Monday, February 19, 2007

Jemputan

Hampir setiap hari kita “berebut” mobil jemputan yang mengantar kita pulang dan pergi kekantor. Ada yang sudah menunggu duluan, malah dapat belakangan, karena yang datang kemudian langsung “nyerobot” masuk mendahului yang sudah sedari tadi menunggu. “Yang penting Saya” dapat mobil, kenapa tidak masuk mobil duluan, atau kenapa lelet nunggunya, begitu kira-kira alasannya. Itulah romatika kita, yang masih ikut mobil jemputan.

Kenapa kita berebut jemputan? Karena kalau kita telat dapat mobil, kemungkinan juga kita akan telat sampai dikantor, pun sebaliknya, kita pengen buru-buru dapat mobil ketika sore hari, agar dapat lebih cepat sampai kerumah. Singkatnya, kita berebut, karena kita tahu tujuan dan konsekuensinya apabila kita tidak dapat jemputan dengan segera.

Bagaimana dengan “jemputan terakhir” kita? Akankah kita berebut seperti halnya jemputan harian kita?

“Jemputan terakhir” yang penulis maksud adalah “jemputan kepulangan kita ke rumah keabadian, yaitu kematian. Suatu saat, kita akan dijemput oleh Malaikat Maut untuk kembali kepada Allah, baik itu suka atau dengan terpaksa, baik ketika kita siap ataupun tidak.
Kenapa ada banyak diantara kita yang tidak siap dan merasa terpaksa ketika jemputan terakhir itu datang menghampiri kita? Kenapa kita tidak berebut untuk ikut jemputan duluan? Kenapa kita takut? Kenapa kita seolah tidak mau “pulang” keasal kita?

Kalau kita berebut jemputan harian kita, karena kita tahu akan kemana kita, ketika pagi kita ikut jemputan, kita sudah tahu bahwa kita akan kekantor, kita pun tahu apa yang ada dikantor, siapa saja yang berada diruangan kantor dan kondisi seperti apa yang akan kita hadapi setibanya dikantor, semuanya kita tahu.

Ketika pulang kerjapun kita sudah tahu tujuan kita, rumah, dimana anak dan istri tercinta menanti, dimana suami yang menyayangi menunggu, dimana kesempatan untuk beristirahat terbuka, dan lain sebagainya, kita tahu kemana mobil jemputan akan mengantar kita.

Berbeda halnya dengan “jemputan terakhir” kita. Kita, kalau bisa pasti akan lari dan tidak mau dijemput, kenapa?

Karena kita tidak tahu seperti apa kondisi disana, bagaimana keadaan kita disana, dan masih banyak lagi ketidak tahuan kita tentang dunia dan kondisi yang akan kita hadapi setelah jemputan terakhir itu datang.

Kita belum atau tidak siap sama sekali untuk menghadapinya, padahal mau tidak mau, kita pasti harus ikut jemputan terakhir itu.

“setiap jiwa akan mati”, jadi mati adalah sunnatullah, yang dialami oleh apapun dan siapapun yang “bernyawa.

11. Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, Kemudian Hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan."

Hal terbaik dan paling bijaksana untuk menghadapi sesuatu yang “pasti” terjadinya, adalah mempersiapkan bekal yang akan kita bawa pasca kita dijemput nanti.

Kehidupan kita saat ini, didunia ini adalah “halte” sementara kita sambil menunggu datangnya jemputan. Manusia yang paling bijaksana adalah manusia yang tahu bahwa saat ini dia berada dihalte, bukan diterminal atau stasiun terakhir. Sehingga ketika kita menyadari bahwa kita berada dihalte, hanya mampir untuk sementara, maka kita akan berusaha dengan bijak untuk bersiap-siap menunggu jemputan kita dan mempersiapkan barang bawaan kita sebaik mungkin. Tentu kita tidak mau dibebani dengan barang bawaan yang akan memberatkan kita membawanya, tentu kita juga tidak ingin kenyamanan kita juga terganggu, pasti yang ingin kita bawa adalah barang-barang yang berharga dan akan menolong kita dan dapat kita gunakan dalam perjalanan dan ketika kita sampai diterminal kelak.

Sebaliknya, orang yang mengira bahwa dia akan berada dihalte selama-lamanya, adalah jenis manusia yang tidak bijaksana. Seenak apapun kondisi dihalte, adalah untuk sementara saja, sementara ujung perjalanan adalah terminal atau stasiun. Ketika dihalte ini kita mengumpulkan semua barang, termasuk barang rongsokan dan tidak berguna, maka kecelakaanlah bagi kita, karena demikian banyak beban yang harus kita bawa, sementara belum tentu berguna bagi kita.

Ketika dihalte ini kita banyak bergurau dan bercanda, tidak memperhatikan waktu yang terus berlalu, maka ia akan menyesal ketika menyadari bahwa saat ini senja telah datang, dan malam menjelang, sementara kita masih sibuk dengan urusan yang belum terselesaikan, menyesal tiada guna.

Apa sih yang akan kita bawa pulang keakherat kelak? Tidak lain adalah buah amal ibadah kita selama kita hidup didunia, buah amalnya saja, karena diakherat kelak, tidak tidak lagi beramal ibadah.

Layaknya bercocok tanam untuk menghasilkan buah yang baik, maka selain harus memiliki ladang amal yang banyak, shalat, zakat, puasa, berhaji, dan lain sebagainya, kita juga harus menjaga tanaman dan ladang amal kita agar tidak digerogoti oleh “hama wereng” berupa “Riya dan Ujub”. Kerugian dua kali kita ketika kita tidak memupuk amal kita dengan Keikhlasan, karena kita hanya akan mendapatkan lelah dan menghabiskan waktu dan tenaga, sementara buahnya tidak bisa kita petik untuk dijadikan bekal mudik kita kelak.

Pupuklah Amal dengan Ikhlas, siangi Amal dengan Istiqomah, Insya Allah buahnya dapat kita tuai dan manfaatkan untuk bekal kita.

Mari bersiap menunggu “jemputan terakhir” dengan bijak, agar kita tidak tergagap ketika ia datang kelak...

Wassalam

Januari 10, 2007

No comments:

Post a Comment