Saturday, August 16, 2008

HAT-HATI DENGAN PEKERJAAN YANG MELALAIKAN

‘Assalamu’alaikum..........” Sapa Maula kepada Ki Bijak yang tengah duduk sembari membaca kitab.

“Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh..., Nak Mas...., Silahkan duduk.....”Balas Ki Bijak sambil mempersilahkan Maula untuk duduk.

“Nak Mas, dari mana saja...?” hampir seminggu ini tidak kemari.......” Tanya Ki Bijak.

“Iya Ki, ana sedikit sibuk akhir-akhir ini.........” Kata Maula, diwajahnya memang masih nampak gurat-gurat kelelahan akibat banyaknya pekerjaan belakangan ini.

“Masya Allah......, semoga kesibukan Nak Mas tidak sampai melalaikan Nak Mas dari mengingat Allah............” kata Ki Bijak.

“Hal itulah yang sekarang membuat ana sedikti gundah ki........” Kata Maula

“Maksud Nak Mas.........?” Tanya Ki Bijak.

“Kesibukan ana dalam beberapa hari terakhir ini, memang sedikit melalaikan ana kepada Allah ki......., konsentrasi ana lebih condong pada pekerjaan yang kali ini memang sedikit menguras energi ana.......” kata Maula.

“Astaghfirullah......., Nak Mas...., sesibuk apapun kita, kita tidak boleh dilalai oleh pekerjaan kita untuk tetap berdzikir dan mengingat Allah....” Kata Ki Bijak sedikit prihatin,

“Nak Mas perhatikan lagi ayat ini........” Kata Ki Bijak mengutip sebuah ayat al qur’an;


7. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

“Iya ki, ana juga sangat khawatir dengan kondisi ini, ana takut apa yang tadi pagi ana alami, merupakan akibat kelalaian ana dalam berdzikir pada Allah ki.......” Kata Maula.

“Apa yang tadi pagi Nak Mas alami.......?” Tanya Ki Bijak.
“Ki, ana malu mengatakannya ki..., ana tadi pagi shalat shubuh dirumah, karena kantuk dan lelah yang sangat.......” Kata Maula.

“Lalu......?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Ada beberapa kejadian yang agak membuat ana cemas sepanjang pagi tadi ki.....” Kata Maula.

“Kejadian apa Nak Mas...?” Tanya Ki Bijak lagi.

“Pertama, entah kenapa ana ‘tiba-tiba’ lupa dengan handphone ana, sampai-sampai beberapa teman ikut mencari handphone ana............” Kata Maula.

“Handphone-nya ketemu Nak Mas......?” Tanya Maula.

“Itulah yang membuat ana heran ki, padahal handphone itu ada didalam tas, tapi ana sama sekali lupa..., subhanallah..., mungkihkah ini karena ana melupakan Allah beberapa hari ini, sehingga Allah melupakan ana ki.......” kata Maula.

“Wallahu’alam, Aki bersyukur jika Nak Mas memiliki kepekaan seperti itu, boleh jadi memang kekhilafan Nak Mas diakibatkan oleh kelalaian Nak Mas dalam berdzikir kepada Allah......, tapi syukurlah...., Allah mengingatkan Nak Mas dengan handphone itu........” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, awalnya ana belum menyadari bahwa kealpaan ana itu sebuah teguran dari Allah, ana baru menyadarinya ketika ditengah perjalanan, tiba-tiba mobil yang ana tumpangi, ban depan bagian kanan tiba-tiba gembos, sehingga mobil oleng..., alhamdulillah, teman ana bisa dengan tenang menepikan mobil..., masya Allah ki, ana tidak tahu apa yang akan terjadi kalau mobilnya oleng kearah kanan, karena lalu lintas sangat padat sekali ketika itu.......” Kata Muala.

“Masya Allah.........., syukur alhamdulillah Nak Mas dan kawan-kawan diselamatkan Allah........, kejadian ini lebih memperjelas ‘teguran’ Allah terhadap Nak Mas....., ketika Nak Mas masih belum menyadarinya dengan handphone yang hilang, maka Allah menambahnya dengan teguran yang sedikit ‘lebih keras’ dengan olengnya mobil yang Nak Mas tumpangi........” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas, setiap kita memang memiliki kesibukan duniawi, setiap kita memang diharuskan melakukan kasab lahiriah untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, tapi Nak Mas harus tetap ingat bahwa ada kewajiban yang jauh lebih utama yang harus kita lakukan, yaitu tetap berdzikir kepada Allah, karena itulah semulia-mulia pekerjaan..........” kata Ki Bijak

“Iya ki..............” Kata Muala pendek.

“Nak Mas baca lagi sambungan ayat diatas..........” kata Ki Bijak pada Maula untuk membaca ayat ke tiga puluh delapan dari surat An-nuur.

Maula segera membuka al qur’an dan membaca ayat dimaksud;


38. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.

“Seorang laki-laki, yang tidak dilalaikan oleh perniagaan atau jual beli, atau dalam konteks Nak Mas, seorang laki-laki yang tidak dilalaikan oleh pekerjaan, dari mengingat Allah, mendirikan shalat serta membayar zakat pada ayat sebelumnya, akan dibalasi oleh Allah dengan karunia_Nya dan Allah memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki_nya tanpa batas........”

“Sebaliknya, dalam sebuah hadits qudsi, dengan sangat jelas Allah menyatakan ‘wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada_Ku, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan, dan Aku lapangkan tanganmu dari kesibukan, jika tidak, maka akan Aku penuhi hatimu dengan kefakiran, dan Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan’, Nak Mas mau pilih yang mana.........?” Kata Ki Bijak.

“Astaghfirullah..., tentu ana pilih yang pertama ki...............” Kata Maula.

“Karenanya, sesibuk apapun Nak Mas, selelah apapun Nak Mas, dzikir dan beribadah kepada Allah adalah sesuatu yang harus diutamakan..........” kata Ki Bijak lagi.

“Iya ki, ana memang masih sering terjebak dengan ‘keadaan’ dan masih sering lalai, semoga kejadian ini memberi hikmah agar ana tidak lagi dilalaikan oleh apapun untuk beribadah dan berdzikir kepada Allah........” Kata Maula.

“Syukurlah kalau Nak Mas memahami apa yang Aki maksud tadi, sekali lagi, Allah sama sekali tidak melarang kita untuk melaksanakan kasab kita, yang harus kita ingat dan kita jaga, jangan sampai kesibukan kita melalaikan kita dari ingat kepada Allah, karena sekali kita lalai dan melupakan Allah, maka Allah pun akan ‘melupakan’ kita.........” kata Ki Bijak sambil mengutip ayat al qur’an;

152. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

[98] Maksudnya: Aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu.


“Terima kasih ki, puji syukur kepada_Mu ya Allah yang telah mengingatkan hamba_Mu yang kerap lalai dan pelupa ini, subhanallah man la yashu walaa naum..........” kata Maula.

Wassalam

April, 04, 2008

No comments:

Post a Comment