Monday, September 10, 2007

SUATU KETIKA DIDEPAN APOTIK

“Assalamu’alaikum...........” Salam Maula.

“Walaikumusalam warahmatulahiwabarakatuh....”Jawab Ki Bijak yang tengah tadarus Al Qur’an dipondoknya.

“Dari mana Nak Mas........” Tanya Ki Bijak.

“Dari apotik Ki, beli obat buat Ade...” Kata Maula.

“Ade sakit apa Nak Mas.............?” Tanya Ki Bijak.

“Batuk-batuk dan flu ki.....” Kata Maula

“Masya Allah, sekarang gimana keadaan Ade........?” Tanya Ki Bijak.

“Alhamdulillah ki, batuknya tidak terlalu sering seperti sore tadi......” Jawab Maula.

“Ki, tadi didepan apotik, ada seorang ibu muda yang nampak kuyu, rambutnya acak-acakan, pakaiannya lusuh, beserta dua orang anaknya yang kondisinya sangat mengenaskan ki, badannya kumel dan kotor.............” Kata Maula.

“Siapa dia Nak Mas......?” Tanya Ki Bijak.

“Ana tidak tahu siapa ibu dan kedua anaknya itu ki, mereka berada disana untuk “meminta” sedikit uang dari para pengunjung apotek itu......’ Kata Maula dengan nada yang berat.

Ki Bijak bisa memahami perasaan muridnya yang sangat sensitif itu, ia menghela nafas panjang........ “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un..........” Gumannya.

“Ki, kenapa mereka harus ada ki...........?” Kata Maula setengah bertanya.

“Maksud Nak Mas...?” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, kenapa para peminta-minta itu harus ada, dengan kondisi yang sedemikian memprihatinkan, apa yang salah dengan mereka...?” Kata Maula lagi.

“Wallahu’alam Nak Mas, jawaban atas pertanyaan Nak Mas bisa sangat panjang, tapi mari kita lihat dari sudut pandang yang lebih kecil dulu......” Kata Ki Bijak.

“Ya ki....?” Kata Maula sambil menunggu kata-kata lanjutan dari gurunya.

“Ada beberapa hal yang bisa kita petik dengan keberadaan para peminta-minta seperti yang Nak Mas temui diapotik itu, pertama, kita bisa menjadikan mereka sebagai sarana untuk meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah swt.....” Kata Ki Bijak.

“Sarana meningkatkan syukur kita ki...?” Tanya Maula heran.

“Ya Nak Mas, coba Nak Mas bandingkan kondisi ibu dan kedua anaknya itu dengan kondisi keluarga Nak Mas, Nak Mas mempunyai penghasilan tetap, anak dan istri Nak Mas dalam keadaan baik, meskipun Ade sedang batuk, tapi kondisinya jauh lebih baik dari dua orang anak dan ibu diapaotik itu, Ade berada ditengah-tengah ibu – bapaknya, Nak Mas tinggal dirumah yang nyaman, ada kendaraan, untuk makan pun insya Allah Nak Mas dan keluarga tidak kekurangan....”

“Ssementara ibu dan dua anaknya itu, kedinginan diluar sana, tanpa kita tahu bapaknya dimana, mereka tidak tahu berapa banyak yang mereka bisa dapatkan uang dari hasil “kerjanya” seharian, dan masih banyak hal yang tidak mereka miliki dibanding dengan keadaan Nak Mas saat ini........”

“Tidakkah kondisi ini menambah rasa syukur Nak Mas atas karunia Allah yang jauh lebih baik kepada Nak Mas ?, meski tidak berarti ibu dan dua anaknya itu ditelantarkan Allah, sekali lagi, Allah telah mengatur semuanya, termasuk mempertemukan Nak Mas dengan ibu dan dua orang anaknya diapotik itu....” Kata Ki Bijak.

“Kedua, adanya mereka, para fuqara dan masakin ditengah-tengah kehidupan kita, dapat kita jadikan ladang amal bagi kita, karena adanya mereka, maka kita bisa menyalurkan sedekah, infaq dan zakat kita, karena adanya mereka, kita bisa meretas jalan menuju keridhaan Allah dengan menyantuni mereka, karena adanya mereka, kita bisa menyempurnakan pelaksanaan rukun islam kita, yaitu membayar zakat dari harta yang Allah titipkan kepada kita.....” Kata Ki Bijak.

“Yang ketiga, adanya mereka, orang-orang yang dimata kita memiliki strata sosial lebih rendah dari kita, justru merupakan ujian dari kita, bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang terbaik ketaqwaannya disisi Allah swt....., meski mungkin secara lahiriah, mereka seperti tidak mungkin memiliki ketaqwaan yang lebih baik dari kita, tapi belum tentu demikian menurut pandangan Allah, kita tidak tahu akan hal itu....”

“Selanjutnya, mungkin dari mereka kita bisa belajar bagaimana mereka menjalani hari-hari mereka yang serba kekurangan dengan penuh “kesabaran dan ketabahan”, sementara kita dengan kondisi yang relatif lebih baik dari mereka, justru lebih sering mengeluh dari pada bersyukur, lebih banyak kurangnya daripada berterima kasih, lebih cenderung memandang mereka sebagai sesuatu yang mengganggu, padahal keberadaan mereka justru mungkin merupakan sebuah ibrah yang hendak Allah ajarkan kepada kita.........”

“Aki yakin, tidak ada satupun manusia yang ingin hidupnya seperti itu, kalau mereka atau kita bisa menentukan nasib kita sendiri, pasti mereka menginginkan keadaan yang jauh lebih baik dari yang mereka alami sekarang, karenanya, terimalah mereka dengan wajar, jangan memandang mereka dengan sebelah mata, justru manfaatkan mereka sebagai sarana belajar kita untuk meningkatkan rasa syukur kita terhadap apa yang ada pada kita sekarang, meningkatkan sedekah dan amal zariah kita, meningkatkan derajat ketaqwaan kita sekarang, karena kita seharusnya malu pada mereka, masak sih dompetnya tebal, shalatnya jarang, masak iya sih mobilnya bagus zakatnya nggak pernah, masak sih tinggal dirumah mewah tapi ngeluh terus, dan juga sebagai bahan kajian kita untuk menjadi orang yang sabar......”Kata Ki Bijak.

“Astagfirullah......Aki benar ki, ana seharusnya lebih banyak bersyukur dengan apa yang Allah karuniakan selama ini........” Kata Maula.

“Iya Nak, masih banyak saudara dan orang-orang disekitar kita yang hidupnya jauh dari kata kecukupan, tapi toh banyak diantara mereka yang mampu menjalani kehidupannya dengan penuh kedamaian, belajarlah lebih banyak pada mereka Nak Mas, petik apapun yang mungkin bisa ambil, meski dari seorang pengemis sekalipun..........”Kata Ki Bijak.

“Iya Ki.............” Kata Maula.

“Banyak sekali pelajaran dari Allah yang tersirat disekitar kita, bahkan mungkin jauh lebih banyak dari pelajaran yang tersurat dikitab-kitab yang ditulis oleh para ulama, kita hanya perlu melatih kepekaan kita untuk menangkap semua sinyal ilmu yang Allah pancarkan, agar kita mampu memaknainya dengan penuh kebijakan........” Kata Ki Bijak.

“Insya Allah Ki............’Kata Maula sambil berpamitan kepada gurunya.

Wassalam

September 06, 2007

No comments:

Post a Comment