Tuesday, February 20, 2007

GAJAH

Ada beberapa orang yang mengenakan tutup mata, kemudian mereka ditanya tentang gajah oleh seseorang lainnya;

“Gajah adalah binatang yang tinggi menjulang seperti batang pohon kelapa” Jawab Si A, yang memegang kaki gajah.

“Gajah adalah binatang yang tipis dan lebar” Jawab Si B, karena yang ia pegang telinga Gajah.

“Gajah adalah binatang yang kecil menjuntai seperti ular” Jawab Si C, karena yang ia pegang adalah ekornya.

Begitupun dengan beberapa orang lainnya yang mendefiniskan Gajah hanya sesuai dengan apa yang dipegangnya.

Apakah mereka salah semua? Atau Apakah mereka benar semua?

Jawabannya bisa jadi mereka benar semua, ketika mereka menilai dan memberikan definisi Gajah secara subjektif, menurut pendapat mereka semata.

Jawabannya bisa jadi mereka salah semua, karena kita semua tahu bahwa yang mereka lukiskan adalah “hanya” bagian dari Gajah, bukan Gajah secara utuh.


Islam adalah agama yang sempurna, yang mungkin hanya Nabi Muhammad sendiri yang memahami Islam secara benar dan utuh. Setelahnya mungkin kalangan sahabat utama yang mengetahui Islam dengan relatif utuh dan benar, setelahnya lagi, semakin beragam tingkat pemaham dan kadar cakupan umat Islam terhadap ajaran Islam secara utuh.

Seperti gambaran gajah diatas, ada sebagian orang mungkin dikarunia Allah kemampuan dalam bidang syari’at yang sangat mumpuni, tapi disisi lain mereka memiliki kekurangan. Ada sebagian orang mungkin dikarunia Allah dengan pemahaman Hakekat yang memadai, tapi disisi lain mereka kurang.

Itulah indahnya perbedaan, mereka, golongan yang memahami syari’at yang mumpuni akan menjadi lebih lengkap, jika mereka duduk bersama seiring sejalan dengan orang-orang yang memiliki kelebihan dibidang lain. Pun sebaliknya, Hakekat saja, tanpa disertai syari’at, juga belum merupakan sebuah ke benaran hakiki.

Yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan adalah justru “pemaksaan kehendak” terhadap suatu pendapat. Ketika ada orang lain yang berbeda pendapat dengan kita, serta merta mereka menjadi “orang lain” bagi kita, bahkan dalam tataran ektrim kita dengan gampang mengkafirkan mereka, hanya karena mereka tidak sepaham dengan kita.

Bayangkan jika setiap orang dalam analogi diatas berantem karena mempertahankan pendapatnya tentang gajah hanya menurut versi mereka, orang-orang yang”melek” akan terpingkal-pingkal dibuatnya, orang yang tidak senang bertepuk tangan karena kebodohan mereka.

Dan ironisnya itu pernah atau masih sering terjadi dikalangan umat ini, gontok-gontokan, saling membid’ahkan, saling mengkafirkan golongan-golongan lain yang tidak seide dengan mereka, Yahudi tertawa, Nasrani bertepuk tangan, sementara kita akan menjadi bahan tontonan dan lelucon yang tidak lucu.

Seandainya orang-orang dalam analogi diatas mau membuka penutup matanya, niscaya mereka akan terkejut dan malu, bahwa gajah yang selama ini mereka definisikan, juah lebih besar dari yang mereka duga selama ini.

Kadang kita memang menutup mata kita terhadap ilmu dan pendapat orang lain, kita cenderung lebih dulu memvonis sebelum kita melihat segalanya secara menyeluruh atau bahkan penilaian kita kadang didasarkan pada penilaian subjektif, karena tidak suka terhadap orangnya, tidak suka terhadap pendapatnya yang tidak sejalan dengan kita, terlepas dari pendapat itu benar atau salah.


2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah[389], dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram[390], jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya[391], dan binatang-binatang qalaa-id[392], dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya[393] dan apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum Karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Al Maidah:2)


Tidak adil namanya, kalau kita mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh kaum atau goongan yang kita benci semuanya salah.

Tidak adil namaya, kalau karena kita suka terhadap seseorang, meskipun apa yang dilakukan dan dikatakannya berseberangan dengan kebenaran, kita “keukeuh” mati-matian membela dia.

Adil adalah proporsional, mungkin ada yang benar diantara yang salah, dan ada yang salah diantara yang benar, yang benar-benar sudah jelas salahnya adalah Syetan (termasuk golongan dan definisinya).

Tak perlu disebutkan dalam hal mana saja kita kerap terlibat “debat kusir” yang tak berujung pangkal hanya demi mempertahankan pendapat kita. Kadang kita lupa bahwa mungkin kita baru tahu dan baru bisa memegang “kaki gajah” atau “telinganya saja.

Ilmu, pengetahuan, wawasan dan pandangan kita belum mencukupi untuk melihat gajah secara utuh, ditambah kebiasaan kita yang selalu mengenakan “penutup mata” sehingga ilmu, wawasan dan pengetahuan luar akan “mentok” dan tidak bisa masuk kedalam ruang perbendaharaan ilmu kita.

Buka tutup mata kita, lihatlah, gajah akan jauh lebih dari sekedar yang kita pegang selama ini. Buka mata hati kita, lihatlah keindahan Islam disana, ada perbedaan yang menjadi rahmat, persamaan yang menjadi pemersatu, ada syari’at, ada hakekat, ada ahli fiqih, ada ahli hikmah, ada banyak persamaan yang bisa kita kedepankan, daripada kita berkutat dikubangan perbedaan semu.

Menyatakan sesuatu yang bathil menurut Allah, Al Qur’an dan Sunnah Rasul adalah bathil, itu wajib, tapi sekali lagi ingat, dengan paramater Allah, Al Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan dengan Fanatisme Golongan, Ego Pribadi atau demi kepentingan sesaat.

“Ya Allah, tunjukan kepada kami yang benar adalah benar, dan berikan kami kemampuan untuk melaksanakannya, “Ya Allah tunjukan kepada kami yang bathil adalah bathil, dan berikan kami kekuatan untuk menjauhinya”

Tidakkah do’a ini menyadarkan kita, bahwa kita tidak memiliki kemampuan untuk menentukan mana yang haq dan mana yang bathil, kecuali dengan rahmat dan izin Allah.

Mari kita retas persamaan untuk menjadi umat yang satu padu, layaknya pelangi di langit sana, berbeda warna, tapi justru dengan perbedaan itulah pelangi nampak indah dan sedap dipandang mata,

Kita kesampingkan “perbedaan khilafiyah” agar tak lagi Yahudi dan Nasrani tertawa karena kebodohan kita.

Wassalam

February 20, 2007

No comments:

Post a Comment