Saturday, August 16, 2008

MU Juara!!


“Aaah, lega rasanya ki, akhirnya MU juara premier League 2007/2008......” Kata Maula disela-sela rehat bersama Ki Bijak.

“Kenapa Nak Mas sedemikian lega, padahal kan klub Inggris yang menang dan menjadi juara....?” Tanya Ki Bijak heran.

“Ana juga tidak tahu persis kenapa ana sedemikian penasaran dengan berita kemenangan Manchester kali ini ki, padahal ana bukan fans mereka, ana juga tidak mengidolakan satupun pemain mereka, ana hanya melihat kemenangan MU kali ini adalah sebuah pembenaran terhadap apa yang Aki ajarkan kepada ana selama ini..........” kata Maula.

“Apa hubungannya pelajaran dari Aki dengan kemenangan klub Inggris itu Nak Mas.......?” Tanya Ki Bijak tambah heran.

“Ana masih ingat betul dengan wejangan Aki bahwa sebuah ‘keberhasilan’ bukan merupakan sebuah kebetulan, tapi merupakan hasil pencapaian dari kesempurnaan kasab dan syari;at lahiriah yang sungguh-sungguh, kemudian tawakal......” Kata Maula.

“Aki ingat dengan hal itu Nak Mas, tapi Aki masih belum paham betul kaitannya dengan kemenangan MU.......” Kata Ki Bijak.

“Begini ini, perjalanan MU untuk menjadi juara dimusim ini terbilang sangat terjal dan berliku, dibeberapa pertandingan awal kompetisi MU mengalami beberapa kekalahan yang menyebabkan mereka sempat terlempar dari lima besar klasemen ketika itu.........” kata Maula.

“Lalu.......?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Dari sinilah kemudian ana senantiasa mengamati bagaimana mereka bangkit dari keterpurukan, perlahan tapi pasti, permainan mereka berkembang, hingga akhirnya kemenangan demi kemenangan mereka raih sebelum akhirnya mereka memastikan diri menjadi juara setelah pada pertandingan terakhir semalam mengalahkan Wigan dengan skor 2-0.......” kata Maula lagi.

“Dan seperti yang Aki ajarkan selama ini, bahwa kegagalan, keterpurukan atau kekalahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan hanya sebuah episode yang harus dilalui dan disikapi dengan baik oleh mereka yang bermental juara, dan ini yang dilakukan MU, itu yang membuat ana terkesan...........” Kata Maula.

“Oooh begitu..., memang benar Nak Mas, bukan hanya dalam sebuah pertandingan sepakbola, dalam kehidupan kitapun demikian, mereka yang ‘berhasil menjadi juara’ dalam perlombaan kehidupan bukanlah mereka yang tidak pernah gagal atau tidak pernah kalah dalam perjalanan hidupnya, mereka yang berhasil adalah mereka yang mampu bertahan dan mampu mengatasi kegagalan dan kekalahan itu dengan sikap yang benar, dengan sikap terbaik, dengan komitmen yang teguh, dengan kesungguhan, dengan ketenangan, dengan kematangan, dengan dedikasi, dengan keyakinan dan dengan semangat pantang menyerah, dengan senantiasa memperbaiki diri, dengan perencanaan yang matang, selebihnya serahkan semua hasil akhirnya pada keputusan Sang Maha Pengadil, Allah Swt...........” Kata Ki Bijak.

“Benar ki, semua sikap positif itu ada pada performa MU musim ini, bahkan mereka memulai kompetisi dengan rekor musim terburuk selama mereka ikut berkompetisi, kekalahan demi kekalahan diawal kompetisi menjadi catatan paling suram dalam sejarah klub, tapi kemudian dengan kesungguhan, dengan keyakinan, dengan dedikasi, dengan berupaya terus meningkatkan performa pemain dan tim, diujung kompetisi mereka menjadi yang terbaik..........” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, itu memang sebuah momen yang penuh dengan hikmah dan pelajaran, meski Aki tidak menonton pertandingan itu, tapi dari cerita Nak Mas Aki bisa menangkap adanya mental positif dari para pemain MU itu, tapi sayangnya tidak semua kita memiliki ketangguhan mental seperti itu............” kata Ki Bijak.

“Seperti yang pernah kita bicarakan beberapa waktu lalu, pertandingan sepakbola boleh jadi merupakan miniatur dari kehidupan kita, karena disana ada berbagai hal yang sangat identik dengan kehidupan kita, mulai dari adanya tujuan, perlunya keyakinan, pentingnya strategi dan kerjasama tim, hingga adanya wasit, keterbatasan lapangan dan waktu, serta adanya ‘lawan’ yang harus dilewati untuk mencetak gol kemenangan....”

“Pun dengan kita, untuk mencapai ‘gol’ dalam kehidupan, kita pun dihadapkan pada keterbatasan waktu, keterbatasan ruang, keterbatasan ilmu, keterbatasan sumberdaya, serta kitapun dihadapkan dengan berbagai tantangan yang setiap saat bisa men’tekel’ kita ketika kita tidak hati-hati atau lengah.....,”

“Dan dengan keidentikan seperti itu, seyogyanya kita pun ‘meniru’ cara MU mengatasi berbagai keterbatasan itu mencapai kemenangan dalam kehidupan kita..............” kata Ki Bijak.

“Benar ki, lalu bagaimana kita bisa memiliki sikap positif seperti ti ya ki....?” Tanya Maula.

“Menurut Nak Mas, apa yang menjadikan para pemain dan tim MU mampu memiliki sikap seperti itu......?” Tanya Ki Bijak.

“Latihan dan komitmen yang kuat ki.......?” Tanya Maula setengah ragu.

“Benar, mental positif seperti itu tidak terbentuk dengan sendirinya atau sekali jadi, tapi memerlukan latihan yang kontinue dan dengan komitmen yang tinggi, dan kita akan memiliki sikap dan mental positif seperti itu atau bahkan mungkin lebih, jika kita melaksanakan rukun Islam nya dengan benar dan penuh komitmen......” Kata Ki Bijak.

“Apa hubungan pelaksanaan lima rukun Islam dengan pembentukan sikap dan mental positif ki..................?” Tanya Maula.

“Pemahaman Shahadat yang benar, berbanding lurus dengan kekuatan iman dan keyakinan kita, dan seperti Nak Mas katakan tadi, keyakinan adalah sebuah syarat mutlak bagi sebuah keberhasilan, karenanya, belajar memaknai shahadat secara benar dan terus menerus, merupakan latihan yang paripurna untuk membentuk pribadi yang kuat dan berkarakter......” Kata Ki Bijak.

“Kemudian, shalat kitapun merupakan sarana latihan kedisiplinan dan komitmen, mereka yang mampu menjaga waktu dan kekhusuyaan shalatnya,inysa Allah akan menjadi orang-orang yang memiliki tingkat kedisiplinan dan komitmen yang tinggi, dan itupun merupakan mental dan sikap positif yang wajib dimiliki oleh siapapun yang ingin mencapai keberhasilan...........” kata Ki Bijak

“Iya ya ki, dua rukun Islam yang pertama saja sudah mencakup hampir seluruh bentuk latihan yang diperlukan untuk berhasil, belum lagi shaum, zakat dan ibadah haji ya ki.....” Kata Maula.

“Shaum merupakan latihan yang paling efektif untuk melatih kita menjadi orang yang kuat, sabar dan tidak mudah menyerah, dan bukankah itu juga yang ditunjukan oleh MU untuk menjadi juara, Nak Mas.....?” Tanya Ki Bijak.

“Benar ki, MU bahkan dikenal sebagai tim yang tidak akan menyerah hingga peluit panjang dibunyikan, seperti ketika mereka berhasil meraih trofi liga champion tahun 1999 dalam kurun waktu kurang dari dua menit menjelang bubaran.............” Kata Maula.

“Dan hal seperti itu hanya dimiliki oleh tim atau klub tertentu saja, sebagaimana halnya sikap dan mental positif hanya dimiliki oleh mereka yang shahadatnya benar, shalatnya khusyu dan shaumnya ikhlas....., selebihnya mereka yang shahadatnya sekedar ucapan, shalatnya sekedar penggugur kewajiban dan shaumnya hanya ikut-ikutan, mereka hanya akan menjadi seperti orang kebanyakan, seperti tim-tim medioker dan pelengkap kompetisi saja, hanya semusim, kemudian kembali terdegradasi kekasta yang lebih rendah..........” Kata Ki Bijak.

“Jadi ana tidak salah dong ki bela-belain nonton MU.........” Kata Maula.

“Tidak salah selama kegiatan Nak Mas itu tidak melalaikan Nak Mas dari dzikrullah, dan Nak Mas tidak sekedar nonton, tapi mampu mengambil hikmah dari apapun yang Nak Mas lihat dan saksikan.............” kata Ki Bijak.

“Insya Allah tidak ki, ana selalu ingat pesan Aki untuk tetap berdzikir disini ki...............”Kata Maula sambil menunjuk dadanya.

“Syukurlah Nak Mas, semoga Nak Mas dikarunia Allah sikap dan mental positif seperti mereka, agar kelak Nak Mas bisa menjadi ‘juara’ fi dunya wal akhirat....” kata Ki Bijak.

“Amiin.............” Timpal Maula.

Wassalam

May 12,2008

BISMILLAHI TAWAKALTU ‘ALALLAH...


“Ki, boleh ana nanya ki.........” Kata Maula dengan sedikit rasa segan.

Ki Bijak tersenyum, “Tanya apa Nak Mas, kok tumben-tumbenan Nak Mas seperti segan tanya sama Aki.......” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ana sedikit malu tanya soal ini ki, ana khawatir Aki akan menertawakan ana.....” kata Maula masih ragu-ragu mengutarakan pertanyaannya.

“Nak Mas...., pernah Aki menertawakan Nak Mas....?, Aki malah senang kalau Nak Mas mau berbagi pengalaman dengan Aki, Aki yang sehari-hari dipondok ini, tentu tidak tahu banyak apa yang terjadi diluar sana, dan dari Nak Mas Aki mendapat banyak informasi dan tambahan pengetahuan mengenai berbagai hal dari Nak Mas.......” Kata Ki Bijak.

“Begini ki, ana merasakan ada sesuatu yang’aneh’ dalam hal pengelolaan pendapatan ana ki....” Kata Maula.

“Aneh apanya Nak Mas.....?” Tanya Ki Bijak.

“Alhamdulillah ki, sejak ditempat kerja yang dulu, ana dikarunia Allah pendapatan yang ‘lebih’ dibanding dengan rekan-rekan yang lain....” Kata Maula.

“Lalu.....?” Tanya Ki Bijak penasaran.

“Yang membuat ana merasa aneh adalah berapapun pendapatan yang ana terima, ana selalu tidak bisa nabung ki, pendapatan ana bahkan tidak mencukupi kebutuhan kami selama sebulan, paling hanya cukup untuk satu atau dua minggu saja, padahal rekan-rekan yang lain, yang pendapatannya mungkin sedikit dibawah ana, justru bisa nabung, bisa beli motor, beli rumah dan bahkan sudah ada yang beli mobil sekarang ini ki.........” Kata Maula, sambil memandagi wajah Ki Bijak, untuk melihat reaksi gurunya tersebut dengan unek-unek yang barusan diutarakannya.

Ki Bijak tersenyum mendengar penuturan Maula, “Nak Mas masih ingat dengan perbincangan kita kemarin, bahwa ‘kunci’ rezeki kita secara syariat terletak pada rasa syukur kita kepada Allah, keridhaan kita dan tawakal kita kepada Allah.....?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, ana masih ingat......” Kata Maula.

“Syukur, ridha dan tawakal bukan hanya kata-kata yang harus diingat atau dihafal Nak Mas, lebih dari itu, ketiganya harus dipahami dan kemudian diamalkan secara benar, Nak Mas sudah paham makna ketiga kata itu.....?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, ana pernah baca kitab Madarij Salikin karya Imam Ibnu Qoyyim, beliau berkata, "Hakekat syukur terhadap nikmat Alloh adalah menampakkanpujian dengan lisan, kecintaan di hatinya dan ketaatan pada anggotatubuhnya. Syukur dibangun di atas lima landasan utama: ketundukankepada Alloh, kecintaan kepada-Nya, pengakuan terhadap nikmat-Nya,pujian kepada-Nya dan tidak menggunakannya dalam kemaksiatan kepadaAlloh, inilah lima landasan syukur menurut Imam Ibnu Qoyyim….”, Kata Maula mengutip buku yang pernah dibacanya.

“Beliau juga menambahkan’"Barangsiapa yang tidak melaksanakan salah satu dari lima landasan tersebut, berarti satu landasan telah hilang darinya",

“Sementara Imam Ibnu Qudamah menjelaskan dalam Minhajul Qosidin bahwa "Syukur adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. Maksudnyadengan hati yaitu dengan meniatkan untuk kebaikan. Dengan lisan yaknidengan menampakkan tanda syukur tersebut dengan ucapan tahmid (AIhamdulillah) dan dengan anggota badan artinya menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada Alloh serta tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya…” Kata Maula lagi masih mengutip pendapat dari buku yang dibacanya.

“Nak Mas sudah hafal makna harfiahnya, sekarang mari kita lihat kedalam diri kita, kedalam diri Nak Mas, sudahkah Nak Mas melaksanakan makna syukur itu…, sudahkah Nak Mas menampakan rasa syukur itu dalam bentuk membelanjakan harta titipan Allah itu dijalan_Nya…,

“Coba Nak Mas ingat-ingat lagi zakatnya sudah ikhlas belum, infaq dan sedekahnya sudah dawam belum atau menafkahi orang tuanya sudah belum……., insya Allah, jika sudah menampakan nikmat itu dengan benar, tidak akan lagi ada hal-hal yang ‘aneh’ dalam hal keuangan Nak Mas…….” Kata Ki Bijak.

“Selama ini ana selalu berusaha untuk menyisihkan pendapatan ana untuk hal-hal tersebut ki, atau mungkin masih ada yang kurang atau belum ana penuhi ya ki, sehingga ana masih merasakan ‘keanehan’ itu…..” Kata Maula.

“Syukur kalau Nak Mas sudah berusaha menampakan nikmat dan syukur tersebut dengan membelanjakan harta dijalan Allah, semoga Nak Mas tetap istiqomah dan meningkatkan keikhlasan amalan-amalan tersebut, dan jika Nak Mas masih merasakan ‘keanehan’ itu, coba kita lihat pada syarat berikutnya ‘ridha dan tawakal kepada Allah…..” Kata Ki Bijak.

“Sudahkah Nak Mas ridha dengan pemberian Allah dan kemudian menyerahkan segalanya kepada Allah……..?” Tanya Ki Bijak.

Maula terdiam sejenak, ia ragu untuk mengatakan apakah ia sudah ridha dan tawakal kepada Allah, “Ki, ana masih sering meminta kepada Allah untuk mendapatkan penghasilan lebih, apakah itu berarti ana belum ridha dan tawakal kepada Allah ki……” kata Maula sedikit cemas.

“Tidak salah kalau kita meminta kepada Allah Nak Mas, bahkan Allah menganjurkan kita untuk memohon kebaikan apapun kepada_Nya, niscaya Allah akan memenuhi permohonan ini, hanya kadang kita-nya yang tidak konsekuen dengan doa dan permohonan kita……..” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki…………?” Tanya Maula

“Begini Nak Mas, setiap hari kita berdoa kepada Allah ‘Bismillahi tawakaltu ‘alallah…., dengan nama Allah hamba berserah diri kepada_Nya, tapi yang terjadi kemudian kita justru bertawakal pada penghasilan kita, bukan pada Allah lagi….”

“Kita cenderung akan merasa ‘nyaman’ ketika penghasilan kita besar, bukan karena kita merasa memiliki Allah yang Maha Pemberi Rezeki, kita lebih cenderung ‘berserah diri’ kepada atasan kita, karena kita menganggap merekalah yang menentukan nasib kita, kita beranggapan mereka yang menentukan berapa kenaikan gaji kita, kita masih beranggapan merekalah yang memberikan posisi pada kita, padahal ini salah dan bahkan berseberangan dengan doa kita diatas…..”

“Kalau bismillahi tawakaltu ‘alallah kita benar, berapapun penghasilan yang kita terima, bukan masalah, berapapun gaji yang kita dapat, no problem, bismillahi tawakaltu ‘alallah kita benar, apapun kedudukan dan jabatan kita dikantor, bukan persoalan, selama kita masih memiliki kedudukan atau kedekatan kepada Allah, selama kita memiliki buhul atau tambatan yang Maha Kokoh, yaitu Allah swt……..” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah……., benar ki, ternyata itu jawaban terhadap ‘keanehan’ yang ana rasakan selama ini, tawakal ana belum benar kepada Allah, ana masih merasa tergantung dan bergantung pada gaji dan penghasilan ana, ana juga masih merasakan sedikit ketergantungan pada orang lain, pada atasan, belum berserah diri kepada Allah secara penuh……….” Kata Maula.

“Benahi segera Nak Mas, perbaiki tawakal kita kepada Allah, tanamkan dalam –dalam dihati kita bahwa Allah sajalah tempat kita bergantung, Allahu shomad, insya Allah, jika Nak Mas sudah mampu bertawakal secara utuh kepada Allah, maka Nak Mas akan mendapati janji Allah dalam surat ath-thaalaq yang kemarin kita bahas, Nak Mas masih ingat…….?” Kata Ki Bijak.

“Ya ki, barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi segala kebutuhannya…….” Kata Maula sambil mengutip ayat al qur’an;

2. .......... barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

“Dan Nak Mas tahu bahwa Allah tidak pernah menyalahi janji_Nya, maka cukupkan diri Nak Mas dengan pertolongan dari Allah, cukupkan diri Nak Mas atas rezeki dari Allah, cukupkan diri Nak Mas atas pemberian Allah saja...., insya Allah ‘keanehan-keanehan’ itu tidak akan Nak Mas rasakan lagi......” Kata Ki Bijak.

“Ya ki, terima kasih ki, puji syukur kepada_Mu ya Allah, Engkau berikan jawaban_Mu lewat lisan guru yang bijak ini......” Kata Maula sambil menengadahkan tangan, terjawab sudah apa yang menghantuinya selama ini.

Wassalam

May 06, 2008

CERITA DI BALIK PELANGI


“Itulah kehidupan Nak Mas, kehidupan akan selalu berputar dan berganti, sebagaimana kemarau selalu bergantian dengan musim penghujan.....” Kata Ki Bijak, demi mendenar cerita Maula tentang seorang sahabatnya yang sekarang tengah berada di’puncak dunia’.

“Demikian pun malam akan bergantian dengan siang, matahari bergantian dengan rembulan, ada senang, ada gundah, ada tawa, ada tangis, dan kita tidak perlu heran dengan semua perputaran roda kehidupan itu, karena itu sudah merupakan sunatullah...., sebuah ketetapan dari Yang Maha Bijaksana......” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, senang rasanya memiliki usaha sendiri, memiliki kebebasan waktu sendiri, memiliki tanggung jawab dan kepuasan sendiri, tidak tergantung dengan perusahaan tempat kita bekerja, yang selalu membatasi kita dengan berbagai aturan dan waktu........” Kata Maula.

“Lihat pelangi itu Nak Mas........” Kata Ki Bijak menunjuk kearah langit senja yang cerah dan berhias pelangi indah, menanggapi cerita Maula mengenai seorang temannya yang sekarang sudah ‘berhasil’, memiliki rumah yang besar, kendaraan dan penghasilan yang mencukupi.

“Iya ki, indah sekali pelangi itu.........” Kata Maula, mengagumi ciptaan tuhan yang tiada bandingnya itu.

“Dibalik keindahan pelangi, ada sejuta makna yang juga sangat indah untuk kita renungkan dan kita tafakuri Nak Mas.......” Kata Ki Bijak.

“Selain aneka warna yang menghiasinya, adakah sesuatu yang lebih indah dari itu ki.......?” Tanya Maula.

“Nak Mas perhatikan, pelangi itu berada jauh diatas sana, dan tidak pernah berada tepat diatas kita.............” Kata Ki Bijak.

“Artinya apa ki.......?” Tanya Maula.

“Artinya kita akan selalu melihat keindahan itu berada diposisi orang lain, seperti Nak Mas, sebagai karyawan, Nak Mas melihat rekan Nak Mas yang punya usaha sendiri itu lebih enak, sementara sangat mungkin teman Nak Mas justru melihat posisi Nak Mas sebagai karyawan lebih nyaman, karena tidak terlalu berisiko untuk bangkrut, tidak memerlukan modal besar, dan lain sebagainya, pun pegawai negeri mengira bahwa menjadi pegawai swasta lebih enak, sementara pegawai swasta justu berlomba menjadi pegawai negeri, dengan berbagai alasan, kita selalu menemukan keindahan itu ada pada orang lain, seperti pelangi yang tidak pernah singgah tepat diatas kita......” kata Ki Bijak.

“Benar ki, ana juga kerap merasakan demikian.....” kata Maula.

“Nak Mas, kita tidak mungkin mendapati pelangi berada diatas kita, indah pelangi pasti selalu berada diatas orang lain, pun demikian dalam kehidupan kita, selamanya kita tidak akan pernah merasa puas, selamanya kita tidak akan merasa bahagia, selama kita selalu melihat keatas dan melihat pelangi itu....” Kata Ki Bijak.

“Lalu bagaimana kita bisa menikmati keindahan dan kepuasan itu ki.....?” Tanya Maula.

“Kebahagian, kenikmatan, kepuasan, itu adanya disini Nak Mas....” Kata Ki Bijak sambil menunjuk bagian dadanya.

“Kebahagiaan ada disini ki......?” Tanya Maula lagi.

“Benar Nak Mas, kebahagiaan hanya akan menjadi milik orang orang yang mampu menumbuhkan rasa qanaah-nya atas pemberian dan karunia Allah kepadanya, kebahagiaan hanya akan menjadi milik mereka yang mampu mensyukuri apa yang diterima dari tuhannya, insya Allah jika sikap ridha, syukur dan sabar itu sudah tertanam dalam lubuk hati kita yang bersih, kebahagiaan adalah sebuah keniscayaan.......” Kata Ki Bijak lagi.

“Lalu untuk apa sebagian kita berkelahi dengan waktu untuk mencari dan mengumpulkan materi ki.....?” Tanya Maula

“Karena sebagian kita beranggapan materi itu sumber kebahagiaan, benar memang sekarang ini hampir semua hal memerlukan uang, tapi juga benar bahwa tidak semua hal bisa dibeli dengan uang, salah satunya adalah kebahagiaan itu........” Kata Ki Bijak.

“Tadi pagi Aki mendengar obrolan santri mengenai kata bahagia itu Nak Mas......” kata Ki Bijak

“Bagaimana ceritanya ki.....?” Tanya Maula.

“Santri tadi mengatakan begini Nak Mas...;

‘jika engkau ingin bahagia untuk tiga jam, maka memancing adalah alternatifnya’

“jika engkau ingin bahagia untuk tiga hari, maka rekreasi adalah jawabannya’

“jika engkau ingin bahagia untuk tiga bulan, bulan madu adalah salah satunya’

“jika engkau ingin bahagia tiga tahun, maka menikmati uang pensiun adalah wujudnya’

“Tapi jika engkau ingin bahagia selamanya, maka cintai dan syukurilah apa yang ada padamu hari ini dan selamanya......” Kata Ki Bijak menirukan ucapan salah seorang santrinya.

“Waah, bagus juga ya ki.............., jika engkau ingin bahagia untuk tiga jam, maka memancing adalah alternatifnya,jika engkau ingin bahagia untuk tiga hari, maka rekreasi adalah jawabannya, jika engkau ingin bahagia untuk tiga bulan, bulan madu adalah salah satunya, jika engkau ingin bahagia tiga tahun, maka menikmati uang pensiun adalah wujudnya, tapi jika engkau ingin bahagia selamanya, maka cintai dan syukurilah apa yang ada padamu hari ini dan selamanya......” Maula mengulang kata-kata yang barusan diucapkan oleh gurunya.

“Yaah, cukup bagus Nak Mas, meski Aki tidak tahu dari mana ungkapan-ungkapan itu, Aki sendiri tidak pernah mengajarinya, tapi setidaknya ungkapan yang terakhir itu sarat makna Nak Mas, bahwa untuk bisa hidup bahagia selamanya, kita harus mampu mencintai dan mensyukuri segala hal yang Allah karuniakan kepada kita.......” kata Ki Bijak lagi.

Maula mendongakan kepalanya keatas lagi, melihat sisa pelangi yang perlahan mulai tersaput awan; masih indah, dan biarlah keindahan itu tetap diatas sana, selamanya.

“Apakah sekarang Nak Mas masih ingin mengejar pelangi itu.....?” Tanya Ki Bijak sejurus kemudian.

“Tidak ki, ana sekarang hanya ingin belajar mencintai dan mensyukuri semua karunia Allah yang mungkin selama ini ana lalaikan.......” Kata Maula.

“Jika mungkin, silahkan Nak Mas berusaha untuk mendapatkan usaha dan penghasilan yang lebih baik, silahkan saja Nak Mas, selama itu tetap direl yang telah ditetapkan, tapi Aki pesankan kepada Nak Mas bahwa tujuan hidup kita bukan untuk mencari dan mengumpulkan materi semata, tapi tujuan kita adalah hidup bahagia, fi dunya wal akhirat, jadi fokuskan pencarian Nak Mas pada kebahagiaan itu sendiri, bukan pada materinya......” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, ana beberapa waktu lalu juga mendapat sebuah hikmah yang sangat besar dari seorang teman, bahwa tidak selamanya limpahan materi menjamin sebuah kebahagiaan seseorang, dan sebaliknya, kekurangan materi tidak serta merta menjadikan orang itu menderita............” Kata Maula.

“Sebaliknya kekayaan hati kita, kebesaran jiwa kita, merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya Nak Mas, dan beruntunglah mereka yang memiliki kekayaan hati dan kebesaran jiwa yang tercermin dalam sifat ridha, syukur dan sabar dalam menjalani hari-harinya...........” Kata Ki Bijak lagi.

“Ya Allah, penuhilah hati hamba_Mu ini dengan kekayaan, dan lapangkan tangan hamba_mu ini dari kesibukan yang melalaikan........” Maula memohon kepada Allah agar menjadi orang yang kaya hati.

“Amiiin..............” Timpal Ki Bijak.

Wassalam
April 30, 2008

REZEKI ITU LUAS....


“Rasa kecewa itu manusiawi Nak Mas..., setiap orang akan atau pernah mengalami perasaan kecewa dalam kehidupannya, kekecewaan karena gagal meraih sesuatu, merasa kurang dan lain sebagainya, termasuk juga kekecewaan yang dialami oleh banyak orang yang tidak atau belum mendapatkan pendapatan atau kenaikan gaji yang tidak sesuai dengan harapannya.........” Kata Ki Bijak menyikapi ungkapan Maula mengenai kekecewaan banyak orang karena kenaikan gajinya tidak sesuai.

“Lalu apa sikap terbaik kita dengan kondisi ini ki.......?” Tanya Maula.

“Dalam hemat Aki, yang pertama sekali harus kita benahi adalah persepsi dan definisi kita tentang apa itu rezeki........” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki..........?” Tanya Maula

“Begini Nak Mas, mungkin lebih dari 70% dari kita yang mengartikan ‘rezeki’ hanya sebatas dengan uang, gaji atau pendapatan, sehingga ketika kita tidak punya uang, gaji kita tidak naik atau pendapatan kita turun, kita langsung berprasangka kurang baik kepada Allah, kita langsung berfikir bahwa rezeki kita sedang ‘sempit’........” Kata Ki Bijak.

“Benar Ki, ana pun masih sering berfikiran seperti itu, bahwa rezeki adalah gaji yang besar, pendapatan yang besar dan uang yang banyak.....” kata Maula.

“Sekarang mari kita tengok ayat 10~12 dari Surat Nuh........” Kata Ki Bijak sambil mengutip ayat yang dimaksud;

10. Maka Aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun-,

11. Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
12. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.


“Jika kita merujuk dari ayat diatas, kata rezeki memiliki arti pemberian Allah kepada makhluk-makhluknya, Allah menganugerahkan rezeki kepada siapa pun dan meliputi berbagai macam aspek kehidupan baik secara jasmani dan rohani dalam bentuk rohaniah dan batiniah. Dari segi jasmaniah Allah mewujudkan rezeki dalam bentuk makanan, minuman, pakaian, kediaman, gaji, pendapatan dan lainnya.

“Sementara untuk kebutuhan rohani yang diberikan Allah kepada hambanya bisa berupa ilmu pengetahuan, kecerdasan, taufik serta hidayah, kelapangan dalam beribadah, keringanan dalam melakukan kebaikan, kesempatan berbuat baik dan sebagainya………” kata Ki Bijak

“Pengertian Rezeki itu luas sekali ya ki…….” Kata Maula.

“Bahkan sangat luas Nak Mas, ada banyak contoh diseliling kita mereka yang penghasilannya besar, gajinya tinggi, yang menurut ukuran kita, mereka dikarunia Allah rezeki yang luas..”

“Sebaliknya kita lebih cenderung beranggapan dan menyebut orang yang gajinya kecil, pendapatannya pas-pas-an, sebagai orang yang rezekinya sempit..”,

“Padahal jika definisi rezeki itu kita perluas seperti diatas, boleh sangat jadi mereka yang gajinya pas-pas-an, tapi memiliki kehidupan yang damai, keluarga yang harmonis, memiliki kesempatan untuk beribadah kepada Allah dengan lebih baik, memiliki pemahaman agama yang baik, merekalah orang-orang yang diberi rezeki lebih oleh Allah, dibanding dengan mereka yang gaji besar, pendapatan berlimpah, tapi memiliki kehidupan yang sempit, keluarga kurang harmonis, ibadahnya malas, serta tidak memiliki pemahaman agama yang cukup, sesungguhnya mereka inilah yang dikaruniai Allah rezeki yang jauh lebih sedikit dari orang dalam kelompok pertama tadi…..” Kata Ki Bijak.

“Karenanya kita harus lebih pandai memaknai rezeki agar kita tidak terjebak dalam kekufuran karena mengingkari nikmat dan rezeki Allah, hanya karena kita membatasi definisi rezeki itu dalam bingkai pemifikiran kita yang sempit dan cenderung mengikuti nafsu……” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah....., ana jadi takut ki, ana takut selama ini ana salah dalam mendefiniskan rezeki...., ya Allah ampuni hamba_Mu yang tidak bisa melihat keagungan rezeki_Mu ya Allah.......” kata Maula dengan nada berat.

“Syukurlah kalau Nak Mas mulai memahami makna rezeki itu......, semoga Allah menambahkan karunia dan rezekinya kepada mereka yang senantiasa beristighfar dan memohon ampun kepada_Nya dengan penuh keikhlasan......” Kata Ki Bijak.

“Ki, adaklah istighfar merupakan salah satu kunci pembuka rezeki itu ki....?” Tanya Maula.

“Allah-lah yang melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki, dan Allah pula yang menyempitkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki, sementara istighfar adalah salah satu syari’at lahiriyah kita sebagaimana ayat diatas, agar dikarunia Allah rezeki yang berkah ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun, Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’ , kalau dalam bahasa Aki, istighfar laksana alat pembersih ‘sumbatan-sumbatan’ yang mungkin menghalangi aliran rezeki Allah kepada kita.....” Kata Ki Bijak.

“Istighfar yang didawamkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh keikhlasan, lillahita’ala, insya Allah akan mengikis dosa-dosa kita...., mungkin kita pernah berbohong kepada atasan untuk membenarkan alasan kita tidak masuk kantor, mungkin kita kerjanya hanya mengejar lemburan saja, sehingga menumpuk pekerjaan agar memperoleh uang lembur, mungkin kita pernah kerjanya sambil ngedumel, mungkin kerja kita belum karena Allah, dan masih banyak lagi dosa-dosa yang mungkin tanpa kita sadari kita lakukan, yang pada akhirnya menyumbat saluran rezeki kita.......” kata Ki Bijak lagi.

“Astaghfirullah...astaghfirullah....,astaghfirullah.....................” Maula menguncapkan kalima-kalimat pembersih dosa itu spontan.

“Selain itu, jangan lupa mensyukuri nikmat Allah Nak Mas......, syukur dalam arti yang seluas-luasnya, baik secara lisan dengan mengucap hamdalah, juga syukur dalam hati, yakni meyakini apapun yang kita peroleh saat ini adalah yang terbaik untuk kita, terlepas dari besar atau kecil menurut ukuran kita, dan juga ungkapan syukur secara nyata dalam bentuk zakat, sedekah, infaq dan dengan cara membelanjakan harta dijalan Allah lainnya........” kata Ki Bijak sambil mengutip ayat ke 7 dari surat Ibrahim;


7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

“Selebihnya, serahkan semuanya kepada Allah, tawakal, karena Allah menjamin barang siapa yang bertawakal kepada_Nya, maka Allah akan mencukupi segala kebutuhannya, Nak Mas ingat ayatnya ?” Kata Ki Bijak

“Ya ki, ayat ke 2 ~ 3 surat Ath Thalaaq...” Kata Maulana sambil membaca ayat dimaksud;

2. ..... barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

“Istighfar dan tuabat, syukur, serta tawakal ya ki, agar rezeki kita lancar.......” Kata Maula mengulang intisari petuah gurunya.

“Itu bahasa syariatnya Nak Mas, selebihnya kita serahkam kembali kepada Allah.........,yang jauh lebih penting lagi bagi kita adalah bagaimana kita memaknai ‘kelapangan dan kesempitan’ rezeki kita sebagai ujian yang harus kita lalui, agar kita tidak terjebak kedalam kesombongan manakala kelapangan menyinggahi kita, atau kita tidak menjadi kufur karena salah dalam memaknai nikmat Allah yang terbalut dalam kata ‘kesempitan’ menurut kita.....” kata Ki Bijak, sambil mengigatkan Maula akan ayat yang menyatakan bahwa kesempatan dan kesempitan dua-duanya adalah ujian.


35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.

“Insya Allah ki......” Kata Maula sambil terus berucap istighfar ......astafirullah rabbal barraya , astaghfirullah minal khatoya..........”

Wassalam

April 27, 2008

SINGKONG YANG BERBALAS KAMBING


“Nak Mas pernah mendengar cerita orang tua kita dulu mengenai seorang santri yang membawa singkong untuk gurunya dengan ikhlas........?” Tanya Ki Bijak, menjawab pertanyaan Maula mengenai balasan sebuah keikhlasan.

“Belum ki..........” Kata Maula.

“Ketika Aki dipesantren dulu, Pak Kyai sering memberi wejangan kepada kami, para santri mengenai berbagai hal, dan yang masih Aki ingat sampai sekarang adalah cerita Pak Kyai mengenai seorang santri yang membawa singkong itu Nak Mas.......” Kata Ki Bijak.

“Bagaimana ceritanya ki......?” Tanya Maula penasaran.

“Pak Kyai bercerita bahwa pada suatu ketika ada seorang santri yang sudah lama tidak berkunjung kepondok gurunya; ia ingin sekali berkunjung kesana, tapi si santri bingung apa yang mesti ia bawa untuk silaturahim kegurunya, sementara ia hanya memiliki sedikit singkong dari hasil kebunnya........” Kata Ki Bijak memulai ceritanya.

“Lalu ki............?” Tanya Maula penasaran.

“Lalu, si santri tadi membulatkan tekad untuk tetap bersilaturahim kerumah gurunya, ‘ bismillah, saya akan berkunjung kerumah guru dengan singkong ini.....’ Kata Si santri.

“Maka berangkatlah sisantri dengan membawa singkong menemui gurunya, dan sesampainya dipondokan gurunya, santri tadi menyerahkan singkong yang dibawanya sebagai oleh-oleh untuk gurunya, dan tanpa disangka sebelumnya, sang guru girang bukan kepalang dengan oleh-oleh singkong yang dibawa muridnya, karena memang itu makanan kegemarannya........” kata Ki Bijak.

“Singkat cerita, sebagai rasa terima kasihnya, Pak Kyai tadi menghadiahi si murid dengan seekor kambing sebagai ganti singkong yang dibawanya.....” Kata Ki Bijak.

“Santri itupun membawa pulang kambing pemberian gurunya, disepanjang perjalanan, ia mensyukuri pemberian gurunya itu, sementara ada tetangganya yang melihat hal itu berfikir lain ‘ kalau sifulan berkunjung kerumah pak kyai dengan membawa singkong, ia diberi kambing, maka kalau saya bawa kambing, tentu saya akan diberi kerbau oleh pak kyai itu....’ demikian fikir tetangga santri tadi.....” Lanjut Ki Bijak.

“Maka berangkatlah tetangga tadi mengunjungi pak kyai dengan membawa seekor kambing, harapannya ia akan mendapat balasan yang lebih dari kambing yang dibawanya....., setelah sampai di tempat kyai tadi, ia menyerahkan kambingnya, dan karena pak kyai tadi tidak memiliki harta lain sebagai oleh-oleh untuk tamunya, maka Pak Kyai tadi memberikan singkong yang beberapa waktu lalu didapat dari santrinya............” Kata Ki Bijak.

“Waah, tentu tetangga itu kecele ya ki, ia membawa kambing dengan harapan dapat kerbau, eeh malah hanya dapat singkong, sementara santri yang membawa singkong justru mendapat kambing.........” Kata Maula sambil tersenyum.

“Terlepas dari cerita tadi merupakan kisah nyata atau tidak, dari kisah itu kita bisa mengambil sebuah pelajaran yang sangat berharga Nak Mas, betapa sebuah keikhlasan dihargai sedemikian mahal oleh Allah swt, sementara mereka yang beramal disertai dengan pamrih, ia justru akan mengalami kerugian yang besar....” Kata Ki Bijak membuka sedikit hikmah dibalik ceritanya.

“Ya ki...., santri tadi berkunjung kerumah gurunya dengan ikhlas, meski hanya membawa singkong, dan dibalas dengan kambing, sementara tetangganya berkunjung kerumah pak kyai memang hanya sekedar mengharapkan balasan yang lebih besar dari kambing yang dibawanya, tapi justru ia hanya mendapat singkong.........” Kata Maula.

“Dan bukankah ini sebuah hikmah yang besar bagi kita Nak Mas......?” Kita lebih sering mengembel-embeli ibadah dan pengabdian kita kepada Allah dengan aksesoris duniawi.........” kata Ki Bijak

“Ibadah dengan aksesoris duniawi ki........?” Tanya Maula

“Benar Nak Mas, masih banyak diantara kita yang sunnah dhuha-nya karena ingin kaya, bukan karena Allah, masih banyak diantara kita yang tahajudnya karena ingin naik pangkat dan jabatan, bukan karena Allah, masih banyak diantara kita yang sedekahnya karena ingin disebut dermawan, bukan karena Allah, masih banyak diantara kita yang shaumnya sekedar ikut-ikutan, bukan karena Allah, masih banyak haji kita yang berangkat ketanah suci karena kelebihan uang dan jalan-jalan, bukan karena Allah, dan ketika kita beribadah bukan karena Allah, maka bersiap-siaplah untuk kecewa, seperti halnya sang pembawa kambing yang hanya mendapatkan singkong seperti cerita tadi.....”Kata Ki Bijak

“Kenapa masih banyak diantara kita yang berlaku demikian ki.......?” Tanya Maula.

“Semuanya berpulang pada kedewasaan kita dalam beribadah Nak Mas......” Kata Ki Bijak.

“Kedewasaan kita dalam beribadah ki......?” Tanya Maula lagi.

“Aki sering menganalogikan ketidak dewasaan ibadah kita dengan perilaku anak kecil yang ketika disuruh mandi oleh ibunya, mesti diiming-imingi dengan sesuatu dulu, baru mau mandi, atau mesti ditakut-takuti dulu, baru mau mandi...., karena memang anak kecil yang belum dewasa, tidak memahami fungsi dan hakekat mandi bagi dirinya, sehingga seorang anak kecil menganggap mandi adalah sebuah beban yang memberatkan.....”

“Seandainya anak kecil tadi memiliki pemahaman yang benar bahwa dengan mandi ia akan mendapatkan kebersihan dan kesehatan secara syari’at, tentu tanpa diiming-imingi sesuatu atau ditakuti-takuti pun, ia akan mandi, karena ia tahu secara pasti manfaat mandi bagi dirinya........” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki.......?” Tanya Maula.

“Pun demikian halnya dengan ibadah kita, sebagian dari kita belum memahami hakekat shalat secara benar, belum memahami arti shaum yang benar, belum mengerti bagaimana sedekah yang benar, bagaimana haji yang benar, sehingga kita melakukan ibadah-ibadah itu tidak lebih dari sekedar ‘ritual’ dan setengah terpaksa......”

“Seandainya kita sudah memahami hakekat dan makna dibalik perintah ibadah-ibadah itu, niscaya kita akan melakukannya dengan ikhlas, tanpa iming-iming, lillahita’ala, dan ini memerlukan kedewasaan kita dalam beribadah.........”Sambung Ki Bijak.

“Berat ya ki untuk bisa beramal dengan ikhlas.....” kata Maula.

“Memang berat Nak Mas, dan karenanya seorang mukhlis memiliki derajat yang tinggi disisi Allah swt.......” kata Ki Bijak.

“Ki, Bagaimana kita belajar ikhlas ki........?” Tanya Maula.

“Untuk menjadi seorang mukhlis memang harus bertahap Nak Mas, setidaknya ada tiga anak tangga yang harus kita titi untuk bisa sampai pada derajat ikhlas, yang pertama kita harus berilmu, kedua mengamalkan ilmu tersebut secara istiqomah, dan kemudian insya Allah ikhlas akan datang dengan sendirinya.....” Kata Ki Bijak.

“Ilmu, amal dan kemudian iklhas........” Maula mengulang perkataan gurunya.

“Benar Nak Mas, ilmu saja, tidak cukup untuk melatih kita belajar ikhlas, ilmu yang ada pada kita, harus kita amalkan, sebagai misal kita tahu keutamaan shalat berjamaah dimasjid, tapi tahu saja tidak cukup, kita harus berusaha untuk kemasjid dan mengamalkan apa yang kita ketahui tentang keutamaan shalat berjamaah dimasjid.....”

“Mungkin awalnya akan ada perasaan berat untuk melangkahkan kaki kita ke masjid, mungkin awalnya akan ada perasaan riya dan berbangga diri bahwa kita menjadi sedikit orang yang pergi kemasjid, tapi jangan menyerah, kalahkan perasaan itu dengan tetap istiqomah, insya Allah perlahan kita akan menemukan kenikmatan shalat berjamaah dimasjid, dan insya Allah, ketika kita sudah bisa ‘menikmati’ sebuah aktivitas ibadah, rasa ikhlas itu akan timbul dengan sendirinya............” Kata Ki Bijak.

“Pun dengan ibadah-ibadah lain, pelajari ilmunya, amalkan secara istriqomah sehingga membekas dan meresap kedalam setiap relung hati kita untuk mendapat derajat keikhlasan.............” kata Ki Bijak lagi.
“Ki, apakah kita bisa melihat ‘ikhlas’ dalam perkataan ‘saya sudah ikhlas’ melakukan ini dan itu ki......?” Tanya Maula.

“Ikhlas itu bahasa hati Nak Mas, ikhlas hanya diketahui oleh Allah dan hati kita, selebihnya, ucapan atau ungkapan apapun, samasekali tidak menggambarkan makna ikhlas itu sendiri, yang jelas, ketika kita melakukan ibadah dengan ikhlas, kita akan mendapatkan ‘sesuatu’ yang juga tidak mungkin diuraikan dengan kata-kata, ada rasa tentram, ada rasa damai, ada segala macam rasa yang indah untuk kita nikmati manakala ikhlas sudah bersemayam dalam sanubari kita...........” Kata Ki Bijak lagi.

“Ya Allah, jika hanya ada sejuta manusia yang Engkau karuniai rasa ikhlas, maka jadikanlah hamba salah satunya, jika hanya ada seratus orang yang Engkau karuniai rasa ikhlas itu, maka jadikanlah hamba salah satunya, jika hanya ada sepuluh orang yang Engkau karunia rasa Ikhlas itu, maka jadikanlah hamba salah satunya, sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu......” Maula memanjatkan do’a agar dijadikan seorang mukhlis.

“Amiiiin......” Ki Bijak mengamini.

Wassalam

April 22, 2008

DARI RAMAINYYA LALULINTAS


“Nak Mas melihat sesuatu yang menarik dari ramainya lalu lintas tadi......?” Tanya Ki Bijak menanggapi cerita Maula mengenai lalu lintas yang padat setiap harinya.

“Apa ya ki, selain bising dan polusi, ana tidak ‘melihat’ apapun ki.......” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum...” Nak Mas perhatikan lagi, dari sekian banyak kendaraan yang berlalu lalang dijalan raya, masing-masing mereka memiliki tujuan yang berbeda-beda, ada yang hendak kekantor, ada yang hendak jalan-jalan, ada yang hendak mengantar barang dan masih banyak tujuan-tujuan lainnya......” Kata Ki Bijak

“Lalu ki.....?” Tanya Maula.

“Lalu, selain tujuan yang berbeda, para pengendara itu juga memiliki cara dan karakter yang berbeda-beda pula, ada yang ugal-ugalan, ada yang ngebut, ada yang pelan dan masih banyak cara mereka berkendara, bahkan kita juga sering berpapasan dengan kendaraan yang berbeda arah dengan kita.........” Kata Ki Bijak

“Ya ki............” Kata Maula lagi sambil berupaya memahami arah pembicaraan Ki Bijak.

“Pun dalam kehidupan kita Nak Mas, setiap kita memiliki tujuan hidup yang berbeda-beda, ada yang ingin menjadi orang kaya, ingin jadi pejabat, ingin jadi pengusaha, ingin ini dan itu, bahkan tidak jarang kita dipertemukan dengan mereka yang memiliki tujuan dan pandangan hidup yang berbeda dengan kita......” Kata Ki Bijak.

“Benar ki, setiap orang memiliki tujuan dan pandangan hidup yang berbeda, seperti halnya perbedaan yang nampak diantara lalu lalangnya kendaraan dijalan raya....” Kata Maula mulai sedikit memahami arah pembicaraan gurunya.

“Yang lebih menarik dari perbedaan-perbedaan itu bagi Aki adalah bagaimana cara mereka sampai ketujuan dan siapa saja yang pada akhirnya tiba ditempat yang dituju.........” Kata Ki Bijak

“Nak Mas perhatikan, tidak semua pengendara dan orang yang lalu lalang dijalan itu bisa tiba ditujuan sesuai dengan apa yang direncanakannya, ada yang datang terlambat karena kendaraannya rusak, ada yang terlambat karena laju kendaraannya terhambat macet, ada yang harus memutar, bahkan ada yang sama sekali tidak pernah sampai ditempat yang ditujunya karena kecelakaan dan meninggal..........” Kata Ki Bijak.

“Benar Ki............., mereka yang sampai ketempat tujuan, secara syariat biasanya adalah mereka yang memiliki tujuan yang sudah jelas, mereka sudah hafal atau setidaknya sudah mengetahui rute yang hendak dilalui, mereka juga menaiki kendaraan yang baik kondisi mesinya, remnya terjaga, mereka juga berkemudi dengan baik, mematuhi rambu-rambu yang telah ditetapkan serta tentu dengan kehati-hatian yang sangat tinggi......” Kata Maula

“Demikianpun dengan kehidupan kita Nak Mas, agar kita dapat tiba ditempat yang kita tuju, secara syariat kita pun harus mengetahui tujuan hidup kita, Nak Mas masih ingat ayat Allah yang menyatakan untuk tujuan apa kita diciptakan......?” Tanya Ki Bijak.

“Ya ki, Allah menciptakan manusia semata untuk mengabdi kepada_Nya.....” Kata Maula sambil membacakan ayat ke 56 dari surat Ad-dzariyat;

56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

“Nak Mas benar, Allah menciptakan kita, manusia, semata untuk mengabdi kepada_Nya, dan kenapa sekarang ini banyak orang tersesat dan tidak pernah sampai pada pengabdian yang total kepada Allah, adalah karena sebagian kita sudah mulai lupa dengan tujuan hidup kita yang semestinya, sebagian dari kita sekarang ini justru sudah menjadikan kehidupan dunia ini sebagai tujuan, sehingga mereka berlomba-lomba mengejar dunia, mengejar gemerlap dunia dan kemewahannya, sehingga mereka silau dengan kilauan dunia fana ini, dan Nak Mas tahu apa akibatnya ketika kita berkendara, sementara mata kita silau oleh sinar yang tajam......?” Tanya Ki Bijak.

“Tentu kita kaget ki, dan pandangan mata kita menjadi gelap karenanya.......” Kata Maula.

“Dalam kehidupan kita pun demikian Nak Mas, ketika kita kaget dan mata hati kita gelap karena silau oleh gemerlap dunia, kita kerap banting setir, dan tidak jarang kita justru terperosok kedalam jurang yang dalam, banyak sudah mereka yang silau oleh gemerlap dunia ini, kemudian banting stir dan gelap mata, menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang dianggapnya benar, mereka lupa pada tujuan awal mereka untuk menjadi pengabdi Allah semata, mereka kemudian justru berbelok menjadi pengabdi-pengabdi harta, penyembah berhala-berhala modern, uang, mobil pangkat dan kedudukan............” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, ana sering menyaksikan mereka lebih mementingkan mencuci motor atau mobilnya daripada mendahulukan panggilan adzan yang berkumandang, ana juga sering menyaksikan mereka lebih tunduk dan hormat kepada atasan, sementara ketika ruku’ dan sujud mereka nampak ogah-ogahan........” Kata Maula.

“Berhati-hatilah jika penyakit semacam itu menghinggapi kita Nak Mas, karena sekali kita silau dan kaget, kita sangat mungkin akan terperosok kedalam jurang kehancuran.......” Kata Ki Bijak.

“Lalu seperti yang Nak Mas katakan tadi, bahwa mereka yang selamat sampai tujuan adalah mereka yang mentaati rambu lalu lintas dan berhati-hati dalam berkendara.......?” Kata Ki Bijak.

“Benar ki..........” Kata Maula.

“Agama ini adalah sekumpulan rambu-rambu yang mengatur dan mengarahkan kita kepada jalan yang lurus untuk mencapai tujuan kita, Allah menurunkan Al qur’an ini bukan hanya untuk dijadikan pajangan atau jimat dengan menempatkannya didalam almari atau tempat lain tanpa pernah disentuh apalgi dibaca, Allah menurunkan al qur’an untuk dibaca, dipahami dan diamalkan, dan barang siapa mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan Allah dalam al qur’an, dan menjalaninya dengan penuh kehati-hatian, maka ia akan selamat sampai pada tujuan.......”

“Sebaliknya, mereka yang mengabaikan rambu-rambu al qur’an, mereka yang melanggar apa yang dilarangnya dan tidak menghiraukan apa yang dianjurkannya, niscaya ia akan mengalami ‘kecelakaan’, karena sangat mungkin ia akan berbenturan dengan pengendara lain atau bahkan terjerumus kedalam lubang kehancuran karena kelalaian dan kecerobohannya...........” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, dari sekian juta umat islam, mungkin hanya segelintir orang saja yang masih mengindahkan rambu-rambu al qur’an sekarang ini.........” Kata Maula

“Untuk itu, mari kita mencoba menjadi ‘segelintir orang’ yang mengindahkan rambu-rambu al qur’an itu Nak Mas, dalam segala hal, Nak Mas jangan sampai lepas dari tuntunan al qur’an, baik itu ketika Nak Mas melakukan kasab duniawi, terlebih dalam menjalankan ibadah dan pengabdian Nak Mas kepada Allah swt.....” Kata Ki Bijak.

“Insya Allah ki................” Kata Maula

“Masih banyak yang dapat kita pelajari dari hilir mudik dan ramainya kendaraan dijalan raya Nak Mas, buka mata hati Nak Mas dan lihatlah lagi hilir mudik kendaraan itu, bagaimana kadang kita harus berputar untuk menghindari kemacetan, bagaimana kita harus mampu melihat beberapa kendaraan didepan kita, bagaimana kita harus mengemudikan kendaraan kita, dan masih banyak lagi pelajaran yang berharga untuk kita ambil dari sana........” Kata Ki Bijak.

“Iya ki............, ya Allah untuk inikah Engkau menempatkan hamba ditempat kerja yang lebih jauh dari rumah, agar hamba bisa memahami arti dan makna kehidupan ini dari arus lintas yang tiap hari hamba lalui........” Kata Maula sambil menerawang.

“Tidaklah Allah menempatkan Nak Mas kerja ditempat yang lebih jauh menurut Nak Mas, tanpa ada maksud yang jelas didalamnya, dan Nak Mas insya Allah sudah menemukan salah satu hikmah kenapa Nak Mas bekerja ditempat kerja yang sekarang...........” Kata Ki Bijak.

“Ya Allah, tempatkan hamba ditempat yang Engkau berkati, dan Engkau sebaik-baik yang memberi tempat..........” kata Maula memohon kepada Allah sambil membaca Surat ke 23 ayat 29;

29. Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah Aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat."


Wassalam

April 20, 2008

ANOMALI ‘HARGA’


“Ki, dalam beberapa bulan terakhir ini, hampir semua harga bahan kebutuhan pokok naik semua, mulai dari beras, telur, minyak goreng, sayur mayur, semua naik, dan kondisi ini membuat sebagian orang panik dan stress, karena kenaikan harga-harga itu tidak sebanding dengan kenaikan pendapatan atau upah yang mereka terima............” Kata Maula menyikapi kenaikan harga kebutuhan pokok yang akhir-akhir ini melambung tinggi, nyaris tak terjangkau oleh daya beli masyarakat lapisan bawah.

Ki Bijak menghela nafas panjang mendengar penuturan Maula..” Entah apa yang tengah terjadi dengan bangsa ini, bangsa yang dikaruniai limpahan kekayaan alam dan potensi yang sedemikian besar, belum mampu memberikan yang terbaik bagi rakyatnya....., Aki yang awam ini, hanya bisa merasakan ada ‘sesuatu’ yang salah dengan bangsa ini...........” Kata Ki Bijak sesaat kemudian.

“Benar ki, minyak bumi kita punya, tambang emas berlimpah, kekayaan alam meruah, sumber daya laut yang dipenuhi dengan ikan dan mutiara, apalagi yang kurang dengan bangsa ini ya ki............” Maula turut prihatin.

“Nak Mas ingat dengan ayat 96 dalam surat Al A’raf.....?” Tanya Ki Bijak sejurus kemudian.

“Iya ki...”Jawab Maula sambil membacakan ayat dimaksud;

96. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

“Benar Nak Mas, ayat itu jaminan dari Allah bagi kita, ‘Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi’, dan ketika yang terjadi kemudian sebaliknya, kita patut khawatir bahwa kita telah melalaikan peringatan Allah dalam akhir ayat diatas, bahwa bangsa ini telah mendustakan ayat-ayat Allah, bahwa bangsa ini, dan mungkin juga kita turut ambil bagian didalamnya, telah jauh dari aturan yang telah ditetapkan Allah sebagai pra-syarat turunnya berkah Allah dari langit dan bumi, sehingga kita bagaikan anak ayam mati kelaparan didalam lumbung padi..............” Kata Ki Bijak.

“Ironis sekali ya ki........” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, bangsa ini tengah mengalami sebuah ironi, dan ironi yang sangat jelas terpampang dihadapan kita adalah ketika harga kebutuhan melambung tinggi, ‘harga diri’ sebagian masyarakat kita justru menukik drastis, terjun bebas tak terkendali.................” Kata Ki Bijak.

“Kita bisa dengan mudah menemukan mereka yang berdasi mahal, tapi harga dirinya tergadai dengan uang suap yang hanya lima puluh ribuan..”,

“Kita bisa dengan mudah menemukan mereka yang berjas mewah, ternyata harga dirinya tidak lebih dari setumpuk uang ratusan ribu..”,

“Kita bisa dengan mudah menemukan mereka yang naik turun BMW, tapi harga dirinya tidak lebih dari harga sebuah bajaj..”,

“Kita bisa menemukan dengan mudah, mereka yang berkantor dengan gedung mewah, tapi harga dirinya tidak lebih mahal dari mereka yang berkubang di kubangan sampah...”,

“Kita dengan mudah menemukan mereka yang merasa terhormat, ternyata harga dirinya bahkan lebih murah dari mereka yang tidak sekolah...., sebuah ironi besar, sebuah lelucon yang sangat tidak lucu...........” kata Ki Bijak lagi.

“Sementara disisi lain, masyarakat kalangan bawah, juga sudah mulai dijangkiti ‘penyakit malas’, sehingga mereka lebih senang menadahkan tangan meminta-minta dari pada berusaha untuk mendapatkan rezeki dengan lebih terhormat...” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, sekarang ini jumlah peminta-minta tambah banyak saja......” Kata Maula.

“Dan peminta-minta yang menjamur belakangan ini, bukan saja karena alasan keterbatasan fisik, bukan saja ketidakmampuan mereka bekerja, tapi lebih pada kesalahan mereka dalam mengambil contoh dan teladan, sehingga dengan enteng mereka mengatakan ‘pejabat saja masih minta-minta, apalagi rakyat jelata’, demikian ungkapan sebagian mereka......” Kata Ki Bijak

“Itukah alasan mengapa bangsa ini demikian terpuruk ki......?” Tanya Maula.

“Wallahu’alam Nak Mas, tapi jika kita meyakini kebenaran firman Allah diatas, sepatutnyalah kita segera berintrospeksi diri, baik sebagai sebuah bangsa, maupun kita sebagai pribadi..........” Kata Ki Bijak

“Kita sebagai pribadi ki.....?” Tanya Maula.

“Bangsa ini adalah kumpulan dari individu-individu, himpunan dari pribadi-pribadi, dan untuk mengubah sebuah bangsa, yang paling mungkin kita lakukan adalah dengan membenahi setiap pribadi yang ada didalamnya......,

“Contohnya kita ini Nak Mas......, mungkin sangat naif bagi kita untuk mengubah kondisi bangsa ini secara keseluruhan, karena memang kita tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk itu, tapi setidaknya kita bisa berperan untuk memperbaiki ketakwaan dan keimanan kita, kemudian keluarga kita, syukur kalau lingkungan kita, dan jika setiap pribadi dan individu mempunyai komitmen yang sama untuk memperbaiki keimanan dan ketakwaannya kepada Allah, insya Allah, kita sebagai bangsa dengan sendirinya akan ikut terkoreksi secara positif...............” kata Ki Bijak.

“Ki, kondisi sekarang ini khan sudah sedemikian parah ki, apakah mungkin dapat berubah hanya dengan perubahan per individu dan bukan dari atas ki..........” Kata Maula.

“Dalam kondisi ideal, perbaikan memang harusnya dimulai dari ‘atas’, sehingga lebih efektif, tapi kita tidak bisa menunggu kondisi ideal itu tiba tanpa melakukan apapun Nak Mas......,

“Kewajiban kita hanyalah melakukan yang terbaik yang kita bisa lakukan, selebihnya, serahkan semuanya pada Allah swt...., yang penting kita tidak hanya diam berpangku tangan dan berkomentar, kita harus melakukan sesuatu yang berharga untuk membuat perubaha........” kata Ki Bijak.

“Kita bisa mulai dari diri kita, perbaiki tauhid kita, perbaiki keimanan kita, perbaiki ketaatan kita, perbaiki ibadah kita, baru kemudian kita tularkan kepada anak, istri dan keluarga terdekat kita, insya Allah setiap perbaikan yang kita lakukan, sekecil apapun itu, tidak akan ada yang sia-sia disisi Allah swt........” kata Ki Bijak lagi.

“Jika Nak Mas seorang karyawan, maka jadilah karyawan yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt..., sesibuk apapun, ketika waktu shalat tiba, ya shalat dulu, jangan lupa zakatnya, pelihara rendah hatinya, perbaiki tutur kata dan perilakunya.........’

“Pun ketika kita sebagai pejabat RT misalnya, jadilah RT yang taat dan takwa kepada Allah, atau ketika kita menjadi pedagang, maka kita bisa berbuat sesuatu dengan memberi contoh pedagang yang beriman dan bertakwa, waktunya shalat ya kita shalat, ada keuntungan ya kita sedekah, ada lebihan lagi, ya untuk bayar zakat, insya Allah jika setiap kita melakukan hal terbaik sesuai dengan kemampuan kita, akan ada perubahan besar dalam konteks kita sebagai bangsa.......” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, semoga ana bisa memulainya dari sekarang, memulai perbaikan dari diri ana, keluarga dan insya Allah juga lingkungan ana.......” Kata Maula.

“Syukurlah Nak Mas, semoga Allah membimbing Nak Mas untuk melakukan hal terbaik bagi diri, keluarga dan lingkungan Nak Mas......” Kata Ki Bijak

“Amiin................” Kata Maula menutup percakapan.

Wassalam

April 15, 2008

SATU HAL YANG KITA LUPA

“Benar Nak Mas, Aki pun sangat prihatin dengan apa yang belakangan ini terjadi ditengah masyarakat kita......” Kata Ki Bijak menanggapi keprihatinan Maula terkait beberapa kejadian akhir-akhir ini, ada jaksa yang tertangkap tangan menerima uang suap, ada pejabat yang terlibat komplotan pembalakan liar, dan bahkan yang terakhir lebih miris lagi, ada wakil rakyat yang juga ditangkap karena kasus suap, setelah sebelumnya para petinggi di Bank juga ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang hampir serupa, Korupsi.....

“Kenapa kondisi ini bisa terjadi ya ki.......?” Tanya Maula, masih dengan nada prihatin.

“Wallahu’alam Nak Mas, Nak Mas akan menemukan banyak jawaban dari pertanyaan diatas, tergantung dari siapa jawaban itu keluar, namun dari sudut pandang Aki, penyebab utama dari semua yang terjadi belakangan ini adalah karena sebagian kita sudah melupakan satu hal..........” Kata Ki Bijak.

“Hal apa itu ki.............?” Tanya Maula.

“Nak Mas perhatikan lagi ayat ketiga puluh lima dari surat Al Anbiya;


35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.

“Banyak diantara kita yang sudah lupa bahwa kita pasti akan mati, dan banyak diantara kita yang belum sepenuhnya menyadari bahwa apa yang ada pada kita adalah ujian, baik ketika kita mendapatkan kebaikan, pun ketika kita mendapatkan kejelekan, dua-duanya ujian.....” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, kita lebih cenderung merasakan diuji ketika kita ditimpa sakit, kita merasa diuji ketika dalam kemiskinan, ketika kita ditimpa kekurangan, ketakutan atau hal-hal yang tidak kita senangi...........” Kata Maula.

“Kedudukan, pangkat, jabatan, kekayaan, kemudahan, kemulian juga merupakan ‘ujian’ yang harus kita lewati agar kita menjadi manusia yang dikehendaki oleh Allah......” Kata Ki Bijak.

“Dalam contoh kita kali ini, jabatan sebagai wakil rakyat, pangkat sebagai pejabat, atau dasi dan kehormatan yang melekat, merupakan ujian, untuk menguji sejauh mana kita bersyukur terhadap amanah itu, sejauh mana kita bertanggung jawab terhadap pangkat dan jabatan yang kita emban, karena ketika kita salah memaknai pangkat dan jabatan ini, yang terjadi kemudian adalah seperti apa yang terpampang didepan kita sekarang ini.....;

“Jabatan dan wewenang digunakan sebagai alat penekan untuk mendapatkan keuntungan personal, kedudukan yang tinggi dijadikan alat pelindung berbagai tindakan yang tidak sesuai dengan tata nilai dan norma agama.........” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ya ki, padahal kalau dipikir-pikir, kita mengejar pangkat dan kedudukan, mengejar harta dan duniawi, dengan berbagai macam cara dan bahkan menghalalkan segala cara, padahal semua yang kita kejar dan kita kumpulkan itu sama sekali tidak kita bawa ketika kita mati..........” kata Maula.

“Pangkat, jabatan dan harta, jika disikapi secara benar, juga merupakan modal yang sangat berharga untuk bekal kita pulang keakhirat kelak Nak Mas......” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki......?’ Tanya Maula.

“Agama kita samasekali tidak melarang orang untuk mencapai cita-citanya, jika mungkin, agama kita mempersilahkan kita untuk menjadi pejabat, untuk menjadi konglomerat, untuk menjadi wakil rakyat, silahkan...., tapi dengan satu catatan, bahwa semuanya itu bukan tujuan, tapi hanya sebagai alat untuk mencapai ridha Allah swt.....”

“Seorang pejabat, seorang wakil rakyat yang menggunakan jabatannya untuk membuat undang-undang yang mendorong umat untuk berbuat kebajikan, dan memproteksi dari kemaksiatan, insya Allah adalah juga bernilai pahala disisi Allah;

“Seorang pemimpin, yang menggunakankan kekuasaannya untuk menjamin rasa aman rakyatnya, berbuat adil, dan tetap berpegang teguh pada tata nilai agama, juga merupakan seorang yang memiliki nilai yang tinggi disisi Allah...,

“Pun dengan harta kita, kita bisa menjadikan harta kita sebagai kendaraan kita menuju ridha Allah, Nak Mas......” Kata Ki Bijak.

“Bagaimana caranya ki......?’ Tanya Maula.

“Belanjakan harta kita sesuai yang Allah kehendaki, untuk zakat, untuk sedekah, untuk menuntut ilmu, menyantuni fakir miskin, yatim piatu atau untuk membantu pembangunan sarana dan prasarana ibadah, dengan disertai keikhlasan dan lillahita’ala, insya Allah, harta yang kita belanjakan ini akan menjadi tabungan yang akan mempermudah kita menapaki shirathal mustaqiem diakhirat kelak.............” kata Ki Bijak.

“Benar ki, uang kita yang ditabung dibank juga hanya merupakan catatan diatas kertas, selebihnya, pemilik bank itulah yang memanfaatkan dan mendapatkan keuntungan lebih dari uang yang kita tabung dibank mereka....” Kata Maula

“Sementara mobil, rumah, kebun atau perhiasan yang kita miliki, tak lebih dari perhiasan dunia, yang tidak jarang justru melalaikan dan menjauhkan kita dari Allah swt.......” Sambung Ki Bijak.

“Mobil kita, kadang menyita perhatian kita secara berlebih, kadang kumandang adzan lewat begitu saja, hanya demi mobil kita yang kotor atau kehujanan.....”

“Rumah mewah juga kadang menjadikan kita membanggakannya secara berlebihan dan kita cenderung menjadi sombong karenanya, pun demikian halnya dengan kebun kita.....’

“Apalagi perhiasan, banyak sudah orang yang terjabak bermewah-mewah dan bermegah-megahan dengan perhiasan yang mereka miliki, sehingga ‘lupa’ darimana perhiasan itu berasal.............” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, semakin orang lupa akan mati, maka ia cenderung semakin rakus terhadap dunia ya ki........” Kata Maula.

“Benar kata seorang sahabat bahwa ‘hubbu dunya khoti’ati kulli sayyiah – Kecintaan pada dunia yang berlebihan, adalah pangkal dari segala kejahatan....” Kata Ki Bijak menambahkan.

“Ya Rabb, hamba berlindung kepada_Mu dari kecintaan pada dunia yang berlebihan, hamba berlindung pada_Mu ya Allah dari fitnah dunia yang menyesatkan.......” Kata Maula mengakhiri percakapan hari itu.

Wassalam

April 14, 2008

KISAH GAGAK YANG MALANG

“Nak Mas pernah dengar cerita gagak malang yang kehilangan makanannya......?’ Tanya Ki Bijak menyikapi pertanyaan Maula bagaimana menyikapi pujian

“Gagak yang malang ki..........?” Tanya Maula heran.

“Ya Nak Mas, konon ada sebuah cerita tentang seekor gagak yang sedang terbang sambil membawa makanan dimulutnya, sementara dibawahnya ada beberapa rubah yang juga sangat menginginkan makanan yang dibawa di gagak....” Kata Maula.

“Menyadari bahwa mereka tidak bisa mengejar gagak yang terbang, kawanan rubah kemudian memanggil-manggil sigagak dengan berbagai pujian, rubah-rubah itu menyanjung gagak dengan kata-kata manis yang memambukan, sehingga akhirnya gagak terpancing untuk membalas pujian itu dengan membuka paruhnya yang sedang memegang makanan...........” kata Ki Bijak.

“Lalu ki..........?” Tanya Maula penasaran.

“Ketika gagak itu mabuk dengan pujian, sigagak menjadi lupa dengan makanan diparuhnya, ketika gagak membuka paruhnya, makanan itu pun jatuh dan menjadi santapan kawanan rubah yang lapar..............” Kata Ki Bijak.

“Apa maknanya ki............?” Tanya Maula

“Gagak adalah sebuah simbol mereka yang ‘berhasil’ yang digambarkan dengan keberhasilan gagak itu memperoleh makanan, sementara kawanan rubah adalah simbol orang-orang disekililing kita, bisa teman, bisa atasan, bahkan bisa juga musuh dari orang-orang berhasil...........”

“Adalah sesuatu yang lumrah, ketika kita ‘berhasil’, semua orang memuji kita, semua orang menyanjung kita, semua orang mengelu-elukan kita sebagaimana kawanan rubah tadi, dan pelajaran dari cerita diatas adalah kita tidak boleh mabuk pujian yang disanjungkan siapapun kepada kita, karena selain kita tidak sepenuhnya tahu maksud dan tujuan dari pujian yang dialamatkan kepada kita itu, kita juga tidak tahu bahwa dari sekian banyak orang yang memuji kita, mungkin sebagian dari mereka ada sekawanan ‘rubah’ yang sebenarnya iri dan menghendaki keberhasilan kita jatuh kepada mereka..............” Kata Ki Bijak.

“Ooh, ana mengerti sekarang ki......., seperti pernah ada atlet sepakbola yang sangat potensial, ketika itu hampir semua orang memujanya, tapi kemudian sipemain itu mabuk pujian, ia menjadi lupa diri dan akhirnya ia lupa dengan potensi besarnya dan sekarang hanya menjadi pemain yang biasa saja.......” kata Maula mencontohkan kehidupan seorang atlet.

“Bukan hanya dikalangan atlet Nak Mas, kita pun harus berhati-hati manakala kita tengah terbang tinggi dengan keberhasilan kita, kita jangan terlena dengan pujian, jangan mabuk dengan sanjungan, karena sekali lagi yang berhak dipuja dan dipuji adalah Allah swt saja, kita sama sekali tidak memiliki daya dan kekuatan untuk mencapai keberhasilan itu kecuali dengan izin dan kekuatan Allah, karenanya kembali semua pujian itu kepada Allah dengan mengucap ‘Alhamdulillah...., segala puji bagi Allah semata......” kata Ki Bijak.

“Bahkan ketika kita berada ‘diketinggian’, kita bisa menjadai sasaran tembak yang empuk yang ki, karena semua orang bisa melihat kita dan bagi mereka yang memiliki niat tidak baik, bisa membidik kita dengan lurus..........” kata Maula.

“Benar Nak Mas, sekali lagi, pujian bukanlah hak kita, pujian sama sekali tidak menjadikan kita lebih hebat, pujian sama sekali tidak membuat kita menjadi lebih besar, pujian sama sekali tidak membuat kita menjadi lebih pintar, pujian....dalam banyak kasus, justru merupakan awal dari kehancuran bagi mereka yang tidak pandai memaknainya.............” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki....., tapi justru kenapa banyak orang mengharap dan menginginkan pujian ya ki.............” Tanya Maula.

“Karena memang pujian itu manis laksana sirup yang menyegarkan, kita akan sangat mudah terlena dengan manis dan segarnya, meski kadang sirup itu diberi pewarna yang beracun bagi kita.......,

“Pujian pun demikian adanya Nak Mas, tidak semua pujian yang dialamatkan pada kita tulus dan merupakan penghargaan atas prestasi dan keberhasilan kita, kadang pujian itu hanya berupa ‘zat pewarna’ untuk mengelabui kita sehingga kita terbuai dan lengah, dan agar tujuan sebenarnya dari sipemuji itu tidak nampak, persis seperti kawanan rubah dalam cerita diatas.........” Kata Ki Bijak

“Bahkan kita juga harus hati-hati dengan ibadah yang kita lakukan Nak Mas......, sekali saja aktivitas ibadah kita dilandasi oleh keinginan untuk dipuji orang lain, maka kita akan menjadi orang yang rugi, bukan hanya sekali bahkan kerugian yang akan kita derita, tapi mungkin berkali-kali........” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki............?” Tanya Maula.

“Misalnya ketika kita sedekah atau menyumbang untuk kegiatan atau sarana ibadah, seperti pembangunan pesantren, pembangunan masjid dan sebagainya, kemudian terbersit dihati kita bahwa kita menyumbang agar orang lain tahu bahwa kita dermawan, maka ketika itulah kita akan merugi, kerugian pertama adalah uang atau harta kita berkurang, kerugian kedua, sedekah dan sumbangan kita yang disertai dengan perasaan ingin dipuji atau riya, sama sekali tidak bernilai disisi Allah swt..............”

“Atau ketika kita berangkat haji, sementara dihati kita masih terbalut niat bahwa kepergian kita ketanah suci agar sepulangnya nanti dipangil bapak atau ibu haji, kita akan menderita kerugian, harta kita berkurang karena biaya perjalanan haji yang besar, sementara pahala surga yang Allah janjikan bagi haji mabrur tidak kita dapat, karena niatan kita untuk pergi haji masih diwarnai oleh perasaan dan sifat ingin dipuji............”

“Demikian pun dengan shalat kita, shaum kita, pekerjaan kita atau apapun aktivitas kita, harus benar-benar steril dari keinginan untuk mendapat pujian dari orang lain...........” kata Ki Bijak.

“Kalau Allah yang memuji tidak apa-apa ya ki.............” Kata Maula.

“Allah adalah Dzat yang Maha Terpuji dan Allah akan memberikan pujian kepada hamba yang dikehendaki_Nya, pujian Allah bisa berupa nikmat yang kita terima, pujian Allah bisa berupa kemuliaan yang kita terima, pujian Allah bisa berupa pitutur yang baik bagi kita sepninggal kita, sebagaimana Allah memuji para Nabi dan hamba-hamba_Nya yang beriman.............., dan itulah sebaik-baik pujian, ketika Allah memuji kita, maka seluruh alam akan memuliakan kita....., sebaliknya sekali Allah menghinakan kita, maka tidak ada satu kekuatanpun yang mampu membuat kita mulia dimata manusia terlebih disisi Allah swt...........” kata Ki Bijak.

“Selain itu, tidak ada satupun pujian yang boleh kita harapkan, bahkan dalam banyak ayat, Allah memperingatkan kita betapa sifat riya dan ingin dipuji orang lain, adalah sebuah kenistaan............” kata Ki Bijak sambil membacakan beberapa ayat al qur’an;

142. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka[364]. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya[365] (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali[366]. (An-nissa)

“Masya Allah, bahkan dalam shalat pun kita masih berpotensi untuk melakukan perbuatan yang tidak diridhai Allah ya ki......” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, karenanya kita harus benar-benar berhati-hati agar kita tidak menjadi orang yang merugi seperti kisah gagak diatas......” kata Ki Bijak.

“Iya ki..............” Jawab Maula pendek sambil terus merenungkan percakapannya dengan ki Bijak barusan.

Wassalam

April 09, 2008

HAT-HATI DENGAN PEKERJAAN YANG MELALAIKAN

‘Assalamu’alaikum..........” Sapa Maula kepada Ki Bijak yang tengah duduk sembari membaca kitab.

“Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh..., Nak Mas...., Silahkan duduk.....”Balas Ki Bijak sambil mempersilahkan Maula untuk duduk.

“Nak Mas, dari mana saja...?” hampir seminggu ini tidak kemari.......” Tanya Ki Bijak.

“Iya Ki, ana sedikit sibuk akhir-akhir ini.........” Kata Maula, diwajahnya memang masih nampak gurat-gurat kelelahan akibat banyaknya pekerjaan belakangan ini.

“Masya Allah......, semoga kesibukan Nak Mas tidak sampai melalaikan Nak Mas dari mengingat Allah............” kata Ki Bijak.

“Hal itulah yang sekarang membuat ana sedikti gundah ki........” Kata Maula

“Maksud Nak Mas.........?” Tanya Ki Bijak.

“Kesibukan ana dalam beberapa hari terakhir ini, memang sedikit melalaikan ana kepada Allah ki......., konsentrasi ana lebih condong pada pekerjaan yang kali ini memang sedikit menguras energi ana.......” kata Maula.

“Astaghfirullah......., Nak Mas...., sesibuk apapun kita, kita tidak boleh dilalai oleh pekerjaan kita untuk tetap berdzikir dan mengingat Allah....” Kata Ki Bijak sedikit prihatin,

“Nak Mas perhatikan lagi ayat ini........” Kata Ki Bijak mengutip sebuah ayat al qur’an;


7. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

“Iya ki, ana juga sangat khawatir dengan kondisi ini, ana takut apa yang tadi pagi ana alami, merupakan akibat kelalaian ana dalam berdzikir pada Allah ki.......” Kata Maula.

“Apa yang tadi pagi Nak Mas alami.......?” Tanya Ki Bijak.
“Ki, ana malu mengatakannya ki..., ana tadi pagi shalat shubuh dirumah, karena kantuk dan lelah yang sangat.......” Kata Maula.

“Lalu......?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Ada beberapa kejadian yang agak membuat ana cemas sepanjang pagi tadi ki.....” Kata Maula.

“Kejadian apa Nak Mas...?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Pertama, entah kenapa ana ‘tiba-tiba’ lupa dengan handphone ana, sampai-sampai beberapa teman ikut mencari handphone ana............” Kata Maula.

“Handphone-nya ketemu Nak Mas......?” Tanya Maula.

“Itulah yang membuat ana heran ki, padahal handphone itu ada didalam tas, tapi ana sama sekali lupa..., subhanallah..., mungkihkah ini karena ana melupakan Allah beberapa hari ini, sehingga Allah melupakan ana ki.......” kata Maula.

“Wallahu’alam, Aki bersyukur jika Nak Mas memiliki kepekaan seperti itu, boleh jadi memang kekhilafan Nak Mas diakibatkan oleh kelalaian Nak Mas dalam berdzikir kepada Allah......, tapi syukurlah...., Allah mengingatkan Nak Mas dengan handphone itu........” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, awalnya ana belum menyadari bahwa kealpaan ana itu sebuah teguran dari Allah, ana baru menyadarinya ketika ditengah perjalanan, tiba-tiba mobil yang ana tumpangi, ban depan bagian kanan tiba-tiba gembos, sehingga mobil oleng..., alhamdulillah, teman ana bisa dengan tenang menepikan mobil..., masya Allah ki, ana tidak tahu apa yang akan terjadi kalau mobilnya oleng kearah kanan, karena lalu lintas sangat padat sekali ketika itu.......” Kata Muala.

“Masya Allah.........., syukur alhamdulillah Nak Mas dan kawan-kawan diselamatkan Allah........, kejadian ini lebih memperjelas ‘teguran’ Allah terhadap Nak Mas....., ketika Nak Mas masih belum menyadarinya dengan handphone yang hilang, maka Allah menambahnya dengan teguran yang sedikit ‘lebih keras’ dengan olengnya mobil yang Nak Mas tumpangi........” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas, setiap kita memang memiliki kesibukan duniawi, setiap kita memang diharuskan melakukan kasab lahiriah untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, tapi Nak Mas harus tetap ingat bahwa ada kewajiban yang jauh lebih utama yang harus kita lakukan, yaitu tetap berdzikir kepada Allah, karena itulah semulia-mulia pekerjaan..........” kata Ki Bijak

“Iya ki..............” Kata Muala pendek.

“Nak Mas baca lagi sambungan ayat diatas..........” kata Ki Bijak pada Maula untuk membaca ayat ke tiga puluh delapan dari surat An-nuur.

Maula segera membuka al qur’an dan membaca ayat dimaksud;


38. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.

“Seorang laki-laki, yang tidak dilalaikan oleh perniagaan atau jual beli, atau dalam konteks Nak Mas, seorang laki-laki yang tidak dilalaikan oleh pekerjaan, dari mengingat Allah, mendirikan shalat serta membayar zakat pada ayat sebelumnya, akan dibalasi oleh Allah dengan karunia_Nya dan Allah memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki_nya tanpa batas........”

“Sebaliknya, dalam sebuah hadits qudsi, dengan sangat jelas Allah menyatakan ‘wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada_Ku, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan, dan Aku lapangkan tanganmu dari kesibukan, jika tidak, maka akan Aku penuhi hatimu dengan kefakiran, dan Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan’, Nak Mas mau pilih yang mana.........?” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah..., tentu ana pilih yang pertama ki...............” Kata Maula.

“Karenanya, sesibuk apapun Nak Mas, selelah apapun Nak Mas, dzikir dan beribadah kepada Allah adalah sesuatu yang harus diutamakan..........” kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, ana memang masih sering terjebak dengan ‘keadaan’ dan masih sering lalai, semoga kejadian ini memberi hikmah agar ana tidak lagi dilalaikan oleh apapun untuk beribadah dan berdzikir kepada Allah........” Kata Maula.

“Syukurlah kalau Nak Mas memahami apa yang Aki maksud tadi, sekali lagi, Allah sama sekali tidak melarang kita untuk melaksanakan kasab kita, yang harus kita ingat dan kita jaga, jangan sampai kesibukan kita melalaikan kita dari ingat kepada Allah, karena sekali kita lalai dan melupakan Allah, maka Allah pun akan ‘melupakan’ kita.........” kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an;

152. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

[98] Maksudnya: Aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu.


“Terima kasih ki, puji syukur kepada_Mu ya Allah yang telah mengingatkan hamba_Mu yang kerap lalai dan pelupa ini, subhanallah man la yashu walaa naum..........” kata Maula.

Wassalam

April, 04, 2008

MEREKA (JUGA) ANAK-ANAK KITA

“Mereka juga anak-anak kita Nak Mas................” Kata Ki Bijka menanggapi pertanyaan Maula bagaimana sikap terbaik kita terhadap santri-santri dipondok.

“Lalu ki...............?” Tanya Maula lagi.

“Lalu, sebagai orang tua, kita harus memperlakukan mereka sebagaimana kita memperlakukan anak-anak kita, setidaknya kita mempunyai tanggung jawab moral terhadap perkembangan mereka, karena dipundak anak-anak kita inilah masa depan islam sepuluh atau lima belas tahun yang akan datang.......” kata Ki Bijak.

“Sayangnya, sejauh ini, kepedulian kita terhadap mereka masih sangat-sangat kurang, kita lebih sering bersikap reaktif daripada pro-aktif, kita lebih sering tergagap manakala sebagian dari anak-anak itu menjadi korban pemurtadan, kita seolah menjadi pihak yang peduli dengan berkomentar dan menyalahkan pihak lain, selebihnya, kita lebih banyak diam dan tak acuh, karena menganggap mereka bukanlah tanggung jawabnya.........” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, padahal dengan potensi umat islam dewasa ini, kita mestinya bisa berbuat lebih banyak ya ki...........” kata Maula turut prihatin.

“Orang Islam yang kaya, banyak dinegeri ini Nak Mas, orang islam yang memiliki kekuatan dan kekuasaan juga tidak kurang, pun orang-orang islam yang kaya dan berpendidikan, yang masih kurang dari umat ini adalah sikap tenggang rasa dan tanggung jawab sosial terhadap sesamanya.............” Kata Ki Bijak.

“Kenapa masih banyak diantara kita yang belum memiliki sifat-sifat itu ya ki.......” tanya Maula.

“Aki tidak tahu persis kenapa Nak Mas, karena seharusnya, kita, umat Islam ini adalah sebuah umat yang ‘terlatih’ untuk memiliki nilai-nilai luhur seperti tadi, dalam shalat, kita diajarkan banyak hal, mulai dari mengenal diri kita, nilai-nilai kesatuan dan persatuan,diajari tanggung jawab, dan masih banyak hal yang diajarkan shalat pada kita, dan kalau shalat kita benar, insya Allah umat ini menjadi umat yang ‘paling peduli’ terhadap saudaranya dibanding umat-uamt yang lain..............” kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, belum lagi nilai shaum, belum lagi nilai zakat dan ibadah haji, seandainya umat islam mampu mengaplikasikan nilai-nilai itu dalam kehidupannya, niscaya kita akan menjadi umat terbaik ya ki.........” Kata Maula.

“Ya Nak Mas, inilah tugas dan tanggung jawab kita dalam beragama, karena beragama bukan hanya sekedar catatan dalam tanda pengenal, beragama bukan sekedar hafal hadits, beragama bukan hanya fasih membaca al qur’an, ketika kita mengaku beragama, kita memiliki tanggung jawab sebagai konsekuensi keberagamaan kita............” kata Ki Bijak.

“Ana masih belum jelas ki..........” kata Maula.

“Misalnya begini Nak Mas, sebagai seorang karyawan sebuah perusahaan, apakah Nak Mas cukup mengaku sebagai karyawan perusahaan itu, atau Nak Mas cukup menghapal tata tertib perusahaan..........?” Tanya Ki Bijak.

“Tentu tidak ki, seorang karyawan yang telah diikat dna terikat dengan sebuah perusahaan, memiliki tanggung jawab terhadap perusahaan itu dengan cara memenuhi segala ketentuan perusahaan dan berbuat dan bekerja sebaik mungkin sesuai dengan tuntutan perusahaan..........” Kata Maula.

“Apa yang terjadi kalau ada karyawan seperti Aki katakan tadi, hanya mengaku dan hafal peraturan perusahaan saja.....?” Tanya Ki Bijak.

“Mengetahui dan memahami peraturan perusahaan memang baik, tapi samasekali tidak akan bermanfaat kalau karyawaan itu sama sekali tidak melakukan aturan yang telah dihafalnya ki.........” kata Maula.

“Pun demikian halnya dengan beragama, kita hafal puluhan atau ratusan hadits, memang seharusnya, kita lancar dan fasih membaca al qur’an, memang selayaknya demikian, tapi hafalan hadits kita, kelancaran dan kefasihan kita membaca al qur’an, akan menjadi sia-sia manakala kita meninggalkan apa yang diajarkan oleh hadits dan al qur’an itu.......” kata Ki Bijak.

“Nak Mas perhatikan ayat ini;


10. Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujurat)

“Bagaimana mungkin kita mengaku orang beriman, kalau kita tidak mencintai saudara-saudara seakidah kita........?” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, bahkan banyak hadits yang menjelaskan betapa umat ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, satu sakit, maka sakit semua..., tapi kenyataannya sekarang umat ini seperti buih dilautan yang bercerai berai menyelematkan dirinya masing-masing.............” kata Maula.

“Bahkan dalam hadits lain dinyatakan ‘, Addiinu Ahlakul Kariimah’ agama adalah ahlak mulia, dan kalau kita mengaku beragama, artinya kita harus berahlak luhur, dan salah satu bentuk keluhuran ahlak itu adalah kepedulian kita terhadap sesame kita………” kata Ki Bijak lagi.

“Benar ki….., rasanya ‘aneh’ kalau ada orang rajin shalat, shaum sunnahnya bagus,an tapi acuh terhadap saudaranya ya ki……” Kata Maula.

“Kalau itu terjadi pada diri kita, artinya masih ada yang kurang dari shalat dan ibadah kita, kita harus berlatih dan belajar lebih keras lagi untuk menyempurnakan keberagamaan kita dengan berlatih peduli kepada sesame kita, seperti kepada anak-anak ini…….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, kemarin ana juga mendapat amanah dari Pak Kyai untuk mencarikan sumbangan al qur’an untuk santri-santri disana, kasihan ki, selain qur’an yang ada sudah pada rusak, jumlahnya juga sangat tidak memadai, satu qur’an untuk tiga sampai empat orang anak…….” Kata Maula.

“Nak Mas tahu kenapa Pak Kyai itu sampai minta sumbangan al qur’an……?” Tanya Ki Bijak.

Maula menggelengkan kepada tanda belum paham.

“Itu adalah sebuah bahasa isyarat dari Pak Kyai untuk mendorong kita berlatih peduli dengan orang lain, bukan semata karena qur’an dipondok itu kurang atau rusak………….” Kata Ki Bijak.

“Waah, ana baru menyadarinya sekarang ki……..” kata Maula.

“Itulah bahasa orang arif Nak Mas, mereka mengajari kita dengan tamsil dan siloka, Nak Mas harus banyak belajar memahami bahasa seperti itu, sehingga tidak terjebak pada penafsiran yang dangkal dan salah……” kata Ki Bijak.

“Iya ki………” Kata Maula pendek.

“Insya Allah, Nak Mas akan dipertemukan Allah dengan hamba-hamba_Nya yang bukan hanya akan menyumbang al qur’an, mungkin keperluan pondok lainnya…..” Kata Ki Bijak.

“Amiin, do’akan ya ki………….” Kata Maula.

Wassallam

Maret 29, 2008

(Bagi ihwatu iman yang memiliki ‘kelebihan’ al qur’an dirumah, dapat menyalurkannya kepondok, insya Allah bermanfaat)

DARI GENTING YANG DIATAS

“Alhamdulillah Ki, sampai kemarin sudah sampai pada tahap pemasangan genting, insya Allah beberapa hari kedepan, pembangunan pondok ini akan rampung............” Kata Maula menjawab pertanyaan Ki Bijak mengenai pembangunan Pondok pesantren

“Syukurlah, semoga pembangunannya segera rampung dan bisa segera digunakan untuk belajar santri......” kata Ki Bijak.

“Ki, Aki kemarin mengatakan bahwa setiap proses pembangunan ini mempunyai pelajaran dan hikmah yang dapat kita jadikan ibrah, kalau pemasangan genting ini, ibrah apa yang bisa kita ambil ki.........?” Tanya Maula.

“Beberapa waktu lalu, Aki pernah mengatakan bahwa genting bisa dianalogikan sebagai mereka yang berada diposisi ‘atas’, genting bisa merupakan analogi seorang pemimpin, genting juga bisa merupakan analogi seorang manager, seorang supervisor atau seseorang yang memiliki ‘kekuasaan’ dibidangnya masing-masing...........” Kata Ki Bijak.

“Lalu ki..............?” Kata Maula penasaran

“Nak Mas perhatikan lagi photo yang Nak Mas ambil kemarin ini, genting-genting ini berada pada posisi paling atas, dibawahnya ada rangkaian bambu atau kayu reng, kemudian disangga oleh tiang, kusen, dan juga pondasi, tanpa struktur yang memadai genting tidak akan bisa terpasang diposisi itu..........” kata Ki Bijak sambil menunjukan photo yang dimaksud.

“Benar ki, lalu apa kaitannya genting dengan seorang pemimpin ki.....?” Tanya Maula lagi.

“Karena keberadaan genting diposisi paling atas itu atas ‘jasa’ para penopangnya, maka genting ‘berkewajiban’ untuk melindungi bagian-bagian yang dibawahnya agar tidak terkena air hujan dan sengatan panas matahari......”

“Begitupun dengan mereka yang memiliki jabatan atau posisi diatas, katakanlah seorang manajer, seorang manager berada diposisinya karena ia ditopang oleh staff-nya, ditopang oleh supervisornya, ditopang oleh asistennya, maka sang manager harus mampu melindungi para bawahanya dari berbagai hal, baik itu ketika para bawahan itu mendapat tekanan dari pihak luar, atau ketika anak buahnya menghadapi berbagai permasalahan dalam pekerjaannya, sang manager harus mampu menjadi ‘pelindung bagi mereka’..........” Kata Ki Bijak

“Tapi Ki, yang banyak terjadi adalah ketika divisi manager itu mendapat penghargaan, maka manager-lah yang pertama mendapat appresiasi dan pujian, sebaliknya ketika divisinya mendapat sorota, kebanyakan para manager itu buru-buru cari kambing hitam, biasanya mereka cenderung menyalahkan anak buahnya............” kata Maula

“Manager seperti itu ibarat genting bocor Nak Mas..., air yang merembes dari genting yang bocor, serta panas yang masuk dari sela-sela genting bocor, dalam waktu tertentu akan merusak reng, akan merusak kusen, akan merusak tiang penyangga, dan ketika tiang, kusen dan reng penyangga itu lapuk dan rusak, maka genting pun akan terkena imbasnya, genting akan jatuh bersamaan runtuhnya bagian-bagian dibawahnya..........” kata Ki Bijak.

“Pun demikian halnya dengan tipe manager yang kalau bagus karena saya, kalau jelek, anak buah, lambat-laun, anak buah yang senantiasa menjadi kambing hitam ini rapuh dan lapuk, sehingga tidak mampu lagi menunjang aktivitas sang manager, dan pada gilirannya, manager itu akan terkena imbas dari merosotnya kinerja anak buahnya, dan akhirnya ia pun jatuh bersama dengan para penyangganya............” Kata Ki Bijak lagi.

“Iya ya ki, seandainya seorang manager mau berbagi suka duka dengan para anak buahnya, pasti anak buahnya juga akan dengan senang hati membantunya, dan itu artinya kompetensinya sebagai seorang manager juga akan menjadi baik ya ki...............” Kata Maula.

“Itu tipe manager atau pemimpin yang ideal Nak Mas, dan memang tipikal pemimpin atau manager seperti ini, akan sangat sulit dan jarang bisa kita temui....” Kata Ki Bijak

“Ki, adakah kerancuan kondisi bangsa ini karena kurangnya tipikal pemimpin yang mampu mengayomi seperti halnya genting ki............” Kata Maula setengah bertanya.

Ki Bijak tersenyum, “Nak Mas lebih tahu dari Aki jawaban yang lebih tepat untuk pertanyaan tadi..........” kata Ki Bijak.

“Iya ki, lalu bagaimana kita melakukan perbaikan terhadap kondisi sekarang ini ki.........” Tanya Maula.

“Nak Mas, jika kita menemukan lantai ini basah akibat adanya genting yang bocor, atau kusen dan reng yang lapuk, maka treatmen-nya adalah bukan hanya dengan mengelap dan mengeringkan lantai yang basah,atau dengan mengganti kusen dan reng yang lapuk tadi, tapi yang jauh lebih baik adalah dengan memperbaiki atau mengganti penyebab lantai basah dan lapuknya kusen dan reng, yaitu dengan mengganti genting yang bocor dan rusak itu....,

“Pun ketika terjadi kerusakan ditengah-tengah masyarakat kita, bukan hanya akar rumput yang terus digoyang untuk diperbaiki, bukan hanya rakyat kecil yang dituntut untuk mengerti kebijakan para pemimpin, bukan hanya wong cilik yang harus bisa nrimo, alangkah lebih bijak jika kerusakan itu diperbaiki dengan cara menata kembali genting-genting yang bocor diatas sana, atau kalau perlu dengan mengganti para pemimpin yang tidak mampu menjadi pengayom masyarakat, mengganti mereka yang hanya bisa mengklaim kebaikan, tapi enggan mengakui kelemahan dan kekurangannya, mengganti mereka, para pemimpin yang selalu mencari kambing hitam atas ketidakmampuannya dalam mengemban amanah yang dipikulnya........” Kata Ki Bijak dengan nada yang sedikit lain dari biasanya.

“Iya ya ki, betapapun kita terus menerus membersihkan dan mengepel lantai yang basah, atau kita mengganti kusen dan reng yang lapuk, tapi selama genting yang rusaknya tidak pernah dibenahi, tetap saja lantai ini akan basah dan kotor lagi serta kusen dan reng akan cepat rusak dan lapuk lagi...........” kata Maula.

“Ya, seperti itu kira-kira Nak Mas............., disetiap lini kehidupan, seorang pemimpin harus mampu berperan seperti genting, sebagai seorang kepala keluarga, seorang ayah atau seorang suami, harus mampu mengayomi dan melindungi keluarganya dari berbagai gangguan, baik itu gangguan secara fisik, terlebih gangguan terhadap akidah keluarga kita......” kata Ki Bijak.

“Sebagaimana Nak Mas maklum, dijaman kita kini, banyak sekali virus-virus kemungkaran bertebaran disana sini, mulai dari tontonan yang kurang mendidik, lingkungan yang juga tidak steril dari kuman akidah, dan masih banyak lagi hal-hal yang dapat merusak dan melapukan akidah keluarga kita, dan kita selaku pemimpin, harus mampu menutup semua ruang masuk bibit-bibit kemunkaran itu dengan baik dan bijak..........” kata Ki Bijak lagi.

“Pun ketika suatu saat nanti, insya Allah, Nak Mas dikarunia jabatan atau wewenang yang lebih besar, filosofi genting sebagai pemimpin harus tetap Nak Mas jaga dan junjung tinggi, jangan melupakan pondasi, jangan lupakan kusen, tiang dan reng penyangga yang telah mengantar Nak Mas berada diatas.......” kata Ki Bijak.

“Insya Allah ki................” Kata Maula, sembari mengamati lagi photo dihadapannya, tampak terlihat para tukang tengah menata genting dibagian paling atas bangunan pondok, agar genting itu mampu menutupi dan menjadi pelindung bagi struktur bangunan dibawahnya.

Maula nampak tersenyum simpul manakala menyadari gambar yang diambilnya kemarin, memberinya tambahan hikmah, ia kemudian teringat sebuah ayat dalam surat Ali Imran;

26. Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

“Ya Allah....., Engkau yang meninggikan derajat genting-genting itu, dan hanya Engkau pula yang akan menjadikannya hancur luluh berantakan, semoga Engkau karunia hamba sebuah kearifan dalam menjalani takdir_Mu...........” Maula memohon kepada Rabb_nya.

“Amiiin..........” Imbuh Ki Bijak.

Wassalam

Maret 26, 2008

DARI POHON BERINGIN

DARI POHON BERINGIN

“Kita istirahat sejenak disini Nak Mas.........” Ajak Ki Bijak pada Maula, untuk beristirahat sejenak dibawah rindangnya sebuah pohon beringin, setelah kedua orang guru dan murid itu berkeliling sambil berbincang diseputar pondok.

“Masya Allah, teduh sekali disini ya ki..............” Kata Maula.

“Iya Nak Mas, Aki sering beristirahat ditempat ini, anginnya sepoi-sepoi, ditambah kicau burungnya yang riuh, menjadikan tempat ini salah satu tempat istirahat favorit Aki ketika terik panas matahari sudah menyengat.......” Kata Ki Bijak

Sejurus kemudian, mata Maula tertuju pada buah pohon beringin yang berserakan diseputar tempat duduknya, “Aneh ya ki................” Kata Maula sambil terus mengamati buah beringin yang dipegannya.

“Apanya yang aneh Nak Mas........” Tanya Ki Bijak sambil ikut mengamati buah beringin ditangan Maula.

“Pohon beringin ini demikian besar, dahaNnya juga besar, daunnya rindang, tapi kok buahnya sekecil ini...............” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum mendengar perkataan Maula, “Tidak ada yang aneh Nak Mas, justru disinilah kita bisa belajar memaknai kebijaksanaan Allah yang telah mendesain buah beringin ini sedemikian rupa, pasti ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari disini Nak Mas...........” Kata Ki Bijak.

“Apa yang bisa kita pelajari ki.............” Kata Maula, matanya tak lepas mengamati buah beringin yang menurutnya tidak sebanding dengan besarnya ukuran pohon beringin.

“Masya Allah........Astaghfirullah..........” seru Maula terkejut manakala sebuah buah beringin jatuh tepat menimpa bagian wajahnya.

“Masya Allah, syukurlah buah beringin ini kecil, sehingga Nak Mas tidak mengalami cedera karena tertimpa buah beringin tadi, coba Nak Mas bayangkan, seandainya pohon beringin yang besar ini diciptakan Allah dengan buah yang juga besar, mungkin Nak Mas akan mengalami kesakitan karena tertimpa buahnya..............” Kata Ki Bijak.

“Subhanallah, benar ki, seandainya buah beringin ini besar, mungkin wajah ana sudah lebam karena tertimpa buah ini.............” Kata Maula.

“Itulah yang tadi Aki katakan bahwa dibalik kecilnya buah beringin ini, disana ada sebuah kebijaksanaan yang sempurna dari Allah yang telah menciptakan dan menumbuhkan pohon ini, karena kalau saja beringin yang rindang ini memiliki buah seperti buah labu misalnya, Aki dan Nak Mas tidak akan berani untuk berteduh disini, karena khawatir tertimpa buahnya.............” Kata Ki Bijak.

Maula termenung mendengar penjelasan gurunya, “Benar Ki.., Maha Suci Engkau ya Allah yang telah menciptakan buah beringin ini kecil sehingga kami bisa berteduh dibawahnya.............” Kata Maula.

“Dari sini pula kita bisa belajar untuk mampu memahami kebijaksanaan Allah, bahwa tidak semua yang besar harus berbuah besar pula, sebaliknya, tidak semua batang pohon yang kecil harus berbuah kecil, seperti tanaman labu itu, batangnya yang kecil, justru berbuah sangat besar............”Kata Ki Bijak sambil menunjuk tanaman labu yang tengah berbuah.

Maula segera saja menoleh keatah tanaman labu yang ditunjukan gurunya, “tidak semua yang besar harus berbuah besar, dan tidak semua yang kecil memiliki buah yang kecil....,apa artinya semua ini ki............’ Kata Maula, mengulang kalimat gurunya.

“Nak Mas sering mendengar orang yang mengatakan ‘saya sudah kerja keras, tapi hasilnya nihil’, kemudian ada juga yang mengatakan ‘saya sudah melakukan segala, tapi sama saja’, atau bahkan ada orang yang mengatakan ‘saya sudah tahajud, sudah ini dan itu, tapi kehidupan saya tetap saja seperti ini’.........” Kata Ki Bijak mencontohkan beberapa ungkapan yang lazim dikemukakan oleh banyak orang.

“Iya ki, ana sering mendengar ‘keluhan’ seperti itu..........” Kata Maula.

“Sedapat mungkin kalimat-kalimat seperti itu kita hindari Nak Mas, karena seperti pohon beringin yang berbuah kecil ini, kita tidak tahu ada hikmah apa dibalik ‘kecilnya’ balasan yang kita dapat ata jerih payah kita, yang menurut kita sudah maksimal............” Kata Ki Bijak.

“Kalimat-kalimat seperti diatas, sama sekali tidak akan mengatasi keluhan kita, sebaliknya justru makin mengikis rasa syukur kita dan juga sangat mungkin melukai keyakinan kita terhadap kebijaksanaan Allah yang Maha Sempurna..........” Kata Ki Bijak.

“Lalu apa sikap terbaik kita ki, manakala kita mendapati keadaan seperti tadi.......”Tanya Maula.

“Pertama, maknai dengan bijak apa yang kita dapat dari kasab kita, besar atau pun kecil, sedikit ataupun banyak, sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan kita, disana pasti ada ‘pesan’ dari Allah untuk kita kaji dan kita pahami........” Kata Ki Bijak.

“Pesan apa ki........?” Tanya Maula.

“Nak Mas masih ingat dengan bunyi ayat ke 37 dari surat ar-ruum...?” Tanya Ki Bijak.

“Ya ki....” Kata Maula sambil membacakan ayat yang dimaksud;

öNs9urr& (#÷rttƒ ¨br& ©!$# äÝÝ¡ö6tƒ s-ø—Îh9$# `yJÏ9 âä!$t±o„ â‘ωø)tƒur 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sムÇÌÐÈ
37. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.


“Lalu Nak Mas juga ingat dengan ayat ke 52 pada surat Az-Zumar...?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Ya ki, ana ingat.........” Kata Maula lagi

öNs9urr& (#þqßJn=÷ètƒ ¨br& ©!$# äÝÝ¡ö6tƒ s-ø—Îh9$# `yJÏ9 âä!$t±o„ â‘ωø)tƒur 4 ¨bÎ) ’Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sムÇÎËÈ
52. Dan Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.


“Dua ayat yang Nak Mas bacaan tadi, memiliki redaksi yang sangat-sangat mirip, hanya awalannya saja yang berbeda, yang satu menggunakan kata ‘dan apakah mereka tidak memperhatikan’, sementara yang lain menggunakan kata ‘dan apakah mereka tidak mengetahui’, selebihnya sama, bahwa pada af’al Allah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki, disana ada sebuah tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang mengaku beriman................” Kata Ki Bijak.

“Ki, ana sendiri masih sering mengalami ‘kesulitan’ untuk memahami hikmah dibalik sempit dan lapangnya rezeki ana ki.........” Kata Maula

“Memang sulit untuk memahami kebijakan Allah ketika orientasi dan sudut pandang yang kita gunakan hanya dari satu sisi saja, ketika kita memandang karunia Allah dari sisi kemanusiaan dan nafsu kita semata, maka hampir pasti ‘Allah akan selalu salah dimata kita’, dikasih sedikit mengeluh, dikasih banyak kurang, dikasih A, minta yang lain, dan seterusnya......,

“Karenanya kita harus merubah cara pandang kita terhadap apa yang Allah karuniakan kepada kita, sedikit atau banyak, besar atau kecil, sesuai atau tidak, sekali lagi, itulah yang terbaik bagi kita, karena Allah Maha Benar, segala apapun yang diperbuat_Nya merupakan sesuatu yang sudah diukur kadar dan waktunya..........,seperti buah pohon beringin ini.......” kata Ki Bijak.

“Iya ki, kadang kita memang terlalu egois dan cenderung subjektif dalam menilai sesuatu...............” kata Maula.

“Untuk itulah kita dituntut untuk bisa berfikir dan bersikap dewasa, jangan kekanak-kanakan dalam memaknai kebijakan Allah.............” kata Ki Bijak.

“Orang tua juga masih sering kekanak-kanakan ki.....?” Tanya Maula.

“Nak Mas perhatikan, kita masih sering menemukan orang ‘ngambek’ manakala menurut keinginan atau doanya tidak segera dibalas Allah, ia menjadi malas tahajud, malas shalat dhuha, atau bahkan malas shalat fardhu yang dianggapnya tidak merubah keadaannya, atau ada bahkan orang yang berfikir shalat tidak shalat, tahajud atau tidak tahajud, toh sama saja...., dan cara berfikir seperti itu, menrut hemat Aki adalah pemikiran yang dangkal dan kekanak-kanakan..........” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, seandainya kita mampu memaknai kebijakaan Allah dengan cara yang benar, pasti kita akan menemukan banyak sekali hikmah dibalik semua yang Allah karuniakan kepada kita..........” Kata Maula.

“Untuk itu, Nak Mas harus banyak belajar dari hal apapun, agar Nak Mas terlatih untuk memahami kebijakaan Allah secara benar, termasuk dari pohon dan buah beringin ini...........” kata Ki Bijak.

“Iya ki.............” Kata Maula sambil kembali mengamati buah beringin yang mungil yang sedari tadi ia pegang.

Maula tersenyum manakala menyadari buah kecil ini memberinya banyak pelajaran hari ini.

Wassalam

Maret 26, 2008