Monday, February 19, 2007

Genting dan Pemimpin

Genting, seperti yang kita tahu, berada pada posisi paling atas dari struktur sebuah bangunan atau rumah. Mari luangkan sedikit waktu kita untuk merenung, bagaimana prosesnya sehingga genting bisa enak-enakan “nangkring” paling atas dan apa saja konsekuensi dari posisinya tersebut.

Struktur sebuah bangunan biasanya terdiri dari pondasi, tiang-tiang, plafon atap, kemudian baru genting. Pondasi yang kokoh akan memungkinkan tegaknya tiang – tiang penyangga bangunan, dan tegaknya tiang bangunan akan memungkinkan atap dapat terpasang dan genting dapat dengan nyaman berada pada posisinya.

Analogi diatas adalah gambaran bagaimana seorang pemimpin dapat berada pada posisinya sekarang.

Katakan seorang manager pada sebuah perusahaan. Keberadaan seorang manager sangat ditentukan bagaimana kemampuan orang-orang dibawahnya, asistennya, supervisornya, atau bahkan klerknya. Sub ordinatnya inilah yang membantu para manager hingga dia berada pada posisinya sekarang.

Baik buruknya kinerja para sub ordinatnya, akan sangat mempengaruhi penilaian sang manager oleh atasannya. Ketika lini kerja dibawah koordinatornya berjalan dengan baik, yang mendapat apresiasi pertama dari Dewan direktur pasti managernya dulu, yang dianggap telah berhasil memanaj anak buahnya. Pun ketika lini kerja dibawahnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka ia, manager itu pula yang pertama harus bertanggung jawab terhadap kinerja anak buahnya.

Lalu bagaimana para manager menciptakan sebuah kondisi harmonis untuk setiap orang dibawahnya sehingga mereka mampu bersinergi dan berkontribusi positif terhadap kinerjanya maupun terhadap kinerja perusahaan?

Pertama, seorang manager harus berfungsi seperti Genting diatas. Seorang manager harus menyadari bahwa posisinya sekarang ditopang oleh orang-orang dibawahnya, bukan semata-mata karena kehebatan dia. Maka dari itu, Genting yang baik adalah genting yang mampu berfungsi untuk melindungi kusen-kusen, tiang-tiang dan plafon dari sengatan panas matahari dan siraman air hujan.

Seorang Manager, harus mampu “melindungi” anak buahnya dari setiap kondisi yang akan membuat para bawahannya mengalami demotivasi, kejenuhan, penurunan aktivitas dan lainnya, dia, manager itu harus menjadi pengayom dan teladan yang mampu membuat rasa aman bagi para anak buahnya. Persis seperti genting, gentinglah yang harus pertama kali menahan panas matahari dan siraman air hujan, agar pondasi, tiang dan kusennya tidak keropos dan tetap mampu menahan genting tetap berada diatasnya.

Sebaliknya, jika kinerja genting tidak berfungsi dengan baik, bocor misalnya, sehingga terik panas matahari dan siraman air hujan, terus mengalir keplafon, ke kusen, tiang dan kemudian pondasi, dipastikan dalam jangka waktu tertentu, plafon, kusen, dan tiang-tiang penyangga akan rapuh, keropos dan pada gilirannya tak akan mampu lagi mempertahankan genting pada posisinya, gentingpun harus jatuh beratakan, karena ketidak mampuannya menjadi pelindung bagi struktur dibawahnya.

Pun demikian dengan para manager dan pemimpin, ketika setiap kesalahan ditimpakan kepada anak buahnya, ketika ada kritikan selalu mencari kambing hitam anak buahnya, ketika komplain dan kemarahan selalu ditimpakan kepada anak buahnya, maka saat itulah fungsinya sebagai genting, sebagai pelindung tidak lagi berjalan. Dan seperti analogi genting diatas, ketika selalu menjadi kambing hitam dan objek kesalahan, maka para anak buahnya, dalam jangka waktu tertentu akan menjadi “keropos”, menjadi tidak produktif, demotivasi dan lainnya, yang pada gilirannya akan menghancurkan sang manager itu sendiri, ia akan jatuh karena ketidakmampuannya menjadi filter bagi orang-orang dibawahnya.

Manager adalah orang yang pertama mendapat apresiasi atas kinerja divisinya, seharusnya, manager pulalah orang yang pertama yang harus menerima “panas dan teriknya” kritik atas kesalahan dari dewan direksi.

Bukan sebaliknya, ketika berhasil, maka ia mengatakan “karena saya”, sementara ketika gagal “ini akibat keteledoran anak buah saya”. Yakinlah jika ini terjadi, posisi genting tidak akan mampu bertahan lama untuk bertengger diatas, tapi akan ambruk bersama kerapuhan para anak buahnya, dua-duanya rugi!!

Setiap kita adalah Manager, setiap kita adalah Pemimpin.

Anda yang menjadi pemimpin organisasi, berlakulah seperti genting yang mengayomi

Anda yang berposisi manager perusahaan, jadilah genting yang melindungi

Anda yang menjadi pemimpin, lindungi keluarga dari panas dan terik serta siraman ketidak harmonisan.

Anda, adalah pemimpin bagi diri anda sendiri, jangan selalu mencari kambing hitam atas kegagalan kita, tapi instropeksi kedalam dulu, kemudian perbaiki kesalahan kita, Insya Allah, kita tidak akan menjadi orang yang rapuh, yang selalu menimpakan kegagalan kepada nasib lagi, nasib lagi, tanpa upaya memperbaikinya.

Selamat menjadi genting, selamat menikmati posisi anda, selamat menjadi pemimpin, selamat atas keberhasilan anda, Inga...ingaa..ingaa dengan yang dibawah yang menyokong anda....


Wassalam

Januari 11, 2007.

No comments:

Post a Comment