rasa cinta dan kekeluargaan sudah sedemikian menipis, sehingga hubungan antara sesama tak lebih dari sekedar hubungan kerja, hubungan bisnis, hubungan antara atasan dan bawaha, hubungan boss dan jongosnya, hubungan majikan dengan kacungnya, tidak lebih. Tidak ada lagu “rasa” yang menyertai hubungan-hubungan itu.

Benar katamu kek; dizaman cucumu ini sudah banyak orang yang mati rasa, mati rasa cintanya, mati rasa pedulinya, mati rasa empatinya, mati rasa kebersamaannya”.

46. Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj:46)

Wassalam

February 19, 2007

ADUH SAYANG

“Eman-eman temen wong ayu ora sembahyang” 2x
“Siti Aisah luwih ayu ya sembahyang” 2x

“Eman-eman temen wong kasep orang sembahyang” 2x
“Nabi Yusuf luwih kasep ya sembahyang” 2x

“Eman-eman temen wong pinter ora sembahyang” 2x
“Nabi Musa luwih pinter yang sembahyang” 2x

“Eman-eman temen wong sugih ora sembahyang” 2x
“Nabi Sulaiman luwih sugih yang sembahyang” 2x

“Eman-eman temen wong gagah ora sembahyang” 2x
“Nabi Daud luwih sugih ya sembahyang” 2x

Syair diatas adalah “puji-pujian” yang biasa dilantunkan setelah kumandang adzan, biasanya untuk menunggu jamaah atau imam, yang dalam bahasa Indonesia kira-kira bararti begini;

“Aduh-aduh sayang yang cantik tidak sembahnyang”
“Siti Aisah lebih cantik ya sembahyang”

“Aduh-aduh sayang yang tampan tidak sembahyang”
“Nabi Yusuf lebih tampan ya sembahyang”

“Aduh-aduh sayang orang pinter tak sembahyang”
“Nabi Musa lebih pinter tetap sembahyang”

“Aduh-aduh sayang orang kaya tidak sembahyang”
“Nabi Sulaiman lebih kaya tetap sembahyang”

“Aduh-aduh sayang orang gagah tidak sembahnyang”
“Nabi Daud lebih gagah tetap sembahyang”

Siti Aisah, Ummul Mukminin, adalah satu istri baginda Rasul yang kecantikannya konon sangat mempesona. Pipinya yang senantiasa ranum memerah menjadi salah satu alasan baginda Rasul memanggilnya dengan “Ya Humairah”, wahai yang kemerah-merahan” , disamping beliau juga dikenal sebagai pribadi yang luhur budi dan berahlak mulia, end toh beliau tetap teguh menjalankan shalat sebagai salah satu kewajibannya sebagai seorang muslimah.

Adakah saudariku (yang belum shalat) lebih cantik dan Siti Aisah? Kalaupun benar saudariku lebih cantik dari beliau, tidak lantas kewajiban untuk melaksanakan shalat saudari gugur, belum lagi amal ibadah dan aklaq saudari jelas-jelas masih beberapa level dibawah beliau. Idealnya, kalau Siti Aisah saja shalatnya demikian hebat, apalagi para wanita akhir zaman, harusnya bisa meneladani apa yang telah Ummul Mukminin Siti Aisah contohkan.

Nabi Yusuf, adalah nabi yang ketampanannya mampu menghipnotis setiap wanita dizamannya;

31. Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), Kemudian dia Berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha Sempurna Allah, Ini bukanlah manusia. Sesungguhnya Ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia."(Yusu:31)

Namun demikian Nabi Yusuf tetaplah hamba Allah yang senantiasa melaksanakan shalat, sebagai bentuk rasa syukur dan pengabdiannya sebagai seorang hamba.

Adakah kita setampan Nabi Yusuf? Kalaupun benar rupa kita mempesona, shalat adalah sebuah kewajiban yang tak memilah dan memilih siapa yang tampan dan siapa yang buruk rupa, ingat bahwa sebaik-baik kita dihadapan Allah adalah siapa yang lebih baik tingkat ketaqwaaanya.

Nabi Musa adalah Nabi yang dikenal “cerewet”, banyak nanya, karena memang beliau adalah Nabi yang sangat pintar, sehingga kisah pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khaidir kemudian digambarkan oleh beberapa kalangan sebagai gambaran pertemuan dua kutub ilmu, Nabi Musa mewakili ilmu Syari,at, sementara Nabi Khaidir sebagai wakil ilmu Hakekat.

Gelar kesarjanaan yang kita miliki, diploma atau gelar master yang kita sandar, mungkin belum setara dengan kepandaian nabi Musa, tapi kenapa ada sebagian kita yang sudah berani meninggalkan shalat, hanya karena kita sudah merasa pintar dan hebat dengan gelar kesarjanaan kita?

Sekali lagi, nilai kita dimata Allah bukan berapa gelar duniawi yang kita sandang, tapi seberapa taat kita dalam menjalankan perintah Allah.

Nabi Sulaiman pernah berdo’a kepada Allah agar dianugerahi kekuasaan dan kekayaan yang belum pernah ada sebelumnya, dan tidak akan ada yang sesudahnya. Allah mengabulkan permohonan Nabi Sulaiman ini, sehingga beliau dikenal sebagai raja yang lantai istana nya mampu membuat Ratu Bilqis seperti orang awan ketika beliu memasuki istana Nabi Sulaiman. Namun demikian, ketaatan Nabi Sulaiman dalam menjalankan perintah Allah tidak pernah diragukan.

Adakah hasil jerih payah usaha kita selama ini telah menyamai kekayaan Nabi Sulaiman? Pasti belum dan tak akan pernah bisa, karena seperti do’a beliau, tak akan ada manusia sesudahnya yang mempunyai kekuasaan dan kekayaan seperti beliau.

Lalu kenapa ada diantara kita yang lupa shalat karena kesibukan kita mencuci mobil?
Lalu kenapa ada diantara kita yang lupa shalat karena sibuk menghitung penghasilan dagang kita?
Lalu kenapa ada diantara kita yang lupa shalat karena “sedikit” kekayaan kita?

Nabi Daud, seorang Nabi yang gagah perkasa, ingat kisag David dan Goliath? Kisah itu sebenarnya adalah kutipan kisah kepahlawanan Nabi Daud mengalahkan Jalut dalam sebuah pertempuran.

Tak guna badan kekar berotot kawat balung wesi, kalau tak shalat tak ada gunanya.
Tak guna dengkulmu paron, kalau tak shalat tak ada gunanya
Tak guna tubuh tinggi besar, kalau tak shalat tak ada gunanya.

Nabi Dauud saja yang sudah jelas dan teruji kegagahan dan kepahlawanannya shalat, kita lagi yang baru bisa “Petantang-petenteng” kayak preman kampung, berani nggak shalat? Nekat namanya.

“Shalat adalah tiang agama, barang siapa menegakan shalat, ia telah menegakan agamannya, barang siapa meninggalkan shalat, ia telah menghancurkan agamanya”

Wassalam

February, 19, 2007

Sapu harus bersih

Apa yang terbersit dalam pikiran kita, ketika kita melihat saudara kita membersihkan dan menyapu lantai tiap hari?

Ketika kita hendak membersihkan lantai dengan sapu, yang pertama harus kita lakukan adalah kita harus memastikan terlebih dahulu bahwa sapu yang akan kita pakai benar-benar bersih, agar menghasilkan lantai yang bersih pula. Ketika kita menyapu dengan sapu yang kotor, kena olie misalnya, bukan hanya lantai yang tidak bersih, tapi justru menimbulkan kotoran baru yang jauh lebih kotor.

Ada hal lain yang menarik yang terbersit dalam percakapan penulis didalam mobil dengan seorang teman mengenai “urutan” pelajaran yang diberikan Luqman kepada anaknya, dengan bagaimana “urutan” proses pembersihan lantai diatas yaitu;

- Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah
- Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya
- Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya)
- Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Ada sebuah hikmah besar dibalik urutan yang sedemikian sempurna diatas. Sekedar buah pikiran yang mungkin sangat dangkal kalau penulis berpikir begini;

“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar (Amar Ma’ruf nahi Munkar)”, merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap individu muslim selain juga merupakan salah satu syarat atau ciri “Khairuu Umat - umat terbaik, yaitu ketika kita umat Islam melaksanakan amar makruf nahi munkar.

Menjadi menarik ketika tugas melaksanakan Amar Makruf nahi munkar itu diletakan setelah kita Tidak menyekutukan Allah (Luqman:13), Berbuat baik kepada orang tua (Luqman: 14~15), jujur dan bertanggung jawab, yang terbentuk dari kesadaran bahwa apapun yang kita lakukan tidak terlepas dari pengawasan Allah (Luqman:16), mendirikan shalat, baru kemudian Amar Makruf Nahi munkar (Luqman:17).

Mungkinkah kita ber-Amar Makruf nahi munkar sementara shalat kita belum “bener”?

Salah satu fungsi shalat adalah mencegah orang yang mendirikannya terpelihara dari perbuatan keji dan munkar, untuk itu untuk mengukur kualitas kebenaran shalat kita, salah satunya dapat diukur dengan tingkat kemampuan kita untuk menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang munkar.


45. Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Ankabut:45)

Belum benar shalatnya, ketika pulang shalat bawa sandal orang lain

Belum benar shalatnya, ketika masih menggunjingkan orang lain

Belum benar shalatnya, ketika masih kikir untuk menafkahkan rizkinya dijalan Allah

Belum benar shalatnya, ketika masih cuek mendengar rintihan lapar tetangganya

Belum benar shalatnya, ketika masih merasa dirinya “paling”, bukankah takbir dalam shalat kita untuk mengingatkan kita akan kebesaran Allah, sehingga tidak patut bagi kita untuk merasa “besar”.

Belum benar shalatnya ketika masih berjalan angkuh dimuka bumi, bukankah sujud shalat mengingatkan siapa kita, yang berasal dari sari pati tanah dan insya Allah akan kembali ketanah

Belum benar shalatnya, ketika tidak membantu orang yang membutuhkan, bukankan ruku’ shalat kita mengajarkan untuk menopang orang yang memang memerlukannya

Belum benar shalatnya, orang yang masih berkata-kata kotor dan keji, bukankah bacaan tasbih shalat kita mengajarkan kesucian ucapan dan perbuatan

Belum benar shalatnya, ketika kita masih cuek dengan kebersihan, bukankah wudlu sebelum shalat mengajarkan kita untuk senantiasa bersih.

Belum benar shalatnya, ketika kita belum istiqomah dalam beramal, bukankah bangun dari sujud mengajarkan keistiqmahan

Belum benar shalatnya, ketika kita belum bisa bertanggung jawab, bukankah bangun dari ruku’ mengajarkan kita kontinuitas dan tanggung jawab

Belum benar shalatnya, ketika kita masih minta pada dukun, bukankah iftitah kita merupakan ikrar hidup mati kita untuk Allah semata

Belum benar shalatnya, ketika banyak melalaikan waktu shalat, bukankah shalat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.

Jika shalat kita belum benar, belum mampu menjadikan kita terhindar dari hal-hal yang kurang baik diatas, bagaimana mungkin kita bisa mengajak orang lain untuk beramar makruf dan kemudian meninggalkan yang munkar?

Lalu apa kaitannya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua?

Bagaimana mungkin kita bisa mengajak orang lain untuk beramar makruf dan nahi munkar, sementara perilaku kita kepada orang tua kita, mahluk yang telah dijadikan oleh sebagai syariat keberadaan kita dimuka bumi ini masih sedemikian jelek?

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk bersedekah kepada orang lain, sementara kita sendiri tidak pernah membantu orang tua kita

Bagaiman kita akan menyuruh orang lain hormat-menghormati, ketika kita masih berlaku ponggah terhadap kedua orang tua kita

Bagaimana kita mengajak orang berkasih sayang, sementara kita sendiri sedemikian “jauh” dengan orang tua

Bagaimana kita akan mengajak orang lain untuk bersyukur terhadap nikmat Allah kalau kemudia kita tidak bisa berterima kasih kepada orang tua kita, ibu yang telah mengandung, bapak yang telah memberi nafkah kepada kita.

Akan halnya dengan “tidak menyekutukan Allah, ditempatkan dalam deretan teratas dalam metode pendidikan Islam, sebelum kita diperintahkan untuk beramar makruf nahi munkar?

Inti dakwah dari setiap nabi adalah untuk meng-esa-kan Allah dan tidak menyekutukannya dengan apapun, dan bahwa menyekutukan atau menyetarakan Allah adalah sebuah kedhaliman yang sangat besar,

Lalu bagaimana mungkin kita mengajak orang lain berbuat baik dan tidak berlaku dhalim, sementara kita sendiri masih melakukan kedhaliman yang mungkin jauh lebih besar dari orang yang kita ajak, misalnya menyetarakan Allah dengan berhala, dengan patung atau kita masih rela mengabdi pada pangkat dan kedudukan dari pada mengabdi kepada Allah, kita masih dengan sadar menjadikan harta dan kekayaan kita tuhan-tuhan lain disamping Allah. Misalnya waktu kita untuk Allah justru sisa-sisa waktu kita untuk menghitung-hitung dan membanggakan harta kita, baru kemudian kita shalat, atau habis mengelus-elus mobil mulus kita, baru kemudian shalat diakhir waktu, dan lain sebagainya.

Meminjam rumus yang diajarkan oleh Aa Gym, “Mulailah dari diri sendiri”, untuk melakukan hal yang baik dengan benar, sebelum kita mengajak suadara kita untuk melakukan hal yang sama dengan kita.

Salah satu kunci keberhasilan dakwah atau amar makruf nahi munkar adalah adanya integritas dari sipelakunya.

Ini yang dicontohkan baginda Rasul, bagaimana beliau menjadi orang pertama yang melakukan apa yang hendak disampaikan kepada umatnya. Ketika beliau mengajak orang untuk pergi berjihad dimedan laga, beliaulah orang yang paling depan dalam peperangan, ketika beliau mengajarkan kesabaran, beliaulah orang yang paling sabar dan sebagainya, sehingga sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa beliaulah satu-satunya pemimpin yang mampu merubah sebuah peradaban jahilayah menjadi peradaban yang penuh aklaq dan berbudi dalam kurun waktu 23 tahun masa keRasulannya, kuncinya satu, Integritas, yaitu menjadikan dirinya sebagai teladan, bukan hanya sebagai seorang NATO (No Action Talk Only).

Hasan Al Basri, pada suatu ketika didatangi oleh para budak yang mengadukan nasib mereka. Para budak itu meminta Hasan Al Basri untuk mengeluarkan fatwa bahwa membebaskan budak adalah sebuah kebjikan yang sangat luar biasa pahalanya, dengan harapan para tuan mereka akan membebaskan mereka dari perbudakan.

Hasan al Basri menjawab” Insya Allah”.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tapi Hasan Al basri belum juga mengeluarkan fatwa yang diminta oleh para budak itu. Hingga pada sebuah khotbah Jum’at Hasan Al Basri menyampaikan fatwa bahwa memerdekakan budak adalah sebuah kebajikan yang sangat besar pahalanya disisi Allah Swt.

Demi mendengar fatwa Hasan al Basri, para tuan-tuan yang memiliki budak itu dengan segera memerdekakan budak-budak yang mereka miliki, hingga budak-budak yang kemarin lalu datang dan mengadu kepada Hasan Al Basri menjadi orang-orang merdeka.

Tapi tetap saja para budak itu mengeluh kepada Hasan al Basri, “Syeh, kenapa anda baru mengeluarkan fatwa itu sekarang? Bukankah kami memintanya sudah cukup lama?”

Dengan bijak Hasan al Basri menjawab, “ Saya baru dikarunia Allah rezeki untuk membebaskan budak yang saya miliki jumat kemarin, lalu saya bebaskan budak saya, baru saya mengeluarkan fatwa itu”.

“Seandainya saya langsung mengeluarkan fatwa saat kalian memintanya kepada saya dulu, pasti para tuan itu akan mempertanyakan kenapa saya tidak membebaskan budak saya dulu, baru kemudian memberikan fatwa, tapi ketika itu saya belum mempunyai tebusan untuk budak saya” Sambung Hasan Al Basri.

Sekali lagi, Integritas (adanya penyatuan antara ucapan dan perbuatan) dan keteladan adalah menjadi kunci keberhasilan dakwah dan amar makruf nahi munkar.


Ini tidak berarti kita harus menunggu sampai shalat kita benar-benar “sempurna” dulu baru kemudian kita mengajak orang lain untuk shalat, sama sekali bukan begitu, ini juga tidak berarti menanggalkan kewajiban dakwah kita ketika kita belum mampu bertauhid secara benar dan membangun hubungan yang harmonis dengan kedua orang tua kita dulu, ini lebih cenderung untuk mengajak setiap kita senantiasa memperbaiki kualitas shalat kita, meningkatkan kualitas keimanan kita dan meningkatkan hubungan harmonis kita dengan orang tua kita, agar kita dapat menjadi dai-dai yang penuh keteladanan dan penuh integritas.

Pada setiap Jum’at khatib selalu berwasiat “ Pada kesempatan ini khotib berwasiat, khususnya untuk diri khotib sendiri dan umumnya bagi hadirin sidang Jum’at yang dimulikan Allah”, itu yang patut kita contoh, bahwa kita harus belajar mendidik diri kita sendiri sambil mengajak orang lain untuk beramar makruf nahi munkar.

Dengan menjadikan diri kita teladan, dengan memberi contoh nyata, sesungguhnya itulah dakwah yang lebih keras gaungnya “Action lauder then speak”

Semoga Allah menjadikan kita contoh-contoh yang patut bagi sebanyak mungkin orang disekitar kita, amin

Wassalam

January 17, 2007

Circle of Life

Siapa saya?
Dari mana saya?
Dimana saya?
Akan kemana saya?

Beberapa pertanyaan sederhana tentang siapa kita, yang memerlukan perenungan yang relatif lama untuk dapat menjawabnya.

“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”

Sebuah konsep yang banyak dikenal dikalangan ahli hikmah untuk menggambarkan betapa pentingnya kita mengenal siapa kita, siapa diri kita, sehingga digandengkan sebagai sebuah syarat atau cara kita untuk mengenal tuhan kita.

“Tak tahu diri” sebuah ungkapan yang sering kita dengar untuk menggambarkan sikap atau perilaku seseorang yang tidak atau kurang patut, seperti tidak tahu malu, tidak tahu berterima kasih, tidak tahu sopan santun, dan tidak tahu siapa dirinya, sehingga ia berbuat dan perilaku layaknya bukan sebagai dirinya, bisa berperilaku seperti orang lain, berperilaku seperti binatang, atau bahkan berperilaku seperti setan, semua itu salah satunya diakibatkan oleh kekurang tahuan kita atau seseorang itu terhadap “siapa dirinya”.

Allah berfirman dalam Surat Al Mu’min:67:

67. Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).(al Mukmin:67)


Mudah – mudahan ayat diatas bisa menjadi titik pijak kita untuk mengenal siapa diri kita, disamping masih banyak lagi ayat-ayat al qur’an yang memberikan gambaran kepada kita dari mana kita berasal dan dari apa kita diciptakan.

Kita, manusia, kata Allah diciptakan dari setetes “Nutfah” yang terpancar dari tulang sulbi, yang kalau kita mendapatinya dimanapun, niscaya kitapun akan merasa sedikit risih atau bahkan jijik dengan nutfah, bahkan mungkin terhadap nutfah kita sendiri. Padahal itu adalah “bibit” untuk penciptaan kita.

Kemudian setelah itu kita menjadi segumpal “darah”, juga sesuatu yang bagi sebagian orang membuat alergi dan takut dengan darah. Sekali lagi padahal itu adalah awal mula kita, sebelum kemudian dalam proses selanjutnya kita menjadi janin dirahim ibu, kemudian kita dilahirkan sebagai sesosok bayi yang tiada berdaya, terus kehidupan berlanjut, kita menjadi anak, remaja dan dewasa. Ada yang mati muda ada pula yang diberikan jatah usia yang lebih hingga kita menjadi tua, yang pada gilirannya juga akan mati, kita akan kembali kepada asal kita.

Ketika kita menyadari dan mengetahui dari mana kita berasal, mestinya, kitapun “tahu diri” kita, bahwa kita tidak layak untuk merasa orang yang paling mulia, kemudian menjadi sombong dengan ketampanan dan kecantikan kita, atau kemudian kita menjadi sombong dengan harta dan kekayaan kita, atau kita menjadi sombong karena pangkat dan jabatan kita, menjadi sombong dengan ilmu dan pengetahuan kita, end toh semua kita berasal dari bahan yang sama, lalu kenapa kita harus memalingkan muka dan berjalan dimuka bumi dengan angkuh karena sedikit “kelebihan” yang kita miliki.

Kelebihan rupa kita yang tampan dan cantik, tidak merupakan jaminan maqom kita disisi Allah. Berapa lama keelokan lahiriah itu bertahan? Tak lebih dari 40 tahun usia kita, setelah itu, keelokan wajah yang kita banggakan berangsur menyusut dan kemudian menghilang, wajah nan ayu rupawan kini menjadi keriput tak karuan, setelah itu, apalagi yang kita banggakan? Nothing....

Kelebihan harta dan kekayaan yang kita milikipun sama sekali tidak akan menolong kita untuk luput dari sunatullah, harta dan kekayaan kita sama sekali tidak akan mampu mempertahankan usia kita untuk tetap muda, harta dan kekayaan kita sama sekali tidak akan bisa mengembalikan kita kepada saat dimana kita suka, harta kekayaan kita sama sekali bukan sesuatu yang patut kita banggakan dihadapan Allah, ketika kita tidak tahu bagaimana memanfaatkan harta dan kekayaan itu sesuai dengan kehendak yang memberikan harta dan kekayaan itu.

Kita hanya memiliki “catatan” jumlah yang kita dibank, sementara orang lain/pihak bank itu yang memanfaatkan uang kita, bukan kita.

Ketika mobil kita banyak, kitapun tidak bisa berada dimobil yang berbeda pada saat yang sama, tetap saja kita hanya perlu satu tempat duduk saja, berapapun jumlah mobil kita.

Ketika rumah kita seluas lapangan bola sekalipun, sebenarnya kita hanya perlu tempat yang seukuran badan kita saja, tidak lebih. Ruangan dan rumah yang luas pun hanya jadi bahan cerita dan kebanggaan semu, yang sekali lagi bukan merupakan sesuatu yang patut dibanggakan dihadapan Allah.

Harta dan kekayaan kita sebenarnya adalah apa yang telah kita makan dan apa yang telah kita nafkahkan dijalan Allah dengan penuh keikhlasan, selebihnya adalah bukan harta kita.

Bahkan tak jarang harta dan kekayaan yang berlimpah malah menjadikan kita sebagai sasaran kejahata, tak jarang harta dan kekayaan kita menjadi sumber fitnah, tak jarang harta dan kekayaan yang kita miliki malah menjadikan kita seperti qorun yang ditelan bumi dengan seluruh harta yang dibanggakannya.

Pangkat dan jabatan, berapa lama kita akan menjabat? Lima tahun? Sepuluh tahun? Setelah itu? Kita akan dikembalikan pada posisi kita yang sebenarnya, yaitu manusia yang diciptakan Allah dari setetes mani, kemudian segumpal darah, seonggok jasad bayi, kemudian beranjak menjadi anak-anak, dewasa, tua dan kemudian mati.

Sama sekali tidak akan menolong kita dari kematian atau menyelamatkan kita dari ketuaan sehebat apapun jabatan kita, presiden, sekjen PBB atau bahkan seorang Rasul pun akan kembali setelah masa pengembaraannya didunia fana ini habis.

Ilmu dan pengetahuan yang kita miliki adalah sebuah amanah dari Allah yang telah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya dengan perantaraan kalam, tanpa ilmu dari Allah, sungguh manusia tak lebih dari mahluk bodoh tanpa guna. Bukankah demikian banyak orang yang merasa berilmu, tiba-tiba menjadi pikun, justru karena banyaknya ilmu yang tidak berkah yang ia miliki. Ilmu yang bermanfaat hanyalah ilmu yang diamalkan dan kemudian diajarkan kepada orang lain. Itulah nilai ilmu, ia tidak akan menjadi berkurang ketika kita bagikan kepada orang lain, justru malah sangat mungkin ilmu kita bertambah. “Sampaikan dariku walau satu ayat”.

Sebagian dari kita kadang terjebak untuk mempelajari suatu ilmu, tentang ilmu hadits misalnya. Ada sebagian kita yang sangat paham dan hafal kandungan yang terdapat dalam hadits tersebut, perawinya, bahkan sampai sanad dan tingkat keshahihan hadits tersebut. Tapi setelah “hafal”, sebagian kita justru tidak bisa mengamalkan apa yang diterangkan dalam hadits tersebut atau bahkan dalam tingkatan yang ekstrim justru mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dipahaminya. Kemampuan dan pengetahuannya tentang suatu ilmu hanya dijadikannya sebagai bahan debat kusir agar ia dikatakan orang pandai dan banyak ilmu haditsnya.

Mengamalkan apa yang ada pada kita meskipun sedikit, jauh lebih bernilai daripada mengumpulkan ilmu hanya untuk bahan debat dan membanggakan diri.

Tapi ingat, tetap ada kewajiban pada kita untuk menambah perbendaharaan ilmu kita, sekali lagi bukan hanya untuk bahan debat, tapi untuk kita amalkan agar mendapat ridha-Nya.

Nikmatilah ketampanan dan kecantikan wajah, tapi jangan pernah lupakan bahwa semua itu akan ada akhirnya. Bersyukurlah anda yang berwajah tampan dan rupawan, bersyukurlah anda yang berwajah cantik jelita, agar semua yang ada pada anda tidak menjadi sia-sia tanpa guna.

Nikmatilah harta dan kekayaan yang anda miliki, tapi ingat ada sebuah mahkamah keadilan yang akan menanyakan kepada anda “dari mana harta anda peroleh” dan “kemana harta anda belanjakan”. Yang kaya jangan berbangga, yang miskin jangan bersedih, derajat manusia disisi tuhannya, adalah siapa yang paling banyak amalnya dan paling tinggi nilai taqwanya.

Nikmatilah pangkat dan jabatan yang anda pegang sekarang, tapi ingat bahwa anda masih tetap seorang “hamba” seorang abdi dihadapan tuhan. Pangkat dan jabatan yang anda miliki sama sekali bukan ukuran tingkat kemuliaan di sisi tuhan.

Nikmatilah dan manfaatkanlah ilmu dan pengetahuan yang anda miliki sekarang, tapi ingat, kita akan kembali menjadi lemah dan kurang akal, sebagaimana firman Allah dalam surat Yaa siin:68 berikut;


68. Dan barangsiapa yang kami panjangkan umurnya niscaya kami kembalikan dia kepada kejadian(nya)[1271]. Maka apakah mereka tidak memikirkan?

[1271] Maksudnya: kembali menjadi lemah dan kurang akal.

Ada banyak contoh disekitar kita yang menggambarkan bagaimana “circle of life ini bekerja. Perputaran roda kehidupan, yang membuat segala sesuatunya berputar dan bergantian menduduki posisi diatas pada saat tertentu, namun dikali lain harus menduduki posisi terbawah dari poros roda kehidupan.

Kita masih ingat dengan jelas bagaimana kekuasaan orde-orde di negeri ini mencapai puncak kejayaannya, hingga seolah-olah tak akan tersentuh oleh putaran roda kehidupan. Orde Lama yang sangat diagungkan pada masanya, harus hancur lebur dan bahkan sampai titik kulminasi terendah menjadi orde yang paling dibenci dan dicaci.

Setelah itu penggantinya, orde Baru yang juga bak cerita yang tak pernah habis, dalam hitungan bulan, harus tumbang pada saatnya.

Banyak orang yang minggu lalu, kemarin atau beberapa jam yang lalu masih berpredikat orang yang berharta dan berpangkat kedudukan, tiba-tiba menjadi orang yang tak berpunya layaknya gelandangan, buka sedikit ruang hati kita untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah keberhasilan dan kehancuran yang menimpa siapapun, karena memang demikianlah roda kehidupan berputar.


Sekarang kita tahu dari mana kita berasal, kemudian kita juga tahu dimana kita sekarang, yaitu didunia, tempat persinggahan, bukan tempat keabadian, kemudian kita pun tahu akan kemana nantinya kita dikembalikan, Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun...... semua kita berasal dari Allah dan akan kembali padanya”


Semoga Allah menuntun kita untuk menjadi manusia yang “tahu diri” dan berkenan memberikan ridha-Nya kepada kita untuk “mengenal-Nya” dengan baik dan benar.

Wassalam

January 15, 2007

Menghitung Hari

“Aaah, sudah Jum’at lagi, perasaan baru kemarin senin, sekarang sudah akhir pekan lagi, lusa sabtu, minggu, kemudian senin lagi, kerja lagi..............”


Demikian ungkapan perasaan seorang teman seperjalanan menyikapi hari demi hari yang memang terasa demikian cepat. Senin berganti selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu dan minggu, kemudian minggu berganti dengan bulan, bulan berganti dengan tahun, tahun berganti dengan windu, berganti dekade,abad dan seterusnya, demikian cepat waktu berlalu.

Sepertinya baru kemarin kita masih kanak-kanak, mengenakan seragam sekolah, tapi tiba-tiba sekarang kita sudah punya anak, kita pun sudah mulai tua dan beruban.

Demikian pentingnya hingga Allah bersumpah dengan waktu bukan hanya sekali, tapi beberapa kali sebagaimana tercermin ayat – ayat berikut;

1. Demi waktu matahari sepenggalahan naik, (Ad-dhuha:1)

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al Ashr:1~3)

16. Maka Sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja,(Al Insiqaaq:16)


Allah bersumpah dengan waktu Dhuha, Allah bersumpah dengan Masa, Allah bersumpah dengan Waktu senja, Allah, kata sebagian ulama,

22. Sampai waktu yang ditentukan, (Al Mursalat:22)


123. Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan[86] seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa'at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. (Al Baqarajh:123)

[86] Maksudnya: dosa dan pahala seseorang tidak dapat dipindahkan kepada orang lain.

Jika Allah sampai beberapa kali bersumpah atas nama waktu, maka pasti ada sesuatu yang sangat istimewa dan demikian penting dengan waktu. Salah seorang sahabat utama Rasulullah pernah mengibaratkan waktu sebagai dua mata pedang yang sangat tajam, maka barang siapa mampu memanfaatkan ketajamannya, ia akan memperoleh banyak manfaat dan keuntungan dari pada waktu. Sebaliknya barang siapa yang tidak bisa memanfaatkannya dan lalai, maka ketajaman pedang itu boleh sangat jadi akan menjadi senjata makan tuan, yang akan merugikan dirinya.

Waktu adalah modal pertama yang diberikan Allah kepada manusia berupa usia. Tidak terlalu penting berapa lama usia yang diberikan Allah kepada kita, mungkin kita tidak dikarunia usia yang panjang sebagaimaa Allah karuniakan kepada umat-umat terdauhulu, tetapi ketika kita bisa memanfaatkannya dengan baik waktu yang kita miliki, kita gunakan semata-mata untuk memenuhi kewajiban kita sebagai hamba untuk mengabdi kepada Allah, maka saat itulah ketajaman pedang dalam ibarat diatas, atau waktu yang kita miliki, menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi kita.

Dengan karunia usia yang Allah anugerahkan kepada kita ini, kita bisa bercocok tanam amal sholeh untuk kemudian buahnya kita jadikan bekal kepulangan kita nanti.

Dengan waktu kita bisa bekerja, dengan waktu kita bisa beribadah, dengan waktu pula kita bisa melakukan berbagai hal dalam kehidupan kita.

Maka barang siapa yang pandai memanfaatkan waktunya, dialah orang yang paling beruntung.

Allah memberikan jatah waktu yang sama kepada siapapun, Allah memberi waktu 24 jam sehari semalam kepada seorang presiden, Allah juga memberi waktu 24 jam sehari semalam kepada pengamen, Allah memberi waktu 24 jam sehari semalam kepada para pejabat, Allah pun memberi waktu yang sama kepada para penjahat, Allah juga memberi waktu yang sama kepada orang-orang yang saat ini berada dipuncak keberhasila, Allah juga memberi waktu yang sama kepada orang-orang yang berada dipelosok – pelosok jurang kegagalan, semuanya sama.
Perbedaan antara presiden dan pengamen, pejabat dan pejahat, orang yang gagal dan orang yang berhasil hanyalah terletak pada bagaimana mereka menggunakan dan memberdayakan modal utama yang mereka miliki, yaitu waktu.

Jika berkesempatan, tanyakan kepada orang yang anda anggap “berhasil” dan orang yang anda anggap “gagal”mengenai bagaimana cara mereka memanfaatkan waktu, insya Allah kita akan menemukan perbedaan yang sangat jelas yang menjadikan hasil akhir yang juga sangat berbeda, yang satu berhasil dan yang satu gagal.

Untuk itu dalam ciri-ciri orang yang mendapatkan surga dunia” dikatakan bahwa salah satunya adalah orang yang memiliki umur panjang yang barokah. Umur panjang saja tapi tidak barokah, akan menjadikan kita seperti halnya iblis Laknatullah yang minta ditangguhkan kematiannya hingga hari akhir, tapi justru bukan untuk mengabdi kepada Allah, melainkan sebagai bentuk pembangkangan terhadap Allah dan waktunya digunakan untuk menyesatkan sebanyak mungkin manusia untuk menemaninya di neraka kelak.

Sebuah syair mengatakan “ untuk apa hidup seribu tahun, kalau tak sembahyang apa gunanya” untuk menggambarkan kesia-sian dari waktu yang kita miliki bagi orang yang tidak bisa memanfaatkannya.

Sisi pedang “waktu” yang lain, yang tidak bisa dimanfaatkan dengan bijak, boleh sangat jadi akan menjadi sumber malapetaka bagi kita. Waktu tak pernah kenal kompromi untuk menunggu kita, waktu tak pernah mengenal waktu untuk terus mengurangi jatah hidup kita, waktu tak akan bergerak mundur, waktu tak akan berhenti untuk menunggu orang-orang yang lalai, waktu terus berputar menggilas masa, merenggut sisa-sisa umur kita tanpa kenal belas kasihan. Waktu akan membiarkan orang-orang yang lalai memanfaatkannya dalam jurang penyesalan yang dalam, waktu yang tidak bisa dimanfaatkan merupakan “pembunuh” yang paling kejam, tak kenal ampun, tak bisa ditawar dan kita tak akan bisa lari dari padanya.

Ketika kita lalai barang satu detik saja, maka kita tidak akan bisa balik kebelakang, kesedetik yang lalu sekalipun, apalagi kita kembali kepada masa lalu, masa muda, masa dimana kita masih kuat dan perkasa, semuanya hanya mimpi, jika ada orang yang beranggapan ia bisa kembali kemasa lalunya. Atau hanya ada dalam dongeng pengantar tidur yang memungkinkan seseorang bisa kembali keruang waktu masa lalu, atau hanya ada dalam sinetron dan film kartun yang bisa melakukan itu, kita sekarang berada dalam alam nyata, alam sungguhan, bukan dalam kartun, bukan dalam dongeng, bukan dalam sinetron, jadi kita tidak bisa berandai-andai, misalkan, umpama, ibarat dan lainnya untuk bisa memutar waktu sesuai dengan keinginan kita.

Gunakan masa mudamu, sebelum datang masa tuamu
Gunakan waktu sehatmu sebelum datang sakitmu
Gunakan waktu luangmu sebelum datang sempitmu
Gunakan waktu kayamu sebelum datang miskinmu
Gunakan hidupmu sebelum datang kematianmu


Wassalam

Januari 12, 2007

Dunia, kelereng didepan mata (At-Tin – Ramadhan 1426H)

Salah satu ciri orang Mutaqin adalah orang yang memiliki sifat Tasawuf. Terlepas dari berbagai perdebatan dan kontraversi mengenai definisi Tasawuf, yang penulis maksud dengan Tasawuf disini adalah kemampuan kita untuk memiliki sifat tidak berlebihan dalam urusan dan kecintaan terhadap dunia. Kenapa kita tidak boleh terlalu mencintai dunia?

“Hubbu dunya khiti ati kulli sayyiah – kecintaan terhadap dunia yang berlebihan adalah pangkal dari segala kejahatan”. Bukankah lahirnya para koruptor itu karena ketakutan mereka akan kemiskinan dan ketamakan dan kecintaan kepada dunia yang berlebihan, sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dunia, yang seolah akan mengekalkan mereka.

Bukankah lahirnya diktator juga berawal dari kecintaan yang berlebihan, sehingga seolah-olah mereka ingin menjadi raja dan penguasa selamanya, karena sikap yang berlebuhan itulah kemudian melahirkan sikap yang berlebihan pula dalam memaknai kekuasaan yang ada padanya.

Bukankah kekikiran kita, ketamakan kita, kesibukan kita yang kadang melampuai batas juga diaibatkan oleh kesalahan cara pandang kita terhadap dunia.

Lalu apakah kita tidak boleh memiliki dunia, harta, pangkat atau tidak memiliki hak untuk mendapatkan surga dunia?

Firman Allah dalam surat al Qasas 28:77;

77. Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Ayat diatas secara tegas menyatakan bahwa kita punya bagian dalam kehidupan didunia, yakni hak untuk mendapatkan apa yang memang telah Allah karuniakan kepada kita.

Ibnu Abbas r.a pernah ditanya oleh para sahabat lainnya, siapakah orang-orang yang telah mendapatkan kebahagiaan atau haknya didunia?. Ibnu Abbas menyatakan setidaknya ada tujuh kriteria yang harus dimiliki oleh orang yang telah mendapatkan kebahagiaan dunia;

- Orang yang memiliki Qolbun syakur, hati yang bersyukur. Hati yang senantiasa bersyukur adalah syurga bagi pemiliknya. Hati yang bersyukur senantiasa menerima dan ridho dengan pemberian Allah, baik itu sedikit apalagi kenikmatan yang banyak, sehingga Allah pun ridha dengan amal ibadahnya, meskipun ibadahnya tidak sebanyak dan sebaik orang lain, jika Allah telah ridho, maka itulah puncak segala kebahagiaan fi dunya wal akhirat.

- Orang yang memiliki Azwajun Sholehah, orang memiliki istri yang shalehah. Wanita yang secara fitrah terlahir dari tulang rusuk kiri pria, memiliki filosofi yang sangat dalam. Bahwa wanita diciptakan bukan dari tulang kepala, karena memang Allah tidak hendak menjadikan wanita sebagai pemimpin bagi kaum pria, bahwa wanita tidak diciptakan dari tulang kaki, karena memang wanita bukan untuk diinjak-injak apalagi dilecehkan, pun wanita bukan dibuat dari tulang dibawah perut, karena wanita bukanlah budak nafsu belaka, tetapi jauh dari semua itu, wanita diciptakan dari tulang rusuk yang terletak dekat dengan tangan, yang artinya wanita terlahir untuk dilindungi, wanita tercipta dari tulang rusuk yang dekat hati, karena wanita terlahir untuk dicintai, dan wanita terlahir dari atas perut untuk dibuahi. Dibalik kelemahlembutan dan kekuranganya, wanita berfungsi sebagai penentram dan pelindung hati dan perasaaan laki-laki, sebagaimana tulang rusuk melindungi hati kita. Maka siapapun orangnya yang memiliki seorang istri dan pendamping yang mampu menjadi mitra dalam menapaki kehidupan dunia menuju akherat, ia telah memiliki salah satu ciri orang yang mendapatkan kebahagiaan dunia.

- Orang yang memiliki alwaladun sholeh/sholehah, anak adalah mutiara dan harta yang tak ternilai harganya. Anak yang sholeh/sholehah mampu menjadi benteng bagi kedua orang tuanya dari jilatan api neraka. Anak yang sholeh/sholehah mampu menjadi penyejuk hati dan pandangan mata bagi orang yang memilikinya.

- Albiatu sholihah, lingkungan yang kondusif untuk perkembangan dan pertumbuhan iman kita

- Al malul halal, harta yang halal, baik halal dalam mendapatkannya, maupun halal dalam membelanjakannya.
- Tafkuh di dien
- Umur yang barokah

Secara sederhana seorang ustadz menggambarkan bahwa kesalahan kita dalam memandang dunia adalah seperti kita menempatkan kelereng tepat didepan mata kita. Kelereng yang sekecil itu, menjadi demikian besar dan menutup pandangan kita dari sesuatu yang lebih besar didepan kita.

Sebagaimana kita yang memandang dunia seolah-olah segalanya, padahal ada akherat yang luasnya lebih luas dari bumi dan langit beserta isinya. Tempatkan kelereng pada posisi yang benar maka akan tampak bahwa kelereng tidaklah sebesar padangan kita sebelumnya, tapi ada yang jauh lebih besar dari itu.

Maka milikilah dunia beserta isinya, tapi tempatkan pada proporsi yang sebenarnya.

Milikilah mobil sebanyak yang engkau bisa, simpan digarasi, bukan dihati, hati hanya untuk Allah semata

Milikilah uang sebanyak yang engkau bisa, simpan dibank, bukan dihati, hati hanya untuk Allah

Milikilah perhiasan sebanyak yang engkau inginkan, tapi bukan untuk memalingkanmu dari Allah Swt.

Tempatkan dunia pada proporsi yang benar, tempatkan kelereng dengan benar, maka didepan kita, ada yang jauh lebih besar yang bisa kita gapai, yaitu Ridha dan surganya Allah.


Wassalam

January 09, 2007.

Menangislah kamu karena kamu tidak bisa menangis (At-Tin – Ramadhan 1426H)

Sepuluh malam terakhir Ramadhan, biasanya ditengarai oleh sebagian kita sebagai malam yang spesial dan istimewa, karena sepuluh malam terakhir ramadhan ini diyakini oleh sebagian orang sebagai malam-malam penuh berkah, karena konon pada sepuluh malam terakhir inilah malam kemulian atau malam yang nilainya sama dengan 1000 bulan, yang dikenal secara luas sebagai Lailatul Qadar akan tiba. Entah tren atau memang penulis yang tidak tahu, bahwa dalam beberapa tahun belakangan sepuluh malam terakhir ini diisi dengan aktivitas I’tikaf bersama dimasjid yang dikoordinir oleh Dewan Pengurus Masjid setempat.

Malam 21 Ramadhan 1426H di Masjid Agung At-tin, seorang anak muda, mungkin usianya sekitar 27 tahun, berada diantara jamaah i’tikaf untuk melaksanakan Qiyamulail. (Yakni salah satu acara rutin yang dilakukan oleh orang-orang yang ber i’tikaf disana, shalat sunat ini dilakukan mulai dari pukul 1.30 sampai dengan menjelang sahur).

Rakaat pertama berlangsung dengan khidmat, tapi kemudian terdengar sayup-sayup suara orang-orang yang sepertinya menahan tangis. Konsentrasi pemuda tadi mulai sedikit buyar dan sedikit –demi sedikit ia mulai tertarik untuk melihat siapa yang menangis. Shalatnya malah menjadi tidak khusyu, karena ia makin penasaran dengan suara-suara tangis tadi. Makin lama sang imam membaca ayat-ayat al qur’an semakin banyak dan semakin keras suara tangis itu dan makin jelas terdengar. Begitupun rakaat-rakaat selanjutnya, hampir semua jamaah menangis.....hingga shalat itu selesai dan kami melakukan sahur bersama.

Sementara itu, sipemuda sama sekali tidak menangis bahkan dia kebingungan, kenapa orang-orang shalat itu pada menangis seperti anak kecil? Apa yang menyebabkan mereka menangis? Dan banyak pertanyaan – pertanyaan yang berkecamuk dibenak dipemuda tadi. Keheranan pemuda itu rupanya terbawa sampai waktu sahur tiba. Sambil menyantap makanan sahur yang telah disediakan oleh panitia i’tikaf, pemuda itu nampak ngobrol dengan seorang bapak setengah baya. Perkacapan mereka semakin panjang lebar hingga pemuda itu kemudian menanyakan kejadian yang baru saja terjadi, yaitu kenapa banyak orang yang menangis pada qiyamul lail tadi.

Mendengar pertanyaan pemuda tersebut, bapak itu balik bertanya “Memang kamu tidak menangis?”

Pemuda tadi menggelengkan kepala, karena memang ia tidak menangis saat shalat qiyamul lail tadi, karena memang ia tak punya alasan untuk menangis.

“Jika kamu ingin menangis, maka menangislah karena kamu tidak bisa menangis!” kata bapak tadi.

Pemuda tadi masih nampak belum mengerti maksud dari bapak setengah baya tadi, kemudian bapak tadi melanjutkan penjelasannya;

“Orang yang tidak menangis ketika dia shalat, lalu dibacakan ayat-ayat Allah yang agung, ditengah keheningan malam, ditengah ribuan orang jamaah yang hampir semuanya menangis, tapi dia tidak menangis, maka ia wajib menangis karena sangat boleh jadi hatinya telah ditutup oleh Allah, telinganya disumbat sehingga dia tidak bisa lagi merasakan keagungan dan kebesaran Allah.......” Bapak tadi menjelaskan sambil terus makan makanan sahurnya.

Duggg....tampak wajah pemuda tadi sedikit memucat mendengar penjelasan bapak tadi. Ia seperti disambar halilintar, demi mendengar penjelasan tadi, ia merasakan bahwa seolah-olah ialah yang menjadi seoramh terdakwa dan ia tidak bisa memberikan sanggahan terhadap dakwaan sang jaksa, ia merasa menjadi satu-satunya orang yang dimaksud bapak tadi. Pemuda itu seketika diam dan berhenti dari makan sahurnya, lalu ia teringat ayat Allah dalam surat Al Baqarah, yang pernah ia baca dan kembali dibacakan oleh si Bapak;

7. Allah Telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka[20], dan penglihatan mereka ditutup[21]. dan bagi mereka siksa yang amat berat.

[20] yakni orang itu tidak dapat menerima petunjuk, dan segala macam nasehatpun tidak akan berbekas padanya.
[21] Maksudnya: mereka tidak dapat memperhatikan dan memahami ayat-ayat Al Quran yang mereka dengar dan tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah yang mereka lihat di cakrawala, di permukaan bumi dan pada diri mereka sendiri.

Dan Juga ayat 74 Surat Al Baqarah;

74. Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, Karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

Makan sahur malam itu berhenti sampai disitu, pemuda tadi menghentikan makan sahurnya, rasa lapar dan dahaga perutnya tampak terabaikan, ia bergegas ketempat wudlu, bersuci dan kemudian duduk tafakur untuk memenuhi dahaga bathiniahnya akan petunjuk dan cahaya ilahi yang membuat hatinya lembut, ia tampak khusyu merenungi apa yang barusan ia dapat dari si Bapak, ia berdialog dengan bathinya, demikian keraskah hatinya, sehingga ia tidak bisa lagi menangis ketika mendengar ayat-ayat al qur’an? Benarkah pendengarannya tidak lagi mampu menangkap kebenaran ilahi? Benarkah hatinya lebih keras dari batu?

Nampak kemudian menjelang waktu shubuh tiba, air matanya nampak meleleh membasahi pipinya, nampak sekali apa yang baru saja ia terima merupakan pukulan telak terhadap keangkuhannya selama ini yang masih merasa “besar” ketika ia berdiri dihadapan Yang Maha Besar, ia merasa bersalah bahwa sujudnya selama ini tak lebih dari rutinitas yang tidak berarti banyak untuk menyadarkan ia dari kekecilan dirinya dihadapan Yang Maha Besar, ia tersedu, terisak menagis, lama ia duduk ditempatnya, hingga waktu shubuh tiba.

Malam-malam selanjutnya, pemuda itu nampak lebih tenang dalam melaksanakan Qiyamulail, ia berdiri tegak dan mencoba mengikuti apa yang dibacakan oleh Imam shalat, ia belum mengerti sepenuhnya apa yang dibaca, tapi kesadarannya bahwa hatinya masih sedemikian keras untuk menerima siraman keagungan ilahi membuatnya ikut terisak menangis, sebuah tangisan tulus yang datang dari kesadaran hati seorang anak manusia yang menyadari kelalaiannya selama ini.

Wassalam;

January 17 2007

Namanya Ibu Ani (At-Tin – Ramadhan 1426H)

Ba’da shalat Jum’at, terdengar pengumuman dari dewan kesejahteraan Masjid At-tin; “Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah, mohon jangan beranjak dulu, karena pada hari ini, kita akan menyaksikan 2 orang saudari kita yang akan berikrar mengucap dua kalimah syahadat, mohon kirannya hadirin menjadi saksi atas mualafnya saudari kita ini”.

Selang beberapa saat, muncul dua orang wanita berkerudung, yang satu wanita setengah baya, dan satu lagi seorang gadis cantik yang tinggi semampai memasuki ruangan masjid At-tin yang megah. Dua wanita itu, ibu setengah baya, yang kerudungnya pun masih tampak kaku, ia bernama Ibu Ani, asal Banyuwangi – Jawa Timur. Tidak ada yang tampak spesial pada wanita paruh baya ini, seorang perempuan sederhana dengan logat jawa yang masih cukup kental. Hingga akhirnya Ibu Ani duduk bersimpuh dihadapan seorang ustadz, disaksikan hampir seluruh jama’ah Jum’at yang hadir pada hari itu.

“Bapak, ibu serta hadirin sekalian,” Pak Ustadz memulai acara, “Pada hari ini, insya Allah kita akan menyaksikan saudari-saudari kita, yaitu Ibu Ani dan Saudari Amanda Jelita (Nama gadis cantik yang masuk bersama bu Ani tadi-pen), akan berikar untuk masuk Islam”.

“Subhanallah” hampir serentak hadirin mengucapkan kalimat tasbih demi mendengar pengumuman itu.

“Ibu Ani, apakah ibu sudah siap? Tanya Pak Ustadz

Ibu Ani menjawab “ Sudah Pak”.

“Baiklah, kita mulai ya Bu” Ustadz dengan tenang kemudian memulai acara ikrar tersebut.

“Bu Ani, kalau boleh kami tahu, apa yang mendorong ibu untuk masuk Islam” Tanya pak Ustadz kalem.

Ibu itu terdiam sejenak, kemudian ia berkata lirih, “Saya tidak tahu pak, tapi selama kurang lebih tiga tahun ini, setiap kali saya mendengar suara yang dikumandangkan dari masjid (suara adzan – pen), saya merasakan sesuatu yang saya tidak mengerti, hati saya bergetar hebat, dan entah mengapa air mata saya mulai membasahi pipi saya, dan saya selalu menangis didalam kamar setiap kali kalimat-kalimat itu dikumandangkan, meski saya sendiri tidak mengerti artinya”.

“lebih dari tiga tahum saya merasakan ini, hingga saya bertemu seorang muslimah yang mengatakan itu hidayah, dan beliau menyarankan saya untuk meminta nasehat kepada seorang ustadz, dan akhirnya mengantar saya kesini”, lanjut bu Ani lirih.

Hadirin terdiam sejenak terbawa oleh perasaannya masing-masing, sementara sebagian hadirin mengatakan tidak tahu apa yang mereka rasakan saat itu, karena tiba-tiba kami merasa ada palu godam yang menghantam sisi terdalam hati kami...tiba-tiba terdengar sesenggukan dan tangis dari para hadirin, tangis yang lebih dari 25 tahun tidak pernah mereka rasakan. Tiba-tiba kami merasa malu pada diri sendiri terlebih pada Allah, karena selama ini, kami yang mengaku sebagai seorang muslim pun tidak pernah merasakan getaran yang dirasakan oleh ibu Ani yang notebene ketika itu belum islam bahkan tidak tahu apa nama seruan itu...jadi benarkah keislaman saya..? demikian bekukah hati saya sehingga saya tidak merasakan keagungan kalimat adzan yang saya tahu arti harfiahnya dengan baik....lama pertanyaan yang menggugah itu terngiang, kemudian kami seperti disadarkan akan kekhilafan kami selama ini........

“Baik bu, jika ibu sudah yakin untuk memeluk islam......” pak ustadz kemudian menerangkan sedikit mengenai rukun-rukun dalam islam dan sedikit uraian lainnya.

Maka tibalah saatnya bagi Bu Ani dan rekannya, Amanda Jelita untuk mengikrarkan dua kalimat syahadat.

“Ikuti saya ya bu...” kata sang ustadz, “Ashadu alla ilaha illalLahu wa ashadu anna Muhammadan Rasulullah”.

Bu Ani coba menirukan apa yang diucapkan Pak Ustadz, “Ashadu lalla...” terasa berat lidah ibu Ani mengucapkan kalimat tersebut.

Pak ustadz mengulangi mengucapkan kalimat syahadat yang benar, tapi sekali lagi bu Ani mengulangi kesalahan pelafadan kalimat tersebut, sampai akhirnya Bu Ani tertunduk dan menangis karena sampai tiga kali dia tidak bisa mengucapkan kalimat syahadat.

Dukh....sekali lagi kesadaran kami dihantam oleh palu godam, kali ini bahkan lebih keras lagi....kami yang merasa setiap hari mengucapkan kalimat syahadat dalam shalat, tidak pernah merasakan betapa nikmatnya bisa mengucapkan kalimat agung itu...kami tidak pernah merasakan apapun ketika mengucapkannya, padahal, subhanallah, ternyata, kita yang mengaku orang islam telah dikaruniai oleh Allah kemampuan untuk mengucapkan kalimat tersebut dengan mudah..atau karena saking mudahnya..kita tidak lagi bisa merasakan keagungannya....

“Tenang dulu ya bu, coba ibu tarik nafas dan ulangi sekali lagi” kata pak Ustadz sambil kembali menuntun ibu Ani mengucapkan kalimat syahadat....

Dan entah bagaimana akhir dari proses ikrar ibu Ani dan juga Amanda Jelita yang mengucapkan kalimat syahadat sesudahnya, karena sebagian dari kami sudah tidak tahan dengan hantaman yang bertubi-tubi pada titik kesadaran kami yang terdalam, kami keluar dan menutup wajah dengan sorban, tak tahan menahan rasa malu pada Allah dan pada diri sendiri......

Petruk Dadi Raja

Dalang adalah aktor dibalik semua gerak dan kata dari seluruh wayang yang dipentaskan dalam sebuah lakon. Dalang berkuasa mutlak atas apa yang telah dan akan terjadi dengan wayang-wayang dalam pementasannya. Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, dalang memerankan tokoh dan karakter berbeda, dalam hitungan detik, dalang mampu mengatakan hal yang bertolak belakang dari para tokoh wayang yang dimainkannya, singkatnya dalang adalah sosok dibalik pementasan sebuah pagelaran wayang, baik itu wayang golek maupun wayang kulit.

Dengan kekuasaanya yang tidak terbatas atas wayang-wayangnya, dalang berhak menentukan apapun nasib para wayang itu. Suatu ketika, dalam pementasan wayang yang berjudul “Petruk dari Raja”, sang dalang mampu menjadikan tokoh Petruk atau Dawala dalam pementasan wayang golek, dari seorang punakawan yang menjadi teman setia para ksatria Pandawa, tiba-tiba muncul menjadi sosok Raja di negeri Astinapura, sebuah negeri yang semestinya dipimpin oleh para Ksatria Pandawa.

Dalam lakon itu dikisahkan bahwa ketika Petruk dari Kampung Tumaritis, yang seorang punakawan yang lugu, lucu dan sedikit “o’on” jadi Raja, maka yang terjadi adalah semua peraturan pemerintahan, tata aturan masyarakat dan agama dibuat sedemikian rupa agar “sesuai” dengan karekter sang Raja Petruk.

Semuanya dibuat “ala Petruk”, perundang-undangan yang selalu bergonta ganti sesuai dengan selera masing-masing pejabatnya yang konyol, asal ngomong, suka cari kambing hitam, dan anggota dewan /parlemennya pun pada berantem sendiri, persis Petruk dan Gareng yang rebutan Intip (Kerak Nasi - penulis), bahkan yang lebih parah, akibat “kebijaksinian” yang ala Petruk itu, para pejabat dan dewan digaji sedemikian tinggi, (katanya agar para pejabat dan anggota dewan itu tidak perlu menjadi “calo-calo” anggaran dan menjadi beking untuk mendapat tambahan penghasilan), sehingga menjadikan mereka juragan-juragan yang kaya lagi berkuasa, yang dengan uang dan kekuasaannya, mereka mampu membeli apapun, membeli kebijakan, membeli hukum, dan bahkan mampu “membeli” artis-artis karbitan untuk dijadikan piaraanya. Saking banyaknya uang, bukan lagi kambing atau kuda yang dijadikan hewan piaraan, tapi wanita-wanita yang haus uang dan popularitas yang mereka piara, untuk dijadikan objek pemuas nafsu kebinatangan mereka.

Kebijakan yang korup, undang-undang yang dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan adanya berbagai penafsiran yang menguntungkan beberapa pihak saja, dan masih banyak lagi dagelan-dagelan yang dilakonkan pada masa pemerintahan Raja Petruk.

Bahkan dalam urusan keberagamaan pun masih bisa-bisanya dibuat dagelan. Ada dana Abadi Umat katanya, yang entah untuk umat yang mana, ada kisah jemaah haji yang kelaparan, kisah kecelakaan yang seperti tak pernah ketemu penyebabnya, kisah keterlambatan bantuan kemanusian, kisah keterlambatan pertolongan, kisah pencurian harta kekayaan negara yang semakin hari semakin menjadi, kisah hukum yang diperjual belikan, yang benar jadi salah, yang salah bisa jadi benar, terus terjadi bayolan-bayolan ironi yang terjadi dipanggung negeri Petruk ini. Kenapa ? lha wong peraturannya juga demikian, penuh dagelan, penuh warna abu-abu, sarat dengan kepentingan pribadi dan lainnya, sehingga tingkat pelaksanaan pun pasti penuh dengan trik-trik humor yang asal menyenangkan sang raja petruk, yang penting bapak senang, yang penting kepentingannya tidak terganggu, dan lainnya, bukan bekerja secara benar dan prosional, tapi hanya berupa laporan yang menyenangkan hati sang raja.

Kalau ada kecelakaan, musibah dan bencana, mereka pada sibuk mencari dalih dan kambing hitam, sibuk menggelar seminar, simposium dan debat yang tak berujung, berargumen, merancang kebijaksanaan yang pernah tuntas, setelah itu selesai. Sementara korban bencana dan kecelakaan terabaikan tanpa kepastian, sumbangan dan bantuan yang datang dari pelosok negeri pun entah kemana raibnya, aah dasar Petruk.

Setiap kejadian luar biasa seperti berjangkitnya flu burung, demam berdarah, mereka sibuk mencari teori-teorinya, untuk sekedar bisa menjawab pertanyaan wartawan, “biasanya penyakit ini diakibatkan oleh............” atau justru menyalahkan masyarakat yang katanya kurang bersih, katanya tidak bisa hidup sehat, katanya lagi kurang pendidikan, lha yang mestinya mendidik masyarakat untuk hidup bersih, hidup sehat dan meningkatkan tarap hidup masyarakat dan kualitas pendidikan yang memadai kan seharusnya tanggung jawab mereka..........lalu kenapa masyarakat yang jelas-jelas tidak mempunyai kemampuan dan kekuasaan disalahkan? Aaah dasar Petruk.

Lalu, dalam masa pemerintahan Raja Petruk, juga banyak sekali punakawan-punawakan yang diangkat menjadi pejabat dan orang-orang penting, tanpa memperhatikan kelayakannya, ada preman tumaritis yang jadi anggota dewan, wayang yang ijazahnya dapat nembak jadi pejabat, dan banyak lagi punakawan-punakawan yang kocak lagi lucu tiba-tiba jadi orang penting. Sehingga yang terjadi kemudian, ketika preman tumaritis, ketika punakawan yang ijazahnya dapat nembak, mereka cenderung untuk menggunakan “Aji Mumpung”, mumpung dipercaya, mumpung berkuasa, mumpung dekat Raja Petruk, mereka kemudian beramai-ramai menggunakan posisi dan jabatannya untuk mengeruk keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya, kadang tanpa memperdulikan norma dan tata nilai serta hukum yang berlaku, “pokok e mumpung”.

Satu lagi, karena mereka berasal dari kalangan antah barantah, begitu menjadi pejabat dan mempunyai posisi, mereka jadi kena sindrom takut jadi punakawan lagi, takut miskin lagi, takut tidak dipercaya lagi, sehingga untuk menutupi ketakutan-ketakutannya yang irrasional itu, mereka, konon menghalalkan segala cara untuk melanggengkan posisi, jabatan dan kekayaannya sekarang, maka jadilah Dukun jadi Dewa yang dianggap mampu melanggengkan kekuasaanya dengan jampi dan mantra, maka jadilah berhala sesembahan yang disepadankan dengan Tuhan, duuuh kaciaaaan.

Apakah ini semua kehendak Sang Dalang? Wallahu ‘Alam

Justru karena ketidak tahuan itulah, para wayang lain memiliki kewajiban untuk mengingatkan Raja Petruk dan para pejabatnya bahwa kekuasaan yang mereka pegang itu adalah Amanah, yang harus dipertanggung jawabkan kepada para wayang, kepada hukum dan Sang Dalang.

Ketika wayang lain mendiamkan keangkara murkaan terjadi didepan matanya, yang akan terjadi adalah sebuah negara tanpa hukum. Para penguasa akan menjadi singa-singa yang lapar, sementara rakyat ibarat kambing-kambing santapan mereka. Raja Petruk yang memang tengah dilanda eforia kebahagiaan karena ketiban durian runtuh hingga menjadi raja tak terduga, dinina bobokan dengan laporan-laporan diatas kertas saja, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi diseantero panggung kekuasaanya.

Kalau wayang lain diam saja didalam kotaknya, maka boleh jadi ia juga ikut bersalah karena tidak berbuat apa-apa.

Negeri wayang ini memerlukan Ksatria-ksatria untuk mengembalikan tata kenegaraan pada jalur yang benar, kehidupan keberagamaan yang semestinya, dan tata nilai dan norma yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan......negeri perlu Ksatria Piningit untuk menyelamatkannya dari jurang kehancuran.

Ini kisah dinegeri Wayang saja, yang sangat mungkin juga terjadi pada panggung yang lebih kecil, diprovinsi, kabupate, kecamatan, atau bahkan mungkin dalam sebuah perusahaan dikerajaan Astinapura, Bagaimana dinegeri lain? Insya Allah di negeri lain juga ya...sama!!

Wassalam

Januari 11, 2007

Genting dan Pemimpin

Genting, seperti yang kita tahu, berada pada posisi paling atas dari struktur sebuah bangunan atau rumah. Mari luangkan sedikit waktu kita untuk merenung, bagaimana prosesnya sehingga genting bisa enak-enakan “nangkring” paling atas dan apa saja konsekuensi dari posisinya tersebut.

Struktur sebuah bangunan biasanya terdiri dari pondasi, tiang-tiang, plafon atap, kemudian baru genting. Pondasi yang kokoh akan memungkinkan tegaknya tiang – tiang penyangga bangunan, dan tegaknya tiang bangunan akan memungkinkan atap dapat terpasang dan genting dapat dengan nyaman berada pada posisinya.

Analogi diatas adalah gambaran bagaimana seorang pemimpin dapat berada pada posisinya sekarang.

Katakan seorang manager pada sebuah perusahaan. Keberadaan seorang manager sangat ditentukan bagaimana kemampuan orang-orang dibawahnya, asistennya, supervisornya, atau bahkan klerknya. Sub ordinatnya inilah yang membantu para manager hingga dia berada pada posisinya sekarang.

Baik buruknya kinerja para sub ordinatnya, akan sangat mempengaruhi penilaian sang manager oleh atasannya. Ketika lini kerja dibawah koordinatornya berjalan dengan baik, yang mendapat apresiasi pertama dari Dewan direktur pasti managernya dulu, yang dianggap telah berhasil memanaj anak buahnya. Pun ketika lini kerja dibawahnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka ia, manager itu pula yang pertama harus bertanggung jawab terhadap kinerja anak buahnya.

Lalu bagaimana para manager menciptakan sebuah kondisi harmonis untuk setiap orang dibawahnya sehingga mereka mampu bersinergi dan berkontribusi positif terhadap kinerjanya maupun terhadap kinerja perusahaan?

Pertama, seorang manager harus berfungsi seperti Genting diatas. Seorang manager harus menyadari bahwa posisinya sekarang ditopang oleh orang-orang dibawahnya, bukan semata-mata karena kehebatan dia. Maka dari itu, Genting yang baik adalah genting yang mampu berfungsi untuk melindungi kusen-kusen, tiang-tiang dan plafon dari sengatan panas matahari dan siraman air hujan.

Seorang Manager, harus mampu “melindungi” anak buahnya dari setiap kondisi yang akan membuat para bawahannya mengalami demotivasi, kejenuhan, penurunan aktivitas dan lainnya, dia, manager itu harus menjadi pengayom dan teladan yang mampu membuat rasa aman bagi para anak buahnya. Persis seperti genting, gentinglah yang harus pertama kali menahan panas matahari dan siraman air hujan, agar pondasi, tiang dan kusennya tidak keropos dan tetap mampu menahan genting tetap berada diatasnya.

Sebaliknya, jika kinerja genting tidak berfungsi dengan baik, bocor misalnya, sehingga terik panas matahari dan siraman air hujan, terus mengalir keplafon, ke kusen, tiang dan kemudian pondasi, dipastikan dalam jangka waktu tertentu, plafon, kusen, dan tiang-tiang penyangga akan rapuh, keropos dan pada gilirannya tak akan mampu lagi mempertahankan genting pada posisinya, gentingpun harus jatuh beratakan, karena ketidak mampuannya menjadi pelindung bagi struktur dibawahnya.

Pun demikian dengan para manager dan pemimpin, ketika setiap kesalahan ditimpakan kepada anak buahnya, ketika ada kritikan selalu mencari kambing hitam anak buahnya, ketika komplain dan kemarahan selalu ditimpakan kepada anak buahnya, maka saat itulah fungsinya sebagai genting, sebagai pelindung tidak lagi berjalan. Dan seperti analogi genting diatas, ketika selalu menjadi kambing hitam dan objek kesalahan, maka para anak buahnya, dalam jangka waktu tertentu akan menjadi “keropos”, menjadi tidak produktif, demotivasi dan lainnya, yang pada gilirannya akan menghancurkan sang manager itu sendiri, ia akan jatuh karena ketidakmampuannya menjadi filter bagi orang-orang dibawahnya.

Manager adalah orang yang pertama mendapat apresiasi atas kinerja divisinya, seharusnya, manager pulalah orang yang pertama yang harus menerima “panas dan teriknya” kritik atas kesalahan dari dewan direksi.

Bukan sebaliknya, ketika berhasil, maka ia mengatakan “karena saya”, sementara ketika gagal “ini akibat keteledoran anak buah saya”. Yakinlah jika ini terjadi, posisi genting tidak akan mampu bertahan lama untuk bertengger diatas, tapi akan ambruk bersama kerapuhan para anak buahnya, dua-duanya rugi!!

Setiap kita adalah Manager, setiap kita adalah Pemimpin.

Anda yang menjadi pemimpin organisasi, berlakulah seperti genting yang mengayomi

Anda yang berposisi manager perusahaan, jadilah genting yang melindungi

Anda yang menjadi pemimpin, lindungi keluarga dari panas dan terik serta siraman ketidak harmonisan.

Anda, adalah pemimpin bagi diri anda sendiri, jangan selalu mencari kambing hitam atas kegagalan kita, tapi instropeksi kedalam dulu, kemudian perbaiki kesalahan kita, Insya Allah, kita tidak akan menjadi orang yang rapuh, yang selalu menimpakan kegagalan kepada nasib lagi, nasib lagi, tanpa upaya memperbaikinya.

Selamat menjadi genting, selamat menikmati posisi anda, selamat menjadi pemimpin, selamat atas keberhasilan anda, Inga...ingaa..ingaa dengan yang dibawah yang menyokong anda....


Wassalam

Januari 11, 2007.

Islam

“ISLAM = Ingin Selamat Laksanakan Ajaran Muhammad”

Demikian jawaban seseorang yang secara tidak sengaja bertemu dengan penulis pada pukul 2 dini hari disebuah masjid. Beliau dalam perjalanan dari Jakarta menuju Cirebon ketika itu. Entah siapa namanya, karena pertemuan kami memang singkat, sehingga kami belum sempat saling kenal.

Sebuha jawaban yang mungkin akan disanggah habis-habisan oleh orang-orang cerdik pandai dan orang-orang ahli syari’at, karena memang tidak ada dalil maupun haditsnya, dan kalau penulis ditanya apa dasarnya, sejujurnya penulis tidak tahu atas dasar apa beliau mendefinisikan Islam demikian.
"Apa itu Islam?" tanya si Raja Habsyah kepada Jaafar bin Abi Talib r.a. pada saat beliau Hijrah ke Negeri tersebut, beliau menjawab;:
"Islam itu ialah mengajarkan kami untuk menyembah ALLAH Yang Esa dan tidak menyekutukanNYA dengan sesuatu."
Jadi apa saja ajaran yang dibawa Nabi Muhammad sehingga mampu menjadi “penyelamat” dari fitnah dunia dan akherat?
Apa itu Islam? Tanya Malaikat Jibril kepada Rasul;
Rasulullah (s.a.w) pun menjawab,"ISLAM ialah mengucapkan tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad pesuruh Allah, menunaikan solat,membayar zakat,berpuasa sepanjang bulan Ramadhan dan menunaikan hajji ke Baitullah apabila berkemampuan."
Ajaran pertama –
Ajaran Kedua – Menunaikan Shalat, sebagaimana kita maklum bahwa salah satu fungsi Shalat adalah mencegah orang yang mendirikannya dari perbuatan keji dan munkar. Ketika kita terpelihara dari perkataan dan perbuatan keji, ketika kita terproteksi dari kemaksiatan dan kemunkaran dengan sebagai hikmah yang diperoleh dari pelaksanaan shalat yang benar, maka bukankah berarti kita akan “selamat” dari kejelekan diri dan kejelekan amaliah kita, kita menjadi terproteksi dari segala dosa dan sebaliknya akan termotivasi untuk melakukan amal shaleh.
Ketika kita terlindungi dari sifat jahat dan sebaliknya kita menjadi manusia yang gemar melakukan kebaikan, bukankah dalam itung-itungan lahiriah kita itu sebagai syarat tercapainya “keselamatan”? jadi itukah yang dimaksud bapak tadi?
Ajaran ketiga – Membayar Zakat, fungsi zakat adalah untuk membersihkan “diri dan harta kita” dari segala macam subhat yang mungkin terbawa kedalam kehidupan kita. Ketika kita senantiasa bersih, baik itu bersih lahir maupun bathin, maka kita akan menjadi “imun” terhadap berbagai penyakit, baik itu penyakit lahiriah, maupun penyakit bathiniyah seperti sombong, ujub, riya, dan takabur. Bukankah jenis-jenis penyakit ini yang akan menjerumuskan kita kedalam juran kehancuran, dan ketika kita terbebas dari penyakit-penyakit ini, maka Insya Allah kita akan selamat fi dunya wal akhirat, jadi itukah yang dimaksud bapak tadi?
Ajaran keempat – Menunaikan ibadah shaum dibulan Ramadhan, Rasyid Ridha menuturkan bahwa selain memiliki formal, yaitu menahan diri hal-hal yang membatalkannya, puasa secara fungsional adalah untuk mendidik jiwa kita dari keinginan terhadap keduniawian yang berlebihan (Tarbiyatul lil iradah), melatih jiwa kita untuk taat terhadap perintah Allah swt (Tareqat al malaikat), meneladani sifat-sifat ketuhanan seperti kasih sayang, sabar dan dermawan (Tarbiayatul illahiyah) serta untuk menyucikan jiwa kita (Tazkiyatun an nafs). Ketika nilai yang terbentuk dengan ajaran puasa ini dapat dicapai, maka kita sebagai manusia akan mempunyai peluang yang sangat besar untuk selamat dari jebakan-jebakan iblis dan bala tentaranya. Jadi itukah yang dimaksud bapak tadi?
Ajaran kelima – Menunaikan ibadah haji, salah satu rukun haji adalah wukuf di Arofah. Arofah padanan kata Arofah adalah Arifun, ya’rifu, arofatun makrifat, yang semuanya bermuara pada sebuah makna yang sangat agung, yaitu seorang Haji akan menjadi orang arif lagi bijaksana, seorang haji akan makin mengenal siapa dirinya, sehingga akan makin menyadari betapa ia kecil dihadapan Allah swt dan akhirnya Makrifat, mengenal siapa Allah, tuhannya. Bukankah ini juga sebuah jaminan “keselamatan” bagi orang yang memilikinya? Jadi itukah yang dimaksud bapak tadi?
Wallahu’alam, Maha Suci Allah yang telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya, perlu satu tahun lebih bagi penulis dhaif ini untuk sekedar mengira-ngira apa maksud si Bapak yang sekarang entah dimana.
Wassalam

January 25, 2006

Jari – jari..........

“Ibu jari...., jari telunjuk......, jari tengah yang panjang....., jari manis pakai cincin...., jari kelingking terkecil......”

Masih ingat syair lagu diatas?

Mari kita bermain-main sedikit dengannya.
Sebuah simulasi sederhana tentang keterkaitan dan saling ketergantungan kelima jari tangan kita dan kaitannya dengan rukun Islam yang lima yang juga saling mengisi dan sangat berkaitan satu sama lainnya.
Rentangkan telapak tangan dari jari anda, ambil sebuah pensil dengan kelima jari anda, maka pensil itu akan terpegang dengan sangat kokoh.
Kemudian lepaskan pegangan kelingking anda dari pensil tadi, maka pensilpun masih akan terpegang dengan cukup kuat.

Kemudian lepaskan lagi pegangan jari manis anda dari pensil tadi, maka pensilpun masih akan terpegang dengan relatif kuat
Kemudian lepaskan lagi pegangan jari tengah anda dari pensil tadi, maka pensil masih akan tetap terpegang oleh jari telunjuk dan ibu jari anda.
Sekarang coba lepaskan salah pegangan ibu jari atau jari telunjuk anda, insya Allah pensil itu akan jatuh, tidak bisa lagi dipegang.
Sebaliknya, ketika pegangan yang lepas dari pensil itu mulai dari ibu jari atau telunjuk dulu, misalnya pensil itu kita pegang dengan ketiga kari kita, jari tengan, jari manis dan kelingking, maka dalam tempo yang jauh lebih cepat pensil itu akan jatuh.
Seorang teman menggunakan simulasi itu untuk menggambarkan bagaimana rukun Islam yang lima bersinergi untuk menjadikan pegangan/buhul yang kuat.
Sang teman mengibaratkannya begini;
Ibu jari = Syahadat / Tauhid, Jari telunjuk = Shalat, Jari tengah = zakat, Jari Manis = Puasa, dan Kelingking = Ibadah Haji
Seperti simulasi diatas, ketika seluruh jari memegang pensil, maka pegangan itu menjadi sangat kuat; Maka ketika kita sudah mengamalkan kelima rukun Islam itu dengan benar, maka kita akan memiliki pegangan yang sangat kuat. Kita ketika itu Insya Allah menjadi Muslim yang paripurna, seperti kuatnya kelima pegangan jari tadi.
kemudian ketika jari kelingking melepaskan pegangannya, maka pegangan kita pada pensil itu menjadi cukup kuat. Artinya ketika kita belum diberi kemampuan untuk menunaikan ibadah haji, sepanjang kita masih melaksanakan keempat rukun Islam yang lain, kita masih memiliki pegangan yang cukup kuat, untuk tetap disebut sebagai orang Islam.
Kemudian ketika jari manis kita melepaskan pegangannya, maka pegangan kita menjadi relatif kuat. Ketika kita belum berhaji, kemudia kita juga belum mampu menunaikan puasa secara sempurna dengan alasan yang dibenarkan secara syariah, maka kita pun insya Allah masih disebut orang Islam, meskipun keimanan kita dipertanyakan.
Kemudian lagi, ketika jari tengah kita melepaskan pegangannya, atau ketika kita belum mampu menunanikan ibadah haji, sementara puasa kita pun masih setengah-setengah, dan zakat tidak kita penuhi, maka Insya Allah, kartu identitas kita masih sebagai orang Islam.
Tapi ketika ibu jari atau jari telunjuk kita lepas, maka kita tidak bisa lagi berpegangan, artinya, ketika syahadat kita tidak benar dan kita tidak shalat, maka kita sudah bukan seorang muslim lagi, Naudzubillah.
Syahadat dan Shalat adalah pembeda utama antara seorang Muslim dan Kafir. Zakat dikenal oleh agama lain, puasa juga dilakukan oleh pemeluk agama lain, pun dengan haji, orang lain pergi ke Vatikan atau ke Yerusalem sebagai ibadah haji-nya mereka.
Tapi ketika kita meng-esa-kan Allah, baik secara Dzat, Rubbubiyah, Uluhiyah serta Asma dan Sifat-Nya, ini tidak dimiliki oleh agama lain. Mereka menyekutukan Allah dalam Dzat-nya dengan mengatakan Tuhan mempunyai anak dan istri, mereka mengatakan ada Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Tuhan ibu, mereka mensifati Tuhan dengan sifat-sifat kefanaan, bahwa Tuhan akan mati, tuhan merasakan sakit dan lain sebagainya, mereka pun menyekutukan Tuhan dalam peribadatannya dengan menjadi berhala dan orang-orang shaleh diantara mereka sebagai “penghubung” dengan Tuhan katanya. Syahadat yang benar merupakan ciri utama seorang Muslim yang membedakannya dengan orang kafir.
Pun dengan Shalat, yang merupakan sarana Makrifat kita kepada Allah Swt. Umat lain tidak mempunyai hak makrifat sebagaimana halnya hanya Nabi Muhammad yang di Isra Mi’raj-kan untuk bertemu langsung dengan Allah, sementara nabi-nabi yang lain tidak.
Jadi kalau syahadat dan Shalat kita tidak benar, kita bukan lagi sebagai Muslim, seperti pensil yang lepas dari pegangan kita tadi.
Bersyukurlah kepada Allah yang telah memberi kita lima jari lengkap, dengan berupaya secara sungguh-sungguh lima rukun Islam agar kita menjadi Muslim yang sebenarnya, bukan sekedar muslim turunan apalagi muslim KTPnya saja.
Wassalam
Januari 11, 2007

Jemputan

Hampir setiap hari kita “berebut” mobil jemputan yang mengantar kita pulang dan pergi kekantor. Ada yang sudah menunggu duluan, malah dapat belakangan, karena yang datang kemudian langsung “nyerobot” masuk mendahului yang sudah sedari tadi menunggu. “Yang penting Saya” dapat mobil, kenapa tidak masuk mobil duluan, atau kenapa lelet nunggunya, begitu kira-kira alasannya. Itulah romatika kita, yang masih ikut mobil jemputan.

Kenapa kita berebut jemputan? Karena kalau kita telat dapat mobil, kemungkinan juga kita akan telat sampai dikantor, pun sebaliknya, kita pengen buru-buru dapat mobil ketika sore hari, agar dapat lebih cepat sampai kerumah. Singkatnya, kita berebut, karena kita tahu tujuan dan konsekuensinya apabila kita tidak dapat jemputan dengan segera.

Bagaimana dengan “jemputan terakhir” kita? Akankah kita berebut seperti halnya jemputan harian kita?

“Jemputan terakhir” yang penulis maksud adalah “jemputan kepulangan kita ke rumah keabadian, yaitu kematian. Suatu saat, kita akan dijemput oleh Malaikat Maut untuk kembali kepada Allah, baik itu suka atau dengan terpaksa, baik ketika kita siap ataupun tidak.
Kenapa ada banyak diantara kita yang tidak siap dan merasa terpaksa ketika jemputan terakhir itu datang menghampiri kita? Kenapa kita tidak berebut untuk ikut jemputan duluan? Kenapa kita takut? Kenapa kita seolah tidak mau “pulang” keasal kita?

Kalau kita berebut jemputan harian kita, karena kita tahu akan kemana kita, ketika pagi kita ikut jemputan, kita sudah tahu bahwa kita akan kekantor, kita pun tahu apa yang ada dikantor, siapa saja yang berada diruangan kantor dan kondisi seperti apa yang akan kita hadapi setibanya dikantor, semuanya kita tahu.

Ketika pulang kerjapun kita sudah tahu tujuan kita, rumah, dimana anak dan istri tercinta menanti, dimana suami yang menyayangi menunggu, dimana kesempatan untuk beristirahat terbuka, dan lain sebagainya, kita tahu kemana mobil jemputan akan mengantar kita.

Berbeda halnya dengan “jemputan terakhir” kita. Kita, kalau bisa pasti akan lari dan tidak mau dijemput, kenapa?

Karena kita tidak tahu seperti apa kondisi disana, bagaimana keadaan kita disana, dan masih banyak lagi ketidak tahuan kita tentang dunia dan kondisi yang akan kita hadapi setelah jemputan terakhir itu datang.

Kita belum atau tidak siap sama sekali untuk menghadapinya, padahal mau tidak mau, kita pasti harus ikut jemputan terakhir itu.

“setiap jiwa akan mati”, jadi mati adalah sunnatullah, yang dialami oleh apapun dan siapapun yang “bernyawa.

11. Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, Kemudian Hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan."

Hal terbaik dan paling bijaksana untuk menghadapi sesuatu yang “pasti” terjadinya, adalah mempersiapkan bekal yang akan kita bawa pasca kita dijemput nanti.

Kehidupan kita saat ini, didunia ini adalah “halte” sementara kita sambil menunggu datangnya jemputan. Manusia yang paling bijaksana adalah manusia yang tahu bahwa saat ini dia berada dihalte, bukan diterminal atau stasiun terakhir. Sehingga ketika kita menyadari bahwa kita berada dihalte, hanya mampir untuk sementara, maka kita akan berusaha dengan bijak untuk bersiap-siap menunggu jemputan kita dan mempersiapkan barang bawaan kita sebaik mungkin. Tentu kita tidak mau dibebani dengan barang bawaan yang akan memberatkan kita membawanya, tentu kita juga tidak ingin kenyamanan kita juga terganggu, pasti yang ingin kita bawa adalah barang-barang yang berharga dan akan menolong kita dan dapat kita gunakan dalam perjalanan dan ketika kita sampai diterminal kelak.

Sebaliknya, orang yang mengira bahwa dia akan berada dihalte selama-lamanya, adalah jenis manusia yang tidak bijaksana. Seenak apapun kondisi dihalte, adalah untuk sementara saja, sementara ujung perjalanan adalah terminal atau stasiun. Ketika dihalte ini kita mengumpulkan semua barang, termasuk barang rongsokan dan tidak berguna, maka kecelakaanlah bagi kita, karena demikian banyak beban yang harus kita bawa, sementara belum tentu berguna bagi kita.

Ketika dihalte ini kita banyak bergurau dan bercanda, tidak memperhatikan waktu yang terus berlalu, maka ia akan menyesal ketika menyadari bahwa saat ini senja telah datang, dan malam menjelang, sementara kita masih sibuk dengan urusan yang belum terselesaikan, menyesal tiada guna.

Apa sih yang akan kita bawa pulang keakherat kelak? Tidak lain adalah buah amal ibadah kita selama kita hidup didunia, buah amalnya saja, karena diakherat kelak, tidak tidak lagi beramal ibadah.

Layaknya bercocok tanam untuk menghasilkan buah yang baik, maka selain harus memiliki ladang amal yang banyak, shalat, zakat, puasa, berhaji, dan lain sebagainya, kita juga harus menjaga tanaman dan ladang amal kita agar tidak digerogoti oleh “hama wereng” berupa “Riya dan Ujub”. Kerugian dua kali kita ketika kita tidak memupuk amal kita dengan Keikhlasan, karena kita hanya akan mendapatkan lelah dan menghabiskan waktu dan tenaga, sementara buahnya tidak bisa kita petik untuk dijadikan bekal mudik kita kelak.

Pupuklah Amal dengan Ikhlas, siangi Amal dengan Istiqomah, Insya Allah buahnya dapat kita tuai dan manfaatkan untuk bekal kita.

Mari bersiap menunggu “jemputan terakhir” dengan bijak, agar kita tidak tergagap ketika ia datang kelak...

Wassalam

Januari 10, 2007

Dua mata saya

Dua mata saya, hidung saya satu
Dua kaki saya pakai sepatu baru

Dua telinga saya, yang kiri dan kanan
Satu mulut saya tidak berhenti makan

Demikian sebuah syair yang sangat akrab ditelinga kita, sebuah syair yang sederhana, tapi dibalik kesederhanaannya itu, ada beberapa hikmah yang bisa kita petik untuk menambah perbendaharaan hikmah dalam perjalanan hidup kita.

“Dua mata saya” adalah sebuah kesempurnaan dan desain serta perencanaan yang demikian agung dan penuh hikmah. Kenapa mata kita dua dan kenapa Allah meletakannya di bagian depan muka kita? Bukan disamping atau dibelakang misalnya?

Dar sebuah e-mail yang pernah penulis terima, (mohon maaf tidak bisa dicopy paste ke dalam tulisan ini, karena sudah didelete atau lupa dari siapa sendernya dan kapan), menjelaskan bahwa salah satu hikmah atas penempatan mata kita dibagian depan muka kita adalah sebuah pesan tak tertulis dari Allah atau yang biasa kita kenal dengan ayat “Kauniyah”, yang menyatakan bahwa kita, sesuai desainnya “diharuskan untuk menatap kedepan”, menatap hari esok, mengajarkan kita untuk berpikir kedepan dan tidak larut dengan masa lalu, “bagian belakang dalam kehidupan kita”.

Setiap kita pasti punya masa lalu, ada yang mempunyai masa lalu yang indah, namun tak jarang yang mempunyai masa lalu yang tidak terlalu mengesankan. Dengan penciptaan kedua mata dan penempatannya yang sedemikian sempurna, seharusnya kita tidak terjebak dalam kubangan masa lalu, baik masa lalu yang indah maupun sebaliknya. Seindah apapun masa lalu, tak boleh menjadikan kita hanya bangga dengan masa lalu, waktu kita adalah mulai dari “hari ini” untuk mempersiapkan “hari esok” yang masih penuh misteri. Ada banyak orang yang terjebak dengan kebesaran masa lalunya, kemudian selalu mengagungkannya tanpa pernah berbuat apapun pada hari ini, sehingga ia kemudian tergagap menghadapi masa depan.

Sejelek apapun masa lalu, kita pun tak boleh terpuruk karenannya, kita punya “hari ini” untuk mengubah kehidupan kita besok, insya Allah.

Boleh kita bangga dengan kehebatan Islam pada masa lalu, tapi ketika kebanggaan itu hanya dijadikan bahan kajian dan seminar, tanpa upaya nyata dari kita untuk kembali merebut kejayaan itu, sama saja kita ingin makan roti, tanpa hanya dalam khayalan, sebuah tindakan konyol kalau tidak mau dibilang bodoh.

Tataplah kedepan, jadikan masa lalu sebagai acuan, dengan memperbaikinya hari ini dan menggapai hasilnya hari esok.

Lalu kenapa Allah menciptakan “dua mata”, Dua telingga, sementara hanya “satu mulut”?

Lagi, sebuah hikmah yang besar dari Allah atas penciptaan dan penempatan mata, telinga dan mulut kita.

Banyak pakar-pakar yang mengatakan bahwa salah satu ciri “orang besar” adalah orang yang banyak melihat, banyak mendengar, tapi sedikit bicara, “Sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Bukankah fasilitas mendengar kita, yaitu telinga kita jumlahnya lebih banyak dari mulut kita yang hanya satu, bukankah fasilitas melihat kita, yaitu mata juga memiliki jumlah yang lebih banyak dari mulut kita, dari sanalah kita bisa mengambil hikmah, Dengar dan lihatlah lebih banyak, sampaikan dengan “sedikit” bicara.

Ada banyak contoh yang bisa dikedepankan berkaitan dengan hal diatas. Betapa seorang yang mempunyai reputasi besar diberbagai bidang, menjadi hancur karena ketidak mampuannya menjaga mulutnya, ketidakmampuanya memahami pesan Allah bahwa seharusnya mata dan telinga-lah yang harus difungsikan lebih banyak sesuai dengan kuantitas penciptaanya, bukan mulut yang justru diciptakan Allah hanya satu saja.

Sebaliknya dengan mudah kita mendapatkan para cerdik cendikia, para alim ulama, para arifin yang seakan-akan diam seribu bahasa, tapi justru melahirkan berbagai maha karya yang sangat menakjubkan, justru dengan memaksimalkan potensi pemberian Allah yaitu dua mata, dua telinga.

Terlalu banyak bicara melahirkan potensi-potensi “keseleo” lidah, yang kemudian akan berpotensi melahirkan kesalahan-kesalahan lain. Sekali saja kita berbohong atau berkata tidak benar, atau keseleo lidah, maka kita (biasanya) akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan argumentasi kita, kadang tidak peduli lagi apakah argumentasi kita itu benar atau salah, bahkan harus berbohong (lagi) untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Sebaliknya, ada peribahasa “diam itu emas”, memang tak selamanya pepatah ini bisa berlaku dalam setiap kondisi, karena kita tidak harus berdiam diri saja dan tidak menyuarakan apapun ketika ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan kedhaliiman terpampang didepan mata kita, justru saat itulah kita harus berteriak lantang menentangnya. Dengan kebijaksanaan kita dalam memanfaatkan potensi dua telinga dan mata kita, apa yang kita serukan dan kita lontarkan sudah terlebih dulu melalui pendengaran dan penglihatan yang benar, bukan sekedar katanya, bukan hanya untuk memenuhi keinginan kita membuka mulut semata, tapi atas dasar kebijaksaaan dan kebenaran hakiki.

Banyak sekali ayat Allah yang menyatakan “apakah kalian tidak mendengar, apakah kalian tidak melihat....”, untuk menggambarkan betapa pentingnya peran dan fungsi dua mata dan telinga kita.

Satu hal yang harus diingat “ Jangan mendengar dan melihat perkataan dan perbuatan dusta”
Semoga Allah memilihkan kita objek pendengaran dan penglihatan yang laik konsumsi dan menjauhkan kita dari hal-hal munkar dari ruang penglihatan dan pendengaran kita. Semoga pula Allah menjaga mulut kita dari perkatan dusta dan perkataan sia-sia.

Wassalam

Januari 08, 2006.

Buka Mata, Buka Hati

“Sekitarmu adalah laboratorium., dan engkau adalah ilmuwannya”

Demikian sebuah kutipan dari buku yang pernah penulis baca, yang mengajak kita untuk membuka mata dan hati kita tentang kondisi disekitar kita, yang menyediakan demikian banyak objek untuk kita jadikan rujukan bagi kita.

Dilingkungan kantor ini saja misalnya, kita mengenal ada Kaizen team, ada divisi marketing, MIT, Logistic, Accounting, HRD dan lainnya, apa yang bisa kita ambil dari apa yang ada “dilaboratorium” kita ini?

Dengan segala keterbatasan yang ada pada penulis, mungkin kita bisa mengambil beberapa pelajaran dari laboratorium kantor kita ini.

Dari Saudara/i kita yang berada di Kaizen Team, kita mengenal konsep Kaizen atau Continoues Improvement yang dideifinisikan sebagai upaya perbaikan terus – menerus untuk mencapai tingkat optimalisasi pekerjaan (Mohon maaf kalau definisinya kurang tepat). Dari konsep ini mungkin ada beberapa hal yang bisa kita terapkan dalam upaya kita untuk “improve’ diri kita;

Kaizen dapat kita terapkan dalam proses peningkatan kualitas pribadi kita
Kaizen dapat kita terapkan dalam proses peningkatan kualitas ibadadah kita
Kaizen dapat kita terapkan dalam proses peningkatan kualitas kedewasaan kita
Kaizen dapat kita terapkan dalam proses peningkatan kualitas keberagamaan kita
Kaizen dapat kita terapkan dalam proses peningkatan kualitas keluarga kita
Kaizen dapat kita terapkan dalam proses peningkatan kualitas lingkungan kita
Kaizen dapat kita terapkan dalam proses peningkatan kualitas penghambaan kita
Kaizen dapat kita terapkan dalam proses peningkatan kualitas shalat kita
Kaizen dapat kita terapkan dalam proses peningkatan kualitas puasa kita
Kaizen dapat kita terapkan dalam proses peningkatan kualitas zakat kita
Kaizen dapat kita terapkan dalam proses peningkatan kualitas kita secara keseluruhan...
Kaizen bisa kita jadi alat agar kita bisa menjadi manusia yang beruntung, manusia yang memiliki hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini.......

Atas kebaikan seorang panuatan penulis di Kaizen Team, penulis pernah diajari sebuah konsep laporan yang dikenal dengan A3 REPORT FORM, yang isinya kira-kira berupa kuadran-kuadran, untuk memetakan kondisi “saat ini” dan apa yang akan dicapai, detailnya mungkin seperti ini;

Kuadran1 menyatakan posisi dan keadaan “saat ini” yang menunjukan kondisi real yang terjadi saat ini.

Kuadran 2 untuk menyatakan penyebab dari apa yang digambarkan dikuadran pertama.

Kuadran 3 merupakan “consideration area’ atau kemungkinan-kemungkinan yang akan diambil untuk memperbaiki kondisi di kuadran 1 dan upaya-upaya untuk mencegah kesalahan yang terjadi di kuadran 2 tidak terulang lagi..

Kuadran 4 adalah goal yang hendak dicapai dan peningkatan yang harus dilakukan.

Bagus bukan? Mari coba kita ganti item dalam kuadran diatas dengan item keseharian kita:

Kita bisa mengganti kondisi dikuadran 1, misalnya dengan Shalat kita yang masih suka telat dan masih ada bolong-bolongnya

Kuadran 2 kita bisa ganti dengan faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan shalat kita, misalnya, sibuk, dalam perjalanan, atau karena malas!!

Kuadran 3 kemudian kita ganti dengan memetakan kesibukan kita sedemikian rupa sehingga shalat kita tidak lagi tertinggal, atau kita atur perjalanan kita sehingga kita bisa shalat tepat waktu, atau kita kendalikan rasa malas kita dan menggantinya dengan sikap rajin

Kuadran 4 kita bisa isi dengan peningkatan shalat kita, dari sekedar shalat fardhu, menambahnya dengan shalat nafilah, shalat sunnah atau bahkan kita jadikan shalat tahajud sebagi goal yang harus kita capai setelah shalat fardhu kita lengkap....

Dan kita bisa terapkan pemetaan diatas untuk puasa kita, zakat kita atau kapan kita akan ke tanah suci untuk menyempurnakan rukun islam kita...subhanallah.

Dalam Kaizen juga kita mengenal istilah Heyjunka...keteraturan,
Bukankah perputaran matahari dan rembulan adalah keteraturan,
Bukankah pergantian musim penghujan dan panas juga sebuah keteraturan,
Bukankah pergantian siang dan malam juga sebuah keteraturan,
Bukankah hidup kita pun harus teratur???

Dari saudara/i kita di MIT team, kita bisa belajar bagaimana kita “dipaksa” untuk meyakini fungsi “wireless cable yang ghaib”, yang tidak ada koneksi yang kelihatan yang menghubungkan PC dan server, tapi kemudian kita tetap bisa mengakses data dari server.

Atau kita juga bisa belajar bagaiman tulisan ini sampai dihadapan pembaca, persis seperti yang ada dihadapan penulis, siapa yang mengantar? Melalui apa? Bagaimana caranya? Semuanya “ghaib”.

Jika kita meyakini adanya sinyal wireless yang tidak nampak secara kasat mata itu sebagai “ada” atau “wujud”, lalu kita juga bisa dengan gamblang menjelaskan proses pengiriman informasi lewat e-mail yang juga tidak kelihatan,namun “ada” dan “wujud”, lalu kenapa kita masih menyangsikan keberadaan Yang Maha Ghaib, Allah Swt.?

Saudara/i kita di MIT pasti bisa menjelaskan dengan detail apa yang terjadi dengan sinyal wireless dan proses pengiriman data lewat e-mail karena beliau-beliau memiliki ilmunya, pun untuk “mengetahui” Allah kita perlu ilmunya.....ilmu untuk mengenal Allah.

Dari saudara/i kita di Accounting, kita mengenal istilah Journal, yang terambil dari bahasa arab “jaradah” yang artinya “catatan harian”. Bukankah kita juga perlu catatan harian untuk mengukur kuantitas dan kualitas ibadah kita, bukan untuk ujub dan takabur karenanya, melainkan untuk memperbaiki apa yang kurang dan menambah apa yang belum dilakukan, atau istilah akuntansinya untuk melakukan “adjustment – adjustment”, melakukan penyesuaian agar benar secara syariat, tarekat dan hakekat.

Dalam akuntansi kita juga mengenal Balance Sheet – Neraca yang melukiskan keseimbangan dua sisi, sisi debit dan sisi kredit agar laporannya bisa dipertanggung jawabkan. Ketika terjadi un-balance, maka laporan keuangan lainnya tidak akan bisa diproses dan fungsinya sebagai alat untuk manajemen untuk mengambil keputusan menjadi berkurang

Kita pun memerlukan keseimbangan jasmani dan rohani
Kita pun memerlukan keseimbangan duniawi dan ukhrowi
Kita pun memerlukan keseimbangan lahir bathin
Kita pun memerlukan keseimbangan waktu untuk ibadah, bekerja dan keluarga
Kita pun memerlukan keseimbangan agar kita tidak terpeleset ketika kita meniti pematang kehidupan yang sangat “licin” ini.

Kita pun mengenal laporan laba-rugi dalam akuntansi, bukankan kita juga memerlukan perhitungan untung ruginya ketika kita hendak melakukan kegiatan, apakah aktivitas itu diridhai atau tidak oleh Allah sehingga kita tidak mengalami kerugian diakhir masa kelak.

Dari saudara/i kita di Marketing – Allah sering menggambarkan beberapa jenis ibadah sebagai sebuah perniagaan, seperti ayat berikut ini;


10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (As Shaff:10)


Konsep utama dalam penjualan adalah bagaimana mendapatkan laba sebesar-besarnya dengan tingkat pengorbanan yang seminimal mungkin.

Kadang kita rajin sekali beribadah, tapi tidak disertai ilmu yang memadai, sehingga pengorbanan waktu kita, uang kita untuk melaksanakan ibadah tidak mendapatkan imbalan yang sepatutnya. Misalnya Shalat kita yang tidak benar, zakat kita yang tidak disertai keikhlasan, tidak akan mendapatkan imbalan yang sepantasnya.

Sebaliknya, dengan menggunakan konsep marketing tadi, kita lakukan ibadah kita seusai dengan tuntunan dan ilmu yang benar, Insya Allah, pahala atau imbalan yang kita dapatkan akan sangat menguntungkan.

Dari saudara/i kita di Logistic – apa yang bisa kita pelajari?
Logistic banyak berperan sebagai fungsi kontrol terhadap keberadaan stock dan stabilitasnya.

Iman kita, yang kata nabi, bahwa iman itu kadang naik dan kadang turun, mungkin kita bisa belajar dari logistic bagaimana menjaga temperatur dan stabilitas iman kita agar stabil dan secara kontinyu bisa mendorong kita untuk melakukan amaliah yang menguntungkan.

Dari HRD? Kita bisa belajar bagaimana caranya berinteraksi dengan karyawan, bagaimana treatment terhadap berbagai permasalahan manusia dan uang.

Pasti selalu ada yang bisa kita pelajari jika kita mau barang sedikit saja Membuka Mata dan Membuka hati kita.

Semoga kita menjadi ilmuwan-ilmuwan yang mendapat bimbingan dan ridha-Nya. Amiin

Wassalam

January 05,2007