Monday, July 23, 2007

JAMU ITU PAHIT

“Ki, bagaimana seharusnya kita bersikap, manakala pendapat atau pikiran kita berbeda dengan orang lain, kemudian kita mendapat kritikan dari orang yang berbeda pendapat dengan kita.....?” Tanya Maula.

“Perbedaan adalah fitrah Nak Mas, dan kritik tidak selamanya berarti ungkapan ketidak sukaan orang terhadap kita..........” Tanya Ki Bijak.

“Nak Mas bayangkan, jika semua pendapat Nak Mas diikuti oleh orang lain, apa yang kira-kira akan terjadi dengan Nak Mas.....? Tanya Ki Bijak.

“Mungkin ana jadi kehilangan gairah untuk memberikan pendapat atau buah pikir kita lagi, Ki......?” Kata Maula setengah bertanya pada dirinya.

“Selain itu, selain Nak Mas akan kehilangan motivasi, kita juga mungkin akan terjebak pada sebuah kondisi yang membuat kita merasa ‘nih gue dong’ kita sangat mungkin terjebak pada kesombongan yang mungkin tidak kita sadari.....” Kata Ki Bijak.

“Perbedaan pendapat, perbedaan dalam memahami suatu masalah, sangahan, kritik, atau sejenisnya, bukanlah sesuatu yang harus membuat ‘orang besar’, terjebak atau bahkan tenggelam dalam lautan debat tanpa batas untuk membela diri misalnya, orang besar harus menyikapi perbedaan itu sebagai sebuah sarana dari Allah untuk lebih banyak lagi belajar dan untuk lebih keras menempa diri untuk mencapai sesuatu yang lebih baik...........” Kata Ki Bijak.

“Tapi Ki, kadang mereka memberikan kritik yang membabi buta dan cenderung menjatuhkan........” Kata Maula.

“Sekali lagi bahwa kita tidak bisa memaksa orang lain untuk memberikan pujian pada kita atau memberikan kritik yang sesuai dengan keinginan kita, yang harus kita perbuat manakala kita mendapti situasi semacam itu adalah kita harus bisa memaksa diri kita sendiri untuk berjiwa besar, Nak Mas lihat ilalang dan rerumputan disana itu...................” Kata Ki Bijak sambil menunjuk padang ilalang ditengah ladang.

“Kemarin ilalang-ilalang itu dibakar oleh pemilik ladang, sehingga hangus tak tersisa, tapi coba tengok sekarang, setelah dibakar, ilalang dan rerumputan itu justru menumbuhkan tunas baru yang lebih hijau dan segar......” Kata Ki Bijak.

“Begitupun seharusnya dengan kita, ketika pikiran dan pendapat kita berbeda dan dikritik orang lain, kita seharusnya mampu berbuat seperti ilalang dan rerumputan itu, kita harus melahirkan lebih banyak ‘tunas-tunas’ pendapat dan pikiran yang bisa kita sumbangkan bagi kepentingan diri kita dan syukur jika pendapat dan pikiran kita bermanfaat bagi orang lain............” Kata Ki Bijak.

Maula merenung sejenak, sambil memandangi padang ilalang yang mulai tumbuh menghijau, menyeruak diantara hitamnya debu yang kemarin membakar ilalang dan rerumputan disana.

Sementara Ki Bijak memandangi wajah muridnya dengan penuh harapan, bahwa muridnya kelak mampu menjadi sesosok orang yang tegar dalam menghadapi tantangan, baik dalam kehidupan pribadinya, maupun dalam rangka menjalankan amanah agamanya untuk menjadi seorang pengabdi umat.

“Nak Mas pernah minum jamu......?” Tanya Ki Bijak setelah sekian lama.

“Ya Ki, ana beberapa kali meminum jamu untuk menghilangkan rasa capai sehabis olahraga....” Kata Ki Bijak.

“Secara umum, rasa jamu itu pahit, tapi dibalik rasa pahitnya, jamu mengandung berbagai khasiat yang sangat berguna bagi tubuh kita, seperti Nak Mas bilang tadi, jamu pegal linu yang Nak Mas minum tentu pahit rasanya, hingga kadang kita harus menutup hidung karenanya, tapi esoknya, insya allah Nak Mas merasakan kesegaran, rasa lelah dan pegal yang Nak Mas rasakan menjadi hilang....” Kata Ki Bijak.

“Begitupun dengan kritik dan sanggahan yang mungkin suatu saat kita peroleh, mungkin kita tidak suka,mungkin kita menjadi tidak enak karenanya, mungkin kita merasa ingin membela diri, bahkan mungkin kita ingin marah...., tapi itu semua tidak perlu Nak Mas, seperti pahitnya jamu tadi, semua kritik dan sanggahan yang kita rasakan ‘tidak enak’tadi, insya allah akan menjadikan kita semakin ‘kuat’ dan ‘sehat’ dalam memberikan pendapat dan pola pikir kita bagi kemaslahatan umat......” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat bagaimana sambutan masyarakat thaif ketika pertama kali Rasulullah datang ketempat itu.......” Kata Ki Bijak.

“Ya Ki, Rasulullah mendapatkan perlakuan yang sangat buruk, bahkan konon Rasul dilempari hingga berdarah-darah..........” Kata Ki Bijak.

“Itu Rasul Nak Mas, manusia agung yang sudah mendapat jaminan ampunan dan dimaksum Allah-pun, masih mengalami yang bukan saja kritikan, tapi lebih dari itu, beliau menerima perlakuan yang sangat buruk bukan saja terhadap pendapat, pikiran atau ajarannya, tapi juga terhadap keselamatan fisiknya......”Kata Ki Bijak.

“Benar ki............” Kata Maula.

“Lalu Nak Mas juga harus belajar bahwa tidak semua kritik atau sanggahan itu berarti sebuah kebencian, tapi justru kadang sebaliknya.........” Kata Ki Bijak.

“Maksud Aki......?” Tanya Maula.

“Kadang saking sayangnya orang kepada kita, maka mereka merasa perlu mengingatkan kita, merasa perlu untuk menegur kita, merasa perlu mengkritik kita, sebagai ungkapan kasih sayangnya kepada kita.....” Kata Ki Bijak.

“Ketika kita kecil dulu, kita sering ditegur atau dilarang untuk melakukan sesuatu yang kita sukai oleh orang tua kita, apakah orang tua kita tidak sayang kepada kita....? Tanya Ki Bijak.

“Tidak Ki, orang tua kita menegur kita karena mereka sangat menyayangi kita.......” Kata Maula.

Ki Bijak tersenyum; “Nak Mas, tidak ada ‘orang yang menjadi besar’ hanya karena pujian yang diterimanya, tapi justru mereka yang kerap dikritik itulah yang dikemudian hari menjadi sosok yang kokoh dan kuat, menjadi orang yang berhasil...........”.

“Pujian tidak lebih dari sekedar sirup manis yang kita reguk, manisnya tidak lantas kemudian menjadikan kita sehat seperti halnya kita minum jamu yang pahit, bahkan tak jarang manisnya pujian justru menjadikan kita ‘sakit’....”, Kata Ki Bijak.

“Nak Mas bisa menemukan dengan mudah contoh mereka yang ‘mabuk’ pujian, sehingga potensi dan anugrah yang dimilikinya, ditelan oleh kebanggaan yang berlebihan, sehingga kemudian layu tak berkembang.....” Kata Ki Bijak

“Yang terpenting yang harus kita lakukan adalah memurnikan niat kita untuk mendapat ridha Allah semata, lain tidak............., sampaikan buah pikir dan pendapat kita semata demi ridha Allah, sampaikan ajakan kita, demi ridha Allah, sampai apapun yang kita miliki demi ridha Allah ..............” Kata Bijak.

Muala tersenyum mendengar penjelasan gurunya, tekadnya semakin mantap untuk terus berbagi sesuatu yang mungkin berguna bagi orang lain.

Wassalam

Juli 23, 2007

No comments:

Post a Comment