Wednesday, September 26, 2007

HATI-HATI

“Nak Mas masih suka bawa motor ketempat kerja...?” Tanya Ki Bijak.

“Masih ki, motornya ana titipkan dekat gerbang tol, lalu ana ikut mobil teman ketempat kerja.......”Kata Maula.

“Hati-hati ya Nak Mas, tidak perlu ngebut, jangan terpengaruh pengendara lain, biar saja mereka ngebut....” Nasehat Ki Bijak.

“Iya Ki, lagian jaraknya juga tidak terlalu jauh, jadi ana bisa santai...........”Kata Maula.

“Nak Mas tahu tidak kenapa tadi Aki mengatakan “hati-hati”, padahal kan tangan Nak Mas yang pegang kemudi, kaki Nak Mas yang menginjak rem dan memindah-mindahkan transmisi, kemudian mata Nak Mas yang melihat jalan, tapi kenapa kita tidak bilang “tangan-tangan” atau “kaki-kaki” saja misalnya, untuk mengingatkan seseorang.....” Kata Ki Bijak.

“Iya ya ki, kenapa kita bilang hati-hati, padahal hati kita tidak melakukan apapun ketika seseorang berkendara.....” Maula baru menyadari ungkapan “hati-hati” yang selama ini sering ia dengar.

“Nak Mas perhatikan lagi hadits berikut; Nabi saw bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati.”[HR. Bukhari-Muslim].
“Kenapa kita mengatakan “hati-hati” adalah karena seperti hadits diatas, hati-lah yang menggerakan tangan kita untuk memegang kemudi, hatilah yang menggerakan kaki kita untuk menginjak rem dan memindahkan transmisi, hatilah yang menuntun mata kita untuk melihat jalan, baik keadaan hati kita ketika berkendara, insya Allah baik pula laju kendaraan kita, buruk kondisi hati kita ketika kita berkendara, maka insya Allah laju kendaraan kitapun akan oleng kekiri – kekanan sesuai dengan gerak hati, terlepas dari tangan yang mengemudikannya....” Kata Ki Bijak.

“Demikian besar peran hati kita ya ki....” Kata Maula.

“Bahkan sangat besar Nak Mas, karena hati kita adalah ibarat “Raja” dalam kerajaan diri kita, sementara tangan, kaki, mata, mulut dan semua anggota tubuh lain “hanyalah” seperangkat alat dan tentara-tentara hati....” Kata Ki Bijak.

“Apa kata sang raja, maka itu pula kata rakyat dan tentaranya, ketimur hati mengarah, kesana pula tentaranya menuju, kebarat hati berpaling, kebarat pula tentara mengarah, benar tidaknya kata hati, akan menjadi terlihat dari benar tidaknya mulut berucap, serta benar tidaknya anggota badan kita berperilaku........”Kata Ki Bijak.
“Iya ki, ana beberapa kali mendengar kasus kecelakaan yang diakibatkan oleh pengemudinya ugal-ugalan, atau pengemudinya tidak “berhati-hati”.....”Kata Maula.

“Untuk itulah kita harus menjaga hati kita agar tetap sehat, sehingga mampu memimpin bala tentaranya dengan baik dan benar....” Kata Ki Bijak lagi.

“Memang hati kita bisa juga sakit ki.....” Tanya Maula.

“Hati kita bisa menjadi sakit atau bahkan “mati” Nak Mas............” Kata Ki Bijak.

“Ki, apakah kita bisa melihat perbedaan antara hati yang sakit, hati yang mati atau bagaimana kondisi hati yang sehat ki.....” Tanya Maula.

“Seperti Aki bilang diatas, secara lahiriah, sakit atau sehatnya hati akan tercermin dari bagaimana anggota tubuh lainnya berperilaku, hati yang sakit (al Qalbu al maridh), seperti hati yang limbung, akan mengakibatkan pendirian seseorang demikian labil, hati yang keras, akan membentuk watak yang kasar, hati yang berpenyakit, akan nampak dari sifat iri, dengki dan hasut sipemiliknya............” Kata Ki Bijak.

“Apa yang menyebabkan hati kita sakit ki....?” Tanya Maula

“Banyak sekali penyebabnya Nak Mas, beberapa diantaranya adalah kegemaran kita berdusta, kegemaran kita berghibah, kegemaran kita mengingkari janji, kegemaran kita untuk melakukan dosa-dosa yang menurut kita kecil, seperti melalaikan shalat, menunda zakat dan masih banyak lagi.........” Kata Ki Bijak.

“Ki, ada gitu orang yang memiliki “kegemaran” seperti yang aki sebutkan.....? Tanya Maula.

“Contoh kecilnya begini Nak Mas, ada karyawan yang biasa datang terlambat, kemudian ia nitip absen sama temannya, dengan tujuan waktu kehadirannya menjadi “baik” dimata HRD, tapi sebenarnya ia telah “membohongi Allah” dan dirinya sendiri......, ia lebih takut mendapatkan teguran dari atasannya, daripada malu kepada Allah swt.......” Kata Ki Bijak.

“Contoh lainnya, ada karyawan yang kalau Jum’at atau hari Senin tidak masuk dengan berbagai alasan, tapi justru Sabtu-Minggu-nya masuk untuk mendapatkan lemburan, benar dia akan mendapatkan gaji lebih besar dari lemburnya, tapi sebenarnya ia sedang menabur benih-benih penyakit dalam hatinya.........”,

“Ada juga karyawan yang sehari-harinya lebih banyak menghabiskan waktu untuk browsing-lah, untuk urusan pribadinya-lah, hingga ia harus mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabnya dengan lembur, itupun sebuah benih penyakit hati yang tanpa kita sadari telah kita semai sendiri, dan masih banyak lagi kegemaran-kegemaran kita yang berpotensi menjadi penyakit hati, tapi kita tidak menyadarinya.......” Sambung Ki Bijak.

“Setiap “dosa” yang kita anggap kecil, ibarat debu yang samar pada awalnya, tapi jika ini berlangsung terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama, akan membuat hati hitam kelam, sehingga menjadi sakit atau bahkan mati.............” Kata Ki Bijak.

“Sementara hati yang sehat dan terpelihara akan tercermin dari bagaimana hati kita senantiasa terpaut dengan penciptanya, hati yang sehat senantiasa berdzikir dalam setiap keadaan, hati yang sehat juga akan menjauhi hal-hal yang mungkin mengotorinya, ia akan sangat berhati-hati dalam perkataan, ia akan sangat penuh pertimbangan dalam setiap perbuatannya, waktunya selalu diukur dan dijaga dari kesia-siaan, langkahnya selalu dihitung dan diukur, apakah langkahnya sudah sesuai dengan syari’at, apakah langkahnya sudah mengikuti jalan yang benar, apakah langkahnya juga dibenarkan secara hakekat, semuanya terukur............” Kata Ki Bijak.

“Jadi dengan mengatakan “hati-hati” sebenarnya secara tidak langsung kita mengatakan “kendalikan tanganmu dengan hatimu, kendalikan lidahmu dengan hatimu, kendalikan kaki dan matamu dengan hatimu”, bukan demikian ki......” Tanya Maula.

“Ya Nak Mas, karena kendali hati adalah kendali yang paling efektif untuk mengarahkan kita pada arah dan jalan yang benar, hanya kadang kita yang sering “tidak mau” menuruti kata hati kita.........” Kata Ki Bijak.

“Kenapa kita tidak mau menuruti hati kita ki....?” Tanya Maula.

“Karena kita belum mengenal hati kita Nak Mas............., Kata Ki Bijak.

“Seperti ketika kita belum mengenal seseorang dengan baik, tentu kita tidak akan mempercayai apa yang disarankannya, terlepas nasehatnya itu bagus atau tidak..., tapi ketika kita sudah mengenal betul karateristik dan sifat seseorang, tentu dengan mudah kita akan dapat memutuskan apakah kita akan menerima atau menolak apa yang dikatakannya........”

“Pun demikian dengan hati, kenali hati kita dengan baik, maka kita akan mudah memahami apakah ini dorongan hati yang bersumber pada sifat-sifat ilahiyah yang terdapat didalamnya, atau justru dorongan sifat syaitoniyah yang juga bermukim disana, dengan demikian kita tidak akan terjebak pada kata hati yang salah...........’ Kata Ki Bijak.

“Kita harus benar-benar “hati-hati” dalam memahami hati kita ya ki........” Kata Maula.

“Benar Nak Mas, berhati-hatilah dengan hati kita.......” Kata Ki Bijak menutup perbincangan.

Wassalam

September 26, 2007

No comments:

Post a Comment