Monday, February 19, 2007

Dua mata saya

Dua mata saya, hidung saya satu
Dua kaki saya pakai sepatu baru

Dua telinga saya, yang kiri dan kanan
Satu mulut saya tidak berhenti makan

Demikian sebuah syair yang sangat akrab ditelinga kita, sebuah syair yang sederhana, tapi dibalik kesederhanaannya itu, ada beberapa hikmah yang bisa kita petik untuk menambah perbendaharaan hikmah dalam perjalanan hidup kita.

“Dua mata saya” adalah sebuah kesempurnaan dan desain serta perencanaan yang demikian agung dan penuh hikmah. Kenapa mata kita dua dan kenapa Allah meletakannya di bagian depan muka kita? Bukan disamping atau dibelakang misalnya?

Dar sebuah e-mail yang pernah penulis terima, (mohon maaf tidak bisa dicopy paste ke dalam tulisan ini, karena sudah didelete atau lupa dari siapa sendernya dan kapan), menjelaskan bahwa salah satu hikmah atas penempatan mata kita dibagian depan muka kita adalah sebuah pesan tak tertulis dari Allah atau yang biasa kita kenal dengan ayat “Kauniyah”, yang menyatakan bahwa kita, sesuai desainnya “diharuskan untuk menatap kedepan”, menatap hari esok, mengajarkan kita untuk berpikir kedepan dan tidak larut dengan masa lalu, “bagian belakang dalam kehidupan kita”.

Setiap kita pasti punya masa lalu, ada yang mempunyai masa lalu yang indah, namun tak jarang yang mempunyai masa lalu yang tidak terlalu mengesankan. Dengan penciptaan kedua mata dan penempatannya yang sedemikian sempurna, seharusnya kita tidak terjebak dalam kubangan masa lalu, baik masa lalu yang indah maupun sebaliknya. Seindah apapun masa lalu, tak boleh menjadikan kita hanya bangga dengan masa lalu, waktu kita adalah mulai dari “hari ini” untuk mempersiapkan “hari esok” yang masih penuh misteri. Ada banyak orang yang terjebak dengan kebesaran masa lalunya, kemudian selalu mengagungkannya tanpa pernah berbuat apapun pada hari ini, sehingga ia kemudian tergagap menghadapi masa depan.

Sejelek apapun masa lalu, kita pun tak boleh terpuruk karenannya, kita punya “hari ini” untuk mengubah kehidupan kita besok, insya Allah.

Boleh kita bangga dengan kehebatan Islam pada masa lalu, tapi ketika kebanggaan itu hanya dijadikan bahan kajian dan seminar, tanpa upaya nyata dari kita untuk kembali merebut kejayaan itu, sama saja kita ingin makan roti, tanpa hanya dalam khayalan, sebuah tindakan konyol kalau tidak mau dibilang bodoh.

Tataplah kedepan, jadikan masa lalu sebagai acuan, dengan memperbaikinya hari ini dan menggapai hasilnya hari esok.

Lalu kenapa Allah menciptakan “dua mata”, Dua telingga, sementara hanya “satu mulut”?

Lagi, sebuah hikmah yang besar dari Allah atas penciptaan dan penempatan mata, telinga dan mulut kita.

Banyak pakar-pakar yang mengatakan bahwa salah satu ciri “orang besar” adalah orang yang banyak melihat, banyak mendengar, tapi sedikit bicara, “Sepi ing pamrih, rame ing gawe”. Bukankah fasilitas mendengar kita, yaitu telinga kita jumlahnya lebih banyak dari mulut kita yang hanya satu, bukankah fasilitas melihat kita, yaitu mata juga memiliki jumlah yang lebih banyak dari mulut kita, dari sanalah kita bisa mengambil hikmah, Dengar dan lihatlah lebih banyak, sampaikan dengan “sedikit” bicara.

Ada banyak contoh yang bisa dikedepankan berkaitan dengan hal diatas. Betapa seorang yang mempunyai reputasi besar diberbagai bidang, menjadi hancur karena ketidak mampuannya menjaga mulutnya, ketidakmampuanya memahami pesan Allah bahwa seharusnya mata dan telinga-lah yang harus difungsikan lebih banyak sesuai dengan kuantitas penciptaanya, bukan mulut yang justru diciptakan Allah hanya satu saja.

Sebaliknya dengan mudah kita mendapatkan para cerdik cendikia, para alim ulama, para arifin yang seakan-akan diam seribu bahasa, tapi justru melahirkan berbagai maha karya yang sangat menakjubkan, justru dengan memaksimalkan potensi pemberian Allah yaitu dua mata, dua telinga.

Terlalu banyak bicara melahirkan potensi-potensi “keseleo” lidah, yang kemudian akan berpotensi melahirkan kesalahan-kesalahan lain. Sekali saja kita berbohong atau berkata tidak benar, atau keseleo lidah, maka kita (biasanya) akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan argumentasi kita, kadang tidak peduli lagi apakah argumentasi kita itu benar atau salah, bahkan harus berbohong (lagi) untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Sebaliknya, ada peribahasa “diam itu emas”, memang tak selamanya pepatah ini bisa berlaku dalam setiap kondisi, karena kita tidak harus berdiam diri saja dan tidak menyuarakan apapun ketika ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan kedhaliiman terpampang didepan mata kita, justru saat itulah kita harus berteriak lantang menentangnya. Dengan kebijaksanaan kita dalam memanfaatkan potensi dua telinga dan mata kita, apa yang kita serukan dan kita lontarkan sudah terlebih dulu melalui pendengaran dan penglihatan yang benar, bukan sekedar katanya, bukan hanya untuk memenuhi keinginan kita membuka mulut semata, tapi atas dasar kebijaksaaan dan kebenaran hakiki.

Banyak sekali ayat Allah yang menyatakan “apakah kalian tidak mendengar, apakah kalian tidak melihat....”, untuk menggambarkan betapa pentingnya peran dan fungsi dua mata dan telinga kita.

Satu hal yang harus diingat “ Jangan mendengar dan melihat perkataan dan perbuatan dusta”
Semoga Allah memilihkan kita objek pendengaran dan penglihatan yang laik konsumsi dan menjauhkan kita dari hal-hal munkar dari ruang penglihatan dan pendengaran kita. Semoga pula Allah menjaga mulut kita dari perkatan dusta dan perkataan sia-sia.

Wassalam

Januari 08, 2006.

No comments:

Post a Comment