Wednesday, June 13, 2007

HIDUPLAH 1000 TAHUN LAGI


“Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading”, demikian bunyi sebuah peribahasa untuk menggambarkan apa yang ditinggalkan oleh mereka setelah jasad mereka mati dan terkubur didalam tanah.

Lalu kalau manusia mati, kalau jasad kita dikubur didalam tanah, apa yang akan kita tinggalkan?

Kalau berkaca pada Rasulullah Saw, beliau meninggal pada usia 63 tahun, atau dewasa ini harapan hidup kita mungkin berkisar antara 65 ~ 70 tahun, lalu setelah itu, apa yang tersisa dari perjalanan hidup kita selama mampir dan mengarungi kehidupan didunia ini?

Harta kitakah?

Harta yang kita kumpulkan siang malam, sambil banting tulang, peras keringat, kaki jadi kepala, kepala jadi kaki, tak akan berumur lebih dari lima tahun sepeninggal kita, bahkan mungkin hari ini jasad kita dikubur, esok atau lusa harta kita sudah habis diwarisi oleh anak cucu kita, jadi harta sama sekali tidak mampu menjadikan kita “hidup lebih lama” sepeninggal jasad kita.

Istri / suami kitakah?

Istri / suami yang sangat kita cintai semasa hidup kita, yang jadi belahan jiwa kita, sangat boleh jadi akan menjadi istri/suami orang lain selepas mereka mengantar jasad kita keliang lahat, sehabis masa iddah, mereka, istri/suami kita ternyata tidak juga menjadikan “hidup kita lebih lama” sepeninggal jasad kita. Kalau kemarin dibelakang nama istri/suami kita masih tercantum nama kita, setelah kita mati, mereka akan berganti nama dengan nama istri/suami mereka yang baru.

Anak-anak kitakah?

Anak-anak yang kita pelihara semenjak kanak-kanak, dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan, ternyata juga tidak mampu menjadikan “hidup kita lebih lama” sepeninggal jasad kita. Terutama anak-anak perempuan kita yang ketika belum menikah mereka mengenakan binti nama kita dibelakang namanya, akan dengan segera berganti dengan nama suaminya setelah mereka menikah.

Jabatan kitakah?

Hari ini mungkin kita masih memiliki jabatan sebagai karyawan perusahan A, atau sebagai manager keuangan, atau sebagai direktur teknik atau bahkan mungkin kita hari ini masih memangku jabatan sebagai menteri atau presiden, tapi setelah kita meninggal? Hari ini kita meninggal misalnya, hari ini kita dikubur umpamnya, tak akan lebih dari sebulan, jabatan yang dulu kita emban akan diganti dan diduduki oleh orang lain. Ternyata pangkat dan jabatan juga tidak mampu menjadikan hidup kita lebih lama sepeninggal jasad kita?

Lalu apa yang mampu menjadikan kita bisa “hidup seribu tahun lagi” sepeninggal jasad kita?

Pertama – Amal shaleh

Amal shaleh yang kita lakukan sepanjang perjalanan kehidupan kita didunia fana ini akan menjadi buah pitutur yang baik bagi generasi sesudah kita.

Rajin kita masjid untuk shalat berjamaah, akan menjadikan kita diingat orang sebagai ahli masjid, yang buah tuturnya akan bertahan lama pun ketika jasad kita sudah terkubur sekian lama.

Contoh nyata yang dapat kita ambil dari catatan sejarah, bagaimana para ambiya dan nama orang-orang alim mampu bertahan sekian lama sepeninggal jasadnya karena keutamaan-keutaman yang mereka miliki.

Nabi Muhammad Saw tetap “hidup” hingga sekarang karena Al amin-nya
Abu Bakr shidiq tetap “hidup” hingga sekarang karena kejujurannya
Umar ibnu Khattab tetap “hidup” hingga sekarang karena ketegasannya
Ustman ibnu Affan tetap “hidup” hingga sekarang karena kedermawanannya
Ali bin Abi Thalib tetap “hidup” karena ke”fathonahan-nya

Pun masih banyak tokoh-tokoh lain yang jasadnya sudah berkalang tanah,namun namanya tetap harum dan hidup hingga saat ini.

Dinegeri kita, kita bisa menjumpai mereka yang masih tetap “hidup” beratus tahun berselang setelah penguburan jasadnya;

Mahapatih Gajahmada dengan sumpah palapanya

R.A Kartini dengan gagasan emansipasinya

Ki Hajar Dewantoro dengan konsep pendidikannya


Kedua – karya nyata – sebuah maha karya yang fenomenal adalah ruh kedua bagi kehidupan kita setelah jasad kita terkubur berkalang tanah. Sebuah karya yang berguna bagi peradaban dan manusia akan menjadikan nama kita “abadi” selepas nyawa kita berpisah dari jasad kita.

Al Bukhari – hingga saat ini seolah masih “hidup” ditengah-tengah kita dengan shahihnya yang mashur itu.

Imam Muslim – hingga saat inipun masih menyertai kita dengan shahih muslim-nya

Ibn Haitham yang digelari bapak Optik modern, yang menjelaskann tentang pembiasan cahaya di mana cahaya yang bergerak lurus akan terbias apabila melalui halangan di atmosfera sebagaimana manusia melihat objek terpesong daripada kedudukan sebenar di dalam air kerana cahaya dari objek yang sampai ke mata telah dibiaskan oleh air, sumber inspirasinya dari Al qur’a surat An – nuur, yang karena penemuannya itulah, beliau hingga kini “masih hidup”, beratus tahun setelah jasadnya dikebumikan.

Al Khawarizmi – sang penemu Al Jabar dan Arimetika, juga hingga saat ini masih terus berada ditengah-tengah kita, selang beratus tahun setelah wafat jasadnya.

Al Jahiz – sipenemu ilmu hewan, demikian juga halnya.

Lalu bagaimana dengan kita?

Apakah kita “cukup puas” dengan kehidupan yang hanya 65~70 tahun saja?

Untuk dapat bertahan hidup lebih dari seratus atau bahkan seribu tahun setelah kematian jasad kita, kita tak perlu malu untuk mencontoh apa yang telah dilakukan oleh para penduhulu kita.

Kalau untuk menjadi peneliti dan menemukan mahakarya ilmiah kita mengalami banyak kendala dan kesulitan, kenapa kita tidak mencoba “memperpanjang umur kita” dengan menjadi orang yang beramal shaleh dan menjadi teladan umat sebagaimana Rasul dan para sahabat utamanya?

Kita bisa menjadi ahli shalat, bukan sekedar tukang shalat,
Kita bisa menjadi ahli zakat dan sedekah, bukan sekedar tukang sedekah
Kita bisa menjadi ahli ibadah, bukan sekedar tukang ibadah
Kita bisa menjadi orang jujur, untuk memperpanjang umur kita
Kita bisa menjadi orang teguh pendirian, untuk memperpanjang usia kita,
Mana saja yang kita bisa, lakukanlah, agar kita bisa bermanfaat bagi orang lain dan agar kita bisa “hidup selamanya”, pun ketika jasad kita sudah jadi santapan cacing tanah.

Untuk itu mulailah dari sekarang kita beramal shaleh, agar kita bisa hidup seribu tahun lagi.

Wassalam

June 13, 2007

No comments:

Post a Comment